Tim Sukses (TS) para Paslon sangat berperan dalam menentukan hasil sebuah pemilihan. Mereka inilah yang mengatur strategi agar Paslon dikenal, disukai, mengundang simpati, dan akhirnya dipilih masyarakat.
Kita semua telah mengetahui hal itu.
Yang barangkali tak kita ketahui, dan yang sering luput dari perhatian kita adalah: mengapa seseorang bergabung dalam TS sepasang Paslon.
Pertanyaan itu bisa kita modifikasi sedikit menjadi: mengapa si X memilih bergabung dengan TS Paslon A dan bukan dengan TS Paslon B atau C?
Apapun alasannya, yang berikut ini harus diingat oleh para anggota TS. Masyarakat berharap perbaikan taraf hidup, berharap keluar dari keterbelakangan dari generasi ke generasi.
TS sesungguhnya adalah corong dari berbagai keluhan masyarakat, pembawa pesan-pesan, harapan, dan keluhan – keluhan warga ke Paslon.
TS yang berkualitas berpotensi menghasilkan kepemimpinan dengan ide – ide segar di setiap daerah (pemilihan).
TS yang didorong oleh kepentingan sesaat berpotensi menghasilkan kepemimpinan yang hanya akan mengabadikan status Kep. Nias sebagai Daerah Tertinggal.
* Tulisan ini disiapkan tanggal 20 November 2020, dimuat di Nias Online setelah koreksi kecil.
Kenangan saya akan Masa Kelaparan di Nias pada tulisan sebelumnya, juga mengingatkan saya akan kisah terkait lainnya: tentang Lagu Maena Ma’owai Sa Ami … (Da Ma,’owai Ami) – selanjutnya disingkat MSA/DMA.
Lagu maena ini sangat populer dalam kalangan masyarakat Nias hingga sekarang, baik dalam pesta perkawinan maupun dalam acara – acara pesta lain.
Judul Ma’owai Sa Ami … hampir pasti merupakan judul pertama yang saya kenal, sementara judul Da Ma,’owai Ami muncul belakangan.
Di Youtube ada sejumlah video dari lagu maena MSA/DMA ini. Salah satunya adalah versi yang bait-baitnya (bagian ‘Fanunö’ – nya) menurut video itu diciptakan oleh Ir. Frans Bate’e pada tahun 1974. Versi lain dapat diakses lewat tautan ini.
Ma’owai Sa Ami (Fanehe)
Ma’owai sa ami
(Da ma’owai ami)
ba döi maena
ba döi laria
fefu dome salua ba olayama
(fefu domema si no alua)
Catatan: yang di dalam kurung adalah penggalan lirik versi lain
Kehadiran lagu-lagu maena seperti ini di dunia maya tentu saja membantu melestarikan karya seni budaya kita dan memviralkannya ke dunia luar. Namun harus diakui, kualitas aransemen dari berbagai maena dalam video-video musik online itu belum mencerminkan atau memproyeksikan kualitas aslinya. Sorotan khusus akan hal ini akan diusahakan dibuat pada sebuah tulisan lain.
Kepopuleran MSA/DMA hingga sekarang, menurut saya adalah karena dua alasan berikut. Pertama, lagunya – seperti umumnya lagu maena lain – sederhana tetapi indah, enak didengar, apalagi dengan hadirnya melodi yang menyemangati pada jalur suara bass. Dalam versi MSA/DMA yang ada di Youtube, jalur bass ini hilang, pada hal inilah salah satu daya pukau MSA/DMA. Kedua, lirik Fanehe-nya sangat umum: penyambutan tamu, tak terikat pada tema khusus. Itulah sebabnya misalnya bagian baitnya yang dibuat Frans Bate’e di depan adalah tentang perkawinan.
Khusus buat para pembaca yang bukan orang Nias, lirik di atas adalah bagian Fanehe (kurang lebih refrein / korus) dari MDA/DMA. Bagian Fanehe inilah yang diulang-ulang para penari maena setiap kali sesudah Sanutunö (penutur, pengisah) menyelesaikan bagian Fanunö(bait-bait sebuah lagu maena). Juga, umumnya lirik bagian fanehe ini dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, seperti yang dilakukan Frans Bate’e di depan.
Sebagaimana lagu-lagu maena yang lain, MSA/DMA ini pun menjadi milik publik, tanpa kita pernah mengetahui dengan pasti siapa pengarangnya. Sebagai masyarakat yang lebih mengandalkan komunikasi lisan, masyarakat Nias – terutama di zaman dulu – tidak begitu peduli dengan apa yang kita kenal sekarang sebagai hak cipta / hak kekayaan intelektual.
Yang terakhir ini menjadi penting ketika hasil-hasil karya di berbagai bidang menjadi sumber penghidupan – terutama karena dikelola secara profesional dan memberikan nilai tambah bagi konsumen berupa: kenikmatan tertentu.
Ada 3 alasan mengapa saya memiliki kenangan khusus dengan lagu maena ini.
Pertama, setelah coba mengingat-ingat kembali kisah masa kecil, saya merasa yakin – saya tahu kapan pertama kali mendengar lagu maena ini. Yakni, pada waktu persiapan dan hari peresmian gedung Sekolah Dasar SD Orahua Muzöi, mungkin pada bulan-bulan terakhir tahun 1965 (sesudah peristiwa G30S/PKI) atau awal tahun 1966. Situs Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mencantumkan nama SD ini sebagai SD Negeri 071011 Orahua Muzoi. Dalam situs ini, tanggal SK pendiriannya ditulis: 1910-01-01 yang barangkali berarti “tidak jelas” (tidak diketahui). Kata Orahua (kesatuan) dalam nama SD itu tiada lain menunjukkan bahwa inisiatif pendirian sekolah itu muncul dari kesepakatan para tokoh masyarakat dari sejumlah desa sekitar. Sebelum pesta peresmian gedung sekolah itu, beberapa tahun ke belakang – barangkali sejak umur 3.5 – 4 tahun – (ketika sudah berstatus iraono lö olifu atau anak yang sudah bisa mengingat kejadian-kejadian penting dalam hidup) saya sudah mengenal sejumlah lagu maena yang dibawakan pada pesta-pesta perkawinan yang saya hadiri bersama orang tua. Namun, seingat saya, MSA / DMA pertama kali saya dengar pada pesta peresmian gedung SD Orahua Muzöi itu.
Kedua, bersamaan dengan lagu maena ini, saya juga mengenal satu lagu lain yang menurut ingatan saya bersamaan munculnya dengan MSA/DMA. Lagu itu dibuat khusus untuk pesta peresmian gedung SD Orahua Muzöi tersebut. Saya tak tahu persis apa judulnya, namun dalam tulisan ini saya beri saja judul “S’lamat Datang”, yang merupakan dua kata pertama dari syair bait 1 lagu itu, yang juga tak lengkap saya ingat, sebagai berikut:
Lagu S’lamat Datang
S’lamat datang
S’lamat datang
Sekalian ibu, bapa
Yang telah seia sekata
Mendirikan sekolah
… (saya lupa)
Untuk kemajuan kita
SD Orahua
(Catatan: saya masih ingat melodi lagu ini).
Ketiga, saya mengingat siapa sosok yang memperkenalkan kedua lagu tersebut pada even yang sama. Dalam mempersiapkan even yang termasuk besar untuk tingkat öri ini, tokoh-tokoh dan masyarakat Botomuzöi dilibatkan. Khusus untuk persiapan penyambutan tamu, diadakan latihan maena MSA/DMA dan lagu S’lamat Datang tersebut. Lagu S’lamat Datang dilatih di sekolah selama beberapa hari karena akan dibawakan oleh anak-anak SD (mungkin kelas 2/3 ke atas). Sebagai catatan, walau saat itu SD tersebut baru berdiri, SD tersebut menerima juga anak-anak pindahan dari SD lain, termasuk dari SD Banua Sibohou, di mana saya pernah menjadi ‘tome’ (tamu) sebelum resmi masuk kelas 1. Jadi pada tahun pertama SD Orahua Muzöi sudah memiliki kelas 2 hingga kelas 4 atau 5 kalau tidak salah.
Sementara itu, MSA/DMA dibawakan oleh orang-orang tua dan para pemuda/i öri Botomuzöi saat itu. Latihan – seingat saya – tidak lama, mungkin sehari sebelum hari peresmian itu, yang (kalau tak salah) bertepatan dengan harimbale, Kamis.
Melihat liriknya, beralasan lagu ini diciptakan khusus untuk even besar itu (dalam skala öri pada saat itu tentunya). Sama seperti lagu “S’lamat Datang” yang liriknya jelas dibuat untuk even itu. Dalam peresmian itu hadir pejabat dinas terkait dari kecamatan / kabupaten, dan barangkali juga Asisten Wedana (sekarang: Camat). Saya ingat seorang tentara dengan pakaian khas militer ikut dalam maena.
Siapa pelatih MSA/DMA untuk even yang disebut di depan ?
Pelatih dari lagu maena MSA/DMA adalah Bapak Ligimböwö Lase alias Ama Dörö, yang tiada lain adalah Kepala SD Orahua Muzöi pertama. Beliau sendiri bukan dari öri Botomuzöi, tetapi dari öridan desa lain, kemungkinan dari Lahagu, yang masuk wilayah Nias Barat. Bapak L. Lase sangat energetik dan cukup bersahabat dengan warga yang mengenal beliau. Saya tidak memiliki kedekatan khusus dengan beliau. Anak-anak beliau adalah teman bermain, sementara anaknya pertama (yang pada saat itu sedang belajar di SMA BNKP, Gunungsitoli) adalah salah seorang teman saya bermain catur dan bermain tebak-tebakan lokasi di peta dunia, kalau dia lagi libur dan pulang kampung.
Pertanyaan: apakah Bapak L. Lase (A. Dörö) – yang mencipta kedua lagu itu?
Saya cenderung mengatakan “ya”, tetapi bisa saja saya keliru.
Kisah ini saya tulis dengan tujuan baik: berusaha melacak asal usul salah satu karya budaya / seni Nias yang masih kita nikmati hingga saat ini.
Dalam tulisan ini, saya hanya mengandalkan daya ingat yang masih saya miliki, yang karena perjalanan waktu sudah sangat jauh dari sempurna. Itulah alasan mengapa di sana-sini muncul frasa: ‘seingat saya‘, ‘kalau tak salah‘, ‘barangkali‘, dan ‘tak ingat lagi‘. Itu artinya, revisi internal dari saya sendiri masih mungkin, dan koreksi dari pihak pembaca saya sambut dengan hati terbuka dan gembira.
