Posts Tagged ‘Paus Benediktus’

Paus Benediktus XVI Mengundurkan Diri

Monday, February 11th, 2013

Paus Benediktus XVI (Foto: IST)

Paus Benediktus XVI (Foto: IST)

NIASONLINE, JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari Tahta Suci, Vatikan. Paus Benediktus XVI menyatakan pengunduran dirinya. Pengunduran diri itu akan efektif berlaku pada 28 Februari mendatang. (more…)

Benediktus XVI: Gunakan Internet Secara Bertanggung Jawab

Monday, January 24th, 2011

[VATIKAN] Paus Benediktus XVI meminta umat Katolik di seluruh dunia untuk menggunakan internet secara bertanggung jawab. Dia pun mengingatkan kaum muda untuk tidak mengganti interaksi kemanusiaan dengan komunikasi virtual. (more…)

Paus Benediktus: Sains Bisa Mengantar Manusia Kepada Pengenalan Akan Tuhan

Saturday, November 13th, 2010

Vatikan – Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa penelitian ilmiah bisa mengantar manusia kepada pengenalan akan Tuhan dengan mengungkap keteraturan alamiah dari alam semesta.

Paus menyatakan hal ini dalam sambutannya di depan pertemuan pleno Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan yang berlangsung di Vatikan pada tanggal 28 Oktober 2010.

Logika nyata yang mengatur alam semesta ‘mengantar kita pada pengakuan adanya Nalar yang berkuasa, yang berbeda dengan manusia, dan yang menjadi penyebab keberlangsungan dunia,’ kata Benediktus.

“Inilah titik temu antara ilmu pengetahuan alam dan agama,” kata paus.

“Sebagai hasilnya, sains menjadi tempat dialog, tempat pertemuan antara manusia dan alam, dan decara potensial, antara manusia dan penciptanya.”

Salah seorang anggota Akademi itu, fisikawan Inggris Stepehn Hawking, memancing kontroversi dalam bukunya “The Grand Design” di mana ia mengatakan bahwa keberadaan alam semesta tidak memberikan bukti akan keberadaan Tuhan.

Para ilmuwan yang berkumpul itu adalah anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan, suatu badan yang memberikan nasehat kepada Gereja Katolik – dalam hal ini Paus – tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan itu pada umumnya berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak harus berseberangan dengan kepercayaan agama.

Pada bagian lain sambutannya, Paus Benediktus XIV memuji kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-20. Paus mengatakan bahwa Gereja Katolik mendorong dan sekaligus mendapat keuntungan dari penilitian ilmiah. Lebih jauh Paus mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak perlu ditakuti tetapi pada saat yang sama tidak boleh dianggap sebagai solusi dari segala masalah mendalam eksistensial manusia.

“Kegiatan ilmiah pada akhirnya akan beruntung dari pengakuannya akan dimensi spiritual manusia dan kehausan manusia akan jawaban-jawaban ultimat,” kata Paus menjelaskan.

Sejumlah ilmuwan peserta konferensi itu menghimbau agar Gereja Katolik berusaha lebih kuat meyakinkan masyarakat bahwa Gereja tidak anti sains.

Pandangan Gereja Katolik yang paling kontroversial ialah kutukannya terhadap Galileo Galilei karena dukungannya terhadap model tatasurya Nicolaus Copernicus yang bersifat heliocentris. Gereja Katolik juga mengambil sikap dingin terhadap teori seleksi alam Charle Darwin. Pada awalnya Gereja membakar buku-buku tentang teori Darwin dan membutuhkan waktu lebih dari seabad untuk menerima bukti-bukti yang mendukung teori itu.

Keberadaan Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengatahuan memungkinkan Gereja berinteraksi dengan sains. Akademi ini didirikan oleh Pangeran Roma, Federico Cesi, pada tahun 1603, dan dikembalikan ke bentuknya yang sekarang oleh Paus Pius XI pada tahun 1936. Akademi ini membantu Gereja memahami perkembangan mutakhir di bidang sains khususnya yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran Gereja.

Sejumlah nama terkenal yang pernah menjadi anggota Akademi ini adalah para ilmuwan terkemuka abad 20 di antaranya Guglielmo Marconi perintis teknologi radio dan pendiri ilmu mekanika kuantum, Max Planck.

