Archive for November, 2010 | Monthly archive page

KPK Tetapkan Bupati Nias Jadi Tersangka Korupsi

Wednesday, November 17th, 2010

INILAH.COM, Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah meningkatkan ke penyidikan dugaan korupsi di Kabupaten Nias. Kabupaten Nias, Binahati B Baeha pun ditetapkan sebagai tersangka.

“Ya benar Bupatinya (ditetapkan sebagai tersangka),” sebut Direktur Penuntutan yang sekaligus merangkap Plt Direktur Penyidikan, Ferry Wibisono ketika dihubungi wartawan, Selasa(16/11/2010).

Kasusnya, terang dia, yaitu terkait dugaan korupsi penggunaan dana bantuan untuk bencana tsunami Kepulauan Nias, Sumatera Utara pada tahun 2006.

Berdasarkan hasil penyelidikan, KPK menemukan indikasi tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana bantuan dari Menkokesra senilai Rp9,8 miliar.

Ferry menerangkan, dalam penggunaan itu ditemukan adanya indikasi mark up atau penggelembungan harga dalam pembelian sejumlah barang dari anggaran dana bantuan bencana tsunami itu.

Namun pasal-pasal sangkaan apa saja yang dikenakan terhadap Binahati, Ferry belum mau mendetail. Kasus itu berawal dari laporan Lembaga Pemantau Pengelolaan Keuangan dan Harta Negara (LP2HKN) yaitu melalui Ketuanya Herman Jaya Harefa. Dia menyebut, Bupati Nias Binahati B. Baeha sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kasus korupsi dana bantuan bencana alam itu. (inilah.com – 16 November 2010)

Scientists cannot predict the exact time (when) an earthquake will strike

Tuesday, November 16th, 2010

Jakarta (Nias Online) – Scientists are not able to determine the exact time (hour, date, and year) when an eartquake will strike a certain region. Such a prediction is false and will never come from credibel experts in the field. This statement comes from two leading earthquake experts Prof. Kerry Edward Sieh and Dr. Danny Hilman Natawidjaja, M. Sc.

Scientific research does not allow us to predict whether an earthquake will happen in Sumatra on a specific day, month, or year.” said Prof Sieh and Dr. Natawidjaja in a joint statement received by Nias Online, Monday (15/11/2010).

As reported by Nias Online earlier, Nias inhabitants, in particular those living in South Nias have been overwhelmed by rumours of imminent large eartquake that will jolt the region. The rumour even predicted that the earthquake will strike at any time between 10 – 20 November 2010 resulting in some people fleeing their homes and stocking basic household needs in large amount.

The statement from these two scientists strongly discredits such rumours.

“Any such predictions are fake and do not come from reputable scientists”, they said.

Profesor Kerry Sieh is the Director of the Earth Observatory of Singapore – Nanyang Technological University in Singapore, whilst Dr. Danny Hilman Natawijaya, M. Sc. is a geologist from Research Center for Geotechnology, the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) in Bandung. Both scientists are actively involved in the research on earthquake activities along the west coast of Sumatra.

However, they hinted that in the coming decades a great earthquake and the resulting tsunami will hit the region of western cost of Sumatera and islands nearby.

“Our research does show that a great earthquake and its tsunami are very likely sometime in the next few decades in the area between the Batu and Pagai Islands and along the neighbouring mainland West Sumatran coast. However, we cannot say exactly when within the next few decades this might occur. “ they explained in the joint statement.

“This means that young people living in this region today are very likely to experience this great earthquake and its tsunami within their lifetimes. There are many actions that can be taken in the time between now and then to lessen the loss of life, livelihood and property.”, the joint statement concluded.

Pictures: Kompas.com dan Nanyang Technological University website – ntu.edu.sg (EH/EN/*)

Para Ilmuwan Tidak / Belum Dapat Memprediksi Kapan Sebuah Gempa Akan Terjadi

Tuesday, November 16th, 2010

Jakarta (Nias Online) – Para ilmuwan tidak atau belum bisa menentukan jam, hari, tanggal dan tahun berapa sebuah gempabumi akan terjadi. Ramalan semacam itu adalah kebohongan dan tidak datang dari para ilmuwan.

Demikian antara lain penjelasan Prof. Kerry Edward Sieh dan Dr. Danny Hilman Natawidjaja, M. Sc. dalam pernyataan bersama mereka yang diterima Nias Online, Senin malam (15 November).

Penelitian ilmiah tidak atau belum memungkinkan kita untuk memprediksi akan terjadinya gempabumi di Sumatra pada hari, bulan dan tahun tertentu. ” kata kedua pakar gempa itu dalam pernyataan bersama.

Sebagaimana diberitakan Nias Online sebelumnya, warga Nias khususnya di Nias Selatan merasa was-was karena merebaknya isu akan terjadinya gempa besar. Bahkan menurut isu itu, gempabumi tersebut akan terjadi antara tanggal 10-20 November 2010. Akibat dari isu miring tersebut sebagiam warga Nias Selatan mengungsi dan memborong sembako.

Pernyataan bersama kedua pakar ini secara tegas mendiskreditkan sumber-sumber yang mengklaim bisa meramal dengan tepat kapan terjadinya gempabumi.

Apabila mendengar ada ramalan atau prediksi tentang akan terjadinya gempabumi pada waktu tertentu, hal tersebut adalah tidak benar, dan pasti tidak berasal dari ahli yang berkompeten.” kata mereka menegaskan.

Profesor Kerry Edward Sieh adalah Direktur Earth Observatory of SingaporeNanyang Technological University di Singapura, sedangkan Dr. Danny Hilman Natawidjaja, M. Sc. adalah ahli geologi dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bandung. Kedua ilmuwan tersebut aktif melakukan penelitian gempa dan tsunami di pantai barat Sumatera.

Menurut mereka, potensi terjadinya gempabumi dan tsunami di pantai barat Sumatera memang ada, tetapi mereka tidak dapat memprediksi dengan pasti kapan.

Penelitian kita menunjukkan bahwa gempabumi and tsunami-nya akan terjadi di suatu saat dalam kurun waktu beberapa dekade ke depan di wilayah antara kepulauan Batu dan Pagai dan sepanjang pantai di pinggiran Sumatra-Barat yang ada di dekatnya. Namun demikian, kita tidak dapat menentukan kapan waktu tepatnya di beberapa dekade ke depan tersebut gempa akan terjadi.” jelas mereka dalam pernyataan bersama yang diterima Nias Online.

Hal ini bermakna“, kata pernyataan tersebut, “bahwa generasi muda yang ada saat ini di wilayah tersebut berkemungkinan besar untuk mengalami gempabumi tersebut di masa kehidupannya. Banyak tindakan yang dapat dilakukan di waktu ini sampai yang akan datang untuk mengurangi kerugian jiwa, dan harta benda.”

Sumber foto: Kompas.com dan situs  Nanyang Technological University – ntu.edu.sg (EH/EN/*)

Modal Membangun Daerah

Monday, November 15th, 2010

Abner Nones, S.Pd berasal dari Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara dan saat ini sedang bekerja sebagai guru di suatu yayasan pendidikan di Halmahera. Sewaktu menjadi guru antara 1998-2004, dia berhasil menjadi guru teladan.

Pria lulusan FKIP program studi Biologi Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada 1996, berhasil membawa murid-murid binaannya meraih juara pertama Olimpiade Biologi se-Provinsi Maluku Utara pada 2002 dan berhak maju ke olimpiade tingkat nasional di Pontianak.

Selain memperoleh ilmu, penerima beasiswa pada 1992 ini juga mendapatkan beberapa soft skill dari pengalamannya mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan di kampus. Pengetahuan tersebut berguna ketika Abner terjun ke bidang usaha koperasi kredit yang dibangunnya bersama teman-temannya, Koperasi ini menjadi koperasi terbaik di Maluku Utara.

Elistriani Nur Amas Gea yang berasal dari Nias, juga tengah menikmati hasil pendidikan di perguruan tinggi. Walau sempat ragu, apakah bisa menyelesaikan kuliahnya di UKI, kini ia membuktikan bahwa UKI adalah tempat yang tepat untuk menimba ilmu dan sekarang dirinya bekerja sebagai staf di sebuah bank di Nias.