* Tulisan ini dipersiapkan 24 April 2020. Setelah perbaikan dan beberapa tambahan kecil, dimuat di Nias Online.
(Jordan Peterson –Profesor Psikologi, Universitas Toronto )
__________________
Demi mencapai tujuan, tidak jarang para Palson di setiap kesempatan menerapkan strategi pemasaran untuk meyakinkan para pemilih. Istilah keren politiknya: kampanye.
Trump, Biden, Borris Johnson, … pokoknya siapa saja yang masuk gelanggang pemilihan melalukannya. Termasuk juga di pelosok – pelosok, di daerah – daerah yang masih berstatus Danggal.
Sejauh itu, oke oke saja. Bahkan orang merasa aneh apabila para Paslon sama sekali tidak menawarkan ide-idenya ke publik (calon pemilih) melalui berbagai jalur berkomunikasi.
•••
Akan tetapi kampanye politik telah sedemikian terkontaminasi sehingga warga menganggapnya sebagai ajang menjual kebohongan. Masih mending kita membeli kue bohong, kita dapat kuenya, bohongnya hanya di nama.
Tetapi kalau kita percaya begitu saja pada janji-janji kampanye para Paslon, tanpa berusaha ‘mempelototinya’ (tabura’ö höröda wamaigi), kita hanya akan terjebak dalam ritus kekecewaan 5 tahunan.
Silahkan ingat kembali seluruh janji-janji paslon yang terpilih dan bandingkan dengan kenyataan di lapangan.
Dipastikan tak ada satu paslon pun yang menjanjikan kue bohong. Akan tetapi warga pemilih sudah sangat realistis dalam berekspektasi karena sudah biasa mengalami kekecewaan siklus 5 tahunan. Oleh sebab itu, warga pemilih lebih suka langsung diberi kue bohong atau diberi uang senilai beberapa kue bohong … daripada menunggu 5 tahun lagi untuk melihat hasil – hasil pembangunan yang dijanjikan oleh pemenang lewat komitmen politik mereka.
Observasi yang sama berlaku juga untuk pemilihan legislatif.
•••
Bagi para paslon dan para tokoh pencerah masyarakat: pesan singkat Jordan Peterson di atas penting untuk direnungkan. Ditulis ulang kembali di sini:
♡♡♡
Jika engkau mengkhianati diri
Jika engkau mengatakan hal-hal yang tak benar
Jika engkau meniru kebohongan dan melakukannya
Engkau melemahkan karaktermu
♡♡♡
* Tulisan ini disiapkan 19 November 2020, dimuat di Nias Online 1 September 2021.
Ini terjadi di banyak negara sekarang, termasuk di negara – negara yang biasa kita kenal sangat ketat menjaga kepatuhan terhadap hukum. Entah mengapa di zaman pandemik ini, para pemimpin di negara – negara ini sama saja tingkah mereka dengan rekan – rekan mereka di tempat lain.
Mungkin perbedaannya adalah, di kita: para pejabatnya secara terang – terangan minta fasilitas khusus karena mereka merasa perlu diberi keistimewaan dalam hal perlindungan diri supaya mereka bisa mengeluarkan warga dari pandemik ini.
Di negara – negara lain, hampir sama keadaannya. Tidak terang – terangan lewat pernyataan langsung, tetapi lewat sikap munafik, melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Misalnya, mereka memaksakan warga menggunakan masker, tetapi ketika mereka berkumpul di antara mereka sendiri mereka hidup secara normal, seakan – akan tak ada krisis atau pandemik.
Ini misalnya terjadi baru – baru ini ketika para pemimpin G7 bertemu di Carbis Bay, Cornwall, Inggris dari tanggal 11-13 June 2021 (https://www.g7uk.org/). Di depan umum / pers, mereka bersalaman lewat persentuhan siku tangan dan menggunakan masker. Ketika mereka berkumpul di taman, barangkali dalam suatu perjamuan, wajah mereka kelihatan bersih dari masker, tak ada jarak antara mereka, telapak tangan si A melekat di punggung di B, saling bertatapan dari jarak dekat tanda keakraban. Tingkah mereka yang tak sesuai dengan protokol yang mereka gariskan sendiri dapat dilihat pada berbabagi foto dalam berita ini atau di video ini.
•••
Sangat wajar kita menunjukkan kejengkelan ketika melihat sebagian dari warga seakan – akan tak peduli atau mengabaikan prokes yang diberlakukan pemerintah. Misalnya saja ketika sebagian warga yang tak pakai masker. Akan tetapi kita kadang lupa, tidak semua orang mampu berada pada posisi sebaik atau seberuntung kita. Mungkin kita lupa, sebagian dari ibu – ibu atau bapak – bapak yang jualan di pasar tak punya kemewahan melaksanakan prokes standar itu seperti kita yang jengkel itu. Mereka harus dekat dengan calon pembeli, atau kalau cuaca cukup panas, sangat tidak higienis menggunakan masker kain tipis yang mudah menyerap keringat itu, yang justru menjadikannya sarang bakteri atau virus yang akan melekat di permukaannya. Dan situasi menjadi semakin parah kalau ibu atau bapak tadi menggaruk badannya atau mukanya, lalu secara refleks menyentuh permukaan masker. Bukan hanya itu, virusnya kan tidak hanya ‘terbang’ mendatar ke arah muka pemakai. Ketika si pemakai menarik nafas menghirup udara, mau tak mau udara juga masuk lewat celah di tepi penutup muka itu, terlebih ketika masker itu cukup lama dipakai, menyerap uap air, atau dipenuhi lapisan debu yang menumpuk. Hal yang sama (udara bocor lewat celah di tepi masker) terjadi ketika si pemakai menghembuskan nafas mengeluarkan udara.
Ibu / bapak dalam contoh di atas mewakili jutaan warga yang tiap hari bergelut dengan realitas kehidupan. Di lapangan, di kios – kios kecil dengan kerumunan orang. Di tempat – tempat pemotongan hewan. Di pom-pom bensin. Di sawah – sawah yang entah mana sumber virus koronanya sehingga masker itu ‘harus dipakai di mana saja’ – kalau memang benar dianjurkan demikian.
Dalam keadaan dengan pilihan terbatas itu, sebenarnya mereka tetap menggunakan nalar dan akal sehat mereka.
Di tengah krisis seperti ini, masker atau topeng jiwa kita sebagai manusia benar – benar sungguh – sungguh terbuka dan terungkap, pas pada saat kita mulai membiasakan diri memasang penutup muka badaniah kita.
* Tulisan ini disiapkan 8 Juli 2021, dimuat di Nias Online setelah mengalami perbaikan kecil.
Selain meniru debat mirip debat Trump vs Biden, Pilkada di berbagai daerah juga meniru perkubuan Republikan vs Demokrat untuk alasan yang kurang jelas.
Polarisasi Partai Republik vs Partai Demokrat didasarkan atas perbedaan idelogi, nilai-nilai hakiki dan kebijakan praktis. Singkatnya: kapitalisme vs sosialisme, konservatisme vs progresisme, dsb.
Di Pilkada, polarisasi karena perbedaan-perbedaan mendasar itu seharusnya tak ada, dan terkesan irasional.
•••
Maka, kita boleh mempertanyakan: mengapa di setiap Pilkada – dan kali ini saya fokus pada Pilkada di Kepulauan Nias – perkubuan ini selalu ada? Apa alasan mendasar? Perkubuan di sini tidak termasuk kelompok tim sukses (TS) yang memang harus ada untuk memaparkan program-program paslon ke publik. Perkubuan yang saya maksud adalah perkubuan yang juga melibatkan para tokoh dan para intelektual, yang walau tidak menjadi bagian dari TS, secara langsung atau tak langsung memihak kepada paslon tertentu.
Mari kita mulai dengan berfikir positif: bahwa pemihakan terang-terangan atau diam-diam itu didasarkan atas penilaian potensi dan prospek para calon. Artinya, pemihakan kepada paslon tertentu adalah berdasarkan penilaian pemihak bahwa paslon A lebih baik dari paslon B atau C. Pertanyaan: kriteria apa yang menjadi alasan pemihakan? Sejauh ini alasan dan kriteria itu tak pernah secara terang – terangan dibeberkan ke publik.
Selagi alasan – alasan dan kriteria yang rasional tidak dibeberkan kepada publik, maka mau tak mau kita cenderung mengambil kesimpulan: pemihakan diam – diam atau terang – terangan itu didasarkan atas alasan subjektif. Beberapa alasan subjektif bisa kita sebutkan: koneksi, kedekatan pribadi, hubungan keluarga, garis politik yang mengaburkan nalar, dsb., yang bermuara kepada usaha penjaminan akses atau kepentingan pasca Pilkada pada paslon terpilih. Artinya, apabila paslon yang didukung (terang – terangan atau diam – diam) menang, maka amanlah pemihak pasca Pilkada.
Secara alamiah kecenderungan subjektif itu ada … dan sangat manusiawi. Bisa jadi, seseorang berharap kelak usahanya di bidang tertentu bisa ‘kompetitif’ bersaing dalam projek – projek pemerintah. Atau anggota keluarganya bisa tertolong dalam proses pengangkatan pegawai, misalnya. Atau minimal, karena yang bersangkutan kenal dengan paslon favoritnya, ia merasa nyaman kapan saja ingin berkomunikasi atau bertemu langsung dengan jagoannya apabila terpilih.
Sekali lagi, fenomena ini sangat manusiawi; semua orang mengalaminya. Akan tetapi hal ini akan menjadi batu sandungan dalam mengangkat Kepulauan Nias dari status Danggal kalau faktor subjektif ini tidak dikekang.
Perkubuan tradisional semacam itu tidak membawa dampak besar ke publik. Ia hanya menguntung sekelompok kecil. Dan itu tadi … perkubuan macam itu berpotensi memperpanjang status Kep. Nias sebagai Daerah Tertinggal.
Perkubuan Yang Lebih Terhormat / Mulia
Mungkin lebih baik kita mencari bentuk perkubuan baru yang lebih menguntungkan mayoritas masyarakat Kep. Nias. Yang berikut adalah salah satu bentuk perkubuan itu.
Mari kita mengelompokkan seluruh masyarakat di satu kubu dan para paslon atau kontestan di kubu lain. Dalam tulisan ini, kubu masyarakat disingkat KuMas dan kubu para paslon disingkat KuLon.
Kubu Masyarajat (KuMas)
KuMas dituntun (dipandu) dan dicerahkan oleh para tokoh masyarakat Nias: para tokoh agama dan adat, para intelektualnya. Tidak kalah penting, masuk dalam kelompok berpengaruh ini adalah pers dan media sosial yang berlabel (Kepulauan) Nias. Mereka ini semua berpotensi memiliki pengaruh besar dalam lingkungan mereka masing-masing.
