Archive for October, 2010 | Monthly archive page

Berita Duka

Sunday, October 31st, 2010

Telah meninggal dunia dengan tenang, Bapak Alidar Mendröfa (lahir 15 Februari 1952), Ayahanda dari Bapak Ilham Mendröfa, Anggota Tim Redaksi Nias Online, pada hari Jumat 29 Oktober 2010, pukul 15.00 WIB di RS Haji Medan. Almarhum telah dimakamkan pada hari Sabtu 30 Oktober 2010 di Olora, Gunungsitoli-Nias.

Segenap Tim Redaksi Nias Online turut berdukacita, dan mendoakan semoga Allah, yang kepadanya Ayahanda menghadap, memberi kekuatan dan penghiburan kepada keluarga besar Pak Ilham, baik yang di Pulau Nias maupun di tempat lain, dalam melewati masa-masa kedukaan ini. (Redaksi)

Informasi Buku Baru Terbit Oktober 2010

Sunday, October 31st, 2010

Judul : Jejak Cerita Rakyat Nias
Penulis : Victor Zebua
Cetakan 1 : Oktober 2010
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tebal : xii + 199 halaman

Banyak cerita rakyat diproduksi budaya Nias. Ada mite, legenda, dan dongeng: Sara Wangahalö, Malio Sibaya Mbaŵa, Lawaendröna, Lamonia, Tödö Hia, Tödö Tuwada Loya, Manusia dari Teteholi Ana’a, Latura Danö, Sila’uma, Sibowo Döfi Madala, Ho, Buruti Siraso, Sibaya Wakhe, Siléwé Nazarata, Béla, Awuwukha, Asal-usul Kepulauan Batu, Laowömaru.

Selain berisi pelbagai cerita rakyat Nias, buku ini mencoba mengkaji eksistensi cerita dan kolektif-pendukungnya. Kita bisa ‘mengintip’ dinamika dan perubahan sosial masyarakat Nias abad ke-19 hingga ke-20. Beberapa cerita menjadi saksi sirnanya tradisi, seperti: kalender tradisional, upacara ritual kematian, wanömba adu, mitos dewa-dewi padi. Mite first man descends from sky mengindikasikan masyarakat Nias berasal dari leluhur multietnis.

Buku ini diperuntukkan bagi masyarakat Nias, pemerhati budaya Nias, penikmat folklor, mahasiswa peminat antropologi budaya, dan terutama untuk generasi penerus suku Nias.

Pasangan Calon Walikota Drs. Martinus Lase MSP dan Drs Aroni Zendratö Mendaftar ke KPU Kota Gunungsitoli

Saturday, October 30th, 2010

Gunungsitoli – Pasangan calon Walikota Gunungsitoli Periode 2011-2016 Drs Martinus Lase MSP dan Drs Aroni Zendratö mendaftar ke KPU Kota Gunungsitoli, Kamis (28/10) sekitar pukul 18.30 Wib didampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Gunungsitoli Arisman Harefa, pengurus DPD I PDI Perjuangan Sumut dan sekretaris DPC PDI Perjuangan Hadirat ST Gea dan Pengurus dari partai PDS Alfons M Telaumbanua SE dan Ketua Partai Karya Perjuangan Exolius L Harefa Partai Indonesia Baru, Partai Peduli Rakyat Nasional, Partai Republik Nusantara, Partai Kasih Demokrasi Indonesia dan Partai Buruh.

Pasangan calon bukan hanya diantar oleh kader partai politik tetapi sejumlah tokoh dari berbagai elemen kota Gunungsitoli dan menarik perhatian masyarakat Kota Gunungsitoli karena saat berangkat menuju kantor KPU diiringi dengan alat musik tradisional khas Nias dan Minang dan kedua calon mengenakan Topi Raja Adat Nias disaat berperang dan berjuang.

Kedua calon diterima ketua KPU Kota Gunungsitoli Drs Aroli Hulu MM didampingi anggota KPU Kota Gunungsitoli Arifin Telaumbanua SH, Perlindungan Laoli SH, Asli Zendratö dan Plt Ketua KPU Kabupaten Nias Drs Ya’atulo Halawa dan Sekretaris KPU Kota Gunungsitoli Drs Soziduhu Lombu MPd.

