Archive for the ‘Rasionalitas’ Category

Krisis Membuka Topeng Jiwa Kita

Saturday, August 28th, 2021
Beberapa waktu lalu kita disuguhi berita tentang usulan agar dibuatkan rumah sakit khusus untuk para pejabat negara. Alasannya? Mereka harus dilindungi secara khusus agar mereka bisa melaksanakan tugas mereka mengantarkan masyarakat keluar dari pandemik.
Ini terjadi di banyak negara sekarang, termasuk di negara – negara yang biasa kita kenal sangat ketat menjaga kepatuhan terhadap hukum. Entah mengapa di zaman pandemik ini, para pemimpin di negara – negara ini sama saja tingkah mereka dengan rekan – rekan mereka di tempat lain.
Mungkin perbedaannya adalah, di kita: para pejabatnya secara terang – terangan minta fasilitas khusus karena mereka merasa perlu diberi keistimewaan dalam hal perlindungan diri supaya mereka bisa mengeluarkan warga dari pandemik ini.
Di negara – negara lain, hampir sama keadaannya. Tidak terang – terangan lewat pernyataan langsung, tetapi lewat sikap munafik, melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Misalnya, mereka memaksakan warga menggunakan masker, tetapi ketika mereka berkumpul di antara mereka sendiri mereka hidup secara normal, seakan – akan tak ada krisis atau pandemik.
Ini misalnya terjadi baru – baru ini ketika para pemimpin G7 bertemu di Carbis Bay, Cornwall, Inggris dari tanggal 11-13 June 2021 (https://www.g7uk.org/). Di depan umum / pers, mereka bersalaman lewat persentuhan siku tangan dan menggunakan masker. Ketika mereka berkumpul di taman, barangkali dalam suatu perjamuan, wajah mereka kelihatan bersih dari masker, tak ada jarak antara mereka, telapak tangan si A melekat di punggung di B, saling bertatapan dari jarak dekat tanda keakraban. Tingkah mereka yang tak sesuai dengan protokol yang mereka gariskan sendiri dapat dilihat pada berbabagi foto dalam berita ini atau di video ini.
•••
Sangat wajar kita menunjukkan kejengkelan ketika melihat sebagian dari warga seakan – akan tak peduli atau mengabaikan prokes yang diberlakukan pemerintah. Misalnya saja ketika sebagian warga yang tak pakai masker. Akan tetapi kita kadang lupa, tidak semua orang mampu berada pada posisi sebaik atau seberuntung kita. Mungkin kita lupa, sebagian dari ibu – ibu atau bapak – bapak yang jualan di pasar tak punya kemewahan melaksanakan prokes standar itu seperti kita yang jengkel itu. Mereka harus dekat dengan calon pembeli, atau kalau cuaca cukup panas, sangat tidak higienis menggunakan masker kain tipis yang mudah menyerap keringat itu, yang justru menjadikannya sarang bakteri atau virus yang akan melekat di permukaannya. Dan situasi menjadi semakin parah kalau ibu atau bapak tadi menggaruk badannya atau mukanya, lalu secara refleks menyentuh permukaan masker. Bukan hanya itu, virusnya kan tidak hanya ‘terbang’ mendatar ke arah muka pemakai. Ketika si pemakai menarik nafas menghirup udara, mau tak mau udara juga masuk lewat celah di tepi penutup muka itu, terlebih ketika masker itu cukup lama dipakai, menyerap uap air, atau dipenuhi lapisan debu yang menumpuk. Hal yang sama (udara bocor lewat celah di tepi masker) terjadi ketika si pemakai menghembuskan nafas mengeluarkan udara.
Ibu / bapak dalam contoh di atas mewakili jutaan warga yang tiap hari bergelut dengan realitas kehidupan. Di lapangan, di kios – kios kecil dengan kerumunan orang. Di tempat – tempat pemotongan hewan. Di pom-pom bensin. Di sawah – sawah yang entah mana sumber virus koronanya sehingga masker itu ‘harus dipakai di mana saja’ – kalau memang benar dianjurkan demikian.
Dalam keadaan dengan pilihan terbatas itu, sebenarnya mereka tetap menggunakan nalar dan akal sehat mereka.
Di tengah krisis seperti ini, masker atau topeng jiwa kita sebagai manusia benar – benar sungguh – sungguh terbuka dan terungkap, pas pada saat kita mulai membiasakan diri memasang penutup muka badaniah kita.
* Tulisan ini disiapkan 8 Juli 2021, dimuat di Nias Online setelah mengalami perbaikan kecil.

Angka Sebelas, Kambing Hitam dan Mentalitas Korban

Monday, August 23rd, 2021

Waktu masih kecil saya suka mengamati anak-anak usia sebaya yang mendapat ‘kasih sayang istimewa’ dari orang tua mereka. Kisahnya kurang lebih seperti ini. Seorang anak yang sedang lari-lari (sendiri atau sedang bermain dengan teman-temannya) tiba-tiba jatuh, biasanya dalam posisi tertelungkup. Mungkin tidak seberapa sakitnya karena kedua telapak tangannya duluan menyentuh tanah – jadi bagian kepala dan badan terlindung dari bantingan keras dengan tanah. Tetapi keterkejutan itu – disertai sedikit rasa sakit – membuat emosi anak itu terguncang dan karenanya agak lama baru bangkit.

Apa yang akan terjadi sesudah sekitar 10 detik setelah kejatuhan itu sangat ditentukan oleh reaksi orang yang kebetulan ada di sekitar itu. (Biasanya anak yang jatuh di tempat sepi, bangkit dengan sendirinya setelah ia berhasil mengatasi dampak keterkejutan itu).

Kita akan bahas kasus di mana anak yang sedang terjatuh itu mendapat “pertolongan” dari sekitarnya, dalam hal ini ibu, ayah, atau salah seorang dari keluarga dekatnya.

Kita juga akan membahas bentuk pertolongan khusus, yang kita sebut saja: pemanjaan.

Dalam kurun waktu sekitar sepuluh detik setelah jatuh, ibu sang anak – katakanlah – merespons dengan langsung menggendong anak itu, sambil mengucapkan kata-kata ‘penghibur’, dan … ini: memukul meja atau kursi, atau tonggak yang ada di sekitar itu sambil berkata:

Börö ndra’ugö da’a mege wö meza / kurusi / toga … wa’alau khögu nono.

(“Gara-gara kaulah ini tadi meja / kursi / tonggak, makanya anakku jatuh … “) sambil sang ibu pura-pura memukul si kambing hitam itu.

Apa yang terjadi sedudahnya? Si anak – yang tadinya tak menangis justru pecah tangisnya, diawali dengan muka yang merengut … dan akhirnya air mata kemanjaan keluar … biasanya juga disertai angka sebelas (ingus) dari kedua lobang hidung.

***

Hampir dapat dipastikan, pada kejatuhan berikutnya, anak itu akan mencari perhatian ibu atau ayahnya dengan menangis … supaya mendapat kemanjaan yang dia nikmati pertama kali. Tentu saja kemanjaan ini nikmat rasanya. Digendong, diciumi, bahkan mungkin dibelikan roti.

Ada beberapa kesalahan fatal dari respons ibu terhadap jatuhnya sang anak.

Pertama, hal yang tadinya barangkali bisa diatasi sendiri oleh si anak (masalah sepele), justru dijadikan masalah besar. (Seperti dikatakan sebelumnya, kalau anak itu jatuh di tempat sepi, bisa jadi ia bangkit sendiri).

Kedua, si ibu mencuri kesempatan yang baik bagi anaknya untuk belajar mengatasi sendiri masalahnya (yang tidak terlalu serius).

Ketiga, si ibu menanamkan mentalitas korban (victim mentality) pada diri si anak (yang harus ditolong, digendong, dimanjakan), dengan:

Ke empat, mencari kambing hitam dari kejatuhan si anak; kambing hitam dalam wujud: meja, kursi, tonggak, dsb.

Anak yang mengalami pemanjaan macam itu, kalau tidak diekspos dalam lingkungan yang lebih baik (misalnya sekolah) kelak akan menjadi anak yang cengeng, mudah menangis, selalu bergantung pada orang lain, mengelak tanggung-jawab, dan … selalu mencari kambing hitam atas masalah yang dia hadapi.