Abner dan Elistriani bukti mahasiswa dari daerah tertinggal  mampu berprestasi di dunia akademik. Dan setelah menyelesaikan pendidikan mereka pulang ke kampung halaman untuk membangun daerahnya.   

Perguruan tinggi bisa berperan aktif dalam memberikan akses masyarakat dibidang pendidikan. Daerah-daerah terpencil sebenarnya punya banyak sumberdaya manusia potensial, hanya mereka belum ada kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.

UKI merupakan salah satu universitas yang secara terus menerus memberikan perhatian khusus kepada masyarakat dari daerah tertinggal di Indonesia seperti di Nias, Mentawai, Tapanuli Utara, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Selatan dan Papua.

Melalui pemberian beasiswa dengan menggandeng pihak donatur. antara lain Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Ikatan Alumni UKI, dan Yayasan Pelayanan Kasih A.A Rahmat, program yang dimulai sejak 1990 hingga kini telah mendidik lebih dari 500 mahasiswa sebagai bukti komitmen UKI dalam mendukung mencerdaskan bangsa.

Sekitar 13 tahun lalu, UKI bekerjasama dengan PGI mendidik 350 pemuda dari berbagai daerah untuk menjadi guru di daerah tertinggal. Sedangkan bagi korban gempa tsunami di Nias sekitar 6 tahun lalu, diberikan beasiswa kepada pelajar untuk melanjutkan pendidikan di UKI pada berbagai program seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sastra dan Fakultas Teknik. (Dewi Retno) (www.tempointeraktif.com – 12 November 2010)

Pejuang Demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi Dibebaskan

Sunday, November 14th, 2010

YANGON – Pejuang Demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi yang ditahan oleh rezim militer Myanmar telah dibebaskan. Pemimpin Liga National untuk Demokrasi (NLD) itu dibebaskan oleh pemerintah militer Myanmar setelah ditahan selama 18 tahun. Masa tahanan Aung San Suu Kyi berakhir pada hari Sabtu (13/11/2010).

Menjelang pembebasannya, kantor pusal NLD di Yangon telah dijejali oleh para pendukungnya untuk mengantisipasi pembebasannya dan menyambutnya. Barikade-barikade yang ditempatkan di depan rumahnya yang berada di tepi danau telah disisihkan.

Pembebasan Aung San Suu Kyi yang telah berusia 65 tahun itu terjadi 6 hari setelah Myanmar melangsungkan pemilihan umum pada tanggal 7 November 2010 yang diboikot oleh partainya. Tahun lalu Aung San Suu Kyi dihukum 3 tahun pernjara karena dituduh mengakomodasi seorang warga AS, John William Yettaw, yang berenang menyeberangi Danau Inya menuju rumahnya. Hukumannya dikurangi oleh Dewan Pembangunan dan Perdamaian Maynmar.

Ia berkali-kali gagal dalam usaha banding terhadap hukumannya.

Selama 21 tahun terakhir, Aung San Suu Kyi telah dithan dan dibebaskan berkali-kali. Penahanannya pertama berlangsung dari bulan Juli 1989 hingga 10 Juli 1995 atas tuduhan “membahayakan keamanan negara”. Penahanan kedua berlangsung dari 22 Septmber 2000 hingga Mei 2002 karena pembangkannya atas pembatasan bepergian dengan mengunjungi kota kedua terbesar Mandalay di Myanmar. Yang ketiga dari 30 Mei 2003 hingga Mei 2009 karena insiden berdarah antara pendukung NLD dan pendukung pemerintah. Yang keempat dari bulan Mei 2009 hingga kemarin karena “Insiden Yettaw”.

Dalam pidatonya yang pertama setelah ia dibebaskan hari Minggu (14/11), Aung San Suu Kyi berikrar akan berusaha untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional Myanmar dan mengungkapkan keinginannya untuk berjumpa dan berdiskusi dengan siapa saja. (XN/wikipedia/*)

Berita Duka

Sunday, November 14th, 2010

Tim Redaksi Nias Online turut berdukacita atas meninggalnya: (1) Sdr. Anjelus Kurniawan Zagötö (22 tahun) mahasiswa semester akhir kelas paralel IKIP Gunungsitoli di Teluk Dalam, Kamis (11/11/2010) dinihari pukul 00.30 WIB, (2) Bpk Tuhoizisökhi Wa’u (65 tahun), guru jemaat Gereja Bala Keselamatan Desa Bawömataluo, Kamis (11/11/2010) dinihari sekitar pukul 01.30 WIB. Keduanya dimakamkan pada hari Jumat 12/11/2010. Sdr. Anjelus Zagötö dan Bapak Tuhoizisökhi Wa’u berturut-turut adalah sepupu dan paman kandung dari Bapak Etis Nehe, anggota Tim Redaksi Nias Online. Kami mendoakan semoga Tuhan, yang kepadanya sepupu dan Pamanda menghadap, memberi kekuatan dan penghiburan kepada keluarga besar Pak Etis, baik yang di Telukdalam mau pun di tempat lain, dalam melewati masa-masa kedukaan ini. (Redaksi)

Paus Benediktus: Sains Bisa Mengantar Manusia Kepada Pengenalan Akan Tuhan

Saturday, November 13th, 2010

Vatikan – Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa penelitian ilmiah bisa mengantar manusia kepada pengenalan akan Tuhan dengan mengungkap keteraturan alamiah dari alam semesta.

Paus menyatakan hal ini dalam sambutannya di depan pertemuan pleno Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan yang berlangsung di Vatikan pada tanggal 28 Oktober 2010.

Logika nyata yang mengatur alam semesta ‘mengantar kita pada pengakuan adanya Nalar yang berkuasa, yang berbeda dengan manusia, dan yang menjadi penyebab keberlangsungan dunia,’ kata Benediktus.

“Inilah titik temu antara ilmu pengetahuan alam dan agama,” kata paus.

“Sebagai hasilnya, sains menjadi tempat dialog, tempat pertemuan antara manusia dan alam, dan decara potensial, antara manusia dan penciptanya.”

Salah seorang anggota Akademi itu, fisikawan Inggris Stepehn Hawking, memancing kontroversi dalam bukunya “The Grand Design” di mana ia mengatakan bahwa keberadaan alam semesta tidak memberikan bukti akan keberadaan Tuhan.

Para ilmuwan yang berkumpul itu adalah anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan, suatu badan yang memberikan nasehat kepada Gereja Katolik – dalam hal ini Paus – tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan itu pada umumnya berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak harus berseberangan dengan kepercayaan agama.

Pada bagian lain sambutannya, Paus Benediktus XIV memuji kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-20. Paus mengatakan bahwa Gereja Katolik mendorong dan sekaligus mendapat keuntungan dari penilitian ilmiah. Lebih jauh Paus mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak perlu ditakuti tetapi pada saat yang sama tidak boleh dianggap sebagai solusi dari segala masalah mendalam eksistensial manusia.

“Kegiatan ilmiah pada akhirnya akan beruntung dari pengakuannya akan dimensi spiritual manusia dan kehausan manusia akan jawaban-jawaban ultimat,” kata Paus menjelaskan.

Sejumlah ilmuwan peserta konferensi itu menghimbau agar Gereja Katolik berusaha lebih kuat meyakinkan masyarakat bahwa Gereja tidak anti sains.

Pandangan Gereja Katolik yang paling kontroversial ialah kutukannya terhadap Galileo Galilei karena dukungannya terhadap model tatasurya Nicolaus Copernicus yang bersifat heliocentris. Gereja Katolik juga mengambil sikap dingin terhadap teori seleksi alam Charle Darwin. Pada awalnya Gereja membakar buku-buku tentang teori Darwin dan membutuhkan waktu lebih dari seabad untuk menerima bukti-bukti yang mendukung teori itu.

