Archive for the ‘Cakrawala’ Category

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (4): Tim Sukses Harus Sungguh-Sungguh Berefleksi

Wednesday, September 8th, 2021

Tim Sukses (TS) para Paslon sangat berperan dalam menentukan hasil sebuah pemilihan. Mereka inilah yang mengatur strategi agar Paslon dikenal, disukai, mengundang simpati, dan akhirnya dipilih masyarakat.

Kita semua telah mengetahui hal itu.

Yang barangkali tak kita ketahui, dan yang sering luput dari perhatian kita adalah: mengapa seseorang bergabung dalam TS sepasang Paslon.

Pertanyaan itu bisa kita modifikasi sedikit menjadi: mengapa si X memilih bergabung dengan TS Paslon A dan bukan dengan TS Paslon B atau C?

Apapun alasannya, yang berikut ini harus diingat oleh para anggota TS. Masyarakat berharap perbaikan taraf hidup, berharap keluar dari keterbelakangan dari generasi ke generasi.

TS sesungguhnya adalah corong dari berbagai keluhan masyarakat, pembawa pesan-pesan, harapan, dan keluhan – keluhan warga ke Paslon.

TS yang berkualitas berpotensi menghasilkan kepemimpinan dengan ide – ide segar di setiap daerah (pemilihan).

TS yang didorong oleh kepentingan sesaat berpotensi menghasilkan kepemimpinan yang hanya akan mengabadikan status Kep. Nias sebagai Daerah Tertinggal.

* Tulisan ini disiapkan tanggal 20 November 2020, dimuat di Nias Online setelah koreksi kecil.

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (3): (Jangan) Menjual Kebohongan

Wednesday, September 1st, 2021

If you betray yourself
If you say untrue things
If you act out a lie
You weakend your character
Jika engkau mengkhianati diri
Jika engkau mengatakan hal-hal yang tak benar
Jika engkau meniru kebohongan dan melakukannya
Engkau melemahkan karaktermu
(Jordan Peterson –Profesor Psikologi, Universitas Toronto )
__________________

Demi mencapai tujuan, tidak jarang para Palson di setiap kesempatan menerapkan strategi pemasaran untuk meyakinkan para pemilih. Istilah keren politiknya: kampanye.

Trump, Biden, Borris Johnson, … pokoknya siapa saja yang masuk gelanggang pemilihan melalukannya. Termasuk juga di pelosok – pelosok, di daerah – daerah yang masih berstatus Danggal.
Sejauh itu, oke oke saja. Bahkan orang merasa aneh apabila para Paslon sama sekali tidak menawarkan ide-idenya ke publik (calon pemilih) melalui berbagai jalur berkomunikasi.
•••
Akan tetapi kampanye politik telah sedemikian terkontaminasi sehingga warga menganggapnya sebagai ajang menjual kebohongan. Masih mending kita membeli kue bohong, kita dapat kuenya, bohongnya hanya di nama.

Tetapi kalau kita percaya begitu saja pada janji-janji kampanye para Paslon, tanpa berusaha ‘mempelototinya’ (tabura’ö höröda wamaigi), kita hanya akan terjebak dalam ritus kekecewaan 5 tahunan.

Silahkan ingat kembali seluruh janji-janji paslon yang terpilih dan bandingkan dengan kenyataan di lapangan.

Dipastikan tak ada satu paslon pun yang menjanjikan kue bohong. Akan tetapi warga pemilih sudah sangat realistis dalam berekspektasi karena sudah biasa mengalami kekecewaan siklus 5 tahunan. Oleh sebab itu, warga pemilih lebih suka langsung diberi kue bohong atau diberi uang senilai beberapa kue bohong … daripada menunggu 5 tahun lagi untuk melihat hasil – hasil pembangunan yang dijanjikan oleh pemenang lewat komitmen politik mereka.

Observasi yang sama berlaku juga untuk pemilihan legislatif.

•••

Bagi para paslon dan para tokoh pencerah masyarakat: pesan singkat Jordan Peterson di atas penting untuk direnungkan. Ditulis ulang kembali di sini:

♡♡♡
Jika engkau mengkhianati diri
Jika engkau mengatakan hal-hal yang tak benar
Jika engkau meniru kebohongan dan melakukannya
Engkau melemahkan karaktermu
♡♡♡

* Tulisan ini disiapkan 19 November 2020, dimuat di Nias Online 1 September 2021.

Krisis Membuka Topeng Jiwa Kita

Saturday, August 28th, 2021
Beberapa waktu lalu kita disuguhi berita tentang usulan agar dibuatkan rumah sakit khusus untuk para pejabat negara. Alasannya? Mereka harus dilindungi secara khusus agar mereka bisa melaksanakan tugas mereka mengantarkan masyarakat keluar dari pandemik.
Ini terjadi di banyak negara sekarang, termasuk di negara – negara yang biasa kita kenal sangat ketat menjaga kepatuhan terhadap hukum. Entah mengapa di zaman pandemik ini, para pemimpin di negara – negara ini sama saja tingkah mereka dengan rekan – rekan mereka di tempat lain.
Mungkin perbedaannya adalah, di kita: para pejabatnya secara terang – terangan minta fasilitas khusus karena mereka merasa perlu diberi keistimewaan dalam hal perlindungan diri supaya mereka bisa mengeluarkan warga dari pandemik ini.
Di negara – negara lain, hampir sama keadaannya. Tidak terang – terangan lewat pernyataan langsung, tetapi lewat sikap munafik, melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Misalnya, mereka memaksakan warga menggunakan masker, tetapi ketika mereka berkumpul di antara mereka sendiri mereka hidup secara normal, seakan – akan tak ada krisis atau pandemik.
Ini misalnya terjadi baru – baru ini ketika para pemimpin G7 bertemu di Carbis Bay, Cornwall, Inggris dari tanggal 11-13 June 2021 (https://www.g7uk.org/). Di depan umum / pers, mereka bersalaman lewat persentuhan siku tangan dan menggunakan masker. Ketika mereka berkumpul di taman, barangkali dalam suatu perjamuan, wajah mereka kelihatan bersih dari masker, tak ada jarak antara mereka, telapak tangan si A melekat di punggung di B, saling bertatapan dari jarak dekat tanda keakraban. Tingkah mereka yang tak sesuai dengan protokol yang mereka gariskan sendiri dapat dilihat pada berbabagi foto dalam berita ini atau di video ini.
•••
Sangat wajar kita menunjukkan kejengkelan ketika melihat sebagian dari warga seakan – akan tak peduli atau mengabaikan prokes yang diberlakukan pemerintah. Misalnya saja ketika sebagian warga yang tak pakai masker. Akan tetapi kita kadang lupa, tidak semua orang mampu berada pada posisi sebaik atau seberuntung kita. Mungkin kita lupa, sebagian dari ibu – ibu atau bapak – bapak yang jualan di pasar tak punya kemewahan melaksanakan prokes standar itu seperti kita yang jengkel itu. Mereka harus dekat dengan calon pembeli, atau kalau cuaca cukup panas, sangat tidak higienis menggunakan masker kain tipis yang mudah menyerap keringat itu, yang justru menjadikannya sarang bakteri atau virus yang akan melekat di permukaannya. Dan situasi menjadi semakin parah kalau ibu atau bapak tadi menggaruk badannya atau mukanya, lalu secara refleks menyentuh permukaan masker. Bukan hanya itu, virusnya kan tidak hanya ‘terbang’ mendatar ke arah muka pemakai. Ketika si pemakai menarik nafas menghirup udara, mau tak mau udara juga masuk lewat celah di tepi penutup muka itu, terlebih ketika masker itu cukup lama dipakai, menyerap uap air, atau dipenuhi lapisan debu yang menumpuk. Hal yang sama (udara bocor lewat celah di tepi masker) terjadi ketika si pemakai menghembuskan nafas mengeluarkan udara.
Ibu / bapak dalam contoh di atas mewakili jutaan warga yang tiap hari bergelut dengan realitas kehidupan. Di lapangan, di kios – kios kecil dengan kerumunan orang. Di tempat – tempat pemotongan hewan. Di pom-pom bensin. Di sawah – sawah yang entah mana sumber virus koronanya sehingga masker itu ‘harus dipakai di mana saja’ – kalau memang benar dianjurkan demikian.
Dalam keadaan dengan pilihan terbatas itu, sebenarnya mereka tetap menggunakan nalar dan akal sehat mereka.
Di tengah krisis seperti ini, masker atau topeng jiwa kita sebagai manusia benar – benar sungguh – sungguh terbuka dan terungkap, pas pada saat kita mulai membiasakan diri memasang penutup muka badaniah kita.
* Tulisan ini disiapkan 8 Juli 2021, dimuat di Nias Online setelah mengalami perbaikan kecil.

Angka Sebelas, Kambing Hitam dan Mentalitas Korban

Monday, August 23rd, 2021

Waktu masih kecil saya suka mengamati anak-anak usia sebaya yang mendapat ‘kasih sayang istimewa’ dari orang tua mereka. Kisahnya kurang lebih seperti ini. Seorang anak yang sedang lari-lari (sendiri atau sedang bermain dengan teman-temannya) tiba-tiba jatuh, biasanya dalam posisi tertelungkup. Mungkin tidak seberapa sakitnya karena kedua telapak tangannya duluan menyentuh tanah – jadi bagian kepala dan badan terlindung dari bantingan keras dengan tanah. Tetapi keterkejutan itu – disertai sedikit rasa sakit – membuat emosi anak itu terguncang dan karenanya agak lama baru bangkit.

Apa yang akan terjadi sesudah sekitar 10 detik setelah kejatuhan itu sangat ditentukan oleh reaksi orang yang kebetulan ada di sekitar itu. (Biasanya anak yang jatuh di tempat sepi, bangkit dengan sendirinya setelah ia berhasil mengatasi dampak keterkejutan itu).

Kita akan bahas kasus di mana anak yang sedang terjatuh itu mendapat “pertolongan” dari sekitarnya, dalam hal ini ibu, ayah, atau salah seorang dari keluarga dekatnya.

Kita juga akan membahas bentuk pertolongan khusus, yang kita sebut saja: pemanjaan.

Dalam kurun waktu sekitar sepuluh detik setelah jatuh, ibu sang anak – katakanlah – merespons dengan langsung menggendong anak itu, sambil mengucapkan kata-kata ‘penghibur’, dan … ini: memukul meja atau kursi, atau tonggak yang ada di sekitar itu sambil berkata:

Börö ndra’ugö da’a mege wö meza / kurusi / toga … wa’alau khögu nono.

(“Gara-gara kaulah ini tadi meja / kursi / tonggak, makanya anakku jatuh … “) sambil sang ibu pura-pura memukul si kambing hitam itu.

Apa yang terjadi sedudahnya? Si anak – yang tadinya tak menangis justru pecah tangisnya, diawali dengan muka yang merengut … dan akhirnya air mata kemanjaan keluar … biasanya juga disertai angka sebelas (ingus) dari kedua lobang hidung.

***

Hampir dapat dipastikan, pada kejatuhan berikutnya, anak itu akan mencari perhatian ibu atau ayahnya dengan menangis … supaya mendapat kemanjaan yang dia nikmati pertama kali. Tentu saja kemanjaan ini nikmat rasanya. Digendong, diciumi, bahkan mungkin dibelikan roti.

Ada beberapa kesalahan fatal dari respons ibu terhadap jatuhnya sang anak.

Pertama, hal yang tadinya barangkali bisa diatasi sendiri oleh si anak (masalah sepele), justru dijadikan masalah besar. (Seperti dikatakan sebelumnya, kalau anak itu jatuh di tempat sepi, bisa jadi ia bangkit sendiri).

Kedua, si ibu mencuri kesempatan yang baik bagi anaknya untuk belajar mengatasi sendiri masalahnya (yang tidak terlalu serius).

Ketiga, si ibu menanamkan mentalitas korban (victim mentality) pada diri si anak (yang harus ditolong, digendong, dimanjakan), dengan:

Ke empat, mencari kambing hitam dari kejatuhan si anak; kambing hitam dalam wujud: meja, kursi, tonggak, dsb.

Anak yang mengalami pemanjaan macam itu, kalau tidak diekspos dalam lingkungan yang lebih baik (misalnya sekolah) kelak akan menjadi anak yang cengeng, mudah menangis, selalu bergantung pada orang lain, mengelak tanggung-jawab, dan … selalu mencari kambing hitam atas masalah yang dia hadapi.

Celakanya lagi, anak macam itu berpotensi menjadi objek bully dari teman-temannya. Dengan kata lain, secara tak sadar / tak langsung ia (lewat pemanjaan ibunya tadi) menciptakan lingkungan yang tak bersahabat bagi dirinya.

Ilustrasi di atas terjadi dalam skala kecil, pada diri seorang anak, oleh seorang ibu, mungkin secara tak sengaja karena terbatasnya pendidikan.

***

Bayangkan kalau itu terjadi dalam skala terstruktur, sistematis dan masif terhadap sebuah kelompok besar masyarakat oleh suatu institutsi. Dampaknya juga akan masif dan dari generasi ke generasi.

Menurut Candace Owens, seorang tokoh muda Konservatif dari keluarga berkulit hitam AS, itulah yang terjadi dalam masyarakat kulit hitam Amerika lewat program-program pemanjaan oleh Partai Demokrat.

Sejalan dengan Dinesh D’Souza [1], Candace Owens [2] menganggap Partai Demokrat dengan sengaja memilih kebijakan yang berdampak buruk pada nasib bangsa kulit hitam di Amerika. Tujuannya bukan untuk mengangkat bangsa kulit hitam ke tingkat yang sejajar dengan bangsa kulit putih Amerika. Tujuannya adalah menciptakan mentalitas ketergantungan akan program-program langsung pemerintah: bantuan sosial, kesehatan, perumahan sederhana, dsb. Tapi hanya sejauh itu, tak lebih.

