Posts Tagged ‘Gempa Nias’

Merindukan Pemimpin Bersih

Saturday, March 28th, 2015

*Mengenang Sepuluh Tahun Bencana Gempa di Nias

Oleh Hekinus Manaö

NO-FokusPada tanggal 28 Maret 2005 saya bersama tim Bappenas dan Kementerian Keuangan dari Indonesia sedang melakukan pembicaraan dengan Bank Dunia di Lantai 8 MC-Building, Kantor Pusat Bank Dunia di H Street, Washington D.C., hanya satu blok dari White House. Menjelang istirahat siang, Vice President of East Asia Pacific dari World Bank tiba-tiba muncul sambil membawa sehelai print-out komputer tentang berita gempa dahsyat yang baru saja beberapa menit lalu melanda pantai Barat dari Pulau Sumatera. Tepatnya gempa bumi itu terjadi pada 28 Maret 2005 jam 23:09 wib, atau jam 12:09 siang waktu Washington D.C. Pusat gempa berada di sekitar Kepulauan Nias, yakni di 2° 04′ 35″ U 97° 00′ 58″ T, 200 km sebelah Barat Sumatera dan 30 km di bawah permukaan Samudera Hindia. Catatan seismik memberikan angka 8,7 Skala Richter, dan getarannya terasa hingga Bangkok. Dengan kekuatan sebesar itu, gempa Nias ini merupakan gempa bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964, dan karenanya disusul dengan peringatan kemungkinan datangnya tsunami, walaupun akhirnya tidak terjadi.

Mendapatkan berita itu tentu saja membuat kami terperanjat, karena rapat kami dengan pihak Bank Dunia siang itu adalah terkait dengan teknik pengelolaan bantuan yang mengalir dari berbagai pihak untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang telah lebih dulu dilanda oleh gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Agenda rapat berkisar tentang kemungkinan pembentukan badan khusus yang menangani bencana Aceh oleh Pemerintah Indonesia melalui suatu Peraturan Pemerintah Pengganti Udang-Undang, pembentukan multi-donor trust fund oleh Bank Dunia untuk menampung dana asisten dari mancanegara, dan pola manajemen keuangan yang fleksibel untuk percepatan penyaluran bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.

Walaupun Kepulauan Nias ikut terkena bencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, dampaknya relatif minor dibandingkan dengan yang dialami oleh Aceh. Karena itu, dengan berita bencana gempa Nias, peserta rapat mulai mengantisipasi perlunya perluasan cakupan manajemen bencana yang meliputi Kepulauan Nias, selain Aceh. Terlebih lagi karena salah satu dari peserta rapat siang itu adalah berasal dari Kepulauan Nias, yaitu saya sendiri.

Betul saja, gempa bumi 8,7 SR tersebut telah meluluhlantakan hampir seluruh kepulauan Nias, termasuk kota Gunung Sitoli dan Teluk Dalam yang merupakan ibukota Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Bencana dahsyat ini telah menelan korban meninggal sekitar 1000 orang dan menelantarkan lebih 70,000 orang karena kehilangan tempat tinggal. Terjadi pula pengungsian besar-besaran sekitar 20 sampai 30 ribu orang ke daratan Sumatera. Infrastruktur jalan dan jembatan serta sejumlah fasilitas umum yang memang sudah lebih dulu dalam kondisi tidak terawat dan sebagian telah hancur, menjadi makin hancur, dan sulit digunakan sehingga mobilisasi bantuan tanggap darurat pun menjadi terhambat.

Dengan kondisi ekonomi yang terbelakang sejak sebelum bencana, kebutuhan pemulihan pembangunan di Nias setelah bencana menjadi makin besar. Perkiraan awal, diperlukan dana sekitar sepuluh triliun Rupiah untuk merehabilitasi infrastruktur dasar, termasuk untuk jalan dan jembatan, air bersih, sarana pendidikan, perkantoran pemerintah, perumahan, dan pelabuhan.

Ketika Perppu Nomor 2 Tahun 2005 diterbitkan pada bulan April 2005, upaya penanggulangan bencana serta pembangunan Nias sempat dimasukkan walaupun data tentang skalanya baru menyusul kemudian. Pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias berdasarkan Perppu tersebut merupakan focal point dari pemulihan wilayah terkait selama 4 (empat) tahun. BRR di bawah kepemimpinan Kuntoro Mangkusubroto membentuk kantor di Gunung Sitoli dan kemudian juga di Teluk Dalam.

