Archive for the ‘Nias’ Category

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (4): Tim Sukses Harus Sungguh-Sungguh Berefleksi

Wednesday, September 8th, 2021

Tim Sukses (TS) para Paslon sangat berperan dalam menentukan hasil sebuah pemilihan. Mereka inilah yang mengatur strategi agar Paslon dikenal, disukai, mengundang simpati, dan akhirnya dipilih masyarakat.

Kita semua telah mengetahui hal itu.

Yang barangkali tak kita ketahui, dan yang sering luput dari perhatian kita adalah: mengapa seseorang bergabung dalam TS sepasang Paslon.

Pertanyaan itu bisa kita modifikasi sedikit menjadi: mengapa si X memilih bergabung dengan TS Paslon A dan bukan dengan TS Paslon B atau C?

Apapun alasannya, yang berikut ini harus diingat oleh para anggota TS. Masyarakat berharap perbaikan taraf hidup, berharap keluar dari keterbelakangan dari generasi ke generasi.

TS sesungguhnya adalah corong dari berbagai keluhan masyarakat, pembawa pesan-pesan, harapan, dan keluhan – keluhan warga ke Paslon.

TS yang berkualitas berpotensi menghasilkan kepemimpinan dengan ide – ide segar di setiap daerah (pemilihan).

TS yang didorong oleh kepentingan sesaat berpotensi menghasilkan kepemimpinan yang hanya akan mengabadikan status Kep. Nias sebagai Daerah Tertinggal.

* Tulisan ini disiapkan tanggal 20 November 2020, dimuat di Nias Online setelah koreksi kecil.

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (3): (Jangan) Menjual Kebohongan

Wednesday, September 1st, 2021

If you betray yourself
If you say untrue things
If you act out a lie
You weakend your character
Jika engkau mengkhianati diri
Jika engkau mengatakan hal-hal yang tak benar
Jika engkau meniru kebohongan dan melakukannya
Engkau melemahkan karaktermu
(Jordan Peterson –Profesor Psikologi, Universitas Toronto )
__________________

Demi mencapai tujuan, tidak jarang para Palson di setiap kesempatan menerapkan strategi pemasaran untuk meyakinkan para pemilih. Istilah keren politiknya: kampanye.

Trump, Biden, Borris Johnson, … pokoknya siapa saja yang masuk gelanggang pemilihan melalukannya. Termasuk juga di pelosok – pelosok, di daerah – daerah yang masih berstatus Danggal.
Sejauh itu, oke oke saja. Bahkan orang merasa aneh apabila para Paslon sama sekali tidak menawarkan ide-idenya ke publik (calon pemilih) melalui berbagai jalur berkomunikasi.
•••
Akan tetapi kampanye politik telah sedemikian terkontaminasi sehingga warga menganggapnya sebagai ajang menjual kebohongan. Masih mending kita membeli kue bohong, kita dapat kuenya, bohongnya hanya di nama.

Tetapi kalau kita percaya begitu saja pada janji-janji kampanye para Paslon, tanpa berusaha ‘mempelototinya’ (tabura’ö höröda wamaigi), kita hanya akan terjebak dalam ritus kekecewaan 5 tahunan.

Silahkan ingat kembali seluruh janji-janji paslon yang terpilih dan bandingkan dengan kenyataan di lapangan.

Dipastikan tak ada satu paslon pun yang menjanjikan kue bohong. Akan tetapi warga pemilih sudah sangat realistis dalam berekspektasi karena sudah biasa mengalami kekecewaan siklus 5 tahunan. Oleh sebab itu, warga pemilih lebih suka langsung diberi kue bohong atau diberi uang senilai beberapa kue bohong … daripada menunggu 5 tahun lagi untuk melihat hasil – hasil pembangunan yang dijanjikan oleh pemenang lewat komitmen politik mereka.

Observasi yang sama berlaku juga untuk pemilihan legislatif.

•••

Bagi para paslon dan para tokoh pencerah masyarakat: pesan singkat Jordan Peterson di atas penting untuk direnungkan. Ditulis ulang kembali di sini:

♡♡♡
Jika engkau mengkhianati diri
Jika engkau mengatakan hal-hal yang tak benar
Jika engkau meniru kebohongan dan melakukannya
Engkau melemahkan karaktermu
♡♡♡

* Tulisan ini disiapkan 19 November 2020, dimuat di Nias Online 1 September 2021.

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (2) – Menjinjau Kembali Budaya Perkubuan dan Dukung Mendukung

Wednesday, August 25th, 2021

Selain meniru debat mirip debat Trump vs Biden, Pilkada di berbagai daerah juga meniru perkubuan Republikan vs Demokrat untuk alasan yang kurang jelas.

Polarisasi Partai Republik vs Partai Demokrat didasarkan atas perbedaan idelogi, nilai-nilai hakiki dan kebijakan praktis. Singkatnya: kapitalisme vs sosialisme, konservatisme vs progresisme, dsb.

Di Pilkada, polarisasi karena perbedaan-perbedaan mendasar itu seharusnya tak ada, dan terkesan irasional.

•••

Maka, kita boleh mempertanyakan: mengapa di setiap Pilkada – dan kali ini saya fokus pada Pilkada di Kepulauan Nias – perkubuan ini selalu ada? Apa alasan mendasar? Perkubuan di sini tidak termasuk kelompok tim sukses (TS) yang memang harus ada untuk memaparkan program-program paslon ke publik. Perkubuan yang saya maksud adalah perkubuan yang juga melibatkan para tokoh dan para intelektual, yang walau tidak menjadi bagian dari TS, secara langsung atau tak langsung memihak kepada paslon tertentu.

Mari kita mulai dengan berfikir positif: bahwa pemihakan terang-terangan atau diam-diam itu didasarkan atas penilaian potensi dan prospek para calon. Artinya, pemihakan kepada paslon tertentu adalah berdasarkan penilaian pemihak bahwa paslon A lebih baik dari paslon B atau C. Pertanyaan: kriteria apa yang menjadi alasan pemihakan? Sejauh ini alasan dan kriteria itu tak pernah secara terang – terangan dibeberkan ke publik.

Selagi alasan – alasan dan kriteria yang rasional tidak dibeberkan kepada publik, maka mau tak mau kita cenderung mengambil kesimpulan: pemihakan diam – diam atau terang – terangan itu didasarkan atas alasan subjektif. Beberapa alasan subjektif bisa kita sebutkan: koneksi, kedekatan pribadi, hubungan keluarga, garis politik yang mengaburkan nalar, dsb., yang bermuara kepada usaha penjaminan akses atau kepentingan pasca Pilkada pada paslon terpilih. Artinya, apabila paslon yang didukung (terang – terangan atau diam – diam) menang, maka amanlah pemihak pasca Pilkada.

Secara alamiah kecenderungan subjektif itu ada … dan sangat manusiawi. Bisa jadi, seseorang berharap kelak usahanya di bidang tertentu bisa ‘kompetitif’ bersaing dalam projek – projek pemerintah. Atau anggota keluarganya bisa tertolong dalam proses pengangkatan pegawai, misalnya. Atau minimal, karena yang bersangkutan kenal dengan paslon favoritnya, ia merasa nyaman kapan saja ingin berkomunikasi atau bertemu langsung dengan jagoannya apabila terpilih.

