Archive for the ‘Gempa – Tsunami’ Category

Aceh Didera Gempa Lagi, 22 Meninggal Dunia

Wednesday, July 3rd, 2013

Peta Lokasi Gempa | IST

Peta Lokasi Gempa | IST

NIASONLINE, JAKARTA – Gempa yang kembali mendera wilayah Aceh sejak kemarin telah merenggut sebanyak 22 korban jiwa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (3/7/2013) mengatakan, selain korban jiwa tersebut, sebanyak 210 orang luka-luka dan ribuan bangunan dan rumah rusak.

Dua wilayah dengan korban jiwa tersebut, seperti dijelaskan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, berada di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Berdasarkan laporan dari BPBA Aceh Tengah, di wilayah itu 10 orang meninggal, 140 orang luka-luka dan sekitar 1.500 unit bangunan mengalami kerusakan. Juga terjadi kerusakan ruas jalan berupa longsor. Warga yang mengungsi tersebar di 10 titik.

Sedangkan di Kabupaten Bener Meriah dikabarkan 12 orang meninggal, 70 orang di rawat di RSUD Bener Meriah dan puskesmas. Sedangkan jumlah bangunan rusak masih dalam pendataan.

Presiden SBY telah memerintahkan BNPB untuk bergerak cepat untuk melakukan penyelamatan. Tindakan penyelamatan dilakukan bersama tim dari dari berbagai lembaga di antaranya, SRC PB, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan dan Kementerian PU.

Tak hanya itu, atas instruksi presiden, satu unit helikopter Collibri milik TNI AU yang digunakan untuk membantu pemadaman kebakaran di Pekanbaru dialihkan ke Aceh. Heli itu difokuskan membantu penangangan korban gempa khususnya di perbatasan Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Selain itu, satu uni CN 235 TNI AU juga diberangkatkan untuk melakukan foto udara dan kaji cepat dampak kerusakan gempa.

Gempa pertama terjadi pada sekitar pukul 14.00 wib pada Selasa (2/7/2013) dengan skala 6,2 SR. Kemudian, sekitar pukul 20.55 Wib terjadi gempa susulan berkekuatan 5,5 SR. Pusat gempa pada titik koordinat 4,7 Lintang Utara dan 96,69 Bujur Timur atau 27km baratdaya Kabupaten Bener Meriah. (EN)

Hidup Tegar & Arif Sebagai Warga Daerah Rawan Bencana

Wednesday, March 28th, 2012

Kepulauan Nias bersama daerah lainnya dalam jalur bencana yang sama (Foto: http://gempapadang.wordpress.com)

Oleh Etis Nehe

Beberapa saat lagi, ‘ulangtahun’ gempa dahsyat yang mendera Kepulauan Nias dan rakyatnya akan diperingati. Gempa yang terjadi sekitar pukul 23.30 Wib tersebut datang dalam kekuatan dahsyat, 8,7 skala Richter (SR). Hanya berselang empat bulan setelah ikut menderita karena gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 berkekuatan 9,3 SR. (more…)

Ahli Geologi ITM, Ir Lisnawaty, MT: Sumut Terancam Gempa Besar

Thursday, November 18th, 2010

Ahli Geologi Institut Teknologi Medan (ITM), Ir Lisnawaty MT mengatakan Indonesia sangat rawan terjadi gempa bahkan wilayah Sumut berpotensi alami gempa sangat besar. Kerawanan gempa itu berada di sepanjang pesisir pantai barat.

“Di Sumut ada dua sumber jalur gempa yang sangat berpotensi terutama jalur sepanjang pantai barat dan sumber jalur darat yakni Bukit Barisan,” ungkap Ahli Geologi Institut Teknologi Medan (ITM), Ir Lisnawaty MT saat memberikan kuliah umum, Sabtu lalu di kampus Institut Teknologi Medan.

Kerawanan gempa itu ada di sepanjang pantai barat yang sumbernya dari laut dan berpotensi tsunami. Menurutnya, gempa yang bersumber di laut disebabkan daerah itu masuk dalam lempeng Asia yakni tempat pertemuan lempeng benua Asia dan lempeng Samudera Hindia.

Tumbukan kedua lempeng itu mengakibatkan kepulauan kecil terdepan, seperti Nias dan daerah pesisir barat yakni Tapsel, Taput dan Madina sekitarnya terlebih dulu dihantam gempa. “Gempa akibat tubrukan dua lempeng sifatnya bisa menyeluruh dan getarannya dirasakan daerah lain yang sangat jauh dari sumber gempa,” ungkap Lisnawaty yang juga Sekretaris Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut.

Tidak itu saja, menurutnya pulau-pulau yang terdekat dengan sumber gempa juga bisa hilang diakibatkan naiknya permukaan air laut dan turun akibat retakan bumi.

Dijelaskannya, sepanjang pegunungan Bukit Barisan merupakan jalur gempa di darat yakni pada jalur patahan semangko. Di Sumut jalur patahan itu masuk pada tiga segmen patahan, terdiri sekmen patahan Renun melalui Dairi, Karo, Langkat, Pakpak Barat, Tobasa dan Humbang Hasudutan.

