Archive for November, 2010 | Monthly archive page

Pj.Walikota Gunungsitoli Nyatakan Tidak Terlibat Kasus Pembebasan Lahan Kantor Bupati Nias

Tuesday, November 30th, 2010

Gunungsitoli (SIB) – Pj Walikota Gunungsitoli Ir Lakhomizaro Zebua didampingi Kabag Humas Setda Kota Gunungsitoli Henrik H Gulo BA menjawab wartawan di ruang Humas Setda Kota Gunungsitoli, Kamis (25/11) mengaku tidak pernah terlibat kasus pembebasan pertapakan kantor Bupati Nias, kantor DPRD dan Terminal Gunungsitoli.

Pj Walikota Gunungsitoli Ir Lakhomizaro Zebua yang mantan Kadis Kimpraswil Kabupaten Nias mengatakan dirinya tidak pernah diperiksa BPK RI soal pembebasan lahan kantor Bupati Nias, karena Dinas Kimpraswil tidak pernah menangani transaksi pembebasan lahan yang dikatakan bernilai puluhan miliar rupiah karena Dinas Pertanahan Kabupaten Nias dan BRR NAD-Nias yang membidangi urusan itu.

“Saya selaku mantan Kadis Kimpraswil Kabupaten Nias maupun sebagai PJ Walikota Gunungsitoli, menolak tuduhan dan membantah terlibat kasus pembebasan lahan puluhan miliar rupiah karena dana tersebut tidak pernah dikelola oleh Dinas yang saya pimpin,” kata Zebua.

Ditempat terpisah Sekretaris PUD Kabupaten Nias Anotona Zebua S.Sos yang juga mantan Kasubbag Keuangan Dinas Kimpraswil Kabupaten Nias mengatakan sejak diangkat menjadi Kasubbag Keuangan pada Dinas Kimpraswil Kabupaten Nias mulai Juli 2005 sampai Desember 2008, dirinya tidak pernah melihat Kadis Kimpraswil Kabupaten Nias Ir Lakhomizaro Zebua mengelola uang pembebasan lahan kantor Bupati, kantor DPRD Nias dan Terminal Gunungsitoli.

Demikian juga sejak Januari 2009 setelah Dinas Kimpraswil dirobah nomenklaturnya menjadi Dinas PUD (Pekerjaan Umum Daerah) sesuai PERDA N0.7 tahun 2008 hingga sekarang setelah diangkat menjadi Sekretaris Dinas (Sekdis) PUD Kabupaten Nias, Dinas Kimpraswil atau Dinas PUD Kabupaten Nias, dirinya tidak pernah mengelola uang pembebasan lahan kantor Bupati Nias, kantor DPRD Nias dan Teriminal Gunungsitoli.

Sementara Kabag Humas Setda Kota Gunungsitoli Henrik H Gulo BA mengatakan bila ada pimpinan LSM sengaja memberikan berita destruktif untuk menyudutkan seseorang melalui pers hendaknya segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa sesuai dengan pasal 10 dan pasal 11 kodek etik jurnalistik.

Demikian juga didalam Undang-Undang Pers No.40 tahun 1999 pasal 1 ayat 11 mengatakan Hak Jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya, agar UU No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik tidak dijadikan alat menyudutkan pribadi seseorang karena di pasal 3 Kode etik Jurnalistik telah mengamanatkan kepada Wartawan Indonesia untuk selalu menguji informasi dan memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. (LZ/n) (www.hariansib.com – 30 November 2010)

Terjemahan Bebas Pidato Presiden Obama di Kampus Universitas Indonesia

Monday, November 29th, 2010

Terima kasih. Terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih banyak semuanya. Selamat pagi. (Aplaus). Sangat mengesankan berada di sini di Universitas Indonesia. Kepada pihak fakutltas, staf dan mahasiswa, dan kepada Dr. Gumilar Rusliwa Somantri, terima kasih banyak atas keramahan Anda. (Aplaus).

Assalamualaikum dan salam sejahtera. Terima kasih atas sambutan yang mengesankan ini. Terima kasih kepada masyarakat Jakarta dan kepada masyarakat Indonesia.

Pulang kampung nih. (Aplaus). Saya sangat gembira bahwa saya bisa kembali ke Indonesia dan bahwa Michele bisa bersama saya. Kami dua kali mengalami penundaan kunjungan ke sini tahun ini, tetapi saya bertekad untuk mengunjungi sebuah negeri yang begitu berarti bagi saya. Dan sayangnya, kunjungan singat sekali, tetapi saya berharap akan kembali lagi setahun dari sekarang ketika Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Puncak Asia Timur. (Aplaus).

Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin mengatakan bahwa pikiran dan doa kita menyertai orang-orang Indonesia yang menjadi korban tsunami dan letusan gunung berapi yang terjadi baru-baru ini – khususnya yang kehilangan orang-orang kesayangan mereka, dan yang terpaksa mengungsi. Dan saya ingin Anda semua mengetahui bahwa sebagaimana biasanya, Amerika dan Indonesia bahu membahu untuk menghadapi bencana alam, dan kami senang bisa membantu di mana diperlukan. Sebagaimana tetangga membantu tetangga dan keluarga-keluarga membuka pintu bagi yang kehilangan tempat tinggal, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan masyarakat Indonesia akan mampu membuat Anda keluar lagi dari bencana ini seperti sebelumnya.

Izinkan saya untuk memulai dengan sebuah pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. (Aplaus). Saya datang ke negeri ini pertama kali ketika ibu saya menikah dengan seorang warga Indonesia bernama Lolo Soetoro. Dan sebagai anak yang masih muda – sebagai seorang anak yang masih muda saya tiba di sebuah dunia yang berbeda. Akan tetapi masyarakat Indonesia secara cepat membuat saya betah tinggal di sini.

Jakarta – sekarang, Jakarta kelihatan sangat berbeda ketika itu. Ketika itu di kota ini berdiri bangunan-bangunan dengan jumlah lantai yang sedikit. Ini adalah masa tahun 1967, 1968 – kebanyakan dari Anda belum lagi lahir. (Tertawa). Hotel Indonesia adalah salah satu dari sejumlah bangunan tinggi ketika itu, dan hanya ada satu pusat perbelanjaan bernama Sarinah. It saja. Becak dan bemo, dengan kendaraan ini Anda ke mana-mana. Jumlah mereka lebih banyak dari mobil pada masa itu. Dan tidak ada jalan-jalan besar seperti sekarang. Kebanyakan adalah jalan-jalan tak beraspal dan menuju kampung-kampung.

Maka kami pindah le Menteng Dalam, di mana – (aplaus) – hey, beberapa teman dari Mentang Dalam di sini. (Aplaus). Dan kami tinggal si sebuah rumah kecil. Di depannya ada sebuah pohon mangga. Dan saya belajar mencintai Indonesia sambil bermain layang-layang sepanjang pematang sawah dan menangkap capung, beli sate dan baso dari pedagang kaki lima. (Aplaus). Saya masih ingat teriakan para pedagang sate. Sate ! (tertawa). Saya ingat itu. Baso ! (tertawa). Akan tetapi di atas semua itu, saya mengingat orang-orang tua, laki-laki dan perempuan yang menyambut kami dengan senyum mereka; anak-anak yang membuat seorang anak asing yang masih kecil merasa betah sebagai tetangga dan sebagai teman; dan guru-guru yang membantu saya mengenal negeri ini.

Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, dan ratusan bahasa, dan masyarakat dari berbagai daerah dan kelompok suku bangsa, waktu saya di sini menolong saya menghargai kemanusiaan yang universal dari semua bangsa. Dan walau ayah angkat saya, seperti kebanyakan orang Indonesia, dibesarkan sebagai seorang Muslim, ia percaya dengan sungguh-sungguh bahwa semua agama patut dihargai. Dan dengan cara ini – (aplaus) – dengan cara ini ia merefleksikan semangat toleransi beragama yang dilesatrikan dalam Undang-Undang Dasar negara Indonesia, dan ini merupakan salah satu karakteristik negeri ini yang menentukan dan mengilhami.

Saya tinggal di sini selama 4 tahun – kurun waktu yang ikut membentuk masa kanak-kanakku; kurun waktu ketika saudari saya, Maya, lahir; kurun waktu yang mengesankan ibuku sehingga ia terus kembali mengunjungi Indonesia hingga 20 tahun kemudian untuk tinggal, bekerja dan jalan-jalan – dan memenuhi keinginannya untuk membantu membuka kesempatan di desa-desa Indonesia, khususnya kesempatan untuk perempuan dan gadis-gadis Indonesia. Dan saya merasa sangat dihargai – (aplaus) – saya sangat dihargai ketika tadi malam Presiden Yudhoyono pada jamuan makan malam memberikan penghargaan atas nama ibu saya, sebagai penghargaan atas karya-karyanya. Dan tentulah ia akan sangat bangga, sebab Indonesia dan masyarakatnya sangat dekat di hati ibu saya sepanjang hidupnya. (Aplaus).

Sudah sangat banyak perubahan dalam 4 dekade sejak saya menumpangi sebuah pesawat untuk kembali ke Hawaii. Jika Anda bertanya kepada saya – atau bertanya kepada teman-teman kelas saya yang mengenal saya ketika itu – saya pikir tidak ada di antara kami yang memperkirakan bahwa suatu hari saya akan kembali ke Jakarta sebagai President Amerika (aplaus). Demikian juga akan sedikit yang akan mengantisipasi kisah-kisah Indonesia yang mengagumkan selama empat dekade terakhir ini.

Jakarta yang dulu kukenal kini telah menjadi sebuah kota padat berpenduduk hampir 10 juta orang, dengan gedung-gedung pencakar langit yang membuat Hotel Indonesia kelihatan begitu kecil, serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan yang berkembang subur. Bila dulu teman-teman (anak-anak Indonesia) dan saya biasanya berlari ke sawah-sawah dengan kerbau dan kambing-kambing – (aplaus) – sebuah generasi baru Indonesia merupakan salah satu kelompok yang paling terhubung secara digital di dunia – terhubungkan lewat telefon-telefon genggam dan jaring-jaring sosial dunia maya. Dan sementara Indonesia sebagai sebuah bangsa yang masih muda ketika itu lebih terfokus ke dalam dirinya, Indonesia kini menjadi sebuah negara yang memainkan peran kunci di Asia Pasifik dan dalam ekonomi global.

Sekarang, perubahan ini pun merembes ke politik. Ketika ayah tiri saya masih seorang remaja, ia menyaksikan ayah dan abangnya meninggalkan rumah untuk ikut bertempur dan tewas dalam usaha merebut kemerdekaan Indonesia. Dan saya gembira berada di sini pada Hari Pahlawan untuk menghormati kenangan dari begitu banyak orang Indonesia yang mengorbankan diri mereka atas nama bangsa besar ini. (aplaus)

Saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, suatu masa menyusul penderitaan besar dan konfliks di berbagai daerah di negeri ini. Dan meskipun ayah tiri saya bertugas di kemiliteran, kekerasan dan pembunuhan pada masa kekacauan politik itu umumnya tidak saya ketahui karena hal itu tidak diperbincangkan oleh keluarga dan teman-teman Indonesia saya. Dalam rumah saya, seperti di rumah-rumah lain di selurun Indonesia, kenangan-kenangan masa itu merupakan kehadiran yang didiamkan. Orang-orang Indonesia telah mendapatkan kemerdekaannya tetapi ketika itu terkadang mereka takut berterus-terang tentang berbagai hal.

Pada tahun-tahuns sesudah itu, Indonesia telah menentukan sendiri jalan yang harus ditempuhnya melalui transformasi demokrasi yang luar biasa – dari kekuasaan tangan besi ke kekuasaan rakyat. Pada tahun-tahun terakhir, dunia telah menyaksikan dengan harapan dan pujian proses transfer kekuasaan yang damai dan pemilihan langsung para pemimpin. Dan sama seperti demokrasi Anda dilambangkan oleh Presiden dan perwakilan rakyat terpilih, demokrasi Anda dihidupi terus dan dibentengi oleh batas-batas kekuasaan masing-masing institusi: suatu dinamika masyarakat sipil; partai-partai politik dan perkumpulan-perkumpulan, media yang hidup segar da warga yang aktif yang telah menjamin bahwa Indonesia tidak akan lagi berpaling dari demokrasi.

Dan meskipun negeri masa mudaku ini telah berubah dalam banyak hal, ada banyak hal yang membuat saya mencintai Indonesia – semangat toleransi yang ditulis dalam Undang-Undang Dasar Anda; dilambangkan dalam bentuk mesjid-mesjid, gereja-gereja dan candi-candi yang berdiri berdekatan; semangat yang terpatri dalam masyarakat Anda – yang masih tetap hidup. – (Aplaus) – Bhinneka Tunggal Ika – berbeda-beda tetapi tetap satu. Inilah landasan contoh Indonesia kepada dunia, and inilah alasan mengapa Indonesia akan memainkan peran penting dalam abad 21.