Seperti dikatakan Dinesh D’Szouza, Partai Demokrat mengulurkan tali dari atas untuk kelompok-kelompok marjinal, supaya mereka terangkat sedikit … namun tak pernah mereka biarkan kaum ini sampai ke puncak. Sebaliknya, Partai Republik menyediakan tangga dan anak-anak tangga agar siapa saja yang mau naik ke atas, bisa sampai di atas. Statemen terakhir ini (tentang sikap Partai Republik) tentu saja juga harus disikapi secara kritis.

Dalam implementasinya, program-program populis Partai Demokrat sangat populer (per definisi), tetapi biaya sangat besar: menguras kas negara.

***

Selama 32 tahun zaman pemerintahan otoriter Suharto, Kepulauan Nias boleh dikatakan tak pernah mendapat perhatian pemerintah pusat. Pak Harto juga tak pernah berkunjung ke sana. Nias menjadi tempat pembuangan para pejabat yang tak berprestasi. Dan pejabat tinggi negara baru datang berkunjung ketika menjelang Pemilu. Maka Nias pernah mendapat kunjungan Adam Malik (yang menjanjikan pembangunan ‘menara tivi’) dan Sultan Hamengkubuwono IX. Harmoko juga berkunjung dalam rangka memenangkan kampanye Golkar, sejak kunjungan mana Nias menjadi dikenal dengan julukan Nias Indah Andalan Sumatera. Tapi itu semua hanya sampai pada janji-janji dan kata-kata.

***

Satu hal yang cukup melegakan dan membanggakan ialah umumnya masyarakat Nias tidak bermentalitas korban. Mereka tak pernah mengatakan: Nias korban penelantaran Suharto.

Secara sendiri-sendiri Ono Niha merasakan penderitaan, berusaha keluar dari penderitaan, dengan berbagai cara. Tanpa mengeluh berkepanjangan. Mereka yang tetap di Nias tetap bertahan dengan segala yang ada seadanya. Mereka yang sudah tak mampu bertahan tinggal di sana, keluar mencari kehidupan di luar kepulauan: menjadi apa saja.

Puluhan tahun kemudian, sejak awal tahun 1960an, kita bisa melihat kantong-kantong orang Nias di berbagai daerah dan kota di seluruh Indonesia. Mereka mendirikan berbagai perkumpulan antara mereka: ada yang bersifat lintas agama, ada yang berdasarkan marga, daerah, dan sebagainya. Khusus di kalangan orang Nias yang beragama Kristen Protestan, kita bisa menyaksikan berdirinya gereja-gereja Nias di berbagai daerah di seluruh tanah air.

Dan kita bisa menyaksikan usaha keras disertai keyakinan dan semangat yang membaja (“perseverance“) itu berbuah baik, dalam berbagai bentuk: peningkatan kualitas hidup, keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sosial politik (menjadi politisi, pejabat di berbagai lembaga negara, dst), kegiatan ekonomi (membuka usaha sendiri, menjadi pengusaha), menjadi pendidik, dst. secara cukup mengesankan.

Semua hal di atas hanya mungkin melalui perseverance tadi, serta sikap tak mudah mengeluh, tak mencari kambing hitam, dan tidak bermentalitas: ‘saya korban keadaan’.

Rujukan:

[1] Partai Anak Tangga Kesempatan vs Partai Pengulur Tali

[2] The Democrats don’t want black Americans to improve in the same way that drug dealers do not want their addicts to get clean.

* Tulisan ini disiapkan 10 Agustus 2019; dimuat di Nias Online dengan sedikit perubahan / koreksi.

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (1) – Usulan Format Debat ke Depan

Tuesday, December 8th, 2020
Empat Kabupaten di Kepulauan Nias Masuk Dalam Kategori Daerah Tertinggal

Menarik menyaksikan debat cakada / cawakada di berbagai daerah yang meniru format debat pilpres, yang juga mirip debat Donald Trump vs Joe Biden dan Mike Pence vs Kamala Harris. Format debat seperti itu barangkali perlu ditinjau ulang, disesuaikan dengan kebutuhan yang lebih relevan di derah-daerah, terutama daerah-daerah yang mayoritas masyarakatnya masih sedang bergulat dengan berbagai keterbatasan di segala aspek kehidupan.

Khusus untuk Pilkada di Kepulauan Nias, seharusnya penyelenggara pemilu (KPU) menetapkan tema tunggal: Program para Cakada/Cawakada Melepaskan Kepulauan Nias dari Status Danggal. Untuk Kota Gunungsitoli, yang tidak termasuk dalam status Daerah Tertinggal (Danggal) temanya mungkin bisa sedikit dimodifikasi.

Lantas, bagaimana teknis penyelenggaraannya? Daripada di dalam gedung, mungkin lebih baik dilakukan di lokasi-lokasi harimbale, pada saat kegiatan jual beli masyarakat sedang berlangsung, menjelang sore hari, misalnya. Di setiap kabupaten, ditetapkan sejumlah lokasi harimbale yang mewakili beberapa kecamatan di kabupaten itu. Panggung debat – rasanya tidak terlalu makan biaya – perlu dibuat untuk menampung para kontestan itu.

Lantas KPU mencari metode interaksi yang baik antara para kontestan dan masyarakat yang hadir. Dalam debat ini, pengerahan masa pendukung dilarang. KPU misalnya bisa memulai dengan membeberkan berbagai masalah pembangunan (baca: ketertinggalan) di daerah administratif itu dengan isu khusus di setiap kecamatan. Lantas para kontestan diberi kesempatan untuk memaparkan program-program kerja mereka. Tanya jawab spontan yang dipandu bisa menjadi bagian dari debat itu.

Sekitar 20 tahun lalu, saya membuat tulisan yang mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketertinggalan dan kemiskinan masyarakat di kepulauan Nias. Dalam kurun waktu 20 tahun, seingat saya baru tercatat satu projek pembangunan yang cukup besar di Nias, yakni program Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias setelah tsunami Aceh 2004 dan gempa Nias Maret 2005. Jejak-jejak RR Nias itu masih kita saksikan lewat jalan-jalan yang lebih baik (tetapi kembali memburuk karena tak ada program terencana perawatan), gedung-gedung sekolah dan rumah-rumah ibadat, dlsb.

Pemekaran Nias, yang juga berlangsung dalam kurun waktu yang sama, dan yang dulu kita harapkan mampu memajukan Nias secara signifikan, ternyata tidak memberikan dampak yang berarti. Setelah RR Nias dan Pemekaran, Nias kembali tenggelam dalam masalah klasik yang diidentifikasi dalam tulisan berusia hampir 20 tahun itu. Empat dari 5 daerah administratif tingkat dua di Kepulauan Nias masih terfdaftar dalam daftar Daerah Tertinggal.

Usulan format debat seperti ini lebih efektif. Pemenang akan sulit menghindari tanggung jawab kelak apabila mereka gagal dalam merealisasikan janji-janji mereka. Mereka diperhadapkan langsung dengan konstituen ril: orang-orang miskin, para petani, para pemabuk, orang-orang yang tetap miskin karena jujuran tinggi, dan lain sebagainya. Wajah-wajah penuh harap mereka ini, akan selalu mengingat-ingatkan para kontentan, dan terutama pemenang, agar sungguh-sungguh bekerja untuk merealisasikan janji-janjinya.

Akan lebih baik lagi, kalau dalam acara debat / pemaparan program-program itu, diadakan Doa Perjanjian yang disaksikan oleh masyarakat banyak, bahwa siapun yang terpilih akan berusaha dengan sungguh-sungguh merealiasikan janji-janji mereka (e.halawa*)

* Tulisan ini dipersipakan 13 September 2020, dimuat di Nias Online 8 Desember 2020.

PARANORMAL, BENCANA ALAM DAN SIKAP KITA

Saturday, June 13th, 2020

E. Halawa*

Catatan Redaksi: Tulisan in dimuat di Nias Portal (nias-portal.org – sudah tidak aktf lagi) pada tanggal 27 April 2005, sebulan setelah Gempa Nias 28 Maret 2005, dan masih relevan dalam situasi krisis COVID-19 saat ini. Tautan pada artikel yang dirujuk juga sudah diubah.

Beberapa waktu lalu, di sebelah kiri halaman utama situs ini (nias-portal.org – Red.) tertayang jajak pendapat (polling) tentang gejala paranormal. Hingga saat berita ini ditayangkan, telah 76 orang ikut memberikan suara dalam jajak pendapat itu, dengan hasil sebagai berikut.

Ada sebanyak 3 orang (3.95%) yang memberikan suara pada pilihan pertama: Menarik sekali dan mencerahkan pikiran. Pada pilihan kedua, Merusak akal sehat, perlu dijauhi, suara sejauh ini “mayoritas”, yaitu sebanyak: 35 suara (46.05%). Untuk pilihan ketiga, Tertarik (yang merupakan bentuk lebih “halus” dari pilihan pertama) ada sebanyak 10 orang (13.16%) yang memberikan pilihannya. Pilihan keempat (Omong Kosong) dipilih oleh 16 orang (21.05%) sementara pilihan kelima dan keenam (Ragu-ragu dan Tidak tahu) masing-masing mendapat 8 suara (10.53%) dan 4 suara (5.26%).

Sebenarnya ke enam pilihan diatas dapat diciutkan menjadi 3 kelompok: (a) kelompok yang menganggap gejala paranormal sebagai hal yang positif (pilihan 1 dan 3), (b) kelompok yang menganggapnya hal yang negatif, merusak, dan karenanya perlu dijauhi, (c) kelompok yang ragu-ragu atau tidak tahu, jadi belum menentukan sikap apakah masuk dalam kelompok pertama atau kelompok kedua.

Keberagaman hasil dari jajak pendapat di atas, walau hanya diikuti oleh sedikit orang, sedikit banyak mencerminkan cara pandang masyarakat Nias, dan juga masyarakat Indonesia terhadap gejala paranormal.

Seiring dengan beruntunnya bencana alam yang melanda bangsa kita, “pamor” paranormal mulai naik melalui “ramalan-ramalannya” yang kelihatannya akurat, jitu dan “memperingatkan” masyarakat. Naiknya “pamor” paranormal itu sedikit banyaknya didukung juga oleh sikap kita yang kelihatannya, sadar atau tidak, mulai mensejajarkan para praktisi paranomral dengan para ilmuwan yang ahli di bidangnya, dengan para nabi dalam agama-agama besar, dan bahkan secara tak sadar mensejajarkannya dengan TUHAN sendiri. Ketika para praktisi paranormal mengeluarkan “ramalan”, kita semua menjadi terpaku, diam, terpukau, terpesona, dan “mengaminkan”.

Memang, efek dari ramalan para praktisi paranormal lebih “dahsyat” daripada peringatan-peringatan para ilmuwan yang kompeten di bidangnya. Mengapa ? Karena para ilmuwan itu, ketika menyampaikan sebuah peringatan, umumnya melakukannya dengan hati-hati, mengeluarkan pernyataan sejauh data yang bisa mereka andalkan, dan bahkan tidak jarang diakhiri dengan ucapan semacam: “wah .. kalau soal waktunya, saya/kami/kita tidak tahu”.

Lain halnya dengan para praktisi paranormal. Berbekalkan kejadian bencana sebelumnya, mereka dengan mudah “mengarang ramalan” baru berikutnya yang sering menohok dan melemahkan kesadaran atau pikiran jernih kita.

“Gempa dahsyat yang lebih besar yang disertai tsunami akan datang lagi. Gempa ini datang untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptor. Gempa ini datang karena manusia sudah semakin jahat dan bejat …”. Ramalan dengan nada ancaman khas seperti ini biasanya datang dari para praktisi paranormal.

Tidak heran, kita yang mendengarnya dan menyimaknya, tidak jarang termakan kekuatan “sugesti” kalimat-kalimat bernada mengancam dan sekaligus kelihatan “masuk akal” itu. Bukan hanya itu, kita juga diberi kesan, seakan para praktisi paranormal merupakan “penyambung” lidah para nabi, melalui peringatan-peringatan yang terkesan “spiritual.” Maka, orang yang menjadi korban sugesti – saudara, famili, teman kita, atau bahkan kita sendiri – bisa kehilangan akal sehat, menjadi panik, dan mengambil keputusan-keputusan yang terburu-buru yang bisa saja sangat merugikan kita.

Benarkah bencana dan tsunami datang “untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptor”. Benarkah “gempa ini datang karena manusia sudah semakin bejat …” ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa hanya berupa “Ya” atau “Tidak”. Untuk menjawabnya, mari kita melihat berbagai kenyataan secara jernih.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang peneliti kebumian. Ketika beliau tahu bahwa saya berasal dari Nias, beliau secara spontan berseloroh (tapi toh terkesan bernada serius) kurang lebih: “Wah hati-hati, Pak, Kepulauan Nias itu terletak dalam jalur rawan gempa.” Ucapan ini bagaikan “vonis mati”; saya hanya bisa merespons secara pasif, memendamnya ke alam bawah sadar. (Paragraf ini pernah dimuat dalam tulisan lain berjudul: BUMI YANG “MARAH”, TUHAN YANG “DIAM”).

Jadi, gempa dan tsunami di daerah-daerah rawan gempa seperti di Nias dan sepanjang pantai barat Sumatera memang sudah diketahui sejak dulu oleh para ilmuwan, jauh sebelum para praktisi paranormal mulai “meracuni” udara kesadaran dan akal sehat kita dengan ramalan-ramalannya.

Mari kita mengambil contoh di luar kita. Jepang merupakan negara yang selalu menjadi langganan gempa. Dari berbagai informasi yang dapat kita yakini, kita juga tahu bahwa tingkat korupsi di Jepang jauh lebih kecil dari tingkat korupsi di Indonesia. Toh, gempa selalu menggoyang dan menggoncang Jepang, dari dulu, hingga sekarang. Lalu bisa saja kita membela para praktisi paranormal dengan mengatakan “karena orang-orang Jepang tidak begitu korup, tidak begitu jahat dan bejat dibandingkan dengan orang-orang Indonesia, maka korban gempa dan tsunami di Jepang sangat kecil.” Argumen “rasional-semu” ini tentu saja tidak bisa kita terima. Kemajuan teknologi membuat Jepang lebih aman terhadap ancaman bencana alam. Rumah-rumah dan gedung-gedung di Jepang tahan terhadap gempa, pantai-pantai di Jepang dibentengi dari terpaan dahsyat tsunami, di samping itu masyarakat Jepang dibekali dengan sistem peringatan dini terhadap bencana gempa dan tsunami.

