Posts Tagged ‘Opini’

Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat

Tuesday, June 16th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM

Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Nias Barat

TIDAK terasa, pemerintah Kabupaten Nias Barat sudah memasuki usia yang ke-6, pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Pada tanggal tersebut pemerintah daerah melaksanakan upacara khusus serta mengadakan syukuran atas berbagai pencapaian yang telah dapat diwujudkan sampai sekarang.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam upaya memperingati ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias barat yang ke-6 ini, yaitu upacara khusus dan syukuran (potong tumpeng), seminar sehari, dan lomba budaya rakyat dan masakan khas Nias Barat dari 8 (delapan) kecamatan selama 3 (tiga) hari di pantai Sirombu, yang dikemas sebagai ‘Pesta Budaya Rakyat’.

Pada kegiatan seminar yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2015, ada 2 (dua) topik yang dibahas, yaitu; 1. Percepatan pembangunan melalui budaya gotong royong, dibawakan oleh Drs. Fg. Marthin Zebua (mantan Sekda Kabupaten Nias dan Tokoh Masyarakat Nias Barat); dan 2. Potensi pariwisata dan budaya Nias Barat dalam menyongsong era globalisasi, dibawakan oleh Manahati Zebua, yang lahir di kampung/desa Hilidaura, dan sekarang tinggal di Yogyakarta.

Kedua materi yang disampaikan dalam forum seminar tersebut, mendapatkan pembahasan dari beberapa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat. Beberapa penekanan dalam pembahasan dalam forum itu, yaitu: 1. Perlu kita hidupkan kembali budaya gotongroyong itu, baik di bidang sosial, ekonomi, dan pariwisata; 2. Kebersamaan dalam kegiatan gotongroyong itu, akan menjadi daya ungkit pada pelaksanaan berbagai pembangunan di Nias Barat; 3. Perlu segera melakukan inventarisasi mengenai obajek dan daya tarik wisata di Nias Barat, baik berupa wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata bahari, agro wisata, dan jenis wisata lainnya; 4. Setelah dilakukan inventarisasi, lalu objek dan daya tarik wisata itu ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda); 5. Pembuatan master plan kawasan di masing-masing objek dan daya tarik wisata; 6. Pembentukan badan promosi pariwisata daerah bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya di Kepulauan Nias; dan 7. Penetapan produk unggulan dan produk wisata unggulan di masing-masing kecamatan di Nias Barat.

Lomba Atraksi Budaya dan Masakan Khas Nias Barat

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Nias Barat dalam rangka menyemarakkan ulang tahun yang ke-6 itu, yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR). Kegiatan ini dilaksanakan sejak tanggal 26 Mei sampai tanggal 28 Mei 2015. Sejak dibuka kegiatan PBR sampai pada penutupan, yang dipusatkan di pantai Sirombu nan indah itu, dihadiri ribuan masyarakat Nias Barat. Mengapa banyak warga masyarakat yang turut serta menghadiri PBR? Karena pesta budaya ini diisi dengan berbagai perlombaan, baik lomba di bidang budaya dan olahraga maupun di bidang kuliner khas Nias Barat dari masing-masing kecamatan. Setiap kecamatan menampilkan berbagai atraksi budaya yang dikuasai serta berlomba dalam pembuatan masakan khas Nias Barat.

Beberapa lomba budaya yang ditampilkan oleh masing-masing kecamatan, antara lain Sile Mbanua, Voli Pantai, Fatoke atau Farundro, Tari Moyo, Fanika Era-era Mbowo, Famadögö Omo, Fame Ono Nihalö, Famatörö Döi Ndraono, Folau Oŵasa, Mbolo-mbolo Maena dan yang lainnya. Untuk lomba masak, peserta lomba menampilkan masakan yang materi dan penataannya dibuat menarik dan dinilai oleh para juri untuk mendapatkan nilai. Berbagai masakan yang ditampilkan oleh peserta dari kecamatan, antara lain: Sagu Bakar, Goŵi Nihandro, Goŵi Nidökhi, Harinake, Gae Nibogö, dan beberapa yang lain, yang sekaligus ikut menyemarakkan pelaksanaan pesta budaya rakyat (PBR) itu.

Daya Tarik Masyarakat

Pelaksanaan PBR di Kabupaten Nias Barat ini, ternyata bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat Nias Barat untuk menyaksikan langsung pesta budaya tersebut, serta turut serta ikut memberikan semangat bagi peserta lomba dari kecamatan masing-masing agar dapat menjadi juara lomba. Dengan demikian, bila pemerintah daerah aktif dan melaksanakan iven-iven yang berkaitan dengan lomba budaya, lomba kuliner khas Nias Barat, lomba kebersihan, lomba gotongroyong, lomba berselancar, lomba mancing di laut, lomba lari di pantai, lomba tata lingkungan rumah masing-masing, dan jenis lomba lainnya, dapat dipastikan bahwa masyarakat Nias Barat akan cepat memahami mengenai kegiatan-kegiatan di bidang pariwisata itu sendiri. Istilah kerennya sekarang adalah pariwisata disosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan yang menarik sehingga dapat dipahami dengan cepat dan mudah oleh masyarakat.

Hal yang sempat dibicarakan masyarakat dalam PBR tersebut sesuai informasi yang didapatkan, antara lain mengenai kebutuhan-kebutuhan yang mereka butuh selama mereka berada di pantai Sirombu. Mereka butuh aneka minuman dan aneka makanan terutama khas Nias Barat, mereka butuh payung atau topi agar mereka terlindungi dari panas matahari, mereka butuh kacamata untuk melindungi mata dari debu, mereka butuh tikar agar bisa duduk sambil menyaksikan atraksi budaya, dan sebagainya. Ternyata iven PBR yang diprakarsai pemerintah Kabupaten Nias Barat itu dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Nias Barat, dapat merangsang jiwa wirausaha atau usaha rumah tangga untuk menyediakan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan para supporter dan warga masyarakat lainnya. Satu contoh yang sangat dibutuhkan pada acara PBR itu seperti air kelapa muda, yang dapat memenuhi salah satu kebutuhan para penonton atau penggembira pada PBR yang dilaksanakan di pantai Sirombu nan indah itu.

Kegiatan Pariwisata Menggeliat

Melalui kegiatan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Nias Barat ini, dapat dikatakan ‘Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat’. Artinya, kegiatan pariwisata sudah dimulai dalam upaya untuk merangsang masyarakat Nias Barat peduli dan menghidupkan kembali mengenai budaya leluhur serta aneka kuliner yang pernah ada di Nias Barat. Kepedulian masyarakat ini akan menjadi embrio bagi masyarakat Nias Barat untuk memasuki dunia pariwisata yang dapat menjadi lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat.

Sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat, sesuai dengan komitmen ke-5 pemerintah daerah di Kepulauan Nias, yang sudah diikrarkan pada bulan Juni 2014 yang lalu. Komitmen para Bupati dan Walikota se-Kepulauan Nias itu turut disaksikan oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI) Dr. Sapta Nirwandar serta para Direktur di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, utusan dari Kementerian Perhubungan dan Kementarian Pekerjaan Umum serta para satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dari lingkungan pemerintah daerah se-Kepulauan Nias.

Dalam upaya memenuhi komitmen tersebut, barangkali pemerintah Kabupaten Nias Barat terdorong untuk memulai kegiatan pariwisata itu dengan mengaitkannya pada kegiatan peringatan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat ke-6, yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Mengawali kegiatan pariwisata itu dengan melaksanakan lomba budaya dan lomba kuliner khas Nias Barat termasuk lomba olahraga antar kecamatan di acara PBR itu. Ternyata iven tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat Nias Barat serta dapat memberikan rasa antusiasme bagi masyarakat. Kondisi ini akan dapat memberikan daya ungkit untuk memasyarakatkan pariwisata bagi masyarakat Nias Barat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan Sadar Wisata bagi kalangan masyarakat.

Kalender Kegiatan Pariwisata

Pariwisata sangat berkaitan dengan calendar of event (kalender pariwisata) yang perlu dibakukan pelaksanaan kegiatannya setiap tahun. Salah satu iven yang sudah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR) Kabupaten Nias Barat, yang pelaksanaannya setelah upacara potong tumpeng perayaan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat. Setelah itu perlu dipikirkan lagi mengenai kegiatan pariwisata lainnya, bisa seperti lomba voli pantai, lomba layang-layang, lomba gotongroyong, lomba mancing di laut, lomba selancar, lomba perahu layar, lomba lari di pantai, lomba kebersihan, lomba desa wisata, lomba desa sehat, lomba taman desa, lomba agro wisata, dan lain sebagainya.

Untuk itu, dukungan berbagai pemikiran dari Dinas Pariwisata dan SKPD yang lain serta dari para Tokoh Masyarakat sangat dibutuhkan, dalam upaya meningkatkan peran sektor pariwisata di Nias Barat. Mari melanggengkan kegiatan yang sudah ada (dimulai) seta mengusahakan kegiatan pariwisata lainnya, minimal setiap 2 (dua) bulan ada kalender kegiatan pariwisata di Nias Barat.

* Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Ekowisata Sebuah Terobosan

Thursday, May 7th, 2015

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1PADA waktu sekarang, sudah banyak daerah di Indonesia yang sangat antusias mengembangkan pariwisata dengan ekowisatanya. Mengapa banyak tertarik pada pengembangan ekowisata? Karena ekowisata lebih banyak menampilkan rupa keaslian yang terdapat di daerahnya, seperti wisata alam dan wisata budaya. Menurut Abdullah Azwar Anas (panggilan akrabnya Anas) – Bupati Banyuwangi, dalam wawancara dengan wartawan, pariwisata di Banyuwangi lebih fokus pada ekowisata, yaitu wisata yang berbasis pada alam.

Sementara itu, menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (RI), ekowisata dari segi konsep yaitu merupakan konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Tetapi bila dilihat dari segi pasar, maka ekowisata itu merupakan produk wisata (misalnya: paket wisata). Akhir-akhir ini, paket wisata dengan konsep ”eko” atau ”hijau” menjadi trend di pasar wisata. Konsep ”kembali ke alam” cenderung dipilih oleh sebagian besar konsumen yang mulai peduli akan langkah pelestarian dan keinginan untuk berpartipasi pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya. Akomodasi, atraksi wisata maupun produk wisata lainnya yang menawarkan konsep kembali ke alam semakin diminati oleh pasar (Unesco, 2009).

Penampilan ekowisata sebagai objek dan daya tarik wisata (produk wisata), tidak memerlukan biaya besar. Paling-paling hanya memerlukan biaya untuk memolesnya sedikit, supaya para pengunjung di objek wisata itu merasa nyaman dan fresh bila melakukan perjalanan untuk melihat objek wisata tersebut.

Lain halnya bila menghadirkan objek dan daya tarik wisata buatan, seperti “taman pintar” di Jogja atau taman mini Indonesia indah (TMII) di Jakarta Timur. Biaya pembuatannya sangat mahal karena berbagai atraksi pengetahuan dan budaya ditampilkan di arena tersebut. Sehingga pembuatan taman pintar dan TMII itu mungkin menggunakan anggaran multi-years yang besar hehe.

Untuk mengurangi biaya besar dalam pengembangan pariwisata itu, maka daerah banyak yang tertarik untuk mengembangkan ekowisata. Selain melestarikan budaya dan alam, juga ingin menampilkan keaslian dari objek dan daya tarik wisata itu. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk menghidupkan ekowisata di daerah tersebut relatif lebih murah dibanding dengan wisata buatan.

Dan justru ekowisata inilah yang banyak digemari wisatawan manca Negara (wisman) dan sebagian dari wisatawan nusantara (wisnus). Mereka lebih suka dan bangga melihat budaya dan alam yang apa adanya. Contoh, bila kita memiliki objek dan daya tarik wisata alam, cukup menyiapkan jalan setapak yang nyaman, Artinya para wisatawan yang berkunjung di situ merasa nyaman dan dapat terhindar dari gigitan ular atau binatang buas lainnya.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak terdapat objek dan daya tarik wisata alam dan budaya. Untuk wisata alam sudah tersedia banyak di setiap daerah seperti pantai-pantai dengan olahraganya (surfing, menyelam, perahu layar, memancing ikan, melihat-lihat terumbu karang), danau-danau, sumber air panas, air terjun, olahraga naik gunung, dayung perahu di sungai, hamparan perkebunan coklat, hamparan perkebunan kopi, hamparan perkebunan teh, hamparan perkebunan karet, hamparan perkebunan buah-buahan, hamparan persawahan, dan seterusnya. Demikian juga untuk wisata budaya, banyak budaya yang adiluhung di setiap daerah, seperti lompat batu di Nias Selatan, rumah adat di Sulawesi, makam raja-raja di Yogyakarta, tarian-tarian yang beraneka ragam seperti tarian maena di Kepulauan Nias, tarian kecak di Bali, tari saman di Aceh, tari klasik gaya Yogyakarta, dan berbagai tarian yang lain yang terdapat di daerah-daerah.

Pelestarian budaya yang dimiliki oleh daerah, bisa terus dilakukan dengan menghadirkan pusat-pusat pelatihan budaya nenek moyang kita itu di beberapa tempat, bahkan bisa didirikan di luar daerah itu, seperti pendirian sanggar-sanggar budaya di setiap Kota dan Kabupaten atau di daerah lain. Sanggar-sanggar budaya ini menjadi sangat penting peranannya di dalam melestarikan budaya mesolitikum yang dimiliki oleh masyarakat kita di di setiap daerah.

Meskipun banyak terdapat wisata alam dan wisata budaya di daerah, namun objek dan daya tarik wisata budaya itu mungkin hanya sebagian yang tercatat pada “dunia wisata Indonesia”. Contoh budaya yang terdapat di Kepulauan Nias, hanya tercatat 1 (satu) yaitu atraksi budaya lompat batu. Objek wisata alam dan budaya yang lain mungkin belum masuk atau belum tercatat. Nah, inilah yang perlu diperhatikan dan disiapkan oleh pemerintah daerah, khususnya satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sektor pariwisata. Kalau bisa ya objek wisata alam dan budaya yang terdapat di setiap daerah bisa diupayakan sebanyak-banyaknya dimuat di “dunia wisata Indonesia”.

Kalau kondisinya demikian, maka mau tidak mau, kita harus menyiapkan “website wisata daerah”. Zaman sekarang sudah zamannya teknologi dan zamannya internet. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi RI tahun 2014, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang. Sehingga Indonesia termasuk Negara pengguna internet terbanyak nomor 8 di dunia. Sudah sebanyak itu saja, Indonesia baru termasuk nomor 8 di dunia. Jadi Anda bisa bayangkan bahwa begitu banyak jumlah pengguna internet di dunia, sehingga memberikan banyak pengaruh internet di kehidupan kita pada saat ini.

