Posts Tagged ‘Vatikan’

Paus Fransiskus: Reformasi Ekonomi dan Keadilan Sosial Harus Seimbang

Wednesday, November 26th, 2014
Paus Fransiskus | vatican.va

Paus Fransiskus | vatican.va

NIASONLINE – Paus Fransiskus mengatakan Uni Eropa harus mencari keseimbangan antara reformasi ekonomi dan keadialan sosial.

Paus menekankan pentingnya memperhatikan kaum pekerja dalam setiap rancangan kebijakan.

“ … harus ada cara-cara baru untuk mempertemukan fleksibilitas pasar dengan kebutuhan akan kestabilan dan jaminan di pihak para pekerja; hal ini penting bagi pembangunan kehidupan mereka”, kata Paus di depan para anggota parlemen Eropa dalam arahannya di Parlemen Eropa, Strasbourg, Perancis, Selasa (25/11) seperti disiarkan oleh situs Vatikan.

Paus juga mengkritik institusi-institusi Eropa yang menurut beliau “tua”, “terisolasi”, letih dan lemah, yang menumbuh-kembangkan rasa saling tak percaya dalam masyarakat melalui kebijakan-kebijakan yang sungguh-sungguh membahayakan.

Sejak menjadi Paus, Fransiskus dikenal sangat vokal mengkritik kebijakan pengetatan yang diterapkan di Eropa dan mengecam ketamakan korporat dan budaya konsumerisme.

Paus juga mengecam perlakuan Eropa terhadap para pengungsi dan migran.

“Kita tidak boleh menjadikan Mediterania sebagai kuburan luas. Perahu-perahu yang tiba setiap hari di pantai-pantai Eropa berisikan manusia-manusia yang membutuhkan penerimaan dan uluran tangan,” kata Paus. (brk*/vatican.va).

Paus Fransiskus Menegaskan Kembali Sikap Gereja Katolik Menentang Hukuman Mati

Friday, June 21st, 2013

HukumMatiNIAS ONLINE, MADRID – Paus Fransiskus menegaskan kembali sikap Gereja Katolik yang menghimbau pengapusan hukuman mati. Sikap Gereja ini disampaikan Paus dalam pesannya pada Kongres Internasional ke 5 Penghapusan Hukuman Mati di Madrid, Spanyol.

Sikap Gereja menentang hukuman mati merupakan bagian dari pembelaan Gereja terhadap martabat manusia, kata Paus, dan “merupakan penegasan kembali secara berani kayakinan bahwa kemanusiaan bisa berhasil menghadapi kejahatan ” tanpa berpaling kepada penindasan kehidupan.

Dalam pesannya yang dilansir National Catholic Register, Amerika, Bapa Suci mengenang kembali bahwa imbauan yang sama pernah disampaikan para pendahulunya Paus Johannes Paulus XVI dan Paus Benediktus. Pesan Paus ini ditandatangai oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Tarcisio Bertone.

Paus meninta agar “hukuman mati direduksi menjadi hukuman yang lebih ringan yang memberikan kesempatan dan insentif kepada pelaku kejahatan untuk mengubah diri”.

“Hari ini, lebih dari hari-hari sebelumnya, mendesak untuk kita ingat dan tegaskan perlunya pengakuan dan penghargaan universal terhadap martabat manusia yang tak boleh dirampas, dalam nilai-nilainya yang tak terukur,” tulis Kardinal Bertone atas nama Paus Fransiskus.

Kongres Internasional Ke 5 Penghapusan Hukuman Mati berlangsung di Madrid, Spanyol, 12-15 Juni 2013. (brk/*) – Foto Ilustrasi: Wikipedia – Eksekusi seorang terpidana mati di Meksiko, 1914.

Ia serius, ini Jorge Bergoglio …

Friday, April 5th, 2013

Jorge Mario BergoglioKardinal Jorge Bergoglio dikenal sebagai seorang yang sederhana. Ia memasak makanan sendiri, dan ia tinggal di apertemen sederhana, menghindari berdiam di istana kardinal di Buenos Aires. Ia sering terlihat berada di atas bis bersama dengan kerumunan orang banyak. Singkatnya, ia mengusahakan sendiri keperluan pribadinya dan tidak mengandalkan para pembantunya yang sebenarnya tersedia untuknya sebagai tokoh tertinggi Gereja Katolik di Argentina.

Setelah terpilih menjadi Paus, para wartawan mengabadikan bagaimana ia kembali ke hotel tempat ia menginap selama masa konklaf untuk membayar langsung biaya hotelnya. Dan ia naik taksi ke mana-mana ketimbang menaiki mobil yang jauh lebih mewah yang disediakan pihak Vatikan. Segera setelah terpilih menjadi Paus ia juga terlihat naik bis dan duduk bersama para kardinal ketimbang menaiki mobil kepausan.

