Posts Tagged ‘Gereja Katolik’

Paus Fransiskus Menegaskan Kembali Sikap Gereja Katolik Menentang Hukuman Mati

Friday, June 21st, 2013

HukumMatiNIAS ONLINE, MADRID – Paus Fransiskus menegaskan kembali sikap Gereja Katolik yang menghimbau pengapusan hukuman mati. Sikap Gereja ini disampaikan Paus dalam pesannya pada Kongres Internasional ke 5 Penghapusan Hukuman Mati di Madrid, Spanyol.

Sikap Gereja menentang hukuman mati merupakan bagian dari pembelaan Gereja terhadap martabat manusia, kata Paus, dan “merupakan penegasan kembali secara berani kayakinan bahwa kemanusiaan bisa berhasil menghadapi kejahatan ” tanpa berpaling kepada penindasan kehidupan.

Dalam pesannya yang dilansir National Catholic Register, Amerika, Bapa Suci mengenang kembali bahwa imbauan yang sama pernah disampaikan para pendahulunya Paus Johannes Paulus XVI dan Paus Benediktus. Pesan Paus ini ditandatangai oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Tarcisio Bertone.

Paus meninta agar “hukuman mati direduksi menjadi hukuman yang lebih ringan yang memberikan kesempatan dan insentif kepada pelaku kejahatan untuk mengubah diri”.

“Hari ini, lebih dari hari-hari sebelumnya, mendesak untuk kita ingat dan tegaskan perlunya pengakuan dan penghargaan universal terhadap martabat manusia yang tak boleh dirampas, dalam nilai-nilainya yang tak terukur,” tulis Kardinal Bertone atas nama Paus Fransiskus.

Kongres Internasional Ke 5 Penghapusan Hukuman Mati berlangsung di Madrid, Spanyol, 12-15 Juni 2013. (brk/*) – Foto Ilustrasi: Wikipedia – Eksekusi seorang terpidana mati di Meksiko, 1914.

Ia serius, ini Jorge Bergoglio …

Friday, April 5th, 2013

Jorge Mario BergoglioKardinal Jorge Bergoglio dikenal sebagai seorang yang sederhana. Ia memasak makanan sendiri, dan ia tinggal di apertemen sederhana, menghindari berdiam di istana kardinal di Buenos Aires. Ia sering terlihat berada di atas bis bersama dengan kerumunan orang banyak. Singkatnya, ia mengusahakan sendiri keperluan pribadinya dan tidak mengandalkan para pembantunya yang sebenarnya tersedia untuknya sebagai tokoh tertinggi Gereja Katolik di Argentina.

Setelah terpilih menjadi Paus, para wartawan mengabadikan bagaimana ia kembali ke hotel tempat ia menginap selama masa konklaf untuk membayar langsung biaya hotelnya. Dan ia naik taksi ke mana-mana ketimbang menaiki mobil yang jauh lebih mewah yang disediakan pihak Vatikan. Segera setelah terpilih menjadi Paus ia juga terlihat naik bis dan duduk bersama para kardinal ketimbang menaiki mobil kepausan.

***

Daniel Del Regno adalah seorang pemilik kios surat kabar di Buenos Aires. Daniel memiliki seorang langganan ‘spesial’, siapa lagi kalau bukan Jorge Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires dan Kardinal sederhana itu. Secara reguler Daniel atau ayahnya, Luis Del Regno, mengantarkan koran ke apartemen sederhana di mana Kardinal Jorge Bergoglio tinggal.

FrancisMaka, ketika Daniel mendapat panggilan telefon dari seseorang yang mengaku bernama Jorge Bergoglio tidak lama setelah Paus baru terpilih, ia tidak begitu saja percaya. Dalam percakapan itu, si penelpon meminta Daniel untuk menghentikan pengantaran surat kabar ke apartemennya karena tidak mungkin kembali ke Buenos Aires dalam waktu dekat. Daniel berpikir ini pastilah ulah seseorang yang iseng mempermainkannya. Hal ini diungkapkan Daniel dalam percakapannya dengan orang yang ‘mencurigakan’ itu.