Nah hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat, tetapi juga sebagai seorang Presiden yang mencari kemitraan yang dalam dan permanen antara kedua negara kita. (aplaus). Karena sebagai negara-negara yang besar dengan keragamamannya, sebagai tetangga di belahan lain Pasifik, dan yang terutama sebagai dua negara demokrasi – Amerika dan Indonesia diiikat bersama oleh kepentingan dan nilai-nilai bersama.

Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya mengumumkan Kemitraan Komprehensif antara Amerika dan Indonesia. Kami meningkatkan hubungan antara kedua pemerintahan dalam banyak bidang yang berbeda, dan – sama pentingnya – kami sedang meningkatkan hubungan di antara kedua masyarakat kita. Ini adalah kemitraan yang sama atas dasar kepentingan bersama dan saling menghormati.

Dengan sisa waktu yang saya milii hari ini, saya ingin berbicara tentang mengapa kisah yang baru saja saya ceritakan – kisah tentang Indonesia sejak masa saya tinggal di sini – begitu penting kepada Amerika dan kepada dunia. Saya akan berfokus pada 3 bidang yang saling terkait, dan fundamental terhadap kemajuan manusia – pembangunan, demokrasi dan kepercayaan agama.

Pertama, persahabatan antara Amerika dan Indonesia bisa meningkatkan kepentingan bersama dalam pembangunan.

Ketika saya pindah ke Indonesia, sulit membayangkan kesejahteraan keluarga-keluarga di Chicago dan Jakarta akan terhubungkan. Akan tetapi ekonomi kita sekarang sudah mengglobal, dan Indonesia telah mengalami baik janji-janji maupun ancaman globalisasi: dari kejutan krisis keuangan Asia pada tahun 1990an, ke jutaan yang diangkat dari kemiskinan karena meningkatnya perdagangan dan bisnis. Apa maksudnya itu – dan apa hikmah yang kita ambil dari krisis ekonomi baru-baru ini – adalah kita memiliki andil dalam keberhasilan satu sama lain.

Amerika punya kepentingan dalam pertumbuhan dan pembangunan Indonesia, di mana kemakmuran dirasakan secara lebih merata di antara masyarakat Indonesia – karena kelas menengah yang makin bertambah di sini akan membuka peluang pasar bagi barang-barang kami, sama seperti Amerika merupakan pasar bagi barang-barang yang datang dari Indonesia. Maka kami akan berinvestasi lebih banyak lagi di Indonesia, dan ekspor kami telah bertumbuh lebih dari 50%, dan kami membuka pintu pada orang-orang Amerika dan Indonesia untuk saling berbisnis.

Amerika punya kepentingan terhadap Indonesia yang memaninkan perannya yang tepat untuk memberi bentuk kepada ekonomi dunia. Bukan masanya lagi di mana 7 atau 8 negara datang bersama untuk menentukan arah pasar global. Inilah alasan mengapa kini Kelompok 20 (G20) merupakan pusat kerjasama ekonomi internasional, sehingga ekonomi yang sedang berkembang pesat seperti Indonesia memiliki suara yang lebih besar dan juga mengemban tanggung jawab yang lebih besar untuk mengarahkan ekonomi dunia. Dan melalui kepemimpinannya atas Kelompok anti-korupsi Kelompok 20 (G20), Indonesia seharusnya menjadi contoh bagi dunia dalam hal transparansi dan akuntabilitas. (aplaus).

Amerika memiliki kepentingan akan Indonesia yang mengejar pemabngunan berkelanjutan, karena cara pertumbuhan akan menentukan kualitas kehidupan kita dan kesehatan planet bumi kita. Dan karena itulah mengapa kami mengembangkan teknologi-teknologi energi bersih yang bisa memutar rosa industri dan melestarikan sumber-sumber alam Indonesia yang sangat berharga – dan Amerika menyambut kepemimpinan negara Anda dalam usaha-usaha global untuk memerangi perubahan iklim.

Di atas itu, Amerika memiliki kepentingan akan keberhasilan masyarakat Indonesia. Di bawah berita-berita utama hari ini, kita harus membangun jembatan-jembatan di antara masyarakat kedua negara kita, karena kita memiliki keamanan dan kesejahteraan di masa depan yang sama. Dan itulah persis yang kita sedang lakukan – dengan meningkatkan kerjasama di antara ilmuwan dan peneliti, dan dengan bekerja bersama untuk menum buhkembangkan kewirausahaan. Dan secara khusus saya bergembira bahwa kami telah berkomitmen untuk menggandakan jumlah mahasiswa Amerika dan Indonesia yang belajar di masing-masing negara kita. (aplaus). Kami menginginkan lebih banyak pelajar Indonesia di sekolah-sekolah Amerika, dan kami menginginkan lebih banyak pelajar Amerika belajar di negeri ini. (aplaus) Kami ingin menumbuhkan hubungan-hubungan baru dan pemahamanan yang lebih besar di antara anak-anak muda pada abad muda ini.

Ini adalah isu-isu yang bersentuhan dengan keseharian kita. Pada akhirnya, pembangunan bukan hanya laju pertumbuhan dan angka-angka di kertas neraca. Pembangunan adalah menyangkut anak-anak yang bisa memperoleh ketrampilan untuk bisa hidup dalam dunia yang berubah. Pembangunan adalah berkaitan dengan ide-ide yang bagus yang bisa menjelma menjadi bisnis dan tidak dirusak oleh korupsi. Pembangunan adalah menyangkut apakah daya-daya yang telah mentransformasikan Jakarta yang pernah saya kenal – teknologi dan perdagangan dan arus manusia dan barang – bisa bermuara kepada penciptaan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia, bagi seluruh manusia, kehidupan yang ditandai oleh harkat dan kesempatan.

Sekarang, pembangunan dengan ciri-ciri seperti ini tidak dapat dipisahkan dari peran demokrasi.

Kini, kadang-kadang kita mendengar bahwa demokrasi menghalangi pertumbuhan ekonomi. Ini bukan argumen baru. Terutama dalam masa-masa perubahan dan ketidakpastian ekonomi, sebagian orang akan mengatakan akan lebih mudah mengambil jalan pintas pembangunan dengan mengorbankan hak-hak azasi manusia demi kekuasaan negara. Akan tetapi bukan seperti itu yang saya lihat dalam kunjungan saya di India, bukan seperti itu yang saya lihat di sini, di Indonesia. Prestasi-prestasi Indonesia menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling memperkuat satu sama lain.

Sama seperti negara-negara demokrasi yang lain, Anda telah mengenal berbagai kemunduran dalam perjalanan. Amerika juga demikian. Konstitusi kami berbicara tentang “persatuan yang lebih semurna”, dan itulah perjalanan yang telah kami jalani sejak itu. Kami telah melalui (dan bertahan selama) perang saudara dan kami telah berjuang untuk memperluas hak-hak yang sama untuk mencakup seluruh warga negara kami. Usaha inilah yang telah menjadikan kami lebih kuat dan lebih sejahtera, sambil menjadi masyarakat yang lebih adil dan lebih bebas.

Seperti negara-negara lain yang keluar dari kekuasaan kolonial pada abad lalu, Indonesia berjuang dan berkorban untuk merebut hak menentukan nasib sendiri. Itulah Hari Pahlawan – Indonesia yang menjadi milik bangsa Indonesia. Akan tetapi pada akhirnya Anda juga memutuskan bahwa kebebasan tidak boleh berarti menggantikan tangan besi penjajah dengan orang kuat dari bangsa sendiri.

Demokrasi tentu saja membingungkan. Tidak semua oran menginginkan hasil-hasil setiap pemilihan. Anda bisa jatuh bangun. Akan tetapi perjalan demokrasi perlu, dan tidak hanya terbatas pada pemberian suara. Diperlukan institusi-institusi untuk membatasi/mengendalikan kekuasaaan – yakni pemusatan kekuasaan. Pasar terbuka diperlukan untuk memberikan kemakmuran bagi individu. Pers bebas dan sistem pengadilan bebas diperlukan untuk mengeliminasi penyalahgunaan dan ekses, dan untuk tetap mempertahankan akuntabilitas. Diperlukan masyarakat terbuka dan warga yang aktif untuk menolak diskriminasi dan ketidakadilan.

Inilah kekuatan-kekuatan yang akan mendorong Indonesia ke depan. Toleransi terhadap korupsi yang menghambat kesempatan harus ditolak; harus ada komitmen terhadap transparansi yang memberikan setiap warga andil dalam pemerintahan, serta keyakinan bahwa kebebasan dari tiap-tiap warga Indonesia – yang diperjuangkan oleh orang-orang Indonesia – adalah yang mengikat bangsa besar ini.

Itulah pesan dari orang-orang Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis ini – dari para pejuang dalam Pertempuran Surabaya 55 tahun lalu, ke para mahasiswa yang turun ke jalan secara damai pada tahun 1990an, ke para pemimpin yang telah memilih jalan transisi kekuasaan secara damai pada abad yang masih muda ini. Sebab, pada akhirnya, adalah hak-hak dari warga negara yang akan merajut Nusantara yang luar biasa ini yang terbentang dari Sabang sampai Merauke – suatu tekad – aplaus – suatu tekad agar setiap bayi yang lahir di negeri ini akan diperlakukan secara sama, apakah yang datang dari Jawa atau Aceh, dari Bali atau Papua. (aplaus). Bahwa semua orang Indonesia memiliki hak-hak yang sama.

Usaha ini meluas ke contoh yang diperlihatkan Indonesia di pentas dunia. Indonesia mengambil inisiatif membentuk Forum Demokrasi Bali, sebuah forum terbuka untuk berbagai negara untuk berbagi kisah pengalaman dan praktek-praktek terbaik untuk menumbuh-kembangkan demokrasi. Indonesia juga berada di depan dalam upaya memberikan perhatian lebih kepada hak-hak azasi manusia di ASEAN. Bangsa-bangsa Asia Tenggara haruslah memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri, dan Amerika Serikat akan mendukung hak itu secara kuat. Akan tetapi masyarakat Asia Tenggara juga harus memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri. Dan karena itulah kami mengutuk pemilihan-pemilihan yang berlangsung di Burma barusan ini, yang tidak bebas dan tidak adil. Karena itulah kami mendukung masyarakat sipil Anda dalam bekerjasama dengan mitra-mitranya di kawasan ini. Karena tidak ada alasan mengapa penghormatan terhadap hak azasi manusia harus berhenti pada batas negara.

Secara bersama-sama, itulah makna dari pembangunan dan demokrasi – sebuah ide bahwa nilai-nilai tertentu adalah universal. Kesejahteraan tanpa kebebasan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Karena ada aspirasi yang dimiliki bersama oleh setiap manusia – kebebasan untuk mengetahui bahwa pemimpin Anda dapat diminta pertanggungjawabannya tanpa harus dipenjarakan karena berbeda pendapat dengan mereka; kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan bekerja dengan penuh harkat; kebebasan untuk menjalankan keyakinan Anda tanpa rasa takut dan pembatasan. Iu semua adalah nilai-nilai universal yang harus berlaku di mana saja.

Sekarang, agama merupakan topik terakhir yang ingin saya singgung hari ini, Dan – seperti demokrasi dan pembangunan – merupakan bagian fundamental dari kisah Indonesia.

Seperti bangsa-bangsa Asian lain yang saya kunjungi selama kunjungan ini, Indonesia menanjak dalam spiritualitas – tempat di mana orang menyembah Allah dengan cara berbeda. Bersama dengan keberagaman ini, Indonesia juga merupakan negara dengan masyarakat Muslim terbesar – sebuah kebenaran yang saya tahu sebagai seorang anak remaja ketika saya mendengar panggilan untuk bersembahyang di seluruh Jakarta.

Seperti halnya seseorang tidak hanya dicirikan oleh kepercayaannya, demikian juga Indonesia tidak hanya dicirikan oleh penduduk Muslimnya. Akan tetapi kita juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam kurang begitu bersahabat selama bertahun-tahun. Sebagai Presiden, salah satu prioritas saya adalah memperbaiki hubungan ini. (aplaus). Sebagai bagian dari upaya ini, saya pergi ke Kairo bulan Juni yang lalu, dan saya menghimbau awal baru antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam di seluruh dunia – suatu hal yang akan menciptakan sebuah jalur bagi kita untuk melangkah maju terlepas dari perbedaan-perbedaan di antara kita.