Celakanya lagi, anak macam itu berpotensi menjadi objek bully dari teman-temannya. Dengan kata lain, secara tak sadar / tak langsung ia (lewat pemanjaan ibunya tadi) menciptakan lingkungan yang tak bersahabat bagi dirinya.

Ilustrasi di atas terjadi dalam skala kecil, pada diri seorang anak, oleh seorang ibu, mungkin secara tak sengaja karena terbatasnya pendidikan.

***

Bayangkan kalau itu terjadi dalam skala terstruktur, sistematis dan masif terhadap sebuah kelompok besar masyarakat oleh suatu institutsi. Dampaknya juga akan masif dan dari generasi ke generasi.

Menurut Candace Owens, seorang tokoh muda Konservatif dari keluarga berkulit hitam AS, itulah yang terjadi dalam masyarakat kulit hitam Amerika lewat program-program pemanjaan oleh Partai Demokrat.

Sejalan dengan Dinesh D’Souza [1], Candace Owens [2] menganggap Partai Demokrat dengan sengaja memilih kebijakan yang berdampak buruk pada nasib bangsa kulit hitam di Amerika. Tujuannya bukan untuk mengangkat bangsa kulit hitam ke tingkat yang sejajar dengan bangsa kulit putih Amerika. Tujuannya adalah menciptakan mentalitas ketergantungan akan program-program langsung pemerintah: bantuan sosial, kesehatan, perumahan sederhana, dsb. Tapi hanya sejauh itu, tak lebih.

Seperti dikatakan Dinesh D’Szouza, Partai Demokrat mengulurkan tali dari atas untuk kelompok-kelompok marjinal, supaya mereka terangkat sedikit … namun tak pernah mereka biarkan kaum ini sampai ke puncak. Sebaliknya, Partai Republik menyediakan tangga dan anak-anak tangga agar siapa saja yang mau naik ke atas, bisa sampai di atas. Statemen terakhir ini (tentang sikap Partai Republik) tentu saja juga harus disikapi secara kritis.

Dalam implementasinya, program-program populis Partai Demokrat sangat populer (per definisi), tetapi biaya sangat besar: menguras kas negara.

***

Selama 32 tahun zaman pemerintahan otoriter Suharto, Kepulauan Nias boleh dikatakan tak pernah mendapat perhatian pemerintah pusat. Pak Harto juga tak pernah berkunjung ke sana. Nias menjadi tempat pembuangan para pejabat yang tak berprestasi. Dan pejabat tinggi negara baru datang berkunjung ketika menjelang Pemilu. Maka Nias pernah mendapat kunjungan Adam Malik (yang menjanjikan pembangunan ‘menara tivi’) dan Sultan Hamengkubuwono IX. Harmoko juga berkunjung dalam rangka memenangkan kampanye Golkar, sejak kunjungan mana Nias menjadi dikenal dengan julukan Nias Indah Andalan Sumatera. Tapi itu semua hanya sampai pada janji-janji dan kata-kata.

***

Satu hal yang cukup melegakan dan membanggakan ialah umumnya masyarakat Nias tidak bermentalitas korban. Mereka tak pernah mengatakan: Nias korban penelantaran Suharto.

Secara sendiri-sendiri Ono Niha merasakan penderitaan, berusaha keluar dari penderitaan, dengan berbagai cara. Tanpa mengeluh berkepanjangan. Mereka yang tetap di Nias tetap bertahan dengan segala yang ada seadanya. Mereka yang sudah tak mampu bertahan tinggal di sana, keluar mencari kehidupan di luar kepulauan: menjadi apa saja.

Puluhan tahun kemudian, sejak awal tahun 1960an, kita bisa melihat kantong-kantong orang Nias di berbagai daerah dan kota di seluruh Indonesia. Mereka mendirikan berbagai perkumpulan antara mereka: ada yang bersifat lintas agama, ada yang berdasarkan marga, daerah, dan sebagainya. Khusus di kalangan orang Nias yang beragama Kristen Protestan, kita bisa menyaksikan berdirinya gereja-gereja Nias di berbagai daerah di seluruh tanah air.

Dan kita bisa menyaksikan usaha keras disertai keyakinan dan semangat yang membaja (“perseverance“) itu berbuah baik, dalam berbagai bentuk: peningkatan kualitas hidup, keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sosial politik (menjadi politisi, pejabat di berbagai lembaga negara, dst), kegiatan ekonomi (membuka usaha sendiri, menjadi pengusaha), menjadi pendidik, dst. secara cukup mengesankan.

Semua hal di atas hanya mungkin melalui perseverance tadi, serta sikap tak mudah mengeluh, tak mencari kambing hitam, dan tidak bermentalitas: ‘saya korban keadaan’.

Rujukan:

[1] Partai Anak Tangga Kesempatan vs Partai Pengulur Tali

[2] The Democrats don’t want black Americans to improve in the same way that drug dealers do not want their addicts to get clean.

* Tulisan ini disiapkan 10 Agustus 2019; dimuat di Nias Online dengan sedikit perubahan / koreksi.

PARANORMAL, BENCANA ALAM DAN SIKAP KITA

Saturday, June 13th, 2020

E. Halawa*

Catatan Redaksi: Tulisan in dimuat di Nias Portal (nias-portal.org – sudah tidak aktf lagi) pada tanggal 27 April 2005, sebulan setelah Gempa Nias 28 Maret 2005, dan masih relevan dalam situasi krisis COVID-19 saat ini. Tautan pada artikel yang dirujuk juga sudah diubah.

Beberapa waktu lalu, di sebelah kiri halaman utama situs ini (nias-portal.org – Red.) tertayang jajak pendapat (polling) tentang gejala paranormal. Hingga saat berita ini ditayangkan, telah 76 orang ikut memberikan suara dalam jajak pendapat itu, dengan hasil sebagai berikut.

Ada sebanyak 3 orang (3.95%) yang memberikan suara pada pilihan pertama: Menarik sekali dan mencerahkan pikiran. Pada pilihan kedua, Merusak akal sehat, perlu dijauhi, suara sejauh ini “mayoritas”, yaitu sebanyak: 35 suara (46.05%). Untuk pilihan ketiga, Tertarik (yang merupakan bentuk lebih “halus” dari pilihan pertama) ada sebanyak 10 orang (13.16%) yang memberikan pilihannya. Pilihan keempat (Omong Kosong) dipilih oleh 16 orang (21.05%) sementara pilihan kelima dan keenam (Ragu-ragu dan Tidak tahu) masing-masing mendapat 8 suara (10.53%) dan 4 suara (5.26%).

Sebenarnya ke enam pilihan diatas dapat diciutkan menjadi 3 kelompok: (a) kelompok yang menganggap gejala paranormal sebagai hal yang positif (pilihan 1 dan 3), (b) kelompok yang menganggapnya hal yang negatif, merusak, dan karenanya perlu dijauhi, (c) kelompok yang ragu-ragu atau tidak tahu, jadi belum menentukan sikap apakah masuk dalam kelompok pertama atau kelompok kedua.

Keberagaman hasil dari jajak pendapat di atas, walau hanya diikuti oleh sedikit orang, sedikit banyak mencerminkan cara pandang masyarakat Nias, dan juga masyarakat Indonesia terhadap gejala paranormal.

Seiring dengan beruntunnya bencana alam yang melanda bangsa kita, “pamor” paranormal mulai naik melalui “ramalan-ramalannya” yang kelihatannya akurat, jitu dan “memperingatkan” masyarakat. Naiknya “pamor” paranormal itu sedikit banyaknya didukung juga oleh sikap kita yang kelihatannya, sadar atau tidak, mulai mensejajarkan para praktisi paranomral dengan para ilmuwan yang ahli di bidangnya, dengan para nabi dalam agama-agama besar, dan bahkan secara tak sadar mensejajarkannya dengan TUHAN sendiri. Ketika para praktisi paranormal mengeluarkan “ramalan”, kita semua menjadi terpaku, diam, terpukau, terpesona, dan “mengaminkan”.

