Archive for September, 2021 | Monthly archive page

Inggris Membatalkan Rencana Penerapan Paspor Vaksin COVID-19

Monday, September 13th, 2021

Inggris membatalkan rencana penerapan paspor vaksin COVID-19 hanya seminggu setelah rencana itu diumpankan ke publik. Setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak termasuk dari intern partai, pemerintah Konservatif Inggris membatalkan rencana yang sangat kontroversial ini serta mengisyaratkan lockdown juga tidak lagi menjadi bagian dari pendekatan baru mengatasi pandemik.

Rencana pembatalan visa paspor ini serta berbagai kebijakan baru dalam menghadapi pandemik akan disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Borris Johnson pada hari Selasa besok (14/09/21 waktu setempat). Mendahului pernyataan resmi itu, Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid menekankan ada banyak opsi yang akan menjadi bagian dari tindakan menghadapi pandemik di masa depan, termasuk pengujian, pengobatan, pengawasan (surveillance) dan pengujian

Penerapan paspor vaksin mendapat banyak kecaman karena dianggap berpotensi memecah kohesi sosial masyarakat, juga karena paspor vaksin dianggap sebagai isyarat pewajiban vaksinasi, termasuk kepada pihak yang enggan divaksin karena berbagai alasan termasuk alasan medis, alasan etis dan alasan kebebasan memilih individual pada umumnya. (brk/*)

Akankah Warga Dunia Terus Disuntikkan Dosis Tambahan (Booster) ?

Thursday, September 9th, 2021

Bulan Juni 2021 lalu, Alon Rappaport, Direktur Medis Pfizer di Israel mengatakan vaksin produknya cukup efektif dalam menghadapi varian Delta yang saat itu mulai menyebar.

“Data yang kami miliki saat ini, yang berakumulasi dari riset kami di lab dan dari tempat – tempat di mana varian Delta menggantikan varian Inggris sebagai varian umum, mengindikasikan bahwa vaksin kami sangat efektif, sekitar 90%, dalam mencegah COVID-19,” kata Rappaport pada waktu itu.

Sebulan kemudian, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa efektivitas vaksin buatan Pfizer/BiNTech itu ternyata hanya tinggal 39% dalam mencegah COVI-19 yang menyebar lewat varian Delta dari SAR-Cov-2.

Makin menurunnya efektifitas vaksin mencegah COVID-19 mendorong pengakuan pejabat tinggi medis Israel bahwa warga Israel harus meneria kenyataan bahwa dosis tambahan (yang lebih dikenal dengan nama booster) akan diperlukan.

“Mengingat bahwa virus berada di sini dan masih akan terus di sini, kita pun perlu mempersiapkan diri untuk injeksi ke empat”, kata Salman Zarka, Direktur Pusat Medis di Safed, Israel, yang juga adalah Komisioner Coronavirus Israel.

Menurut salah satu situs data vaksinasi dunia, Israel merupakan salah negara yang berada paling depan dalam laju vaksinasi. Pada tanggal 27 Desember, Israel merupakan negara pertama yang memberikan dosis vaksinasi pertama ke 16% penduduknya. Pada akhir Januari 2021, Israel masih menempati tempat teratas dengan 21% penduduknya telah mendapat vaksinasi penuh dan 14.2% mendapat vaksin dosis pertama. Pada akhir Februari 2021 persentase ini bergeser masing – masing menjadi 39% dan 15%. Israel masih berada di tempat teratas hingga tanggal 4 Juni 2021, dengan persentase masing-masing 58.5% dan 3.6%. Sejak itu, laju vaksinasi di Israel menurun, sehingga pada tanggal 7 September 2021, Israel pada posisi 15, dengan persentasi warga yang divaksinasi penuh 62.7%.

Israel mulai memberikan dosis tambahan (booster – dosis ketiga) pada tanggal 30 June 2021. Dilaporkan, dosis tambahan ini memberikan perlindungan 5 sampai 6 kali setelah 10 hari dalam untuk mencegah sakit serius. (brk/*)

 

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (4): Tim Sukses Harus Sungguh-Sungguh Berefleksi

Wednesday, September 8th, 2021

Tim Sukses (TS) para Paslon sangat berperan dalam menentukan hasil sebuah pemilihan. Mereka inilah yang mengatur strategi agar Paslon dikenal, disukai, mengundang simpati, dan akhirnya dipilih masyarakat.