Apa saja yang mereka bisa perbuat untuk mencerahkan masyarakat? Cukup banyak. Misalnya saja: mengingatkan masyarakat bahwa 4 dari 5 daerah administratif di Kep. Nias itu berstatus daerah tertinggal. Jangankan memahami isi debat ala Trump vs Biden, banyak masyarakat Nias bahkan tidak mengetahui status Danggal ini dan ramifikasinya bagi kemajuan Nias.
Para tokoh berbagai bidang dan intelektual juga berada dalam posisi strategis untuk mengingatkan para pemilih (Kumas) agar mereka – demi masyarakat itu sendiri – jangan mudah tergoda dengan iming – iming sesaat yang dijanjikan para paslon (Kulon), sampai akhirnya mereka melupakan bahwa arti pemilihan itu adalah untuk kepentingan kemajuan kep. Nias. Singkatnya: para tokoh dan intelektual ini berada pada posisi strategis untuk mengingatkan masyarakat:
“Jangan menjadi sapi perah 5 tahunan KuLon pencari suara untuk kemudian dilupakan begitu saja kalau mereka sudah berada dalam lingkungan kekuasaan”.
Peran KuLon
Kita sangat menghargai, bahwa di tengah pandemik, ada saja individu yang berniat memimpin di salah satu daerah di Kep. Nias. Mari kita berfikir positif: mereka ini rela untuk terjun ke gelanggang Pilkada dengan tujuan mulia: mengangkat masyarakat Kep. Nias dari keterbelakangan yang berkepanjangan. Dalam kosakata sangat populer saat ini: para kontestan ini ingin mengeluarkan Kep. Nias dari status Daerah Tertinggal (Danggal). Bukan sebaliknya: untuk memanfaatkan posisinya kelak untuk kepentingan sempit keluarga, para sahabat dan koneksi politik.
Tugas utama para paslon, di tengah keterbelakangan Kep. Nias yang berkepanjangan ini,
bukan:
memasarkan diri sebagai paslon yang memiliki kemampuan untuk merealisasikan itu !
melainkan:
mayakinkan masyarakat melalui pemaparan visi, misi dan program mereka secara jelas, disertai dengan tahapan – tahapan yang masuk akal, terukur, dan realistis.
Adalah tugas para tokoh, intelektual, dan pers yang berlabel (Kep.) Nias, dan yang menjadi bagian dari KuMas – untuk mempertemukan kedua kubu (KuMas dan KuLon) ini agar saling “memahami”, sehingga tujuan menghapus status Danggal ini sungguh-sungguh bisa direalisasikan.
Adalah tugas para tokoh, intelektual, dan pers yang berlabel (Kep.) Nias, untuk mencerahkan masyarakat agar memilih paslon terbaik dalam setiap Pilkada.
* Tulisan ini disiapkan pada tanggal 18 November 2020; setelah perbaikan / perubahan kecil, dimuat di Nias Online.
Waktu masih kecil saya suka mengamati anak-anak usia sebaya yang mendapat ‘kasih sayang istimewa’ dari orang tua mereka. Kisahnya kurang lebih seperti ini. Seorang anak yang sedang lari-lari (sendiri atau sedang bermain dengan teman-temannya) tiba-tiba jatuh, biasanya dalam posisi tertelungkup. Mungkin tidak seberapa sakitnya karena kedua telapak tangannya duluan menyentuh tanah – jadi bagian kepala dan badan terlindung dari bantingan keras dengan tanah. Tetapi keterkejutan itu – disertai sedikit rasa sakit – membuat emosi anak itu terguncang dan karenanya agak lama baru bangkit.
Apa yang akan terjadi sesudah sekitar 10 detik setelah kejatuhan itu sangat ditentukan oleh reaksi orang yang kebetulan ada di sekitar itu. (Biasanya anak yang jatuh di tempat sepi, bangkit dengan sendirinya setelah ia berhasil mengatasi dampak keterkejutan itu).
Kita akan bahas kasus di mana anak yang sedang terjatuh itu mendapat “pertolongan” dari sekitarnya, dalam hal ini ibu, ayah, atau salah seorang dari keluarga dekatnya.
Kita juga akan membahas bentuk pertolongan khusus, yang kita sebut saja: pemanjaan.
Dalam kurun waktu sekitar sepuluh detik setelah jatuh, ibu sang anak – katakanlah – merespons dengan langsung menggendong anak itu, sambil mengucapkan kata-kata ‘penghibur’, dan … ini: memukul meja atau kursi, atau tonggak yang ada di sekitar itu sambil berkata:
Börö ndra’ugö da’a mege wö meza / kurusi / toga … wa’alau khögu nono.
(“Gara-gara kaulah ini tadi meja / kursi / tonggak, makanya anakku jatuh … “) sambil sang ibu pura-pura memukul si kambing hitam itu.
Apa yang terjadi sedudahnya? Si anak – yang tadinya tak menangis justru pecah tangisnya, diawali dengan muka yang merengut … dan akhirnya air mata kemanjaan keluar … biasanya juga disertai angka sebelas (ingus) dari kedua lobang hidung.
***
Hampir dapat dipastikan, pada kejatuhan berikutnya, anak itu akan mencari perhatian ibu atau ayahnya dengan menangis … supaya mendapat kemanjaan yang dia nikmati pertama kali. Tentu saja kemanjaan ini nikmat rasanya. Digendong, diciumi, bahkan mungkin dibelikan roti.
Ada beberapa kesalahan fatal dari respons ibu terhadap jatuhnya sang anak.
Pertama, hal yang tadinya barangkali bisa diatasi sendiri oleh si anak (masalah sepele), justru dijadikan masalah besar. (Seperti dikatakan sebelumnya, kalau anak itu jatuh di tempat sepi, bisa jadi ia bangkit sendiri).
Kedua, si ibu mencuri kesempatan yang baik bagi anaknya untuk belajar mengatasi sendiri masalahnya (yang tidak terlalu serius).
Ketiga, si ibu menanamkan mentalitas korban (victim mentality) pada diri si anak (yang harus ditolong, digendong, dimanjakan), dengan:
Ke empat, mencari kambing hitam dari kejatuhan si anak; kambing hitam dalam wujud: meja, kursi, tonggak, dsb.
Anak yang mengalami pemanjaan macam itu, kalau tidak diekspos dalam lingkungan yang lebih baik (misalnya sekolah) kelak akan menjadi anak yang cengeng, mudah menangis, selalu bergantung pada orang lain, mengelak tanggung-jawab, dan … selalu mencari kambing hitam atas masalah yang dia hadapi.
Celakanya lagi, anak macam itu berpotensi menjadi objek bully dari teman-temannya. Dengan kata lain, secara tak sadar / tak langsung ia (lewat pemanjaan ibunya tadi) menciptakan lingkungan yang tak bersahabat bagi dirinya.
Ilustrasi di atas terjadi dalam skala kecil, pada diri seorang anak, oleh seorang ibu, mungkin secara tak sengaja karena terbatasnya pendidikan.
***
Bayangkan kalau itu terjadi dalam skala terstruktur, sistematis dan masif terhadap sebuah kelompok besar masyarakat oleh suatu institutsi. Dampaknya juga akan masif dan dari generasi ke generasi.
Menurut Candace Owens, seorang tokoh muda Konservatif dari keluarga berkulit hitam AS, itulah yang terjadi dalam masyarakat kulit hitam Amerika lewat program-program pemanjaan oleh Partai Demokrat.
Sejalan dengan Dinesh D’Souza [1], Candace Owens [2] menganggap Partai Demokrat dengan sengaja memilih kebijakan yang berdampak buruk pada nasib bangsa kulit hitam di Amerika. Tujuannya bukan untuk mengangkat bangsa kulit hitam ke tingkat yang sejajar dengan bangsa kulit putih Amerika. Tujuannya adalah menciptakan mentalitas ketergantungan akan program-program langsung pemerintah: bantuan sosial, kesehatan, perumahan sederhana, dsb. Tapi hanya sejauh itu, tak lebih.
Seperti dikatakan Dinesh D’Szouza, Partai Demokrat mengulurkan tali dari atas untuk kelompok-kelompok marjinal, supaya mereka terangkat sedikit … namun tak pernah mereka biarkan kaum ini sampai ke puncak. Sebaliknya, Partai Republik menyediakan tangga dan anak-anak tangga agar siapa saja yang mau naik ke atas, bisa sampai di atas. Statemen terakhir ini (tentang sikap Partai Republik) tentu saja juga harus disikapi secara kritis.
Dalam implementasinya, program-program populis Partai Demokrat sangat populer (per definisi), tetapi biaya sangat besar: menguras kas negara.
***
Selama 32 tahun zaman pemerintahan otoriter Suharto, Kepulauan Nias boleh dikatakan tak pernah mendapat perhatian pemerintah pusat. Pak Harto juga tak pernah berkunjung ke sana. Nias menjadi tempat pembuangan para pejabat yang tak berprestasi. Dan pejabat tinggi negara baru datang berkunjung ketika menjelang Pemilu. Maka Nias pernah mendapat kunjungan Adam Malik (yang menjanjikan pembangunan ‘menara tivi’) dan Sultan Hamengkubuwono IX. Harmoko juga berkunjung dalam rangka memenangkan kampanye Golkar, sejak kunjungan mana Nias menjadi dikenal dengan julukan Nias Indah Andalan Sumatera. Tapi itu semua hanya sampai pada janji-janji dan kata-kata.
***
Satu hal yang cukup melegakan dan membanggakan ialah umumnya masyarakat Nias tidak bermentalitas korban. Mereka tak pernah mengatakan: Nias korban penelantaran Suharto.
Secara sendiri-sendiri Ono Niha merasakan penderitaan, berusaha keluar dari penderitaan, dengan berbagai cara. Tanpa mengeluh berkepanjangan. Mereka yang tetap di Nias tetap bertahan dengan segala yang ada seadanya. Mereka yang sudah tak mampu bertahan tinggal di sana, keluar mencari kehidupan di luar kepulauan: menjadi apa saja.
Puluhan tahun kemudian, sejak awal tahun 1960an, kita bisa melihat kantong-kantong orang Nias di berbagai daerah dan kota di seluruh Indonesia. Mereka mendirikan berbagai perkumpulan antara mereka: ada yang bersifat lintas agama, ada yang berdasarkan marga, daerah, dan sebagainya. Khusus di kalangan orang Nias yang beragama Kristen Protestan, kita bisa menyaksikan berdirinya gereja-gereja Nias di berbagai daerah di seluruh tanah air.
