Archive for August, 2021 | Monthly archive page

Jepang Menghentikan Peredaran 1.6 Juta Dosis Vaksin Moderna

Tuesday, August 31st, 2021

* Zat asing ditemukan dalam sejumlah vial

Kementerian Kesehatan Jepang telah menghentikan peredaran vaksin Moderna setelah ditemukan zat asing di sejumlah vial (botol) vaksin. Di Prefektur Saitama seorang apoteker – Ishii Koki- menemukan zat hitam dalam pemeriksaan sebelum penggunaan pada pertengahan Agustus lalu. Menurut Ishi Koki, zat itu jauh lebih kecil dari biji wijen dan mengapung dalam vial ketika dikocok. Sesudah itu zat asing serupa ditemukan pada 39 vial yang belum dibuka pada delapan tempat kerja dan tempat vaksinasi skala besar di lima Prefektur: Aichi, Ibaraki, Gifu, Saitama and Tokyo.

Sementara itu Kementerian Kesehatan Jepang sedang menyelidiki penyebab kematian 2 orang yang divaksin menggunakan kelompok vial yang terkontaminasi itu. Menteri Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang – Norihisa Tamura – mengatakan penyebab kematian kedua korban akan diselidiki.

Berdasarkan data yang tersedia hingga tanggal 30 Agustus 2021, di Jepang sebanyak 57.4 juta orang telah divaksin penuh (45.4%) dan 71.4 juta orang (56.6%) telah menerima vaksin dosis pertama. Menurut Japan Times, vaksin dalam vial-vial yang terkontaminasi itu dibuat di Laboratorios Farmaceuticos Rovi, Spanyol.

Vaksin Moderna untuk COVID-19 adalah vaksin RNA dari nucleoside-modified mRNA (modRNA) yang mengkodekan sebuah protein paku (spike protein) dari SARS-CoV-2, yang dibungkus dalam lipid nanoparticles. Vaksin Moderna dipasarkan dengan nama dagang Spikevax. Suhu penyimpanan vaksin Moderna adalah 2–8 °C untuk penyimpanan selama 30 hari atau −20 °C untuk masa penyimpanan 4 bulan (brk/*)

Tokoh – Tokoh Gereja di Australia Menolak Paspor Vaksin

Monday, August 30th, 2021

Sejumlah tokoh dan warga gereja dari berbagai denominasi di Australia menolak rencana penerapan paspor vaksinasi.

Surat terbuka itu, yang diberi nama Deklarasi Hezekiel (The Ezekiel Declaration), diprakarsai oleh Timothy Grant dari Gereja Baptis Mount Isa, Matthew Littlefield dari Gereja Baptis New Beith dan Warren McKenzie dari Gereja Baptis Biota.

PM Scott Morrison dan Menteri – Menteri Utama  negara – negara bagian mendukung ide di mana bisnis diizinkan menolak pelanggan yang tidak bisa menunjukkan sertifikat vaksinnya.

Para penandatangan Deklarasi Ezekiel mengingatkan Scott Morrison bahwa pemberlakuan paspor vaksin akan menjurus kepada berbagai konsekuensi buruk.

Mereka mengutip seorang teolog Kristen, Abraham Kuyper, yang  pada tahun 1880 menulis, dalam kaitan dengan sertifikasi vaksin cacar, bahwa tirani tersembunyi dari sertifikasi semacam itu “adalah senyata ancaman terhadap sumberdaya spiritual bangsa akibat epidemik cacar itu sendiri“. Abraham Kuyper adalah Perdana Menteri Belanda periode 1901 – 1905.

Mereka sependapat dengan telaah Kuyper dengan sejumlah alasan.

Pertama, penerapan paspor vaksin akan menciptakan dua lapis masyarakat, hal yang tak etis. Mereka mengingatkan bahwa anggota masyarakat yang saat ini menolak vaksinasi boleh jadi memiliki alasan kuat. Salah satunya adalah karena vaksin ini masih dalam tahap uji klinis, seperti dinyatakan sendiri oleh Menteri Kesehatan Greg Hunt yang mereka kutip: “Dunia sedang disibukkan dengan pengujian klinis terbesar, pengujian vaksinasi global terbesar, dan kita akan memiliki data yang sangat banyak.”

