Archive for the ‘Refleksi’ Category

Mengenang Bawa Lofo (Musim Kelaparan) 1966 di (sebagian) daerah Nias

Saturday, April 25th, 2020

Sehubungan dengan peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tentang ancaman terhadap pasokan pangan dunia akibat krisis Covid-19, maka berikut ini saya coba menuliskan pengalaman saya waktu kecil, tentang musim kelaparan 1966 di Nias, pengalaman yang masih saya ingat secara garis besar walau tak mampu lagi mengingat detail.

Tujuannya adalah sebagai bahan permenungan, untuk mempertimbangkan berbagai hal selagi kita dalam masa penantian menunggu berakhirnya krisis Covid-19.

Harus diingat bahwa teknologi pertanian (dan bidang-bidang lain) pada zaman sekarang jauh lebih maju ketimbang teknologi pada dekade 1960an.

Akan tetapi kenyataan paradoks di mana di zaman teknologi yang sudah semaju ini masih saja kita dibuat panik oleh virus berukuran skala nanometer, memaksa kita untuk berpikir hal yang sederhana: pemenuhan kebutuhan pangan.

***
Sebagian daerah di Kepulauan Nias pernah mengalami masa kelaparan hebat (hampir mendekati status starvasi) di tahun 1966 di masa-masa yang serba tak menentu pasca peristiwa G30S/PKI.

Pada masa itu masyarakat Nias hanya mengandalkan ubi kayu, umbi-umbian hutan, ladara (ini biasanya untuk konsumsi babi), pucuk laehuwa (semacam pakis), dan bahkan bagian dalam batang pisang yang masih muda (howu gae) … sebagai makanan sehari-hari. Dan itu berlangsung selama beberapa minggu (saya tak ingat lagi durasi persisnya).

Penyebab utama: suplai beras dari luar (lewat Sibolga) terhenti, juga konon ada pengusaha yang menahan berton-ton beras di Gunungsitoli (dan konon … sebagian gudang itu akhirnya terbakar). Pada masa itu masih belum ada Bulog.

Di pihak lain, sawah dan ladang masyarakat tidak menghasilkan apa-apa, hama tanaman tak terbendung, kesuburan tanah tak ada lagi (pupuk belum ada pada masa itu). Ditambah lagi kenyataan, seperti sekarang, masyarakat lebih mengandalkan penghasilan dari menyadap pohon karet (havea). Saya teringat mainan utama anak-anak kecil hingga remaja pada waktu itu adalah: fabuahavea (permainan dengan menggunakan buah pohon havea).

Saya ingat persis juga, beberapa bulan sebelum minggu-minggu kelaparan itu, hasil panen ubi kayu di belakang gedung SD Negeri Botomuzöi (Kecamatan Botomuzöi) yang disediakan untuk guru-guru sebagai penyemangat agar mereka betah tinggal, sangat luar biasa.

Setelah panen itu, saya tak pernah lagi menyaksikan ukuran ubi kayu raksasa: izagai faha (sebesar paha), ada yang sampai semeter panjangnya.

Hasil panen itu dikumpulkan dan dibawa oleh murid-murid SD dengan daga (bakul dari rotan atau bambu) ke lapangan harimbale (pasar mingguan) Muzöi dan dijual di sana.

Konon ubi kayu ini menguras kesuburan tanah (saya tak bisa berkomentar banyak di bidang ini, bukan keahlian saya).

Tambahan lagi, jenis bibit padi yang
ada di Nias pada masa itu adalah padi lokal yang berumur 6 bulan. Ada satu nama yang samar-samar saya ingat: sirögi. Memang enak, rasanya manis, tanpa lauk pun kita bisa mudah menelannya. Tetapi ya itu … 6 bulan baru bisa dipanen.

Padi PB8 (yang berumur 3 bulan) baru dikenal di Nias kalau tak salah tahun 1968, bersamaan dengan diperkenalkannya cairan kimia pembasmi hama yang belakangan justru ditarik dari peredaran karena sangat toksik.

Saya pernah merasakan ‘enaknya’ makanan dari berbagai macam ramuan hutan yang pelezat utamanya adalah … garam!

Di masa itu, hutan-hutan menjadi lebih ‘terang’ karena orang-orang beramai-ramai mencari-cari daun-daun muda dan umbi-umbian apa pun yang bisa dimakan. Bekas-bekas injakan kaki orang membuat suasana hutan lebih ‘bersahabat’, rumput-rumput rata dengan tanah, hanya pohon-pohon besar yang menghalangi pemandangan kita melihat apa saja di sekeliling kita.

Di sejumlah desa ada banyak keluarga yang meninggal secara tragis karena memakan jamur beracun.

Lebih menyayat lagi, ada terdengar masyarakat di sejumlah desa – ketika memotong ayam, hanya membersihkan bulunya, tetapi tulang-tulangnya diremuk di lesung (latutu ba lösu) untuk dikonsumsi.

Di masa itu, ibu-ibu tidak lagi ke ladang, sawah atau kebun. Ya karena tidak ada lagi yang diharapkan dari ladang, sawah, atau kebun. Yang pergi ke hutan (istilah Nias: milo) adalah orang-orang tua atau para pemuda yang masih kuat bepergian jauh sampai seharian untuk mencari apa saja yang bisa dibawa ke rumah untuk bisa dinikmati oleh keluarga.

Kekosongan perut ternyata sangat menyiksa. Sakitnya luar biasa. Salah satu teknik untuk mengurangi kenyerian adalah mengikat perut dengan pengikat dari kain.

Di daerah-daerah lain di luar Nias tentu saja ada kisah yang mirip.

Bangsa-bangsa lain juga mengalami masa kelam di berbagai zaman.

Intinya adalah: sejarah mengingatkan kita akan masa-masa kelam di masa lalu, yang wajar kita jadikan sebagai bahan pelajaran untuk kebaikan di masa kini dan masa depan.

(E. Halawa – disiapkan 16 April 2020, dimuat di Nias Online 25 April 2020)

Umat Kristen Merayakan Paskah 2020 di Rumah

Monday, April 13th, 2020
Suasana Perayaan Paskah di Basilika St Petrus, Vatikan

Krisis Covid-19 tidak menghalangi umat kristiani dari berbagai belahan dunia merayakan rentetan hari-hari suci yang dimulai dari Hari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Sabtu dan Minggu Paskah.

Walau kehadiran fisik di gereja-gereja tidak dimungkinkan karena aturan jaga jarak (social distancing) yang diberlakukan di hampir semua negara, umat kristiani bisa mengikuti perayaan hari-hari suci itu lewat pengaliran langsung (live streaming) dari saluran-saluran yang disediakan masing-masing Gereja atau pun siaran langsung yang difasilitasi oleh sejumlah pemancar televisi.

Di dalam Basilika St Petrus Vatikan yang kelihatan sepi, Paus Fransiskus memimpin perayaan Misa Paskah didampingi oleh para imam dan petugas perayaan.

“Kristus, harapanku, telah bangkit”, Paus memproklamirkan. Paus mengatakan, pesan ini merupakan bentuk penularan yang lain, yaitu “penularan dari hati ke hati”.

Kabar Gembira ibarat nyala api baru yang menyala di tengah malam di bumi yang sedang dahadapkan pada berbagai tantangan yang sangat serius, dan kini sedang dicobai oleh pandemi yang sungguh-sungguh menguji keluarga manusia secara keseluruhan.

Kardinal Ignasius Suharyo – Uskup Agung Jakarta – dalam homili Paskahnya di Gereja Katedral Jakarta menyatakan bahwa wabah Covid-19 merupakan dampak dari dosa ekologis manusia.

Kardinal Suharyo menyitir salah satu “pendapat yang menarik … disampaikan dengan sangat hati-hati, masuk akal, akal budi kita, tetapi juga akal iman kita.”

Bisa jadi wabah adalah reaksi natural atas kesalahan manusia secara kolektif terhadap alam. Dalam bahasa iman wabah antara lain disebabkan antara lain oleh dosa ekologis.”, lanjut Kardinal Suharyo.

Di Sydney, Uskup Agung Sydney Anthony Fisher dalam homilinya yang dialirkan langsung dari St Mary’s Cathedral memberikan refleksi historis tentang wabah.

Wabah dahsyat, ungkap Uskup Agung Anthony, pernah melanda kekaisaran Roma pada abad ke 3 Masehi. Wabah cacar atau Ebola yang berawal dari Etiopia itu menjalar cepat dan menulari Yunani dan seluruh kekaisaran Roma.