Setelah berkas diterima, sekretariat KPU menjumlahkan suara sah dari partai yang mengusung kedua calon sebanyak 12.779 maka Plt Ketua KPU Drs Ya’atulo Halawa mengatakan pasangan Drs Martinus Lase MSP dan Drs Aroni Zendratõ telah memenuhi persyaratan. Selanjutnya pasangan calon harus menyetor biaya pemeriksaan kesehatan sebesar Rp. 1,5 juta per orang, yang akan dipergunakan untuk biaya pemeriksaan kesehatan di RSU Pringadi Medan dijadwalkan pada 30 Oktober 2010.

Ribuan masyarakat Kota Gunungsitoli yang ikut mengantar menyatakan mendukung Drs Martinus Lase MSP dan Drs Aroni Zendratö dan menilai pasangan ini merupakan figur bersimbol jujur, adil dan tegas.

Drs Martinus Lase MSP didampingi Drs Aroni Zendratö dan Arisman Harefa mengatakan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pertolongannya telah mendaftar sebagai balon Walikota/Wakil Walikota Gunungsitoli periode 2011-2016 diusung 9 partai dengan komitmen ingin membangun Kota Gunungsitoli sebagaimana nama yang telah kita buat adalah Kota Samaeri.

Harapan kita kedepan bahwa kita punya program utama yaitu menuntaskan kemiskinan dan membangun jalan dari kecamatan hingga kedesa sehingga Kota Gunungsitoli tidak ada lagi jalan yang tidak dilalui oleh roda dua dan roda empat. Selain itu kita juga mempunyai program yaitu membangun Irigasi untuk membuat Kota Gunungsitoli sebagai sumber swasembada beras karena sesuai hasil kunjungan kerja di masa menjabat sebagai Pj Walikota banyak irigasi yang belum disentuh pembangunannya sehingga lahan persawahan berubah fungsi dikarenakan tanahnya menjadi kering.

Program yang harus dilaksanakan siapa saja nanti yang menjadi pimpinan terpilih maka menciptakan pembangunan dibidang pertanian dan pemberdayaan usaha mikro kecil sehingga Kota Gunungsitoli bisa maju dan setara dengan kota lainnya.

Harapan kita kepada masyarakat yang telah memulai dukungannya kiranya tetap berkelanjutan demikian juga harapan kita kepada partai yang telah menyatakan dukungannya sehingga ke depan dapat terwujud apa yang dikehendaki oleh masyarakat yaitu pemimpin yang jujur, adil dan tegas. (SIB, 30-10-2010)

Korban Tsunami di Mentawai Lebih Dari 400 orang

Saturday, October 30th, 2010

MENTAWAI (NO) – Korban tsunami di Pulau Mentawai, Sumatera Barat, telah mencapai 413 orang sementara 313 masih belum diketemukan.

Data yang dikeluarkan hari ini oleh bidang informasi gempa dan tsunami Mentawai menyebutkan 207 orang luka-luka serius dan 142 orang luka-luka ringan.

Dilaporkan juga, rumah yang hancur sebanyak 517 dan yang rusak ringan sejumlah 204.

Tsunami ini terjadi menyusul gempa berkekuatan 7.2 SR yang terjadi pada hari Senin (25/10).

Menurut Kantor Berita Antara, tim penyelamat belum melakukan evakuasi di dua desa: Bosua dan Mosokut di Kecamatan Sipora Selatan, di pantai Barat Mentawai.

The two villages were flattened by a towering tsunami and only a small number of villagers could survive the disaster.

Kedua desa itu diterpa tsunami dan diperkirakan hanya sebagian kecil penduduk di sana yang selamat.

Pencarian para korban yang hilang baru saja dimulai oleh sejumlah relawan yang telah menemukan 27 jenazah. (Xh/Ant).

Dada, Nidada, Fodada, Ladada, Dinidadakan

Friday, October 29th, 2010

E. Halawa*

Tulisan ini berfokus pada kata ‘dada’ dan tiga awalan yang dijumpai dalam bahasa Nias, ni- fo- dan la-. Kata ‘dada’ menjadi dikenal masyarakat luas ketika ia muncul dalam buku Hammerle [1], yang mengutip Zebua [2] dalam tulisannya dalam Buletin JIKAN yang menyajikan mite Nias dari sebuah buku Dananjaja [3]. Mite dari buku Danandjaja sebagaimana disajikan oleh Zebua muncul pada halaman 74 – 76 buku Asal Usul karya Hammerle.