“Ia serius, ini Jorge Bergoglio. Saya menelpon anda dari Roma.”

Daniel mengusap air matanya dan selama berberapa saat tidak mampu berbicara. Ia akhirnya percaya, sebab memang ia mengenal suara yang menelponnya.

“Beliau mengucapkan terima kasih karena selama ini kami mengantarkan koran ke apartemennya. Ia mengirimkan salam dan berkat untuk keluarga saya,” tutur Daniel kepada surat kabar harian Argentina La Nacion sebagaimana dikutip harian The Telegraph.

Sebelum Jorge Bergoglio ke Roma untuk menghadiri konklaf (pertemuan para kardinal untuk memilih Paus, Red.) Daniel sempat bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Bahkan Daniel sempat bertanya mengenai kans Jorge Bergoglio untuk dipilih.

“Beliau menjawab: ‘Ini terlalu panas untuk disentuh. Kita jumpa 20 hari lagi, dan teruskan mengantar koran (ke apartemen saya). Sisanya adalah sejarah.’,” tambah Daniel.

o-POPE-ON-THE-BUS-TODAY-570Ayah Daniel, Luis Del Regno, mengungkapkan bahwa Jorge Bergoglio dikenal sangat ‘pelit’.Paus Fransiskus dalam Bis

Luis Del Regno, setiap bulan koran-koran tadi dikembalikannya ke kiosnya, dalam keadaan rapi.

Setiap hari Minggu Kardinal Jorge Bergoglio “datang ke Kios kami sekitar jam 5.30 pagi dan membeli koran La Nacion. Beliau ngonbrol-ngobrol dengan kami sebentar lalu naik bis ke Lugano untuk menyajikan teh untuk para muda-mudi dan orang-orang sakit, tambah Luis Del Regno seperti diberitakan the Catholic News Agency (CNA).

Kesederhanaan Paus Fransikus tentu saja kontras sekali dengan praktek-praktek kehidupan para pejabat Gereja di Vatikan. Bahkan juga kontras dengan kehidupan para biarawan di berbagai biara di berbagai belahan dunia yang sering terkesan sebagai rumah-rumah mewah ketimbang rumah di mana para pelayan Tuhan berdiam. (brk/* – The Telegrah – CNA – AP – The Huffington Post)

Ketegrangan Gambar:

(1) Kardinal Jorge Bergoglio (kedua dari kiri dalam kereta api bawah tanah di Buenos Aires
(2) Paus Franciskus sedang membayar biaya hotelnya di Roma, setelah terpilih jadi Paus.
(3) & (4) Paus Francis dalam bis bersama para kardinal

Bukalah Pintu Hatimu – Pesan Paus Fransiskus Pada Audiensi Umum Pertamanya

Thursday, March 28th, 2013

Paus-FrancisHari Rabu kemarin (27 Maret 2013), Paus Fransiskus mengadakan auidensi umum pertamanya di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Dalam pesannya (versi bahasa Inggris dapat diakses di sini), Paus mengajak hadirin untuk membuka pintu hati dan mendekati orang lain untuk menghadirkan cahaya dan kegembiraan iman. Berikut adalah terjemahan bebas dari pesan Paus yang diusahakan oleh Redaksi NO.

Saudara-saudari, selamat pagi !

Dengan gembira saya menyambut Anda semua pada audiens umum saya yang pertama. Dengan rasa syukur dan hormat yang mendalam saya menerima “kesaksian” dari tangan pendahulu saya yang terkasih, Bendiktus XVI. Setelah Paskah kita akan melanjutkan kembali katekesis tentang Tahun Iman. Hari ini saya ingin berfokus sedikit pada Pekan Suci. Dengan Minggu Palem kita memulai pada pekan ini pusat dari seluruh kalender liturgi dalam mana kita menemani Yesus dalam Sengsara, Kematian dan Kebangkitan-Nya.