Kita semua telah mengetahui hal itu.

Yang barangkali tak kita ketahui, dan yang sering luput dari perhatian kita adalah: mengapa seseorang bergabung dalam TS sepasang Paslon.

Pertanyaan itu bisa kita modifikasi sedikit menjadi: mengapa si X memilih bergabung dengan TS Paslon A dan bukan dengan TS Paslon B atau C?

Apapun alasannya, yang berikut ini harus diingat oleh para anggota TS. Masyarakat berharap perbaikan taraf hidup, berharap keluar dari keterbelakangan dari generasi ke generasi.

TS sesungguhnya adalah corong dari berbagai keluhan masyarakat, pembawa pesan-pesan, harapan, dan keluhan – keluhan warga ke Paslon.

TS yang berkualitas berpotensi menghasilkan kepemimpinan dengan ide – ide segar di setiap daerah (pemilihan).

TS yang didorong oleh kepentingan sesaat berpotensi menghasilkan kepemimpinan yang hanya akan mengabadikan status Kep. Nias sebagai Daerah Tertinggal.

* Tulisan ini disiapkan tanggal 20 November 2020, dimuat di Nias Online setelah koreksi kecil.

Melacak Asal Usul Lagu Maena “Ma’owai Sa Ami …” (” Da Ma’owai Ami”)

Monday, September 6th, 2021
Kenangan saya akan Masa Kelaparan di Nias pada tulisan sebelumnya, juga mengingatkan saya akan kisah terkait lainnya: tentang Lagu Maena Ma’owai Sa Ami …  (Da Ma,’owai Ami) – selanjutnya disingkat MSA/DMA.

Lagu maena ini sangat populer dalam kalangan masyarakat Nias hingga sekarang, baik dalam pesta perkawinan maupun dalam acara – acara pesta lain.

Judul Ma’owai Sa Ami … hampir pasti merupakan judul pertama yang saya kenal, sementara judul Da Ma,’owai Ami muncul belakangan.

Di Youtube ada sejumlah video dari lagu maena MSA/DMA ini. Salah satunya adalah versi yang bait-baitnya (bagian ‘Fanunö’ – nya) menurut video itu diciptakan oleh Ir. Frans Bate’e pada tahun 1974. Versi lain dapat diakses lewat tautan ini.

Ma’owai Sa Ami (Fanehe)

Ma’owai sa ami
(Da ma’owai ami)
ba döi maena
ba döi laria
fefu dome salua ba olayama
(fefu domema si no alua)
Catatan: yang di dalam kurung adalah penggalan lirik versi lain

Kehadiran lagu-lagu maena seperti ini di dunia maya tentu saja membantu melestarikan karya seni budaya kita dan memviralkannya ke dunia luar. Namun harus diakui, kualitas aransemen dari berbagai maena dalam video-video musik online itu belum mencerminkan atau memproyeksikan kualitas aslinya. Sorotan khusus akan hal ini akan diusahakan dibuat pada sebuah tulisan lain.

Kepopuleran MSA/DMA hingga sekarang, menurut saya adalah karena dua alasan berikut. Pertama, lagunya – seperti umumnya lagu maena lain – sederhana tetapi indah, enak didengar, apalagi dengan hadirnya melodi yang menyemangati pada jalur suara bass. Dalam versi MSA/DMA yang ada di Youtube, jalur bass ini hilang, pada hal inilah salah satu daya pukau MSA/DMA. Kedua, lirik Fanehe-nya sangat umum: penyambutan tamu, tak terikat pada tema khusus. Itulah sebabnya misalnya bagian baitnya yang dibuat Frans Bate’e di depan adalah tentang perkawinan.

Khusus buat para pembaca yang bukan orang Nias, lirik di atas adalah bagian Fanehe (kurang lebih refrein / korus) dari MDA/DMA. Bagian Fanehe inilah yang diulang-ulang para penari maena setiap kali sesudah Sanutunö (penutur, pengisah) menyelesaikan bagian Fanunö(bait-bait sebuah lagu maena). Juga, umumnya lirik bagian fanehe ini dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, seperti yang dilakukan Frans Bate’e di depan.

Sebagaimana lagu-lagu maena yang lain, MSA/DMA ini pun menjadi milik publik, tanpa kita pernah mengetahui dengan pasti siapa pengarangnya. Sebagai masyarakat yang lebih mengandalkan komunikasi lisan, masyarakat Nias – terutama di zaman dulu – tidak begitu peduli dengan apa yang kita kenal sekarang sebagai hak cipta / hak kekayaan intelektual.

