Archive for the ‘Pariwisata’ Category

Pantai Lagundri, Harta Wisata Yang Terabaikan

Thursday, November 12th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

Lagun-1

Pantai lagundri adalah salah satu obyek wisata di pulau Nias yang terletak di wilayah Kabupaten Nias Selatan, yang berlokasi di Desa Lagundri-Kecamatan Luahagundre Maniamolo. Pantai Lagundri tersohor sebagai lokasi selancar di samping memiliki landskap panorama yang indah. Sebagai lokasi surfing, pantai ini sudah banyak dikunjungi oleh peselancar lokal dan nasional bahkan peselancar internasional. Pantai ini juga banyak dikunjungi oleh pecinta panorama pantai dan orang-orang yang suka berekreasi.

Lagun-2

Beberapa tahun terakhir, keindahan pantai ini mulai terkikis karena penambangan pasir yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak peduli dengan pelestarian lingkungan, oknum-oknum yang tidak menyadari kekayaan pantai Lagundri, dan masyarakat yang tidak mengetahui bahwa Lagundri adalah Harta Wisata bagi generasi masa depan dan masyarakat Nias Selatan. Kegiatan penambangan pasir yang sudah lama dilakukan dan tak kunjung dihentikan mengakibatkan kerusakan besar di sekitar pantai dan akibat pasir yang tergerus ombak nyaris menghancurkan beberapa penginapan milik warga yang ada di sekitar pantai. Di samping itu, akibat penambangan pasir ini, pohon-pohon kelapa yang ada di sekitar pantai juga tumbang dalam jumlah yang begitu banyak.

Lagun-3

Penambangan pasir yang berskala besar di Pantai Lagundri ini sepertinya tidak menjadi perhatian stakeholder dan LSM dalam bidang pariwisata. Sungguh disayangkan apabila keindahan Pantai Lagundri tidak dapat lagi dinikmati dan dirasakan oleh Generasi masyarakat Nias Selatan dan sungguh memprihatinkan apabila Pantai Lagundri hanya tinggal menjadi cerita bagi generasi penerus. Stakeholder dan LSM dalam bidang pariwisata seharusnya turun tangan untuk melakukan tidakan yang bersifat pecegahan (preventive) dan penanggulangan terhadap kerusakan pantai Lagundri.

Lagun-4

Kegiatan-kegiatan penambangan pasir yang masih dilakukan hingga saat ini seharusnya dihentikan. Tetapi, oknum-oknum yang keras kepala belum puas melihat kerusakan yang sudah terjadi di pantai Lagundri. Padahal, dampak dari penambangan ini sudah jelas terlihat. Ditambah dengan kurangnya perhatian dan tindakan nyata para stakeholder. Mau dijadikan apa surga Pariwisata ini?

Melalui tulisan ini, penulis mengajak perhatian masyarakat khusuya oknum-oknum penambang pasir di sekitar pantai Lagundri untuk menghentikan kegiatan penambangan agar tidak terjadinya kerusakan pantai yang semakin fatal, meminta perhatian stakeholder dan LSM untuk memberi perhatian dalam menanggulanggi kerusakan pantai Lagundri, dan mengharapkan keterlibatan masyarakat intelek untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat sekitar. Karena jika tidak, Pantai Lagundri, Pantai Karunia Tuhan akan lenyap dalam waktu yang tidak akan lama lagi dan hanya aka menjadi malapetaka terhadap alam kita.

* Penulis adalah seorang guru / fasilitator.

Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat

Tuesday, June 16th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM

Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Nias Barat

TIDAK terasa, pemerintah Kabupaten Nias Barat sudah memasuki usia yang ke-6, pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Pada tanggal tersebut pemerintah daerah melaksanakan upacara khusus serta mengadakan syukuran atas berbagai pencapaian yang telah dapat diwujudkan sampai sekarang.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam upaya memperingati ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias barat yang ke-6 ini, yaitu upacara khusus dan syukuran (potong tumpeng), seminar sehari, dan lomba budaya rakyat dan masakan khas Nias Barat dari 8 (delapan) kecamatan selama 3 (tiga) hari di pantai Sirombu, yang dikemas sebagai ‘Pesta Budaya Rakyat’.

Pada kegiatan seminar yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2015, ada 2 (dua) topik yang dibahas, yaitu; 1. Percepatan pembangunan melalui budaya gotong royong, dibawakan oleh Drs. Fg. Marthin Zebua (mantan Sekda Kabupaten Nias dan Tokoh Masyarakat Nias Barat); dan 2. Potensi pariwisata dan budaya Nias Barat dalam menyongsong era globalisasi, dibawakan oleh Manahati Zebua, yang lahir di kampung/desa Hilidaura, dan sekarang tinggal di Yogyakarta.

Kedua materi yang disampaikan dalam forum seminar tersebut, mendapatkan pembahasan dari beberapa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat. Beberapa penekanan dalam pembahasan dalam forum itu, yaitu: 1. Perlu kita hidupkan kembali budaya gotongroyong itu, baik di bidang sosial, ekonomi, dan pariwisata; 2. Kebersamaan dalam kegiatan gotongroyong itu, akan menjadi daya ungkit pada pelaksanaan berbagai pembangunan di Nias Barat; 3. Perlu segera melakukan inventarisasi mengenai obajek dan daya tarik wisata di Nias Barat, baik berupa wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata bahari, agro wisata, dan jenis wisata lainnya; 4. Setelah dilakukan inventarisasi, lalu objek dan daya tarik wisata itu ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda); 5. Pembuatan master plan kawasan di masing-masing objek dan daya tarik wisata; 6. Pembentukan badan promosi pariwisata daerah bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya di Kepulauan Nias; dan 7. Penetapan produk unggulan dan produk wisata unggulan di masing-masing kecamatan di Nias Barat.

Lomba Atraksi Budaya dan Masakan Khas Nias Barat

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Nias Barat dalam rangka menyemarakkan ulang tahun yang ke-6 itu, yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR). Kegiatan ini dilaksanakan sejak tanggal 26 Mei sampai tanggal 28 Mei 2015. Sejak dibuka kegiatan PBR sampai pada penutupan, yang dipusatkan di pantai Sirombu nan indah itu, dihadiri ribuan masyarakat Nias Barat. Mengapa banyak warga masyarakat yang turut serta menghadiri PBR? Karena pesta budaya ini diisi dengan berbagai perlombaan, baik lomba di bidang budaya dan olahraga maupun di bidang kuliner khas Nias Barat dari masing-masing kecamatan. Setiap kecamatan menampilkan berbagai atraksi budaya yang dikuasai serta berlomba dalam pembuatan masakan khas Nias Barat.

Beberapa lomba budaya yang ditampilkan oleh masing-masing kecamatan, antara lain Sile Mbanua, Voli Pantai, Fatoke atau Farundro, Tari Moyo, Fanika Era-era Mbowo, Famadögö Omo, Fame Ono Nihalö, Famatörö Döi Ndraono, Folau Oŵasa, Mbolo-mbolo Maena dan yang lainnya. Untuk lomba masak, peserta lomba menampilkan masakan yang materi dan penataannya dibuat menarik dan dinilai oleh para juri untuk mendapatkan nilai. Berbagai masakan yang ditampilkan oleh peserta dari kecamatan, antara lain: Sagu Bakar, Goŵi Nihandro, Goŵi Nidökhi, Harinake, Gae Nibogö, dan beberapa yang lain, yang sekaligus ikut menyemarakkan pelaksanaan pesta budaya rakyat (PBR) itu.

Daya Tarik Masyarakat

Pelaksanaan PBR di Kabupaten Nias Barat ini, ternyata bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat Nias Barat untuk menyaksikan langsung pesta budaya tersebut, serta turut serta ikut memberikan semangat bagi peserta lomba dari kecamatan masing-masing agar dapat menjadi juara lomba. Dengan demikian, bila pemerintah daerah aktif dan melaksanakan iven-iven yang berkaitan dengan lomba budaya, lomba kuliner khas Nias Barat, lomba kebersihan, lomba gotongroyong, lomba berselancar, lomba mancing di laut, lomba lari di pantai, lomba tata lingkungan rumah masing-masing, dan jenis lomba lainnya, dapat dipastikan bahwa masyarakat Nias Barat akan cepat memahami mengenai kegiatan-kegiatan di bidang pariwisata itu sendiri. Istilah kerennya sekarang adalah pariwisata disosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan yang menarik sehingga dapat dipahami dengan cepat dan mudah oleh masyarakat.

Hal yang sempat dibicarakan masyarakat dalam PBR tersebut sesuai informasi yang didapatkan, antara lain mengenai kebutuhan-kebutuhan yang mereka butuh selama mereka berada di pantai Sirombu. Mereka butuh aneka minuman dan aneka makanan terutama khas Nias Barat, mereka butuh payung atau topi agar mereka terlindungi dari panas matahari, mereka butuh kacamata untuk melindungi mata dari debu, mereka butuh tikar agar bisa duduk sambil menyaksikan atraksi budaya, dan sebagainya. Ternyata iven PBR yang diprakarsai pemerintah Kabupaten Nias Barat itu dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Nias Barat, dapat merangsang jiwa wirausaha atau usaha rumah tangga untuk menyediakan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan para supporter dan warga masyarakat lainnya. Satu contoh yang sangat dibutuhkan pada acara PBR itu seperti air kelapa muda, yang dapat memenuhi salah satu kebutuhan para penonton atau penggembira pada PBR yang dilaksanakan di pantai Sirombu nan indah itu.

Kegiatan Pariwisata Menggeliat

Melalui kegiatan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Nias Barat ini, dapat dikatakan ‘Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat’. Artinya, kegiatan pariwisata sudah dimulai dalam upaya untuk merangsang masyarakat Nias Barat peduli dan menghidupkan kembali mengenai budaya leluhur serta aneka kuliner yang pernah ada di Nias Barat. Kepedulian masyarakat ini akan menjadi embrio bagi masyarakat Nias Barat untuk memasuki dunia pariwisata yang dapat menjadi lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat.

Sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat, sesuai dengan komitmen ke-5 pemerintah daerah di Kepulauan Nias, yang sudah diikrarkan pada bulan Juni 2014 yang lalu. Komitmen para Bupati dan Walikota se-Kepulauan Nias itu turut disaksikan oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI) Dr. Sapta Nirwandar serta para Direktur di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, utusan dari Kementerian Perhubungan dan Kementarian Pekerjaan Umum serta para satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dari lingkungan pemerintah daerah se-Kepulauan Nias.