Memang, efek dari ramalan para praktisi paranormal lebih “dahsyat” daripada peringatan-peringatan para ilmuwan yang kompeten di bidangnya. Mengapa ? Karena para ilmuwan itu, ketika menyampaikan sebuah peringatan, umumnya melakukannya dengan hati-hati, mengeluarkan pernyataan sejauh data yang bisa mereka andalkan, dan bahkan tidak jarang diakhiri dengan ucapan semacam: “wah .. kalau soal waktunya, saya/kami/kita tidak tahu”.

Lain halnya dengan para praktisi paranormal. Berbekalkan kejadian bencana sebelumnya, mereka dengan mudah “mengarang ramalan” baru berikutnya yang sering menohok dan melemahkan kesadaran atau pikiran jernih kita.

“Gempa dahsyat yang lebih besar yang disertai tsunami akan datang lagi. Gempa ini datang untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptor. Gempa ini datang karena manusia sudah semakin jahat dan bejat …”. Ramalan dengan nada ancaman khas seperti ini biasanya datang dari para praktisi paranormal.

Tidak heran, kita yang mendengarnya dan menyimaknya, tidak jarang termakan kekuatan “sugesti” kalimat-kalimat bernada mengancam dan sekaligus kelihatan “masuk akal” itu. Bukan hanya itu, kita juga diberi kesan, seakan para praktisi paranormal merupakan “penyambung” lidah para nabi, melalui peringatan-peringatan yang terkesan “spiritual.” Maka, orang yang menjadi korban sugesti – saudara, famili, teman kita, atau bahkan kita sendiri – bisa kehilangan akal sehat, menjadi panik, dan mengambil keputusan-keputusan yang terburu-buru yang bisa saja sangat merugikan kita.

Benarkah bencana dan tsunami datang “untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptor”. Benarkah “gempa ini datang karena manusia sudah semakin bejat …” ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa hanya berupa “Ya” atau “Tidak”. Untuk menjawabnya, mari kita melihat berbagai kenyataan secara jernih.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang peneliti kebumian. Ketika beliau tahu bahwa saya berasal dari Nias, beliau secara spontan berseloroh (tapi toh terkesan bernada serius) kurang lebih: “Wah hati-hati, Pak, Kepulauan Nias itu terletak dalam jalur rawan gempa.” Ucapan ini bagaikan “vonis mati”; saya hanya bisa merespons secara pasif, memendamnya ke alam bawah sadar. (Paragraf ini pernah dimuat dalam tulisan lain berjudul: BUMI YANG “MARAH”, TUHAN YANG “DIAM”).

Jadi, gempa dan tsunami di daerah-daerah rawan gempa seperti di Nias dan sepanjang pantai barat Sumatera memang sudah diketahui sejak dulu oleh para ilmuwan, jauh sebelum para praktisi paranormal mulai “meracuni” udara kesadaran dan akal sehat kita dengan ramalan-ramalannya.

Mari kita mengambil contoh di luar kita. Jepang merupakan negara yang selalu menjadi langganan gempa. Dari berbagai informasi yang dapat kita yakini, kita juga tahu bahwa tingkat korupsi di Jepang jauh lebih kecil dari tingkat korupsi di Indonesia. Toh, gempa selalu menggoyang dan menggoncang Jepang, dari dulu, hingga sekarang. Lalu bisa saja kita membela para praktisi paranormal dengan mengatakan “karena orang-orang Jepang tidak begitu korup, tidak begitu jahat dan bejat dibandingkan dengan orang-orang Indonesia, maka korban gempa dan tsunami di Jepang sangat kecil.” Argumen “rasional-semu” ini tentu saja tidak bisa kita terima. Kemajuan teknologi membuat Jepang lebih aman terhadap ancaman bencana alam. Rumah-rumah dan gedung-gedung di Jepang tahan terhadap gempa, pantai-pantai di Jepang dibentengi dari terpaan dahsyat tsunami, di samping itu masyarakat Jepang dibekali dengan sistem peringatan dini terhadap bencana gempa dan tsunami.

Lantas, bagaimana seandainya gempa dashyat dan tsunami datang lagi ? Apakah ini tidak juga menunjukkan “kebenaran” dari ramalan para praktisi paranormal ? Ada tidaknya ramalan paranormal tentang gempa dahsyat dan tsunami tidak terkait dengan kemungkinan datang atau tidaknya lagi bencana dahsyat itu.

Terperangkap Jaring Paranormal
Mengapa kita berbicara banyak tentang hal ini ? Alasan utama adalah, karena berdasarkan hasil jajak pendapat yang disinggung di depan, ternyata sebagian dari kita telah “terperangkap” dalam “jaring” kepercayaan terhadap paranormal. Rasionalitas sebagian dari masayarakat kita telah ditohok, diperlemah oleh gejala paranormal. Sebagian dari kita sudah mulai memanfaatkan paranormal untuk memperkuat argumen-argumen kita, untuk menyerang lawan-lawan “politik” kita, untuk “memperlancar keberuntungan” kita, untuk mencari penyembuhan atas penyakit-penyakit kita, untuk “menghukum” dan “mengutuk” para koruptor dan orang-orang jahat, untuk melarikan diri dari dunia realita kita, dan sebagainya.

Kalau kita merenungkan kembali bencana gempa dahsyat yang baru saja meluluh-lantakkan Nias, kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa korban bukan hanya para koruptor dan orang-orang jahat. Korban berasal dari berbagai lapisan sosial, agama, suku bangsa, orang kaya, orang miskin, para koruptor, warga yang lugu dan berwawasan sederhana, yang tak pernah “menghisap” orang lain, ibu-ibu yang berhati lurus, anak-anak yang belum tahu apa artinya (belum besentuhan dengan) dosa, dan sebagainya.

Menakjubkan Karya Tangan Tuhan
Lantas, mengapa bencana melanda dan memporak-porandakan Nias ? Jawaban yang sederhana, dan mungkin saja memancing kembali “perbantahan” adalah: kita tidak tahu. Orang-orang yang memiliki kepercayaan pada Tuhan boleh melangkah setapak ke depan dengan memberi jawaban bersifat religius: “Hanya Tuhan yang tahu. Alam semesta adalah ciptaan dan milik-Nya, maka Dia berhak melakukan apa saja terhadap milik-Nya. Mahaagung Tuhan, dahsyat dan memukau segala perbuatan dan karya tangan-Nya. Terpujilah Dia selama-lamanya. Amen”.

Kepasrahan seperti tertulis di atas jauh lebih bermakna dari pada mencari penjelasan paranormal. Kepasrahan seperti di atas melahirkan kedamaian, permenungan, refleksi, melahirkan niat suci ke depan, menumbuhkan kembali harapan yang hampir-hampir musnah, sebab “mempesona, mengagumkan dan agung karya Tuhan atas segala ciptaan-Nya”. Itu berarti, sesudah bencana akan muncul harapan baru dan kepulihan; tentu saja dengan syarat: ada pembaharuan total dalam sikap. Kalau di masa lalu kita menganggap “yang lain” sebagai musuh, sebagai objek isapan, objek kebencian, objek empuk pikiran negatif kita, maka pascabencana kita harus membalikkan itu semua. Kita harus “berbaur” dengan dan “menjadi sahabat” siapa saja yang tadinya kita anggap “musuh”. Kita harus tinggal dalam “tenda” yang sama dengan mereka yang tadinya kita anggap bukan bagian dari kita. Singkat kata: kita harus melihat yang lain sebagai sesama, sebagai saudara.

Masih perlukah sebuah gempa (dan bahkan tsunami) yang lebih dahsyat lagi untuk memperbaharui sikap kita ? Kita tidak perlu berpaling kepada paranormal untuk menjawabnya, karena kita bisa dan sebaiknya menjawabnya sekarang.