Namun kisruh pertama yang dialami ketika BRR memulai tugasnya di Nias adalah ketidakakurasian informasi tentang bencana dan cakupan pemuliah yang dimuat dalam blue print atau Rencana Induk rehabilitasi dan rekonstruksi yang dimuat dalam Peraturan Presiden No. 30 Tahun 2005. Namun hal tersebut perlahan diatasi dengan penyesuaian yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintahan Tahunan serta penerbitan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2008 yang mengesahkan penyesuaian-penyesuaian tersebut.

Kisruh lain terjadi dalam kekacauan koordinasi pelaksanaan kegiatan oleh BRR bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Pemerintah Daerah memandang sebagian dari kegiatan yang dilakukan oleh BRR tidak sinkron dengan tujuan pembangunan daerah. Sementara pihak BRR menyesalkan lambannya pihak Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi peraturan, seperti absennya ketentuan tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah, yang memaksa BRR bekerja dalam koridor ketentuan yang terbatas, sehingga kegiatan dan manfaat hasil pembangunan menjadi tidak optimal. Konflik dalam koordinasi ini tetap berlangsung hingga berakhirnya masa tugas BRR di Nias. Dampaknya, antara lain, fungsionalisasi serta transfer asset dari BRR kepada daerah yang belum tuntas hingga saat ini.

Pembangunan kembali Kepulauan Nias yang berpenduduk hampir 800 ribu dan tersebar sebagian pada wilayah pedalaman dan pulau-pulau kecil yang terisolasi merupakan tantangan besar. Namun selama empat tahu bertugas, BRR telah secara maksimal menjalankan fungsinya. Berdasarkan catatan, statistik kegiatan BRR selama bertugas di Nias dalam tempo empat tahun sampai April 2009, dapat diringkas sebagai berikut.

Komitmen untuk membangun rumah baru sebanyak 22,600 unit hanya berhasil direalisasikan sekitar 15,000 unit. Itupun sebagian tidak pernah dihuni antara lain karena kondisi yang tidak layak atau karena peruntukan yang tidak jelas. Ditarget pula untuk merehabilitasi sekitar 35,000 unit rumah, antara lain dengan menyediakan subsidi tunai. Namun pemberian subsidi rekonstruksi 23,000 unit rumah penduduk gagal direalisasikan karena silang pendapat tentang ketentuan besaran subsidi yang berlaku. Total anggaran yang terserap oleh sektor perumahan dan permukiman mencapai Rp 1,74 triliun, atau sekitar 30,7 persen dari total dana rehabilitasi dan rekonstruksi Nias yang direalisasikan oleh BRR selama empat tahun.

Porsi terbesar dari anggaran yang direalisasikan oleh BRR untuk Nias adalah untuk pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, telekomunikasi, air dan sanitasi. Anggaran yang terserap oleh bidang infrastruktur ini hingga 2009 adalah Rp 2,17 triliun atau 38,3 persen dari seluruh dana serapan BRR di Nias. Dari target rekonstruksi 470 km jalan provinsi, dapat direalisasikan sampai 410 km. Sementara, terhadap target rekonstruksi 800 km jalan kabupaten hanya bisa diwujudkan sekitar 310 km. Berhasil pula diselesaikan pembangunan 42 jembatan dari 84 jembatan yang semula ditargetkan. Kelima pelabuhan laut yang direhabilitasi atau dibangun kembali telah sesuai dengan rencana. Namun dari 2 airstrip yang hendak dibangun, hanya satu yang berhasil selesai hingga dapat dioperasikan. Sementara pembangunan satu airstrip di wilayah Teluk Dalam terbengkalai di tengah jalan. Telah juga diselesaikan normalisasi sejumlah sungai dan pembangunan jaringan irigasi, walaupun hanya mencapai sekitar 60 persen dari target awal.

Perlu juga dicatat keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, kesehatan, dan perkantoran di Nias selama BRR bekerja. Hampir seluruh 760 unit sekolah yang direncanakan berhasil dibangun kembali. Dua buah rumah sakit berhasil dibangun kembali, selain sekitar 50 puskesmas yang diperbaiki atau dibangun baru.