Yang terakhir ini menjadi penting ketika hasil-hasil karya di berbagai bidang menjadi sumber penghidupan – terutama karena dikelola secara profesional dan memberikan nilai tambah bagi konsumen berupa: kenikmatan tertentu.

Ada 3 alasan mengapa saya memiliki kenangan khusus dengan lagu maena ini.

Pertama, setelah coba mengingat-ingat kembali kisah masa kecil, saya merasa yakin – saya tahu kapan pertama kali mendengar lagu maena ini. Yakni, pada waktu persiapan dan hari peresmian gedung Sekolah Dasar SD Orahua Muzöi, mungkin pada bulan-bulan terakhir tahun 1965 (sesudah peristiwa G30S/PKI) atau awal tahun 1966. Situs Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mencantumkan nama SD ini sebagai SD Negeri 071011 Orahua Muzoi. Dalam situs ini, tanggal SK pendiriannya ditulis: 1910-01-01 yang barangkali berarti “tidak jelas” (tidak diketahui). Kata Orahua (kesatuan) dalam nama SD itu tiada lain menunjukkan bahwa inisiatif pendirian sekolah itu muncul dari kesepakatan para tokoh masyarakat dari sejumlah desa sekitar. Sebelum pesta peresmian gedung sekolah itu, beberapa tahun ke belakang – barangkali sejak umur 3.5 – 4 tahun – (ketika sudah berstatus iraono lö olifu atau anak yang sudah bisa mengingat kejadian-kejadian penting dalam hidup) saya sudah mengenal sejumlah lagu maena yang dibawakan pada pesta-pesta perkawinan yang saya hadiri bersama orang tua. Namun, seingat saya, MSA / DMA pertama kali saya dengar pada pesta peresmian gedung SD Orahua Muzöi itu.

Kedua, bersamaan dengan lagu maena ini, saya juga mengenal satu lagu lain yang menurut ingatan saya bersamaan munculnya dengan MSA/DMA. Lagu itu dibuat khusus untuk pesta peresmian gedung SD Orahua Muzöi tersebut. Saya tak tahu persis apa judulnya, namun dalam tulisan ini saya beri saja judul “S’lamat Datang”, yang merupakan dua kata pertama dari syair bait 1 lagu itu, yang juga tak lengkap saya ingat, sebagai berikut:

Lagu S’lamat Datang

S’lamat datang
S’lamat datang
Sekalian ibu, bapa
Yang telah seia sekata
Mendirikan sekolah
… (saya lupa)
Untuk kemajuan kita
SD Orahua

(Catatan: saya masih ingat melodi lagu ini).

Ketiga, saya mengingat siapa sosok yang memperkenalkan kedua lagu tersebut pada even yang sama. Dalam mempersiapkan even yang termasuk besar untuk tingkat öri ini, tokoh-tokoh dan masyarakat Botomuzöi dilibatkan. Khusus untuk persiapan penyambutan tamu, diadakan latihan maena MSA/DMA dan lagu S’lamat Datang tersebut. Lagu S’lamat Datang dilatih di sekolah selama beberapa hari karena akan dibawakan oleh anak-anak SD (mungkin kelas 2/3 ke atas). Sebagai catatan, walau saat itu SD tersebut baru berdiri, SD tersebut menerima juga anak-anak pindahan dari SD lain, termasuk dari SD Banua Sibohou, di mana saya pernah menjadi ‘tome’ (tamu) sebelum resmi masuk kelas 1. Jadi pada tahun pertama SD Orahua Muzöi sudah memiliki kelas 2 hingga kelas 4 atau 5 kalau tidak salah.

Sementara itu, MSA/DMA dibawakan oleh orang-orang tua dan para pemuda/i öri Botomuzöi saat itu. Latihan – seingat saya – tidak lama, mungkin sehari sebelum hari peresmian itu, yang (kalau tak salah) bertepatan dengan harimbale, Kamis.

Melihat liriknya, beralasan lagu ini diciptakan khusus untuk even besar itu (dalam skala öri pada saat itu tentunya). Sama seperti lagu “S’lamat Datang” yang liriknya jelas dibuat untuk even itu. Dalam peresmian itu hadir pejabat dinas terkait dari kecamatan / kabupaten, dan barangkali juga Asisten Wedana (sekarang: Camat). Saya ingat seorang tentara dengan pakaian khas militer ikut dalam maena.