Keberadaan Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengatahuan memungkinkan Gereja berinteraksi dengan sains. Akademi ini didirikan oleh Pangeran Roma, Federico Cesi, pada tahun 1603, dan dikembalikan ke bentuknya yang sekarang oleh Paus Pius XI pada tahun 1936. Akademi ini membantu Gereja memahami perkembangan mutakhir di bidang sains khususnya yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran Gereja.

Sejumlah nama terkenal yang pernah menjadi anggota Akademi ini adalah para ilmuwan terkemuka abad 20 di antaranya Guglielmo Marconi perintis teknologi radio dan pendiri ilmu mekanika kuantum, Max Planck.

Jumlah anggota Akademi Kepausan sekarang adalah 80 orang, termasuk sejumlah ilmuwan pemenang hadiah Nobel di bidang sains. Keanggotaan Akademi ini sangat beragam, datang dari berbagai spektrum sains, dari berbagai negara dan agama atau kepercayaan.

Kualitas ilmiah bukan hanya satu-satunya kriteria menjadi anggota Akademi ini. Paus menerima atau menolak seorang ilmuwan menjadi anggota juga didasarkan atas ‘profil moral’ kandidat, walau tidak jelas apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan kriteria ini.

Profesor Kimia Biologis Edward De Roberts dari Universitas California mengatakan masuknya ia baru-baru ini menjadi anggota Akademi ini berkat pembicaraan seorang koleganya dengan seorang imam yamg diutus oleh Kardinal Los Angeles untuk memastikan profil moralnya.

Konon Albert Einstein tidak menjadi anggota karena ia memiliki hubungan di luar pernikahan.

Pertemuan ini berlangsung di Kantor Pusat Akademi tersebut, sebuah vila di taman Vatikan yang dibangun pada abad 16. Dalam pertemuan ini dibahas berbagai macam hal, dari fisika partikel dan perubahan iklim hingga neurosains dan rekayasa genetika. Beberapa dari anggota mengadakan refleksi atas penelitian mereka. Fisikawan Charles Townes, misalnya, mengisahkan penemuan laser-nya sekitar 50 tahun lalu.

Pakar biologi Werner Arber mangatakan ia yakin kerja Akademi ini akan berpengaruh terhadap pandangan Paus terhadap ilmu pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pertemuan-pertemuan pleno biasanya merupakan kesempatan di mana paus menyampaikan pernyataan-pernyataan penting seperti pernyataan Paus Yohanes Paulus II pada konferensi Akademi tahun 1992 yang mengakui kesalahan Gereja mengutuk Galileo.

Arber juga yakin akan pengaruh pertemuan-pertemuan skala kecil yang diselenggarakan oleh Akademi untuk membahas hal-hal spesifik seperti tanaman pangan yang dihasilkan lewat modifikasi genetika, senjata nuklir atau astrobiologi. Ia berpendapat serangkaian pertemuan untuk membahas definisi kematian membantu Vatikan menganalisis peran relatif otak dan jantung dalam hal ini.

Profesor Townes juga yakin bahwa para Akademi ini mempengaruhi pemahaman Paus terhadap sains. Namun ia mengatakan Paus Benediktus terkesan kurang tanggap dibandingkan dengan mendiang Paus Yohanes Paulus II dan lebih ‘konservatif secara relijius’. Ia mengatakan bahwa para anggota Akademi pernah mengadakan diskusi-diskusi langsung dengan mendiang mendiang Paus Yohanes Paulus II, sementara dengan Paus Benediktus masih akan direncanakan.

Beberapa anggota Akademi yang lain mengatakan Gereja Katolik tak berminat mendiskusikan topik-topik kontroversial seperti kontrasepsi.

Seorang astronomer yang juga seorang imam, Pastor Giuseppe Tanzella-Nitti mengatakan bahwa sains dan agama tak pernah berada dalam konflik, melainkan dalam ‘citra konflik, akibat peristiwa-peristiwa tertentu’. Untuk menghilangkan citra ini para imam harus dibekali dengan pendidikan sains yang lebih baik.

Tanzella-Nitti mengatan hanya lewat cara itulah para imam mampu ‘berbicara tentang Tuhan dengan cara yang meyakinkan dalam abad 21. (FN/CC/brk*)

Polda Sumut Umumkan 36 CPNS Polri; Ujian Tertulis Sabtu

Friday, November 12th, 2010

Medan – Polda Sumut mengumumkan 36 daftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Polri dari sumber pelamar umum Tahun Anggaran 2010 dari pendidikan SMA/SMK yang memenuhi syarat.

“Ke-36 yang dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti ujian tertulis, yaitu Natalia Nopita Sinaga jurusan IPS, penduduk Jalan Garu II A gang Anggrek No.5 Medan, Taufik Akbar jurusan IPS warga Jalan Gaharu Komplek PTP Blok C No.6 Medan, Khairuddin Rangkuti (IPS) warga Titi Pahlawan gang Pringgan, Medan Marelan, Netty Patrisia Tampubolon (IPA), Asrama Brimob Blok 61 No.1, Yusuf Nodisten Gultom (IPS), Jalan Perjuangan gang Silindit No.20 Medan, Erwin Jonfiter Sihotang (IPA) penduduk Jalan Jahe V No.2 P.Simaligkar, Selamat Rajagukguk (IPS) Jalan Sederhana No.24 Teladan, Medan, Tribayu Harivinarto (IPS), Kampung Durian No.34 C Parak Gadang Timur, Nana Febriana (jurusan Teknik Mesin) Dusun Simargalin RT05/01 Desa Parung Mulya, Karawang, Epsarunika Aritonang (IPA) warga Kampung Salam III Lingkungan XII, Jaserep Sijabat (IPS) asal Pondok Rangon Kecamatan Cipayung, Jawa Timur (Jatim), Boni Brata Aries S (Pelayaran) warga AR. Saleh No.33 RT 13 Kelurahan Palmerah Lama Jambi, Juniel Parasian Siahaan (IPS) warga Afdeling VIII Dolok Ilir Nagori Dolok Ilir II Kecamatan Dolok Batu Banggar,” jabar Kasubid Dokliput Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Kamis (11/11).

Selain itu, katanya, Tanda Septiawan Hutajulu (Teknik Mekanik Otomotif), Jalan Pelita IV No.144-A Medan, Eben Ezer Ginting (Teknik Mesin), Bunga Rampai 2 Simalingkar B, Medan, Muhammad Abdul Halim (Elektro) Titi Pahlawan Lingkungan IV Medan Marelan, Aryanto Pandapotan Purba (IPS) warga 5B-56 Lingkungan VI Pulo Brayan Bengkel, Medan Timur, Diamon Romansa Bangun (IPA) warga Bendungan II Lingkungan I Medan, Sri Ani Nanda Sari (IPS) asal Lingkungan Padat Karya Aek Tape A, Rantau Selatan, Septia Diningrum (IPA), Askela Barak Kampar No.215 Kecamatan Binjai Utara, Dedy Fransisco Sibuea (Teknik Medan), Blok 20 Lingkungan XV Belawan Sicanang, Hendrizal (Otomotif), penduduk Rimbo Tarok RT 004 RW 009 Kelurahan Kuranji Padang, Murniman Larosa (IPS) penduduk Pelud Binaka Km12 Dusun Bawadesolo Kecamatan Gunung Sitoli, Nias, Noniat Telaumbanua (IPA) asal Desa Hilidurawa Kecamatan Sawo, Nias Utara, Desman Rahmat Insani Giawa (IPS), Jalan Mawar Blok E No.12 Asrama Polres Nias, Jimmy Fernando (IPS) Jalan Merica Raya No.105 P.Simalingkar.

Selanjutnya, Foresman Zendrato (IPA) Jalan Golkar No.8 Gunung Sitoli, Nias, Yunisokhi Mendrofa (IPA), asal Desa Lolowua Kecamatan Hili Serangkai, Nias, Dedy Syahputra Harefa (IPA), Jalan Pelita No.11 Kelurahan Ilir, Kecamatan Gunung Sitoli, Nias, Yulius Zebua (IPS) Desa Tethosi Kecamatan Bawolato, Nias, Oktoberlius Zamasi (IPS) penduduk Tetehosi Foa Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi Nias, Arif Jaya Lafau (IPS) Desa Dahana Kecamatan Bawolato, Nias, Rynto Arbeth Waruwu (IPA) Desa Ononamolo II Kecamatan Mandrehe Utara, Nias, Yanisudiati Lase (IPS) Jalan Sutomo No.15 Dahano Sogawu-gawu Kodya Gusit, Nias dan Lestariani Mendrofa (IPA) penduduk Anggrek No.20 Kelurahan Ilir, Gunung Sitoli, Nias.