Dan kita bisa menyaksikan usaha keras disertai keyakinan dan semangat yang membaja (“perseverance“) itu berbuah baik, dalam berbagai bentuk: peningkatan kualitas hidup, keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sosial politik (menjadi politisi, pejabat di berbagai lembaga negara, dst), kegiatan ekonomi (membuka usaha sendiri, menjadi pengusaha), menjadi pendidik, dst. secara cukup mengesankan.
Semua hal di atas hanya mungkin melalui perseverance tadi, serta sikap tak mudah mengeluh, tak mencari kambing hitam, dan tidak bermentalitas: ‘saya korban keadaan’.
Menarik menyaksikan debat cakada / cawakada di berbagai daerah yang meniru format debat pilpres, yang juga mirip debat Donald Trump vs Joe Biden dan Mike Pence vs Kamala Harris. Format debat seperti itu barangkali perlu ditinjau ulang, disesuaikan dengan kebutuhan yang lebih relevan di derah-daerah, terutama daerah-daerah yang mayoritas masyarakatnya masih sedang bergulat dengan berbagai keterbatasan di segala aspek kehidupan.
Khusus untuk Pilkada di Kepulauan Nias, seharusnya penyelenggara pemilu (KPU) menetapkan tema tunggal: Program para Cakada/Cawakada Melepaskan Kepulauan Nias dari Status Danggal. Untuk Kota Gunungsitoli, yang tidak termasuk dalam status Daerah Tertinggal (Danggal) temanya mungkin bisa sedikit dimodifikasi.
Lantas, bagaimana teknis penyelenggaraannya? Daripada di dalam gedung, mungkin lebih baik dilakukan di lokasi-lokasi harimbale, pada saat kegiatan jual beli masyarakat sedang berlangsung, menjelang sore hari, misalnya. Di setiap kabupaten, ditetapkan sejumlah lokasi harimbale yang mewakili beberapa kecamatan di kabupaten itu. Panggung debat – rasanya tidak terlalu makan biaya – perlu dibuat untuk menampung para kontestan itu.
Lantas KPU mencari metode interaksi yang baik antara para kontestan dan masyarakat yang hadir. Dalam debat ini, pengerahan masa pendukung dilarang. KPU misalnya bisa memulai dengan membeberkan berbagai masalah pembangunan (baca: ketertinggalan) di daerah administratif itu dengan isu khusus di setiap kecamatan. Lantas para kontestan diberi kesempatan untuk memaparkan program-program kerja mereka. Tanya jawab spontan yang dipandu bisa menjadi bagian dari debat itu.
Sekitar 20 tahun lalu, saya membuat tulisan yang mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketertinggalan dan kemiskinan masyarakat di kepulauan Nias. Dalam kurun waktu 20 tahun, seingat saya baru tercatat satu projek pembangunan yang cukup besar di Nias, yakni program Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias setelah tsunami Aceh 2004 dan gempa Nias Maret 2005. Jejak-jejak RR Nias itu masih kita saksikan lewat jalan-jalan yang lebih baik (tetapi kembali memburuk karena tak ada program terencana perawatan), gedung-gedung sekolah dan rumah-rumah ibadat, dlsb.
Pemekaran Nias, yang juga berlangsung dalam kurun waktu yang sama, dan yang dulu kita harapkan mampu memajukan Nias secara signifikan, ternyata tidak memberikan dampak yang berarti. Setelah RR Nias dan Pemekaran, Nias kembali tenggelam dalam masalah klasik yang diidentifikasi dalam tulisan berusia hampir 20 tahun itu. Empat dari 5 daerah administratif tingkat dua di Kepulauan Nias masih terfdaftar dalam daftar Daerah Tertinggal.
Usulan format debat seperti ini lebih efektif. Pemenang akan sulit menghindari tanggung jawab kelak apabila mereka gagal dalam merealisasikan janji-janji mereka. Mereka diperhadapkan langsung dengan konstituen ril: orang-orang miskin, para petani, para pemabuk, orang-orang yang tetap miskin karena jujuran tinggi, dan lain sebagainya. Wajah-wajah penuh harap mereka ini, akan selalu mengingat-ingatkan para kontentan, dan terutama pemenang, agar sungguh-sungguh bekerja untuk merealisasikan janji-janjinya.
Akan lebih baik lagi, kalau dalam acara debat / pemaparan program-program itu, diadakan Doa Perjanjian yang disaksikan oleh masyarakat banyak, bahwa siapun yang terpilih akan berusaha dengan sungguh-sungguh merealiasikan janji-janji mereka (e.halawa*)
* Tulisan ini dipersipakan 13 September 2020, dimuat di Nias Online 8 Desember 2020.
Catatan Redaksi: Tulisan in dimuat di Nias Portal (nias-portal.org – sudah tidak aktf lagi) pada tanggal 27 April 2005, sebulan setelah Gempa Nias 28 Maret 2005, dan masih relevan dalam situasi krisis COVID-19 saat ini. Tautan pada artikel yang dirujuk juga sudah diubah.
Beberapa waktu lalu, di sebelah kiri halaman utama situs ini (nias-portal.org – Red.) tertayang jajak pendapat (polling) tentang gejala paranormal. Hingga saat berita ini ditayangkan, telah 76 orang ikut memberikan suara dalam jajak pendapat itu, dengan hasil sebagai berikut.
Ada sebanyak 3 orang (3.95%) yang memberikan suara pada pilihan pertama: Menarik sekali dan mencerahkan pikiran. Pada pilihan kedua, Merusak akal sehat, perlu dijauhi, suara sejauh ini “mayoritasâ€, yaitu sebanyak: 35 suara (46.05%). Untuk pilihan ketiga, Tertarik (yang merupakan bentuk lebih “halus†dari pilihan pertama) ada sebanyak 10 orang (13.16%) yang memberikan pilihannya. Pilihan keempat (Omong Kosong) dipilih oleh 16 orang (21.05%) sementara pilihan kelima dan keenam (Ragu-ragu dan Tidak tahu) masing-masing mendapat 8 suara (10.53%) dan 4 suara (5.26%).
Sebenarnya ke enam pilihan diatas dapat diciutkan menjadi 3 kelompok: (a) kelompok yang menganggap gejala paranormal sebagai hal yang positif (pilihan 1 dan 3), (b) kelompok yang menganggapnya hal yang negatif, merusak, dan karenanya perlu dijauhi, (c) kelompok yang ragu-ragu atau tidak tahu, jadi belum menentukan sikap apakah masuk dalam kelompok pertama atau kelompok kedua.
Keberagaman hasil dari jajak pendapat di atas, walau hanya diikuti oleh sedikit orang, sedikit banyak mencerminkan cara pandang masyarakat Nias, dan juga masyarakat Indonesia terhadap gejala paranormal.
Seiring dengan beruntunnya bencana alam yang melanda bangsa kita, “pamor†paranormal mulai naik melalui “ramalan-ramalannya†yang kelihatannya akurat, jitu dan “memperingatkan†masyarakat. Naiknya “pamor†paranormal itu sedikit banyaknya didukung juga oleh sikap kita yang kelihatannya, sadar atau tidak, mulai mensejajarkan para praktisi paranomral dengan para ilmuwan yang ahli di bidangnya, dengan para nabi dalam agama-agama besar, dan bahkan secara tak sadar mensejajarkannya dengan TUHAN sendiri. Ketika para praktisi paranormal mengeluarkan “ramalanâ€, kita semua menjadi terpaku, diam, terpukau, terpesona, dan “mengaminkanâ€.
Memang, efek dari ramalan para praktisi paranormal lebih “dahsyat†daripada peringatan-peringatan para ilmuwan yang kompeten di bidangnya. Mengapa ? Karena para ilmuwan itu, ketika menyampaikan sebuah peringatan, umumnya melakukannya dengan hati-hati, mengeluarkan pernyataan sejauh data yang bisa mereka andalkan, dan bahkan tidak jarang diakhiri dengan ucapan semacam: “wah .. kalau soal waktunya, saya/kami/kita tidak tahuâ€.
Lain halnya dengan para praktisi paranormal. Berbekalkan kejadian bencana sebelumnya, mereka dengan mudah “mengarang ramalan†baru berikutnya yang sering menohok dan melemahkan kesadaran atau pikiran jernih kita.
“Gempa dahsyat yang lebih besar yang disertai tsunami akan datang lagi. Gempa ini datang untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptor. Gempa ini datang karena manusia sudah semakin jahat dan bejat …â€. Ramalan dengan nada ancaman khas seperti ini biasanya datang dari para praktisi paranormal.
Tidak heran, kita yang mendengarnya dan menyimaknya, tidak jarang termakan kekuatan “sugesti†kalimat-kalimat bernada mengancam dan sekaligus kelihatan “masuk akal†itu. Bukan hanya itu, kita juga diberi kesan, seakan para praktisi paranormal merupakan “penyambung†lidah para nabi, melalui peringatan-peringatan yang terkesan “spiritual.†Maka, orang yang menjadi korban sugesti – saudara, famili, teman kita, atau bahkan kita sendiri – bisa kehilangan akal sehat, menjadi panik, dan mengambil keputusan-keputusan yang terburu-buru yang bisa saja sangat merugikan kita.
Benarkah bencana dan tsunami datang “untuk menghancurkan orang-orang jahat, para koruptorâ€. Benarkah “gempa ini datang karena manusia sudah semakin bejat …†? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa hanya berupa “Ya†atau “Tidakâ€. Untuk menjawabnya, mari kita melihat berbagai kenyataan secara jernih.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang peneliti kebumian. Ketika beliau tahu bahwa saya berasal dari Nias, beliau secara spontan berseloroh (tapi toh terkesan bernada serius) kurang lebih: “Wah hati-hati, Pak, Kepulauan Nias itu terletak dalam jalur rawan gempa.†Ucapan ini bagaikan “vonis matiâ€; saya hanya bisa merespons secara pasif, memendamnya ke alam bawah sadar. (Paragraf ini pernah dimuat dalam tulisan lain berjudul: BUMI YANG “MARAHâ€, TUHAN YANG “DIAMâ€).
Jadi, gempa dan tsunami di daerah-daerah rawan gempa seperti di Nias dan sepanjang pantai barat Sumatera memang sudah diketahui sejak dulu oleh para ilmuwan, jauh sebelum para praktisi paranormal mulai “meracuni†udara kesadaran dan akal sehat kita dengan ramalan-ramalannya.