“Konsentrasi besar manusia di kota-kota, jalan-jalan yang berkualitas baik dan rute-rute perdagangan besar yang merupakan kekuatan kekaisaran Roma ternyata menjadi penyebab wabah menular secara efektif. Pada puncaknya, wabah ini menelan korban 5,000 orang per hari di Roma dan orang-orang sakit dan mayat-mayat korban wabah ditinggalkan begitu saja di jalan-jalan. Dengan korban hingga sebanyak satu juta orang, angkatan bersenjata, pemerintahan dan ekonomi Roma hancur lebur. Ada kalangan yang menuduh orang-orang Kristen sebagaimana mereka lakukan setiap kali muncul masalah sosial. Namun, orang-orang Kristen membedakan mereka dari yang lain; ketika para pembesar dan kalangan lain meninggalkan kota, orang-orang Kristen tetap bertahan untuk memberi makan dan merawat para penderita wabah. Orang-orang Krsiten menyelamatkan ribuan orang; di kota-kota di mana orang Kristen berjumlah cukup banyak, laju kematian berkurang setengahnya. Karya belaskasih orang-orang Kristen ini mengesankan banyak orang kafir di Roma dan menyebabkan mereka menjadi Kristen.”

Uskup Agung Anthony mengingatkan bahwa perawatan kesehatan yang bisa menyembuhkan penyakit tubuh, hanya mampu menunda kematian kita.

“Kita diajak berenung: adakah kehidupan setelah kematian? Lantas, ada kondisi-kondisi moral, intelektual dan emosional yang justru sering lebih tak mampu dicegah dan disembuhkan daripada kondisi-kondisi kesehatan fisik.”

Sementara itu Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) lewat Sekretaris Umumnya, Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty, menegaskan bahwa para penderita Covid-19 tidak boleh distigmatisasi dan diskriminasi. PGI juga berharap pandemi Covid-19 tidak boleh menjadi epidemi keputusasaan. (brk/*)

Partai Anak Tangga Kesempatan vs Partai Pengulur Tali

Monday, April 13th, 2020

E. Halawa*


[Partai Anak Tangga Kesempatan: Kami memberimu anak-anak tangga sehingga engkau bisa sampai ke atas. Terserah engkau, secepat apa engkau sampai.

Partai Pengulur Tali: Ini tali, peganglah erat-erat, kami akan menarikmu ke atas. …. ]


Cirrocumulus

Tanggal 18 Mei 2019 terjadi kejutan besar dalam Pemilihan Umum di Australia: Partai Koalisi Liberal dan Nasional – partai petahana – menang telak atas Partai Buruh Australia (ALP)

Kejutan besar karena hingga minggu terakhir menjelang hari H, jajak pendapat selalu mengunggulkan Partai Buruh. Jajak pendapat ini sudah berbulan-bulan berlangsung dan Partai Koalisi tak pernah berada pada posisi menang.

(Catatan: Saking yakinnya para komentator politik pada keakuratan jajak pendapat ini, ada beberapa dari mereka yang telah menyiapkan manuskrip buku yang membedah alasan-alasan kekalahan telak Partai Koalisi dan kemenangan Partai Buruh. Karena kenyatannya pada hari H hasilnya lain, manuskrip buku-buku itu akhirnya tidak pernah masuk ke ruang percetakan.

Hasil pemilu Australia, tidak seperti di tanah air, cepat diketahui, tidak menunggu berminggu-minggu. Tentu ini karena sistem yang lebih maju. Begitu pemimpin Partai Buruh mengetahui partainya tidak mampu meraih suara mayoritas, ia langsung menelpon Perdana Menteri Scott Morrison, petahana, untuk mengucapkan selamat akan kemenangannya. Ia tidak menunggu sampai seluruh suara dihitung.)


Apa yang terjadi dalam pemilu Australia ini seperti mengulang kenyataan pada pemilihan presiden Amerika pada tahun 2016, yang menghantarkan Trump kepada kemenangan.

Tentu saja ada riak-riaknya: Trump dituduh menang karena intervensi Rusia, dan … dalam skala kecil … Partai Koalisi di Australia dituding melakukan praktek-praktek curang. Namun dalam kedua kasus, tak ada yang menjurus kepada demo besar-besaran untuk memohon pembatalan keputusan komisi pemilihan, apalagi meminta Yang Mahakuasa untuk menurunkan kutukan bagi yang curang. Protes massa Demokrat di depan Gedung Putih berlangsung, tapi bukan untuk mendemo kecurangan pemilu, melainkan mengungkapan ketidaksenangan mereka pada sosok Trump yang menurut mereka fasis, rasis, dst.


Mengapa bisa terjadi kejutan semacam ini?

Banyak ahli memberikan penjelasan, tetapi dalam tulisan ini saya memilih menampilkan hasil pengamatan langsung Scott Morrison, Perdana Menteri Australia, yang partainya – Partai Koalisi – diprediksi akan kalah telak itu.

Ia mengungkapkan itu dalam sebuah wawancara beberapa hari setelah pemilu usai.

Singkat kata: ia telah menangkap suasana hati (mood) dan kegelisahan dari para calon pemilih yang dia jumpai saat ia kampanye di berbagai tempat, kelompok yang dia sebut “the quiet Australians” – calon pemilih Australia yang ‘diam’, yang tak mudah bereaksi dengan mengungkapkan pendapat di medsos. Mereka adalah yang kuatir tentang berbagai ketidakpastian tentang dampak hasil pemilu. Mereka adalah para buruh tambang yang takut kehilangan pekerjaan, para pembersih gedung-gedung yang hak-haknya sering bertabrakan dengan keinginan majikannya, para pensiunan yang kuatir akan dampak kebijakan pemerintahan baru hasil pemilu. Para petani yang sering menjadi korban kekeringan.

Dalam observasi ScoMo (nama akrab Scott Morrison, seorang anggota Gereja Pantekosta Australia), suara mereka ini tak muncul dalam jajak-jajak pendapat, tetapi jumlah mereka sangat banyak, dan hasil pemilu bisa sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka.

Maka ScoMo (dibantu oleh Tim Sukses yang sangat profesional) bergerak dengan cara pertempuran jarak dekat: timsesnya mengorganisir pertemuan tatap muka dengan calon kelompok para pemilih di berbagai tempat. Kelompok ini tidak besar, antara 25-50 orang. Polanya sama, ia menyapa mereka, memberikan sambutan singkat lalu tanya jawab formal, dan pembicaraan dari hati ke hati.

  • Bagaimana nanti upah minimum?
  • Apakah Koalisi akan menaikkan pajak?
  • Bagaimana nanti nasib kami kalau tambang ditutup demi menyelamatkan lingkungan?
  • Apakah usia pensiun dinaikkan?
  • Bagaimana dengan uang pensiun, apakah pajaknya akan dinaikkan?
  • Apa kebijaksanaan partai menyangkut aset-aset kami?
  • Apakah kami masih berperan besar dalam pendidikan anak-anak kami ? (Ini isu inklusivisme sosial yang akan dibahas pada kesempatan lain)

ScoMo langsung merasakan betapa para calon pemilih warga Australia yang diam itu, sungguh-sungguh memilih karena ingin terlibat langsung menentukan masa depan mereka lewat partai dan pemimpin partai yang mereka anggap bisa melindungi kehidupan mereka.

ScoMo juga mencium kegelisahan yang diembuskan oleh pemimpin oposisi Bill Shorten tentang usaha-usaha penyelamatan lingkungan dan isu pemanasan global yang hingga hari H tak pernah diestimasi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu.

Maka, dalam sehari ScoMo dan timnya menyebar ke berbagai pelosok untuk menemui kelompok-kelompok kecil ini, menjawab berbagai pertanyaan mereka, dan meyakinkan para calon pemilih bahwa dalam situasi perekonomian nasional dan internasional saat ini, mengganti pemerintah kurang bijak.

Persuasi ScoMo dan timnya masuk akal para pemilih yang diam ini. Keputusan para pemilih diam ini semakin diperkuat dengan sikap Partai Buruh dan Partai Hijau yang dianggap arogan. Dalam suatu kesempatan, tokoh Partai Buruh bahkan meminta para pemilih yang tidak setuju dengan program partainya untuk memilih Koalisi. Sikap ini dianggap sebagai sikap arogan oleh sebagian pemilih.