Hasil ke-36 CPNS tersebut, katanya, berdasar rujukan Kapolda Sumut nomor:Kep/478/XI/2010 tanggal 9 November 2010 tentang penetapan hasil pemeriksaan administrasi seleksi penerimaan CPNS Polri Tahun Anggaran 2010 sumber pelamar umum khusus kualdik SMA/SMK jurusan IPA/IPS, Komputer, Elektro dan Mesin.

“Pengambilan nomor ujian bisa dilakukan Kamis (11/11) di Biro Personel lantai III Polda Sumut pukul 08.00-15.00 WIB. Pelaksanaan ujian tertulis dilaksanakan Sabtu (13/11) di Aula Kamtibmas Polda Sumut mulai pukul 08.00 WIB. Peserta pria harus mengenakan kemeja putih celana hitam dan wanita kemeja putih rok hitam,” tutur Nainggolan. (hen)

Sumber: www.analisadaily.com – 12 November 2010

DPRD: Pilkada tiga daerah harus sesuai aturan

Friday, November 12th, 2010

* Surat keterangan pengganti ijazah atas nama Fahuwusa Laia tidak sah.

MEDAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara menekankan agar pelaksanaan pemilihan kepala daerah di tiga kabupaten/kota di daerah itu harus tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan.

“Meski menyisakan sejumlah persoalan, namun pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah dan di Kota Tanjung Balai harus tetap sesuai aturan,” kata Ketua Komisi A DPRD Sumut, Hasbullah Hadi, malam ini.

Dikatakan, dalam rapat dengar pendapat sebelumnya di DPRD Sumut, para KPU Nias Selatan, Tapanuli Tengah dan Tanjung Balai memaparkan persiapan pilkada di daerah masing-masing, seperti pelaksanaan Pilkada Nias Selatan yang hampir dipastikan bakal tertunda dari jadwal seharusnya pada 2 Desember 2010.

Menurut Ketua KPU Nias Selatan, Solofana Manao, penundaan jadwal terpaksa dilakukan karena keteledoran Sekretaris KPU Nias Selatan yang menyebabkan tertunda-tundanya tender pengadaan barang dan jasa.

“Bahkan sampai saat ini tender belum bisa dilaksanakan, sementara jadwal pelaksanaan Pilkada kurang dari sebulan lagi,” jelasnya.

Tentang pencoretan nama Bupati Nias Selatan Fauhuwusa Laia dari daftar bakal calon oleh KPU setempat, Solofana menjelaskan bahwa pencoretan dilakukan berdasarkan surat dari SMA BNKP Gunungsitoli yang menyatakan surat keterangan pengganti ijazah atas nama yang bersangkutan tidak sah.

“Surat keterangan pengganti ijazah Fahuwusa Laia tidak memenuhi persyaratan karena tidak ada NIS (Nomor Induk Siswa) dan nilai akhir kumulatif siswa. Apalagi suratnya juga tidak dengan kop surat SMA BNKP Gunungsitoli,” jelasnya.

Sementara mengenai persiapan pelaksanaan Pilkada ulang di 17 kelurahan di Kota Tanjung Balai pada 22 November 2010, menurut anggota KPU Tanjung Balai, Zulfahmi, cukup kondusif.

Pengadaan logistik juga tidak ada masalah karena anggarannya hanya Rp65 juta dan tidak membutuhkan proses tender.

“Rencananya pada 19 November sudah bisa didistribusikan sampai ke tingkat PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan), pada 22 November sudah bisa dilakukan pemungutan suara dan pada 27 November sudah dilaporkan ke Mahkamah Konstitusi,” ujarnya.

Demikian juga dengan pelaksanaan Pilkada di Kabupaten Tapanuli Tengah pada Maret 2011. “Tidak ada masalah, hanya beberapa elemen masyarakat yang salah paham terkait pelaksanaan tahapan. Pemkab siap mendukung penuh pelaksanaan pilkada,” kata Bupati Tapanuli Tengah, Tuani Lumbantobing.

Menurut Hasbullah Hadi, pelaksanaan Pilkada tidak akan bermasalah jika semua aturan benar-benar dilaksanakan. “Intinya jangan keluar dari koridor hukum agar tidak menimbulkan konflik,” katanya.

Sumber: www.waspada.co.id – 9 November 2010

Masjid Al Fallah Tohia, Gunung Sitoli Diresmikan

Thursday, November 11th, 2010

Gunungsitoli (Nias Online) – Pada hari Sabtu, tangggal 6 November 2010 pagi hingga tengah hari telah dilangsungkan peresmian dan panandatanganan prasastni Mesjid Al Falah Tohia, Gunung Sitoli, oleh Ketua Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) dan pengguntingan pita oleh Bupati Nias. Masjid ini merupakan satu dari sekian banyak rumah ibadah yang hancur karena gempa yang melanda kepulauan Nias tahun 2005.

Pembangunan masjid ini dapat direalisasi oleh Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB) dengan dukungan pendanaan dari IPEBI. Masjid ini terdiri dari bangunan dua lantai yang cukup kokoh untuk ibadah di bagian atas dan ruang serba guna di bawah, dilengkapi dengan pagar sekeliling bangunan, ruang pengambilan air wudhu, kamar mandi dan tangki air. Bangunan yang unik dan posisi strategisnya di jalan utama kota Gunung Sitoli membuat masjid ini menjadi perhatian banyak orang.

Pembangunan masjid ini telah dirampungkan pada akhir bulan Juli 2010 yang lalu dan memakan waktu kurang lebih dalam waktu 6 bulan sesuai jadwal yang direncanakan. Sebelum diresmikan, masjid ini diperkenankan untuk digunakan sementara oleh jemaah masjid selama bulan Agustus dan Oktober untuk menyambut ramadhan dan Idul Fitri.

Selain Ketua IPEBI, Arief Budi Santoso dan Ketua YTNB, Esther GN Telaumbanua, turut hadir dan memberikan kata sambutan dalam acara ini Bupati Nias, Binahati Baeha SH, Asisten III Pemko Gunung Sitoli, Syaiful Gulö, Ketua MUI Nias dan Bapak Zebua sebagai Penasehat Kenaziran Masjid Al Fallah.

Esther Telaumbanua dalam sambutannya mengatakan bahwa pembangunan masjid ini adalah satu dari dua program kemanusiaan kerjasama antara YTNB dan IPEBI. Setelah ini YTNB akan fokus persiapan pembangunan salah satu sekolah dasar di kota Gunung Sitoli.

Tidak lupa Esther menyampaikan ucapan terima kasih kepada IPEBI atas kerjsama dan kepercayaan yang diberikan kepada YTNB dan kepeduliannya yang sangat besar bagi masyarakat Nias. Dijelaskannya lebih lanjut, sebelumnya sejak tahun 2006 Bank Indonesia, melalui Tim BI Peduli NAD dan Nias telah bekerja sama dengan YTNB dan merealisasikan 5 program kemanusiaan bagi masyarakat Nias untuk wilayah Nias Barat dan Nias Selatan. Peresmian kelima program ini dilakukan oleh Miranda Goeltom sebagai pimpinan Bank Indonesia, bertempat di Gereja Saewe, Gidö pada bulan Desember 2007.

Esther menambahkan bahwa mulai dari persiapan sampai selesainya, masjid ini telah melalui proses perubahan politik di Nias, khususnya proses pemekaran sehingga masjid yang dulunya berada di wilayah kabupaten Nias kini berada di wilayah kota Gunung Sitoli.