Untuk memahami lebih dalam fungsi dari internet itu, saya akan memberikan contoh. Pada waktu mendapat pekerjaan royek in-house training manajemen rumah sakit di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah, saya mengajak beberapa teman untuk ikut melatih sumber daya manusia (SDM) rumah sakit itu sesuai kompetensinya. Nah, salah satu dari teman yang saya ajak itu, menyiapkan diri dengan berusaha mengetahui terlebih dahulu mengenai profil rumah sakit. Teman ini mencoba mencari informasi melalui Mbah Google, ternyata informasi tentang rumah sakit yang dimaksud tidak ditemukan.

Lalu teman ini menelpon saya dengan mengatakan, Pak Zebua, berapa sih jumlah bed rumah sakit ini? Atau besarnya rumah sakit ini hanya setingkat Puskesmas? Terus terang, pada saat menerima pertanyaan itu, saya sedikit heran dan lalu bertanya, kenapa Pak? Begini lho Pak, saya sudah mencoba mencari profil rumah sakit ini di internet, tapi tidak ketemu, Mbah Google tidak bisa menjawab. Setelah saya mendapatkan penjelasan singkat seperti itu, akhirnya saya menjawab begini, jumlah bed rumah sakit ini sekitar 400 bed dan siap menerima materi dari Bapak. Setelah menjawab itu, malah teman ini justru langsung terbahak-bahak sambil berujar, zaman gini kok ada rumah sakit yang gagap teknologi, apa kata dunia!.

Membuat website suatu daerah serta aktif di media sosial untuk memasarkan ekowisata daerah, sesuatu yang sangat mendukung bersinarnya masa depan pariwisata daerah di masa mendatang. Gambar-gambar yang ditayangkan oleh biro dan agen perjalanan umpamanya dengan berpromosi sebagai mitra perjalanan Anda di daerah itu, malah sangat menarik dan bagus-bagus.

Alangkah indahnya apabila gambar-gambar dari objek dan daya tarik ekowisata di daerah itu, dapat disatukan dalam 1 (satu) album dengan cover “Pariwisata Daerah yang Eksotik”, yang dapat diperjualbelikan untuk umum. Selain itu website daerah juga bisa dibuat dengan memuat berbagai gambar objek dan daya tarik wisata serta isinya selalu di update terus sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang ada pada objek dan daya tarik wisata alam dan budaya di daerah itu.

Ekowisata pada saat ini sudah menjadi aktivitas ekonomi yang penting, yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendapatkan pengalaman mengenai alam dan budaya untuk dipelajari dan memahami betapa pentingnya budaya lokal tersebut. Alam dan budaya lokal dari setiap daerah akan menjadi sebuah pengalaman bagi wisatawan untuk memberikan apresiasi dalam hal perbedaan dan makna, sehingga si wisatawan akan memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan tentang alam dan budaya yang terdapat di setiap wilayah/daerah.

Menurut Tazbir Abdullah, SH., M.Hum, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI), bahwa pariwisata Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang melimpah sebagai potensi penggerak ekonomi untuk kesejahteraan bangsa. Disamping itu, pariwisata sekaligus juga berperan besar sebagai instrumen pelestarian alam dan budaya (Zebua, 2014). Dengan demikian melalui pengembangan ekowisata, akan dapat berperan besar sebagai trigger untuk menggerakkan sektor lain, seperti ekonomi, infrastruktur, pertanian, ekonomi kreatif (transportasi, akomodasi, rumah makan/kuliner, souvenir), serta dapat pula menggerakkan perilaku masyarakat untuk menjadi lebih bersih dan ramah.

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM. Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Mengabdi Menjadi Kepala Daerah Kabupaten/Kota

Monday, March 16th, 2015

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

OpiniKEPULAUAN Nias yang telah menjadi 4 (empat) Kabupaten dan 1 (satu) Kota, serentak melaksanakan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada bulan Desember 2015 mendatang. Perhelatan pemilukada tersebut telah memberikan angin segar dan motivasi bagi sebagian putra-putri Nias untuk mengikuti pemilukada tersebut menjadi bakal calon (Balon) Kepala Daerah di Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, dan Kabupaten Nias Barat. Para Balon yang akan menyediakan diri itu, ada yang bertempat tinggal di Kepulauan Nias dan ada juga yang bertempat tinggal di luar Kepulauan Nias.

Kalau kita melihat dan membaca di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, sudah mulai bermunculan nama putra-putri Nias yang menjagokan dirinya untuk menjadi Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias. Dan ini kita sangat memberikan apresiasi, ternyata putra-putri Nias sekarang banyak yang sudah memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin di Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias.

Melalui semangat yang sudah mulai menyala pada masing-masing Balon Kepala Daerah tersebut, dapat diartikan bahwa sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki kompetensi di bidang manajemen pemerintahan. Sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki keahlian di bidangnya masing-masing, sehingga melalui pengalaman itu telah memberikan inspirasi bagi Balon untuk berbuat yang lebih baik di dalam mensejahterakan masyarakat yang berdomisili di Kepualaun Nias.

Permasalahnya sekarang, yaitu apakah masing-masing Balon tersebut sudah sangat bersungguh-sungguh untuk mensejahterakan masyarakat Kepulauan Nias bila nanti terpilih menjadi Kepala Daerah definitif? Tentu hal ini perlu dipertanyakan mulai dari sekarang.

Mari melihat beberapa fakta yang telah terjadi di beberapa daerah di wilayah Negara kesatuan republik Indonesia, yaitu pertama, ada diantara Balon yang sangat bersemangat untuk menjadi Kepala Daerah, karena ingin berkuasa. Untuk mencapai tujuan itu si Balon akan menempuh berbagai cara atau menghalalkan segala cara termasuk membagi-bagikan uang, yang istilahnya dikenal sebagai money politic (politik uang), agar dipilih rakyat di wilayah itu menjadi pemenang pemilukada.

Kadang masyarakat lupa bahwa bila menerima uang dari Balon sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) umpamanya, paling lama uang tersebut bertahan di kantong mungkin hanya 5 (lima) hari, sedang bila Balon itu terpilih dan memerintah selama 5 (lima) tahun ke depan, berarti masih ada hari lain yaitu 1.825 hari – 5 hari = 1.820 hari yang bisa penuh penderitaan dan atau penuh kesejahteraan. Jadi bila calon Kepala Daerah itu terpilih, maka kita berharap Kepala Daerah itu akan bekerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan kita selama 1.820 hari. Semoga Anda bisa menangkap arti dan maksud dari hitung-hitungan hari di atas.

Kedua, mungkin juga ada Balon yang memiliki keinginan untuk mensejahterakan dirinya sendiri beserta kroni-kroninya setelah memenangkan pemilukada dan berkuasa penuh untuk mengelola keuangan yang bersumber dari APBD dan APBN dengan baik. Artinya tidak bisa tertangkap tangan KPK atau aliran keuangannya tidak bisa ditelusuri oleh PPATK.

Ketiga, bisa juga ada Balon Kepala Daerah itu yang sangat peduli pada Tim Suksesnya dengan cara membagi-bagi jabatan kepala dinas setelah memenangkan pemilukada. Contoh ada Tim Sukses yang berlatarbelakang pendidikan keagamaan, ditunjuk menjadi Kepala Dinas Pertanian, atau jabatan lainnya.

Keempat, bisa saja terdapat Balon Kepala Daerah yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya menjadi Kepala Daerah. Berdasarkan pengalaman hidup selama bekerja selama ini sudah memiliki kompetensi berupa knowledge (pendidikan), skill (kemampuan), dan personal attributes (atribut personal-sikap, perilaku, komunikasi, kerjasama), sehingga pada waktu sekarang sudah sangat tepat untuk melayani masyarakat di wilayah Kabupaten/Kota, agar hidup dari masyarakat menjadi sejahtera.

Berdasarkan beberapa catatan di atas, kira-kira apa yang menjadi keinginan dari para Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias? Bisa saja ada keinginan untuk berkuasa, atau ingin mensejahterakan diri dan kroni-kroninya, atau hanya peduli pada Tim Suksesnya, atau ingin mengabdi untuk melayani masyarakat. Untuk mengetahui apa yang diinginkan, tentu masing-masing Balon perlu bertanya pada diri sendiri. Tetapi harapan kita semua bahwa Balon Kepala Daerah yang ingin berkompetisi pada pemilukada di Kepulauan Nias, memiliki keinginan besar serta menyala-nyala untuk mengabdikan dirinya pada kemaslahatan masyarakat dan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Nias.

Pertanyaan selanjutnya yaitu, bagaimana Anda sebagai Balon dapat mewujudkan pengabdiannya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera? Tentu masing-masing Balon perlu melakukan survei kecil-kecilan untuk memastikan mengenai kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada manajemen pemerintahan yang sekarang. Hal lain yang dilakukan lagi yaitumendalami dengan seksama mengenai apa saja kepentingan dan kebutuhan masyarakat di Kepulauan Nias pada waktu sekarang dan yang akan datang. Para Balon perlu melakukan inventarisasi pada kekuatan dan kelemahan manajemen pemerintahan sekarang, sekaligus merinci peluang dan ancaman Anda ke depan. Lalu menginventarisir juga mengenai kepentingan dan kebutuhan masyarakat Kepulauan Nias.

Kepulaun Nias sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) di wilayah bagian barat Indonesia, serta para Kepala Daerah di Kepulauan Nias sudah menyepakati dalam suatu forum pada pertengahan tahun 2014 yang lalu bahwa lokomotif pembangunan Kepulauan Nias adalah sektor pariwisata. Berhasilnya sektor pariwisata ini tentu sangat didukung oleh sektor-sektor lain seperti pertanian, perhubungan, pekerjaan umum, kelautan dan perikanan dan lain-lain. Karena itu para Balon Kepala Daerah sebaiknya turut menginventarisir juga mengenai hal-hal yang sangat berkaitan dengan peningkatan prasarana dan sarana kepariwisataan di Kepulauan Nias.

Untuk diketahui bersama bahwa pemerintah itu pada dasarnya memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zebua, 2014).

Nah, apa saja yang akan dilakukan dan bagaimana cara melaksanakannya, tentu diperlukan penjabaran lebih dalam dan penjabarannya pun hendaknya dilakukan secara komprehensif. Walau semuanya itu selalu didasarkan pada visi, misi, dan tujuan para Balon, atau minimal pengaplikasiannya terdapat pada berbagai program kerja yang akan diusung bila Balon terpilih sebagai Kepala Daerah definitif. Program kerja-program kerja yang disiapkan serta diperiodekan pada bentuk program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, diharapkan dapat menjadi patokan atau merupakan miles-stone pencapaian realisasi dari visi para Balon nantinya. Dan ini akan selalu dievaluasi setiap tahun, sehingga pada akhir periode kepemimpinan Kepala Daerah sudah dapat dinilai seberapa besar tercapainya visi Kepala Daerah.

Untuk itu, sangat diperlukan kesiapan para Balon untuk menyiapkan diri dengan serius, agar mampu melaksanakan strategi Anda bila terpilih menjadi Kepala Daerah. Strategi yang Anda lakukan sekarang adalah menyiapkan route jalan selebar-lebarnya agar jalan itu bisa Anda lewati dengan mulus dan nyaman, serta pilihlah alat yang digunakan untuk mempercepat waktu perjalanan Anda pada saat Anda melewati jalan tersebut. Dan alat yang dimaksud di sini adalah program kerja Anda selama duduk dalam jabatan sebagai Kepala Daerah.

Selamat mengabdikan diri untuk menjadi Kepala Pelayan masyarakat dan selamat melaksanakan pembangunan di Kepulauan Nias demi perwujudan kesejahteraan masyarakat yang dilayani, sesuai dengan keinginan pada waktu menjadi Balon Kepala Daerah.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Budaya Baca di Sekolah-Sekolah Kepulauan Nias Perlu Ditumbuh-kembangkan

Saturday, March 14th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniSekolah sebagai lokasi utama yang menjalankan kegiatan pendidikan perlu memikirkan dan melakukakan usaha besar untuk membentuk sumber daya manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Sekolah bukan sekedar objek semata tetapi merupakan tempat untuk mendidik dan mengajar anak-anak bangsa menjadi manusia yang mampu memajukan bangsa. Kehadiran sekolah sebagai wahana pembentukan manusia bukan merupakan fiksi belaka melainkan suatu realita yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat.

Seiring dengan perkembangan zaman, sekolah sebagai dunia pendidikan semakin dihadapkan pada berbagai tantangan termasuk pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Untuk menghadapi tantangan tersebut tentunya sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias perlu memikirkan strategi dan usaha yang baik sehingga pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa dapat dicapai secara maksimal. Strategi dan usaha yang dimaksud tentunya tidak hanya terbatas pada strategi pembelajaran internal yaitu pembelajaran di dalam kelas.

Salah satu strategi yang terakui sebagai usaha yang dapat menciptakan manusia-manusia yang berwawasan luas adalah kebiasaan membaca atau budaya baca. Membaca dapat mengantar manusia untuk mencapai derajat pengetahuan yang tinggi. Jadi sangatlah tepat apabila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama untuk membangun intelektualitas. Kalau kita melihat para pendiri bangsa Indonesia, mereka adalah orang-orang yang gemar membaca. Bung Karno, Bung hatta, Sutan Sjahrir mereka begitu dekat dengan buku. Kedekatan dengan buku membuat mereka berwawasan luas dan berpikiran besar (Republika.Co.Id, Oleh: Faisal Fadilla).

Pada beberapa tahun terakhir ini membaca dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit dijumpai apalagi di Kepulauan Nias khususnya di sekolah-sekolah. Mulai dari pelajar sampai orang yang sudah bekerja termasuk guru hampir sedikit yang melakukan kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dengan membaca, kita dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan. Hasil survei UNESCO menunjukkan bahwa Indonesia masih jadi negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN! Tahun 2012, UNESCO mencatat indeks minat baca kita cuma 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Dari indeks tersebut tentu kita dapat membandingkan indeks minat baca di Kepulauan Nias.

Berdasarkan hasil pengamatan, rendahnya minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias disebabkan oleh beberapa aspek, yakni kurangnya motivasi atau dorongan pihak sekolah untuk mengajak anak didik dalam kegiatan membaca, rendahnya pengelolaan perpustakaan, ketidaktersediaan buku dan ruang perpustakaan, tidak adanya program budaya baca sekolah yang terorganisir dan terjadwal. Rendahnya budaya dan minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dapat kita buktikan dari kegiatan siswa di luar sekolah atau ketika sudah tiba di rumah. Dari hasil pengamatan, hampir jarang sekali siswa yang membaca ketika sedang berada di luar sekolah. Tentunya, ini disebabkan tidak ditumbuh kembangkannya budaya baca dari sekolah. Di samping itu, minat baca yang rendah ini dapat kita amati dari kegiatan-kegiatan ekstra. Kebanyakan siswa hanya diarahkan pada satu kegiatan yang sifatnya monoton. Contohnya: olahraga atau olah vokal. Hampir tidak ada sekolah yang menyelenggarakan program membaca pada kegiatan ekstra siswa.

Selain penyebab-penyebab tersebut di atas, rendahnya minat baca siswa di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan keluarga yang tertanam pada diri siswa. Misalnya, kebiasaan anggota keluarga yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk menonton televisi atau kebiasaan anggota keluarga terutama orangtua yang membiarkan anak-anak mereka untuk tidak belajar termasuk membaca.