Pada segmen patahan Toru yakni melintasi Tapanuli Utara dan Tengah dan segmen lainnya adalah patahan angkola meliputi Tapsel dan Madina.

Lisnawaty mencontoh jalan di Aeklatong Tapsel tidak pernah bagus karena jalan itu masuk jalur sehmen patahan angkola.

Di Sumut Utara gunung-gunung yang tergolong aktif dan berpotensi gempa yakni Gunung Sibayak, Sinabung, Martimbang, Sibual-buali, Sorik Marapi dan Gunung Lubuk Raya. “Dari sisi keilmuan, potensi gempa selalu ada namun belum bisa dipastikan kapan terjadi dan berapa besar skala richter. Karena itu sebaiknya pemerintah melakukan mitigasi yakni antisipasi sebelum dan sesudah gempa terjadi,” tegasnya.

Perbedaan kondisi gunung api di kawasan Pulau Sumatera berbeda dengan di Pulau Jawa. Menurutnya, komposisi perbedaan kedua gunung api tersebut dilihat dari komposisi magma yang dikeluarkan gunung berapi tatkala meletus.

“Secara umum, magma gunung api di Jawa komposisinya intermidiatis hingga basa atau adesitic. Sedangkan gunung api yang ada di Sumatera cenderung intermidiatis hingga asam atau granitis,” kata Lisnawaty.

Lisnawaty mengatakan, debu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Merapi yang saat ini sedang meletus, ke depan bernilai ekonomis untuk mengembalikan kesuburan tanah. Bahkan pasir yang dimuntahkan memiliki kualitas terbaik untuk bahan bangunan dibandingkan pasir sungai. (Sumber: www.harian-global.com – 18 November 2010)

Pemda Sigap, Warga Siaga

Tuesday, November 9th, 2010

Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr Prih Harjadi menyatakan, informasi prediksi gempa besar yang akan melanda Kepulauan Nias sebagai isu tidak berdasar. Pihaknya dan lembaga resmi lainnya tidak pernah menyatakan prediksi itu. Keganjilan lainnya, masih menurut BMKG adalah penyebutan tanggal akan terjadinya gempa. Sebab, sampai saat ini, belum ada satu teknologi pun dan juga pakar yang bisa mengetahui kapan pastinya gempa akan terjadi.

Tidak hanya itu, Nias Online juga menemukan beberapa kejanggalan terkait informasi prediksi itu, yang harusnya bisa menjadi acuan Pemda Nisel dan masyarakatnya agar tidak resah dan panik.

Pertama, sampai saat ini pemerintah pusat tidak pernah memberikan pengumuman resmi termasuk melakukan persiapan-persiapan antisipasi terkait prediksi gempa dan tsunami tersebut. Hal serupa juga tidak dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Beberapa warga juga menyadari kejanggalan itu dan mengungkapkan keheranannya. “Heran juga, sampai sekarang, kami belum pernah lihat di TV mengenai sikap pemerintah pusat dan persiapan antisipasi. Pemberitaan semuanya soal gempa dan tsunami Mentawai dan erupsi Merapi,” kata mereka.

Kedua, di tingkat wilayah Kepulauan Nias saja, ternyata kehebohan informasi prediksi gempa itu terutama terjadi di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) saja.

Sejumlah kontak Nias Online di luar Kabupaten Nisel mengaku tidak tahu mengenai informasi prediksi gempa tersebut. Beberapa warga Nisel juga kaget mengetahui kalau kehebohan terkait isu serupa tidak terjadi di wilayah Nias lainnya.

Dari penjelasan warga juga terungkap bahwa mereka tidak mendapatkan penjelasan atau klarifikasi mengenai keabsahan informasi prediksi gempa tersebut. Pada titik tertentu, keresahan dan kepanikan warga bisa dimaklumi mengingat mereka memiliki banyak koleksi trauma terkait gempa.

Seyogyanya, itu merupakan kewenangan pimpinan Pemda dengan meminta penjelasan ke lembaga resmi terkait, terutama dengan BMKG.

Sikap Pemda yang tidak kunjung mengklarifikasi keabsahan informasi tersebut kepada masyarakat selama hampir seminggu ini tak ayal menimbulkan tanda tanya. Beberapa warga sempat mengungkapkan kekuatiran mereka akan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan isu tidak jelas itu untuk kepentingan politiknya. Sebab saat ini di Nisel sedang ramai soal masalah pilkada yang sarat dengan berbagai intrik politik.

“Bisa saja ini sebagai pengalihan dari masalah yang sedang memanas di Nisel, terutama soal Pilkada. Sepertinya ada yang memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan dari situasi itu,” ujar beberapa warga yang tidak mau disebut namanya. Apakah keduanya saling terkait, tentu saja perlu dibuktikan dalam beberapa hari mendatang ini.

Nias Online sendiri, selain telah mencari klarifikasi pejabat BMKG dan ditampilkan melalui berita di situs ini, juga telah mengirimkan nomor kontak pejabat BMKG tersebut kepada Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan.