Untuk keperluan pembahasan dalam tulisan ini, penulis mengutip kalimat pertama paragraf pertama pada halaman 75 buku Asal Usul …[1]:

“Untuk menentramkan kedekapan putranya yang lain, Siraso kemudian mengabulkan permohonan mereka untuk dinidadakan (diturunkan) ke Tanõ Niha atau tanah manusia, yang merupakan nama asli dari Pulau Nias.”

Selanjutnya penulis juga menayangkan kembali kalimat pertama pada paragraf terakhir halaman 75 buku Asal Usul … [1]:

“Para putra Sirao yang empat lagi kurang beruntung, karena telah mengalami proses kecelakaan sewaktu proses Nidada, sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar di bumi Nias, untuk menjadi leluhur Nias.”

Dalam kedua kalimat kutipan yang disajikan di atas, kata nidada dipakai secara tidak tepat (salah). Dalam kalimat pertama, Danandjaja menganggap nidada merupakan kata asal dari jenis kata kerja (verba) sehingga kepadanya dapat dilekatkan awalan di-. Padahal kata asalnya adalah dada, yang kalau berdiri sendiri berarti: turunkan.

Dada khõda nora– Turunkanlah tangga itu buat kita.

Jadi, ketika Danandjaja ingin memperkenalkan kata itu dalam bukunya, seharusnya ia menulis: didada (diturunkan), tanpa akhiran ‘kan’ karena dada sendiri implisit sudah mengandung akhiran kan kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tentu saja, tanpa awalan ni-.

Dalam kalimat kedua, Danandjaya lagi-lagi salah mengartikan kata nidada. Di sini, Danandjaya menganggap nidada sebagai (proses) ‘penurunan’, sebab, kalimat di atas kalau ditulis dalam bahasa Indonesia yang lengkap tanpa menggunakan kata Li Niha nidada, bisa ditulis sebagai:

“Para putra Sirao yang empat lagi kurang beruntung, karena telah mengalami proses kecelakaan sewaktu proses penurunan, sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar di bumi Nias, untuk menjadi leluhur Nias.”

Awalan fo-
Dalam bahasa Nias, penurunan dapat diartikan: fodada. Awalan pe- dalam bahasa Indonesia dalam bahasa Nias padanannya adalah adalah awalan fo- atau fa-, tergantung dari kata apa yang akan dilekatkan kepadanya.

Folau omo – pembangunan/pembuatan rumah (kata kerja lau dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fo-)
Fondorogõ – pemeliharaan (kata kerja rorogõ dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fo-)
Famatohu – penyambungan (kata kerja fatohu dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fa-).
Famahatõ – pendekatan (kata kerja fahatõ dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awana fa-).

Awalan la-
Awalan la- melekat pada kata kerja, seperti dalam kata: latunu (mereka bakar), latafari (mereka tampar), lafakuyu (mereka kacaukan), dst. Seperti ditulis dalam contoh-contoh di depan, la- berfungsi menunjukkan pelaku sesuatu aktivitas, dan pelaku itu adalah orang ketiga jamak: mereka.

Contoh:
No bongi sa’ae me larugi Gunungsitoli – Sudah malam ketika mereka tiba di Gunungsitoli
Dalam contoh di atas, pelaku aktivitas ‘tiba’ adalah ‘mereka’. Bandingkan dengan:
No bongi sa’ae me irugi Gunungsitoli – Sudah malam ketika ia tiba di Gunungsitoli.

Kalimat yang setara dengan ‘No bongi sa’ae me larugi Gunungsitoli ‘ adalah: ‘No bongi sa’ae me ofeta ira ba Gunungsitoli.

Kalimat yang setara dengan ‘No bongi sa’ae me irugi Gunungsitoli’ adalah: ‘No bongi sa’ae me ofeta ia ba Gunungsitoli’

Untuk lebih jelas, kedua struktur diberikan dalam tabel berikut:

Kalimat berikut Setara Dengan Arti
Larugi ofeta ira Mereka tiba
Laboto nomo Mamoto omo ira Mereka merampok rumah

Lõ i’ila mõi tou, andrõ wa ladada ia – Dia tidak bisa turun, makanya dia diturunkan.