Mafia Berkeley, Sekali Lagi (bagian 1 dari 3 tulisan)

Saturday, March 10th, 2012

Oleh Ari Perdana*

Catatan Redaksi: Jum’at (9/3/2012) pukul 02.30 Wib lalu, Prof. Widjojo Nitisastro, salah satu orang penting pemerintahan Soeharto dan tokoh besar perekonomian Indonesia, meninggal dunia. Prof. Widjojo yang juga sebagai konseptor dari Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), program Keluarga Berencana dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada era Orde Baru tersebut dikenal sebagai salah satu ‘orang besar’ yang menentukan arah pembangunan Indonesia dan menjadi seperti saat ini. (more…)

Iman dan Pil Pahit Rasio: Antara Bukti Adanya Allah dan Rasionalitas Iman Akan Adanya Tuhan

Saturday, November 27th, 2010

Oleh Sirus Laia*

Rasanya tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan, bahwa akhir-akhir ini teologi dogmatik mengalami rasa jenuh. Jenuh dalam arti, ia terjerat dalam rutinitas yang menekan, dan tidak mampu menawarkan horizon baru, yang bisa menimbulkan impuls-impuls baru dalam diskusi.

Tetapi tidak demikianlah dengan teologi fundamental dan teologi agama, yang dulu kita kenal sebagai filsafat agama atau ilmu perbandingan agama. Kedua disiplin ini lagi mengalami “kebangkitan” kembali. Terutama disiplin yang terakhir itu banyak menggulirkan tema-tema kritis yang hangat didiskusikan luas akhir-akhir ini. Salah satunya adalah tema pluralismus, yang mempertanyakan kedudukan sentral agama Kristen terhadap agama-agama lainnya dan erat terkait dengan itu peranan sentral Kristus (baca: satu-satunya) dalam sejarah keselamatan Allah. Barangkali di lain kali kita punya kesempatan untuk mengintip ke dalam tema-tema kontroversial tsb. Dalam tulisan ini saya batasi diri pada tendens (atau hanya fenomena belaka?) yang muncul di haribaan teologi fundamental.

Kebangkitan Kembali ABBA
Dalam dua dekade terakhir teologi fundamental menampakkan tanda-tanda kebangkitan kembali interese untuk meninjau ulang argumen bukti-bukti adanya Allah (selanjutnya disingkat ABBA). Menarik, sebab sampai sekarang belum ada ABBA yang sukses. Kisahnya selalu berakhir pada kapitulasi iman di hadapan ratio. Yang baru dari kebangkitan kembali ini adalah pergeseran strategi. Jadi masalahnya bersifat epistemologis, artinya di sini dimasalahkan bukan soal ada atau tidak adanya Allah, melainkan soal bagaimana kita bisa mengenal bahwa Dia ada atau tidak ada. Fenomena kebangkitan kembali ABBA ini terutama menarik, karena ia bukan hanya muncul di kalangan para teolog fundamental Katolik, yang secara tradisional melahap porsi tertentu ABBA dalam disiplinnya, melainkan juga di antara teolog Protestan, terutama yang berhaluan Kalvinistis (dikenal di Jerman sebagai reformierte Theologen). Pendekatan-pendekatan dari mereka bahkan menyuntikkan darah segar dalam tema ini, sehingga pantas dipertimbangkan sebagai alternatif oleh para teolog Katolik, terutama apa yang dinamakan ABBA berdasarkan pengalaman religius

Tiga tokoh utama yang aktif dalam pembaharuan epistemologis ABBA ini: Alvin Plantinga, William P. Alston, dan Nicholas Wolterstorff. Ketiganya adalah teolog berhaluan Kalvinistis dari daerah berbahasa Inggeris, tetapi nampaknya menimbulkan gema di Jerman, yang dikenal sulit ditembus temboknya dari luar. Yang menarik adalah: kendati tetap berpijak pada tradisi teologi protestan, yang berpegang teguh pada jurang tak terjembatani antara rasio dan iman, mereka menceburkan diri dalam usaha mencari kemungkinan bagaimana rasio toh bisa memainkan peranan penting dalam beriman. Kendati pendekatan ini berbeda, strategi sedemikian mengingatkan kita pada tradisi teologi Katolik, yang enggan mengadu rasio dengan iman, dan cenderung menjembatani keduanya (Ingat tradisi skolastik yang bisa disimpulkan dalam ungkapan Anselm dari Canterbury berikut: credo ut intelligam — saya percaya, supaya saya mengerti).

Jadi bagaimanakah posisi mereka? Mereka beranggapan, bahwa beriman itu rasional. Tetapi dengan tegas mereka juga menolak, bahwa iman harus dimasak dulu dalam periuk rasio sebelum mendapat atribut rasional. Jadi di sini mereka masih protestan, dan dengan demikian merelatifkan kedudukan ABBA sebagaimana bisa diduga ada dalam teologi fundamental Katolik. Karena itu mereka tidak begitu antusias menjalankan ABBA, artinya mencoba membuktikan adanya Allah. Eksistensi Allah tak dapat dibuktikan, melainkan dikenali dan dialami! Rasio dan iman tetap tak dapat dijembatani. Prinsip credo ut intelligam, tak meyakinkan mereka. Jadi kalau demikian kemanakah argumentasi diarahkan? Nah di sinilah muncul pendekatan yang menarik.

Rasional: Apanya?
Ketiga epistemolog di atas mengejutkan kita dengan pertanyaan mereka yang sangat sederhana tetapi membongkar “kesalahan” dalam cara berpikir kita dari dasarnya. Misalnya mereka bertanya: Mengapakah untuk percaya kepada Allah engkau membutuhkan ABBA? Bukankah engkau telah mengalami kalau Allah itu ada dan berkarya dalam hidupmu? Nah, yang perlu diperiksa secara rasional itu bukanlah iman akan Allah, melainkan kebalikannya! Saya mengatakan di atas tadi “membongkar”, sebab demikian lazim kita berpikir, bahwa iman akan Allah itu tidak rasional, sehingga kita tidak pernah berpikir, bahwa sebaliknyalah yang harus diuji secara rasional.

Hal ini sebenarnya tidak sulit untuk dibayangkan. Selama ini orang berimanlah yang panas dingin harus membuktikan kepada para ateis (baca: para rasionalis) bahwa beriman itu rasional. Sementara para ateis bisa tenang-tenang memberi sanggahan, tanpa harus membuktikan rasionalitas posisi mereka. Seolah orang beriman selalu berada posisi lemah. Padahal iman kan berdasar dari pengalaman? Bukankah setiap lembaran dari KS merupakan rekaman pengalaman iman kaum terpilih? Mengapakah Yesus harus membuktikan adanya Allah? Bukankah Dia berkomunikasi dengan Allah itu sendiri? Mengapakah Ia harus membuktikan bahwa imannya akan Bapa-Nya rasional? Bukankah sebaliknya: adalah tidak rasional bagi Yesus untuk tidak beriman kepada Allah Bapa-Nya, yang kehadiran-Nya Dia alami dalam hidup-Nya? Pertanyaannya bagi Yesus bukanlah apakah iman-Nya kepada Allah rasional, melainkan apakah ketidakberimanan kaum ateis itu rasional! Jadi yang harus dibuktikan adalah rasionalitas anggapan para ateis, bahwa Allah tidak ada. Yang harus dibuktikan bukanlah, apakah iman bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang hidup, asal dan tujuan dunia ini. Sebaliknyalah yang harus dibuktikan, apakah pertanyaan-pertanyaan tsb. bisa dijawab secara rasional tanpa iman? Bisakah diterangkan asal dan tujuan hidup kita di dunia ini tanpa iman kepada Allah? Bisakah dijelaskan secara rasional tanpa iman mengapa alam semesta ini ada dan proses evolusi itu berlangsung? Justru dalam hal ini pandangan ateistis berada pada posisi lemah, sedangkan iman mempunyai jawaban-jawaban “rasional” terhadap pertanyaan-pertanyaan
itu.

