Posts Tagged ‘Pariwisata Nias’

Pantai Lagundri, Harta Wisata Yang Terabaikan

Thursday, November 12th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

Lagun-1

Pantai lagundri adalah salah satu obyek wisata di pulau Nias yang terletak di wilayah Kabupaten Nias Selatan, yang berlokasi di Desa Lagundri-Kecamatan Luahagundre Maniamolo. Pantai Lagundri tersohor sebagai lokasi selancar di samping memiliki landskap panorama yang indah. Sebagai lokasi surfing, pantai ini sudah banyak dikunjungi oleh peselancar lokal dan nasional bahkan peselancar internasional. Pantai ini juga banyak dikunjungi oleh pecinta panorama pantai dan orang-orang yang suka berekreasi.

Lagun-2

Beberapa tahun terakhir, keindahan pantai ini mulai terkikis karena penambangan pasir yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak peduli dengan pelestarian lingkungan, oknum-oknum yang tidak menyadari kekayaan pantai Lagundri, dan masyarakat yang tidak mengetahui bahwa Lagundri adalah Harta Wisata bagi generasi masa depan dan masyarakat Nias Selatan. Kegiatan penambangan pasir yang sudah lama dilakukan dan tak kunjung dihentikan mengakibatkan kerusakan besar di sekitar pantai dan akibat pasir yang tergerus ombak nyaris menghancurkan beberapa penginapan milik warga yang ada di sekitar pantai. Di samping itu, akibat penambangan pasir ini, pohon-pohon kelapa yang ada di sekitar pantai juga tumbang dalam jumlah yang begitu banyak.

Lagun-3

Penambangan pasir yang berskala besar di Pantai Lagundri ini sepertinya tidak menjadi perhatian stakeholder dan LSM dalam bidang pariwisata. Sungguh disayangkan apabila keindahan Pantai Lagundri tidak dapat lagi dinikmati dan dirasakan oleh Generasi masyarakat Nias Selatan dan sungguh memprihatinkan apabila Pantai Lagundri hanya tinggal menjadi cerita bagi generasi penerus. Stakeholder dan LSM dalam bidang pariwisata seharusnya turun tangan untuk melakukan tidakan yang bersifat pecegahan (preventive) dan penanggulangan terhadap kerusakan pantai Lagundri.

Lagun-4

Kegiatan-kegiatan penambangan pasir yang masih dilakukan hingga saat ini seharusnya dihentikan. Tetapi, oknum-oknum yang keras kepala belum puas melihat kerusakan yang sudah terjadi di pantai Lagundri. Padahal, dampak dari penambangan ini sudah jelas terlihat. Ditambah dengan kurangnya perhatian dan tindakan nyata para stakeholder. Mau dijadikan apa surga Pariwisata ini?

Melalui tulisan ini, penulis mengajak perhatian masyarakat khusuya oknum-oknum penambang pasir di sekitar pantai Lagundri untuk menghentikan kegiatan penambangan agar tidak terjadinya kerusakan pantai yang semakin fatal, meminta perhatian stakeholder dan LSM untuk memberi perhatian dalam menanggulanggi kerusakan pantai Lagundri, dan mengharapkan keterlibatan masyarakat intelek untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat sekitar. Karena jika tidak, Pantai Lagundri, Pantai Karunia Tuhan akan lenyap dalam waktu yang tidak akan lama lagi dan hanya aka menjadi malapetaka terhadap alam kita.

* Penulis adalah seorang guru / fasilitator.

Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat

Tuesday, June 16th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM

Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Nias Barat

TIDAK terasa, pemerintah Kabupaten Nias Barat sudah memasuki usia yang ke-6, pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Pada tanggal tersebut pemerintah daerah melaksanakan upacara khusus serta mengadakan syukuran atas berbagai pencapaian yang telah dapat diwujudkan sampai sekarang.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam upaya memperingati ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias barat yang ke-6 ini, yaitu upacara khusus dan syukuran (potong tumpeng), seminar sehari, dan lomba budaya rakyat dan masakan khas Nias Barat dari 8 (delapan) kecamatan selama 3 (tiga) hari di pantai Sirombu, yang dikemas sebagai ‘Pesta Budaya Rakyat’.

Pada kegiatan seminar yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2015, ada 2 (dua) topik yang dibahas, yaitu; 1. Percepatan pembangunan melalui budaya gotong royong, dibawakan oleh Drs. Fg. Marthin Zebua (mantan Sekda Kabupaten Nias dan Tokoh Masyarakat Nias Barat); dan 2. Potensi pariwisata dan budaya Nias Barat dalam menyongsong era globalisasi, dibawakan oleh Manahati Zebua, yang lahir di kampung/desa Hilidaura, dan sekarang tinggal di Yogyakarta.

Kedua materi yang disampaikan dalam forum seminar tersebut, mendapatkan pembahasan dari beberapa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat. Beberapa penekanan dalam pembahasan dalam forum itu, yaitu: 1. Perlu kita hidupkan kembali budaya gotongroyong itu, baik di bidang sosial, ekonomi, dan pariwisata; 2. Kebersamaan dalam kegiatan gotongroyong itu, akan menjadi daya ungkit pada pelaksanaan berbagai pembangunan di Nias Barat; 3. Perlu segera melakukan inventarisasi mengenai obajek dan daya tarik wisata di Nias Barat, baik berupa wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata bahari, agro wisata, dan jenis wisata lainnya; 4. Setelah dilakukan inventarisasi, lalu objek dan daya tarik wisata itu ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda); 5. Pembuatan master plan kawasan di masing-masing objek dan daya tarik wisata; 6. Pembentukan badan promosi pariwisata daerah bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya di Kepulauan Nias; dan 7. Penetapan produk unggulan dan produk wisata unggulan di masing-masing kecamatan di Nias Barat.

Lomba Atraksi Budaya dan Masakan Khas Nias Barat

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Nias Barat dalam rangka menyemarakkan ulang tahun yang ke-6 itu, yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR). Kegiatan ini dilaksanakan sejak tanggal 26 Mei sampai tanggal 28 Mei 2015. Sejak dibuka kegiatan PBR sampai pada penutupan, yang dipusatkan di pantai Sirombu nan indah itu, dihadiri ribuan masyarakat Nias Barat. Mengapa banyak warga masyarakat yang turut serta menghadiri PBR? Karena pesta budaya ini diisi dengan berbagai perlombaan, baik lomba di bidang budaya dan olahraga maupun di bidang kuliner khas Nias Barat dari masing-masing kecamatan. Setiap kecamatan menampilkan berbagai atraksi budaya yang dikuasai serta berlomba dalam pembuatan masakan khas Nias Barat.

Beberapa lomba budaya yang ditampilkan oleh masing-masing kecamatan, antara lain Sile Mbanua, Voli Pantai, Fatoke atau Farundro, Tari Moyo, Fanika Era-era Mbowo, Famadögö Omo, Fame Ono Nihalö, Famatörö Döi Ndraono, Folau Oŵasa, Mbolo-mbolo Maena dan yang lainnya. Untuk lomba masak, peserta lomba menampilkan masakan yang materi dan penataannya dibuat menarik dan dinilai oleh para juri untuk mendapatkan nilai. Berbagai masakan yang ditampilkan oleh peserta dari kecamatan, antara lain: Sagu Bakar, Goŵi Nihandro, Goŵi Nidökhi, Harinake, Gae Nibogö, dan beberapa yang lain, yang sekaligus ikut menyemarakkan pelaksanaan pesta budaya rakyat (PBR) itu.