Sekali lagi, fenomena ini sangat manusiawi; semua orang mengalaminya. Akan tetapi hal ini akan menjadi batu sandungan dalam mengangkat Kepulauan Nias dari status Danggal kalau faktor subjektif ini tidak dikekang.

Perkubuan tradisional semacam itu tidak membawa dampak besar ke publik. Ia hanya menguntung sekelompok kecil. Dan itu tadi … perkubuan macam itu berpotensi memperpanjang status Kep. Nias sebagai Daerah Tertinggal.

Perkubuan Yang Lebih Terhormat / Mulia

Mungkin lebih baik kita mencari bentuk perkubuan baru yang lebih menguntungkan mayoritas masyarakat Kep. Nias. Yang berikut adalah salah satu bentuk perkubuan itu.

Mari kita mengelompokkan seluruh masyarakat di satu kubu dan para paslon atau kontestan di kubu lain. Dalam tulisan ini, kubu masyarakat disingkat KuMas dan kubu para paslon disingkat KuLon.

Kubu Masyarajat (KuMas)

KuMas dituntun (dipandu) dan dicerahkan oleh para tokoh masyarakat Nias: para tokoh agama dan adat, para intelektualnya. Tidak kalah penting, masuk dalam kelompok berpengaruh ini adalah pers dan media sosial yang berlabel (Kepulauan) Nias. Mereka ini semua berpotensi memiliki pengaruh besar dalam lingkungan mereka masing-masing.

Apa saja yang mereka bisa perbuat untuk mencerahkan masyarakat? Cukup banyak. Misalnya saja: mengingatkan masyarakat bahwa 4 dari 5 daerah administratif di Kep. Nias itu berstatus daerah tertinggal. Jangankan memahami isi debat ala Trump vs Biden, banyak masyarakat Nias bahkan tidak mengetahui status Danggal ini dan ramifikasinya bagi kemajuan Nias.

Para tokoh berbagai bidang dan intelektual juga berada dalam posisi strategis untuk mengingatkan para pemilih (Kumas) agar mereka – demi masyarakat itu sendiri – jangan mudah tergoda dengan iming – iming sesaat yang dijanjikan para paslon (Kulon), sampai akhirnya mereka melupakan bahwa arti pemilihan itu adalah untuk kepentingan kemajuan kep. Nias. Singkatnya: para tokoh dan intelektual ini berada pada posisi strategis untuk mengingatkan masyarakat:

“Jangan menjadi sapi perah 5 tahunan KuLon pencari suara untuk kemudian dilupakan begitu saja kalau mereka sudah berada dalam lingkungan kekuasaan”.

Peran KuLon

Kita sangat menghargai, bahwa di tengah pandemik, ada saja individu yang berniat memimpin di salah satu daerah di Kep. Nias. Mari kita berfikir positif: mereka ini rela untuk terjun ke gelanggang Pilkada dengan tujuan mulia: mengangkat masyarakat Kep. Nias dari keterbelakangan yang berkepanjangan. Dalam kosakata sangat populer saat ini: para kontestan ini ingin mengeluarkan Kep. Nias dari status  Daerah Tertinggal (Danggal). Bukan sebaliknya: untuk memanfaatkan posisinya kelak untuk kepentingan sempit keluarga, para sahabat dan koneksi politik.

Tugas utama para paslon, di tengah keterbelakangan Kep. Nias yang berkepanjangan ini,

bukan:

memasarkan diri sebagai paslon yang memiliki kemampuan untuk merealisasikan itu !

melainkan:
mayakinkan masyarakat melalui pemaparan visi, misi dan program mereka secara jelas, disertai dengan tahapan – tahapan yang masuk akal, terukur, dan realistis.

Adalah tugas para tokoh, intelektual, dan pers yang berlabel (Kep.) Nias, dan yang menjadi bagian dari KuMas – untuk mempertemukan kedua kubu (KuMas dan KuLon) ini agar saling “memahami”, sehingga tujuan menghapus status Danggal ini sungguh-sungguh bisa direalisasikan.

Adalah tugas para tokoh, intelektual, dan pers yang berlabel (Kep.) Nias, untuk mencerahkan masyarakat agar memilih paslon terbaik dalam setiap Pilkada.

* Tulisan ini disiapkan pada tanggal 18 November 2020; setelah perbaikan / perubahan kecil, dimuat di Nias Online.

Pilkada dan Status Danggal Kepulauan Nias (1) – Usulan Format Debat ke Depan

Tuesday, December 8th, 2020
Empat Kabupaten di Kepulauan Nias Masuk Dalam Kategori Daerah Tertinggal

Menarik menyaksikan debat cakada / cawakada di berbagai daerah yang meniru format debat pilpres, yang juga mirip debat Donald Trump vs Joe Biden dan Mike Pence vs Kamala Harris. Format debat seperti itu barangkali perlu ditinjau ulang, disesuaikan dengan kebutuhan yang lebih relevan di derah-daerah, terutama daerah-daerah yang mayoritas masyarakatnya masih sedang bergulat dengan berbagai keterbatasan di segala aspek kehidupan.

Khusus untuk Pilkada di Kepulauan Nias, seharusnya penyelenggara pemilu (KPU) menetapkan tema tunggal: Program para Cakada/Cawakada Melepaskan Kepulauan Nias dari Status Danggal. Untuk Kota Gunungsitoli, yang tidak termasuk dalam status Daerah Tertinggal (Danggal) temanya mungkin bisa sedikit dimodifikasi.

Lantas, bagaimana teknis penyelenggaraannya? Daripada di dalam gedung, mungkin lebih baik dilakukan di lokasi-lokasi harimbale, pada saat kegiatan jual beli masyarakat sedang berlangsung, menjelang sore hari, misalnya. Di setiap kabupaten, ditetapkan sejumlah lokasi harimbale yang mewakili beberapa kecamatan di kabupaten itu. Panggung debat – rasanya tidak terlalu makan biaya – perlu dibuat untuk menampung para kontestan itu.

Lantas KPU mencari metode interaksi yang baik antara para kontestan dan masyarakat yang hadir. Dalam debat ini, pengerahan masa pendukung dilarang. KPU misalnya bisa memulai dengan membeberkan berbagai masalah pembangunan (baca: ketertinggalan) di daerah administratif itu dengan isu khusus di setiap kecamatan. Lantas para kontestan diberi kesempatan untuk memaparkan program-program kerja mereka. Tanya jawab spontan yang dipandu bisa menjadi bagian dari debat itu.

Sekitar 20 tahun lalu, saya membuat tulisan yang mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketertinggalan dan kemiskinan masyarakat di kepulauan Nias. Dalam kurun waktu 20 tahun, seingat saya baru tercatat satu projek pembangunan yang cukup besar di Nias, yakni program Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias setelah tsunami Aceh 2004 dan gempa Nias Maret 2005. Jejak-jejak RR Nias itu masih kita saksikan lewat jalan-jalan yang lebih baik (tetapi kembali memburuk karena tak ada program terencana perawatan), gedung-gedung sekolah dan rumah-rumah ibadat, dlsb.