Dalam upaya memenuhi komitmen tersebut, barangkali pemerintah Kabupaten Nias Barat terdorong untuk memulai kegiatan pariwisata itu dengan mengaitkannya pada kegiatan peringatan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat ke-6, yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Mengawali kegiatan pariwisata itu dengan melaksanakan lomba budaya dan lomba kuliner khas Nias Barat termasuk lomba olahraga antar kecamatan di acara PBR itu. Ternyata iven tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat Nias Barat serta dapat memberikan rasa antusiasme bagi masyarakat. Kondisi ini akan dapat memberikan daya ungkit untuk memasyarakatkan pariwisata bagi masyarakat Nias Barat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan Sadar Wisata bagi kalangan masyarakat.

Kalender Kegiatan Pariwisata

Pariwisata sangat berkaitan dengan calendar of event (kalender pariwisata) yang perlu dibakukan pelaksanaan kegiatannya setiap tahun. Salah satu iven yang sudah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR) Kabupaten Nias Barat, yang pelaksanaannya setelah upacara potong tumpeng perayaan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat. Setelah itu perlu dipikirkan lagi mengenai kegiatan pariwisata lainnya, bisa seperti lomba voli pantai, lomba layang-layang, lomba gotongroyong, lomba mancing di laut, lomba selancar, lomba perahu layar, lomba lari di pantai, lomba kebersihan, lomba desa wisata, lomba desa sehat, lomba taman desa, lomba agro wisata, dan lain sebagainya.

Untuk itu, dukungan berbagai pemikiran dari Dinas Pariwisata dan SKPD yang lain serta dari para Tokoh Masyarakat sangat dibutuhkan, dalam upaya meningkatkan peran sektor pariwisata di Nias Barat. Mari melanggengkan kegiatan yang sudah ada (dimulai) seta mengusahakan kegiatan pariwisata lainnya, minimal setiap 2 (dua) bulan ada kalender kegiatan pariwisata di Nias Barat.

* Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Ekowisata Sebuah Terobosan

Thursday, May 7th, 2015

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1PADA waktu sekarang, sudah banyak daerah di Indonesia yang sangat antusias mengembangkan pariwisata dengan ekowisatanya. Mengapa banyak tertarik pada pengembangan ekowisata? Karena ekowisata lebih banyak menampilkan rupa keaslian yang terdapat di daerahnya, seperti wisata alam dan wisata budaya. Menurut Abdullah Azwar Anas (panggilan akrabnya Anas) – Bupati Banyuwangi, dalam wawancara dengan wartawan, pariwisata di Banyuwangi lebih fokus pada ekowisata, yaitu wisata yang berbasis pada alam.

Sementara itu, menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (RI), ekowisata dari segi konsep yaitu merupakan konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Tetapi bila dilihat dari segi pasar, maka ekowisata itu merupakan produk wisata (misalnya: paket wisata). Akhir-akhir ini, paket wisata dengan konsep ”eko” atau ”hijau” menjadi trend di pasar wisata. Konsep ”kembali ke alam” cenderung dipilih oleh sebagian besar konsumen yang mulai peduli akan langkah pelestarian dan keinginan untuk berpartipasi pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya. Akomodasi, atraksi wisata maupun produk wisata lainnya yang menawarkan konsep kembali ke alam semakin diminati oleh pasar (Unesco, 2009).

Penampilan ekowisata sebagai objek dan daya tarik wisata (produk wisata), tidak memerlukan biaya besar. Paling-paling hanya memerlukan biaya untuk memolesnya sedikit, supaya para pengunjung di objek wisata itu merasa nyaman dan fresh bila melakukan perjalanan untuk melihat objek wisata tersebut.

Lain halnya bila menghadirkan objek dan daya tarik wisata buatan, seperti “taman pintar” di Jogja atau taman mini Indonesia indah (TMII) di Jakarta Timur. Biaya pembuatannya sangat mahal karena berbagai atraksi pengetahuan dan budaya ditampilkan di arena tersebut. Sehingga pembuatan taman pintar dan TMII itu mungkin menggunakan anggaran multi-years yang besar hehe.

Untuk mengurangi biaya besar dalam pengembangan pariwisata itu, maka daerah banyak yang tertarik untuk mengembangkan ekowisata. Selain melestarikan budaya dan alam, juga ingin menampilkan keaslian dari objek dan daya tarik wisata itu. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk menghidupkan ekowisata di daerah tersebut relatif lebih murah dibanding dengan wisata buatan.

Dan justru ekowisata inilah yang banyak digemari wisatawan manca Negara (wisman) dan sebagian dari wisatawan nusantara (wisnus). Mereka lebih suka dan bangga melihat budaya dan alam yang apa adanya. Contoh, bila kita memiliki objek dan daya tarik wisata alam, cukup menyiapkan jalan setapak yang nyaman, Artinya para wisatawan yang berkunjung di situ merasa nyaman dan dapat terhindar dari gigitan ular atau binatang buas lainnya.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak terdapat objek dan daya tarik wisata alam dan budaya. Untuk wisata alam sudah tersedia banyak di setiap daerah seperti pantai-pantai dengan olahraganya (surfing, menyelam, perahu layar, memancing ikan, melihat-lihat terumbu karang), danau-danau, sumber air panas, air terjun, olahraga naik gunung, dayung perahu di sungai, hamparan perkebunan coklat, hamparan perkebunan kopi, hamparan perkebunan teh, hamparan perkebunan karet, hamparan perkebunan buah-buahan, hamparan persawahan, dan seterusnya. Demikian juga untuk wisata budaya, banyak budaya yang adiluhung di setiap daerah, seperti lompat batu di Nias Selatan, rumah adat di Sulawesi, makam raja-raja di Yogyakarta, tarian-tarian yang beraneka ragam seperti tarian maena di Kepulauan Nias, tarian kecak di Bali, tari saman di Aceh, tari klasik gaya Yogyakarta, dan berbagai tarian yang lain yang terdapat di daerah-daerah.

Pelestarian budaya yang dimiliki oleh daerah, bisa terus dilakukan dengan menghadirkan pusat-pusat pelatihan budaya nenek moyang kita itu di beberapa tempat, bahkan bisa didirikan di luar daerah itu, seperti pendirian sanggar-sanggar budaya di setiap Kota dan Kabupaten atau di daerah lain. Sanggar-sanggar budaya ini menjadi sangat penting peranannya di dalam melestarikan budaya mesolitikum yang dimiliki oleh masyarakat kita di di setiap daerah.

Meskipun banyak terdapat wisata alam dan wisata budaya di daerah, namun objek dan daya tarik wisata budaya itu mungkin hanya sebagian yang tercatat pada “dunia wisata Indonesia”. Contoh budaya yang terdapat di Kepulauan Nias, hanya tercatat 1 (satu) yaitu atraksi budaya lompat batu. Objek wisata alam dan budaya yang lain mungkin belum masuk atau belum tercatat. Nah, inilah yang perlu diperhatikan dan disiapkan oleh pemerintah daerah, khususnya satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sektor pariwisata. Kalau bisa ya objek wisata alam dan budaya yang terdapat di setiap daerah bisa diupayakan sebanyak-banyaknya dimuat di “dunia wisata Indonesia”.

Kalau kondisinya demikian, maka mau tidak mau, kita harus menyiapkan “website wisata daerah”. Zaman sekarang sudah zamannya teknologi dan zamannya internet. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi RI tahun 2014, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang. Sehingga Indonesia termasuk Negara pengguna internet terbanyak nomor 8 di dunia. Sudah sebanyak itu saja, Indonesia baru termasuk nomor 8 di dunia. Jadi Anda bisa bayangkan bahwa begitu banyak jumlah pengguna internet di dunia, sehingga memberikan banyak pengaruh internet di kehidupan kita pada saat ini.

Untuk memahami lebih dalam fungsi dari internet itu, saya akan memberikan contoh. Pada waktu mendapat pekerjaan royek in-house training manajemen rumah sakit di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah, saya mengajak beberapa teman untuk ikut melatih sumber daya manusia (SDM) rumah sakit itu sesuai kompetensinya. Nah, salah satu dari teman yang saya ajak itu, menyiapkan diri dengan berusaha mengetahui terlebih dahulu mengenai profil rumah sakit. Teman ini mencoba mencari informasi melalui Mbah Google, ternyata informasi tentang rumah sakit yang dimaksud tidak ditemukan.

Lalu teman ini menelpon saya dengan mengatakan, Pak Zebua, berapa sih jumlah bed rumah sakit ini? Atau besarnya rumah sakit ini hanya setingkat Puskesmas? Terus terang, pada saat menerima pertanyaan itu, saya sedikit heran dan lalu bertanya, kenapa Pak? Begini lho Pak, saya sudah mencoba mencari profil rumah sakit ini di internet, tapi tidak ketemu, Mbah Google tidak bisa menjawab. Setelah saya mendapatkan penjelasan singkat seperti itu, akhirnya saya menjawab begini, jumlah bed rumah sakit ini sekitar 400 bed dan siap menerima materi dari Bapak. Setelah menjawab itu, malah teman ini justru langsung terbahak-bahak sambil berujar, zaman gini kok ada rumah sakit yang gagap teknologi, apa kata dunia!.

Membuat website suatu daerah serta aktif di media sosial untuk memasarkan ekowisata daerah, sesuatu yang sangat mendukung bersinarnya masa depan pariwisata daerah di masa mendatang. Gambar-gambar yang ditayangkan oleh biro dan agen perjalanan umpamanya dengan berpromosi sebagai mitra perjalanan Anda di daerah itu, malah sangat menarik dan bagus-bagus.

Alangkah indahnya apabila gambar-gambar dari objek dan daya tarik ekowisata di daerah itu, dapat disatukan dalam 1 (satu) album dengan cover “Pariwisata Daerah yang Eksotik”, yang dapat diperjualbelikan untuk umum. Selain itu website daerah juga bisa dibuat dengan memuat berbagai gambar objek dan daya tarik wisata serta isinya selalu di update terus sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang ada pada objek dan daya tarik wisata alam dan budaya di daerah itu.

Ekowisata pada saat ini sudah menjadi aktivitas ekonomi yang penting, yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendapatkan pengalaman mengenai alam dan budaya untuk dipelajari dan memahami betapa pentingnya budaya lokal tersebut. Alam dan budaya lokal dari setiap daerah akan menjadi sebuah pengalaman bagi wisatawan untuk memberikan apresiasi dalam hal perbedaan dan makna, sehingga si wisatawan akan memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan tentang alam dan budaya yang terdapat di setiap wilayah/daerah.