***

Daniel Del Regno adalah seorang pemilik kios surat kabar di Buenos Aires. Daniel memiliki seorang langganan ‘spesial’, siapa lagi kalau bukan Jorge Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires dan Kardinal sederhana itu. Secara reguler Daniel atau ayahnya, Luis Del Regno, mengantarkan koran ke apartemen sederhana di mana Kardinal Jorge Bergoglio tinggal.

FrancisMaka, ketika Daniel mendapat panggilan telefon dari seseorang yang mengaku bernama Jorge Bergoglio tidak lama setelah Paus baru terpilih, ia tidak begitu saja percaya. Dalam percakapan itu, si penelpon meminta Daniel untuk menghentikan pengantaran surat kabar ke apartemennya karena tidak mungkin kembali ke Buenos Aires dalam waktu dekat. Daniel berpikir ini pastilah ulah seseorang yang iseng mempermainkannya. Hal ini diungkapkan Daniel dalam percakapannya dengan orang yang ‘mencurigakan’ itu.

“Ia serius, ini Jorge Bergoglio. Saya menelpon anda dari Roma.”

Daniel mengusap air matanya dan selama berberapa saat tidak mampu berbicara. Ia akhirnya percaya, sebab memang ia mengenal suara yang menelponnya.

“Beliau mengucapkan terima kasih karena selama ini kami mengantarkan koran ke apartemennya. Ia mengirimkan salam dan berkat untuk keluarga saya,” tutur Daniel kepada surat kabar harian Argentina La Nacion sebagaimana dikutip harian The Telegraph.

Sebelum Jorge Bergoglio ke Roma untuk menghadiri konklaf (pertemuan para kardinal untuk memilih Paus, Red.) Daniel sempat bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Bahkan Daniel sempat bertanya mengenai kans Jorge Bergoglio untuk dipilih.

“Beliau menjawab: ‘Ini terlalu panas untuk disentuh. Kita jumpa 20 hari lagi, dan teruskan mengantar koran (ke apartemen saya). Sisanya adalah sejarah.’,” tambah Daniel.

o-POPE-ON-THE-BUS-TODAY-570Ayah Daniel, Luis Del Regno, mengungkapkan bahwa Jorge Bergoglio dikenal sangat ‘pelit’.Paus Fransiskus dalam Bis

Luis Del Regno, setiap bulan koran-koran tadi dikembalikannya ke kiosnya, dalam keadaan rapi.

Setiap hari Minggu Kardinal Jorge Bergoglio “datang ke Kios kami sekitar jam 5.30 pagi dan membeli koran La Nacion. Beliau ngonbrol-ngobrol dengan kami sebentar lalu naik bis ke Lugano untuk menyajikan teh untuk para muda-mudi dan orang-orang sakit, tambah Luis Del Regno seperti diberitakan the Catholic News Agency (CNA).

Kesederhanaan Paus Fransikus tentu saja kontras sekali dengan praktek-praktek kehidupan para pejabat Gereja di Vatikan. Bahkan juga kontras dengan kehidupan para biarawan di berbagai biara di berbagai belahan dunia yang sering terkesan sebagai rumah-rumah mewah ketimbang rumah di mana para pelayan Tuhan berdiam. (brk/* – The Telegrah – CNA – AP – The Huffington Post)

Ketegrangan Gambar:

(1) Kardinal Jorge Bergoglio (kedua dari kiri dalam kereta api bawah tanah di Buenos Aires
(2) Paus Franciskus sedang membayar biaya hotelnya di Roma, setelah terpilih jadi Paus.
(3) & (4) Paus Francis dalam bis bersama para kardinal

Bukalah Pintu Hatimu – Pesan Paus Fransiskus Pada Audiensi Umum Pertamanya

Thursday, March 28th, 2013

Paus-FrancisHari Rabu kemarin (27 Maret 2013), Paus Fransiskus mengadakan auidensi umum pertamanya di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Dalam pesannya (versi bahasa Inggris dapat diakses di sini), Paus mengajak hadirin untuk membuka pintu hati dan mendekati orang lain untuk menghadirkan cahaya dan kegembiraan iman. Berikut adalah terjemahan bebas dari pesan Paus yang diusahakan oleh Redaksi NO.

Saudara-saudari, selamat pagi !

Dengan gembira saya menyambut Anda semua pada audiens umum saya yang pertama. Dengan rasa syukur dan hormat yang mendalam saya menerima “kesaksian” dari tangan pendahulu saya yang terkasih, Bendiktus XVI. Setelah Paskah kita akan melanjutkan kembali katekesis tentang Tahun Iman. Hari ini saya ingin berfokus sedikit pada Pekan Suci. Dengan Minggu Palem kita memulai pada pekan ini pusat dari seluruh kalender liturgi dalam mana kita menemani Yesus dalam Sengsara, Kematian dan Kebangkitan-Nya.

