Archive for the ‘Artikel’ Category

Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat

Tuesday, June 16th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM

Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Nias Barat

TIDAK terasa, pemerintah Kabupaten Nias Barat sudah memasuki usia yang ke-6, pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Pada tanggal tersebut pemerintah daerah melaksanakan upacara khusus serta mengadakan syukuran atas berbagai pencapaian yang telah dapat diwujudkan sampai sekarang.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam upaya memperingati ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias barat yang ke-6 ini, yaitu upacara khusus dan syukuran (potong tumpeng), seminar sehari, dan lomba budaya rakyat dan masakan khas Nias Barat dari 8 (delapan) kecamatan selama 3 (tiga) hari di pantai Sirombu, yang dikemas sebagai ‘Pesta Budaya Rakyat’.

Pada kegiatan seminar yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2015, ada 2 (dua) topik yang dibahas, yaitu; 1. Percepatan pembangunan melalui budaya gotong royong, dibawakan oleh Drs. Fg. Marthin Zebua (mantan Sekda Kabupaten Nias dan Tokoh Masyarakat Nias Barat); dan 2. Potensi pariwisata dan budaya Nias Barat dalam menyongsong era globalisasi, dibawakan oleh Manahati Zebua, yang lahir di kampung/desa Hilidaura, dan sekarang tinggal di Yogyakarta.

Kedua materi yang disampaikan dalam forum seminar tersebut, mendapatkan pembahasan dari beberapa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat. Beberapa penekanan dalam pembahasan dalam forum itu, yaitu: 1. Perlu kita hidupkan kembali budaya gotongroyong itu, baik di bidang sosial, ekonomi, dan pariwisata; 2. Kebersamaan dalam kegiatan gotongroyong itu, akan menjadi daya ungkit pada pelaksanaan berbagai pembangunan di Nias Barat; 3. Perlu segera melakukan inventarisasi mengenai obajek dan daya tarik wisata di Nias Barat, baik berupa wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata bahari, agro wisata, dan jenis wisata lainnya; 4. Setelah dilakukan inventarisasi, lalu objek dan daya tarik wisata itu ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda); 5. Pembuatan master plan kawasan di masing-masing objek dan daya tarik wisata; 6. Pembentukan badan promosi pariwisata daerah bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya di Kepulauan Nias; dan 7. Penetapan produk unggulan dan produk wisata unggulan di masing-masing kecamatan di Nias Barat.

Lomba Atraksi Budaya dan Masakan Khas Nias Barat

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Nias Barat dalam rangka menyemarakkan ulang tahun yang ke-6 itu, yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR). Kegiatan ini dilaksanakan sejak tanggal 26 Mei sampai tanggal 28 Mei 2015. Sejak dibuka kegiatan PBR sampai pada penutupan, yang dipusatkan di pantai Sirombu nan indah itu, dihadiri ribuan masyarakat Nias Barat. Mengapa banyak warga masyarakat yang turut serta menghadiri PBR? Karena pesta budaya ini diisi dengan berbagai perlombaan, baik lomba di bidang budaya dan olahraga maupun di bidang kuliner khas Nias Barat dari masing-masing kecamatan. Setiap kecamatan menampilkan berbagai atraksi budaya yang dikuasai serta berlomba dalam pembuatan masakan khas Nias Barat.

Beberapa lomba budaya yang ditampilkan oleh masing-masing kecamatan, antara lain Sile Mbanua, Voli Pantai, Fatoke atau Farundro, Tari Moyo, Fanika Era-era Mbowo, Famadögö Omo, Fame Ono Nihalö, Famatörö Döi Ndraono, Folau Oŵasa, Mbolo-mbolo Maena dan yang lainnya. Untuk lomba masak, peserta lomba menampilkan masakan yang materi dan penataannya dibuat menarik dan dinilai oleh para juri untuk mendapatkan nilai. Berbagai masakan yang ditampilkan oleh peserta dari kecamatan, antara lain: Sagu Bakar, Goŵi Nihandro, Goŵi Nidökhi, Harinake, Gae Nibogö, dan beberapa yang lain, yang sekaligus ikut menyemarakkan pelaksanaan pesta budaya rakyat (PBR) itu.

Daya Tarik Masyarakat

Pelaksanaan PBR di Kabupaten Nias Barat ini, ternyata bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat Nias Barat untuk menyaksikan langsung pesta budaya tersebut, serta turut serta ikut memberikan semangat bagi peserta lomba dari kecamatan masing-masing agar dapat menjadi juara lomba. Dengan demikian, bila pemerintah daerah aktif dan melaksanakan iven-iven yang berkaitan dengan lomba budaya, lomba kuliner khas Nias Barat, lomba kebersihan, lomba gotongroyong, lomba berselancar, lomba mancing di laut, lomba lari di pantai, lomba tata lingkungan rumah masing-masing, dan jenis lomba lainnya, dapat dipastikan bahwa masyarakat Nias Barat akan cepat memahami mengenai kegiatan-kegiatan di bidang pariwisata itu sendiri. Istilah kerennya sekarang adalah pariwisata disosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan yang menarik sehingga dapat dipahami dengan cepat dan mudah oleh masyarakat.

Hal yang sempat dibicarakan masyarakat dalam PBR tersebut sesuai informasi yang didapatkan, antara lain mengenai kebutuhan-kebutuhan yang mereka butuh selama mereka berada di pantai Sirombu. Mereka butuh aneka minuman dan aneka makanan terutama khas Nias Barat, mereka butuh payung atau topi agar mereka terlindungi dari panas matahari, mereka butuh kacamata untuk melindungi mata dari debu, mereka butuh tikar agar bisa duduk sambil menyaksikan atraksi budaya, dan sebagainya. Ternyata iven PBR yang diprakarsai pemerintah Kabupaten Nias Barat itu dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Nias Barat, dapat merangsang jiwa wirausaha atau usaha rumah tangga untuk menyediakan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan para supporter dan warga masyarakat lainnya. Satu contoh yang sangat dibutuhkan pada acara PBR itu seperti air kelapa muda, yang dapat memenuhi salah satu kebutuhan para penonton atau penggembira pada PBR yang dilaksanakan di pantai Sirombu nan indah itu.

Kegiatan Pariwisata Menggeliat

Melalui kegiatan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Nias Barat ini, dapat dikatakan ‘Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat’. Artinya, kegiatan pariwisata sudah dimulai dalam upaya untuk merangsang masyarakat Nias Barat peduli dan menghidupkan kembali mengenai budaya leluhur serta aneka kuliner yang pernah ada di Nias Barat. Kepedulian masyarakat ini akan menjadi embrio bagi masyarakat Nias Barat untuk memasuki dunia pariwisata yang dapat menjadi lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat.

Sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat, sesuai dengan komitmen ke-5 pemerintah daerah di Kepulauan Nias, yang sudah diikrarkan pada bulan Juni 2014 yang lalu. Komitmen para Bupati dan Walikota se-Kepulauan Nias itu turut disaksikan oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI) Dr. Sapta Nirwandar serta para Direktur di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, utusan dari Kementerian Perhubungan dan Kementarian Pekerjaan Umum serta para satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dari lingkungan pemerintah daerah se-Kepulauan Nias.

Dalam upaya memenuhi komitmen tersebut, barangkali pemerintah Kabupaten Nias Barat terdorong untuk memulai kegiatan pariwisata itu dengan mengaitkannya pada kegiatan peringatan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat ke-6, yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Mengawali kegiatan pariwisata itu dengan melaksanakan lomba budaya dan lomba kuliner khas Nias Barat termasuk lomba olahraga antar kecamatan di acara PBR itu. Ternyata iven tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat Nias Barat serta dapat memberikan rasa antusiasme bagi masyarakat. Kondisi ini akan dapat memberikan daya ungkit untuk memasyarakatkan pariwisata bagi masyarakat Nias Barat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan Sadar Wisata bagi kalangan masyarakat.

Kalender Kegiatan Pariwisata

Pariwisata sangat berkaitan dengan calendar of event (kalender pariwisata) yang perlu dibakukan pelaksanaan kegiatannya setiap tahun. Salah satu iven yang sudah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR) Kabupaten Nias Barat, yang pelaksanaannya setelah upacara potong tumpeng perayaan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat. Setelah itu perlu dipikirkan lagi mengenai kegiatan pariwisata lainnya, bisa seperti lomba voli pantai, lomba layang-layang, lomba gotongroyong, lomba mancing di laut, lomba selancar, lomba perahu layar, lomba lari di pantai, lomba kebersihan, lomba desa wisata, lomba desa sehat, lomba taman desa, lomba agro wisata, dan lain sebagainya.

Untuk itu, dukungan berbagai pemikiran dari Dinas Pariwisata dan SKPD yang lain serta dari para Tokoh Masyarakat sangat dibutuhkan, dalam upaya meningkatkan peran sektor pariwisata di Nias Barat. Mari melanggengkan kegiatan yang sudah ada (dimulai) seta mengusahakan kegiatan pariwisata lainnya, minimal setiap 2 (dua) bulan ada kalender kegiatan pariwisata di Nias Barat.

* Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

‘Keynote Speech’ Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015

Monday, June 15th, 2015

Presiden_JokowiCatatan Redaksi: Pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015 mengandung pokok-pokok pikiran beliau untuk pengembangan kawasan Indonesia Timur.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati seluruh menteri yang hadir, Ketua KADIN, utamanya KADIN Indonesia Timur, dan Bapak Ibu semuanya anggota KADIN yang saya hormati.

Kalau berbicara perdagangan dan investasi Indonesia bagian timur, kita melihat di lapangan sebetulnya potensi dan kekuatan yang bisa diangkat itu sangat besar sekali. Tetapi pendukung untuk melakukan itu memang perlu segera dikerjakan. Apa itu? Infrastruktur, tidak ada yang lain.

Oleh sebab itu, hari Jumat kemarin, kita sudah mulai pembangunan groundbreaking untuk pelabuhan Makassar, pelabuhan dan zona industri yang mencakup keluasan 2.000 hektar, bukan meter persegi, hektar, 2.000 hektar. Kemudian nanti bulan Juli, insya Allah juga akan kita mulai bangun lagi pelabuhan besar di Sorong, bukan pelabuhan yang lama, tetapi akan bergeser kurang lebih 30 km dari yang lama, dengan keluasan kurang lebih 7.000 hektar, yang di dalamnya akan ada pelabuhan untuk power plant dan tentu saja untuk kawasan industri. Hanya dengan cara-cara pembangunan seperti inilah, saya meyakini Indonesia bagian timur akan bisa berkembang lebih cepat dan lebih baik.

Saya berikan contoh, misalnya di kabupaten Merauke. Tapi dari Merauke ke tempat lokasi kurang lebih 2 jam lewat darat, namanya desa Wapeko. Disitu ada hamparan tanah datar yg sangat luas, sudah dihitung ada 4,6 juta hektar, tetapi setelah diidentifikasi yang siap untuk dikerjakan baru 1,2 juta hektar yang bisa dipakai untuk menanam padi, jagung, maupun untuk tebu. Kalau 4,6 juta hektar itu bisa dikerjakan semuanya, dan sudah ada 5.000 hektar yang dicoba, hasilnya 1 hektar bisa mencapai 8 ton. Artinya apa? Kalau menghasilkan padi 8 ton, kalau Bapak-bapak dan Ibu-ibu kalikan 8 ton kali 4,6 juta, hampir 37 juta ton sekali panen. Dua kali panen berarti 74 juta ton. Kalau tiga kali panen berarti 110 juta ton hanya dari satu kabupaten, padahal produksi nasional kita sekarang ini 60-70 juta ton.

Artinya apa? Kalau serius kita kerjakan ini, bukan hanya selesai, tapi kita akan berlimpah, yang namanya pangan itu akan berlimpah ruah. Hanya dari satu kabupaten. Padahal di sekitar Merauke, ada 4 kabupaten lagi dengan kondisi yang sama, tanahnya datar, subur, kanan kiri ada sungai yang sangat besar, yang juga bisa dikerjakan kegiatan yang sama.

Pertanyaan saya, kenapa bertahun-tahun ini tidak dikerjakan? Yang pertama, karena memang infrastruktur pelabuhannya diragukan siap untuk menampung produksi ini. Kedua, infrastruktur jalan dari pelabuhan menuju ke lokasi yang tadi saya sampaikan memang membutuhkan pembangunan dan beberapa tempat membutuhkan perbaikan. Dan juga yang tidak kalah besarnya investasi adalah untuk pembangunan irigasi menuju lokasi itu.

Kenapa tidak dikerjakan? Ya karena mungkin menterinya ngga pergi kesana. Saya hanya dengar, “Ada 4,6 juta, Pak.” “Masa?” “Betul, Pak.” Oke, ambil foto. Ambil foto, foto, foto, ternyata benar. Baru saya putuskan saya melihat sendiri kesana. Dan setelah melihat, karena sudah dikerjakan, hasilnya juga sudah dikerjakan 5.000. Hasilnya juga sudah ketemu. Jenis varietas yang cocok disitu juga sudah ketemu. 8 ton per hektar. Saya putuskan di lapangan, ya sudah dimulai. Bagian pemerintah nanti ada bagian pelabuhan, bagian jalan, dan bagian irigasi. Investasi silakan masuk, tapi jangan semuanya. 70 persen dipegang oleh BUMN, 30 persen silakan swasta. 30 persennya juga sudah banyak. Jutaan hektar begitu mau konsorsium berapa perusahaan juga belum tentu bisa kerjakan langsung. Padahal peluang pasar yang saya lihat, saya baru saja pergi ke Papua Nugini, beras yang ada disana harganya 3 kali lipat kita, kurang lebih Rp 30-an ribu. Saya itu kalau pergi kemana-mana, kuping saya saya buka lebar-lebar, Rp 30.000. Kalau di Merauke ada produksi seperti itu, meloncat kesana ga ada 1 jam sudah sampai, tapi beras yang ada di Papua Nugini berasal dari Thailand, masuk ke Australia, Australia kirim ke Papua Nugini.

Inilah saya kira kesempatan investasi, kesempatan perdagangan yang bisa saya berikan contohnya satu. Belum di tempat yang lain. Coba lihat di Maluku, lihat di Ternate, Tidore juga sama. Ikan itu bukan melimpah, sangat-sangat melimpah. Saya belum lihat sendiri, kalau malam hari yang namanya kapal itu kayak pasar malam di malam hari di sekitar itu. Lampunya gemerlapan banyak sekali, ngambil ikan. Tapi sayangnya bukan kapal kita, kapalnya kapal asing. Dan perlu saya informasikan, di seluruh tanah air ada 7.000 kapal yang lalu lalang dibiarkan ngambil ikan kita. Hitungannya adalah Rp 300 triliun setiap tahun kita kehilangan. Dan itu, menurut saya, hampir 70 persen, 80 persen ada di Indonesia bagian timur. Inilah juga investasi yang diperlukan di Indonesia bagian timur agar ikan-ikan itu tidak diambili oleh mereka dan kita menjadi penonton. Ini peluang yang sangat besar sekali.

Apa yang harus dilakukan? Beli kapal sebanyak-banyaknya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, terutama yang berasal dari Indonesia bagian timur. Kalau sudah beli bagaimana? Kerja sama dengan nelayan. Terus? Ikannya itu diambil. Terus? Buat pabrik cold storage. Terus? Buat pabrik pengalengan ikan. Kalau tidak bisa dilakukan sendiri, lakukan bersama-sama, konsorsium. Polanya plasma inti, biar nelayan juga mendapatkan sesuatu, intinya juga dapat keuntungan. Selalu yang saya terangkan seperti itu.

Di Merauke juga sama, yang akan kita bangun adalah inti plasma. Intinya dapat 70 persen, plasmanya, yang punya laham, dapat 30 persen. Semua penduduk mau semuanya. Dikerjakan dengan mekanisasi total, mekanisasi modern. Peluang-peluang seperti itu, setiap saya ke daerah, saya melihat betul-betul Indonesia bagian timur adalah masa depan kita. Tapi jangan keliru kebijakan. Saya titip, baik gubernur, bupati, jangan keliru kebijakan.