Pemekaran Nias, yang juga berlangsung dalam kurun waktu yang sama, dan yang dulu kita harapkan mampu memajukan Nias secara signifikan, ternyata tidak memberikan dampak yang berarti. Setelah RR Nias dan Pemekaran, Nias kembali tenggelam dalam masalah klasik yang diidentifikasi dalam tulisan berusia hampir 20 tahun itu. Empat dari 5 daerah administratif tingkat dua di Kepulauan Nias masih terfdaftar dalam daftar Daerah Tertinggal.

Usulan format debat seperti ini lebih efektif. Pemenang akan sulit menghindari tanggung jawab kelak apabila mereka gagal dalam merealisasikan janji-janji mereka. Mereka diperhadapkan langsung dengan konstituen ril: orang-orang miskin, para petani, para pemabuk, orang-orang yang tetap miskin karena jujuran tinggi, dan lain sebagainya. Wajah-wajah penuh harap mereka ini, akan selalu mengingat-ingatkan para kontentan, dan terutama pemenang, agar sungguh-sungguh bekerja untuk merealisasikan janji-janjinya.

Akan lebih baik lagi, kalau dalam acara debat / pemaparan program-program itu, diadakan Doa Perjanjian yang disaksikan oleh masyarakat banyak, bahwa siapun yang terpilih akan berusaha dengan sungguh-sungguh merealiasikan janji-janji mereka (e.halawa*)

* Tulisan ini dipersipakan 13 September 2020, dimuat di Nias Online 8 Desember 2020.

Ama Gorö

Friday, November 21st, 2014

E. Halawa*

Ama GoroHatö’ögö si mate ma …‘.

Lö fakhamö i’asiŵai ŵönunia si fao falelesa ba ŵa’amabu Ama Gorö no ofeta dezu balo ba mbaŵania. Moroi ba gaberania. Nifahele ga Hino.

He wa’ae no irai faguru ba sile Nama Gorö me föna, ba börö ŵa’aliolio ga Hino, aŵö göi ŵa’olofo me ha goŵi nibogö ŵangabölönia mege sihulöŵongi, ba lö fakhamö itimba dezu andrö.

Ba tenga ha sambua … ifandrai ka Hino, irege tesuru Nama Gorö. Alabu ia tou.

***

Föna-föna da’a, ero-ero tohare Nama Gorö ba harimable Muzöi, ba lafalikhö-likhö ira niha. Hana ? Börö me samaŵuka tödö niha Nama Gorö. Ha sa’e aefa ibadu giö mba’e ba ibörögö faŵea Nama Gorö.

Sindruhunia, na lö khönia famadu iö mba’e ma tuo nifarö, ba sökhi ŵehedenia, fahuŵu khönia niha. Onekhe ia fahikaya, hikaya si tobali fama’i-ma’igi niha. Oya khönia mbungo ŵehede ba ŵanunö-nunönia hikaya andrö, irege mate-mate niha ŵa’igi.

I’oroi i me mate khönia Nina Gorö ba ŵökhö – me dua fakhe no – ba ihaŵui fa’ogömigömi Nama Gorö. No oya mbua gera-era itema moroi khö dalifusö aŵö ndra sohalöwö ba agama, ba hulö lehe dalö Nama Gorö, lö falemba-lemba idanö. Me föna, ha fawaraö ibadu giö mba’e, lö i’alui misa ba lafo, ha na so zame önia, si mane na so gamatunöwa ba mbanua.

Me no mate Nina Gorö, itugu ebua noro dödö Nama Gorö: daöfa ndraono, no gide’ide nasa. Sia’a: Orö, onomatua, tama eside me dua fakhe no. Ba akhi Gorö ba ono alaŵe manö, no momöi manö ba zekola: Limomani (kalasi 5), Sarimani (kalasi 4), ba Sarifa (kalasi 3); fatete manö. Farege ono mege Nina Gorö.

Dua görö khöra laza, dua lauru tanömö wa’ebolo. So sagörö kabu hafea, mato 7 kilo gitö ma’ökhö na molökhö. So göi kabu zinanö mato sambua lauru ŵa’ebolo. Me so mege Nina Gorö ba so 5 rozi zigelo bakha ba mba’o. No ha’uga kali lasöndra harazaki moroi ba ŵo’ono zigelo andrö khöra.

Mege me so Nina Gorö, no sa’ae ibörögö mangirö firö ira, harazakira moroi ba ŵanguri baŵi ba moroi ba zi töra-töra mböli gitö khöra. Si töra gefe karate moroi ba harazakira ba labali’ö firö. Niha sabölö zi darua andrö, ba no göi ogoŵölö’ölö fefu khöra ndraono.

***

Sindruhunia, omasi mena’ö lafatenge Gorö, sia’a ndraono khöra, ba zekola ba Gunusitoli, ba ŵanohugö ba SMP. Ba hiza ifuli mangandrauli furi dödöra.

Börö atö Gafasi, ono Nama Zaradua, sangaŵuli manö furi, sombato sekola, ha döfi me no lafatenge ia ira satuania ba SMP ba Gunusitoli. Ba zi döfinia ba Gunusitoli, tenga mai ahori ndra amania. Tenga börö ŵa’amaha hua zekola ma zui okosi asirama. Börö ŵö’i me ambö menemene ndra amania mege khö Gafasi; inönö nasa, tema laduhugö ŵame’e kefe khönia me aŵena sibai iröi ira. Helaŵisa ba … Ono omasiö sibai khöra Gafasi andre, ono siakhi; lö irai fabali ara ira götö da’a. Ha samuza, ya’ia da’ö me möi manörö Gafasi khö ndra sibayania si yöu ba Lahewa. Ha samigu na’i, ba tenga mai ŵa’aŵakhö-ŵakhö dödö Nina Zaradua, irege i’ofökhöi.

Andrö me lafasao ia ba Gunungsitoli, ba ŵanohugö sekola, laduhugö ŵege’ege ira Ina Zaradua. He wa’ae ibini’ö pörasa’ania Ama Zaradua, ba me fabali sa’atö, me laröi sa’ae nahania ba ihalö zaefutanga moroi ba gandrekandrenia, i’osi mbaŵania sabasö tawa hörö, si fao ma’ifu ingo.

Me lara’u danga Gafasi, ba oi zara la sigö’ö nga’örö gefe karate ba nono mbarunia ira sibayania, amania sakhi, ba ira la’onia sangai ga’ania ono alaŵe si datölu. Mangozökhö da’ö fefu, aŵö mbaka-bakania moroi khö ndra amania, ba tola itaha balazonia ba hua zekolania bakha ba zi döfi.

“He nogu, oŵölö’ölö ndra’ugö ba zekola he. Na marase sibai ndra’ugö, ma itataria fataha-taha ŵama’ohe’öma böli mbalazou ba hua zekolau ba angawuli sabata ba mbanua,” da’ö sibai ŵehede afuriata moroi khö Nina Zaradua fatua lö möi ira yawa ba moto solohe ya’ira ba Ŵaekhu, ba mbalö asipala. I’oroi Ŵaekhu dania, latörö tanö misitou ba mbanua.