Akan tetapi apa artinya bagi kita hidup dalam Pekan Suci? Apa artinya mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya menuju ke Salib di Kalvari dan Kebangkitan ? Dalam perutusan (misi) awalnya, Yesus berjalan di jalan-jalan di Tanah Suci; Ia memanggil kedua belas manusia biasa untuk tetap tinggal bersamanya, untuk mengikuti secara bersama perjalanan-Nya dan meneruskan perutusan-Nya; Ia memilih mereka dari antara orang-orang yang memiliki iman penuh akan janji-janji Allah.

Ia berbicara kepada setiap orang, tanpa membeda-bedakan, kepada bangsawan dan orang hina, kepada pemuda kaya dan janda miskin, kepada yang berkuasa dan tak berdaya; Ia membawa cintakasih dan pengampunan Allah kepada semua; Ia menyembuhkan, menghibur, mengerti (memahami), memberikan harapan, Ia mengarahkan semua kepada kehadiran Allah yang memberikan perhatian kepada setiap orang, seperti seorang ayah atau ibu yang baik yang memberikan perhatian kepada setiap anaknya.

Allah tidak menunggu kita untuk mendekati-Nya, Allah bergerak ke arah kita, tanpa perhitungan, tanpa ukuran-ukuran. Beginilah Allah: Ia selalu yang pertama, Ia menuju kita. Yesus hiudp dalam realitas keseharian orang-orang sederhana. Ia tergerak oleh kerumunan domba-domba yang tidak memiliki gembala, dan Dia menangis di depan penderitaan Marta dan Maria di saat kematian saudara mereka Lazarus; Ia memanngil pemungut pajak untuk menjadi muridnya dan Ia juga menderita karena pengkhianatan seroang sahabat.

Dalam Kristus, Tuhan telah memberikan kepada kita jaminan bahwa Dia bersama kita, di tengah-tengah kita. “Serigala” – kata Yesus – “mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Yesus tidak memiliki rumah karena rumahnya adalah manusia, kita; misi-Nya adalah membuka semua pintu-pintu Allah, menjadi kehadiran Allah yang mengasihi.

Dalam Pekan Suci kita berada dalam titik tertinggi perjalanan ini, rencana indah yang mengalir sepanjang sejarah hubungan Allah dan kemanusiaan. Yesus memasuki Yerusalem untuk mengambil langkah terakhir, di mana seluruh hidup-Nya disimpulkan: Ia memberikan diri-Nya secara total, Ia tidak menyimpan apa pun untuk diri-Nya sendiri, termasuk nyawa-Nya sendiri. Pada Perjamuan Terakhir dengan sahabat-sahabat-Nya, ia membagi-bagi roti dan mengedarkan piala ‘untuk kita’. Putra Allah ditawarkan untuk kita, Ia menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya ke dalam tangan kita supaya tetap bersama kita selalu, tetap hadir di antara kita. Dan di bukit Zaitun – seperti ketika di hadapan Pilatus – Ia tidak memberikan perlawanan, Ia memberikan diri-Nya sendiri: Ia Hamba Yang Menderita yang dinubuatkan oleh Yesaya, hamba yang menyerahkan nyawanya kepada kematian (bdk Yes 53:12).

Yesus tidak menghidupi kasih ini – yang bermuara kepada perngorbanan – secara pasif atau sebagai sebuah nasib sia-sia; Ia tentu saja tidak menyembunyikan kegentaran hebat kemanusiaan-Nya menghadapi kematian yang mengerikan, tetapi Ia mempercayakan Diri-Nya dengan keyakinan penuh kepada Bapa. Yesus secara sukarela menyerahkan Diri-Nya untuk mati untuk menanggapi kasih Allah Bapa, dalam kesatuan sempurna dengan kehendak-Nya, untuk mendemonstrasikan kasih-Nya kepada kita. Di atas salib, Yesus “mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untukku (Gal 2:20). Kita masing-masing boleh berkata: “Ia mengasihiku dan memberikan diri-Nya untukku.” Setiap orang boleh mengatakan: ”untukku”.

