Lirik lagu Ŵe’eŵe’egu (Tolodo Yesu) dimuat di situs ini pada tahun 2008. Klik tautan berikut untuk mengunduh partiturnya.
Archive for the ‘Berita Lain Lain’ Category
Pariwisata Nias – Sisi Penting Yang Ter(Di)abaikan
Wednesday, March 18th, 2015Oleh E. Halawa*
Hingar bingar yang menyangkut Pembangunan Pariwisata Nias akhir-akhir ini terkesan makin menghangat kalau tidak bisa dikatakan hampir mencapai titik didih yang – kalau suhunya tidak diturunkan sedikit – akan menguap dan akan tinggal menjadi bagian dari masa lalu, seperti kisah tragis i’ambanua, uro, orö, falagaŵo di Sungai Muzöi – Sungai Yang Hampa dan Merana.
Kita tentu saja patut bergembira karena berbagai pihak menunjukkan kepedulian terhadap Pariwisata Nias, yang – konon – merupakan salah satu pilar utama pembangunan dan kemajuan Nias ke depan.
Akan tetapi makna dari penggalan kalimat terakhir di atas itulah: pariwisata sebagai — pilar pembangunan dan kemajuan Nias — perlu kita fahami secara sungguh-sungguh dan sekali gus membandingkannya dengan berbagai kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan untuk merealisasikannya.
***
Tulisan ini dimaksudkan sebagai semacam sumbangsih dan sekaligus brain storming untuk memancing kontribusi lebih lanjut demi pemahaman yang lebih utuh tentang ‘pariwisata’ dalam kaitannya dengan pembangunan Nias.
***
Sisi Penting yang ter(di)abaikan ?
Mari membayangkan pariwisata Nias akan dikembangkan secara besar-besaran. Dan itu bukan mustahil … kita bahkan sudah sampai pada pemikiran menjadikan Republik Sychelles sebagai ‘templat’ pembangunan pariwisata Nias.
Berbagai seminar tentang pariwisata Nias dan lobi-lobi sana sini telah dilakukan dalam rangka pematangan persiapan pembangunan pariwisata Nias itu.
Maka, tulisan ini mengandaikan berbagai usaha yang telah dan tengah dilakukan selama ini akan membawa kita kepada realisasi rencana pembangunan pariwisata Nias itu.
***
Dari berbagai inisiatif yang kita lihat selama ini, tidak diragukan lagi ke 5 pemda di Nias berpikiran ‘maju’ dan mendukung pengembangan pariwisata Nias. Karena mereka (baca: pemda) tak punya modal dan belum memiliki semacam Badan Usaha Daerah bidang Pariwisata, maka mereka tentu hanya mampu memfasilitasi dalam bentuk memberikan kemudahan-kemudahan …
Maka investor pun masuk …
Dan … bisa jadi, skenario berikut ini yang akan terjadi: pembebasan lahan besar-besaran untuk keperluan pendirian berbagai fasilitas seperti hotel, restoran, jalan-jalan, taman-taman hiburan … dan tentu saja perluasan bandara.
Setelah sekian lama, terealisasilah semua itu …
Kalau akhirnya semua itu terealisasi, siapa yang tak berbangga ? Nias akhirnya menjadi daerah pariwisata tersohor, menjadi perhatian dunia. Membanjirlah wisatawan ke sana … singkat kata: luar biasa.
Beberapa tahun kemudian, seorang putra atau putri Nias yang sudah lama di perantauan rindu dan pulang ke sana, menjadi wisatawan.
Sesampainya di sana, kesannya pertama adalah: serba kekaguman.
Namun, beberapa waktu kemudian dia mulai bertanya-tanya pada diri sendiri:
… di mana orang-orang kampung dan rumah-rumah desa yang dulu ?
… di mana petak-petak sawah atau kebun havea yang dulu?
… di mana para pemuda dan pemudi yang dulu memenuhi bangku-bangku Gereja pada hari Minggu?
… ke mana mereka semua?
Penduduk lokal, bagian dari kulitnya ternyata telah melarikan diri – tak mampu bertahan dengan ‘kemajuan’ yang ada di hadapan mereka.
Yang dia temukan kios-kios milik orang dari daerah lain, restoran-restoran dan hotel-hotel entah milik siapa.
Ada juga sebagian warga desa yang dia kenal yang masih bertahan: menjadi penjaga toko, pelayan restoran, tukang semir sepatu, dan anggota kelompok kesenian desa yang setiap saat siap menghibur tamu-tamu wisata dan para pejabat dengan pertunjukan budaya sambil memakai pakaian tradisonal Nias. Mereka molau maena, fatele, fahombo batu, manari moyo dst. Mereka melakukan semua ini dengan kebanggaan dan dibayar sangat rendah entah dari sisa-sisa dana mana.
Yang tak mampu bertahan dengan dahsyatnya pembangunan pariwisata justru makin menjauh dan terisolasi, atau ikut bergabung dengan saudara-saudaranya di Sumatera, bekerja manga gazi di berbagai pabrik demi mempertahankan hidup.
Kalau seperti ini yang akhirnya terwujud lewat pembangunan pariwisata Nias yang sedang diwacanakan ini … sebaiknya tidak disebut pembangunan pariwisata Nias … sebaiknya dicari nama atau slogan lain yang lebih pas.