Efektifkah kampanye jarak dekat yang melibatkan hanya sekitar 25 – 50 orang? Tentu saja. Selain dari mulut ke mulut lewat obrolan antar tetangga atau ketika berkumpul di warung kopi, pesan-pesan ScoMo dan timnya yang simpatik ini disebarkan secara digital oleh para pendengarnya lewat berbagai jaringan medsos.


Selama ini sudah menjadi tradisi Partai Demokrat di AS dan Partai Buruh di Australia dianggap partai rakyat kecil, partai pembela kepentingan mereka: para imigran, buruh, warga kulit hitam (di AS) dan warga Aborigin (di Australia). Partai Demokrat (AS) dan Partai Buruh (Australia) selalu mengambil tema-tema keadilan bagi para kaum tertindas sebagai tema utama kampanye mereka. Tidak jarang dalam mempopulerkan tema-tema itu, para pimpinan dari kedua Partai berhaluan kiri ini mengambil sikap yang lama kelamaan dirasakan – bahkan oleh kaum yang mereka ingin bela itu – sebagai sikap atau pandangan yang kurang bijak.

Sikap yang dimaksud adalah sikap ekstrimis yang selalu membagi masyarakat atas dua kelompok: kelompok penindas – kaum pemilik modal – dan kaum tertindas, rakyat kecil tapi. Dalam konteks sosial lain, gerakan feminisme: yang menganggap laki-laki penindas kaum wanita (tentu sebagian ada benarnya) dan karenanya perempuan harus dibebaskan dari situasi itu. Dalam praktek ekstrimnya, banyak perempuan yang tidak mau menikah karena pernikahan dianggap sebagai penindasan. Singkatnya: tak ada kompromi.

Sikap yang diilhami oleh ideologi Marxisme ini memiliki pesan inti: kedua kelompok itu tak bisa diperdamaikan, yang tertindas harus melawan dan bahkan menghancurkan penindas.

Dalam prakteknya, ideologi Marxisme yang gagal di sejumlah negara ini dicoba dimodifikasi dan kini menjadi platform utama kaum kiri di berbagai negara demokrasi di Barat. Sebenarnya terlihat langsung kontradiksi di sini, karena sikap ideologi kiri yang biasanya anti kompromi diperkenalkan dalam alam demokrasi yang dibangun atas semangat persuasi dan kompromi kritis.


Dalam pengamatan Dinesh D’Souza, seorang pemikir konservatif Amerika imigran asal India, ideologi Marxis yang mengalami semacam penyesuaian itu menjelma dalam platform Partai Demokrat. Menurut D’Souza, Partai Demokrat – terutama akhir-akhir ini – telah menjadi Partai pengulur tali kepada rakyat Amerika. Mereka menarik rakyat kecil kepada Partai Demokrat lewat program-program populis yang sangat membebani keuangan negara: jaminan kesehatan untuk semua warga, uang reparasi bagi kaum kulit hitam karena perbudakan yang dialami generasi-generasi pendahulu mereka, serta berbagai program lain yang mudah: aborsi yang dibiayai negara, uang kuliah gratis, dst.

Namun Partai Demokrat tidak pernah menelorkan program yang bertujuan jangka panjang untuk membebaskan rakyat kecil ini dari ketergantungan kepada keuangan pemerintah. Ini bisa dimaklumi, karena kalau program semacam itu diperkenalkan maka mereka justru kehilangan basis besar pendukungnya.

Dinesh D’Souza mengibaratkan Partai Demokrat sebagai pengulur tali: mereka mengulurkan tali kepada orang-orang yang berada di bawah, untuk naik ke atas. Akan tetapi Partai Demokrat tak akan pernah rela orang-orang ini (basis pendukungnya) untuk betul-betul mandiri.

Sebaliknya Partai Demokrat malah ingin memperluas basisnya. Ini terlihat dari debat internal Partai Demokrat baru-baru ini, di mana para bakal calon presiden itu mendukung sensus tanpa pencantuman warga negara. Sebelumnya, di berbagai negara bagian Partai Demokrat mendukung gagasan pemilih tak harus dibatasi pada warga negara.

Masalah pelik di perbatasan Amerika dengan negara-negara tetangga di Selatan sekarang ini merupakan akumulasi dari perlawanan pihak Demokrat untuk memblok usaha-usaha Partai Republik untuk menuntaskan masalah imigran gelap. Masalah menjadi pelik karena ini menyangkut “kemanusiaan”, hal yang sering dipakai sebagai senjata oleh Partai Demokrat.


Rakyat kecil umumnya terpecah dua: (1) kelompok yang melihat kesempatan sebagai tantangan untuk lebih maju lagi, (2) kelompok yang sudah merasa nyaman dengan bantuan-bantuan sosial yang datang dari pemerintah.

Pengamatan penulis pada pemilu terakhir di Australia, banyak pemilih yang dulunya memilih Partai Buruh akhirnya memilih Partai Koalisi karena mereka merasa program Partai Koalisi lebih realistis dan adil bagi semua. Partai Koalisi memang tetap mendukung program sosial seperti santunan dua mingguan bagi para penganggur. Namun, dalam masa pemerintahan Koalisi, persyaratan pemberian dan perimaan bantuan ini semakin diperketat.


Kebijakan tegas Partai Koalisi di bidang imigrasi yang pada awalnya ditentang oleh mayarakat justru sekarang berbalik menjadi salah satu poin penentu kemenangan mereka pada pemilu terakhir.

Rujukan:

  1. 2019 Australia election: Morrison celebrates ‘miracle’ win
    https://www.bbc.com/news/world-australia-48305001
  2. Scott Morrison’s shock election result pinned on volatile voters
    https://www.news.com.au/finance/work/leaders/scott-morrisons-shock-election-result-pinned-on-volatile-voters/news-story/b25359e9e520cf1acb88460ca532bc8e
  3. Pidato Dinesh D’Souza pada Acara Wisuda – Liberty University
    https://youtu.be/FRs-6DrnX-8

* Tulisan ini disiapkan 30 Juni 2019 – dimuat di Nias Online 13 April 2020.

Ayo…! Doakan, Dorong dan Dukung Orang Baik Memimpin Nias

Sunday, July 20th, 2014

Oleh Etis Nehe*

Ilustrasi | verticalrising.com

Ilustrasi | verticalrising.com

JAKARTA – Saat ini dengan mudah menemukan ungkapan kemuakan dan bahkan juga kemarahan atas keadaan di Nias (4 kabupaten, 1 Kota), terutama setelah pemekaran wilayah menjadi lima daerah otonomi baru (DOB). (more…)

Ooo Begini Rasanya Masuk Headline

Friday, October 18th, 2013

Oleh: Lovely Christi Zega

Saya menulis di Kompasiana awalnya karena tak sengaja. Karena punya tulisan yang pernah diikutkan lomba tapi tidak juara, akhirnya saya masukkan tulisan saya ke Kompasiana (Baca: Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 1), Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 2), Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 3), dan Ada Apa dengan Pendidikan (Bag. 4)). Rasanya kok ya sayang, sudah capek-capek menulis, tapi akhirnya hanya saya simpan sendiri saja. (more…)

Kupas Tuntas Korupsi, Minoritas Beragama, dan Status Quo

Wednesday, October 16th, 2013

Oleh Lovely Christi Zega

Dalam film yang berjudul sama dengan namanya, Lincoln digambarkan tewas ditembak segera setelah pengesahan Amandemen 13  disahkan. Amandemen ke-13 yang disahkan pada masa kepemimpinannya ini berisi tentang penghapusan perbudakan kulit hitam di AS. Difilm The Butler, digambarkan bagaimana seorang pelayan kulit hitam mempunyai seorang anak tukang demo yang memperjuangkan kesetaraan hak antara warga kulit hitam dan warga kulit putih. (more…)

Ada Apa Dengan Pendidikan? (Bag. 4/Penutup)

Friday, September 27th, 2013

MerahPutih

Bendera Merah Putih | deviantart.net

Apa persamaan Jerman, Jepang dan Indonesia? Teka-teki ini sedikit banyak telah dibahas pada tulisan sebelumnya. Meski demikian, proses tersebut nampaknya masih berkelanjutan dan Indonesia masih perlu belajar dalam banyak hal.