Jumlah anggota Akademi Kepausan sekarang adalah 80 orang, termasuk sejumlah ilmuwan pemenang hadiah Nobel di bidang sains. Keanggotaan Akademi ini sangat beragam, datang dari berbagai spektrum sains, dari berbagai negara dan agama atau kepercayaan.

Kualitas ilmiah bukan hanya satu-satunya kriteria menjadi anggota Akademi ini. Paus menerima atau menolak seorang ilmuwan menjadi anggota juga didasarkan atas ‘profil moral’ kandidat, walau tidak jelas apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan kriteria ini.

Profesor Kimia Biologis Edward De Roberts dari Universitas California mengatakan masuknya ia baru-baru ini menjadi anggota Akademi ini berkat pembicaraan seorang koleganya dengan seorang imam yamg diutus oleh Kardinal Los Angeles untuk memastikan profil moralnya.

Konon Albert Einstein tidak menjadi anggota karena ia memiliki hubungan di luar pernikahan.

Pertemuan ini berlangsung di Kantor Pusat Akademi tersebut, sebuah vila di taman Vatikan yang dibangun pada abad 16. Dalam pertemuan ini dibahas berbagai macam hal, dari fisika partikel dan perubahan iklim hingga neurosains dan rekayasa genetika. Beberapa dari anggota mengadakan refleksi atas penelitian mereka. Fisikawan Charles Townes, misalnya, mengisahkan penemuan laser-nya sekitar 50 tahun lalu.

Pakar biologi Werner Arber mangatakan ia yakin kerja Akademi ini akan berpengaruh terhadap pandangan Paus terhadap ilmu pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pertemuan-pertemuan pleno biasanya merupakan kesempatan di mana paus menyampaikan pernyataan-pernyataan penting seperti pernyataan Paus Yohanes Paulus II pada konferensi Akademi tahun 1992 yang mengakui kesalahan Gereja mengutuk Galileo.

Arber juga yakin akan pengaruh pertemuan-pertemuan skala kecil yang diselenggarakan oleh Akademi untuk membahas hal-hal spesifik seperti tanaman pangan yang dihasilkan lewat modifikasi genetika, senjata nuklir atau astrobiologi. Ia berpendapat serangkaian pertemuan untuk membahas definisi kematian membantu Vatikan menganalisis peran relatif otak dan jantung dalam hal ini.

Profesor Townes juga yakin bahwa para Akademi ini mempengaruhi pemahaman Paus terhadap sains. Namun ia mengatakan Paus Benediktus terkesan kurang tanggap dibandingkan dengan mendiang Paus Yohanes Paulus II dan lebih ‘konservatif secara relijius’. Ia mengatakan bahwa para anggota Akademi pernah mengadakan diskusi-diskusi langsung dengan mendiang mendiang Paus Yohanes Paulus II, sementara dengan Paus Benediktus masih akan direncanakan.

Beberapa anggota Akademi yang lain mengatakan Gereja Katolik tak berminat mendiskusikan topik-topik kontroversial seperti kontrasepsi.

Seorang astronomer yang juga seorang imam, Pastor Giuseppe Tanzella-Nitti mengatakan bahwa sains dan agama tak pernah berada dalam konflik, melainkan dalam ‘citra konflik, akibat peristiwa-peristiwa tertentu’. Untuk menghilangkan citra ini para imam harus dibekali dengan pendidikan sains yang lebih baik.

Tanzella-Nitti mengatan hanya lewat cara itulah para imam mampu ‘berbicara tentang Tuhan dengan cara yang meyakinkan dalam abad 21. (FN/CC/brk*)

Paus akan menyampaikan permohonan maaf

Saturday, May 8th, 2010

Paus Benediktus XVI berencana menyampaikan permohonan maaf umum pertama bagi anak-anak korban pelecehan oleh para imam Katolik ketika Paus bertemu dengan ribuan biarawan dari seluruh dunia pada bulan Juni pada peringatan puncak Tahun Internasional untuk Para Imam. Demikian dilaporkan harian The Independent mengutip sumber-sumber Vatikan.