Menyadari manfaat besar dari membaca dan fakta terkait minat baca masyarakat yang masih rendah terutama masyarakat kepulauan Nias serta mengingat peran sekolah sebagai tempat pembentukan manusia, sekolah-sekolah dari berbagai tingkatan pendidikan di Kepulauan Nias diharapkan berpacu untuk menumbuhkan dan mengembangkan program budaya baca. Karena melalui program budaya baca di sekolah, siswa akan terbiasa membaca dengan memanfaatkan buku atau bahan bacaan yang ada dan akan berdampak pada kegiatannya di luar sekolah. Dengan demikian, sekolah akan melahirkan siswa-siswa yang berpikiran besar atau manusia-manusia yang berwasan luas di tengah-tengah lingkungan kita. Di samping peran sekolah, tentunya pengembangan budaya baca tentunya juga perlu dikembangkan dalam keluarga dan masyarakat.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Pariwisata Kepulauan Nias dan MEA 2015

Monday, February 2nd, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MEA sudah sering kita dengar dan mungkin juga sudah banyak yang membaca di berbagai tulisan di harian atau majalah. Bahkan sudah ada berita iklan di televisi, yaitu seorang gadis yang cemburu kepada pacarnya gara-gara pacarnya sering menyebut nama MEA, dikira MEA itu nama gadis lain, sehingga si gadis cemburu. Tapi untung ada bapak si gadis yang menjelaskan bahwa MEA itu bukan nama gadis. MEA itu kependekan dari masyarakat ekonomi Asean. Setelah si gadis memahami bahwa MEA itu bukan nama gadis lain, akhirnya si gadis tersenyum dan kembali ceria lagi.

Sehubungan dengan MEA ini, Profesor Rhenald Kasali, Ph.D. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, memberikan penjelasan yang lebih dalam tentang MEA ini, pada tulisan Beliau yang dimuat di harian Jawa Pos belum lama ini. Beliau mengatakan bahwa pada intinya MEA itu menyangkut 4 (empat) hal, yaitu: 1. Free flow of barang; 2. Free flow of orang; 3. Free flow of services; dan 4. Free flow of money. Artinya Association of Southeast Asian Nations (Asean) yang terdiri dari 10 negara itu, yaitu: Indonesia, Philipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar, sudah menjadi satu wilayah sebagai pasar bebas. Produk yang berkualitas dari setiap Negara, bebas diperjualbelikan di Negara lain, orang bebas bepergian, bebas menanam modal di bidang jasa dan industri, dan bebas memasarkan produk pelayanan jasa.

Banyak orang yang berkata bahwa MEA ini merupakan ancaman bagi Indonesia. Bisa bertindak sebagai ancaman, apabila Indonesia tidak menyiapkan diri untuk mengisi dan menyambut MEA tersebut. Tetapi apabila MEA ini didalami secara seksama, mestinya hadirnya MEA ini merupakan peluang emas bagi Indonesia. Pasar yang tersedia semakin luas yaitu meliputi 10 (sepuluh) Negara, kerjasama antar komunitas atau Negara semakin terbuka, alih teknologi semakin tercipta, serta bagi investor akan mendapatkan peluang untuk menanamkan modalnya di berbagai wilayah di Asean, yang dapat memberikan profit besar pada usahanya, sehingga usahanya tersebut bisa lebih menggurita lagi.

Nah, untuk menghadapi lalulintas barang, orang, jasa, dan modal di pasar bebas ini, tentu sesegera mungkin kita melakukan persiapan-persiapan. Persiapan ini sudah dimulai dari pemerintah pusat seperti fokus pembangunan pada infrastruktur, perhubungan, pertanian, dan maritim. Lalu pemerintah daerah juga tentu melakukan persiapan dengan melaksanakan pembangunan di daerahnya searah dengan fokus pembangunan dari pemerintah pusat.

Sekarang ini sudah mulai banyak pemerintah daerah di wilayah Indonesia yang membentuk tim kerja dalam menyiapkan dan menghadapi MEA ini. Mengapa demikian? Karena dengan MEA ini akan tercipta berbagai peluang dan juga menciptakan persaingan yang sangat ketat pada produk barang dan jasa. Kita ambil contoh, sebuah produk barang. Produk ini akan bisa menembus pasar bebas Asean, bila produk itu memiliki daya saing dalam hal daya manfaat, daya beda, dan daya tarik. Artinya produk yang kita hasilkan dapat didayagunakan oleh pasar (konsumen) apabila produk kita bisa bersaing dengan produk lain yang sejenis dari Negara Asean lainnya. Dengan demikian, kita berbicara tentang produk yang berkualitas serta tahan lama dan dengan harga yang bisa bersaing.

Demikian juga dalam hal produk jasa, seperti jasa perhotelan, jasa transportasi, jasa keuangan, jasa pelayanan sumber daya manusia (SDM), jasa kuliner/restoran, dan jasa pelayanan lainnya. Pelayanan yang kita hadirkan harus lebih baik atau minimal sama dengan pelayanan yang kita jumpai di daerah dan Negara lainnya di wilayah Asean. Dengan demikian, kita harus bekerja ekstra untuk segera memperbaiki mutu pelayanan kita di bidang pariwisata, akses menuju objek wisata, pelayanan angkutan, pelayanan kuliner, aneka pertunjukkan budaya, serta kualitas barang souvenir yang kita hasilkan. Barangkali tim kerja yang telah dibentuk oleh beberapa pemerintah daerah tadi, dapat segera bekerja keras dan memberikan berbagai informasi yang harus segera kita benahi, agar tidak terlalu ketinggalan dengan daerah lain atau Negara lain di Asean.

Berkenaan dengan penuturan di atas, seharusnya kita menaruh hormat dan berterima kasih atas kehadiran MEA ini, karena dengan kehadirannya dapat memberikan cambuk atau pecut kepada kita untuk harus segera berbenah dan bertindak cepat. Adanya cambuk dari MEA ini, dapat memberikan daya dorong pacuan kepada kita untuk segera bekerja keras mewujudkan berbagai hal menurut yang terbaik dan yang memiliki daya saing di tingkat regional Asean. Memang manusia itu sering memerlukan tantangan atau cambuk untuk memacu semangat dalam melakukan berbagai hal. Seperti halnya kuda yang menarik dokar/andong, kusir perlu memberikan perintah dengan cara mencambuk kuda itu agar kuda mau berjalan, berlari atau berhenti.

Presiden Jokowi sangat menaruh perhatian pada bidang pariwisata. Kalau kita flash-back, saat Jokowi sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, kegiatan pariwisata sangat dikedepankan. Banyak iven pariwisata yang dihadirkan, bahkan iven kegiatan pariwisata sudah dijadwalkan selama satu tahun. Karena itu sudah sangat tepat yang disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, bahwa pariwisata harus berkembang dan dikembangkan. Untuk itu target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia tahun 2015 sebanyak 10 juta orang, sedang target jumlah wisatawan nusantara (wisnus) di tahun yang sama sebanyak 254 juta. Wow, jumlah wisatawan yang sudah mulai bergerak lebih banyak.

Jumlah target wisman dan wisnus secara nasional seperti yang disebutkan di atas, tentu perlu mendapatkan perhatian kita dengan sungguh-sungguh. Perlu mendapat perhatian yang utama, karena pemerintah daerah se-Kepulauan Nias telah berkomitmen untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai salah satu daerah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia serta telah disepakati bersama oleh 5 (lima) pemerintah daerah bahwa sektor pariwisata merupakan lokomotif pembangunan. Sehingga dengan semangat ini, pemerintah daerah telah merumuskan rencana aksi (renaksi) untuk mewujudkan Kepulauan Nias menjadi wilayah destinasi pariwisata di Indonesia. Karena itu, tentu perlu dirumuskan mengenai berapa target kita dalam hal jumlah wisman dan wisnus yang diharapkan bisa berkunjung di Kepulauan Nias pada tahun 2015 ini?

Kehadiran MEA dan komitmen bersama untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai wilayah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia, ternyata sudah berada dalam irama yang sama dan waktu yang sama. Irama yang sama untuk bertindak cepat dalam membangun kepariwisataan di Kepulauan Nias serta dicambuk oleh MEA untuk segera bertindak dan berbenah, demi percepatan pembangunan pariwisata. Momentumnya sudah sangat tepat dan sangat mendukung, sehingga kita bisa menyanyikan salah satu lagu wajib, karangan Ibu Sud, yaitu berkibarlah benderaku lambang suci gagah perwira, di seluruh pantai Indonesia kau tetap pujaan bangsa . . . . . dan seterusnya. Berkibarlah pariwisata, di Kepulauan Nias, di seluruh Kepulauan Nias terdapat objek wisata . . . . . dan selanjutnya.

Semangat yang menggelora ini muncul karena waktunya hampir bersamaan, Pariwisata dan MEA. Sepertinya sudah ada yang mengatur. Percayalah itu. Karena itu marilah kita kibarkan semangat yang sedang menggelora di dada para pengambil keputusan, untuk mewujudkan cita-cita bersama itu. Jadikanlah Kepulauan Nias menjadi andalan Pulau Sumatera di bidang pariwisata atau Kepulauan Nias dirubah menjadi Balinya Pulau Sumatera.

Palu sudah berada di tangan para pemimpin di daerah Kepulauan Nias. Ayunkanlah dan pukulkan palu itu di atas meja, sebagai tanda pengobaran semangat dan pembakar semangat masyarakat untuk bersama-sama melakukan banyak hal di bidang pariwisata, serta menyalakan mercu suar yang dapat memancarkan isyarat untuk membantu memberikan tanda tempat berlabuhnya kapal pariwisata Kepulauan Nias.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan

Monday, January 19th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniAdat Perkawinan di Pulau Nias masih identik dengan Böwö (mahar). Böwö (mahar) membudaya di pulau ini sejak zaman dulu hingga pada era ini sehingga menjadi satu elemen atau obyek yang berkembang dan tak mudah punah dalam kehidupan masyarakat. Apabila dipandang dari sisi nilai memang dapat dikatakan bahwa Böwö (mahar) Adat Perkawinan memiliki nilai konkret atau wujud yang tinggi. Böwö (mahar) Adat Perkawinan di Pulau Nias mencakup banyak unsur. Salah satu di antaranya adalah Fanötö Idanö.

Fanötö Idanö berasal dar Bahasa Nias. Fanötö adalah penyeberangan dan Idanö adalah air. Jadi penerjemahan kata demi kata “Fanötö Idanö” berarti Penyeberangan Air. Fanötö Idanö merupakan istilah yang sudah dipahami oleh masyarakat Nias. Istilah Fanötö Idanö ini hanya terintegrasi dalam adat pernikahan.

Fanötö Idanö merupakan salah satu dari unsur Böwö (mahar) yang membudaya dalam Adat Perkawinan di Pulau Nias khususnya di Kabupaten Nias Selatan. Fanötö Idanö merupakan kewajiban pihak mempelai pria yang wajib diberikan atau dibayarkan kepada pihak si’ulu (bangsawan) si mempelai wanita sebagai wujud nyata kesadaran penghargaan. Pembayaran atau penyerahan Fanötö Idanö ini dilaksanakan pada hari pelaksanaan perkawinan dengan ketentuan sebesar dua jo’e baẅi (ukuran babi di Pulau Nias dengan menggunakan alat ukur Afore) atau setara dengan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah.

Fanötö Idanö sering didefinisikan sebagai tanda penghargaan kepada pihak si’ulu (Bangsawan) yang hadir pada upacara perkawinan. Apabila Fanötö Idanö ini tidak diberikan, oleh mempelai pria, maka pihak si’ulu (bangsawan) akan meninggalkan upacara perkawinan tersebut karena kedua pihak mempelai dianggap tidak menghargai dan mematuhi adat yang berlaku. Fanötö Idanö ini juga wajib disebutkan dalam urutan penyebutan Böwö (mahar). Lumrahnya, penyebutan Fanötö Idanö ini diucapkan setelah penyebutan Böwö (mahar) bagi keluarga dan kerabat pihak mempelai perempuan.

Uniknya, Fanötö Idanö hanya dibebankan kepada pihak mempelai pria yang berasal dari desa yang bukan satu asal atau bukan sara ulu idanö (satu hulu air) dengan desa pihak mempelai wanita. Misalnya, perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Hilisataro dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawomataluo (bukan satu hulu air) dan perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Bawömataluo dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawönahönö atau sebaliknya (satu hulu air). Pada hakikatnya, pengenalan dan pengetahuan tentang yang satu hulu air dan bukan satu hulu air ini sudah dikuasai oleh si’ulu (bangsawan), si’ila (cendrekiawan) dan masyarakat.

Fanötö Idanö perlu digaris bawahi sebagai wujud kesadaran pihak mempelai pria untuk menghargai bangsawan si mempelai wanita tanpa harus ada unsur pemaksaan dan penmatalan perkawinan apabila tidak diberikan oleh pihak mempelai laki-laki karena Fanötö Idanö bukan semata-mata menjadi penentu kelangsungan perkawina yang artinya siulu tidak memiliki otoritas untuk membatalkan perkawinan atau menjadi penghalang kelangsungan pernikahan. Dalam hal ini, keluargalah yang memiliki hak mutlak untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Lalu yang menjadi pertanyaanya, Apakah sanksi bagi pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö kepada pihak si’ulu (bangsawan)?. Jawabannya “tidak ada sanksi”. Namun, sebagai dampak akibat ketidaksadaran ini, si’ulu (bangsawan) akan meniggalkan upacara perkawinan seperti yang dikemukakan pada paragraf di atas. Selain itu, akibat ketidaksadaran ini juga dapat merendahkan interaksi dan kepedulian bangswan dalam kehidupan sosial dan dalam menghadiri upacara-upacara adat keluarga pihak mempelai wanita di masa yang akan datang baik perkawian, kematian dan upacara-upacara lainnya.

Beberapa praktek yang terjadi selama ini terkait Fanötö Idanö bukan merupakan perlakuan yang terpuji dan tidak benar. Misalnya, pencekalan terhadap Tome Sanai Niha (tamu yang menjemput mempelai wanita) yang dilakukan oleh pihak si’ulu (bangsawan) karena tidak diberikkanya Fanötö Idanö oleh pihak mempelai pria atau perlakuan si’ulu (bangsawan) yang menagih Fanötö Idanö di tengah jalan (bukan di tempat atau di halaman upacara perkawinan). Perlakuan seperti ini sudah mengandung unsur pemaksaan karena sebagaimana diungkap pada paragraf di atas bahwa kelangsungan perkawinan tidak menjadi hak otoritas pihak si’ulu (bangsawan). Seyogiyanya, penagihan ini dilakukan di tempat yang tepat dan benar sesuai tradisi-tradisi yang berlaku karena dengan demikian nilai adatnya tetap terjaga dan terintegrasi baik.