Kedua, masyarakat telah dibebani terlalu berat sejak awal pandemik melalui pengekangan moblitas masyarakat. Pewajiban vaksinasi secara tak langsung lewat paspor vaksin akan semakin menambah beban masyarakat.

Ketiga, suara hati (conscience) seharusnya tidak boleh dipaksa. Suara hati adalah ungkapan terdalam yang menghidupi individu yang memungkinkan seseorang menyembah Tuhan sekaligus mematuhi otoritas pemerintah yang sah. Pemaksaan terhadap suara hati mengakibatkan seseorang tak pernah mengalami kedamaian, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan pemerintah. Kembali mereka mengutip Kuypers: “Oleh sebab itu suara hati merupakan perisai kemanusiaan seseorang, akar dari kebabasan sipil, sumber kebahagiaan bangsa.”

Keempat, kasus-kasus terobosan (breakthrough cases) menjadi bukti bahwa pewajiban vaksinasi seabagai syarat hidup normal tidak masuk akal karena tidak sepenuhnya melindungi warga dan juga tidak secara total menghentikan infeksi. Diskriminasi terhadap warga yang tidak atau enggan divaksin seakan memvonis bahwa yang bersangkutan secara otomatis menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Kelima, dalam hal kegiatan kegerejaan, Gereja tidak mungkin menolak jemaat yang ingin mengikuti kebaktian hanya karena ia tidak divaksin. Penolakan semacam itu mengkhianati Sang Penyelamat yang menuntut Gereja memberi dukungan bagi jemaat.

Penandatangan terdiri dari para pemimpin gereja dari berbagai denominasi.

Bunyi Deklarasi Hezekiel selengkapnya dapat diakses di sini. (brk/*)

Krisis Membuka Topeng Jiwa Kita

Saturday, August 28th, 2021
Beberapa waktu lalu kita disuguhi berita tentang usulan agar dibuatkan rumah sakit khusus untuk para pejabat negara. Alasannya? Mereka harus dilindungi secara khusus agar mereka bisa melaksanakan tugas mereka mengantarkan masyarakat keluar dari pandemik.
Ini terjadi di banyak negara sekarang, termasuk di negara – negara yang biasa kita kenal sangat ketat menjaga kepatuhan terhadap hukum. Entah mengapa di zaman pandemik ini, para pemimpin di negara – negara ini sama saja tingkah mereka dengan rekan – rekan mereka di tempat lain.
Mungkin perbedaannya adalah, di kita: para pejabatnya secara terang – terangan minta fasilitas khusus karena mereka merasa perlu diberi keistimewaan dalam hal perlindungan diri supaya mereka bisa mengeluarkan warga dari pandemik ini.
Di negara – negara lain, hampir sama keadaannya. Tidak terang – terangan lewat pernyataan langsung, tetapi lewat sikap munafik, melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Misalnya, mereka memaksakan warga menggunakan masker, tetapi ketika mereka berkumpul di antara mereka sendiri mereka hidup secara normal, seakan – akan tak ada krisis atau pandemik.
Ini misalnya terjadi baru – baru ini ketika para pemimpin G7 bertemu di Carbis Bay, Cornwall, Inggris dari tanggal 11-13 June 2021 (https://www.g7uk.org/). Di depan umum / pers, mereka bersalaman lewat persentuhan siku tangan dan menggunakan masker. Ketika mereka berkumpul di taman, barangkali dalam suatu perjamuan, wajah mereka kelihatan bersih dari masker, tak ada jarak antara mereka, telapak tangan si A melekat di punggung di B, saling bertatapan dari jarak dekat tanda keakraban. Tingkah mereka yang tak sesuai dengan protokol yang mereka gariskan sendiri dapat dilihat pada berbabagi foto dalam berita ini atau di video ini.
•••
Sangat wajar kita menunjukkan kejengkelan ketika melihat sebagian dari warga seakan – akan tak peduli atau mengabaikan prokes yang diberlakukan pemerintah. Misalnya saja ketika sebagian warga yang tak pakai masker. Akan tetapi kita kadang lupa, tidak semua orang mampu berada pada posisi sebaik atau seberuntung kita. Mungkin kita lupa, sebagian dari ibu – ibu atau bapak – bapak yang jualan di pasar tak punya kemewahan melaksanakan prokes standar itu seperti kita yang jengkel itu. Mereka harus dekat dengan calon pembeli, atau kalau cuaca cukup panas, sangat tidak higienis menggunakan masker kain tipis yang mudah menyerap keringat itu, yang justru menjadikannya sarang bakteri atau virus yang akan melekat di permukaannya. Dan situasi menjadi semakin parah kalau ibu atau bapak tadi menggaruk badannya atau mukanya, lalu secara refleks menyentuh permukaan masker. Bukan hanya itu, virusnya kan tidak hanya ‘terbang’ mendatar ke arah muka pemakai. Ketika si pemakai menarik nafas menghirup udara, mau tak mau udara juga masuk lewat celah di tepi penutup muka itu, terlebih ketika masker itu cukup lama dipakai, menyerap uap air, atau dipenuhi lapisan debu yang menumpuk. Hal yang sama (udara bocor lewat celah di tepi masker) terjadi ketika si pemakai menghembuskan nafas mengeluarkan udara.
Ibu / bapak dalam contoh di atas mewakili jutaan warga yang tiap hari bergelut dengan realitas kehidupan. Di lapangan, di kios – kios kecil dengan kerumunan orang. Di tempat – tempat pemotongan hewan. Di pom-pom bensin. Di sawah – sawah yang entah mana sumber virus koronanya sehingga masker itu ‘harus dipakai di mana saja’ – kalau memang benar dianjurkan demikian.
Dalam keadaan dengan pilihan terbatas itu, sebenarnya mereka tetap menggunakan nalar dan akal sehat mereka.
Di tengah krisis seperti ini, masker atau topeng jiwa kita sebagai manusia benar – benar sungguh – sungguh terbuka dan terungkap, pas pada saat kita mulai membiasakan diri memasang penutup muka badaniah kita.
* Tulisan ini disiapkan 8 Juli 2021, dimuat di Nias Online setelah mengalami perbaikan kecil.

