Posts Tagged ‘Fokus’

Merindukan Pemimpin Bersih

Saturday, March 28th, 2015

*Mengenang Sepuluh Tahun Bencana Gempa di Nias

Oleh Hekinus Manaö

NO-FokusPada tanggal 28 Maret 2005 saya bersama tim Bappenas dan Kementerian Keuangan dari Indonesia sedang melakukan pembicaraan dengan Bank Dunia di Lantai 8 MC-Building, Kantor Pusat Bank Dunia di H Street, Washington D.C., hanya satu blok dari White House. Menjelang istirahat siang, Vice President of East Asia Pacific dari World Bank tiba-tiba muncul sambil membawa sehelai print-out komputer tentang berita gempa dahsyat yang baru saja beberapa menit lalu melanda pantai Barat dari Pulau Sumatera. Tepatnya gempa bumi itu terjadi pada 28 Maret 2005 jam 23:09 wib, atau jam 12:09 siang waktu Washington D.C. Pusat gempa berada di sekitar Kepulauan Nias, yakni di 2° 04′ 35″ U 97° 00′ 58″ T, 200 km sebelah Barat Sumatera dan 30 km di bawah permukaan Samudera Hindia. Catatan seismik memberikan angka 8,7 Skala Richter, dan getarannya terasa hingga Bangkok. Dengan kekuatan sebesar itu, gempa Nias ini merupakan gempa bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964, dan karenanya disusul dengan peringatan kemungkinan datangnya tsunami, walaupun akhirnya tidak terjadi.

Mendapatkan berita itu tentu saja membuat kami terperanjat, karena rapat kami dengan pihak Bank Dunia siang itu adalah terkait dengan teknik pengelolaan bantuan yang mengalir dari berbagai pihak untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang telah lebih dulu dilanda oleh gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Agenda rapat berkisar tentang kemungkinan pembentukan badan khusus yang menangani bencana Aceh oleh Pemerintah Indonesia melalui suatu Peraturan Pemerintah Pengganti Udang-Undang, pembentukan multi-donor trust fund oleh Bank Dunia untuk menampung dana asisten dari mancanegara, dan pola manajemen keuangan yang fleksibel untuk percepatan penyaluran bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.

Walaupun Kepulauan Nias ikut terkena bencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, dampaknya relatif minor dibandingkan dengan yang dialami oleh Aceh. Karena itu, dengan berita bencana gempa Nias, peserta rapat mulai mengantisipasi perlunya perluasan cakupan manajemen bencana yang meliputi Kepulauan Nias, selain Aceh. Terlebih lagi karena salah satu dari peserta rapat siang itu adalah berasal dari Kepulauan Nias, yaitu saya sendiri.

Betul saja, gempa bumi 8,7 SR tersebut telah meluluhlantakan hampir seluruh kepulauan Nias, termasuk kota Gunung Sitoli dan Teluk Dalam yang merupakan ibukota Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Bencana dahsyat ini telah menelan korban meninggal sekitar 1000 orang dan menelantarkan lebih 70,000 orang karena kehilangan tempat tinggal. Terjadi pula pengungsian besar-besaran sekitar 20 sampai 30 ribu orang ke daratan Sumatera. Infrastruktur jalan dan jembatan serta sejumlah fasilitas umum yang memang sudah lebih dulu dalam kondisi tidak terawat dan sebagian telah hancur, menjadi makin hancur, dan sulit digunakan sehingga mobilisasi bantuan tanggap darurat pun menjadi terhambat.

Dengan kondisi ekonomi yang terbelakang sejak sebelum bencana, kebutuhan pemulihan pembangunan di Nias setelah bencana menjadi makin besar. Perkiraan awal, diperlukan dana sekitar sepuluh triliun Rupiah untuk merehabilitasi infrastruktur dasar, termasuk untuk jalan dan jembatan, air bersih, sarana pendidikan, perkantoran pemerintah, perumahan, dan pelabuhan.

Ketika Perppu Nomor 2 Tahun 2005 diterbitkan pada bulan April 2005, upaya penanggulangan bencana serta pembangunan Nias sempat dimasukkan walaupun data tentang skalanya baru menyusul kemudian. Pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias berdasarkan Perppu tersebut merupakan focal point dari pemulihan wilayah terkait selama 4 (empat) tahun. BRR di bawah kepemimpinan Kuntoro Mangkusubroto membentuk kantor di Gunung Sitoli dan kemudian juga di Teluk Dalam.