Daya Tarik Masyarakat

Pelaksanaan PBR di Kabupaten Nias Barat ini, ternyata bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat Nias Barat untuk menyaksikan langsung pesta budaya tersebut, serta turut serta ikut memberikan semangat bagi peserta lomba dari kecamatan masing-masing agar dapat menjadi juara lomba. Dengan demikian, bila pemerintah daerah aktif dan melaksanakan iven-iven yang berkaitan dengan lomba budaya, lomba kuliner khas Nias Barat, lomba kebersihan, lomba gotongroyong, lomba berselancar, lomba mancing di laut, lomba lari di pantai, lomba tata lingkungan rumah masing-masing, dan jenis lomba lainnya, dapat dipastikan bahwa masyarakat Nias Barat akan cepat memahami mengenai kegiatan-kegiatan di bidang pariwisata itu sendiri. Istilah kerennya sekarang adalah pariwisata disosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan yang menarik sehingga dapat dipahami dengan cepat dan mudah oleh masyarakat.

Hal yang sempat dibicarakan masyarakat dalam PBR tersebut sesuai informasi yang didapatkan, antara lain mengenai kebutuhan-kebutuhan yang mereka butuh selama mereka berada di pantai Sirombu. Mereka butuh aneka minuman dan aneka makanan terutama khas Nias Barat, mereka butuh payung atau topi agar mereka terlindungi dari panas matahari, mereka butuh kacamata untuk melindungi mata dari debu, mereka butuh tikar agar bisa duduk sambil menyaksikan atraksi budaya, dan sebagainya. Ternyata iven PBR yang diprakarsai pemerintah Kabupaten Nias Barat itu dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Nias Barat, dapat merangsang jiwa wirausaha atau usaha rumah tangga untuk menyediakan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan para supporter dan warga masyarakat lainnya. Satu contoh yang sangat dibutuhkan pada acara PBR itu seperti air kelapa muda, yang dapat memenuhi salah satu kebutuhan para penonton atau penggembira pada PBR yang dilaksanakan di pantai Sirombu nan indah itu.

Kegiatan Pariwisata Menggeliat

Melalui kegiatan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Nias Barat ini, dapat dikatakan ‘Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat’. Artinya, kegiatan pariwisata sudah dimulai dalam upaya untuk merangsang masyarakat Nias Barat peduli dan menghidupkan kembali mengenai budaya leluhur serta aneka kuliner yang pernah ada di Nias Barat. Kepedulian masyarakat ini akan menjadi embrio bagi masyarakat Nias Barat untuk memasuki dunia pariwisata yang dapat menjadi lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat.

Sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat, sesuai dengan komitmen ke-5 pemerintah daerah di Kepulauan Nias, yang sudah diikrarkan pada bulan Juni 2014 yang lalu. Komitmen para Bupati dan Walikota se-Kepulauan Nias itu turut disaksikan oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI) Dr. Sapta Nirwandar serta para Direktur di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, utusan dari Kementerian Perhubungan dan Kementarian Pekerjaan Umum serta para satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dari lingkungan pemerintah daerah se-Kepulauan Nias.

Dalam upaya memenuhi komitmen tersebut, barangkali pemerintah Kabupaten Nias Barat terdorong untuk memulai kegiatan pariwisata itu dengan mengaitkannya pada kegiatan peringatan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat ke-6, yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Mengawali kegiatan pariwisata itu dengan melaksanakan lomba budaya dan lomba kuliner khas Nias Barat termasuk lomba olahraga antar kecamatan di acara PBR itu. Ternyata iven tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat Nias Barat serta dapat memberikan rasa antusiasme bagi masyarakat. Kondisi ini akan dapat memberikan daya ungkit untuk memasyarakatkan pariwisata bagi masyarakat Nias Barat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan Sadar Wisata bagi kalangan masyarakat.

Kalender Kegiatan Pariwisata

Pariwisata sangat berkaitan dengan calendar of event (kalender pariwisata) yang perlu dibakukan pelaksanaan kegiatannya setiap tahun. Salah satu iven yang sudah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR) Kabupaten Nias Barat, yang pelaksanaannya setelah upacara potong tumpeng perayaan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat. Setelah itu perlu dipikirkan lagi mengenai kegiatan pariwisata lainnya, bisa seperti lomba voli pantai, lomba layang-layang, lomba gotongroyong, lomba mancing di laut, lomba selancar, lomba perahu layar, lomba lari di pantai, lomba kebersihan, lomba desa wisata, lomba desa sehat, lomba taman desa, lomba agro wisata, dan lain sebagainya.

Untuk itu, dukungan berbagai pemikiran dari Dinas Pariwisata dan SKPD yang lain serta dari para Tokoh Masyarakat sangat dibutuhkan, dalam upaya meningkatkan peran sektor pariwisata di Nias Barat. Mari melanggengkan kegiatan yang sudah ada (dimulai) seta mengusahakan kegiatan pariwisata lainnya, minimal setiap 2 (dua) bulan ada kalender kegiatan pariwisata di Nias Barat.

* Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Ekowisata Sebuah Terobosan

Thursday, May 7th, 2015

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1PADA waktu sekarang, sudah banyak daerah di Indonesia yang sangat antusias mengembangkan pariwisata dengan ekowisatanya. Mengapa banyak tertarik pada pengembangan ekowisata? Karena ekowisata lebih banyak menampilkan rupa keaslian yang terdapat di daerahnya, seperti wisata alam dan wisata budaya. Menurut Abdullah Azwar Anas (panggilan akrabnya Anas) – Bupati Banyuwangi, dalam wawancara dengan wartawan, pariwisata di Banyuwangi lebih fokus pada ekowisata, yaitu wisata yang berbasis pada alam.

Sementara itu, menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (RI), ekowisata dari segi konsep yaitu merupakan konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Tetapi bila dilihat dari segi pasar, maka ekowisata itu merupakan produk wisata (misalnya: paket wisata). Akhir-akhir ini, paket wisata dengan konsep ”eko” atau ”hijau” menjadi trend di pasar wisata. Konsep ”kembali ke alam” cenderung dipilih oleh sebagian besar konsumen yang mulai peduli akan langkah pelestarian dan keinginan untuk berpartipasi pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya. Akomodasi, atraksi wisata maupun produk wisata lainnya yang menawarkan konsep kembali ke alam semakin diminati oleh pasar (Unesco, 2009).

Penampilan ekowisata sebagai objek dan daya tarik wisata (produk wisata), tidak memerlukan biaya besar. Paling-paling hanya memerlukan biaya untuk memolesnya sedikit, supaya para pengunjung di objek wisata itu merasa nyaman dan fresh bila melakukan perjalanan untuk melihat objek wisata tersebut.

Lain halnya bila menghadirkan objek dan daya tarik wisata buatan, seperti “taman pintar” di Jogja atau taman mini Indonesia indah (TMII) di Jakarta Timur. Biaya pembuatannya sangat mahal karena berbagai atraksi pengetahuan dan budaya ditampilkan di arena tersebut. Sehingga pembuatan taman pintar dan TMII itu mungkin menggunakan anggaran multi-years yang besar hehe.