Apa artinya ini bagi kita ? Artinya, ini adalah jalanku, jalanmu, jalan kita. Merayakan Pekan Suci untuk mengikuti Yesus tidak hanya dengan perasaan-perasaan hati, merayakan Pekan Suci mengikuti Yesus berarti belajar bagaimana keluar dari diri sendiri – sepertti saya katakan pada hari Mingu lalu – menggapai yang lain, pergi ke batas-batas eksistensi, menjadi yang pertama mendekati saudara-saudari kita, terutama saudara-saudari kita yang terasing, yang terlupakan, yang sangat memerlukan pengertian, penghiburan dan pertolongan. Menghadirkan Yesus yang hidup, yang penuh pengampunan dan kasih adalah hal yang mendesak.

Mengambil bagian dalam Pekan Suci berarti memasuki jalan pikiran logis dari Tuhan, logika Salib, yang bukan pertama-tama penderitaan dan kematian, tetapi kasih dan penyerahan diri yang menghadirkan kehidupan. Mengambil bagian dalam Pekan Suci berarti masuk ke dalam logika Kabar Gembira. Mengikuti, menemani, dan tetap bersama Kristus menuntut langkah ke luar. Keluar dari diri sendiri, keluar dari jalan beriman yang rutin dan melelahkan, keluar dari godaan untuk kembali ke dalam pola-pola terdahulu yang bermuara kepada tertutupnya cakrawala kita terhadap karya kreatif Allah. Allah melangkah keluar untuk berada di antara kita, Ia mendirikan tenda di antara kita untuk menghadirkan kasih Allah yang menyelamatkan dan memberikan harapan. Bahkan bila kita ingin mengikuti-Nya dan tinggal bersama-Nya, kita tidak boleh bersikukuh untuk tetap berada dalam kelompok ke sembilan-puluh sembilan domba, kita harus keluar, untuk mencari domba yang hilang bersama dengan Dia, domba yang sangat jauh dari jangkauan. Mari kita ingat: melangkahlah keluar dari diri kita, seperti Yesus, seperti Allah keluar dari Diri-Nya dalam Yesus, dan Yesus melangkah keluar dari Diri-Nya.

Seseorang mungkin berkata pada saya: “Akan tetapi, Bapa, saya tidak punya waktu”, “banyak hal yang harus saya lakukan”, “sulit”, “apa yang bisa saya lakukan dengan kemampuan yang terbatas?”, “dengan dosa-dosa saya, dengan banyak hal?”

Sering kita terpaku pada beberapa doa, pada kehadiran yang tak konsisten dan tak terfokus pada Misa Minggu, pada karya karitas yang acak, tetapi kita kurang memiliki dorongan untuk “melangkah keluar” untuk menghadirkan Kristus.
Kita agak mirip dengan St. Petrus. Begitu Yesus berbicara tentang Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan, tentang penyerahan diri, tentang kasih untuk semua orang, Rasul ini mengajak Yesus berbicara berdua dan memperingatkan-Nya. Apa yang Yesus katakan mengganggu rencananya, kelihatannya tak berterima, menggoncang rasa aman yang telah terbangun dalam dirinya, idenya tentang Mesias. Dan Yesus memandang para murid dan menasehati Petrus dengan kata-kata yang barangkali paling keras dalam Injil: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (mrk 8:33).

Allah selalu memikirkan belaskasih: jangan melupakan hal ini. Allah selalu berpikir dengan kasih: Bapa kita yang mahakasih. Allah berpikir seperti seorang ayah yang menantikan kedatangan kembali anaknya dan datang menemuinya, melihatnya datang ketika masih dari kejauhan … Apa artinya ini? Artinya setiap hari ia pergi keluar untuk melihat apakah anaknya sedang kembali menuju rumah. Inilah Bapa kita yang mahapengasih. Ini tanda bahwa Ia sedang menantikan anak-Nya dari teras rumah-Nya; Allah berpikir seperti orang Samaria yang tidak mendekati korban untuk bersimpati, atau melihat ke arah lain, melainkan menyelamatkan-Nya tanpa meminta balasan apapun, tanpa bertanya apakah ia seorang Yahudi, atau seorang kafir, seorang Samaria, kaya atau miskin: dia tidak menanyakan apapun. Ia menyelamatkannya: beginilah cara Allah berpikir. Allah berpikir seperti gembala yang memberikan nyawanya untuk menyelamatkan domba-dombanya.