Tujuan utama kalimat ini adalah menjelaskan bagaimana ia turun, yaitu diturunkan, bukan turun sendiri. Memang, ‘la-’ disana bisa juga menunjukkan pelaku, yakni orang ketiga: mereka, tetapi tidak menjadi bagian penting. Itu makanya, kalimat itu bisa diterjemahkan menjadi:

Dia tidak bisa turun, makanya dia diturunkan, atau
Dia tidak bisa turun, makanya mereka menurunkannya.
***
Akan tetapi awalan la- tidak selalu menunjukkan pelaku adalah orang ketika jamak (mereka).

Contoh:
Ladada manõ na lõ i’ila mangawuli tou – Diturunkan saja kalau dia tidak bisa turun (sendiri)
Labase’õ ua wa’atohare dome soya. Ditunggu dulu kedatangan tamu yang banyak.
La fatenge khõnia zamaondragõ – Diutus kepadanya penjemput.

Awalan ni-

Dalam Asal-usul … [1], atau tulisan Danandjaja, ada kesan kuat bahwa awalan ni di sana diasosiasikan dengan aktivitas, kegiatan. Hammerle atau Danandjaja menulis: ‘nidada = diturunkan’. Secara sepintas, penulisan itu oke, tetapi sebenarnya kurang tepat, bahkan menyesatkan. Karena tidak memahami secara jernih makna awalan ‘ni-’, maka muncullah penyisipan kata nidada dalam bahasa Indonesia seperti berikut:

“ … karena terlalu berat tubuhnya sewaktu nidada (diturunkan) …” seharusnya:

“…karena terlalu berat tubuhnya sewaktu ladada (diturunkan) … “

Atau, kalau menggunakan awalan di-, seharusnya:
“…karena terlalu berat tubuhnya sewaktu di-dada (diturunkan) … “

Nidada lebih tepat diterjemahkan ‘yang diturunkan’ bukan hanya ‘diturunkan’. “Yang diturunkan’’ berbeda dengan ‘diturunkan’.

Awalan ni- pada kata nidada tidak menunjukkan aktivitas tetapi menciptakan kata benda dari kata kerja yang mengikutinya.

Dada = turunkan -> nidada = yang diturunkan
Nidada Ho andrõ – Ho itu yang diturunkan (bukan dilemparkan atau dijatuhkan misalnya).

Contoh lain:
Nitunu – yang dibakar
Nigore – yang digoreng (bukan dikuah atau dibakar, misalnya).
(Adulo) nigore be õgu, lõ omasido nirino – Telur goreng itu berikan padaku, aku tak suka telur rebus.

Ono ni’elifi = Ono si gõna fangelifi – anak yang dikutuk
Ono nihalõ = Gadis yang ‘diambil’ (mempelai perempuan)
Ono nifakaokao – anak yang jadi bulan-bulanan (siksaan) teman-temannya.

Namun ada kalanya awalan ni- berfungsi menunjukkan aktivitas seperti pada contoh berikut:
Tebai nibudegõ ia – Ia tidak bisa dikelakari.
Tola ni’a sa’e – Sudah bisa dimakan.

Kesalahan semacam yang ditemukan pada buku Dananjaja itu sebenarnya terdapat pada banyak tulisan lain, baik yang ditulis peneliti asing (baca: non-Nias) maupun para penulis Ono Niha sendiri. Dalam tulisan-tulisan mendatakan hal itu akan dibahas.

  1. Johannes Hammerle, 2001: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias.
  2. Victor Zebua, 1999: JIKAN – Jaringan Informasi Kaji Nias, No. 1, vol. 1, Juli 1999, halaman 4-5 sebagaimana ditulis Hammerle dalam [1]
  3. Dalam [1] tidak disebutkan dalam buku James Dananjaja yang mana mite ini dikisahkan.