Kita pernah kehilangan, saya bolak balik menyampaikan, kehilangan momentum waktu booming minyak, kita kehilangan momentum, fondasi, fundamental ekonomi ngga betul kita bangun, hilang pada tahun 70-an, 80-an. Ada booming lagi, booming kayu juga sama. Tahun 80-an, 80, 85, 90, booming kayu saat itu, juga kita tidak bisa bangun fundamental ekonomi kita secara kokoh, padahal sangat melimpah ruah saat itu. Terakhir kita hampir saja juga kehilangan momentum minerba. Ini juga sangat besar sekali, tapi larinya selalu bahan mentah.

Inilah saya kira ke depan perlu semua, yang namanya produk-produk, semua bahan mentah, semua yang berkaitan dengan kekayaan kita, harus ada industrialisasi, harus ada hilirisasi. Dengan cara apapun itu harus ditempuh. Itu tugasnya swasta. Pemerintah tugasnya apa? Membangun infrastruktur tadi. Pelabuhannya dibangun, jalannya dibangun, transportasi dibangun.

Saya meyakini, apabila tol laut nanti selesai, perkiraan kita 3-4 tahun pelabuhan-pelabuhan besar kita jadi, Kuala Tanjung di Sumatera Utara, masuk kesini ke Tanjung Priok, ke timur ke Tanjung Perak, masuk lagi ke Makassar, masuk lagi ke Sorong, itu memang harus standarnya sama. Kapal besar semuanya bisa merapat. Semuanya harus seperti itu. Percuma yang di Priok, yang di Kuala Tanjung kapal bisa merapat, tapi di timur tidak bisa merapat. Kapalnya ya maju mundurnya disini terus, disana ga akan dapat. Tapi kalau semuanya bisa dilalui kapal-kapal itu, dari barat ke tengah ke timur, semuanya bisa terus, pada akhirnya apa? Biaya logistik akan jatuh lebih murah. Biaya transportasi juga akan jatuh lebih murah, ya transportasi barang. Dan akhirnya apa? Produk-produk kita akan kompetitif. Karena coba bandingkan biaya transportasi kita, biaya logistik kita dengan negara-negara dekat 2,5 sampai 3 kali lipat. Mana bisa produk-produk kita bersaing kalau biaya transportasi, biaya logistik masih sebesar itu? Inilah yang kita kejar. Karena dengan itu nanti daya saing produk-produk kita akan bisa compete dengan produk-produk negara yang lain.

Saya yakin kita mampu melakukannya. Kita optimis bisa melakukannya. Tetapi memang dunia usaha harus bergerak lebih cepat mendahului pemerintah. Kita di belakangnya memberikan dukungan. Contoh yang saya dengar mengenai Merauke tadi, dari swasta, “Pak, kita akan ini tapi kita butuh dukungan ini.” Saya cek, iya betul, oke. Saya bangun ini, saya bangun ini, kamu mulai. Memang harus seperti itu. APBN kita tidak cukup untuk semuanya kita kerjain, ngga mungkin. Selalu saya sampaikan, silakan swasta masuk. Investasi, silakan swasta masuk.

Peluang ada, silakan swasta masuk. Tapi kalau saya tunggu, tidak ada yang masuk, sudah saya sampaikan berkali-kali, saya tunggu, swasta tidak ada yang masuk, ya BUMN akan saya suruh masuk. Saya ngga mau nunggu-nunggu juga. Tapi sudah saya sampaikan, ini sudah saya buka. Inilah saya kira kesempatan-kesempatan dan peluang-peluang, opportunity, yang ada di Indonesia bagian timur. Saya belum berbicara masalah minerba. Saya belum berbicara masalah sumber daya alam yang lain yang juga sangat melimpah ruah. Memang harus satu persatu. Kalau semuanya kita buka, yang masuk bukan Bapak, Ibu, dan saudara semuanya, tapi ada yang lebih dahulu dan mengambil keuntungan dan kita hanya jadi penonton. Untuk apa? Ini kesempatan, ini peluang, baik sisi investasinya, baik sisi perdagangannya. Tetapi kalau tidak dimanfaatkan, akan ada nanti yang mengambil peluang itu.

Saya kira itu yang bisa saya sampailan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih ata perhatiannya dan saya memgucapkan selamat ber-Rakernas.

Terima kasih.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Sumber: Situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (Foto: Wikipedia.)

Ekowisata Sebuah Terobosan

Thursday, May 7th, 2015

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1PADA waktu sekarang, sudah banyak daerah di Indonesia yang sangat antusias mengembangkan pariwisata dengan ekowisatanya. Mengapa banyak tertarik pada pengembangan ekowisata? Karena ekowisata lebih banyak menampilkan rupa keaslian yang terdapat di daerahnya, seperti wisata alam dan wisata budaya. Menurut Abdullah Azwar Anas (panggilan akrabnya Anas) – Bupati Banyuwangi, dalam wawancara dengan wartawan, pariwisata di Banyuwangi lebih fokus pada ekowisata, yaitu wisata yang berbasis pada alam.

Sementara itu, menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (RI), ekowisata dari segi konsep yaitu merupakan konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Tetapi bila dilihat dari segi pasar, maka ekowisata itu merupakan produk wisata (misalnya: paket wisata). Akhir-akhir ini, paket wisata dengan konsep ”eko” atau ”hijau” menjadi trend di pasar wisata. Konsep ”kembali ke alam” cenderung dipilih oleh sebagian besar konsumen yang mulai peduli akan langkah pelestarian dan keinginan untuk berpartipasi pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya. Akomodasi, atraksi wisata maupun produk wisata lainnya yang menawarkan konsep kembali ke alam semakin diminati oleh pasar (Unesco, 2009).

Penampilan ekowisata sebagai objek dan daya tarik wisata (produk wisata), tidak memerlukan biaya besar. Paling-paling hanya memerlukan biaya untuk memolesnya sedikit, supaya para pengunjung di objek wisata itu merasa nyaman dan fresh bila melakukan perjalanan untuk melihat objek wisata tersebut.

Lain halnya bila menghadirkan objek dan daya tarik wisata buatan, seperti “taman pintar” di Jogja atau taman mini Indonesia indah (TMII) di Jakarta Timur. Biaya pembuatannya sangat mahal karena berbagai atraksi pengetahuan dan budaya ditampilkan di arena tersebut. Sehingga pembuatan taman pintar dan TMII itu mungkin menggunakan anggaran multi-years yang besar hehe.

Untuk mengurangi biaya besar dalam pengembangan pariwisata itu, maka daerah banyak yang tertarik untuk mengembangkan ekowisata. Selain melestarikan budaya dan alam, juga ingin menampilkan keaslian dari objek dan daya tarik wisata itu. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk menghidupkan ekowisata di daerah tersebut relatif lebih murah dibanding dengan wisata buatan.

Dan justru ekowisata inilah yang banyak digemari wisatawan manca Negara (wisman) dan sebagian dari wisatawan nusantara (wisnus). Mereka lebih suka dan bangga melihat budaya dan alam yang apa adanya. Contoh, bila kita memiliki objek dan daya tarik wisata alam, cukup menyiapkan jalan setapak yang nyaman, Artinya para wisatawan yang berkunjung di situ merasa nyaman dan dapat terhindar dari gigitan ular atau binatang buas lainnya.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak terdapat objek dan daya tarik wisata alam dan budaya. Untuk wisata alam sudah tersedia banyak di setiap daerah seperti pantai-pantai dengan olahraganya (surfing, menyelam, perahu layar, memancing ikan, melihat-lihat terumbu karang), danau-danau, sumber air panas, air terjun, olahraga naik gunung, dayung perahu di sungai, hamparan perkebunan coklat, hamparan perkebunan kopi, hamparan perkebunan teh, hamparan perkebunan karet, hamparan perkebunan buah-buahan, hamparan persawahan, dan seterusnya. Demikian juga untuk wisata budaya, banyak budaya yang adiluhung di setiap daerah, seperti lompat batu di Nias Selatan, rumah adat di Sulawesi, makam raja-raja di Yogyakarta, tarian-tarian yang beraneka ragam seperti tarian maena di Kepulauan Nias, tarian kecak di Bali, tari saman di Aceh, tari klasik gaya Yogyakarta, dan berbagai tarian yang lain yang terdapat di daerah-daerah.

Pelestarian budaya yang dimiliki oleh daerah, bisa terus dilakukan dengan menghadirkan pusat-pusat pelatihan budaya nenek moyang kita itu di beberapa tempat, bahkan bisa didirikan di luar daerah itu, seperti pendirian sanggar-sanggar budaya di setiap Kota dan Kabupaten atau di daerah lain. Sanggar-sanggar budaya ini menjadi sangat penting peranannya di dalam melestarikan budaya mesolitikum yang dimiliki oleh masyarakat kita di di setiap daerah.

Meskipun banyak terdapat wisata alam dan wisata budaya di daerah, namun objek dan daya tarik wisata budaya itu mungkin hanya sebagian yang tercatat pada “dunia wisata Indonesia”. Contoh budaya yang terdapat di Kepulauan Nias, hanya tercatat 1 (satu) yaitu atraksi budaya lompat batu. Objek wisata alam dan budaya yang lain mungkin belum masuk atau belum tercatat. Nah, inilah yang perlu diperhatikan dan disiapkan oleh pemerintah daerah, khususnya satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sektor pariwisata. Kalau bisa ya objek wisata alam dan budaya yang terdapat di setiap daerah bisa diupayakan sebanyak-banyaknya dimuat di “dunia wisata Indonesia”.

Kalau kondisinya demikian, maka mau tidak mau, kita harus menyiapkan “website wisata daerah”. Zaman sekarang sudah zamannya teknologi dan zamannya internet. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi RI tahun 2014, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang. Sehingga Indonesia termasuk Negara pengguna internet terbanyak nomor 8 di dunia. Sudah sebanyak itu saja, Indonesia baru termasuk nomor 8 di dunia. Jadi Anda bisa bayangkan bahwa begitu banyak jumlah pengguna internet di dunia, sehingga memberikan banyak pengaruh internet di kehidupan kita pada saat ini.

Untuk memahami lebih dalam fungsi dari internet itu, saya akan memberikan contoh. Pada waktu mendapat pekerjaan royek in-house training manajemen rumah sakit di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah, saya mengajak beberapa teman untuk ikut melatih sumber daya manusia (SDM) rumah sakit itu sesuai kompetensinya. Nah, salah satu dari teman yang saya ajak itu, menyiapkan diri dengan berusaha mengetahui terlebih dahulu mengenai profil rumah sakit. Teman ini mencoba mencari informasi melalui Mbah Google, ternyata informasi tentang rumah sakit yang dimaksud tidak ditemukan.

Lalu teman ini menelpon saya dengan mengatakan, Pak Zebua, berapa sih jumlah bed rumah sakit ini? Atau besarnya rumah sakit ini hanya setingkat Puskesmas? Terus terang, pada saat menerima pertanyaan itu, saya sedikit heran dan lalu bertanya, kenapa Pak? Begini lho Pak, saya sudah mencoba mencari profil rumah sakit ini di internet, tapi tidak ketemu, Mbah Google tidak bisa menjawab. Setelah saya mendapatkan penjelasan singkat seperti itu, akhirnya saya menjawab begini, jumlah bed rumah sakit ini sekitar 400 bed dan siap menerima materi dari Bapak. Setelah menjawab itu, malah teman ini justru langsung terbahak-bahak sambil berujar, zaman gini kok ada rumah sakit yang gagap teknologi, apa kata dunia!.

Membuat website suatu daerah serta aktif di media sosial untuk memasarkan ekowisata daerah, sesuatu yang sangat mendukung bersinarnya masa depan pariwisata daerah di masa mendatang. Gambar-gambar yang ditayangkan oleh biro dan agen perjalanan umpamanya dengan berpromosi sebagai mitra perjalanan Anda di daerah itu, malah sangat menarik dan bagus-bagus.

Alangkah indahnya apabila gambar-gambar dari objek dan daya tarik ekowisata di daerah itu, dapat disatukan dalam 1 (satu) album dengan cover “Pariwisata Daerah yang Eksotik”, yang dapat diperjualbelikan untuk umum. Selain itu website daerah juga bisa dibuat dengan memuat berbagai gambar objek dan daya tarik wisata serta isinya selalu di update terus sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang ada pada objek dan daya tarik wisata alam dan budaya di daerah itu.

Ekowisata pada saat ini sudah menjadi aktivitas ekonomi yang penting, yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendapatkan pengalaman mengenai alam dan budaya untuk dipelajari dan memahami betapa pentingnya budaya lokal tersebut. Alam dan budaya lokal dari setiap daerah akan menjadi sebuah pengalaman bagi wisatawan untuk memberikan apresiasi dalam hal perbedaan dan makna, sehingga si wisatawan akan memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan tentang alam dan budaya yang terdapat di setiap wilayah/daerah.

Menurut Tazbir Abdullah, SH., M.Hum, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI), bahwa pariwisata Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang melimpah sebagai potensi penggerak ekonomi untuk kesejahteraan bangsa. Disamping itu, pariwisata sekaligus juga berperan besar sebagai instrumen pelestarian alam dan budaya (Zebua, 2014). Dengan demikian melalui pengembangan ekowisata, akan dapat berperan besar sebagai trigger untuk menggerakkan sektor lain, seperti ekonomi, infrastruktur, pertanian, ekonomi kreatif (transportasi, akomodasi, rumah makan/kuliner, souvenir), serta dapat pula menggerakkan perilaku masyarakat untuk menjadi lebih bersih dan ramah.

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM. Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Merindukan Pemimpin Bersih

Saturday, March 28th, 2015

*Mengenang Sepuluh Tahun Bencana Gempa di Nias

Oleh Hekinus Manaö

NO-FokusPada tanggal 28 Maret 2005 saya bersama tim Bappenas dan Kementerian Keuangan dari Indonesia sedang melakukan pembicaraan dengan Bank Dunia di Lantai 8 MC-Building, Kantor Pusat Bank Dunia di H Street, Washington D.C., hanya satu blok dari White House. Menjelang istirahat siang, Vice President of East Asia Pacific dari World Bank tiba-tiba muncul sambil membawa sehelai print-out komputer tentang berita gempa dahsyat yang baru saja beberapa menit lalu melanda pantai Barat dari Pulau Sumatera. Tepatnya gempa bumi itu terjadi pada 28 Maret 2005 jam 23:09 wib, atau jam 12:09 siang waktu Washington D.C. Pusat gempa berada di sekitar Kepulauan Nias, yakni di 2° 04′ 35″ U 97° 00′ 58″ T, 200 km sebelah Barat Sumatera dan 30 km di bawah permukaan Samudera Hindia. Catatan seismik memberikan angka 8,7 Skala Richter, dan getarannya terasa hingga Bangkok. Dengan kekuatan sebesar itu, gempa Nias ini merupakan gempa bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964, dan karenanya disusul dengan peringatan kemungkinan datangnya tsunami, walaupun akhirnya tidak terjadi.

Mendapatkan berita itu tentu saja membuat kami terperanjat, karena rapat kami dengan pihak Bank Dunia siang itu adalah terkait dengan teknik pengelolaan bantuan yang mengalir dari berbagai pihak untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang telah lebih dulu dilanda oleh gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Agenda rapat berkisar tentang kemungkinan pembentukan badan khusus yang menangani bencana Aceh oleh Pemerintah Indonesia melalui suatu Peraturan Pemerintah Pengganti Udang-Undang, pembentukan multi-donor trust fund oleh Bank Dunia untuk menampung dana asisten dari mancanegara, dan pola manajemen keuangan yang fleksibel untuk percepatan penyaluran bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.

Walaupun Kepulauan Nias ikut terkena bencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, dampaknya relatif minor dibandingkan dengan yang dialami oleh Aceh. Karena itu, dengan berita bencana gempa Nias, peserta rapat mulai mengantisipasi perlunya perluasan cakupan manajemen bencana yang meliputi Kepulauan Nias, selain Aceh. Terlebih lagi karena salah satu dari peserta rapat siang itu adalah berasal dari Kepulauan Nias, yaitu saya sendiri.

Betul saja, gempa bumi 8,7 SR tersebut telah meluluhlantakan hampir seluruh kepulauan Nias, termasuk kota Gunung Sitoli dan Teluk Dalam yang merupakan ibukota Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Bencana dahsyat ini telah menelan korban meninggal sekitar 1000 orang dan menelantarkan lebih 70,000 orang karena kehilangan tempat tinggal. Terjadi pula pengungsian besar-besaran sekitar 20 sampai 30 ribu orang ke daratan Sumatera. Infrastruktur jalan dan jembatan serta sejumlah fasilitas umum yang memang sudah lebih dulu dalam kondisi tidak terawat dan sebagian telah hancur, menjadi makin hancur, dan sulit digunakan sehingga mobilisasi bantuan tanggap darurat pun menjadi terhambat.