Pulau Nias berada di daerah rawan gempa. Dan itu bukan berita baru sama sekali. Gempa bisa terjadi kapan saja. Tidak ada yang bisa memastikan waktunya. Karena itu, siaga setiap saat adalah sikap yang tepat.

Kesiagaan yang hanya sewaktu-waktu, apalagi karena isu yang tidak jelas, tentu saja bukan sikap siaga yang baik. Selain akan membentuk rasa aman yang palsu (tidak bersiaga dan merasa aman setelah isu tidak terbukti), juga menguras energi dan emosi masyarakat.

Kesigapan Pemda adalah sikap bijaksana yang semestinya dimiliki. Kesigapan itu nampak dalam respons yang cepat dan tepat untuk memastikan keabsahan setiap informasi yang potensial meresahkan warga. Peredaran informasi yang tidak bertanggungjawab oleh orang-orang iseng, bukan kali ini terjadi di Pulau Nias. Di tingkat nasional pun hal serupa sering terjadi. Beberapa hari lalu, Jakarta dan warga sekitar Merapi dihantui oleh isu serupa.

Pemda yang sigap akan membentuk budaya siaga masyarakat secara wajar dalam mengantisipasi bencana. (Etis Nehe)

Isu Gempa: Warga Mengungsi dan Borong Sembako

Tuesday, November 9th, 2010

Jakarta (Nias Online) – Informasi mengenai prediksi gempa antara 10-20 November 2010 di Nias Selatan tampak semakin meresahkan. Dari sejumlah warga yang dikontak Nias Online terungkap, sejumlah warga, terutama di dataran rendah dan dekat pantai melakukan pengungsian, termasuk memindahkan barang-barangnya.

“Informasi itu sudah tersebar ke mana-mana. Banyak yang resah. Tapi informasinya simpang siur. Saya dengar ada beberapa yang mengungsi,” ujar pengelola penginapan Shady Palm Beach Rupawan Luahambowo di Pantai Sorake ketika dihubungi melalui telepon genggamnya pada Senin (8/11).

Rupawan menjelaskan, dia dan keluarganya, setiap malam kembali ke kampung di Bawömataluo yang secara geografis lebih tinggi dari pantai Sorake. Dia mengakui, hal itu dilakukan sebagai antisipasi bila prediksi itu benar-benar terjadi.

Dia menambahkan, isu gempa dan tsunami tersebut, juga membuat sejumlah calon tamunya, turis mancanegara, yang saat ini sudah berada di Bali, ragu-ragu untuk datang dan kemungkinan membatalkan kunjungan mereka ke pantai tempat selancar terkenal itu.

Sementara itu, beberapa warga yang dihubungi di Bawömataluo mengungkapkan, pihak aparat desa telah mengumumkan melalui pengeras suara kepada warga agar mengantisipasi bila informasi soal gempa itu benar-benar terjadi. Selain itu, juga ada penjelasan serupa dari aparat kecamatan yang disampaikan pada saat kebaktian di gereja pada hari Minggu (7/11).

“Selain resah, ada yang borong beras sampai berkarung-karung. Akibatnya, harga beras naik. Demikian juga dengan susu untuk kebutuhan anak-anak. Semua sangat resah,” ujar salah satu warga yang tidak mau disebut namanya. Dia juga menjelaskan, sejumlah warga yang selama ini tinggal di kota Teluk Dalam mulai memindahkan dokumen-dokumen ke rumah mereka di Bawömataluo.
Sikap Pemda

Dihubungi terpisah, Camat Fanayama Elikasi Wau membenarkan adanya sejumlah penduduk yang mengungsi tersebut meski jumlahnya tidak banyak. Dia juga membenarkan adanya warga yang memborong sejumlah bahan makanan pokok.

Dia menjelaskan, sebelumnya di masyarakat beredar informasi yang katanya diperoleh dari media massa. Yakni, bahwa sekitar tanggal 15-17 November 2010 akan terjadi gempa dengan kekuatan 8,8 SR dan gelombang tsunami yang mencapai tujuh meter. Meski begitu, dia mengakui, informasi yang beredar di masyarakat simpang siur.

Dia menjelaskan, menanggapi isu yang beredar tersebut, pimpinan Pemda telah melakukan rapat dengan semua aparatnya untuk membahasnya. Rapat itu membahas upaya menjelaskan kepada masyarakat agar tidak gelisah serta menyikapi informasi itu dengan antisipasi yang wajar dan tidak berlebihan. Cuma, menurut dia, mungkin karena faktor trauma gempa waktu lalu, warga berespons terlalu cepat dan bahkan ada yang berlebihan sehingga panik seperti itu. “Jadi Pemda hanya mempersiapkan warga untuk mengantisipasi informasi itu. Bukan memastikan bahwa pasti akan terjadi seperti isu itu,” kata dia.

Sebelumnya, Nias Online telah meminta penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Jakarta mengenai kebenaran informasi prediksi gempa tersebut. Deputi Geofisika BMKG Dr. Prih Harjadi mengatakan, prediksi itu sebagai isu tidak berdasar. Tidak pernah ada institusi resmi yang pernah mengerluarkan prediksi seperti itu, apalagi dengan menyebut tanggal.