Menurut Tazbir Abdullah, SH., M.Hum, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI), bahwa pariwisata Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang melimpah sebagai potensi penggerak ekonomi untuk kesejahteraan bangsa. Disamping itu, pariwisata sekaligus juga berperan besar sebagai instrumen pelestarian alam dan budaya (Zebua, 2014). Dengan demikian melalui pengembangan ekowisata, akan dapat berperan besar sebagai trigger untuk menggerakkan sektor lain, seperti ekonomi, infrastruktur, pertanian, ekonomi kreatif (transportasi, akomodasi, rumah makan/kuliner, souvenir), serta dapat pula menggerakkan perilaku masyarakat untuk menjadi lebih bersih dan ramah.

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM. Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Pariwisata Kepulauan Nias dan MEA 2015

Monday, February 2nd, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MEA sudah sering kita dengar dan mungkin juga sudah banyak yang membaca di berbagai tulisan di harian atau majalah. Bahkan sudah ada berita iklan di televisi, yaitu seorang gadis yang cemburu kepada pacarnya gara-gara pacarnya sering menyebut nama MEA, dikira MEA itu nama gadis lain, sehingga si gadis cemburu. Tapi untung ada bapak si gadis yang menjelaskan bahwa MEA itu bukan nama gadis. MEA itu kependekan dari masyarakat ekonomi Asean. Setelah si gadis memahami bahwa MEA itu bukan nama gadis lain, akhirnya si gadis tersenyum dan kembali ceria lagi.

Sehubungan dengan MEA ini, Profesor Rhenald Kasali, Ph.D. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, memberikan penjelasan yang lebih dalam tentang MEA ini, pada tulisan Beliau yang dimuat di harian Jawa Pos belum lama ini. Beliau mengatakan bahwa pada intinya MEA itu menyangkut 4 (empat) hal, yaitu: 1. Free flow of barang; 2. Free flow of orang; 3. Free flow of services; dan 4. Free flow of money. Artinya Association of Southeast Asian Nations (Asean) yang terdiri dari 10 negara itu, yaitu: Indonesia, Philipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar, sudah menjadi satu wilayah sebagai pasar bebas. Produk yang berkualitas dari setiap Negara, bebas diperjualbelikan di Negara lain, orang bebas bepergian, bebas menanam modal di bidang jasa dan industri, dan bebas memasarkan produk pelayanan jasa.

Banyak orang yang berkata bahwa MEA ini merupakan ancaman bagi Indonesia. Bisa bertindak sebagai ancaman, apabila Indonesia tidak menyiapkan diri untuk mengisi dan menyambut MEA tersebut. Tetapi apabila MEA ini didalami secara seksama, mestinya hadirnya MEA ini merupakan peluang emas bagi Indonesia. Pasar yang tersedia semakin luas yaitu meliputi 10 (sepuluh) Negara, kerjasama antar komunitas atau Negara semakin terbuka, alih teknologi semakin tercipta, serta bagi investor akan mendapatkan peluang untuk menanamkan modalnya di berbagai wilayah di Asean, yang dapat memberikan profit besar pada usahanya, sehingga usahanya tersebut bisa lebih menggurita lagi.

Nah, untuk menghadapi lalulintas barang, orang, jasa, dan modal di pasar bebas ini, tentu sesegera mungkin kita melakukan persiapan-persiapan. Persiapan ini sudah dimulai dari pemerintah pusat seperti fokus pembangunan pada infrastruktur, perhubungan, pertanian, dan maritim. Lalu pemerintah daerah juga tentu melakukan persiapan dengan melaksanakan pembangunan di daerahnya searah dengan fokus pembangunan dari pemerintah pusat.

Sekarang ini sudah mulai banyak pemerintah daerah di wilayah Indonesia yang membentuk tim kerja dalam menyiapkan dan menghadapi MEA ini. Mengapa demikian? Karena dengan MEA ini akan tercipta berbagai peluang dan juga menciptakan persaingan yang sangat ketat pada produk barang dan jasa. Kita ambil contoh, sebuah produk barang. Produk ini akan bisa menembus pasar bebas Asean, bila produk itu memiliki daya saing dalam hal daya manfaat, daya beda, dan daya tarik. Artinya produk yang kita hasilkan dapat didayagunakan oleh pasar (konsumen) apabila produk kita bisa bersaing dengan produk lain yang sejenis dari Negara Asean lainnya. Dengan demikian, kita berbicara tentang produk yang berkualitas serta tahan lama dan dengan harga yang bisa bersaing.

Demikian juga dalam hal produk jasa, seperti jasa perhotelan, jasa transportasi, jasa keuangan, jasa pelayanan sumber daya manusia (SDM), jasa kuliner/restoran, dan jasa pelayanan lainnya. Pelayanan yang kita hadirkan harus lebih baik atau minimal sama dengan pelayanan yang kita jumpai di daerah dan Negara lainnya di wilayah Asean. Dengan demikian, kita harus bekerja ekstra untuk segera memperbaiki mutu pelayanan kita di bidang pariwisata, akses menuju objek wisata, pelayanan angkutan, pelayanan kuliner, aneka pertunjukkan budaya, serta kualitas barang souvenir yang kita hasilkan. Barangkali tim kerja yang telah dibentuk oleh beberapa pemerintah daerah tadi, dapat segera bekerja keras dan memberikan berbagai informasi yang harus segera kita benahi, agar tidak terlalu ketinggalan dengan daerah lain atau Negara lain di Asean.

Berkenaan dengan penuturan di atas, seharusnya kita menaruh hormat dan berterima kasih atas kehadiran MEA ini, karena dengan kehadirannya dapat memberikan cambuk atau pecut kepada kita untuk harus segera berbenah dan bertindak cepat. Adanya cambuk dari MEA ini, dapat memberikan daya dorong pacuan kepada kita untuk segera bekerja keras mewujudkan berbagai hal menurut yang terbaik dan yang memiliki daya saing di tingkat regional Asean. Memang manusia itu sering memerlukan tantangan atau cambuk untuk memacu semangat dalam melakukan berbagai hal. Seperti halnya kuda yang menarik dokar/andong, kusir perlu memberikan perintah dengan cara mencambuk kuda itu agar kuda mau berjalan, berlari atau berhenti.

Presiden Jokowi sangat menaruh perhatian pada bidang pariwisata. Kalau kita flash-back, saat Jokowi sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, kegiatan pariwisata sangat dikedepankan. Banyak iven pariwisata yang dihadirkan, bahkan iven kegiatan pariwisata sudah dijadwalkan selama satu tahun. Karena itu sudah sangat tepat yang disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, bahwa pariwisata harus berkembang dan dikembangkan. Untuk itu target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia tahun 2015 sebanyak 10 juta orang, sedang target jumlah wisatawan nusantara (wisnus) di tahun yang sama sebanyak 254 juta. Wow, jumlah wisatawan yang sudah mulai bergerak lebih banyak.

Jumlah target wisman dan wisnus secara nasional seperti yang disebutkan di atas, tentu perlu mendapatkan perhatian kita dengan sungguh-sungguh. Perlu mendapat perhatian yang utama, karena pemerintah daerah se-Kepulauan Nias telah berkomitmen untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai salah satu daerah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia serta telah disepakati bersama oleh 5 (lima) pemerintah daerah bahwa sektor pariwisata merupakan lokomotif pembangunan. Sehingga dengan semangat ini, pemerintah daerah telah merumuskan rencana aksi (renaksi) untuk mewujudkan Kepulauan Nias menjadi wilayah destinasi pariwisata di Indonesia. Karena itu, tentu perlu dirumuskan mengenai berapa target kita dalam hal jumlah wisman dan wisnus yang diharapkan bisa berkunjung di Kepulauan Nias pada tahun 2015 ini?

Kehadiran MEA dan komitmen bersama untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai wilayah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia, ternyata sudah berada dalam irama yang sama dan waktu yang sama. Irama yang sama untuk bertindak cepat dalam membangun kepariwisataan di Kepulauan Nias serta dicambuk oleh MEA untuk segera bertindak dan berbenah, demi percepatan pembangunan pariwisata. Momentumnya sudah sangat tepat dan sangat mendukung, sehingga kita bisa menyanyikan salah satu lagu wajib, karangan Ibu Sud, yaitu berkibarlah benderaku lambang suci gagah perwira, di seluruh pantai Indonesia kau tetap pujaan bangsa . . . . . dan seterusnya. Berkibarlah pariwisata, di Kepulauan Nias, di seluruh Kepulauan Nias terdapat objek wisata . . . . . dan selanjutnya.

Semangat yang menggelora ini muncul karena waktunya hampir bersamaan, Pariwisata dan MEA. Sepertinya sudah ada yang mengatur. Percayalah itu. Karena itu marilah kita kibarkan semangat yang sedang menggelora di dada para pengambil keputusan, untuk mewujudkan cita-cita bersama itu. Jadikanlah Kepulauan Nias menjadi andalan Pulau Sumatera di bidang pariwisata atau Kepulauan Nias dirubah menjadi Balinya Pulau Sumatera.

Palu sudah berada di tangan para pemimpin di daerah Kepulauan Nias. Ayunkanlah dan pukulkan palu itu di atas meja, sebagai tanda pengobaran semangat dan pembakar semangat masyarakat untuk bersama-sama melakukan banyak hal di bidang pariwisata, serta menyalakan mercu suar yang dapat memancarkan isyarat untuk membantu memberikan tanda tempat berlabuhnya kapal pariwisata Kepulauan Nias.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Wisata Pantai dan Laut

Wednesday, December 3rd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1MESKIPUN harga bahan bakar minyak (BBM) sudah naik dan mahasiswa-mahasiswa melakukan demo menolak kenaikan harga BBM itu, kenaikan harga BBM tetap berjalan, bahkan pengguna BBM pun tetap banyak. Lihat saja antrian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetap banyak. Bahkan keinginan sebagian orang untuk melakukan rekreasi bersama keluarga, tetap saja berjalan seperti biasa. Mereka banyak bepergian di pantai untuk melihat laut sekaligus rekreasi, agar mendapatkan kesegaran pemikiran kembali setelah melakukan berbagai pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran.

Kita memang membutuhkan keseimbangan dalam hidup ini. Setelah tersita waktu dan pikiran untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari, lalu meluangkan waktu untuk melakukan pemulihan kesegaran pemikiran kembali, dengan melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga sekaligus mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga besarnya.