Pekan Suci adalah waktu rahmat yang Tuhan berikan pada kita untuk membuka pintu hati kita, hidup kita, paroki-paroki kita – menyedihkan banyak gereja yang sudah ditutup ! – di paroki-paroki kita, di berbagai gerakan dan asosiasi, dan untuk “melangkah keluar” ke arah yang lain, untuk mendekati mereka sehingga kita bisa membawa cahaya dan kegembiraan iman kita. Selalu melangkahlah keluar dari diri sendiri! Dan dengan kasih dan kelembutan Allah, dengan rasa hormat dan kesabaran, sambil menyadari bahwa kita menumpangkan tangan, kaki, hati, tetapi adalah Allah sendiri yang akan membimbing mereka dan memberikan buah-buah yang baik dari karya-karya kita.

Semoga Anda menjalani hari-hati ini dengan baik mengikuti Tuhan dengan semangat, membawa cahaya kasih-Nya kepada semua yang kita jumpai. (brk/*) (Foto: Situs Vatikan – www.vatican.va).

Paus Benediktus XVI Mengundurkan Diri

Monday, February 11th, 2013

Paus Benediktus XVI (Foto: IST)

Paus Benediktus XVI (Foto: IST)

NIASONLINE, JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari Tahta Suci, Vatikan. Paus Benediktus XVI menyatakan pengunduran dirinya. Pengunduran diri itu akan efektif berlaku pada 28 Februari mendatang. (more…)

Benediktus XVI: Gunakan Internet Secara Bertanggung Jawab

Monday, January 24th, 2011

[VATIKAN] Paus Benediktus XVI meminta umat Katolik di seluruh dunia untuk menggunakan internet secara bertanggung jawab. Dia pun mengingatkan kaum muda untuk tidak mengganti interaksi kemanusiaan dengan komunikasi virtual. (more…)

Santa Pertama Australia Mengekspos Pelecehan Seksual Terhadap Anak-anak

Sunday, September 26th, 2010

Suster Mary McKillop, yang akan menjadi orang suci (Santa) pertama dari benua Australia, diekskomunikasi oleh Uskup Adelaide karena mengekspos seorang imam Katolik yang melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak (pedofilia). Hal ini diungkapkan oleh sebuah tayangan televisi dokumenter yang akan ditayangkan tanggal 10 Oktober 2010.

Suster Mary McKillop adalah pendidik dan pendiri Kongregasi Suster-Suster St. Yosef dari Hati Suci, sebuah kongregasi para Suster yang mengabdikan diri terutama di daerah-daerah terpencil.

Menurut laporan itu, Mary McKillop melaporkan kepada atasannya seorang imam yang ketahuan melakukan pelecehan seksual. Imam ini akhirnya dikirim kembali ke negeri asalnya, Irlandia. Laporan Mary McKillop ini dan sangsi kepada imam tersebut membuat marah para imam dan ingin balas dendam terhadap Mary McKillop dan kongregasinya.

Usaha balas dendam para imam ini berhasil, dengan meyakinkan Uskup Laurence Shiel, Uskup Adelaide pada saat itu, untuk mengekskomunikasi Mary McKillop. Ekskomunikasi dikeluarkan pada tahun 1871. Menjelang kematiannya, Uskup Laurence Shiel menyadari kekeliruannya dan mencabut hukuman ekskomunkasi itu. Sejak itu, Mary McKillop kelahiran Melbourne itu meneruskan usaha-usahanya di bidang pendidikan ke berbagai pelosok Australia dan mengembangkan kongregasi para suster yang didirikannya.