“Itu isu tidak berdasar. Kami pastikan info yang beredar itu tidak benar. Sebab, gempa belum pernah bisa diprediksi. Jadi tidak usah ditanggapi. Jangan disebarluaskan. Kalau disebarluaskan, ya, sebarluaskan bahwa isu itu tidak benar,” tegas dia.

Dia menjelaskan, teknologi yang dimiliki saat ini, baik di Indonesia mau pun di negara dengan teknologi lebih maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, belum bisa memrediksi tanggal akan terjadinya gempa.

Dia mengingatkan, bukan hanya wilayah Kepulauan Nias, tapi sebagian besar wilayah Indonesia adalah daerah rawan gempa. Karena itu, seluruh masyarakat harus selalu waspada dan tahu apa yang harus dilakukan bila gempa itu terjadi. “Jadi, apakah dari perhitungan ahli dari Inggris itu, dari Amerika Serikat, Jepang atau pun perhitungan BMKG, semua tahu bahwa pasti di situ akan gempa. Tapi kapan waktunya, kita tidak tahu. Jadi kita minta masyarakat antisipasi dan paham masalah itu,” tukas dia. (Etis Nehe)

Isu Gempa Besar Resahkan Warga Nias Selatan

Friday, November 5th, 2010

JAKARTA (Nias Online) – Beberapa hari terakhir, di Nias Selatan beredar informasi mengenai prediksi akan terjadinya gempa besar melanda Pulau Nias. Informasi itu menyebutkan, akan terjadi gempa besar antara 10-20 November 2010, sebagai kelanjutan gempa yang melanda Kepulauan Mentawai pada 26 Oktober 2010 lalu.

Sejumlah informasi yang dihimpun Nias Online dari warga Nias Selatan membenarkan beredarnya informasi itu. Bukan hanya di antara warga ibukota Kabupaten Nisel tersebut, tapi juga sampai ke kampung-kampung. “Tidak tahu darimana info itu pertama sekali. Tapi memang sudah tersebar dan banyak yang resah,” ujar Patriot Zagötö, salah satu warga.

Ditanya mengenai tanda-tanda adanya warga yang mengungsi meninggalkan Teluk Dalam, kata Patriot, sampai saat ini belum terlihat. Sebelumnya, Nias Online mendapatkan informasi juga mengenai adanya sejumlah warga yang mulai meninggalkan kota itu. Patriot menambahkan, semalam sejumlah pejabat Pemda melakukan rapat membahas masalah terkait informasi yang beredar itu.

Ketika Nias Online mengkonfirmasi hal itu, salah satu tokoh masyarakat di Teluk Dalam, Pdt Foluaha Bidaya membenarkannya. Dia menjelaskan, informasi itu diperoleh masyarakat dari berita di televisi dan juga media cetak yang memberitakan mengenai prediksi sejumlah pakar bahwa gempa akan terjadi pada rentang waktu tersebut.

Meski begitu, Foluaha membantah telah terjadinya pergerakan warga Teluk Dalam yang meninggalkan kota itu untuk menghindar. Justru menurut dia, yang paling resah akibat informasi itu adalah warga di Kepulauan Tello. “Mereka lebih resah di banding di Teluk Dalam. Kalau pun ada yang mengungsi, itu cuma satu dua orang. Itu informasi yang saya dapat dari camat di sana. Saya pikir, BMKG perlu memberi penjelasan agar masyarakat tidak resah,” kata dia.

Isu Tidak Berdasar

Di hubungi terpisah, kepada Nias Online, Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Prih Harjadi mengatakan prediksi itu sebagai isu tidak berdasar. Menurut dia, institusi-institusi resmi seperti BMKG dan LIPI tidak pernah mengeluarkan prediksi dengan menyebut tanggal seperti itu. “Itu isu tidak berdasar. Kami pastikan info yang beredar itu tidak benar. Sebab, gempa belum pernah bisa diprediksi. Jadi tidak usah ditanggapi. Jangan disebarluaskan. Kalau disebarluaskan, ya, sebarluaskan bahwa isu itu tidak benar,” kata dia.

Dia menjelaskan, penyebutan tanggal dalam prediksi tersebut justru makin menegaskan ketidakbenaran informasi itu. Teknologi yang dimiliki saat ini, baik di Indonesia mau pun di negara dengan teknologi lebih maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, belum bisa memrediksi tanggal akan terjadinya gempa.

Dia mengingatkan, bukan hanya wilayah Kepulauan Nias, tapi sebagian besar wilayah Indonesia adalah daerah rawan gempa. Karena itu, seluruh masyarakat harus selalu waspada dan tahu apa yang harus dilakukan bila gempa itu terjadi.

Adapun mengenai prediksi potensi gempa oleh para pakar dari luar negeri yang sering jadi referensi isu tersebut, kata dia, bukan hal baru. Sebab, semua sudah tahu, mulai dari wilayah Sumatera, terutama di daerah-daerah pesisir terluar seperti Simeulue, Nias, Mentawai hingga ke selatan Jawa merupakan daerah yang potensial terjadi gempa setiap saat.