Dengan kondisi ekonomi yang terbelakang sejak sebelum bencana, kebutuhan pemulihan pembangunan di Nias setelah bencana menjadi makin besar. Perkiraan awal, diperlukan dana sekitar sepuluh triliun Rupiah untuk merehabilitasi infrastruktur dasar, termasuk untuk jalan dan jembatan, air bersih, sarana pendidikan, perkantoran pemerintah, perumahan, dan pelabuhan.

Ketika Perppu Nomor 2 Tahun 2005 diterbitkan pada bulan April 2005, upaya penanggulangan bencana serta pembangunan Nias sempat dimasukkan walaupun data tentang skalanya baru menyusul kemudian. Pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias berdasarkan Perppu tersebut merupakan focal point dari pemulihan wilayah terkait selama 4 (empat) tahun. BRR di bawah kepemimpinan Kuntoro Mangkusubroto membentuk kantor di Gunung Sitoli dan kemudian juga di Teluk Dalam.

Namun kisruh pertama yang dialami ketika BRR memulai tugasnya di Nias adalah ketidakakurasian informasi tentang bencana dan cakupan pemuliah yang dimuat dalam blue print atau Rencana Induk rehabilitasi dan rekonstruksi yang dimuat dalam Peraturan Presiden No. 30 Tahun 2005. Namun hal tersebut perlahan diatasi dengan penyesuaian yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintahan Tahunan serta penerbitan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2008 yang mengesahkan penyesuaian-penyesuaian tersebut.

Kisruh lain terjadi dalam kekacauan koordinasi pelaksanaan kegiatan oleh BRR bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Pemerintah Daerah memandang sebagian dari kegiatan yang dilakukan oleh BRR tidak sinkron dengan tujuan pembangunan daerah. Sementara pihak BRR menyesalkan lambannya pihak Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi peraturan, seperti absennya ketentuan tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah, yang memaksa BRR bekerja dalam koridor ketentuan yang terbatas, sehingga kegiatan dan manfaat hasil pembangunan menjadi tidak optimal. Konflik dalam koordinasi ini tetap berlangsung hingga berakhirnya masa tugas BRR di Nias. Dampaknya, antara lain, fungsionalisasi serta transfer asset dari BRR kepada daerah yang belum tuntas hingga saat ini.

Pembangunan kembali Kepulauan Nias yang berpenduduk hampir 800 ribu dan tersebar sebagian pada wilayah pedalaman dan pulau-pulau kecil yang terisolasi merupakan tantangan besar. Namun selama empat tahu bertugas, BRR telah secara maksimal menjalankan fungsinya. Berdasarkan catatan, statistik kegiatan BRR selama bertugas di Nias dalam tempo empat tahun sampai April 2009, dapat diringkas sebagai berikut.

Komitmen untuk membangun rumah baru sebanyak 22,600 unit hanya berhasil direalisasikan sekitar 15,000 unit. Itupun sebagian tidak pernah dihuni antara lain karena kondisi yang tidak layak atau karena peruntukan yang tidak jelas. Ditarget pula untuk merehabilitasi sekitar 35,000 unit rumah, antara lain dengan menyediakan subsidi tunai. Namun pemberian subsidi rekonstruksi 23,000 unit rumah penduduk gagal direalisasikan karena silang pendapat tentang ketentuan besaran subsidi yang berlaku. Total anggaran yang terserap oleh sektor perumahan dan permukiman mencapai Rp 1,74 triliun, atau sekitar 30,7 persen dari total dana rehabilitasi dan rekonstruksi Nias yang direalisasikan oleh BRR selama empat tahun.

Porsi terbesar dari anggaran yang direalisasikan oleh BRR untuk Nias adalah untuk pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, telekomunikasi, air dan sanitasi. Anggaran yang terserap oleh bidang infrastruktur ini hingga 2009 adalah Rp 2,17 triliun atau 38,3 persen dari seluruh dana serapan BRR di Nias. Dari target rekonstruksi 470 km jalan provinsi, dapat direalisasikan sampai 410 km. Sementara, terhadap target rekonstruksi 800 km jalan kabupaten hanya bisa diwujudkan sekitar 310 km. Berhasil pula diselesaikan pembangunan 42 jembatan dari 84 jembatan yang semula ditargetkan. Kelima pelabuhan laut yang direhabilitasi atau dibangun kembali telah sesuai dengan rencana. Namun dari 2 airstrip yang hendak dibangun, hanya satu yang berhasil selesai hingga dapat dioperasikan. Sementara pembangunan satu airstrip di wilayah Teluk Dalam terbengkalai di tengah jalan. Telah juga diselesaikan normalisasi sejumlah sungai dan pembangunan jaringan irigasi, walaupun hanya mencapai sekitar 60 persen dari target awal.

Perlu juga dicatat keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, kesehatan, dan perkantoran di Nias selama BRR bekerja. Hampir seluruh 760 unit sekolah yang direncanakan berhasil dibangun kembali. Dua buah rumah sakit berhasil dibangun kembali, selain sekitar 50 puskesmas yang diperbaiki atau dibangun baru.

Kegiatan lain yang ditangani selama BRR bertugas adalah pemberian dukungan pada kegiatan ekonomi. Ada sejumlah paket berupa bantuan langsung permodalan, penyediaan fasilitas, dan pemberian latihan. Namun sektor ini hanya sekitar sepuluh persen dari aktivitas BRR ditinjau dari segi anggaran yang direalisasikan.

Terdapat estimasi kebutuhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias pada awalnya hingga Rp 11 triliun. Namun dana yang tersedia tidak mencapai jumlah demikian. Nyatanya menurut data laporan keuangan BRR, total dana yang terealisasikan adalah Rp 5,67 triliun, didapatkan langsung dari APBN sebanyak Rp 3,47 triliun dan disumbang oleh sekitar 80 pendonor sebesar Rp 2,2 triliun.

Pasca pembubaran BRR pada akhir tahun 2009, kegiatan pembangunan dilanjutkan oleh Pemerintah berdasarkan kerangka Rencana Aksi Kesinambungan dan Rekonstruksi di Kepulauan Nias, antara lain dengan tetap memanfaatkan sisa dana BRR dan dana hibah yang disediakan para pendonor. Terdapat tiga kelompok kegiatan yang menjadi tindak lanjut tersebut, yakni melalui Rural Access and Capacity Building Project (RACBP), Nias Livelihood and Economic Development Program (Nias LEDP), dan Nias Island Transition Project (NITP). RACBP dengan anggaran US$ 10 juta ditujukan untuk melanjutkan pembangunan jalan akses ke desa-desa dan rekonstruksi warisan budaya. Sementara LEDP yang didukung dengan Multi Donor Fund (MDF) sebesar US$8,2 juta dimaksudkan untuk meneruskan pengembangan kegiatan usaha dan ekonomi lokal. Kemudian NITP yang juga disokong pendanaannya oleh MDF hingga sebanyak US$3,9 juta difokuskan pada pengembangan kapasitas Pemerintah Daerah untuk mengambil alih tugas-tugas pembangunan dan meneruskan perawatan fasilitas yang telah dibangun.

Seluruh kegiatan yang disokong oleh dana hibah MDF tersebut telah diakhiri pada tutup tahun 2012, sesuai dengan statute yang disepakati sejak awal dengan para pendonor. Seberapa besar kegiatan yang berhasil dilakukan dan berapa dana MDF yang berhasil diserap di bawah koordinasi manajemen kantor Bank Dunia di Jakarta tidak diketahui dengan jelas. Upaya untuk memperoleh laporan akhir melalui media elektronik tidak mudah diperoleh.

Namun harus diakui bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias yang berlangsung mulai sejak bagian akhir 2005 hingga akhir 2012 telah meningkatkan kemampuan Nias sebagai bagian komunitas bangsa. Dewasa ini, Kepulauan Nias tidak lagi hanya terdiri dari dua kabupaten, tetapi telah menjadi empat kabupaten dan satu kota sejak sekitar lima tahun lalu. Bahkan kalau saja RUU Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang diagendakan persetujuannya oleh DPR RI 2009 – 2014 pada bagian akhir tugasnya bulan September 2014 tidak dibatalkan, Kepulauan Nias niscaya telah menjadi povinsi ke-34.

Tetapi, sesungguhnya pergumulan Nias bukan terletak pada peningkatan statusnya menjadi provinsi. Melainkan tantangan yang paling mendasar adalah bagaimana memperoleh kepemimpinan teladan yang sepenuhnya mendedikasikan dirinya bagi kepentingan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri berlangsungnya apatisme dan sinisme masyarakat di seluruh wilayah Nias bahwa Pemerintah Daerah hanya berorientasi untuk memuaskan kepentingan aparatnya, terutama kepentingan pemimpinnya.

Dengan ketentuan pelaksanaan pilkada serentak yang kini berlaku, keempat bupati dan satu walikota di Nias akan dipilih kembali di bulan Desember 2015. Putaran kepemimpinan baru ini merupakan kesempatan yang mencemaskan, karena di satu pihak kekuatan para incumbent tidak bisa dipungkiri. Sementara kerinduan masyarakat untuk memperoleh pemimpin baru yang bersih dan penuh pengabdian sudah sangat memuncak.

*Penulis adalah Mantan pegawai Kementerian Keuangan dan Direktur Eksekutif Bank Dunia  

Pariwisata Kepulauan Nias dan MEA 2015

Monday, February 2nd, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MEA sudah sering kita dengar dan mungkin juga sudah banyak yang membaca di berbagai tulisan di harian atau majalah. Bahkan sudah ada berita iklan di televisi, yaitu seorang gadis yang cemburu kepada pacarnya gara-gara pacarnya sering menyebut nama MEA, dikira MEA itu nama gadis lain, sehingga si gadis cemburu. Tapi untung ada bapak si gadis yang menjelaskan bahwa MEA itu bukan nama gadis. MEA itu kependekan dari masyarakat ekonomi Asean. Setelah si gadis memahami bahwa MEA itu bukan nama gadis lain, akhirnya si gadis tersenyum dan kembali ceria lagi.

Sehubungan dengan MEA ini, Profesor Rhenald Kasali, Ph.D. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, memberikan penjelasan yang lebih dalam tentang MEA ini, pada tulisan Beliau yang dimuat di harian Jawa Pos belum lama ini. Beliau mengatakan bahwa pada intinya MEA itu menyangkut 4 (empat) hal, yaitu: 1. Free flow of barang; 2. Free flow of orang; 3. Free flow of services; dan 4. Free flow of money. Artinya Association of Southeast Asian Nations (Asean) yang terdiri dari 10 negara itu, yaitu: Indonesia, Philipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar, sudah menjadi satu wilayah sebagai pasar bebas. Produk yang berkualitas dari setiap Negara, bebas diperjualbelikan di Negara lain, orang bebas bepergian, bebas menanam modal di bidang jasa dan industri, dan bebas memasarkan produk pelayanan jasa.

Banyak orang yang berkata bahwa MEA ini merupakan ancaman bagi Indonesia. Bisa bertindak sebagai ancaman, apabila Indonesia tidak menyiapkan diri untuk mengisi dan menyambut MEA tersebut. Tetapi apabila MEA ini didalami secara seksama, mestinya hadirnya MEA ini merupakan peluang emas bagi Indonesia. Pasar yang tersedia semakin luas yaitu meliputi 10 (sepuluh) Negara, kerjasama antar komunitas atau Negara semakin terbuka, alih teknologi semakin tercipta, serta bagi investor akan mendapatkan peluang untuk menanamkan modalnya di berbagai wilayah di Asean, yang dapat memberikan profit besar pada usahanya, sehingga usahanya tersebut bisa lebih menggurita lagi.

Nah, untuk menghadapi lalulintas barang, orang, jasa, dan modal di pasar bebas ini, tentu sesegera mungkin kita melakukan persiapan-persiapan. Persiapan ini sudah dimulai dari pemerintah pusat seperti fokus pembangunan pada infrastruktur, perhubungan, pertanian, dan maritim. Lalu pemerintah daerah juga tentu melakukan persiapan dengan melaksanakan pembangunan di daerahnya searah dengan fokus pembangunan dari pemerintah pusat.

Sekarang ini sudah mulai banyak pemerintah daerah di wilayah Indonesia yang membentuk tim kerja dalam menyiapkan dan menghadapi MEA ini. Mengapa demikian? Karena dengan MEA ini akan tercipta berbagai peluang dan juga menciptakan persaingan yang sangat ketat pada produk barang dan jasa. Kita ambil contoh, sebuah produk barang. Produk ini akan bisa menembus pasar bebas Asean, bila produk itu memiliki daya saing dalam hal daya manfaat, daya beda, dan daya tarik. Artinya produk yang kita hasilkan dapat didayagunakan oleh pasar (konsumen) apabila produk kita bisa bersaing dengan produk lain yang sejenis dari Negara Asean lainnya. Dengan demikian, kita berbicara tentang produk yang berkualitas serta tahan lama dan dengan harga yang bisa bersaing.

Demikian juga dalam hal produk jasa, seperti jasa perhotelan, jasa transportasi, jasa keuangan, jasa pelayanan sumber daya manusia (SDM), jasa kuliner/restoran, dan jasa pelayanan lainnya. Pelayanan yang kita hadirkan harus lebih baik atau minimal sama dengan pelayanan yang kita jumpai di daerah dan Negara lainnya di wilayah Asean. Dengan demikian, kita harus bekerja ekstra untuk segera memperbaiki mutu pelayanan kita di bidang pariwisata, akses menuju objek wisata, pelayanan angkutan, pelayanan kuliner, aneka pertunjukkan budaya, serta kualitas barang souvenir yang kita hasilkan. Barangkali tim kerja yang telah dibentuk oleh beberapa pemerintah daerah tadi, dapat segera bekerja keras dan memberikan berbagai informasi yang harus segera kita benahi, agar tidak terlalu ketinggalan dengan daerah lain atau Negara lain di Asean.

Berkenaan dengan penuturan di atas, seharusnya kita menaruh hormat dan berterima kasih atas kehadiran MEA ini, karena dengan kehadirannya dapat memberikan cambuk atau pecut kepada kita untuk harus segera berbenah dan bertindak cepat. Adanya cambuk dari MEA ini, dapat memberikan daya dorong pacuan kepada kita untuk segera bekerja keras mewujudkan berbagai hal menurut yang terbaik dan yang memiliki daya saing di tingkat regional Asean. Memang manusia itu sering memerlukan tantangan atau cambuk untuk memacu semangat dalam melakukan berbagai hal. Seperti halnya kuda yang menarik dokar/andong, kusir perlu memberikan perintah dengan cara mencambuk kuda itu agar kuda mau berjalan, berlari atau berhenti.

Presiden Jokowi sangat menaruh perhatian pada bidang pariwisata. Kalau kita flash-back, saat Jokowi sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, kegiatan pariwisata sangat dikedepankan. Banyak iven pariwisata yang dihadirkan, bahkan iven kegiatan pariwisata sudah dijadwalkan selama satu tahun. Karena itu sudah sangat tepat yang disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, bahwa pariwisata harus berkembang dan dikembangkan. Untuk itu target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia tahun 2015 sebanyak 10 juta orang, sedang target jumlah wisatawan nusantara (wisnus) di tahun yang sama sebanyak 254 juta. Wow, jumlah wisatawan yang sudah mulai bergerak lebih banyak.

Jumlah target wisman dan wisnus secara nasional seperti yang disebutkan di atas, tentu perlu mendapatkan perhatian kita dengan sungguh-sungguh. Perlu mendapat perhatian yang utama, karena pemerintah daerah se-Kepulauan Nias telah berkomitmen untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai salah satu daerah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia serta telah disepakati bersama oleh 5 (lima) pemerintah daerah bahwa sektor pariwisata merupakan lokomotif pembangunan. Sehingga dengan semangat ini, pemerintah daerah telah merumuskan rencana aksi (renaksi) untuk mewujudkan Kepulauan Nias menjadi wilayah destinasi pariwisata di Indonesia. Karena itu, tentu perlu dirumuskan mengenai berapa target kita dalam hal jumlah wisman dan wisnus yang diharapkan bisa berkunjung di Kepulauan Nias pada tahun 2015 ini?