Kesimpulannya bahwa Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan benar adanya sebagai satu unsur böwö (mahar) yang sudah menjadi tradisi dengan nilai-nilai yang tak kalah dari unsur böwö (mahar) lainnya, namun diperlukan pemahaman, kesadaran, dan koordinasi yang lebih baik apabila terdapat pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö. Dalam kutip tidak perlu diberlakukan pemaksaan, cukup dengan sanksi sosial. Karena cara-cara pemaksaaan dan semacamnya bukanlah merupakan tradisi yang harus dilakukan atas ketidaksadaran mempelai pria dalam memberikan Fanötö Idanö namun lebih diintegrasikan dengan menempuh langkah-langkah yang lebih persuasif dan problem solving.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Ciptakanlah Terang Bagi Masa Depan Generasi Berikutnya

Friday, January 16th, 2015

Opini1Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

HARUS diakui bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membawa setiap insan untuk bisa menyiapkan masa depannya sendiri. Masa depan itu akan terlihat nantinya pada waktu insan tersebut sudah bekerja dan atau sudah berkarya.

Setiap orang dewasa pasti ingin bekerja atau berkarya, apapun pekerjaan itu akan dilakukannya. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhannya. Untuk kebutuhan sehari-hari, minimal dapat makan dan dapat minum. Masalah asupan gizinya cukup atau kurang, itu masalah kemudian, yang penting dapat pekerjaan dan melalui pekerjaannya itu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, bahkan pada waktunya akan dapat mendukung aktualisasi dirinya.

Pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah, bagaimana keadaan generasi muda Nias sekarang? Bagaimana masa depan generasi muda yang sudah bisa menyelesaikan studinya di tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi?. Tentu hal ini merupakan pertanyaan besar bagi mereka yang diberi tanggung jawab memimpin pemerintahan daerah beserta SKPD-nya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa generasi muda Nias sekarang, terutama yang sudah siap memasuki dunia kerja, sudah terbayang di pelupuk mata dan dimimpinya bahwa bisanya adalah dapat bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kalau tidak jadi PNS, dunia ini seperti mau kiamat. Sepertinya hidup ini tidak memiliki arti bagi orangtua dan sanak famili lainnya.

Ada seorang mahasiswa Nias yang pada saat ini sedang menyiapkan penyusunan skripsi. Dia mendiskusikan tentang masa depannya setelah selesai studi strata satu. Kami banyak dan lama melakukan diskusi melalui short message service (SMS). Dalam diskusi tersebut, si mahasiswa sempat menunjukkan sikap adanya kegelisahan setelah dapat menyelesaikan studi strata satu (S1) nantinya. Bahkan  si mahasiswa berkata, setelah lulus nanti mau kerja apa, cari kerja juga susah, lowongan PNS masih lama dan jumlah yang dibutuhkan sangat terbatas.

Bagaimana Anda bisa menjawab bila kegelisahan ini disampaikan kepada Anda? Apa solusi yang Anda bisa lakukan pada permasalahan ini? Sebelum mencari atau memberikan satu atau beberapa solusi, terlebih dahulu tarik nafas dalam-dalam dan keluarkanlan nafas itu dengan pelan-pelan seraya berkata, apa ya solusinya?

Memberikan solusi pada permasalahan sekarang, tidaklah mudah. Perlu melakukan berbagai persiapan yang biasa kita sebut “strategi”. Apa bentuk strategi yang akan diwujudkan dalam jangka panjang?. Nah, apabila strategi itu akan dihubungkan lagi dengan hadirnya suatu nama yang sering kita sebut pada akhir-akhir ini yaitu masyarakat ekonomi asean (MEA) yang akan berlangsung di akhir tahun 2015 mendatang, tentu diperlukan pemikiran yang jitu dan penjabaran yang lebih detail dan lengkap.

Salah satu strategi dan mumpuni yang perlu dilakukan untuk dapat menjawab kegelisahan generasi muda Nias dalam hal peluang untuk mendapatkan pekerjaan yaitu melaksanakan “edu-preneurship”. Menurut Setiono (2012), edu-preneurship itu merupakan program pelatihan bagaimana mengenalkan konsep-konsep entrepreneurship yang dilengkapi dengan berbagai contoh aplikasi melalui proses pendidikan.

Memahami konsep-konsep entrepreneursip (kewirausahaan) berarti harus mengerti lebih mendalam mengenai apa itu entrepreneurship. Menurut Frinces (2004), entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan bentuk usaha untuk menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen    pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang yang ada,  dan lewat keterampilan komunikasi  dan   manajemen untuk   memobilisasi manusia, keuangan, dan   sumberdaya  yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.

Dengan demikian, kewirausahaan adalah berkonotasi mengimplementasikan, berarti mengerjakan (sesuatu), yaitu  sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang wirausaha. Apabila disederhanakan artinya, wirausaha adalah seseorang yang merespon terhadap peluang dan mempunyai rasa kebebasan (sense of freedom) baik dalam dirinya maupun dalam organisasi untuk bertindak terhadap peluang yang ada.

Hal-hal yang dapat dikerjakan dan diberikan oleh para wirausaha, antara lain: 1. Produk-produk dan jasa-jasa baru; 2. Pekerjaan baru; 3. Lingkungan kerja yang kreatif; 4. Cara-cara baru melakukan kegiatan bisnis (usaha); dan 5. Bentuk baru penciptaan bisnis (new business innovation). Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, maka kewirausahaan ini sangat bisa dikembangkan pada bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan usaha pariwisata, seperti bidang kerajinan, bidang kuliner, bidang jasa perhotelan dan homestay, bidang usaha biro dan agen perjalanan, bidang usaha hiburan, bidang usaha objek wisata, bidang usaha guide (pramuwisata), bidang usaha on-line, dan berbagai bidang usaha yang lain.

Untuk merealisasikan edu-preneurship ini di lapangan, memerlukan komitmen dari pemerintah daerah untuk mendorong dimulainya pelaksanaan edu-preneurship ini. Pelaksanaannya dimana? Mulailah dengan pengenalan entrepreurship yang sederhana di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (pendidikan 9 tahun). Lalu terus dikembangkan pelaksanaannya di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA).

Apabila sudah dimulai sebuah pengenalan entrepreneurship di tingkat pendidikan 9 tahun, dan dikembangkan lagi pelaksanaan entrepreneurship di tingkat sekolah menengah, berarti kita sudah mulai menciptakan “terang” kepada generasi muda Nias di masa yang akan datang. Dengan demikian, para siswa sudah dapat menilai bakat dan kemampuannya yang bakal disiapkannya ke depan, demi meraih masa depan yang lebih cerah melalui pekerjaan yang dikerjakan pada waktu memasuki dunia kerja.

Harapan kita bahwa setelah siswa menyiapkan diri lebih dini untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan talenta yang dimiliki, kita dapat meyakini bahwa mereka nantinya akan berhasil dalam mengarungi hidup ini. Keberhasilan ini akan didapatkan, karena bakat yang telah dimiliki sudah diasah lebih dini melalui kegiatan edu-preneurship.

Untuk itu siapkanlah kurikulum kreatif mengenai entrepreneurship dikalangan siswa SD dan SMP, dan terus diteruskan di kalangan siswa sekolah menengah. Rencanakanlah materi yang kreatif bagi siswa-siswa yang sesuai dengan usia pendidikan mereka.

Mewujudkan keinginan ini, tentu kita sesuaikan dengan harapan dan keinginan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan bahwa anak didik semakin pintar, manakala guru-gurunya sudah terlatih dan menguasai mata pelajaran itu. Artinya, profesi guru dimantapkan terlebih dahulu pada mata pelajaran entrepreneurship itu, setelah itu baru dikembangkan pemberiannya kepada siswa-siswa sebagai generasi muda Nias dan penerus cita-cita kita semua untuk lebih berhasil dalam mensejahterakan dirinya dan keluarganya di masa yang akan datang.

Galakkanlah pendidikan kewirausahaan kepada generasi muda Nias. Dan mulailah pendidikan itu lebih dini, sehingga generasi muda Nias ini sudah tidak mengalami kegalauan hati dalam mencari peluang pekerjaan, apabila mereka sudah dapat menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas/kejuruan ataupun sudah bisa lulus studi dari strata satu (S1).

Menurut Frinces (2010), berprofesi sebagai wirausaha adalah sebuah pilihan untuk hidup dan pilihan profesi yang terhormat yang harus direncanakan secara baik dan matang. Wirausaha adalah sebuah jalan kehidupan yang dipilih karena telah diyakini dengan kenyataan dan fakta yang ada bahwa wirausaha mempunyai peran yang besar di dalam meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan Negara.

Di samping itu wirausaha juga merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan untuk dapat menjadikan masyarakat dan Negara yang makmur. Oleh karenanya, wirausaha adalah sebuah profesi yang dalam proses penciptaannya, pertumbuhan dan perkembangannya harus dibentuk dengan cara yang sistematik. Karena yang akan dibentuk adalah karakteristik dan jenis sosok manusia yang harus berhasil di dalam tugasnya untuk menciptakan dan mengembangkan organisasi dan bisnisnya.

Bentuklah karakteristik wirausaha bagi generasi muda Nias melalui edu-preneurship. Dan tumbuhkanlah generasi muda Nias dalam dunia wirausaha, sehingga mereka akan menjadi pionir-pionir dalam berwirausaha di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Perlukah Evaluasi Program Kerja Seorang Pemimpin?

Monday, January 5th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes.

PROGRAM kerja yang telah dirumuskan biasanya sebagai penjabaran dari Visi dan Misi seorang pemimpin. Untuk mewujudkan visi dan misi dari seorang pemimpin, akan dirumuskan ke dalam program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Penempatan program kerja dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, tentu disesuaikan dengan upaya pencapaian sesuatu menurut kebutuhan. Baik kebutuhan yang mendesak dari masyarakat maupun percepatan kemajuan seperti yang diprogramkan oleh pemimpin.

Pelaksanaan evaluasi dari suatu program kerja sebaiknya dilakukan setiap tahun, terutama mengevaluasi program kerja 1 (satu) tahunan. Dan setelah itu dievaluasi juga mengenai rencana pelaksanaan program kerja dalam jangka menengah dan panjang, apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan program kerja itu selanjutnya. Untuk itu perlu ditandai dengan milestone-milestone (tonggak batu yang menunjukkan jarak dalam mil) agar lebih memudahkan bagi kita untuk menilai seberapa jauh perjalanan yang sudah kita jalani dalam upaya mewujudkan visi dan misi seorang pemimpin.

Banyak hal yang dievaluasi dari program kerja yang sudah diketukkan palu pada akhir tahun 2013 atau di awal tahun 2014 yang lalu. Hal pertama yang perlu dilakukan evaluasi berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM), baik sebagai pegawai pemberi pelayanan kepada masyarakat, maupun kemajuan yang telah dimiliki oleh khalayak selama tahun 2014.

Mengapa SDM yang pertama kali dievaluasi? Karena SDM ini merupakan motor penggerak dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan di lapangan, untuk mewujudkan berbagai hasil sesuai target dalam berbagai bidang yang menjadi profesi dari SDM itu sendiri. Umpamanya, kalau kita sungguh-sungguh memprioritaskan pembangunan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kepulauan Nias, seperti yang sudah disepakati dalam forum lokakarya yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014, maka tentu kita evaluasi mengenai jumlah dan kualitas SDM yang telah memahami ruang lingkup pembangunan dan pengembangan pariwisata yang seharusnya.

Selanjutnya pada SDM ini, kita bisa lihat pada jumlah SDM yang diprioritaskan untuk studi-lanjut mengenai kepariwisataan. Seberapa banyak SDM yang melaksanakan magang diberbagai usaha pariwisata di berbagai tempat. Seberapa banyak SDM yang telah dilatih pada bidang kepariwisataan, dan seberapa banyak SDM yang dipersiapkan untuk mendalami mengenai usaha perhotelan, usaha biro dan agen perjalanan, usaha kerajinan, usaha perbatikan, usaha kuliner, usaha rekreasi, dan usaha-usaha lainnya.

Setelah melakukan evaluasi pada SDM, maka evaluasi yang dilakukan selanjutnya adalah mengenai pelaksanaan program kerja dari masing-masing SKPD, Badan, Kantor, Bagian, dan para Camat. Penekanan evaluasi pada bidang ini yaitu seberapa besar kelancaran pelaksanaan dari setiap program kerja yang berada dalam ruang lingkup tugas pokok dan fungsinya. Apa saja hambatan dalam proses pelaksanaan program kerja itu? Seberapa banyak dapat diwujudkan berbagai program usulan yang berasal dari musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes). Seberapa besar persentase pencapaian target dari setiap program kerja itu, dan seberapa besar peranannya dalam mewujudkan pencapaian visi dan misi dari seorang pemimpin.

Barangkali masih banyak item-item yang memerlukan evaluasi yang menggunakan indeks atau standar-standar yang sudah ada. Seperti standar penilaian derajat kesehatan masyarakat (kesehatan ibu dan anak), derajat pendidikan bagi anak-anak usia sekolah, standar penggunaan anggaran, standar pembangunan infrastruktur, dan standar-standar yang lain.

Meskipun masih banyak item-item yang perlu dievaluasi, namun yang menjadi fondasi pelaksanaan program kerja berikutnya adalah mengenai evaluasi berbagai permasalahan yang terjadi selama tahun 2014. Permasalahan yang diutamakan adalah permasalahan yang terjadi dari setiap proses pelaksanaan program kerja selama tahun 2014. Permasalahan ini tentu perlu dicatat selengkap-lengkapnya untuk dipahami oleh semua SDM dari masing-masing organisasi yang ada, dengan harapan permasalahan itu akan dapat berkurang sebesar-besarnya pada tahun 2015. Alangkah lebih baik lagi apabila di tahun 2015, permasalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Apakah masih ada lagi yang paling penting untuk dievaluasi lagi? Masih dan malah yang utama. Justru ini yang paling penting untuk dievaluasi. Mengapa? Karena pemimpin daerah umpamanya, bekerja dalam upaya untuk menjalankan 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zeith, 2013).

Berbicara tentang pelayanan yang disuguhkan oleh SDM kepada masyarakat, tentu sangat perlu dievaluasi. Bagaimanapun masyarakat sangat berharap akan selalu mendapatkan pelayanan yang baik dan berkualitas dari SDM, ditambah dengan sangat informatif dan disampaikan dengan sangat komunikatif. Untuk itu sangat perlu dievaluasi.

Evaluasinya berkaitan dengan seberapa baiknya pelayanan yang dihadirkan SDM untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Tujuannya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi di tahun 2015 mendatang. Pelayanan yang diberikan SDM tidak hanya dalam hal kecepatan pelayanan, tetapi menyangkut juga sikap dan perilaku SDM saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sekarang ada istilah S3 (senyum, salam, dan sapa) dalam memberikan pelayanan, apakah sudah menggambarkan pelayanan yang S3?

Demikian juga dalam hal pengaturan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat, sangat perlu dievaluasi. Tujuannya untuk menghadirkan dan meningkatkan peran pemimpin daerah dalam upaya mensejahterakan masyarakat menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang. Sekaligus juga untuk menilai seberapa jauh mile-stone yang telah dicapai atau yang dijalani, sesuai visi dan misi dari seorang pemimpin.