Jadi, Anda jangan heran bila tiba hari besar atau hari libur, orang berlomba-lomba bepergian untuk rekreasi. Objek dan daya tarik wisata yang dipilih lebih banyak pada produk wisata pantai (wisata laut). Mereka membuang kejenuhan dengan menyenangkan mata melihat laut yang biru dan sangat luas, menyenangkan telinga mendengarkan deru ombak yang menggelegar, menyenangkan perut melalui makanan khas lokal (kuliner), menyenangkan hati dengan berbelanja souvenir dan kebutuhan lainnya, serta menyenangkan pikiran.

Pertanyaan menarik yang perlu diajukan disini adalah mengapa kebanyakan manusia suka bepergian di pantai? Barangkali, karena pantai memiliki luasan pasir yang menarik dengan deru ombak yang menderu-nderu dan saling berlari kejar mengejar menuju pantai. Pemandangan di laut yang menggambarkan tidak ada batasnya, demikian juga tingginya langit tanpa hambatan. Paling-paling ada hambatan tidak bisa melihat langit, bila terdapat banyak awan sebagai tanda mau turun hujan.

Memandangi laut yang demikian luas, serta melakukan berbagai aktivitas di pantai atau di laut, banyak memberikan nuansa kegembiraan. Jadi hati ini terasa tenteram dan bahagia, lebih-lebih berwisata bersama keluarga.

Berbagai hal yang bisa dilakukan bila rekreasi di pantai. Antara lain mandi di laut, berenang di laut, mancing di laut, bermain pasir dengan membuat jembatan, gunung, kue tar atau jenis yang lain. Bisa juga naik kuda menyusuri pantai atau motor-motoran bersama anak atau cucu. Tanpa kemana-mana pun tidak masalah, cukup dengan hanya duduk-duduk di atas tikar di pantai, sambil makan jagung bakar atau minum air kelapa muda.

Di pantai bisa juga merasakan pijitan dari yang ahli pijit, agar peredaran darah bisa lancar kembali, sehingga kembali bugar. Para wisatawan yang lagi menikmati derunya ombak, bisa juga main bola atu voli bersama, sehingga betul-betul terjadi keakraban satu sama lain.

Apabila gelombang laut memiliki ombak yang besar dan tinggi, bisa juga berolahraga selancar. Kegiatan penyelaman juga bisa dilakukan pada wilayah laut yang tidak berbahaya, sambil menikmati pemandangan di bawah laut.

Setelah puas bermain di pantai dan di laut, Anda pun bisa menunggu sampai sore di pinggir pantai sambil menikmati suasana sunset yang begitu indah di mata. Sungguh memberikan situasi perasaan yang nyaman dan damai di hati.

Setelah merasakan dan menikmati rekreasi di pantai, tentu akan melakukan perjalanan mau pulang. Sebelum pulang, biasanya wisatawan akan mampir di suatu tempat untuk berbelanja souvenir sebagai oleh-oleh termasuk belanja lauk ikan yang biasanya terdapat dan dijual di sekitar lokasi pantai. Jadi melakukan rekreasi di pantai, banyak hal yang bisa dilakukan, dan banyak hal yang bisa diperoleh, sehingga kejenuhan menjadi sirna dan hubungan antar keluarga semakin erat dan damai.

Berbagai hal yang didapatkan dan dirasakan setelah berwisata di pantai, akan membuat wisatawan merasakan kesegaran, terutama dalam hal hubungan dengan keluarga yang semakin baik serta pemikiran yang sudah semakin jernih. Hal-hal yang sudah didapatkan wisatawan, seperti merasakan dan menikmati produk wisata pantai, berwisata olahraga, berwisata kuliner, dan bisa juga berwisata kreatif dengan membentuk gunungan atau sejenisnya yang berbahan pasir atau yang heboh lagi yaitu berfoto ria. Sungguh menyenangkan serta sungguh memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan.

Berdasarkan pengamatan, jumlah wisatawan yang berkunjung di objek dan daya tarik wisata pantai semakin meningkat jumlahnya. Apalagi pada waktu hari libur, jumlah wisatawan akan semakin meningkat. Melihat kondisi ini, maka banyak pemerintah daerah yang menyulap pantainya menjadi sesuatu yang menawan dan menarik hati. Seperti pantai-pantai yang terdapat di sepanjang laut selatan Yogyakarta, pemerintah daerah Gunungkidul dan pemerintah daerah Bantul menggarap lingkungan pantainya menjadi semakin menarik serta mempermudah akses pencapaiannya.

Sepanjang pantai yang jauhnya sekian kilometer itu, pemerintah daerah membangun dan mengembangkan beberapa lokasi wisata pantai, yang hanya dibatasi hutan atau batu karang. Setiap lokasi wisata pantai, dibuat diferensiasi dengan penonjolan ciri khas dari masing-masing pantai. Ada pantai yang diperuntukkan bagi yang suka pemandangan alam dan laut, ada pantai yang ada pasar ikannya, ada pantai yang bisa untuk motor-motoran dan olahraga kuda, ada pantai yang banyak kulinernya, ada pantai yang banyak menyajikan hasil kerajinan masyarakat, dan beberapa wisata pantai lainnya yang memiliki ciri kekhususan.

Tujuan dilakukannya diferensiasi ini dalam upaya agar wisatawan yang mau rekreasi di pantai, tidak hanya berkunjung pada 1 (satu) pantai saja, tetapi akan melakukan kunjungan pada beberapa pantai yang sudah disiapkan itu. Jadinya semua pantai yang ditawarkan itu, akan dikunjungi semua oleh para wisatawan. Jadi sekali melakukan kegiatan wisata, akan bisa melihat beberapa pantai yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri.

Nah, setiap objek wisata pantai, sudah disiapkan loket karcis bagi pengunjung, sekaligus sebagai dasar hitungan jumlah pengunjung. Karcis yang disiapkan itu, ada yang diperuntukkan kepada para pengunjung, ada karcis untuk motor, dan ada karcis untuk bus dan truk.

Meskipun pemasukan pemerintah dari penjualan karcis terbilang hanya sedikit, barangkali sekian puluh miliar dalam setahun, namun jumlah pemasukan ini sangat bermanfaat. Selain itu, penerimaan lain yang bisa diperoleh pemerintah daerah bisa berupa pajak dari usaha kepariwisataan dan pajak-pajak yang lain (tidak langsung).

Mengenai jumlah penerimaan-penerimaan pemerintah daerah dari kegiatan pariwisata ini, mestinya bisa dalam beberapa jenis, seperti pemasukan dari karcis masuk objek wisata dan pajak-pajak usaha. Penerimaan pemerintah daerah yang bersumber dari penjualan karcis masuk di setiap ojek dan daya tarik wusata, tentu bisa digunakan untuk pemeliharaan objek dan daya tarik wisata. Pengeluaran yang lain bisa juga digunakan untuk pembayaran gaji petugas yang membantu kelancaran perjalanan kunjungan wisatawan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang berkaitan dengan pengelolaan objek dan daya tarik wisata.

Mungkin yang paling menarik di sini adalah besaran pendapatan masyarakat yang langsung diperoleh dari para wisatawan. Masyarakat langsung mendapatkan hasil dari berbagai usaha yang mereka lakukan dalam upaya memenuhi kebutuhan wisatawan. Besaran pendapatan ini yang barangkali sangat memberikan daya ungkit bagi masyarakat untuk berusaha. Artinya terjadi penyebaran jiwa wirausaha pada masyarakat, sekaligus mendorong masyarakat untuk bertindak ramah serta memberikan daya dorong bagi masyarakat untuk turutserta memelihara lingkungannya.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu melakukan inventarisasi lokasi-lokasi produk wisata pantai yang bisa ditawarkan kepada para wisatawan. Agar produk wisata pantai ini semakin memberikan daya tarik, tentu perlu melakukan usaha diferensiasi pada setiap objek wisata pantai. Tujuannya agar wisatawan selalu mendapatkan hal yang baru pada setiap produk wisata pantai yang dikunjungi serta menghindarkan kejenuhan bagi wisatawan. Semakin bervariasi kondisi produk wisata pantai, akan semakin mempesona bagi wisatawan serta dapat memberikan pengalaman baru, bila wisatawan berkunjung dari wisata pantai yang satu dengan wisata pantai yang lain.

Manfaatkanlah kekayaan laut yang terdapat di wilayahnya, dan suguhkan kekayaan laut itu kepada orang yang berkeinginan untuk mendapatkan kesegaran kembali. Laut dan pantainya memang memberikan berbagai hal yang menyenangkan bagi siapa saja yang melakukan kunjungan. Untuk itu sulaplah kondisi lingkungan pantai dan laut itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi setiap orang yang melakukan kegiatan pariwisata di pantai. Kembangkanlah wisata laut di wilayahnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Pariwisata: Basis Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Monday, November 24th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

OpiniPADA dasarnya pemerintah itu hadir dalam rangka untuk meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi bagi rakyatnya. Untuk itu pemerintah bekerja keras untuk mewujudkan ke-2 hal itu di wilayahnya, agar gap antara yang kaya dan yang miskin tidak semakin melebar. Untuk penilaian pencapaiannya, pemerintah selalu mengamati dan menganalisis data tentang perkembangan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi itu bagi rakyatnya.

Gubernur provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan informasi bahwa data pertumbuhan ekonomi DIY di tahun 2012 meningkat menjadi 5,23%. Pertumbuhan ekonomi ini banyak dipicu adanya peningkatan pendapatan di bidang sektor pariwisata, hotel dan restoran. Hal ini disampaikan Gubernur DIY pada acara serahterima jabatan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di DIY pada tanggal 26 April 2013.

Berita pertumbuhan ekonomi DIY ini merupakan sebuah informasi yang sangat menarik bagi kita yang sedang mendorong sektor pariwisata untuk menjadi lokomotif pembangunan kesejahteraan masyarakat di beberapa daerah. Ternyata dampak keberhasilan pada sektor pariwisata seperti di DIY, akan memberikan sumbangsih pada sektor-sektor yang lain menjadi sangat terdongkrak. Dengan demikian, keberhasilan dalam pembangunan pariwisata dapat mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi sehingga mereka bisa cepat meningkatkan taraf hidupnya.

Fakta yang disampaikan Gubernur DIY ini memang seratus persen benar. Apa buktinya? Sebagaimana diketahui bahwa ekonomi suatu Negara bertumbuh dari empat sumber yaitu: 1. Pengeluaran masyarakat untuk konsumsi (spending); 2. Peningkatan investasi; 3. Kegiatan ekspor dikurangi impor; dan 4. Pengeluaran pemerintah (Government expenditure).

Kegiatan wisata memberikan kontribusi personal spending terbanyak. Mengapa? Karena saat berwisata, orang pasti berbelanja. Jika berbelanja, turn over perekonomian akan bertumbuh. Masyarakat yang dikunjungi akan memperoleh pendapatan dari transaksi penjualan barang dan jasa kepada wisatawan, sedang pemerintah akan mendapatkan retribusi dan pajak dari usaha yang bergerak di bidang usaha pariwisata.

