Archive for the ‘Umum’ Category

Perkara Kemiskinan Yang Harus Dituntaskan di Kabupaten Nias Selatan

Tuesday, May 1st, 2018

Jurdkriswanti Lase*

Berbicara soal kemiskinan tak ada habis-habisnya. Pengentasan kemiskinan merupakan salah satu tujuan pembangunan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam mengukur tingkat kemiskinan menggunakan konsep memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar yang dimaksud baik dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan yang dihitung dalam takaran 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non makanan seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Kabupaten Nias Selatan termasuk salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Utara dengan tingkat kemiskinan terbesar. Pada tahun 2016, persentase penduduk miskin Kabupaten Nias Selatan berada pada urutan keempat setelah Kabupaten Nias yaitu sebesar 18,6 persen, lebih tinggi dibanding Provinsi Sumatera Utara sebesar 10,35 persen.

Wajar jika Kabupaten Nias Selatan masih tinggi angka kemiskinannya karena melihat infrastuktur di Nias Selatan yang masih sangat “buruk”. Memang untuk wilayah perkotaan seperti Telukdalam sebagian besar infrastruktur jalan raya sudah cukup baik, namun dengan wilayah Nias Selatan yang luas butuh ekstra perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur di Nias Selatan. Penulis pernah mendatangi beberapa desa di Kecamatan Gomo yang tidak dapat dilalui kendaraan dan harus dilalui dengan berjalan kaki. Butuh berjam-jam untuk sampai kesana, selain itu jalan menuju kesana harus melewati sungai dan hutan yang jika belum terbiasa akan sangat melelahkan dan butuh waktu yang lama untuk sampai kesana. Dan ini bukan hanya satu atau dua desa namun beberapa desa. Keadaan yang sulit ini yang membuat banyaknya penduduk miskin di Nias Selatan. Jangankan kesulitan biaya untuk membeli makan, ada uangpun masyarakat juga kesulitan untuk membelinya karena masih jauh dari perkotaan.

Berdasarkan data dari BPS, Angka Partisipasi Murni (APM) SMP dan SMA di Kabupaten Nias Selatan yaitu sebesar 74,10 dan 57,92. Artinya terdapat 25,10 persen penduduk usia 13 – 15 tahun yang belum memanfaat pendidikan SMP dan 42,08 persen penduduk usia 16 – 18 tahun yang belum memanfaatkan pendidikan SMA/SMK sehingga perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk memperhatikan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan. Program pemerintah yang memberikan biaya sekolah gratis beberapa sekolah di Kecamatan Telukdalam sudah sangat baik, namun hal ini akan lebih baik lagi jika di desa-desa juga diperhatikan. Oleh karena itu, perlunya membangun sekolah di desa-desa terpencil yang susah dijangkau dan memberikan “reward” bagi tenaga didik yang bersedia mengajar di wilayah tersebut seperti mengangkat tenaga pengajar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar banyak tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan disana ataupun memberikan gaji yang diatas rata-rata serta memperhatikan sarana dan prasarana di sekolah tersebut agar siswa dan siswi dapat meningkatkan ketrampilan yang dimiliki.

Pendidikan masyarakat Nias Selatan yang masih rendah yang membuat masyarakat susah untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, sehingga untuk menghidupi keluarga biasanya masyarakat lebih banyak menjadi petani yang sudah “diwarisi” dari orangtuanya baik mengolah ladang punya sendiri maupun harus bekerja di ladang orang lain. Hal ini juga yang membuat masyarakat “terjebak” kemiskinan karena sudah merasa putus asa dengan kemampuannya dan merasa hanya mampu melakukan pekerjaan di ladang dan yang nantinya juga akan “diwariskan” kepada anak-anaknya. Pada tahun 2016, kategori lapangan usaha yang berkontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Nias Selatan yaitu kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu sebesar 46,03 persen. Petani karet di Kabupaten Nias Selatan masih banyak, namun harga karet yang rendah menyebabkan banyak penduduk Nias Selatan memilih untuk mengadu nasib di luar pulau Nias. Oleh karena itu perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk memperhatikan nasib para petani Nias Selatan yaitu dengan membantu petani dalam menyediakan sarana dan prasarana pertanian, dan cara bertani seperti membantu petani bagaimana karet tersebut dapat bernilai tambah.

Penanggulangan kemiskinan di Nias Selatan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi daerah Nias Selatan. Kabupaten Nias Selatan terkenal dengan wisata alamnya secara khusus pantai di Nias Selatan yang terkenal dengan gelombang yang tinggi. Sehingga bukan hanya wisatawan lokal saja yang datang ke Nias Selatan tetapi dari luar negeri juga. Mungkin pemerintah dapat membuka lapangan pekerjaan dengan membuat arena permainan di sekitar wilayah di Nias Selatan seperti Waterboom yang belum ada di Pulau Nias. Ataupun membuat arena tempat makan sekaligus tempat permainan di sekitar pantai Nias Selatan yang dihias dengan ornamen khas Nias Selatan, sehingga masyarakat yang datang selain menikmati pantainya dapat juga menikmati fasilitas yang ada. Dilihat dari pertumbuhan riil PDRB, kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor mengalami kenaikan tertinggi kedua pada tahun 2016 dibanding tahun 2015 setelah kategori transportasi dan pergudangan yaitu sebesar 1,65 persen. Tingginya laju pertumbuhan riil pada kategori tersebut menunjukkan potensi usaha pada bidang perdagangan dapat ditingkatkan lagi seperti membuat pusat oleh-oleh khas Nias Selatan, sehingga masyarakat Nias Selatanpun terbuka kesempatan untuk membuka usaha dan semakin meningkatkan tingkat kreatifitas mereka dan juga bisa menjadi tenaga kerja di tempat usaha-usaha tersebut. Sehingga tingkat pengangguran di Nias Selatan dapat dikurangi dan kemiskinan juga dapat ditanggulangi.

*) Penulis adalah staf statistik sosial BPS Kabupaten Nias Selatan

Beberapa Hal Tentang Windows 10

Tuesday, August 11th, 2015
W10_Igo

Sejak dirilis ke publik oleh Microsoft pada tanggal 29 Jui 2015 lalu, Windows 10 telah diunduh dan diinstal oleh jutaan pengguna PC di seluruh dunia. Windows 10 merupakan produk respons Microsoft terhadap ketidakpuasan terhadap produk pendahulunya, Windows 8.