Lantas, bagaimana seandainya gempa dashyat dan tsunami datang lagi ? Apakah ini tidak juga menunjukkan “kebenaran” dari ramalan para praktisi paranormal ? Ada tidaknya ramalan paranormal tentang gempa dahsyat dan tsunami tidak terkait dengan kemungkinan datang atau tidaknya lagi bencana dahsyat itu.

Terperangkap Jaring Paranormal
Mengapa kita berbicara banyak tentang hal ini ? Alasan utama adalah, karena berdasarkan hasil jajak pendapat yang disinggung di depan, ternyata sebagian dari kita telah “terperangkap” dalam “jaring” kepercayaan terhadap paranormal. Rasionalitas sebagian dari masayarakat kita telah ditohok, diperlemah oleh gejala paranormal. Sebagian dari kita sudah mulai memanfaatkan paranormal untuk memperkuat argumen-argumen kita, untuk menyerang lawan-lawan “politik” kita, untuk “memperlancar keberuntungan” kita, untuk mencari penyembuhan atas penyakit-penyakit kita, untuk “menghukum” dan “mengutuk” para koruptor dan orang-orang jahat, untuk melarikan diri dari dunia realita kita, dan sebagainya.

Kalau kita merenungkan kembali bencana gempa dahsyat yang baru saja meluluh-lantakkan Nias, kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa korban bukan hanya para koruptor dan orang-orang jahat. Korban berasal dari berbagai lapisan sosial, agama, suku bangsa, orang kaya, orang miskin, para koruptor, warga yang lugu dan berwawasan sederhana, yang tak pernah “menghisap” orang lain, ibu-ibu yang berhati lurus, anak-anak yang belum tahu apa artinya (belum besentuhan dengan) dosa, dan sebagainya.

Menakjubkan Karya Tangan Tuhan
Lantas, mengapa bencana melanda dan memporak-porandakan Nias ? Jawaban yang sederhana, dan mungkin saja memancing kembali “perbantahan” adalah: kita tidak tahu. Orang-orang yang memiliki kepercayaan pada Tuhan boleh melangkah setapak ke depan dengan memberi jawaban bersifat religius: “Hanya Tuhan yang tahu. Alam semesta adalah ciptaan dan milik-Nya, maka Dia berhak melakukan apa saja terhadap milik-Nya. Mahaagung Tuhan, dahsyat dan memukau segala perbuatan dan karya tangan-Nya. Terpujilah Dia selama-lamanya. Amen”.

Kepasrahan seperti tertulis di atas jauh lebih bermakna dari pada mencari penjelasan paranormal. Kepasrahan seperti di atas melahirkan kedamaian, permenungan, refleksi, melahirkan niat suci ke depan, menumbuhkan kembali harapan yang hampir-hampir musnah, sebab “mempesona, mengagumkan dan agung karya Tuhan atas segala ciptaan-Nya”. Itu berarti, sesudah bencana akan muncul harapan baru dan kepulihan; tentu saja dengan syarat: ada pembaharuan total dalam sikap. Kalau di masa lalu kita menganggap “yang lain” sebagai musuh, sebagai objek isapan, objek kebencian, objek empuk pikiran negatif kita, maka pascabencana kita harus membalikkan itu semua. Kita harus “berbaur” dengan dan “menjadi sahabat” siapa saja yang tadinya kita anggap “musuh”. Kita harus tinggal dalam “tenda” yang sama dengan mereka yang tadinya kita anggap bukan bagian dari kita. Singkat kata: kita harus melihat yang lain sebagai sesama, sebagai saudara.

Masih perlukah sebuah gempa (dan bahkan tsunami) yang lebih dahsyat lagi untuk memperbaharui sikap kita ? Kita tidak perlu berpaling kepada paranormal untuk menjawabnya, karena kita bisa dan sebaiknya menjawabnya sekarang.

Mengenang Bawa Lofo (Musim Kelaparan) 1966 di (sebagian) daerah Nias

Saturday, April 25th, 2020

Sehubungan dengan peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tentang ancaman terhadap pasokan pangan dunia akibat krisis Covid-19, maka berikut ini saya coba menuliskan pengalaman saya waktu kecil, tentang musim kelaparan 1966 di Nias, pengalaman yang masih saya ingat secara garis besar walau tak mampu lagi mengingat detail.

Tujuannya adalah sebagai bahan permenungan, untuk mempertimbangkan berbagai hal selagi kita dalam masa penantian menunggu berakhirnya krisis Covid-19.

Harus diingat bahwa teknologi pertanian (dan bidang-bidang lain) pada zaman sekarang jauh lebih maju ketimbang teknologi pada dekade 1960an.

Akan tetapi kenyataan paradoks di mana di zaman teknologi yang sudah semaju ini masih saja kita dibuat panik oleh virus berukuran skala nanometer, memaksa kita untuk berpikir hal yang sederhana: pemenuhan kebutuhan pangan.

***
Sebagian daerah di Kepulauan Nias pernah mengalami masa kelaparan hebat (hampir mendekati status starvasi) di tahun 1966 di masa-masa yang serba tak menentu pasca peristiwa G30S/PKI.

Pada masa itu masyarakat Nias hanya mengandalkan ubi kayu, umbi-umbian hutan, ladara (ini biasanya untuk konsumsi babi), pucuk laehuwa (semacam pakis), dan bahkan bagian dalam batang pisang yang masih muda (howu gae) … sebagai makanan sehari-hari. Dan itu berlangsung selama beberapa minggu (saya tak ingat lagi durasi persisnya).

Penyebab utama: suplai beras dari luar (lewat Sibolga) terhenti, juga konon ada pengusaha yang menahan berton-ton beras di Gunungsitoli (dan konon … sebagian gudang itu akhirnya terbakar). Pada masa itu masih belum ada Bulog.

Di pihak lain, sawah dan ladang masyarakat tidak menghasilkan apa-apa, hama tanaman tak terbendung, kesuburan tanah tak ada lagi (pupuk belum ada pada masa itu). Ditambah lagi kenyataan, seperti sekarang, masyarakat lebih mengandalkan penghasilan dari menyadap pohon karet (havea). Saya teringat mainan utama anak-anak kecil hingga remaja pada waktu itu adalah: fabuahavea (permainan dengan menggunakan buah pohon havea).

Saya ingat persis juga, beberapa bulan sebelum minggu-minggu kelaparan itu, hasil panen ubi kayu di belakang gedung SD Negeri Botomuzöi (Kecamatan Botomuzöi) yang disediakan untuk guru-guru sebagai penyemangat agar mereka betah tinggal, sangat luar biasa.

Setelah panen itu, saya tak pernah lagi menyaksikan ukuran ubi kayu raksasa: izagai faha (sebesar paha), ada yang sampai semeter panjangnya.

Hasil panen itu dikumpulkan dan dibawa oleh murid-murid SD dengan daga (bakul dari rotan atau bambu) ke lapangan harimbale (pasar mingguan) Muzöi dan dijual di sana.

Konon ubi kayu ini menguras kesuburan tanah (saya tak bisa berkomentar banyak di bidang ini, bukan keahlian saya).

Tambahan lagi, jenis bibit padi yang
ada di Nias pada masa itu adalah padi lokal yang berumur 6 bulan. Ada satu nama yang samar-samar saya ingat: sirögi. Memang enak, rasanya manis, tanpa lauk pun kita bisa mudah menelannya. Tetapi ya itu … 6 bulan baru bisa dipanen.

Padi PB8 (yang berumur 3 bulan) baru dikenal di Nias kalau tak salah tahun 1968, bersamaan dengan diperkenalkannya cairan kimia pembasmi hama yang belakangan justru ditarik dari peredaran karena sangat toksik.

Saya pernah merasakan ‘enaknya’ makanan dari berbagai macam ramuan hutan yang pelezat utamanya adalah … garam!

Di masa itu, hutan-hutan menjadi lebih ‘terang’ karena orang-orang beramai-ramai mencari-cari daun-daun muda dan umbi-umbian apa pun yang bisa dimakan. Bekas-bekas injakan kaki orang membuat suasana hutan lebih ‘bersahabat’, rumput-rumput rata dengan tanah, hanya pohon-pohon besar yang menghalangi pemandangan kita melihat apa saja di sekeliling kita.

Di sejumlah desa ada banyak keluarga yang meninggal secara tragis karena memakan jamur beracun.

Lebih menyayat lagi, ada terdengar masyarakat di sejumlah desa – ketika memotong ayam, hanya membersihkan bulunya, tetapi tulang-tulangnya diremuk di lesung (latutu ba lösu) untuk dikonsumsi.

Di masa itu, ibu-ibu tidak lagi ke ladang, sawah atau kebun. Ya karena tidak ada lagi yang diharapkan dari ladang, sawah, atau kebun. Yang pergi ke hutan (istilah Nias: milo) adalah orang-orang tua atau para pemuda yang masih kuat bepergian jauh sampai seharian untuk mencari apa saja yang bisa dibawa ke rumah untuk bisa dinikmati oleh keluarga.

Kekosongan perut ternyata sangat menyiksa. Sakitnya luar biasa. Salah satu teknik untuk mengurangi kenyerian adalah mengikat perut dengan pengikat dari kain.

Di daerah-daerah lain di luar Nias tentu saja ada kisah yang mirip.

Bangsa-bangsa lain juga mengalami masa kelam di berbagai zaman.

Intinya adalah: sejarah mengingatkan kita akan masa-masa kelam di masa lalu, yang wajar kita jadikan sebagai bahan pelajaran untuk kebaikan di masa kini dan masa depan.

(E. Halawa – disiapkan 16 April 2020, dimuat di Nias Online 25 April 2020)

Partai Anak Tangga Kesempatan vs Partai Pengulur Tali

Monday, April 13th, 2020

E. Halawa*


[Partai Anak Tangga Kesempatan: Kami memberimu anak-anak tangga sehingga engkau bisa sampai ke atas. Terserah engkau, secepat apa engkau sampai.

Partai Pengulur Tali: Ini tali, peganglah erat-erat, kami akan menarikmu ke atas. …. ]


Cirrocumulus

Tanggal 18 Mei 2019 terjadi kejutan besar dalam Pemilihan Umum di Australia: Partai Koalisi Liberal dan Nasional – partai petahana – menang telak atas Partai Buruh Australia (ALP)

Kejutan besar karena hingga minggu terakhir menjelang hari H, jajak pendapat selalu mengunggulkan Partai Buruh. Jajak pendapat ini sudah berbulan-bulan berlangsung dan Partai Koalisi tak pernah berada pada posisi menang.

(Catatan: Saking yakinnya para komentator politik pada keakuratan jajak pendapat ini, ada beberapa dari mereka yang telah menyiapkan manuskrip buku yang membedah alasan-alasan kekalahan telak Partai Koalisi dan kemenangan Partai Buruh. Karena kenyatannya pada hari H hasilnya lain, manuskrip buku-buku itu akhirnya tidak pernah masuk ke ruang percetakan.

Hasil pemilu Australia, tidak seperti di tanah air, cepat diketahui, tidak menunggu berminggu-minggu. Tentu ini karena sistem yang lebih maju. Begitu pemimpin Partai Buruh mengetahui partainya tidak mampu meraih suara mayoritas, ia langsung menelpon Perdana Menteri Scott Morrison, petahana, untuk mengucapkan selamat akan kemenangannya. Ia tidak menunggu sampai seluruh suara dihitung.)


Apa yang terjadi dalam pemilu Australia ini seperti mengulang kenyataan pada pemilihan presiden Amerika pada tahun 2016, yang menghantarkan Trump kepada kemenangan.

Tentu saja ada riak-riaknya: Trump dituduh menang karena intervensi Rusia, dan … dalam skala kecil … Partai Koalisi di Australia dituding melakukan praktek-praktek curang. Namun dalam kedua kasus, tak ada yang menjurus kepada demo besar-besaran untuk memohon pembatalan keputusan komisi pemilihan, apalagi meminta Yang Mahakuasa untuk menurunkan kutukan bagi yang curang. Protes massa Demokrat di depan Gedung Putih berlangsung, tapi bukan untuk mendemo kecurangan pemilu, melainkan mengungkapan ketidaksenangan mereka pada sosok Trump yang menurut mereka fasis, rasis, dst.


Mengapa bisa terjadi kejutan semacam ini?

Banyak ahli memberikan penjelasan, tetapi dalam tulisan ini saya memilih menampilkan hasil pengamatan langsung Scott Morrison, Perdana Menteri Australia, yang partainya – Partai Koalisi – diprediksi akan kalah telak itu.

Ia mengungkapkan itu dalam sebuah wawancara beberapa hari setelah pemilu usai.

Singkat kata: ia telah menangkap suasana hati (mood) dan kegelisahan dari para calon pemilih yang dia jumpai saat ia kampanye di berbagai tempat, kelompok yang dia sebut “the quiet Australians” – calon pemilih Australia yang ‘diam’, yang tak mudah bereaksi dengan mengungkapkan pendapat di medsos. Mereka adalah yang kuatir tentang berbagai ketidakpastian tentang dampak hasil pemilu. Mereka adalah para buruh tambang yang takut kehilangan pekerjaan, para pembersih gedung-gedung yang hak-haknya sering bertabrakan dengan keinginan majikannya, para pensiunan yang kuatir akan dampak kebijakan pemerintahan baru hasil pemilu. Para petani yang sering menjadi korban kekeringan.