Siapa pelatih MSA/DMA untuk even yang disebut di depan ?

Pelatih dari lagu maena MSA/DMA adalah Bapak Ligimböwö Lase alias Ama Dörö, yang tiada lain adalah Kepala SD Orahua Muzöi pertama. Beliau sendiri bukan dari öri Botomuzöi, tetapi dari öri dan desa lain, kemungkinan dari Lahagu, yang masuk wilayah Nias Barat. Bapak L. Lase sangat energetik dan cukup bersahabat dengan warga yang mengenal beliau. Saya tidak memiliki kedekatan khusus dengan beliau. Anak-anak beliau adalah teman bermain, sementara anaknya pertama (yang pada saat itu sedang belajar di SMA BNKP, Gunungsitoli) adalah salah seorang teman saya bermain catur dan bermain tebak-tebakan lokasi di peta dunia, kalau dia lagi libur dan pulang kampung.

Pertanyaan: apakah Bapak L. Lase (A. Dörö) – yang mencipta kedua lagu itu?

Saya cenderung mengatakan “ya”, tetapi bisa saja saya keliru.

Kisah ini saya tulis dengan tujuan baik: berusaha melacak asal usul salah satu karya budaya / seni Nias yang masih kita nikmati hingga saat ini.

Dalam tulisan ini, saya hanya mengandalkan daya ingat yang masih saya miliki, yang karena perjalanan waktu sudah sangat jauh dari sempurna. Itulah alasan mengapa di sana-sini muncul frasa: ‘seingat saya‘, ‘kalau tak salah‘, ‘barangkali‘, dan ‘tak ingat lagi‘. Itu artinya, revisi internal dari saya sendiri masih mungkin, dan koreksi dari pihak pembaca saya sambut dengan hati terbuka dan gembira.

* Tulisan ini dipersiapkan 24 April 2020. Setelah perbaikan dan beberapa tambahan kecil, dimuat di Nias Online.

Australia Menjadi Sorotan Dunia Karena Berbagai Tindakan Berlebihan Menghadapi Pandemik

Saturday, September 4th, 2021

Australia menjadi sorotan dunia karena dianggap mengebiri hak – hak demokratik masyarakat melalui tindakan berlebihan bahkan irasional dalam menghadapi pandemik COVID-19. Saat ini, Australia merupakan negara yang melakukan restriksi paling ketat terhadap warganya. Hingga saat ini, Australia melarang warganya meninggalkan negara itu dengan sejumlah pengecualian yang sangat terbatas. Perbatasan antara sejumlah negara bagian dan teritori juga ditutup. Negara bagian Victoria sudah baru saja memberlakukan lockdown ke 7 selama 19 bulan terakhir.

Dalam sebuah tulisannya di Atlantik, wartawan Amerika Conor Friedersdorf mempertanyakan apakah Australia masih boleh disebut sebagai sebuah negara demokrasi liberal melalui berbagai kekangan terhadap kebebasan warga yang diterapkan lewat keadaan darurat.

Di Australia Selatan, sebuah aplikasi pengenalan wajah sudah dibuat dan dipakai untuk mengontrol orang-orang yang diisolasi di rumah. Menteri Utama negara bagian Australia Selatan Steven Marshal bahkan berharap aplikasi ini nanti akan dipakai juga untuk mengontrol kedatangan penumpang dari luar negeri.

“Masyarakat Australia Selatan seharusnya bangga karena kita merupakan pilot nasional untuk aplikasi karantina di rumah (isoman, Red.)”, kata Steven Marshall.

Menanggapi pernyataan Steven Marshall, Charles C.W. Cooke dari National Review menulis sebuah opini dengan judul bernada sarkasme: “Premier of South Australia: Boy, I Hope You’re Proud We’re Spying on You” (Saya berharap anda bangga karena kami memata-matai anda).

Harian Wall Street Journal dalam kolom opini / ulasan tanggal 27 Juli 2021, James Morrow memuat tulisan dengan judul cukup menohok: “Covid Mania Returns Australia to Its Roots as a Nation of Prisoners“. (Covid mania mengembalikan Australia ke akarnya sebagai negara para narapidana).