Sebagai Ketua YTNB, Esther berpesan agar masjid ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sesuai fungsinya sebagai rumah ibadah dan pembinaan untuk menghasilkan sdm Nias yang berkualitas dan memiliki spiritual tinggi untuk mendukung kebangkitan dan kemajuan Nias dengan azas kebersamaan dan persaudaraan, yang mana hal ini adalah selaras dengan visi-misi YTNB yaitu Nias Bangkit untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Sebelum penandatangan prasasti, Arief Budi Santoso sebagai Ketua IPEBI dalam sambutannya menyampaikan bahwa masjid ini adalah sebagai wujud nyata kepedulian pegawai Bank Indonesia terhadap masyarakat Nias pasca bencana. Masjid ini dibangun baru kerena kepedulian dan diserahkan kembali kepada masyarat untuk dimanfaatkan. IPEBI masih tetap mendukung pembangunan SDN Tandrawana sebagaimana telah dikomitmenkan sebelumnya bekerjasama dengan YTNB. Pembangunan sekolah ini dijadwalkan dapat dimulai pada bulan Desember ini. IPEBI menitipkan agar masjid ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan menjadi kebanggaan Nias, dan dalam pemeliharaan kiranya mendapat dukungan dari semua pihak.

Pada kesempatan ini pula Ketua IPEBI menyerahkan bantuan studi bagi Panti Asuhan Kinderdorf, St. Agustinus, Gidö yang diterima oleh Suster Yulia.

Menyambut kepedulian IPEBI ini Pemerintah Daerah Nias dan Kota Gunung Sitoli dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada IPEBI, dan juga kepada YTNB atas komitmennya bagi masyarakat Nias tanpa memilah keyakinan agama. Sebagai ungkapan rasa terima kasih ini Bupati Nias menyerahkan cenderamata kepada IPEBI dan YTNB berupa pin emas berbentuk rumah adat, sementara dari pihak kenaziran memberikan cenderamata miniatur rumah adat Nias. Disamping itu Bupati Nias juga menyampaikan akan memberikan sumbangan kepada sebuah masjid yang saat ini masih terkendala pembangunannya.

Acara peresmian ini brlangsung cukup meriah ditandai dengan kehadiran dari Muspida Nias dan Kota Gunung Sitoli, Ketua PKK Kabupaten Nias, Leny Trisnadi, Ketua DPRD Gunung Sitoli Sowa’a Laoli dan beberapa anggota DPRD, Pimpinan Perbankan Nias, Tokoh Masyarakat, Ulama, Tokoh Lintas Agama, dan Pastor Johannes Hamerle dari Museum Pusaka Nias. Tampak hadir pula sebagai undangan Drs. Martinus Lase, Mantan PJ Walikota Gunung Sitoli, dan ratusan jemaah Kenaziran Masjid Al Fallah dan warga Kota Gunung Sitoli. Rombongan IPEBI sendiri berjumlah 11 orang terdiri dari Pimpinan IPEBI, pejabat Direktorat PSDM Bank Indonesia, perwakilan BI Medan dan Sibolga.

Puluhan karangan bunga dari berbagai elemen masyarakat dan intitusi menghiasi lokasi peresmian tersebut memberikan warna tersendiri bari acara peresmian tersebut. Memeriahkan acara tersebut warga masjid Al Fallah melakukan penyambutan dengan tradisi Nias, menampikan tarian penyambutan berupa silat dan penampilan qasidah, serta pembacaan Ayat Suci (ytnb/egn/brk*)

Tersangka Dugaan Korupsi Divonis 1 Tahun Penjara dan Denda Rp 500 Juta Lebih

Wednesday, November 10th, 2010

* Kadis Perhubungan Telah Ditahan Bersama Staf dan Rekanan
* Kapolres Nisel Tetapkan Balon Bupati Nisel Tersangka

Gunungsitoli (SIB) – Kajari Gunungsitoli Edi Sumarno SH melalui Kacab Kajari Gunungsitoli Teluk Dalam Rabani M Halawa SH MH, Senin (8/11) mengatakan, kasus dugaan tindak pidana korupsi pelaksanaan proyek pengadaan sarana transportasi antar pulau DAK 2006 dengan nilai kontrak Rp 549.433.500 pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Nias Selatan yang bersumber dari APBD Kabupaten Nias Selatan TA. 2008, terdakwa Jefri T Gari selaku Kontraktor CV. Putra Pantai Selatan telah divonis oleh pengadilan, Jumat (5/11) 1 tahun penjara, subsider 1 bulan kurungan pembayaran uang pengganti Rp 50 juta. (more…)

“Pulang kampung, nih” – Transkrip Pidato Obama di Jakarta, 10 November 2010

Wednesday, November 10th, 2010

Catatan: Hari ini di depan sekitar 6000 orang yang berkumpul di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Presiden Obama menyampaikan pidatonya. Bagi pengunjung Nias Online yang beminat menyimak isinya, Redaksi menyajikan transkrip tersebut yang dipersiapkan pada hari Selasa 9 November 2010 oleh Kantor Sekretaris Pers Gedung Putih (The White House Office of the Press Secretary), Washington. Perlu dicatat bahwa dalam penyampaiannya, Presiden Obama terkadang keluar dari naskah yang telah dieprsiapkan. “Pulang kampung, nih”, antara lain kalimat yang memancing sambutan hangat pendengarnya, yang tentu saja tidak terdapat dalam naskah yang telah dipersiapkan itu. Selamat mengikuti. Redaksi.
__________________________________________________________
THE WHITE HOUSE
Office of the Press Secretary
__________________________________________________________
EMBARGOED UNTIL DELIVERY
November 10, 2010

Remarks of President Barack Obama –
As Prepared for Delivery
Jakarta, Indonesia
November 10, 2010

As Prepared for Delivery—

Thank you for this wonderful welcome. Thank you to the people of Jakarta. And thank you to the people of Indonesia.

I am so glad that I made it to Indonesia, and that Michelle was able to join me. We had a couple of false starts this year, but I was determined to visit a country that has meant so much to me. Unfortunately, it’s a fairly quick visit, but I look forward to coming back a year from now, when Indonesia hosts the East Asia Summit.

Before I go any further, I want to say that our thoughts and prayers are with all of those Indonesians affected by the recent tsunami and volcanic eruptions – particularly those who have lost loved ones, and those who have been displaced. As always, the United States stands with Indonesia in responding to this natural disaster, and we are pleased to be able to help as needed. As neighbors help neighbors and families take in the displaced, I know that the strength and resilience of the Indonesian people will pull you through once more.

Let me begin with a simple statement: Indonesia is a part of me. I first came to this country when my mother married an Indonesian man named Lolo Soetoro. As a young boy, I was coming to a different world. But the people of Indonesia quickly made me feel at home.

Jakarta looked very different in those days. The city was filled with buildings that were no more than a few stories tall. The Hotel Indonesia was one of the few high rises, and there was just one brand new shopping center called Sarinah. Betchaks outnumbered automobiles in those days, and the highway quickly gave way to unpaved roads and kampongs.

We moved to Menteng Dalam, where we lived in a small house with a mango tree out front. I learned to love Indonesia while flying kites, running along paddy fields, catching dragonflies, and buying satay and baso from the street vendors. Most of all, I remember the people – the old men and women who welcomed us with smiles; the children who made a foreigner feel like a neighbor; and the teachers who helped me learn about the wider world.

Because Indonesia is made up of thousands of islands, hundreds of languages, and people from scores of regions and ethnic groups, my times here helped me appreciate the common humanity of all people. And while my stepfather, like most Indonesians, was raised a Muslim, he firmly believed that all religions were worthy of respect. In this way, he reflected the spirit of religious tolerance that is enshrined in Indonesia’s Constitution, and that remains one of this country’s defining and inspiring characteristics.

I stayed here for four years – a time that helped shape my childhood; a time that saw the birth of my wonderful sister, Maya; and a time that made such an impression on my mother that she kept returning to Indonesia over the next twenty years to live, work and travel – pursuing her passion of promoting opportunity in Indonesia’s villages, particularly for women and girls. For her entire life, my mother held this place and its people close to her heart.

So much has changed in the four decades since I boarded a plane to move back to Hawaii. If you asked me – or any of my schoolmates who knew me back then – I don’t think any of us could have anticipated that I would one day come back to Jakarta as President of the United States. And few could have anticipated the remarkable story of Indonesia over these last four decades.