Memesan dan Menginstal Windows 10

Banyak pengguna Winsows 7 atau Windows 8 yang masih belum menginstal Windows karena berbagai alasan. Tulisan ini coba memberikan beberapa informasi penting bagi yang mempertimbangkan instalasi Windows 10.

Bagi yang sudah memiliki Windows 7 atau Windows 8 Microsoft merilis Windows 10 secara cuma-cuma. Cara mememesan dan menginstal Windows 10 adalah sebagai berikut.

  1. Jika komputer Anda mengguakan salah satu versi Windows in (7 atu 8), maka pada bagian kanan bawah layar komputer Anda akan terlihat ikon WW10_Iconindows 10 seperti pada gambar di sebelah kanan. Kalau ikon ini tidak kelihatan, maka coba run Windows Update. (Windows Update dapat dicari pada Control Panel).
  2. Klik ikon “Get Windows 10” tersebut untuk memesan Windows 10. Aplikasi ini sekali gus mengecek apakah komputer Anda kompatibel dengan sistem operasi baru ini.
  3. Konfirmasikan pesanan Anda dengan mengetikkan alamat email Anda.
  4. Microsoft akan mengunduh Windows 10 ke komputer Anda dan memberitahukan apabila telah siap. (Catatan: Pemesanan Windows 10 dapat dibatalkan setiap saat).
  5. Microsoft juga memberikan tautan yang Anda bisa manfaatkan untuk membuat USB drive atau DVD. Ini penting untuk menginstal Windows 10 di beberapa komputer.
  6. Sesudah proses pemesanan, komputer Anda akan terdaftar dalam antrian upgrade.
  7. Sesudah pemberitahuan dari Microsoft datang, Anda bisa menginstal Windows 10. (Catatan; Dibutuhkan waktu sekitar 2 – 2.5 jam untuk menginstal Windows 10, berdasarkan pengalaman penulis).

Bagi yang menggunakan produk-produk Kaspersky untuk antivirus atau keamanan internet (internet security) disarankan mengunduh produk rilis terbaru sebelum menginstal Windows 10. Pasalnya, produk Kaspersky yang diinstal untuk Windows versi sebelumnya (7 atau 8) tidak bekerja pada sistem operasi Windows 10 – setidaknya berdasarkan pengalaman penulis. Setelah menginstal Windows 10, maka segeralah menginstal produk Kaspersky yang baru diunduh itu agar komputer Anda lebih aman.

Bagi pengguna produk Norton, berdasarkan informasi dari situs Norton, produk Norton masih tetap bisa dipakai setelah Windows 10 diinstal, “asalkan Anda telah menginstal versi terbaru” (“as long as you have installed the latest version“).

***

Privacy Setting di Windows 10

Secara default, Windows 10 diprogram untuk memantau berbagai aktivitas Anda: kata-kata yang Anda ketik atau ucapkan, situs yang anda kunjungi, lokasi Anda, pembelian yang Anda lakukan secara online, dsb..

Kalau Anda tidak mau aktivitas dunia maya Anda terlalu banyak dipantau oleh Windows 10, maka ubahlah default settings di Windows 10 segera setelah Anda menginstalnya.

Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Klik Start Button yang berada di sebelah kiri bawah monitor. W10StartB
  2. Dari menu yang tersedia, klik “Settings” (lihat gambar di sebelah kanan), maka akan muncul beberapa pilihan seperti pada gambar di bawah (Anda bisa perbesar dengan mengklik pada gambar).W10PSettings
  3. Dengan mengklik “Privacy“, maka Anda akan disuguhi berbagai pilihan: Genral, Location, Camera, dst. Anda bisa mengubah masing-masing setting itu yang umumnya dengan default setting “On” menjadi “Off”.
  4. Disarankan untuk mengubah setting itu satu per satu (tidak sekaligus) untuk melihat pengaruh perubahan itu, dan membatalkannya apabila memberikan masalah pada operasi komputer Anda.

Selamat ber-Windows 10-ria.

Catatan: Artikel ini disajikan untuk membantu calon pengguna Windows 10. Penulis tidak bertanggung jawab terhadap berbagai akibat dari pemakaian artikel ini. (eh).

Ciptakanlah Terang Bagi Masa Depan Generasi Berikutnya

Friday, January 16th, 2015

Opini1Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

HARUS diakui bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membawa setiap insan untuk bisa menyiapkan masa depannya sendiri. Masa depan itu akan terlihat nantinya pada waktu insan tersebut sudah bekerja dan atau sudah berkarya.

Setiap orang dewasa pasti ingin bekerja atau berkarya, apapun pekerjaan itu akan dilakukannya. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhannya. Untuk kebutuhan sehari-hari, minimal dapat makan dan dapat minum. Masalah asupan gizinya cukup atau kurang, itu masalah kemudian, yang penting dapat pekerjaan dan melalui pekerjaannya itu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, bahkan pada waktunya akan dapat mendukung aktualisasi dirinya.

Pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah, bagaimana keadaan generasi muda Nias sekarang? Bagaimana masa depan generasi muda yang sudah bisa menyelesaikan studinya di tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi?. Tentu hal ini merupakan pertanyaan besar bagi mereka yang diberi tanggung jawab memimpin pemerintahan daerah beserta SKPD-nya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa generasi muda Nias sekarang, terutama yang sudah siap memasuki dunia kerja, sudah terbayang di pelupuk mata dan dimimpinya bahwa bisanya adalah dapat bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kalau tidak jadi PNS, dunia ini seperti mau kiamat. Sepertinya hidup ini tidak memiliki arti bagi orangtua dan sanak famili lainnya.

Ada seorang mahasiswa Nias yang pada saat ini sedang menyiapkan penyusunan skripsi. Dia mendiskusikan tentang masa depannya setelah selesai studi strata satu. Kami banyak dan lama melakukan diskusi melalui short message service (SMS). Dalam diskusi tersebut, si mahasiswa sempat menunjukkan sikap adanya kegelisahan setelah dapat menyelesaikan studi strata satu (S1) nantinya. Bahkan  si mahasiswa berkata, setelah lulus nanti mau kerja apa, cari kerja juga susah, lowongan PNS masih lama dan jumlah yang dibutuhkan sangat terbatas.