Dalam proses berkelanjutan ini, ada beberapa hal positif yang dimiliki Indonesia sebagai bekal di dunia pendidikan ke depannya. Di Indonesia, kemungkinan untuk dapat menempuh pendidikan tinggi lebih besar peluangnya dibandingkan di Jerman. (more…)

Vicky Prasetyo dan Keragaman Bahasa Indonesia

Thursday, September 19th, 2013

Pengantar: Indonesia memiliki 583 bahasa. Selain bahasa daerah, bahasa Indonesia juga beragam dan dipengaruhi oleh banyak hal. Akhir tahun 90-an, sempat mencuat bahasa Indonesia ala remaja dengan menyelipkan ‘ga’ disetiap kata yang diucapkan, misalnya, “Agakuga magauga magakaga.” yang artinya, “Saya mau makan.” Lalu sekitar awal tahun 2000 muncul trend menyingkat kata di sms, misalnya, “Msh brp lama lg acarany?” yang berarti, “Masih berapa lama lagi acaranya?” Setelah itu muncul pula fenomena bahasa 414y (baca: alay), bahasa yang menggabungkan huruf besar, huruf kecil, tanda baca, dan juga angka kedalam satu kata. Akhir-akhir ini media kita sedang diwarnai bahasa ala Vicky Prasetyo. Akankah bahasa ini menambah ragam bahasa Indonesia dan tidak tenggelam sebagaimana trend-trend dalam bahasa yang telah terjadi seperti sebelumnya? Berikut tulisan yang mengulas keragaman bahasa Indonesia. (more…)

Ada Apa Dengan Pendidikan? (Bag. 2)

Tuesday, September 17th, 2013

Sebagaimana diulas sebelumnya (Ada Apa Dengan Pendidikan – Bagian 1), kondisi Jepang dan Jerman sama-sama ‘merangkak’ pada tahun 1945. Berikut sekilas gambaran kondisi negara-negara tersebut setelah PD II.

Jepang

Jepang menanggung pampasan akibat perang pasifik 1,3 trilyun Yen. Tidak hanya itu, kondisi perekonomian yang bersumber dari industri dalam negeri dan sumber-sumber ekonomi Jepang diluar negeri, seperti di Filipina, Cina, India, atau Thailand, yang selama perang dunia II dipaksa untuk memenuhi semua kebutuhan perang, menjadi carut-marut menghadapi inflasi tinggi dan devaluasi mata uang. (more…)

Ada Apa Dengan Pendidikan? (Bag. 1)

Saturday, September 14th, 2013

Dalam sejarah, pendidikan dan penelitian berkembang maju sejalan dengan perkembangan umat manusia. Beberapa catatan kelam tertoreh ketika pendidikan dan penelitian belum sedemikian rupa mempengaruhi manusia pada jamannya. (more…)

Ia serius, ini Jorge Bergoglio …

Friday, April 5th, 2013

Jorge Mario BergoglioKardinal Jorge Bergoglio dikenal sebagai seorang yang sederhana. Ia memasak makanan sendiri, dan ia tinggal di apertemen sederhana, menghindari berdiam di istana kardinal di Buenos Aires. Ia sering terlihat berada di atas bis bersama dengan kerumunan orang banyak. Singkatnya, ia mengusahakan sendiri keperluan pribadinya dan tidak mengandalkan para pembantunya yang sebenarnya tersedia untuknya sebagai tokoh tertinggi Gereja Katolik di Argentina.

Setelah terpilih menjadi Paus, para wartawan mengabadikan bagaimana ia kembali ke hotel tempat ia menginap selama masa konklaf untuk membayar langsung biaya hotelnya. Dan ia naik taksi ke mana-mana ketimbang menaiki mobil yang jauh lebih mewah yang disediakan pihak Vatikan. Segera setelah terpilih menjadi Paus ia juga terlihat naik bis dan duduk bersama para kardinal ketimbang menaiki mobil kepausan.

***

Daniel Del Regno adalah seorang pemilik kios surat kabar di Buenos Aires. Daniel memiliki seorang langganan ‘spesial’, siapa lagi kalau bukan Jorge Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires dan Kardinal sederhana itu. Secara reguler Daniel atau ayahnya, Luis Del Regno, mengantarkan koran ke apartemen sederhana di mana Kardinal Jorge Bergoglio tinggal.

FrancisMaka, ketika Daniel mendapat panggilan telefon dari seseorang yang mengaku bernama Jorge Bergoglio tidak lama setelah Paus baru terpilih, ia tidak begitu saja percaya. Dalam percakapan itu, si penelpon meminta Daniel untuk menghentikan pengantaran surat kabar ke apartemennya karena tidak mungkin kembali ke Buenos Aires dalam waktu dekat. Daniel berpikir ini pastilah ulah seseorang yang iseng mempermainkannya. Hal ini diungkapkan Daniel dalam percakapannya dengan orang yang ‘mencurigakan’ itu.

“Ia serius, ini Jorge Bergoglio. Saya menelpon anda dari Roma.”

Daniel mengusap air matanya dan selama berberapa saat tidak mampu berbicara. Ia akhirnya percaya, sebab memang ia mengenal suara yang menelponnya.

“Beliau mengucapkan terima kasih karena selama ini kami mengantarkan koran ke apartemennya. Ia mengirimkan salam dan berkat untuk keluarga saya,” tutur Daniel kepada surat kabar harian Argentina La Nacion sebagaimana dikutip harian The Telegraph.

Sebelum Jorge Bergoglio ke Roma untuk menghadiri konklaf (pertemuan para kardinal untuk memilih Paus, Red.) Daniel sempat bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Bahkan Daniel sempat bertanya mengenai kans Jorge Bergoglio untuk dipilih.

“Beliau menjawab: ‘Ini terlalu panas untuk disentuh. Kita jumpa 20 hari lagi, dan teruskan mengantar koran (ke apartemen saya). Sisanya adalah sejarah.’,” tambah Daniel.

o-POPE-ON-THE-BUS-TODAY-570Ayah Daniel, Luis Del Regno, mengungkapkan bahwa Jorge Bergoglio dikenal sangat ‘pelit’.Paus Fransiskus dalam Bis

Luis Del Regno, setiap bulan koran-koran tadi dikembalikannya ke kiosnya, dalam keadaan rapi.

Setiap hari Minggu Kardinal Jorge Bergoglio “datang ke Kios kami sekitar jam 5.30 pagi dan membeli koran La Nacion. Beliau ngonbrol-ngobrol dengan kami sebentar lalu naik bis ke Lugano untuk menyajikan teh untuk para muda-mudi dan orang-orang sakit, tambah Luis Del Regno seperti diberitakan the Catholic News Agency (CNA).

Kesederhanaan Paus Fransikus tentu saja kontras sekali dengan praktek-praktek kehidupan para pejabat Gereja di Vatikan. Bahkan juga kontras dengan kehidupan para biarawan di berbagai biara di berbagai belahan dunia yang sering terkesan sebagai rumah-rumah mewah ketimbang rumah di mana para pelayan Tuhan berdiam. (brk/* – The Telegrah – CNA – AP – The Huffington Post)

Ketegrangan Gambar:

(1) Kardinal Jorge Bergoglio (kedua dari kiri dalam kereta api bawah tanah di Buenos Aires
(2) Paus Franciskus sedang membayar biaya hotelnya di Roma, setelah terpilih jadi Paus.
(3) & (4) Paus Francis dalam bis bersama para kardinal

Gereja Nias dan Penanggulangan Bencana

Saturday, September 15th, 2012

Esther GN Telaumbanua *)

Untuk pertama kalinya Sidang Raya  Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (SR-PGI) akan dilaksanakan pada tahun 2014 di Kepulauan Nias.  Sudah  tentu  SR-PGI ke 16  ini disambut dengan sukacita oleh masyarakat terutama gereja-gereja di Nias. SR-PGI ini  diharapkan  berdampak dinamis dan positif  bukan saja dalam menghasilkan keputusan-keputusan penting bagi organisasi PGI, namun terutama bagi Nias, gereja dan masyarakatnya.  Pemilihan Nias sebagai tuan rumah  tentu memiliki alasan tertentu terutama  karena  kaitan historis dengan peristiwa tsunami dan gempa dengan skala kehancuran besar yang melanda kepulauan ini tahun 2004-2005. Memahami tema yang  diusulkan menaungi SR-16 di Nias sebagaimana diusulkan adalah “Dari Samudara Raya Bumi, Tuhan Mengangkat Kita Kembali” (Mzm 71:20b) maka menjadi tuan rumah SR merupakan sebuah penguatan rohani  dan pencerahan bagi proses pemulihan dan kebangkitan wilayah kepulauan dengan penduduk mayoritas Kristiani.