Akan tetapi apa artinya bagi kita hidup dalam Pekan Suci? Apa artinya mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya menuju ke Salib di Kalvari dan Kebangkitan ? Dalam perutusan (misi) awalnya, Yesus berjalan di jalan-jalan di Tanah Suci; Ia memanggil kedua belas manusia biasa untuk tetap tinggal bersamanya, untuk mengikuti secara bersama perjalanan-Nya dan meneruskan perutusan-Nya; Ia memilih mereka dari antara orang-orang yang memiliki iman penuh akan janji-janji Allah.

Ia berbicara kepada setiap orang, tanpa membeda-bedakan, kepada bangsawan dan orang hina, kepada pemuda kaya dan janda miskin, kepada yang berkuasa dan tak berdaya; Ia membawa cintakasih dan pengampunan Allah kepada semua; Ia menyembuhkan, menghibur, mengerti (memahami), memberikan harapan, Ia mengarahkan semua kepada kehadiran Allah yang memberikan perhatian kepada setiap orang, seperti seorang ayah atau ibu yang baik yang memberikan perhatian kepada setiap anaknya.

Allah tidak menunggu kita untuk mendekati-Nya, Allah bergerak ke arah kita, tanpa perhitungan, tanpa ukuran-ukuran. Beginilah Allah: Ia selalu yang pertama, Ia menuju kita. Yesus hiudp dalam realitas keseharian orang-orang sederhana. Ia tergerak oleh kerumunan domba-domba yang tidak memiliki gembala, dan Dia menangis di depan penderitaan Marta dan Maria di saat kematian saudara mereka Lazarus; Ia memanngil pemungut pajak untuk menjadi muridnya dan Ia juga menderita karena pengkhianatan seroang sahabat.

Dalam Kristus, Tuhan telah memberikan kepada kita jaminan bahwa Dia bersama kita, di tengah-tengah kita. “Serigala” – kata Yesus – “mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Yesus tidak memiliki rumah karena rumahnya adalah manusia, kita; misi-Nya adalah membuka semua pintu-pintu Allah, menjadi kehadiran Allah yang mengasihi.

Dalam Pekan Suci kita berada dalam titik tertinggi perjalanan ini, rencana indah yang mengalir sepanjang sejarah hubungan Allah dan kemanusiaan. Yesus memasuki Yerusalem untuk mengambil langkah terakhir, di mana seluruh hidup-Nya disimpulkan: Ia memberikan diri-Nya secara total, Ia tidak menyimpan apa pun untuk diri-Nya sendiri, termasuk nyawa-Nya sendiri. Pada Perjamuan Terakhir dengan sahabat-sahabat-Nya, ia membagi-bagi roti dan mengedarkan piala ‘untuk kita’. Putra Allah ditawarkan untuk kita, Ia menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya ke dalam tangan kita supaya tetap bersama kita selalu, tetap hadir di antara kita. Dan di bukit Zaitun – seperti ketika di hadapan Pilatus – Ia tidak memberikan perlawanan, Ia memberikan diri-Nya sendiri: Ia Hamba Yang Menderita yang dinubuatkan oleh Yesaya, hamba yang menyerahkan nyawanya kepada kematian (bdk Yes 53:12).

Yesus tidak menghidupi kasih ini – yang bermuara kepada perngorbanan – secara pasif atau sebagai sebuah nasib sia-sia; Ia tentu saja tidak menyembunyikan kegentaran hebat kemanusiaan-Nya menghadapi kematian yang mengerikan, tetapi Ia mempercayakan Diri-Nya dengan keyakinan penuh kepada Bapa. Yesus secara sukarela menyerahkan Diri-Nya untuk mati untuk menanggapi kasih Allah Bapa, dalam kesatuan sempurna dengan kehendak-Nya, untuk mendemonstrasikan kasih-Nya kepada kita. Di atas salib, Yesus “mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untukku (Gal 2:20). Kita masing-masing boleh berkata: “Ia mengasihiku dan memberikan diri-Nya untukku.” Setiap orang boleh mengatakan: ”untukku”.

Apa artinya ini bagi kita ? Artinya, ini adalah jalanku, jalanmu, jalan kita. Merayakan Pekan Suci untuk mengikuti Yesus tidak hanya dengan perasaan-perasaan hati, merayakan Pekan Suci mengikuti Yesus berarti belajar bagaimana keluar dari diri sendiri – sepertti saya katakan pada hari Mingu lalu – menggapai yang lain, pergi ke batas-batas eksistensi, menjadi yang pertama mendekati saudara-saudari kita, terutama saudara-saudari kita yang terasing, yang terlupakan, yang sangat memerlukan pengertian, penghiburan dan pertolongan. Menghadirkan Yesus yang hidup, yang penuh pengampunan dan kasih adalah hal yang mendesak.