Kehadiran MEA dan komitmen bersama untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai wilayah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia, ternyata sudah berada dalam irama yang sama dan waktu yang sama. Irama yang sama untuk bertindak cepat dalam membangun kepariwisataan di Kepulauan Nias serta dicambuk oleh MEA untuk segera bertindak dan berbenah, demi percepatan pembangunan pariwisata. Momentumnya sudah sangat tepat dan sangat mendukung, sehingga kita bisa menyanyikan salah satu lagu wajib, karangan Ibu Sud, yaitu berkibarlah benderaku lambang suci gagah perwira, di seluruh pantai Indonesia kau tetap pujaan bangsa . . . . . dan seterusnya. Berkibarlah pariwisata, di Kepulauan Nias, di seluruh Kepulauan Nias terdapat objek wisata . . . . . dan selanjutnya.

Semangat yang menggelora ini muncul karena waktunya hampir bersamaan, Pariwisata dan MEA. Sepertinya sudah ada yang mengatur. Percayalah itu. Karena itu marilah kita kibarkan semangat yang sedang menggelora di dada para pengambil keputusan, untuk mewujudkan cita-cita bersama itu. Jadikanlah Kepulauan Nias menjadi andalan Pulau Sumatera di bidang pariwisata atau Kepulauan Nias dirubah menjadi Balinya Pulau Sumatera.

Palu sudah berada di tangan para pemimpin di daerah Kepulauan Nias. Ayunkanlah dan pukulkan palu itu di atas meja, sebagai tanda pengobaran semangat dan pembakar semangat masyarakat untuk bersama-sama melakukan banyak hal di bidang pariwisata, serta menyalakan mercu suar yang dapat memancarkan isyarat untuk membantu memberikan tanda tempat berlabuhnya kapal pariwisata Kepulauan Nias.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan

Monday, January 19th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniAdat Perkawinan di Pulau Nias masih identik dengan Böwö (mahar). Böwö (mahar) membudaya di pulau ini sejak zaman dulu hingga pada era ini sehingga menjadi satu elemen atau obyek yang berkembang dan tak mudah punah dalam kehidupan masyarakat. Apabila dipandang dari sisi nilai memang dapat dikatakan bahwa Böwö (mahar) Adat Perkawinan memiliki nilai konkret atau wujud yang tinggi. Böwö (mahar) Adat Perkawinan di Pulau Nias mencakup banyak unsur. Salah satu di antaranya adalah Fanötö Idanö.

Fanötö Idanö berasal dar Bahasa Nias. Fanötö adalah penyeberangan dan Idanö adalah air. Jadi penerjemahan kata demi kata “Fanötö Idanö” berarti Penyeberangan Air. Fanötö Idanö merupakan istilah yang sudah dipahami oleh masyarakat Nias. Istilah Fanötö Idanö ini hanya terintegrasi dalam adat pernikahan.

Fanötö Idanö merupakan salah satu dari unsur Böwö (mahar) yang membudaya dalam Adat Perkawinan di Pulau Nias khususnya di Kabupaten Nias Selatan. Fanötö Idanö merupakan kewajiban pihak mempelai pria yang wajib diberikan atau dibayarkan kepada pihak si’ulu (bangsawan) si mempelai wanita sebagai wujud nyata kesadaran penghargaan. Pembayaran atau penyerahan Fanötö Idanö ini dilaksanakan pada hari pelaksanaan perkawinan dengan ketentuan sebesar dua jo’e baẅi (ukuran babi di Pulau Nias dengan menggunakan alat ukur Afore) atau setara dengan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah.

Fanötö Idanö sering didefinisikan sebagai tanda penghargaan kepada pihak si’ulu (Bangsawan) yang hadir pada upacara perkawinan. Apabila Fanötö Idanö ini tidak diberikan, oleh mempelai pria, maka pihak si’ulu (bangsawan) akan meninggalkan upacara perkawinan tersebut karena kedua pihak mempelai dianggap tidak menghargai dan mematuhi adat yang berlaku. Fanötö Idanö ini juga wajib disebutkan dalam urutan penyebutan Böwö (mahar). Lumrahnya, penyebutan Fanötö Idanö ini diucapkan setelah penyebutan Böwö (mahar) bagi keluarga dan kerabat pihak mempelai perempuan.

Uniknya, Fanötö Idanö hanya dibebankan kepada pihak mempelai pria yang berasal dari desa yang bukan satu asal atau bukan sara ulu idanö (satu hulu air) dengan desa pihak mempelai wanita. Misalnya, perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Hilisataro dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawomataluo (bukan satu hulu air) dan perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Bawömataluo dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawönahönö atau sebaliknya (satu hulu air). Pada hakikatnya, pengenalan dan pengetahuan tentang yang satu hulu air dan bukan satu hulu air ini sudah dikuasai oleh si’ulu (bangsawan), si’ila (cendrekiawan) dan masyarakat.

Fanötö Idanö perlu digaris bawahi sebagai wujud kesadaran pihak mempelai pria untuk menghargai bangsawan si mempelai wanita tanpa harus ada unsur pemaksaan dan penmatalan perkawinan apabila tidak diberikan oleh pihak mempelai laki-laki karena Fanötö Idanö bukan semata-mata menjadi penentu kelangsungan perkawina yang artinya siulu tidak memiliki otoritas untuk membatalkan perkawinan atau menjadi penghalang kelangsungan pernikahan. Dalam hal ini, keluargalah yang memiliki hak mutlak untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Lalu yang menjadi pertanyaanya, Apakah sanksi bagi pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö kepada pihak si’ulu (bangsawan)?. Jawabannya “tidak ada sanksi”. Namun, sebagai dampak akibat ketidaksadaran ini, si’ulu (bangsawan) akan meniggalkan upacara perkawinan seperti yang dikemukakan pada paragraf di atas. Selain itu, akibat ketidaksadaran ini juga dapat merendahkan interaksi dan kepedulian bangswan dalam kehidupan sosial dan dalam menghadiri upacara-upacara adat keluarga pihak mempelai wanita di masa yang akan datang baik perkawian, kematian dan upacara-upacara lainnya.

Beberapa praktek yang terjadi selama ini terkait Fanötö Idanö bukan merupakan perlakuan yang terpuji dan tidak benar. Misalnya, pencekalan terhadap Tome Sanai Niha (tamu yang menjemput mempelai wanita) yang dilakukan oleh pihak si’ulu (bangsawan) karena tidak diberikkanya Fanötö Idanö oleh pihak mempelai pria atau perlakuan si’ulu (bangsawan) yang menagih Fanötö Idanö di tengah jalan (bukan di tempat atau di halaman upacara perkawinan). Perlakuan seperti ini sudah mengandung unsur pemaksaan karena sebagaimana diungkap pada paragraf di atas bahwa kelangsungan perkawinan tidak menjadi hak otoritas pihak si’ulu (bangsawan). Seyogiyanya, penagihan ini dilakukan di tempat yang tepat dan benar sesuai tradisi-tradisi yang berlaku karena dengan demikian nilai adatnya tetap terjaga dan terintegrasi baik.

Kesimpulannya bahwa Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan benar adanya sebagai satu unsur böwö (mahar) yang sudah menjadi tradisi dengan nilai-nilai yang tak kalah dari unsur böwö (mahar) lainnya, namun diperlukan pemahaman, kesadaran, dan koordinasi yang lebih baik apabila terdapat pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö. Dalam kutip tidak perlu diberlakukan pemaksaan, cukup dengan sanksi sosial. Karena cara-cara pemaksaaan dan semacamnya bukanlah merupakan tradisi yang harus dilakukan atas ketidaksadaran mempelai pria dalam memberikan Fanötö Idanö namun lebih diintegrasikan dengan menempuh langkah-langkah yang lebih persuasif dan problem solving.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Ciptakanlah Terang Bagi Masa Depan Generasi Berikutnya

Friday, January 16th, 2015

Opini1Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

HARUS diakui bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membawa setiap insan untuk bisa menyiapkan masa depannya sendiri. Masa depan itu akan terlihat nantinya pada waktu insan tersebut sudah bekerja dan atau sudah berkarya.

Setiap orang dewasa pasti ingin bekerja atau berkarya, apapun pekerjaan itu akan dilakukannya. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhannya. Untuk kebutuhan sehari-hari, minimal dapat makan dan dapat minum. Masalah asupan gizinya cukup atau kurang, itu masalah kemudian, yang penting dapat pekerjaan dan melalui pekerjaannya itu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, bahkan pada waktunya akan dapat mendukung aktualisasi dirinya.

Pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah, bagaimana keadaan generasi muda Nias sekarang? Bagaimana masa depan generasi muda yang sudah bisa menyelesaikan studinya di tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi?. Tentu hal ini merupakan pertanyaan besar bagi mereka yang diberi tanggung jawab memimpin pemerintahan daerah beserta SKPD-nya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa generasi muda Nias sekarang, terutama yang sudah siap memasuki dunia kerja, sudah terbayang di pelupuk mata dan dimimpinya bahwa bisanya adalah dapat bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kalau tidak jadi PNS, dunia ini seperti mau kiamat. Sepertinya hidup ini tidak memiliki arti bagi orangtua dan sanak famili lainnya.

Ada seorang mahasiswa Nias yang pada saat ini sedang menyiapkan penyusunan skripsi. Dia mendiskusikan tentang masa depannya setelah selesai studi strata satu. Kami banyak dan lama melakukan diskusi melalui short message service (SMS). Dalam diskusi tersebut, si mahasiswa sempat menunjukkan sikap adanya kegelisahan setelah dapat menyelesaikan studi strata satu (S1) nantinya. Bahkan  si mahasiswa berkata, setelah lulus nanti mau kerja apa, cari kerja juga susah, lowongan PNS masih lama dan jumlah yang dibutuhkan sangat terbatas.

Bagaimana Anda bisa menjawab bila kegelisahan ini disampaikan kepada Anda? Apa solusi yang Anda bisa lakukan pada permasalahan ini? Sebelum mencari atau memberikan satu atau beberapa solusi, terlebih dahulu tarik nafas dalam-dalam dan keluarkanlan nafas itu dengan pelan-pelan seraya berkata, apa ya solusinya?

Memberikan solusi pada permasalahan sekarang, tidaklah mudah. Perlu melakukan berbagai persiapan yang biasa kita sebut “strategi”. Apa bentuk strategi yang akan diwujudkan dalam jangka panjang?. Nah, apabila strategi itu akan dihubungkan lagi dengan hadirnya suatu nama yang sering kita sebut pada akhir-akhir ini yaitu masyarakat ekonomi asean (MEA) yang akan berlangsung di akhir tahun 2015 mendatang, tentu diperlukan pemikiran yang jitu dan penjabaran yang lebih detail dan lengkap.

Salah satu strategi dan mumpuni yang perlu dilakukan untuk dapat menjawab kegelisahan generasi muda Nias dalam hal peluang untuk mendapatkan pekerjaan yaitu melaksanakan “edu-preneurship”. Menurut Setiono (2012), edu-preneurship itu merupakan program pelatihan bagaimana mengenalkan konsep-konsep entrepreneurship yang dilengkapi dengan berbagai contoh aplikasi melalui proses pendidikan.

Memahami konsep-konsep entrepreneursip (kewirausahaan) berarti harus mengerti lebih mendalam mengenai apa itu entrepreneurship. Menurut Frinces (2004), entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan bentuk usaha untuk menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen    pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang yang ada,  dan lewat keterampilan komunikasi  dan   manajemen untuk   memobilisasi manusia, keuangan, dan   sumberdaya  yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.

Dengan demikian, kewirausahaan adalah berkonotasi mengimplementasikan, berarti mengerjakan (sesuatu), yaitu  sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang wirausaha. Apabila disederhanakan artinya, wirausaha adalah seseorang yang merespon terhadap peluang dan mempunyai rasa kebebasan (sense of freedom) baik dalam dirinya maupun dalam organisasi untuk bertindak terhadap peluang yang ada.

Hal-hal yang dapat dikerjakan dan diberikan oleh para wirausaha, antara lain: 1. Produk-produk dan jasa-jasa baru; 2. Pekerjaan baru; 3. Lingkungan kerja yang kreatif; 4. Cara-cara baru melakukan kegiatan bisnis (usaha); dan 5. Bentuk baru penciptaan bisnis (new business innovation). Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, maka kewirausahaan ini sangat bisa dikembangkan pada bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan usaha pariwisata, seperti bidang kerajinan, bidang kuliner, bidang jasa perhotelan dan homestay, bidang usaha biro dan agen perjalanan, bidang usaha hiburan, bidang usaha objek wisata, bidang usaha guide (pramuwisata), bidang usaha on-line, dan berbagai bidang usaha yang lain.

Untuk merealisasikan edu-preneurship ini di lapangan, memerlukan komitmen dari pemerintah daerah untuk mendorong dimulainya pelaksanaan edu-preneurship ini. Pelaksanaannya dimana? Mulailah dengan pengenalan entrepreurship yang sederhana di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (pendidikan 9 tahun). Lalu terus dikembangkan pelaksanaannya di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA).

Apabila sudah dimulai sebuah pengenalan entrepreneurship di tingkat pendidikan 9 tahun, dan dikembangkan lagi pelaksanaan entrepreneurship di tingkat sekolah menengah, berarti kita sudah mulai menciptakan “terang” kepada generasi muda Nias di masa yang akan datang. Dengan demikian, para siswa sudah dapat menilai bakat dan kemampuannya yang bakal disiapkannya ke depan, demi meraih masa depan yang lebih cerah melalui pekerjaan yang dikerjakan pada waktu memasuki dunia kerja.

Harapan kita bahwa setelah siswa menyiapkan diri lebih dini untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan talenta yang dimiliki, kita dapat meyakini bahwa mereka nantinya akan berhasil dalam mengarungi hidup ini. Keberhasilan ini akan didapatkan, karena bakat yang telah dimiliki sudah diasah lebih dini melalui kegiatan edu-preneurship.

Untuk itu siapkanlah kurikulum kreatif mengenai entrepreneurship dikalangan siswa SD dan SMP, dan terus diteruskan di kalangan siswa sekolah menengah. Rencanakanlah materi yang kreatif bagi siswa-siswa yang sesuai dengan usia pendidikan mereka.

Mewujudkan keinginan ini, tentu kita sesuaikan dengan harapan dan keinginan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan bahwa anak didik semakin pintar, manakala guru-gurunya sudah terlatih dan menguasai mata pelajaran itu. Artinya, profesi guru dimantapkan terlebih dahulu pada mata pelajaran entrepreneurship itu, setelah itu baru dikembangkan pemberiannya kepada siswa-siswa sebagai generasi muda Nias dan penerus cita-cita kita semua untuk lebih berhasil dalam mensejahterakan dirinya dan keluarganya di masa yang akan datang.

Galakkanlah pendidikan kewirausahaan kepada generasi muda Nias. Dan mulailah pendidikan itu lebih dini, sehingga generasi muda Nias ini sudah tidak mengalami kegalauan hati dalam mencari peluang pekerjaan, apabila mereka sudah dapat menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas/kejuruan ataupun sudah bisa lulus studi dari strata satu (S1).

Menurut Frinces (2010), berprofesi sebagai wirausaha adalah sebuah pilihan untuk hidup dan pilihan profesi yang terhormat yang harus direncanakan secara baik dan matang. Wirausaha adalah sebuah jalan kehidupan yang dipilih karena telah diyakini dengan kenyataan dan fakta yang ada bahwa wirausaha mempunyai peran yang besar di dalam meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan Negara.

Di samping itu wirausaha juga merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan untuk dapat menjadikan masyarakat dan Negara yang makmur. Oleh karenanya, wirausaha adalah sebuah profesi yang dalam proses penciptaannya, pertumbuhan dan perkembangannya harus dibentuk dengan cara yang sistematik. Karena yang akan dibentuk adalah karakteristik dan jenis sosok manusia yang harus berhasil di dalam tugasnya untuk menciptakan dan mengembangkan organisasi dan bisnisnya.

Bentuklah karakteristik wirausaha bagi generasi muda Nias melalui edu-preneurship. Dan tumbuhkanlah generasi muda Nias dalam dunia wirausaha, sehingga mereka akan menjadi pionir-pionir dalam berwirausaha di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Perlukah Evaluasi Program Kerja Seorang Pemimpin?