Kunjungan wisata itu adalah kunjungan menyenangkan. Senang karena berkunjung di daerah lain yang mungkin baru pertama kali dikunjungi. Senang karena melihat berbagai seni dan budaya khas lokal, serta senang karena mendapatkan souvenir dan menikmati kuliner lokal.

Kegiatan wisata serba menyenangkan. Bisa menyenangkan mata (melihat laut dan gunung), menyenangkan telinga (mendengar musik), menyenangkan perut (kuliner), menyenangkan hati (belanja) dan menyenangkan pikiran. Jadi pariwisata adalah segala kunjungan yang menyenangkan. Objek kunjungan terdapat di sebagian besar wilayah di Indonesia, yang semuanya bagaikan surga dunia yang serba menyenangkan hati (Irawady, 2012).

Untuk lebih memahaminya, Amalia (2013) menyampaikan beberapa informasi bahwa pada tahun 2012, kontribusi langsung sektor pariwisata terhadap Gross Domestic Product (GDP) mencapai 4 persen, sedangkan kontribusi tidak langsung sektor pariwisata memberikan sumbangan sebesar 8 persen, sehingga jika ditotal mencapai angka 12 persen. Kontribusi ini menjadi sangat bermakna seperti yang dialami Provinsi DIY.

Dengan demikian, pengembangan potensi pariwisata yang dimiliki setiap daerah di Indonesia sangat diperlukan dan sangat dibutuhkan. Pengembangan potensi ini menjadi sangat bermakna dalam upaya meningkatkan daya tarik bagi wisatawan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa masih banyak potensi pariwisata daerah di wilayah Indonesia yang belum diolah, termasuk Kepulauan Nias. Potensi yang dimiliki masih dibiarkan terbengkalai.

Untuk itu sebaiknya potensi yang telah dimiliki itu perlu sesegera mungkin diolah dan dikelola serta dikenalkan kepada dunia sehingga destinasi wisata di Indonesia tidak hanya kawasan Bali yang dikenal dunia tetapi juga kawasan-kawasan lainnya, seperti Raja Ampat di Papua Barat, Kepulauan Nias di kawasan barat Indonesia he he.

Pada kenyataannya banyak daerah di wilayah Indonesia yang memiliki banyak potensi di bidang pariwisata, seperti wilayah di kawasan timur dan barat Indonesia. Karena itu janganlah biarkan potensi yang ada ini menjadi sebuah mutiara dalam lumpur, jikalau tidak dicari ya tidak ketemu. Bangun dan desain kawasan wisata yang sudah ada itu, sehingga menjadi sangat menarik bagi wisatawan dan promosikan daya tarik wisata tersebut sehingga dunia mengenalnya.

Berdasarkan United Nations World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2012, kawasan Asia Pasifik adalah kawasan yang memiliki pertumbuhan yang paling tinggi dari sisi pariwisata. Di kawasan ini terjadi peningkatan sebesar 7 persen pengunjung atau setara dengan kenaikan 15 juta pengunjung internasional dibandingkan tahun 2011.

Karena itu, Indonesia seharusnya lebih melirik industri pariwisata sebagai salah satu industri yang harus ditopang dan dibantu dengan berbagai regulasi. Dan berupaya lebih mengenalkan berbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang sangat unik dan menarik.

Kenaikan jumlah penduduk berpendapatan menengah ke atas di Indonesia juga dapat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan industri pariwisata. Jumlah penduduk yang termasuk kelas menengah ke atas di Indonesia sudah di atas 100 (seratus) juta orang, bahkan sudah mendekati angka 150 (seratus lima puluh) juta orang. Dengan adanya kenaikan jumlah penduduk dengan pendapatan menengah ke atas, dapat berdampak besar pada kenaikan akan kebutuhan tersier seperti pariwisata, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah wisatawan nusantara.

Untuk lebih meyakinkan bahwa pariwisata sangat mendukung pertumbuhan ekonomi suatu Negara atau daerah, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu menyatakan, sektor pariwisata kini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. Wah jadi semakin menarik pariwisata ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan hal ini pada saat Beliau memimpin konferensi tentang Pembangunan Berkelanjutan yang membahas tentang Pariwisata di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 6 Oktober 2013 yang lalu. Selanjutnya Menteri menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi negara saat ini tidak lepas dari kontribusi sektor pariwisata. Berdasarkan pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini, apakah Anda masih ragu atau kurang percaya pada pembangunan dan pengembangan pariwisata?

Mari Elka Pangestu mengatakan selanjutnya bahwa dengan pencapaian 9 persen Gross Domestic Product (GDP) dunia, 30 persen ekspor jasa, dan satu dari 11 lapangan kerja diserap industri pariwisata, menunjukkan bahwa sektor pariwisata telah menjadi: 1. Mesin pertumbuhan ekonomi; 2. Pencipta lapangan kerja; dan 3. Pengentasan kemiskinan. Pembangunan di sektor pariwisata terus bertumbuh di Kawasan Asia Pasifik, sebab memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan,” katanya.

Untuk meningkatkan daya tarik pada suatu kawasan pariwisata, perlu meningkatkan ‘nilai’ objek-objek wisata kepada orang lain. Dan ini tentu suatu keharusan agar wisman dan wisnus tertarik untuk datang menikmati keindahan dan keluhuran objek wisata yang dimiliki.

Peningkatan nilai objek wisata seperti objek wisata pantai atau objek wisata alam dan objek wisata lainnya, tentu dimulai dari upaya penataan lokasi. Sebelah mana lokasi pendirian warung makan, lokasi menikmati sunset, lokasi toilet, lokasi warung kerajinan, lokasi duduk-duduk santai bagi keluarga, lokasi arena mainan anak-anak, lokasi atraksi wisata seperti senitari dan sebagainya, lokasi mancing, lokasi voli pantai, lokasi mandi di laut yang tidak berbahaya, lokasi penginapan, lokasi naik kuda, lokasi bermain motor-motoran bagi anak-anak, lokasi atraksi lari kuda, lokasi mendaki gunung, lokasi hutan wisata, lokasi waterfall, dan lokasi-lokasi yang lain. Penataan lokasi-lokasi di atas, semuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan saat mereka berkunjung di objek wisata, baik di objek wisata pantai, wisata bahari maupun di objek wisata alam serta seni budaya.

Nah, untuk menangani penataan dan peruntukkan lokasi, tentu kita butuh map (peta) objek wisata pantai, wisata alam dan objek wisata lainnya. Dan penataan lokasi ini bisa saja dikerjakan oleh Dinas Pariwisata. Secara sederhana, paling-paling kan berkaitan dengan panjang lebarnya objek wisata (luas) serta penentuan lokasi-lokasi yang akan dibangun di lahan objek wisata tersebut. Tujuannya agar para pengunjung di objek wisata tersebut dapat merasakan kesegaran, keamanan, kenyamanan, dan kebersihan.

Selamat menunaikan amanah sebagai orang-orang yang penuh kreativitas dalam menata dan mengembangkan objek wisata di masing-masing Pemerintahan daerah di Indonesia dan di Kepulauan Nias. Mari meningkatkan peran pariwisata di wilayah kita demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan, serta untuk mengentaskan kemiskinan. Jadikanlah daerah kita menjadi daerah yang tidak termasuk daerah tertinggal lagi, tetapi menjadi suatu daerah yang pertumbuhan ekonominya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Dampak Sidang Raya PGI di Kepulauan Nias

Sunday, November 2nd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2BANGGA dan mantap Kepulauan Niasku. Pada tahun 2014 ini, Kepulauan Nias mendapat kehormatan besar untuk menjadi tuan rumah sebagai penyelenggara Sidang Raya PGI. Sungguh membanggakan.

Informasi ini didapatkan dari Bapak Walikota Gunungsitoli sebagai Ketua Pantia. Beliau mengatakan bahwa pada tahun 2014 ini ada momen besar di Kepulauan Nias, yakni pelaksanaan Sidang Raya XVI dan Musyawarah Pekerja Lengkap (MPL) Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Sidang Raya ini dihadiri tamu-tamu yang berasal dari dalam negeri dan mancanegara.

Walaupun skala PGI merupakan skala nasional tetapi karena gaungnya PGI di Indonesia sangat besar, maka kemungkinan besar dan diharapkan bahwa Presiden RI akan hadir pada pembukaan Sidang Raya ini. Demikian juga jajaran Kabinet Kerja Presiden RI dan utusan-utusan dari luar negeri pasti banyak yang datang. Kehadiran Presiden RI, jajaran Kabinet, dan utusan dari beberapa Negara dalam Sidang Raya PGI ini, akan memberikan dampak yang sangat besar pada masa depan Kepulauan Nias. Dampak utamanya adalah menjadi daya ungkit pada perkembangan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan di Kepulauan Nias.

Beberapa dampak lain dari pelaksanaan Sidang Raya di Kepulauan Nias ini, yaitu: Dampak pertama yaitu mereka akan melihat sejauhmana persekutuan gereja-gereja yang ada di Kepulauan Nias, menjadi satu sebagai insan yang diselamatkan. Dampak kedua, persepsi mereka pada karakter manusia Nias di Kepulauan Nias. Dampak ketiga, mereka akan melihat mengenai kemampuan putra-putri Nias untuk melaksanakan penyambutan terhadap tamu-tamu agung yang berasal dari dalam dan luar negeri. Dampak keempat, mereka akan melihat mengenai kerjasama antara panitia lokal dan panitia nasional dalam menyukseskan Sidang Raya. Dampak kelima, mereka akan melihat sikap dan perilaku orang Kristen di Kepulauan Nias. Dampak keenam, mereka akan melihat keadaan sosial dan budaya masyarakat Nias. Dampak ketujuh, mereka akan melihat objek dan daya tarik wisata yang unik di Kepulauan Nias. Dampak kedelapan, mereka akan melihat dan merasakan makanan khas daerah Kepulauan Nias. Dampak kesembilan, mereka akan melihat hasil kerajinan khas warga masyarakat di Kepulauan Nias. Dampak kesepuluh, mereka akan melihat pembangunan-pembangunan yang telah dilaksanakan di Kepulauan Nias. Dampak kesebelas, mereka akan merasakan mengenai keamanan dan kenyamanan selama berada di Kepulauan Nias.