Sebagai contoh, pada 2004 gempa yang memicu tsunami terjadi di Aceh. Pada 2005 di Nias, 2007 di Bengkulu, 2009 di Padang, dan 2010 di Mentawai. Dari berbagai perhitungan para pakar, di sekitar Mentawai itu memang ada energi yang belum di lepas dalam bentuk gempa. Pelepasan energi itu, bisa dalam hitungan tahun, puluhan tahun atau pun hitungan bulan. “Jadi, apakah dari perhitungan ahli dari Inggris itu, dari Amerika Serikat, Jepang atau pun perhitungan BMKG, semua tahu bahwa pasti di situ akan gempa. Tapi kapan waktunya, kita tidak tahu. Jadi kita minta masyarakat antisipasi dan paham masalah itu,” tukas dia.

Mengenai kekuatiran sejumlah pihak bahwa setelah gempa Mentawai ini, akan menyusul terjadinya gempa di Pulau Nias, Prih mengatakan sejauh ini justru yang dicurigai justru daerah Mentawai. Sebab, bila melihat pada rangkaian kejadian gempa, di wilayah Pulau Nias, sudah ada energi yang telah dilepaskan pada 2005 dengan magnitude yang sangat besar. (Etis Nehe)

50 Kabupaten Berisiko Tsunami

Tuesday, November 2nd, 2010

JAKARTA–MICOM: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan sekitar 150 kabupaten/kota di Indonesia, beresiko tinggi diterjang tsunami. Untuk itu, salah yang terbaik yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko korban adalah relokasi penduduk yang berada di wilayah rawan tsunami.

“Tentunya yang dimaksud relokasi bukan mengosongkan pulau atau daerahd ari penduduk. Namun cukup memindahkan ke bagian lain dari pulau yang lebih aman,” tutur Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB Sutopo Purwo Negoro, di Jakarta, Senin (1/11).

Hal senada juga disampaikan oleh Menko Kesra Agung Laksono. “Idealnya penduduk yang tinggal di pulau-pulau kecil di sepanjang Pulau Sumatra mulai dari Nias hingga Lampung memang harus direlokasi. Karena daerah tersebut sangat rawan terkena gempa dan tsunami,” tutur Agung.

Sesuai dengan instruksi presiden, Agung menjelaskan, dalam waktu dekat akan dibuat semacam PP (Peraturan Pemerintah) atau Inpres tentang upaya relokasi bagi mereka. Tentu saja dalam relokasi nanti, pihak daerah yang harus menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan. Pasalnya, daerah dengan melibatkan pemuka adat dan tokoh masyarakat adalah yang paling memahami budaya dan kultur masyarakat setempat.

“Tempat relokasi tidak harus ke tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka sekarang, tetapi cukup dicarikan yang lebih aman, mungkin ke tepian bukit yang datarannya lebih tinggi,” katanya. (www.mediaindonesia.com – 2 November 2010)

Gempa Aceh Menaik-Turunkan Pulau

Wednesday, April 14th, 2010
Tiga pulau di Simeulu lenyap setelah gempa 7 April 2010. Pulau Tuanku terangkat lagi.

Puing-puing masih berserakan di sekitar 43 rumah yang roboh. Sebanyak 631 rumah lain temboknya retak. Pemerintah Kabupaten Simeulu, Provinsi Aceh, menaksir kerugian akibat gempa sebesar Rp 52 miliar.

“Kami berharap pemerintah pusat dan provinsi memberikan bantuan,” kata Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Simeulu, Zul Mufti. Termasuk untuk 22 korban yang luka-luka.

Rabu pekan lalu (7 April) pukul 05.15 WIB memang terjadi gempa berkekuatan 7,7 skala Richter (SR). Lokasi gempa di 2.33 Lintang Utara dan 97.02 Bujur Timur atau di bawah laut. Lokasi ini 75 kilometer arah tenggara Kota Sinabang, Pulau Simeulu, tepatnya dekat Kepulauan Banyak.

Tidak hanya korban jiwa dan rusaknya bangunan, gempa juga menenggelamkan Pulau Jejani, Pulau Malelo, dan Pulau Gosong Sianjei di Kepulauan Banyak. Memang ketiga pulau tidak berpenghuni ini telah lama ambles akibat gempa sebelumnya: gempa Aceh, 26 Desember 2004, dan gempa Nias, Maret 2005 (8,7 SR).

Pemerintah kabupaten melaporkan pada beberapa kawasan di sekitar Kota Singkil, terjadi amblesan tanah. Di Desa Kilangan, Kecamatan Singkil, sejumlah rumah ambles sedalam 30-60 sentimeter.

Selain amblesan yang mudah terlihat, gempa ini membuat sejumlah pulau dan wilayah naik ke permukaan. “Menurut perkiraan kasar kami, Pulau Tuanku naik kembali seperti sebelum gempa 2005 karena sumber gempa berada di bawah pulau tersebut,” kata Danny Hilman Natawidjaja, ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Di sisi lain, menurut Danny, Pulau Bale dan Singkil akan lebih turun beberapa puluh sentimeter.