Pfizer/BioNTech Masih Akan Melakukan Sejumlah Kajian Untuk Mengevaluasi Resiko Dari Penggunaan Vaksin Buatannya

Friday, August 27th, 2021

Berdasarkan surat yang dikirm Badan Urusan Makanan dan Obat Amerika Serikat (Food and Drug Adminstration – FDA) kepada BioNTech Manufacturing GmbH / Pfizer Inc. bertanggal 23 Agustus 2021, Pfizer/BioNTech masih akan melakukan sejumlah kajian terhadap resiko dari penggunaan vaksin buatannya. Kajian – kajian itu merupakan persyaratan dari persetujuan penuh FDA atas penggunaan vaksin buatan Pfizer seperti diberitakan kemarin.

Kajian itu antara lain Studi C4591009 tentang evaluasi terjadinya miokarditis dan perikarditis setelah pemberian vaksin COMIRNATY (nama vaksin buatan Pfizer). Menurut surat tersebut, yang dapat diakses di sini, kajian diharapkan selesai pada tanggal 30 Juni 2025 dan laporan akhir dikirim (ke FDA) tanggal 30 Oktober 2025.  Miokarditis adalah “peradangan yang terjadi pada miokardium atau otot jantung”; sementara perikarditis adalah “iritasi dan peradangan pada lapisan tipis berbentuk kantong yang melapisi jantung”.

Studi pediatrik yang ditunda (Studi C4591001) untuk mengevaluasi kemanan dan efektivitas COMIARTY pada anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun  diharapkan selesai tanggal 31 Mei 2023 dan laporan akhir dikrim 31 Oktober 2023.

Studi untuk mengkaji dapmpak pemberian vaksi selama masa kehamilan (Studi C4591022) diharapkan selesai tanggal 30 Juni 2025 dan laporan akhinya diserahkan 31 Desember 2025.