Mengambil bagian dalam Pekan Suci berarti memasuki jalan pikiran logis dari Tuhan, logika Salib, yang bukan pertama-tama penderitaan dan kematian, tetapi kasih dan penyerahan diri yang menghadirkan kehidupan. Mengambil bagian dalam Pekan Suci berarti masuk ke dalam logika Kabar Gembira. Mengikuti, menemani, dan tetap bersama Kristus menuntut langkah ke luar. Keluar dari diri sendiri, keluar dari jalan beriman yang rutin dan melelahkan, keluar dari godaan untuk kembali ke dalam pola-pola terdahulu yang bermuara kepada tertutupnya cakrawala kita terhadap karya kreatif Allah. Allah melangkah keluar untuk berada di antara kita, Ia mendirikan tenda di antara kita untuk menghadirkan kasih Allah yang menyelamatkan dan memberikan harapan. Bahkan bila kita ingin mengikuti-Nya dan tinggal bersama-Nya, kita tidak boleh bersikukuh untuk tetap berada dalam kelompok ke sembilan-puluh sembilan domba, kita harus keluar, untuk mencari domba yang hilang bersama dengan Dia, domba yang sangat jauh dari jangkauan. Mari kita ingat: melangkahlah keluar dari diri kita, seperti Yesus, seperti Allah keluar dari Diri-Nya dalam Yesus, dan Yesus melangkah keluar dari Diri-Nya.

Seseorang mungkin berkata pada saya: “Akan tetapi, Bapa, saya tidak punya waktu”, “banyak hal yang harus saya lakukan”, “sulit”, “apa yang bisa saya lakukan dengan kemampuan yang terbatas?”, “dengan dosa-dosa saya, dengan banyak hal?”

Sering kita terpaku pada beberapa doa, pada kehadiran yang tak konsisten dan tak terfokus pada Misa Minggu, pada karya karitas yang acak, tetapi kita kurang memiliki dorongan untuk “melangkah keluar” untuk menghadirkan Kristus.
Kita agak mirip dengan St. Petrus. Begitu Yesus berbicara tentang Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan, tentang penyerahan diri, tentang kasih untuk semua orang, Rasul ini mengajak Yesus berbicara berdua dan memperingatkan-Nya. Apa yang Yesus katakan mengganggu rencananya, kelihatannya tak berterima, menggoncang rasa aman yang telah terbangun dalam dirinya, idenya tentang Mesias. Dan Yesus memandang para murid dan menasehati Petrus dengan kata-kata yang barangkali paling keras dalam Injil: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (mrk 8:33).

Allah selalu memikirkan belaskasih: jangan melupakan hal ini. Allah selalu berpikir dengan kasih: Bapa kita yang mahakasih. Allah berpikir seperti seorang ayah yang menantikan kedatangan kembali anaknya dan datang menemuinya, melihatnya datang ketika masih dari kejauhan … Apa artinya ini? Artinya setiap hari ia pergi keluar untuk melihat apakah anaknya sedang kembali menuju rumah. Inilah Bapa kita yang mahapengasih. Ini tanda bahwa Ia sedang menantikan anak-Nya dari teras rumah-Nya; Allah berpikir seperti orang Samaria yang tidak mendekati korban untuk bersimpati, atau melihat ke arah lain, melainkan menyelamatkan-Nya tanpa meminta balasan apapun, tanpa bertanya apakah ia seorang Yahudi, atau seorang kafir, seorang Samaria, kaya atau miskin: dia tidak menanyakan apapun. Ia menyelamatkannya: beginilah cara Allah berpikir. Allah berpikir seperti gembala yang memberikan nyawanya untuk menyelamatkan domba-dombanya.

Pekan Suci adalah waktu rahmat yang Tuhan berikan pada kita untuk membuka pintu hati kita, hidup kita, paroki-paroki kita – menyedihkan banyak gereja yang sudah ditutup ! – di paroki-paroki kita, di berbagai gerakan dan asosiasi, dan untuk “melangkah keluar” ke arah yang lain, untuk mendekati mereka sehingga kita bisa membawa cahaya dan kegembiraan iman kita. Selalu melangkahlah keluar dari diri sendiri! Dan dengan kasih dan kelembutan Allah, dengan rasa hormat dan kesabaran, sambil menyadari bahwa kita menumpangkan tangan, kaki, hati, tetapi adalah Allah sendiri yang akan membimbing mereka dan memberikan buah-buah yang baik dari karya-karya kita.

Semoga Anda menjalani hari-hati ini dengan baik mengikuti Tuhan dengan semangat, membawa cahaya kasih-Nya kepada semua yang kita jumpai. (brk/*) (Foto: Situs Vatikan – www.vatican.va).

Paus Benediktus XVI Mengundurkan Diri

Monday, February 11th, 2013

Paus Benediktus XVI (Foto: IST)

Paus Benediktus XVI (Foto: IST)

NIASONLINE, JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari Tahta Suci, Vatikan. Paus Benediktus XVI menyatakan pengunduran dirinya. Pengunduran diri itu akan efektif berlaku pada 28 Februari mendatang. (more…)

Ahli Astronomi Vatikan: Sains dan Agama Tidak Bermusuhan

Sunday, February 20th, 2011

Bruder Guy J. Consolmagno SJ, seorang ilmuwan keplanetan dan ahli astronomi di Observatorium Vatikan mengatakan ilmu pengetahuan dan agama tidak bermusuhan. Menurut Consolmagno, konflik antara agama dan ilmu pengetahuan sebenarnya tidak ada. “Sains bertumbuh dari agama,” katanya.