Masih banyak waktu untuk berefleksi untuk mendefinisikan pembangunan pariwisata Nias, sebelum mengambil keputusan yang dampaknya akan dirasakan oleh generasi-generasi mendatang.
*Tulisan ini merupakan olahan dari komentar penulis terhadap sebuah tulisan dalam Komunitas Sadar Wisata Nias (KOSWIN), 24 Agustus 2013.
Mengabdi Menjadi Kepala Daerah Kabupaten/Kota
Monday, March 16th, 2015Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*
KEPULAUAN Nias yang telah menjadi 4 (empat) Kabupaten dan 1 (satu) Kota, serentak melaksanakan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada bulan Desember 2015 mendatang. Perhelatan pemilukada tersebut telah memberikan angin segar dan motivasi bagi sebagian putra-putri Nias untuk mengikuti pemilukada tersebut menjadi bakal calon (Balon) Kepala Daerah di Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, dan Kabupaten Nias Barat. Para Balon yang akan menyediakan diri itu, ada yang bertempat tinggal di Kepulauan Nias dan ada juga yang bertempat tinggal di luar Kepulauan Nias.
Kalau kita melihat dan membaca di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, sudah mulai bermunculan nama putra-putri Nias yang menjagokan dirinya untuk menjadi Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias. Dan ini kita sangat memberikan apresiasi, ternyata putra-putri Nias sekarang banyak yang sudah memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin di Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias.
Melalui semangat yang sudah mulai menyala pada masing-masing Balon Kepala Daerah tersebut, dapat diartikan bahwa sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki kompetensi di bidang manajemen pemerintahan. Sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki keahlian di bidangnya masing-masing, sehingga melalui pengalaman itu telah memberikan inspirasi bagi Balon untuk berbuat yang lebih baik di dalam mensejahterakan masyarakat yang berdomisili di Kepualaun Nias.
Permasalahnya sekarang, yaitu apakah masing-masing Balon tersebut sudah sangat bersungguh-sungguh untuk mensejahterakan masyarakat Kepulauan Nias bila nanti terpilih menjadi Kepala Daerah definitif? Tentu hal ini perlu dipertanyakan mulai dari sekarang.
Mari melihat beberapa fakta yang telah terjadi di beberapa daerah di wilayah Negara kesatuan republik Indonesia, yaitu pertama, ada diantara Balon yang sangat bersemangat untuk menjadi Kepala Daerah, karena ingin berkuasa. Untuk mencapai tujuan itu si Balon akan menempuh berbagai cara atau menghalalkan segala cara termasuk membagi-bagikan uang, yang istilahnya dikenal sebagai money politic (politik uang), agar dipilih rakyat di wilayah itu menjadi pemenang pemilukada.
Kadang masyarakat lupa bahwa bila menerima uang dari Balon sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) umpamanya, paling lama uang tersebut bertahan di kantong mungkin hanya 5 (lima) hari, sedang bila Balon itu terpilih dan memerintah selama 5 (lima) tahun ke depan, berarti masih ada hari lain yaitu 1.825 hari – 5 hari = 1.820 hari yang bisa penuh penderitaan dan atau penuh kesejahteraan. Jadi bila calon Kepala Daerah itu terpilih, maka kita berharap Kepala Daerah itu akan bekerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan kita selama 1.820 hari. Semoga Anda bisa menangkap arti dan maksud dari hitung-hitungan hari di atas.
Kedua, mungkin juga ada Balon yang memiliki keinginan untuk mensejahterakan dirinya sendiri beserta kroni-kroninya setelah memenangkan pemilukada dan berkuasa penuh untuk mengelola keuangan yang bersumber dari APBD dan APBN dengan baik. Artinya tidak bisa tertangkap tangan KPK atau aliran keuangannya tidak bisa ditelusuri oleh PPATK.
Ketiga, bisa juga ada Balon Kepala Daerah itu yang sangat peduli pada Tim Suksesnya dengan cara membagi-bagi jabatan kepala dinas setelah memenangkan pemilukada. Contoh ada Tim Sukses yang berlatarbelakang pendidikan keagamaan, ditunjuk menjadi Kepala Dinas Pertanian, atau jabatan lainnya.
Keempat, bisa saja terdapat Balon Kepala Daerah yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya menjadi Kepala Daerah. Berdasarkan pengalaman hidup selama bekerja selama ini sudah memiliki kompetensi berupa knowledge (pendidikan), skill (kemampuan), dan personal attributes (atribut personal-sikap, perilaku, komunikasi, kerjasama), sehingga pada waktu sekarang sudah sangat tepat untuk melayani masyarakat di wilayah Kabupaten/Kota, agar hidup dari masyarakat menjadi sejahtera.
Berdasarkan beberapa catatan di atas, kira-kira apa yang menjadi keinginan dari para Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias? Bisa saja ada keinginan untuk berkuasa, atau ingin mensejahterakan diri dan kroni-kroninya, atau hanya peduli pada Tim Suksesnya, atau ingin mengabdi untuk melayani masyarakat. Untuk mengetahui apa yang diinginkan, tentu masing-masing Balon perlu bertanya pada diri sendiri. Tetapi harapan kita semua bahwa Balon Kepala Daerah yang ingin berkompetisi pada pemilukada di Kepulauan Nias, memiliki keinginan besar serta menyala-nyala untuk mengabdikan dirinya pada kemaslahatan masyarakat dan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Nias.