Monday, January 5th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes.

PROGRAM kerja yang telah dirumuskan biasanya sebagai penjabaran dari Visi dan Misi seorang pemimpin. Untuk mewujudkan visi dan misi dari seorang pemimpin, akan dirumuskan ke dalam program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Penempatan program kerja dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, tentu disesuaikan dengan upaya pencapaian sesuatu menurut kebutuhan. Baik kebutuhan yang mendesak dari masyarakat maupun percepatan kemajuan seperti yang diprogramkan oleh pemimpin.

Pelaksanaan evaluasi dari suatu program kerja sebaiknya dilakukan setiap tahun, terutama mengevaluasi program kerja 1 (satu) tahunan. Dan setelah itu dievaluasi juga mengenai rencana pelaksanaan program kerja dalam jangka menengah dan panjang, apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan program kerja itu selanjutnya. Untuk itu perlu ditandai dengan milestone-milestone (tonggak batu yang menunjukkan jarak dalam mil) agar lebih memudahkan bagi kita untuk menilai seberapa jauh perjalanan yang sudah kita jalani dalam upaya mewujudkan visi dan misi seorang pemimpin.

Banyak hal yang dievaluasi dari program kerja yang sudah diketukkan palu pada akhir tahun 2013 atau di awal tahun 2014 yang lalu. Hal pertama yang perlu dilakukan evaluasi berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM), baik sebagai pegawai pemberi pelayanan kepada masyarakat, maupun kemajuan yang telah dimiliki oleh khalayak selama tahun 2014.

Mengapa SDM yang pertama kali dievaluasi? Karena SDM ini merupakan motor penggerak dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan di lapangan, untuk mewujudkan berbagai hasil sesuai target dalam berbagai bidang yang menjadi profesi dari SDM itu sendiri. Umpamanya, kalau kita sungguh-sungguh memprioritaskan pembangunan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kepulauan Nias, seperti yang sudah disepakati dalam forum lokakarya yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014, maka tentu kita evaluasi mengenai jumlah dan kualitas SDM yang telah memahami ruang lingkup pembangunan dan pengembangan pariwisata yang seharusnya.

Selanjutnya pada SDM ini, kita bisa lihat pada jumlah SDM yang diprioritaskan untuk studi-lanjut mengenai kepariwisataan. Seberapa banyak SDM yang melaksanakan magang diberbagai usaha pariwisata di berbagai tempat. Seberapa banyak SDM yang telah dilatih pada bidang kepariwisataan, dan seberapa banyak SDM yang dipersiapkan untuk mendalami mengenai usaha perhotelan, usaha biro dan agen perjalanan, usaha kerajinan, usaha perbatikan, usaha kuliner, usaha rekreasi, dan usaha-usaha lainnya.

Setelah melakukan evaluasi pada SDM, maka evaluasi yang dilakukan selanjutnya adalah mengenai pelaksanaan program kerja dari masing-masing SKPD, Badan, Kantor, Bagian, dan para Camat. Penekanan evaluasi pada bidang ini yaitu seberapa besar kelancaran pelaksanaan dari setiap program kerja yang berada dalam ruang lingkup tugas pokok dan fungsinya. Apa saja hambatan dalam proses pelaksanaan program kerja itu? Seberapa banyak dapat diwujudkan berbagai program usulan yang berasal dari musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes). Seberapa besar persentase pencapaian target dari setiap program kerja itu, dan seberapa besar peranannya dalam mewujudkan pencapaian visi dan misi dari seorang pemimpin.

Barangkali masih banyak item-item yang memerlukan evaluasi yang menggunakan indeks atau standar-standar yang sudah ada. Seperti standar penilaian derajat kesehatan masyarakat (kesehatan ibu dan anak), derajat pendidikan bagi anak-anak usia sekolah, standar penggunaan anggaran, standar pembangunan infrastruktur, dan standar-standar yang lain.

Meskipun masih banyak item-item yang perlu dievaluasi, namun yang menjadi fondasi pelaksanaan program kerja berikutnya adalah mengenai evaluasi berbagai permasalahan yang terjadi selama tahun 2014. Permasalahan yang diutamakan adalah permasalahan yang terjadi dari setiap proses pelaksanaan program kerja selama tahun 2014. Permasalahan ini tentu perlu dicatat selengkap-lengkapnya untuk dipahami oleh semua SDM dari masing-masing organisasi yang ada, dengan harapan permasalahan itu akan dapat berkurang sebesar-besarnya pada tahun 2015. Alangkah lebih baik lagi apabila di tahun 2015, permasalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Apakah masih ada lagi yang paling penting untuk dievaluasi lagi? Masih dan malah yang utama. Justru ini yang paling penting untuk dievaluasi. Mengapa? Karena pemimpin daerah umpamanya, bekerja dalam upaya untuk menjalankan 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zeith, 2013).

Berbicara tentang pelayanan yang disuguhkan oleh SDM kepada masyarakat, tentu sangat perlu dievaluasi. Bagaimanapun masyarakat sangat berharap akan selalu mendapatkan pelayanan yang baik dan berkualitas dari SDM, ditambah dengan sangat informatif dan disampaikan dengan sangat komunikatif. Untuk itu sangat perlu dievaluasi.

Evaluasinya berkaitan dengan seberapa baiknya pelayanan yang dihadirkan SDM untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Tujuannya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi di tahun 2015 mendatang. Pelayanan yang diberikan SDM tidak hanya dalam hal kecepatan pelayanan, tetapi menyangkut juga sikap dan perilaku SDM saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sekarang ada istilah S3 (senyum, salam, dan sapa) dalam memberikan pelayanan, apakah sudah menggambarkan pelayanan yang S3?

Demikian juga dalam hal pengaturan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat, sangat perlu dievaluasi. Tujuannya untuk menghadirkan dan meningkatkan peran pemimpin daerah dalam upaya mensejahterakan masyarakat menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang. Sekaligus juga untuk menilai seberapa jauh mile-stone yang telah dicapai atau yang dijalani, sesuai visi dan misi dari seorang pemimpin.

Visi dan misi seorang pemimpin merupakan sebuah mimpi yang perlu direalisasikan selama duduk dalam jabatan sebagai seorang pemimpin. Untuk itu sangat perlu melakukan evaluasi pada berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tahun 2014. Gambarannya adalah apa keberhasilannya dan apa kegagalannya. Informasi kondisi ini perlu diutarakan kepada khalayak, sehingga masyarakat peham juga mengenai hasil yang telah dicapai dan hal-hal lain yang perlu dilaksanakan pada tahun-tahun yang akan datang.

Pelaksanaan kegiatan evaluasi ini tidak hanya sekedar mencatat berbagai kekurangan dari berbagai program kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, tetapi kekurangan yang masih ada itu akan diperbaiki dengan sungguh-sungguh di tahun 2015. Kesungguhan ini akan tampak pada hasil evaluasi berbagai program kerja di akhir tahun 2015, apakah permasalahan atau kekurangan yang tercatat di tahun 2014 masih terjadi dengan frekuensi yang sama di tahun 2015? Mari sama-sama melakukan penilaian hasil yang dapat dicapai di tahun 2015 mendatang.

Selamat melakukan evaluasi semua program kerja yang sudah dilaksanakan pada tahun 2014, dan selamat mewujudkan harapan masyarakat pada tahun 2015 mendatang. Bila ada kesungguhan hati dapat dipastikan bahwa selama duduk dan memegang jabatan itu, pasti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pasti terdapat rona muka dari insan masyarakat yang menunjukkan kegembiraan.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

 

Wisata Pantai dan Laut

Wednesday, December 3rd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1MESKIPUN harga bahan bakar minyak (BBM) sudah naik dan mahasiswa-mahasiswa melakukan demo menolak kenaikan harga BBM itu, kenaikan harga BBM tetap berjalan, bahkan pengguna BBM pun tetap banyak. Lihat saja antrian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetap banyak. Bahkan keinginan sebagian orang untuk melakukan rekreasi bersama keluarga, tetap saja berjalan seperti biasa. Mereka banyak bepergian di pantai untuk melihat laut sekaligus rekreasi, agar mendapatkan kesegaran pemikiran kembali setelah melakukan berbagai pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran.

Kita memang membutuhkan keseimbangan dalam hidup ini. Setelah tersita waktu dan pikiran untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari, lalu meluangkan waktu untuk melakukan pemulihan kesegaran pemikiran kembali, dengan melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga sekaligus mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga besarnya.

Jadi, Anda jangan heran bila tiba hari besar atau hari libur, orang berlomba-lomba bepergian untuk rekreasi. Objek dan daya tarik wisata yang dipilih lebih banyak pada produk wisata pantai (wisata laut). Mereka membuang kejenuhan dengan menyenangkan mata melihat laut yang biru dan sangat luas, menyenangkan telinga mendengarkan deru ombak yang menggelegar, menyenangkan perut melalui makanan khas lokal (kuliner), menyenangkan hati dengan berbelanja souvenir dan kebutuhan lainnya, serta menyenangkan pikiran.

Pertanyaan menarik yang perlu diajukan disini adalah mengapa kebanyakan manusia suka bepergian di pantai? Barangkali, karena pantai memiliki luasan pasir yang menarik dengan deru ombak yang menderu-nderu dan saling berlari kejar mengejar menuju pantai. Pemandangan di laut yang menggambarkan tidak ada batasnya, demikian juga tingginya langit tanpa hambatan. Paling-paling ada hambatan tidak bisa melihat langit, bila terdapat banyak awan sebagai tanda mau turun hujan.

Memandangi laut yang demikian luas, serta melakukan berbagai aktivitas di pantai atau di laut, banyak memberikan nuansa kegembiraan. Jadi hati ini terasa tenteram dan bahagia, lebih-lebih berwisata bersama keluarga.

Berbagai hal yang bisa dilakukan bila rekreasi di pantai. Antara lain mandi di laut, berenang di laut, mancing di laut, bermain pasir dengan membuat jembatan, gunung, kue tar atau jenis yang lain. Bisa juga naik kuda menyusuri pantai atau motor-motoran bersama anak atau cucu. Tanpa kemana-mana pun tidak masalah, cukup dengan hanya duduk-duduk di atas tikar di pantai, sambil makan jagung bakar atau minum air kelapa muda.

Di pantai bisa juga merasakan pijitan dari yang ahli pijit, agar peredaran darah bisa lancar kembali, sehingga kembali bugar. Para wisatawan yang lagi menikmati derunya ombak, bisa juga main bola atu voli bersama, sehingga betul-betul terjadi keakraban satu sama lain.

Apabila gelombang laut memiliki ombak yang besar dan tinggi, bisa juga berolahraga selancar. Kegiatan penyelaman juga bisa dilakukan pada wilayah laut yang tidak berbahaya, sambil menikmati pemandangan di bawah laut.

Setelah puas bermain di pantai dan di laut, Anda pun bisa menunggu sampai sore di pinggir pantai sambil menikmati suasana sunset yang begitu indah di mata. Sungguh memberikan situasi perasaan yang nyaman dan damai di hati.

Setelah merasakan dan menikmati rekreasi di pantai, tentu akan melakukan perjalanan mau pulang. Sebelum pulang, biasanya wisatawan akan mampir di suatu tempat untuk berbelanja souvenir sebagai oleh-oleh termasuk belanja lauk ikan yang biasanya terdapat dan dijual di sekitar lokasi pantai. Jadi melakukan rekreasi di pantai, banyak hal yang bisa dilakukan, dan banyak hal yang bisa diperoleh, sehingga kejenuhan menjadi sirna dan hubungan antar keluarga semakin erat dan damai.

Berbagai hal yang didapatkan dan dirasakan setelah berwisata di pantai, akan membuat wisatawan merasakan kesegaran, terutama dalam hal hubungan dengan keluarga yang semakin baik serta pemikiran yang sudah semakin jernih. Hal-hal yang sudah didapatkan wisatawan, seperti merasakan dan menikmati produk wisata pantai, berwisata olahraga, berwisata kuliner, dan bisa juga berwisata kreatif dengan membentuk gunungan atau sejenisnya yang berbahan pasir atau yang heboh lagi yaitu berfoto ria. Sungguh menyenangkan serta sungguh memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan.

Berdasarkan pengamatan, jumlah wisatawan yang berkunjung di objek dan daya tarik wisata pantai semakin meningkat jumlahnya. Apalagi pada waktu hari libur, jumlah wisatawan akan semakin meningkat. Melihat kondisi ini, maka banyak pemerintah daerah yang menyulap pantainya menjadi sesuatu yang menawan dan menarik hati. Seperti pantai-pantai yang terdapat di sepanjang laut selatan Yogyakarta, pemerintah daerah Gunungkidul dan pemerintah daerah Bantul menggarap lingkungan pantainya menjadi semakin menarik serta mempermudah akses pencapaiannya.

Sepanjang pantai yang jauhnya sekian kilometer itu, pemerintah daerah membangun dan mengembangkan beberapa lokasi wisata pantai, yang hanya dibatasi hutan atau batu karang. Setiap lokasi wisata pantai, dibuat diferensiasi dengan penonjolan ciri khas dari masing-masing pantai. Ada pantai yang diperuntukkan bagi yang suka pemandangan alam dan laut, ada pantai yang ada pasar ikannya, ada pantai yang bisa untuk motor-motoran dan olahraga kuda, ada pantai yang banyak kulinernya, ada pantai yang banyak menyajikan hasil kerajinan masyarakat, dan beberapa wisata pantai lainnya yang memiliki ciri kekhususan.

Tujuan dilakukannya diferensiasi ini dalam upaya agar wisatawan yang mau rekreasi di pantai, tidak hanya berkunjung pada 1 (satu) pantai saja, tetapi akan melakukan kunjungan pada beberapa pantai yang sudah disiapkan itu. Jadinya semua pantai yang ditawarkan itu, akan dikunjungi semua oleh para wisatawan. Jadi sekali melakukan kegiatan wisata, akan bisa melihat beberapa pantai yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri.

Nah, setiap objek wisata pantai, sudah disiapkan loket karcis bagi pengunjung, sekaligus sebagai dasar hitungan jumlah pengunjung. Karcis yang disiapkan itu, ada yang diperuntukkan kepada para pengunjung, ada karcis untuk motor, dan ada karcis untuk bus dan truk.

Meskipun pemasukan pemerintah dari penjualan karcis terbilang hanya sedikit, barangkali sekian puluh miliar dalam setahun, namun jumlah pemasukan ini sangat bermanfaat. Selain itu, penerimaan lain yang bisa diperoleh pemerintah daerah bisa berupa pajak dari usaha kepariwisataan dan pajak-pajak yang lain (tidak langsung).

Mengenai jumlah penerimaan-penerimaan pemerintah daerah dari kegiatan pariwisata ini, mestinya bisa dalam beberapa jenis, seperti pemasukan dari karcis masuk objek wisata dan pajak-pajak usaha. Penerimaan pemerintah daerah yang bersumber dari penjualan karcis masuk di setiap ojek dan daya tarik wusata, tentu bisa digunakan untuk pemeliharaan objek dan daya tarik wisata. Pengeluaran yang lain bisa juga digunakan untuk pembayaran gaji petugas yang membantu kelancaran perjalanan kunjungan wisatawan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang berkaitan dengan pengelolaan objek dan daya tarik wisata.

Mungkin yang paling menarik di sini adalah besaran pendapatan masyarakat yang langsung diperoleh dari para wisatawan. Masyarakat langsung mendapatkan hasil dari berbagai usaha yang mereka lakukan dalam upaya memenuhi kebutuhan wisatawan. Besaran pendapatan ini yang barangkali sangat memberikan daya ungkit bagi masyarakat untuk berusaha. Artinya terjadi penyebaran jiwa wirausaha pada masyarakat, sekaligus mendorong masyarakat untuk bertindak ramah serta memberikan daya dorong bagi masyarakat untuk turutserta memelihara lingkungannya.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu melakukan inventarisasi lokasi-lokasi produk wisata pantai yang bisa ditawarkan kepada para wisatawan. Agar produk wisata pantai ini semakin memberikan daya tarik, tentu perlu melakukan usaha diferensiasi pada setiap objek wisata pantai. Tujuannya agar wisatawan selalu mendapatkan hal yang baru pada setiap produk wisata pantai yang dikunjungi serta menghindarkan kejenuhan bagi wisatawan. Semakin bervariasi kondisi produk wisata pantai, akan semakin mempesona bagi wisatawan serta dapat memberikan pengalaman baru, bila wisatawan berkunjung dari wisata pantai yang satu dengan wisata pantai yang lain.