Visi dan misi seorang pemimpin merupakan sebuah mimpi yang perlu direalisasikan selama duduk dalam jabatan sebagai seorang pemimpin. Untuk itu sangat perlu melakukan evaluasi pada berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tahun 2014. Gambarannya adalah apa keberhasilannya dan apa kegagalannya. Informasi kondisi ini perlu diutarakan kepada khalayak, sehingga masyarakat peham juga mengenai hasil yang telah dicapai dan hal-hal lain yang perlu dilaksanakan pada tahun-tahun yang akan datang.

Pelaksanaan kegiatan evaluasi ini tidak hanya sekedar mencatat berbagai kekurangan dari berbagai program kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, tetapi kekurangan yang masih ada itu akan diperbaiki dengan sungguh-sungguh di tahun 2015. Kesungguhan ini akan tampak pada hasil evaluasi berbagai program kerja di akhir tahun 2015, apakah permasalahan atau kekurangan yang tercatat di tahun 2014 masih terjadi dengan frekuensi yang sama di tahun 2015? Mari sama-sama melakukan penilaian hasil yang dapat dicapai di tahun 2015 mendatang.

Selamat melakukan evaluasi semua program kerja yang sudah dilaksanakan pada tahun 2014, dan selamat mewujudkan harapan masyarakat pada tahun 2015 mendatang. Bila ada kesungguhan hati dapat dipastikan bahwa selama duduk dan memegang jabatan itu, pasti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pasti terdapat rona muka dari insan masyarakat yang menunjukkan kegembiraan.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

 

Wisata Pantai dan Laut

Wednesday, December 3rd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1MESKIPUN harga bahan bakar minyak (BBM) sudah naik dan mahasiswa-mahasiswa melakukan demo menolak kenaikan harga BBM itu, kenaikan harga BBM tetap berjalan, bahkan pengguna BBM pun tetap banyak. Lihat saja antrian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetap banyak. Bahkan keinginan sebagian orang untuk melakukan rekreasi bersama keluarga, tetap saja berjalan seperti biasa. Mereka banyak bepergian di pantai untuk melihat laut sekaligus rekreasi, agar mendapatkan kesegaran pemikiran kembali setelah melakukan berbagai pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran.

Kita memang membutuhkan keseimbangan dalam hidup ini. Setelah tersita waktu dan pikiran untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari, lalu meluangkan waktu untuk melakukan pemulihan kesegaran pemikiran kembali, dengan melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga sekaligus mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga besarnya.

Jadi, Anda jangan heran bila tiba hari besar atau hari libur, orang berlomba-lomba bepergian untuk rekreasi. Objek dan daya tarik wisata yang dipilih lebih banyak pada produk wisata pantai (wisata laut). Mereka membuang kejenuhan dengan menyenangkan mata melihat laut yang biru dan sangat luas, menyenangkan telinga mendengarkan deru ombak yang menggelegar, menyenangkan perut melalui makanan khas lokal (kuliner), menyenangkan hati dengan berbelanja souvenir dan kebutuhan lainnya, serta menyenangkan pikiran.

Pertanyaan menarik yang perlu diajukan disini adalah mengapa kebanyakan manusia suka bepergian di pantai? Barangkali, karena pantai memiliki luasan pasir yang menarik dengan deru ombak yang menderu-nderu dan saling berlari kejar mengejar menuju pantai. Pemandangan di laut yang menggambarkan tidak ada batasnya, demikian juga tingginya langit tanpa hambatan. Paling-paling ada hambatan tidak bisa melihat langit, bila terdapat banyak awan sebagai tanda mau turun hujan.

Memandangi laut yang demikian luas, serta melakukan berbagai aktivitas di pantai atau di laut, banyak memberikan nuansa kegembiraan. Jadi hati ini terasa tenteram dan bahagia, lebih-lebih berwisata bersama keluarga.

Berbagai hal yang bisa dilakukan bila rekreasi di pantai. Antara lain mandi di laut, berenang di laut, mancing di laut, bermain pasir dengan membuat jembatan, gunung, kue tar atau jenis yang lain. Bisa juga naik kuda menyusuri pantai atau motor-motoran bersama anak atau cucu. Tanpa kemana-mana pun tidak masalah, cukup dengan hanya duduk-duduk di atas tikar di pantai, sambil makan jagung bakar atau minum air kelapa muda.

Di pantai bisa juga merasakan pijitan dari yang ahli pijit, agar peredaran darah bisa lancar kembali, sehingga kembali bugar. Para wisatawan yang lagi menikmati derunya ombak, bisa juga main bola atu voli bersama, sehingga betul-betul terjadi keakraban satu sama lain.

Apabila gelombang laut memiliki ombak yang besar dan tinggi, bisa juga berolahraga selancar. Kegiatan penyelaman juga bisa dilakukan pada wilayah laut yang tidak berbahaya, sambil menikmati pemandangan di bawah laut.

Setelah puas bermain di pantai dan di laut, Anda pun bisa menunggu sampai sore di pinggir pantai sambil menikmati suasana sunset yang begitu indah di mata. Sungguh memberikan situasi perasaan yang nyaman dan damai di hati.

Setelah merasakan dan menikmati rekreasi di pantai, tentu akan melakukan perjalanan mau pulang. Sebelum pulang, biasanya wisatawan akan mampir di suatu tempat untuk berbelanja souvenir sebagai oleh-oleh termasuk belanja lauk ikan yang biasanya terdapat dan dijual di sekitar lokasi pantai. Jadi melakukan rekreasi di pantai, banyak hal yang bisa dilakukan, dan banyak hal yang bisa diperoleh, sehingga kejenuhan menjadi sirna dan hubungan antar keluarga semakin erat dan damai.

Berbagai hal yang didapatkan dan dirasakan setelah berwisata di pantai, akan membuat wisatawan merasakan kesegaran, terutama dalam hal hubungan dengan keluarga yang semakin baik serta pemikiran yang sudah semakin jernih. Hal-hal yang sudah didapatkan wisatawan, seperti merasakan dan menikmati produk wisata pantai, berwisata olahraga, berwisata kuliner, dan bisa juga berwisata kreatif dengan membentuk gunungan atau sejenisnya yang berbahan pasir atau yang heboh lagi yaitu berfoto ria. Sungguh menyenangkan serta sungguh memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan.

Berdasarkan pengamatan, jumlah wisatawan yang berkunjung di objek dan daya tarik wisata pantai semakin meningkat jumlahnya. Apalagi pada waktu hari libur, jumlah wisatawan akan semakin meningkat. Melihat kondisi ini, maka banyak pemerintah daerah yang menyulap pantainya menjadi sesuatu yang menawan dan menarik hati. Seperti pantai-pantai yang terdapat di sepanjang laut selatan Yogyakarta, pemerintah daerah Gunungkidul dan pemerintah daerah Bantul menggarap lingkungan pantainya menjadi semakin menarik serta mempermudah akses pencapaiannya.

Sepanjang pantai yang jauhnya sekian kilometer itu, pemerintah daerah membangun dan mengembangkan beberapa lokasi wisata pantai, yang hanya dibatasi hutan atau batu karang. Setiap lokasi wisata pantai, dibuat diferensiasi dengan penonjolan ciri khas dari masing-masing pantai. Ada pantai yang diperuntukkan bagi yang suka pemandangan alam dan laut, ada pantai yang ada pasar ikannya, ada pantai yang bisa untuk motor-motoran dan olahraga kuda, ada pantai yang banyak kulinernya, ada pantai yang banyak menyajikan hasil kerajinan masyarakat, dan beberapa wisata pantai lainnya yang memiliki ciri kekhususan.

Tujuan dilakukannya diferensiasi ini dalam upaya agar wisatawan yang mau rekreasi di pantai, tidak hanya berkunjung pada 1 (satu) pantai saja, tetapi akan melakukan kunjungan pada beberapa pantai yang sudah disiapkan itu. Jadinya semua pantai yang ditawarkan itu, akan dikunjungi semua oleh para wisatawan. Jadi sekali melakukan kegiatan wisata, akan bisa melihat beberapa pantai yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri.

Nah, setiap objek wisata pantai, sudah disiapkan loket karcis bagi pengunjung, sekaligus sebagai dasar hitungan jumlah pengunjung. Karcis yang disiapkan itu, ada yang diperuntukkan kepada para pengunjung, ada karcis untuk motor, dan ada karcis untuk bus dan truk.

Meskipun pemasukan pemerintah dari penjualan karcis terbilang hanya sedikit, barangkali sekian puluh miliar dalam setahun, namun jumlah pemasukan ini sangat bermanfaat. Selain itu, penerimaan lain yang bisa diperoleh pemerintah daerah bisa berupa pajak dari usaha kepariwisataan dan pajak-pajak yang lain (tidak langsung).

Mengenai jumlah penerimaan-penerimaan pemerintah daerah dari kegiatan pariwisata ini, mestinya bisa dalam beberapa jenis, seperti pemasukan dari karcis masuk objek wisata dan pajak-pajak usaha. Penerimaan pemerintah daerah yang bersumber dari penjualan karcis masuk di setiap ojek dan daya tarik wusata, tentu bisa digunakan untuk pemeliharaan objek dan daya tarik wisata. Pengeluaran yang lain bisa juga digunakan untuk pembayaran gaji petugas yang membantu kelancaran perjalanan kunjungan wisatawan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang berkaitan dengan pengelolaan objek dan daya tarik wisata.

Mungkin yang paling menarik di sini adalah besaran pendapatan masyarakat yang langsung diperoleh dari para wisatawan. Masyarakat langsung mendapatkan hasil dari berbagai usaha yang mereka lakukan dalam upaya memenuhi kebutuhan wisatawan. Besaran pendapatan ini yang barangkali sangat memberikan daya ungkit bagi masyarakat untuk berusaha. Artinya terjadi penyebaran jiwa wirausaha pada masyarakat, sekaligus mendorong masyarakat untuk bertindak ramah serta memberikan daya dorong bagi masyarakat untuk turutserta memelihara lingkungannya.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu melakukan inventarisasi lokasi-lokasi produk wisata pantai yang bisa ditawarkan kepada para wisatawan. Agar produk wisata pantai ini semakin memberikan daya tarik, tentu perlu melakukan usaha diferensiasi pada setiap objek wisata pantai. Tujuannya agar wisatawan selalu mendapatkan hal yang baru pada setiap produk wisata pantai yang dikunjungi serta menghindarkan kejenuhan bagi wisatawan. Semakin bervariasi kondisi produk wisata pantai, akan semakin mempesona bagi wisatawan serta dapat memberikan pengalaman baru, bila wisatawan berkunjung dari wisata pantai yang satu dengan wisata pantai yang lain.

Manfaatkanlah kekayaan laut yang terdapat di wilayahnya, dan suguhkan kekayaan laut itu kepada orang yang berkeinginan untuk mendapatkan kesegaran kembali. Laut dan pantainya memang memberikan berbagai hal yang menyenangkan bagi siapa saja yang melakukan kunjungan. Untuk itu sulaplah kondisi lingkungan pantai dan laut itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi setiap orang yang melakukan kegiatan pariwisata di pantai. Kembangkanlah wisata laut di wilayahnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Membuka Mata Pemuda/i Kepulauan Nias

Friday, November 28th, 2014

Catatan Redaksi: Redaksi menayangkan tulisan berikut, buah karya seorang pemuda Nias yang tinggal di Yogyakarta. Kiranya para pemuda/i Ono Niha – khususnya yang tinggal di Nias – tergerak untuk lebih kreatif dalam mempersiapkan masa depan mereka.

Oleh: Febriwan Harefa

Opini“Ngak ada diharapkan di sini ŵö Wan selain PNS … ” kalimat ini saya masih ingat ketika sedang ngobrol dengan seorang teman, ketika saya pulang ke Gunungtoli 3 bulan yang lalu. Hal yang sama juga diutarakan oleh beberapa pemuda/i Kepulauan Nias, “Yah palingan tunggu lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), kalau ngak menang jadi penganguran lagi”.

Dari pendapat-pendapat di atas saya sedikit bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda/i Kepulauan Nias, terutama di Gunungsitoli sangat mengharapkan profesi sebagai PNS. Sebenarnya harapan mereka ini sangat wajar, dengan pertimbangkan lapangan pekerjaan yang ada di Kepulauan Nias yang sangat sedikit. Selain itu keutungan menjadi seorang PNS sangat banyak, yang pertama mendapatan gaji setiap bulannya yang berkisar 2-3 juta, gaji yang didapat tergantung pada tingkat golongan PNS. Kedua, profesi seorang PNS juga terkena dampaknya kepada keluarga, jika seorang PNS tersebut telah memperoleh keluarga yaitu dengan mendapat asurasi kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Keutungan ketiga dari menjadi seorang PNS adalah ketika seorang yang berprofesi PNS ia akan mendapatkan uang pesangon dari negara dan dana pensiun tiap bulannya. Selain ketiga keutungan di atas, masih banyak beberapa keutungan menjadi seorang PNS.

Pendapat yang sama tentang profesi PNS bukan hanya di Kepulauan Nias tetapi juga di daerah – daerah lain seperti di Pulau Jawa. Akan tetapi ada perbedaan antara pemuda/i yang ada di Kepulauan Nias dengan pemuda/i yang ada di Pulau Jawa ketika mereka gagal menjadi PNS. Karena banyaknya kesempatan untuk masuk perusahaan-perusahaan, baik itu swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pulau Jawa, maka para pemuda di Pulau Jawa tidak terlalu “pusing” apabila gagal menjadi PNS.

Sebenarnya hal yang sama bisa dilakukan pemuda/i di Kepulauan Nias, ketika tidak lulus PNS masih bisa mencari alternatif. Seperti pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini lagi banyak digeluti pemuda/i Indonesia yang ada di Pulau Jawa, yaitu pekerjaan freelance melalui dunia maya.

Pekerjaan freelance (pekerja lepas) melalui dunia maya sangat banyak digemari oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Selain tidak mengenal batas waktu, pekerjaan ini bisa dilakukan di mana-mana baik itu dirumah, bahkan di kamar mandipun. Pekerjaan yang tidak mengenal tempat khusus ini bermacam-macam seperti menulis artikel di blog tentang mengenal membuat kerajinan tangan, parawisata dll. Lebih bagusnya para blogger (sebutan bagi orang suka menulis di blog) membeli domain, dan bandwidth agar bisa mendapatkan pendapatan dari blog yang telah dibuat. Untuk mendapatkan uang lebih selain dari memasang domain dan bandwidth pada blog. Blogger dapat mendapatkan uang dengan cara mendaftarkan blonya ke google access, dan setiap artikel akan dihargai sekitar $ 0,5.Selain itu, sekarang ini banyak usaha penulisan yang berbasis online menawarkan jasa penulisan dan setiap artikel dihargai sekitar 5-10 ribu.