Pertanyaan selanjutnya yaitu, bagaimana Anda sebagai Balon dapat mewujudkan pengabdiannya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera? Tentu masing-masing Balon perlu melakukan survei kecil-kecilan untuk memastikan mengenai kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada manajemen pemerintahan yang sekarang. Hal lain yang dilakukan lagi yaitumendalami dengan seksama mengenai apa saja kepentingan dan kebutuhan masyarakat di Kepulauan Nias pada waktu sekarang dan yang akan datang. Para Balon perlu melakukan inventarisasi pada kekuatan dan kelemahan manajemen pemerintahan sekarang, sekaligus merinci peluang dan ancaman Anda ke depan. Lalu menginventarisir juga mengenai kepentingan dan kebutuhan masyarakat Kepulauan Nias.
Kepulaun Nias sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) di wilayah bagian barat Indonesia, serta para Kepala Daerah di Kepulauan Nias sudah menyepakati dalam suatu forum pada pertengahan tahun 2014 yang lalu bahwa lokomotif pembangunan Kepulauan Nias adalah sektor pariwisata. Berhasilnya sektor pariwisata ini tentu sangat didukung oleh sektor-sektor lain seperti pertanian, perhubungan, pekerjaan umum, kelautan dan perikanan dan lain-lain. Karena itu para Balon Kepala Daerah sebaiknya turut menginventarisir juga mengenai hal-hal yang sangat berkaitan dengan peningkatan prasarana dan sarana kepariwisataan di Kepulauan Nias.
Untuk diketahui bersama bahwa pemerintah itu pada dasarnya memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zebua, 2014).
Nah, apa saja yang akan dilakukan dan bagaimana cara melaksanakannya, tentu diperlukan penjabaran lebih dalam dan penjabarannya pun hendaknya dilakukan secara komprehensif. Walau semuanya itu selalu didasarkan pada visi, misi, dan tujuan para Balon, atau minimal pengaplikasiannya terdapat pada berbagai program kerja yang akan diusung bila Balon terpilih sebagai Kepala Daerah definitif. Program kerja-program kerja yang disiapkan serta diperiodekan pada bentuk program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, diharapkan dapat menjadi patokan atau merupakan miles-stone pencapaian realisasi dari visi para Balon nantinya. Dan ini akan selalu dievaluasi setiap tahun, sehingga pada akhir periode kepemimpinan Kepala Daerah sudah dapat dinilai seberapa besar tercapainya visi Kepala Daerah.
Untuk itu, sangat diperlukan kesiapan para Balon untuk menyiapkan diri dengan serius, agar mampu melaksanakan strategi Anda bila terpilih menjadi Kepala Daerah. Strategi yang Anda lakukan sekarang adalah menyiapkan route jalan selebar-lebarnya agar jalan itu bisa Anda lewati dengan mulus dan nyaman, serta pilihlah alat yang digunakan untuk mempercepat waktu perjalanan Anda pada saat Anda melewati jalan tersebut. Dan alat yang dimaksud di sini adalah program kerja Anda selama duduk dalam jabatan sebagai Kepala Daerah.
Selamat mengabdikan diri untuk menjadi Kepala Pelayan masyarakat dan selamat melaksanakan pembangunan di Kepulauan Nias demi perwujudan kesejahteraan masyarakat yang dilayani, sesuai dengan keinginan pada waktu menjadi Balon Kepala Daerah.
*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)â€, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.
Budaya Baca di Sekolah-Sekolah Kepulauan Nias Perlu Ditumbuh-kembangkan
Saturday, March 14th, 2015Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*
Sekolah sebagai lokasi utama yang menjalankan kegiatan pendidikan perlu memikirkan dan melakukakan usaha besar untuk membentuk sumber daya manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Sekolah bukan sekedar objek semata tetapi merupakan tempat untuk mendidik dan mengajar anak-anak bangsa menjadi manusia yang mampu memajukan bangsa. Kehadiran sekolah sebagai wahana pembentukan manusia bukan merupakan fiksi belaka melainkan suatu realita yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan zaman, sekolah sebagai dunia pendidikan semakin dihadapkan pada berbagai tantangan termasuk pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Untuk menghadapi tantangan tersebut tentunya sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias perlu memikirkan strategi dan usaha yang baik sehingga pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa dapat dicapai secara maksimal. Strategi dan usaha yang dimaksud tentunya tidak hanya terbatas pada strategi pembelajaran internal yaitu pembelajaran di dalam kelas.
Salah satu strategi yang terakui sebagai usaha yang dapat menciptakan manusia-manusia yang berwawasan luas adalah kebiasaan membaca atau budaya baca. Membaca dapat mengantar manusia untuk mencapai derajat pengetahuan yang tinggi. Jadi sangatlah tepat apabila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama untuk membangun intelektualitas. Kalau kita melihat para pendiri bangsa Indonesia, mereka adalah orang-orang yang gemar membaca. Bung Karno, Bung hatta, Sutan Sjahrir mereka begitu dekat dengan buku. Kedekatan dengan buku membuat mereka berwawasan luas dan berpikiran besar (Republika.Co.Id, Oleh: Faisal Fadilla).