Yang disebutkan di atas hanya sebagian kecil dari sejumlah kajian yang harus dilaksanakan sebagai syarat dari persetujuan itu. Hasil dari kajian – kajian itu akan dilaporkan kepada FDA. Kajian dilakukan di Amerika Serikat dan di Eropah. Informasi selengkapnya dapat diakses di situs FDA. (brk/*)

 

FDA Menyetujui Penuh Penggunaan Vaksin COVID-19 Buatan Pfizer Untuk Usia 16 ke Atas

Thursday, August 26th, 2021

* Tanpa menunggu berakhirnya masa pemantauan uji klinis

Badan Urusan Makan dan Obat Amerika Serikat (Food and Drug Administration – FDA) menyetujui penuh penggunaan COVID-19 buatan Pfizer untuk usia 16 ptahun ke atas. Persetujuan penuh FDA untuk penggunaan Produk yang dikenal dengan nama vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 diumumkan tanggal 23 Agustus lewat sebuah rilis yang dapat diakses di sini.

“Persetujuan FDA terhadap penggunaan vaksin ini merupakan tonggak capaian penting di tengah usaha kita memerangi pandemik. Sementara vaksin ini dan vaksin lain telah memenuhi standar – standar ilmiah FDA untuk otorisasi penggunaan darurat, sebagai vaksin COVID-19 pertama yang mendapat persetujuan penuh FDA, publik dapat sangat meyakini bahwa vaksin ini memenuhi standar – standar tinggi untuk keamanan, kefektifan dan kualitas produksi yang dituntut oleh FDA untuk suatu produk yang diseujui,” kata Acting FDA Commissioner Janet Woodcock, M.D.

“Sementara jutaan orang telah menerima vaksin COVID-19 dengan aman (melalui Otorisasi Penggunaan Darurat – Emergency Use Authorization (EUA), Red.), kami memahami bahwa untuk sebagian orang, persetujuan FDA terhadap penggunaan vaksin ini menanamkan kepercayaan diri tambahan untuk mau divaksinasi. Tonggak capaian ini akan membawa kita satu langkah lebih dekat untuk mengubah arah pandemik di Ameria Serikat,”, lanjutnya.

Vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 telah disediakan untuk individu berusia 16 tahun ke atas sejak 11 Desember 2020 lewat skim EUA. Autorisasi EUA ini diperluas untuk individu berusia 12 – 15 tahun sejak 10 Mei 2021.

***

Persetujuan penuh FDA ini agaknya melangkahi periode pemantauan hasil pengujian vaksin yang menurut informasi dari situs Pfizer berlangsung 2 (dua) tahun. Dalam sebuah halaman yang ketika tulisan ini dibuat kelihatannya tidak lagi tersedia / tak bisa diakses di situs Pfizer, pernyataan berikut ditulis:

To date, no one knows how long vaccine conferred protection will last in adolescents or adults. Researchers plan to monitor adolescent clinical trial participants for two years after vaccination to assess long-term safety and protection.” (Terjemahan bebas: Hingga saat ini, tak seorang pun tahu berapa lama protkesi yang diberikan vaksin bertahan dalam tubuh kelompok berusia muda maupun dewasa. Para peneliti berencana memantau peserta uji klinis berusia muda selama dua tahun setelah vaksinasi untuk menilai keamanan jangka panjang dan proteksi yang diberitakan vaksi kepada partisipan).

Periode pemantauan dua tahun yang disebut di depan juga dimuat dalam sebuah tulisan yang dapat diakses di sini. Menurut tulisan yang sama, uji klinis dimulai pada bulan Mei 2020, (hampir) bersamaan dengan diumumkannya Operation Warm Speed.

Berdasarkan informasi ini, dapat disimpulkan, sekurang-kurangnya, periode pemantauan hasil pengujian itu semestinya berlangsung hingga bulan Mei 2022. (brk/*)

 

 

 

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (2) – Menjinjau Kembali Budaya Perkubuan dan Dukung Mendukung

Wednesday, August 25th, 2021

Selain meniru debat mirip debat Trump vs Biden, Pilkada di berbagai daerah juga meniru perkubuan Republikan vs Demokrat untuk alasan yang kurang jelas.

Polarisasi Partai Republik vs Partai Demokrat didasarkan atas perbedaan idelogi, nilai-nilai hakiki dan kebijakan praktis. Singkatnya: kapitalisme vs sosialisme, konservatisme vs progresisme, dsb.

Di Pilkada, polarisasi karena perbedaan-perbedaan mendasar itu seharusnya tak ada, dan terkesan irasional.