Pekerjaan semacam ini bisa dilakukan oleh pemuda/i Kepulauan Nias dengan mempertimbangkan, sekarang ini banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, aktif di dunia maya dan mulai tidak asing dengan yang namanya teknologi. Selain itu juga dengan menulis artikel di blog misalnya tentang kebudayaan atau parawisata tentang Kepulauan Nias. Maka secara tidak langsung para blogger lain bisa mengetahui kekayaan kebudayaan dan parawisata yang ada di Kepulauan Nias.

Selain itu pekerjaan freelace penerjemah bisa juga dilakukan oleh pemuda/i di Kepulauan Nias, terkhususnya mahasiswa Intitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli atau Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu pendidikan (STKIP) Nias Selatan, yang mengambil jurusan bahasa Inggris, yaitu dengan cara menawarkan diri menjadi penerjemah freelance ke beberapa penerbit atau perusahaan penerjemahan. Salah satu caranya dengan membuat sebuah contoh penerjemahan dengan topik tertentu. Setelah selesai dapat mengirim contoh penerjemahan tersebut ke alamat website yang menawarkan penerjemahan seperti ke milis bahasa Bahtera (Bahasa dan Terjemahan), Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), dan beberapa website penerbitan seperti Gramedia, Mizan, Bentang Pustaka.

Selain itu masih banyak lowongan pekerjaan freelance yang lainnya yang khususnya melalui dunia maya. Sekarang ini yang dibutukan adalah bagaimana pemuda/i Kepulauan Nias mulai membuka mata, terhadap lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya, dan juga dibarengi dengan usaha kreatif untuk membuat sesuatu yang baru yang dapat bermafaat dan tentunya dapat menghasilkan yang namanya materi.

Dan dari contoh-contoh lowongan pekerjaan diatas pemuda/i Kepulauan Nias, dapat melakukannya dengan mempertibangkan banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, yang aktif memberikan komentarnya di beberapa grup yang ada di Facebook misalnya saja grup FB Suara Nias, Nias Bangkit. Maka di sana dapat dilihat bahwa pemuda/i Kepulauan banyak aktif di dunia maya. Ke dua adalah dengan jaringan telkomsel yang lumayan bagus di Kepulauan Nias, sehingga pemuda/i Kepuluan Nias dapat memanfaatkan hal tersebut untuk membuat blog yang gratis terlebih dahulu seperti wordpress, blogspot dll.

Sangat dibutuhkan keseriusan pemerintah di Kepulauan Nias untuk bisa memberikan layanan wifi gratis kepada pemuda/i Kepuluan Nias untuk bisa mengakses informasi dan lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah Bekasi, Jawa Barat dengan memberikan layan wifi gratis di bebepa lokasi kepada masyarakatnya secara cuma-cuma. Sementara itu bagaimana dengan pemerintah Kepulauan, apakah berani melakukan terobosan seperti yang di lakukan oleh pemerintah Bekasi, yang salah satu tujuannya membantu pemuda/i mendapatkan lowongan pekerjaan ?

*Seorang penulis freelance yang sementara waktu berdomisil di Yogyakarta.

Pariwisata: Basis Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Monday, November 24th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

OpiniPADA dasarnya pemerintah itu hadir dalam rangka untuk meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi bagi rakyatnya. Untuk itu pemerintah bekerja keras untuk mewujudkan ke-2 hal itu di wilayahnya, agar gap antara yang kaya dan yang miskin tidak semakin melebar. Untuk penilaian pencapaiannya, pemerintah selalu mengamati dan menganalisis data tentang perkembangan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi itu bagi rakyatnya.

Gubernur provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan informasi bahwa data pertumbuhan ekonomi DIY di tahun 2012 meningkat menjadi 5,23%. Pertumbuhan ekonomi ini banyak dipicu adanya peningkatan pendapatan di bidang sektor pariwisata, hotel dan restoran. Hal ini disampaikan Gubernur DIY pada acara serahterima jabatan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di DIY pada tanggal 26 April 2013.

Berita pertumbuhan ekonomi DIY ini merupakan sebuah informasi yang sangat menarik bagi kita yang sedang mendorong sektor pariwisata untuk menjadi lokomotif pembangunan kesejahteraan masyarakat di beberapa daerah. Ternyata dampak keberhasilan pada sektor pariwisata seperti di DIY, akan memberikan sumbangsih pada sektor-sektor yang lain menjadi sangat terdongkrak. Dengan demikian, keberhasilan dalam pembangunan pariwisata dapat mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi sehingga mereka bisa cepat meningkatkan taraf hidupnya.

Fakta yang disampaikan Gubernur DIY ini memang seratus persen benar. Apa buktinya? Sebagaimana diketahui bahwa ekonomi suatu Negara bertumbuh dari empat sumber yaitu: 1. Pengeluaran masyarakat untuk konsumsi (spending); 2. Peningkatan investasi; 3. Kegiatan ekspor dikurangi impor; dan 4. Pengeluaran pemerintah (Government expenditure).

Kegiatan wisata memberikan kontribusi personal spending terbanyak. Mengapa? Karena saat berwisata, orang pasti berbelanja. Jika berbelanja, turn over perekonomian akan bertumbuh. Masyarakat yang dikunjungi akan memperoleh pendapatan dari transaksi penjualan barang dan jasa kepada wisatawan, sedang pemerintah akan mendapatkan retribusi dan pajak dari usaha yang bergerak di bidang usaha pariwisata.

Kunjungan wisata itu adalah kunjungan menyenangkan. Senang karena berkunjung di daerah lain yang mungkin baru pertama kali dikunjungi. Senang karena melihat berbagai seni dan budaya khas lokal, serta senang karena mendapatkan souvenir dan menikmati kuliner lokal.

Kegiatan wisata serba menyenangkan. Bisa menyenangkan mata (melihat laut dan gunung), menyenangkan telinga (mendengar musik), menyenangkan perut (kuliner), menyenangkan hati (belanja) dan menyenangkan pikiran. Jadi pariwisata adalah segala kunjungan yang menyenangkan. Objek kunjungan terdapat di sebagian besar wilayah di Indonesia, yang semuanya bagaikan surga dunia yang serba menyenangkan hati (Irawady, 2012).

Untuk lebih memahaminya, Amalia (2013) menyampaikan beberapa informasi bahwa pada tahun 2012, kontribusi langsung sektor pariwisata terhadap Gross Domestic Product (GDP) mencapai 4 persen, sedangkan kontribusi tidak langsung sektor pariwisata memberikan sumbangan sebesar 8 persen, sehingga jika ditotal mencapai angka 12 persen. Kontribusi ini menjadi sangat bermakna seperti yang dialami Provinsi DIY.

Dengan demikian, pengembangan potensi pariwisata yang dimiliki setiap daerah di Indonesia sangat diperlukan dan sangat dibutuhkan. Pengembangan potensi ini menjadi sangat bermakna dalam upaya meningkatkan daya tarik bagi wisatawan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa masih banyak potensi pariwisata daerah di wilayah Indonesia yang belum diolah, termasuk Kepulauan Nias. Potensi yang dimiliki masih dibiarkan terbengkalai.

Untuk itu sebaiknya potensi yang telah dimiliki itu perlu sesegera mungkin diolah dan dikelola serta dikenalkan kepada dunia sehingga destinasi wisata di Indonesia tidak hanya kawasan Bali yang dikenal dunia tetapi juga kawasan-kawasan lainnya, seperti Raja Ampat di Papua Barat, Kepulauan Nias di kawasan barat Indonesia he he.

Pada kenyataannya banyak daerah di wilayah Indonesia yang memiliki banyak potensi di bidang pariwisata, seperti wilayah di kawasan timur dan barat Indonesia. Karena itu janganlah biarkan potensi yang ada ini menjadi sebuah mutiara dalam lumpur, jikalau tidak dicari ya tidak ketemu. Bangun dan desain kawasan wisata yang sudah ada itu, sehingga menjadi sangat menarik bagi wisatawan dan promosikan daya tarik wisata tersebut sehingga dunia mengenalnya.

Berdasarkan United Nations World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2012, kawasan Asia Pasifik adalah kawasan yang memiliki pertumbuhan yang paling tinggi dari sisi pariwisata. Di kawasan ini terjadi peningkatan sebesar 7 persen pengunjung atau setara dengan kenaikan 15 juta pengunjung internasional dibandingkan tahun 2011.

Karena itu, Indonesia seharusnya lebih melirik industri pariwisata sebagai salah satu industri yang harus ditopang dan dibantu dengan berbagai regulasi. Dan berupaya lebih mengenalkan berbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang sangat unik dan menarik.

Kenaikan jumlah penduduk berpendapatan menengah ke atas di Indonesia juga dapat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan industri pariwisata. Jumlah penduduk yang termasuk kelas menengah ke atas di Indonesia sudah di atas 100 (seratus) juta orang, bahkan sudah mendekati angka 150 (seratus lima puluh) juta orang. Dengan adanya kenaikan jumlah penduduk dengan pendapatan menengah ke atas, dapat berdampak besar pada kenaikan akan kebutuhan tersier seperti pariwisata, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah wisatawan nusantara.

Untuk lebih meyakinkan bahwa pariwisata sangat mendukung pertumbuhan ekonomi suatu Negara atau daerah, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu menyatakan, sektor pariwisata kini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. Wah jadi semakin menarik pariwisata ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan hal ini pada saat Beliau memimpin konferensi tentang Pembangunan Berkelanjutan yang membahas tentang Pariwisata di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 6 Oktober 2013 yang lalu. Selanjutnya Menteri menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi negara saat ini tidak lepas dari kontribusi sektor pariwisata. Berdasarkan pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini, apakah Anda masih ragu atau kurang percaya pada pembangunan dan pengembangan pariwisata?

Mari Elka Pangestu mengatakan selanjutnya bahwa dengan pencapaian 9 persen Gross Domestic Product (GDP) dunia, 30 persen ekspor jasa, dan satu dari 11 lapangan kerja diserap industri pariwisata, menunjukkan bahwa sektor pariwisata telah menjadi: 1. Mesin pertumbuhan ekonomi; 2. Pencipta lapangan kerja; dan 3. Pengentasan kemiskinan. Pembangunan di sektor pariwisata terus bertumbuh di Kawasan Asia Pasifik, sebab memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan,” katanya.

Untuk meningkatkan daya tarik pada suatu kawasan pariwisata, perlu meningkatkan ‘nilai’ objek-objek wisata kepada orang lain. Dan ini tentu suatu keharusan agar wisman dan wisnus tertarik untuk datang menikmati keindahan dan keluhuran objek wisata yang dimiliki.

Peningkatan nilai objek wisata seperti objek wisata pantai atau objek wisata alam dan objek wisata lainnya, tentu dimulai dari upaya penataan lokasi. Sebelah mana lokasi pendirian warung makan, lokasi menikmati sunset, lokasi toilet, lokasi warung kerajinan, lokasi duduk-duduk santai bagi keluarga, lokasi arena mainan anak-anak, lokasi atraksi wisata seperti senitari dan sebagainya, lokasi mancing, lokasi voli pantai, lokasi mandi di laut yang tidak berbahaya, lokasi penginapan, lokasi naik kuda, lokasi bermain motor-motoran bagi anak-anak, lokasi atraksi lari kuda, lokasi mendaki gunung, lokasi hutan wisata, lokasi waterfall, dan lokasi-lokasi yang lain. Penataan lokasi-lokasi di atas, semuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan saat mereka berkunjung di objek wisata, baik di objek wisata pantai, wisata bahari maupun di objek wisata alam serta seni budaya.

Nah, untuk menangani penataan dan peruntukkan lokasi, tentu kita butuh map (peta) objek wisata pantai, wisata alam dan objek wisata lainnya. Dan penataan lokasi ini bisa saja dikerjakan oleh Dinas Pariwisata. Secara sederhana, paling-paling kan berkaitan dengan panjang lebarnya objek wisata (luas) serta penentuan lokasi-lokasi yang akan dibangun di lahan objek wisata tersebut. Tujuannya agar para pengunjung di objek wisata tersebut dapat merasakan kesegaran, keamanan, kenyamanan, dan kebersihan.

Selamat menunaikan amanah sebagai orang-orang yang penuh kreativitas dalam menata dan mengembangkan objek wisata di masing-masing Pemerintahan daerah di Indonesia dan di Kepulauan Nias. Mari meningkatkan peran pariwisata di wilayah kita demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan, serta untuk mengentaskan kemiskinan. Jadikanlah daerah kita menjadi daerah yang tidak termasuk daerah tertinggal lagi, tetapi menjadi suatu daerah yang pertumbuhan ekonominya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Bangsa Indonesia Menyambut Kepemimpinan Baru

Monday, October 20th, 2014
Jokowi-JK |Sumber: www.deviantart.com

Jokowi-JK |Sumber: www.deviantart.com

Hari ini, Ir Joko Widodo (Jokowi) dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK) dilantik masing-masing menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk periode 2014-2019.

Seperti pada peristiwa-peristiwa penting nasional sebelumnya, terutama sejak babak baru demokrasi yang dimulai semenjak peristiwa Reformasi 1998, rakyat Indonesia kembali berharap, bermimpi, berangan-angan, dan berdoa kiranya kehadiran kepemimpinan baru melahirkan juga Indonesia Baru.

Indonesia Baru itu adalah konsep ideal yang di dalamnya tercakup segala macam harapan luhur seluruh rakyat Indonesia dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita menyebut beberapa di antaranya. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, terwujudnya kehidupan bangsa yang harmonis di mana rasa aman menjadi milik semua, suasana saling menghargai dan menghormati semakin merasuk ke dalam kesadaran batin, sikap dan perilaku dari bangsa yang memang datang dan dibentuk oleh keberagaman.

Dalam bidang hukum, terwujudnya suasana psikologis yang nyaman karena setiap insan dan kelompok merasa diayomi secara hukum, hak-hak dan kewajibannya dilindungi dan dijamin, karena di depan hukum dalam Indonesia Baru itu semua orang sederajat.

Di bidang sosial ekonomi, semakin meningkatnya persentase masyarakat yang hidup secara layak dan manusiawi yang dicapai melalui program-program pro-rakyat. Juga terjaminnya kebutuhan-kebutuhan fisik mendasar di bidang kesehatan, energi, air, pangan dan papan.

Di level internasional, cita-cita ideal ‘Indonesia Baru’ itu didekati apabila Indonesia semakin dihargai di mata dunia, didengar dan ditanggapi secara serius suaranya dalam forum-forum dunia, makin berperan dalam percaturan politik dunia, termasuk dalam rangka mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih berkeadilan, aman dan damai.

Sebenarnya tiada hal yang baru dalam cita-cita dan idealisme Indonesia Baru itu. Idealisme dan cita-cita Indonesia Baru itu telah dirumuskan jauh sebelumnya oleh para pendiri bangsa ini.

Kalau kini kita melabelnya kembali sebagai cita-cita dan idealisme Indonesia Baru, maka tujuannya tiada lain adalah untuk mencoba menyegarkan kembali ingatan kita akan idealisme awal itu, tepat di saat bangsa Indonesia menyambut kehadiran kepemimpinan barunya.

***
Ada hal yang melegakan, menyegarkan dan membesarkan hati pada pelantikan Presiden dan Wakil Presiden hari ini, yang menandai tradisi baru dalam peralihan kepemimpinan nasional.