Jadi rasionalitasnya bukan terletak pada obyek yang mau dibuktikan keberadaannya, melainkan pada keputusan kita untuk meyakini adanya obyek yang mau dibuktikan itu. Obyek tidak pernah dikatakan rasional. Dia hanya entah ada atau tidak ada. Yang rasional adalah orang yang membuat statement tentang obyek tsb. Contohnya tidak sulit. Misalkan seseorang menyuguhkan statement: planet yupiter itu ada. Kita tidak akan bisa mengatakan, yupiter itu rasional. Yupiter itu ada atau tidak ada. Statement bahwa dia ada itu bisa benar atau salah, tetapi yupiter sendiri tidak bisa dikatakan rasional. Orang yang membuat statement itulah yang disebut rasional atau tidak. Bila statementnya ditunjang oleh argumen-argumen yang kuat, maka kita mengatakan dia itu rasional. Sebaliknya ia kita sebut tidak rasional, bila ia berpegang pada statementnya, tanpa ada argumen yang mendukung untuk itu. Analog bisa kita terapkan hal ini pada pertanyaan mengenai eksistensi Allah. Rasionalitas itu tidak terletak pada Allah, melainkan pada orang yang percaya kepada Allah. Seorang yang percaya kepada Allah kita sebut rasional, bila ia memang memiliki alasan-alasan yang lebih mendukung kepercayaannya itu daripada ketidakpercayaannya, jadi semacam “bukti” adanya Allah (dalam contoh di atas: Yesus dan pengalaman religius-Nya). Dan ia kita katakan tidak rasional, bila ia memiliki “bukti” yang lebih mendukung kepada imannya, tetapi memilih untuk tidak beriman!

Masalahnya adalah apakah bukti itu, dan bagaimana membuktikannya? Artinya menyangkut kriteria dan metode untuk menjalankan kriteria tsb (verifikasi). Nah, untuk ini perlu pembeda-bedaan, sebab tidak semua statement memiliki gradasi verifikasi yang sama. Ada statement yang kebenarannya bisa dibuktikan tanpa menuntut usaha maksimal. Misalnya bila dikatakan: di Medan ada ular yang panjangnya satu kilometer. Maka untuk mengverifikasi hal ini, cukup kalau kita berangkat ke sana dan melihatnya apakah memang ada ular sepanjang 1 km tsb. Tetapi ada statement yang lebih sulit untuk diverifikasi. Katakanlah misalnya pernyataan: X seorang ksatria sejati. Barangkali untuk membuktikan hal itu kita menyebut satu atau dua perbuatan yang telah dilakukan oleh X. Tetapi sekaligus kita “tahu”, bahwa dengan menyebut kedua perbuatan X tsb. kita belumlah “seluruhnya” (ekshaustif) membuktikan bahwa X seorang ksatria sejati. Sebab hal yang dimaksud dengan ksatria sejati itu lebih “mendalam” daripada satu dua perbuatan konkrit. Bahkan pernyataan itu menginklusifkan sikap dan perbuatan-perbuatan X di masa depan. Karena itu proses verifikasinya tidak berhenti pada satu dua bukti seperti pada kasus ular sepanjang 1 km di atas, melainkan masih berlangsung terus sampai masa depan. Baru setelah X meninggal kita boleh mengatakan secara definitif apakah X memang benar seorang ksatria sejati. Hal yang sama juga berlaku bagi teori evolusi. Bagaimana membuktikan hal itu? Kendati teori tsb. adalah teori ilmiah sains, untuk “membuktikannya” paling-paling bisa ditunjuk hal-hal yang menunjuk (indikasi) pada adanya proses evolusi itu. Tapi bukti “tuntas” tak ada!

Tetapi dalam kasus-kasus di atas ini kita masih bisa menjalankan verifikasi karena obyek yang dimaksud masuk dalam “waktu dan ruang”, artinya selalu merupakan bagian dari dunia ini, yang bisa kita “pandang” dari jarak jauh, artinya suatu hal yang bisa di-obyek-kan. Tetapi bagaimana dengan asal usul alam semesta, tentang adanya Allah, bahwa Allah telah berkarya dalam diri Kristus? Hal-hal ini tidak dapat diobyektivikasikan, sebab ia tidak masuk bagian “waktu dan ruang” dunia ini, melainkan keseluruhan dunia ini dan bahkan melebihinya. Untuk membuktikan bahwa Allah berkarya di dalam dunia tak dapat ditunjuk misalnya terjadinya mukjijat, sebab itu mengandaikan bahwa dunia normal di luar Allah, dan hanya sekali-sekali Ia menyentuhkan jari ke dalam dunia bila terjadi mukjijat, yang sangat jarang terjadi. Padahal dunia dan segala isinya adalah ciptaan Allah. Bahwa air mengalir, angin berhembus, pohon bertumbuh, anak lahir, itu semua masuk dalam lingkup karya Allah. Argumen yang bertopang pada mukjijat justru pada hakikatnya bersifat ateistis, seolah dunia ini bukan dari Allah, dan bahkan Ia kemungkinan besar telah mati, sebab bukankah mukjijat tidak terjadi lagi?

ABBA: Bukti atau Jalan?
Bila demikian masalahnya, artinya bila eksistensi Allah tidak bisa diverifikasi dengan berpegang pada satu perisitiwa dalam dunia, jadi bagaimana membuktikannya? Para teolog Kalvinistis di atas memiliki hanya satu jawaban: eksistensi Allah tidak bisa dibuktikan, melainkan dialami dan dikenali. Dan dalam hal ini seseorang disebut rasional, bila ia mempercayai pengalamannya. Jadi bukan argumen rasional yang membuat kita yakin akan adanya Allah, melainkan keyakinan akan Allah, pengalaman tentang pengaruh-Nya dalam hidup kita, itulah yang membuat argumen kita rasional. Dan dalam hal ini para teolog Kalvinis ini sangat selaras dengan para teolog skolastik yang sebenarnya tidak mau menyodorkan bukti-bukti adanya Allah, melainkan menunjuk “tangga” atau “jalan” untuk mengenal Allah. Eksistensi dan pengalaman bersama Dia selalu telah diandaikan. Karena itulah Anselm tidak membuktikan adanya Allah, melainkan mencoba mengerti bagaimana memahami eksistensi Allah dalam hidupnya. Bahkan Anselm sendiri menulis ABBA versinya sendiri dalam bentuk doa kepada Allah. Mana mungkin ia baru membuktikan adanya Allah, yang kepadanya ia sedang berkomuniskasi dalam doa?

Demikian juga St. Thomas Aquinas yang mewariskan kepada kita lima bukti adanya Allah yang terkenal itu. Thomas sendiri menyebutnya lima jalan (quinque viae), dan bukan bukti. Jadi dia menunjuk lima jalan, yang bisa menuntun kita kepada kenyataan di belakang fenomena dunia ini, yakni Allah sendiri. Kelima argumen itu merupakan batu loncatan saja untuk mengenal Allah. Hal-hal fana tidak bisa membuktikan hal baka, tetapi bisa menunjuk kepadanya!

Bila demikian mengapakah filsafat dan teologi terlanjur menganggap jalan-jalan pengenalan ini menjadi ABBA? Asal-muasalnya bisa dirunut pada filsafat modern sejak masa pencerahan (Aufklärung), yang mencoba berpijak pada kemampuan rasio sendiri, tanpa mengandaikan eksistensi Allah. Sejarah menunjukkan bahwa telah terjadi perang antara iman dan rasio, yang akan tetapi lahir dari perebutan kekuasaan antara kekuatan-kekuatan ilmu pengetahuan dan institusi Gereja. Jadi awal-awalnya munculnya diskrepanz antara ilmu dan iman itu lebih bersifat politis. Penguasa Gereja, yang menganggap segala otoritas (ilahi dan duniawi) berada dalam tangannya, berusaha dilucuti oleh para ilmuan yang mencoba memperjuangkan otonomi dari ilmu pengetahuan, yang mengarah kepada konflik (ingat kasus Galileo Galilei). Akibatnya adalah pecahnya harmoni iman dan rasio versi skolastik, dan perang yang berkelanjutan antara keduanya. Yang paling merasakan kerugian tentu Gereja, sebab tidak jarang ia mempertahankan satu pandangan pseudo ilmiah yang sebenarnya secara ilmiah nonsens.

Konflik abadi Rasio dan Iman?
Pertanyaannya kini di ambang era postmodern ini adalah: apakah rasio dan iman itu memang benar tidak memiliki titik temu? Haruskah kita mempertahankan konflik rasio-iman warisan jaman Aufklärung? Ataukah di postmodern ini kita harus kembali melihat fenomena yang namanya manusia itu secara keseluruhan, dan itu berarti rasio dan imannya? Bisakah manusia postmodern melepaskan diri dari bayang-bayang permusuhan antara otoritas ilmu dan otoritas agama yang berakibat pada pseudo konflik iman-rasio?