Pasangan Balon Walikota Gunungsitoli Lenny Trisnadi BBA Armansyah Harefa SE Mendaftar ke KPU Kota Gunungsitoli

Friday, October 29th, 2010

Gunungsitoli – Pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota Gunungsitoli Lenny Trisnadi BBA-Armansyah Harefa SE (LENTERA) Kamis (28/10) mendaftar ke KPU kota Gunungsitoli dengan diantar ribuan massa bersama pimpinan partai politik dari partai Pelopor, PKD, PPD, PDIP, PKPI, PPP, PBN, Partai Buruh, Partai Patriot.

Pasangan LENTERA mendaftar dengan diantar ribuan massa dari masing–masing kader partai politik pengusung memakai kendaraan becak sekitar 800 unit dengan 2 orang penumpang ditambah kendaraan roda 2 hampir 500 unit, sehingga membuat petugas Lantas Polres Nias sibuk mengatur arus lalu lintas.

Ketua Tim pemenangan pasangan Lentera Damili Ranimbowo Gea SH mengatakan di kantor KPU bahwa Lenny Trisnadi BBA dan Armansyah Harefa SE diusung partai Pelopor, PKD, PPD, PDP, PKPI, PPP PATRIOT, Partai Buruh dan PBN.

Selanjutnya Damili R Gea mengatakan bahwa pasangan ini merupakan dorongan dari warga Kota Gunungsitoli dalam rangka perubahan untuk menciptakan Kota Gunungsitoli lebih baik dan membuat warga kota Gunungsitoli sejahtera sesuai Visi yaitu kota Gunungsitoli yang nyaman, indah, masyarakatnya beriman dan sejahtera dengan Motto pengabdian tanpa batas dan melayani dengan hati.

Drs Ya’atulo Halawa sebagai Plt Ketua KPU Kabupaten Nias mengatakan pasangan Lentera yang didaftarkan dan diusung oleh 9 Partai telah memenuhi syarat karena jumlah suara telah melebihi dari 7500 suara. KPU menyatakan telah memenuhi aturan yang berlaku dan tinggal melakukan verifikasi berkas.

Sementara Balon Walikota Lenny Trisnadi BBA mengatakan, “kami mempunyai visi dan misi serta motto yaitu kota Gunungsitoli yang nyaman indah, masyarakat beriman dan sejahtera dan misi membangun tata kelola pemerintah yang baik dengan menerapkan Good Governance. Melayani masyarakat dengan prinsip pelayanan prima dengan motto melayani untuk semua bukan dilayani. Memberdayakan masyarakat dengan prinsip pemberian orientasi pada masyarakat untuk mengenali permasalahan yang dihadapi, memberdayakan perempuan di segala bidang dalam rangka mewujudkan kesetaraan gender, membangun sarana dan prasarana kota yang menjamin kenyamanan dengan memperhatikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan, menciptakan lingkungan kota yang dinamis dalam mendorong pertumbuhan pembangunan dan kesejahteraan berdasarkan tata ruang.”

Mempunyai program unggulan yaitu di bidang pendidikan dan kesehatan antara lain: memberikan bea siswa di setiap jenjang pendidikan bagi siswa/ yang berprestasi dan keluarga tidak mampu setiap tahun dianggarkan sebanyak seratus orang, mendirikan Paud (pendidikan anak usia dini) di setiap desa, menetapkan para guru secara merata di setiap Kecamatan, dan pemberantasan buta huruf.

Sedangkan di bidang kesehatan memberikan honor secara rutin kepada kader-kader posyandu di seluruh kota Gunungsitoli, menetapkan para dokter setiap puskesmas di wilayah kota Gunungsitoli, menempatkan para bidan desa secara merata, menempatkan kepala puskesmas yang peduli kepada kesehatan masyarakat yang tidak mampu, pengobatan gratis katarak dan bibir sumbing bekerjasama dengan OBI dan sahabat Aceh Nias.

Sementara balon Wakil Walikota Armansyah Harefa SE mengatakan, bahwa bidang infrastruktur mengutamakan pembangunan sarana jalan desa agar semua jalur transportasi dapat dilalui kendaraan roda empat, pembangunan sarana air bersih sesuai standar kesehatan, memperbaiki suluran air untuk menghindari banjir bandang.