Bagaimana Anda bisa menjawab bila kegelisahan ini disampaikan kepada Anda? Apa solusi yang Anda bisa lakukan pada permasalahan ini? Sebelum mencari atau memberikan satu atau beberapa solusi, terlebih dahulu tarik nafas dalam-dalam dan keluarkanlan nafas itu dengan pelan-pelan seraya berkata, apa ya solusinya?

Memberikan solusi pada permasalahan sekarang, tidaklah mudah. Perlu melakukan berbagai persiapan yang biasa kita sebut “strategi”. Apa bentuk strategi yang akan diwujudkan dalam jangka panjang?. Nah, apabila strategi itu akan dihubungkan lagi dengan hadirnya suatu nama yang sering kita sebut pada akhir-akhir ini yaitu masyarakat ekonomi asean (MEA) yang akan berlangsung di akhir tahun 2015 mendatang, tentu diperlukan pemikiran yang jitu dan penjabaran yang lebih detail dan lengkap.

Salah satu strategi dan mumpuni yang perlu dilakukan untuk dapat menjawab kegelisahan generasi muda Nias dalam hal peluang untuk mendapatkan pekerjaan yaitu melaksanakan “edu-preneurship”. Menurut Setiono (2012), edu-preneurship itu merupakan program pelatihan bagaimana mengenalkan konsep-konsep entrepreneurship yang dilengkapi dengan berbagai contoh aplikasi melalui proses pendidikan.

Memahami konsep-konsep entrepreneursip (kewirausahaan) berarti harus mengerti lebih mendalam mengenai apa itu entrepreneurship. Menurut Frinces (2004), entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan bentuk usaha untuk menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen    pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang yang ada,  dan lewat keterampilan komunikasi  dan   manajemen untuk   memobilisasi manusia, keuangan, dan   sumberdaya  yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.

Dengan demikian, kewirausahaan adalah berkonotasi mengimplementasikan, berarti mengerjakan (sesuatu), yaitu  sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang wirausaha. Apabila disederhanakan artinya, wirausaha adalah seseorang yang merespon terhadap peluang dan mempunyai rasa kebebasan (sense of freedom) baik dalam dirinya maupun dalam organisasi untuk bertindak terhadap peluang yang ada.

Hal-hal yang dapat dikerjakan dan diberikan oleh para wirausaha, antara lain: 1. Produk-produk dan jasa-jasa baru; 2. Pekerjaan baru; 3. Lingkungan kerja yang kreatif; 4. Cara-cara baru melakukan kegiatan bisnis (usaha); dan 5. Bentuk baru penciptaan bisnis (new business innovation). Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, maka kewirausahaan ini sangat bisa dikembangkan pada bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan usaha pariwisata, seperti bidang kerajinan, bidang kuliner, bidang jasa perhotelan dan homestay, bidang usaha biro dan agen perjalanan, bidang usaha hiburan, bidang usaha objek wisata, bidang usaha guide (pramuwisata), bidang usaha on-line, dan berbagai bidang usaha yang lain.

Untuk merealisasikan edu-preneurship ini di lapangan, memerlukan komitmen dari pemerintah daerah untuk mendorong dimulainya pelaksanaan edu-preneurship ini. Pelaksanaannya dimana? Mulailah dengan pengenalan entrepreurship yang sederhana di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (pendidikan 9 tahun). Lalu terus dikembangkan pelaksanaannya di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA).

Apabila sudah dimulai sebuah pengenalan entrepreneurship di tingkat pendidikan 9 tahun, dan dikembangkan lagi pelaksanaan entrepreneurship di tingkat sekolah menengah, berarti kita sudah mulai menciptakan “terang” kepada generasi muda Nias di masa yang akan datang. Dengan demikian, para siswa sudah dapat menilai bakat dan kemampuannya yang bakal disiapkannya ke depan, demi meraih masa depan yang lebih cerah melalui pekerjaan yang dikerjakan pada waktu memasuki dunia kerja.

Harapan kita bahwa setelah siswa menyiapkan diri lebih dini untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan talenta yang dimiliki, kita dapat meyakini bahwa mereka nantinya akan berhasil dalam mengarungi hidup ini. Keberhasilan ini akan didapatkan, karena bakat yang telah dimiliki sudah diasah lebih dini melalui kegiatan edu-preneurship.

Untuk itu siapkanlah kurikulum kreatif mengenai entrepreneurship dikalangan siswa SD dan SMP, dan terus diteruskan di kalangan siswa sekolah menengah. Rencanakanlah materi yang kreatif bagi siswa-siswa yang sesuai dengan usia pendidikan mereka.

Mewujudkan keinginan ini, tentu kita sesuaikan dengan harapan dan keinginan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan bahwa anak didik semakin pintar, manakala guru-gurunya sudah terlatih dan menguasai mata pelajaran itu. Artinya, profesi guru dimantapkan terlebih dahulu pada mata pelajaran entrepreneurship itu, setelah itu baru dikembangkan pemberiannya kepada siswa-siswa sebagai generasi muda Nias dan penerus cita-cita kita semua untuk lebih berhasil dalam mensejahterakan dirinya dan keluarganya di masa yang akan datang.

Galakkanlah pendidikan kewirausahaan kepada generasi muda Nias. Dan mulailah pendidikan itu lebih dini, sehingga generasi muda Nias ini sudah tidak mengalami kegalauan hati dalam mencari peluang pekerjaan, apabila mereka sudah dapat menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas/kejuruan ataupun sudah bisa lulus studi dari strata satu (S1).

Menurut Frinces (2010), berprofesi sebagai wirausaha adalah sebuah pilihan untuk hidup dan pilihan profesi yang terhormat yang harus direncanakan secara baik dan matang. Wirausaha adalah sebuah jalan kehidupan yang dipilih karena telah diyakini dengan kenyataan dan fakta yang ada bahwa wirausaha mempunyai peran yang besar di dalam meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan Negara.

Di samping itu wirausaha juga merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan untuk dapat menjadikan masyarakat dan Negara yang makmur. Oleh karenanya, wirausaha adalah sebuah profesi yang dalam proses penciptaannya, pertumbuhan dan perkembangannya harus dibentuk dengan cara yang sistematik. Karena yang akan dibentuk adalah karakteristik dan jenis sosok manusia yang harus berhasil di dalam tugasnya untuk menciptakan dan mengembangkan organisasi dan bisnisnya.