Sepanjang ingatan kita, baru kali inilah sebuah upacara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden dihadiri secara lengkap oleh para mantan presiden yang masih hidup, dan juga istri mantan presiden almarhum Aburrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur.

Beberapa hari sebelumnya, presiden terpilih Joko Widodo bertemu dengan Prabowo Subianto, pesaingnya dalam Pilpres 2014, dalam suasana penuh keakraban.

Kedua peristiwa ini menandai awal dari kematangan berdemokrasi bangsa Indonesia.

***

Harus diakui, Pilpres 2014 merupakan pilpres ‘terhangat’ dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Teknologi komunikasi modern telah menghadirkan berbagai bentuk sarana untuk menyebarluaskan informasi dalam intensitas tinggi dengan kecepatan luar biasa yang tak pernah kita alami atau saksikan sebelumnya.

Sebagaimana biasa, fenomena ini menghadirkan kepada kita informasi, baik yang utuh maupun yang terdistorsi. Seringkali, ketidakmampuan kita memilah secara kritis informasi yang benar, baik, dan perlu, merangsang meningkatnya kadar irasionalitas kita.

Dan ketika irasionalitas telah membajak kesadaran kita, maka kita biasanya malah menyulutnya dengan irasionalitas baru: ikut mendistorsi informasi itu dan berperan menyebarkannya.

Irasionalitas itu kita pertontonkan dalam berbagai bentuk: menyebarkan informasi tendensius dan provokatif yang datang dari sumber yang diragukan kredibilitasnya, memanfaatkan kepiawaian kita untuk menciptakan ‘karikatur’ fisik para calon pemimpin kita di luar batas kewajaran, beradu argumen secara irasional, dan … memutuskan relasi ‘pertemanan’ terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengan kita.

Maka, tidak mengherankan bahwa selama masa kampanye Pilpres 2014, lebih dari masa-masa kampanye Pilpres sebelumnya, bangsa ini seakan terbelah dua – mengikuti kubu Pilpres mana yang diidolakan.

Singkat kata, masa kampanye Pilpres hingga beberapa waktu menjelang dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden baru hari ini adalah: masa demam, masa menggigil, masa di mana ‘suhu badan’ bangsa Indonesia meninggi. Dan seperti biasa, jiwa yang terkurung dalam badan yang sedang mengalami demam bisa mengingau.

Sempat muncul semacam kekuatiran: bisakah ‘suhu badan’ bangsa ini turun kembali? Sebuah kekuatiran yang beralasan, karena demam kali ini ‘tidak biasa’.

Hari ini, ‘suhu badan’ bangsa ini telah normal kembali, berkenaan dengan hadirnya kepemimpinan baru di Indonesia. Kepemimpinan yang mudah-mudahan mulai merealisasikan cita-cita dan idealisme Indonesia Baru.

Hari ini, imunitas bangsa ini dari rongrongan berbagai demam irasionalitas telah meningkat. Itu telah diperlihatkan oleh suasana damai dalam gedung rakyat dan di luarnya, dan di seluruh tanah air.

Bangsa Indonesia pernah memiliki Bung Karno dengan ucapannya yang terkenal: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”. Ucapan ini kiranya perlu digandengankan dengan kriteria tambahan berikut: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang darinya lahir para pemimpin yang berjiwa besar“. Kriteria terakhir ini kita saksikan secara nyata pada hari ini.

Selamat menyambut kehadiran kepemimpinan baru Indonesia. (eh/*).

PKK dan Jajanan Kuno

Wednesday, October 15th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2PADA pertemuan Kemenparekraf dengan seluruh Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias dalam forum workshop Asistensi Penguatan Destinasi Nias, yang dilaksanakan pada tanggal 24-25 April 2014 di Hotel Poenix Yogyakarta, terdengar beberapa informasi mengenai pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Salah satu informasi yang disampaikan Bapak Walikota Gunungsitoli bahwa banyak yang menanyakan tentang kuliner khas Nias. Dan sampai sekarang belum mengetahui apa itu makanan khas asli Nias.

Hal yang diinformasikan di atas memang bukan merupakan hal yang baru. Masih banyak di antara kita yang belum mengetahui mengenai makanan khas Nias. Bahkan Pakar marketing Indonesia Bapak Hermawan Kartajaya juga mengalami kesulitan untuk mengetahui makanan khas Nias. Pada waktu beliau berkesempatan melakukan perjalanan di Kabupaten Nias Selatan, untuk melakukan survey dengan suatu topik tertentu, tidak ada yang tahu tentang makanan khas Nias. Beliau mengatakan bahwa sudah bertanya kepada beberapa orang mengenai makanan khas Nias, tetapi tidak ada yang bisa memberitahu, pada hal beliau ingin sekali mencoba dan merasakan kelezatan makanan khas Nias.

Salah satu pendukung utama dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata di suatu wilayah adalah makanan khas lokal. Seperti halnya di Jogja, makanan khasnya yang sudah sangat terkenal seperti gudeg, bakmi jawa, thiwul, dan bakpia, dari lebih 90 daftar makanan khas Yogyakarta (wisata kuliner Jogja). Jenis makanan khas Jogja itu, sudah cukup terkenal dan banyak diminati para wisatawan yang berkunjung di Jogja. Demikian juga bila kita bepergian di Kota Makassar-Sulawesi Selatan, kita akan menemukan makanan khas Makassar seperti ulu juku, mie kering, sop konro dan konro bakar, pallubasa, pisang ijo dan makanan khas lainnya. Lalu kita pindah dan melihat Kota Banjarmasin-Kalimantan Selatan, makanan khasnya meliputi soto banjar, gangan asam banjar, apam barabai, ketupat kandangan, dan makanan khas lainnya. Contoh-contoh makanan khas daerah di atas, menggambarkan bahwa setiap daerah memiliki makanan khas dan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan, terutama bagi mereka yang suka wisata kuliner.

Nah, kalau kita ingin mengetahui lebih dalam mengenai makanan khas Kepulauan Nias, tentu perlu kita melakukan sesuatu, atau mengusahakan sesuatu kegiatan. Hal-hal yang perlu kita lakukan, tentu sebagai upaya untuk dapat mengetahui apa saja makanan khas Nias itu. Sudah seyogyanyalah kita harus berusaha mengetahuinya, kan malu dunk bila sebagai orang Nias tidak mampu menjelaskan mengenai jenis dan materi dari makanan khas Nias. Melalui makanan khas lokal inilah, seseorang bisa bercerita mengenai rasa dan desain dari suatu jenis makanan khas Nias. Apa hebatnya makanan khas tersebut dan bagaimana rasanya serta makanan itu berasal dari apa dan seterusnya . . dan seterusnya.

Untuk mewujudkan keingintahuan kita pada makanan khas Nias, perlu kita memahami dan melakukan kegiatan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Sebagai pembanding, mari kita lihat yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal, Jawa Tengah. Demi menjaga kelestarian makanan tradisional sebagai salah satu aset budaya, Pemkot Tegal, menyelenggarakan Festival Jajanan Kuno, yang diikuti 28 peserta, terdiri dari 27 perwakilan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) kelurahan dan 1 perwakilan PKK Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. Festival ini merupakan salah satu upaya melestarikan budaya, karena makanan tradisional merupakan salah satu bagian dari budaya. Apabila tidak dilestarikan, keberadaan makanan-makanan tradisional itu dikhawatirkan akan hilang dan tergerus oleh makanan modern dan cepat saji. Wakil Walikota Tegal mengatakan, Pemkot Tegal akan terus mendukung upaya pelestarian makanan tradisional, antara lain dengan pembinaan melalui PKK. Wakil Walikota yakin bahwa makanan tradisional itu tidak kalah dengan makanan modern jika dikemas lebih menarik (WIE, 2014).

Apa yang timbul di pikiran kita setelah mendalami kegiatan Pemkot Tegal dalam upayanya melestarikan makanan tradisional itu? Mestinya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk dapat menginventarisir berbagai makanan tradisional Nias melalui suatu kegiatan festival. Mungkin kita bisa berikan nama festival itu dengan sebutan “Lomba Pembuatan Makanan Khas Nias, Menyongsong Kepulauan Nias sebagai Destinasi Wisata Utama Nasional”. Apa pun nama yang kita berikan pada festival jajanan khas Nias, tidak menjadi masalah. Yang utama adalah kita bisa mengetahui persis apa saja makanan tradisional Nias itu.

Untuk mengurangi kegalauan hati pada makanan khas Nias itu, saya mencoba menanyakan kepada Mbah Gugel. Ternyata Mbah Gugel cepat sekali memberikan informasi mengenai makanan khas Nias itu. Saudara Gea (2013) menulis beberapa makanan khas Nias itu, antara lain: 1. Harinake, makanan adat tradisional Nias di Nias bagian Utara, dan Nias bagian Barat, yang bersumber dari daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil atau bersumber dari daging ikan dan disajikan untuk menghormati tamu; 2. Ni’owuru, daging babi yang diawetkan dengan menggunakan garam; 3. Gowi nifufu, ubi yang ditumbuk sebagai makanan pokok orang Nias pada zaman dulu ; 4. Lehedalö nifange, daun talas yang direndang sebagai lauk dipesisir pulau Nias; 5. Hambae nititi, daging kepiting yang di campur dengan santan kelapa dimasak sampai kering untuk dijadikan lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 6. Bato hambae, daging kepiting yang telah dibentuk berbentuk bulat lempeng lalu diasapi sampai kering, digunakan sebagai lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 7. Nami (telur kepiting), digoreng dengan minyak kelapa dan disajikan sebagai lauk; 8. Silio guro, daging udang yang telah digiling dicampur dengan kelapa yang dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api yang digunakan sebagai lauk; 9. Babae, makanan khas adat di Nias Bagian Selatan yang merupakan campuran dari daging babi, kacang hijau, kelapa dan bawang merah untuk menghormati tamu agung, biasanya digunakan sebagai lauk; 10. Kofo-kofo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau – pulau Batu kabupaten Nias Selatan, merupakan daging ikan yang telah dibuang durinya yang dimasak dengan santan kelapa ataupun digoreng biasanya digunakan untuk lauk; 11. Saku nisolo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau-pulau Batu Kabupaten Nias Selatan, dari bahan tepung sagu yang telah digongseng dan disirami santan yang digunakan sebagai ganti nasi; dan 12. Dodol durian, makanan tambahan pada musim buah durian di Nias yang hampir bisa ditemukan sepanjang tahun di Nias.

Makanan khas Nias lainnya yang belum disebut, masih ada lho seperti: godo-godo (ubi/singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang ditaburi dengan kelapa yang sudah di parut, rakigae (pisang goreng), tamböyö (ketupat), löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu), gae nibogö (pisang bakar), kazimone (terbuat dari sagu), wawayasö (nasi pulut), dan gulo-gulo farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa) (Wikipedia). Apakah hanya ini saja makanan khas Nias? Barangkali masih banyak yang lain, hanya saja kita sudah pada lupa karena perkembangan zaman.

Nah, supaya kita tahu betul makanan khas Nias, perlu diinventarisir melalui penyelenggaraan kegiatan lomba masakan tradisional Nias yang bisa dilaksanakan oleh Ibu-ibu PKK di bawah bimbingan atau arahan dari Ketua Tim Penggerak PKK dari setiap Kabupaten dan Kota. Biarlah Tim Penggerak PKK yang dipercaya untuk menyelenggarakan Lomba Masakan Tradisional Nias, yang hasilnya, kita bisa mengetahui mengenai aneka macam makanan khas Nias serta bisa dimasukkan ke dalam data base makanan tradisional Nias yang bersumber dari masing-masing Kabupaten dan Kota. Tim Penggerak PKK mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan yang berfungsi sebagai fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing-masing jenjang demi terlaksananya program pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Dengan kata lain, Tim Penggerak PKK berperan sebagai motivator, fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak, sedang pembinaan tehnis kepada keluarga dan masyarakat dilaksanakan dalam kerjasama dengan unsur dinas instansi pemerintah terkait.

Jadi, apabila kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik di bawah komando para Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias serta pelaksanaan lomba tadi bisa dilakukan setiap tahun, pasti kita punya file tentang aneka macam makanan tradisional Nias. Dan lama-lama kita juga sudah tahu tentang makanan khas Nias. Dengan demikian, apabila ada orang atau para wisatawan yang menanyakan mengenai makanan khas Nias setelah itu, pasti orang-orang Nias sudah tidak ragu-ragu lagi untuk mengatakan bahwa inilah makanan khas Nias. Bahkan orang-orang Nias mungkin sudah merasa bangga untuk menyebutkan makanan khas Nias, karena mungkin makanan khas Nias itu tidak terdapat di Daerah lain.

Kita berharap, dalam waktu yang tidak terlalu lama, pelaksanaan lomba pembuatan makanan tradisional Nias dapat dilaksanakan di setiap Kabupaten dan Kota se Kepulauan Nias. Dan dalam waktu yang tidak teralu lama juga, kita sudah memiliki daftar makanan khas Nias yang mungkin jumlahnya bisa-bisa hampir mendekati jumlah makanan khas di Jogja. Dengan demikian, Bapak-bapak Bupati dan Walikota di Kepulauan Nias, diharapkan sudah memiliki kebanggaan bila bercerita atau menyebut satu per satu mengenai makanan khas di Nias.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Hubungan Antara Rumah Sakit dan Kebutuhan Pasien

Sunday, October 5th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2MENGAPA rumah sakit memiliki hubungan dengan pasien? Ada yang menjawab bahwa terjadinya hubungan itu karena ada yang membutuhkan. Yang butuh pelayanan rumah sakit adalah pasien yang sedang menderita penyakit, pasien ingin sembuh dari penyakitnya, makanya pasien mencari pelayanan rumah sakit atau pelayanan primer di ranah kesehatan yaitu Puskesmas. Tanpa ada yang sakit, maka tidak mungkin terjadi hubungan antara rumah sakit dan pasien.

Jawaban yang lain mengatakan bahwa yang butuh pasien adalah rumah sakit, apalagi sekarang sudah banyak berdiri rumah sakit. Semakin banyak institusi rumah sakit, semakin sulit mendapatkan pasien untuk dilayani, karena itu rumah sakit sekarang mengkedepankan persaingan dalam pelayanan.

Mau buktinya? Sekarang rumah sakit berlomba-lomba untuk mengikrarkan mengenai pelayanan yang diunggulkan di rumah sakitnya. Rumah sakit berlomba-lomba memiliki alat-alat medis yang canggih. Rumah sakit berlomba-lomba untuk lulus dari standar pelayanan secara internasional. Tujuan dari semua kegiatan ini, dalam rangka mengupayakan agar rumah sakitnya mendapatkan daya beda dan daya tarik serta mendapatkan kepercayaan dari calon-calon pasien. Dengan demikian, yang membutuhkan pasien adalah rumah sakit. Kalau tidak ada pasien, maka pelayanan rumah sakit tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu terjadilah hubungan antara rumah sakit dengan pasien.