Sumber gempa 7 April berada di bawah Pulau Tuanku. Lokasi ini persis ada di sebelah timur sumber gempa Nias, Maret 2005. Kepulauan Banyak lokasinya di antara Pulau Simelue dan Pulau Nias sebelah timurnya.

Tim Peneliti Gempa LabEarth LIPI–Danny tergabung di dalamnya–dan Tim Prof Kerry Sieh telah memetakan sumber gempa Nias 2005 dan gempa Aceh 2004. Mereka memperkirakan bagian-bagian mana saja yang masih mampu mengeluarkan gempa cukup besar. Termasuk bagian yang sekarang ini pecah mengeluarkan gempa pada 7 April 2010.

Ketika terjadi gempa Nias pada Maret 2005, Pulau Tuanku turun 70 sentimeter sehingga sebagian wilayah Desa Haloban berada di bawah air laut. Pulau Bale ketika itu turun sampai 1 meter sehingga rumah-rumah di pinggir pantai terendam air laut. Kota Singkil juga turun 50-100 sentimeter. “Kami berencana ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan,” kata Danny.

Dia akan meneliti lokasi di sekitar sumber gempa 7 April. Maklum, populasi manusia yang terdekat ke sumber gempa adalah Desa Haloban dan Kecamatan Bale di Pulau Bale. Selain itu, di Sinabang dan Kota Singkil.

Menurut Danny, selain kedekatan dengan sumber gempa, banyaknya kerusakan bergantung pada arah pergerakan retakan gempa. Ini disebut sebagai seismic directivity. Dia tidak tahu saat ini ke mana seismic directivity-nya. Prinsipnya, lokasi yang berada di arah seismic directivity guncangannya akan jauh lebih keras daripada yang sebaliknya. Tapi bisa juga, kata Danny, seismic directivity ini ke segala arah.

Penelitian tentang sumber gempa sangat berguna, kata Danny, karena dapat memprediksi potensi gempa bumi ke depan. Tentunya pengetahuan ini jadi pedoman melakukan mitigasi bencana gempa bumi.

(Koran Tempo – www.korantempo.com – 13 April 2010)

Gempa 7,7 SR Tak Akibatkan Korban Jiwa

Thursday, April 8th, 2010

Gempa Rabu (7/4) berkekuatan 7,7 Skala Richter di perairan pulau Banyak, antara Pulau Nias dengan dan Pulau Simeleu memicu gempa-gempa susulan. Gempa susulan yang terjadi dicatat oleh Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) terjadi di Simeleu sebesar 4,9 Skala Richter pada 7 April 2010 pukul 11.22 WIB.

Akibat Gempa di Sumut

Gempa tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan yang berarti di Sumut, ungkap Gubsu Syamsul Arifin. “Saya dan Sekdaprovsu RE Nainggolan sudah mengecek ke daerah daerah. Alhamdulilah dari laporan yang kita terima tidak ada korban jiwa maupun kerusakan yang berarti hanya ada yang retak retak”, ujarnya.

Namun demikian gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) Rabu (7/4) pukul 05.15 WIB menyebabkan 90 persen pembangkit PLN yang berada di sektor Pembangkitan Belawan mengalami gangguan.

“Akibatnya sebagian besar wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam padam pascabencana alam tersebut karena berkurangnya kemampuan pasokan. Tidak terjadi kerusakan pada pembangkit, kecuali gangguan pada sistem,” jelas GM PT PLN (Persero) Regional Sumatera Utara, Denny Pranoto. Meskipun 10 dari 11 mesin pembangkit dengan kapasitas sekitar 1.000 MW sempat drop ke daya 160 MW saat terjadi getaran, namun secara berangsur-angsur kondisinya terus membaik. Denny mengakui akibat gangguan pada sejumlah mesin pembangkit, PLN mengalami kerugian mencapai Rp2 miliar untuk memulihkan kembali ke-10 mesin pembangkit tadi.

Padamnya listrik memicu masyarakat memakai lilin. Kelalaian pemakaian lilin telah menyebabkan 14 rumah di kelurahan Anggrung Medan terbakar.

Akibat Gempa di Nias

Pantauan Analisa di sekitar wilayah Nias, Kabupaten Nias Utara tepatnya di Kecamatan Lotu 2 dilaporkan 2 lokal bangunan SMPN 1 hancur. Seluruh dinding Gereja BNKP Orahua Daso Resort 34 hancur. 2 unit rumah di Desa Lawira milik Sidibero Nazara dan milik Anwar juga hancur dan kantor Bupati Nias Utara juga mengalami kerusakan seperti lantai keramik dan dinding rusak.

Selanjutnya, letak Jembatan Nalua Desa Nalua turun dari kondisi semula sekitar 20 cm dan Jembatan Ehau juga dikhabarkan warga setempat retak-retak. Kemudian, Jembatan Fino Desa Hiliduruwa Kecamatan Sawo Kabupaten Nias Utara dilaporkan turun sekitar 30 cm, hingga 2 orang pengendara sepeda motor yang melintas sesaat setelah terjadi gempa di jembatan itu mengalami kecelakaan karena tidak tahu situasi jembatan telah berubah.