Mari kita mengambil contoh di luar kita. Jepang merupakan negara yang selalu menjadi langganan gempa. Dari berbagai informasi yang dapat kita yakini, kita juga tahu bahwa tingkat korupsi di Jepang jauh lebih kecil dari tingkat korupsi di Indonesia. Toh, gempa selalu menggoyang dan menggoncang Jepang, dari dulu, hingga sekarang. Lalu bisa saja kita membela para praktisi paranormal dengan mengatakan “karena orang-orang Jepang tidak begitu korup, tidak begitu jahat dan bejat dibandingkan dengan orang-orang Indonesia, maka korban gempa dan tsunami di Jepang sangat kecil.†Argumen “rasional-semu†ini tentu saja tidak bisa kita terima. Kemajuan teknologi membuat Jepang lebih aman terhadap ancaman bencana alam. Rumah-rumah dan gedung-gedung di Jepang tahan terhadap gempa, pantai-pantai di Jepang dibentengi dari terpaan dahsyat tsunami, di samping itu masyarakat Jepang dibekali dengan sistem peringatan dini terhadap bencana gempa dan tsunami.
Lantas, bagaimana seandainya gempa dashyat dan tsunami datang lagi ? Apakah ini tidak juga menunjukkan “kebenaran†dari ramalan para praktisi paranormal ? Ada tidaknya ramalan paranormal tentang gempa dahsyat dan tsunami tidak terkait dengan kemungkinan datang atau tidaknya lagi bencana dahsyat itu.
Terperangkap Jaring Paranormal Mengapa kita berbicara banyak tentang hal ini ? Alasan utama adalah, karena berdasarkan hasil jajak pendapat yang disinggung di depan, ternyata sebagian dari kita telah “terperangkap†dalam “jaring†kepercayaan terhadap paranormal. Rasionalitas sebagian dari masayarakat kita telah ditohok, diperlemah oleh gejala paranormal. Sebagian dari kita sudah mulai memanfaatkan paranormal untuk memperkuat argumen-argumen kita, untuk menyerang lawan-lawan “politik†kita, untuk “memperlancar keberuntungan†kita, untuk mencari penyembuhan atas penyakit-penyakit kita, untuk “menghukum†dan “mengutuk†para koruptor dan orang-orang jahat, untuk melarikan diri dari dunia realita kita, dan sebagainya.
Kalau kita merenungkan kembali bencana gempa dahsyat yang baru saja meluluh-lantakkan Nias, kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa korban bukan hanya para koruptor dan orang-orang jahat. Korban berasal dari berbagai lapisan sosial, agama, suku bangsa, orang kaya, orang miskin, para koruptor, warga yang lugu dan berwawasan sederhana, yang tak pernah “menghisap†orang lain, ibu-ibu yang berhati lurus, anak-anak yang belum tahu apa artinya (belum besentuhan dengan) dosa, dan sebagainya.
Menakjubkan Karya Tangan Tuhan Lantas, mengapa bencana melanda dan memporak-porandakan Nias ? Jawaban yang sederhana, dan mungkin saja memancing kembali “perbantahan†adalah: kita tidak tahu. Orang-orang yang memiliki kepercayaan pada Tuhan boleh melangkah setapak ke depan dengan memberi jawaban bersifat religius: “Hanya Tuhan yang tahu. Alam semesta adalah ciptaan dan milik-Nya, maka Dia berhak melakukan apa saja terhadap milik-Nya. Mahaagung Tuhan, dahsyat dan memukau segala perbuatan dan karya tangan-Nya. Terpujilah Dia selama-lamanya. Amenâ€.
Kepasrahan seperti tertulis di atas jauh lebih bermakna dari pada mencari penjelasan paranormal. Kepasrahan seperti di atas melahirkan kedamaian, permenungan, refleksi, melahirkan niat suci ke depan, menumbuhkan kembali harapan yang hampir-hampir musnah, sebab “mempesona, mengagumkan dan agung karya Tuhan atas segala ciptaan-Nyaâ€. Itu berarti, sesudah bencana akan muncul harapan baru dan kepulihan; tentu saja dengan syarat: ada pembaharuan total dalam sikap. Kalau di masa lalu kita menganggap “yang lain†sebagai musuh, sebagai objek isapan, objek kebencian, objek empuk pikiran negatif kita, maka pascabencana kita harus membalikkan itu semua. Kita harus “berbaur†dengan dan “menjadi sahabat†siapa saja yang tadinya kita anggap “musuhâ€. Kita harus tinggal dalam “tenda†yang sama dengan mereka yang tadinya kita anggap bukan bagian dari kita. Singkat kata: kita harus melihat yang lain sebagai sesama, sebagai saudara.
Masih perlukah sebuah gempa (dan bahkan tsunami) yang lebih dahsyat lagi untuk memperbaharui sikap kita ? Kita tidak perlu berpaling kepada paranormal untuk menjawabnya, karena kita bisa dan sebaiknya menjawabnya sekarang.
Tujuannya adalah sebagai bahan permenungan, untuk mempertimbangkan berbagai hal selagi kita dalam masa penantian menunggu berakhirnya krisis Covid-19.
Harus diingat bahwa teknologi pertanian (dan bidang-bidang lain) pada zaman sekarang jauh lebih maju ketimbang teknologi pada dekade 1960an.
Akan tetapi kenyataan paradoks di mana di zaman teknologi yang sudah semaju ini masih saja kita dibuat panik oleh virus berukuran skala nanometer, memaksa kita untuk berpikir hal yang sederhana: pemenuhan kebutuhan pangan.
*** Sebagian daerah di Kepulauan Nias pernah mengalami masa kelaparan hebat (hampir mendekati status starvasi) di tahun 1966 di masa-masa yang serba tak menentu pasca peristiwa G30S/PKI.
Pada masa itu masyarakat Nias hanya mengandalkan ubi kayu, umbi-umbian hutan, ladara (ini biasanya untuk konsumsi babi), pucuk laehuwa (semacam pakis), dan bahkan bagian dalam batang pisang yang masih muda (howu gae) … sebagai makanan sehari-hari. Dan itu berlangsung selama beberapa minggu (saya tak ingat lagi durasi persisnya).
Penyebab utama: suplai beras dari luar (lewat Sibolga) terhenti, juga konon ada pengusaha yang menahan berton-ton beras di Gunungsitoli (dan konon … sebagian gudang itu akhirnya terbakar). Pada masa itu masih belum ada Bulog.
Di pihak lain, sawah dan ladang masyarakat tidak menghasilkan apa-apa, hama tanaman tak terbendung, kesuburan tanah tak ada lagi (pupuk belum ada pada masa itu). Ditambah lagi kenyataan, seperti sekarang, masyarakat lebih mengandalkan penghasilan dari menyadap pohon karet (havea). Saya teringat mainan utama anak-anak kecil hingga remaja pada waktu itu adalah: fabuahavea (permainan dengan menggunakan buah pohon havea).
Saya ingat persis juga, beberapa bulan sebelum minggu-minggu kelaparan itu, hasil panen ubi kayu di belakang gedung SD Negeri Botomuzöi (Kecamatan Botomuzöi) yang disediakan untuk guru-guru sebagai penyemangat agar mereka betah tinggal, sangat luar biasa.
Setelah panen itu, saya tak pernah lagi menyaksikan ukuran ubi kayu raksasa: izagai faha (sebesar paha), ada yang sampai semeter panjangnya.
Hasil panen itu dikumpulkan dan dibawa oleh murid-murid SD dengan daga (bakul dari rotan atau bambu) ke lapangan harimbale (pasar mingguan) Muzöi dan dijual di sana.
Konon ubi kayu ini menguras kesuburan tanah (saya tak bisa berkomentar banyak di bidang ini, bukan keahlian saya).
Tambahan lagi, jenis bibit padi yang ada di Nias pada masa itu adalah padi lokal yang berumur 6 bulan. Ada satu nama yang samar-samar saya ingat: sirögi. Memang enak, rasanya manis, tanpa lauk pun kita bisa mudah menelannya. Tetapi ya itu … 6 bulan baru bisa dipanen.
Padi PB8 (yang berumur 3 bulan) baru dikenal di Nias kalau tak salah tahun 1968, bersamaan dengan diperkenalkannya cairan kimia pembasmi hama yang belakangan justru ditarik dari peredaran karena sangat toksik.
Saya pernah merasakan ‘enaknya’ makanan dari berbagai macam ramuan hutan yang pelezat utamanya adalah … garam!
Di masa itu, hutan-hutan menjadi lebih ‘terang’ karena orang-orang beramai-ramai mencari-cari daun-daun muda dan umbi-umbian apa pun yang bisa dimakan. Bekas-bekas injakan kaki orang membuat suasana hutan lebih ‘bersahabat’, rumput-rumput rata dengan tanah, hanya pohon-pohon besar yang menghalangi pemandangan kita melihat apa saja di sekeliling kita.
Di sejumlah desa ada banyak keluarga yang meninggal secara tragis karena memakan jamur beracun.
Lebih menyayat lagi, ada terdengar masyarakat di sejumlah desa – ketika memotong ayam, hanya membersihkan bulunya, tetapi tulang-tulangnya diremuk di lesung (latutu ba lösu) untuk dikonsumsi.
Di masa itu, ibu-ibu tidak lagi ke ladang, sawah atau kebun. Ya karena tidak ada lagi yang diharapkan dari ladang, sawah, atau kebun. Yang pergi ke hutan (istilah Nias: milo) adalah orang-orang tua atau para pemuda yang masih kuat bepergian jauh sampai seharian untuk mencari apa saja yang bisa dibawa ke rumah untuk bisa dinikmati oleh keluarga.
Kekosongan perut ternyata sangat menyiksa. Sakitnya luar biasa. Salah satu teknik untuk mengurangi kenyerian adalah mengikat perut dengan pengikat dari kain.
Di daerah-daerah lain di luar Nias tentu saja ada kisah yang mirip.
Bangsa-bangsa lain juga mengalami masa kelam di berbagai zaman.
Intinya adalah: sejarah mengingatkan kita akan masa-masa kelam di masa lalu, yang wajar kita jadikan sebagai bahan pelajaran untuk kebaikan di masa kini dan masa depan.
(E. Halawa – disiapkan 16 April 2020, dimuat di Nias Online 25 April 2020)
Hadia duria solohe fa’ogömi Si lö omasido urongo Turia samanizinizi tödö Turia sangombuyu boto
Ya’ia da’ö: turia dungö Corona Tungö si möi mame’e famakao Lö i’ombakha’ö me tohare ia Idoro manö, lö hagohago
No sa’ae ato nibözinia No sa’ae ato zi tekiko
Oi mogikhi mboto wa’ata’u Oi mangelama, lö möi milo Töra moroi ba nemali sanau gari Tora ia moroi ba mbekhu soyo Ibunu zi lö horö-horö Itögi göi mbagi niha safaito
Itörö gödo wamareta Ilau ia ba nomo ndra razo Lö i’andrö izi me itörö Bawandruhö na’i lö itoko
Tara’u danga niha, no tobaya! Tababaya mbawada, no togule! Tahofo noho ba ngai zi bahö, no talo!