Untuk mengurangi biaya besar dalam pengembangan pariwisata itu, maka daerah banyak yang tertarik untuk mengembangkan ekowisata. Selain melestarikan budaya dan alam, juga ingin menampilkan keaslian dari objek dan daya tarik wisata itu. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk menghidupkan ekowisata di daerah tersebut relatif lebih murah dibanding dengan wisata buatan.

Dan justru ekowisata inilah yang banyak digemari wisatawan manca Negara (wisman) dan sebagian dari wisatawan nusantara (wisnus). Mereka lebih suka dan bangga melihat budaya dan alam yang apa adanya. Contoh, bila kita memiliki objek dan daya tarik wisata alam, cukup menyiapkan jalan setapak yang nyaman, Artinya para wisatawan yang berkunjung di situ merasa nyaman dan dapat terhindar dari gigitan ular atau binatang buas lainnya.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak terdapat objek dan daya tarik wisata alam dan budaya. Untuk wisata alam sudah tersedia banyak di setiap daerah seperti pantai-pantai dengan olahraganya (surfing, menyelam, perahu layar, memancing ikan, melihat-lihat terumbu karang), danau-danau, sumber air panas, air terjun, olahraga naik gunung, dayung perahu di sungai, hamparan perkebunan coklat, hamparan perkebunan kopi, hamparan perkebunan teh, hamparan perkebunan karet, hamparan perkebunan buah-buahan, hamparan persawahan, dan seterusnya. Demikian juga untuk wisata budaya, banyak budaya yang adiluhung di setiap daerah, seperti lompat batu di Nias Selatan, rumah adat di Sulawesi, makam raja-raja di Yogyakarta, tarian-tarian yang beraneka ragam seperti tarian maena di Kepulauan Nias, tarian kecak di Bali, tari saman di Aceh, tari klasik gaya Yogyakarta, dan berbagai tarian yang lain yang terdapat di daerah-daerah.

Pelestarian budaya yang dimiliki oleh daerah, bisa terus dilakukan dengan menghadirkan pusat-pusat pelatihan budaya nenek moyang kita itu di beberapa tempat, bahkan bisa didirikan di luar daerah itu, seperti pendirian sanggar-sanggar budaya di setiap Kota dan Kabupaten atau di daerah lain. Sanggar-sanggar budaya ini menjadi sangat penting peranannya di dalam melestarikan budaya mesolitikum yang dimiliki oleh masyarakat kita di di setiap daerah.

Meskipun banyak terdapat wisata alam dan wisata budaya di daerah, namun objek dan daya tarik wisata budaya itu mungkin hanya sebagian yang tercatat pada “dunia wisata Indonesia”. Contoh budaya yang terdapat di Kepulauan Nias, hanya tercatat 1 (satu) yaitu atraksi budaya lompat batu. Objek wisata alam dan budaya yang lain mungkin belum masuk atau belum tercatat. Nah, inilah yang perlu diperhatikan dan disiapkan oleh pemerintah daerah, khususnya satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sektor pariwisata. Kalau bisa ya objek wisata alam dan budaya yang terdapat di setiap daerah bisa diupayakan sebanyak-banyaknya dimuat di “dunia wisata Indonesia”.

Kalau kondisinya demikian, maka mau tidak mau, kita harus menyiapkan “website wisata daerah”. Zaman sekarang sudah zamannya teknologi dan zamannya internet. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi RI tahun 2014, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang. Sehingga Indonesia termasuk Negara pengguna internet terbanyak nomor 8 di dunia. Sudah sebanyak itu saja, Indonesia baru termasuk nomor 8 di dunia. Jadi Anda bisa bayangkan bahwa begitu banyak jumlah pengguna internet di dunia, sehingga memberikan banyak pengaruh internet di kehidupan kita pada saat ini.

Untuk memahami lebih dalam fungsi dari internet itu, saya akan memberikan contoh. Pada waktu mendapat pekerjaan royek in-house training manajemen rumah sakit di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah, saya mengajak beberapa teman untuk ikut melatih sumber daya manusia (SDM) rumah sakit itu sesuai kompetensinya. Nah, salah satu dari teman yang saya ajak itu, menyiapkan diri dengan berusaha mengetahui terlebih dahulu mengenai profil rumah sakit. Teman ini mencoba mencari informasi melalui Mbah Google, ternyata informasi tentang rumah sakit yang dimaksud tidak ditemukan.

Lalu teman ini menelpon saya dengan mengatakan, Pak Zebua, berapa sih jumlah bed rumah sakit ini? Atau besarnya rumah sakit ini hanya setingkat Puskesmas? Terus terang, pada saat menerima pertanyaan itu, saya sedikit heran dan lalu bertanya, kenapa Pak? Begini lho Pak, saya sudah mencoba mencari profil rumah sakit ini di internet, tapi tidak ketemu, Mbah Google tidak bisa menjawab. Setelah saya mendapatkan penjelasan singkat seperti itu, akhirnya saya menjawab begini, jumlah bed rumah sakit ini sekitar 400 bed dan siap menerima materi dari Bapak. Setelah menjawab itu, malah teman ini justru langsung terbahak-bahak sambil berujar, zaman gini kok ada rumah sakit yang gagap teknologi, apa kata dunia!.

Membuat website suatu daerah serta aktif di media sosial untuk memasarkan ekowisata daerah, sesuatu yang sangat mendukung bersinarnya masa depan pariwisata daerah di masa mendatang. Gambar-gambar yang ditayangkan oleh biro dan agen perjalanan umpamanya dengan berpromosi sebagai mitra perjalanan Anda di daerah itu, malah sangat menarik dan bagus-bagus.

Alangkah indahnya apabila gambar-gambar dari objek dan daya tarik ekowisata di daerah itu, dapat disatukan dalam 1 (satu) album dengan cover “Pariwisata Daerah yang Eksotik”, yang dapat diperjualbelikan untuk umum. Selain itu website daerah juga bisa dibuat dengan memuat berbagai gambar objek dan daya tarik wisata serta isinya selalu di update terus sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang ada pada objek dan daya tarik wisata alam dan budaya di daerah itu.

Ekowisata pada saat ini sudah menjadi aktivitas ekonomi yang penting, yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendapatkan pengalaman mengenai alam dan budaya untuk dipelajari dan memahami betapa pentingnya budaya lokal tersebut. Alam dan budaya lokal dari setiap daerah akan menjadi sebuah pengalaman bagi wisatawan untuk memberikan apresiasi dalam hal perbedaan dan makna, sehingga si wisatawan akan memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan tentang alam dan budaya yang terdapat di setiap wilayah/daerah.

Menurut Tazbir Abdullah, SH., M.Hum, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI), bahwa pariwisata Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang melimpah sebagai potensi penggerak ekonomi untuk kesejahteraan bangsa. Disamping itu, pariwisata sekaligus juga berperan besar sebagai instrumen pelestarian alam dan budaya (Zebua, 2014). Dengan demikian melalui pengembangan ekowisata, akan dapat berperan besar sebagai trigger untuk menggerakkan sektor lain, seperti ekonomi, infrastruktur, pertanian, ekonomi kreatif (transportasi, akomodasi, rumah makan/kuliner, souvenir), serta dapat pula menggerakkan perilaku masyarakat untuk menjadi lebih bersih dan ramah.