Ketika itu saya mengatakan, dan saya mengulangi lagi sekarang, bahwa tidak ada sebuah pidato tunggal yang dapat menghilangkan rasa saling tidak percaya. Akan tetapi saya percaya waktu itu, dan juga sekarang, bahwa kita memiliki sebuah pilihan. Kita bisa memilih untuk dicirikan oleh perbedaan-perbedaan kita, dan menyerah pada kecurigaan dan ketidak-saling-percayaan. Atau kita bisa memilih bekerja keras untuk meletakkan pijakan bersama dan berkomitmen untuk secara terus menerus mencapai kemajuan. Dan saya bisa menjanjikan kepada Anda – terlepas dari berbagai halangan – Amerika Serikat memiliki komitmen untuk kemajuan manusia. Itulah kami. Itulah yang telah kami buat. Dan itu yang akan kami lakukan. (aplaus).

Sekarang, kita tahu betul berbagai masalah yang telah menimbulkan ketegangan selama bertahun-tahun – masalah-masalah yang saya singgung di Kairo. Dalam kurun waktu 17 bulan sejak pidato itu, kami telah menghasilkan sejumlah kemajuan, tetapi masih banyak yang perlu kami lakukan.

Rakyat tak berdosa di Amerika dan Indonesia dan di seluruh dunia masih menjadi sasaran ekstirmisme yang brutal. Saya menegaskan bahwa Amerika tidak sedang dan tidak akan berperang melawan Islam. Alih-alih, kita semua harus bekerjasama untuk mengalahkan al Qaeda dan para pengikutnya, yang tidak bisa mengklaim diri sebagai pemimpin agama mana pun – dan tentu saja bukan pemimpin sebuah agama besar dunia seperti Islam. Akan tetapi semua yang ingin membangun tidak boleh memberi ruang kepada para teroris yang ingin menghancurkan. Dan ini bukanlah hanya tugas Amerika saja. Sesungguhnya di sini di Indonesia Anda telah mencapai berbagai kemajuan dalam usaha menumpas para ektrimis dan memerangi kekerasan yang mereka buat.

Di Afghanistan, kami terus bekerjasama dengan koalisi bangsa-bangsa untuk membangun kemampuan pemerintah Afghanistan untuk menjamin masa depannya. Kepentingan kita bersama adalah menghasilkan perdamaian di negeri yang dicabik-cabik perang – sebuah perdamaian yang tidak memberi tempat yang aman bagi para ekstrimis yang kejam, dan yang akan memberikan harapan bagi rakyat Afghanistan.

Sementara itu, kami juga telah membuat kemajuan pada salah satu dari komitmen utama kami – yakni usaha kami untuk mengakhiri perang di Irak. Selama masa kepresidenan saya hampir 100,000 tentara Amerika telah meninggalkan Irak. (Aplaus). Rakyat Iraki telah mengambilalih tanggunjawab bagi keamanan negaranya. Dan kami akan terus mendukung Irak dalam usahanya membentuk suatu pemerintahan yang inklusif, dan kami akan menarik pulang seluruh tentara kami.

Di Timur Tengah, kami telah berhadapan dengan langkah-langkah awal yang kurang berhasil, akan tetapi kami terus bertekad untuk menghasilkan perdamaian. Israel dan Palestina telah memulai kembali perundingan-perundingan langsung, akan tetapi hambatan-hambatan besar masih ada. Jangan ada ilusi bahwa perdamaian dan keamanan akan mudah dicapai. Akan tetapi ini harus diyakini: Amerika akan berusaha keras untuk menelorkan hasil yang adil, yang merupakan kepentingan semua pihak yang terlibat – dua negara, Israel dan Palestina, yang hidup bertetangga secara damai dan aman. Itulah tujuan kami. (Aplaus).

Untuk mengatasi semua masalah ini kita dihadapkan pada berbagai resiko. Dunia kita semakin kecil, dan sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan kita telah memberikan kesempatan dan kekayaan yang besar, kekuatan-kekuatan itu juga telah memberdayakan pihak-pihak yang ingin menghalangi kemajuan. Sebuah bom di sebuah pasar dapat menghancurkan aktivitas komersial harian. Sebuah rumor yang dibisikkan dapat mengaburkan kebenaran dan mengakibatkan kekerasan antar masyarakat yang dulunya hidup berdampingan secara damai. Di zaman perubahan yang cepat dan perbenturan budaya ini, apa yang kita miliki bersama sebagai sesama manusia kadang-kadang hilang.

Akan tetapi saya percaya bahwa sejarah Amerika dan Indonesia seharusnya memberikan kita harapan. Sebuah kisah yang ditorehkan dalam motto kedua bangsa kita. Di Amerika, motto kami adalah: E pluribus unum – dari banyak, menjadi satu (catatan penerjemah: pengertian E pluribus unum dari Wikipedia: dari berbagai masyarakat, ras, agama dan asal-usul muncullah sebuah masyarakat dan bangsa yang satu -). Bhinneka Tunggal Ika – berbeda-beda tetapi satu. (Aplaus). Kita adalah dua bangsa yang telah menjalani jalan yang berbeda. Namun kedua bangsa kita menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki keyakinan yang berbeda dapat dipersatukan dalam sebuah kebebasan di bawah satu bendera. Dan kini kita sedang membangun di atas kemanusiaan bersama itu – melalui anak-anak muda kami yang akan belajar di sekolah-sekolah Anda dan sebaliknya; melalui para wirausahawan yang akan saling merajut hubungan yang bisa menghasilkan kesejahteraan yang lebih besar; dan melalui nilai-nilai demokratis mendasar dan aspirasi-aspirasi kemanusiaan yang kita anut bersama.

Sebelum tiba di tempat ini, saya mengunjungi mesjid Istiqlal – sebuah tempat peribadatan yang masih sedang dibangun ketika saya masih tinggal di Jakarta. Dan saya mengagumi fitur arsitektural khas Islam yang dimilikinya dan kubahnya yang sangat indah mengesankan serta ruang tamunya. Akan tetapi nama dan sejarahnya juga berbicara tentang keagungan Indonesia. Istiqlal berarti kemerdekaan, dan pembangunannya merupakan bukti perjuangan bangsa ini untuk menggapai kebebasan. Lebih jauh, rumah peribadatan untuk ribuan umat Muslim ini dirancang oleh seorang arsitek Kristen. (Aplaus).

Begitulah semangat Indonesia. Begitulah pesan dari filsafat inklusif Indonesia, Pancasila. (Aplaus). Di seluruh kepulauan tempat berdiamnya makluk-makhluk Tuhan yang sangat indah, pulau-pulau yang muncul di atas samudera yang diberi nama untuk perdamaian, masyarakat memilih menyembah Tuhannya dengan bebas. Islam berkembang, demikian juga kepercayaan-kepercayaan lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasi yang mulai berkembang. Tradisi-tradisi purba bertahan di tengah usaha bangsa ini menjadi bangsa yang makin kuat.

Itu tidak bararti bahwa Indonesia tanpa cacat. Tidak ada satu pun negara tanpa cacat. Akan tetapi di sini kita bisa menemukan kemampuan untuk menjembatani perbedaan dan keragaman ras, kedaerahan dan agama – melalui kemampuan melihat diri sendiri di dalam diri orang lain. Sebagai anak dari orang tua yang berbeda ras yang datang ke sini dari sebuah negeri yang jauh, saya menemukan semangat ini dalam sapaan yang saya terima ketika pindah ke sini: Selamat Datang. Sebagai seorang Kristen yang mengunjungi sebuah mesjid dalam kunjungan ini, saya menemukannya dalam kata-kata seorang pemimpin yang ditanya tentang kunjungan saya dan berkata: “Umat muslim diizinkan masuk dalam gereja-gereja. Kita semua pengikut Allah.”

Percikan keilahian hidup di dalam kita. Kita tidak boleh menyerah pada kesangsian, sinisisme atau keputusasaan. Kisah-kisah Indonesia dan Amerika seharusnya membuat kita optimisktik, karena ia menceritakan kepada kita bahwa sejarah berada pada pihak kemajuan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; dan bahwa masyarakat dunia ini bisa hidup bersama dalam kedamaian. Semoga kedua bangsa kita, dengan bekerja sama, dengan keyakinan dan tekad, berbagi kebenaran ini dengan semua bangsa manusia.

Sebagai penutup, saya mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia: terima kasih. Terima kasih. Assalamualaikum. Terima kasih.

Catatan Redaksi: Terjemahan bebas ini diushakan oleh E. Halawa. Masukan pembaca dapat dikirim ke Redaksi Nias Online: ni*********@***il.com. Terjemahan bebas ini bisa ditayangkan di blog / situs lain asal menyebut (atau memberikan tautan pada) sumbernya: niasonline.net.

FPMN Minta Pilkada Ditunda

Monday, November 29th, 2010

JAKARTA: Forum Pemuda dan Mahasiswa Nias Selatan (FPMN DKI Jakarta) mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menunda pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Nias Selatan. Pasalnya, tahapan pilkada dinilai tidak dalam koridor hukum. Puluhan mahasiswa FPMN Jakarta itu menggelar aksi demonstrasi di depan kantor KPU pekan lalu.

“KPU Kabupaten Nias Selatan pada Keputusan No. 39/Kpts/ KPU-Kab 002.434832/ 2010 tertanggal 13 September 2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan sebanyak 6 pasangan. Ironisnya, KPUD secara terang benderang mengubah keputusan calon tersebut, padahal sudah diatur dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pilkada pasal 61 ayat (4) menyebutkan bahwa penetapan dan pengumuman calon sebagaimana pada ayat (3) bersifat final dan mengingat,” ujar Juru Bicara FPMN Jakarta Yulianus Gulo kepada Suara Karya di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (25/11).

FPMN mendesak KPU untuk mengembalikan keputusan KPU pada enam pasangan yang akan bertarung memperebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan, 2 Desember mendatang.

“Kami minta pilkada Nias Selatan ditunda karena kalau dipaksakan, melanggar hukum dan kerugian negara bertambah besar. Saat ini masyarakat Nias Selatan tidak kondusif,” kata Yulianus Gulo.

Semula enam pasangan bakal calon (balon) kepala daerah Nias Selatan (Nisel) 2011-2016 resmi mendaftar ke KPUD. Empat pasangan melalui jalur partai politik, yaitu Hadirat Manao-Denisman Buulolo, Fahuwusa Laia-Rahmat Alyakin Dakhi, Idealisman Dakhi-Hukuasa Ndruru, dan Alfred Laia-Fauduasa Hulu. Dua pasangan melalui jalur perseorangan (independen), yakni Temazisokhi Halawa-Foluaha Bidaya dan Sobambowo Buulolo-Toolo Bago. Namun, kemudian pasangan Fahuwusa-Rahmat dicoret. (Yon Parjiyono) (sumber: www.suarakarya-online.com – 29 November 2010)

Iman dan Pil Pahit Rasio: Antara Bukti Adanya Allah dan Rasionalitas Iman Akan Adanya Tuhan

Saturday, November 27th, 2010

Oleh Sirus Laia*

Rasanya tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan, bahwa akhir-akhir ini teologi dogmatik mengalami rasa jenuh. Jenuh dalam arti, ia terjerat dalam rutinitas yang menekan, dan tidak mampu menawarkan horizon baru, yang bisa menimbulkan impuls-impuls baru dalam diskusi.

Tetapi tidak demikianlah dengan teologi fundamental dan teologi agama, yang dulu kita kenal sebagai filsafat agama atau ilmu perbandingan agama. Kedua disiplin ini lagi mengalami “kebangkitan” kembali. Terutama disiplin yang terakhir itu banyak menggulirkan tema-tema kritis yang hangat didiskusikan luas akhir-akhir ini. Salah satunya adalah tema pluralismus, yang mempertanyakan kedudukan sentral agama Kristen terhadap agama-agama lainnya dan erat terkait dengan itu peranan sentral Kristus (baca: satu-satunya) dalam sejarah keselamatan Allah. Barangkali di lain kali kita punya kesempatan untuk mengintip ke dalam tema-tema kontroversial tsb. Dalam tulisan ini saya batasi diri pada tendens (atau hanya fenomena belaka?) yang muncul di haribaan teologi fundamental.