Bentuklah karakteristik wirausaha bagi generasi muda Nias melalui edu-preneurship. Dan tumbuhkanlah generasi muda Nias dalam dunia wirausaha, sehingga mereka akan menjadi pionir-pionir dalam berwirausaha di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Perlukah Evaluasi Program Kerja Seorang Pemimpin?

Monday, January 5th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes.

PROGRAM kerja yang telah dirumuskan biasanya sebagai penjabaran dari Visi dan Misi seorang pemimpin. Untuk mewujudkan visi dan misi dari seorang pemimpin, akan dirumuskan ke dalam program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Penempatan program kerja dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, tentu disesuaikan dengan upaya pencapaian sesuatu menurut kebutuhan. Baik kebutuhan yang mendesak dari masyarakat maupun percepatan kemajuan seperti yang diprogramkan oleh pemimpin.

Pelaksanaan evaluasi dari suatu program kerja sebaiknya dilakukan setiap tahun, terutama mengevaluasi program kerja 1 (satu) tahunan. Dan setelah itu dievaluasi juga mengenai rencana pelaksanaan program kerja dalam jangka menengah dan panjang, apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan program kerja itu selanjutnya. Untuk itu perlu ditandai dengan milestone-milestone (tonggak batu yang menunjukkan jarak dalam mil) agar lebih memudahkan bagi kita untuk menilai seberapa jauh perjalanan yang sudah kita jalani dalam upaya mewujudkan visi dan misi seorang pemimpin.

Banyak hal yang dievaluasi dari program kerja yang sudah diketukkan palu pada akhir tahun 2013 atau di awal tahun 2014 yang lalu. Hal pertama yang perlu dilakukan evaluasi berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM), baik sebagai pegawai pemberi pelayanan kepada masyarakat, maupun kemajuan yang telah dimiliki oleh khalayak selama tahun 2014.

Mengapa SDM yang pertama kali dievaluasi? Karena SDM ini merupakan motor penggerak dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan di lapangan, untuk mewujudkan berbagai hasil sesuai target dalam berbagai bidang yang menjadi profesi dari SDM itu sendiri. Umpamanya, kalau kita sungguh-sungguh memprioritaskan pembangunan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kepulauan Nias, seperti yang sudah disepakati dalam forum lokakarya yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014, maka tentu kita evaluasi mengenai jumlah dan kualitas SDM yang telah memahami ruang lingkup pembangunan dan pengembangan pariwisata yang seharusnya.

Selanjutnya pada SDM ini, kita bisa lihat pada jumlah SDM yang diprioritaskan untuk studi-lanjut mengenai kepariwisataan. Seberapa banyak SDM yang melaksanakan magang diberbagai usaha pariwisata di berbagai tempat. Seberapa banyak SDM yang telah dilatih pada bidang kepariwisataan, dan seberapa banyak SDM yang dipersiapkan untuk mendalami mengenai usaha perhotelan, usaha biro dan agen perjalanan, usaha kerajinan, usaha perbatikan, usaha kuliner, usaha rekreasi, dan usaha-usaha lainnya.

Setelah melakukan evaluasi pada SDM, maka evaluasi yang dilakukan selanjutnya adalah mengenai pelaksanaan program kerja dari masing-masing SKPD, Badan, Kantor, Bagian, dan para Camat. Penekanan evaluasi pada bidang ini yaitu seberapa besar kelancaran pelaksanaan dari setiap program kerja yang berada dalam ruang lingkup tugas pokok dan fungsinya. Apa saja hambatan dalam proses pelaksanaan program kerja itu? Seberapa banyak dapat diwujudkan berbagai program usulan yang berasal dari musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes). Seberapa besar persentase pencapaian target dari setiap program kerja itu, dan seberapa besar peranannya dalam mewujudkan pencapaian visi dan misi dari seorang pemimpin.

Barangkali masih banyak item-item yang memerlukan evaluasi yang menggunakan indeks atau standar-standar yang sudah ada. Seperti standar penilaian derajat kesehatan masyarakat (kesehatan ibu dan anak), derajat pendidikan bagi anak-anak usia sekolah, standar penggunaan anggaran, standar pembangunan infrastruktur, dan standar-standar yang lain.

Meskipun masih banyak item-item yang perlu dievaluasi, namun yang menjadi fondasi pelaksanaan program kerja berikutnya adalah mengenai evaluasi berbagai permasalahan yang terjadi selama tahun 2014. Permasalahan yang diutamakan adalah permasalahan yang terjadi dari setiap proses pelaksanaan program kerja selama tahun 2014. Permasalahan ini tentu perlu dicatat selengkap-lengkapnya untuk dipahami oleh semua SDM dari masing-masing organisasi yang ada, dengan harapan permasalahan itu akan dapat berkurang sebesar-besarnya pada tahun 2015. Alangkah lebih baik lagi apabila di tahun 2015, permasalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Apakah masih ada lagi yang paling penting untuk dievaluasi lagi? Masih dan malah yang utama. Justru ini yang paling penting untuk dievaluasi. Mengapa? Karena pemimpin daerah umpamanya, bekerja dalam upaya untuk menjalankan 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zeith, 2013).

Berbicara tentang pelayanan yang disuguhkan oleh SDM kepada masyarakat, tentu sangat perlu dievaluasi. Bagaimanapun masyarakat sangat berharap akan selalu mendapatkan pelayanan yang baik dan berkualitas dari SDM, ditambah dengan sangat informatif dan disampaikan dengan sangat komunikatif. Untuk itu sangat perlu dievaluasi.

Evaluasinya berkaitan dengan seberapa baiknya pelayanan yang dihadirkan SDM untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Tujuannya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi di tahun 2015 mendatang. Pelayanan yang diberikan SDM tidak hanya dalam hal kecepatan pelayanan, tetapi menyangkut juga sikap dan perilaku SDM saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sekarang ada istilah S3 (senyum, salam, dan sapa) dalam memberikan pelayanan, apakah sudah menggambarkan pelayanan yang S3?

Demikian juga dalam hal pengaturan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat, sangat perlu dievaluasi. Tujuannya untuk menghadirkan dan meningkatkan peran pemimpin daerah dalam upaya mensejahterakan masyarakat menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang. Sekaligus juga untuk menilai seberapa jauh mile-stone yang telah dicapai atau yang dijalani, sesuai visi dan misi dari seorang pemimpin.