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM. Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Pariwisata Kepulauan Nias dan MEA 2015

Monday, February 2nd, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MEA sudah sering kita dengar dan mungkin juga sudah banyak yang membaca di berbagai tulisan di harian atau majalah. Bahkan sudah ada berita iklan di televisi, yaitu seorang gadis yang cemburu kepada pacarnya gara-gara pacarnya sering menyebut nama MEA, dikira MEA itu nama gadis lain, sehingga si gadis cemburu. Tapi untung ada bapak si gadis yang menjelaskan bahwa MEA itu bukan nama gadis. MEA itu kependekan dari masyarakat ekonomi Asean. Setelah si gadis memahami bahwa MEA itu bukan nama gadis lain, akhirnya si gadis tersenyum dan kembali ceria lagi.

Sehubungan dengan MEA ini, Profesor Rhenald Kasali, Ph.D. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, memberikan penjelasan yang lebih dalam tentang MEA ini, pada tulisan Beliau yang dimuat di harian Jawa Pos belum lama ini. Beliau mengatakan bahwa pada intinya MEA itu menyangkut 4 (empat) hal, yaitu: 1. Free flow of barang; 2. Free flow of orang; 3. Free flow of services; dan 4. Free flow of money. Artinya Association of Southeast Asian Nations (Asean) yang terdiri dari 10 negara itu, yaitu: Indonesia, Philipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar, sudah menjadi satu wilayah sebagai pasar bebas. Produk yang berkualitas dari setiap Negara, bebas diperjualbelikan di Negara lain, orang bebas bepergian, bebas menanam modal di bidang jasa dan industri, dan bebas memasarkan produk pelayanan jasa.

Banyak orang yang berkata bahwa MEA ini merupakan ancaman bagi Indonesia. Bisa bertindak sebagai ancaman, apabila Indonesia tidak menyiapkan diri untuk mengisi dan menyambut MEA tersebut. Tetapi apabila MEA ini didalami secara seksama, mestinya hadirnya MEA ini merupakan peluang emas bagi Indonesia. Pasar yang tersedia semakin luas yaitu meliputi 10 (sepuluh) Negara, kerjasama antar komunitas atau Negara semakin terbuka, alih teknologi semakin tercipta, serta bagi investor akan mendapatkan peluang untuk menanamkan modalnya di berbagai wilayah di Asean, yang dapat memberikan profit besar pada usahanya, sehingga usahanya tersebut bisa lebih menggurita lagi.

Nah, untuk menghadapi lalulintas barang, orang, jasa, dan modal di pasar bebas ini, tentu sesegera mungkin kita melakukan persiapan-persiapan. Persiapan ini sudah dimulai dari pemerintah pusat seperti fokus pembangunan pada infrastruktur, perhubungan, pertanian, dan maritim. Lalu pemerintah daerah juga tentu melakukan persiapan dengan melaksanakan pembangunan di daerahnya searah dengan fokus pembangunan dari pemerintah pusat.

Sekarang ini sudah mulai banyak pemerintah daerah di wilayah Indonesia yang membentuk tim kerja dalam menyiapkan dan menghadapi MEA ini. Mengapa demikian? Karena dengan MEA ini akan tercipta berbagai peluang dan juga menciptakan persaingan yang sangat ketat pada produk barang dan jasa. Kita ambil contoh, sebuah produk barang. Produk ini akan bisa menembus pasar bebas Asean, bila produk itu memiliki daya saing dalam hal daya manfaat, daya beda, dan daya tarik. Artinya produk yang kita hasilkan dapat didayagunakan oleh pasar (konsumen) apabila produk kita bisa bersaing dengan produk lain yang sejenis dari Negara Asean lainnya. Dengan demikian, kita berbicara tentang produk yang berkualitas serta tahan lama dan dengan harga yang bisa bersaing.

Demikian juga dalam hal produk jasa, seperti jasa perhotelan, jasa transportasi, jasa keuangan, jasa pelayanan sumber daya manusia (SDM), jasa kuliner/restoran, dan jasa pelayanan lainnya. Pelayanan yang kita hadirkan harus lebih baik atau minimal sama dengan pelayanan yang kita jumpai di daerah dan Negara lainnya di wilayah Asean. Dengan demikian, kita harus bekerja ekstra untuk segera memperbaiki mutu pelayanan kita di bidang pariwisata, akses menuju objek wisata, pelayanan angkutan, pelayanan kuliner, aneka pertunjukkan budaya, serta kualitas barang souvenir yang kita hasilkan. Barangkali tim kerja yang telah dibentuk oleh beberapa pemerintah daerah tadi, dapat segera bekerja keras dan memberikan berbagai informasi yang harus segera kita benahi, agar tidak terlalu ketinggalan dengan daerah lain atau Negara lain di Asean.

Berkenaan dengan penuturan di atas, seharusnya kita menaruh hormat dan berterima kasih atas kehadiran MEA ini, karena dengan kehadirannya dapat memberikan cambuk atau pecut kepada kita untuk harus segera berbenah dan bertindak cepat. Adanya cambuk dari MEA ini, dapat memberikan daya dorong pacuan kepada kita untuk segera bekerja keras mewujudkan berbagai hal menurut yang terbaik dan yang memiliki daya saing di tingkat regional Asean. Memang manusia itu sering memerlukan tantangan atau cambuk untuk memacu semangat dalam melakukan berbagai hal. Seperti halnya kuda yang menarik dokar/andong, kusir perlu memberikan perintah dengan cara mencambuk kuda itu agar kuda mau berjalan, berlari atau berhenti.

Presiden Jokowi sangat menaruh perhatian pada bidang pariwisata. Kalau kita flash-back, saat Jokowi sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, kegiatan pariwisata sangat dikedepankan. Banyak iven pariwisata yang dihadirkan, bahkan iven kegiatan pariwisata sudah dijadwalkan selama satu tahun. Karena itu sudah sangat tepat yang disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, bahwa pariwisata harus berkembang dan dikembangkan. Untuk itu target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia tahun 2015 sebanyak 10 juta orang, sedang target jumlah wisatawan nusantara (wisnus) di tahun yang sama sebanyak 254 juta. Wow, jumlah wisatawan yang sudah mulai bergerak lebih banyak.

Jumlah target wisman dan wisnus secara nasional seperti yang disebutkan di atas, tentu perlu mendapatkan perhatian kita dengan sungguh-sungguh. Perlu mendapat perhatian yang utama, karena pemerintah daerah se-Kepulauan Nias telah berkomitmen untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai salah satu daerah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia serta telah disepakati bersama oleh 5 (lima) pemerintah daerah bahwa sektor pariwisata merupakan lokomotif pembangunan. Sehingga dengan semangat ini, pemerintah daerah telah merumuskan rencana aksi (renaksi) untuk mewujudkan Kepulauan Nias menjadi wilayah destinasi pariwisata di Indonesia. Karena itu, tentu perlu dirumuskan mengenai berapa target kita dalam hal jumlah wisman dan wisnus yang diharapkan bisa berkunjung di Kepulauan Nias pada tahun 2015 ini?