Manfaatkanlah kekayaan laut yang terdapat di wilayahnya, dan suguhkan kekayaan laut itu kepada orang yang berkeinginan untuk mendapatkan kesegaran kembali. Laut dan pantainya memang memberikan berbagai hal yang menyenangkan bagi siapa saja yang melakukan kunjungan. Untuk itu sulaplah kondisi lingkungan pantai dan laut itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi setiap orang yang melakukan kegiatan pariwisata di pantai. Kembangkanlah wisata laut di wilayahnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Asiliawa, Osiliyawa, ‘Oisilöyawa’ … Sombong?

Monday, December 1st, 2014

Oleh E. Halawa*

LiNihaDalam halaman Amaedola Nono Niha di Facebook, ada diskusi menarik tentang: (1) kata mana yang sesungguhnya ada atau dikenal dalam Li Niha: asiliyawa, osiliyawa, atau oisilöyawa, dan (2) apa arti sesungguhnya dari kata itu [1].

Dari diksusi itu juga ketahuan bahwa masalah ini muncul ketika ada pembahasan pembaharuan kurikulum Bahasa Daerah Nias baru-baru ini.

Asiliawa, Asiliyawa

Tidak mengejutkan, kata itu (asili(y)awa) dikenal oleh sejumlah pemberi komentar yang lain. Yang terakhir seorang pemberi komentar merujuk kepada Kamus Li Niha – Nias Indonesia [2].

Ketika masih kecil dan tinggal di desa, kata asiliawa atau asiliyawa sering saya dengar. Berikut sebuah contoh dalam kalimat:

Asili(y)awa sibai ndra’ugö le … → Kalimat kekesalan – misalnya kekesalan seorang tua kepada seorang anak yang tiba-tiba mengejutkannya lalu lari. Di sana tidak ada makna sombong. Dalam kalimat ini, asiliyawa lebih cenderung berarti: kurang ajar atau tidak sopan, tidak menghargai orang (yang lebih) tua.

Niha sasili(y)awa – biasanya adalah orang yang suka bikin kesal atau menimbulkan kemarahan orang lain, entah dengan kata-kata yang kasar (memaki), perbuatan, atau gerak-geriknya.

Terkadang, kata asili(y)awa juga dipakai sebagai kata kelakar dalam suatu kalangan yang akrab karena persaudaraan atau persahabatan.

Asili(y)awa sibai ndra’ugö le … → Kalimat yang di atas tadi bernada kekesalan atau kemarahan, dalam konteks keakraban justru bermakna canda atau kelakar. Contohnya, dua atau tiga orang yang sedang membicarakan orang lain. Misalnya, sebagai bahan kelakar, salah seorang dari mereka berkhayal untuk kurang ajar kepada orang yang sedang mereka bicarakan itu. Lalu salah seorang dari mereka nyeletuk: Asili(y)awa sibai ndra’ugö le …

“Na falukhaga sa ba usöbi mbu mbewenia”, kata si A. (Kalau kami ketemu akan kucabuti kumisnya).

“E… asiliyawa ae ndra’ugö khönia le ..”, kata si B (Kurangajar (tak sopan) sekali kamu terhadapnya.)

Dengan atau tanpa “y” ?

Asiliawa (tanpa y) atau Asili(y)awa ? Dualisme seperti ini lazim dalam Li Niha. Contoh lain: and(r)ö, und(r)e, bahkan dalam marga seperti La’i(y)a. Secara alamiah, penulis lebih cenderung mengucapkan asiliawa, sebab mengucapkannya lebih mudah daripada mengucapkan asiliyawa yang menuntut gerakan ekstra dari lidah.

Asilöyawa

Dalam Kamus Nias – Indonesia susunan Laiya dkk [3], ada entri: asilöyawa. Dalam kamus itu, asilöyawa diartikan: sombong, pongah, angkuh.

Penulis tak pernah mendengar kata ini dalam percakapan sehari-hari. Bisa jadi kata ini dikenal di Nias Selatan.

Osili(y)awa

Ini adalah varian dari asili(y)awa.

Oisilöyawa

Kata ini muncul dalam diskusi [1] tersebut, tetapi seingat penulis, tak pernah mendengar kata ini dalam percakapan sehari-hari dalam bahasa Nias. Atas alasa itulah, dalam judul tulisan ini, penulis menempatkannya dalam tanda kutip.

Ono Niha pengunjung Nias Online yang kebetulan pernah mendengar kata ini diharapkan memberikan informasi dalam bentuk komentar, sekali gus contoh pemakaian dalam kalimat.

Usaha mencari kata dasar (akar kata)

Ada kesan, kata asili(y)awa atau variannya osili(y)awa ditafsirkan berasal dari beberapa kata dasar … dan karena itu dianggap kata yang tepat adalah Oisilöyawa.

Akan tetapi seperti dijelaskan di depan, dan diteruskan di bawah, “hipotesis” itu hanya akan bertahan apabila kata yang sedang didiskusikan itu mempunyai arti: sombong atau tinggi hati.

Sombong?

Ada alasan mengapa kata yang sebenarnya cukup luas dikenal, yakni kata asili(y)awa atau variannya osili(y)awa dianggap bukan kata dasar. Alasannya adalah karena kata yang didiskusikan itu diartikan: sombong atau tinggi hati. Maka (di)muncul(kan)lah kata oisilöyawa, sebab “Oisilöyawa artinya menganggap tidak ada yang di atasnya” [4].

Baik Kamus Lase [2] mau pun Kamus Laiya [3] mengartikan asiliawa (atau dalam Kamus Laiya Asilöyawa) sebagai sombong atau angkuh. Beberapa pemberi komentar juga mengarah kepada pendapat yang sama.

Benarkah asili(y)awa berarti sombong? Penulis memiliki pendapat yang berseberangan dengan kedua Kamus itu.

Sepengetahuan penulis, sombong dalam Li Niha adalah mangosebua atau fayawa.

Terjemahan kata “sombong” dalam Alkitab Li Niha

Dalam Alkitab Bahasa Nias Bahasa Sehari-hari [5], Matius 23:12 yang dalam Bahasa Indonesia berbunyi:

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”

diterjemahkan sebagai:

“Niha sangebua’ö ya’ia da’ö ni’ide’ide’ö, ba sangidengide’ö ya’ia da’ö ni’ebua’ö.”

Dalam kutipan di atas, meninggikan diri tiada lain adalah menyombongkan diri – mangosebua.

Bandingkan juga terjemahan terbaru Matius 23:12 di depan dengan terjemahan Sundermann [6]:

“Dozi sa, ha niha zamali’ö salawa ja’ia, da’ö ni’ide’ide’ö; ba ha niha zangidengide’ö ja’ia da’ö nibe’e salawa”.

Dalam terjemahan Sundermann [6], meninggikan (menyombongkan) diri diterjemahkan secara kaku menjadi: mamali’ö salawa (baca juga tulisan berjudul: Kekurangcermatan Terjemahan Dalam Soera Gamaboe’oela Li Sibohou – H. Sundermann [7].

Walau agak “kaku”, mamali’ö salawa jauh berbeda dari “asili(y)awa”; mamali’ö salawa lebih dekat artinya dengan mangosebua.

Sejumlah ayat lain dalam Alkitab Li Niha (baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru) sama sekali tidak menerjemahkan kata “sombong”, “kesombongan” dengan aili(y)awa atau fa’asili(y)awa.

Dapat diinformasikan, usaha pencarian kata-kata asili(y)awa, osili(y)awa, asilöyawa, oisilöyawa dalam Alkitab [5] versi digital sama sekali tidak membuahkan hasil.

Catatan:

  1. Bahan diskusi yang dimulai oleh Bapak Ama Fame Zebua berjudul: Hezo zatulönia wehede da’a: 1. Asilayawa, 2. Osiliyawa, 3. Oisilöyawa ???
  2. A Lase, 2011: Kamus Li Niha – Nias Indonesia, ISBN: 9789797095413, Penerbit Gramedia.
  3. SZ Laiya, S Zagoto, H Laiya, S Zagoto, A Zagoto, 1985: Kamus Nias – Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
  4. Kutipan sebuah kalimat dari sebuah komentar dalam [1].
  5. IBS, 2006: Alkitab Bahasa Nias – Bahasa Sehari-hari, Perjanjian Baru – Indonesian Bible Society, 2006.
  6. Soera Gamaboe’oela Li Sibohou Edisi 1911 terjemahan H. Sundermann – dicetak ulang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1984.
  7. E. Halawa, 2007: Kekurangcermatan Terjemahan Dalam Soera Gamaboe’oela Li Sibohou – H. Sundermann – Nias Online.

Membuka Mata Pemuda/i Kepulauan Nias

Friday, November 28th, 2014

Catatan Redaksi: Redaksi menayangkan tulisan berikut, buah karya seorang pemuda Nias yang tinggal di Yogyakarta. Kiranya para pemuda/i Ono Niha – khususnya yang tinggal di Nias – tergerak untuk lebih kreatif dalam mempersiapkan masa depan mereka.

Oleh: Febriwan Harefa

Opini“Ngak ada diharapkan di sini ŵö Wan selain PNS … ” kalimat ini saya masih ingat ketika sedang ngobrol dengan seorang teman, ketika saya pulang ke Gunungtoli 3 bulan yang lalu. Hal yang sama juga diutarakan oleh beberapa pemuda/i Kepulauan Nias, “Yah palingan tunggu lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), kalau ngak menang jadi penganguran lagi”.

Dari pendapat-pendapat di atas saya sedikit bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda/i Kepulauan Nias, terutama di Gunungsitoli sangat mengharapkan profesi sebagai PNS. Sebenarnya harapan mereka ini sangat wajar, dengan pertimbangkan lapangan pekerjaan yang ada di Kepulauan Nias yang sangat sedikit. Selain itu keutungan menjadi seorang PNS sangat banyak, yang pertama mendapatan gaji setiap bulannya yang berkisar 2-3 juta, gaji yang didapat tergantung pada tingkat golongan PNS. Kedua, profesi seorang PNS juga terkena dampaknya kepada keluarga, jika seorang PNS tersebut telah memperoleh keluarga yaitu dengan mendapat asurasi kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Keutungan ketiga dari menjadi seorang PNS adalah ketika seorang yang berprofesi PNS ia akan mendapatkan uang pesangon dari negara dan dana pensiun tiap bulannya. Selain ketiga keutungan di atas, masih banyak beberapa keutungan menjadi seorang PNS.

Pendapat yang sama tentang profesi PNS bukan hanya di Kepulauan Nias tetapi juga di daerah – daerah lain seperti di Pulau Jawa. Akan tetapi ada perbedaan antara pemuda/i yang ada di Kepulauan Nias dengan pemuda/i yang ada di Pulau Jawa ketika mereka gagal menjadi PNS. Karena banyaknya kesempatan untuk masuk perusahaan-perusahaan, baik itu swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pulau Jawa, maka para pemuda di Pulau Jawa tidak terlalu “pusing” apabila gagal menjadi PNS.

Sebenarnya hal yang sama bisa dilakukan pemuda/i di Kepulauan Nias, ketika tidak lulus PNS masih bisa mencari alternatif. Seperti pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini lagi banyak digeluti pemuda/i Indonesia yang ada di Pulau Jawa, yaitu pekerjaan freelance melalui dunia maya.

Pekerjaan freelance (pekerja lepas) melalui dunia maya sangat banyak digemari oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Selain tidak mengenal batas waktu, pekerjaan ini bisa dilakukan di mana-mana baik itu dirumah, bahkan di kamar mandipun. Pekerjaan yang tidak mengenal tempat khusus ini bermacam-macam seperti menulis artikel di blog tentang mengenal membuat kerajinan tangan, parawisata dll. Lebih bagusnya para blogger (sebutan bagi orang suka menulis di blog) membeli domain, dan bandwidth agar bisa mendapatkan pendapatan dari blog yang telah dibuat. Untuk mendapatkan uang lebih selain dari memasang domain dan bandwidth pada blog. Blogger dapat mendapatkan uang dengan cara mendaftarkan blonya ke google access, dan setiap artikel akan dihargai sekitar $ 0,5.Selain itu, sekarang ini banyak usaha penulisan yang berbasis online menawarkan jasa penulisan dan setiap artikel dihargai sekitar 5-10 ribu.

Pekerjaan semacam ini bisa dilakukan oleh pemuda/i Kepulauan Nias dengan mempertimbangkan, sekarang ini banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, aktif di dunia maya dan mulai tidak asing dengan yang namanya teknologi. Selain itu juga dengan menulis artikel di blog misalnya tentang kebudayaan atau parawisata tentang Kepulauan Nias. Maka secara tidak langsung para blogger lain bisa mengetahui kekayaan kebudayaan dan parawisata yang ada di Kepulauan Nias.

Selain itu pekerjaan freelace penerjemah bisa juga dilakukan oleh pemuda/i di Kepulauan Nias, terkhususnya mahasiswa Intitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli atau Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu pendidikan (STKIP) Nias Selatan, yang mengambil jurusan bahasa Inggris, yaitu dengan cara menawarkan diri menjadi penerjemah freelance ke beberapa penerbit atau perusahaan penerjemahan. Salah satu caranya dengan membuat sebuah contoh penerjemahan dengan topik tertentu. Setelah selesai dapat mengirim contoh penerjemahan tersebut ke alamat website yang menawarkan penerjemahan seperti ke milis bahasa Bahtera (Bahasa dan Terjemahan), Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), dan beberapa website penerbitan seperti Gramedia, Mizan, Bentang Pustaka.

Selain itu masih banyak lowongan pekerjaan freelance yang lainnya yang khususnya melalui dunia maya. Sekarang ini yang dibutukan adalah bagaimana pemuda/i Kepulauan Nias mulai membuka mata, terhadap lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya, dan juga dibarengi dengan usaha kreatif untuk membuat sesuatu yang baru yang dapat bermafaat dan tentunya dapat menghasilkan yang namanya materi.

Dan dari contoh-contoh lowongan pekerjaan diatas pemuda/i Kepulauan Nias, dapat melakukannya dengan mempertibangkan banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, yang aktif memberikan komentarnya di beberapa grup yang ada di Facebook misalnya saja grup FB Suara Nias, Nias Bangkit. Maka di sana dapat dilihat bahwa pemuda/i Kepulauan banyak aktif di dunia maya. Ke dua adalah dengan jaringan telkomsel yang lumayan bagus di Kepulauan Nias, sehingga pemuda/i Kepuluan Nias dapat memanfaatkan hal tersebut untuk membuat blog yang gratis terlebih dahulu seperti wordpress, blogspot dll.

Sangat dibutuhkan keseriusan pemerintah di Kepulauan Nias untuk bisa memberikan layanan wifi gratis kepada pemuda/i Kepuluan Nias untuk bisa mengakses informasi dan lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah Bekasi, Jawa Barat dengan memberikan layan wifi gratis di bebepa lokasi kepada masyarakatnya secara cuma-cuma. Sementara itu bagaimana dengan pemerintah Kepulauan, apakah berani melakukan terobosan seperti yang di lakukan oleh pemerintah Bekasi, yang salah satu tujuannya membantu pemuda/i mendapatkan lowongan pekerjaan ?

*Seorang penulis freelance yang sementara waktu berdomisil di Yogyakarta.

Pariwisata: Basis Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Monday, November 24th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

OpiniPADA dasarnya pemerintah itu hadir dalam rangka untuk meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi bagi rakyatnya. Untuk itu pemerintah bekerja keras untuk mewujudkan ke-2 hal itu di wilayahnya, agar gap antara yang kaya dan yang miskin tidak semakin melebar. Untuk penilaian pencapaiannya, pemerintah selalu mengamati dan menganalisis data tentang perkembangan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi itu bagi rakyatnya.

Gubernur provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan informasi bahwa data pertumbuhan ekonomi DIY di tahun 2012 meningkat menjadi 5,23%. Pertumbuhan ekonomi ini banyak dipicu adanya peningkatan pendapatan di bidang sektor pariwisata, hotel dan restoran. Hal ini disampaikan Gubernur DIY pada acara serahterima jabatan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di DIY pada tanggal 26 April 2013.