Meningkatkan kualitas para penyuluh pertanian agar mencapai hasil pertanian yang maksimal, dengan memberikan bibit unggulan yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi lahan partanian yang tersedia, mengembangkan pendirian koperasi seperti koperasi wanita yang berbadan hukum, menciptakan keharmonisan antar umat beragama, serta meningkatkan kesejahteraan seluruh aparat desa.(SIB, 29-10-2010)

Diantar Pimpinan Partai dan Ribuan Massa Pasangan Balon Wali kota Gunungsitoli Murni- Zaro mendaftar di KPU Kota

Thursday, October 28th, 2010

Gunungsitoli – Pasangan bakal calon Walikota Drs Kemurnian Zebua BE dengan Temazaro Harefa (Murni-Zaro) Selasa (26/10) mendaftar ke KPU Kota Gunungsitoli diterima KPU Kota bersama Plt KPU Kab Nias Drs Yaatulö Halawa.
Pasangan calon mendaftar ke KPU diantar seribuan warga kota Gunungsitoli terdiri dari petani, tukang becak, nelayan, pimpinan Partai Politik dari Partai Demokrat, Partai Golkar, PPI, PIS, PNBK, PKPB, dan 11 anggota DPRD Kota dari ke enam partai tersebut.

Setelah mendaftar ke KPU kota Gunungsitoli Murni-Zaro bersama Ketua Tim Pemenangan Sowaa Laoly SE yang juga sebagai Ketua DPRD Kota Gunungsitoli mengatakan bila menang pada pesta demokrasi pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Periode 2011-2016 akan melakukan perubahan di segala bidang untuk meningkatkan pembangunan Kota Gunungsitoli.

Mempunyai komitmen memberantas segala jenis korupsi, dan menempatkan pejabat sesuai pendidikan dan kemampuan serta keahlian dalam bidangnya masing-masing.

Sementara Temazaro Harefa sebagai balon wakil walikota mengatakan kita jangan terlalu sibuk meminta penyerahan asset dari Pemkab Nias ke Pemko Gunungsitoli karena sudah diatur oleh UU bahwa proses penyerahan akan dilakukan selama 5 tahun.

Pasangan balon Murni-Zaro juga mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas pertolongannya dapat melaksanakan pendaftaran di KPU kota Gunungsitoli dan ini berkat kerjasama pimpinan partai politik yang mengusung dan dukungan warga kota Gunungsitoli.

Mereka berharap kepada seluruh lapisan masyarakat agar dukungan yang telah diberikan kiranya tetap berkelanjutan sampai jadwal kampanye dan pemungutan di hari H Pemilukada kota Gunungsitoli.

Drs Kemurnian Zebua BE (Murni) dikenal sebagai sosok pemimpin yang mampu karena dilihat dari pengalaman kerja selama menjadi Pegawai Negeri Sipil di Pemkab Nias, pernah menjadi Kadis Kependudukan Nias, Staf Bappeda hingga menjadi Kepala Bapeda Nias, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Nias dan Asisten I serta menjadi Sekretaris Kota Gunungsitoli sampai sekarang.

Temazaro Harefa dikenal sebagai Ketua BPC Gapensi Nias, pengusaha di bidang pertanian, anggota DPRD Nias kemudian menjadi Ketua Fraksi Partai Golkar Nias dan menjadi Ketua DPRD Kab Nias dan sekarang sebagai Wakil Bupati Nias. Keduanya cukup banyak mendapat simpatik masyarakat kota Gunungsitoli dan dikenal dekat pada masyarakat tanpa membedakan suku dan agama. (www.hariansib.com – 27-10-2010)

PLN Cabang Nias Peringati Hari Listrik Nasional

Thursday, October 28th, 2010

* Manajer PLN Nias Harapkan Masyarakat Bayar Tunggakan Listrik Rp 6 Miliar

Gunungsitoli – PT PLN Cabang Nias bersama ranting PLN di Kepulauan Nias memperingati Hari Listrik Nasional ke 65 yang dilaksanakan di halaman kantor Cabang di Jalan PLN Yos Sudarso Desa Saewe Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli. Peringatan ini dihadiri Ketua DPRD Nias Sozanolo Zai SE, Anggota DPRD, Asisten I Pemkab Nias Samson P Zai SH, para pimpinan PLTD Nias, para pimpinan cabang dan ranting PLN di Kepulauan Nias serta karyawan PLN, Kasdim 0213/Nias serta para pensiunan, Rabu ( 27/10).