Kehadiran MEA dan komitmen bersama untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai wilayah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia, ternyata sudah berada dalam irama yang sama dan waktu yang sama. Irama yang sama untuk bertindak cepat dalam membangun kepariwisataan di Kepulauan Nias serta dicambuk oleh MEA untuk segera bertindak dan berbenah, demi percepatan pembangunan pariwisata. Momentumnya sudah sangat tepat dan sangat mendukung, sehingga kita bisa menyanyikan salah satu lagu wajib, karangan Ibu Sud, yaitu berkibarlah benderaku lambang suci gagah perwira, di seluruh pantai Indonesia kau tetap pujaan bangsa . . . . . dan seterusnya. Berkibarlah pariwisata, di Kepulauan Nias, di seluruh Kepulauan Nias terdapat objek wisata . . . . . dan selanjutnya.

Semangat yang menggelora ini muncul karena waktunya hampir bersamaan, Pariwisata dan MEA. Sepertinya sudah ada yang mengatur. Percayalah itu. Karena itu marilah kita kibarkan semangat yang sedang menggelora di dada para pengambil keputusan, untuk mewujudkan cita-cita bersama itu. Jadikanlah Kepulauan Nias menjadi andalan Pulau Sumatera di bidang pariwisata atau Kepulauan Nias dirubah menjadi Balinya Pulau Sumatera.

Palu sudah berada di tangan para pemimpin di daerah Kepulauan Nias. Ayunkanlah dan pukulkan palu itu di atas meja, sebagai tanda pengobaran semangat dan pembakar semangat masyarakat untuk bersama-sama melakukan banyak hal di bidang pariwisata, serta menyalakan mercu suar yang dapat memancarkan isyarat untuk membantu memberikan tanda tempat berlabuhnya kapal pariwisata Kepulauan Nias.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Wisata Pantai dan Laut

Wednesday, December 3rd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1MESKIPUN harga bahan bakar minyak (BBM) sudah naik dan mahasiswa-mahasiswa melakukan demo menolak kenaikan harga BBM itu, kenaikan harga BBM tetap berjalan, bahkan pengguna BBM pun tetap banyak. Lihat saja antrian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetap banyak. Bahkan keinginan sebagian orang untuk melakukan rekreasi bersama keluarga, tetap saja berjalan seperti biasa. Mereka banyak bepergian di pantai untuk melihat laut sekaligus rekreasi, agar mendapatkan kesegaran pemikiran kembali setelah melakukan berbagai pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran.

Kita memang membutuhkan keseimbangan dalam hidup ini. Setelah tersita waktu dan pikiran untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari, lalu meluangkan waktu untuk melakukan pemulihan kesegaran pemikiran kembali, dengan melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga sekaligus mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga besarnya.

Jadi, Anda jangan heran bila tiba hari besar atau hari libur, orang berlomba-lomba bepergian untuk rekreasi. Objek dan daya tarik wisata yang dipilih lebih banyak pada produk wisata pantai (wisata laut). Mereka membuang kejenuhan dengan menyenangkan mata melihat laut yang biru dan sangat luas, menyenangkan telinga mendengarkan deru ombak yang menggelegar, menyenangkan perut melalui makanan khas lokal (kuliner), menyenangkan hati dengan berbelanja souvenir dan kebutuhan lainnya, serta menyenangkan pikiran.

Pertanyaan menarik yang perlu diajukan disini adalah mengapa kebanyakan manusia suka bepergian di pantai? Barangkali, karena pantai memiliki luasan pasir yang menarik dengan deru ombak yang menderu-nderu dan saling berlari kejar mengejar menuju pantai. Pemandangan di laut yang menggambarkan tidak ada batasnya, demikian juga tingginya langit tanpa hambatan. Paling-paling ada hambatan tidak bisa melihat langit, bila terdapat banyak awan sebagai tanda mau turun hujan.

Memandangi laut yang demikian luas, serta melakukan berbagai aktivitas di pantai atau di laut, banyak memberikan nuansa kegembiraan. Jadi hati ini terasa tenteram dan bahagia, lebih-lebih berwisata bersama keluarga.

Berbagai hal yang bisa dilakukan bila rekreasi di pantai. Antara lain mandi di laut, berenang di laut, mancing di laut, bermain pasir dengan membuat jembatan, gunung, kue tar atau jenis yang lain. Bisa juga naik kuda menyusuri pantai atau motor-motoran bersama anak atau cucu. Tanpa kemana-mana pun tidak masalah, cukup dengan hanya duduk-duduk di atas tikar di pantai, sambil makan jagung bakar atau minum air kelapa muda.

Di pantai bisa juga merasakan pijitan dari yang ahli pijit, agar peredaran darah bisa lancar kembali, sehingga kembali bugar. Para wisatawan yang lagi menikmati derunya ombak, bisa juga main bola atu voli bersama, sehingga betul-betul terjadi keakraban satu sama lain.

Apabila gelombang laut memiliki ombak yang besar dan tinggi, bisa juga berolahraga selancar. Kegiatan penyelaman juga bisa dilakukan pada wilayah laut yang tidak berbahaya, sambil menikmati pemandangan di bawah laut.

Setelah puas bermain di pantai dan di laut, Anda pun bisa menunggu sampai sore di pinggir pantai sambil menikmati suasana sunset yang begitu indah di mata. Sungguh memberikan situasi perasaan yang nyaman dan damai di hati.

Setelah merasakan dan menikmati rekreasi di pantai, tentu akan melakukan perjalanan mau pulang. Sebelum pulang, biasanya wisatawan akan mampir di suatu tempat untuk berbelanja souvenir sebagai oleh-oleh termasuk belanja lauk ikan yang biasanya terdapat dan dijual di sekitar lokasi pantai. Jadi melakukan rekreasi di pantai, banyak hal yang bisa dilakukan, dan banyak hal yang bisa diperoleh, sehingga kejenuhan menjadi sirna dan hubungan antar keluarga semakin erat dan damai.

Berbagai hal yang didapatkan dan dirasakan setelah berwisata di pantai, akan membuat wisatawan merasakan kesegaran, terutama dalam hal hubungan dengan keluarga yang semakin baik serta pemikiran yang sudah semakin jernih. Hal-hal yang sudah didapatkan wisatawan, seperti merasakan dan menikmati produk wisata pantai, berwisata olahraga, berwisata kuliner, dan bisa juga berwisata kreatif dengan membentuk gunungan atau sejenisnya yang berbahan pasir atau yang heboh lagi yaitu berfoto ria. Sungguh menyenangkan serta sungguh memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan.

Berdasarkan pengamatan, jumlah wisatawan yang berkunjung di objek dan daya tarik wisata pantai semakin meningkat jumlahnya. Apalagi pada waktu hari libur, jumlah wisatawan akan semakin meningkat. Melihat kondisi ini, maka banyak pemerintah daerah yang menyulap pantainya menjadi sesuatu yang menawan dan menarik hati. Seperti pantai-pantai yang terdapat di sepanjang laut selatan Yogyakarta, pemerintah daerah Gunungkidul dan pemerintah daerah Bantul menggarap lingkungan pantainya menjadi semakin menarik serta mempermudah akses pencapaiannya.