Kegiatan lain yang ditangani selama BRR bertugas adalah pemberian dukungan pada kegiatan ekonomi. Ada sejumlah paket berupa bantuan langsung permodalan, penyediaan fasilitas, dan pemberian latihan. Namun sektor ini hanya sekitar sepuluh persen dari aktivitas BRR ditinjau dari segi anggaran yang direalisasikan.

Terdapat estimasi kebutuhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias pada awalnya hingga Rp 11 triliun. Namun dana yang tersedia tidak mencapai jumlah demikian. Nyatanya menurut data laporan keuangan BRR, total dana yang terealisasikan adalah Rp 5,67 triliun, didapatkan langsung dari APBN sebanyak Rp 3,47 triliun dan disumbang oleh sekitar 80 pendonor sebesar Rp 2,2 triliun.

Pasca pembubaran BRR pada akhir tahun 2009, kegiatan pembangunan dilanjutkan oleh Pemerintah berdasarkan kerangka Rencana Aksi Kesinambungan dan Rekonstruksi di Kepulauan Nias, antara lain dengan tetap memanfaatkan sisa dana BRR dan dana hibah yang disediakan para pendonor. Terdapat tiga kelompok kegiatan yang menjadi tindak lanjut tersebut, yakni melalui Rural Access and Capacity Building Project (RACBP), Nias Livelihood and Economic Development Program (Nias LEDP), dan Nias Island Transition Project (NITP). RACBP dengan anggaran US$ 10 juta ditujukan untuk melanjutkan pembangunan jalan akses ke desa-desa dan rekonstruksi warisan budaya. Sementara LEDP yang didukung dengan Multi Donor Fund (MDF) sebesar US$8,2 juta dimaksudkan untuk meneruskan pengembangan kegiatan usaha dan ekonomi lokal. Kemudian NITP yang juga disokong pendanaannya oleh MDF hingga sebanyak US$3,9 juta difokuskan pada pengembangan kapasitas Pemerintah Daerah untuk mengambil alih tugas-tugas pembangunan dan meneruskan perawatan fasilitas yang telah dibangun.

Seluruh kegiatan yang disokong oleh dana hibah MDF tersebut telah diakhiri pada tutup tahun 2012, sesuai dengan statute yang disepakati sejak awal dengan para pendonor. Seberapa besar kegiatan yang berhasil dilakukan dan berapa dana MDF yang berhasil diserap di bawah koordinasi manajemen kantor Bank Dunia di Jakarta tidak diketahui dengan jelas. Upaya untuk memperoleh laporan akhir melalui media elektronik tidak mudah diperoleh.

Namun harus diakui bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias yang berlangsung mulai sejak bagian akhir 2005 hingga akhir 2012 telah meningkatkan kemampuan Nias sebagai bagian komunitas bangsa. Dewasa ini, Kepulauan Nias tidak lagi hanya terdiri dari dua kabupaten, tetapi telah menjadi empat kabupaten dan satu kota sejak sekitar lima tahun lalu. Bahkan kalau saja RUU Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang diagendakan persetujuannya oleh DPR RI 2009 – 2014 pada bagian akhir tugasnya bulan September 2014 tidak dibatalkan, Kepulauan Nias niscaya telah menjadi povinsi ke-34.

Tetapi, sesungguhnya pergumulan Nias bukan terletak pada peningkatan statusnya menjadi provinsi. Melainkan tantangan yang paling mendasar adalah bagaimana memperoleh kepemimpinan teladan yang sepenuhnya mendedikasikan dirinya bagi kepentingan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri berlangsungnya apatisme dan sinisme masyarakat di seluruh wilayah Nias bahwa Pemerintah Daerah hanya berorientasi untuk memuaskan kepentingan aparatnya, terutama kepentingan pemimpinnya.

Dengan ketentuan pelaksanaan pilkada serentak yang kini berlaku, keempat bupati dan satu walikota di Nias akan dipilih kembali di bulan Desember 2015. Putaran kepemimpinan baru ini merupakan kesempatan yang mencemaskan, karena di satu pihak kekuatan para incumbent tidak bisa dipungkiri. Sementara kerinduan masyarakat untuk memperoleh pemimpin baru yang bersih dan penuh pengabdian sudah sangat memuncak.