Dampak-dampak yang dirasakan para tamu ini akan terucap setelah meninggalkan bumi Kepulauan Nias. Biasanya kesan itu terucap pada waktu mereka sudah menyelesaikan tugasnya di Kepulauan Nias, seraya bercakap-cakap dengan temannya di perjalanan menuju daerah mereka masing-masing. Hasil percakapan mereka itu bisa berujud pada hal-hal yang bersifat positif atau sebaliknya pada hal-hal yang bersifat negatif.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara supaya kesan tamu-tamu agung tersebut menjadi ucapan yang positif? Nah, untuk mewujudkan ini, sebaiknya kita memakai kacamata ‘manfaat’.

Peserta Sidang Raya berkenan datang di Kepulauan Nias, berarti mereka akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Nias. Baik bersifat manfaat material maupun bersifat manfaat non material. Dari segi material, mereka akan berbelanja penginapan, transportasi, makan, dan oleh-oleh khas Kepulauan Nias. Dari segi non material, mereka akan memberikan pelajaran yang sangat berhaga bagi kita, dalam hal keimanan, ketekunan, kerjasama, koordinasi, pengorganisasian, saling menghargai, percaya mempercayai, kepemimpinan, pengambilan keputusan dan lain-lain.

Kalau kita semua berpandangan bahwa para tamu yang menghadiri Sidang Raya PGI akan memberikan banyak ‘manfaat’, menjadikan kita ringan kaki dan tangan dalam melakukan pekerjaan, bertindak ramah, dan selalu penuh sukacita. Mudah bekerja, mudah melangkah dan mudah tersenyum.

Apabila panitia bekerja dengan sukacita dan panitia serta masyarakat Kepulauan Nias dapat melakukan kerjasama yang mantap, dalam rangka menghadirkan ‘kesan’ yang baik kepada tamu-tamu yang hadir pada Sidang Raya tersebut, dipastikan akan menghadirkan kesan yang positif. Dari mata turun ke hati dan dari hati turun ke tindakan yang menghasilkan kesan dan tindakan yang positif.

Bagaimana kalau sebaliknya bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan sebuah beban? Kalau yang dikedepankan adalah beban, maka yang terjadi adalah mudah berkeluh kesah, kesel, malas-malasan, saling menyalahkan, mudah bersungut-sungut dan mungkin tabiat-tabiat buruk yang lain akan muncul he he. Tidak terlihat sukacita di rona muka bahkan yang bisa dilihat adalah bekerja asal-asalan. Kalau hal ini yang disandang para panitia, akan mudah ditebak bagaimana hasil akhir dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Hasilnya akan menjadi kacau balau dan tidak berkesan sehingga kata akhir dari peserta Sidang Raya adalah kurang bagus pelaksanaannya.

Oleh karena itu, kesiapan kita dalam berbagai tugas menjelang dilaksanakannya sidang raya PGI pada tahun 2014 ini betul-betul diupayakan tertata dengan baik. Semua insan yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Sidang Raya PGI ini hendaknya memiliki semboyan dalam hati bahwa akan berbuat yang terbaik menjelang, saat sidang, dan berakhirnya Sidang Raya tersebut di bumi Kepulauan Nias. Tujuannya adalah agar semua tamu yang datang dari luar Nias ke Kepulauan Nias memiliki pendapat dan kesan bahwa MEMANG ORANG-ORANG NIAS ITU PINTAR-PINTAR DAN RAMAH. Objek dan daya tarik wisatanya pun menakjubkan dan masih asli belum tertular virus-virus dari luar.

Untuk itu kepada Panitia penyelenggaraan Sidang Raya PGI yang berasal dari Kepulauan Nias, supaya menyiapkan juga salah satu acara khusus bagi tamu-tamu peserta Sidang Raya yaitu TOUR PADA OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA UNGGULAN KEPULAUAN NIAS. Tour ini menjadi sangat penting dan banyak manfaatnya pada Kepulauan Nias di masa yang akan datang sebagai salah satu kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).

Manfaat yang akan kita dapatkan pada waktu sekarang, yaitu tamu-tamu yang ikutserta dalam rombongan tour itu, akan dapat menjadi agen-agen kita di waktu yang akan datang. Apabila mereka bisa sebagai agen, tentu akan bercerita tentang keunikan pariwisata di Kepulauan Nias kepada orang lain. Supaya harapan ini bisa terwujud, mereka diberi kelengkapan lain dengan menyiapkan brosur-brosur tentang objek dan daya tarik wisata yang dimiliki Kepulauan Nias.

Distribusikanlah brosur-brosur itu di meja-meja persidangan, karena nantinya brosur itu akan menjadi sumber informasi bagi mereka setelah meninggalkan Kepulauan Nias. Kegiatan ini merupakan sebuah taktik yang disiapkan oleh panitia. Pelaksanaan taktik ini dikandungmaksud sebagai upaya untuk melakukan kegiatan, yaitu PROMOSIKAN PARIWISATA KEPULAUAN NIAS KEPADA TAMU/PESERTA SIDANG RAYA PGI.

Apakah kegiatan Sidang Raya ini akan memberikan sebuah peluang untuk itu? Sebuah peluang bisa terdapat dimana-mana, tetapi orang-orang yang datang di Kepulauan Nias berkenaan dengan Sidang Raya PGI, merupakan sebuah peluang untuk langsung mempromosikan pariwisata Kepulauan Nias.

Promosi pariwisata Kepulauan Nias pada saat Sidang Raya ini merupakan satu peluang emas. Batangan emasnya ini menjadi sangat bernilai karena yang menghadiri Sidang Raya ini terdiri dari tamu-tamu agung yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Artinya kita tidak perlu melakukan kunjungan di beberapa Negara di luar negeri untuk mempromosikan pariwisata Kepulauan Nias. Kalau kegiatan kunjungan ke luar negeri dilakukan akan berbiaya besar, dan membutuhkan waktu berhari-hari.

Nah, sekarang mereka yang datang di Kepulauan Nias, kita tinggal menyiapkan berbagai macam informasi mengenai objek dan daya tarik wisata di Kepulauan Nias. Inilah yang disebut berpromosi dengan berbiaya rendah. Tangkap hati para tamu dan gunakan peluang pasar yang sudah berada di depan mata.

Berkenaan dengan beberapa poin di atas, tentu kita mengetuk pintu hati para Bupati/Walikota di Kepulauan Nias untuk bersama-sama menangkap pasar yang mungil ini. Beramai-ramailah menghadirkan objek dan daya tarik wisatanya yang menjadi unggulan, dan cantumkanlah informasi itu dalam brosur dengan bahasa yang menarik, sesuai kondisi dari masing-masing objek dan daya tarik wisata, serta bagikan brosur itu kepada setiap tamu yang hadir pada Sidang Raya PGI.

Kalau bisa, filemkan objek dan daya tarik wisata Kepulauan Nias. Lalu filem tersebut diputar pada sesi-sesi break, sehingga merasuk benak para peserta. Kalau sudah demikian, maka kita tinggal menunggu kedatangan mereka di Kepulauan Nias kembali, dalam wujud atau nama sebagai wisatawan yang berkunjung dan yang mengunjungi objek dan daya tarik wisata unggulan Kepulauan Nias.

Kepada teman-teman sekalian, silahkan dukung dan berikan ide cemerlang berkenaan dengan penyelenggaraan Sidang Raya PGI di Kepulauan Nias pada tahun ini. Semua yang akan dilakukan tentu bersumber dari dan untuk kita semua.

Selamat melaksanakan Sidang Raya, Tuhan Yesus memberkati, Amin.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Bandar Udara Binaka Gunungsitoli

Sunday, October 26th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2BINAKA, merupakan nama salah satu Bandar Udara di Indonesia. Dimana itu? Bandar udara nan jauh di sebelah barat Indonesia yaitu Pulau Nias.

Pulau Nias terletak di sebelah barat Sumatera, yang berbatasan dengan Lautan Hindia (lautan yang banyak pencuri ikannya dan mungkin bentuk kriminal yang lain). Bandar Udara Binaka terletak di kecamatan Gunungsitoli, Sumatera Utara yang berlokasi di Jl. Pelabuhan Udara Binaka Km.19,5 Gunungsitoli.

Menurut Walikota Gunungsitoli, panjang landas pacu 1.800 m dan direncanakan akan diperpanjang menjadi 2.300 m. Jadi ada tambahan panjang landas pacu 500 m. Pertanyaannya adalah mengapa tidak ditambah 1.000 m sekalian sehingga panjang landas pacu menjadi 2.800 m?

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan apabila panjang landasan menjadi 2.800 m, antara lain: 1. Bisa didarati pesawat-pesawat berbadan lebar dengan mantap seperti Boeing dan Airbus; 2. Pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Binaka; 3. Kegiatan pariwisata Kepulauan Nias cepat berkembang; 4. Jalur penerbangan dalam negeri bisa cepat berkembang di Kepulauan Nias, baik pesawat-pesawat dari Sumatera, Batam, Jawa, Bali, dan Lombok.

Nah, apabila jalur penerbangan dalam dan luar negeri bisa cepat berkembang di Binaka Gunungsitoli, lalu lintas manusia menjadi semakin banyak yang melewati Pulau Nias. Semakin banyak manusia menginjakkan kaki di bumi Pulau Nias, akan berdampak banyak pada kondisi ekonomi masyarakat yang berkembang cepat dan bertambahnya penerimaan yang mengisi kantong-kantong pemerintah daerah dalam bentuk pajak dan uang retribusi lainnya.

Dengan demikian rencana untuk menambah landas pacu pesawat di Binaka, jangan dibuat tanggung tetapi sekalian mantap sehingga dampaknya menjadi terasa bagi perkembangan pariwisata Kepulauan Nias ke depan. Jadi sekali dayung, bisa melewati beberapa pulau he he.

Penambahan lebar dan panjang landas pacu pesawat di Binaka Gunungsitoli sangat menarik dan sangat penting dilakukan. Apalagi penambahan landas pacu tersebut sudah disetujui Pemerintah Pusat melalui Menteri Perhubungan EE Mangindaan pada tahun 2013. Ini sebuah peluang emas bagi Kepulauan Nias untuk cepat keluar dari sebutan ‘daerah tertinggal’.

Tugas yang diemban dan diamanahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota Nias yaitu untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam memainkan segala upaya menuju Kepulauan Nias yang bermasadepan cerah. Tugas ini memang tidak mudah tetapi kalau disertai jiwa wirausaha pada level kepala daerah dan kepala SKPD, kita percaya bahwa bisa dilakukan.