Berita pertumbuhan ekonomi DIY ini merupakan sebuah informasi yang sangat menarik bagi kita yang sedang mendorong sektor pariwisata untuk menjadi lokomotif pembangunan kesejahteraan masyarakat di beberapa daerah. Ternyata dampak keberhasilan pada sektor pariwisata seperti di DIY, akan memberikan sumbangsih pada sektor-sektor yang lain menjadi sangat terdongkrak. Dengan demikian, keberhasilan dalam pembangunan pariwisata dapat mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi sehingga mereka bisa cepat meningkatkan taraf hidupnya.

Fakta yang disampaikan Gubernur DIY ini memang seratus persen benar. Apa buktinya? Sebagaimana diketahui bahwa ekonomi suatu Negara bertumbuh dari empat sumber yaitu: 1. Pengeluaran masyarakat untuk konsumsi (spending); 2. Peningkatan investasi; 3. Kegiatan ekspor dikurangi impor; dan 4. Pengeluaran pemerintah (Government expenditure).

Kegiatan wisata memberikan kontribusi personal spending terbanyak. Mengapa? Karena saat berwisata, orang pasti berbelanja. Jika berbelanja, turn over perekonomian akan bertumbuh. Masyarakat yang dikunjungi akan memperoleh pendapatan dari transaksi penjualan barang dan jasa kepada wisatawan, sedang pemerintah akan mendapatkan retribusi dan pajak dari usaha yang bergerak di bidang usaha pariwisata.

Kunjungan wisata itu adalah kunjungan menyenangkan. Senang karena berkunjung di daerah lain yang mungkin baru pertama kali dikunjungi. Senang karena melihat berbagai seni dan budaya khas lokal, serta senang karena mendapatkan souvenir dan menikmati kuliner lokal.

Kegiatan wisata serba menyenangkan. Bisa menyenangkan mata (melihat laut dan gunung), menyenangkan telinga (mendengar musik), menyenangkan perut (kuliner), menyenangkan hati (belanja) dan menyenangkan pikiran. Jadi pariwisata adalah segala kunjungan yang menyenangkan. Objek kunjungan terdapat di sebagian besar wilayah di Indonesia, yang semuanya bagaikan surga dunia yang serba menyenangkan hati (Irawady, 2012).

Untuk lebih memahaminya, Amalia (2013) menyampaikan beberapa informasi bahwa pada tahun 2012, kontribusi langsung sektor pariwisata terhadap Gross Domestic Product (GDP) mencapai 4 persen, sedangkan kontribusi tidak langsung sektor pariwisata memberikan sumbangan sebesar 8 persen, sehingga jika ditotal mencapai angka 12 persen. Kontribusi ini menjadi sangat bermakna seperti yang dialami Provinsi DIY.

Dengan demikian, pengembangan potensi pariwisata yang dimiliki setiap daerah di Indonesia sangat diperlukan dan sangat dibutuhkan. Pengembangan potensi ini menjadi sangat bermakna dalam upaya meningkatkan daya tarik bagi wisatawan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa masih banyak potensi pariwisata daerah di wilayah Indonesia yang belum diolah, termasuk Kepulauan Nias. Potensi yang dimiliki masih dibiarkan terbengkalai.

Untuk itu sebaiknya potensi yang telah dimiliki itu perlu sesegera mungkin diolah dan dikelola serta dikenalkan kepada dunia sehingga destinasi wisata di Indonesia tidak hanya kawasan Bali yang dikenal dunia tetapi juga kawasan-kawasan lainnya, seperti Raja Ampat di Papua Barat, Kepulauan Nias di kawasan barat Indonesia he he.

Pada kenyataannya banyak daerah di wilayah Indonesia yang memiliki banyak potensi di bidang pariwisata, seperti wilayah di kawasan timur dan barat Indonesia. Karena itu janganlah biarkan potensi yang ada ini menjadi sebuah mutiara dalam lumpur, jikalau tidak dicari ya tidak ketemu. Bangun dan desain kawasan wisata yang sudah ada itu, sehingga menjadi sangat menarik bagi wisatawan dan promosikan daya tarik wisata tersebut sehingga dunia mengenalnya.

Berdasarkan United Nations World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2012, kawasan Asia Pasifik adalah kawasan yang memiliki pertumbuhan yang paling tinggi dari sisi pariwisata. Di kawasan ini terjadi peningkatan sebesar 7 persen pengunjung atau setara dengan kenaikan 15 juta pengunjung internasional dibandingkan tahun 2011.

Karena itu, Indonesia seharusnya lebih melirik industri pariwisata sebagai salah satu industri yang harus ditopang dan dibantu dengan berbagai regulasi. Dan berupaya lebih mengenalkan berbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang sangat unik dan menarik.

Kenaikan jumlah penduduk berpendapatan menengah ke atas di Indonesia juga dapat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan industri pariwisata. Jumlah penduduk yang termasuk kelas menengah ke atas di Indonesia sudah di atas 100 (seratus) juta orang, bahkan sudah mendekati angka 150 (seratus lima puluh) juta orang. Dengan adanya kenaikan jumlah penduduk dengan pendapatan menengah ke atas, dapat berdampak besar pada kenaikan akan kebutuhan tersier seperti pariwisata, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah wisatawan nusantara.

Untuk lebih meyakinkan bahwa pariwisata sangat mendukung pertumbuhan ekonomi suatu Negara atau daerah, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu menyatakan, sektor pariwisata kini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. Wah jadi semakin menarik pariwisata ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan hal ini pada saat Beliau memimpin konferensi tentang Pembangunan Berkelanjutan yang membahas tentang Pariwisata di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 6 Oktober 2013 yang lalu. Selanjutnya Menteri menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi negara saat ini tidak lepas dari kontribusi sektor pariwisata. Berdasarkan pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini, apakah Anda masih ragu atau kurang percaya pada pembangunan dan pengembangan pariwisata?

Mari Elka Pangestu mengatakan selanjutnya bahwa dengan pencapaian 9 persen Gross Domestic Product (GDP) dunia, 30 persen ekspor jasa, dan satu dari 11 lapangan kerja diserap industri pariwisata, menunjukkan bahwa sektor pariwisata telah menjadi: 1. Mesin pertumbuhan ekonomi; 2. Pencipta lapangan kerja; dan 3. Pengentasan kemiskinan. Pembangunan di sektor pariwisata terus bertumbuh di Kawasan Asia Pasifik, sebab memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan,” katanya.

Untuk meningkatkan daya tarik pada suatu kawasan pariwisata, perlu meningkatkan ‘nilai’ objek-objek wisata kepada orang lain. Dan ini tentu suatu keharusan agar wisman dan wisnus tertarik untuk datang menikmati keindahan dan keluhuran objek wisata yang dimiliki.

Peningkatan nilai objek wisata seperti objek wisata pantai atau objek wisata alam dan objek wisata lainnya, tentu dimulai dari upaya penataan lokasi. Sebelah mana lokasi pendirian warung makan, lokasi menikmati sunset, lokasi toilet, lokasi warung kerajinan, lokasi duduk-duduk santai bagi keluarga, lokasi arena mainan anak-anak, lokasi atraksi wisata seperti senitari dan sebagainya, lokasi mancing, lokasi voli pantai, lokasi mandi di laut yang tidak berbahaya, lokasi penginapan, lokasi naik kuda, lokasi bermain motor-motoran bagi anak-anak, lokasi atraksi lari kuda, lokasi mendaki gunung, lokasi hutan wisata, lokasi waterfall, dan lokasi-lokasi yang lain. Penataan lokasi-lokasi di atas, semuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan saat mereka berkunjung di objek wisata, baik di objek wisata pantai, wisata bahari maupun di objek wisata alam serta seni budaya.

Nah, untuk menangani penataan dan peruntukkan lokasi, tentu kita butuh map (peta) objek wisata pantai, wisata alam dan objek wisata lainnya. Dan penataan lokasi ini bisa saja dikerjakan oleh Dinas Pariwisata. Secara sederhana, paling-paling kan berkaitan dengan panjang lebarnya objek wisata (luas) serta penentuan lokasi-lokasi yang akan dibangun di lahan objek wisata tersebut. Tujuannya agar para pengunjung di objek wisata tersebut dapat merasakan kesegaran, keamanan, kenyamanan, dan kebersihan.

Selamat menunaikan amanah sebagai orang-orang yang penuh kreativitas dalam menata dan mengembangkan objek wisata di masing-masing Pemerintahan daerah di Indonesia dan di Kepulauan Nias. Mari meningkatkan peran pariwisata di wilayah kita demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan, serta untuk mengentaskan kemiskinan. Jadikanlah daerah kita menjadi daerah yang tidak termasuk daerah tertinggal lagi, tetapi menjadi suatu daerah yang pertumbuhan ekonominya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Dampak Sidang Raya PGI di Kepulauan Nias

Sunday, November 2nd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2BANGGA dan mantap Kepulauan Niasku. Pada tahun 2014 ini, Kepulauan Nias mendapat kehormatan besar untuk menjadi tuan rumah sebagai penyelenggara Sidang Raya PGI. Sungguh membanggakan.

Informasi ini didapatkan dari Bapak Walikota Gunungsitoli sebagai Ketua Pantia. Beliau mengatakan bahwa pada tahun 2014 ini ada momen besar di Kepulauan Nias, yakni pelaksanaan Sidang Raya XVI dan Musyawarah Pekerja Lengkap (MPL) Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Sidang Raya ini dihadiri tamu-tamu yang berasal dari dalam negeri dan mancanegara.

Walaupun skala PGI merupakan skala nasional tetapi karena gaungnya PGI di Indonesia sangat besar, maka kemungkinan besar dan diharapkan bahwa Presiden RI akan hadir pada pembukaan Sidang Raya ini. Demikian juga jajaran Kabinet Kerja Presiden RI dan utusan-utusan dari luar negeri pasti banyak yang datang. Kehadiran Presiden RI, jajaran Kabinet, dan utusan dari beberapa Negara dalam Sidang Raya PGI ini, akan memberikan dampak yang sangat besar pada masa depan Kepulauan Nias. Dampak utamanya adalah menjadi daya ungkit pada perkembangan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan di Kepulauan Nias.

Beberapa dampak lain dari pelaksanaan Sidang Raya di Kepulauan Nias ini, yaitu: Dampak pertama yaitu mereka akan melihat sejauhmana persekutuan gereja-gereja yang ada di Kepulauan Nias, menjadi satu sebagai insan yang diselamatkan. Dampak kedua, persepsi mereka pada karakter manusia Nias di Kepulauan Nias. Dampak ketiga, mereka akan melihat mengenai kemampuan putra-putri Nias untuk melaksanakan penyambutan terhadap tamu-tamu agung yang berasal dari dalam dan luar negeri. Dampak keempat, mereka akan melihat mengenai kerjasama antara panitia lokal dan panitia nasional dalam menyukseskan Sidang Raya. Dampak kelima, mereka akan melihat sikap dan perilaku orang Kristen di Kepulauan Nias. Dampak keenam, mereka akan melihat keadaan sosial dan budaya masyarakat Nias. Dampak ketujuh, mereka akan melihat objek dan daya tarik wisata yang unik di Kepulauan Nias. Dampak kedelapan, mereka akan melihat dan merasakan makanan khas daerah Kepulauan Nias. Dampak kesembilan, mereka akan melihat hasil kerajinan khas warga masyarakat di Kepulauan Nias. Dampak kesepuluh, mereka akan melihat pembangunan-pembangunan yang telah dilaksanakan di Kepulauan Nias. Dampak kesebelas, mereka akan merasakan mengenai keamanan dan kenyamanan selama berada di Kepulauan Nias.

Dampak-dampak yang dirasakan para tamu ini akan terucap setelah meninggalkan bumi Kepulauan Nias. Biasanya kesan itu terucap pada waktu mereka sudah menyelesaikan tugasnya di Kepulauan Nias, seraya bercakap-cakap dengan temannya di perjalanan menuju daerah mereka masing-masing. Hasil percakapan mereka itu bisa berujud pada hal-hal yang bersifat positif atau sebaliknya pada hal-hal yang bersifat negatif.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara supaya kesan tamu-tamu agung tersebut menjadi ucapan yang positif? Nah, untuk mewujudkan ini, sebaiknya kita memakai kacamata ‘manfaat’.

Peserta Sidang Raya berkenan datang di Kepulauan Nias, berarti mereka akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Nias. Baik bersifat manfaat material maupun bersifat manfaat non material. Dari segi material, mereka akan berbelanja penginapan, transportasi, makan, dan oleh-oleh khas Kepulauan Nias. Dari segi non material, mereka akan memberikan pelajaran yang sangat berhaga bagi kita, dalam hal keimanan, ketekunan, kerjasama, koordinasi, pengorganisasian, saling menghargai, percaya mempercayai, kepemimpinan, pengambilan keputusan dan lain-lain.

Kalau kita semua berpandangan bahwa para tamu yang menghadiri Sidang Raya PGI akan memberikan banyak ‘manfaat’, menjadikan kita ringan kaki dan tangan dalam melakukan pekerjaan, bertindak ramah, dan selalu penuh sukacita. Mudah bekerja, mudah melangkah dan mudah tersenyum.

Apabila panitia bekerja dengan sukacita dan panitia serta masyarakat Kepulauan Nias dapat melakukan kerjasama yang mantap, dalam rangka menghadirkan ‘kesan’ yang baik kepada tamu-tamu yang hadir pada Sidang Raya tersebut, dipastikan akan menghadirkan kesan yang positif. Dari mata turun ke hati dan dari hati turun ke tindakan yang menghasilkan kesan dan tindakan yang positif.

Bagaimana kalau sebaliknya bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan sebuah beban? Kalau yang dikedepankan adalah beban, maka yang terjadi adalah mudah berkeluh kesah, kesel, malas-malasan, saling menyalahkan, mudah bersungut-sungut dan mungkin tabiat-tabiat buruk yang lain akan muncul he he. Tidak terlihat sukacita di rona muka bahkan yang bisa dilihat adalah bekerja asal-asalan. Kalau hal ini yang disandang para panitia, akan mudah ditebak bagaimana hasil akhir dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Hasilnya akan menjadi kacau balau dan tidak berkesan sehingga kata akhir dari peserta Sidang Raya adalah kurang bagus pelaksanaannya.

Oleh karena itu, kesiapan kita dalam berbagai tugas menjelang dilaksanakannya sidang raya PGI pada tahun 2014 ini betul-betul diupayakan tertata dengan baik. Semua insan yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Sidang Raya PGI ini hendaknya memiliki semboyan dalam hati bahwa akan berbuat yang terbaik menjelang, saat sidang, dan berakhirnya Sidang Raya tersebut di bumi Kepulauan Nias. Tujuannya adalah agar semua tamu yang datang dari luar Nias ke Kepulauan Nias memiliki pendapat dan kesan bahwa MEMANG ORANG-ORANG NIAS ITU PINTAR-PINTAR DAN RAMAH. Objek dan daya tarik wisatanya pun menakjubkan dan masih asli belum tertular virus-virus dari luar.

Untuk itu kepada Panitia penyelenggaraan Sidang Raya PGI yang berasal dari Kepulauan Nias, supaya menyiapkan juga salah satu acara khusus bagi tamu-tamu peserta Sidang Raya yaitu TOUR PADA OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA UNGGULAN KEPULAUAN NIAS. Tour ini menjadi sangat penting dan banyak manfaatnya pada Kepulauan Nias di masa yang akan datang sebagai salah satu kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).

Manfaat yang akan kita dapatkan pada waktu sekarang, yaitu tamu-tamu yang ikutserta dalam rombongan tour itu, akan dapat menjadi agen-agen kita di waktu yang akan datang. Apabila mereka bisa sebagai agen, tentu akan bercerita tentang keunikan pariwisata di Kepulauan Nias kepada orang lain. Supaya harapan ini bisa terwujud, mereka diberi kelengkapan lain dengan menyiapkan brosur-brosur tentang objek dan daya tarik wisata yang dimiliki Kepulauan Nias.

Distribusikanlah brosur-brosur itu di meja-meja persidangan, karena nantinya brosur itu akan menjadi sumber informasi bagi mereka setelah meninggalkan Kepulauan Nias. Kegiatan ini merupakan sebuah taktik yang disiapkan oleh panitia. Pelaksanaan taktik ini dikandungmaksud sebagai upaya untuk melakukan kegiatan, yaitu PROMOSIKAN PARIWISATA KEPULAUAN NIAS KEPADA TAMU/PESERTA SIDANG RAYA PGI.