Ha samigu siyawa ba Gunusitoli, tokea uli Gafasi, ono Nama Zaradua, niha sikayo ba mbanuara. Lö mondrino Gafasi simane iraono bö’ö si’oroi mbanua. Agasese möi manga sitou Gafasi ba fondrokata ba Gafubaru (Kampung Baru). Inönö nasa, moroko ia iada’a, roko Tölu Tölu. Mulo-mulo, ha sara ma’ökhö, aefa da’ö, me no sandru sa’ae, ba sabuku ma’ökhö. Inönö nasa, lö mondri Gafasi na tenga sabu gamai (Camay) ma zui luk (Lux), sabu samuhua sibai.

Duhu göi sagöi, ero-ero mangaŵuli ia ba khöra, ba ŵa’amuhua Gafasi. Na ifalega ia ba harimbale, ba oya nono matua – aŵönia be eside no – zamini’ö ya’ira, so ŵa’aiwöra lafahatö ira khö Gafasi. Tatu ŵa aiwö ira, börö so zaböu gitö, ba so göi zaraŵi-raŵi saraewa. Fabö’ö Gafasi, amuhua sabu gamai, moroko Tölu Tölu, fena simaha bakha ba nono mbaru, ba samake saraewa sanau si lö mate lahe darika.

Ha irugi 3 ŵawa ba labagi rapor ndra Kafasi. Lö asökhiwa rapor Gafasi, no royo-royo, ha sambua isöndra dawa saitö, isöndra nilai 8 (walu) göi sagöi ba pelajaran Bahasa Daerah. Tatu manö ŵa’isöndra walu Kafasi ba Bahasa Daerah: amania (Ama Zaradua) satua mbanua. Asese irongorongo na fahuhuo namania ba gaoloma zato, si mane na so ŵangowalu. Kala ndraono bö’ö la. Ba hiza ba ŵamahaö (pelajaran) bö’ö isöndra dawa soyo fefu. Ha Bahasa Indonesia zebua maifu, lima a matonga (5.5), börö me asese fabahasa ia ba ndraono fasa. Tanö bö’ö sa’e: tenga 3 (tölu) ya’i ba 4 (öfa).

***

“He nogu, tebai ndra’aga daruaga inau ŵanohugö sekolamö andre. Faigi atö ninamö, lö tebato-bato geha, sido sa’ae ba ŵohalöhalöwö. Bologö dödöu khöma,” da’ö sibai ŵehede Nama Gorö khö Gorö samuza ma’ökhö aefa sibai manga bongi ira.

Mege barö zilaluo, me fatua rami niha harimbale, no fakhamö i’ila Ama Gorö khönia nono, moroko Tölu-Tölu nibe’e Gafasi. I’o-si-lö-mangila Ama Gorö. Lö ara furi ö, mangaŵuli ba nomo Gorö, no ihaogö-haogö, ata’u ia ifahatö ia khö namania. Andrö, me aefa ŵehede namania bongi da’ö, hulö nihari Gorö, lö i’ila ibukhö’ö ia moroi ba gangetula da’ö sa’e. Itema gangetula ndra satuania: lö itohugö sekola Orö si yawa ba Gunusitoli.

***

‘Hadia öbadu Dalu ?‘, imanö ŵanofu Ka Dia khö Nama Gorö.

Kofi nogu … böi be gulo e … tesao zui dania ŵogikhigu‘, da’ö ŵanema Nama Gorö khö Ga Di’a.

***

Niwaöwaö zatua föna ŵö ama Gorö ‘So ŵofo yawa mba’e’. Lö ŵö si’ogötö’ö fa’abölö döla. Ahele yöu ŵö luo sa’ae khöda andre.’

Lö manö idema-dema Ama Gorö mene-mene Nama Rina. Inganga-nganga manö gönia afo aŵö ŵa itataria igoso-goso nifönia faoma lölö nafo da’ö. No itöngö manö mbagolö oto’oto lafo Nama Rina faoma lafo si tambai.

***

Amuhua göi sibakha gi’a yawa ba kuali nigore-gore Nina Rina, ahulua Nama Gorö ba Ama Rina mege aefa zi laluo. Falagaŵo Muzöi, nigore ba wanikha sami sawena mufarö.

Mamondro-mondrongo lagu Sepasang Rusa ga Rina (Ka Dia) moroi ba radio Panasonic Satu Band ni-siar-kö RRI Pekanbaru. Lö hadöi nasa headset me luo da’ö, tobali larongo manö fefu niha lagu da’ö, tenga ha ka Rina zamondrongo.

Akan tetapi datanglah tiba-tiba
Seorang pemburu yang mengintai
Ia lalu menembak rusa itu
Matilah si rusa betina …

Å´a’omasi Ga Rina melodi lagu ni’anunöisi Tetty Kadi andrö. Lö i omasi ia syair zinunö andrö. Ata’u ia ibaya tödönia ŵa’auri mböhö si’alaŵe si mate nifana molo’ö lagu andrö. Alai na simanö dania fahuŵusa dödöra gurunia Guru Tane’a.

Ha aŵai lagu Sepasang Rusa ba ahori göi itutusi ba itandraölö mbulu goŵirio ka Rina. Ibe’e khö ninania. Irino Ina Rina mbulu goŵirio andrö ba ndru’a mbanio, ibe’e faramasa bö’ö simane undre, sarilahia. Me asoso, ŵa’amuhua.

***
He Di’a … kaoni ndra amau nogu. Manga ita,‘ imanö Ina Rina khö nononia omasiö andrö.

Fatua labörögö mena’ö ŵangandrö ba ŵemanga no ŵai itörö föna lafo Guru Tane’a … i’oroi nomo, möi ia mowöli rokonia.

Ya’ahowu Pa …

Ya’ahowu guru … aine talau manga.’

Saohagölö Bapa. Awena sibai aefa wö göi ndra’o‘.

Fakhamö fatöngö ira Ga Rina guru Tane’a, ba hiza i’osilömilagö Guru Tane’a. Aefa i’andrö faramisi khö ndra Ama Rina ba idölö ia ba lafo ŵoŵöli rokonia. Mu’iti dödö ga Rina, ba hulö zitohafa ia me i’oni ia inania ŵangai karawa ŵombanö moroi ba naha naŵu.

***
Bologö dödöu ga’a. Tenga u’ailasi’ö meneŵi. Halöwö duo ŵö da’ö.” Ohahau ŵehede Nama Gorö. No taya zöfu duo, no mangaŵuli göi ŵa’abölö mboto me no manga ö si sökhi.

Ufabu’u khöu ga’a ba föna Loawalangi göi, lö sa’ae irai ö’ila Nama Gorö so’amuata si manö da’ö”

***

“He Di’a, ae öli khöma safasa everadi”.