Mengenai tambahan pembangunan landas pacu pesawat di Binaka, mungkin yang perlu diperhatikan yaitu masalah caring (perhatian) pada kebutuhan para penumpang pesawat. Seperti halnya Bandara Changi di Singapura, masalah caring menjadi perhatian utama dari yang membangun bandara Changi termasuk pemerintahannya. Semua ini dilakukan sebagai upaya memberikan kepuasan bagi para penumpang yang takeoff dan landing di Bandara Changi.

Apa saja bentuk caring yang ditampilkan pada Bandara Changi Singapura?, antara lain food court, tempat bermain anak, fasilitas Wi-Fi, enam taman terbuka, kamar hias bagi wanita, business centre, supermarket, bioskop 24 jam gratis bagi penumpang, gerai ritel, area tidur 24 jam, tempat ibadah, kolam renang, dan yang lain.

Bagaimana gambaran pembangunan dan pengembangan bandara Binaka di Gunungsitoli? Dapatkah perihal caring dapat dibangun di Binaka meskipun hanya sebagian dulu, sedang yang lain menyusul? Yang utama di sini adalah telah dibuat maket pembangunan Bandar udara Binaka terlebih dahulu, sedang pembangunannya bisa dilakukan secara bertahap.

Melalui informasi yang disampaikan Walikota tahun 2013 yang lalu dan Bupati Kabupaten Nias belum lama ini, bahwa akan diperpanjang landas pacu pesawat di Binaka. Terpampang banyak harapan bahwa Kepulauan Nias segera bangkit. Kita membayangkan bahwa ombak di Sorake dan Lagundri, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, akan segera dipenuhi para peselancar dari dalam dan luar negeri.

Bahkan mungkin pemerintah daerah akan mengagendakan iven dengan menyelenggarakan lomba selancar atau lomba perahu layar tingkat internasional di Kepulauan Nias setiap tahun. Wah kalau ini terjadi tentu kita semua sangat bangga menjadi ‘Ono Niha’ (orang Nias).

Menurut Nias Bangkit.Com edisi 11 Mei 2013, beberapa wisatawan yang datang di Kepulauan Nias mengakui bahwa ombak laut di Kepulauan Nias masih yang terbaik di dunia. Ombak di Kepulauan Nias lebih bagus daripada Bali.

Mengapa? Karena ombak laut di Kepulauan Nias, ombaknya besar, tinggi, dan terus-menerus. Pengakuan mereka memang sebuah fakta yang ada di Kepulauan Nias. Apalagi bila ditambah keunikan lain, yang telah dimiliki oleh Kepulauan Nias seperti atraksi lompat batu, tari maena, tari moyo, dan batu megalith yang terletak di Gomo dan di Desa Lasara Kecamatan Botomuzoi, Desa Hiliweto dan Lahemo Kecamatan Gido. Tentu berbagai hal yang unik dan hanya terdapat di Kepulauan Nias, serta didukung hadirnya perpanjangan landas pacu pesawat di Binaka, tentu akan meningkatkan jumlah lalu lintas manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias.

Semakin banyak manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias, tentu dampaknya banyak. Dampak positifnya yaitu terjadinya perputaran uang yang tinggi di Kepulauan Nias. Perputaran uang yang banyak di Kepulauan Nias bersumber dari para pengunjung yang datang di Kepulauan Nias. Mulai dari pengeluaran wisatawan untuk penginapan, makan, transportasi lokal, pemandu wisata (tour guide), warung makan/restoran, retribusi masuk objek dan daya tarik wisata, sampai pengeluaran untuk beli oleh-oleh, baik berupa makanan maupun berupa souvenir.

Dampak lain yaitu semakin banyak investor yang masuk di Kepulauan Nias untuk berinvestasi pada berbagai peluang usaha yang muncul berkaitan dengan lalu lintas manusia yang semakin maningkat di Kepulauan Nias. Investor tidak perlu dicari atau diundang, tetapi mereka datang sendiri.

Investor yang telah berjiwa wirausaha selalu mencari dan mencari berbagai peluang yang akan terjadi di masa yang akan datang di Kepulauan Nias. Apa masih ada dampak lain? Tentunya masih banyak seperti memunculkan jiwa wirausaha pada orang-orang Nias di wilayah Kepulauan Nias berkenaan dengan banyaknya pertemuan antara yang berkunjung dengan yang dikunjungi.

Melihat perkembangan yang mungkin terjadi ke depan, maka Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota tentu mulai menyiapkan diri menyongsong perubahan-perubahan yang akan terjadi di Kepulauan Nias. Penyiapan diri yang dimaksud berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang akan segera dikeluarkan berkenaan dengan kondisi ini. Kondisinya adalah Kepulauan Nias merupakan ‘Balinya Sumatera’, sebagai tujuan wisata utama di Kawasan Barat Indonesia. Atau sesuai informasi yang dipercaya, bahwa Kepulauan Nias sekarang sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).

Kepulauan Nias sebagai KSPN, tentu banyak hal yang akan disiapkan antara lain, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang akan bekerja pada sektor pariwisata, penyiapan satu pintu bagi pengurusan izin bagi investor, penyiapan rencana tata ruang wilayah (RTRW) baik di sekitar ibu kota Kabupaten dan Kota, ibu kota kecamatan dan di sekitar objek dan daya tarik wisata. Penyiapan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat juga perlu disiapkan dalam upaya menyongsong lalu lintas manusia yang akan semakin banyak di Kepulauan Nias, termasuk juga penyiapan lokasi terminal utama dan terminal-terminal penunjang (satelit) untuk mengantisipasi mobilisasi manusia dari daerah tertentu ke daerah lain di Kepulauan Nias.

Berkaitan dengan kesiapan-kesiapan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota untuk menghadapi perubahan-perubahan ini, kita berharap bahwa Beliau-beliau itu sudah memasang kuda-kuda untuk itu. Artinya, sekali serang musuh langsung jatuh. Sekali bertindak, manfaat yang akan diterima warga masyarakat menjadi nyata, hidup semakin baik.

Bagaimana sebaiknya pembangunan landas pacu pesawat di Binaka dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota, tentu diperlukan pemikiran-pemikiran yang positif dari Bapak/Ibu/Saudara sekalian. Anda berpendapat berarti Anda mendulang emas yang akan Anda kirim (berikan) di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

PKK dan Jajanan Kuno

Wednesday, October 15th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2PADA pertemuan Kemenparekraf dengan seluruh Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias dalam forum workshop Asistensi Penguatan Destinasi Nias, yang dilaksanakan pada tanggal 24-25 April 2014 di Hotel Poenix Yogyakarta, terdengar beberapa informasi mengenai pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Salah satu informasi yang disampaikan Bapak Walikota Gunungsitoli bahwa banyak yang menanyakan tentang kuliner khas Nias. Dan sampai sekarang belum mengetahui apa itu makanan khas asli Nias.

Hal yang diinformasikan di atas memang bukan merupakan hal yang baru. Masih banyak di antara kita yang belum mengetahui mengenai makanan khas Nias. Bahkan Pakar marketing Indonesia Bapak Hermawan Kartajaya juga mengalami kesulitan untuk mengetahui makanan khas Nias. Pada waktu beliau berkesempatan melakukan perjalanan di Kabupaten Nias Selatan, untuk melakukan survey dengan suatu topik tertentu, tidak ada yang tahu tentang makanan khas Nias. Beliau mengatakan bahwa sudah bertanya kepada beberapa orang mengenai makanan khas Nias, tetapi tidak ada yang bisa memberitahu, pada hal beliau ingin sekali mencoba dan merasakan kelezatan makanan khas Nias.

Salah satu pendukung utama dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata di suatu wilayah adalah makanan khas lokal. Seperti halnya di Jogja, makanan khasnya yang sudah sangat terkenal seperti gudeg, bakmi jawa, thiwul, dan bakpia, dari lebih 90 daftar makanan khas Yogyakarta (wisata kuliner Jogja). Jenis makanan khas Jogja itu, sudah cukup terkenal dan banyak diminati para wisatawan yang berkunjung di Jogja. Demikian juga bila kita bepergian di Kota Makassar-Sulawesi Selatan, kita akan menemukan makanan khas Makassar seperti ulu juku, mie kering, sop konro dan konro bakar, pallubasa, pisang ijo dan makanan khas lainnya. Lalu kita pindah dan melihat Kota Banjarmasin-Kalimantan Selatan, makanan khasnya meliputi soto banjar, gangan asam banjar, apam barabai, ketupat kandangan, dan makanan khas lainnya. Contoh-contoh makanan khas daerah di atas, menggambarkan bahwa setiap daerah memiliki makanan khas dan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan, terutama bagi mereka yang suka wisata kuliner.

Nah, kalau kita ingin mengetahui lebih dalam mengenai makanan khas Kepulauan Nias, tentu perlu kita melakukan sesuatu, atau mengusahakan sesuatu kegiatan. Hal-hal yang perlu kita lakukan, tentu sebagai upaya untuk dapat mengetahui apa saja makanan khas Nias itu. Sudah seyogyanyalah kita harus berusaha mengetahuinya, kan malu dunk bila sebagai orang Nias tidak mampu menjelaskan mengenai jenis dan materi dari makanan khas Nias. Melalui makanan khas lokal inilah, seseorang bisa bercerita mengenai rasa dan desain dari suatu jenis makanan khas Nias. Apa hebatnya makanan khas tersebut dan bagaimana rasanya serta makanan itu berasal dari apa dan seterusnya . . dan seterusnya.

Untuk mewujudkan keingintahuan kita pada makanan khas Nias, perlu kita memahami dan melakukan kegiatan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Sebagai pembanding, mari kita lihat yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal, Jawa Tengah. Demi menjaga kelestarian makanan tradisional sebagai salah satu aset budaya, Pemkot Tegal, menyelenggarakan Festival Jajanan Kuno, yang diikuti 28 peserta, terdiri dari 27 perwakilan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) kelurahan dan 1 perwakilan PKK Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. Festival ini merupakan salah satu upaya melestarikan budaya, karena makanan tradisional merupakan salah satu bagian dari budaya. Apabila tidak dilestarikan, keberadaan makanan-makanan tradisional itu dikhawatirkan akan hilang dan tergerus oleh makanan modern dan cepat saji. Wakil Walikota Tegal mengatakan, Pemkot Tegal akan terus mendukung upaya pelestarian makanan tradisional, antara lain dengan pembinaan melalui PKK. Wakil Walikota yakin bahwa makanan tradisional itu tidak kalah dengan makanan modern jika dikemas lebih menarik (WIE, 2014).