Dalam observasi ScoMo (nama akrab Scott Morrison, seorang anggota Gereja Pantekosta Australia), suara mereka ini tak muncul dalam jajak-jajak pendapat, tetapi jumlah mereka sangat banyak, dan hasil pemilu bisa sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka.

Maka ScoMo (dibantu oleh Tim Sukses yang sangat profesional) bergerak dengan cara pertempuran jarak dekat: timsesnya mengorganisir pertemuan tatap muka dengan calon kelompok para pemilih di berbagai tempat. Kelompok ini tidak besar, antara 25-50 orang. Polanya sama, ia menyapa mereka, memberikan sambutan singkat lalu tanya jawab formal, dan pembicaraan dari hati ke hati.

  • Bagaimana nanti upah minimum?
  • Apakah Koalisi akan menaikkan pajak?
  • Bagaimana nanti nasib kami kalau tambang ditutup demi menyelamatkan lingkungan?
  • Apakah usia pensiun dinaikkan?
  • Bagaimana dengan uang pensiun, apakah pajaknya akan dinaikkan?
  • Apa kebijaksanaan partai menyangkut aset-aset kami?
  • Apakah kami masih berperan besar dalam pendidikan anak-anak kami ? (Ini isu inklusivisme sosial yang akan dibahas pada kesempatan lain)

ScoMo langsung merasakan betapa para calon pemilih warga Australia yang diam itu, sungguh-sungguh memilih karena ingin terlibat langsung menentukan masa depan mereka lewat partai dan pemimpin partai yang mereka anggap bisa melindungi kehidupan mereka.

ScoMo juga mencium kegelisahan yang diembuskan oleh pemimpin oposisi Bill Shorten tentang usaha-usaha penyelamatan lingkungan dan isu pemanasan global yang hingga hari H tak pernah diestimasi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu.

Maka, dalam sehari ScoMo dan timnya menyebar ke berbagai pelosok untuk menemui kelompok-kelompok kecil ini, menjawab berbagai pertanyaan mereka, dan meyakinkan para calon pemilih bahwa dalam situasi perekonomian nasional dan internasional saat ini, mengganti pemerintah kurang bijak.

Persuasi ScoMo dan timnya masuk akal para pemilih yang diam ini. Keputusan para pemilih diam ini semakin diperkuat dengan sikap Partai Buruh dan Partai Hijau yang dianggap arogan. Dalam suatu kesempatan, tokoh Partai Buruh bahkan meminta para pemilih yang tidak setuju dengan program partainya untuk memilih Koalisi. Sikap ini dianggap sebagai sikap arogan oleh sebagian pemilih.


Efektifkah kampanye jarak dekat yang melibatkan hanya sekitar 25 – 50 orang? Tentu saja. Selain dari mulut ke mulut lewat obrolan antar tetangga atau ketika berkumpul di warung kopi, pesan-pesan ScoMo dan timnya yang simpatik ini disebarkan secara digital oleh para pendengarnya lewat berbagai jaringan medsos.


Selama ini sudah menjadi tradisi Partai Demokrat di AS dan Partai Buruh di Australia dianggap partai rakyat kecil, partai pembela kepentingan mereka: para imigran, buruh, warga kulit hitam (di AS) dan warga Aborigin (di Australia). Partai Demokrat (AS) dan Partai Buruh (Australia) selalu mengambil tema-tema keadilan bagi para kaum tertindas sebagai tema utama kampanye mereka. Tidak jarang dalam mempopulerkan tema-tema itu, para pimpinan dari kedua Partai berhaluan kiri ini mengambil sikap yang lama kelamaan dirasakan – bahkan oleh kaum yang mereka ingin bela itu – sebagai sikap atau pandangan yang kurang bijak.

Sikap yang dimaksud adalah sikap ekstrimis yang selalu membagi masyarakat atas dua kelompok: kelompok penindas – kaum pemilik modal – dan kaum tertindas, rakyat kecil tapi. Dalam konteks sosial lain, gerakan feminisme: yang menganggap laki-laki penindas kaum wanita (tentu sebagian ada benarnya) dan karenanya perempuan harus dibebaskan dari situasi itu. Dalam praktek ekstrimnya, banyak perempuan yang tidak mau menikah karena pernikahan dianggap sebagai penindasan. Singkatnya: tak ada kompromi.

Sikap yang diilhami oleh ideologi Marxisme ini memiliki pesan inti: kedua kelompok itu tak bisa diperdamaikan, yang tertindas harus melawan dan bahkan menghancurkan penindas.

Dalam prakteknya, ideologi Marxisme yang gagal di sejumlah negara ini dicoba dimodifikasi dan kini menjadi platform utama kaum kiri di berbagai negara demokrasi di Barat. Sebenarnya terlihat langsung kontradiksi di sini, karena sikap ideologi kiri yang biasanya anti kompromi diperkenalkan dalam alam demokrasi yang dibangun atas semangat persuasi dan kompromi kritis.


Dalam pengamatan Dinesh D’Souza, seorang pemikir konservatif Amerika imigran asal India, ideologi Marxis yang mengalami semacam penyesuaian itu menjelma dalam platform Partai Demokrat. Menurut D’Souza, Partai Demokrat – terutama akhir-akhir ini – telah menjadi Partai pengulur tali kepada rakyat Amerika. Mereka menarik rakyat kecil kepada Partai Demokrat lewat program-program populis yang sangat membebani keuangan negara: jaminan kesehatan untuk semua warga, uang reparasi bagi kaum kulit hitam karena perbudakan yang dialami generasi-generasi pendahulu mereka, serta berbagai program lain yang mudah: aborsi yang dibiayai negara, uang kuliah gratis, dst.

Namun Partai Demokrat tidak pernah menelorkan program yang bertujuan jangka panjang untuk membebaskan rakyat kecil ini dari ketergantungan kepada keuangan pemerintah. Ini bisa dimaklumi, karena kalau program semacam itu diperkenalkan maka mereka justru kehilangan basis besar pendukungnya.

Dinesh D’Souza mengibaratkan Partai Demokrat sebagai pengulur tali: mereka mengulurkan tali kepada orang-orang yang berada di bawah, untuk naik ke atas. Akan tetapi Partai Demokrat tak akan pernah rela orang-orang ini (basis pendukungnya) untuk betul-betul mandiri.

Sebaliknya Partai Demokrat malah ingin memperluas basisnya. Ini terlihat dari debat internal Partai Demokrat baru-baru ini, di mana para bakal calon presiden itu mendukung sensus tanpa pencantuman warga negara. Sebelumnya, di berbagai negara bagian Partai Demokrat mendukung gagasan pemilih tak harus dibatasi pada warga negara.

Masalah pelik di perbatasan Amerika dengan negara-negara tetangga di Selatan sekarang ini merupakan akumulasi dari perlawanan pihak Demokrat untuk memblok usaha-usaha Partai Republik untuk menuntaskan masalah imigran gelap. Masalah menjadi pelik karena ini menyangkut “kemanusiaan”, hal yang sering dipakai sebagai senjata oleh Partai Demokrat.


Rakyat kecil umumnya terpecah dua: (1) kelompok yang melihat kesempatan sebagai tantangan untuk lebih maju lagi, (2) kelompok yang sudah merasa nyaman dengan bantuan-bantuan sosial yang datang dari pemerintah.

Pengamatan penulis pada pemilu terakhir di Australia, banyak pemilih yang dulunya memilih Partai Buruh akhirnya memilih Partai Koalisi karena mereka merasa program Partai Koalisi lebih realistis dan adil bagi semua. Partai Koalisi memang tetap mendukung program sosial seperti santunan dua mingguan bagi para penganggur. Namun, dalam masa pemerintahan Koalisi, persyaratan pemberian dan perimaan bantuan ini semakin diperketat.


Kebijakan tegas Partai Koalisi di bidang imigrasi yang pada awalnya ditentang oleh mayarakat justru sekarang berbalik menjadi salah satu poin penentu kemenangan mereka pada pemilu terakhir.

Rujukan:

  1. 2019 Australia election: Morrison celebrates ‘miracle’ win
    https://www.bbc.com/news/world-australia-48305001
  2. Scott Morrison’s shock election result pinned on volatile voters
    https://www.news.com.au/finance/work/leaders/scott-morrisons-shock-election-result-pinned-on-volatile-voters/news-story/b25359e9e520cf1acb88460ca532bc8e
  3. Pidato Dinesh D’Souza pada Acara Wisuda – Liberty University
    https://youtu.be/FRs-6DrnX-8

* Tulisan ini disiapkan 30 Juni 2019 – dimuat di Nias Online 13 April 2020.

‘Keynote Speech’ Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015

Monday, June 15th, 2015

Presiden_JokowiCatatan Redaksi: Pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015 mengandung pokok-pokok pikiran beliau untuk pengembangan kawasan Indonesia Timur.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati seluruh menteri yang hadir, Ketua KADIN, utamanya KADIN Indonesia Timur, dan Bapak Ibu semuanya anggota KADIN yang saya hormati.

Kalau berbicara perdagangan dan investasi Indonesia bagian timur, kita melihat di lapangan sebetulnya potensi dan kekuatan yang bisa diangkat itu sangat besar sekali. Tetapi pendukung untuk melakukan itu memang perlu segera dikerjakan. Apa itu? Infrastruktur, tidak ada yang lain.

Oleh sebab itu, hari Jumat kemarin, kita sudah mulai pembangunan groundbreaking untuk pelabuhan Makassar, pelabuhan dan zona industri yang mencakup keluasan 2.000 hektar, bukan meter persegi, hektar, 2.000 hektar. Kemudian nanti bulan Juli, insya Allah juga akan kita mulai bangun lagi pelabuhan besar di Sorong, bukan pelabuhan yang lama, tetapi akan bergeser kurang lebih 30 km dari yang lama, dengan keluasan kurang lebih 7.000 hektar, yang di dalamnya akan ada pelabuhan untuk power plant dan tentu saja untuk kawasan industri. Hanya dengan cara-cara pembangunan seperti inilah, saya meyakini Indonesia bagian timur akan bisa berkembang lebih cepat dan lebih baik.

Saya berikan contoh, misalnya di kabupaten Merauke. Tapi dari Merauke ke tempat lokasi kurang lebih 2 jam lewat darat, namanya desa Wapeko. Disitu ada hamparan tanah datar yg sangat luas, sudah dihitung ada 4,6 juta hektar, tetapi setelah diidentifikasi yang siap untuk dikerjakan baru 1,2 juta hektar yang bisa dipakai untuk menanam padi, jagung, maupun untuk tebu. Kalau 4,6 juta hektar itu bisa dikerjakan semuanya, dan sudah ada 5.000 hektar yang dicoba, hasilnya 1 hektar bisa mencapai 8 ton. Artinya apa? Kalau menghasilkan padi 8 ton, kalau Bapak-bapak dan Ibu-ibu kalikan 8 ton kali 4,6 juta, hampir 37 juta ton sekali panen. Dua kali panen berarti 74 juta ton. Kalau tiga kali panen berarti 110 juta ton hanya dari satu kabupaten, padahal produksi nasional kita sekarang ini 60-70 juta ton.

Artinya apa? Kalau serius kita kerjakan ini, bukan hanya selesai, tapi kita akan berlimpah, yang namanya pangan itu akan berlimpah ruah. Hanya dari satu kabupaten. Padahal di sekitar Merauke, ada 4 kabupaten lagi dengan kondisi yang sama, tanahnya datar, subur, kanan kiri ada sungai yang sangat besar, yang juga bisa dikerjakan kegiatan yang sama.

Pertanyaan saya, kenapa bertahun-tahun ini tidak dikerjakan? Yang pertama, karena memang infrastruktur pelabuhannya diragukan siap untuk menampung produksi ini. Kedua, infrastruktur jalan dari pelabuhan menuju ke lokasi yang tadi saya sampaikan memang membutuhkan pembangunan dan beberapa tempat membutuhkan perbaikan. Dan juga yang tidak kalah besarnya investasi adalah untuk pembangunan irigasi menuju lokasi itu.

Kenapa tidak dikerjakan? Ya karena mungkin menterinya ngga pergi kesana. Saya hanya dengar, “Ada 4,6 juta, Pak.” “Masa?” “Betul, Pak.” Oke, ambil foto. Ambil foto, foto, foto, ternyata benar. Baru saya putuskan saya melihat sendiri kesana. Dan setelah melihat, karena sudah dikerjakan, hasilnya juga sudah dikerjakan 5.000. Hasilnya juga sudah ketemu. Jenis varietas yang cocok disitu juga sudah ketemu. 8 ton per hektar. Saya putuskan di lapangan, ya sudah dimulai. Bagian pemerintah nanti ada bagian pelabuhan, bagian jalan, dan bagian irigasi. Investasi silakan masuk, tapi jangan semuanya. 70 persen dipegang oleh BUMN, 30 persen silakan swasta. 30 persennya juga sudah banyak. Jutaan hektar begitu mau konsorsium berapa perusahaan juga belum tentu bisa kerjakan langsung. Padahal peluang pasar yang saya lihat, saya baru saja pergi ke Papua Nugini, beras yang ada disana harganya 3 kali lipat kita, kurang lebih Rp 30-an ribu. Saya itu kalau pergi kemana-mana, kuping saya saya buka lebar-lebar, Rp 30.000. Kalau di Merauke ada produksi seperti itu, meloncat kesana ga ada 1 jam sudah sampai, tapi beras yang ada di Papua Nugini berasal dari Thailand, masuk ke Australia, Australia kirim ke Papua Nugini.

Inilah saya kira kesempatan investasi, kesempatan perdagangan yang bisa saya berikan contohnya satu. Belum di tempat yang lain. Coba lihat di Maluku, lihat di Ternate, Tidore juga sama. Ikan itu bukan melimpah, sangat-sangat melimpah. Saya belum lihat sendiri, kalau malam hari yang namanya kapal itu kayak pasar malam di malam hari di sekitar itu. Lampunya gemerlapan banyak sekali, ngambil ikan. Tapi sayangnya bukan kapal kita, kapalnya kapal asing. Dan perlu saya informasikan, di seluruh tanah air ada 7.000 kapal yang lalu lalang dibiarkan ngambil ikan kita. Hitungannya adalah Rp 300 triliun setiap tahun kita kehilangan. Dan itu, menurut saya, hampir 70 persen, 80 persen ada di Indonesia bagian timur. Inilah juga investasi yang diperlukan di Indonesia bagian timur agar ikan-ikan itu tidak diambili oleh mereka dan kita menjadi penonton. Ini peluang yang sangat besar sekali.