•••

Maka, kita boleh mempertanyakan: mengapa di setiap Pilkada – dan kali ini saya fokus pada Pilkada di Kepulauan Nias – perkubuan ini selalu ada? Apa alasan mendasar? Perkubuan di sini tidak termasuk kelompok tim sukses (TS) yang memang harus ada untuk memaparkan program-program paslon ke publik. Perkubuan yang saya maksud adalah perkubuan yang juga melibatkan para tokoh dan para intelektual, yang walau tidak menjadi bagian dari TS, secara langsung atau tak langsung memihak kepada paslon tertentu.

Mari kita mulai dengan berfikir positif: bahwa pemihakan terang-terangan atau diam-diam itu didasarkan atas penilaian potensi dan prospek para calon. Artinya, pemihakan kepada paslon tertentu adalah berdasarkan penilaian pemihak bahwa paslon A lebih baik dari paslon B atau C. Pertanyaan: kriteria apa yang menjadi alasan pemihakan? Sejauh ini alasan dan kriteria itu tak pernah secara terang – terangan dibeberkan ke publik.

Selagi alasan – alasan dan kriteria yang rasional tidak dibeberkan kepada publik, maka mau tak mau kita cenderung mengambil kesimpulan: pemihakan diam – diam atau terang – terangan itu didasarkan atas alasan subjektif. Beberapa alasan subjektif bisa kita sebutkan: koneksi, kedekatan pribadi, hubungan keluarga, garis politik yang mengaburkan nalar, dsb., yang bermuara kepada usaha penjaminan akses atau kepentingan pasca Pilkada pada paslon terpilih. Artinya, apabila paslon yang didukung (terang – terangan atau diam – diam) menang, maka amanlah pemihak pasca Pilkada.

Secara alamiah kecenderungan subjektif itu ada … dan sangat manusiawi. Bisa jadi, seseorang berharap kelak usahanya di bidang tertentu bisa ‘kompetitif’ bersaing dalam projek – projek pemerintah. Atau anggota keluarganya bisa tertolong dalam proses pengangkatan pegawai, misalnya. Atau minimal, karena yang bersangkutan kenal dengan paslon favoritnya, ia merasa nyaman kapan saja ingin berkomunikasi atau bertemu langsung dengan jagoannya apabila terpilih.

Sekali lagi, fenomena ini sangat manusiawi; semua orang mengalaminya. Akan tetapi hal ini akan menjadi batu sandungan dalam mengangkat Kepulauan Nias dari status Danggal kalau faktor subjektif ini tidak dikekang.

Perkubuan tradisional semacam itu tidak membawa dampak besar ke publik. Ia hanya menguntung sekelompok kecil. Dan itu tadi … perkubuan macam itu berpotensi memperpanjang status Kep. Nias sebagai Daerah Tertinggal.

Perkubuan Yang Lebih Terhormat / Mulia

Mungkin lebih baik kita mencari bentuk perkubuan baru yang lebih menguntungkan mayoritas masyarakat Kep. Nias. Yang berikut adalah salah satu bentuk perkubuan itu.

Mari kita mengelompokkan seluruh masyarakat di satu kubu dan para paslon atau kontestan di kubu lain. Dalam tulisan ini, kubu masyarakat disingkat KuMas dan kubu para paslon disingkat KuLon.

Kubu Masyarajat (KuMas)

KuMas dituntun (dipandu) dan dicerahkan oleh para tokoh masyarakat Nias: para tokoh agama dan adat, para intelektualnya. Tidak kalah penting, masuk dalam kelompok berpengaruh ini adalah pers dan media sosial yang berlabel (Kepulauan) Nias. Mereka ini semua berpotensi memiliki pengaruh besar dalam lingkungan mereka masing-masing.

Apa saja yang mereka bisa perbuat untuk mencerahkan masyarakat? Cukup banyak. Misalnya saja: mengingatkan masyarakat bahwa 4 dari 5 daerah administratif di Kep. Nias itu berstatus daerah tertinggal. Jangankan memahami isi debat ala Trump vs Biden, banyak masyarakat Nias bahkan tidak mengetahui status Danggal ini dan ramifikasinya bagi kemajuan Nias.