Sepanjang pantai yang jauhnya sekian kilometer itu, pemerintah daerah membangun dan mengembangkan beberapa lokasi wisata pantai, yang hanya dibatasi hutan atau batu karang. Setiap lokasi wisata pantai, dibuat diferensiasi dengan penonjolan ciri khas dari masing-masing pantai. Ada pantai yang diperuntukkan bagi yang suka pemandangan alam dan laut, ada pantai yang ada pasar ikannya, ada pantai yang bisa untuk motor-motoran dan olahraga kuda, ada pantai yang banyak kulinernya, ada pantai yang banyak menyajikan hasil kerajinan masyarakat, dan beberapa wisata pantai lainnya yang memiliki ciri kekhususan.

Tujuan dilakukannya diferensiasi ini dalam upaya agar wisatawan yang mau rekreasi di pantai, tidak hanya berkunjung pada 1 (satu) pantai saja, tetapi akan melakukan kunjungan pada beberapa pantai yang sudah disiapkan itu. Jadinya semua pantai yang ditawarkan itu, akan dikunjungi semua oleh para wisatawan. Jadi sekali melakukan kegiatan wisata, akan bisa melihat beberapa pantai yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri.

Nah, setiap objek wisata pantai, sudah disiapkan loket karcis bagi pengunjung, sekaligus sebagai dasar hitungan jumlah pengunjung. Karcis yang disiapkan itu, ada yang diperuntukkan kepada para pengunjung, ada karcis untuk motor, dan ada karcis untuk bus dan truk.

Meskipun pemasukan pemerintah dari penjualan karcis terbilang hanya sedikit, barangkali sekian puluh miliar dalam setahun, namun jumlah pemasukan ini sangat bermanfaat. Selain itu, penerimaan lain yang bisa diperoleh pemerintah daerah bisa berupa pajak dari usaha kepariwisataan dan pajak-pajak yang lain (tidak langsung).

Mengenai jumlah penerimaan-penerimaan pemerintah daerah dari kegiatan pariwisata ini, mestinya bisa dalam beberapa jenis, seperti pemasukan dari karcis masuk objek wisata dan pajak-pajak usaha. Penerimaan pemerintah daerah yang bersumber dari penjualan karcis masuk di setiap ojek dan daya tarik wusata, tentu bisa digunakan untuk pemeliharaan objek dan daya tarik wisata. Pengeluaran yang lain bisa juga digunakan untuk pembayaran gaji petugas yang membantu kelancaran perjalanan kunjungan wisatawan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang berkaitan dengan pengelolaan objek dan daya tarik wisata.

Mungkin yang paling menarik di sini adalah besaran pendapatan masyarakat yang langsung diperoleh dari para wisatawan. Masyarakat langsung mendapatkan hasil dari berbagai usaha yang mereka lakukan dalam upaya memenuhi kebutuhan wisatawan. Besaran pendapatan ini yang barangkali sangat memberikan daya ungkit bagi masyarakat untuk berusaha. Artinya terjadi penyebaran jiwa wirausaha pada masyarakat, sekaligus mendorong masyarakat untuk bertindak ramah serta memberikan daya dorong bagi masyarakat untuk turutserta memelihara lingkungannya.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu melakukan inventarisasi lokasi-lokasi produk wisata pantai yang bisa ditawarkan kepada para wisatawan. Agar produk wisata pantai ini semakin memberikan daya tarik, tentu perlu melakukan usaha diferensiasi pada setiap objek wisata pantai. Tujuannya agar wisatawan selalu mendapatkan hal yang baru pada setiap produk wisata pantai yang dikunjungi serta menghindarkan kejenuhan bagi wisatawan. Semakin bervariasi kondisi produk wisata pantai, akan semakin mempesona bagi wisatawan serta dapat memberikan pengalaman baru, bila wisatawan berkunjung dari wisata pantai yang satu dengan wisata pantai yang lain.

Manfaatkanlah kekayaan laut yang terdapat di wilayahnya, dan suguhkan kekayaan laut itu kepada orang yang berkeinginan untuk mendapatkan kesegaran kembali. Laut dan pantainya memang memberikan berbagai hal yang menyenangkan bagi siapa saja yang melakukan kunjungan. Untuk itu sulaplah kondisi lingkungan pantai dan laut itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi setiap orang yang melakukan kegiatan pariwisata di pantai. Kembangkanlah wisata laut di wilayahnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Bandar Udara Binaka Gunungsitoli

Sunday, October 26th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2BINAKA, merupakan nama salah satu Bandar Udara di Indonesia. Dimana itu? Bandar udara nan jauh di sebelah barat Indonesia yaitu Pulau Nias.

Pulau Nias terletak di sebelah barat Sumatera, yang berbatasan dengan Lautan Hindia (lautan yang banyak pencuri ikannya dan mungkin bentuk kriminal yang lain). Bandar Udara Binaka terletak di kecamatan Gunungsitoli, Sumatera Utara yang berlokasi di Jl. Pelabuhan Udara Binaka Km.19,5 Gunungsitoli.

Menurut Walikota Gunungsitoli, panjang landas pacu 1.800 m dan direncanakan akan diperpanjang menjadi 2.300 m. Jadi ada tambahan panjang landas pacu 500 m. Pertanyaannya adalah mengapa tidak ditambah 1.000 m sekalian sehingga panjang landas pacu menjadi 2.800 m?

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan apabila panjang landasan menjadi 2.800 m, antara lain: 1. Bisa didarati pesawat-pesawat berbadan lebar dengan mantap seperti Boeing dan Airbus; 2. Pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Binaka; 3. Kegiatan pariwisata Kepulauan Nias cepat berkembang; 4. Jalur penerbangan dalam negeri bisa cepat berkembang di Kepulauan Nias, baik pesawat-pesawat dari Sumatera, Batam, Jawa, Bali, dan Lombok.

Nah, apabila jalur penerbangan dalam dan luar negeri bisa cepat berkembang di Binaka Gunungsitoli, lalu lintas manusia menjadi semakin banyak yang melewati Pulau Nias. Semakin banyak manusia menginjakkan kaki di bumi Pulau Nias, akan berdampak banyak pada kondisi ekonomi masyarakat yang berkembang cepat dan bertambahnya penerimaan yang mengisi kantong-kantong pemerintah daerah dalam bentuk pajak dan uang retribusi lainnya.

Dengan demikian rencana untuk menambah landas pacu pesawat di Binaka, jangan dibuat tanggung tetapi sekalian mantap sehingga dampaknya menjadi terasa bagi perkembangan pariwisata Kepulauan Nias ke depan. Jadi sekali dayung, bisa melewati beberapa pulau he he.

Penambahan lebar dan panjang landas pacu pesawat di Binaka Gunungsitoli sangat menarik dan sangat penting dilakukan. Apalagi penambahan landas pacu tersebut sudah disetujui Pemerintah Pusat melalui Menteri Perhubungan EE Mangindaan pada tahun 2013. Ini sebuah peluang emas bagi Kepulauan Nias untuk cepat keluar dari sebutan ‘daerah tertinggal’.

Tugas yang diemban dan diamanahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota Nias yaitu untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam memainkan segala upaya menuju Kepulauan Nias yang bermasadepan cerah. Tugas ini memang tidak mudah tetapi kalau disertai jiwa wirausaha pada level kepala daerah dan kepala SKPD, kita percaya bahwa bisa dilakukan.