Pertemuan Gereja-gereja

Berkaitan SR-PGI ini,  ingatan saya tertuju kembali pada rekomendasi dari beberapa aktivitas berkaitan gereja yang  dilaksanakan  pasca peristiwa tsunami dan gempa bumi. Tim Kerja Bersama Nias Bangkit, sebuah tim ad-hoc yang dibentuk PGI memfasilitasi beberapa pertemuan gereja-gereja lintas denominasi  di seluruh Kepulauan Nias di kota Medan dan Gunung Sitoli  dihadiri  wakil   berbagai pihak seperti pemerintah dan LSM dalam rangka berbagi informasi, memetakan situasi dan fakta  lapangan  saat dan pasca bencana serta merekomendasikan kebutuhan dan harapan dari  masyarakat Nias korban bencana.  Selain pemerintah maka gereja-gereja di Nias merupakan lembaga masyarakat yang dapat memberikan informasi dan gambaran situasi paling akurat  saat itu. Pertemuan ini menghasilkan pemikiran konstruktif  bagi intitusi pemerintahan dan intitusi lainnya bagi perencanaan pemulihan Nias. Selama setahun (2005-2006)  tim ini menyuarakan, mendorong kesadaran,  dan membangun kerjasama  baik antar lembaga gereja, pemerintah dan berbagai pihak lainnya untuk mengupayakan langkah-langkah penanggulangan  yang efektif. Salah satu produk dari kegiatan ini adalah terbentuknya tim kerja bersama gereja-gereja di Nias, yang telah berkontribusi sebagai  wadah koordinasi dan kerjasama dalam upaya mendorong proses pemulihan dan  perhatian  terhadap rehabilitasi rumah-rumah ibadah.  Tercatat lebih  1700 rumah ibadah/gereja (besar dan kecil) hancur akibat gempa tahun 2005, namun  tidak masuk dalam perencanaan program rehabilitas-rekonstruksi. Tim TNB-PGI bekerjasama dengan berbagai  jaringan gereja, pemerintah dan lembaga donor menyalurkan bantuan bagi masyarakat dan gereja Nias korban bencana.

Selanjutnya, pada bulan September  tahun 2007  dilaksanakan  fokus group diskusi  (FGD)  di Jakarta oleh Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB), sebuah yayasan berbasis pemberdayaan bagi masyarakat Nias. FGD ini secara khusus membahas peran dan posisi gereja dalam penanggulangan bencana di Indonesia melalui pengalaman khusus  peristiwa bencana alam di Nias. Bagian pertama dari forum ini membahas dan mengkaji posisi dan peran gereja dalam mengelola diakonia-transformatif bencana alam dengan nara sumber para teolog (STT dan PGI) dan Departemen Agama. Pada bagian kedua forum membahas konstribusi strategis lembaga-lembaga pengelola bantuan terhadap penguatan kapasitas pengelolaan bencana alam berbasis komunitas dengan narasumber  BRR dan NGO/LSM yang bergerak di Nias.  FGD  bertema “Gereja dan Penanggulangan Bencana Alam Berkelanjutan”, menghasilkan rumusan visi dan pemikiran kritis-strategis bagi penanganan bencana alam di Indonesia dan secara khusus Nias yang masih relevan untuk direview kembali saat ini.

Secara umum bencana dapat diklasifikasikan  sebagai  bencana dengan penyebab murni gejala alam  dan bencana sebagai akibat gejala alam yang distimulan dan diperhebat oleh perilaku manusia. Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana  dapat didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban  jiwa  manusia,  kerusakan  lingkungan,   kerugian  harta  benda,  dan  dampak   psikologis.  Berdasarkan  sumber  dan  penyebabnya,  bencana  dibagi  menjadi : (1)  Bencana  alam adalah segala jenis bencana yang sumber, perilaku, dan faktor penyebab atau pengaruhnya berasal dari alam, seperti : banjir, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung api, kekeringan, angin ribut dan tsunami; (2) Bencana non alam adalah   bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian  peristiwa  non alam  yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit; (3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.  Penanggulangan bencana merupakan serangkaian upaya yang konfrehensif  meliputi  pra bencana (pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan), saat terjadi bencana dan pasca bencana (rehabilitasi-rekonstruksi)

Keberadaan kepulauan Nias pada wilayah lingkar luar punggung pegunungan dasar laut dan lingkar dalam punggung pegunungan dasar laut dari dua lempeng besar dunia, menunjukkan bahwa Nias adalah wilayah bencana alam parmanen  (zona 6) yang rentan dengan gempa dasyat strategis. Selain bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi, bentuk bencana lain yang melanda Nias adalah banjir, tanah longsor, angin, dan lain-lain.

Dalam peristiwa bencana, tugas dan panggilan diakonia gereja dalam konteks tersebut adalah menolong dan mengurangi penderitaan korban. Diakonia sesungguhnya bukan saja menyatakan pengasihan kepada korban, tetapi lebih luas lagi mencegah agar jangan bertambah korban-korban baru. Dalam hal ini bagaimana  mempersiapkan umat dan masyarakat agar responsif, serta secara sistematis mengembangkan instrumen-instrumen pelayanan yang dapat mengurangi dampak dari bencana yang terjadi. Artinya, diakonia yang dilakukan bukan saja bersifat karikatif namun diakonia-transformatif dimana korban ditolong dan diberdayakan untuk mampu keluar dari masalah.

Diakonia transformasi

Dilihat dari buruknya dampak bencana terhadap kehidupan tata ruang fisik, sosial, budaya dan psikososial selama ini, dicatat dalam FGD beberapa masalah utama yang dihadapi masyarakat. Pertama, masyarakat umum belum memiliki pengetahuan dan pemahaman memadai terhadap bencana,  gejala alam menjelang bencana alam (gempa bumi dan tsunami); pemahaman akan mitigasi (pola hidup, tata dan pengelolaan  lingkungan dan pemukiman;  serta belum dimilikinya sistem peringatan dini bencana. Kedua, lembaga pemerintah, gereja dan institusi  lainnya belum memiliki kemampuan yang memadai dalam merespon bencana terutama yang datang tiba-tiba serta kesiapan melakukan penanggulangan pasca bencana. Ketiga, pemberian bantuan kemanusiaan terhadap korban bencana belum efektif dan optimal sebagaimana mestinya. Pola “dengan misi tersendiri atau kepentingan tertentu”, yang terjadi dalam proses pemberian bantuan dapat merusak tatanan sosial kekeluargaan dan keutuhan hidup masyarakat saat itu dan di masa mendatang. Keempat, masih lemahnya peran diakonia gereja terutama dalam menghimpun potensi dan dana bantuan. Hal mana sangat terkait dengan kondisi kemampuan sdm dan sosial ekonomi umat.

Terhadap kondisi tersebut ada tiga langkah strategis yang dapat dilakukan bersama, yaitu : (1) Perlunya mengembangkan sistem peringatan dan respons dini bencana. Hal ini  berkaitan dengan : a) kemampuan memahami gejala-gejala alam seperti kondisi tumbuhan serta perilaku hewan darat dan biota laut. b) mendorong dan membudayakan perilaku berwawasan bencana, dalam mengelola lingkungan,  menata ruang kehidupan dan penggunaan konstruksi bangunan yang tahan gempa. c)  membangun sistem komunikasi bencana termasuk  jaringan kerjasama lintas gereja, agama, sosial dan teritorial dalam peningkatan kapasitas sdm, berbagi informasi dan proses penanggulangan pasca bencana; (2) Memperkuat gereja,  jemaat serta komunitas lokal sebagai basis pemberian bantuan atau pelayanan diakonia-transformatif. Pembinaan sistematis dalam rangka meningkatkan kesadaran kritis gereja atau lembaga pemberi bantuan dan gereja/umat di tingkat lokal agar tidak mengidentikkan atau mengaitkan pekerjaan pelayanan bantuan kemanusiaan dengan praktek-praktek sempit seperti  pindah agama atau gereja, serta menghindari upaya-upaya melembagakan gereja/jemaat baru dari gereja yang memberikan bantuan di wilayah perbantuan, dan (3) Penataan lingkungan sosial dan tata ruang dari bahaya man made disaster (bencana alam karena perbuatan manusia). Membantu pemerintah dengan cara melakukan penelitian, pendidikan kritis dan format respons sosial berkaitan dengan pembangunan atau pengelolaan tata ruang dan lingkungan yang berwawasan bencana.