*Penulis adalah Mantan pegawai Kementerian Keuangan dan Direktur Eksekutif Bank Dunia  

Gempa 5,5 SR Guncang Nias Selatan

Sunday, April 20th, 2014

NIASONLINE, JAKARTA – Gempa bumi berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Kabupaten Nias Selatan (Nisel), Sumatera Utara (Sumut) pada sore hari tadi. (more…)

Pulau Nias Diguncang Gempa Beruntun

Sunday, February 23rd, 2014

Lokasi Gempa | BMKG

Lokasi Gempa | BMKG

NIASONLINE, JAKARTA – Sejak dinihari tadi, Pulau Nias diguncang setidaknya tiga kali gempa bumi. Meski kekuatannya di bawah 5 SR, namun guncangan yang ditimbulkannya sangat terasa dan sempat menyebabkan kepanikan. (more…)

Aceh Didera Gempa Lagi, 22 Meninggal Dunia

Wednesday, July 3rd, 2013

Peta Lokasi Gempa | IST

Peta Lokasi Gempa | IST

NIASONLINE, JAKARTA – Gempa yang kembali mendera wilayah Aceh sejak kemarin telah merenggut sebanyak 22 korban jiwa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (3/7/2013) mengatakan, selain korban jiwa tersebut, sebanyak 210 orang luka-luka dan ribuan bangunan dan rumah rusak.

Dua wilayah dengan korban jiwa tersebut, seperti dijelaskan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, berada di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Berdasarkan laporan dari BPBA Aceh Tengah, di wilayah itu 10 orang meninggal, 140 orang luka-luka dan sekitar 1.500 unit bangunan mengalami kerusakan. Juga terjadi kerusakan ruas jalan berupa longsor. Warga yang mengungsi tersebar di 10 titik.

Sedangkan di Kabupaten Bener Meriah dikabarkan 12 orang meninggal, 70 orang di rawat di RSUD Bener Meriah dan puskesmas. Sedangkan jumlah bangunan rusak masih dalam pendataan.

Presiden SBY telah memerintahkan BNPB untuk bergerak cepat untuk melakukan penyelamatan. Tindakan penyelamatan dilakukan bersama tim dari dari berbagai lembaga di antaranya, SRC PB, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan dan Kementerian PU.

Tak hanya itu, atas instruksi presiden, satu unit helikopter Collibri milik TNI AU yang digunakan untuk membantu pemadaman kebakaran di Pekanbaru dialihkan ke Aceh. Heli itu difokuskan membantu penangangan korban gempa khususnya di perbatasan Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Selain itu, satu uni CN 235 TNI AU juga diberangkatkan untuk melakukan foto udara dan kaji cepat dampak kerusakan gempa.

Gempa pertama terjadi pada sekitar pukul 14.00 wib pada Selasa (2/7/2013) dengan skala 6,2 SR. Kemudian, sekitar pukul 20.55 Wib terjadi gempa susulan berkekuatan 5,5 SR. Pusat gempa pada titik koordinat 4,7 Lintang Utara dan 96,69 Bujur Timur atau 27km baratdaya Kabupaten Bener Meriah. (EN)

Hidup Tegar & Arif Sebagai Warga Daerah Rawan Bencana

Wednesday, March 28th, 2012

Kepulauan Nias bersama daerah lainnya dalam jalur bencana yang sama (Foto: http://gempapadang.wordpress.com)

Oleh Etis Nehe

Beberapa saat lagi, ‘ulangtahun’ gempa dahsyat yang mendera Kepulauan Nias dan rakyatnya akan diperingati. Gempa yang terjadi sekitar pukul 23.30 Wib tersebut datang dalam kekuatan dahsyat, 8,7 skala Richter (SR). Hanya berselang empat bulan setelah ikut menderita karena gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 berkekuatan 9,3 SR. (more…)

Isu Gempa Besar Resahkan Warga Nias Selatan

Friday, November 5th, 2010

JAKARTA (Nias Online) – Beberapa hari terakhir, di Nias Selatan beredar informasi mengenai prediksi akan terjadinya gempa besar melanda Pulau Nias. Informasi itu menyebutkan, akan terjadi gempa besar antara 10-20 November 2010, sebagai kelanjutan gempa yang melanda Kepulauan Mentawai pada 26 Oktober 2010 lalu.

Sejumlah informasi yang dihimpun Nias Online dari warga Nias Selatan membenarkan beredarnya informasi itu. Bukan hanya di antara warga ibukota Kabupaten Nisel tersebut, tapi juga sampai ke kampung-kampung. “Tidak tahu darimana info itu pertama sekali. Tapi memang sudah tersebar dan banyak yang resah,” ujar Patriot Zagötö, salah satu warga.