Manajer Cabang PT PLN Nias PC Didi Hadisantoso pada arahannya mengatakan selama ini pelayanan PLN telah berupaya semaksimal namun yang membuat kondisi terjadi pemadaman diakibatkan kemampuan sumber daya listrik sehingga jaringan listrik putus.

Setelah itu PT PLN telah berupaya dengan mendatangkan mesin baru dan sebelumnya juga dilakukan upaya untuk tetap hidup selama 1×24 Jam namun terjadi persoalan dikarenakan terjadi kerusakan jaringan berhubungan pohon tumbang dan membuat terjadi pemadaman, katanya.

Selanjutnya ia mengatakan, PT PLN akan melayani masyarakat se kepulauan Nias dan bila terlaksana program tersebut maka terjawab keluhan seperti ingin penyambungan ke rumah penduduk yang belum terlayani. Tentu kita berharap dukungan pemerintah Kab.Nias, Kab.Nias Selatan, Kota Gunungsitoli, Pemkab Nias Barat dan Pemkab Nias Utara serta para Pimpinan DPRD dan Anggota DPRD pada 5 Daerah di Kepulauan Nias.

Berikutnya ia mengatakan dalam rangka menyambut Hut Listrik Nasional ke 65 telah melakukan kegiatan Gerakan sehari Sejuta pasangan baru dimana masyarakat yang telah mengajukan permohonan dan hari ini akan langsung terlayani semua penyambungannya. “Untuk memeriahkan HUT Listrik Nasional kita telah melaksanakan kejuaraan Catur terbuka “ PLN Nias CUP “ Oktober 2010 yang diikuti 20 peserta,” katanya.

Sementara Asisten I Pemkab. Nias, ketua DPRD Nias , DPRD kota dan DPRD lainnya menyatakan mendukung program PLN untuk meingkatkan pembangunan dalam rangka memenuhi permintaan masyarakat Kepulauan Nias.

Lebih lanjut Asisten I Samson P. Zai SH mengatakan, apa yang telah disampaikan Manajer PT. PLN Cabang Nias PC. Didit Hadisantoso kiranya dibarenGi dengan komitmen untuk memperbaharui. Sehingga apa yang diharapkan masyarakat terlaksana dengan baik.

“Kami dapat memahami kondisi yang dihadapi PLN seperti tuntutan begitu banyak tetapi sumber daya listrik sangat terbatas. Masyarakat tidak pernah tahu bahwa ada gangguan jaringan listrik, tetapi masyarakat hanya menginginkan bahwa listrik itu menyala dalam tempo 1 kali dalam 24 jam tanpa putus,” katanya.

Karena itu komitmen dan ini upaya bagaimana PLN bisa menjawab tantangan itu, harus senantiasa berupaya melakukan sosialisasi tentang itu. Tapi ini perlu dicatat bahwa masyarakat sulit dan susah memahami sebab masyarakat hanya tahu bagaimana listrik itu tetap nyala 24 jam.

Dan apa catatan tentu pihak PLN sendiri yang menjawabnya tetapi sebagai pemerintah Daerah akan membantu dan mendukung kegiatan PLN ini sebab keberhasilan PLN juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Insvestor hanya bisa berani datang ke Pulau Nias ini kalau ada jaminan listrik tentu kalau tidak ada jaminan maka insvestor tidak akan berani menanamkan insvestasinya dipulau yang kita cintai ini dan harapan kami kiranya program PLN menjadi kenyataan katanya.

PT PLN menyerahkan trofi tetap kepada pemenang turnamen catur terbuka PLN CUP Oktober 2010 juara 1 Bezisokhi Waruwu dengan uang pembinaan Rp5 juta, juara 2 Arsyab uang pembinaan Rp3 juta. Juara 3 Chiliaro Hura Rp2 juta dan sampai pemenang hingga ke-20 dengan nilai 4 Rp50 Ribu.