Pada beberapa tahun terakhir ini membaca dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit dijumpai apalagi di Kepulauan Nias khususnya di sekolah-sekolah. Mulai dari pelajar sampai orang yang sudah bekerja termasuk guru hampir sedikit yang melakukan kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dengan membaca, kita dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan. Hasil survei UNESCO menunjukkan bahwa Indonesia masih jadi negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN! Tahun 2012, UNESCO mencatat indeks minat baca kita cuma 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Dari indeks tersebut tentu kita dapat membandingkan indeks minat baca di Kepulauan Nias.
Berdasarkan hasil pengamatan, rendahnya minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias disebabkan oleh beberapa aspek, yakni kurangnya motivasi atau dorongan pihak sekolah untuk mengajak anak didik dalam kegiatan membaca, rendahnya pengelolaan perpustakaan, ketidaktersediaan buku dan ruang perpustakaan, tidak adanya program budaya baca sekolah yang terorganisir dan terjadwal. Rendahnya budaya dan minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dapat kita buktikan dari kegiatan siswa di luar sekolah atau ketika sudah tiba di rumah. Dari hasil pengamatan, hampir jarang sekali siswa yang membaca ketika sedang berada di luar sekolah. Tentunya, ini disebabkan tidak ditumbuh kembangkannya budaya baca dari sekolah. Di samping itu, minat baca yang rendah ini dapat kita amati dari kegiatan-kegiatan ekstra. Kebanyakan siswa hanya diarahkan pada satu kegiatan yang sifatnya monoton. Contohnya: olahraga atau olah vokal. Hampir tidak ada sekolah yang menyelenggarakan program membaca pada kegiatan ekstra siswa.
Selain penyebab-penyebab tersebut di atas, rendahnya minat baca siswa di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan keluarga yang tertanam pada diri siswa. Misalnya, kebiasaan anggota keluarga yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk menonton televisi atau kebiasaan anggota keluarga terutama orangtua yang membiarkan anak-anak mereka untuk tidak belajar termasuk membaca.
Menyadari manfaat besar dari membaca dan fakta terkait minat baca masyarakat yang masih rendah terutama masyarakat kepulauan Nias serta mengingat peran sekolah sebagai tempat pembentukan manusia, sekolah-sekolah dari berbagai tingkatan pendidikan di Kepulauan Nias diharapkan berpacu untuk menumbuhkan dan mengembangkan program budaya baca. Karena melalui program budaya baca di sekolah, siswa akan terbiasa membaca dengan memanfaatkan buku atau bahan bacaan yang ada dan akan berdampak pada kegiatannya di luar sekolah. Dengan demikian, sekolah akan melahirkan siswa-siswa yang berpikiran besar atau manusia-manusia yang berwasan luas di tengah-tengah lingkungan kita. Di samping peran sekolah, tentunya pengembangan budaya baca tentunya juga perlu dikembangkan dalam keluarga dan masyarakat.
*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.
Menuju “Festival Sail Nias”
Wednesday, November 19th, 2014Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*
BERITA “Festival Sail Raja Ampat†di Papua Barat sangat mendunia. Festival Sail Raja Ampat ini, dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pada tanggal 23 Agustus 2014, 6 (enam) hari setelah peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-69, yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2014.
Beritanya sangat masif di berbagai media di penjuru wilayah Indonesia dan di dunia. Media-media di Indonesia memuatnya sebagai headline, karena festival tersebut dibuka langsung oleh Presiden RI. Peserta Festival Sail Raja Ampat tidak hanya diikuti peserta dari dalam negeri tetapi diikuti juga oleh peserta dari luar negeri, sehingga gemanya pun tersampaikan di berbagai Negara di luar negeri. Inilah kegiatan Sail Raja Ampat yang berpromosi langsung di dunia.
Menurut data kunjungan wisatawan di Raja Ampat, sesuai data yang disampaikan oleh Ketua Panitia Pengarah Sail Raja Ampat, Agung Laksono (Menko Kesra), di tahun 2007 Raja Ampat hanya dikunjungi 1.000 orang, sedang di tahun 2014 ini sudah dikunjungi wisatawan sebanyak 15.000 orang. Dari jumlah wisatawan itu, 73% wisatawan berasal dari mancanegara.
Wow . . kegiatan promosi yang sudah sangat berhasil. Iven besar dilaksanakan hanya sekali dalam satu tahun, tetapi sangat berdampak pada perbaikan kondisi ekonomi rakyat di Papua Barat.
Dalam pengarahan Bapak Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa kegiatan Festival Sail Raja Ampat ini dimaksudkan untuk mengembangkan daerah-daerah maritim yang tertinggal. Caranya yaitu mengoptimalkan pembangunan sektor pariwisata lingkungan.