Di waktu lampau permohonan maaf paus atau gereja bersifat individual yaitu untuk kasus-kasus pedofilia tertentu atau kasus-kasus pelecehan di negara-negara tertentu. Misalnya ketika Paus Mengunjungi Malta, Jerman dan Australia. Yang sekarang sedang dipersiapkan adalah pengakuan kepada publik bahwa pedofilia merupakan aib atau noda utama dalam sejarah gereja modern yang melibatkan banyak negara. Demikian sumber-sumber Vatikan di Kantor Kongregasi Vatikan untuk Para Imam. Langkah ini dapat disejajarkan dengan langkah bersejarah yang diambil Paus Johanes Paulus II ketika meminta maaf kepada orang Yahudi karena sikap anti-semitisme gereja yang bersejarah dan kejahatan selama Perang Salib, kata sumber-sumber itu.

Para pejabat Vatikan berharap pengakuan umum oleh Paus dan para imam di alun-alun Vatikan pada tanggal 9 – 11 Juni akan berdampak besar untuk meredam skandal besar ini. Pertemuan para imam ini merupakan klimaks dari berbagai acara dalam rangka memperingati tahun khusus para imam yang dirancang untuk meningkatkan panggilan imamat.

Paus telah mengisyaratkan berulang kali bahwa ia sedang mempertimbangkan berbagai cara untuk mengarahkan Gereja ke arah membuka halaman baru dan menemukan strategi keluar dari turbulensi ini.

“Puing-puing kehidupan dapat memunculkan projek (rencana) Allah untuk kita dan bisa menjadi sangat bermanfaat bagi awal-awal baru dalam kehidupan kita,” kata Paus kepada para wartawan di dalam pesawat yang membawanya ke Malta tiga minggu lalu. Ia menyampaikan ini secara khusus ketika dalam kunjungannya ke Malta memperingati 1950 tahun reruntuhan kapal St Paulus di pulau kecil itu dalam perjalanannya ke Roma sebagai tawanan yang akan menghadap pengadilan, pada tahun 60 Masehi.

Seorang pengamat veteran Vatikan mengatakan bahwa dengan menggunakan citra reruntuhan untuk mengibaratkan skandal ini “menyiratkan hal ini akan ditasfsirkan sebagai bukan saja menyebabkan keruntuhan gereja di berbagai negara di seluruh dunia sekarang ini, dari Irlandia ke Amerika Serikat dan Australia, dari Austria, Negeri Belanda dan Italia ke Jerman, Malta dan negera-negara lain, tetapi juga merupakan bagian dari rencana Allah untuk memurnikan, mereformasi dan merevitalisasi Gereja”.

Dalam pidato-pidatonya selama di Malta, Benediktus menekankan bagaimana buah-buah kebaikan bisa muncul dari reruntuhan, seperti terjadi ketika St. Paulus tinggal di Malta yang menjadikan bangsa Malta sebagai salah satu masyarakat Kristen pertama dan mempertahankan kepercayaan ini selama hampir 2000 tahun.

Sumber-sumber Vatikan mengatakan Paus menganggap jambore para imam bulan Juni ini sebagai kesempatan yang tepat baginya untuk membawa Gereja secara keseluruhan ke dalam “Hari Permohonan Pengampunan” kepada para korban dan keluarga mereka atas kesalahan yang dilakukan oleh segelintir imam yang melakukan pelecehan dan kekerasan terhadap anak-anak di banyak negara, dan atas kesalahan para Uskup yang menutupi pelecehan dan kekerasan itu atau melindungi para imam pemangsa itu.

Pertemuan itu akan merupakan sebuah kesempatan untuk berpuasa dan permohonan pengampunan. Dalam penerbangannya ke Malta itu Benediktus merujuk untuk kedua kalinya skandal pelecehan dan kekerasan itu dan efeknya yang mengerikan terhadap otoritas moral gereja dan para gembalanya, dengan menggambarkan Gereja sebagai tubuh Yesus Kristus “yang dilukai oleh dosa-dosa kita”.