Apa yang harus dilakukan? Beli kapal sebanyak-banyaknya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, terutama yang berasal dari Indonesia bagian timur. Kalau sudah beli bagaimana? Kerja sama dengan nelayan. Terus? Ikannya itu diambil. Terus? Buat pabrik cold storage. Terus? Buat pabrik pengalengan ikan. Kalau tidak bisa dilakukan sendiri, lakukan bersama-sama, konsorsium. Polanya plasma inti, biar nelayan juga mendapatkan sesuatu, intinya juga dapat keuntungan. Selalu yang saya terangkan seperti itu.

Di Merauke juga sama, yang akan kita bangun adalah inti plasma. Intinya dapat 70 persen, plasmanya, yang punya laham, dapat 30 persen. Semua penduduk mau semuanya. Dikerjakan dengan mekanisasi total, mekanisasi modern. Peluang-peluang seperti itu, setiap saya ke daerah, saya melihat betul-betul Indonesia bagian timur adalah masa depan kita. Tapi jangan keliru kebijakan. Saya titip, baik gubernur, bupati, jangan keliru kebijakan.

Kita pernah kehilangan, saya bolak balik menyampaikan, kehilangan momentum waktu booming minyak, kita kehilangan momentum, fondasi, fundamental ekonomi ngga betul kita bangun, hilang pada tahun 70-an, 80-an. Ada booming lagi, booming kayu juga sama. Tahun 80-an, 80, 85, 90, booming kayu saat itu, juga kita tidak bisa bangun fundamental ekonomi kita secara kokoh, padahal sangat melimpah ruah saat itu. Terakhir kita hampir saja juga kehilangan momentum minerba. Ini juga sangat besar sekali, tapi larinya selalu bahan mentah.

Inilah saya kira ke depan perlu semua, yang namanya produk-produk, semua bahan mentah, semua yang berkaitan dengan kekayaan kita, harus ada industrialisasi, harus ada hilirisasi. Dengan cara apapun itu harus ditempuh. Itu tugasnya swasta. Pemerintah tugasnya apa? Membangun infrastruktur tadi. Pelabuhannya dibangun, jalannya dibangun, transportasi dibangun.

Saya meyakini, apabila tol laut nanti selesai, perkiraan kita 3-4 tahun pelabuhan-pelabuhan besar kita jadi, Kuala Tanjung di Sumatera Utara, masuk kesini ke Tanjung Priok, ke timur ke Tanjung Perak, masuk lagi ke Makassar, masuk lagi ke Sorong, itu memang harus standarnya sama. Kapal besar semuanya bisa merapat. Semuanya harus seperti itu. Percuma yang di Priok, yang di Kuala Tanjung kapal bisa merapat, tapi di timur tidak bisa merapat. Kapalnya ya maju mundurnya disini terus, disana ga akan dapat. Tapi kalau semuanya bisa dilalui kapal-kapal itu, dari barat ke tengah ke timur, semuanya bisa terus, pada akhirnya apa? Biaya logistik akan jatuh lebih murah. Biaya transportasi juga akan jatuh lebih murah, ya transportasi barang. Dan akhirnya apa? Produk-produk kita akan kompetitif. Karena coba bandingkan biaya transportasi kita, biaya logistik kita dengan negara-negara dekat 2,5 sampai 3 kali lipat. Mana bisa produk-produk kita bersaing kalau biaya transportasi, biaya logistik masih sebesar itu? Inilah yang kita kejar. Karena dengan itu nanti daya saing produk-produk kita akan bisa compete dengan produk-produk negara yang lain.

Saya yakin kita mampu melakukannya. Kita optimis bisa melakukannya. Tetapi memang dunia usaha harus bergerak lebih cepat mendahului pemerintah. Kita di belakangnya memberikan dukungan. Contoh yang saya dengar mengenai Merauke tadi, dari swasta, “Pak, kita akan ini tapi kita butuh dukungan ini.” Saya cek, iya betul, oke. Saya bangun ini, saya bangun ini, kamu mulai. Memang harus seperti itu. APBN kita tidak cukup untuk semuanya kita kerjain, ngga mungkin. Selalu saya sampaikan, silakan swasta masuk. Investasi, silakan swasta masuk.

Peluang ada, silakan swasta masuk. Tapi kalau saya tunggu, tidak ada yang masuk, sudah saya sampaikan berkali-kali, saya tunggu, swasta tidak ada yang masuk, ya BUMN akan saya suruh masuk. Saya ngga mau nunggu-nunggu juga. Tapi sudah saya sampaikan, ini sudah saya buka. Inilah saya kira kesempatan-kesempatan dan peluang-peluang, opportunity, yang ada di Indonesia bagian timur. Saya belum berbicara masalah minerba. Saya belum berbicara masalah sumber daya alam yang lain yang juga sangat melimpah ruah. Memang harus satu persatu. Kalau semuanya kita buka, yang masuk bukan Bapak, Ibu, dan saudara semuanya, tapi ada yang lebih dahulu dan mengambil keuntungan dan kita hanya jadi penonton. Untuk apa? Ini kesempatan, ini peluang, baik sisi investasinya, baik sisi perdagangannya. Tetapi kalau tidak dimanfaatkan, akan ada nanti yang mengambil peluang itu.

Saya kira itu yang bisa saya sampailan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih ata perhatiannya dan saya memgucapkan selamat ber-Rakernas.

Terima kasih.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Sumber: Situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (Foto: Wikipedia.)

Mengapa Anak Pintar di Sekolah, Ekonominya Bisa Sulit?

Thursday, April 3rd, 2014

Rheinald Kasali | swa.co.id

Rheinald Kasali | swa.co.id

Oleh : Rhenald Kasali (@Rhenald Kasali)

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S1 selalu juara. Tetapi kini di program S2 ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekan. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerima. (more…)

Tödö orang Mesir kuno dan orang Nias (SdNMT 3)

Thursday, December 16th, 2010

Apakah ada pengaruh orang Mesir kuno atas alam berpikir orang Nias? Pertanyaan ini melintas di benak saya ketika minggu lalu saya mengunjungi pameran di British Museum, London.

Sampai Maret 2011 British Museum, London, menunjukkan pameran langka, yang mereka beri tajuk Buku Orang Mati (Journey through the afterlife. Ancient Egyptian Book of the Dead). Pameran tsb. memaparkan perjalanan orang Mesir kuno setelah meninggal menuju hidup kekal. Sebenarnya yang dimaksud bukanlah satu buku, melainkan bundel kertas papirus berisi petunjuk dan mantra-mantra yang harus dipergunakan oleh sang orang meninggal, agar bisa melewati berbagai ancaman, supaya akhirnya lolos melalui pengadilan terakhir dan sampai ke hidup kekal.

Saya beruntung mengunjungi pameran tsb. karena beberapa hal yang dipajang memang khusus dan langka. Mis. untuk pertama kalinya “buku orang mati” paling lengkap dan terpanjang di dunia (37 meter!) ditunjukkan kepada umum. Bundelan dari papirus tsb. merupakan “buku” dari orang mati bernama Nestanebtasheru, seorang imam wanita Mesir kuno, yang meninggal pada tahun 930 sebelum Masehi. Jadi papirus ini telah berumur 2940 tahun dan masih utuh! Tulisan dan lukisan di dalamnya masih awet. Mumi, peti mati dan potongan papirus lainnya yang dipajang di sini ada yang telah berumur l.k. 5000 tahun! Menurut British Museum buku Nestanebtasheru baru pertama kali dipamerkan kepada umum dan mungkin tidak akan pernah dipajang lagi untuk umum, karena risiko kerusakan.

Cara British Museum mengorganisir pameran ini sangat luarbiasa. Tata ruangan, tata cahaya, seleksi barang pajangan, urutan barang pajangan, semua dibuat sedemikian sehingga pengunjung seakan memasuki dunia sakral dan mistik. Juga guide dibuat multimedial dan interaktif, sehingga pengunjung dapat menyelam ke dalam alam religi orang Mesir dengan mudah. Memandang peti mati utuh yang telah berumur 3000 tahun dengan mumi yang masih utuh di dalamnya sungguh memberi kesan khusus. Berkat pemandu (guide) pengunjung dapat membaca beberapa pesan hieroglif (tulisan Mesir kuno) dan mengulangi mantra-mantra, yang kadang berbunyi seperti frasa-frasa orang Nias dalam elemu.

Pertama-tama saya terkesan dengan konsep orang Mesir tentang hidup setelah mati. Ternyata antara hidup ini dan yang kita sebut surga itu terbentang satu perjalanan melalui “dunia orang mati” yang panjang penuh bahaya. Bagaikan peziarahan Dia yang telah mendahului kita, yang pertama-tama turun ke tempat penantian, sebelum bisa bangkit dan kemudian naik ke surga, bertahta di sisi Bapa (pengakuan iman Kristen/Credo).

Nah, untuk bisa berhasil melewati segala bahaya di perjalanan tsb. orang Mesir diperlengkapi dengan satu “buku” berisi petunjuk dan mantra-mantra. Tetapi buku tsb. dibaca bukan oleh orang yang masih hidup, melainkan sang orang mati sendiri. Karena itu buku tsb. diikutsertakan dalam peti mati.

Saya teringat dengan konsep api pencucian dalam teologi Kristen. Setelah meninggal orang Kristen melalui api pencucian (atau dalam ungkapan Credo: tempat penantian), untuk bisa sampai ke hidup yang kekal bersama Yang Ilahi. Tetapi dalam konsep orang Mesir sang orang meninggallah yang harus berjuang setelah mati untuk bisa lolos dari api pencucian tsb. Dalam konsep Kristen orang hiduplah yang harus berdoa memohonkan belaskasih Allah bagi mereka yang berada di tempat penantian.

Sebagai orang Nias saya tertarik dengan satu hal dalam seluruh proses mumifikasi (mengawetkan jenazah). Sepertinya ada kesamaan antara konsep orang Mesir kuno dan orang Nias tentang pusat kehidupan. Dan saya bertanya-tanya dalam hati (dan dalam konsep orang Nias bukan berpikir-pikir) apakah ada pengaruh orang Mesir atas filsafat hidup orang Nias dalam hal ini.

Dalam tradisi ritual mumifikasi, mereka yang mengawetkan jenazah harus mengeluarkan semua bagian dalam yang gampang busuk, seperti usus, paru-paru dst. Bahkan otak pun harus disedot. Tetapi jantung harus diawetkan dan ditinggalkan di dalam jenazah, sebab menurut orang Mesir bukan otak, melainkan jantunglah pusat hidup. Tanpa hati/jantung sang orang meninggal tak dapat “hidup” dan “berjuang” melalui berbagai tantangan sampai akhirnya bisa lolos di pengadilan terakhir. Nampaknya orang Mesir kuno berpikir dengan hati/jantung. Dia menimbang, menjatuhkan keputusan, menghafal semua mantra dengan hati/jantung.

Dalam hal ini orang Mesir kuno persis seperti orang Nias. Ba dödögu, kata orang Nias, yang berarti dalam pikiran saya atau menurut pertimbangan saya. Hewisa ba dödöu? tanya orang Nias kalau meminta pertimbangan: bagaimana menurut pendapatmu?

Lebih dari itu. Dalam alam pikiran orang Nias tödö bukan hanhya mewakili pikiran, melainkan juga pribadi manusia itu sendiri sebagai subyek. Maka tak heran orang Nias akan bilang erege dödögu kalau mengatakan saya letih. Abu dödögu kalau mengatakan saya sedih, seolah hanya hati/jantungnya yang merasakan kesedihan.

Mengapa? Karena tödö bisa juga merupakan representasi seluruh manusia. Karena itu kendati dikatakan hati sedih, yang dimaksud adalah keseluruhan manusia. Dalam dongeng (atau mitologi?) Tödö Hia, kendati Tuada Hia sebagai manusia tidak ada lagi (telah mati), namun dia tetap eksis dalam hatinya, yang masih tetap “berpikir” dan “menimbang yang baik dan yang buruk”, untuk memberi nasehat dan teguran. Dalam tradisi kesalehan Kristen terdapat devosi Hati Kudus, yang juga merupakan representasi Sang Guru sendiri.

Pemandu di pameran tsb. berusaha menarik perhatian pengunjung mengenai hal khusus ini. Mungkin dunia kita jauh lebih aman dan adil, seandainya manusia berpikir dengan hati. John Henry Newman, yang baru dinyatakan kudus September lalu di Inggeris, juga memilih motto “hati berbicara kepada hati” daripada dialog pemikiran. Rasionalitas mungkin akan lebih rasional dan manusiawi bila lahir dari hati.

Entah pengaruh orang Mesir kuno atas filsafat hidup orang Nias ada atau tidak, yang pasti adalah, berpikir dengan hati kemungkinan membuat manusia seimbang. Manusia yang hanya mengandalkan pikiran, berjalan dengan kepala di bawah. Tetapi manusia yang berpikir dengan hati berjalan tegak, dengan kaki di bawah dan kepala di atas, karena hati berada di tengah-tengah. Semoga.

London, 14 Desember 2010

Sirus Laia

Foto: Situs British Museum: http://www.britishmuseum.org/images/070610_leadimage.jpg

Tanda-tanda Zaman (SdNMT 2)

Friday, December 10th, 2010

Sejak tiga bulan saya mengunjungi sekolah bahasa di London. Sekolah ini disubsidi pemerintah Inggeris dan ditujukan bagi mereka yang telah usia kerja. Di kelas saya ada orang dari berbagai bangsa: Spanyol, Italia, Somalia, Jepang, Iran, Bulgaria, Cina, dll. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang teman kursus dari China bernama Qi.