Visi dan misi seorang pemimpin merupakan sebuah mimpi yang perlu direalisasikan selama duduk dalam jabatan sebagai seorang pemimpin. Untuk itu sangat perlu melakukan evaluasi pada berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tahun 2014. Gambarannya adalah apa keberhasilannya dan apa kegagalannya. Informasi kondisi ini perlu diutarakan kepada khalayak, sehingga masyarakat peham juga mengenai hasil yang telah dicapai dan hal-hal lain yang perlu dilaksanakan pada tahun-tahun yang akan datang.

Pelaksanaan kegiatan evaluasi ini tidak hanya sekedar mencatat berbagai kekurangan dari berbagai program kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, tetapi kekurangan yang masih ada itu akan diperbaiki dengan sungguh-sungguh di tahun 2015. Kesungguhan ini akan tampak pada hasil evaluasi berbagai program kerja di akhir tahun 2015, apakah permasalahan atau kekurangan yang tercatat di tahun 2014 masih terjadi dengan frekuensi yang sama di tahun 2015? Mari sama-sama melakukan penilaian hasil yang dapat dicapai di tahun 2015 mendatang.

Selamat melakukan evaluasi semua program kerja yang sudah dilaksanakan pada tahun 2014, dan selamat mewujudkan harapan masyarakat pada tahun 2015 mendatang. Bila ada kesungguhan hati dapat dipastikan bahwa selama duduk dan memegang jabatan itu, pasti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pasti terdapat rona muka dari insan masyarakat yang menunjukkan kegembiraan.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

 

Membuka Mata Pemuda/i Kepulauan Nias

Friday, November 28th, 2014

Catatan Redaksi: Redaksi menayangkan tulisan berikut, buah karya seorang pemuda Nias yang tinggal di Yogyakarta. Kiranya para pemuda/i Ono Niha – khususnya yang tinggal di Nias – tergerak untuk lebih kreatif dalam mempersiapkan masa depan mereka.

Oleh: Febriwan Harefa

Opini“Ngak ada diharapkan di sini ŵö Wan selain PNS … ” kalimat ini saya masih ingat ketika sedang ngobrol dengan seorang teman, ketika saya pulang ke Gunungtoli 3 bulan yang lalu. Hal yang sama juga diutarakan oleh beberapa pemuda/i Kepulauan Nias, “Yah palingan tunggu lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), kalau ngak menang jadi penganguran lagi”.

Dari pendapat-pendapat di atas saya sedikit bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda/i Kepulauan Nias, terutama di Gunungsitoli sangat mengharapkan profesi sebagai PNS. Sebenarnya harapan mereka ini sangat wajar, dengan pertimbangkan lapangan pekerjaan yang ada di Kepulauan Nias yang sangat sedikit. Selain itu keutungan menjadi seorang PNS sangat banyak, yang pertama mendapatan gaji setiap bulannya yang berkisar 2-3 juta, gaji yang didapat tergantung pada tingkat golongan PNS. Kedua, profesi seorang PNS juga terkena dampaknya kepada keluarga, jika seorang PNS tersebut telah memperoleh keluarga yaitu dengan mendapat asurasi kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Keutungan ketiga dari menjadi seorang PNS adalah ketika seorang yang berprofesi PNS ia akan mendapatkan uang pesangon dari negara dan dana pensiun tiap bulannya. Selain ketiga keutungan di atas, masih banyak beberapa keutungan menjadi seorang PNS.

Pendapat yang sama tentang profesi PNS bukan hanya di Kepulauan Nias tetapi juga di daerah – daerah lain seperti di Pulau Jawa. Akan tetapi ada perbedaan antara pemuda/i yang ada di Kepulauan Nias dengan pemuda/i yang ada di Pulau Jawa ketika mereka gagal menjadi PNS. Karena banyaknya kesempatan untuk masuk perusahaan-perusahaan, baik itu swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pulau Jawa, maka para pemuda di Pulau Jawa tidak terlalu “pusing” apabila gagal menjadi PNS.

Sebenarnya hal yang sama bisa dilakukan pemuda/i di Kepulauan Nias, ketika tidak lulus PNS masih bisa mencari alternatif. Seperti pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini lagi banyak digeluti pemuda/i Indonesia yang ada di Pulau Jawa, yaitu pekerjaan freelance melalui dunia maya.

Pekerjaan freelance (pekerja lepas) melalui dunia maya sangat banyak digemari oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Selain tidak mengenal batas waktu, pekerjaan ini bisa dilakukan di mana-mana baik itu dirumah, bahkan di kamar mandipun. Pekerjaan yang tidak mengenal tempat khusus ini bermacam-macam seperti menulis artikel di blog tentang mengenal membuat kerajinan tangan, parawisata dll. Lebih bagusnya para blogger (sebutan bagi orang suka menulis di blog) membeli domain, dan bandwidth agar bisa mendapatkan pendapatan dari blog yang telah dibuat. Untuk mendapatkan uang lebih selain dari memasang domain dan bandwidth pada blog. Blogger dapat mendapatkan uang dengan cara mendaftarkan blonya ke google access, dan setiap artikel akan dihargai sekitar $ 0,5.Selain itu, sekarang ini banyak usaha penulisan yang berbasis online menawarkan jasa penulisan dan setiap artikel dihargai sekitar 5-10 ribu.

Pekerjaan semacam ini bisa dilakukan oleh pemuda/i Kepulauan Nias dengan mempertimbangkan, sekarang ini banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, aktif di dunia maya dan mulai tidak asing dengan yang namanya teknologi. Selain itu juga dengan menulis artikel di blog misalnya tentang kebudayaan atau parawisata tentang Kepulauan Nias. Maka secara tidak langsung para blogger lain bisa mengetahui kekayaan kebudayaan dan parawisata yang ada di Kepulauan Nias.

Selain itu pekerjaan freelace penerjemah bisa juga dilakukan oleh pemuda/i di Kepulauan Nias, terkhususnya mahasiswa Intitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli atau Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu pendidikan (STKIP) Nias Selatan, yang mengambil jurusan bahasa Inggris, yaitu dengan cara menawarkan diri menjadi penerjemah freelance ke beberapa penerbit atau perusahaan penerjemahan. Salah satu caranya dengan membuat sebuah contoh penerjemahan dengan topik tertentu. Setelah selesai dapat mengirim contoh penerjemahan tersebut ke alamat website yang menawarkan penerjemahan seperti ke milis bahasa Bahtera (Bahasa dan Terjemahan), Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), dan beberapa website penerbitan seperti Gramedia, Mizan, Bentang Pustaka.