Pengamat terpecaya Vatikan itu menambahkan: “Jelas bahwa Benediktus sedang bermenung dan mencoba memahami skandal ini dari kacamata iman. Ia kelihatannya sedang mengembangkan kerangka teologis dan spiritual untuk memahami dan berurusan dengan kenyataan yang sangat memalukan dalam kehidupan Gereja di abad 21 ini dengan merencanakan seksama strategi mengatasinya.” (The Independent, 21/04/2010)

Paus Benediktus Kunjungi Malta

Sunday, April 18th, 2010

* Paus akanh memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu.

Paus Benediktus tiba di Malta hari Sabtu (17/4) dalam kunjungan keluar negerinya yang pertama sejak maraknya skandal pelecehan seksual yang dilakukan rohaniwan Katolik.

Tujuan kunjungan Paus ke Malta adalah memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu. Santu Petrus dipandang sebagai misionaris besar pada awal perkembangan agama Kristen.

Paus Benediktus kepada wartawan dalam penerbangan ke Malta mengatakan, Gereja Katolik telah dilukai dosa. Tetapi dia tidak menyebut skandal seks secara langsung.

Paus Benediktus bertemu dengan Presiden Malta George Abela dan muda-mudi Katolik Malta. Berkotbah di depan ribuan umat di Valleta, ibukota Malta, Paus Benediktus mendorong rohaniwan Katolik untuk mempertahankan panggilan mereka yang penuh tantangan dan kepahlawanan itu.

“Malta memberikan kontribusi besar untuk memeprtahankan Kekristenan lewat darat dan lewat laut,” kata Paus dalam sambutannya ketika bertemu dengan Presiden Malta.

“Anda terus memainkan peran dalam debat yang berkelanjutan tentang identitas, kultur dan kebijakan Eropa. Malta telah berkontribusi banyak terhadap berbagai masalah menyangkut toleransi, reprositas, imigrasi, dan isu-isu lain yang krusial terhadap masa depan benua ini,” kata Paus.

Sebelumnya, Abela mengajak rakyat Malta untuk menyambut Paus dengan “antusiasme dan tangan terbuka”, dalam pesannya lewat radia dan televisi.

Dalam kunjungan ini Paus Benediktus mendapat tantangan besar menyampaikan pesannya untuk Malta, khususnya tentang imigrasi. Malta, yang berada di anata Sisilia dan garis pantai utara Afrika menerima sebanyak 3,000 manusia perahu pada tahun 2008, jumlah yang tercatat dalam rekor. Masih ratusan manusia perahu dari Afrika berada dalam penampungan sementara menunggu keputusan atas nasib mereka.

Paus Benediktus telah berkali-kali menghimbau dalam beberapa bulan terakhir untuk menemukan solusi yanga dil dan manusiawi terhadap isu manusia perahu ini.

Tema lain yang mendapat perhatian khusus Paus adalah pelestarian warisan kristiani Eropa.

Malta adalah negara anggota Uni Eropa terkecil dengan jumlah penduduk sekitar 443,000 jiwa.

Malta memiliki 1 imam untuk melayani 490 umat Katolik dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 1: 2900, menurut statistik Gereja.

Di Malta, aborsi adalah ilegal dan bahkan tidak diperdebatkan; tetapi semakin banyak menginginkan relaksasi terhadap perceraian.

Akan tetapi selama kunjungannya Paus menegaskan kembali sikap tegasnya terhadap perceraian.

“Negara Anda sebaiknya terus mempertahankan keutuhan perkawinan,” katanya.

Kunjungan Paus Benediktus ke Malta merupakan kunjungannya ke 14 ke luar negeri sejak 2005 dan yang pertama tahun ini.

Bagi Malta, kunjungan Paus ini merupakan kunjungan Paus ketiga, setelah Paus Johannes Paulus II ke sana pada tahun 1990 dan 2001. (VOA/AP/maltadiocese.org/brk*)

PASKAH – Paus Serukan Perubahan Moral

Monday, April 5th, 2010

Vatican City, – minggu Umat manusia perlu melakukan perubahan spiritual dan moral. Perubahan itu dimulai dari hati nurani. Pesan itu disampaikan Paus Benediktus XVI dalam Urbi et Orbi (Untuk Kota dan Dunia) pada misa Paskah 2010, Minggu (4/4) di Vatikan. (more…)

Pertemuan Pertama Obama dengan Paus Benediktus

Saturday, July 11th, 2009

Presiden AS Barack Obama telah bertemu dengan Paus Benediktus XVI untuk pertama kalinya beberapa jam setelah pertemuan G8 di Italia berakhir.