Mary McKillop meninggal pada tahun 1909. Pada bulan Oktober ini Paus Benediktus akan menjadikannya orang suci (santa) pertama dari Australia. (ABC/brk)

Paus akan menyampaikan permohonan maaf

Saturday, May 8th, 2010

Paus Benediktus XVI berencana menyampaikan permohonan maaf umum pertama bagi anak-anak korban pelecehan oleh para imam Katolik ketika Paus bertemu dengan ribuan biarawan dari seluruh dunia pada bulan Juni pada peringatan puncak Tahun Internasional untuk Para Imam. Demikian dilaporkan harian The Independent mengutip sumber-sumber Vatikan.

Di waktu lampau permohonan maaf paus atau gereja bersifat individual yaitu untuk kasus-kasus pedofilia tertentu atau kasus-kasus pelecehan di negara-negara tertentu. Misalnya ketika Paus Mengunjungi Malta, Jerman dan Australia. Yang sekarang sedang dipersiapkan adalah pengakuan kepada publik bahwa pedofilia merupakan aib atau noda utama dalam sejarah gereja modern yang melibatkan banyak negara. Demikian sumber-sumber Vatikan di Kantor Kongregasi Vatikan untuk Para Imam. Langkah ini dapat disejajarkan dengan langkah bersejarah yang diambil Paus Johanes Paulus II ketika meminta maaf kepada orang Yahudi karena sikap anti-semitisme gereja yang bersejarah dan kejahatan selama Perang Salib, kata sumber-sumber itu.

Para pejabat Vatikan berharap pengakuan umum oleh Paus dan para imam di alun-alun Vatikan pada tanggal 9 – 11 Juni akan berdampak besar untuk meredam skandal besar ini. Pertemuan para imam ini merupakan klimaks dari berbagai acara dalam rangka memperingati tahun khusus para imam yang dirancang untuk meningkatkan panggilan imamat.

Paus telah mengisyaratkan berulang kali bahwa ia sedang mempertimbangkan berbagai cara untuk mengarahkan Gereja ke arah membuka halaman baru dan menemukan strategi keluar dari turbulensi ini.

“Puing-puing kehidupan dapat memunculkan projek (rencana) Allah untuk kita dan bisa menjadi sangat bermanfaat bagi awal-awal baru dalam kehidupan kita,” kata Paus kepada para wartawan di dalam pesawat yang membawanya ke Malta tiga minggu lalu. Ia menyampaikan ini secara khusus ketika dalam kunjungannya ke Malta memperingati 1950 tahun reruntuhan kapal St Paulus di pulau kecil itu dalam perjalanannya ke Roma sebagai tawanan yang akan menghadap pengadilan, pada tahun 60 Masehi.

Seorang pengamat veteran Vatikan mengatakan bahwa dengan menggunakan citra reruntuhan untuk mengibaratkan skandal ini “menyiratkan hal ini akan ditasfsirkan sebagai bukan saja menyebabkan keruntuhan gereja di berbagai negara di seluruh dunia sekarang ini, dari Irlandia ke Amerika Serikat dan Australia, dari Austria, Negeri Belanda dan Italia ke Jerman, Malta dan negera-negara lain, tetapi juga merupakan bagian dari rencana Allah untuk memurnikan, mereformasi dan merevitalisasi Gereja”.

Dalam pidato-pidatonya selama di Malta, Benediktus menekankan bagaimana buah-buah kebaikan bisa muncul dari reruntuhan, seperti terjadi ketika St. Paulus tinggal di Malta yang menjadikan bangsa Malta sebagai salah satu masyarakat Kristen pertama dan mempertahankan kepercayaan ini selama hampir 2000 tahun.

Sumber-sumber Vatikan mengatakan Paus menganggap jambore para imam bulan Juni ini sebagai kesempatan yang tepat baginya untuk membawa Gereja secara keseluruhan ke dalam “Hari Permohonan Pengampunan” kepada para korban dan keluarga mereka atas kesalahan yang dilakukan oleh segelintir imam yang melakukan pelecehan dan kekerasan terhadap anak-anak di banyak negara, dan atas kesalahan para Uskup yang menutupi pelecehan dan kekerasan itu atau melindungi para imam pemangsa itu.