Di tahap awal masa Aufklärung berdiri Immanuel Kant, yang sampai pada kesimpulan, bahwa Allah tidak memiliki tempat dalam lingkungan rasio, yang disebutnya rasio murni (reine Vernunft). Dia mengadakan dikotomi antara rasio murni dan rasio praktis. Rasio murni adalah apa yang biasa kita kenal secara umum sebagai rasio, sedangkan rasio praktis dimaksud rasio menurut kategori moralitas. Dan menurut dia Allah tidak termasuk kategori rasio murni, dan karena itu kita tidak mungkin mengenal Dia dalam modus rasio. Allah hanyalah merupakan tuntutan dari hidup moral praktis (Postulat der praktischen Vernunft). Allahlah yang menjadi garansi supaya yang kita sebut “baik” secara moral itu memang baik adanya. Tanpa Allah sifat imperatif moral tidak memiliki dasar, tanpa jaminan keabsahan. Kendati Kant bukan seorang ateis (Kant tidak menolak eksistensi Allah), dia tidak melihat kemungkinan sedikit pun bahwa rasio (rasio murni!) bisa mengenal Allah. Logika Kant adalah: Kategori dari rasio kita bersifat terbatas. Dan karena itu ia hanya bisa menyerap obyek yang sifatnya terbatas (endlich, fana). Sedangkan Allah itu menyandang atribut tak terbatas (unendlich, baka), yang dalam kosa kata Anselm “Yang Maha Besar, yang tak dapat dibayangkan, bahwa ada yang lebih besar dari Dia” (aliquid quo nihil maius cogitari potest). Jadi kesimpulannya: rasio tidak akan bisa mengenal Allah. Selain itu menurut Kant, adalah tidak mungkin bagi Allah masuk dalam kategori rasio kita. Sebab secepat Dia “membatasi” diri masuk kategori terbatas, atribut ke-tak-terbatas-an-Nya otomatis terlucuti alias ke-Allah-an-Nya
terlukai. Dan itu tidak mungkin.

Kant hampir menjadi otoritas sakral dalam filsafat, yang kepadanya para filsuf sesudah dia harus mengorientasikan diri. Pernah ada usaha dari Neo-Skolastik mencoba mengatasi batas demarkasi rasio yang digariskan Kant dengan menempuh apa yang dinamakan metode transendental. Artinya mereka setuju dengan Kant, bahwa rasio yang terbatas tak mungkin bisa mengenal Allah yang tak terbatas. Tetapi bahwa kita mengenal ke-terbatas-an itu, itu sendiri sudah menunjuk, bahwa ada yang tak-terbatas. Jadi melalui metode ini mereka menempuh strategi “memakai Kant untuk mengatasi Kant”. Dalam daerah inilah banyak teolog modern menjalankan refleksinya.

Sekali lagi Demarkasi
Awal abad ini batas demarkasi antara rasio dan iman itu dihidupkan kembali oleh Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf asal Austria yang mempengaruhi aliran-aliran utama filsafat di daerah yang berbahasa Inggeris, terutama yang dinamakan filsafat bahasa. Wittgenstein adalah seorang filsuf yang hidupnya sangat bersahaja, bukan seorang Katolik aktif, kendati di dalam batinnya ia seorang saleh, seperti bisa dilihat dari Buku Hariannya.

Juga bagi Wittgenstein Allah tak bisa dikenal dalam modus rasio. Dia membuat pembedaan mendasar antara “hal yang bisa diungkapkan” (dan itu maksudnya, yang bisa secara rasional dikenal dan diuraikan), dan “hal yang tak dapat diungkapkan”. Logika Wittgenstein adalah: apa yang bisa dijelaskan, bisa juga dijelaskan. Itulah optimisme ilmiah, yang menganggap segala hal dalam dunia ini bisa diuraikan secara ilmiah. Selebihnya adalah omong kosong. Dan karena pengalaman religius itu tak bisa diuraikan secara eksakta, maka ia masuk dunia yang tak dapat diungkapkan, dan itu berarti secara ilmiah omong kosong. Toh, itu tidak berarti, bahwa Wittgenstein menyepelekan pengalaman religius. Bahkan dalam karya utamanya Tractatus, dia menegaskan: kalaupun suatu hari pertanyaan-pertanyaan ilmiah semua terjawab, pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah hidup belumlah terjawab dengan itu. Dan dia menambahkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan jauh lebih penting daripada pertanyaan-pertanyaan ilmu! Tetapi Wittgenstein adalah korban dikotomi dua dunia.

Properly Basic
Jadi di manakah terletak masalahnya, sehingga dilema dua dunia itu bisa terjadi? Atau memang itulah nasib kita sebagai manusia, harus menelan pil pahit rasio, dan akhirnya harus memoles di atasnya iman, yang lebih baik dicap “buta” dan omong kosong?

Para teolog Kalvinistis di atas mencoba menunjuk, bahwa dilema ini sebenarnya pseudo-dilema, dan berdasar pada kesalahan dalam cara berpikir kita mengenai kriteria dan metode verfikasi ilmiah. Mereka menyebut cara beargumentasi ala verifikasi semacam ini sebagai classical foundalism, yang dalam perangkapnya hampir semua orang terjerat. Menurut Plantinga ada inkoherensi dalam argumentasi ala verifikasi ini, dan inkoherensi tsb. sudah melekat pada premis dasarnya, yang dianggap merupakan proposisi dasar, yang tak membutuhkan evidensi lebih lanjut lagi (artinya bersifat properly basic). Tapi Plantinga bertanya, dari mana kita tahu bahwa premis dasar tsb. sudah properly basic? Konkrit itu berarti: bagaimana kita tahu bahwa premis berikut “satu hal baru bisa mendapat atribut bereksistensi, kalau hal tsb. bisa dibuktikan” (premis yang dipakai untuk melawan eksistensi Allah) dalam dirinya sudah eviden, artinya sudah jelas, tak membutuhkan pen-dasar-an lebih lanjut? Orang yang fanatik mempertahankan rasio pun tidak bisa mendasarkan hal ini lebih lanjut secara rasional! Jadi setiap proposisi toh didasari oleh satu proposisi dasar yang tidak bisa didasarkan lagi?

Ya, keabsahan dari premis itu memang tidak bisa dibuktikan lagi, melainkan merupakan satu hal yang diterima begitu saja, jadi sifatnya tidak rasional dan harus dipercaya saja, bahwa memang demikianlah adanya! Ia merupakan satu proposisi yang disebut properly basic yang tak perlu didasarkan lagi.

Pertanyaannya ialah: mengapa hal itu bisa berlaku bagi proposisi rasional ilmiah, dan tidak boleh untuk proposisi religius dan teologis, dan karena itu juga seyogyanya disebut rasional? Nah, di situlah kesalahan cara berpikir umum. Artinya kita sudah terlanjur mendiskriminasikan sejak awal-awalnya proposisi religius bila berhadapan dengan proposisi ilmiah, yang seolah-olah merupakan satu-satunya proposisi yang berhak mendapat atribut rasional. Padahal sebenarnya setiap proposisi berlandaskan pada satu proposisi dasar yang disebut properly basic, yang masing-masing berbeda untuk setiap bidang. Jadi ada proposisi properly basic untuk proposisi ilmiah dan ada pula proposisi properly basic untuk proposisi religius.