Selain itu masih banyak lowongan pekerjaan freelance yang lainnya yang khususnya melalui dunia maya. Sekarang ini yang dibutukan adalah bagaimana pemuda/i Kepulauan Nias mulai membuka mata, terhadap lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya, dan juga dibarengi dengan usaha kreatif untuk membuat sesuatu yang baru yang dapat bermafaat dan tentunya dapat menghasilkan yang namanya materi.

Dan dari contoh-contoh lowongan pekerjaan diatas pemuda/i Kepulauan Nias, dapat melakukannya dengan mempertibangkan banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, yang aktif memberikan komentarnya di beberapa grup yang ada di Facebook misalnya saja grup FB Suara Nias, Nias Bangkit. Maka di sana dapat dilihat bahwa pemuda/i Kepulauan banyak aktif di dunia maya. Ke dua adalah dengan jaringan telkomsel yang lumayan bagus di Kepulauan Nias, sehingga pemuda/i Kepuluan Nias dapat memanfaatkan hal tersebut untuk membuat blog yang gratis terlebih dahulu seperti wordpress, blogspot dll.

Sangat dibutuhkan keseriusan pemerintah di Kepulauan Nias untuk bisa memberikan layanan wifi gratis kepada pemuda/i Kepuluan Nias untuk bisa mengakses informasi dan lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah Bekasi, Jawa Barat dengan memberikan layan wifi gratis di bebepa lokasi kepada masyarakatnya secara cuma-cuma. Sementara itu bagaimana dengan pemerintah Kepulauan, apakah berani melakukan terobosan seperti yang di lakukan oleh pemerintah Bekasi, yang salah satu tujuannya membantu pemuda/i mendapatkan lowongan pekerjaan ?

*Seorang penulis freelance yang sementara waktu berdomisil di Yogyakarta.

Hubungan Antara Rumah Sakit dan Kebutuhan Pasien

Sunday, October 5th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2MENGAPA rumah sakit memiliki hubungan dengan pasien? Ada yang menjawab bahwa terjadinya hubungan itu karena ada yang membutuhkan. Yang butuh pelayanan rumah sakit adalah pasien yang sedang menderita penyakit, pasien ingin sembuh dari penyakitnya, makanya pasien mencari pelayanan rumah sakit atau pelayanan primer di ranah kesehatan yaitu Puskesmas. Tanpa ada yang sakit, maka tidak mungkin terjadi hubungan antara rumah sakit dan pasien.

Jawaban yang lain mengatakan bahwa yang butuh pasien adalah rumah sakit, apalagi sekarang sudah banyak berdiri rumah sakit. Semakin banyak institusi rumah sakit, semakin sulit mendapatkan pasien untuk dilayani, karena itu rumah sakit sekarang mengkedepankan persaingan dalam pelayanan.

Mau buktinya? Sekarang rumah sakit berlomba-lomba untuk mengikrarkan mengenai pelayanan yang diunggulkan di rumah sakitnya. Rumah sakit berlomba-lomba memiliki alat-alat medis yang canggih. Rumah sakit berlomba-lomba untuk lulus dari standar pelayanan secara internasional. Tujuan dari semua kegiatan ini, dalam rangka mengupayakan agar rumah sakitnya mendapatkan daya beda dan daya tarik serta mendapatkan kepercayaan dari calon-calon pasien. Dengan demikian, yang membutuhkan pasien adalah rumah sakit. Kalau tidak ada pasien, maka pelayanan rumah sakit tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu terjadilah hubungan antara rumah sakit dengan pasien.

Jawaban yang lain lagi mengatakan bahwa bila kita belajar sejarah dari beberapa rumah sakit yang telah berdiri sejak zaman Belanda, kita dapat memahaminya bahwa pada mulanya berdiri pelayanan rumah sakit, karena ada keinginan dari seseorang atau beberapa orang untuk memberikan pelayanan bagi warga masyarakat yang sedang menderita penyakit. Orang-orang ini ikhlas menjadikan dirinya sebagai pelayan untuk mengabdi kepada sesama yang membutuhkan kesembuhan dari penyakit.

Dari 3 (tiga) jawaban di atas, kira-kira di mana posisi pelayanan rumah sakit Anda? Apabila kita melihat perkembangan pelayanan rumah sakit sekarang dan dihubungkan dengan hubungannya pada kebutuhan pasien, nada-nadanya hubungan itu kok belum terjawab. Memang berat memposisikan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien.

Ada peribahasa lama Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Apakah peribahasa ini bisa diterapkan dalam hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien? Mungkin tidak sampai seperti itu, karena pasien yang tidak mampu pun tetap dilayani rumah sakit. Walau ada yang sering mengatakan dalam sebuah kiasan bahwa orang miskin dilarang sakit, tetapi tidak semua rumah sakit menolak pasien. Kalau pun ada penolakan pasien untuk rawat inap, mungkin karena sudah tidak ada bed yang kosong di ruang rawat inap. Betulkah itu?, Andalah yang bisa menjawab, Anda yang tahu situasi di rumah sakit Anda.

Ada juga informasi bahwa bila pasien mau berobat di rumah sakit, pasti ditanya siapa keluarganya dan siapa yang bertanggungjawab atas pasien ini. Bila pasien mau menginap, biasanya ditanyakan: “mau menginap di kelas berapa dan bayar berapa sekarang?” Biasanya jumlah pembayaran disesuaikan dengan ketentuan dari rumah sakit itu, minimal pembayaran untuk beberapa hari penginapan. Nah kalau masih ada pelayanan rumah sakit yang seperti ini, terus bisakah dikatakan bahwa hubungan rumah sakit dengan pasien merupakan hubungan transaksional? Terus tidak ada uang, abang melayang?

Untuk itu, kita perlu memahami dulu bahwa rumah sakit ada jenis dan klasifikasinya. Menurut UU RI No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, jenis pelayanan rumah sakit terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Bila dilihat dari pengelolaan rumah sakit, maka kita mengenal ada rumah sakit publik dan ada rumah sakit privat. Mengenai klasifikasi rumah sakit, ada yang memiliki kelas D, C, B dan kelas A. Penentuan kelas rumah sakit ini, didasarkan pada fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit. Nah, dari sekian rumah sakit yang pengelolaannya berbeda serta kelas rumah sakit yang berbeda juga, tentu pelayanan rumah sakit yang diberikan kepada pasien berbeda juga, sehingga bisa dikatakan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien berbeda pula pelaksanannya.