Keduanya bertemu sekitar 40 menit di ruang studi Paus di Vatikan. Para wartawan mengatakan keduanya memiliki pandangan yang sama tentang beberapa hal seperti perdamaian Timur Tengah, perubahan iklim dan krisis ekonomi global.

Tetapi pembicaraan keduanya mencakup juga bidang-bidang di mana mereka memiliki pandangan berbeda seperti masalah aborsi dan riset sel tunas. (more…)

Melebihi Harapan, Forum Katolik-Islam di Roma Mempererat Relasi

Saturday, November 15th, 2008

Sulit membayangkan suatu konteks yang lebih menjanjikan antara kaum Muslim dan Kristen dari pada suatu minggu pada mana warga Amerika memilih presiden mereka seorang Kristen yang memiliki banyak kerabat Islam dan yang dulu pernah tinggal di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Kelihatannya “efek Obama” telah memainkan perannya dalam pembicaraan yang berlangsung 3 hari di dan sekitar Vatikan minggu lalu (4-6 November), yang dianggap oleh delegasi Islam sebagai suatu inisiatif yang produktif. (more…)

Persyaratan Menjadi Calon Pastor (Imam Katolik) Diperketat

Friday, October 31st, 2008

Vatikan membuat rekomendasi Kamis (30/10) agar seminari-seminari (sekolah calon imam) melakukan tes kepada para calon siswa yang dicurigai memiliki kelainan psikologis – termasuk ‘kecenderungan homoseksual yang mengakar’ – yang bisa mengakibatkan mereka tak layak jadi imam. (more…)

Paus Benediktus Awali Pembacaan Maraton Injil

Monday, October 6th, 2008

ROMA, SENIN — Paus Benediktus XVI memulai pembacaan Injil secara maraton selama 7 hari dan 6 malam. Televisi Italia RAI menayangkan program “The Bible Day and Night” yang dimulai Paus Benediktus XVI dengan membaca pasal pertama kitab Kejadian. (more…)

Paus Benediktus: Pemisahan Gereja – Negara ‘Fundamental”

Saturday, September 13th, 2008

Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa pemisahan kekuasaan Gereja dan Negara merupakan hal yang ‘fundamental’ tetapi menekankan juga peran penting agama bagi masyarakat. Hal ini dikatakan Paus pada hari pertama kunjungannya di Perancis, kemarin (12/09). (more…)

Paus Benediktus XVI Menghangatkan Hati 200,000 Peziarah

Sunday, July 20th, 2008

Paus Benediktus XVI menghangatkan Hati 200,000 Peziarah yang tinggal di tenda-tenda di bawah langit terbuka di lapapangan pacuan kuda Randwick, Sydney, tadi malam. Paus berterima kasih kepada Tuhan atas “karunia besar” kepercayaan mereka. (more…)

Paus Benediktus XVI Berpidato Di Depan Majelis Umum PBB

Saturday, April 19th, 2008

Dalam rangkaian kunjungannya ke Amerika Serikat, Paus Benediktus XVI berpidato di depan Majelis Umum PBB di New York. Paus Benediktus adalah Paus ketiga yang berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa menyusul para pendahulunya Paus Paulus VI dan Paus Yohannes Paulus II. Paus Yohannes Paulus II mendapat kesempatan dua kali: tahun 1979 dan 1995. (more…)

Spe Salvi, Ensiklik Paus Benediktus XVI

Tuesday, December 11th, 2007

Oleh Andreas A Yewangoe

Beberapa waktu lalu Paus Benediktus XVI mengumumkan sebuah ensiklik berjudul Spe Salvi. Inilah ensiklik kedua selama masa pelayanan Paus ini. Sebelumnya Paus telah mengumumkan sebuah ensiklik berjudul Deus Caritas Est. Sesungguhnya kedua ensiklik ini berkaitan satu sama lain. Dalam Deus Caritas Est ditekankan cinta-kasih Allah atas dunia ini. (more…)