Satu versi baru ABBA: Pengalaman Religius
Nah, sekarang kita masuk ke inti karangan ini. Titik tolaknya kini adalah, bahwa setiap pernyataan itu, entah dia teologis atau ilmiah, selalu berpijak pada satu proposisi dasar yang sifatnya properly basic. Ia tidak bisa dibuktikan, melainkan hanya dipercaya begitu saja menurut pengalaman. Tanpa menguraikannya di sini panjang lebar, bisa dikatakan, bahwa biasanya kita hidup atas dasar kepercayaan kepada pengalaman kita. Itu berlaku untuk rasio maupun iman, atau lebih luas: berlaku dalam dunia ilmu, maupun dalam dunia religius. Sejauh pengalaman tidak membuktikan sebaliknya, sesuatu itu benar. Ingat di sini kritik dasar Karl Propper, yang mengajukan kriteria falsifikasi, artinya satu hipotese benar, sampai ia suatu hari terbukti salah. Dan dalam kategori ini harus masuk rumusan-rumusah ilmiah juga. Kendati tidak bisa dibuktikan secara tuntas, kita percaya bahwa teori hukum gravitasi itu benar, selama belum ada kasus yang membuktikan bahwa ia salah!

Tetapi di atas kita sudah menyebut mengenai rasionalitas berbagai statement. Kita tahu rasionalitas terletak pada orang dan bukan dalam obyeknya. Jadi dalam hal “membuktikan” adanya Allah, yang bisa diverifikasi bukan Allah sendiri, melainkan proposisi properly basic yang saya pakai untuk membuat statement bahwa Allah itu ada. Kalau proposisi “Allah ada” berdasar pada satu proposisi yang berdasar, maka kita menyebut orang yang mengeluarkan statement tsb. sebagai rasional. Dan kalau ia melakukan sebaliknya ia tidak rasional.

Pertanyaannya kini adalah apakah proposisi dasar yang digunakan orang tsb? Nah, di sinilah unsur baru itu muncul, yang sebenarnya tidak sama sekali baru lagi. Menurut John Hick, salah seorang yang menempuh haluan baru berargumentasi ini, proposisi dasar tsb. adalah pernyataan seperti “saya telah mengalami Allah” atau “saya mempunyai pengalaman dengan Allah”. Jadi dia merujuk kepada pengalaman religius. Menurut dia, hal ini sangat eviden, seperti dalam contoh di atas tentang Yesus. Rasional bagi Yesus adalah mengatakan bahwa Allah ada, sebab ia berdasar pada pengalamannya yang seharusnya properly basic. Sebaliknya Yesus tidak rasional, kalau mengatakan Allah tidak ada, padahal Ia sendiri telah mengalami kehadiran-Nya!

Jalan Keluar: Epistemologi
Tapi mengapa demikian? Mengapa Yesus mempunyai pengalaman religius tsb. sedangkan yang lain tidak? Dalam hal ini Hick maju selangkah dibanding para koleganya. Ia mengembangkan satu epistemologi yang bisa merangkul dan memperdamaikan rasio dan iman. Dengan membaharui epistemologi Hick yakin, persaingan kotor antara rasio dan iman bisa diakhiri. Dan untuk itu Hick menunjuk pada pengalaman sebagai dasar dari segala pengetahuan kita, entah itu ilmiah atau moral-religius.

Tiga Modus Pengalaman
Menurut Hick secara obyektif dunia yang kita pahami dengan intelek dan yang kita kenal dengan iman tidaklah berbeda. Perbedaannya terletak pada modus pengalaman kita, yang disebutnya dengan significance dan mendasari semua pengalaman dan pengetahuan lainnya. Ada tiga modi pengalaman: natural, moral, dan religius, yang menurut Hick ketiganya tersusun bak piramida. Artinya, modus pengalaman natural adalah dasar, di atasnya ada modus pengalaman moral, yang mencakup dan mengandaikan modus pengalaman natural, dan di puncak piramida terdapat modus pengalaman religius, yang mencakup dan mengandaikan kedua modi pengalaman pertama.

Dalam modus natural, kita “mengalami” obyek di luar diri kita berdasarkan hal-hal yang bersifat fisis. Melalui proses belajar kita bisa membedakan antara keras dan lembut, tinggi dan rendah, terang dan redup, dlsb. Dan bahkan dalam tingkat pengalaman ini kita “harus” belajar. Siapa yang tidak mau belajar, dia akan dihancurkan oleh alam! Bayangkan saja kalau kita tidak belajar membedakan antara bukit dan jurang, atau misalnya antara racun dan makanan, atau antara api dan air. Barangkali tak ada seorang pun yang bisa mencapai umur 10 tahun! Untunglah hal-hal tsb. telah kita batinkan melalui proses belajar dan menjadi bagian dari hidup kita (baca: menjadi proposisi properly basic bagi proposisi lainnya). Dalam level inilah ilmu pengetahuan (sains) merekrut keterangan-keterangan dan proposisi properly basic-nya.

Dalam modus moral, kita “mengalami” obyek di luar secara moral. Melalui proses belajar kita bisa membedakan antara cinta dan benci, sopan dan kasar, rajin dan malas, bertanggungjawab dan plin-plan. Juga di sini kita “harus” belajar menyesuaikan diri. Bayangkanlah bila kita tidak bisa lagi membedakan antara cinta dan benci, atau antara bertanggungjawab dan tak-bertanggungjawab. Dunia kita menjadi chaos! Dan bahwa hal ini cukup serius, bisa dilihat dari apa yang harus dilakukan bila seseorang kehilangan kemampuan untuk membeda-bedakan hal tsb. Rumah Sakit Jiwa adalah jawabannya bila orang tidak bisa lagi membedakan antara cinta dan benci, dan menafsirkan segalanya seakan sedang memusuhi dia. Dalam level inilah beroperasi manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam modus religius, kita “mengalami” obyek di luar diri kita secara religius. Kita mulai belajar, bahwa dunia ini dan segala isinya adalah ciptaan Allah. Melalui pengalaman hidup kita mengenal, bahwa Allah berkarya dalam hidup kita. Juga di sini berlaku, kita belajar membeda-bedakan antara pengalaman yang religius sejati dan tipuan. Karena itu kita tahu apa itu bersyukur, kepada Tuhan, membuka diri kepada-Nya, mendengar bisikan-Nya, dituntun oleh-Nya. Siapa yang tidak mau belajar, tidak akan masuk dalam kenikmatan pengalaman religius! Dalam level inilah kaum beriman menafsirkan dunia. Tidak bahwa mereka menyangkal statement ilmiah (level natural). Sebaliknya itu diandaikan! Tetapi nilai plusnya adalah bahwa mereka mengatasi level natural ini dan memiliki pandangan yang menyeluruh tentang dunia.

Iman: Unsur Interpretatif
Ada satu hal, yang selalu memainkan peranan mahapenting dalam ketiga modi pengalaman itu, yakni kesadaran kita (atau katakanlah roh) yang senantiasa aktif menafsirkan dunia di luar kita, yang memungkinkan kita belajar membeda-bedakan itu. Dan kegiatan menafsirkan ini (fungsi interpretatif kesadaran) aktif dalam ketiga modi pengalaman tsb. Dalam modus pengalaman religius fungsi interpretatif tsb kita kenal sebagai iman. Imanlah yang berusaha menafsirkan dunia sekeliling kita secara religius, sehingga kita “mengalami” dunia di luar kita secara religius pula. Sama seperti dalam modus natural kesadaran kita menafsirkan dunia sekeliling secara natural, dan dalam modus moral secara moral, demikian pula dalam modus religius.

Tetapi seperti dikatakan di atas secara obyektif dunia di luar kita adalah tetap dunia yang sama. Hanya pengalaman kita terhadapnya yang berbeda, sesuai dengan modus pengalaman yang aktif dalam diri kita. Itulah jawaban Hick atas pseudo-dilema Wittgenstein dan Kant. Dengan menempatkan “pengalaman” di dasar segala pengalaman lainnya, ia menempatkan ilmu dan rasio pada tingkat yang setara. Jadi semacam emansipasi pengalaman religius terhadap rasio.