Mengenai tambahan pembangunan landas pacu pesawat di Binaka, mungkin yang perlu diperhatikan yaitu masalah caring (perhatian) pada kebutuhan para penumpang pesawat. Seperti halnya Bandara Changi di Singapura, masalah caring menjadi perhatian utama dari yang membangun bandara Changi termasuk pemerintahannya. Semua ini dilakukan sebagai upaya memberikan kepuasan bagi para penumpang yang takeoff dan landing di Bandara Changi.

Apa saja bentuk caring yang ditampilkan pada Bandara Changi Singapura?, antara lain food court, tempat bermain anak, fasilitas Wi-Fi, enam taman terbuka, kamar hias bagi wanita, business centre, supermarket, bioskop 24 jam gratis bagi penumpang, gerai ritel, area tidur 24 jam, tempat ibadah, kolam renang, dan yang lain.

Bagaimana gambaran pembangunan dan pengembangan bandara Binaka di Gunungsitoli? Dapatkah perihal caring dapat dibangun di Binaka meskipun hanya sebagian dulu, sedang yang lain menyusul? Yang utama di sini adalah telah dibuat maket pembangunan Bandar udara Binaka terlebih dahulu, sedang pembangunannya bisa dilakukan secara bertahap.

Melalui informasi yang disampaikan Walikota tahun 2013 yang lalu dan Bupati Kabupaten Nias belum lama ini, bahwa akan diperpanjang landas pacu pesawat di Binaka. Terpampang banyak harapan bahwa Kepulauan Nias segera bangkit. Kita membayangkan bahwa ombak di Sorake dan Lagundri, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, akan segera dipenuhi para peselancar dari dalam dan luar negeri.

Bahkan mungkin pemerintah daerah akan mengagendakan iven dengan menyelenggarakan lomba selancar atau lomba perahu layar tingkat internasional di Kepulauan Nias setiap tahun. Wah kalau ini terjadi tentu kita semua sangat bangga menjadi ‘Ono Niha’ (orang Nias).

Menurut Nias Bangkit.Com edisi 11 Mei 2013, beberapa wisatawan yang datang di Kepulauan Nias mengakui bahwa ombak laut di Kepulauan Nias masih yang terbaik di dunia. Ombak di Kepulauan Nias lebih bagus daripada Bali.

Mengapa? Karena ombak laut di Kepulauan Nias, ombaknya besar, tinggi, dan terus-menerus. Pengakuan mereka memang sebuah fakta yang ada di Kepulauan Nias. Apalagi bila ditambah keunikan lain, yang telah dimiliki oleh Kepulauan Nias seperti atraksi lompat batu, tari maena, tari moyo, dan batu megalith yang terletak di Gomo dan di Desa Lasara Kecamatan Botomuzoi, Desa Hiliweto dan Lahemo Kecamatan Gido. Tentu berbagai hal yang unik dan hanya terdapat di Kepulauan Nias, serta didukung hadirnya perpanjangan landas pacu pesawat di Binaka, tentu akan meningkatkan jumlah lalu lintas manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias.

Semakin banyak manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias, tentu dampaknya banyak. Dampak positifnya yaitu terjadinya perputaran uang yang tinggi di Kepulauan Nias. Perputaran uang yang banyak di Kepulauan Nias bersumber dari para pengunjung yang datang di Kepulauan Nias. Mulai dari pengeluaran wisatawan untuk penginapan, makan, transportasi lokal, pemandu wisata (tour guide), warung makan/restoran, retribusi masuk objek dan daya tarik wisata, sampai pengeluaran untuk beli oleh-oleh, baik berupa makanan maupun berupa souvenir.

Dampak lain yaitu semakin banyak investor yang masuk di Kepulauan Nias untuk berinvestasi pada berbagai peluang usaha yang muncul berkaitan dengan lalu lintas manusia yang semakin maningkat di Kepulauan Nias. Investor tidak perlu dicari atau diundang, tetapi mereka datang sendiri.

Investor yang telah berjiwa wirausaha selalu mencari dan mencari berbagai peluang yang akan terjadi di masa yang akan datang di Kepulauan Nias. Apa masih ada dampak lain? Tentunya masih banyak seperti memunculkan jiwa wirausaha pada orang-orang Nias di wilayah Kepulauan Nias berkenaan dengan banyaknya pertemuan antara yang berkunjung dengan yang dikunjungi.

Melihat perkembangan yang mungkin terjadi ke depan, maka Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota tentu mulai menyiapkan diri menyongsong perubahan-perubahan yang akan terjadi di Kepulauan Nias. Penyiapan diri yang dimaksud berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang akan segera dikeluarkan berkenaan dengan kondisi ini. Kondisinya adalah Kepulauan Nias merupakan ‘Balinya Sumatera’, sebagai tujuan wisata utama di Kawasan Barat Indonesia. Atau sesuai informasi yang dipercaya, bahwa Kepulauan Nias sekarang sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).

Kepulauan Nias sebagai KSPN, tentu banyak hal yang akan disiapkan antara lain, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang akan bekerja pada sektor pariwisata, penyiapan satu pintu bagi pengurusan izin bagi investor, penyiapan rencana tata ruang wilayah (RTRW) baik di sekitar ibu kota Kabupaten dan Kota, ibu kota kecamatan dan di sekitar objek dan daya tarik wisata. Penyiapan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat juga perlu disiapkan dalam upaya menyongsong lalu lintas manusia yang akan semakin banyak di Kepulauan Nias, termasuk juga penyiapan lokasi terminal utama dan terminal-terminal penunjang (satelit) untuk mengantisipasi mobilisasi manusia dari daerah tertentu ke daerah lain di Kepulauan Nias.

Berkaitan dengan kesiapan-kesiapan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota untuk menghadapi perubahan-perubahan ini, kita berharap bahwa Beliau-beliau itu sudah memasang kuda-kuda untuk itu. Artinya, sekali serang musuh langsung jatuh. Sekali bertindak, manfaat yang akan diterima warga masyarakat menjadi nyata, hidup semakin baik.

Bagaimana sebaiknya pembangunan landas pacu pesawat di Binaka dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota, tentu diperlukan pemikiran-pemikiran yang positif dari Bapak/Ibu/Saudara sekalian. Anda berpendapat berarti Anda mendulang emas yang akan Anda kirim (berikan) di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Para Pemuda Pantai Sorake Kembali Gelar Kontes Surfing

Monday, December 30th, 2013

Aksi Surfing di Pantai Sorake | Firdolin Wau

Aksi Surfing di Pantai Sorake | Firdolin Wau

JAKARTA, NIASONLINE – Dengan upaya sendiri, para pemuda dan pencinta selancar (surfing) di Pantai Sorake kembali menggelar kontes yang dinamai Nias Board Rider Part II. Acara yang digelar mulai hari ini sampai besok, Sabtu (31/12/2013) tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Nias Selatan (Nisel) Faböwösa Laia.

Ketua Panitia penyelenggara lomba tersebut Rahel Wau, kepada Nias Online, menjelaskan, pertandingan tersebut merupakan yang kedua kali dilakukan pada waktu yang sama, yakni di penghujung tahun, sekaligus menyambut tahun baru.

Pertandingan dibagi dalam dua kategori berdasarkan usia. Yakni, usia 16 tahun ke bawah atau tingkat grommet dan usia 17 tahun ke atas atau tingkat senior.

“Pertandingan ini bertujuan memupuk persatuan peselancar Nias pada umumnya dan Nisel khususnya,” ujar Rahel, Senin (31/12/2013).