Hadia hatö da’ö lualua mbakhu dödö? Si tobali metumetu mbewe?
*** Löö le ! So wofo yawa mba’e So dalu-dalu zowöhöwöhö Ba so göi lala wamandröndröu Corona
Yai’a dani zi no tarongorongo Si no la’ombakha’ö ira samatörö Lala wangelama ba fangamoni’ö Ena’ö tungö andre lö dumanö Ena’ö Corona andrö lö itugu aböa
Ya’e lala wametugö högö Ya’e lala wanögi bagi Dungö Corona sasiliyawa Dungö si lö butu lö karua
Asese’ö wemondri ba manasa tanga Tenga i simane mondri mitimiti Tenga simane mondri mazauwu Tenga göi ha togule zabu ba danga Ma ha asala no abasö mbörö mbu Arakö ndra’ugö maifu ba nidanö Ö’fanoto uli geu wanoto ndra’i ba mboto Sasai nukha, böi ragö ba mbotou
Taha dödöu wondra’u tanga niha Fa ‘Ya’ahowu’ manö moroi ba zaröu Lau laka sile ba zi fasaule ba lala Na idoro lakania ba gambölö Ba hole’ögö ba gabera Ba na larafe ndra’ugö ba gotalua Ba lau laka lari Lau’a, taha manö
Na so dalu-dalu bulu ndru’u Ma lahia, undre, bawa safusi Samandröndröu fa’okafukafu Ba sangabölö boto ba wolawa fökhö bö’ö Ba sökhi na mufaliaro da’ö
Ba ginötö simane da’a Abölö sökhi ni’omaomao Ni’osimiki Ni’o-si-lö-döla-döla Böi taforoma’ö wa’ebolo haru-haru Ba fa’ebolo dötö’a Lö ata’u Corona ba da’ö
Moloi i Corona Na ta’o’ö fefu wotu si fakhai ba da’ö
Heta göi khöu wanizinizi dödö Aröu’ö wa’ogömigömi dödö Böi döröhöwa Böi hulö niha si lö Lowalangi ita Si lö lemba-lemba dödö Si lö baluse Corona ha tungö So Lowalangida sondrorogö
Suasana Perayaan Paskah di Basilika St Petrus, Vatikan
Krisis Covid-19 tidak menghalangi umat kristiani dari berbagai belahan dunia merayakan rentetan hari-hari suci yang dimulai dari Hari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Sabtu dan Minggu Paskah.
Walau kehadiran fisik di gereja-gereja tidak dimungkinkan karena aturan jaga jarak (social distancing) yang diberlakukan di hampir semua negara, umat kristiani bisa mengikuti perayaan hari-hari suci itu lewat pengaliran langsung (live streaming) dari saluran-saluran yang disediakan masing-masing Gereja atau pun siaran langsung yang difasilitasi oleh sejumlah pemancar televisi.
Di dalam Basilika St Petrus Vatikan yang kelihatan sepi, Paus Fransiskus memimpin perayaan Misa Paskah didampingi oleh para imam dan petugas perayaan.
“Kristus, harapanku, telah bangkit”, Paus memproklamirkan. Paus mengatakan, pesan ini merupakan bentuk penularan yang lain, yaitu “penularan dari hati ke hati”.
Kabar Gembira ibarat nyala api baru yang menyala di tengah malam di bumi yang sedang dahadapkan pada berbagai tantangan yang sangat serius, dan kini sedang dicobai oleh pandemi yang sungguh-sungguh menguji keluarga manusia secara keseluruhan.
Kardinal Ignasius Suharyo – Uskup Agung Jakarta – dalam homili Paskahnya di Gereja Katedral Jakarta menyatakan bahwa wabah Covid-19 merupakan dampak dari dosa ekologis manusia.
Kardinal Suharyo menyitir salah satu “pendapat yang menarik … disampaikan dengan sangat hati-hati, masuk akal, akal budi kita, tetapi juga akal iman kita.”
“Bisa jadi wabah adalah reaksi natural atas kesalahan manusia secara kolektif terhadap alam. Dalam bahasa iman wabah antara lain disebabkan antara lain oleh dosa ekologis.”, lanjut Kardinal Suharyo.
Di Sydney, Uskup Agung Sydney Anthony Fisher dalam homilinya yang dialirkan langsung dari St Mary’s Cathedral memberikan refleksi historis tentang wabah.
Wabah dahsyat, ungkap Uskup Agung Anthony, pernah melanda kekaisaran Roma pada abad ke 3 Masehi. Wabah cacar atau Ebola yang berawal dari Etiopia itu menjalar cepat dan menulari Yunani dan seluruh kekaisaran Roma.
“Konsentrasi besar manusia di kota-kota, jalan-jalan yang berkualitas baik dan rute-rute perdagangan besar yang merupakan kekuatan kekaisaran Roma ternyata menjadi penyebab wabah menular secara efektif. Pada puncaknya, wabah ini menelan korban 5,000 orang per hari di Roma dan orang-orang sakit dan mayat-mayat korban wabah ditinggalkan begitu saja di jalan-jalan. Dengan korban hingga sebanyak satu juta orang, angkatan bersenjata, pemerintahan dan ekonomi Roma hancur lebur. Ada kalangan yang menuduh orang-orang Kristen sebagaimana mereka lakukan setiap kali muncul masalah sosial. Namun, orang-orang Kristen membedakan mereka dari yang lain; ketika para pembesar dan kalangan lain meninggalkan kota, orang-orang Kristen tetap bertahan untuk memberi makan dan merawat para penderita wabah. Orang-orang Krsiten menyelamatkan ribuan orang; di kota-kota di mana orang Kristen berjumlah cukup banyak, laju kematian berkurang setengahnya. Karya belaskasih orang-orang Kristen ini mengesankan banyak orang kafir di Roma dan menyebabkan mereka menjadi Kristen.”
Uskup Agung Anthony mengingatkan bahwa perawatan kesehatan yang bisa menyembuhkan penyakit tubuh, hanya mampu menunda kematian kita.
“Kita diajak berenung: adakah kehidupan setelah kematian? Lantas, ada kondisi-kondisi moral, intelektual dan emosional yang justru sering lebih tak mampu dicegah dan disembuhkan daripada kondisi-kondisi kesehatan fisik.”
Sementara itu Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) lewat Sekretaris Umumnya, Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty, menegaskan bahwa para penderita Covid-19 tidak boleh distigmatisasi dan diskriminasi. PGI juga berharap pandemi Covid-19 tidak boleh menjadi epidemi keputusasaan. (brk/*)
[Partai Anak Tangga Kesempatan: Kami memberimu anak-anak tangga sehingga engkau bisa sampai ke atas. Terserah engkau, secepat apa engkau sampai.
Partai Pengulur Tali: Ini tali, peganglah erat-erat, kami akan menarikmu ke atas. …. ]
Cirrocumulus
Tanggal 18 Mei 2019 terjadi kejutan besar dalam Pemilihan Umum di Australia: Partai Koalisi Liberal dan Nasional – partai petahana – menang telak atas Partai Buruh Australia (ALP)
Kejutan besar karena hingga minggu terakhir menjelang hari H, jajak pendapat selalu mengunggulkan Partai Buruh. Jajak pendapat ini sudah berbulan-bulan berlangsung dan Partai Koalisi tak pernah berada pada posisi menang.
(Catatan: Saking yakinnya para komentator politik pada keakuratan jajak pendapat ini, ada beberapa dari mereka yang telah menyiapkan manuskrip buku yang membedah alasan-alasan kekalahan telak Partai Koalisi dan kemenangan Partai Buruh. Karena kenyatannya pada hari H hasilnya lain, manuskrip buku-buku itu akhirnya tidak pernah masuk ke ruang percetakan.
Hasil pemilu Australia, tidak seperti di tanah air, cepat diketahui, tidak menunggu berminggu-minggu. Tentu ini karena sistem yang lebih maju. Begitu pemimpin Partai Buruh mengetahui partainya tidak mampu meraih suara mayoritas, ia langsung menelpon Perdana Menteri Scott Morrison, petahana, untuk mengucapkan selamat akan kemenangannya. Ia tidak menunggu sampai seluruh suara dihitung.)
Apa yang terjadi dalam pemilu Australia ini seperti mengulang kenyataan pada pemilihan presiden Amerika pada tahun 2016, yang menghantarkan Trump kepada kemenangan.
Tentu saja ada riak-riaknya: Trump dituduh menang karena intervensi Rusia, dan … dalam skala kecil … Partai Koalisi di Australia dituding melakukan praktek-praktek curang. Namun dalam kedua kasus, tak ada yang menjurus kepada demo besar-besaran untuk memohon pembatalan keputusan komisi pemilihan, apalagi meminta Yang Mahakuasa untuk menurunkan kutukan bagi yang curang. Protes massa Demokrat di depan Gedung Putih berlangsung, tapi bukan untuk mendemo kecurangan pemilu, melainkan mengungkapan ketidaksenangan mereka pada sosok Trump yang menurut mereka fasis, rasis, dst.
Mengapa bisa terjadi kejutan semacam ini?
Banyak ahli memberikan penjelasan, tetapi dalam tulisan ini saya memilih menampilkan hasil pengamatan langsung Scott Morrison, Perdana Menteri Australia, yang partainya – Partai Koalisi – diprediksi akan kalah telak itu.
Ia mengungkapkan itu dalam sebuah wawancara beberapa hari setelah pemilu usai.
Singkat kata: ia telah menangkap suasana hati (mood) dan kegelisahan dari para calon pemilih yang dia jumpai saat ia kampanye di berbagai tempat, kelompok yang dia sebut “the quiet Australians” – calon pemilih Australia yang ‘diam’, yang tak mudah bereaksi dengan mengungkapkan pendapat di medsos. Mereka adalah yang kuatir tentang berbagai ketidakpastian tentang dampak hasil pemilu. Mereka adalah para buruh tambang yang takut kehilangan pekerjaan, para pembersih gedung-gedung yang hak-haknya sering bertabrakan dengan keinginan majikannya, para pensiunan yang kuatir akan dampak kebijakan pemerintahan baru hasil pemilu. Para petani yang sering menjadi korban kekeringan.
Dalam observasi ScoMo (nama akrab Scott Morrison, seorang anggota Gereja Pantekosta Australia), suara mereka ini tak muncul dalam jajak-jajak pendapat, tetapi jumlah mereka sangat banyak, dan hasil pemilu bisa sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka.