Apakah kegiatan Sidang Raya ini akan memberikan sebuah peluang untuk itu? Sebuah peluang bisa terdapat dimana-mana, tetapi orang-orang yang datang di Kepulauan Nias berkenaan dengan Sidang Raya PGI, merupakan sebuah peluang untuk langsung mempromosikan pariwisata Kepulauan Nias.

Promosi pariwisata Kepulauan Nias pada saat Sidang Raya ini merupakan satu peluang emas. Batangan emasnya ini menjadi sangat bernilai karena yang menghadiri Sidang Raya ini terdiri dari tamu-tamu agung yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Artinya kita tidak perlu melakukan kunjungan di beberapa Negara di luar negeri untuk mempromosikan pariwisata Kepulauan Nias. Kalau kegiatan kunjungan ke luar negeri dilakukan akan berbiaya besar, dan membutuhkan waktu berhari-hari.

Nah, sekarang mereka yang datang di Kepulauan Nias, kita tinggal menyiapkan berbagai macam informasi mengenai objek dan daya tarik wisata di Kepulauan Nias. Inilah yang disebut berpromosi dengan berbiaya rendah. Tangkap hati para tamu dan gunakan peluang pasar yang sudah berada di depan mata.

Berkenaan dengan beberapa poin di atas, tentu kita mengetuk pintu hati para Bupati/Walikota di Kepulauan Nias untuk bersama-sama menangkap pasar yang mungil ini. Beramai-ramailah menghadirkan objek dan daya tarik wisatanya yang menjadi unggulan, dan cantumkanlah informasi itu dalam brosur dengan bahasa yang menarik, sesuai kondisi dari masing-masing objek dan daya tarik wisata, serta bagikan brosur itu kepada setiap tamu yang hadir pada Sidang Raya PGI.

Kalau bisa, filemkan objek dan daya tarik wisata Kepulauan Nias. Lalu filem tersebut diputar pada sesi-sesi break, sehingga merasuk benak para peserta. Kalau sudah demikian, maka kita tinggal menunggu kedatangan mereka di Kepulauan Nias kembali, dalam wujud atau nama sebagai wisatawan yang berkunjung dan yang mengunjungi objek dan daya tarik wisata unggulan Kepulauan Nias.

Kepada teman-teman sekalian, silahkan dukung dan berikan ide cemerlang berkenaan dengan penyelenggaraan Sidang Raya PGI di Kepulauan Nias pada tahun ini. Semua yang akan dilakukan tentu bersumber dari dan untuk kita semua.

Selamat melaksanakan Sidang Raya, Tuhan Yesus memberkati, Amin.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Bandar Udara Binaka Gunungsitoli

Sunday, October 26th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2BINAKA, merupakan nama salah satu Bandar Udara di Indonesia. Dimana itu? Bandar udara nan jauh di sebelah barat Indonesia yaitu Pulau Nias.

Pulau Nias terletak di sebelah barat Sumatera, yang berbatasan dengan Lautan Hindia (lautan yang banyak pencuri ikannya dan mungkin bentuk kriminal yang lain). Bandar Udara Binaka terletak di kecamatan Gunungsitoli, Sumatera Utara yang berlokasi di Jl. Pelabuhan Udara Binaka Km.19,5 Gunungsitoli.

Menurut Walikota Gunungsitoli, panjang landas pacu 1.800 m dan direncanakan akan diperpanjang menjadi 2.300 m. Jadi ada tambahan panjang landas pacu 500 m. Pertanyaannya adalah mengapa tidak ditambah 1.000 m sekalian sehingga panjang landas pacu menjadi 2.800 m?

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan apabila panjang landasan menjadi 2.800 m, antara lain: 1. Bisa didarati pesawat-pesawat berbadan lebar dengan mantap seperti Boeing dan Airbus; 2. Pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Binaka; 3. Kegiatan pariwisata Kepulauan Nias cepat berkembang; 4. Jalur penerbangan dalam negeri bisa cepat berkembang di Kepulauan Nias, baik pesawat-pesawat dari Sumatera, Batam, Jawa, Bali, dan Lombok.

Nah, apabila jalur penerbangan dalam dan luar negeri bisa cepat berkembang di Binaka Gunungsitoli, lalu lintas manusia menjadi semakin banyak yang melewati Pulau Nias. Semakin banyak manusia menginjakkan kaki di bumi Pulau Nias, akan berdampak banyak pada kondisi ekonomi masyarakat yang berkembang cepat dan bertambahnya penerimaan yang mengisi kantong-kantong pemerintah daerah dalam bentuk pajak dan uang retribusi lainnya.

Dengan demikian rencana untuk menambah landas pacu pesawat di Binaka, jangan dibuat tanggung tetapi sekalian mantap sehingga dampaknya menjadi terasa bagi perkembangan pariwisata Kepulauan Nias ke depan. Jadi sekali dayung, bisa melewati beberapa pulau he he.

Penambahan lebar dan panjang landas pacu pesawat di Binaka Gunungsitoli sangat menarik dan sangat penting dilakukan. Apalagi penambahan landas pacu tersebut sudah disetujui Pemerintah Pusat melalui Menteri Perhubungan EE Mangindaan pada tahun 2013. Ini sebuah peluang emas bagi Kepulauan Nias untuk cepat keluar dari sebutan ‘daerah tertinggal’.

Tugas yang diemban dan diamanahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota Nias yaitu untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam memainkan segala upaya menuju Kepulauan Nias yang bermasadepan cerah. Tugas ini memang tidak mudah tetapi kalau disertai jiwa wirausaha pada level kepala daerah dan kepala SKPD, kita percaya bahwa bisa dilakukan.

Mengenai tambahan pembangunan landas pacu pesawat di Binaka, mungkin yang perlu diperhatikan yaitu masalah caring (perhatian) pada kebutuhan para penumpang pesawat. Seperti halnya Bandara Changi di Singapura, masalah caring menjadi perhatian utama dari yang membangun bandara Changi termasuk pemerintahannya. Semua ini dilakukan sebagai upaya memberikan kepuasan bagi para penumpang yang takeoff dan landing di Bandara Changi.

Apa saja bentuk caring yang ditampilkan pada Bandara Changi Singapura?, antara lain food court, tempat bermain anak, fasilitas Wi-Fi, enam taman terbuka, kamar hias bagi wanita, business centre, supermarket, bioskop 24 jam gratis bagi penumpang, gerai ritel, area tidur 24 jam, tempat ibadah, kolam renang, dan yang lain.

Bagaimana gambaran pembangunan dan pengembangan bandara Binaka di Gunungsitoli? Dapatkah perihal caring dapat dibangun di Binaka meskipun hanya sebagian dulu, sedang yang lain menyusul? Yang utama di sini adalah telah dibuat maket pembangunan Bandar udara Binaka terlebih dahulu, sedang pembangunannya bisa dilakukan secara bertahap.

Melalui informasi yang disampaikan Walikota tahun 2013 yang lalu dan Bupati Kabupaten Nias belum lama ini, bahwa akan diperpanjang landas pacu pesawat di Binaka. Terpampang banyak harapan bahwa Kepulauan Nias segera bangkit. Kita membayangkan bahwa ombak di Sorake dan Lagundri, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, akan segera dipenuhi para peselancar dari dalam dan luar negeri.

Bahkan mungkin pemerintah daerah akan mengagendakan iven dengan menyelenggarakan lomba selancar atau lomba perahu layar tingkat internasional di Kepulauan Nias setiap tahun. Wah kalau ini terjadi tentu kita semua sangat bangga menjadi ‘Ono Niha’ (orang Nias).

Menurut Nias Bangkit.Com edisi 11 Mei 2013, beberapa wisatawan yang datang di Kepulauan Nias mengakui bahwa ombak laut di Kepulauan Nias masih yang terbaik di dunia. Ombak di Kepulauan Nias lebih bagus daripada Bali.

Mengapa? Karena ombak laut di Kepulauan Nias, ombaknya besar, tinggi, dan terus-menerus. Pengakuan mereka memang sebuah fakta yang ada di Kepulauan Nias. Apalagi bila ditambah keunikan lain, yang telah dimiliki oleh Kepulauan Nias seperti atraksi lompat batu, tari maena, tari moyo, dan batu megalith yang terletak di Gomo dan di Desa Lasara Kecamatan Botomuzoi, Desa Hiliweto dan Lahemo Kecamatan Gido. Tentu berbagai hal yang unik dan hanya terdapat di Kepulauan Nias, serta didukung hadirnya perpanjangan landas pacu pesawat di Binaka, tentu akan meningkatkan jumlah lalu lintas manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias.

Semakin banyak manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias, tentu dampaknya banyak. Dampak positifnya yaitu terjadinya perputaran uang yang tinggi di Kepulauan Nias. Perputaran uang yang banyak di Kepulauan Nias bersumber dari para pengunjung yang datang di Kepulauan Nias. Mulai dari pengeluaran wisatawan untuk penginapan, makan, transportasi lokal, pemandu wisata (tour guide), warung makan/restoran, retribusi masuk objek dan daya tarik wisata, sampai pengeluaran untuk beli oleh-oleh, baik berupa makanan maupun berupa souvenir.

Dampak lain yaitu semakin banyak investor yang masuk di Kepulauan Nias untuk berinvestasi pada berbagai peluang usaha yang muncul berkaitan dengan lalu lintas manusia yang semakin maningkat di Kepulauan Nias. Investor tidak perlu dicari atau diundang, tetapi mereka datang sendiri.

Investor yang telah berjiwa wirausaha selalu mencari dan mencari berbagai peluang yang akan terjadi di masa yang akan datang di Kepulauan Nias. Apa masih ada dampak lain? Tentunya masih banyak seperti memunculkan jiwa wirausaha pada orang-orang Nias di wilayah Kepulauan Nias berkenaan dengan banyaknya pertemuan antara yang berkunjung dengan yang dikunjungi.

Melihat perkembangan yang mungkin terjadi ke depan, maka Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota tentu mulai menyiapkan diri menyongsong perubahan-perubahan yang akan terjadi di Kepulauan Nias. Penyiapan diri yang dimaksud berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang akan segera dikeluarkan berkenaan dengan kondisi ini. Kondisinya adalah Kepulauan Nias merupakan ‘Balinya Sumatera’, sebagai tujuan wisata utama di Kawasan Barat Indonesia. Atau sesuai informasi yang dipercaya, bahwa Kepulauan Nias sekarang sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).

Kepulauan Nias sebagai KSPN, tentu banyak hal yang akan disiapkan antara lain, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang akan bekerja pada sektor pariwisata, penyiapan satu pintu bagi pengurusan izin bagi investor, penyiapan rencana tata ruang wilayah (RTRW) baik di sekitar ibu kota Kabupaten dan Kota, ibu kota kecamatan dan di sekitar objek dan daya tarik wisata. Penyiapan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat juga perlu disiapkan dalam upaya menyongsong lalu lintas manusia yang akan semakin banyak di Kepulauan Nias, termasuk juga penyiapan lokasi terminal utama dan terminal-terminal penunjang (satelit) untuk mengantisipasi mobilisasi manusia dari daerah tertentu ke daerah lain di Kepulauan Nias.

Berkaitan dengan kesiapan-kesiapan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota untuk menghadapi perubahan-perubahan ini, kita berharap bahwa Beliau-beliau itu sudah memasang kuda-kuda untuk itu. Artinya, sekali serang musuh langsung jatuh. Sekali bertindak, manfaat yang akan diterima warga masyarakat menjadi nyata, hidup semakin baik.

Bagaimana sebaiknya pembangunan landas pacu pesawat di Binaka dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota, tentu diperlukan pemikiran-pemikiran yang positif dari Bapak/Ibu/Saudara sekalian. Anda berpendapat berarti Anda mendulang emas yang akan Anda kirim (berikan) di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Giagia: Keinginan, Kemauan, atau Hobi ?

Wednesday, October 22nd, 2014

E. Halawa

Pada halaman ‘Percakapan Sehari-hati Bahasa Nias’ di Ensikopedia Nias [1], terdapat tautan ke sebuah blog [2]. Di blog [2] itu, kita menemukan beberapa kalimat bahasa Nias berikut:
1. Ya’o toröi ba Gunungsitoli
2. Ya’o omasi manunö.

Kalimat pertama, walau bukan struktur yang lazim dalam Li Niha (setidaknya dalam varietas Utara), diartikan secara benar: Saya tinggal di Gunungsitoli – I live  in Gunungsitoli.

Kalimat ke 2 diartikan: Hobi saya bernyanyi – I like singing.

Agaknya bukan itu artinya. Ya’o omasi manunö, yang juga mengikuti struktur kalimat yang tak lazim (seperti kalimat 1), yang kalau dalam diubah ke struktur yang lazim – Omasido Manunö – sebenarnya berarti:

Saya ingin bernyanyi (I want to sing) …

Dalam kalimat ini, bernyanyi belum tentu merupakan hobi saya. Saya mungkin ingin bernyanyi karena diajak teman dalam sebuah pesta.

***
Lantas apa bahasa Nias dari: ‘Hobi saya bernyanyi?’

Sebenarnya, dengan sedikit modifikasi, pengertian hobi bisa kita hasilkan sebagai berikut:

Omasi-masido ŵanunö [3,4] – Saya senang bernyanyi – I like singing, artinya kurang lebih.

Akan tetapi sebenarnya ada satu kata yang langsung bisa diartikan ‘hobi’, yaitu giagia.

Giagiara ŵanunö (Hobi mereka bernyanyi).
Giagiara ŵagaisa (Hobi mereka memancing).

***

Dalam Kamus Nias-Indonesia susunan Laiya dkk [5] ada entri: gia, giagia yang diartikan: keinginan, kemauan. Laiya dkk [5] memberi contoh pemakaian giagia dalam kalimat sebagai berikut:

– wö we’amöi ba fasa andrö [6, 7],

yang diartikan:

Kepergian ke pasar itu memang kemauannya. (Garis miring dari penulis artikel ini).

Terlihat, bahwa pengertian giagia dalam kamus Laiya dkk [5] adalah keinginan atau kemauan, bukan hobi yang berarti: kegiatan yang dilakukan untuk tujuan pencapaian kesenangan. Contohnya: hobi filateli, hobi musik, hobi memancing, dsb.

Penulis, sebagai seorang petutur Li Niha varietas Utara, berbeda pendapat dengan Laiya dkk [5] dalam hal ini. Setahu saya, dalam Li Niha varietas Utara, giagia itu adalah aktivitas yang disukai, ingin dilakukan berulang-ulang. Intinya, giagia adalah hobi.

Ada beberapa contoh lain dalam Li Niha varietas Utara.

Böi sofu khönia hadia omasi ia möi fagai; giagiania khöu da’ö – Jangan tanya padanya apakah ia ingin pergi memancing; itu hobinya.

Böi bali’ ö giagiau ŵasöndrata, tenga asökhiwa – Jangan jadikan perkelahian sebagai hobi; bukan hal yang baik.

***

Apakah giagia bisa disingkat menjadi gia? Sepengetahuan saya, giagia adalah kata ulang semu; sama seperti biri-biri, kupu-kupu, gado-gado dalam bahasa Indonesia atau hunahuna (sisik) atau haruharu (pundak, bahu) dalam Li Niha.

Rujukan – Catatan:

  1. Ensiklopedia Nias – ononiha.org.
  2. Percakapan Sehari-hari Bahasa Nias (1) – http://anggiverlita.wordpress.com/2013/03/20/percakapan-sehari-hari-bahasa-nias-1/
  3. Penggunaan karakter ŵ dan w dalam tulisan ini mengikuti kaidah baru yang dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “W-w” dan “Ŵ-ŵ” Dalam Li Niha.
  4. Cara menulis karakter ö dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “ö” Dalam Li Niha.
  5. SZ Laiya, S Zagoto, H Laiya, S Zagoto, A Zagoto, 1985: Kamus Nias – Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
  6. Tanda – di depan kalimat ini adalah substitusi entri yang mau dijelaskan itu; dalam hal ini: gia atau giagia.
  7. Laiya dkk [5] masih menggunakan cara lama penggunaan karakter ŵ dan w – bandingkan dengan [3].