Dalam diskusi ini,  perspektif Gereja-gereja di Indonesia menekankan  tentang kepedulian dan identifikasi diri Yesus dengan mereka yang lemah sebagaimana dikemukakan Matius 25:34-36 serta mengingatkan gereja akan tiga tantangan mendasar dalam implementasi makna diakonia-tranformatifnya.

Pertama, adanya profil pembutaan diri terhadap realitas keseharian masyarakat, termasuk bencana alam dan sosial: acuh tak acuh, tidak peka, masa bodoh, merasa bukan urusan kita, tidak ada manfaat ekonomis, dan rasa takut yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kondisi pembutaan  diri ini berakibat pada adanya kesenjangan antara perilaku sosial gereja/jemaat/umat kristen dengan landasan tata kehidupan diakonia-transformatif itu sendiri.

Kedua, sikap ambivalen atau dikotomis antara keberagamaan dengan kehidupan sehari-hari. Sikap ambivalen ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kehidupan gereja yang berdasar pada diakonia-transformatif  dari Yesus Kristus dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Respons atas kehidupan nyata masyarakat tidak dilihat sebagai manifestasi dari iman kepada Yesus Kristus. Distorsi ini menjadi tantangan konsolidasi diakonia-transformatif gereja menjawab persoalan pengelolaan dampak bencana alam bagi manusia, masyarakat dan tata lingkungan ke masa depan.

Ketiga, keberagamaan yang parsial. Hidup keagamaan terbungkus dalam ruang ritus, eksklusif, formal dan institusional. Kekristenan sebagai simbol, kata, status. Gereja belum memberikan pengaruh dominan dan signifikan terhadap situasi sosial konkrit yang dihadapi masyarakat sebagai sebuah gerak, potensi, sumberdaya fungsional diakonal-transformatif. Akibatnya, gereja menjadi terasing dari situasi sosialnya sehari-hari. Tidak produktif dalam proses transformasi sosial, baik di komunitas gereja sebagai basis atau pangkalan maupun masyarakat.  Gereja yang terpenjara dan terasing seperti dari kehidupan  sehari-hari itu, semakin diperburuk dengan ketakutan-ketakutan atau warisan traumatik tertentu yang semakin membelenggu fungsi diakonia-transformatifnya. Adanya lembaga seperti YTNB contohnya, menunjukkan bahwa gereja, dalam hal ini PGI belum cukup akomodatif terhadap dinamika aspirasi diakonia-transformatif bencana alam yang dihadapi masyarakat. Pada konteks Nias sendiri, hal itu semakin diperburuk melalui polarisasi dan kesenjangan di antara denominasi gereja yang ada di Nias.  Secara teologis, pembebasan diri dari ketakutan didasarkan pada paskah Yesus Kristus sebagai dasar diakonia-transformatif gereja, tetapi juga dengan mempertimbangkan adanya Dokumen Keesaan Gereja – DKG dan UU Penanggulangan Bencana (UU No.24/2007).

Dari perspektif akademis, dipaparkan contoh atau model diakonia-transformatif pada level personal – tetapi memiliki dimensi struktural dan kultural yang kuat di tengah  masyarakat Nias. Berdasarkan pengalaman personal tersebut, beberapa catatan mendasar dan kontekstual bagi diakonia-transformatif di Nias perlu menjadi perhatian. Pertama, diakonia-transformatif adalah sebuah keharusan. Hal ini sangat beralasan karena posisi Nias dengan warga 90% lebih  beragama kristen di mana gereja atau jemaat lokal ada di seluruh Nias. Kedua, diakonia-transformatif adalah pelayanan kemanusiaan.  Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa warga jemaat mempunyai harapan besar bagi gereja. Bukan hanya berkaitan dengan soal-soal ajaran (teologi) tetapi juga pelayanan kemanusiaan dan sosial. Gereja memiliki fasilitas dan aset yang memadai:  sumber daya pelayan, komunitas lokal, struktur dan kategori pelayanan, fasilitas fisik seperti gedung dan ruang pertemuan, dan sebagainya. Ketiga, gereja atau jemaat lokal adalah pusat  pelayanan, pembinaan dan evaluasi. Desain pelayanan, pembinaan dan evaluasi diakonia-transformatif berbasis pada jemaat atau komunitas lokal yang bersifat responsible (bertanggung jawab), transparan (terbuka) dan sustainable (berkelanjutan). Dalam konteks itu, lembaga donatur  hanya merupakan  fasilitator. Bahaya yang senantiasa mesti diwaspadai adalah terjadinya manipulasi informasi dan realisasi bantuan sehingga umat dan masyarakat korban tidak memperoleh informasi tentang hal-hal yang baik. Keempat, agenda lembaga donatur. Disadari atau tidak, banyak lembaga donatur memiliki kepentingan kampanye sosial dan kebanggaan sebagai donatur. Kelima, kinerja diakonia-transformatif gereja versus LSM. Gereja bersifat holistik, berkelanjutan, dan lessons learned berbasis komunitas korban. LSM umumnya  parsial, temporal serta pemberian bantuan material tanpa spiritual.  Keenam, teologi bencana.  Gereja perlu melakukan indentifikasi, pemetaan, dan perumusan teologi bencana sesuai dengan konteks teritorial, budaya, sosial, ekonomi dan politik.

Banyak lembaga NGO/LSM  yang memberikan bantuan kemanusiaan di Nias memiliki kaitan dengan gereja dan keorganisasian sebagai lembaga asing (luar negeri).  Mereka tiba sebagai bantuan kemanusiaan segera  (first-aid) pasca bencana terjadi. Kepedulian utama umumnya NGO/LSM  ini adalah penguatan lembaga dan komunitas lokal pada tahap  tanggap darurat atau bantuan emergensi yang bersifat material. Lembaga ini memberikan bantuan langsung kepada masyarakat seperti  program dukungan psikososial, kesehatan  dan kegiatan pendidikan di bawah tenda pengungsi. Umumnya NGO/LSM difokuskan untuk pembangunan masyarakat  atau kemanusiaan dan bukan keagamaan.

Badan Rehabilitasi Rekonstruksi (BRR) adalah lembaga pemerintah yang khusus dibentuk dalam proses rehabilitasi-rekonstruksi Nias pasca bencana. BRR pada hakekatnya memperoleh mandat dari negara dan dunia internasional. Dalam pemaparannya BRR  menyatakan bahwa sangat diperlukan kajian dan reformulasi perencanaan penanggulangan bencana. Pendekatan penanggulangan bencana yang dilakukan selama ini masih bersifat pemadam kebakaran. UU Penanganan Bencana yang ada masih bersifat top-down, birokratis dan legalistik. Kegiatan masih berbasis proyek, di mana birokrasi bersifat panjang dan tidak sensitif terhadap aspirasi korban. Situasi yang dihadapi adalah situasi bencana, sementara model penanganan berkarakter penanganan normal. Pola lama mesti dikritisi sebab faktanya kegiatan rehabilitasi bersifat kontraktor-oriented dengan kualitas hasil yang buruk dan rentan  terjadinya  eksploitasi masyarakat penerima bantuan.   Pola rehabilitasi seperti ini dikuatirkan menjadi semacam  bisnis bencana, dan merupakan  bencana sosial serius yang menempatkan korban pada posisi multi-victim. Berbagai persoalan  hanya dapat diatasi kalau pembangunan dilaksanakan dengan pelibatan atau partisipasi masyarakat Nias. Kekhasannya adalah: kelembagaan masyarakat menjadi kuat, konstruksi bangunan dihasilkan  lebih kuat, ekonomi korban dan komunitas lokal dapat meningkat, bantuan dana yang tersedia langsung diperoleh masyarakat. Dari sisi perspektif BRR, panggilan gereja di Nias adalah  memfasilitasi proses rekonstruksi ke proses pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi forum

Ketika bencana datang sesungguhnya berbagai pihak  terdorong  memberikan bantuan, namun pada kenyataannya baik pemerintah,  gereja, dan LSM tidak siap sebagai lembaga bantuan bagi penanggulangan  bencana. Hal mana nampak pada cara menyikapi dan pola bantuan.  Seperti yang terjadi di Nias, konteks disasternya baru tetapi model penanganan perbantuan bencana masih menggunakan pola normal. Sehingga penanganan menjadi tidak efektif dan penyaluran bentuan tidak optimal, bahkan rentan melahirkan masalah baru.