Harian The Times dalam halaman pertama versi cetaknya mengecam Australia yang menerapkan lockdown yang berlebihan sebagai “Covid prison” (penjara coivd) seperti terlihat dalam gambar. Sementara dalam tulisan berjudul Can Australia break free from an endless cycle of lockdowns?, Bernard Lagan membuka tulisannya dengan kalimat informatif berikut: “Di luar China, tak ada aturan seketat yang diterapkan di Australia.”

Dari dalam negeri, Rowan Dean dari Sky News Australia mengatakan lockdown yang berkepanjangan telah menjadikan Australia bahan tertawaan dunia sementara warga dunia lain menikmati kebebasan.

Selama masa pandemik ini, banyak kisah – kisah memilukan yang dialami warga karena tindakan pengekangan berlebihan ini. Misalnya saja, kemarin, keluarga salah seorang tentara yang gugur dalam latihan sempat tidak dizinkan untuk hadir pada pemakamannya. Setelah melalui himbauan dan tekanan dari berbagai pihak, Menteri Utama negara bagian Queesland, Annastacia Palaszczuk, akhirnya mengizinkan keluarga yang bersangkutan dari New South Wales dizinkan melintasi perbatasan.

Dari data hingga Agustus 2021, kematian yang diasosiaskian dengan COVID-19 di Australia berjumlah 1031 orang dengan rincian: 333 orang berusia di atas 90 tahun, 422 orang (80 – 89 tahun), 187 orang (70 – 79 tahun), 53 orang (60 – 69), 21 orang (50 – 59), 6 orang (40 – 49), 6 orang (30 – 39), 2 orang (20 – 29), dan 1 orang (10 -19). (brk/*)

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (3): (Jangan) Menjual Kebohongan

Wednesday, September 1st, 2021

If you betray yourself
If you say untrue things
If you act out a lie
You weakend your character
Jika engkau mengkhianati diri
Jika engkau mengatakan hal-hal yang tak benar
Jika engkau meniru kebohongan dan melakukannya
Engkau melemahkan karaktermu
(Jordan Peterson –Profesor Psikologi, Universitas Toronto )
__________________

Demi mencapai tujuan, tidak jarang para Palson di setiap kesempatan menerapkan strategi pemasaran untuk meyakinkan para pemilih. Istilah keren politiknya: kampanye.

Trump, Biden, Borris Johnson, … pokoknya siapa saja yang masuk gelanggang pemilihan melalukannya. Termasuk juga di pelosok – pelosok, di daerah – daerah yang masih berstatus Danggal.
Sejauh itu, oke oke saja. Bahkan orang merasa aneh apabila para Paslon sama sekali tidak menawarkan ide-idenya ke publik (calon pemilih) melalui berbagai jalur berkomunikasi.
•••
Akan tetapi kampanye politik telah sedemikian terkontaminasi sehingga warga menganggapnya sebagai ajang menjual kebohongan. Masih mending kita membeli kue bohong, kita dapat kuenya, bohongnya hanya di nama.

Tetapi kalau kita percaya begitu saja pada janji-janji kampanye para Paslon, tanpa berusaha ‘mempelototinya’ (tabura’ö höröda wamaigi), kita hanya akan terjebak dalam ritus kekecewaan 5 tahunan.

Silahkan ingat kembali seluruh janji-janji paslon yang terpilih dan bandingkan dengan kenyataan di lapangan.

Dipastikan tak ada satu paslon pun yang menjanjikan kue bohong. Akan tetapi warga pemilih sudah sangat realistis dalam berekspektasi karena sudah biasa mengalami kekecewaan siklus 5 tahunan. Oleh sebab itu, warga pemilih lebih suka langsung diberi kue bohong atau diberi uang senilai beberapa kue bohong … daripada menunggu 5 tahun lagi untuk melihat hasil – hasil pembangunan yang dijanjikan oleh pemenang lewat komitmen politik mereka.

Observasi yang sama berlaku juga untuk pemilihan legislatif.

•••

Bagi para paslon dan para tokoh pencerah masyarakat: pesan singkat Jordan Peterson di atas penting untuk direnungkan. Ditulis ulang kembali di sini:

♡♡♡
Jika engkau mengkhianati diri
Jika engkau mengatakan hal-hal yang tak benar
Jika engkau meniru kebohongan dan melakukannya
Engkau melemahkan karaktermu
♡♡♡

* Tulisan ini disiapkan 19 November 2020, dimuat di Nias Online 1 September 2021.