Kebangkitan Kembali ABBA
Dalam dua dekade terakhir teologi fundamental menampakkan tanda-tanda kebangkitan kembali interese untuk meninjau ulang argumen bukti-bukti adanya Allah (selanjutnya disingkat ABBA). Menarik, sebab sampai sekarang belum ada ABBA yang sukses. Kisahnya selalu berakhir pada kapitulasi iman di hadapan ratio. Yang baru dari kebangkitan kembali ini adalah pergeseran strategi. Jadi masalahnya bersifat epistemologis, artinya di sini dimasalahkan bukan soal ada atau tidak adanya Allah, melainkan soal bagaimana kita bisa mengenal bahwa Dia ada atau tidak ada. Fenomena kebangkitan kembali ABBA ini terutama menarik, karena ia bukan hanya muncul di kalangan para teolog fundamental Katolik, yang secara tradisional melahap porsi tertentu ABBA dalam disiplinnya, melainkan juga di antara teolog Protestan, terutama yang berhaluan Kalvinistis (dikenal di Jerman sebagai reformierte Theologen). Pendekatan-pendekatan dari mereka bahkan menyuntikkan darah segar dalam tema ini, sehingga pantas dipertimbangkan sebagai alternatif oleh para teolog Katolik, terutama apa yang dinamakan ABBA berdasarkan pengalaman religius

Tiga tokoh utama yang aktif dalam pembaharuan epistemologis ABBA ini: Alvin Plantinga, William P. Alston, dan Nicholas Wolterstorff. Ketiganya adalah teolog berhaluan Kalvinistis dari daerah berbahasa Inggeris, tetapi nampaknya menimbulkan gema di Jerman, yang dikenal sulit ditembus temboknya dari luar. Yang menarik adalah: kendati tetap berpijak pada tradisi teologi protestan, yang berpegang teguh pada jurang tak terjembatani antara rasio dan iman, mereka menceburkan diri dalam usaha mencari kemungkinan bagaimana rasio toh bisa memainkan peranan penting dalam beriman. Kendati pendekatan ini berbeda, strategi sedemikian mengingatkan kita pada tradisi teologi Katolik, yang enggan mengadu rasio dengan iman, dan cenderung menjembatani keduanya (Ingat tradisi skolastik yang bisa disimpulkan dalam ungkapan Anselm dari Canterbury berikut: credo ut intelligam — saya percaya, supaya saya mengerti).

Jadi bagaimanakah posisi mereka? Mereka beranggapan, bahwa beriman itu rasional. Tetapi dengan tegas mereka juga menolak, bahwa iman harus dimasak dulu dalam periuk rasio sebelum mendapat atribut rasional. Jadi di sini mereka masih protestan, dan dengan demikian merelatifkan kedudukan ABBA sebagaimana bisa diduga ada dalam teologi fundamental Katolik. Karena itu mereka tidak begitu antusias menjalankan ABBA, artinya mencoba membuktikan adanya Allah. Eksistensi Allah tak dapat dibuktikan, melainkan dikenali dan dialami! Rasio dan iman tetap tak dapat dijembatani. Prinsip credo ut intelligam, tak meyakinkan mereka. Jadi kalau demikian kemanakah argumentasi diarahkan? Nah di sinilah muncul pendekatan yang menarik.

Rasional: Apanya?
Ketiga epistemolog di atas mengejutkan kita dengan pertanyaan mereka yang sangat sederhana tetapi membongkar “kesalahan” dalam cara berpikir kita dari dasarnya. Misalnya mereka bertanya: Mengapakah untuk percaya kepada Allah engkau membutuhkan ABBA? Bukankah engkau telah mengalami kalau Allah itu ada dan berkarya dalam hidupmu? Nah, yang perlu diperiksa secara rasional itu bukanlah iman akan Allah, melainkan kebalikannya! Saya mengatakan di atas tadi “membongkar”, sebab demikian lazim kita berpikir, bahwa iman akan Allah itu tidak rasional, sehingga kita tidak pernah berpikir, bahwa sebaliknyalah yang harus diuji secara rasional.

Hal ini sebenarnya tidak sulit untuk dibayangkan. Selama ini orang berimanlah yang panas dingin harus membuktikan kepada para ateis (baca: para rasionalis) bahwa beriman itu rasional. Sementara para ateis bisa tenang-tenang memberi sanggahan, tanpa harus membuktikan rasionalitas posisi mereka. Seolah orang beriman selalu berada posisi lemah. Padahal iman kan berdasar dari pengalaman? Bukankah setiap lembaran dari KS merupakan rekaman pengalaman iman kaum terpilih? Mengapakah Yesus harus membuktikan adanya Allah? Bukankah Dia berkomunikasi dengan Allah itu sendiri? Mengapakah Ia harus membuktikan bahwa imannya akan Bapa-Nya rasional? Bukankah sebaliknya: adalah tidak rasional bagi Yesus untuk tidak beriman kepada Allah Bapa-Nya, yang kehadiran-Nya Dia alami dalam hidup-Nya? Pertanyaannya bagi Yesus bukanlah apakah iman-Nya kepada Allah rasional, melainkan apakah ketidakberimanan kaum ateis itu rasional! Jadi yang harus dibuktikan adalah rasionalitas anggapan para ateis, bahwa Allah tidak ada. Yang harus dibuktikan bukanlah, apakah iman bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang hidup, asal dan tujuan dunia ini. Sebaliknyalah yang harus dibuktikan, apakah pertanyaan-pertanyaan tsb. bisa dijawab secara rasional tanpa iman? Bisakah diterangkan asal dan tujuan hidup kita di dunia ini tanpa iman kepada Allah? Bisakah dijelaskan secara rasional tanpa iman mengapa alam semesta ini ada dan proses evolusi itu berlangsung? Justru dalam hal ini pandangan ateistis berada pada posisi lemah, sedangkan iman mempunyai jawaban-jawaban “rasional” terhadap pertanyaan-pertanyaan
itu.

Jadi rasionalitasnya bukan terletak pada obyek yang mau dibuktikan keberadaannya, melainkan pada keputusan kita untuk meyakini adanya obyek yang mau dibuktikan itu. Obyek tidak pernah dikatakan rasional. Dia hanya entah ada atau tidak ada. Yang rasional adalah orang yang membuat statement tentang obyek tsb. Contohnya tidak sulit. Misalkan seseorang menyuguhkan statement: planet yupiter itu ada. Kita tidak akan bisa mengatakan, yupiter itu rasional. Yupiter itu ada atau tidak ada. Statement bahwa dia ada itu bisa benar atau salah, tetapi yupiter sendiri tidak bisa dikatakan rasional. Orang yang membuat statement itulah yang disebut rasional atau tidak. Bila statementnya ditunjang oleh argumen-argumen yang kuat, maka kita mengatakan dia itu rasional. Sebaliknya ia kita sebut tidak rasional, bila ia berpegang pada statementnya, tanpa ada argumen yang mendukung untuk itu. Analog bisa kita terapkan hal ini pada pertanyaan mengenai eksistensi Allah. Rasionalitas itu tidak terletak pada Allah, melainkan pada orang yang percaya kepada Allah. Seorang yang percaya kepada Allah kita sebut rasional, bila ia memang memiliki alasan-alasan yang lebih mendukung kepercayaannya itu daripada ketidakpercayaannya, jadi semacam “bukti” adanya Allah (dalam contoh di atas: Yesus dan pengalaman religius-Nya). Dan ia kita katakan tidak rasional, bila ia memiliki “bukti” yang lebih mendukung kepada imannya, tetapi memilih untuk tidak beriman!

Masalahnya adalah apakah bukti itu, dan bagaimana membuktikannya? Artinya menyangkut kriteria dan metode untuk menjalankan kriteria tsb (verifikasi). Nah, untuk ini perlu pembeda-bedaan, sebab tidak semua statement memiliki gradasi verifikasi yang sama. Ada statement yang kebenarannya bisa dibuktikan tanpa menuntut usaha maksimal. Misalnya bila dikatakan: di Medan ada ular yang panjangnya satu kilometer. Maka untuk mengverifikasi hal ini, cukup kalau kita berangkat ke sana dan melihatnya apakah memang ada ular sepanjang 1 km tsb. Tetapi ada statement yang lebih sulit untuk diverifikasi. Katakanlah misalnya pernyataan: X seorang ksatria sejati. Barangkali untuk membuktikan hal itu kita menyebut satu atau dua perbuatan yang telah dilakukan oleh X. Tetapi sekaligus kita “tahu”, bahwa dengan menyebut kedua perbuatan X tsb. kita belumlah “seluruhnya” (ekshaustif) membuktikan bahwa X seorang ksatria sejati. Sebab hal yang dimaksud dengan ksatria sejati itu lebih “mendalam” daripada satu dua perbuatan konkrit. Bahkan pernyataan itu menginklusifkan sikap dan perbuatan-perbuatan X di masa depan. Karena itu proses verifikasinya tidak berhenti pada satu dua bukti seperti pada kasus ular sepanjang 1 km di atas, melainkan masih berlangsung terus sampai masa depan. Baru setelah X meninggal kita boleh mengatakan secara definitif apakah X memang benar seorang ksatria sejati. Hal yang sama juga berlaku bagi teori evolusi. Bagaimana membuktikan hal itu? Kendati teori tsb. adalah teori ilmiah sains, untuk “membuktikannya” paling-paling bisa ditunjuk hal-hal yang menunjuk (indikasi) pada adanya proses evolusi itu. Tapi bukti “tuntas” tak ada!

Tetapi dalam kasus-kasus di atas ini kita masih bisa menjalankan verifikasi karena obyek yang dimaksud masuk dalam “waktu dan ruang”, artinya selalu merupakan bagian dari dunia ini, yang bisa kita “pandang” dari jarak jauh, artinya suatu hal yang bisa di-obyek-kan. Tetapi bagaimana dengan asal usul alam semesta, tentang adanya Allah, bahwa Allah telah berkarya dalam diri Kristus? Hal-hal ini tidak dapat diobyektivikasikan, sebab ia tidak masuk bagian “waktu dan ruang” dunia ini, melainkan keseluruhan dunia ini dan bahkan melebihinya. Untuk membuktikan bahwa Allah berkarya di dalam dunia tak dapat ditunjuk misalnya terjadinya mukjijat, sebab itu mengandaikan bahwa dunia normal di luar Allah, dan hanya sekali-sekali Ia menyentuhkan jari ke dalam dunia bila terjadi mukjijat, yang sangat jarang terjadi. Padahal dunia dan segala isinya adalah ciptaan Allah. Bahwa air mengalir, angin berhembus, pohon bertumbuh, anak lahir, itu semua masuk dalam lingkup karya Allah. Argumen yang bertopang pada mukjijat justru pada hakikatnya bersifat ateistis, seolah dunia ini bukan dari Allah, dan bahkan Ia kemungkinan besar telah mati, sebab bukankah mukjijat tidak terjadi lagi?

ABBA: Bukti atau Jalan?
Bila demikian masalahnya, artinya bila eksistensi Allah tidak bisa diverifikasi dengan berpegang pada satu perisitiwa dalam dunia, jadi bagaimana membuktikannya? Para teolog Kalvinistis di atas memiliki hanya satu jawaban: eksistensi Allah tidak bisa dibuktikan, melainkan dialami dan dikenali. Dan dalam hal ini seseorang disebut rasional, bila ia mempercayai pengalamannya. Jadi bukan argumen rasional yang membuat kita yakin akan adanya Allah, melainkan keyakinan akan Allah, pengalaman tentang pengaruh-Nya dalam hidup kita, itulah yang membuat argumen kita rasional. Dan dalam hal ini para teolog Kalvinis ini sangat selaras dengan para teolog skolastik yang sebenarnya tidak mau menyodorkan bukti-bukti adanya Allah, melainkan menunjuk “tangga” atau “jalan” untuk mengenal Allah. Eksistensi dan pengalaman bersama Dia selalu telah diandaikan. Karena itulah Anselm tidak membuktikan adanya Allah, melainkan mencoba mengerti bagaimana memahami eksistensi Allah dalam hidupnya. Bahkan Anselm sendiri menulis ABBA versinya sendiri dalam bentuk doa kepada Allah. Mana mungkin ia baru membuktikan adanya Allah, yang kepadanya ia sedang berkomuniskasi dalam doa?

Demikian juga St. Thomas Aquinas yang mewariskan kepada kita lima bukti adanya Allah yang terkenal itu. Thomas sendiri menyebutnya lima jalan (quinque viae), dan bukan bukti. Jadi dia menunjuk lima jalan, yang bisa menuntun kita kepada kenyataan di belakang fenomena dunia ini, yakni Allah sendiri. Kelima argumen itu merupakan batu loncatan saja untuk mengenal Allah. Hal-hal fana tidak bisa membuktikan hal baka, tetapi bisa menunjuk kepadanya!

Bila demikian mengapakah filsafat dan teologi terlanjur menganggap jalan-jalan pengenalan ini menjadi ABBA? Asal-muasalnya bisa dirunut pada filsafat modern sejak masa pencerahan (Aufklärung), yang mencoba berpijak pada kemampuan rasio sendiri, tanpa mengandaikan eksistensi Allah. Sejarah menunjukkan bahwa telah terjadi perang antara iman dan rasio, yang akan tetapi lahir dari perebutan kekuasaan antara kekuatan-kekuatan ilmu pengetahuan dan institusi Gereja. Jadi awal-awalnya munculnya diskrepanz antara ilmu dan iman itu lebih bersifat politis. Penguasa Gereja, yang menganggap segala otoritas (ilahi dan duniawi) berada dalam tangannya, berusaha dilucuti oleh para ilmuan yang mencoba memperjuangkan otonomi dari ilmu pengetahuan, yang mengarah kepada konflik (ingat kasus Galileo Galilei). Akibatnya adalah pecahnya harmoni iman dan rasio versi skolastik, dan perang yang berkelanjutan antara keduanya. Yang paling merasakan kerugian tentu Gereja, sebab tidak jarang ia mempertahankan satu pandangan pseudo ilmiah yang sebenarnya secara ilmiah nonsens.