Ditanya mengenai tanda-tanda adanya warga yang mengungsi meninggalkan Teluk Dalam, kata Patriot, sampai saat ini belum terlihat. Sebelumnya, Nias Online mendapatkan informasi juga mengenai adanya sejumlah warga yang mulai meninggalkan kota itu. Patriot menambahkan, semalam sejumlah pejabat Pemda melakukan rapat membahas masalah terkait informasi yang beredar itu.

Ketika Nias Online mengkonfirmasi hal itu, salah satu tokoh masyarakat di Teluk Dalam, Pdt Foluaha Bidaya membenarkannya. Dia menjelaskan, informasi itu diperoleh masyarakat dari berita di televisi dan juga media cetak yang memberitakan mengenai prediksi sejumlah pakar bahwa gempa akan terjadi pada rentang waktu tersebut.

Meski begitu, Foluaha membantah telah terjadinya pergerakan warga Teluk Dalam yang meninggalkan kota itu untuk menghindar. Justru menurut dia, yang paling resah akibat informasi itu adalah warga di Kepulauan Tello. “Mereka lebih resah di banding di Teluk Dalam. Kalau pun ada yang mengungsi, itu cuma satu dua orang. Itu informasi yang saya dapat dari camat di sana. Saya pikir, BMKG perlu memberi penjelasan agar masyarakat tidak resah,” kata dia.

Isu Tidak Berdasar

Di hubungi terpisah, kepada Nias Online, Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Prih Harjadi mengatakan prediksi itu sebagai isu tidak berdasar. Menurut dia, institusi-institusi resmi seperti BMKG dan LIPI tidak pernah mengeluarkan prediksi dengan menyebut tanggal seperti itu. “Itu isu tidak berdasar. Kami pastikan info yang beredar itu tidak benar. Sebab, gempa belum pernah bisa diprediksi. Jadi tidak usah ditanggapi. Jangan disebarluaskan. Kalau disebarluaskan, ya, sebarluaskan bahwa isu itu tidak benar,” kata dia.

Dia menjelaskan, penyebutan tanggal dalam prediksi tersebut justru makin menegaskan ketidakbenaran informasi itu. Teknologi yang dimiliki saat ini, baik di Indonesia mau pun di negara dengan teknologi lebih maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, belum bisa memrediksi tanggal akan terjadinya gempa.

Dia mengingatkan, bukan hanya wilayah Kepulauan Nias, tapi sebagian besar wilayah Indonesia adalah daerah rawan gempa. Karena itu, seluruh masyarakat harus selalu waspada dan tahu apa yang harus dilakukan bila gempa itu terjadi.

Adapun mengenai prediksi potensi gempa oleh para pakar dari luar negeri yang sering jadi referensi isu tersebut, kata dia, bukan hal baru. Sebab, semua sudah tahu, mulai dari wilayah Sumatera, terutama di daerah-daerah pesisir terluar seperti Simeulue, Nias, Mentawai hingga ke selatan Jawa merupakan daerah yang potensial terjadi gempa setiap saat.

Sebagai contoh, pada 2004 gempa yang memicu tsunami terjadi di Aceh. Pada 2005 di Nias, 2007 di Bengkulu, 2009 di Padang, dan 2010 di Mentawai. Dari berbagai perhitungan para pakar, di sekitar Mentawai itu memang ada energi yang belum di lepas dalam bentuk gempa. Pelepasan energi itu, bisa dalam hitungan tahun, puluhan tahun atau pun hitungan bulan. “Jadi, apakah dari perhitungan ahli dari Inggris itu, dari Amerika Serikat, Jepang atau pun perhitungan BMKG, semua tahu bahwa pasti di situ akan gempa. Tapi kapan waktunya, kita tidak tahu. Jadi kita minta masyarakat antisipasi dan paham masalah itu,” tukas dia.