Menurut Br. Consolmagno, seorang Yesuit, tujuan utama kehadiran Observatorium Vatikan adalah untuk menunjukkan bahwa Gereja sangat mendukung sains dan penelitian ilmiah. Ketika diangkat ke dalam jabatan itu pada tahun 1993, instruksi pertama yang ia terima adalah: “Guy, lakukanlah penelitian ilmiah yang baik”.

Consolmagno, kelahiran Detroit, Michigan, Amerika, memasuki Ordo Yesuit pada tahun 1989. Peran gandanya sebagai ilmuwan dan pekerja religi memberikan kepadanya kesempatan untuk merenungkan “pertanyaan-pertanyaan besar”, – “misteri-misteri yang anda hirup dan renungkan”.

“Ada banyak pertanyaan-pertanyaan menyangkut manusia,” katanya, sambil menerangkan bahwa “kucing saya tidak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Kucing saya tidak pernah berminat mengamati lewat teleskop.”

Menemukan jawaban-jawaban menyangkut pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana alam semesta bekerja dan bagaimana kita menjadi bagian dari padanya merupakan aktivitas-aktivitas yang sungguh-sungguh hanya bisa dilakukan oleh manusia, “seperti berdansa atau melukis atau melakukan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh seekor kucing,” katanya.

Menurut doktor dari Massachusetts Institute of Technology ini, secara historis Gereja dari dulu telah berperan sentral dalam mengembangkan sains dan kehidupan akademis; banyak para biarawan berada di garis depan kemajuan ilmu pengetahuan, katanya, sambil mengingatkan bahwa ide awal dari terori Dentuman Dahsyat (Big Bang Theory) berasal dari seorang imam Katolik (Mgr. Georges Henri Joseph Édouard Lemaître, Red.)

“Tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang melawan teroi evolusi,” katanya, “akan tetapi ada sesuatu dalam Kitab Suci yang melawan Astrologi.”

Literalisme biblis (faham yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah, Red.) adalah faham yang berkembang akhir-akhir ini, bukan tradisi kekristenan, katanya.

“Hingga waktu terakhir, semua literatur bersifat puitis,” katanya, dan dalam dunia zaman purba, menggunakan bahasa puisi – bukan bahasa ilmiah – adalah “cara mereka melukiskan dunia.”

Menerapkan cara membaca modern untuk memahami teks yang berumur 2,000 tahun “jelas melanggar teks (mengacaukan pemahamanan teks – Red.),” kata Consolmagno, “dan itu bukan saya yang mengatakan, itu dikatakan oleh Augustinus.”, katanya merujuk kepada St. Augustinus – seorang filsuf dan teolog yang banyak menyumbang pendapat di bidang interpretasi biblis.

Menurut Consolmagno, Observatorium Vatikan didanai dengan dana sebesar 0.5% dari anggaran tahunan Vatikan – kurang lebih persentase yang sama yang diberikan Pemerintah Amerika untuk NASA. Ia juga mengatakan bahwa Paus Bendiktus mendukung penuh riset dan independensi Observatorium Vatikan ini, baik secara filosofis maupun secara finansial.

Keterangan Gambar: (1) Bruder Guy J. Consolmagno SJ, (2) Mgr. Georges Henri Joseph Édouard Lemaître.

Sumber: www.jesuit.org & Wikipedia: en.wikipedia.org.

Benediktus XVI: Gunakan Internet Secara Bertanggung Jawab

Monday, January 24th, 2011

[VATIKAN] Paus Benediktus XVI meminta umat Katolik di seluruh dunia untuk menggunakan internet secara bertanggung jawab. Dia pun mengingatkan kaum muda untuk tidak mengganti interaksi kemanusiaan dengan komunikasi virtual. (more…)

Paus Benediktus: Sains Bisa Mengantar Manusia Kepada Pengenalan Akan Tuhan

Saturday, November 13th, 2010

Vatikan – Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa penelitian ilmiah bisa mengantar manusia kepada pengenalan akan Tuhan dengan mengungkap keteraturan alamiah dari alam semesta.

Paus menyatakan hal ini dalam sambutannya di depan pertemuan pleno Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan yang berlangsung di Vatikan pada tanggal 28 Oktober 2010.

Logika nyata yang mengatur alam semesta ‘mengantar kita pada pengakuan adanya Nalar yang berkuasa, yang berbeda dengan manusia, dan yang menjadi penyebab keberlangsungan dunia,’ kata Benediktus.

“Inilah titik temu antara ilmu pengetahuan alam dan agama,” kata paus.

“Sebagai hasilnya, sains menjadi tempat dialog, tempat pertemuan antara manusia dan alam, dan decara potensial, antara manusia dan penciptanya.”