Arahan ini sesuai dengan laporan Ketua Pengarah Agung Laksono melalui perumusan tema Festival Sail Raja Ampat 2014, yaitu: Membangun Bahari menuju Raja Ampat ke Pentas Dunia. Artinya, kegiatan ini tidak hanya menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari, tetapi sekaligus mempromosikan produk wisata Raja Ampat di seantero dunia. Kegiatan ini akan memberikan dampak sebagai pendorong berbagai pembangunan fisik dan sumberdaya di Papua Barat
Sail Nias tahun 2015.
Lalu bagaimana dengan Kepulauan Nias? Bisakah menyelenggarakan kegiatan Sail Nias? Bagi sebagian orang yang memiliki karakteristik optimistik, pasti langsung menjawab: BISA!
Kalau daerah lain bisa, mestinya Nias juga bisa menyelenggarakan Sail Nias. Nias dikelilingi oleh laut, dan wilayahnya sudah terbentuk menjadi 4 (empat) Kabupaten dan 1 (satu) Kota, jadi sudah ada 5 (lima ) pemerintah daerah.
Apabila ke-5 pemerintah daerah ini bersatu-padu dengan sukacita untuk menyelenggarakan Sail Nias, dipastikan bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Apa sih yang berat? Pada dasarnya tidak ada yang terlalu berat, lebih-lebih kalau akan mendapatkan dukungan dari pemerintah provinsi Sumatera Utara dan Kementerian Pariwisata. Apalagi kalau mendapat dukungan dari Kementerian yang lain seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian-kementerian lainnya.
Bagaimana pelaksanaan Sail Nias? Dari beberapa pemikiran yang diidekan dan diusulkan oleh beberapa orang yang peduli pada pembangunan dan pengembangan pariwisata di Nias (baca: Kepulauan Nias), bisa digambarkan sebagai berikut:
- Peserta Sail Nias berkumpul di kota Gunungsitoli, sambil melihat pameran potensi daerah Kepulauan Nias;
- Setiap peserta Sail Nias, akan diminta untuk berhenti dan istirahat di setiap objek dan daya tarik wisata unggulan yang disiapkan oleh masing-masing Kabupaten dan Kota;
- Pemerintah daerah akan memantapkan objek dan daya tarik wisata itu dengan membangun atau merenovasi objek tersebut supaya daya tarik wisata itu bisa dinikmati oleh peserta Sail Nias;
- Pemerintah daerah membangun jalan dan sarana lainnya menuju objek dan daya tarik wisata;
- Pemerintah daerah memantapkan transportasi menuju objek wisata;
- Pemerintah daerah menyiapkan tempat MCK, area parkir kendaraan, tempat berjualan makanan khas masyarakat setempat, tempat penjualan hasil kerajinan masyarakat, dan tempat pertunjukkan budaya lokal;
- Pemerintah daerah menyuguhkan kepada peserta Sail Nias mengenai berbagai hasil kerajinan, makanan khas Kabupaten/Kota, dan atraksi budaya masyarakat setempat; dan
- Menyiapkan kebutuhan wisatawan lainnya seperti pengadaan air bersih, listrik, telekomunikasi, dan lain-lain.
Mengenai tempat istirahat bagi peserta Sail Nias di setiap titik objek dan daya tarik wisata di setiap Kabupaten dan Kota, tentu termasuk yang dipikirkan dan disiapkan. Barangkali peserta Sail Nias bisa istirahat di lokasi tersebut selama 1-2 hari, sambil melihat lokasi objek dan daya tarik wisata itu, termasuk pertunjukkan budaya, pameran hasil-hasil kerajinan, dan penyediaan makanan khas Nias yang disiapkan oleh masyarakat setempat.
Dan demikian seterusnya perjalanan peserta Sail Nias, hingga peserta Sail Nias kembali di kota Gunungsitoli. Selama perjalanan pelayaran dari peserta Sail Nias, peserta dapat menikmati objek dan daya tarik wisata beserta keunikan yang ditampilkan dari masing-masing Kabupaten dan Kota se Kepulauan Nias. Jadi Sail Nias ini akan memberikan banyak manfaat, baik kepada peserta Sail Nias maupun di masing-masing Kabupaten dan Kota, terutama kepada warga masyarakat sekitar objek dan daya tarik wisata.
Apabila kegiatan Sail Nias kita bisa lakukan di tahun 2015, akan banyak memberikan pengaruh pada keberadaan pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Nias tentu semakin dikenal di nusantara dan di dunia.
Manfaat Sail Nias
Penyelenggaraan kegiatan Sail Nias ini dapat juga menjadi media yang bisa langsung mempromosikan pariwista Kepulauan Nias. Kegiatan Sail Nias sangat mengena dan mendukung cita-cita kita untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai Bali-nya Sumatera atau sebagai destinasi pariwisata utama di kawasan barat Indonesia.
Selain dapat menjadi sarana promosi pariwisata Kepulauan Nias, kegiatan Sail Nias akan memberikan dampak pada sosialisasi pariwisata kepada masyarakat. Pemahamannya adalah bahwa kegiatan pariwisata akan memberikan daya manfaat dan daya ungkit pada perbaikan ekonomi masyarakat, serta memberikan banyak peluang dalam hal terbukanya lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat. Peluang-peluang ini, bisa dijadikan dasar sosialisasi pariwisata kepada masyarakat, dan masyarakat bisa menangkap peluang ini sebagai sebuah peluang usaha, sehingga masyarakat akan memberikan dukungan pada program kerja pemerintah di masa yang akan datang.