Mengenai kekuatiran sejumlah pihak bahwa setelah gempa Mentawai ini, akan menyusul terjadinya gempa di Pulau Nias, Prih mengatakan sejauh ini justru yang dicurigai justru daerah Mentawai. Sebab, bila melihat pada rangkaian kejadian gempa, di wilayah Pulau Nias, sudah ada energi yang telah dilepaskan pada 2005 dengan magnitude yang sangat besar. (Etis Nehe)

Anak Korban Gempa Nias di Panti Asuhan Kesulitan Makan

Thursday, April 15th, 2010

Medan – Lions Club (LC)Medan Mulia Distict 307-A menyerahkan bantuan paket sembako ke Panti Asuhan Yayasan Kasih Indonesia di Jalan Danau Ranau Sambu Baru Medan, Sabtu (10/4). Bantuan yang disumbangkan berupa beras, minyak goreng, mie instan, telur, ikan asin, ikan kaleng, dan sabun.

Bantuan dimaksudkan untuk menindaklanuti laporan dari salahseorang pengurus Lions Club yang melaporkan kondisi Panti Asuhan Yayasan kasih Indonesia yang tengah kesulitan keuangan untuk membiayai keperluan dapur dan untuk sekolah anak-anak asuh mereka. Para pengurus Lions Club Medan Mulia District 307-A secara langsung menyerahkan bantuan kepada Pimpinan Panti Asuhan Yayasan Kasih Indonesia Jhonny S.Zebua Dipl.Th.

“Kami berharap bantuan yang didapat dari penggalangan dana sesama pengurus Lions Club Medan Mulia District 307-A dan dukungan sponsor akan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya” ujar Charter President Lions Club Medan Mulia 307-A, Janlie SE, Ak didampingi sejumlah Vice President William Hesli, Han Kok, dan Sari Gustini.

Pengurus

Dari pengurus Lions Club Medan Mulia Distict-307A yang juga hadir pada acara penyerahan bantuan ke Panti Asuhan Yayasan Kasih Indonesia yakni Committee Membershib, Ratna, Director I Darma Saleh, Direktur II Herwan, dan Anggota masing-masing Yenny Angkasa, Gek Loui, dan Juandi Halim. Penyerahan bantuan juga ditandai acara hiburan yang dibawakan anak-anak asuh Panti Asuhan Yayasan Kasih Indonesia.

“Kami saat ini memang sangat kesulitan untuk pengadaan biaya konsumsi bagi anak-anak. Tercatat saat ini terdapat 7 tenaga asuh dengan jumlah anak asuh mencapai 88 anak asuh yang keseluruhan merupakan yatim-piatu dari korban Gempa Nias 2005 lalu. Semua anak mulai tingkat TK hingga SD hingga kini masih bersekolah,” jelas Ketua Yayasan kasih Indonesia Jhonny S Zebua Dipl.Th.

(analisa, bohicittamandala)

DCT Kerjasama UNDP dan Pemerintah RI Laksanakan Program Monitoring di Nias Utara

Thursday, April 15th, 2010

Gunung Sitoli – Distric Coordination Team (DCT), yaitu suatu Tim Koordinasi Pelaksanaan Program di tingkat kabupaten merupakan Penguatan Kapasitas dan Peran Organisasi Masyarakat Sipil di Nias kerjasama UNDP (Badan PBB untuk Program Pembangunan) dan Pemerintah Republik Indonesia, menetapkan Desa Lasara Sawo sebagai salah satu lokasi program monitoring yang mewakili Nias bagian Utara sebelah pesisir 5 tahun paska gempa tektonik di wiliayah itu.

Basis pelaksanaan program monitoring ini ada pada masyarakat, artinya kegiatan monitoring atau pemantauan terhadap program rehabilitasi dan rekonstruksi baik yang sudah selesai maupun yang sedang dalam proses pelaksanaan dilaksanakan masyarakat itu sendiri.

Masyarakat dipandang sebagai pihak yang paling tepat memberikan evaluasi dari berbagai proses bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi yang mereka alami, rasakan dan terlibat sebagai pelaku di Nias. Dengan demikian diharapkan akan diperoleh informasi yang akurat dan proporsional tentang dampak yang dirasakan oleh masyarakat selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias.

Dari proposal yang diajukan beberapa kelompok-kelompok masyarakat di desa Lasara Sawo, terpilihlah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Samaeri sebagai pelaksana program di desa Lasara Sawo. KSM. Samaeri merupakan salah satu dari sejumlah kelompok tani di desa Lasara Sawo, yang secara khusus bergerak dalam pengembangan bibit karet okulasi.