Salah seorang anggota Akademi itu, fisikawan Inggris Stepehn Hawking, memancing kontroversi dalam bukunya “The Grand Design” di mana ia mengatakan bahwa keberadaan alam semesta tidak memberikan bukti akan keberadaan Tuhan.

Para ilmuwan yang berkumpul itu adalah anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan, suatu badan yang memberikan nasehat kepada Gereja Katolik – dalam hal ini Paus – tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan itu pada umumnya berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak harus berseberangan dengan kepercayaan agama.

Pada bagian lain sambutannya, Paus Benediktus XIV memuji kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-20. Paus mengatakan bahwa Gereja Katolik mendorong dan sekaligus mendapat keuntungan dari penilitian ilmiah. Lebih jauh Paus mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak perlu ditakuti tetapi pada saat yang sama tidak boleh dianggap sebagai solusi dari segala masalah mendalam eksistensial manusia.

“Kegiatan ilmiah pada akhirnya akan beruntung dari pengakuannya akan dimensi spiritual manusia dan kehausan manusia akan jawaban-jawaban ultimat,” kata Paus menjelaskan.

Sejumlah ilmuwan peserta konferensi itu menghimbau agar Gereja Katolik berusaha lebih kuat meyakinkan masyarakat bahwa Gereja tidak anti sains.

Pandangan Gereja Katolik yang paling kontroversial ialah kutukannya terhadap Galileo Galilei karena dukungannya terhadap model tatasurya Nicolaus Copernicus yang bersifat heliocentris. Gereja Katolik juga mengambil sikap dingin terhadap teori seleksi alam Charle Darwin. Pada awalnya Gereja membakar buku-buku tentang teori Darwin dan membutuhkan waktu lebih dari seabad untuk menerima bukti-bukti yang mendukung teori itu.

Keberadaan Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengatahuan memungkinkan Gereja berinteraksi dengan sains. Akademi ini didirikan oleh Pangeran Roma, Federico Cesi, pada tahun 1603, dan dikembalikan ke bentuknya yang sekarang oleh Paus Pius XI pada tahun 1936. Akademi ini membantu Gereja memahami perkembangan mutakhir di bidang sains khususnya yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran Gereja.

Sejumlah nama terkenal yang pernah menjadi anggota Akademi ini adalah para ilmuwan terkemuka abad 20 di antaranya Guglielmo Marconi perintis teknologi radio dan pendiri ilmu mekanika kuantum, Max Planck.

Jumlah anggota Akademi Kepausan sekarang adalah 80 orang, termasuk sejumlah ilmuwan pemenang hadiah Nobel di bidang sains. Keanggotaan Akademi ini sangat beragam, datang dari berbagai spektrum sains, dari berbagai negara dan agama atau kepercayaan.

Kualitas ilmiah bukan hanya satu-satunya kriteria menjadi anggota Akademi ini. Paus menerima atau menolak seorang ilmuwan menjadi anggota juga didasarkan atas ‘profil moral’ kandidat, walau tidak jelas apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan kriteria ini.

Profesor Kimia Biologis Edward De Roberts dari Universitas California mengatakan masuknya ia baru-baru ini menjadi anggota Akademi ini berkat pembicaraan seorang koleganya dengan seorang imam yamg diutus oleh Kardinal Los Angeles untuk memastikan profil moralnya.

Konon Albert Einstein tidak menjadi anggota karena ia memiliki hubungan di luar pernikahan.

Pertemuan ini berlangsung di Kantor Pusat Akademi tersebut, sebuah vila di taman Vatikan yang dibangun pada abad 16. Dalam pertemuan ini dibahas berbagai macam hal, dari fisika partikel dan perubahan iklim hingga neurosains dan rekayasa genetika. Beberapa dari anggota mengadakan refleksi atas penelitian mereka. Fisikawan Charles Townes, misalnya, mengisahkan penemuan laser-nya sekitar 50 tahun lalu.

Pakar biologi Werner Arber mangatakan ia yakin kerja Akademi ini akan berpengaruh terhadap pandangan Paus terhadap ilmu pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pertemuan-pertemuan pleno biasanya merupakan kesempatan di mana paus menyampaikan pernyataan-pernyataan penting seperti pernyataan Paus Yohanes Paulus II pada konferensi Akademi tahun 1992 yang mengakui kesalahan Gereja mengutuk Galileo.

Arber juga yakin akan pengaruh pertemuan-pertemuan skala kecil yang diselenggarakan oleh Akademi untuk membahas hal-hal spesifik seperti tanaman pangan yang dihasilkan lewat modifikasi genetika, senjata nuklir atau astrobiologi. Ia berpendapat serangkaian pertemuan untuk membahas definisi kematian membantu Vatikan menganalisis peran relatif otak dan jantung dalam hal ini.