Namun kisruh pertama yang dialami ketika BRR memulai tugasnya di Nias adalah ketidakakurasian informasi tentang bencana dan cakupan pemuliah yang dimuat dalam blue print atau Rencana Induk rehabilitasi dan rekonstruksi yang dimuat dalam Peraturan Presiden No. 30 Tahun 2005. Namun hal tersebut perlahan diatasi dengan penyesuaian yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintahan Tahunan serta penerbitan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2008 yang mengesahkan penyesuaian-penyesuaian tersebut.

Kisruh lain terjadi dalam kekacauan koordinasi pelaksanaan kegiatan oleh BRR bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Pemerintah Daerah memandang sebagian dari kegiatan yang dilakukan oleh BRR tidak sinkron dengan tujuan pembangunan daerah. Sementara pihak BRR menyesalkan lambannya pihak Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi peraturan, seperti absennya ketentuan tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah, yang memaksa BRR bekerja dalam koridor ketentuan yang terbatas, sehingga kegiatan dan manfaat hasil pembangunan menjadi tidak optimal. Konflik dalam koordinasi ini tetap berlangsung hingga berakhirnya masa tugas BRR di Nias. Dampaknya, antara lain, fungsionalisasi serta transfer asset dari BRR kepada daerah yang belum tuntas hingga saat ini.

Pembangunan kembali Kepulauan Nias yang berpenduduk hampir 800 ribu dan tersebar sebagian pada wilayah pedalaman dan pulau-pulau kecil yang terisolasi merupakan tantangan besar. Namun selama empat tahu bertugas, BRR telah secara maksimal menjalankan fungsinya. Berdasarkan catatan, statistik kegiatan BRR selama bertugas di Nias dalam tempo empat tahun sampai April 2009, dapat diringkas sebagai berikut.

Komitmen untuk membangun rumah baru sebanyak 22,600 unit hanya berhasil direalisasikan sekitar 15,000 unit. Itupun sebagian tidak pernah dihuni antara lain karena kondisi yang tidak layak atau karena peruntukan yang tidak jelas. Ditarget pula untuk merehabilitasi sekitar 35,000 unit rumah, antara lain dengan menyediakan subsidi tunai. Namun pemberian subsidi rekonstruksi 23,000 unit rumah penduduk gagal direalisasikan karena silang pendapat tentang ketentuan besaran subsidi yang berlaku. Total anggaran yang terserap oleh sektor perumahan dan permukiman mencapai Rp 1,74 triliun, atau sekitar 30,7 persen dari total dana rehabilitasi dan rekonstruksi Nias yang direalisasikan oleh BRR selama empat tahun.

Porsi terbesar dari anggaran yang direalisasikan oleh BRR untuk Nias adalah untuk pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, telekomunikasi, air dan sanitasi. Anggaran yang terserap oleh bidang infrastruktur ini hingga 2009 adalah Rp 2,17 triliun atau 38,3 persen dari seluruh dana serapan BRR di Nias. Dari target rekonstruksi 470 km jalan provinsi, dapat direalisasikan sampai 410 km. Sementara, terhadap target rekonstruksi 800 km jalan kabupaten hanya bisa diwujudkan sekitar 310 km. Berhasil pula diselesaikan pembangunan 42 jembatan dari 84 jembatan yang semula ditargetkan. Kelima pelabuhan laut yang direhabilitasi atau dibangun kembali telah sesuai dengan rencana. Namun dari 2 airstrip yang hendak dibangun, hanya satu yang berhasil selesai hingga dapat dioperasikan. Sementara pembangunan satu airstrip di wilayah Teluk Dalam terbengkalai di tengah jalan. Telah juga diselesaikan normalisasi sejumlah sungai dan pembangunan jaringan irigasi, walaupun hanya mencapai sekitar 60 persen dari target awal.

Perlu juga dicatat keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, kesehatan, dan perkantoran di Nias selama BRR bekerja. Hampir seluruh 760 unit sekolah yang direncanakan berhasil dibangun kembali. Dua buah rumah sakit berhasil dibangun kembali, selain sekitar 50 puskesmas yang diperbaiki atau dibangun baru.