Aefa manga ira, lafuli zui möi ira Ama Gadi’a si tou ba Muzöi. La’ohe ŵandrugasi dombua, la wa’ö göi khö nama Gane, sonekhe mama’ala falagaŵo. Tefaudu göi lökhö sara, ohahau sibai nidanö Muzöi. Hulö zi lö ba’a-ba’a hörö ŵamaigi riwa-riwa gi’a Muzöi, ŵamaigi uro samahatö ya’ira ba haga ŵandru gasi.

Lö aboto lele afo, no alau ŵalagaŵo ba dufania Nama Gane. Börö ŵa’esolo, hulö ha högö zimöi bakha ba mbaŵa dufa. Ifangeŵengeŵe manö ia falagaŵo da’ö, i’o’ö manö ama Gane, aŵö göi ŵa i’usahakö ŵamahatö ba ngöfi. Lö sa’e i’ila moloi falagaŵo da’ö me no ifahatö ia Ama Gorö.

Ba ŵa’ami ŵamaigi-maigi da’ö, lö taraso khö Nama Rina me ifelai gahe danga mbarunia hola-hola galitö moroi ba högö wandru gasi nigogohenia.

Mu’ira Nama Gorö ŵamaigi da’ö: “He Ga’a …!”

“Ae ….”, ha da’ö ŵehede si kalua moroi ba mbaŵa Nama Rina.

***

Mato döfi lö möimöi ba harimbale nama Gorö. Irörö ia ŵohalöwö ba laza, ba kabu, ba ŵamahaö iraono khönia ba ŵohalöwö ba danö. Itugu egebuabua khönia ndraono, ba itugu monönö harazakira. Lö göi irai olifu ia ŵe’amöi ba Göreza; he teu toho, ba ifaso ndraononia ŵe’amöi. Irege samuza ma’ökhö latuyu ia tobali satua Nia Keriso.

***

Möi ndra Ama Rina ba harimbale Lahagu, ba lö tola lö’ö latörö lala ba mbanua Nama Gorö. I’ila ira Ama Gorö, ba isaisi ira. Lö tebato ira, ha fara’u tanga manö ira ba neŵali föna nomo Nama Gorö.

Mohalöwö gera’era Nama Gorö. Omasi sibai ia i’oroma’ö ŵa’omasinia khö ndra Ama Rina, si töra moroi ba dalifusönia andrö.

Lö sa’e taha-taha khö Nama Gorö; iwa’ö ŵondrino fakhe khö ndraononia ono alaŵe. Iwaö khö Gorö ŵangai ono mbawi sesolo moroi ba mba’o furi nomo khöra. Möi ia ŵaneu banio saŵuyu soguna dania ba ŵamazökhi diŵo ndra Ama Rina andrö. Iteu mato lima hugehuge rambuta sasoso ba ngai nomo, tandrösa ŵanahania ira Ama Rina dania.

Iwaö khö Zarifa – ono siakhi khönia – ŵamaigi-maigi niha sangaŵuli ba harimbale.

“He nogu, na ö’ila ndra Amau Sa’a dania moroi ba zaröu ba ombakha’ö khögu he …”, da’ö goroisa Nama Rina khö Zarifa.

***

Arakha sambua za me no aefa asoso gö, lö nasa si tohare ndra Ama Rina. Manimba dödö Nama Gorö; sata’u ia, alai na no latörö ira Ama Rina ba lö ni’ila Zarifa.

“He nogu, sindruhu sagöi ŵa lö ni’ilau ira Amau Sa’a mege” ?

“Duhu ŵö ma … lö manö simöido furi mege”

“Iza ira ma  … !,” muao Zarifa khö namania.

Ŵa omuso dödö Nama Gorö. Aefa sibai ilau mondri. No ifake nukha sibohou, tandra ŵamosumangenia ira Ama Rina.

No ihönagö ia föna ba neŵali Ama Gorö.

“Ya’ahoŵu ga’a … mi’aine yomo …”

No i’ila Ama Rina ŵa so ba dödö Nama Gorö ŵanaisi ya’ira.

“Lö tetahaga Ama Gorö, faigi atö no alu mbanua, ifa’u’uga teu da’a dania. Harimbale göi khöda si tou mahemolu.”

“Lö ŵö ga’a …lö alua ŵö deu da’a, mi’aine wa’i”.

Ŵa omuso dödö Nama Gorö me latörö nomo khönia ira Ama Rina.

I’ohe föna dombua ŵiga safönu rambuta Limomani, ononia numero dua, ganete Gorö.

Ihalö sabuku roti Ka Di’a moroi ba mbuku-bukura ba ibe’e khö Zarifa, sanaro-naro fe’asora no mege.

***

“He ga’a … aŵena sibai ŵö moŵua rambuta da’a, lö ta’ila na ami ba na lö’ö”. Da’ö wehede si’ofona moroi khö Nama Gorö me no sa’ae larugi nomo ba me no ahori mudadao ira fefu.

Gagagasa ŵemanga rambuta, ikode ndraononia Ama Gorö. Tohare ba idanö fombanö. Aefa da’ö, ba figa gö aŵö karawa safönu fakhe sasoso. Aefa da’ö ba galasi ba sambua sere safönu idanö tesi. Afuriata, ba niru sebua, ni’ohe Gorö, safönu onombaŵi sumange ndra Ama Rina moroi khö Nama Gorö; aŵö dambala sebua naha nidanö ndrino ni’ohe Zarifa.

Sumange nibe’e ba niru andrö yawa ba ya’ia da’ö: simbi, dangi-dangi, uli nosu, nagole waha, ba alakhaö.

“He ga’agu Ama Rina, ga’agu Ina Rina … mibolo-bologö dödömi ŵö’i.”

“Hana ŵa ömane Ama Gorö … hadia khöu da’a”.

“He ga’a angandrö ŵö’i khöda fatua lö tabadu nidanö”.

Ifangandrö ira Ama Rina, fangandrö saohagölö ba zumange (gö) andrö, ba fangandrö hoŵu-hoŵu göi khö Nama Rina ba ba ndraononia.

Si mane si to’ölö ba Nono Niha, ihalö zumange no mege Ama Rina, ba ifuli sumange Nama Gorö: sara guli zimbi, sara guli dangi-dangi, sara guli nosu, ba sara guli ŵaha. Ba me no itema Ama Gorö ba i’amuli’ö ya’i zumange andrö.

Manga ira fefu fao faoŵuaŵua dödö.

***

Me no aŵai ŵemanga, ikode khönia ndraono Ama Gorö ba ŵamukusi ni’odöra Ga Di’a dania. Aefa da’ö möi baero ndraono andrö, fao Ga Di’a khöra. Ladölö ira ba mbörö rambuta. Ifuli inönö ŵaneteu rambuta Gorö, nifa’oheöra dania khö Ga Di’a.

Yomo ba nomo, hatö datölu zi so: Ama Gorö, Ama Rina ba Ina Rina.

Sindruhunia lö amakhaitara Nama Gorö Nama Rina; ba hiza i faha’ahatö dödöra töra moroi ba ŵa’ahatö dödö zi fatalifusö. Na so gabula dödö Nama Gorö ba ba da’ö i’oföna’ö ifatunö ba khö Nama Rina. Ba na so göi halöwö khö Nama Rina ba Ama Gorö (ba Ina Gorö no me auri nasa) zaliolio molului.