Konflik abadi Rasio dan Iman?
Pertanyaannya kini di ambang era postmodern ini adalah: apakah rasio dan iman itu memang benar tidak memiliki titik temu? Haruskah kita mempertahankan konflik rasio-iman warisan jaman Aufklärung? Ataukah di postmodern ini kita harus kembali melihat fenomena yang namanya manusia itu secara keseluruhan, dan itu berarti rasio dan imannya? Bisakah manusia postmodern melepaskan diri dari bayang-bayang permusuhan antara otoritas ilmu dan otoritas agama yang berakibat pada pseudo konflik iman-rasio?

Di tahap awal masa Aufklärung berdiri Immanuel Kant, yang sampai pada kesimpulan, bahwa Allah tidak memiliki tempat dalam lingkungan rasio, yang disebutnya rasio murni (reine Vernunft). Dia mengadakan dikotomi antara rasio murni dan rasio praktis. Rasio murni adalah apa yang biasa kita kenal secara umum sebagai rasio, sedangkan rasio praktis dimaksud rasio menurut kategori moralitas. Dan menurut dia Allah tidak termasuk kategori rasio murni, dan karena itu kita tidak mungkin mengenal Dia dalam modus rasio. Allah hanyalah merupakan tuntutan dari hidup moral praktis (Postulat der praktischen Vernunft). Allahlah yang menjadi garansi supaya yang kita sebut “baik” secara moral itu memang baik adanya. Tanpa Allah sifat imperatif moral tidak memiliki dasar, tanpa jaminan keabsahan. Kendati Kant bukan seorang ateis (Kant tidak menolak eksistensi Allah), dia tidak melihat kemungkinan sedikit pun bahwa rasio (rasio murni!) bisa mengenal Allah. Logika Kant adalah: Kategori dari rasio kita bersifat terbatas. Dan karena itu ia hanya bisa menyerap obyek yang sifatnya terbatas (endlich, fana). Sedangkan Allah itu menyandang atribut tak terbatas (unendlich, baka), yang dalam kosa kata Anselm “Yang Maha Besar, yang tak dapat dibayangkan, bahwa ada yang lebih besar dari Dia” (aliquid quo nihil maius cogitari potest). Jadi kesimpulannya: rasio tidak akan bisa mengenal Allah. Selain itu menurut Kant, adalah tidak mungkin bagi Allah masuk dalam kategori rasio kita. Sebab secepat Dia “membatasi” diri masuk kategori terbatas, atribut ke-tak-terbatas-an-Nya otomatis terlucuti alias ke-Allah-an-Nya
terlukai. Dan itu tidak mungkin.

Kant hampir menjadi otoritas sakral dalam filsafat, yang kepadanya para filsuf sesudah dia harus mengorientasikan diri. Pernah ada usaha dari Neo-Skolastik mencoba mengatasi batas demarkasi rasio yang digariskan Kant dengan menempuh apa yang dinamakan metode transendental. Artinya mereka setuju dengan Kant, bahwa rasio yang terbatas tak mungkin bisa mengenal Allah yang tak terbatas. Tetapi bahwa kita mengenal ke-terbatas-an itu, itu sendiri sudah menunjuk, bahwa ada yang tak-terbatas. Jadi melalui metode ini mereka menempuh strategi “memakai Kant untuk mengatasi Kant”. Dalam daerah inilah banyak teolog modern menjalankan refleksinya.

Sekali lagi Demarkasi
Awal abad ini batas demarkasi antara rasio dan iman itu dihidupkan kembali oleh Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf asal Austria yang mempengaruhi aliran-aliran utama filsafat di daerah yang berbahasa Inggeris, terutama yang dinamakan filsafat bahasa. Wittgenstein adalah seorang filsuf yang hidupnya sangat bersahaja, bukan seorang Katolik aktif, kendati di dalam batinnya ia seorang saleh, seperti bisa dilihat dari Buku Hariannya.

Juga bagi Wittgenstein Allah tak bisa dikenal dalam modus rasio. Dia membuat pembedaan mendasar antara “hal yang bisa diungkapkan” (dan itu maksudnya, yang bisa secara rasional dikenal dan diuraikan), dan “hal yang tak dapat diungkapkan”. Logika Wittgenstein adalah: apa yang bisa dijelaskan, bisa juga dijelaskan. Itulah optimisme ilmiah, yang menganggap segala hal dalam dunia ini bisa diuraikan secara ilmiah. Selebihnya adalah omong kosong. Dan karena pengalaman religius itu tak bisa diuraikan secara eksakta, maka ia masuk dunia yang tak dapat diungkapkan, dan itu berarti secara ilmiah omong kosong. Toh, itu tidak berarti, bahwa Wittgenstein menyepelekan pengalaman religius. Bahkan dalam karya utamanya Tractatus, dia menegaskan: kalaupun suatu hari pertanyaan-pertanyaan ilmiah semua terjawab, pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah hidup belumlah terjawab dengan itu. Dan dia menambahkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan jauh lebih penting daripada pertanyaan-pertanyaan ilmu! Tetapi Wittgenstein adalah korban dikotomi dua dunia.

Properly Basic
Jadi di manakah terletak masalahnya, sehingga dilema dua dunia itu bisa terjadi? Atau memang itulah nasib kita sebagai manusia, harus menelan pil pahit rasio, dan akhirnya harus memoles di atasnya iman, yang lebih baik dicap “buta” dan omong kosong?

Para teolog Kalvinistis di atas mencoba menunjuk, bahwa dilema ini sebenarnya pseudo-dilema, dan berdasar pada kesalahan dalam cara berpikir kita mengenai kriteria dan metode verfikasi ilmiah. Mereka menyebut cara beargumentasi ala verifikasi semacam ini sebagai classical foundalism, yang dalam perangkapnya hampir semua orang terjerat. Menurut Plantinga ada inkoherensi dalam argumentasi ala verifikasi ini, dan inkoherensi tsb. sudah melekat pada premis dasarnya, yang dianggap merupakan proposisi dasar, yang tak membutuhkan evidensi lebih lanjut lagi (artinya bersifat properly basic). Tapi Plantinga bertanya, dari mana kita tahu bahwa premis dasar tsb. sudah properly basic? Konkrit itu berarti: bagaimana kita tahu bahwa premis berikut “satu hal baru bisa mendapat atribut bereksistensi, kalau hal tsb. bisa dibuktikan” (premis yang dipakai untuk melawan eksistensi Allah) dalam dirinya sudah eviden, artinya sudah jelas, tak membutuhkan pen-dasar-an lebih lanjut? Orang yang fanatik mempertahankan rasio pun tidak bisa mendasarkan hal ini lebih lanjut secara rasional! Jadi setiap proposisi toh didasari oleh satu proposisi dasar yang tidak bisa didasarkan lagi?

Ya, keabsahan dari premis itu memang tidak bisa dibuktikan lagi, melainkan merupakan satu hal yang diterima begitu saja, jadi sifatnya tidak rasional dan harus dipercaya saja, bahwa memang demikianlah adanya! Ia merupakan satu proposisi yang disebut properly basic yang tak perlu didasarkan lagi.

Pertanyaannya ialah: mengapa hal itu bisa berlaku bagi proposisi rasional ilmiah, dan tidak boleh untuk proposisi religius dan teologis, dan karena itu juga seyogyanya disebut rasional? Nah, di situlah kesalahan cara berpikir umum. Artinya kita sudah terlanjur mendiskriminasikan sejak awal-awalnya proposisi religius bila berhadapan dengan proposisi ilmiah, yang seolah-olah merupakan satu-satunya proposisi yang berhak mendapat atribut rasional. Padahal sebenarnya setiap proposisi berlandaskan pada satu proposisi dasar yang disebut properly basic, yang masing-masing berbeda untuk setiap bidang. Jadi ada proposisi properly basic untuk proposisi ilmiah dan ada pula proposisi properly basic untuk proposisi religius.

Satu versi baru ABBA: Pengalaman Religius
Nah, sekarang kita masuk ke inti karangan ini. Titik tolaknya kini adalah, bahwa setiap pernyataan itu, entah dia teologis atau ilmiah, selalu berpijak pada satu proposisi dasar yang sifatnya properly basic. Ia tidak bisa dibuktikan, melainkan hanya dipercaya begitu saja menurut pengalaman. Tanpa menguraikannya di sini panjang lebar, bisa dikatakan, bahwa biasanya kita hidup atas dasar kepercayaan kepada pengalaman kita. Itu berlaku untuk rasio maupun iman, atau lebih luas: berlaku dalam dunia ilmu, maupun dalam dunia religius. Sejauh pengalaman tidak membuktikan sebaliknya, sesuatu itu benar. Ingat di sini kritik dasar Karl Propper, yang mengajukan kriteria falsifikasi, artinya satu hipotese benar, sampai ia suatu hari terbukti salah. Dan dalam kategori ini harus masuk rumusan-rumusah ilmiah juga. Kendati tidak bisa dibuktikan secara tuntas, kita percaya bahwa teori hukum gravitasi itu benar, selama belum ada kasus yang membuktikan bahwa ia salah!

Tetapi di atas kita sudah menyebut mengenai rasionalitas berbagai statement. Kita tahu rasionalitas terletak pada orang dan bukan dalam obyeknya. Jadi dalam hal “membuktikan” adanya Allah, yang bisa diverifikasi bukan Allah sendiri, melainkan proposisi properly basic yang saya pakai untuk membuat statement bahwa Allah itu ada. Kalau proposisi “Allah ada” berdasar pada satu proposisi yang berdasar, maka kita menyebut orang yang mengeluarkan statement tsb. sebagai rasional. Dan kalau ia melakukan sebaliknya ia tidak rasional.

Pertanyaannya kini adalah apakah proposisi dasar yang digunakan orang tsb? Nah, di sinilah unsur baru itu muncul, yang sebenarnya tidak sama sekali baru lagi. Menurut John Hick, salah seorang yang menempuh haluan baru berargumentasi ini, proposisi dasar tsb. adalah pernyataan seperti “saya telah mengalami Allah” atau “saya mempunyai pengalaman dengan Allah”. Jadi dia merujuk kepada pengalaman religius. Menurut dia, hal ini sangat eviden, seperti dalam contoh di atas tentang Yesus. Rasional bagi Yesus adalah mengatakan bahwa Allah ada, sebab ia berdasar pada pengalamannya yang seharusnya properly basic. Sebaliknya Yesus tidak rasional, kalau mengatakan Allah tidak ada, padahal Ia sendiri telah mengalami kehadiran-Nya!

Jalan Keluar: Epistemologi
Tapi mengapa demikian? Mengapa Yesus mempunyai pengalaman religius tsb. sedangkan yang lain tidak? Dalam hal ini Hick maju selangkah dibanding para koleganya. Ia mengembangkan satu epistemologi yang bisa merangkul dan memperdamaikan rasio dan iman. Dengan membaharui epistemologi Hick yakin, persaingan kotor antara rasio dan iman bisa diakhiri. Dan untuk itu Hick menunjuk pada pengalaman sebagai dasar dari segala pengetahuan kita, entah itu ilmiah atau moral-religius.

Tiga Modus Pengalaman
Menurut Hick secara obyektif dunia yang kita pahami dengan intelek dan yang kita kenal dengan iman tidaklah berbeda. Perbedaannya terletak pada modus pengalaman kita, yang disebutnya dengan significance dan mendasari semua pengalaman dan pengetahuan lainnya. Ada tiga modi pengalaman: natural, moral, dan religius, yang menurut Hick ketiganya tersusun bak piramida. Artinya, modus pengalaman natural adalah dasar, di atasnya ada modus pengalaman moral, yang mencakup dan mengandaikan modus pengalaman natural, dan di puncak piramida terdapat modus pengalaman religius, yang mencakup dan mengandaikan kedua modi pengalaman pertama.