Kalau kita dalami mengenai hak dan kewajiban, baik hak dan kewajiban rumah sakit maupun hak dan kewajiban pasien seperti yang tertulis pada pasal 29 – pasal 32 UU RI No. 44 tahun 2009, mestinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien bisa dilakukan dalam koridor seperti yang tertulis dalam pasal dan ayat yang terdapat dalam UU tersebut. Masalahnya sekarang, apakah rumah sakit dan pasien sudah memahami hak dan kewajiban masing-masing pada saat terjadinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien?

Apabila kita amati sedikit mengenai kebutuhan pasien di rumah sakit, maka kebutuhan pasien antara lain kebutuhan akan informasi, pelayanan yang bermutu dan manusiawi, pelayanan konsultasi, dan lain-lain. Mengenai kebutuhan rumah sakit bisa juga diamati sebagai berikut: kebutuhan untuk dana operasional, kebutuhan melakukan kerjasama, kebutuhan untuk melakukan promosi pelayanan, kebutuhan mendapatkan insentif pajak, dan kebutuhan lainnya.

Apabila kita pertemukan kebutuhan pasien dan kebutuhan rumah sakit, barangkali dapat bertemu dalam hal pembiayaan pelayanan yang diberikan kepada pasien dan kegiatan promosi pelayanan rumah sakit. Dalam hal pembiayaan pelayanan umpamanya, maka perlu diperhatikan oleh rumah sakit mengenai penentuan ketepatan diagnosis, tindakan yang diberikan, dan obat yang tepat diperlukan oleh pasien.

Bila pemberian diagnosis, tindakan, dan obat yang diberikan oleh tenaga medik termasuk dalam kategori berlebihan atau justru sedikit, akan sangat berpengaruh pada besar tidaknya biaya pelayanan yang akan dibayar oleh pasien. Kalau pelayanan yang diberikan berlebihan, maka pasien akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, sedang bila pelayanan yang diberikan termasuk lebih rendah dari yang seharusnya, justru biaya yang akan dibayar pasien juga tetap besar, karena tingkat kesembuhan penyakit yang diderita pasien menjadi lama.

Demikian juga kegiatan promosi yang akan dilakukan oleh rumah sakit, tentu dimaksudkan agar pelayanan yang telah disediakan rumah sakit dapat diketahui oleh pasar (masyarakat). Nah, kegiatan promosi ini bisa juga berbiaya besar apabila pemilihan pada media promosi tidak tepat. Dan bila berbiaya besar, pada akhirnya akan menjadi beban pasien juga. Oleh karena itu, supaya hubungan rumah sakit dengan pasien menjadi semakin serasi dan semakin baik di masa yang akan datang, perlu manajemen rumah sakit berusaha keras untuk mengendalikan hal-hal yang disebutkan di atas.

Pengendalian biaya pelayanan rumah sakit – yang dilakukan oleh manajemen rumah sakit – sangat menentukan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien dalam jangka panjang. Bila pengendalian biaya tidak dilakukan dengan sangat hati-hati oleh manajemen rumah sakit, bisa-bisa akan terjadi penurunan pada kunjungan pasien di rumah sakit.

Meskipun sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang akan menyelesaikan pembayaran biaya pelayanan rumah sakit sesuai kebutuhan pasien, tetap saja usaha pengendalian terhadap biaya pelayanan rumah sakit menjadi sangat penting. Tujuannya supaya pelayanan rumah sakit tidak menjadi terkenal mahal. Dan kalau sampai terjadi informasi bahwa pelayanan sebuah rumah sakit mahal, risikonya sangat besar, dan bisa-bisa akan kehilangan banyak pasien.

Karena itu, manajemen rumah sakit dianjurkan supaya tetap berusaha keras agar rumah sakitnya dapat dikenal masyarakat sebagai rumah sakit yang cepat dalam memberikan pelayanan, komunikatif, dan tepat diagnosis atas penyakit yang diderita oleh setiap pasien yang berobat.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Kapan Pemerintah Hadir?

Friday, September 26th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZebuaPADA waktu Calon Presiden Jokowi berkampanye di wilayah lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, Beliau mengatakan bahwa pemerintah tidak hadir pada permasalahan yang dialami warga Sidoarjo. Bukti ketidakhadiran pemerintah, tampak permasalahan yang dialami masyarakat Sidoarjo tidak kunjung selesai, bahkan sangat berlarut-larut, sepertinya masyarakat dibiarkan mengalami sengsara yang berkepanjangan berkenaan dengan lumpur lapindo ini. Contoh lain, seperti yang terjadi pada waktu sekarang, banyak terjadi kekeringan bahkan lahan pertanian di beberapa daerah menjadi kering, karena langit sudah lama tidak menurunkan hujan. Dengan kondisi ini, kita bisa prediksi bahwa hasil dari pertanian menurun. Jadi kapan pemerintah hadir pada kejadian ini?

Ada pemerintah pusat yang dipimpin oleh seorang Presiden. Ada pemerintah daerah di provinsi yang dipimpin oleh seorang Gubernur. Ada pemerintah daerah di kabupaten dan kota yang dipimpin oleh seorang Bupati dan/atau seorang Walikota. Mestinya masalah yang dialami masyarakat ini bisa terselesaikan dengan baik, tapi ternyata banyak yang tidak terselesaikan. Lalu untuk apa ada pemerintah pusat dan daerah? Apa pentingnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah bagi masyarakat Indonesia?

Menurut Wikipedia, pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu. Artinya pemerintah adalah lembaga yang memiliki kekuasaan untuk memerintah. Karena itu Zelth (2013) mengemukakan bahwa pemerintah memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (Pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi Pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pelayanan, dikandung maksud bahwa pemerintah mempunyai tugas utama yaitu melayani kebutuhan masyarakat yang dipimpin. Bagaimana cara melayani masyarakat dengan baik? Bisa memberikan pelayanan yang baik kepada pasarnya (masyarakat), apabila Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota berkehendak memosisikan dirinya sebagai KEPALA PELAYAN. Hal ini pernah disampaikan dan dilaksanakan oleh Herry Zudianto – Walikota Jogja yang bertakhta dari tahun 2001 sampai tahun 2012, dengan mengatakan bahwa dia kini adalah Kepala Pelayan masyarakat Jogja. Selama Beliau memegang jabatan sebagai Walikota Jogja yang bertindak sebagai Kepala Pelayan, hasilnya ekselen. Banyak menghadirkan berbagai penghargaan atas prestasi yang ditorehkan kepada masyarakat Jogja. Ada lebih 80 penghargaan nasional dan internasional yang diraih Walikota Jogja ini atas keberhasilannya pada pekerjaan yang telah dilakukan.