Penutup
Proyek ABBA ini masih berjalan. Tentu epistemologi ala Hick masih menyimpan bahan perdebatan kritis yang harus dijawab. A.l. masih harus diselidiki entah bisa diterima andaian dasarnya, yang menempatkan pengalaman pada dasar segala refleksi kita. Ataukah justru yang kita sebut pengalaman itu merupakan hasil dari refleksi? Tapi satu hal jelas bagi Hick dunia di luar kita tetap yang sama, dan manusia yang menghadapi obyek dunia itu pun yang sama. Hanya pendekatan dan pengetahuan kita akan dunia obyektif itulah yang berbeda, dan masing-masing bertolak pada suatu pengalaman mendasar yang pada akhirnya bersifat properly basic. Kalaupun Allah tidak bisa dibuktikan eksistensinya, tetapi rasionalitas iman kita akan eksistensi Allah bisa diuji. Dasar tsb. adalah pengalaman religius. Tanpa dia segala ungkapan teologis kita tak berdasar, dan karena itu iman kita harus dicap tak rasional. Iman dan rasio (dan dalam arti tertentu: sains) tidak boleh dipertentangkan, sebab keduanya merupakan modi legitim pengalaman kita akan dunia.

Dan satu hal lagi: bila logika Hick sah, maka bukankah lebih rasional mengatakan bahwa Allah itu ada, melihat faktum fenomena religius, yang terdapat di setiap jaman, setiap bangsa, dan di setiap tempat di dunia? Hal ini jauh lebih menarik lagi untuk ditelusuri. Teologi agama bertugas
untuk itu!

Rujukan Lanjutan:

Döring, Heinrich; Kreiner, Armin; Schmidt-Leukel, Perry, Den Glauben dennken. Neue Wege der Fundamentaltheologie, QD 147, Freiburg i.Br.: Herder, 1993.

Davis, Stephen T., God, Reason and Theistic Proofs, Edinburgh: Edinburgh University Press, 1997.

Hick, John, Faith and Knowledge, London; Melbourne: Macmillan, 1967.

Hick, John, An Interpretation of Religion, London: Macmillan, 1989.

* Penulis adalah Pencetus dan Pemimpin Redaksi situs Nias Portal (nias-portal.org) yang hadir di dunia maya 2003-2006. Tulisan ini ditayangkan di Nias Online atas izin penulisnya. Tulisan asli dapat diakses di Achida.net.

Anand Krishna di Mata Seorang Muridnya

Tuesday, March 16th, 2010

E. Halawa*

Seperti apa sebenarnya sosok Anand Krishna dalam pandangan seorang muridnya ? Dalam situs Anand Krisna (www.anandkrishna.org) ada sebuah tulisan berjudul Kenapa Kami Mencintaimu Bapak? tulisan seorang pengikut meditasi Anand Krishna untuk coba memaparkan alasan mengapa ia begitu “mencintai bapak”. Mari kita simak: (more…)

Anand Krishna dan Irasionalitas*

Monday, February 22nd, 2010

E. Halawa**

Pengantar: Daya irasional sangat provokatif. Ketika membaca tulisan ini barangkali Anda menjadi antipati secara berlebihan kepada saya (penulis) karena Anda tidak dapat menerima paparan saya pada artikel ini. Atau sebaliknya, Anda sangat simpatik kepada paparan saya dan menjadi sangat antipati pada Anand Krishna. Sikap ektrim itu (antipati yang berlebihan) hendaknya disadari bisa dan sering terjadi ketika pembahasan tentang irasionalitas sedang berlangsung. Diharapkan para pembaca menyadari akan kemungkinan ini. Kesadaran itu sendiri melemahkan kekuatan provokasi daya-daya irasional yang saya maksud dalam tulisan ini. Intinya: baca artikel ini dengan tenang, jangan terprovokasi. Bila Anda berhasil membaca artikel ini tanpa luapan emosi yang berlebihan, Anda selangkah lebih maju dalam berhadapan dengan irasionalitas. (more…)

Bisnis 5 Milyar, Bukan Bisnis Kita

Monday, July 20th, 2009

Berkali-kali Nias Online menerima imel dari orang-orang yang memperkenalkan bisnis di internet: Bisnis 5 Milyar. Dengan ikut bisnis ini, konon, Anda bisa mendapatkan keuntungan finansial yang lumayan, bisa sampai 5 milyar atau bahkan lebih. Berikut adalah penggalan beberapa kalimat dari imel yang diterima Nias Online (catatan: nama pengirim disamarkan). (more…)

Irasionalitas Mantra

Wednesday, October 31st, 2007

E.  Halawa*

Mantra adalah ucapan berdaya magis yang diucapkan ketika menginginkan sesuatu melalui bantuan daya-daya irasional. Mantra bisa muncul dalam bahasa apa saja, dalam bentuk rentetan kata-kata yang tidak harus dimengerti oleh pengguna atau pengucap. Yang utama dari sebuah mantra ialah: irasionalitasnya. (more…)

Rasionalitas vs. Irasionalitas

Tuesday, October 2nd, 2007

Berbagai kalangan memahami rasionalitas dari sudut pandang atau pemahaman yang berbeda-beda. Rasionalitas tidak jarang dipertentangkan dengan kepercayaan kepada Allah – seakan-akan orang yang tergolong rasional serta merta dianggap jauh dari hal-hal rohani atau religiusitas. Rasionalitas tidak jarang dikaitkan dengan ‘kesombongan’ manusia, bukti dari ‘ketidak-tahudiri-an’ manusia akan kodratnya. Sebaliknya, istilah irasionalitas semakin ditafsirkan sebagai sesuatu yang dekat dengan spiritualitas atau religiositas. (more…)

Doraemon dan Nobita Masa Kini

Monday, September 24th, 2007

Komik Doraemon ciptaan Fujio F. Fujiko tidak saja digemari oleh anak-anak, yang menjadi target utama komik tersebut, tetapi juga orang-orang yang lebih dewasa: anak-anak SMP, SMA, mahasiswa, bahkan orang-orang tua. Doraemon adalah kucing robot abad ke 22 yang menjadi teman setia Nobita yang (1) bodoh, dan (2) pemalas, tetapi (3) berambisi besar. Doraemenon adalah kucing ajaib yang memiliki berbagai macam alat atau pil ajaib yang menjadi ‘penawar sementara’ segala kesulitan ata masalah yang sedang dihadapi Nobita dalam kesehariannya. (more…)

Kegiatan Berpikir …

Wednesday, September 12th, 2007

Jenk Iskhan, salah seorang peserta diskusi tentang “irasionalitas” menyajikan jenis-jenis kegiatan berpikir: melamun (yang tak sistematis), intuitif, empiris, rasional, dan ilmiah sistematis. Menurut pengalaman saya pribadi, pengelompokan macam itu hanya teoritis, di atas kertas. Dalam keseharian kita, kita tidak bisa secara tegas mengklasifikasikan masuk dalam kategori mana “kegiatan berpikir” kita ketika kita sedang “menghadapi” sesuatu. Dengan kata lain, jenis kegiatan berpikir itu terus menerus berubah dari waktu ke waktu dari detik ke detik. (more…)

Bisnis Jangkrik … dan “Persepsi Baru”

Wednesday, July 25th, 2007

Seekor jangkrik bertengger di atas selember daun pisang kering. Di atas kepala jangkrik tertera sebuah tulisan:Bisnis Jangkrik – Bisnis di Masa Krisis. Gambar dan tulisan tersebut terpampang di halaman depan sebuah tabloid terbitan kota tempat saya tinggal. Gambar seekor jangkrik yang diperbesar dengan tulisan pendek tipe khas iklan masa krisis tentu saja menarik perhatian saya. Maka, tanpa berpikir panjang, bahkan juga tanpa terlalu terusik dengan uang di kantong yang jumlahnya tinggal sedikit, saya menyambar satu eksemplar tabloid tadi. (more…)

Ciri-Ciri Pemilik Daya Irasional

Wednesday, June 27th, 2007

Pengetahuan kita akan ciri-ciri orang yang memiliki daya irasional akan menjadi modal utama kita untuk menghadapinya. Berikut adalah beberapa ciri orang pemilik daya hasil pengamatan langsung / tak langsung penulis terhadap sejumlah kasus. (more…)

Tenga, Tenga Da’ö

Wednesday, June 13th, 2007

Kata-kata dalam judul di atas adalah bahasa Nias, yang artinya: BUKAN, BUKAN ITU. Saya tertarik pada makna kata-kata itu dalam upaya mencoba memahami istilah “suprarasional” atau “supranatural” Thomas Aquinas yang disinggung dalam artikel “Dilema Usaha Manusia Rasional” di Situs Ya’ahowu ini. (more…)