Akibat Gempa di Aceh

Hingga Rabu (7/4) sore jumlah korban luka akibat gempa mencapai 21 orang, tiga di antaranya menderita luka parah. Diperkirakan jumlah korban luka akan terus bertambah. Sejumlah korban luka tersebut kini dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Sinabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Menurut Humas Kabupaten Simeulue Abdul Karim, koraban luka parah umumnya terkena reruntuhan bangunan di bagian kepala, tangan, dan kaki. Sedangkan korban luka ringan hanya mengalami luka lecet saat mencoba melarikan diri ketika gempa terjadi. “Semuanya korban gempa telah ditangani pihak rumah sakit,” katanya.

Gempa tersebut telah menyebabkan Bandar Udara Lasikin dan Pelabuhan Simeulue rusak parah.  Meski demikian, hal ini tidak mempengaruhi jadwal penerbangan ke Pulau Simeuleu. Tercatat 13 perkantoran pemerintah mengalami rusak ringan dan parah. Kerusakan terparah terjadi pada kantor Dinas Pendidikan. Sebagian atap gedung roboh dan dinding retak.

Hingga kini data sementara dari pemerintah Kabupaten Simeulue, kerusakan akibat gempa meliputi, 10 sarana kesehatan, 1 sarana pendidikan, 32 perumahan penduduk, 2 rumah ibadah dan 25 tiang listrik tumbang.

Penyaluran BBM Paska Gempa

Sementara itu Rustam Aji, Asisstant Customer Relation Pemasaran BBM Retail Region I Pertamina di tempat terpisah melaporkan kondisi lembaga penyaluran pascagempa di Sinabang khususnya di pantai Barat NAD maupun di Sumut dalam kondisi aman. Dia menyebutkan berdasarkan hasil koordinasi dengan Depot Sabang, Simeulue, Meulaboh, Sibolga dan Nias tidak terjadi kerusakan maupun gangguan terhadap penyaluran BBM.

(usgs, analisadaily, mediaindonesia)

Gempa Guncang Nias, Sumatra

Wednesday, April 7th, 2010

Gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) mengguncang Sumatra bagian Utara pada 7 April 2010 pukul 5.15 WIB. Pusat gempa diduga terletak di perairan Pulau Banyak, antara Pulau Nias dan Pulau Simeleu dengan kedalaman 31 km dari permukaan bumi. Guncangan gempa menyebabkan kepanikan di Simaleu, Meulaboh, daerah Aceh lainnya, Nias, Sibolga, Padang Sidempuan, Medan, Tarutung dan Samosir. Penduduk segera berlarian ke tempat yang lebih tinggi, namun gempa ini tidak berpotensi Tsunami.
Belum dilaporkan adanya korban jiwa akibat gempa ini. Gubernur NAD Irwandi Yusuf menginformasikan, “Setelah saya pantau, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa di Aceh.” Kepanikan masyarakat akibat gempa ini bertambah karena matinya listrik secara serentak. Hingga sekarang di beberapa titik listrik belum menyala.

Gempa ini terjadi karena pergerakan lempeng Australia-India yang setiap tahunnya mendesak lempeng Sunda dengan kecepatan 60-65 mm per tahun. Karena mekanisme informasi yang tidak lengkap, diduga bahwa sebenarnya pusat gempa tidak terletak di satu titik melainkan di sepanjang pertemuan kedua lempeng tersebut.
Pertemuan kedua lempeng telah menyebabkan gempa besar 8,6 SR pada Maret 2005 di Nias, gempa besar 9,1 SR di perairan Aceh tahun 2004, gempa di Sumatra Selatan 8,4 tahun 2007, gempa di Simeleu pada tahun 2008 dengan kekuatan 7,3 SR, dan gempa Padang 7,5 SR tahun 2009.

(usgs, reuters, metrotv)

Rumah Plastik Tahan Gempa

Wednesday, March 24th, 2010

Jangan buang botol kemasan air minum yang sudah kosong. Dengannya anda bisa membangun rumah yang murah lagi tahan gempa dan banjir.

Honduras, 2005. Di sebuah desa miskin di Utara propinsi Yoro di Hoduras, Amerika Selatan, sekelompok penduduk desa berkumpul. Mereka mengamati berbagai foto dan brosur dari rumah-rumah berwarna-warni. Pembawa brosur ini menuturkan, rumah-rumah ini bukan rumah biasa, mereka dibangun dari botol plastik bekas minuman. Penduduk desa tak langsung percaya. Mereka segera mengutus sekelompok orang untuk mengunjungi langsung rumah aneh yang dikabarkan berdiri di kota. Para utusan kembali dengan penuh semangat: rumah sungguhan! Ternyata benar, rumah-rumah itu memang terbuat dari botol Poly-Ethylene Terephthalate (PET).

Musyawarah desa memutuskan, 3 rumah akan dibangun. Salah satunya untuk José und Ana. Langkah pertama adalah langkah yang sulit. Untuk lahan rumah percobaan, mereka harus membakar gubuk mereka. Ini merupakan sebuah uji coba kepercayaan. Selama masa pembangunan mereka tinggal sementara di rumah keluarga mereka.