Sekali warga masyarakat mendapatkan manfaat dari kegiatan pemerintah di dalam meningkatkan peran pariwisata untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, akan memberikan semangat bagi warga masyarakat untuk mendukung program-program pemerintah ke depan, dalam upaya perbaikan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik. Semangat inilah yang perlu dipelihara oleh pemerintah, agar di masa yang akan datang masyarakat merasakan apa yang diprogramkan pemerintah, dapat meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat.
Dengan perasaan adanya manfaat dari kegiatan pariwisata ini bagi perbaikan ekonomi masyarakat, dapat diyakini bahwa akan mampu memperbaiki sikap dan perilaku masyarakat nantinya pada waktu menerima kedatangan para wisatawan. Dimana ada gula di situ ada semut, dimana ada manfaat di situ ada dukungan masyarakat.
Nah, dukungan masyarakat ini akan mempercepat proses program pemerintah untuk memperbaiki taraf hidup warga masyarakat. Dan apabila sistem ini bisa terbentuk, siapa pun yang duduk dalam jabatan pemerintah, akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Dengan demikian, rasa kepercayaan itu akan menjadi cambuk bagi pemerintah untuk terus bekerja demi perbaikan taraf hidup masyarakat. Semangat pemerintah yang sedang menyala-nyala ini, akan terus hidup di dalam mengaplikasikan berbagai program kerja yang sudah direncanakan sebelumnya.
Jadi kedua belah pihak sama-sama terpacu di dalam koridor bersemangat. Masyarakat semakin semangat karena program kerja pemerintah memberikan daya manfaat bagi warganya, sedang pemerintah semakin bersemangat karena yang diprogramkan pemerintah mendapat apresiasi dari masyarakat. Dengan kondisi ini, dapat dipastikan bahwa kinerja pemerintah akan semakin meningkat, dan masyarakat juga akan semakin baik taraf hidupnya di dalam menjalani hidup ini.
Sail Nias hendaknya dapat dijadikan sebagai basis pengembangan pariwisata, sekaligus sebagai model untuk mewujudkan percepatan pembangunan di Kepulauan Nias. Untuk itu pelaksanaannya diusahakan setiap tahun, agar dapat memberikan dukungan yang lebih besar pada pembangunan Kepulauan Nias ke depan.
Pembangunan yang bisa dilaksanakan sebagai output dari kegiatan Sail Nias ini, bisa berupa pembangunan fisik dan non fisik. Khusus pembangunan yang non fisik, masyarakat diajak untuk mewujudkan lingkungan yang baik, berperilaku bersih, dan siap menjaga keindahan pantai. Artinya, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pariwisata memberikan dampak positif pada pemeliharaan lingkungan, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan.
Selamat mempersiapkan pelaksanaan Sail Nias, dan sukses dalam pelaksanaannya. Semangat kerja yang menyala-nyala dan fokus, akan menjadi modal pemerintah daerah untuk memajukan kepariwisataan di Kepulauan Nias.
*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.
Nias Tidak Butuh Pemimpin Jenis NADO dan NATO
Monday, October 6th, 2014Berita Dukacita
Friday, September 5th, 2014
Telah meninggal dunia dengan tenang, Ibu Nilam Sari Aceh binti Nyak Muda, Ibunda dari Bapak Ilham Mendröfa, Wakil Pemimpin Redaksi Nias Online, pada Jum’at (5/9/2014), pukul 12.35 Wib di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta pada usia 63 tahun. Almarhumah dimakamkan pada hari yang sama di TPU Malaka, Pondok Kelapa, Jakarta Timur.
Segenap Tim Redaksi Nias Online turut berdukacita, dan mendoakan semoga Tuhan yang Maha Esa, yang kepadanya Ibunda menghadap, memberi kekuatan dan penghiburan kepada keluarga besar Pak Ilham, baik yang Jakarta, di Pulau Nias mau pun di tempat lain, dalam melewati masa-masa kedukaan ini. (Redaksi)
Demi Nias Lebih Baik, Mari Belajar dari Pilkada DKI Jakarta
Saturday, August 30th, 2014Duet Jokowi-Ahok adalah contoh pemimpin yang ideal. Sebelum dicalonkan sebagai pemimpin di DKI Jakarta, keduanya dikenal sebagai “orang baikâ€. Rekam jejak keduanya positif. Keduanya memiliki dua modal yang amat kuat, yakni integritas dan kapabilitas. (more…)
PBB Buka Lowongan Bagi Putra-Putri Indonesia
Tuesday, June 24th, 2014Setelah 9 Tahun Gempa Nias: Ini Rahasia Para Korban Bisa Bertahan dan Bangkit Kembali
Friday, March 28th, 2014Kengerian itu mengubahkan banyak hal. Banyak kenangan yang tak mudah dihapus meski waktu berusaha membayarnya. Sebuah kenyataan yang hanya bisa dihadapi dengan menerima dan menghadapinya apa adanya. Banyak hal yang tidak mungkin diubah dan dikembalikan pada keadaan/masa sebelumnya.