Sesungguhya masyarakat korban memiliki pengharapan melalui diakonia-transformatif gereja. Kelemahannya, diakonia gereja masih bersifat karikatif semata, bahkan   mengidentikkan diri sebagai korban. Akibatnya, bantuan kemanusiaan melahirkan perseteruan dan perpecahan, bukan kesejahteraan dan keadilan.  Sering terjadi uang justru menggeser logika dan idealisme diakonia. Kapitalisasi diakonia seperti ini justru melemahkan gereja.  Gereja  yang mengidentikkan diri sebagai korban dan gagal keluar sebagai gereja yang mandiri, sulit menjadi pelayan diakonia-transformatif.  Padahal, gereja yang mandiri diharapkan menjadi inspirasi dalam penanggulangan bencana. Ironisnya,  situasi bencana diperburuk dengan pelayanan dari gereja-gereja sendiri. Karena itu, diperlukan upaya memfasilitasi pertemuan gereja-gereja di Nias dalam rangka membicarakan secara obyektif, sistematis dan tuntas pengelolaan diakonia-transformatif dalam konteks bencana alam di Nias. Bagaimana gereja-gereja dapat merekonstruksi pola pelayanan diakonia-transformatif bencana alamnya sebagai acuan untuk menanggulangi bencana alam di sekitarnya. Karena itu maka gereja-gereja dan komunitas lokal perlu difasilitasi untuk mereposisi diri sehingga menjadi tidak hanya dalam rangka survive, tetapi juga inisiator dan proaktif dalam mengelola bencana alam dan segala dampaknya.

Dinamisasi point-point diatas membutuhkan kajian terhadap baik subtansi maupun strategi pengembangan diakonia-transfrormatif bencana alam yang khas di Nias selama ini.  Dari hasil kajian itulah, dikonstruksikan tidak hanya model diakonia transformatif bencana alam yang khas, tetapi juga model sistem peringatan dan respons bencana, pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat lokal yang relevan untuk kebutuhan itu.

FGD ini menghasilkan beberapa catatan penting sebagai berikut:

  • Gereja perlu didorong untuk berinteraksi dengan isu-isu sosial. Gereja perlu melakukan penelitian berkaitan dengan teologi bencana, posisi diakonia-transformatif dalam konteks distorsi hubungan gereja dan negara. Dalam praktek diakonia-transformatif bencana alam mesti melihat wajah Yesus dalam diri korban bencana dan kehidupan nyata masyarakat.  Citra gereja dalam perspektif diakonia-transformatif adalah gereja yang esa dan bukan gereja yang terpecah-belah dan terpolarisasi.
  • Model intervensi gereja selama ini masih berbasis iman (agama) atau gereja (identitas gereja). Gereja  juga mesti mengkritisi dan sadar mengapa dimensi proselitisasi menjadi bahasa kritis yang muncul dalam UU Bencana Alam dan  dilihat sebagai konsekuensi dari kelemahan diakonia-transformatif gereja pada aras praktek.
  • Secara teologis, metodologis dan praktis (perspektif diakonia-transformatif) pada tahapan tanggap darurat (emergency) maupun  pemulihan/pemberdayaan sosial  (social empowerment) pihak pemberi bantuan (gereja dan lembaga sosial lainnya) mesti menghindari: (a) terciptanya mental ketergantungan korban pada donor dan bantuan yang  dapat mengikis nilai-nilai lokal secara spiritual, kultural dan sosial seperti kerjasama, saling menolong dan sebagainya yang berbasis kekeluargaan dan persaudaraan  yang selama ini menjadi ciri masyarakat Nias.  Keseriusan dalam mempersiapkan tahapan pemulihan  bukan saja akan menghindari ketergantungan, tetapi juga diskontinuitas yang menjadi akar konflik dan masalah sosial lainnya;  (b) mengaitkan pemberian bantuan sebagai entry point atau pintu masuk pelembagaan gereja atau jemaat baru, sehingga terciptanya polarisasi dan kesenjangan di antara gereja dan  munculnya  bencana baru   yang justru diinisiasi oleh gereja sendiri. Hal ini sangat bertentangan dengan spirit dasar diakonia-transformatif untuk memperkuat kemandirian dan harga diri gereja atau jemaat atau komunitas lokal.  Pasca bencana tercatat penambahan jumlah institusi gereja cukup cepat. Perlu kesadaran dan tanggungjawab  untuk meminimalisasi dampat  negatif terhadap  tatanan gereja dan masyarakatan yang sering membonceng  pada  proses bantuan kemanusiaan dan kehadiran pihak luar.
  • Peran advokasi gereja sangat penting untuk mendorong berbagai pihak untuk memperhatikan pentingnya kebijakan bantuan serta keseimbangan penetapan   waktu tanggap darurat dan tindakan pemberdayaan sosial secara proporsional. Advokasi bukan saja dalam bentuk bantuan yang mengurangi dampak psikologis dan trauma bagi korban, tetapi pula advokasi dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan yang rentan terhadap korupsi dan kebijakannya.
  • Memperkuat gereja dan jemaat lokal dalam mitigasi bencana dengan mengembangkan sistem peringatan dan respons dini bencana berbasis komunitas lokal sebagai instrumen diakonia-transformatif gereja-gereja di Indonesia. Sistem  ini diformulasikan dari komunitas lokal, dan pada gilirannya direkonstruksi dan diintegrasikan untuk menemukan model nasional untuk penguatan gereja-gereja dan masyarakat pada umumnya.  Nias dijadikan contoh dan entry point untuk itu. Pengalaman mengelola dampak bencana alam tidak hanya diabstraksikan ke dalam bentuk instrumen sistem peringatan dan respons dini bencana, tetapi juga dengan membangun sistem pendidikan (kurikulum) dan komunikasi bencana ditujukan bagi terciptanya perilaku dan budaya masyarakat lokal yang sistemstif dan responsif  terhadap peringatan dini dan bencana itu sendiri. Perilaku gereja, jemaat lokal serta masyarakat lokal merupakan tools atau intrumen sistem peringatan dan respons dini bencana yang terwujud antara lain pada  pola tata ruang pemukiman, pola rancang dan kualitas bangunan rumah, serta perilaku manusia terhadap lingkungan.
  • Pendekatan yang relevan dan tuntas terhadap korban bencana menuntut dipetakannya “siklus korban mati” dan “siklus korban hidup.”  Peta siklus korban mati dan korban hidup akan sangat mendasar sebagai landasan mengembangkan model penanganan korban bencana. Pemetaan situasi dan data korban, sebaiknya ditempatkan dalam kerangka pengembangan data dasar dan pemetaan berbasis komunitas lokal. Termasuk sensivitas terhadap berbagai isu seperti pelanggaran hak korban, diskriminasi pengelolaan bantuan, dsb.
  • Bantuan kemanusiaan bencana mestinya fokus pada penguatan kapasitas  berbasis komunitas secara berkelanjutan meliputi  aspek sistem dan sumberdaya. Masyarakat diberdayakan untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Pengembangan bidang sosial dan budaya diarahkan dalam rangka memperkuat kapasitas kemandirian dan mengikis mental ketergantungan. Dalam proses pemberdayaan ini masyarakat adalah fokus dimana NGO/LSM berperan menjadi fasilitator pemberdayaan, memberi bantuan material dan advokasi. Perlu juga dikritisi pendekatan dan program community development agar tidak semata berorientasi aksi  dan lemah di bidang refleksi kritis.    
  • Strategi penanggulangan  bencana diperlukan dengan paradigma baru  dengan ciri pengembangan kapasitas   dan  keberlanjutan berbasis dan berawal dari komunitas lokal dengan proteksi UU/kebijakan. Kesiapan pemerintah dalam sistem diperlukan untuk penanggualangan yang efektif dan optimal.
  • Nias pasca bencana menjadi terbuka dalam percaturan kultural. Perlu kajian sosiologi, psikologi dan kultural secara komprehensif untuk proses penanganan bencana Nias dan konsep pemulihan pasca bencana. Kebijakan pembangunan kehidupan Nias  menyeluruh meliputi juga infrastruktur ekonomi untuk mengeluarkan posisi Nias dari ketertinggalan dalam sosial dan ekonomi.
  • Gereja-gereja di Nias memiliki sdm dan berbagai fasilitas, serta jaringan institusional yang dapat dioptimalkan dalam proses penanganan bencana. Penguatan kapasistas gereja merupakan upaya strategis dalam penanganan bencana secara berkelanjutan. Potensi yang dimiliki ini belum disadari dan diberdayakan untuk meningkatkan peran strategis gereja dalam proses penanggulangan bencana. Pemberdayaan gereja-gereja   Nias merupakan langkah efektif dalam membangun sistem penanggulangan bencana di kepulauan Nias.
  • BRR diharapkan dapat membantu penyusunan Rencana Pembangunan Kepulauan  Nias  secara menyeluruh dengan melibatkan instansi terkait antara lain seperti  Bappenas, DPR RI dan Dep. Keuangan, serta mendengar masukan aspiratif  intitusi masyarakat seperti gereja dan lembaga masyarakat lainnya seperti YTNB.
  • Diskusi yang baik ini mesti disampaikan kepada para pimpinan gereja di Nias untuk membangun paradigma baru gereja  dan rencana strategi pelayanan yang semestinya bergeser dari  dari institusional oriented ke educational building.