Para tokoh berbagai bidang dan intelektual juga berada dalam posisi strategis untuk mengingatkan para pemilih (Kumas) agar mereka – demi masyarakat itu sendiri – jangan mudah tergoda dengan iming – iming sesaat yang dijanjikan para paslon (Kulon), sampai akhirnya mereka melupakan bahwa arti pemilihan itu adalah untuk kepentingan kemajuan kep. Nias. Singkatnya: para tokoh dan intelektual ini berada pada posisi strategis untuk mengingatkan masyarakat:

“Jangan menjadi sapi perah 5 tahunan KuLon pencari suara untuk kemudian dilupakan begitu saja kalau mereka sudah berada dalam lingkungan kekuasaan”.

Peran KuLon

Kita sangat menghargai, bahwa di tengah pandemik, ada saja individu yang berniat memimpin di salah satu daerah di Kep. Nias. Mari kita berfikir positif: mereka ini rela untuk terjun ke gelanggang Pilkada dengan tujuan mulia: mengangkat masyarakat Kep. Nias dari keterbelakangan yang berkepanjangan. Dalam kosakata sangat populer saat ini: para kontestan ini ingin mengeluarkan Kep. Nias dari status  Daerah Tertinggal (Danggal). Bukan sebaliknya: untuk memanfaatkan posisinya kelak untuk kepentingan sempit keluarga, para sahabat dan koneksi politik.

Tugas utama para paslon, di tengah keterbelakangan Kep. Nias yang berkepanjangan ini,

bukan:

memasarkan diri sebagai paslon yang memiliki kemampuan untuk merealisasikan itu !

melainkan:
mayakinkan masyarakat melalui pemaparan visi, misi dan program mereka secara jelas, disertai dengan tahapan – tahapan yang masuk akal, terukur, dan realistis.

Adalah tugas para tokoh, intelektual, dan pers yang berlabel (Kep.) Nias, dan yang menjadi bagian dari KuMas – untuk mempertemukan kedua kubu (KuMas dan KuLon) ini agar saling “memahami”, sehingga tujuan menghapus status Danggal ini sungguh-sungguh bisa direalisasikan.

Adalah tugas para tokoh, intelektual, dan pers yang berlabel (Kep.) Nias, untuk mencerahkan masyarakat agar memilih paslon terbaik dalam setiap Pilkada.

* Tulisan ini disiapkan pada tanggal 18 November 2020; setelah perbaikan / perubahan kecil, dimuat di Nias Online.

CDC Akan Menghentikan Penggunaan Uji PCR Sesudah 31 Desember 2021

Tuesday, August 24th, 2021

Pusat Pengedalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention – CDC) akan menghentikan penggunaan uji Real-Time PCR (RT-PCR) untuk mendeteksi virus SAR-CoV-2. Uji RT-PCR diperkenalkan pada bulan Februari 2020.

Berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan tertanggal 21 juli 2021, CDC merekomendasikan kepada laboratorium – laboratorium klinik dan tempat – tempat pengujian untuk memulai beralih pada uji COVID-19 yang disetujui badan makanan dan obat-obatan (Food and Drug Administration – FDA). Secara khusus, CDC menganjurkan metode multipleks yang “mampu memfasilitasi deteksi dan pembedaan / diferensiasi virus – virus SARS-CoV-2 dan influenza”.

CDC juga memberikan informasi untuk beberapa metode diagnostik COVID-19 yang diizinkan, termasuk uji diagnostik, uji serologi / antibodi dan respons kekebalan adaptif, serta pengujian untuk manajemen pasien COVID-19, yang dapat diakses di sini.

Pengujian PCR (polymerase chain reaction) sejak awal telah mengandung kontroversi. Jumlah kasus yang tinggi yang diperoleh lewat tes PCR telah menjadi semacam indikator bahwa suatu daerah telah menjadi zone yang rentan terhadap serangan SAR-CoV-2. Padahal hasil tes positif tidak selalu menujukkan bahwa seseorang menderita COVID-19 atau berpotensi menularkan SAR-CoV-2 kepada yang lain. Interpretasi hasil positif dari sebuah uji PCR disajikan dalam tulisan ini. (brk/*)

Angka Sebelas, Kambing Hitam dan Mentalitas Korban

Monday, August 23rd, 2021

Waktu masih kecil saya suka mengamati anak-anak usia sebaya yang mendapat ‘kasih sayang istimewa’ dari orang tua mereka. Kisahnya kurang lebih seperti ini. Seorang anak yang sedang lari-lari (sendiri atau sedang bermain dengan teman-temannya) tiba-tiba jatuh, biasanya dalam posisi tertelungkup. Mungkin tidak seberapa sakitnya karena kedua telapak tangannya duluan menyentuh tanah – jadi bagian kepala dan badan terlindung dari bantingan keras dengan tanah. Tetapi keterkejutan itu – disertai sedikit rasa sakit – membuat emosi anak itu terguncang dan karenanya agak lama baru bangkit.