Dalam modus natural, kita “mengalami” obyek di luar diri kita berdasarkan hal-hal yang bersifat fisis. Melalui proses belajar kita bisa membedakan antara keras dan lembut, tinggi dan rendah, terang dan redup, dlsb. Dan bahkan dalam tingkat pengalaman ini kita “harus” belajar. Siapa yang tidak mau belajar, dia akan dihancurkan oleh alam! Bayangkan saja kalau kita tidak belajar membedakan antara bukit dan jurang, atau misalnya antara racun dan makanan, atau antara api dan air. Barangkali tak ada seorang pun yang bisa mencapai umur 10 tahun! Untunglah hal-hal tsb. telah kita batinkan melalui proses belajar dan menjadi bagian dari hidup kita (baca: menjadi proposisi properly basic bagi proposisi lainnya). Dalam level inilah ilmu pengetahuan (sains) merekrut keterangan-keterangan dan proposisi properly basic-nya.

Dalam modus moral, kita “mengalami” obyek di luar secara moral. Melalui proses belajar kita bisa membedakan antara cinta dan benci, sopan dan kasar, rajin dan malas, bertanggungjawab dan plin-plan. Juga di sini kita “harus” belajar menyesuaikan diri. Bayangkanlah bila kita tidak bisa lagi membedakan antara cinta dan benci, atau antara bertanggungjawab dan tak-bertanggungjawab. Dunia kita menjadi chaos! Dan bahwa hal ini cukup serius, bisa dilihat dari apa yang harus dilakukan bila seseorang kehilangan kemampuan untuk membeda-bedakan hal tsb. Rumah Sakit Jiwa adalah jawabannya bila orang tidak bisa lagi membedakan antara cinta dan benci, dan menafsirkan segalanya seakan sedang memusuhi dia. Dalam level inilah beroperasi manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam modus religius, kita “mengalami” obyek di luar diri kita secara religius. Kita mulai belajar, bahwa dunia ini dan segala isinya adalah ciptaan Allah. Melalui pengalaman hidup kita mengenal, bahwa Allah berkarya dalam hidup kita. Juga di sini berlaku, kita belajar membeda-bedakan antara pengalaman yang religius sejati dan tipuan. Karena itu kita tahu apa itu bersyukur, kepada Tuhan, membuka diri kepada-Nya, mendengar bisikan-Nya, dituntun oleh-Nya. Siapa yang tidak mau belajar, tidak akan masuk dalam kenikmatan pengalaman religius! Dalam level inilah kaum beriman menafsirkan dunia. Tidak bahwa mereka menyangkal statement ilmiah (level natural). Sebaliknya itu diandaikan! Tetapi nilai plusnya adalah bahwa mereka mengatasi level natural ini dan memiliki pandangan yang menyeluruh tentang dunia.

Iman: Unsur Interpretatif
Ada satu hal, yang selalu memainkan peranan mahapenting dalam ketiga modi pengalaman itu, yakni kesadaran kita (atau katakanlah roh) yang senantiasa aktif menafsirkan dunia di luar kita, yang memungkinkan kita belajar membeda-bedakan itu. Dan kegiatan menafsirkan ini (fungsi interpretatif kesadaran) aktif dalam ketiga modi pengalaman tsb. Dalam modus pengalaman religius fungsi interpretatif tsb kita kenal sebagai iman. Imanlah yang berusaha menafsirkan dunia sekeliling kita secara religius, sehingga kita “mengalami” dunia di luar kita secara religius pula. Sama seperti dalam modus natural kesadaran kita menafsirkan dunia sekeliling secara natural, dan dalam modus moral secara moral, demikian pula dalam modus religius.

Tetapi seperti dikatakan di atas secara obyektif dunia di luar kita adalah tetap dunia yang sama. Hanya pengalaman kita terhadapnya yang berbeda, sesuai dengan modus pengalaman yang aktif dalam diri kita. Itulah jawaban Hick atas pseudo-dilema Wittgenstein dan Kant. Dengan menempatkan “pengalaman” di dasar segala pengalaman lainnya, ia menempatkan ilmu dan rasio pada tingkat yang setara. Jadi semacam emansipasi pengalaman religius terhadap rasio.

Penutup
Proyek ABBA ini masih berjalan. Tentu epistemologi ala Hick masih menyimpan bahan perdebatan kritis yang harus dijawab. A.l. masih harus diselidiki entah bisa diterima andaian dasarnya, yang menempatkan pengalaman pada dasar segala refleksi kita. Ataukah justru yang kita sebut pengalaman itu merupakan hasil dari refleksi? Tapi satu hal jelas bagi Hick dunia di luar kita tetap yang sama, dan manusia yang menghadapi obyek dunia itu pun yang sama. Hanya pendekatan dan pengetahuan kita akan dunia obyektif itulah yang berbeda, dan masing-masing bertolak pada suatu pengalaman mendasar yang pada akhirnya bersifat properly basic. Kalaupun Allah tidak bisa dibuktikan eksistensinya, tetapi rasionalitas iman kita akan eksistensi Allah bisa diuji. Dasar tsb. adalah pengalaman religius. Tanpa dia segala ungkapan teologis kita tak berdasar, dan karena itu iman kita harus dicap tak rasional. Iman dan rasio (dan dalam arti tertentu: sains) tidak boleh dipertentangkan, sebab keduanya merupakan modi legitim pengalaman kita akan dunia.

Dan satu hal lagi: bila logika Hick sah, maka bukankah lebih rasional mengatakan bahwa Allah itu ada, melihat faktum fenomena religius, yang terdapat di setiap jaman, setiap bangsa, dan di setiap tempat di dunia? Hal ini jauh lebih menarik lagi untuk ditelusuri. Teologi agama bertugas
untuk itu!

Rujukan Lanjutan:

Döring, Heinrich; Kreiner, Armin; Schmidt-Leukel, Perry, Den Glauben dennken. Neue Wege der Fundamentaltheologie, QD 147, Freiburg i.Br.: Herder, 1993.

Davis, Stephen T., God, Reason and Theistic Proofs, Edinburgh: Edinburgh University Press, 1997.

Hick, John, Faith and Knowledge, London; Melbourne: Macmillan, 1967.

Hick, John, An Interpretation of Religion, London: Macmillan, 1989.

* Penulis adalah Pencetus dan Pemimpin Redaksi situs Nias Portal (nias-portal.org) yang hadir di dunia maya 2003-2006. Tulisan ini ditayangkan di Nias Online atas izin penulisnya. Tulisan asli dapat diakses di Achida.net.

Ekonomi Psikopat

Thursday, November 25th, 2010

Oleh Yasraf Amir Piliang

Beberapa tahun terakhir kita mencium aroma kegilaan dan abnormalitas di ranah ekonomi. Bakso mengandung boraks. Tahu, mi, ikan, ayam, dan daging mengandung formalin. Sayur dan buah mengandung pestisida. Susu, permen, dan biskuit mengandung melamin. Kosmetik, jamu, dan obat mengandung merkuri. Perdagangan bayi, manusia, organ tubuh, dan perempuan berjalan terus. Penjualan tabung gas yang disuntikkan, jual beli gelar dan ijazah, serta jual beli kursi, jabatan, dan kekuasaan tak pernah berhenti. (more…)

Ribuan Warga Nias di Pelalawan tak Masuk Daftar Pemilih

Thursday, November 25th, 2010

Riauterkini-PANGKALANKERINCI – Hari H Pemilukada Pelalawan terus saja menghampiri. Ternyata, ribuan warga Nias yang berdomisili di kabupaten Pelalawan masih belum terdaftar sebagai pemilih untuk mencoblosan pada 16 Pebruari 2011 mendatang. Kondisi ini tentunya akan dapat merugikan hak pilih masyarakat untuk memberikan hak suaranya.

“Sejumlah warga Nias yang belum terdaftar itu memang tidak berada dalam satu tempat artinya di beberapa lokasi berbeda karena memang secara aktivitas saudara-saudara kita yang berasal dari Nias tersebut banyak yang bekerja di perusahaan perkebuanan dan di sektor RAPP,” terang ketua Ikatan Keluarga Nias (IKN) Pelalawan Drs. Sozi Fao Hia, Rabu (24/11/10).

Di katakannya lagi, dari survei yang sudah dilakukannya melalui lintas peguyuban dan sejumlah warga nias yang terdata belum mendaftar itu di daerah perkebunan segati ada sekitar 200 KK, dan yang bekerja di Perusahaan Langgam Inti Hibrida (LIH) ada sekitar 800 Jiwa.

“Jumlah ini tentunya belum termasuk mereka yang bekerja di kecamatan Bandar seikijang, namun untuk wilayah seikijang pihaknya sudah melakukan tindakan pendataan melaui kerjasama dengan pihak kecamatan setempat,” paparnya.

Terkait persoalan ini, anggota DPRD Pelalawan dari fraksi PDI-P ini meminta pihak instasi terkait juga melakukan jemput bola, dan tidak hanya menunggu laporan dari pejabat RT setempat sebab adakalanya itu tidak sampai kepada yang bersangkutan.

“Kita juga meminta pihak pemerintah melalui intsansi terkait jemput bola kesana atau melalui peguyuban yang ada sehingga pada pelaksanaan pemilukada nantinya tidak ada warga kabupaten Pelalawan mereka yang sudah berdomisili di sini dan memiliki KTP tidak mempergunakan hak pilihnya,” tandasnya.***(feb) (sumber: www.riauterkini.com – Rabu, 24 November 2010)

Ratusan Massa Agrenis Unjukrasa di DPRD Nias dan Kejari Gunungsitoli

Thursday, November 25th, 2010

Gunungsitoli – Ratusan masa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Nias (Agrenis) yang terdiri dari, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Nias (PMII), Pergerakan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Nias, GMKI, KAWAN, Formiras berunjuk rasa ke kantor DPRD Nias dan Kantor Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Selasa, (23/11).

“Kami Agrenis merupakan bagian dari rakyat Nias yang menyalurkan aspirasi masyarakat Nias yang bertahun-tahun telah dibutakan pemkab Nias melalui berbagai macam cara yang akhirnya membuat masyarakat Nias kehilangan hak dan kepercayaan,” kata Koordinator Aksi Agrenis Jun Forisman Gulo saat menyampaikan pernyataan sikap di depan puluh anggota DPRD Kabupaten Nias di aula utama Gedung DPRD Nias.

Dalam penyataan sikap tertulis itu dijelaskan, beberapa tahun lalu melalui desakan berbagai elemen masyarakat Nias yang tergabung dalam Agrenis mendesak DPRD Nias menyurati KPK di Jakarta. Desakan agar segera menangani kasus dugaan korupsi di Kabupaten Nias, walaupun begitu lama menunggu akhirnya KPK tegas menangani kasus itu dan meningkat status kasus tersebut dari peneyelidikan menjadi penyidikan serta menetapkan oknum Bupati Nias BBB SH sebagai tersangka, khususnya dalam kasus korupsi dan bantuan kemanusian korban bencana tsunami dan gempa bumi tahun 2005 lalu asal dana dari Menkokesra senilai Rp9,48 miliar.

Menurut Agrenis kasus dana bantuan kemanusian hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus dugaan korupsi yang melibatkan oknum Bupati bersama kroni. Untuk itu Agrenis mendesak KPK agar segera menahan koruptor yang telah meresahkan masyarakat Nias.

Masa Agrenis yang membawa spanduk dan berbagai poster lainnya mengharapkan DPRD Nias menyatakan sikap secara tertulis untuk mengawal proses hukum kasus oknum Bupati dengan mengeluarkan surat secara resmi kepada pihak KPK.

Selain itu, Agrenis mengancam bila DPRD Nias tidak memenuhi tuntutan mereka masa Agrenis akan terus turun ke jalan menyuarakan aspirasi tersebut hingga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nias, Aluizaro Telaumbanua yang menerima masa Agrenis mengatakan akan menindaklanjuti hal itu ke rapat DPRD Kabupaten Nias.

Sementara Ketua Komis A Bowoli Zandroto berterimakasih kepada Agrenis telah melakukan sosial kontrol yang merupakan keprihatinan bersama dan berjanji akan segera mengirim surat ke KPK sebagai dukungan moral untuk penuntasan kasus tersebut.

KPK Jangan Diskriminasi

Hal lain Anggota DPRD Kabupaten Nias Faigiasa Bawamenewi sesuai aksi di DPRD tersebut meminta KPK untuk tidak diskriminasi dalam menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

Hendakya pihak serta menyeret oknum-oknum lain yang terlibat kuat dalam kasus bantuan bencana itu. Karena ia yakin dalam setiap kasus korupsi tidak hanya dilakukan oleh satu orang.

Seusai melakukan aksi di Kantor Dewan masa Agrenis melanjutkan aksinya di Kantor Kejaksaan Negeri Gunungsitoli yang diteriam oleh Kasi Intel Kejaksaan Negeri Gunungsitoli Frans Rudy Zebua SH.

Aksi Agrenis di Kejari Gunungsitoli meminta kepada pihak Kejari Gunungsitoli untuk serius dalam menangani setiap kasus korupsi terlebih dengan banyak kasus dugaan korupsi yang telah dilaporkan ke Kajari Gunungsitoli yang turut melibatkan Bupati Nias hingga saat ini masih belum ada titik terangnya.