Andrö me no aefa manga ira maökhö da’ö, ba i’andrö gera’era Nama Rina ba Ina Rina Ama Gorö sanadrösa ba gera’erania ŵamuli mangoŵalu zui.

‘Marasedo sa’e ga’a, tebaido sa’e na haya’o ŵamaro-marou tödö ndraono andre ba ŵohalöwö’, da’ö ŵehede nihaogö nifadaya moroi khö Nama Gorö. Sindruhunia no alawö-lawö ia ŵamatöla’ö ni’eraerania andrö khöra.

‘Samidi-midi afou ba sangomösi na tesao ŵogikhiu ba Ama Gorö,’ da’ö ŵama’ema Nama Rina, no iboho.

“He ga’a … oya manö khöu …”

Ihatö’ö mbaŵania Ama Gorö ba dalinga Nama Rina. Ingöngögö sambua döi nono alaŵe.

‘Hana farahasia ami khögu bale, haniha khöu da’ö ba Ama Gorö?”, isofu Ina Rina.

“Fetua da’a … tebai larongo ira alawe’, imanö Ama Rina khö Nina Rina.

“Lö ya’o bakha Ama Gorö”, no ihekeni ŵangumaö da’ö Ama Rina.

I’ila geluaha da’ö Ama Gorö. Omuso dödönia, so zanuhini khönia.

“Saohagölömi ŵa’amarasemi ga’a … mibologi manö dödömi khögu”, imanö Ama Gorö fao fa’oŵuaŵua dödö.

Fara’u tanga ira, mangaŵuli ndra Ama Rina misitou ba Muzöi. I’ohe ni’odörara Ka Di’a. Larugi fasa Muzöi, lö alua sa deu no mege.

Warga Kepulauan Nias di Jabodetabek Rayakan Natal dan Tahun Baru

Saturday, January 18th, 2014

Bupati Nias Barat AA Gulö sedang menyampaikan sambutan | Etis Nehe

Bupati Nias Barat AA Gulö sedang menyampaikan sambutan | Etis Nehe

NIASONLINE, JAKARTA – Ratusan warga asal Kepulauan Nias yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) menghadiri perayaan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 di Jakarta. (more…)

LEAD Center Gembleng 100 Calon Pemimpin Harapan Nias

Monday, December 16th, 2013

Foto bersama pembicara dan sebagian peserta | Risman Zalukhu

Foto bersama pembicara dan sebagian peserta | Risman Zalukhu

NIASONLINE, JAKARTA – Bertempat di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada Minggu (15/12/2013), LEAD Center Chapter Nias menggelar seminar Pengembangan Kepemimpinan, Kewirausahaan dan Kerohanian bagi masyarakat Nias di wilayah Jabodetabek. (more…)

DPRD Nias Selatan Setujui Usul Pembentukan 3 Kabupaten Baru

Thursday, November 28th, 2013

Peta Kepulauan Nias | niaspost.com

Peta Kepulauan Nias | niaspost.com

NIASONLINE, JAKARTA – Semangat pembentukan daerah otonomi baru di Kepulauan Nias ternyata belum reda. Kali ini, Kabupaten Nias Selatan (Nisel) diusulkan untuk dimekarkan menjadi empat kabupaten atau daerah otonomi baru. (more…)

BPP Provinsi Kepulauan Nias Batal Bertemu Gubernur Sumut

Thursday, November 7th, 2013

Logo BPP PKN (Foto: Akun FB Grup Dukung Pembentukan Propinsi Kepulauan Nias)

Logo BPP PKN (Foto: Akun FB Grup Dukung Pembentukan Propinsi Kepulauan Nias)

MEDAN, NIAS ONLINE – Meski sebelumnya sudah dijadwalkan, rencana pengurus Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias (BPP PKN) untuk bertemu dengan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) akhirnya dibatalkan. (more…)

VG Fahuwusa Menangi Lomba Vocal Group Rohani Berbahasa Nias

Tuesday, November 5th, 2013

VG Fahuwusa saat tampil | EN

VG Fahuwusa saat tampil | EN

NIASONLINE, JAKARTA – Sebanyak 12 kelompok vocal group (VG) dari berbagai komunitas masyarakat Nias di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabk) mengikuti “Lomba Vocal Group Rohani Berbahasa Nias” pada hari ini, Selasa (5/10/2013). (more…)

Ka Di’a ba Guru Tane’a

Thursday, September 19th, 2013

Mege, bözi satu, aefa Gadi’a ba zekola eside (SD) lö aröu moroi ba nomora. Kalasi Önö Ga Di’a. Sindruhunia no alawa ndröfinia maifu, no felewitu fakhe, owalusö sa’e. Ba hiza börö sa’atö wa’omasinia sekola ba börö göi wa’ambö ndraono ba zekola sawena mufazökhi andrö, ba latema manö ia kalasi 4 me dua fakhe no. (more…)

Fokasi Moyo (Ba Zoroso Nou)

Wednesday, June 26th, 2013

Me tohareö, ötörö khöma nomo
Öleke’ö no öbohoboho
Ulaudo furi möido ubini’ödo
Ha koko mbadagaheu urongorongo

He ga’a ndraono
Si’oroi hulo
Te so khöu nösi, fokasi
Fokasi moyo
Wa lö u’ila uliwö’ödo

Bude-budegu da’ö, tuho dödö
Böi tanö ba dödöu, böi ofönu
Lö aetu wehi’ahi’a dödögu
Me no falukha ita
Ba zoroso Nou

{Ba zoroso Nou
Li … öfabu’u
Irongo angi ba asi
Ba teu toho
Wa lö olifu’ö ndra’o} 2x

(Lirik dan melodi: E. Halawa, 1997)

Buku “NIAS BANGKIT: Langkah-Langkah Awal” mendapat Penghargaan Nugra Jasadarma Pustakaloka 2012

Monday, October 15th, 2012

Jakarta (Nias Online) – Sesuai dengan amanat UU No.4 Tahun 1990, Perpustakaan Nasional melalui Direktorat Deposit Bahan Pustaka menyelenggarakan pemilihan Bahan Pustaka/Buku Terbaik. Proses seleksi/pemilihan ini telah dilangsungkan sejak tanggal 9 Mei sampai 3 September 2012. Berkaitan dengan ini Perpustakaan Nasional RI menganugerahkan Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 kepada Buku “Nias Bangkit: Langkah-Langkah Awal” sebagai Juara 1 Kategori Bahan Pustaka/Buku Terbaik. Buku ini ditulis oleh Esther GN Telaumbanua, SE, dan diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan (PSH). Penghargaan kepada Penulis dan Penerbit diserahkan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Dra.Sri Sularsih, MSc pada hari Senin tanggal 8 Oktober 2012 di Gedung Theater Perpustakaan Nasional RI Jakarta.

Selanjutnya pada tanggal 11 Oktober 2012 dilangsungkan penganugerahan penghargaan kepada seluruh pemenang enam kategori dalam acara “Gemilang Perpustakaan Nasional” di gedung SMESCO Tower Jakarta.