Profesor Townes juga yakin bahwa para Akademi ini mempengaruhi pemahaman Paus terhadap sains. Namun ia mengatakan Paus Benediktus terkesan kurang tanggap dibandingkan dengan mendiang Paus Yohanes Paulus II dan lebih ‘konservatif secara relijius’. Ia mengatakan bahwa para anggota Akademi pernah mengadakan diskusi-diskusi langsung dengan mendiang mendiang Paus Yohanes Paulus II, sementara dengan Paus Benediktus masih akan direncanakan.

Beberapa anggota Akademi yang lain mengatakan Gereja Katolik tak berminat mendiskusikan topik-topik kontroversial seperti kontrasepsi.

Seorang astronomer yang juga seorang imam, Pastor Giuseppe Tanzella-Nitti mengatakan bahwa sains dan agama tak pernah berada dalam konflik, melainkan dalam ‘citra konflik, akibat peristiwa-peristiwa tertentu’. Untuk menghilangkan citra ini para imam harus dibekali dengan pendidikan sains yang lebih baik.

Tanzella-Nitti mengatan hanya lewat cara itulah para imam mampu ‘berbicara tentang Tuhan dengan cara yang meyakinkan dalam abad 21. (FN/CC/brk*)

Vatikan Menegaskan Dukungan Terhadap Solusi Dua Negara Bagi Israel-Palestina

Saturday, November 6th, 2010

Perwakilan Vatikan di PBB menegaskan kembali dukungan Vatikan terhadap Solusi Dua Negara bagi konflik yang berlangsung antara Israel dan Pelstina.

Dalam presentasinya pada pertemuan Badan PBB untuk Bantuan dan Karya Pengungsi Palestina di Timur Dekat (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East – UNRWA) Uskup Agung Francis Chullikatt menghimbau semua pihak untuk mematuhi resolusi-resolusi PBB yang telah ada dan mendesak “dialog yang signifikan dan substantif untuk membawa stabilitas dan perdamaian ke Tanah Suci”.

Dikatakan oleh Uskup Agung Francis Chullikatt bahwa UNRWA dan Misi Kepausan untuk Palestina telah bekerja selama lebih dari 60 tahun untuk menolong para pengungsi Palestina melalui penyediaan obat-obatan, pendidikan dan layanan sosial lain, yang biasanya adalah tanggung jawab otoritas pemerintahan lokal.

“Akan tetapi Delegasi saya yakin bahwa terdapat banyak laki-laki dan perempuan yang berkehendak baik yang memiliki keinginan dan dedikasi untuk mempromosikan pembentukan otoritas pemerintahan semacam itu,” tambah Uskup Francis.

Meski terdapat berbagai kesulitan yang seakan-akan tak terselesaikan dan perbedaan yang seakan-akan tak tersejembatani antara pihak pihak Israel dan Palestina, Delegasi Vatikan berkeyakinan terdapat kehendak baik untuk mempromosikan, membangun dan melestarikan berbagai mekanisme yang akan menhadirkan kedamaian, kerjasama dan sikap ketetanggaan yang rukun.

Delegasi Vatikan berharap proses perdamaian yang diperbaharui dapat menyelesaikan akar-akar penyebab berbagai simptom dan membantu Israel dan Palestina membentuk sebauh negara yang aman bagi rakyat Israel dan sebuah negara yang aman bagi rakyat Palestina. (Sumber: http://www.holyseemission.org/2Nov2010.html – Foto: catholicnew.com)

Paus Benediktus Kunjungi Malta

Sunday, April 18th, 2010

* Paus akanh memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu.

Paus Benediktus tiba di Malta hari Sabtu (17/4) dalam kunjungan keluar negerinya yang pertama sejak maraknya skandal pelecehan seksual yang dilakukan rohaniwan Katolik.

Tujuan kunjungan Paus ke Malta adalah memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu. Santu Petrus dipandang sebagai misionaris besar pada awal perkembangan agama Kristen.

Paus Benediktus kepada wartawan dalam penerbangan ke Malta mengatakan, Gereja Katolik telah dilukai dosa. Tetapi dia tidak menyebut skandal seks secara langsung.

Paus Benediktus bertemu dengan Presiden Malta George Abela dan muda-mudi Katolik Malta. Berkotbah di depan ribuan umat di Valleta, ibukota Malta, Paus Benediktus mendorong rohaniwan Katolik untuk mempertahankan panggilan mereka yang penuh tantangan dan kepahlawanan itu.

“Malta memberikan kontribusi besar untuk memeprtahankan Kekristenan lewat darat dan lewat laut,” kata Paus dalam sambutannya ketika bertemu dengan Presiden Malta.

“Anda terus memainkan peran dalam debat yang berkelanjutan tentang identitas, kultur dan kebijakan Eropa. Malta telah berkontribusi banyak terhadap berbagai masalah menyangkut toleransi, reprositas, imigrasi, dan isu-isu lain yang krusial terhadap masa depan benua ini,” kata Paus.

Sebelumnya, Abela mengajak rakyat Malta untuk menyambut Paus dengan “antusiasme dan tangan terbuka”, dalam pesannya lewat radia dan televisi.