Setelah melakukan aksi di Kejari Gunungsitoli ratusan masa Agrenis perlahan-lahan meninggalkan lokasi tersebut menuju Kampus IKIP Gunungsitoli. (kap/esp) (www.analisadaily.com – 25 November 2010)

KPK Periksa Wabup & Sekda Nias Serta Sejumlah Pejabat Teras

Wednesday, November 24th, 2010

GUNUNG SITOLI – Bergulirnya kasus korupsi dana Menko Kesra tahun 2006 senilai Rp9,48 miliar untuk pemberdayaan masyarakat kecil, telah menjadikan Bupati Nias, Binahati B Baeha sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kasus ini pun ditindaklanjuti dengan turunnya tim KPK ke Gunung Sitoli dan memanggil para oknum-oknum yang diduga terlibat dalam pengucuran dana tersebut. Informasi dihimpun METRO, Senin (22/11), tim KPK yang beranggotakan 6 orang menggunakan kantor Polres Nias sebagai tempat pemanggilan para pejabat di Pemkab Nias. Yang diperiksa oleh tim KPK terlihat Sekda Kabupaten Nias Marthinus Lase SH, Wakil Bupati Nias Temazaro Harefa, Mantan Kabag Umum Baziduhu Ziliwu, Mantan Sekda Drs FG Martin Zebua, Asisten III Yuliaro Gea SE, serta Ketua Bappeda Ir Agustinus Zega. Dan direncanakan, hari ini, Selasa (23/11), tim KPK akan memeriksa Ketua Panitia Lelang, termasuk pengusaha yang mensupplai barang yang didanai oleh Menko Kesra.

Namun para anggota tim KPK yang memeriksa para pejabat terkait tidak ada yang berani mengeluarkan pernyataan kecuali melalui Humas KPK. “Kami tidak dapat mengeluarkan informasi kepada Anda, silahkan melalui humas saja,” kata anggota KPK, yang tidak diketahui indentitasnya sambil berlalu.

Sementara itu, anggota DPRD Nias, Faigiasa Bawamenewi SH yang diminta tanggapannya via seluler, meminta agar KPK bertindak adil, objektif, dan segera menahan Binahati B Baeha. “Jangan ditunggu lagi berlama-lama seperti Gubsu Samsul Arifin yang kini sudah ditahan KPK,” ujarnya.

Sementara itu, Darwis Zendrato yang juga angota DPRD Kabupaten Nias meminta agar Gubsu segera penetapkan Plt (pelaksana tugas) Bupati Nias. Karena APBD hingga kini belum ditetapkan, juga berharap agar KPK bertindak profesional dan segera menahan Bupati Nias menyusul Gubsu Samsul Arifin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto dalam siaran persnya Selasa (16/11) di gedung KPK Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan mengatakan, Binahati B Baeha paling sedikit merugikan uang negara dan rakyat senilai Rp3,8 miliar dari dana Rp9,48 miliar.

Dimana setelah terjadi gempa bumi yang mengguncang Nias pada 28 Maret 2005 sekira pukul 23.00 WIB dengan kekuatan 8,7 SR (scala righter), Bupati Nias Binahati B Baeha meminta dana Rp9,8 miliar untuk pemberdayaan masyarakat ke Mensos dan disetujui.

“Bantuan itu disalurkan melalui Bakornas pengendalian bencana. Tetapi dalam pelaksanaannya harga barang dan jasa dinaikkan. Pengadaan barang juga dilakukan tanpa tender meski sudah melewait masa tanggap darurat alias tidak mendesak,” katanya.

Dana itu digunakan antara lain untuk pengadaan mesin jahit, alat penangkap ikan untuk pengembangan ekonomi keluarga. “Dana korupsi tersebut diduga diberikan kepada beberapa orang,” tegas Bibit. Pasal yang dikenakan pada Binahati B Baeha yaitu pasal 2, pasal 3 UU pemberantasan korupsi. (son) (www.metrosiantar.com – 23 November 2010)

Pasangan Fahuwusa Laia – Rahmat Alyakin Dakhi Menangi Gugatan Pemilukada

Tuesday, November 23rd, 2010

*Fraksi Partai Demokrat Minta KPU Patuhi Putusan PTUN Medan

Medan – Sekretaris Fraksi Partai Demokrat (PD) Nias Selatan (Nisel) Yurisman Laia SH, Rabu, (17/11) minta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nisel mematuhi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dalam maksud menghindari kemungkinan putusan selanjutnya yang cacat hukum. Alasannya, “KPU Nisel jangan melangkah tak sesuai dengan koridor hukum produk hukum formal,” tandas Yurisman Laia yang dihubungi via telepon di jeda rapat pihaknya dengna petinggi Partai Demokrat terkait dimenangkannya gugatan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Nisel Fahuwusa Laia – Rahmat Alyakin Dakhi.

Sebagaimana diketahui, PTUN Medan, Senin, (15/11) memenangkan gugatan Fahuwusa Laia – Rahmat Alyakin Dakhi. Putusan Ptun Medan itu mencabut Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nias Selatan No 41/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tanggal 4 Oktober 2010 tentang Perubahan Atas Keputusan KPU Nisel No 39/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tentang Penetapan Bakal Pasangan Calon menjadi Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010. Keputusan PTUN Medan dituangkan di Putusan PTUN Medan No 81/G/2010/PTUN-Mdn tertanggal 15 November 2010.

Sekretaris Fraksi PD Nisel Yurisman Laia mengatakan, fraksi dan partainya menyambut baik putusan PTUN Medan tersebut dan seluruh instansi terkait sangat ideal melaksanakan hasil putusan dimaksud. “KPU Nisel selaku lembaga penyelenggara Pemilu di Nisel harus mengindahkan putusan hukum dimaksud guna memberi teladan dalam ketaatan pada hukum yang berlaku dan terlebih itu dalam rangka negara hukum dan tegaknya demokrasi diperlukan sikap konsisten aparatur negara terhadap kepatuhan hukum,” tandas Yarisman Laia yang memastikan fraksi dan partainya akan mempertanyakan dan mengikuti hasil produk hukum itu dalam proses Pemilikada Nisel.
Mengutip hasil sidang ptun Medan dipimpin Hakim Ketua Majelis Puji Rahayu SH MH dengan hakim anggota Haryati SH MH, Nasrifal SH dan panitera pengganti Masalina Purba SH, Senin, (15/1), lembaga itu memerintahkan KPUD Nisel untuk mencabut surat keputusan objek sengketa berupa Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nias Selatan No 41/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tanggal 4 Oktober 2010 tentang Perubahan atas Keputusan KPU Nisel bernomor No 39/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tentang Penetapan Bakal Pasangan Calon menjadi Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010.

Sebelumnya KPU Nisel mengeluarkan surat No 4/Kpts/KPU-KAb-00.434832/200 tanggal 4 Oktober 2010 tentang perubahan atas SK KPU Nisel No 39/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tentang Penetapan Bakal Pasangan Calon menjadi Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010. Keputusan itu digugat pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati Fahuwusa Laia SH dan Rahmat Alyakin Dakhi SKM MKes yang semula dianulir kpUD Nisel. (r10/h0 (www.hariansib.com – 23 November 2010)

Anggota DPRD Sumut Harapkan NIP CPNS Pembak Nias Diterbitkan, Diselesaikan Secara Bijaksana

Tuesday, November 23rd, 2010

Gunungsitoli – Ketua Tim reses DPRD Sumut Ramli dari kader Partai Demokrat asal Kepulauan Nias mengharapkan permasalahan CPNS di Kepulauan Nias diselesaikan secara bijaksana dan arif jangan sampai menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Yang dinyatakan lulus oleh Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) sebaiknya diterima sebab mereka itu adalah warga negara Indonesia dan juga anak daerah setempat.

Menurut Ramli, kalau sudah dinyatakan lulus oleh PNJ dan telah diumumkan oleh Bupati Nias Barat, Walikota Gunungsitoli dan Bupati Nias Utara serta Kabupaten Nias, maka harus diperhatikan oleh pemerintah karena mereka adalah generasi yang akan meneruskan pembangunan ke depan.

Hal itu dikemukakan kepada SIB Sabtu (20/11) di Gunungsitoli ketika diminta tanggapannya seputar adanya desakan kuasa hukum pemenang CPNS formasi TA 2009 yang NIPnya belum diterbitkan.

Ramli SE didampingi Suasana Dachi SH berharap kiranya masalah CPNS di Nias Barat sebanyak 165 orang, Kota Gunungsitoli 25, dan 50 orang di Kabupaten Nias Utara serta 18 orang di Kabupaten Nias, sebelum pengumuman CPNS formasi tahun 2010 kiranya diselesaikan dulu kasus CPNS formasi tahun 2009 untuk menghindari gejolak yang tidak baik.

Bila kasus itu tidak diselesaikan dengan baik maka persoalannya dapat menimbulkan dampak negatif kepada pemerintah apalagi saat ini pemerintah sedang menghadapi persiapan pemilu kepala daerah dan sebelum itu pemerintah membuat kebijakan untuk membuka formasi baru CPNS tahun 2010 yang telah dimulai pendaftaran tgl 20 Nopember 2010 secara serentak di wilayah Sumut. Upaya yang dilakukan Marthin Simangunsong SH MHum, selaku penerima kuasa hukum pemenang CPNS Formasi Tahun 2009 yang dinyatakan lulus oleh Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) sebagaimana pengumuman Bupati Nias Barat No 810/230/BKD/2009 tgl 7 Desember 2009 menyatakan lulus seleksi, kita dukung untuk memperjuangkannya ke BKN pusat dan BKN Regional VI agar NIP dapat segera diterbitkan.

Selanjutnya mengatakan setelah membaca berita SIB tentang kedatangan kuasa hukum ke Pemkab Nias Barat yang mempertanyakan sikap pemerintah serta pengumuman Politeknik berupa hasil perangkingan dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) sesuai surat No.135/K7.D/DN/2009 Tgl 9 Desember 2009 yang menyatakan bahwa apa yang telah diumumkan Bupati Nias Barat Tgl 7 Desember 2009 telah sesuai hasil perangkingan dan melihat foto copy hasil evaluasi dari Politeknik juga tidak ada yang salah semua sudah jelas.

Untuk itu BKN harus menerbitkan NIP mengingat mereka yang telah proses mulai dari pendaftaran, mengikuti ujian serta dievaluasi oleh PNJ baru dikirim ke Kab/Kota untuk diumumkan nama sesuai hasil perangkingan oleh PNJ dan kemudian diumumkan hasil tersebut maka jelas para peserta sudah memenuhi persyaratan.

DPRDSU menghimbau seluruh Kepala Daerah di Kepulauan Nias pada penerimaan formasi tahun 2010 kiranya dilaksanakan secara jujur jangan berulang persoalan seperti yang terjadi pada tahun 2009 seperti permasalahan yang belum terbit NIP, tentu ini harus diambil sebagai pelajaran.

Hal itu dikemukakan anggota DPRD SU Ramli SE selaku ketua Tim kepada SIB. “Kita harapkan kepada Tim penyelenggara agar melaksanakan proses sesuai mekanisme, apa hasil yang dicapai kiranya itu yang diusulkan nanti dan sesuai jumlah formasi yang dialokasikan oleh Menpan RI jangan ada yang kurang dan jangan ada yang lebih,” harapnya.

Kepala BKD Nias Barat Talizokho Halawa SH mengatakan, proses penerimaan CPNS tahun 2010 telah dilaksanakan penerimaannya mulai Tgl 20 Nopember 2010, katanya. (LZ/d) (www.hariansib.com – 22 November 2010)

Terpidana Mati Asal Nias Masih Menunggu Jawaban Permohohan Grasi

Saturday, November 20th, 2010

Medan – Tiga terpidana mati asal Nias masih menunggu jawaban atas upaya permohohan grasi. Demikian penjelasan Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasipenkum) Kejatisu Edi Irsan Tarigan, Jumat (19/1/2010). Ketiga terpidana asal Nias itu adalah Yafonaso Laia alias Arna Anu alias Arna Kalima, Bera’ati Laia alias Ina Otuna dan Fatizanolo Laia aliasa Ama Yupi.