Apa yang timbul di pikiran kita setelah mendalami kegiatan Pemkot Tegal dalam upayanya melestarikan makanan tradisional itu? Mestinya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk dapat menginventarisir berbagai makanan tradisional Nias melalui suatu kegiatan festival. Mungkin kita bisa berikan nama festival itu dengan sebutan “Lomba Pembuatan Makanan Khas Nias, Menyongsong Kepulauan Nias sebagai Destinasi Wisata Utama Nasional”. Apa pun nama yang kita berikan pada festival jajanan khas Nias, tidak menjadi masalah. Yang utama adalah kita bisa mengetahui persis apa saja makanan tradisional Nias itu.

Untuk mengurangi kegalauan hati pada makanan khas Nias itu, saya mencoba menanyakan kepada Mbah Gugel. Ternyata Mbah Gugel cepat sekali memberikan informasi mengenai makanan khas Nias itu. Saudara Gea (2013) menulis beberapa makanan khas Nias itu, antara lain: 1. Harinake, makanan adat tradisional Nias di Nias bagian Utara, dan Nias bagian Barat, yang bersumber dari daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil atau bersumber dari daging ikan dan disajikan untuk menghormati tamu; 2. Ni’owuru, daging babi yang diawetkan dengan menggunakan garam; 3. Gowi nifufu, ubi yang ditumbuk sebagai makanan pokok orang Nias pada zaman dulu ; 4. Lehedalö nifange, daun talas yang direndang sebagai lauk dipesisir pulau Nias; 5. Hambae nititi, daging kepiting yang di campur dengan santan kelapa dimasak sampai kering untuk dijadikan lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 6. Bato hambae, daging kepiting yang telah dibentuk berbentuk bulat lempeng lalu diasapi sampai kering, digunakan sebagai lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 7. Nami (telur kepiting), digoreng dengan minyak kelapa dan disajikan sebagai lauk; 8. Silio guro, daging udang yang telah digiling dicampur dengan kelapa yang dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api yang digunakan sebagai lauk; 9. Babae, makanan khas adat di Nias Bagian Selatan yang merupakan campuran dari daging babi, kacang hijau, kelapa dan bawang merah untuk menghormati tamu agung, biasanya digunakan sebagai lauk; 10. Kofo-kofo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau – pulau Batu kabupaten Nias Selatan, merupakan daging ikan yang telah dibuang durinya yang dimasak dengan santan kelapa ataupun digoreng biasanya digunakan untuk lauk; 11. Saku nisolo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau-pulau Batu Kabupaten Nias Selatan, dari bahan tepung sagu yang telah digongseng dan disirami santan yang digunakan sebagai ganti nasi; dan 12. Dodol durian, makanan tambahan pada musim buah durian di Nias yang hampir bisa ditemukan sepanjang tahun di Nias.

Makanan khas Nias lainnya yang belum disebut, masih ada lho seperti: godo-godo (ubi/singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang ditaburi dengan kelapa yang sudah di parut, rakigae (pisang goreng), tamböyö (ketupat), löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu), gae nibogö (pisang bakar), kazimone (terbuat dari sagu), wawayasö (nasi pulut), dan gulo-gulo farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa) (Wikipedia). Apakah hanya ini saja makanan khas Nias? Barangkali masih banyak yang lain, hanya saja kita sudah pada lupa karena perkembangan zaman.

Nah, supaya kita tahu betul makanan khas Nias, perlu diinventarisir melalui penyelenggaraan kegiatan lomba masakan tradisional Nias yang bisa dilaksanakan oleh Ibu-ibu PKK di bawah bimbingan atau arahan dari Ketua Tim Penggerak PKK dari setiap Kabupaten dan Kota. Biarlah Tim Penggerak PKK yang dipercaya untuk menyelenggarakan Lomba Masakan Tradisional Nias, yang hasilnya, kita bisa mengetahui mengenai aneka macam makanan khas Nias serta bisa dimasukkan ke dalam data base makanan tradisional Nias yang bersumber dari masing-masing Kabupaten dan Kota. Tim Penggerak PKK mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan yang berfungsi sebagai fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing-masing jenjang demi terlaksananya program pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Dengan kata lain, Tim Penggerak PKK berperan sebagai motivator, fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak, sedang pembinaan tehnis kepada keluarga dan masyarakat dilaksanakan dalam kerjasama dengan unsur dinas instansi pemerintah terkait.

Jadi, apabila kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik di bawah komando para Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias serta pelaksanaan lomba tadi bisa dilakukan setiap tahun, pasti kita punya file tentang aneka macam makanan tradisional Nias. Dan lama-lama kita juga sudah tahu tentang makanan khas Nias. Dengan demikian, apabila ada orang atau para wisatawan yang menanyakan mengenai makanan khas Nias setelah itu, pasti orang-orang Nias sudah tidak ragu-ragu lagi untuk mengatakan bahwa inilah makanan khas Nias. Bahkan orang-orang Nias mungkin sudah merasa bangga untuk menyebutkan makanan khas Nias, karena mungkin makanan khas Nias itu tidak terdapat di Daerah lain.

Kita berharap, dalam waktu yang tidak terlalu lama, pelaksanaan lomba pembuatan makanan tradisional Nias dapat dilaksanakan di setiap Kabupaten dan Kota se Kepulauan Nias. Dan dalam waktu yang tidak teralu lama juga, kita sudah memiliki daftar makanan khas Nias yang mungkin jumlahnya bisa-bisa hampir mendekati jumlah makanan khas di Jogja. Dengan demikian, Bapak-bapak Bupati dan Walikota di Kepulauan Nias, diharapkan sudah memiliki kebanggaan bila bercerita atau menyebut satu per satu mengenai makanan khas di Nias.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Pariwisata Berbasis Desa

Monday, September 22nd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZebuaSEORANG teman yang kebetulan masih berstatus sebagai anggota DPRD di salah satu Pemerintah Kota di Indonesia, dengan penuh semangat menceritakan bahwa setelah menjadi anggota DPRD, banyak usul-usul yang berhasil diterima dan dilaksanakan pada wilayah konstituennya. Jalan-jalan dan jembatan banyak yang dibangun, MCK (mandi, cuci, dan kakus) sudah 50% dibangun di setiap rumah, dan sekarang sedang mendorong warga masyarakat untuk beternak ayam untuk memenuhi kebutuhan akan telur. Selama ini kebutuhan telur ayam banyak didatangkan dari luar daerah, sehingga harga telur ayam per kilogram jadi tinggi.

Saya merespon cerita teman ini dengan berkata, “Anda sangat hebat teman. Sangat peduli pada konstituen Anda. Masyarakat di sana pasti sangat senang, bangga, dan sangat mengagumi Anda. Dan barangkali Anda ini termasuk salah seorang yang berhasil untuk memenuhi kebutuhan kostituennya.”

Lalu saya bertanya: “Bagaimana dengan kemajuan pariwisata di daerah Anda?” Jawab teman: “Wah kalau itu belum sempat terpikirkan”. Selanjutnya dia mengutarakan bahwa di daerahnya banyak wilayah yang berpotensi sebagai objek dan daya tarik wisata, tetapi memang belum tergarap. Menurut teman, pariwisata bisa juga dipertimbangkan sebagai salah satu sektor yang bisa dikedepankan untuk menjadi sektor utama dan pemancing pembangunan pada sektor-sektor yang lain.

Karena kegiatan pariwisata di daerah pemilihan teman belum tergarap dengan baik, lalu teman itu berkata: “Apa ya yang perlu saya lakukan agar pariwisata di daerah saya bisa berkembang dengan cepat dan mendatangkan banyak manfaat kepada warga masyarakat di daerah saya?”

Nah, karena teman ini bertanya serius, maka saya berusaha memberikan trik-trik yang dapat digunakan untuk pembangunan dan pengembangan pariwisata di daerahnya.

Saya katakan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan inventarisasi objek dan daya tarik wisata di daerahnya.

Hal kedua yang dilakukan yaitu mengklasifikasikan objek dan daya tarik wisata itu ke dalam klasifikasi tertentu, umpamanya objek dan daya tarik wisata ‘siap ditawarkan’ (prasarana dan sarana memenuhi), objek dan daya tarik wisata ‘agak siap ditawarkan’ (masih memerlukan penambahan prasarana dan sarana), dan terakhir klasifikasi objek dan daya tarik wisata yang ‘berpotensi ditawarkan’ (baru didesain pengembangannya).

Hal ketiga yang dilakukan lagi adalah penetapan sebuah wilayah sebagai desa wisata, sebagai wahana sosialisasi pariwisata. Objek dan daya tarik wisata ini sudah termasuk dalam klasifikasi ‘siap ditawarkan’, dan setelah itu masuk pada wilayah objek dan daya tarik wisata ‘agak siap ditawarkan’.

Hal keempat yang dilakukan adalah melakukan kegiatan pemasaran objek dan daya tarik wisata untuk mendorong kunjungan para wisatawan.

Hal kelima yang dilakukan yaitu pembangunan dan pengembangan objek dan daya tarik wisata yang dimiliki, hendaknya dilaksanakan dengan mengikutsertakan atau bersama-sama dengan para tokoh masyarakat dan pemimpin desa di wilayah itu. Hal yang terakhir ini yang disebut, pembangunan dan pengembangan kegiatan pariwisata berbasis desa atau pariwisata berbasis desa.

Apabila pembangunan dan pengembangan objek dan daya tarik wisata dilakukan dengan pariwisata berbasis desa, maka desa yang sudah menjadi desa wisata itu akan cepat menyiapkan diri untuk menerima kunjungan para wisatawan. Munculnya kesiapan desa ini, dipacu oleh telah dipahaminya manfaat dari kegiatan pariwisata itu serta terbukanya usaha pariwisata dari setiap warga desa untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan.

Dampak dari peluang usaha ini adalah terpenuhinya beberapa kebutuhan keluarga di desa tersebut, seperti tercukupinya kebutuhan keluarga sehari-hari, kebutuhan akan pekerjaan, kebutuhan untuk meningkatkan pendidikan bagi anak-anaknya, dan seterusnya. Dengan demikian, setiap warga di desa itu ikut ambil bagian untuk turut serta menjaga dan memelihara, bahkan ikut aktif mengusulkan perbaikan dan penataan objek dan daya tarik wisata yang terdapat di wilayahnya itu di dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrenbangdes).

Kalau hal ini bisa terjadi di desa, justru bisa meringankan tugas dan pekerjaan dari pemerintah, tinggal melakukan pengawasan. Dengan demikian, pemerintah sudah berhasil untuk membangun pariwisata berbasis desa. Lebih-lebih lagi kalau ada ‘Kementerian Pemberdayaan Desa’ di dalam kabinet Jokowi, sungguh sangat mendukung.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.