Dia menjelaskan, pertandingan itu diinisiasi dan digelar oleh perkumpulan peselancar di Pantai Sorake dan didukung oleh beberapa orang yang peduli dari Kota Telukdalm. Rahel mengatakan, Kadis Budpar Nisel juga mendukung acara itu melalui bantuan pribadinya.

Rahel menjelaskan, seiring dengan dukungan dari Kadis Budpar Nisel tersebut, pihaknya berencana melaksanakan pertandingan lagi dalam rentang tiga bulan mendatang.

Meski diselenggarakan secara sederhana tanpa dukungan dari Pemda Nisel, namun pesertanya lumayan banyak. Jumlahya mencapai 80 orang. Rahel mengakui, jumlah peserta tahun ini sedikit kurang banyak dibanding dua tahun lalu.

“Pesertanya lebih dari 80 orang. Termasuk peserta asal Chili satu orang, dan Jepang satu orang. Tahun ini pesertanya agak kurang karena banyak pesertanya yang pergi keluar daerah dan bahkan ada yang ke luar negeri,” jelas dia.

Dia mengatakan, pada tahun lalu, acara itu terpaksa tidak digelar karena keterbatasan dana.

Sementara itu, peselancar senior di Pantai Sorake Firdolin Wau mengatakan, dana acara itu benar-benar dari swadaya para pemuda Sorake dan sekitarnya.

“Ada surfing contest tanggal 30 -31 Desember dan party tahun baru. Sekedar acara akhir tahun,” kata dia.

Tak Ada Anggaran

Sementara itu, Kadis Faböwösa mengatakan, meski dirinya yang membuka pertandingan itu, namun sebenarnya dari Pemda Nisel sendiri tidak ada bantuan dana untuk acara itu.

“Karena kegiatannya mendadak pada akhir tahun anggaran maka bantuan untuk itu tidak tersedia dalam APBD 2013. Dari Disbudpar tidak tersedia dana bantuan itu sebelumnya. Tapi, secara pribadi saya sudah bantu panitia. Dan panitia undang saya untuk membuka makanya saya hadir di sana,” ujarnya ketika dihubungi terpisah.

Faböwösa mengatakan, ajang tersebut sangat bagus untuk melatih para pengurus organisasi surfing untuk mengorganisir pertandingan surfing.

“Juga melatih dan merangsang minat dan bakat peselancar pemula untuk siap
menghadapi ajang kontes yang lebih besar lagi,” jelas dia.

Ke depan, kata dia, pihaknya akan mencoba meminta persetujuan Bupati Nisel untuk pengalokasian dana kepada organisasi surfing di Pantai Sorake, guna memotivasi mereka untuk terus berlatih.

Sebelumnya acara serupa digelar pada akhir 2011 lalu, acara serupa juga digelar di Pantai Soreka. Saat itu diakui, pelaksanaan kontes sederhan itu sebagai bentuk protes dan wujud kekecewaan kepada Pemda Nisel yang tiba-tiba membatalkan kegiatan pertandingan surfing yang sudah dipersiapkan. (en)

Syarat Berat, Nias Selatan Sail 2014 Urung Digelar

Tuesday, September 17th, 2013

Kadis Budpar Nias Selatan | Faböwösa Laia | Koleksi Pribadi

Kadis Budpar Nias Selatan | Faböwösa Laia | Koleksi Pribadi

NIASONLINE, JAKARTA – Dua tahun lalu, tepatnya pada Jum’at (16/9/2011) kepada Nias Online, Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi mengungkapkan keinginan mengajukan Nias Selatan sebagai pelaksana kegiatan Sail pada 2014.

Dia mengatakan, saat itu Nias Selatan telah menjadi salah satu nominator untuk pelaksanaan Sail pada 2014. Bahkan, Nias Selatan mewakili Sumatera Utara dalam pengajuan ke pemerintah pusat.

Dua tahun berlalu, rencana yang baik itu terpaksa diurungkan, atau minimal harus ditunda. Pasalnya, tidak memungkinkan memenuhi syarat yang dibutuhkan dalam dua tahun mendatang.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nias Selatan Faböwösa Laia yang baru pulang memenuhi undangan menghadiri acara Sail Komodo di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

“Iya, kita diundang menyaksikan acara puncak Sail Komodo di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT kemarin yang diresmikan Presiden SBY karena semula kita ada wacana untuk mengajukan usul Sail Sorake untuk mengangkat potensi pariwisata Nisel. Tapi ternyata 5 syarat utama sepertinya akan susah kita penuhi dalam waktu satu atau dua tahun ke depan, antara lain pasokan listrik yang cukup, air bersih, hotel, restorean dan sarana transportasi,” ujar dia kepada Nias Online, Selasa (17/9/2013).

Dia menjelaskan, syarat itu sudah permanen ditetapkan oleh Dewan Kelautan Indonesia dan menjadi dasar pertimbangan dalam setiap pembahasan usulan Sail dari daerah.

“Setelah kita saksikan langsung di Kabupaten Manggarai Barat, ini ternyata berat juga.
Artinya harus ada support luarbiasa dari Gubernur Sumut,” jelas dia.

Dia juga memastikan usulan Pemkab Nisel sebelumnya untuk menggelar Sail telah diajukan secara resmi.

Seperti diketahui, untuk tahun depan, pemerintah menetapkan Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat sebagai pelaksana acara Sail.

Sementara itu, Presiden SBY, seperti dikutip dari akun Twitternya @SBYudhoyono beberapa saat lalu memastikan, acara Sail tersebut akan terus dilakukan menjadi acara tahunan.
SBY menilai, pelaksanaan Sail selama lima tahun terakhir terbukti memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang nyata. (EN)

Bupati Idealisman Janji Telusuri Kesalahan Informasi di Situs Resmi Disbudpar Nias Selatan

Tuesday, June 5th, 2012

Rumah Tradisional di Desa Bawömataluo. Rumah serupa juga ditemukan di beberapa desa di Kabupaten Nias Selatan (Foto: Etis Nehe)

NIASONLINE, JAKARTA – Bupati Nias Selatan (Nisel) Idealisman berjanji akan menelusuri masalah penyajian informasi yang salah tentang situs tujuan wisata yang disajikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nias Selatan. (more…)

Payah, Situs Resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nias Selatan Sajikan Informasi Yang Salah

Monday, June 4th, 2012

Tampilan Situs Dinas Pariwisata Nias Selatan yang menampilkan Informasi foto yang salah pada deskripsi daerah tujuan wisata Desa Bawömataluo (Foto: EN)

NIASONLINE, JAKARTA – Kabupaten Nias Selatan bisa dikatakan sedikit lebih cepat dan kreatif dibanding daerah lainnya di Pulau Nias. (more…)

Pemekaran Wilayah: Peluang Emas Pembangunan Pariwisata Nias

Tuesday, November 4th, 2008

Oleh: Drs. Kosmas Harefa, M.Si*

Masyarakat Nias yang ada di Pulau Nias maupun di luar Pulau Nias sudah sangat pantas untuk bersyukur dan meluapkan kegembiaraannya atas Pengesahan Pemekaran Wilayah ini oleh DPR RI pada Sidang Paripurnanya pada tangal 29 Oktober 2008 yang lalu. (more…)