Kegiatan lain yang ditangani selama BRR bertugas adalah pemberian dukungan pada kegiatan ekonomi. Ada sejumlah paket berupa bantuan langsung permodalan, penyediaan fasilitas, dan pemberian latihan. Namun sektor ini hanya sekitar sepuluh persen dari aktivitas BRR ditinjau dari segi anggaran yang direalisasikan.

Terdapat estimasi kebutuhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias pada awalnya hingga Rp 11 triliun. Namun dana yang tersedia tidak mencapai jumlah demikian. Nyatanya menurut data laporan keuangan BRR, total dana yang terealisasikan adalah Rp 5,67 triliun, didapatkan langsung dari APBN sebanyak Rp 3,47 triliun dan disumbang oleh sekitar 80 pendonor sebesar Rp 2,2 triliun.

Pasca pembubaran BRR pada akhir tahun 2009, kegiatan pembangunan dilanjutkan oleh Pemerintah berdasarkan kerangka Rencana Aksi Kesinambungan dan Rekonstruksi di Kepulauan Nias, antara lain dengan tetap memanfaatkan sisa dana BRR dan dana hibah yang disediakan para pendonor. Terdapat tiga kelompok kegiatan yang menjadi tindak lanjut tersebut, yakni melalui Rural Access and Capacity Building Project (RACBP), Nias Livelihood and Economic Development Program (Nias LEDP), dan Nias Island Transition Project (NITP). RACBP dengan anggaran US$ 10 juta ditujukan untuk melanjutkan pembangunan jalan akses ke desa-desa dan rekonstruksi warisan budaya. Sementara LEDP yang didukung dengan Multi Donor Fund (MDF) sebesar US$8,2 juta dimaksudkan untuk meneruskan pengembangan kegiatan usaha dan ekonomi lokal. Kemudian NITP yang juga disokong pendanaannya oleh MDF hingga sebanyak US$3,9 juta difokuskan pada pengembangan kapasitas Pemerintah Daerah untuk mengambil alih tugas-tugas pembangunan dan meneruskan perawatan fasilitas yang telah dibangun.

Seluruh kegiatan yang disokong oleh dana hibah MDF tersebut telah diakhiri pada tutup tahun 2012, sesuai dengan statute yang disepakati sejak awal dengan para pendonor. Seberapa besar kegiatan yang berhasil dilakukan dan berapa dana MDF yang berhasil diserap di bawah koordinasi manajemen kantor Bank Dunia di Jakarta tidak diketahui dengan jelas. Upaya untuk memperoleh laporan akhir melalui media elektronik tidak mudah diperoleh.

Namun harus diakui bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias yang berlangsung mulai sejak bagian akhir 2005 hingga akhir 2012 telah meningkatkan kemampuan Nias sebagai bagian komunitas bangsa. Dewasa ini, Kepulauan Nias tidak lagi hanya terdiri dari dua kabupaten, tetapi telah menjadi empat kabupaten dan satu kota sejak sekitar lima tahun lalu. Bahkan kalau saja RUU Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang diagendakan persetujuannya oleh DPR RI 2009 – 2014 pada bagian akhir tugasnya bulan September 2014 tidak dibatalkan, Kepulauan Nias niscaya telah menjadi povinsi ke-34.

Tetapi, sesungguhnya pergumulan Nias bukan terletak pada peningkatan statusnya menjadi provinsi. Melainkan tantangan yang paling mendasar adalah bagaimana memperoleh kepemimpinan teladan yang sepenuhnya mendedikasikan dirinya bagi kepentingan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri berlangsungnya apatisme dan sinisme masyarakat di seluruh wilayah Nias bahwa Pemerintah Daerah hanya berorientasi untuk memuaskan kepentingan aparatnya, terutama kepentingan pemimpinnya.

Dengan ketentuan pelaksanaan pilkada serentak yang kini berlaku, keempat bupati dan satu walikota di Nias akan dipilih kembali di bulan Desember 2015. Putaran kepemimpinan baru ini merupakan kesempatan yang mencemaskan, karena di satu pihak kekuatan para incumbent tidak bisa dipungkiri. Sementara kerinduan masyarakat untuk memperoleh pemimpin baru yang bersih dan penuh pengabdian sudah sangat memuncak.