Kisahnya dimulai tadi pagi ketika saya membaca di Guardian, koran ternama Inggeris, satu kelompok di China, yang bekerja sama dengan Kementrian Kebudayaan, merencanakan penganugerahan “Confucius Peace Prize”, sebagai tandingan terhadap Hadiah Nobel. Menurut mereka, Norwegia hanyalah negara kecil dan Komite Hadiah Nobel pasti bias dan salah. China berpenduduk lebih 1 trilliun dan karena itu harus mendapat suara lebih dominan di dunia.

Saya yakin para pembaca tahu masalahnya. Tahun ini Komite Hadiah Nobel memilih Liu Xiaobo, yang lagi mendekam dalam penjara di China, menjadi pemenang hadiah nobel perdamaian tahun ini. Thorbjoern Jagland, Presiden Komite Hadiah Nobel mendasarkan keputusan Komite dengan mengatakan, “Kalau seorang dihukum penjara 11 tahun, hanya karena ia mengeluarkan pendapatnya, maka tak mungkin bagi Komite untuk tidak menganugerahkan Hadiah Nobel kepadanya.”

Hal ini membuat China murka dan langsung mengecam keputusan itu. Selain itu China juga “mengancam” negara-negara yang mengirim utusannya menghadiri penganugerahan Nobel tahun ini. Dan hari ini diberitakan China berhasil melobi 18 negara untuk tidak menghadiri penganugerahan hadiah tsb. di Oslo pada hari Jumat 10 Desember 2010.

Liu dipenjara karena ikut menulis dokumen yang disebut Charter 08, yang menyerukan reformasi demokrasi di China. Untuk itu dia dihukum 11 tahun penjara. Katakanlah Liu merupakan tokoh Petisi 50-nya China. Jadi Liu murni tahanan hati nurani (prisoner of conscience), bukan seorang pelaku kejahatan atau kekerasan.

Maka saya pun tergoda mengetahui pendapat Qi. “Hai Qi, apakah kamu merasa bangga akan Liu Xiaobo?”

Qi terdiam. Dan itu mengejutkan saya. “Siapa dia?” balasnya setelah beberapa detik. “Well, pemenang hadiah nobel perdamaian tahun ini,” terangku. Dan aku bisa membaca sesuatu yang kurang enak di wajah Qi. “Komite Hadiah Nobel itu hanya bertujuan mempermalukan negara China dan itu tidak baik,” ujarnya seolah menahan kejengkelan.

Saya pun tidak mau mendesaknya lebih lanjut, kendati beberapa pertanyaan muncul dalam benak saya. Tapi jujur saja, apakah China, negara yang sedang bangkit menjadi adi kuasa baru itu, tidak lebih malu memperlakukan warganya seperti Liu? Penjahat dan pelaku kekerasan patut dihukum, tetapi pantaskah seorang seperti Liu dkk., yang menyuarakan perlunya reformasi politik di China, dihukum penjara? China selalu mengatakan bahwa negara tirai bambu itu punya nilai-nilai nasional sendiri dan gaya hidup yang berbeda. Tetapi saya rasa orang China pun pasti punya rasa keadilan yang sama seperti kita, bahwa perlakuan terhadap Liu dkk. keterlaluan. Untuk melihat hal ini tak perlu kita mencari dukungan pendapat dari Orang Barat.

Tetapi setelah perbincangan sekilas dengan Qi, saya teringat akan bacaan-bacaan saya tentang sejarah masa lalu. Dan saya bertanya-tanya dalam hati, apakah reaksi China semacam itu merupakan tanda-tanda zaman?

Inisiatif China untuk menciptakan Hadiah Nobel tandingan mengingatkan kita pada apa yang dilakukan Hitler pada tahun 1937. Karena geram atas penganugerahan hadiah nobel kepada wartawan Jerman Carl von Ossietzky, yang sedang mendekam dalam penjara (jadi mirip nasib Liu Xiaobo), Hitler membentuk Hadiah Nasional untuk Seni dan Ilmu. Dan kita tahu gebrakan ini justru menandai permulaan kegagalan Hitler.

Demikian juga dengan negara adi daya masa lalu Uni Soviet. Keruntuhan negara komunis itu dimulai ketika pertumbuhan ekonomi negara itu lagi sedang mencapai puncaknya. Dan masa itu banyak orang yakin bahwa kemajuan ekonomi negara itu akan melampaui Eropa dalam hal ekonomi dan teknologi. Seandainya saja Uni Soviet mendengar Andrei Sakharov, pemenang hadiah Nobel saat itu, barangkali sejarah negara itu akan berbeda. Kita tahu apa yang terjadi, negara adi kuasa itu justru runtuh.

Apa yang terjadi dengan China sekarang? Apakah ada paralelitas sejarah antara Uni Soviet dan China? Apakah ada kemiripan antara Carl von Ossietzky, Andrei Sacharov dan Liu Xiaobao? Apakah sejarah akan berulang, kendati dalam bentuk lain? Apakah ini tanda-tanda zaman?

Catatan:
Siapa berminat silakan baca profil Liu Xiaobo di situs BBC:
http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-11492131

London, 8 Desember 2010

Sirus Laia

* SdNMT adalah singkatan dari Surat dari Negeri Matahari Terbenam.

(Foto:  Situs Nobel Prize: http://nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/2010/ – Redaksi)

Surat dari Negeri Matahari Terbenam (1)

Monday, December 6th, 2010

Salju dan Garam

Sejak beberapa bulan ini saya mengambil kursus bahasa di Inggeris. Inggeris adalah negara paling barat dari negara-negara yang dalam tulisan-tulisan zaman dulu sering disebut negeri matahari terbenam (the occident). Karena itu saya memilih judul tulisan ini Surat dari Negeri Matahari Terbenam (SdNMT).

Ada banyak yang bisa dikisahkan dari negeri matahari terbenam ini. Selain fenomena siang hari yang pendek dan malam yang lebih panjang pada musim dingin, ada banyak hal lain yang menarik untuk diamati, apalagi dengan memakai kacamata Indonesia. Saya mulai dengan surat pertama tentang salju dan garam.

Ketika menatap ke luar jendela pagi ini, saya merasakan sesuatu yang istimewa. Secepat gorden terbuka, mata saya disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Di mana-mana putih. Dedaunan dihinggapi salju bagaikan kapas yang sedang bertengger indah. Rerumputan “menghilang” ditutupi lapisan salju lembut. Permukaan tanah seolah “bersembunyi” di balik selimut salju empuk. Saya tertegun sejenak. Malam-malam ternyata Sang Kuasa telah menyelimuti bumi dengan selimut empuk berbahankan bebutiran salju. Ia bagaikan seorang ibu yang menatap sang bayinya di tengah malam dan mengecupnya sebelum menyelimutinya sambil mengucapkan doa.

Melihat pemandangan mencengangkan ini mereka yang dibesarkan di Barat pasti terpikir akan Hari Natal. Tapi karena ini masih awal Desember, sementara Hari Natal masih lebih tiga minggu lagi, dan justru karena itu, pemandangan ini menimbulkan kerinduan: kerinduan akan hari-hari penuh berkat, kerinduan akan pengalaman bersama keluarga di Hari Natal, kerinduan akan gemerincing lonceng dan dendang syahdu lagu-lagu Natal. Kendati dewasa ini derap komersialisasi pusat-pusat perbelanjaan semakin mencekik denyut Natal yang sebenarnya, arus bawah kerinduan itu masih terasa. Suasana indah ini yang dibungkus lembut oleh selimut salju membuat kerinduan akan kehadiran DIA yang dirayakan pada Hari Natal semakin terasa.

Dalam suasana seperti ini masa Adven atau masa penantian akan kedatangan Dia, yang akan hadir di Hari Natal, lebih berdaya. Mungkin sudah terlanjur, sebagai orang Indonesia kepekaan akan masa Adven hampir pupus, karena mereka-mereka yang sedemikian bersemangat menyambut Natal, sehingga tidak perlu lagi mempersiapkannya.

Yah, di Indonesia kita sudah terlanjur merayakan kehadiran-Nya (baca: Natal) sebelum kita menantikan kedatangan-Nya. Bagaikan seorang pengantin, yang tanpa persiapan menuju ke pesta pernikahan. Betapa malangnya sang pengantin: pesta belum direncanakan, perlengkapan belum dipersiapkan, baju dan gaun belum didisain, hidangan belum dimasak, hati belum siap, tiba-tiba sudah berada di tengah pesta instan. Dan kita tahu tanpa persiapan matang satu peristiwa besar dalam hidup akan merosot menjadi dangkal, tak meninggalkan kesan.

Tapi kita tinggalkan dulu kesan suasana yang ditimbulkan oleh sang salju. Ini adalah fakta fisika: Salju turun karena suhu udara merosot ke bawah nol. Itu berarti air akan menjadi beku. Maka embun yang seyogyanya hinggap di permukaan bumi malam-malam, malah membeku menjadi lapisan es yang tipis. Karena itu permukaan bumi menjadi satu lapisan licin yang berbahaya, yang bisa membuat manusia tergelincir atau kendaraan meluncur tak terkendali.

Untunglah pemerintah Inggeris merasa memiliki tanggungjawab menghindari bahaya kecelakaaan sedemikian. Diperkirakan kebutuhan garam yang akan ditebarkan di jalan-jalan tahun ini sebanyak 3,3 juta ton. Defisit kebutuhan garam telah diimport dari luar negeri. Pemerintah Inggeris rupanya tidak kalah cekatan dibanding pemerintah kita di Tanah Air, yang selalu tanggap akan bencana. Benar kan?

Ya, syukur ada pemerintah Inggeris. Karena garam itu saya merasa aman melangkah keluar rumah dan berjalan menuju stasiun kereta api hari ini. Betapa penting garam pada masa-masa seperti ini. Dan aku teringat akan kata-kata Sang Guru, “kamulah garam dunia”. Aha, seolah Ia berkata, jadilah seseorang yang mengupayakan supaya orang lain tidak jatuh dan terluka di jalan yang licin. Hadirlah di jalan-jalan dan upayakan, supaya setiap mereka yang melintas bisa aman tanpa cedera. Wow, betapa sederhananya kata-kata ini dan betapa ia menyentuh urat nadi keselamatan kita. Tentu saja saya harap, bukan hanya di jalan-jalan orang Inggeris, tetapi juga di jalan-jalan kita di Tanah Air. Hadirlah di jalan-jalan dan upayakan, supaya orang lain selamat sampai ke tujuan. Hadirlah supaya mereka yang sedang berkelana jangan sampai tersesat atau terjatuh. Jadilah garam dunia. Khususnya di masa-masa ini, ketika kita menantikan kedatangan Dia yang mengusahakan keselamatan kita yang sesungguhnya.

London, 1 Desember 2010

Sirus Laia

Terjemahan Bebas Pidato Presiden Obama di Kampus Universitas Indonesia

Monday, November 29th, 2010

Terima kasih. Terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih banyak semuanya. Selamat pagi. (Aplaus). Sangat mengesankan berada di sini di Universitas Indonesia. Kepada pihak fakutltas, staf dan mahasiswa, dan kepada Dr. Gumilar Rusliwa Somantri, terima kasih banyak atas keramahan Anda. (Aplaus).

Assalamualaikum dan salam sejahtera. Terima kasih atas sambutan yang mengesankan ini. Terima kasih kepada masyarakat Jakarta dan kepada masyarakat Indonesia.

Pulang kampung nih. (Aplaus). Saya sangat gembira bahwa saya bisa kembali ke Indonesia dan bahwa Michele bisa bersama saya. Kami dua kali mengalami penundaan kunjungan ke sini tahun ini, tetapi saya bertekad untuk mengunjungi sebuah negeri yang begitu berarti bagi saya. Dan sayangnya, kunjungan singat sekali, tetapi saya berharap akan kembali lagi setahun dari sekarang ketika Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Puncak Asia Timur. (Aplaus).

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin mengatakan bahwa pikiran dan doa kita menyertai orang-orang Indonesia yang menjadi korban tsunami dan letusan gunung berapi yang terjadi baru-baru ini – khususnya yang kehilangan orang-orang kesayangan mereka, dan yang terpaksa mengungsi. Dan saya ingin Anda semua mengetahui bahwa sebagaimana biasanya, Amerika dan Indonesia bahu membahu untuk menghadapi bencana alam, dan kami senang bisa membantu di mana diperlukan. Sebagaimana tetangga membantu tetangga dan keluarga-keluarga membuka pintu bagi yang kehilangan tempat tinggal, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan masyarakat Indonesia akan mampu membuat Anda keluar lagi dari bencana ini seperti sebelumnya.

Izinkan saya untuk memulai dengan sebuah pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. (Aplaus). Saya datang ke negeri ini pertama kali ketika ibu saya menikah dengan seorang warga Indonesia bernama Lolo Soetoro. Dan sebagai anak yang masih muda – sebagai seorang anak yang masih muda saya tiba di sebuah dunia yang berbeda. Akan tetapi masyarakat Indonesia secara cepat membuat saya betah tinggal di sini.

Jakarta – sekarang, Jakarta kelihatan sangat berbeda ketika itu. Ketika itu di kota ini berdiri bangunan-bangunan dengan jumlah lantai yang sedikit. Ini adalah masa tahun 1967, 1968 – kebanyakan dari Anda belum lagi lahir. (Tertawa). Hotel Indonesia adalah salah satu dari sejumlah bangunan tinggi ketika itu, dan hanya ada satu pusat perbelanjaan bernama Sarinah. It saja. Becak dan bemo, dengan kendaraan ini Anda ke mana-mana. Jumlah mereka lebih banyak dari mobil pada masa itu. Dan tidak ada jalan-jalan besar seperti sekarang. Kebanyakan adalah jalan-jalan tak beraspal dan menuju kampung-kampung.