The Jakarta that I once knew has grown to a teeming city of nearly ten million, with skyscrapers that dwarf the Hotel Indonesia, and thriving centers of culture and commerce. While my Indonesian friends and I used to run in fields with water buffalo and goats, a new generation of Indonesians is among the most wired in the world – connected through cell phones and social networks. And while Indonesia as a young nation focused inward, a growing Indonesia now plays a key role in the Asia Pacific and the global economy.

This change extends to politics. When my step-father was a boy, he watched his own father and older brother leave home to fight and die in the struggle for Indonesian independence. I’m happy to be here on Heroes Day to honor the memory of so many Indonesians who have sacrificed on behalf of this great country.

When I moved to Jakarta, it was 1967, a time that followed great suffering and conflict in parts of this country. Even though my step-father had served in the Army, the violence and killing during that time of political upheaval was largely unknown to me because it was unspoken by my Indonesian family and friends. In my household, like so many others across Indonesia, it was an invisible presence. Indonesians had their independence, but fear was not far away.

In the years since then, Indonesia has charted its own course through an extraordinary democratic transformation – from the rule of an iron fist to the rule of the people. In recent years, the world has watched with hope and admiration, as Indonesians embraced the peaceful transfer of power and the direct election of leaders. And just as your democracy is symbolized by your elected President and legislature, your democracy is sustained and fortified by its checks and balances: a dynamic civil society; political parties and unions; a vibrant media and engaged citizens who have ensured that – in Indonesia — there will be no turning back.

But even as this land of my youth has changed in so many ways, those things that I learned to love about Indonesia – that spirit of tolerance that is written into your Constitution; symbolized in your mosques and churches and temples; and embodied in your people – still lives on. Bhinneka Tunggal Ika – unity in diversity. This is the foundation of Indonesia’s example to the world, and this is why Indonesia will play such an important role in the 21st century.

So today, I return to Indonesia as a friend, but also as a President who seeks a deep and enduring partnership between our two countries. Because as vast and diverse countries; as neighbors on either side of the Pacific; and above all as democracies – the United States and Indonesia are bound together by shared interests and shared values.

Yesterday, President Yudhoyono and I announced a new, Comprehensive Partnership between the United States and Indonesia. We are increasing ties between our governments in many different areas, and – just as importantly – we are increasing ties among our people. This is a partnership of equals, grounded in mutual interests and mutual respect.

With the rest of my time today, I’d like to talk about why the story I just told – the story of Indonesia since the days when I lived here – is so important to the United States, and to the world. I will focus on three areas that are closely related, and fundamental to human progress – development, democracy, and religion.

First, the friendship between the United States and Indonesia can advance our mutual interest in development.

When I moved to Indonesia, it would have been hard to imagine a future in which the prosperity of families in Chicago and Jakarta would be connected. But our economies are now global, and Indonesians have experienced both the promise and perils of globalization: from the shock of the Asian financial crisis in the 1990s to the millions lifted out of poverty. What that means – and what we learned in the recent economic crisis – is that we have a stake in each other’s success.

America has a stake in an Indonesia that is growing, with prosperity that is broadly shared among the Indonesian people – because a rising middle class here means new markets for our goods, just as America is a market for yours. And so we are investing more in Indonesia, our exports have grown by nearly 50 percent, and we are opening doors for Americans and Indonesians to do business with one another.

America has a stake in an Indonesia that plays its rightful role in shaping the global economy. Gone are the days when seven or eight countries could come together to determine the direction of global markets. That is why the G-20 is now the center of international economic cooperation, so that emerging economies like Indonesia have a greater voice and bear greater responsibility. And through its leadership of the G-20’s anti-corruption group, Indonesia should lead on the world stage and by example in embracing transparency and accountability.

America has a stake in an Indonesia that pursues sustainable development, because the way we grow will determine the quality of our lives and the health of our planet. That is why we are developing clean energy technologies that can power industry and preserve Indonesia’s precious natural resources – and America welcomes your country’s strong leadership in the global effort to combat climate change.

Above all, America has a stake in the success of the Indonesian people. Underneath the headlines of the day, we must build bridges between our peoples, because our future security and prosperity is shared. That is exactly what we are doing – by increased collaboration among our scientists and researchers, and by working together to foster entrepreneurship. And I am especially pleased that we have committed to double the number of American and Indonesian students studying in our respective countries – we want more Indonesian students in our schools, and more American students to come study in this country, so that we can forge new ties that last well into this young century.

These are the issues that really matter in our daily lives. Development, after all, is not simply about growth rates and numbers on a balance sheet. It’s about whether a child can learn the skills they need to make it in a changing world. It’s about whether a good idea is allowed to grow into a business, and not be suffocated by corruption. It’s about whether those forces that have transformed the Jakarta that I once knew –technology and trade and the flow of people and goods – translate into a better life for human beings, a life marked by dignity and opportunity.

This kind of development is inseparable from the role of democracy.

Today, we sometimes hear that democracy stands in the way of economic progress. This is not a new argument. Particularly in times of change and economic uncertainty, some will say that it is easier to take a shortcut to development by trading away the rights of human beings for the power of the state. But that is not what I saw on my trip to India, and that is not what I see in Indonesia. Your achievements demonstrate that democracy and development reinforce one another.

Like any democracy, you have known setbacks along the way. America is no different. Our own Constitution spoke of the effort to forge a “more perfect union,” and that is a journey we have travelled ever since, enduring Civil War and struggles to extend rights to all of our citizens. But it is precisely this effort that has allowed us to become stronger and more prosperous, while also becoming a more just and free society.

Like other countries that emerged from colonial rule in the last century, Indonesia struggled and sacrificed for the right to determine your destiny. That is what Heroes Day is all about – an Indonesia that belongs to Indonesians. But you also ultimately decided that freedom cannot mean replacing the strong hand of a colonizer with a strongman of your own.

Of course, democracy is messy. Not everyone likes the results of every election. You go through ups and downs. But the journey is worthwhile, and it goes beyond casting a ballot. It takes strong institutions to check the concentration of power. It takes open markets that allow individuals to thrive. It takes a free press and an independent justice system to root out abuse and excess, and to insist upon accountability. It takes open society and active citizens to reject inequality and injustice.

These are the forces that will propel Indonesia forward. And it will require a refusal to tolerate the corruption that stands in the way of opportunity; a commitment to transparency that gives every Indonesian a stake in their government; and a belief that the freedom that Indonesians have fought for is what holds this great nation together.

That is the message of the Indonesians who have advanced this democratic story – from those who fought in the Battle of Surabaya 55 years ago today; to the students who marched peacefully for democracy in the 1990s, to leaders who have embraced the peaceful transition of power in this young century. Because ultimately, it will be the rights of citizens that will stitch together this remarkable Nusantara that stretches from Sabang to Merauke – an insistence that every child born in this country should be treated equally, whether they come from Java or Aceh; Bali or Papua.

That effort extends to the example that Indonesia sets abroad. Indonesia took the initiative to establish the Bali Democracy Forum, an open forum for countries to share their experiences and best practices in fostering democracy. Indonesia has also been at the forefront of pushing for more attention to human rights within ASEAN. The nations of Southeast Asia must have the right to determine their own destiny, and the United States will strongly support that right. But the people of Southeast Asia must have the right to determine their own destiny as well. That is why we condemned elections in Burma that were neither free nor fair. That is why we are supporting your vibrant civil society in working with counterparts across this region. Because there is no reason why respect for human rights should stop at the border of any country.

Hand in hand, that is what development and democracy are about – the notion that certain values are universal. Prosperity without freedom is just another form of poverty. Because there are aspirations that human beings share – the liberty of knowing that your leader is accountable to you, and that you won’t be locked up for disagreeing with them; the opportunity to get an education and to work with dignity; the freedom to practice your faith without fear or restriction.

Religion is the final topic that I want to address today, and – like democracy and development – it is fundamental to the Indonesian story.