Pertemuan itu akan merupakan sebuah kesempatan untuk berpuasa dan permohonan pengampunan. Dalam penerbangannya ke Malta itu Benediktus merujuk untuk kedua kalinya skandal pelecehan dan kekerasan itu dan efeknya yang mengerikan terhadap otoritas moral gereja dan para gembalanya, dengan menggambarkan Gereja sebagai tubuh Yesus Kristus “yang dilukai oleh dosa-dosa kita”.

Pengamat terpecaya Vatikan itu menambahkan: “Jelas bahwa Benediktus sedang bermenung dan mencoba memahami skandal ini dari kacamata iman. Ia kelihatannya sedang mengembangkan kerangka teologis dan spiritual untuk memahami dan berurusan dengan kenyataan yang sangat memalukan dalam kehidupan Gereja di abad 21 ini dengan merencanakan seksama strategi mengatasinya.” (The Independent, 21/04/2010)

Paus Benediktus Kunjungi Malta

Sunday, April 18th, 2010

* Paus akanh memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu.

Paus Benediktus tiba di Malta hari Sabtu (17/4) dalam kunjungan keluar negerinya yang pertama sejak maraknya skandal pelecehan seksual yang dilakukan rohaniwan Katolik.

Tujuan kunjungan Paus ke Malta adalah memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu. Santu Petrus dipandang sebagai misionaris besar pada awal perkembangan agama Kristen.

Paus Benediktus kepada wartawan dalam penerbangan ke Malta mengatakan, Gereja Katolik telah dilukai dosa. Tetapi dia tidak menyebut skandal seks secara langsung.

Paus Benediktus bertemu dengan Presiden Malta George Abela dan muda-mudi Katolik Malta. Berkotbah di depan ribuan umat di Valleta, ibukota Malta, Paus Benediktus mendorong rohaniwan Katolik untuk mempertahankan panggilan mereka yang penuh tantangan dan kepahlawanan itu.

“Malta memberikan kontribusi besar untuk memeprtahankan Kekristenan lewat darat dan lewat laut,” kata Paus dalam sambutannya ketika bertemu dengan Presiden Malta.

“Anda terus memainkan peran dalam debat yang berkelanjutan tentang identitas, kultur dan kebijakan Eropa. Malta telah berkontribusi banyak terhadap berbagai masalah menyangkut toleransi, reprositas, imigrasi, dan isu-isu lain yang krusial terhadap masa depan benua ini,” kata Paus.

Sebelumnya, Abela mengajak rakyat Malta untuk menyambut Paus dengan “antusiasme dan tangan terbuka”, dalam pesannya lewat radia dan televisi.

Dalam kunjungan ini Paus Benediktus mendapat tantangan besar menyampaikan pesannya untuk Malta, khususnya tentang imigrasi. Malta, yang berada di anata Sisilia dan garis pantai utara Afrika menerima sebanyak 3,000 manusia perahu pada tahun 2008, jumlah yang tercatat dalam rekor. Masih ratusan manusia perahu dari Afrika berada dalam penampungan sementara menunggu keputusan atas nasib mereka.

Paus Benediktus telah berkali-kali menghimbau dalam beberapa bulan terakhir untuk menemukan solusi yanga dil dan manusiawi terhadap isu manusia perahu ini.

Tema lain yang mendapat perhatian khusus Paus adalah pelestarian warisan kristiani Eropa.

Malta adalah negara anggota Uni Eropa terkecil dengan jumlah penduduk sekitar 443,000 jiwa.

Malta memiliki 1 imam untuk melayani 490 umat Katolik dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 1: 2900, menurut statistik Gereja.

Di Malta, aborsi adalah ilegal dan bahkan tidak diperdebatkan; tetapi semakin banyak menginginkan relaksasi terhadap perceraian.

Akan tetapi selama kunjungannya Paus menegaskan kembali sikap tegasnya terhadap perceraian.

“Negara Anda sebaiknya terus mempertahankan keutuhan perkawinan,” katanya.

Kunjungan Paus Benediktus ke Malta merupakan kunjungannya ke 14 ke luar negeri sejak 2005 dan yang pertama tahun ini.