*Penulis adalah Mantan pegawai Kementerian Keuangan dan Direktur Eksekutif Bank Dunia  

Pariwisata Nias – Sisi Penting Yang Ter(Di)abaikan

Wednesday, March 18th, 2015

Oleh E. Halawa*

NO-FokusHingar bingar yang menyangkut Pembangunan Pariwisata Nias akhir-akhir ini terkesan makin menghangat kalau tidak bisa dikatakan hampir mencapai titik didih yang – kalau suhunya tidak diturunkan sedikit – akan menguap dan akan tinggal menjadi bagian dari masa lalu, seperti kisah tragis i’ambanua, uro, orö, falagaŵo di Sungai Muzöi – Sungai Yang Hampa dan Merana.

Kita tentu saja patut bergembira karena berbagai pihak menunjukkan kepedulian terhadap Pariwisata Nias, yang – konon – merupakan salah satu pilar utama pembangunan dan kemajuan Nias ke depan.

Akan tetapi makna dari penggalan kalimat terakhir di atas itulah: pariwisata sebagai — pilar pembangunan dan kemajuan Nias — perlu kita fahami secara sungguh-sungguh dan sekali gus membandingkannya dengan berbagai kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan untuk merealisasikannya.

***
Tulisan ini dimaksudkan sebagai semacam sumbangsih dan sekaligus brain storming untuk memancing kontribusi lebih lanjut demi pemahaman yang lebih utuh tentang ‘pariwisata’ dalam kaitannya dengan pembangunan Nias.

***

Sisi Penting yang ter(di)abaikan ?

Mari membayangkan pariwisata Nias akan dikembangkan secara besar-besaran. Dan itu bukan mustahil … kita bahkan sudah sampai pada pemikiran menjadikan Republik Sychelles sebagai ‘templat’ pembangunan pariwisata Nias.

Berbagai seminar tentang pariwisata Nias dan lobi-lobi sana sini telah dilakukan dalam rangka pematangan persiapan pembangunan pariwisata Nias itu.

Maka, tulisan ini mengandaikan berbagai usaha yang telah dan tengah dilakukan selama ini akan membawa kita kepada realisasi rencana pembangunan pariwisata Nias itu.

***

Dari berbagai inisiatif yang kita lihat selama ini, tidak diragukan lagi ke 5 pemda di Nias berpikiran ‘maju’ dan mendukung pengembangan pariwisata Nias. Karena mereka (baca: pemda) tak punya modal dan belum memiliki semacam Badan Usaha Daerah bidang Pariwisata, maka mereka tentu hanya mampu memfasilitasi dalam bentuk memberikan kemudahan-kemudahan …

Maka investor pun masuk …

Dan … bisa jadi, skenario berikut ini yang akan terjadi: pembebasan lahan besar-besaran untuk keperluan pendirian berbagai fasilitas seperti hotel, restoran, jalan-jalan, taman-taman hiburan … dan tentu saja perluasan bandara.

Setelah sekian lama, terealisasilah semua itu …

Kalau akhirnya semua itu  terealisasi, siapa yang tak berbangga ? Nias akhirnya  menjadi daerah pariwisata tersohor, menjadi perhatian dunia. Membanjirlah wisatawan ke sana … singkat kata: luar biasa.

Beberapa tahun kemudian, seorang putra atau putri Nias yang sudah lama di perantauan rindu dan pulang ke sana, menjadi wisatawan.

Sesampainya di sana, kesannya pertama adalah: serba kekaguman.

Namun, beberapa waktu kemudian dia mulai bertanya-tanya pada diri sendiri:

… di mana orang-orang kampung dan rumah-rumah desa yang dulu ?

… di mana petak-petak sawah atau kebun havea yang dulu?

… di mana para pemuda dan pemudi yang dulu memenuhi bangku-bangku Gereja pada hari Minggu?

… ke mana mereka semua?

Penduduk lokal, bagian dari kulitnya ternyata telah melarikan diri – tak mampu bertahan dengan ‘kemajuan’ yang ada di hadapan mereka.

Yang dia temukan kios-kios milik orang dari daerah lain, restoran-restoran dan hotel-hotel entah milik siapa.