KSM ini diketuai Agustinus Telaumbanua dengan 13 anggota kelompok. Dukungan pendanaan program berasal dari UNDP, yang kemudian bekerjasama dengan lembaga Perhimpunan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat (PPKM) atau Association for Community Empowerment (ACE) sebagai yang bertanggungjawab melaksanakan program. Khusus di wilayah Nias, Perdhaki sebagai anggota konsorsium dari PPKM mengambil bagian untuk mefasilitasi pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Hasil monitoring yang berhasil di himpun menurut Ketua KSM Samaeri, Agustinus Telaumbanua mengatakan di Nias Utara, Jumat (9/4) program bantuan pembangunan yang masuk di Desa Lasara Sawo selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi ada yang dalam bentuk fisik dan ada juga yang non-fisik berupa kegiatan penyuluhan dan pemberian bantuan untuk kegiatan produksi peternakan dan pertanian.

Dirangkum

Sejumlah program tersebut telah dirangkum dari berbagai donor yakni Saluran irigasi sawah dari BRR 1 unit, Peningkatan produktifatas pertanian dari UNDP 277 kk, Rumah penduduk BRR 33 kk, Bantuan rumah ibadah BRR 2 unit, Bantuan bibit ternak babi BRR 2 kk, Sanitasi air bersih PMI 135 kk, Gedung sekolah SDN 071026 KRRP-R2PN 1 unit, Bantuan bibit tanaman karet okulasi BRR 13 orang, Pelatihan pengembangan bibit ICRAF 15 org, Pemberian bibit tanaman FAO 138 kk, Pemberian bantuan dana prog KJA ADB 19 orang, Program Bantuan Sosial Perbaikan Rumah (BSPR) BRR 2,5 juta per unit.

Dari monitoring sejumlah program rehabilitasi dan rekonstruksi yang masuk di desa Lasara Sawo, ada beberapa temuan yang dampaknya berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat di desa, yaitu peralatan pertanian yang diberikan sangat membantu para petani, namun tidak dapat dinikmati oleh sebagain besar Petani, oleh karena; jumlahnya terbatas, dimanfaatkan hanya oleh kelompok tertentu saja, Komite Desa yang dibentuk untuk mengelola pemilikan, pemanfaatan, dan pemeliharaan tidak berfungsi secara efektif.

Selama ini persawahan Torowa merupakan sektor ekonomi vital bagi masyarakat desa Lasara Sawo dan 6 desa tetangga yang penggarap sawah. Tetapi dengan proyek rehabilitasi saluran irigasi persawahan Torowa oleh BRR yang terbengkalai, tidak sesuai dengan yang direncanakan, dan kualitas bangunan tidak kuat mengakibatkan areal bagian bawah tidak mendapat pasokan air sehingga menjadi lahan kering dan sekarang beralih fungsi terdapat 3 lokasi di areal tengah rusak berat oleh hantaman banjir, karena saluran irigasi tidak selesai dan distribusi air tidak terkendali.

Juga pengaliran air dari bendungan induk tidak optimal karena konstruksi saluran yang jauh lebih dalam dari permukaan areal persawahan dan kondisi bangunan saluran irigasi yang sebagian sudah roboh menimbul bandar saluran. Malah akibat dari pelaksanaan proyek ini produktifitas persawahan Torowa turun hingga 50 persen dari produksi sebelumnya.

Hal lain bagi warga yang rumahnya termasuk kategori rusak ringan dan rusak berat yang sudah didata dan dikirim ke tingkat kabupaten serta BRR pada waktu pendataan pasca bencana, masih belum mendapat kejelasan apakah termasuk dan mendapat alokasi sebegai penerima manfaat program BSPR di desa Lasara Sawo Kecamatan. Sawo.

Belum Ada Perubahan

Berdasarkan hasil wawancara kepada 60 orang responden masyarakat Desa Lasara Sawo dengan menggunakan instrumen survey yang disiapkan lembaga PPKM, untuk mengetahui seberapa dampak program yang dirasakan masyarakat diketahui hasil sebagai berikut penerima manfaat program rehab-rekon di desa Lasara Sawo, sekitar 40 persen di antaranya menyatakan belum ada dampak perubahan (kondisi tetap saja) selama program rehap-rekon di desa Lasara Sawo. Namun di sisi lain 50 persen lebih menyatakan ada perubahan peningkatan dari ke sepuluh aspek yang ditanyakan.

(analisa)