Dalam kunjungan ini Paus Benediktus mendapat tantangan besar menyampaikan pesannya untuk Malta, khususnya tentang imigrasi. Malta, yang berada di anata Sisilia dan garis pantai utara Afrika menerima sebanyak 3,000 manusia perahu pada tahun 2008, jumlah yang tercatat dalam rekor. Masih ratusan manusia perahu dari Afrika berada dalam penampungan sementara menunggu keputusan atas nasib mereka.

Paus Benediktus telah berkali-kali menghimbau dalam beberapa bulan terakhir untuk menemukan solusi yanga dil dan manusiawi terhadap isu manusia perahu ini.

Tema lain yang mendapat perhatian khusus Paus adalah pelestarian warisan kristiani Eropa.

Malta adalah negara anggota Uni Eropa terkecil dengan jumlah penduduk sekitar 443,000 jiwa.

Malta memiliki 1 imam untuk melayani 490 umat Katolik dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 1: 2900, menurut statistik Gereja.

Di Malta, aborsi adalah ilegal dan bahkan tidak diperdebatkan; tetapi semakin banyak menginginkan relaksasi terhadap perceraian.

Akan tetapi selama kunjungannya Paus menegaskan kembali sikap tegasnya terhadap perceraian.

“Negara Anda sebaiknya terus mempertahankan keutuhan perkawinan,” katanya.

Kunjungan Paus Benediktus ke Malta merupakan kunjungannya ke 14 ke luar negeri sejak 2005 dan yang pertama tahun ini.

Bagi Malta, kunjungan Paus ini merupakan kunjungan Paus ketiga, setelah Paus Johannes Paulus II ke sana pada tahun 1990 dan 2001. (VOA/AP/maltadiocese.org/brk*)

Pertemuan Pertama Obama dengan Paus Benediktus

Saturday, July 11th, 2009

Presiden AS Barack Obama telah bertemu dengan Paus Benediktus XVI untuk pertama kalinya beberapa jam setelah pertemuan G8 di Italia berakhir.

Keduanya bertemu sekitar 40 menit di ruang studi Paus di Vatikan. Para wartawan mengatakan keduanya memiliki pandangan yang sama tentang beberapa hal seperti perdamaian Timur Tengah, perubahan iklim dan krisis ekonomi global.

Tetapi pembicaraan keduanya mencakup juga bidang-bidang di mana mereka memiliki pandangan berbeda seperti masalah aborsi dan riset sel tunas. (more…)

Melebihi Harapan, Forum Katolik-Islam di Roma Mempererat Relasi

Saturday, November 15th, 2008

Sulit membayangkan suatu konteks yang lebih menjanjikan antara kaum Muslim dan Kristen dari pada suatu minggu pada mana warga Amerika memilih presiden mereka seorang Kristen yang memiliki banyak kerabat Islam dan yang dulu pernah tinggal di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Kelihatannya “efek Obama” telah memainkan perannya dalam pembicaraan yang berlangsung 3 hari di dan sekitar Vatikan minggu lalu (4-6 November), yang dianggap oleh delegasi Islam sebagai suatu inisiatif yang produktif. (more…)

Paus Menyambut Kedatangan Tokoh-Tokoh Islam dalam Suatu Forum Bersejarah

Friday, November 7th, 2008

Vatikan, 6/11/2008 – Paus Benediktus XVI mengatakan hari Kamis bahwa penganiayaan karena keyakinan seseorang “tidak dapat diterima dan tak dapat dibenarkan” dan menghimbau umat Kristen dan Mulsim mengatasi masalah-masalah kecurigaan masa lalu dan berkarya untuk perdamaian. Komentar Paus itu dipublikasikan setelah audiens bersejarah dengan para peserta seminar para pemimpin umat Katolik dan Muslim yang berakhir Kamis malam. (more…)

Persyaratan Menjadi Calon Pastor (Imam Katolik) Diperketat

Friday, October 31st, 2008

Vatikan membuat rekomendasi Kamis (30/10) agar seminari-seminari (sekolah calon imam) melakukan tes kepada para calon siswa yang dicurigai memiliki kelainan psikologis – termasuk ‘kecenderungan homoseksual yang mengakar’ – yang bisa mengakibatkan mereka tak layak jadi imam. (more…)

Vatikan dan Islam akan Membangun Dialog Tetap

Friday, March 7th, 2008

Kota Vatikan – Para pemimpin Vatikan dan dunia Islam menyepakati pembentukan dialog resmi yang permanen untuk meningkatkan hubungan yang sering sulit dan menyembuhkan luka dari pidato kontroversial Paus pada tahun 2006.

Pernyataan bersama mengatakan pertemuan pertama “Forum Katolik-Muslim” akan berlangsung tanggal 4 – 6 November 2008 di Roma dihadiri 24 pemimpin agama dan intelektual dari masing-masing pihak. (more…)