Apa yang akan terjadi sesudah sekitar 10 detik setelah kejatuhan itu sangat ditentukan oleh reaksi orang yang kebetulan ada di sekitar itu. (Biasanya anak yang jatuh di tempat sepi, bangkit dengan sendirinya setelah ia berhasil mengatasi dampak keterkejutan itu).

Kita akan bahas kasus di mana anak yang sedang terjatuh itu mendapat “pertolongan” dari sekitarnya, dalam hal ini ibu, ayah, atau salah seorang dari keluarga dekatnya.

Kita juga akan membahas bentuk pertolongan khusus, yang kita sebut saja: pemanjaan.

Dalam kurun waktu sekitar sepuluh detik setelah jatuh, ibu sang anak – katakanlah – merespons dengan langsung menggendong anak itu, sambil mengucapkan kata-kata ‘penghibur’, dan … ini: memukul meja atau kursi, atau tonggak yang ada di sekitar itu sambil berkata:

Börö ndra’ugö da’a mege wö meza / kurusi / toga … wa’alau khögu nono.

(“Gara-gara kaulah ini tadi meja / kursi / tonggak, makanya anakku jatuh … “) sambil sang ibu pura-pura memukul si kambing hitam itu.

Apa yang terjadi sedudahnya? Si anak – yang tadinya tak menangis justru pecah tangisnya, diawali dengan muka yang merengut … dan akhirnya air mata kemanjaan keluar … biasanya juga disertai angka sebelas (ingus) dari kedua lobang hidung.

***

Hampir dapat dipastikan, pada kejatuhan berikutnya, anak itu akan mencari perhatian ibu atau ayahnya dengan menangis … supaya mendapat kemanjaan yang dia nikmati pertama kali. Tentu saja kemanjaan ini nikmat rasanya. Digendong, diciumi, bahkan mungkin dibelikan roti.

Ada beberapa kesalahan fatal dari respons ibu terhadap jatuhnya sang anak.

Pertama, hal yang tadinya barangkali bisa diatasi sendiri oleh si anak (masalah sepele), justru dijadikan masalah besar. (Seperti dikatakan sebelumnya, kalau anak itu jatuh di tempat sepi, bisa jadi ia bangkit sendiri).

Kedua, si ibu mencuri kesempatan yang baik bagi anaknya untuk belajar mengatasi sendiri masalahnya (yang tidak terlalu serius).

Ketiga, si ibu menanamkan mentalitas korban (victim mentality) pada diri si anak (yang harus ditolong, digendong, dimanjakan), dengan:

Ke empat, mencari kambing hitam dari kejatuhan si anak; kambing hitam dalam wujud: meja, kursi, tonggak, dsb.

Anak yang mengalami pemanjaan macam itu, kalau tidak diekspos dalam lingkungan yang lebih baik (misalnya sekolah) kelak akan menjadi anak yang cengeng, mudah menangis, selalu bergantung pada orang lain, mengelak tanggung-jawab, dan … selalu mencari kambing hitam atas masalah yang dia hadapi.

Celakanya lagi, anak macam itu berpotensi menjadi objek bully dari teman-temannya. Dengan kata lain, secara tak sadar / tak langsung ia (lewat pemanjaan ibunya tadi) menciptakan lingkungan yang tak bersahabat bagi dirinya.

Ilustrasi di atas terjadi dalam skala kecil, pada diri seorang anak, oleh seorang ibu, mungkin secara tak sengaja karena terbatasnya pendidikan.

***

Bayangkan kalau itu terjadi dalam skala terstruktur, sistematis dan masif terhadap sebuah kelompok besar masyarakat oleh suatu institutsi. Dampaknya juga akan masif dan dari generasi ke generasi.

Menurut Candace Owens, seorang tokoh muda Konservatif dari keluarga berkulit hitam AS, itulah yang terjadi dalam masyarakat kulit hitam Amerika lewat program-program pemanjaan oleh Partai Demokrat.