Like the other Asian nations that I am visiting on this trip, Indonesia is steeped in spirituality – a place where people worship God in many different ways. Along with this rich diversity, it is also home to the world’s largest Muslim population – a truth that I came to know as a boy when I heard the call to prayer across Jakarta.

Just as individuals are not defined solely by their faith, Indonesia is defined by more than its Muslim population. But we also know that relations between the United States and Muslim communities have frayed over many years. As President, I have made it a priority to begin to repair these relations. As a part of that effort, I went to Cairo last June, and called for a new beginning between the United States and Muslims around the world – one that creates a path for us to move beyond our differences.

I said then, and I will repeat now, that no single speech can eradicate years of mistrust. But I believed then, and I believe today, that we do have a choice. We can choose to be defined by our differences, and give in to a future of suspicion and mistrust. Or we can choose to do the hard work of forging common ground, and commit ourselves to the steady pursuit of progress. And I can promise you – no matter what setbacks may come, the United States is committed to human progress. That is who we are. That is what we have done. That is what we will do.

We know well the issues that have caused tensions for many years – issues that I addressed in Cairo. In the 17 months that have passed we have made some progress, but much more work remains to be done.

Innocent civilians in America, Indonesia, and across the world are still targeted by violent extremists. I have made it clear that America is not, and never will be, at war with Islam. Instead, all of us must defeat al Qaeda and its affiliates, who have no claim to be leaders of any religion – certainly not a great, world religion like Islam. But those who want to build must not cede ground to terrorists who seek to destroy. This is not a task for America alone. Indeed, here in Indonesia, you have made progress in rooting out terrorists and combating violent extremism.

In Afghanistan, we continue to work with a coalition of nations to build the capacity of the Afghan government to secure its future. Our shared interest is in building peace in a war-torn land – a peace that provides no safe-haven for violent extremists, and that provides hope for the Afghan people.

Meanwhile, we have made progress on one of our core commitments – our effort to end the war in Iraq. 100,000 American troops have left Iraq. Iraqis have taken full responsibility for their security. And we will continue to support Iraq as it forms an inclusive government and we bring all of our troops home.

In the Middle East, we have faced false starts and setbacks, but we have been persistent in our pursuit of peace. Israelis and Palestinians restarted direct talks, but enormous obstacles remain. There should be no illusions that peace and security will come easy. But let there be no doubt: we will spare no effort in working for the outcome that is just, and that is in the interest of all the parties involved: two states, Israel and Palestine, living side by side in peace and security.

The stakes are high in resolving these issues, and the others I have spoken about today. For our world has grown smaller and while those forces that connect us have unleashed opportunity, they also empower those who seek to derail progress. One bomb in a marketplace can obliterate the bustle of daily commerce. One whispered rumor can obscure the truth, and set off violence between communities that once lived in peace. In an age of rapid change and colliding cultures, what we share as human beings can be lost.

But I believe that the history of both America and Indonesia gives us hope. It’s a story written into our national mottos. E pluribus unum – out of many, one. Bhinneka Tunggal Ika – unity in diversity. We are two nations, which have travelled different paths. Yet our nations show that hundreds of millions who hold different beliefs can be united in freedom under one flag. And we are now building on that shared humanity – through the young people who will study in each other’s schools; through the entrepreneurs forging ties that can lead to prosperity; and through our embrace of fundamental democratic values and human aspirations..

Earlier today, I visited the Istiqlal mosque – a place of worship that was still under construction when I lived in Jakarta. I admired its soaring minaret, imposing dome, and welcoming space. But its name and history also speak to what makes Indonesia great. Istiqlal means independence, and its construction was in part a testament to the nation’s struggle for freedom. Moreover, this house of worship for many thousands of Muslims was designed by a Christian architect.

Such is Indonesia’s spirit. Such is the message of Indonesia’s inclusive philosophy, Pancasila. Across an archipelago that contains some of God’s most beautiful creations, islands rising above an ocean named for peace, people choose to worship God as they please. Islam flourishes, but so do other faiths. Development is strengthened by an emerging democracy. Ancient traditions endure, even as a rising power is on the move.

That is not to say that Indonesia is without imperfections. No country is. But here can be found the ability to bridge divides of race and region and religion – that ability to see yourself in all individuals. As a child of a different race coming from a distant country, I found this spirit in the greeting that I received upon moving here: Selamat Datang. As a Christian visiting a mosque on this visit, I found it in the words of a leader who was asked about my visit and said, “Muslims are also allowed in churches. We are all God’s followers.”

That spark of the divine lies within each of us. We cannot give in to doubt or cynicism or despair. The stories of Indonesia and America tell us that history is on the side of human progress; that unity is more powerful than division; and that the people of this world can live together in peace. May our two nations work together, with faith and determination, to share these truths with all mankind.

Sumber: http://www.america.gov/st/texttrans-english/2010/November/20101109213225su0.4249035.html?CP.rss=true

Foto: Reuter.

DPRDSU Ingatkan, Proses Pilkada Tapteng dan Nisel Jangan Keluar Dari Koridor Hukum

Wednesday, November 10th, 2010

Medan – Komisi A DPRD Sumut mengingatkan KPUD dan Bupati/Walikota agar proses Pilkada (Pemilu kepala daerah) di Kabupaten Nisel (Nias Selatan), Tapteng (Tapanuli Tengah) dan Tanjungbalai mulai dari tahapan persiapan hingga tahapan penyelesaian jangan keluar dari koridor hukum agar tidak menimbulkan konflik horizontal dan kerusuhan di tengah-tengah masyarakat.

Hal ini diingatkan anggota Komisi A DPRD Sumut Suasana Dachi SH dan Irwansyah Damanik, SE dalam rapat dengar pendapat dengan KPUD Sumut, KPUD Nisel, KPUD Tapteng, KPUD Tanjungbalai, Bupati Tapteng Tuani Lumban Tobing, Bupati Nisel Fahuwusa Laia yang dipimpin Ketua Komisi A Hasbullah Hadi didampingi Wakil Ketua Sony Firdaus SH, Selasa (9/11) di DPRD Sumut.

Dalam rapat itu, Komisi A menyarankan, KPUD dan Bupati/Walikota masing-masing daerah harus bisa menjamin pelaksanaan Pilkada tidak bermasalah, jika semua aturan maupun ketentuan hukum yang sudah ditetapkan pemerintah benar-benar dilaksanakan dan tidak keluar dari koridor hukum.

Dicontohkan Suasana Dachi, persoalan yang selalu muncul dari proses persyaratan pencalonan terutama terkait dengan ijazah bakal calon, seperti yang menimpa salah satu balon Bupati Nisel dengan menggunakan surat keterangan pengganti ijazah. “Apakah surat keterangan pengganti ijazah itu sudah memenuhi data, seperti nama orang tua, indek nilai kumulatif siswa,” tanya Dachi.

Karena itu, ungkap Dachi, tidak ada alasan menunda Pilkada Nisel. Meski demikian, proses hukum tetap berjalan. Soal batas waktu 2 Desember 2010, sesuai kepres 8/2003 terkait tender pengadaan logistik Pilkada minimal 45 hari. Apakah ada ketentuan lain yang bisa dan apa yang jadi keputusan KPUD mencoret balon itu sudah benar,” tanya Dachi.

Terungkap juga, Pilkada Nisel bermasalah, karena selain ada angota KPUD yang dipecat dan adanya surat KPUD tentang pembatalan pencalonan, juga anggarannya terkendala terutama anggaran pengadaan barang dan jasa sudah disahkan, dibatalkan lagi
Ketua KPUD Nisel Solofona Manao menyebutkan, surat keterangan pengganti ijazah Fahuwusa Laia tidak memenuhi persyaratan, karena harus ada NIS (Nomor Induk Siswa) dan nilai akhir. Apalagi suratnya tidak memiliki kop surat Keterangan SMA BNKP Gunungsitoli 9/4/2005.

Sementara Ketua KPUD Sumut Irham Buana mengakui, kewenangan KPUD Sumut hanya bersifat administratif. Banyak terjadi polemik yang muncul di 2010 soal syarat pencalonan. KPUD Nisel sudah terima syarat pencalonan yang dikeluarkan tahun 2005 dan kewajiban KPUD mengkalirifikasi ke SMA BNKP Gunungsitoli.