Jawaban yang lain lagi mengatakan bahwa bila kita belajar sejarah dari beberapa rumah sakit yang telah berdiri sejak zaman Belanda, kita dapat memahaminya bahwa pada mulanya berdiri pelayanan rumah sakit, karena ada keinginan dari seseorang atau beberapa orang untuk memberikan pelayanan bagi warga masyarakat yang sedang menderita penyakit. Orang-orang ini ikhlas menjadikan dirinya sebagai pelayan untuk mengabdi kepada sesama yang membutuhkan kesembuhan dari penyakit.

Dari 3 (tiga) jawaban di atas, kira-kira di mana posisi pelayanan rumah sakit Anda? Apabila kita melihat perkembangan pelayanan rumah sakit sekarang dan dihubungkan dengan hubungannya pada kebutuhan pasien, nada-nadanya hubungan itu kok belum terjawab. Memang berat memposisikan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien.

Ada peribahasa lama Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Apakah peribahasa ini bisa diterapkan dalam hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien? Mungkin tidak sampai seperti itu, karena pasien yang tidak mampu pun tetap dilayani rumah sakit. Walau ada yang sering mengatakan dalam sebuah kiasan bahwa orang miskin dilarang sakit, tetapi tidak semua rumah sakit menolak pasien. Kalau pun ada penolakan pasien untuk rawat inap, mungkin karena sudah tidak ada bed yang kosong di ruang rawat inap. Betulkah itu?, Andalah yang bisa menjawab, Anda yang tahu situasi di rumah sakit Anda.

Ada juga informasi bahwa bila pasien mau berobat di rumah sakit, pasti ditanya siapa keluarganya dan siapa yang bertanggungjawab atas pasien ini. Bila pasien mau menginap, biasanya ditanyakan: “mau menginap di kelas berapa dan bayar berapa sekarang?” Biasanya jumlah pembayaran disesuaikan dengan ketentuan dari rumah sakit itu, minimal pembayaran untuk beberapa hari penginapan. Nah kalau masih ada pelayanan rumah sakit yang seperti ini, terus bisakah dikatakan bahwa hubungan rumah sakit dengan pasien merupakan hubungan transaksional? Terus tidak ada uang, abang melayang?

Untuk itu, kita perlu memahami dulu bahwa rumah sakit ada jenis dan klasifikasinya. Menurut UU RI No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, jenis pelayanan rumah sakit terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Bila dilihat dari pengelolaan rumah sakit, maka kita mengenal ada rumah sakit publik dan ada rumah sakit privat. Mengenai klasifikasi rumah sakit, ada yang memiliki kelas D, C, B dan kelas A. Penentuan kelas rumah sakit ini, didasarkan pada fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit. Nah, dari sekian rumah sakit yang pengelolaannya berbeda serta kelas rumah sakit yang berbeda juga, tentu pelayanan rumah sakit yang diberikan kepada pasien berbeda juga, sehingga bisa dikatakan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien berbeda pula pelaksanannya.

Kalau kita dalami mengenai hak dan kewajiban, baik hak dan kewajiban rumah sakit maupun hak dan kewajiban pasien seperti yang tertulis pada pasal 29 – pasal 32 UU RI No. 44 tahun 2009, mestinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien bisa dilakukan dalam koridor seperti yang tertulis dalam pasal dan ayat yang terdapat dalam UU tersebut. Masalahnya sekarang, apakah rumah sakit dan pasien sudah memahami hak dan kewajiban masing-masing pada saat terjadinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien?

Apabila kita amati sedikit mengenai kebutuhan pasien di rumah sakit, maka kebutuhan pasien antara lain kebutuhan akan informasi, pelayanan yang bermutu dan manusiawi, pelayanan konsultasi, dan lain-lain. Mengenai kebutuhan rumah sakit bisa juga diamati sebagai berikut: kebutuhan untuk dana operasional, kebutuhan melakukan kerjasama, kebutuhan untuk melakukan promosi pelayanan, kebutuhan mendapatkan insentif pajak, dan kebutuhan lainnya.

Apabila kita pertemukan kebutuhan pasien dan kebutuhan rumah sakit, barangkali dapat bertemu dalam hal pembiayaan pelayanan yang diberikan kepada pasien dan kegiatan promosi pelayanan rumah sakit. Dalam hal pembiayaan pelayanan umpamanya, maka perlu diperhatikan oleh rumah sakit mengenai penentuan ketepatan diagnosis, tindakan yang diberikan, dan obat yang tepat diperlukan oleh pasien.

Bila pemberian diagnosis, tindakan, dan obat yang diberikan oleh tenaga medik termasuk dalam kategori berlebihan atau justru sedikit, akan sangat berpengaruh pada besar tidaknya biaya pelayanan yang akan dibayar oleh pasien. Kalau pelayanan yang diberikan berlebihan, maka pasien akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, sedang bila pelayanan yang diberikan termasuk lebih rendah dari yang seharusnya, justru biaya yang akan dibayar pasien juga tetap besar, karena tingkat kesembuhan penyakit yang diderita pasien menjadi lama.

Demikian juga kegiatan promosi yang akan dilakukan oleh rumah sakit, tentu dimaksudkan agar pelayanan yang telah disediakan rumah sakit dapat diketahui oleh pasar (masyarakat). Nah, kegiatan promosi ini bisa juga berbiaya besar apabila pemilihan pada media promosi tidak tepat. Dan bila berbiaya besar, pada akhirnya akan menjadi beban pasien juga. Oleh karena itu, supaya hubungan rumah sakit dengan pasien menjadi semakin serasi dan semakin baik di masa yang akan datang, perlu manajemen rumah sakit berusaha keras untuk mengendalikan hal-hal yang disebutkan di atas.

Pengendalian biaya pelayanan rumah sakit – yang dilakukan oleh manajemen rumah sakit – sangat menentukan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien dalam jangka panjang. Bila pengendalian biaya tidak dilakukan dengan sangat hati-hati oleh manajemen rumah sakit, bisa-bisa akan terjadi penurunan pada kunjungan pasien di rumah sakit.

Meskipun sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang akan menyelesaikan pembayaran biaya pelayanan rumah sakit sesuai kebutuhan pasien, tetap saja usaha pengendalian terhadap biaya pelayanan rumah sakit menjadi sangat penting. Tujuannya supaya pelayanan rumah sakit tidak menjadi terkenal mahal. Dan kalau sampai terjadi informasi bahwa pelayanan sebuah rumah sakit mahal, risikonya sangat besar, dan bisa-bisa akan kehilangan banyak pasien.

Karena itu, manajemen rumah sakit dianjurkan supaya tetap berusaha keras agar rumah sakitnya dapat dikenal masyarakat sebagai rumah sakit yang cepat dalam memberikan pelayanan, komunikatif, dan tepat diagnosis atas penyakit yang diderita oleh setiap pasien yang berobat.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Kapan Pemerintah Hadir?

Friday, September 26th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZebuaPADA waktu Calon Presiden Jokowi berkampanye di wilayah lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, Beliau mengatakan bahwa pemerintah tidak hadir pada permasalahan yang dialami warga Sidoarjo. Bukti ketidakhadiran pemerintah, tampak permasalahan yang dialami masyarakat Sidoarjo tidak kunjung selesai, bahkan sangat berlarut-larut, sepertinya masyarakat dibiarkan mengalami sengsara yang berkepanjangan berkenaan dengan lumpur lapindo ini. Contoh lain, seperti yang terjadi pada waktu sekarang, banyak terjadi kekeringan bahkan lahan pertanian di beberapa daerah menjadi kering, karena langit sudah lama tidak menurunkan hujan. Dengan kondisi ini, kita bisa prediksi bahwa hasil dari pertanian menurun. Jadi kapan pemerintah hadir pada kejadian ini?

Ada pemerintah pusat yang dipimpin oleh seorang Presiden. Ada pemerintah daerah di provinsi yang dipimpin oleh seorang Gubernur. Ada pemerintah daerah di kabupaten dan kota yang dipimpin oleh seorang Bupati dan/atau seorang Walikota. Mestinya masalah yang dialami masyarakat ini bisa terselesaikan dengan baik, tapi ternyata banyak yang tidak terselesaikan. Lalu untuk apa ada pemerintah pusat dan daerah? Apa pentingnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah bagi masyarakat Indonesia?

Menurut Wikipedia, pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu. Artinya pemerintah adalah lembaga yang memiliki kekuasaan untuk memerintah. Karena itu Zelth (2013) mengemukakan bahwa pemerintah memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (Pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi Pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pelayanan, dikandung maksud bahwa pemerintah mempunyai tugas utama yaitu melayani kebutuhan masyarakat yang dipimpin. Bagaimana cara melayani masyarakat dengan baik? Bisa memberikan pelayanan yang baik kepada pasarnya (masyarakat), apabila Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota berkehendak memosisikan dirinya sebagai KEPALA PELAYAN. Hal ini pernah disampaikan dan dilaksanakan oleh Herry Zudianto – Walikota Jogja yang bertakhta dari tahun 2001 sampai tahun 2012, dengan mengatakan bahwa dia kini adalah Kepala Pelayan masyarakat Jogja. Selama Beliau memegang jabatan sebagai Walikota Jogja yang bertindak sebagai Kepala Pelayan, hasilnya ekselen. Banyak menghadirkan berbagai penghargaan atas prestasi yang ditorehkan kepada masyarakat Jogja. Ada lebih 80 penghargaan nasional dan internasional yang diraih Walikota Jogja ini atas keberhasilannya pada pekerjaan yang telah dilakukan.

Kalau para Pemimpin kita dapat bertindak sebagai Kepala Pelayan, dapat dipastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat serba cepat dan berkualitas. Dengan kondisi ini berarti pemerintah sudah hadir untuk memberikan pelayanan yang cepat dan manusiawi kepada masyarakat.

Pada waktu sumber daya manusia (SDM) pemerintah memberikan pelayanan kepada masyarakat, selalu disertai S3 yaitu Senyum, Salam, dan Sapa. Kalau hal ini bisa dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah, mestinya pengurusan kartu tanda penduduk (KTP) dan/atau kartu keluarga dan/atau mengurus pernikahan dan/atau izin usaha dan/atau sertifikat tanah dan/atau studi lanjut dan/atau yang lainnya, bisa diselesaikan dengan cepat. Kalau SDM pemerintah memberikan pelayanan lama atau berminggu-minggu kepada masyarakat, pasti rona mukanya pucat-pasi atau agak memerah karena menahan rasa malu. Begitukan keadaannya? Bila terjadi seperti ini berarti pemerintah sudah hadir. Buktinya ada rasa malu yang menghinggapi SDM pemerintah.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pengaturan, tinggal melaksanakannya dengan penuh tanggungjawab. Sudah banyak pengaturan yang terbit dari pusat seperti undang-undang, peraturan dan keputusan dari Presiden, peraturan dan keputusan dari Gubernur, peraturan dan keputusan Bupati dan/atau Walikota, serta peraturan-peraturan daerah yang dbuat sesuai dengan kondisi kebutuhan daerah yang bersangkutan. Pemerintah melaksanakan pengaturan dalam upaya mewujudkan tujuan yang akan dicapai yaitu terwujudnya keamanan masyarakat yang kondusif. Jadi pemerintah hadir agar masyarakat mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalani hidupnya.

Bisa saja segala pengaturan ini ada yang tumbang-tindih, namun yang mengatur adalah Pemimpinnya. Jangan biarkan timbul masalah pada perbatasan wilayah, penanganan hukum yang tajam kepada masyarakat dan tumpul kepada para pejabat, penanganan pembagian raskin untuk masyarakat yang sangat membutuhkan, pemberian beasiswa kepada yang studi lanjut, penanganan wilayah yang peruntukkannya bisa sebagai desa wisata, desa kerajinan, desa kuliner, desa siaga, desa digital, dan desa-desa dengan sebutan lain. Dengan demikian, setiap desa memiliki keunggulan sendiri-sendiri, dalam upaya peningkatan taraf hidup menuju kemakmuran.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pembangunan, maka pemerintah selalu berusaha untuk selalu hadir pada saat masyarakat butuh pembangunan. Pembangunan yang banyak dibutuhkan sekarang seperti pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan irigasi yang berkaitan dengan pembangunan daerah pertanian dan penyediaan hal-hal yang berkaitan dengan bibit, pupuk, alat untuk panen, dan pembasmi hama padi.

Pembangunan lainnya seperti pembangunan perkebunan seperti kelapa, kakao, kopi, karet, cengkih, lada, bawang dan brambang, wortel, kentang, jahe, kedelai, terong, tebu, dan yang lain. Pelaksanaan pembangunan di sini, tidak sekedar hanya memilih bibit tanaman yang sangat dibutuhkan sekarang, tetapi dilihat juga tentang kondisi tanah yang sesuai dengan bibit yang akan di tanam. Pengalaman membuktikan bahwa tanaman yang berhasil di daerah lain, bisa cocok atau tidak berhasil bila di tanam di daerah tertentu.

Nah pada fungsi pemerintah ini, diharapkan adanya kehadiran pemerintah dalam upaya mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpin. Umpamanya jalan sudah banyak lobang, maka pemerintah hadir di sana. Harga karet menurun sehingga warga masyarakat kedapatan mengeluh, maka pemerintah hadir di sana. Jadi, fungsi pembangunan di sini, pemerintah banyak melakukan atau mendorong terjadinya pembangunan di suatu wilayah.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pemberdayaan masyarakat, dapat dipahami bahwa keberhasilan pemerintah dalam memerintah masyarakatnya, bila pemerintah mampu memberdayakan masyarakat di wilayahnya sesuai dengan pengaturan dan pembangunan yang akan dan sedang dilaksanakan. Umpamanya, masyarakat tertindas, pendapatan rendah (miskin), kurang pendidikan, kurang gizi, kurang sehat, dan sebagainya. Nah, dengan kondisi di atas, pemerintah harus mampu membawa masyarakat keluar dari zona yang serba menydihkan ini, dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Menurut Zelth (2013), pemeberdayaan masyarakat dikandungmaksud supaya pemerintah berusaha mendorong masyarakat di wilayahnya untuk bisa mengeluarkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat, sehingga pemerintah tidak terbebani. Pemberdayaan yang dilakukan di sini dalam upaya untuk meningkatkan kualitas SDM atau masyarakat. Semakin masyarakat diperdayakan maka ketergantungan terhadap pemerintah akan semakin berkurang. Jadi, hadirnya pemerintah dalam rangka bermitra serta memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Kita ambil contoh konkrit seperti yang dilakukan oleh Bupati Kabupaten Kudus di provinsi Jawa Tengah. Setelah mendalami bahwa potensi yang dimiliki daerahnya terdiri dari usaha mikro kecil menengah (UMKM), maka pemerintah dihadirkan oleh Bupati, dengan memberikan modal uang berupa pinjaman, bunga rendah, dan bisa diangsur dalam periode waktu tertentu. Hadirnya pemerintah di sini, dalam rangka membantu mengembangkan usaha-usaha masyarakat yang termasuk dalam kategori UMKM itu, agar usaha itu bisa berkembang sekaligus bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.