Maka kami pindah le Menteng Dalam, di mana – (aplaus) – hey, beberapa teman dari Mentang Dalam di sini. (Aplaus). Dan kami tinggal si sebuah rumah kecil. Di depannya ada sebuah pohon mangga. Dan saya belajar mencintai Indonesia sambil bermain layang-layang sepanjang pematang sawah dan menangkap capung, beli sate dan baso dari pedagang kaki lima. (Aplaus). Saya masih ingat teriakan para pedagang sate. Sate ! (tertawa). Saya ingat itu. Baso ! (tertawa). Akan tetapi di atas semua itu, saya mengingat orang-orang tua, laki-laki dan perempuan yang menyambut kami dengan senyum mereka; anak-anak yang membuat seorang anak asing yang masih kecil merasa betah sebagai tetangga dan sebagai teman; dan guru-guru yang membantu saya mengenal negeri ini.

Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, dan ratusan bahasa, dan masyarakat dari berbagai daerah dan kelompok suku bangsa, waktu saya di sini menolong saya menghargai kemanusiaan yang universal dari semua bangsa. Dan walau ayah angkat saya, seperti kebanyakan orang Indonesia, dibesarkan sebagai seorang Muslim, ia percaya dengan sungguh-sungguh bahwa semua agama patut dihargai. Dan dengan cara ini – (aplaus) – dengan cara ini ia merefleksikan semangat toleransi beragama yang dilesatrikan dalam Undang-Undang Dasar negara Indonesia, dan ini merupakan salah satu karakteristik negeri ini yang menentukan dan mengilhami.

Saya tinggal di sini selama 4 tahun – kurun waktu yang ikut membentuk masa kanak-kanakku; kurun waktu ketika saudari saya, Maya, lahir; kurun waktu yang mengesankan ibuku sehingga ia terus kembali mengunjungi Indonesia hingga 20 tahun kemudian untuk tinggal, bekerja dan jalan-jalan – dan memenuhi keinginannya untuk membantu membuka kesempatan di desa-desa Indonesia, khususnya kesempatan untuk perempuan dan gadis-gadis Indonesia. Dan saya merasa sangat dihargai – (aplaus) – saya sangat dihargai ketika tadi malam Presiden Yudhoyono pada jamuan makan malam memberikan penghargaan atas nama ibu saya, sebagai penghargaan atas karya-karyanya. Dan tentulah ia akan sangat bangga, sebab Indonesia dan masyarakatnya sangat dekat di hati ibu saya sepanjang hidupnya. (Aplaus).

Sudah sangat banyak perubahan dalam 4 dekade sejak saya menumpangi sebuah pesawat untuk kembali ke Hawaii. Jika Anda bertanya kepada saya – atau bertanya kepada teman-teman kelas saya yang mengenal saya ketika itu – saya pikir tidak ada di antara kami yang memperkirakan bahwa suatu hari saya akan kembali ke Jakarta sebagai President Amerika (aplaus). Demikian juga akan sedikit yang akan mengantisipasi kisah-kisah Indonesia yang mengagumkan selama empat dekade terakhir ini.

Jakarta yang dulu kukenal kini telah menjadi sebuah kota padat berpenduduk hampir 10 juta orang, dengan gedung-gedung pencakar langit yang membuat Hotel Indonesia kelihatan begitu kecil, serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan yang berkembang subur. Bila dulu teman-teman (anak-anak Indonesia) dan saya biasanya berlari ke sawah-sawah dengan kerbau dan kambing-kambing – (aplaus) – sebuah generasi baru Indonesia merupakan salah satu kelompok yang paling terhubung secara digital di dunia – terhubungkan lewat telefon-telefon genggam dan jaring-jaring sosial dunia maya. Dan sementara Indonesia sebagai sebuah bangsa yang masih muda ketika itu lebih terfokus ke dalam dirinya, Indonesia kini menjadi sebuah negara yang memainkan peran kunci di Asia Pasifik dan dalam ekonomi global.

Sekarang, perubahan ini pun merembes ke politik. Ketika ayah tiri saya masih seorang remaja, ia menyaksikan ayah dan abangnya meninggalkan rumah untuk ikut bertempur dan tewas dalam usaha merebut kemerdekaan Indonesia. Dan saya gembira berada di sini pada Hari Pahlawan untuk menghormati kenangan dari begitu banyak orang Indonesia yang mengorbankan diri mereka atas nama bangsa besar ini. (aplaus)

Saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, suatu masa menyusul penderitaan besar dan konfliks di berbagai daerah di negeri ini. Dan meskipun ayah tiri saya bertugas di kemiliteran, kekerasan dan pembunuhan pada masa kekacauan politik itu umumnya tidak saya ketahui karena hal itu tidak diperbincangkan oleh keluarga dan teman-teman Indonesia saya. Dalam rumah saya, seperti di rumah-rumah lain di selurun Indonesia, kenangan-kenangan masa itu merupakan kehadiran yang didiamkan. Orang-orang Indonesia telah mendapatkan kemerdekaannya tetapi ketika itu terkadang mereka takut berterus-terang tentang berbagai hal.

Pada tahun-tahuns sesudah itu, Indonesia telah menentukan sendiri jalan yang harus ditempuhnya melalui transformasi demokrasi yang luar biasa – dari kekuasaan tangan besi ke kekuasaan rakyat. Pada tahun-tahun terakhir, dunia telah menyaksikan dengan harapan dan pujian proses transfer kekuasaan yang damai dan pemilihan langsung para pemimpin. Dan sama seperti demokrasi Anda dilambangkan oleh Presiden dan perwakilan rakyat terpilih, demokrasi Anda dihidupi terus dan dibentengi oleh batas-batas kekuasaan masing-masing institusi: suatu dinamika masyarakat sipil; partai-partai politik dan perkumpulan-perkumpulan, media yang hidup segar da warga yang aktif yang telah menjamin bahwa Indonesia tidak akan lagi berpaling dari demokrasi.

Dan meskipun negeri masa mudaku ini telah berubah dalam banyak hal, ada banyak hal yang membuat saya mencintai Indonesia – semangat toleransi yang ditulis dalam Undang-Undang Dasar Anda; dilambangkan dalam bentuk mesjid-mesjid, gereja-gereja dan candi-candi yang berdiri berdekatan; semangat yang terpatri dalam masyarakat Anda – yang masih tetap hidup. – (Aplaus) – Bhinneka Tunggal Ika – berbeda-beda tetapi tetap satu. Inilah landasan contoh Indonesia kepada dunia, and inilah alasan mengapa Indonesia akan memainkan peran penting dalam abad 21.

Nah hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat, tetapi juga sebagai seorang Presiden yang mencari kemitraan yang dalam dan permanen antara kedua negara kita. (aplaus). Karena sebagai negara-negara yang besar dengan keragamamannya, sebagai tetangga di belahan lain Pasifik, dan yang terutama sebagai dua negara demokrasi – Amerika dan Indonesia diiikat bersama oleh kepentingan dan nilai-nilai bersama.

Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya mengumumkan Kemitraan Komprehensif antara Amerika dan Indonesia. Kami meningkatkan hubungan antara kedua pemerintahan dalam banyak bidang yang berbeda, dan – sama pentingnya – kami sedang meningkatkan hubungan di antara kedua masyarakat kita. Ini adalah kemitraan yang sama atas dasar kepentingan bersama dan saling menghormati.

Dengan sisa waktu yang saya milii hari ini, saya ingin berbicara tentang mengapa kisah yang baru saja saya ceritakan – kisah tentang Indonesia sejak masa saya tinggal di sini – begitu penting kepada Amerika dan kepada dunia. Saya akan berfokus pada 3 bidang yang saling terkait, dan fundamental terhadap kemajuan manusia – pembangunan, demokrasi dan kepercayaan agama.

Pertama, persahabatan antara Amerika dan Indonesia bisa meningkatkan kepentingan bersama dalam pembangunan.

Ketika saya pindah ke Indonesia, sulit membayangkan kesejahteraan keluarga-keluarga di Chicago dan Jakarta akan terhubungkan. Akan tetapi ekonomi kita sekarang sudah mengglobal, dan Indonesia telah mengalami baik janji-janji maupun ancaman globalisasi: dari kejutan krisis keuangan Asia pada tahun 1990an, ke jutaan yang diangkat dari kemiskinan karena meningkatnya perdagangan dan bisnis. Apa maksudnya itu – dan apa hikmah yang kita ambil dari krisis ekonomi baru-baru ini – adalah kita memiliki andil dalam keberhasilan satu sama lain.

Amerika punya kepentingan dalam pertumbuhan dan pembangunan Indonesia, di mana kemakmuran dirasakan secara lebih merata di antara masyarakat Indonesia – karena kelas menengah yang makin bertambah di sini akan membuka peluang pasar bagi barang-barang kami, sama seperti Amerika merupakan pasar bagi barang-barang yang datang dari Indonesia. Maka kami akan berinvestasi lebih banyak lagi di Indonesia, dan ekspor kami telah bertumbuh lebih dari 50%, dan kami membuka pintu pada orang-orang Amerika dan Indonesia untuk saling berbisnis.

Amerika punya kepentingan terhadap Indonesia yang memaninkan perannya yang tepat untuk memberi bentuk kepada ekonomi dunia. Bukan masanya lagi di mana 7 atau 8 negara datang bersama untuk menentukan arah pasar global. Inilah alasan mengapa kini Kelompok 20 (G20) merupakan pusat kerjasama ekonomi internasional, sehingga ekonomi yang sedang berkembang pesat seperti Indonesia memiliki suara yang lebih besar dan juga mengemban tanggung jawab yang lebih besar untuk mengarahkan ekonomi dunia. Dan melalui kepemimpinannya atas Kelompok anti-korupsi Kelompok 20 (G20), Indonesia seharusnya menjadi contoh bagi dunia dalam hal transparansi dan akuntabilitas. (aplaus).

Amerika memiliki kepentingan akan Indonesia yang mengejar pemabngunan berkelanjutan, karena cara pertumbuhan akan menentukan kualitas kehidupan kita dan kesehatan planet bumi kita. Dan karena itulah mengapa kami mengembangkan teknologi-teknologi energi bersih yang bisa memutar rosa industri dan melestarikan sumber-sumber alam Indonesia yang sangat berharga – dan Amerika menyambut kepemimpinan negara Anda dalam usaha-usaha global untuk memerangi perubahan iklim.

Di atas itu, Amerika memiliki kepentingan akan keberhasilan masyarakat Indonesia. Di bawah berita-berita utama hari ini, kita harus membangun jembatan-jembatan di antara masyarakat kedua negara kita, karena kita memiliki keamanan dan kesejahteraan di masa depan yang sama. Dan itulah persis yang kita sedang lakukan – dengan meningkatkan kerjasama di antara ilmuwan dan peneliti, dan dengan bekerja bersama untuk menum buhkembangkan kewirausahaan. Dan secara khusus saya bergembira bahwa kami telah berkomitmen untuk menggandakan jumlah mahasiswa Amerika dan Indonesia yang belajar di masing-masing negara kita. (aplaus). Kami menginginkan lebih banyak pelajar Indonesia di sekolah-sekolah Amerika, dan kami menginginkan lebih banyak pelajar Amerika belajar di negeri ini. (aplaus) Kami ingin menumbuhkan hubungan-hubungan baru dan pemahamanan yang lebih besar di antara anak-anak muda pada abad muda ini.

Ini adalah isu-isu yang bersentuhan dengan keseharian kita. Pada akhirnya, pembangunan bukan hanya laju pertumbuhan dan angka-angka di kertas neraca. Pembangunan adalah menyangkut anak-anak yang bisa memperoleh ketrampilan untuk bisa hidup dalam dunia yang berubah. Pembangunan adalah berkaitan dengan ide-ide yang bagus yang bisa menjelma menjadi bisnis dan tidak dirusak oleh korupsi. Pembangunan adalah menyangkut apakah daya-daya yang telah mentransformasikan Jakarta yang pernah saya kenal – teknologi dan perdagangan dan arus manusia dan barang – bisa bermuara kepada penciptaan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia, bagi seluruh manusia, kehidupan yang ditandai oleh harkat dan kesempatan.

Sekarang, pembangunan dengan ciri-ciri seperti ini tidak dapat dipisahkan dari peran demokrasi.

Kini, kadang-kadang kita mendengar bahwa demokrasi menghalangi pertumbuhan ekonomi. Ini bukan argumen baru. Terutama dalam masa-masa perubahan dan ketidakpastian ekonomi, sebagian orang akan mengatakan akan lebih mudah mengambil jalan pintas pembangunan dengan mengorbankan hak-hak azasi manusia demi kekuasaan negara. Akan tetapi bukan seperti itu yang saya lihat dalam kunjungan saya di India, bukan seperti itu yang saya lihat di sini, di Indonesia. Prestasi-prestasi Indonesia menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling memperkuat satu sama lain.

Sama seperti negara-negara demokrasi yang lain, Anda telah mengenal berbagai kemunduran dalam perjalanan. Amerika juga demikian. Konstitusi kami berbicara tentang “persatuan yang lebih semurna”, dan itulah perjalanan yang telah kami jalani sejak itu. Kami telah melalui (dan bertahan selama) perang saudara dan kami telah berjuang untuk memperluas hak-hak yang sama untuk mencakup seluruh warga negara kami. Usaha inilah yang telah menjadikan kami lebih kuat dan lebih sejahtera, sambil menjadi masyarakat yang lebih adil dan lebih bebas.

Seperti negara-negara lain yang keluar dari kekuasaan kolonial pada abad lalu, Indonesia berjuang dan berkorban untuk merebut hak menentukan nasib sendiri. Itulah Hari Pahlawan – Indonesia yang menjadi milik bangsa Indonesia. Akan tetapi pada akhirnya Anda juga memutuskan bahwa kebebasan tidak boleh berarti menggantikan tangan besi penjajah dengan orang kuat dari bangsa sendiri.