Kalau para Pemimpin kita dapat bertindak sebagai Kepala Pelayan, dapat dipastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat serba cepat dan berkualitas. Dengan kondisi ini berarti pemerintah sudah hadir untuk memberikan pelayanan yang cepat dan manusiawi kepada masyarakat.

Pada waktu sumber daya manusia (SDM) pemerintah memberikan pelayanan kepada masyarakat, selalu disertai S3 yaitu Senyum, Salam, dan Sapa. Kalau hal ini bisa dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah, mestinya pengurusan kartu tanda penduduk (KTP) dan/atau kartu keluarga dan/atau mengurus pernikahan dan/atau izin usaha dan/atau sertifikat tanah dan/atau studi lanjut dan/atau yang lainnya, bisa diselesaikan dengan cepat. Kalau SDM pemerintah memberikan pelayanan lama atau berminggu-minggu kepada masyarakat, pasti rona mukanya pucat-pasi atau agak memerah karena menahan rasa malu. Begitukan keadaannya? Bila terjadi seperti ini berarti pemerintah sudah hadir. Buktinya ada rasa malu yang menghinggapi SDM pemerintah.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pengaturan, tinggal melaksanakannya dengan penuh tanggungjawab. Sudah banyak pengaturan yang terbit dari pusat seperti undang-undang, peraturan dan keputusan dari Presiden, peraturan dan keputusan dari Gubernur, peraturan dan keputusan Bupati dan/atau Walikota, serta peraturan-peraturan daerah yang dbuat sesuai dengan kondisi kebutuhan daerah yang bersangkutan. Pemerintah melaksanakan pengaturan dalam upaya mewujudkan tujuan yang akan dicapai yaitu terwujudnya keamanan masyarakat yang kondusif. Jadi pemerintah hadir agar masyarakat mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalani hidupnya.

Bisa saja segala pengaturan ini ada yang tumbang-tindih, namun yang mengatur adalah Pemimpinnya. Jangan biarkan timbul masalah pada perbatasan wilayah, penanganan hukum yang tajam kepada masyarakat dan tumpul kepada para pejabat, penanganan pembagian raskin untuk masyarakat yang sangat membutuhkan, pemberian beasiswa kepada yang studi lanjut, penanganan wilayah yang peruntukkannya bisa sebagai desa wisata, desa kerajinan, desa kuliner, desa siaga, desa digital, dan desa-desa dengan sebutan lain. Dengan demikian, setiap desa memiliki keunggulan sendiri-sendiri, dalam upaya peningkatan taraf hidup menuju kemakmuran.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pembangunan, maka pemerintah selalu berusaha untuk selalu hadir pada saat masyarakat butuh pembangunan. Pembangunan yang banyak dibutuhkan sekarang seperti pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan irigasi yang berkaitan dengan pembangunan daerah pertanian dan penyediaan hal-hal yang berkaitan dengan bibit, pupuk, alat untuk panen, dan pembasmi hama padi.

Pembangunan lainnya seperti pembangunan perkebunan seperti kelapa, kakao, kopi, karet, cengkih, lada, bawang dan brambang, wortel, kentang, jahe, kedelai, terong, tebu, dan yang lain. Pelaksanaan pembangunan di sini, tidak sekedar hanya memilih bibit tanaman yang sangat dibutuhkan sekarang, tetapi dilihat juga tentang kondisi tanah yang sesuai dengan bibit yang akan di tanam. Pengalaman membuktikan bahwa tanaman yang berhasil di daerah lain, bisa cocok atau tidak berhasil bila di tanam di daerah tertentu.

Nah pada fungsi pemerintah ini, diharapkan adanya kehadiran pemerintah dalam upaya mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpin. Umpamanya jalan sudah banyak lobang, maka pemerintah hadir di sana. Harga karet menurun sehingga warga masyarakat kedapatan mengeluh, maka pemerintah hadir di sana. Jadi, fungsi pembangunan di sini, pemerintah banyak melakukan atau mendorong terjadinya pembangunan di suatu wilayah.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pemberdayaan masyarakat, dapat dipahami bahwa keberhasilan pemerintah dalam memerintah masyarakatnya, bila pemerintah mampu memberdayakan masyarakat di wilayahnya sesuai dengan pengaturan dan pembangunan yang akan dan sedang dilaksanakan. Umpamanya, masyarakat tertindas, pendapatan rendah (miskin), kurang pendidikan, kurang gizi, kurang sehat, dan sebagainya. Nah, dengan kondisi di atas, pemerintah harus mampu membawa masyarakat keluar dari zona yang serba menydihkan ini, dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Menurut Zelth (2013), pemeberdayaan masyarakat dikandungmaksud supaya pemerintah berusaha mendorong masyarakat di wilayahnya untuk bisa mengeluarkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat, sehingga pemerintah tidak terbebani. Pemberdayaan yang dilakukan di sini dalam upaya untuk meningkatkan kualitas SDM atau masyarakat. Semakin masyarakat diperdayakan maka ketergantungan terhadap pemerintah akan semakin berkurang. Jadi, hadirnya pemerintah dalam rangka bermitra serta memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Kita ambil contoh konkrit seperti yang dilakukan oleh Bupati Kabupaten Kudus di provinsi Jawa Tengah. Setelah mendalami bahwa potensi yang dimiliki daerahnya terdiri dari usaha mikro kecil menengah (UMKM), maka pemerintah dihadirkan oleh Bupati, dengan memberikan modal uang berupa pinjaman, bunga rendah, dan bisa diangsur dalam periode waktu tertentu. Hadirnya pemerintah di sini, dalam rangka membantu mengembangkan usaha-usaha masyarakat yang termasuk dalam kategori UMKM itu, agar usaha itu bisa berkembang sekaligus bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.