Maka ScoMo (dibantu oleh Tim Sukses yang sangat profesional) bergerak dengan cara pertempuran jarak dekat: timsesnya mengorganisir pertemuan tatap muka dengan calon kelompok para pemilih di berbagai tempat. Kelompok ini tidak besar, antara 25-50 orang. Polanya sama, ia menyapa mereka, memberikan sambutan singkat lalu tanya jawab formal, dan pembicaraan dari hati ke hati.
Bagaimana dengan uang pensiun, apakah pajaknya akan dinaikkan?
Apa kebijaksanaan partai menyangkut aset-aset kami?
Apakah kami masih berperan besar dalam pendidikan anak-anak kami ? (Ini isu inklusivisme sosial yang akan dibahas pada kesempatan lain)
ScoMo langsung merasakan betapa para calon pemilih warga Australia yang diam itu, sungguh-sungguh memilih karena ingin terlibat langsung menentukan masa depan mereka lewat partai dan pemimpin partai yang mereka anggap bisa melindungi kehidupan mereka.
ScoMo juga mencium kegelisahan yang diembuskan oleh pemimpin oposisi Bill Shorten tentang usaha-usaha penyelamatan lingkungan dan isu pemanasan global yang hingga hari H tak pernah diestimasi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu.
Maka, dalam sehari ScoMo dan timnya menyebar ke berbagai pelosok untuk menemui kelompok-kelompok kecil ini, menjawab berbagai pertanyaan mereka, dan meyakinkan para calon pemilih bahwa dalam situasi perekonomian nasional dan internasional saat ini, mengganti pemerintah kurang bijak.
Persuasi ScoMo dan timnya masuk akal para pemilih yang diam ini. Keputusan para pemilih diam ini semakin diperkuat dengan sikap Partai Buruh dan Partai Hijau yang dianggap arogan. Dalam suatu kesempatan, tokoh Partai Buruh bahkan meminta para pemilih yang tidak setuju dengan program partainya untuk memilih Koalisi. Sikap ini dianggap sebagai sikap arogan oleh sebagian pemilih.
Efektifkah kampanye jarak dekat yang melibatkan hanya sekitar 25 – 50 orang? Tentu saja. Selain dari mulut ke mulut lewat obrolan antar tetangga atau ketika berkumpul di warung kopi, pesan-pesan ScoMo dan timnya yang simpatik ini disebarkan secara digital oleh para pendengarnya lewat berbagai jaringan medsos.
Selama ini sudah menjadi tradisi Partai Demokrat di AS dan Partai Buruh di Australia dianggap partai rakyat kecil, partai pembela kepentingan mereka: para imigran, buruh, warga kulit hitam (di AS) dan warga Aborigin (di Australia). Partai Demokrat (AS) dan Partai Buruh (Australia) selalu mengambil tema-tema keadilan bagi para kaum tertindas sebagai tema utama kampanye mereka. Tidak jarang dalam mempopulerkan tema-tema itu, para pimpinan dari kedua Partai berhaluan kiri ini mengambil sikap yang lama kelamaan dirasakan – bahkan oleh kaum yang mereka ingin bela itu – sebagai sikap atau pandangan yang kurang bijak.
Sikap yang dimaksud adalah sikap ekstrimis yang selalu membagi masyarakat atas dua kelompok: kelompok penindas – kaum pemilik modal – dan kaum tertindas, rakyat kecil tapi. Dalam konteks sosial lain, gerakan feminisme: yang menganggap laki-laki penindas kaum wanita (tentu sebagian ada benarnya) dan karenanya perempuan harus dibebaskan dari situasi itu. Dalam praktek ekstrimnya, banyak perempuan yang tidak mau menikah karena pernikahan dianggap sebagai penindasan. Singkatnya: tak ada kompromi.
Sikap yang diilhami oleh ideologi Marxisme ini memiliki pesan inti: kedua kelompok itu tak bisa diperdamaikan, yang tertindas harus melawan dan bahkan menghancurkan penindas.
Dalam prakteknya, ideologi Marxisme yang gagal di sejumlah negara ini dicoba dimodifikasi dan kini menjadi platform utama kaum kiri di berbagai negara demokrasi di Barat. Sebenarnya terlihat langsung kontradiksi di sini, karena sikap ideologi kiri yang biasanya anti kompromi diperkenalkan dalam alam demokrasi yang dibangun atas semangat persuasi dan kompromi kritis.
Dalam pengamatan Dinesh D’Souza, seorang pemikir konservatif Amerika imigran asal India, ideologi Marxis yang mengalami semacam penyesuaian itu menjelma dalam platform Partai Demokrat. Menurut D’Souza, Partai Demokrat – terutama akhir-akhir ini – telah menjadi Partai pengulur tali kepada rakyat Amerika. Mereka menarik rakyat kecil kepada Partai Demokrat lewat program-program populis yang sangat membebani keuangan negara: jaminan kesehatan untuk semua warga, uang reparasi bagi kaum kulit hitam karena perbudakan yang dialami generasi-generasi pendahulu mereka, serta berbagai program lain yang mudah: aborsi yang dibiayai negara, uang kuliah gratis, dst.
Namun Partai Demokrat tidak pernah menelorkan program yang bertujuan jangka panjang untuk membebaskan rakyat kecil ini dari ketergantungan kepada keuangan pemerintah. Ini bisa dimaklumi, karena kalau program semacam itu diperkenalkan maka mereka justru kehilangan basis besar pendukungnya.
Dinesh D’Souza mengibaratkan Partai Demokrat sebagai pengulur tali: mereka mengulurkan tali kepada orang-orang yang berada di bawah, untuk naik ke atas. Akan tetapi Partai Demokrat tak akan pernah rela orang-orang ini (basis pendukungnya) untuk betul-betul mandiri.
Sebaliknya Partai Demokrat malah ingin memperluas basisnya. Ini terlihat dari debat internal Partai Demokrat baru-baru ini, di mana para bakal calon presiden itu mendukung sensus tanpa pencantuman warga negara. Sebelumnya, di berbagai negara bagian Partai Demokrat mendukung gagasan pemilih tak harus dibatasi pada warga negara.
Masalah pelik di perbatasan Amerika dengan negara-negara tetangga di Selatan sekarang ini merupakan akumulasi dari perlawanan pihak Demokrat untuk memblok usaha-usaha Partai Republik untuk menuntaskan masalah imigran gelap. Masalah menjadi pelik karena ini menyangkut “kemanusiaan”, hal yang sering dipakai sebagai senjata oleh Partai Demokrat.
Rakyat kecil umumnya terpecah dua: (1) kelompok yang melihat kesempatan sebagai tantangan untuk lebih maju lagi, (2) kelompok yang sudah merasa nyaman dengan bantuan-bantuan sosial yang datang dari pemerintah.
Pengamatan penulis pada pemilu terakhir di Australia, banyak pemilih yang dulunya memilih Partai Buruh akhirnya memilih Partai Koalisi karena mereka merasa program Partai Koalisi lebih realistis dan adil bagi semua. Partai Koalisi memang tetap mendukung program sosial seperti santunan dua mingguan bagi para penganggur. Namun, dalam masa pemerintahan Koalisi, persyaratan pemberian dan perimaan bantuan ini semakin diperketat.
Kebijakan tegas Partai Koalisi di bidang imigrasi yang pada awalnya ditentang oleh mayarakat justru sekarang berbalik menjadi salah satu poin penentu kemenangan mereka pada pemilu terakhir.
Rujukan:
2019 Australia election: Morrison celebrates ‘miracle’ win https://www.bbc.com/news/world-australia-48305001
Scott Morrison’s shock election result pinned on volatile voters https://www.news.com.au/finance/work/leaders/scott-morrisons-shock-election-result-pinned-on-volatile-voters/news-story/b25359e9e520cf1acb88460ca532bc8e
Pidato Dinesh D’Souza pada Acara Wisuda – Liberty University https://youtu.be/FRs-6DrnX-8
* Tulisan ini disiapkan 30 Juni 2019 – dimuat di Nias Online 13 April 2020.
Berbicara soal kemiskinan tak ada habis-habisnya. Pengentasan kemiskinan merupakan salah satu tujuan pembangunan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam mengukur tingkat kemiskinan menggunakan konsep memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar yang dimaksud baik dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan yang dihitung dalam takaran 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non makanan seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Kabupaten Nias Selatan termasuk salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Utara dengan tingkat kemiskinan terbesar. Pada tahun 2016, persentase penduduk miskin Kabupaten Nias Selatan berada pada urutan keempat setelah Kabupaten Nias yaitu sebesar 18,6 persen, lebih tinggi dibanding Provinsi Sumatera Utara sebesar 10,35 persen.
Wajar jika Kabupaten Nias Selatan masih tinggi angka kemiskinannya karena melihat infrastuktur di Nias Selatan yang masih sangat “burukâ€. Memang untuk wilayah perkotaan seperti Telukdalam sebagian besar infrastruktur jalan raya sudah cukup baik, namun dengan wilayah Nias Selatan yang luas butuh ekstra perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur di Nias Selatan. Penulis pernah mendatangi beberapa desa di Kecamatan Gomo yang tidak dapat dilalui kendaraan dan harus dilalui dengan berjalan kaki. Butuh berjam-jam untuk sampai kesana, selain itu jalan menuju kesana harus melewati sungai dan hutan yang jika belum terbiasa akan sangat melelahkan dan butuh waktu yang lama untuk sampai kesana. Dan ini bukan hanya satu atau dua desa namun beberapa desa. Keadaan yang sulit ini yang membuat banyaknya penduduk miskin di Nias Selatan. Jangankan kesulitan biaya untuk membeli makan, ada uangpun masyarakat juga kesulitan untuk membelinya karena masih jauh dari perkotaan.
Berdasarkan data dari BPS, Angka Partisipasi Murni (APM) SMP dan SMA di Kabupaten Nias Selatan yaitu sebesar 74,10 dan 57,92. Artinya terdapat 25,10 persen penduduk usia 13 – 15 tahun yang belum memanfaat pendidikan SMP dan 42,08 persen penduduk usia 16 – 18 tahun yang belum memanfaatkan pendidikan SMA/SMK sehingga perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk memperhatikan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan. Program pemerintah yang memberikan biaya sekolah gratis beberapa sekolah di Kecamatan Telukdalam sudah sangat baik, namun hal ini akan lebih baik lagi jika di desa-desa juga diperhatikan. Oleh karena itu, perlunya membangun sekolah di desa-desa terpencil yang susah dijangkau dan memberikan “reward†bagi tenaga didik yang bersedia mengajar di wilayah tersebut seperti mengangkat tenaga pengajar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar banyak tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan disana ataupun memberikan gaji yang diatas rata-rata serta memperhatikan sarana dan prasarana di sekolah tersebut agar siswa dan siswi dapat meningkatkan ketrampilan yang dimiliki.