Sejalan dengan Dinesh D’Souza [1], Candace Owens [2] menganggap Partai Demokrat dengan sengaja memilih kebijakan yang berdampak buruk pada nasib bangsa kulit hitam di Amerika. Tujuannya bukan untuk mengangkat bangsa kulit hitam ke tingkat yang sejajar dengan bangsa kulit putih Amerika. Tujuannya adalah menciptakan mentalitas ketergantungan akan program-program langsung pemerintah: bantuan sosial, kesehatan, perumahan sederhana, dsb. Tapi hanya sejauh itu, tak lebih.

Seperti dikatakan Dinesh D’Szouza, Partai Demokrat mengulurkan tali dari atas untuk kelompok-kelompok marjinal, supaya mereka terangkat sedikit … namun tak pernah mereka biarkan kaum ini sampai ke puncak. Sebaliknya, Partai Republik menyediakan tangga dan anak-anak tangga agar siapa saja yang mau naik ke atas, bisa sampai di atas. Statemen terakhir ini (tentang sikap Partai Republik) tentu saja juga harus disikapi secara kritis.

Dalam implementasinya, program-program populis Partai Demokrat sangat populer (per definisi), tetapi biaya sangat besar: menguras kas negara.

***

Selama 32 tahun zaman pemerintahan otoriter Suharto, Kepulauan Nias boleh dikatakan tak pernah mendapat perhatian pemerintah pusat. Pak Harto juga tak pernah berkunjung ke sana. Nias menjadi tempat pembuangan para pejabat yang tak berprestasi. Dan pejabat tinggi negara baru datang berkunjung ketika menjelang Pemilu. Maka Nias pernah mendapat kunjungan Adam Malik (yang menjanjikan pembangunan ‘menara tivi’) dan Sultan Hamengkubuwono IX. Harmoko juga berkunjung dalam rangka memenangkan kampanye Golkar, sejak kunjungan mana Nias menjadi dikenal dengan julukan Nias Indah Andalan Sumatera. Tapi itu semua hanya sampai pada janji-janji dan kata-kata.

***

Satu hal yang cukup melegakan dan membanggakan ialah umumnya masyarakat Nias tidak bermentalitas korban. Mereka tak pernah mengatakan: Nias korban penelantaran Suharto.

Secara sendiri-sendiri Ono Niha merasakan penderitaan, berusaha keluar dari penderitaan, dengan berbagai cara. Tanpa mengeluh berkepanjangan. Mereka yang tetap di Nias tetap bertahan dengan segala yang ada seadanya. Mereka yang sudah tak mampu bertahan tinggal di sana, keluar mencari kehidupan di luar kepulauan: menjadi apa saja.

Puluhan tahun kemudian, sejak awal tahun 1960an, kita bisa melihat kantong-kantong orang Nias di berbagai daerah dan kota di seluruh Indonesia. Mereka mendirikan berbagai perkumpulan antara mereka: ada yang bersifat lintas agama, ada yang berdasarkan marga, daerah, dan sebagainya. Khusus di kalangan orang Nias yang beragama Kristen Protestan, kita bisa menyaksikan berdirinya gereja-gereja Nias di berbagai daerah di seluruh tanah air.

Dan kita bisa menyaksikan usaha keras disertai keyakinan dan semangat yang membaja (“perseverance“) itu berbuah baik, dalam berbagai bentuk: peningkatan kualitas hidup, keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sosial politik (menjadi politisi, pejabat di berbagai lembaga negara, dst), kegiatan ekonomi (membuka usaha sendiri, menjadi pengusaha), menjadi pendidik, dst. secara cukup mengesankan.

Semua hal di atas hanya mungkin melalui perseverance tadi, serta sikap tak mudah mengeluh, tak mencari kambing hitam, dan tidak bermentalitas: ‘saya korban keadaan’.

Rujukan:

[1] Partai Anak Tangga Kesempatan vs Partai Pengulur Tali

[2] The Democrats don’t want black Americans to improve in the same way that drug dealers do not want their addicts to get clean.

* Tulisan ini disiapkan 10 Agustus 2019; dimuat di Nias Online dengan sedikit perubahan / koreksi.