Bagi Malta, kunjungan Paus ini merupakan kunjungan Paus ketiga, setelah Paus Johannes Paulus II ke sana pada tahun 1990 dan 2001. (VOA/AP/maltadiocese.org/brk*)

Krisis Dalam Gereja Katolik, Krisis Hirarkhi dan Umat Katolik

Tuesday, April 6th, 2010

Masa pra-paskah dan paskah tahun ini diselimuti oleh awan kabut berupa berita-berita skandal penutupan kasus-kasus pelecehan seksual dalam Gereja Katolik yang dilakukan oleh para imam Katolik dan yang melibatkan para uskup sebagai pelindung yang melakukan penutupan (cover up). Skandal yang menjadi sorotan pers di seluruh dunia itu terjadi di wilayah keuskupan-keuskupan Katolik di Irlandia, Amerika Serikat, Jerman dan Australia. (more…)

PASKAH – Paus Serukan Perubahan Moral

Monday, April 5th, 2010

Vatican City, – minggu Umat manusia perlu melakukan perubahan spiritual dan moral. Perubahan itu dimulai dari hati nurani. Pesan itu disampaikan Paus Benediktus XVI dalam Urbi et Orbi (Untuk Kota dan Dunia) pada misa Paskah 2010, Minggu (4/4) di Vatikan. (more…)

Wajah Gereja Katolik Irlandia Yang Tercoreng

Sunday, December 6th, 2009

• Kekerasan Seksual Terhadap Anak-Anak Dilakukan Oleh Para Imam

Irlandia, sebuah negara dengan tradisi Katolik yang mengakar, menjadi perhatian internasional akhir-akhir ini berkaitan dengan hasil sebuah laporan yang disebut Laporan Murphy (Murphy Report) yang membongkar praktek-praktek kekerasan seksual terhadap anak-anak oleh para biarawan Katolik. (more…)

Melebihi Harapan, Forum Katolik-Islam di Roma Mempererat Relasi

Saturday, November 15th, 2008

Sulit membayangkan suatu konteks yang lebih menjanjikan antara kaum Muslim dan Kristen dari pada suatu minggu pada mana warga Amerika memilih presiden mereka seorang Kristen yang memiliki banyak kerabat Islam dan yang dulu pernah tinggal di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Kelihatannya “efek Obama” telah memainkan perannya dalam pembicaraan yang berlangsung 3 hari di dan sekitar Vatikan minggu lalu (4-6 November), yang dianggap oleh delegasi Islam sebagai suatu inisiatif yang produktif. (more…)

Paus Benediktus Awali Pembacaan Maraton Injil

Monday, October 6th, 2008

ROMA, SENIN — Paus Benediktus XVI memulai pembacaan Injil secara maraton selama 7 hari dan 6 malam. Televisi Italia RAI menayangkan program “The Bible Day and Night” yang dimulai Paus Benediktus XVI dengan membaca pasal pertama kitab Kejadian. (more…)

Paus Benediktus XVI Berpidato Di Depan Majelis Umum PBB

Saturday, April 19th, 2008

Dalam rangkaian kunjungannya ke Amerika Serikat, Paus Benediktus XVI berpidato di depan Majelis Umum PBB di New York. Paus Benediktus adalah Paus ketiga yang berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa menyusul para pendahulunya Paus Paulus VI dan Paus Yohannes Paulus II. Paus Yohannes Paulus II mendapat kesempatan dua kali: tahun 1979 dan 1995. (more…)

Menjelang Natal dan Tahun Baru Paus Imbau Jangan Terjebak Konsumerisme

Tuesday, December 11th, 2007

[VATIKAN] Paus Benediktus XVI mengingatkan seluruh umat Kristiani untuk tidak terjebak dalam pola konsumerisme dalam memperingati kelahiran Yesus Kristus. “Pentingkan pola hidup sederhana dan peduli terhadap sesama. Jauhilah pola-pola hidup yang konsumeristis,” imbau Sri Paus saat berkhotbah dari ruang kerjanya yang dapat dilihat oleh umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu (9/12). (more…)