Pendidikan masyarakat Nias Selatan yang masih rendah yang membuat masyarakat susah untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, sehingga untuk menghidupi keluarga biasanya masyarakat lebih banyak menjadi petani yang sudah “diwarisi†dari orangtuanya baik mengolah ladang punya sendiri maupun harus bekerja di ladang orang lain. Hal ini juga yang membuat masyarakat “terjebak†kemiskinan karena sudah merasa putus asa dengan kemampuannya dan merasa hanya mampu melakukan pekerjaan di ladang dan yang nantinya juga akan “diwariskan†kepada anak-anaknya. Pada tahun 2016, kategori lapangan usaha yang berkontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Nias Selatan yaitu kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu sebesar 46,03 persen. Petani karet di Kabupaten Nias Selatan masih banyak, namun harga karet yang rendah menyebabkan banyak penduduk Nias Selatan memilih untuk mengadu nasib di luar pulau Nias. Oleh karena itu perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk memperhatikan nasib para petani Nias Selatan yaitu dengan membantu petani dalam menyediakan sarana dan prasarana pertanian, dan cara bertani seperti membantu petani bagaimana karet tersebut dapat bernilai tambah.
Penanggulangan kemiskinan di Nias Selatan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi daerah Nias Selatan. Kabupaten Nias Selatan terkenal dengan wisata alamnya secara khusus pantai di Nias Selatan yang terkenal dengan gelombang yang tinggi. Sehingga bukan hanya wisatawan lokal saja yang datang ke Nias Selatan tetapi dari luar negeri juga. Mungkin pemerintah dapat membuka lapangan pekerjaan dengan membuat arena permainan di sekitar wilayah di Nias Selatan seperti Waterboom yang belum ada di Pulau Nias. Ataupun membuat arena tempat makan sekaligus tempat permainan di sekitar pantai Nias Selatan yang dihias dengan ornamen khas Nias Selatan, sehingga masyarakat yang datang selain menikmati pantainya dapat juga menikmati fasilitas yang ada. Dilihat dari pertumbuhan riil PDRB, kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor mengalami kenaikan tertinggi kedua pada tahun 2016 dibanding tahun 2015 setelah kategori transportasi dan pergudangan yaitu sebesar 1,65 persen. Tingginya laju pertumbuhan riil pada kategori tersebut menunjukkan potensi usaha pada bidang perdagangan dapat ditingkatkan lagi seperti membuat pusat oleh-oleh khas Nias Selatan, sehingga masyarakat Nias Selatanpun terbuka kesempatan untuk membuka usaha dan semakin meningkatkan tingkat kreatifitas mereka dan juga bisa menjadi tenaga kerja di tempat usaha-usaha tersebut. Sehingga tingkat pengangguran di Nias Selatan dapat dikurangi dan kemiskinan juga dapat ditanggulangi.
*) Penulis adalah staf statistik sosial BPS Kabupaten Nias Selatan
Pantai lagundri adalah salah satu obyek wisata di pulau Nias yang terletak di wilayah Kabupaten Nias Selatan, yang berlokasi di Desa Lagundri-Kecamatan Luahagundre Maniamolo. Pantai Lagundri tersohor sebagai lokasi selancar di samping memiliki landskap panorama yang indah. Sebagai lokasi surfing, pantai ini sudah banyak dikunjungi oleh peselancar lokal dan nasional bahkan peselancar internasional. Pantai ini juga banyak dikunjungi oleh pecinta panorama pantai dan orang-orang yang suka berekreasi.
Beberapa tahun terakhir, keindahan pantai ini mulai terkikis karena penambangan pasir yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak peduli dengan pelestarian lingkungan, oknum-oknum yang tidak menyadari kekayaan pantai Lagundri, dan masyarakat yang tidak mengetahui bahwa Lagundri adalah Harta Wisata bagi generasi masa depan dan masyarakat Nias Selatan. Kegiatan penambangan pasir yang sudah lama dilakukan dan tak kunjung dihentikan mengakibatkan kerusakan besar di sekitar pantai dan akibat pasir yang tergerus ombak nyaris menghancurkan beberapa penginapan milik warga yang ada di sekitar pantai. Di samping itu, akibat penambangan pasir ini, pohon-pohon kelapa yang ada di sekitar pantai juga tumbang dalam jumlah yang begitu banyak.
Penambangan pasir yang berskala besar di Pantai Lagundri ini sepertinya tidak menjadi perhatian stakeholder dan LSM dalam bidang pariwisata. Sungguh disayangkan apabila keindahan Pantai Lagundri tidak dapat lagi dinikmati dan dirasakan oleh Generasi masyarakat Nias Selatan dan sungguh memprihatinkan apabila Pantai Lagundri hanya tinggal menjadi cerita bagi generasi penerus. Stakeholder dan LSM dalam bidang pariwisata seharusnya turun tangan untuk melakukan tidakan yang bersifat pecegahan (preventive) dan penanggulangan terhadap kerusakan pantai Lagundri.
Kegiatan-kegiatan penambangan pasir yang masih dilakukan hingga saat ini seharusnya dihentikan. Tetapi, oknum-oknum yang keras kepala belum puas melihat kerusakan yang sudah terjadi di pantai Lagundri. Padahal, dampak dari penambangan ini sudah jelas terlihat. Ditambah dengan kurangnya perhatian dan tindakan nyata para stakeholder. Mau dijadikan apa surga Pariwisata ini?
Melalui tulisan ini, penulis mengajak perhatian masyarakat khusuya oknum-oknum penambang pasir di sekitar pantai Lagundri untuk menghentikan kegiatan penambangan agar tidak terjadinya kerusakan pantai yang semakin fatal, meminta perhatian stakeholder dan LSM untuk memberi perhatian dalam menanggulanggi kerusakan pantai Lagundri, dan mengharapkan keterlibatan masyarakat intelek untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat sekitar. Karena jika tidak, Pantai Lagundri, Pantai Karunia Tuhan akan lenyap dalam waktu yang tidak akan lama lagi dan hanya aka menjadi malapetaka terhadap alam kita.
Sejak dirilis ke publik oleh Microsoft pada tanggal 29 Jui 2015 lalu, Windows 10 telah diunduh dan diinstal oleh jutaan pengguna PC di seluruh dunia. Windows 10 merupakan produk respons Microsoft terhadap ketidakpuasan terhadap produk pendahulunya, Windows 8.
Memesan dan Menginstal Windows 10
Banyak pengguna Winsows 7 atau Windows 8 yang masih belum menginstal Windows karena berbagai alasan. Tulisan ini coba memberikan beberapa informasi penting bagi yang mempertimbangkan instalasi Windows 10.
Bagi yang sudah memiliki Windows 7 atau Windows 8 Microsoft merilis Windows 10 secara cuma-cuma. Cara mememesan dan menginstal Windows 10 adalah sebagai berikut.
Jika komputer Anda mengguakan salah satu versi Windows in (7 atu 8), maka pada bagian kanan bawah layar komputer Anda akan terlihat ikon Windows 10 seperti pada gambar di sebelah kanan. Kalau ikon ini tidak kelihatan, maka coba run Windows Update. (Windows Update dapat dicari pada Control Panel).
Klik ikon “Get Windows 10” tersebut untuk memesan Windows 10. Aplikasi ini sekali gus mengecek apakah komputer Anda kompatibel dengan sistem operasi baru ini.
Konfirmasikan pesanan Anda dengan mengetikkan alamat email Anda.
Microsoft akan mengunduh Windows 10 ke komputer Anda dan memberitahukan apabila telah siap. (Catatan: Pemesanan Windows 10 dapat dibatalkan setiap saat).
Microsoft juga memberikan tautan yang Anda bisa manfaatkan untuk membuat USB drive atau DVD. Ini penting untuk menginstal Windows 10 di beberapa komputer.
Sesudah proses pemesanan, komputer Anda akan terdaftar dalam antrian upgrade.
Sesudah pemberitahuan dari Microsoft datang, Anda bisa menginstal Windows 10. (Catatan; Dibutuhkan waktu sekitar 2 – 2.5 jam untuk menginstal Windows 10, berdasarkan pengalaman penulis).
Bagi yang menggunakan produk-produk Kaspersky untuk antivirus atau keamanan internet (internet security) disarankan mengunduh produk rilis terbaru sebelum menginstal Windows 10. Pasalnya, produk Kaspersky yang diinstal untuk Windows versi sebelumnya (7 atau 8) tidak bekerja pada sistem operasi Windows 10 – setidaknya berdasarkan pengalaman penulis. Setelah menginstal Windows 10, maka segeralah menginstal produk Kaspersky yang baru diunduh itu agar komputer Anda lebih aman.
Bagi pengguna produk Norton, berdasarkan informasi dari situs Norton, produk Norton masih tetap bisa dipakai setelah Windows 10 diinstal, “asalkan Anda telah menginstal versi terbaru” (“as long as you have installed the latest version“).
***
Privacy Setting di Windows 10
Secara default, Windows 10 diprogram untuk memantau berbagai aktivitas Anda: kata-kata yang Anda ketik atau ucapkan, situs yang anda kunjungi, lokasi Anda, pembelian yang Anda lakukan secara online, dsb..
Kalau Anda tidak mau aktivitas dunia maya Anda terlalu banyak dipantau oleh Windows 10, maka ubahlah default settings di Windows 10 segera setelah Anda menginstalnya.
Caranya adalah sebagai berikut:
Klik Start Button yang berada di sebelah kiri bawah monitor.
Dari menu yang tersedia, klik “Settings” (lihat gambar di sebelah kanan), maka akan muncul beberapa pilihan seperti pada gambar di bawah (Anda bisa perbesar dengan mengklik pada gambar).
Dengan mengklik “Privacy“, maka Anda akan disuguhi berbagai pilihan: Genral, Location, Camera, dst. Anda bisa mengubah masing-masing setting itu yang umumnya dengan default setting “On” menjadi “Off”.
Disarankan untuk mengubah setting itu satu per satu (tidak sekaligus) untuk melihat pengaruh perubahan itu, dan membatalkannya apabila memberikan masalah pada operasi komputer Anda.
Selamat ber-Windows 10-ria.
Catatan: Artikel ini disajikan untuk membantu calon pengguna Windows 10. Penulis tidak bertanggung jawab terhadap berbagai akibat dari pemakaian artikel ini. (eh).