Penerima Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 selengkapnya adalah:

Kategori Buku (Bahan Pustaka):

Juara 1: Esther GN Telaumbanua (Nias Bangkit : Langkah-langkah Awal)
Juara 2: Hendra Surya (Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar)
Juara 3: H Tukiran Taniredja, dkk (Model-model Pembelajaran Inovatif).

Kategori Perpustakaan Desa:

Terbaik Cluster A : Perpustakaan Desa Ngagel Rejo, Surabaya (Jawa Timur); Terbaik Cluster B : Perpustakaan Tut Wuri Desa Pitahan (Kaltim); Terbaik Cluster C : Perpustakaan Mapideceng Desa Senga Selatan, Kab. Luwung (Sulsel).

Kategori Tokoh Masyarakat:

Trini Haryanti (Jawa Timur); Shri IB DarmikaMarhaenWedastera PS (Bali); Saufni Chalid (Sumatera Barat); M Amin Suprijatna (DKI Jakarta); Muhammad Nur (NTB); Andreas P Cornelius (Maluku); Naim Ali (Jawa Timur); Triwiyana; HA Kholiq Arif, MSi (Bupati Wonosobo, Jawa Tengah); Prof Dr Ir HM Nurdin Abdullah, M.Agr (Bupati Bantaeng, Sulsel); Syafaruddin Usman (Penulis, Pontianak, Kalbar); dan Nadi Mulyadi (Wartawan, Jogja TV).

Pemenang Lomba Bercerita Tingkat SD/MI:
Juara 1: Muthia Nur Tsabitha (Jambi)
Juara 2 : Rahardi (Sulsel)
Juara 3 : Naqdzayatun Nur Ivana Isa (Gorontalo).

Pustakawan Berprestasi Nasional:
Suharyanto (DKI Jakarta); Nazaruddin (Nanggroe Aceh Darussalam); Irkhamiyati (DI Yogyakarta).

Penerima Anugrah Lifetime Achievement adalah Dr Soekarman Kertosedono, MLS .

Salah satu penerima penghargaan adalah Dr Soekarman Kertosedono, MLS. Beliau adalah pencetus berdirinya Perpustakaan Nasiona dan merupakan Pustakawan Utama Pertama yang dimiliki Indonesia. Sementara penulis buku pemenang kategori bahan pustaka yaitu Esther GN Telaumbanua adalah Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit yang melaksanakan berbagai program pemberdayaan bagi masyarakat Nias pasca bencana. Esther juga aktif menulis berbagai tulisan tentang kehidupan masyarakat Nias.

Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih dalam sambutannya di acara tersebut menyampaikan ucapan terima kasih dan kebanggaannya kepada semua pihak, baik secara perseorangan maupun organisasi atas usaha dan dukungan dalam mengangkat citra, harkat dan pengembangan perpustakaan nasional dalam membantu tugas Pemerintah mencerdaskan dan meningkatkan kualitas masyarakat. Kerjasama dan koordinasi yang baik diharapkan dapat ditingkatkan untuk keberhasilan dan prestasi gemilang perpustakaan nasional di masa mendatang.

Dalam rangka publikasi Gerakan Nasional Indonesia Membaca sebagai tindak lanjut dari Pencanangan Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca yang dicanangkan Wapres Boediono, 27 Oktober 2011 lalu Perpusnas telah melaksanakan Roadshow ke berbagai daerah seperti Palembang, Semarang, Kupang, dan Surabaya disemarakkan dengan berbagai acara talkshow yang melibatkan berbagai pihak dengan tema “Jadikan Perpustakaan Sahabat Pintar Keluarga Indonesia”.

Pengembangan budaya membaca sangat erat kaitannya dengan perpustakaan. Selain memberikan apresiasi dan penghargaan kepada mereka yang berprestasi, Perpustakaan Nasional berharap lewat kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan budaya gemar membaca untuk mengejar ketertinggalan informasi, meningkatkan kualitas pendidikan dan apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan.

Acara Penganugerahan Nugra Jasadarma Pustaloka dikemas dalam acara Gemilang Perpustakaan Nasional 2012 yang disemarakkan dengan musik dan persembahan lagu-lagu dari artis pendukung acara.
(/bo)

Mahasiswa Nias UGM Bersatu Untuk Maju

Tuesday, October 2nd, 2012

Yogyakarta, Kerinduan mahasiswa-mahasiswi Nias yang saat ini sedang duduk dibangku kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk membentuk satu wadah yang mempersatukan seluruh mahasiswa Nias di UGM akhirnya terwujud pada tanggal 24 September 2012. Pada hari Senin itu, bertempat di Auditorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melalui musyawarah bersama mahasiswa-mahasiswa Nias di UGM maka terbentuk sebuah organisasi mahasiswa yang diberi nama Kesatuan Mahasiswa Nias Universitas Gadjah Mada (KMN-UGM).

Kegiatan Musyawarah Bersama yang berlangsung sangat lancar dan efektif tersebut pada awalnya diprakarsai oleh 9 (Sembilan) orang mahasiswa/i Nias baik yang sedang kuliah pada program Vokasi, Sarjana (S-1) maupun Pascasarjana (S-2 & S-3) sehingga disebut dengan Tim 9 (Sembilan). Tim ini selama kurang lebih dua minggu mempersiapkan, memikirkan  sekaligus menggalang dana dari para kalangan mahasiswa Nias di UGM sendiri maupun partisipasi dari masyarakat Nias lainnya yang ada di Yogyakarta untuk menyukseskan pelaksanaan musyawarah bersama tersebut.

Tujuan dari pembentukan organisasi ini sendiri adalah untuk mengusahakan terwujudnya kesatuan mahasiswa Nias yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebudayaan, berwawasan luas, bertanggungjawab, kritis, serta berkepedulian sosial. Diharapkan dengan terbentuknya kesatuan mahasiswa Nias ini, maka tidak akan muncul perasaan pada masing-masing diri mahasiswa bahwa saya berasal dari Nias, Nias Utara, Nias Selatan, Nias Barat maupun dari Gunungsitoli, namun tetap satu sebagai “ONO NIHA”. Wilayah administratif bisa berbeda, tetapi jiwa dan semangat untuk membangun tetap untuk kepulauan Nias tercinta. Demikianlah yang terungkap dari para mahasiswa/i yang mengikuti acara ini.

Pada kesempatan Musyawarah Bersama ini, juga telah diadakan pemilihan Ketua dan Sekretaris Kesatuan Mahasiswa Nias Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yakni dengan terpilihnya Saudara WELLY JULY ARIYANTO ZALUKHU, mahasiswa vokasi kearsipan sebagai Ketua dan Saudari HELMINA ZEGA, mahasiswa vokasi Informasi Komunikasi & Sistem Informasi sebagai Sekretaris untuk periode 2012 – 2013.  Turut hadir pada musyawarah bersama ini adalah Bapak Rius Hia dan Bapak Titus Dachi yang merupakan sekretaris dan bendahara Ikatan Keluarga Nias (IKN) Yogyakarta.