Yafonaso Laia dan Bera’ati Laia divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Gunung Sitoli pada 20 Juni 2007 atas kasus pembunuhan anak. Sementara Fatizanolo Laia divonis mati tanggal 15/1/2008 atas pembunuhan 1 keluarga (termasuk seorang bocah) dan seorang guru. Ketiganya adalah bagian dari 7 orang terpidana mati di Sumut menunggu jawaban permohonan grasi dan pengajuan Kasasi ke Mahkamah Agung (MA). (brk/*)

Kuasa Hukum dan Pemenang CPNS Pemkab Nias Barat 2009 Datangi Kantor Bupati

Friday, November 19th, 2010

Gunungsitoli – Kuasa Hukum pemenang CPNS formasi TA 2009 Marthin Simangunsong SH MH, Parluhutan Situmorang SH dan para pemenang CPNS yang dinyatakan lulus oleh Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) antara lain Suarman Gulö, Otomosi Zega, Fariusman Gulö, Söndrazatulö Zebua, Arisman Harefa, Miner Waruwu, Faaduhu Harefa, Tutihayat Hia, Aswati Hia, Minalai Hondrö, Hepy G K Daely, Srimawati Daely, Feriati Hulu, Famili Hia, Uberlin Jaya Tel. Seniman Daely, Yelis Kristianto Hia, Nolo, Hia, Hamaro Laia, Alfred Sharon Gulö, Arnita K Daely, Ayub Gersomlase, Olehata Hia, Seniwati Gea, Sucipto Gulö, Fidelwan Tel, Asanimu Waruwu mendatangi kantor Bupati Nias Barat untuk meminta penegasan apakah mereka masih sebagai pemenang CPNS sesuai pengumuman CPNS Tgl 7 Desember 2009 atau ilegal.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh kuasa hukum pemenang CPNS Marthin Simangunsong SH MHum, Kamis (18/11) di ruang kerja Bupati Nias Barat Drs Sudirman Waruwu didampingi Kabag Humas Pemkab Nias Barat Sefania Daely A.Md.Pd sekaligus meminta kebenaran penolakan BKN terhadap 165 orang pemenang CPNS yang telah lulus tetapi NIP tidak diterbitkan oleh BKN.

Pj Bupati Nias barat Drs Sudirman Waruwu menyatakan Pemkab Nias Barat tetap konsisten pada pengumuman No.810/230/BKD/2009 Tgl 7 Desember 2009 Jo Surat Direktur Politeknik Negeri Jakarta No.135/K7,D/DN/2009 Tgl 9 Desember 2009 perihal Validasi hasil perengkingan nilai peserta ujian/seleksi CPNS Kabupaten Nias barat hingga detik ini Pemkab Nias Barat.

Menurut Pj Bupati Nias Barat bila ada perubahan tentu ada payung hukumnya, kalau tidak ada itu maka apa dasar dikatakan 165 orang itu tidak benar. Tentu untuk membuktikan hal tersebut harus ada surat resmi dari lembaga mana yang membuatnya dan hingga sekarang ini surat tersebut belum kita terima maka kami nyatakan tetap berpedoman pada pengumuman tgl 7 Desember 2009.

Dan upaya yang akan dilakukan Pj Bupati Nias Barat akan menemui BKN Regional VI di Medan dan juga BKN Pusat,serta PNJ mempertanyakan langsung serta meminta alasan tidak diterbitkan NIP 165 orang,dan bila perlu penerima kuasa. Mari kita bersama sama mempertanyakan supaya jelas dimana terjadi kelemahan yang sebenarnya dalam bulan Nopember 2010 ini tegasnya.

Kuasa Hukum pemenang CPNS TA 2009 meminta supaya ditunda penerimaan CPNS formasi tahun 2010 sebelum diselesaikan penerbitan NIP 165 CPNS yang telah dinyatakan lulus oleh PNJ dan diumumkan oleh Pemkab Nias Barat. (LZ/u) (www.hariansib.com – 19 November 2010)

Ahli Geologi ITM, Ir Lisnawaty, MT: Sumut Terancam Gempa Besar

Thursday, November 18th, 2010

Ahli Geologi Institut Teknologi Medan (ITM), Ir Lisnawaty MT mengatakan Indonesia sangat rawan terjadi gempa bahkan wilayah Sumut berpotensi alami gempa sangat besar. Kerawanan gempa itu berada di sepanjang pesisir pantai barat.

“Di Sumut ada dua sumber jalur gempa yang sangat berpotensi terutama jalur sepanjang pantai barat dan sumber jalur darat yakni Bukit Barisan,” ungkap Ahli Geologi Institut Teknologi Medan (ITM), Ir Lisnawaty MT saat memberikan kuliah umum, Sabtu lalu di kampus Institut Teknologi Medan.

Kerawanan gempa itu ada di sepanjang pantai barat yang sumbernya dari laut dan berpotensi tsunami. Menurutnya, gempa yang bersumber di laut disebabkan daerah itu masuk dalam lempeng Asia yakni tempat pertemuan lempeng benua Asia dan lempeng Samudera Hindia.

Tumbukan kedua lempeng itu mengakibatkan kepulauan kecil terdepan, seperti Nias dan daerah pesisir barat yakni Tapsel, Taput dan Madina sekitarnya terlebih dulu dihantam gempa. “Gempa akibat tubrukan dua lempeng sifatnya bisa menyeluruh dan getarannya dirasakan daerah lain yang sangat jauh dari sumber gempa,” ungkap Lisnawaty yang juga Sekretaris Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut.

Tidak itu saja, menurutnya pulau-pulau yang terdekat dengan sumber gempa juga bisa hilang diakibatkan naiknya permukaan air laut dan turun akibat retakan bumi.

Dijelaskannya, sepanjang pegunungan Bukit Barisan merupakan jalur gempa di darat yakni pada jalur patahan semangko. Di Sumut jalur patahan itu masuk pada tiga segmen patahan, terdiri sekmen patahan Renun melalui Dairi, Karo, Langkat, Pakpak Barat, Tobasa dan Humbang Hasudutan.

Pada segmen patahan Toru yakni melintasi Tapanuli Utara dan Tengah dan segmen lainnya adalah patahan angkola meliputi Tapsel dan Madina.

Lisnawaty mencontoh jalan di Aeklatong Tapsel tidak pernah bagus karena jalan itu masuk jalur sehmen patahan angkola.

Di Sumut Utara gunung-gunung yang tergolong aktif dan berpotensi gempa yakni Gunung Sibayak, Sinabung, Martimbang, Sibual-buali, Sorik Marapi dan Gunung Lubuk Raya. “Dari sisi keilmuan, potensi gempa selalu ada namun belum bisa dipastikan kapan terjadi dan berapa besar skala richter. Karena itu sebaiknya pemerintah melakukan mitigasi yakni antisipasi sebelum dan sesudah gempa terjadi,” tegasnya.

Perbedaan kondisi gunung api di kawasan Pulau Sumatera berbeda dengan di Pulau Jawa. Menurutnya, komposisi perbedaan kedua gunung api tersebut dilihat dari komposisi magma yang dikeluarkan gunung berapi tatkala meletus.

“Secara umum, magma gunung api di Jawa komposisinya intermidiatis hingga basa atau adesitic. Sedangkan gunung api yang ada di Sumatera cenderung intermidiatis hingga asam atau granitis,” kata Lisnawaty.

Lisnawaty mengatakan, debu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Merapi yang saat ini sedang meletus, ke depan bernilai ekonomis untuk mengembalikan kesuburan tanah. Bahkan pasir yang dimuntahkan memiliki kualitas terbaik untuk bahan bangunan dibandingkan pasir sungai. (Sumber: www.harian-global.com – 18 November 2010)

Korupsi Nias Bisa Seret Tersangka Lain

Thursday, November 18th, 2010

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak menutup kemungkinan korupsi APBD Kabupaten Nias, Sumatera Utara bakal menyeret nama lain selain Bupati Nias, Binahati B Baeha. Pasalnya, dana yang diduga diselewengkan Binahati ternyata mengalir ke beberapa orang.

Wakil Ketua KPK, Bibit Samad Rianto, mengungkapkan, awalnya pada tahun 2007 Nias menerima dana Rp 9,48 miliar untuk dana Rehabilitasi dan Rekonstruksi paskagempa dan tsunami 2004. Selanjutnya, dana itu digunakan untuk pengadaan barang dan jasa.

“Tapi dalam pelaksanannya, terjadi mark up dalam pembelian barang dan jasa untuk berbagai kegiatan penanggulangan pascabencana yang diduga dilakukan oleh Bupati Nias, BBB. Dana hasil mark up diduga dibagikan ke beberapa orang,” ujar Bibit saat dihubungi, Rabu (17/11).

Karenanya Bibit tak menampik kemungkinan penyidikan kasus Nias akan diperluas sehingga tak menyeret Binahati saja. Terlebih lagi, pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPIdana tentang perbuatan turut serta atau bersama-sama juga termasuk dalam pasal yang disangkakan kepada Binahati.

Namun sejauh ini, kata Bibit, jumlah tersangkanya belum bertambah. “Kalau sekarang masih BBB (Binahati B Baeha),” tandasnya.

Yang pasti, lanjut Bibit, KPK telah mengantongi angka kerugian keuangan negara dari proyek senilai Rp 9,48 miliar itu. “Sejauh ini kerugian negaranya Rp 3,8 miliar,” sebut Bibit.

Seperti diketahui, awal pekan ini KPK telah menaikkan status penyelidikan dugaan korupsi APBD dan dana Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias ke penyidikan. Pelaksana tugas (plt) Direktur Penyidikan KPK, Feri wibisono, mengungkapkan, kasus itu telah menyeret Bupati Nias Binahati B Baeha sebagai tersangka.

Oleh KPK, Binahati dijerat dengan sejumlah pasal antara lain pasal 2 ayat (1) dan/atau pasal 3 UU Pemb Korupsi. Jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.(ara/jpnn) (Sumber: www.jpnn.com – 17 November 2010).

Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Gunungsitoli Periode 2011-2016 Serahkan Hewan Qurban 4 Ekor Sapi dan Kerbau, 24 Ekor Kambing

Thursday, November 18th, 2010

Gunungsitoli – Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Gunungsitoli Periode 2011-2016 Drs Kemurnian Zebua BE dan Temazaro Harefa yang juga Ketua Posko Delasiga Kota Gunungsitoli menyerahkan hewan qurban kepada Panitia Masjid di Saombo seekor Sapi, Kelurahan Pasar Kota Gunungsitoli seekor sapi, Masjid Jami Kelurahan Ilir Gunungsitoli seekor Kerbau, di desa Mudik Kecamatan Gunungsitoli seekor Sapi yang diserahkan langsung oleh Temazaro. Tandawana, dan Boe, Bousö, Siarawi, Kecamatan Gunungsitoli utara, Gumbu, Moawö, Suhada Olora, Afia, Gamo, Landatar, Idanö Tae, Luaha Laraga, Foa, Tetehosi Foa, Humene Satua, Miga, Tohia, Desa Booyo, Surau Annur Afilaja, berupa kambing sebanyak 24 ekor.

Drs Kemurnian Zebua didampingi Temazaro Harefa, Koordinator Posko Delasiga Agus Hardian Mendrofa, pengurus Partai Demokrat Kharis Harefa, anggota DPRD kota Ir Filifo Waruwu, dan sejumlah anggota DPRD kota pada sambutannya mengatakan sesuai program Delasiga yang dipimpin putra Nias di Jakarta Fona Marundruri agar diserahkan melalui Masjid Saombo ini.

Kegiatan kita doakan kiranya ini merupakan awal dan dapat berkelanjutan di masa yang akan datang diharapkan bapak ibu saudara dapat mendukung dengan doa agar kegiatan seperti ini bisa kita lakukan setiap tahun.

Sementara Ketua Koordinator Posko Delasiga Agus Hardian Mendrofa mengatakan selaku kordinator Posko Delasiga memohon kepada tokoh agama, adat dan masyarakat kiranya dapat bekerjasama dalam bidang kesejahteraan masyarakat, pendidikan dan perekonomian.

Delasiga yang dipimpin oleh Fona Marundruri telah melakukan kegiatan kemanusiaan terhadap korban bencana Tahun 2004 dan Pasca Gempa yang melanda Nias Tahun 2005 di mana Posko Delasiga membangun perumahan untuk korban bencana dan 23 Nopember 2010 Posko Delasiga akan berangkat ke Mentawai untuk menyerahkan bantuan dalam bentuk barang senilai Rp 500 juta.

“Kegiatan qurban yang kita lakukan hari ini akan tetap berkelanjutan dimasa yang akan datang dan harapan kami mari kita menjalin kerjasama yang baik untuk membantu masyarakat yang tidak mampu dan bila ada yang tidak berkenan dalam hati kita semua kami memohon maaf,” ujarnya.

Panitia dan tokoh di wilayah kota Gunungsitoli menyatakan terima kasih kepada Pasangan Drs Kemurnian Zebua dan Temazaro Harefa (Murni – Zaro) dan kepada Pimpinan Delasiga Fona Marunduri yang peduli dengan warga kota Gunungsitoli dalam menyambut Hari Raya Qurban. (LZ/hh) – www.hariansib.com – 18 November 2010)