“Apa yang disampaikan KPUD Nisel tadi itu yang jadi dasar bagi kami dan KPU pusat memberhentikan 4 anggota KPUD Nisel,” ujarnya.
Irham juga menyebutkan, Pilkada di Nisel seharusnya 2 Desember 2010, kalau ditarik mundur harusnya hanya tersisa waktu tidak kurang sebulan. PTUN tidak memiliki kewenangan untuk menunda Pilkada. KPU Nisel sudah memberhentikan sekretaris terkena pidana karena secara sengaja atau lalai sehingga menghalang-halangi penyelenggaraan pilkada.

Sedangkan masalah Pilkada Tapteng yang sudah mencuat ke permukaan, kata Irham Buana, timbul polemik di tengah-tengah masyarakat, seolah-olah KPUD Tapteng melaksanakan tahapan-tahapan Pilkada lari dari koridor hukum, padahal apa yang telah ditetapkan KPUD Tapteng sudah sesuai peraturan dan perundang-undangan.(www.hariansib.com – 10 November 2010)

Barry Sedang Menuju Jakarta, Indonesia

Tuesday, November 9th, 2010

Barry, Presiden negara adidaya Amerika yang lebih dikenal dengan nama Barack Obama sedang dalm perjalanan menuju Jakarta, Indonesia, setelah mengakhiri lawatan yang sukses di India.

Di Jakarta Barry akan tiba sebagai seorang yang berkunjung kembali ke daerah di mana ia menikmati masa kecilnya. Barry yang dulu tentu berbeda dengan yang sekarang – kini dia adalah seorang kepala negara dari negara adi kuasa yang akan mengunjungi negara dengan penduduk Muslim terbesar yang sedang berusaha menjadi negara disegani di kawasan Asia dan bahkan dunia.

Di Jakarta, Presiden Obama akan menandatangani Kesepakatan Kemitraan Komprehensif (comprehensive partnership agreement) bersama Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Agenda utama yang menjadi topik pembicaraan adalah masalah-masalah ekonomi dan pertahanan-kemanan.

Obama akan berkunjung ke Mesjid Istiqlal, mesjid terbesar di Asia Tenggara dan akan mengucapkan pidato di lapangan terbuka yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia, pada hari Rabu (10 November 2010).

Diharapkan kunjungan ini akan mempererat hubungan Indonesia dan Amerika.

Para pejabat AS mengatakan, seperti kunjungan ke India, kunjungan Obama ke Indonesia dirancang untuk menyegarkan dan mempererat hubungan Amerika dengan negara demokrasi baru yang telah menujukkan prestasi yang mengesankan di bidang ekonomi dan yang akan memainkan peran penting pada abad 21.

Pidato Obama besok (10 November 2010) memiliki tujuan ganda: menyambut hangat masuknya Indonesia ke dalam kelompok negara demokrasi dan memperbarui dialog dengan masyarakat Muslim yang telah dimulainya pada pidato di Cairo Juni 2009.

Dalam kunjungan kali ini Obama tidak memiliki rencana khusus untuk bernostalgia atau mengajak keluarganya menikmati nostalgia masa kecilnya. Namun, menurut sumber-sumber Gedung Putih, kesempatan yang lebih baik bisa direalisasikan tahun 2011 ketika Obama kembali ke Indonesia sebagai presiden pertama yang akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur.

Aktivitas Gunung Merapi sempat membuat rencana kunjungan kali ini tergelincir dalam ketidakpastian. Akan tetapi sejak hari Selasa penerbangan internasional berjalan normal kembali. (CNA/brk*)

Pemda Sigap, Warga Siaga

Tuesday, November 9th, 2010

Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr Prih Harjadi menyatakan, informasi prediksi gempa besar yang akan melanda Kepulauan Nias sebagai isu tidak berdasar. Pihaknya dan lembaga resmi lainnya tidak pernah menyatakan prediksi itu. Keganjilan lainnya, masih menurut BMKG adalah penyebutan tanggal akan terjadinya gempa. Sebab, sampai saat ini, belum ada satu teknologi pun dan juga pakar yang bisa mengetahui kapan pastinya gempa akan terjadi.

Tidak hanya itu, Nias Online juga menemukan beberapa kejanggalan terkait informasi prediksi itu, yang harusnya bisa menjadi acuan Pemda Nisel dan masyarakatnya agar tidak resah dan panik.

Pertama, sampai saat ini pemerintah pusat tidak pernah memberikan pengumuman resmi termasuk melakukan persiapan-persiapan antisipasi terkait prediksi gempa dan tsunami tersebut. Hal serupa juga tidak dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Beberapa warga juga menyadari kejanggalan itu dan mengungkapkan keheranannya. “Heran juga, sampai sekarang, kami belum pernah lihat di TV mengenai sikap pemerintah pusat dan persiapan antisipasi. Pemberitaan semuanya soal gempa dan tsunami Mentawai dan erupsi Merapi,” kata mereka.

Kedua, di tingkat wilayah Kepulauan Nias saja, ternyata kehebohan informasi prediksi gempa itu terutama terjadi di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) saja.

Sejumlah kontak Nias Online di luar Kabupaten Nisel mengaku tidak tahu mengenai informasi prediksi gempa tersebut. Beberapa warga Nisel juga kaget mengetahui kalau kehebohan terkait isu serupa tidak terjadi di wilayah Nias lainnya.

Dari penjelasan warga juga terungkap bahwa mereka tidak mendapatkan penjelasan atau klarifikasi mengenai keabsahan informasi prediksi gempa tersebut. Pada titik tertentu, keresahan dan kepanikan warga bisa dimaklumi mengingat mereka memiliki banyak koleksi trauma terkait gempa.

Seyogyanya, itu merupakan kewenangan pimpinan Pemda dengan meminta penjelasan ke lembaga resmi terkait, terutama dengan BMKG.

Sikap Pemda yang tidak kunjung mengklarifikasi keabsahan informasi tersebut kepada masyarakat selama hampir seminggu ini tak ayal menimbulkan tanda tanya. Beberapa warga sempat mengungkapkan kekuatiran mereka akan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan isu tidak jelas itu untuk kepentingan politiknya. Sebab saat ini di Nisel sedang ramai soal masalah pilkada yang sarat dengan berbagai intrik politik.

“Bisa saja ini sebagai pengalihan dari masalah yang sedang memanas di Nisel, terutama soal Pilkada. Sepertinya ada yang memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan dari situasi itu,” ujar beberapa warga yang tidak mau disebut namanya. Apakah keduanya saling terkait, tentu saja perlu dibuktikan dalam beberapa hari mendatang ini.

Nias Online sendiri, selain telah mencari klarifikasi pejabat BMKG dan ditampilkan melalui berita di situs ini, juga telah mengirimkan nomor kontak pejabat BMKG tersebut kepada Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan.

Pulau Nias berada di daerah rawan gempa. Dan itu bukan berita baru sama sekali. Gempa bisa terjadi kapan saja. Tidak ada yang bisa memastikan waktunya. Karena itu, siaga setiap saat adalah sikap yang tepat.

Kesiagaan yang hanya sewaktu-waktu, apalagi karena isu yang tidak jelas, tentu saja bukan sikap siaga yang baik. Selain akan membentuk rasa aman yang palsu (tidak bersiaga dan merasa aman setelah isu tidak terbukti), juga menguras energi dan emosi masyarakat.

Kesigapan Pemda adalah sikap bijaksana yang semestinya dimiliki. Kesigapan itu nampak dalam respons yang cepat dan tepat untuk memastikan keabsahan setiap informasi yang potensial meresahkan warga. Peredaran informasi yang tidak bertanggungjawab oleh orang-orang iseng, bukan kali ini terjadi di Pulau Nias. Di tingkat nasional pun hal serupa sering terjadi. Beberapa hari lalu, Jakarta dan warga sekitar Merapi dihantui oleh isu serupa.

Pemda yang sigap akan membentuk budaya siaga masyarakat secara wajar dalam mengantisipasi bencana. (Etis Nehe)