Ini adalah satu langkah awal untuk berpikiran maju dari anak-anak Nias di UGM untuk membentuk karakter-karakter pemimpin di masa depan yang berinovatif, edukatif dan berintegritas tinggi. Sehingga mampu memimpin Nias ke depan menjadi lebih baik lagi. SEMOGA.  (Anta/Mammori)

Acara Sarasehan Bersama Masyarakat Nias Se Surakarta

Thursday, August 9th, 2012

Diberitahukan kepada seluruh Masyarakat Nias yang berdomisili di Kota Solo, Surakarta dan sekitarnya (Kota Surakarta, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Wonogiri, Klaten dan Sukoharjo) bahwa dalam rangka menyambut HUT RI ke 67, 17 Agustus 2012, serta untuk mempererat tali persaudaraan dan keakraban Masyarakat Nias di wilayah Surakarta, ONIS (ORAHUA NONO NIHA SURAKARTA) akan menyelenggarakan:

Acara Sarasehan Bersama Masyarakat Nias Se Surakarta

Hal ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Pengurus ONIS dengan beberapa tokoh-tokoh masyarakat Nias yang ada di Surakarta, pada hari Minggu, 08 Juli 2012 di Rumah Ketua ONIS Surakarta Bp. Ir. Yasiziduhu Ziliwu (Ama Vero Ziliwu), dan kemudian Pengurus ONIS merancang dan sekaligus membentuk panitia kecil pada hari Minggu, 22 Juli 2012 di tempat Bp. Yusuf Halawa (Ama Tius Halawa) Solo Baru.

Selanjutnya pada Rabu 25 Juli 2012 Panitia Kecil mengadakan rapat di Tempat Bp. Pdt. Fatizanolo Waruwu (Ama Pieter) selaku Ketua Panitia, untuk mengagendakan dan mempersiapkan acara dimaksud, dengan hasilnya adalah, antara lain:

  1. Pendahuluan Dalam rangka menyambut Hut RI Ke 67, 17 Agustus 2012, Masyarakat Nias Di Surakarta dan sekitarnya mencoba menyemarakkannya dengan Mengadakan Sarasehan Bersama.
  2. Latar BelakanganAdapun yang menjadi latar belakang pemikiran direncanakan Pelaksanaan Sarasehan Bersama Masyarakat Nias di Surakarta sekitarnya adalah :
    • A. ONIS Belum Pernah mengadakan sarasehan atau pertemuan bersama masyarakat Nias Surakarta, untuk Mengetahui perkembangan yang terjadi di pulau Nias selama ini.
    • B. Selama ini ONIS baru bergerak membangun kebersamaan dalam bentuk pertemuan rutin yang didasari pada kegiatan kerohanian Kristiani saja. Sehingga dirasa perlu membuat suatu acara bersama yang tanpa memandang latarbelakang, agama, asal, pendidikan, dan status sosial.
  3. Maksud dan Tujuan
    • Untuk memupuk rasa persaudaraan dan rasa solidaritas, serta Mempererat tali silahturahmi antar warga Nias yang berdomisili di Eks Karesidenan Surakarta (Kota Surakarta, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo dan Klaten), tanpa melihat latar belakang perbedaan (asal, agama, pendidikan, pekerjaan, status sosial, dsb).
    • Menghimpun, Merumuskan Dan Memperjuangkan Aspirasi Masyarakat Nias Di Surakarta Demi Kemajuan ONIS Serta Partisipasi Pemikiran Untuk Nias, Secara Proaktif Dan Proporsional.
    • Menyemarakkan Acara HUT RI Ke 67 17 Agustus 2012, bahwa warga Nias di Surakarta, menunjukkan rasa Nasionalismenya, dalam bentuk Sarasehan bersama
    • Sarasehan Ini Adalah Sarana Untuk Meningkatkan Kebersamaan Warga Onis Surakarta.
  4. Tema : TANO NIHA BANUA SOMASI DO
    Sub-Tema: Solidaritas masyarakat Nias Surakarta Terhadap Pembentukan Propinsi Kepulauan Nias.
  5. Pembicara: Bp. Ir. Firman Nefos Daeli, M.Kes. (Ama Feby) – salah seorang Anggota BPP PKN Pusat yang sekaligus Warga ONIS Surakarta, dan juga sebagai Penasehat serta salah satu penggagas terbentuknya ONIS Surakarta era tahun 1990 an
  6. Pelaksanaan
    Hari / Tanggal : Jum’at, 17 Agustus 2012
    Waktu : Jam 10.00 Wib (Acara Start jam 11.00 Tepat)
    Tempat : RS Panti Waluyo AULA Lantai V
    Jl. A. Yani No. 1 Kerten – Surakarta
  7. Susunan Panitia
    I.     PENASEHAT : Penasehat ONIS
    II.   PENYELENGGARA : ONIS – Surakarta
    III. PANITIA PELAKSANA:
    1. Ketua : Bp. Pdt. Fatizanolo Waruwu (A. Pieter)
    2. Sekretaris : Bp. Sozanolo Harefa (A. Lili)
    3. Bendahara : Bp. Damafati Gea (A. Yudi)
    4. Sie Dana / Humas /Korwil:
    Bp. Yusuf Halawa (A. Tius)
    Bp. Apeli Bu’ulolo (A. Zeva)

    • Korwil Utara : Bp. Andreas Ato (A. Ipo)
    • Korwil Timur : Bp. Pdt. N. Harefa (A. Joyfen)
    • Korwil Selatan : Bp. Yusuf Halawa (A. Tius)
    • Korwil Barat : Bp. Taholi Laia (A. Dea)

    5. Sie Acara:
    Bp. Taholi Laia (A. Dea):
    Bp. Apeli Bu’ulolo (A. Zeva)
    6. Sie Dokumentasi:
    Bp. Elimen Mendrofa
    Bp. Christian Zai (A. Vano)
    7. Sie Dekorasi /Perlengkapan:
    Bp. Andreas Ato (A. Ipo)
    8. Sie Konsumsi:
    Ibu Ny. Taholi Laia (I. Dea)

  8. Susunan Acara
    Pembukaan Oleh MC:

    • Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
    • Doa Pembukaan
    • Penjelasan Maksud dan tujuan acara

    Sesi Sarasehan
    Tanya Jawab

    • Berkaitan Materi
    • Berkaitan ONIS

    Penutup

  9. Penutup
    Diharapkan dukungan dari seluruh masyarakat Nias se Surakarta, untuk mensukseskan acara sarasehan ini, dengan:

    • Kehadirannya secara langsung dalam acara sarasehan tersebut
    • Menginformasikan, memotifasi dan Mengajak setiap orang Nias yang kita kenal untuk dapat ikut dan mendukung hadir pada acara sarasehan dimaksud
    • Dukungan sumbangan sukarela untuk kebutuhan biaya yang dibutuhkan

Kami pihak panitia sangat percaya bahwa dengan dukungan dari seluruh masyarakat Nias di Surakarta dan sekitarnya acara sarasehan ini akan terselenggara dengan baik dan sukses dan menjadi berkat bagi kita semua.

Surakarta, 27 Juli 2012

Salam dan hormat kami, an. Panitia

Ketua – Pdt. Fatizanolo Waruwu
Sekretaris – Sozanolo Harefa