Kehancuran itu juga membawa perubahan lain. Pada sebagian orang, nestapa itu membuat tulang kehidupan mereka lebih kuat daripada sebelumnya. Kenyataan itu disadari dan dengan ikhlas dipahami sebagai sesuatu yang tak bisa diingkari apalagi diputarbalik arahnya. Karena itu, bagi mereka, kehidupan adalah masa depan. Karena itu, perlu dimanfaatkan dan diperlakukan dengan penuh penghargaan.
Hal-hal itulah yang menjadi intisari pengalaman bertahan hidup dan bangkit kembali yang dibagikan Timotius Duha, SE, MM dan Yunius Zega, SH. Keduanya, keluarga dari korban gempa itu. Kiranya, kekuatan mereka bisa mewakili para keluarga lainnya. Mewakili sikap positif menghadapi keadaan yang tak sederhana itu.
Timotius mengaku, sisa-sisa trauma itu masih belum hilang sepenuhnya. Namun, setidaknya, sudah banyak perubahan dibanding masa-masa awal. Pada saat kejadian itu, ayahnya menjadi korban dan ibunya luka-luka. Rumah dan usaha mereka hancur.
“Gempa sembilan tahun lalu itu membuat saya tidak berterima secara pribadi. Keluarga adalah pengusaha mapan. Tiba-tiba langsung jatuh miskin. Kenyamanan dan kelebihan secara finansial hilang lenyap. Bagaimana menghadapinya? Bingung dan sangat bingung. Ayah saya meninggal dan rumah serta isinya rata dengan tanah. Ibu sakit-sakitan. Sementara hidup harus jalan terus,†ungkap dia mengenang masa-masa awal yang sulit itu.
Timotius yang saat itu baru menyelesaikan SMAnya di Jakarta, pulang ke Nias Selatan untuk selanjutnya mempersiapkan diri memasuki perkuliahan lagi di Jakarta mengaku, keadaan itu memaksanya ‘putar’ otak. Harus bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Kala itu, berbagai tawaran pekerjaan dari NGO luar negeri yang gajinya hingga belasan juta justru ditolak.
“Karna saya sadar uang bukan segalanya. Lebih lagi, saya tidak bisa jauh dari ibu saya yang sedang sakit,†jelas dia.
Sebagai langkah awal, dia mulai menghidupi keluarga dengan berjualan kecil-kecilan di bekas puing-puing rumah yang telah hancur.
“Lebih baik saya menderita secara ekonomi tetapi bisa dekat dengan ibu. Dari pada uang banyak dari hasil kerja tetapi keluyuran kesana-kemari ngurusin orang lain. Puji Tuhan. Dengan berjualan kami bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,†papar pria muda yang kini jadi dosen tetap di STIE Nias Selatan itu.
Pembantu Ketua I bidang Akademik STIE Nias Selatan itu mengatakan, keadaan itu juga membawanya lebih jauh untuk memikirkan masa depannya. Apa yang harus jadi pegangan hidup ke depan. Dia pun memutuskan untuk kuliah sambil kerja. Dia mengakui, pengalaman itu juga membuatnya lebih rendah hati.
“Saya mulai terbiasa menjadi low profile. Ternyata Tuhan mengubah hidup saya melalui gempa. Hidup boros dan cengeng menjadi sederhana tetapi petarung di masa muda. Gempa telah membuat saya belajar bersyukur dan menghargai hidup,†kata dia.
Kepada para keluarga korban gempa itu yang masih terpuruk, anak kedua dari dua bersaudara ini juga menyarankan agar jangan terus bersedih, meratapi nasib.
“Carilah peluang, berusaha dan tetap berserah pada Tuhan. Pasti ada jalan terang menuju pemulihan, perubahan. Karena di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil,†tandas dia.
Sementara itu, Yunius mengatakan, mereka bisa melewati masa-masa sulit, tak lepas dari dukungan orang-orang terdekat dan perlindungan Tuhan semata. Selain itu, keputusan untuk menerima kenyataan itu juga menjadi jalan keluar agar bisa menjalani hidup setelah itu.“Kalau intinya sih, semua ini terjadi karena kehendak-Nya dan harus diterima dan dijalani. Berdasarkan panduan. Hidup ini untuk dijalani bukan untuk dihindari. Dan pasti ada jalan keluar bila kita menyerahkan semuanya kepada-Nya,†kata pria yang juga menjabat sebagai Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Gunungsitoli ini.
Dia juga mengatakan, menjalani realitas yang tak sederhana itu, juga tidak perlu menyalahkan siapapun. Meski sakit, harus dijalani dengan ikhlas.
“Dan tidak menyalahkan siapapun. Karena itulah kita harus jalani dan harus bisa melepaskan dengan ikhlas. Walau sakit tapi mesti dijalani,†jelas dia.
Dia menambahkan, secara pribadi, sebagai anak sulung dalam keluarga, dia mau bertahan demi adik-adiknya yang tak mudah menerima kenyataan itu.
“Secara pribadi mau bertahan juga karena adik-adik yang tidak bisa menerima. Sehingga terus mendorong mereka untuk menerima,†tandas dia.