 

Gereja Nias

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk membantu gereja untuk melihat lebih jelas kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, sekaligus kebutuhannya dalam menghadapi bencana,  yang datangnya selalu tiba-tiba. Demikian untuk  kiranya   mampu melayani  lebih sensitif, efektif dan optimal  bencana bersama-sama dengan pemerintah dan institusi lainnya dengan menarik pelajaran terutama dari pengalaman Nias. Hal ini kembali diangkat untuk menjadi pergumulan bersama ditengah perkembangan kehidupan Nias di segala dimensi dengan perubahan pesat yang mengikutinya. Bencana alam yang terjadi, seperti di Nias dan wilayah lainnya,  sesungguhnya telah menguak betapa banyak persoalan yang meliputi  berbagai dimensi kehidupan Nias, gereja dan pemerintah yang harus disikapi dan dibenahi.  Pasca bencana berlalu, persoalan bencana, dampak dan keberlanjutannya semestinya bagian yang tidak dilupakan begitu saja, namun tetap terintegrasi dalam setiap perencanaan pembangunan yang berkaitan dengan masyarakat dan kehidupannya.  Mengapa, karena bencana dalam berbagai bentuk dan dampaknya adalah bagian dari persoalan gereja dan umat. Bencana tidak diprediksi kapan datangnya, sehingga adalah bijak mengantisipasi dengan pencegahan dini dan kesiapsiagaan setiap waktu.

Selain itu, melalui SR ini PGI dapat lebih mengenal gereja-gereja lokal yang menjadi anggotanya dan situasi riil masyarakatnya. Melalui refleksi mendalam dari konteks  bencana Nias,  SR-PGI di Nias mendorong perumusan  konsep diakonia-tranformasi, teologi bencana,  strategi  penguatan gereja dan peningkatan kemampuannya mengelola sumber daya yang dimiliki.  Menarik hikmah dari penanganan bencana Nias,  didorong pula  kesatuan gereja-gereja dalam merespon bencana yang terjadi serta  merajut kemitraan gereja dengan lembaga-lembaga kemanusiaan untuk menyatukan potensi penanggulangan. Saat ini terdapat  puluhan gereja dari berbagai denominasi,  diantaranya ada sekitar 7 sinode gereja berbasis masyarakat Nias di Kepulauan Nias, yaitu Angowuloa Masehi Indonesia Nias/AMIN, Banua Niha Keriso Protestan/BNKP, Orahua Niha Keriso Protestan/ONKP, Angowuloa Faawosa khö Yesu/AFY, BNKP-Indonesia (BNKP-I), Banua Keriso Protestan Nias (BKPN),  BNKP Raya dan Angowuloa Fa’awosa Geheha (AFG.)  Seluruh sdm gereja-gereja di Nias berjumlah  kurang lebih 90% dari total penduduk kepulauan  Nias dan tersebar di dalam 5 kabupaten/kota yang ada.

Belajar dari  pengalaman bencana yang lalu, kiranya gereja-gereja di Nias merefleksikan   bagaimana   memandang dan menyikapi alam  semesta atau lingkungan hidupnya serta melaksanakan panggilannya  untuk menjaga dan memelihara alam  agar terjamin kelestariannya dan sekaligus menjadi sumber nafkah yang tak akan habis bagi semua makhluk dan generasi selanjutnya.  Saat bencana melanda  maka kehadiran gereja  adalah merefleksikan  kebaikan Allah   bagi korban bencana  dalam pelayanan diakonia-transformasi. Gereja Nias memiliki berbagai potensi sdm, asset, fasilitas, jaringan  dan faktor pendukung lainnya yang dapat difungsikan secara optimal  dalam menghadapi berbagai bentuk bencana. Gereja Nias  memiliki posisi strategis dalam struktur masyarakat Nias dapat menjadi  penggerak dan fasilitator aksi  kemanusiaan  serta  mampu mempengaruhi  masyarakat untuk mitigasi dan mereduksi dampak negatif dari pola bantuan bencana yang ada. Gereja   berkaitan dengan pergumulan  masyarakat dengan nilai-nilai, perilaku dan perbedaan pandangan. Gereja berperan menemukan solusi dari masalah yang terjadi, serta berperan strategis dalam pembentukan nilai positif dalam masyarakat melalui pelayanan advokasi dan pesan profetis kerohaniannya. Pasca pemekaran kepulauan ini terkotak menjadi 5 wilayah pemerintahan yang sangat rentan dengan perpecahan dan pergesekan di berbagai dimensi, gereja-gereja  Nias berperan  merajut dan menumbuh-kembangkan semangat kebersamaan dan persatuan masyarakat Nias yang memudar dan menjadi wadah pemersatu   rasa dan tanggungjawab menanggung beban bersama demi pemulihan kehidupan dan pembangunan wilayah kepulauan Nias.

Dengan demikian, SR-PGI ke 16 di Nias akan akan dilangsungkan tahun 2014  menoreh sejarah gerejawi secara khusus dan membawa berkat bagi Nias, tuan rumah perhelatan raya ini.  (egnt)

*) Penulis adalah Sekretaris Tim Kerja Bersama Nias Bangkit- PGI (2005-2006) dan Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB)

Pesan Paskah PGI: “Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi”

Sunday, April 8th, 2012

Ilustrasi (Foto: http://www.emblibrary.com)

Saudara/i Seiman di manapun berada,

Salam Sejahtera Dalam Kasih Yesus Kristus,

Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan saat ini, dengan penuh
sukacita umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memasuki Hari Raya Paskah, peringatan Kebangkitan Kristus dari kematian. Paskah selalu membangkitkan pengharapan dan kekuatan guna menjalani kehidupan masa kini menuju masa depan, kendati kenyataan hidup di sekitar kita tidak selalu mudah. Khususnya di negeri kita, Indonesia dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (more…)

Hidup Tegar & Arif Sebagai Warga Daerah Rawan Bencana

Wednesday, March 28th, 2012

Kepulauan Nias bersama daerah lainnya dalam jalur bencana yang sama (Foto: http://gempapadang.wordpress.com)

Oleh Etis Nehe

Beberapa saat lagi, ‘ulangtahun’ gempa dahsyat yang mendera Kepulauan Nias dan rakyatnya akan diperingati. Gempa yang terjadi sekitar pukul 23.30 Wib tersebut datang dalam kekuatan dahsyat, 8,7 skala Richter (SR). Hanya berselang empat bulan setelah ikut menderita karena gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 berkekuatan 9,3 SR. (more…)

Mafia Berkeley, Sekali Lagi (bagian 1 dari 3 tulisan)

Saturday, March 10th, 2012

Oleh Ari Perdana*

Catatan Redaksi: Jum’at (9/3/2012) pukul 02.30 Wib lalu, Prof. Widjojo Nitisastro, salah satu orang penting pemerintahan Soeharto dan tokoh besar perekonomian Indonesia, meninggal dunia. Prof. Widjojo yang juga sebagai konseptor dari Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), program Keluarga Berencana dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada era Orde Baru tersebut dikenal sebagai salah satu ‘orang besar’ yang menentukan arah pembangunan Indonesia dan menjadi seperti saat ini. (more…)