Ada juga sebagian warga desa yang dia kenal yang masih bertahan: menjadi penjaga toko, pelayan restoran, tukang semir sepatu, dan anggota kelompok kesenian desa yang setiap saat siap menghibur tamu-tamu wisata dan para pejabat dengan pertunjukan budaya sambil memakai pakaian tradisonal Nias. Mereka molau maena, fatele, fahombo batu, manari moyo dst. Mereka melakukan semua ini dengan kebanggaan dan dibayar sangat rendah entah dari sisa-sisa dana mana.

Yang tak mampu bertahan dengan dahsyatnya pembangunan pariwisata justru makin menjauh dan terisolasi, atau ikut bergabung dengan saudara-saudaranya di Sumatera, bekerja manga gazi di berbagai pabrik demi mempertahankan hidup.

Kalau seperti ini yang akhirnya terwujud lewat pembangunan pariwisata Nias yang sedang diwacanakan ini … sebaiknya tidak disebut pembangunan pariwisata Nias … sebaiknya dicari nama atau slogan lain yang lebih pas.

Masih banyak waktu untuk berefleksi untuk mendefinisikan pembangunan pariwisata Nias, sebelum mengambil keputusan yang dampaknya akan dirasakan oleh generasi-generasi mendatang.

*Tulisan ini merupakan olahan dari komentar penulis terhadap sebuah tulisan dalam Komunitas Sadar Wisata Nias (KOSWIN), 24 Agustus 2013.

Viagra, Jam Tangan Rolex, Makian … Spam itu.

Monday, December 15th, 2008

Setiap webmaster selalu saja dihantui oleh ruang terbuka (seperti ruang komentar, forum diskusi dan sebagianya) yang dapat diisi oleh setiap orang atau ‘siluman’ yang “tidak bertanggung jawab”. Tiap hari, Situs ini kedatangan beragam tamu aneh yang bermaksud ikut meramaikan ‘dunia diskusi’ Nias Online, yang dalam bentuknya yang sekarang tersedia di bawah setiap artikel, berita atau halaman-halaman tertentu. (more…)

Nias Online Dalam Angka

Wednesday, December 3rd, 2008

Berdasarkan data statistik internal yang diolah pada tanggal 29 September 2008, angka-angka berikut dapat dikemukakan: (more…)

Kebenaran Visual Pembangunan Nias

Monday, March 31st, 2008

*Mengenang Tiga Tahun Gempa Nias

E. Halawa*

Tiga tahun pasca gempa, Nias bukan hanya pulih dari dampak bencana tetapi telah mencapai kemajuan yang bahkan melebihi banyak kabupaten dan kota lain di Sumatera Utara. … TB Silalahi, Anggota Dewan Pengawas BRR NAD-Nias (Sumber: Waspada Online, 28 Maret 2008) (more…)

Mengapa Kita Menyoroti Terus ?

Tuesday, November 13th, 2007

Minggu-minggu terakhir ini, Situs Yaahowu diramaikan oleh berbagai komentar sehubungan dengan tulisan Prof. Ingo Kennerknecht dan P. Johannes Hammerle tentang hasil-hasil penelitian pendahuluan mereka tentang asal-usul orang Nias menggunakan teknologi DNA/genetika. (more…)

Modo Mbawara

Tuesday, April 10th, 2007

Dari perbincangan dengan sumber Yaahowu di Gunungsitoli, Nias, Minggu sore (9 April 2007), Redaksi mendapat “kabar gembira” bahwa sekarang kehidupan sebagian masyarakat Nias sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan saat-saat awal bencana gempa tahun 2005. Projek-projek BRR sedikit banyaknya membawa lapangan kerja baru bagi sebagian masyarakat Nias. (more…)

“Nias” di Dunia Maya

Sunday, October 22nd, 2006

Nias, nama yang populer bagi Tanö Niha, ternyata sungguh-sungguh populer. Kalau Anda berselancar di dunia maya (internet) anda akan melihat cukup banyak organisasi yang berakronim NIAS. Adakah mereka secara sengaja mengambil “Nias” sebagai nama organisasi mereka ? Kenalkah mereka dengan Pulau Nias (Tanö Niha) ? Kita kurang tahu pasti. Yang jelas, dalam dunia internet, “nama” merupakan kunci kepopulean sebuah situs. (more…)