Demokrasi tentu saja membingungkan. Tidak semua oran menginginkan hasil-hasil setiap pemilihan. Anda bisa jatuh bangun. Akan tetapi perjalan demokrasi perlu, dan tidak hanya terbatas pada pemberian suara. Diperlukan institusi-institusi untuk membatasi/mengendalikan kekuasaaan – yakni pemusatan kekuasaan. Pasar terbuka diperlukan untuk memberikan kemakmuran bagi individu. Pers bebas dan sistem pengadilan bebas diperlukan untuk mengeliminasi penyalahgunaan dan ekses, dan untuk tetap mempertahankan akuntabilitas. Diperlukan masyarakat terbuka dan warga yang aktif untuk menolak diskriminasi dan ketidakadilan.

Inilah kekuatan-kekuatan yang akan mendorong Indonesia ke depan. Toleransi terhadap korupsi yang menghambat kesempatan harus ditolak; harus ada komitmen terhadap transparansi yang memberikan setiap warga andil dalam pemerintahan, serta keyakinan bahwa kebebasan dari tiap-tiap warga Indonesia – yang diperjuangkan oleh orang-orang Indonesia – adalah yang mengikat bangsa besar ini.

Itulah pesan dari orang-orang Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis ini – dari para pejuang dalam Pertempuran Surabaya 55 tahun lalu, ke para mahasiswa yang turun ke jalan secara damai pada tahun 1990an, ke para pemimpin yang telah memilih jalan transisi kekuasaan secara damai pada abad yang masih muda ini. Sebab, pada akhirnya, adalah hak-hak dari warga negara yang akan merajut Nusantara yang luar biasa ini yang terbentang dari Sabang sampai Merauke – suatu tekad – aplaus – suatu tekad agar setiap bayi yang lahir di negeri ini akan diperlakukan secara sama, apakah yang datang dari Jawa atau Aceh, dari Bali atau Papua. (aplaus). Bahwa semua orang Indonesia memiliki hak-hak yang sama.

Usaha ini meluas ke contoh yang diperlihatkan Indonesia di pentas dunia. Indonesia mengambil inisiatif membentuk Forum Demokrasi Bali, sebuah forum terbuka untuk berbagai negara untuk berbagi kisah pengalaman dan praktek-praktek terbaik untuk menumbuh-kembangkan demokrasi. Indonesia juga berada di depan dalam upaya memberikan perhatian lebih kepada hak-hak azasi manusia di ASEAN. Bangsa-bangsa Asia Tenggara haruslah memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri, dan Amerika Serikat akan mendukung hak itu secara kuat. Akan tetapi masyarakat Asia Tenggara juga harus memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri. Dan karena itulah kami mengutuk pemilihan-pemilihan yang berlangsung di Burma barusan ini, yang tidak bebas dan tidak adil. Karena itulah kami mendukung masyarakat sipil Anda dalam bekerjasama dengan mitra-mitranya di kawasan ini. Karena tidak ada alasan mengapa penghormatan terhadap hak azasi manusia harus berhenti pada batas negara.

Secara bersama-sama, itulah makna dari pembangunan dan demokrasi – sebuah ide bahwa nilai-nilai tertentu adalah universal. Kesejahteraan tanpa kebebasan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Karena ada aspirasi yang dimiliki bersama oleh setiap manusia – kebebasan untuk mengetahui bahwa pemimpin Anda dapat diminta pertanggungjawabannya tanpa harus dipenjarakan karena berbeda pendapat dengan mereka; kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan bekerja dengan penuh harkat; kebebasan untuk menjalankan keyakinan Anda tanpa rasa takut dan pembatasan. Iu semua adalah nilai-nilai universal yang harus berlaku di mana saja.

Sekarang, agama merupakan topik terakhir yang ingin saya singgung hari ini, Dan – seperti demokrasi dan pembangunan – merupakan bagian fundamental dari kisah Indonesia.

Seperti bangsa-bangsa Asian lain yang saya kunjungi selama kunjungan ini, Indonesia menanjak dalam spiritualitas – tempat di mana orang menyembah Allah dengan cara berbeda. Bersama dengan keberagaman ini, Indonesia juga merupakan negara dengan masyarakat Muslim terbesar – sebuah kebenaran yang saya tahu sebagai seorang anak remaja ketika saya mendengar panggilan untuk bersembahyang di seluruh Jakarta.

Seperti halnya seseorang tidak hanya dicirikan oleh kepercayaannya, demikian juga Indonesia tidak hanya dicirikan oleh penduduk Muslimnya. Akan tetapi kita juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam kurang begitu bersahabat selama bertahun-tahun. Sebagai Presiden, salah satu prioritas saya adalah memperbaiki hubungan ini. (aplaus). Sebagai bagian dari upaya ini, saya pergi ke Kairo bulan Juni yang lalu, dan saya menghimbau awal baru antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam di seluruh dunia – suatu hal yang akan menciptakan sebuah jalur bagi kita untuk melangkah maju terlepas dari perbedaan-perbedaan di antara kita.

Ketika itu saya mengatakan, dan saya mengulangi lagi sekarang, bahwa tidak ada sebuah pidato tunggal yang dapat menghilangkan rasa saling tidak percaya. Akan tetapi saya percaya waktu itu, dan juga sekarang, bahwa kita memiliki sebuah pilihan. Kita bisa memilih untuk dicirikan oleh perbedaan-perbedaan kita, dan menyerah pada kecurigaan dan ketidak-saling-percayaan. Atau kita bisa memilih bekerja keras untuk meletakkan pijakan bersama dan berkomitmen untuk secara terus menerus mencapai kemajuan. Dan saya bisa menjanjikan kepada Anda – terlepas dari berbagai halangan – Amerika Serikat memiliki komitmen untuk kemajuan manusia. Itulah kami. Itulah yang telah kami buat. Dan itu yang akan kami lakukan. (aplaus).

Sekarang, kita tahu betul berbagai masalah yang telah menimbulkan ketegangan selama bertahun-tahun – masalah-masalah yang saya singgung di Kairo. Dalam kurun waktu 17 bulan sejak pidato itu, kami telah menghasilkan sejumlah kemajuan, tetapi masih banyak yang perlu kami lakukan.

Rakyat tak berdosa di Amerika dan Indonesia dan di seluruh dunia masih menjadi sasaran ekstirmisme yang brutal. Saya menegaskan bahwa Amerika tidak sedang dan tidak akan berperang melawan Islam. Alih-alih, kita semua harus bekerjasama untuk mengalahkan al Qaeda dan para pengikutnya, yang tidak bisa mengklaim diri sebagai pemimpin agama mana pun – dan tentu saja bukan pemimpin sebuah agama besar dunia seperti Islam. Akan tetapi semua yang ingin membangun tidak boleh memberi ruang kepada para teroris yang ingin menghancurkan. Dan ini bukanlah hanya tugas Amerika saja. Sesungguhnya di sini di Indonesia Anda telah mencapai berbagai kemajuan dalam usaha menumpas para ektrimis dan memerangi kekerasan yang mereka buat.

Di Afghanistan, kami terus bekerjasama dengan koalisi bangsa-bangsa untuk membangun kemampuan pemerintah Afghanistan untuk menjamin masa depannya. Kepentingan kita bersama adalah menghasilkan perdamaian di negeri yang dicabik-cabik perang – sebuah perdamaian yang tidak memberi tempat yang aman bagi para ekstrimis yang kejam, dan yang akan memberikan harapan bagi rakyat Afghanistan.

Sementara itu, kami juga telah membuat kemajuan pada salah satu dari komitmen utama kami – yakni usaha kami untuk mengakhiri perang di Irak. Selama masa kepresidenan saya hampir 100,000 tentara Amerika telah meninggalkan Irak. (Aplaus). Rakyat Iraki telah mengambilalih tanggunjawab bagi keamanan negaranya. Dan kami akan terus mendukung Irak dalam usahanya membentuk suatu pemerintahan yang inklusif, dan kami akan menarik pulang seluruh tentara kami.

Di Timur Tengah, kami telah berhadapan dengan langkah-langkah awal yang kurang berhasil, akan tetapi kami terus bertekad untuk menghasilkan perdamaian. Israel dan Palestina telah memulai kembali perundingan-perundingan langsung, akan tetapi hambatan-hambatan besar masih ada. Jangan ada ilusi bahwa perdamaian dan keamanan akan mudah dicapai. Akan tetapi ini harus diyakini: Amerika akan berusaha keras untuk menelorkan hasil yang adil, yang merupakan kepentingan semua pihak yang terlibat – dua negara, Israel dan Palestina, yang hidup bertetangga secara damai dan aman. Itulah tujuan kami. (Aplaus).

Untuk mengatasi semua masalah ini kita dihadapkan pada berbagai resiko. Dunia kita semakin kecil, dan sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan kita telah memberikan kesempatan dan kekayaan yang besar, kekuatan-kekuatan itu juga telah memberdayakan pihak-pihak yang ingin menghalangi kemajuan. Sebuah bom di sebuah pasar dapat menghancurkan aktivitas komersial harian. Sebuah rumor yang dibisikkan dapat mengaburkan kebenaran dan mengakibatkan kekerasan antar masyarakat yang dulunya hidup berdampingan secara damai. Di zaman perubahan yang cepat dan perbenturan budaya ini, apa yang kita miliki bersama sebagai sesama manusia kadang-kadang hilang.

Akan tetapi saya percaya bahwa sejarah Amerika dan Indonesia seharusnya memberikan kita harapan. Sebuah kisah yang ditorehkan dalam motto kedua bangsa kita. Di Amerika, motto kami adalah: E pluribus unum – dari banyak, menjadi satu (catatan penerjemah: pengertian E pluribus unum dari Wikipedia: dari berbagai masyarakat, ras, agama dan asal-usul muncullah sebuah masyarakat dan bangsa yang satu -). Bhinneka Tunggal Ika – berbeda-beda tetapi satu. (Aplaus). Kita adalah dua bangsa yang telah menjalani jalan yang berbeda. Namun kedua bangsa kita menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki keyakinan yang berbeda dapat dipersatukan dalam sebuah kebebasan di bawah satu bendera. Dan kini kita sedang membangun di atas kemanusiaan bersama itu – melalui anak-anak muda kami yang akan belajar di sekolah-sekolah Anda dan sebaliknya; melalui para wirausahawan yang akan saling merajut hubungan yang bisa menghasilkan kesejahteraan yang lebih besar; dan melalui nilai-nilai demokratis mendasar dan aspirasi-aspirasi kemanusiaan yang kita anut bersama.

Sebelum tiba di tempat ini, saya mengunjungi mesjid Istiqlal – sebuah tempat peribadatan yang masih sedang dibangun ketika saya masih tinggal di Jakarta. Dan saya mengagumi fitur arsitektural khas Islam yang dimilikinya dan kubahnya yang sangat indah mengesankan serta ruang tamunya. Akan tetapi nama dan sejarahnya juga berbicara tentang keagungan Indonesia. Istiqlal berarti kemerdekaan, dan pembangunannya merupakan bukti perjuangan bangsa ini untuk menggapai kebebasan. Lebih jauh, rumah peribadatan untuk ribuan umat Muslim ini dirancang oleh seorang arsitek Kristen. (Aplaus).

Begitulah semangat Indonesia. Begitulah pesan dari filsafat inklusif Indonesia, Pancasila. (Aplaus). Di seluruh kepulauan tempat berdiamnya makluk-makhluk Tuhan yang sangat indah, pulau-pulau yang muncul di atas samudera yang diberi nama untuk perdamaian, masyarakat memilih menyembah Tuhannya dengan bebas. Islam berkembang, demikian juga kepercayaan-kepercayaan lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasi yang mulai berkembang. Tradisi-tradisi purba bertahan di tengah usaha bangsa ini menjadi bangsa yang makin kuat.

Itu tidak bararti bahwa Indonesia tanpa cacat. Tidak ada satu pun negara tanpa cacat. Akan tetapi di sini kita bisa menemukan kemampuan untuk menjembatani perbedaan dan keragaman ras, kedaerahan dan agama – melalui kemampuan melihat diri sendiri di dalam diri orang lain. Sebagai anak dari orang tua yang berbeda ras yang datang ke sini dari sebuah negeri yang jauh, saya menemukan semangat ini dalam sapaan yang saya terima ketika pindah ke sini: Selamat Datang. Sebagai seorang Kristen yang mengunjungi sebuah mesjid dalam kunjungan ini, saya menemukannya dalam kata-kata seorang pemimpin yang ditanya tentang kunjungan saya dan berkata: “Umat muslim diizinkan masuk dalam gereja-gereja. Kita semua pengikut Allah.”

Percikan keilahian hidup di dalam kita. Kita tidak boleh menyerah pada kesangsian, sinisisme atau keputusasaan. Kisah-kisah Indonesia dan Amerika seharusnya membuat kita optimisktik, karena ia menceritakan kepada kita bahwa sejarah berada pada pihak kemajuan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; dan bahwa masyarakat dunia ini bisa hidup bersama dalam kedamaian. Semoga kedua bangsa kita, dengan bekerja sama, dengan keyakinan dan tekad, berbagi kebenaran ini dengan semua bangsa manusia.

Sebagai penutup, saya mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia: terima kasih. Terima kasih. Assalamualaikum. Terima kasih.

Catatan Redaksi: Terjemahan bebas ini diushakan oleh E. Halawa. Masukan pembaca dapat dikirim ke Redaksi Nias Online: ni*********@***il.com. Terjemahan bebas ini bisa ditayangkan di blog / situs lain asal menyebut (atau memberikan tautan pada) sumbernya: niasonline.net.

TOKOH PERGERAKAN – IJ Kasimo dan Politik Bermartabat

Saturday, October 9th, 2010

Oleh ST SULARTO

Nama Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986) tidak setenar nama-nama tokoh pergerakan kemerdekaan lainnya. Namun, ketika praksis berpolitik belakangan ini cenderung menjadi komoditas dan tempat mencari kedudukan, sosok Kasimo menjadi referensi aktual. (more…)