Pada kejadian itu, Yunius kehilangan kedua orangtua, adik dan dua sepupunya akibat rumah mereka di depan Pelabuhan Angin ambruk dihajar gempa dengan kekuatan 8,7 SR itu. Siang ini, mereka mengisi waktu dengan berziarah ke makam orang-orang tercintanya itu di pemakaman keluarga di Sihare’ö, Desa Umbubalödanö.
Mengubahkan Senta Leo
Bencana itu tidak hanya mengubahkan hidup orang-orang Nias. Juga tidak melulu soal keperihan dan kehancuran. Sejak itu, banyak orang, lembaga bahkan negara memberikan perhatian serius dengan Kepulauan Nias dan masyarakatnya. Mereka berbondong-bondong memberikan dukungan darurat dan juga dukungan pemulihan. Ada yang datang, lalu pergi setelah menyerahkan bantuan. Ada juga yang sempat beberapa tahun sampai semua proyek bantuan selesai, lalu pulang.
Tapi ada juga yang sebaliknya. Salah satunya, seorang pria bernama Senta Leo. Seorang yang hidup sukses dengan segala kenyamanan di Jakarta. Gempa Nias itu mengubah total kehidupannya. Kini, dia mengabdikan diri bersama keluarganya untuk mengabdi dan melayani di Pulau Nias.“Ada satu teman berkata, sembilan tahun lalu masih menorehkan duka yang dalam karena Sembilan anggota keluarganya pergi meninggalkannya. Bagi saya, sembilan tahun lalu saya juga “pergi” ke pulau Nias meninggalkan hidup yang “normal”. Gempa sembilan tahun lalu mengubahkan hidup saya. Dari hidup untuk “pencapaian†menjadi hidup untuk “pengabdianâ€. Pengabdian kepada Tuhan untuk mencetak SDM berkualitas pemimpin di Pulau Nias,†jelas dia kepada Nias Online, Jum’at (28/3/2014).
Senta mendirikan rumah asuh dan mengasuh puluhan anak-anak Nias yang sebagian merupakan yatim piatu. Juga mengelola dua sekolah TK di dua desa.
Tentu saja, daya tahan dan daya bangkit setiap orang berbeda-beda. Butuh waktu yang tidak sama untuk pulih dan bisa menikmati kehidupan dengan normal kembali. Tapi setidaknya, pengalaman menunjukkan, keikhlasan dan kesediaan menerima kenyataan akan menolong untuk melewati masa-masa sulit dan memulai hidup baru dengan penuh penghargaan dan penghormatan. Mari menatap masa depan dan membangunnya lebih baik lagi. (en)
Disbudpar Rekrut Putra-Putri Nisel Jadi Duta Wisata
Monday, November 4th, 2013Tidur Juga Berfungsi Sebagai Waktu Untuk ‘Cuci Otak’
Thursday, October 31st, 2013Tolong Bicara Pakai Bahasa Inggris!!
Wednesday, October 30th, 2013Bepergian jauh memang kadang dapat membuat senewen. Belum pernah bepergian sebelumnya ke tempat yang dituju atau penguasaan bahasa yang kurang dapat menjadi kendala dalam bepergian.
Hal yang hampir selalu menarik untuk saya adalah ketika bepergian menggunakan pesawat terbang. Entah kenapa, tapi hampir selalu ada kejadian unik jika saya bepergian lewat jalur udara. Seperti pada tahun 2010 saya dan kakak ke Nias, mesin pesawat sangat berisik. Namun saya baru menyadari hal itu setelah mendarat. Ketika itu suasana mendadak hening. Tiba-tiba saya yang memang sedang asyik mengobrol dengan kakak dengan suara sangat keras, mendadak jadi menurunkan volume suara. Oalah.. ternyata tadi mesin pesawatnya berisik sekali. Tapi saking asyiknya ngobrol jadi tidak terasa.
(more…)
Sekilas Asal Usul Desa Botohilitanö
Tuesday, October 1st, 2013Oleh Frederik C.H. Fau
Pengantar Redaksi: Masing-masing wilayah memiliki sejarah dan keunikannya tersendiri. Berikut sekilas gambaran desa Botohilitanö dan asal-usulnya yang ditulis oleh Frederik C.H. Fau. Tulisan ini bertujuan untuk memperkaya khasanah kita, tidak hanya dari segi kebudayaan atau bahasa Nias, namun juga sejarah wilayah-wilayah di pulau Nias. Redaksi menerima tulisan yang senada dengan tulisan ini. Selamat membaca.
Bila ditinjau dari aspek administrasi dan kepemerintahan, desa Botohilitanö terletak di kecamatan Fanayama (sekarang termasuk wilayah kecamatan Luahagundre Maniamölö) di kabupaten Nias Selatan. Didirikan pada tahun 1757 (± abad 17) oleh leluhur bangsawan/Si’ulu masyarakat adat desa Botohilitanö yang bernama Lafau dengan gelar adat Tuha Owasa dan Tuha Harimao. Leluhur Lafau merupakan anak dari leluhur Faulujitaögö dari desa Hilizondregeasi. (more…)