Seluruh penduduk desa, baik yang tua maupun yang muda, laki-laki maupun perempuan, menyingsingkan lengan baju untuk mendukung Ana dan José untuk membangun rumah mereka. Tak hanya menyediakan banyak tenaga dan waktu, penduduk satu desa mulai mengumpulkan botol-botol bekas aqua. Selanjutnya mereka bergotong royong membangun pondasi rumah yang dibangun dari batu. Setelah pondasi selesai, datang sebuah truk dari kota yang penuh membawa botol-botol PET. Setelah itu para pembangun menyaring tanah dan pasir dalam sampai 7 kali. Plastik demi plastik diisi pasir dan reruntuhan tembok. Botol-botol itulah yang dijadikan pengganti batu bata. Selanjutnya penduduk desa belajar bagaimana menyusun dan mengikat botol-botol dengan kawat atau tali nilon supaya botol stabil, lalu mengeratkan tumpukan sampah plastik itu dengan adonan semen, atau jika terlalu mahal, dengan tanah liat. José dan Ana melihat untuk pertama kalianya dalam hidup mereka sendok semen dan penggaris air (water-level). Hari demi hari terlihat tembok mulai berdiri, lalu jendela dan pintu. Di pojok berdiri pilar-pilar yang juga disusun dari plastik yang didaurulang. Seng naik ke atap. Akhirnya, rumah diplester dengan tanah liat dan dicat. Selesai.

Sejauh ini sudah ada 50 rumah plastik yang berdiri di Honduras, Kolombia dan India. Rumah-rumah daur ulang ini tahan gempa sampai kekuatan 7,3 Skala Richter ketika rumah-rumah di sekitarnya berguguran. Rumah plastik yang lainnya tahan ketika banjir setinggi atap merendamnya seharian. Temboknya hanya perlu diguyur air lalu ia sudah bisa digunakan seperti sedia kala. Alasan ketahanan ini terletak pada sifat elastik plastik PET, sehingga jelas rumah PET tahan pada hajaran bencana alam.

Arsitek di belakang rumah plastik ini adalah Andreas Froese, 53, tukang batu asal Jerman. Dari perjalanannya di daerah Amerika Selatan, ia belajar bahwa orang-orang miskin membutuhkan paling utama 3 hal: makanan, atap untuk tempat berlindung, dan sekolah. Kesadaran ini membuatnya menarik konsekuensi: ia tak ingin membangun rumah untuk orang-orang kaya, melainkan untuk orang yang terancam gempa, perang, badai yang membutuhkan rumah dengan mendesak.

Ide mendirikan rumah dari botol bekas PET sebenarnya bukan ide baru. Dirk Hebel dan Jörg Stöllman juga sudah mendirikan bangunan bata plastik di tahun 2007. Namun ide membangun dari plastik botol minuman bekas berasal dari Froese. Tak hanya untuk membangun rumah, peduduk di Amerika Selatan menggunakan bahan bangunan yang sama untuk membangun tangki air, taman, dan pagar. Pastinya, rumah berbata plastik ini jauh lebih murah, berkualitas tahan gempa, dan ramah lingkungan.
Informasi lebih lanjut:
http://www.instructables.com/id/New-Innovation-in-Construction-using-Waste-Plastic/
http://translate.google.com/translate?hl=es&langpair=es|en&u=http://www.eco-tecnologia.com/portal/&client=tmpg
http://www.united-bottle.org/index.html

Bernafas di Tengah Lingkaran Api

Monday, October 19th, 2009

Jakarta (ANTARA News) – Ibarat bagian tangan, Indonesia adalah jari manis yang dilingkari sebuah cincin. Bedanya ini bukan cincin biasa melainkan cincin bencana yang menjadikan si zamrud khatulistiwa itu harus selalu bersiap menghadapi bencana. (more…)

On site: MCC reps view earthquake damage in Padang, Indonesia

Thursday, October 8th, 2009

Editor’s Note: Dan and Jeanne Jantzi, MCC representatives in Indonesia, were in Padang on Tuesday, Oct. 6, assessing how MCC can meet the short-term and long-term needs of earthquake victims. The Jantzis are from Lowville, N.Y. Here are some of their reflections in their own words: (more…)

Ada Potensi Gempa di Selat Malaka

Wednesday, September 9th, 2009

MEDAN, KOMPAS.com – Potensi ancaman gempa bumi terhadap wilayah Sumatera Utara dan Aceh yang bersumber di Selat Malaka cenderung diabaikan. Padahal ada potensi gempa bumi dari Selat Malaka bersumber pada jalur Patahan Mergui yang merupakan bagian dari jalur Patahan Sagaing dari Myanmar. (more…)

Tsunami di Manokwari Terdeteksi

Wednesday, January 7th, 2009

Rabu, 7 Januari 2009 | 07:57 WIB

JAKARTA, RABU — Dua gempa tektonik berkekuatan di atas M 7 atau 7 skala Richter di utara Kepala Burung Papua, Minggu (4/1), berdasarkan rekaman Stasiun Pasang Surut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional diketahui telah menimbulkan tsunami setinggi 80 sentimeter di Manokwari, 35 cm di Biak, dan 20 cm di Jayapura. (more…)