Masyarakat di kepulauan Nias sebagai pelanggan PLN masih menunggak sekitar Rp6 miliar dan harapan Manager PLN dapat secepat dibayarkan untuk mempercepat pembangunan listrik di kepulauan Nias hal itu dikemukakan pada saat wawancaran wartawan. (SIB, 28-10-2010)

Wagubsu Lantik Dua Pj Kepala Daerah; Optimalkan Roda Organisasi Pemerintahan

Thursday, October 28th, 2010

Medan – WakilGubernur Sumatera Utara (Wagubsu) H Gatot Pujo Nugroho ST mengharapkan kepada dua penjabat kepala daerah yang dilantik agar mengoptimalkan roda organisasi pemerintahan dengan scepatnya membentuk perangkat organisasi daerah.

Harapan itu disampaikan Wagub pada pelantikan penjabat (Pj) Bupati Nias Barat Drs Sudirman Waruwu dan Pj Walikota Gunung Sitoli Ir Lakhomizaro Zebua di aula Martabe kantor Gubernur Sumut Jalan Diponegoro Medan, Rabu (27/10). Wagub melantik kedua kepala daerah ini atas nama Menteri Dalam Negeri.

Wagub juga mengingatkan kedua penjabat agar memfasilitasi Pemilukada guna mempercepat terpilihnya kepala daerah (Kdh) defenitif serta jaga netralitas PNS jangan berpihak kepada salah satu calon peserta Pemilukada.

Sementara ketika ditanya wartawan usai acara pelantikan terkait ditahannya Gubsu, Wagubsu mengaku sangat kehilangan seorang sahabat sekaligus guru dalam satu pekan terakhir.

Wagub menjelaskan, bahwa saat memimpin pelantikan, dia merefleksikan kepada diri sendiri, sudah sejauh mana kepemimpinannya bisa memberikan manfaat kepada seluruh rakyat Sumut.

Kehilangan gigi

“Jadi, kalau ditanya seperti apa perasaan saya saat ini, terus terang saat ini gigi saya lagi bermasalah dan hilang satu. Ini saja sudah membuat saya merasa kehilangan, apalagi kepada Gubsu Syamsul Arifin, jelas saya merasa sangat kehilangan seorang sahabat sekaligus guru.” ungkap Gatot.

Terkait kebijakan Pemprov Sumut untuk memberikan advokasi hukum kepada Gubsu, kendati saat ini DPP Partai Golkar sudah melakukannya, menurut Wagub secara normatif hal tersebut akan dilakukan oleh Biro Hukum Setdaprov Sumut.

Tak hanya itu, Wagub kembali mengimbau seluruh masyarakat Sumut untuk memanjatkan doa kepada Gubsu agar diberi kebaikan, ketabahan, dan keimanan untuk menjalani cobaan-NYA.

Ditanya apakah sejauh ini sudah ada pendelegasian tugas-tugas dari Gubsu kepada dirinya untuk memimpin roda organisasi pemerintahan di Pemprov Sumut? Gatot mengaku sudah ada.

“Pelantikan dua KDh di Nias ini merupakan salah satu surat perintah tugas dari Gubsu kepada saya,” ungkapnya. (www.analisadaily.com – 28-10-2010)

Wagubsu kehilangan ‘gigi 1’

Thursday, October 28th, 2010

* Hari ini Penjabat Walikota Gunung Sitoli, Lakhomizaro Zebua, dan Penjabat Bupati Nias Barat, Sudirman Wuruwu, dilantik.

MEDAN – Wakil Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujonugroho mengaku sangat kehilangan seorang sahabat sekaligus guru dalam satu pekan terakhir pasca ditahannya Gubernur Syamsul Arifin. Jumat (22/10) lalu, KPK menahan Syamsul sebagai tersangka kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Langkat senilai Rp102,7 miliar.

Gatot mengaku tak bisa menolak perintah Gubsu untuk memimpin prosesi pelantikan dua Penjabat (Pj) Kepala Daerah di Nias, Penjabat Walikota Gunung Sitoli, Lakhomizaro Zebua, dan Penjabat Bupati Nias Barat, Sudirman Wuruwu, hari ini.

Gatot menjelaskan, saat memimpin pelantikan itu, dirinya merefleksikan kepada diri sendiri, sudah sejauh mana kepemimpinannya bisa memberikan manfaat kepada seluruh rakyat Sumut. “Jadi, kalau ditanya seperti apa perasaan saya saat ini, terus terang saat ini versneling saya lagi bermasalah karena ‘gigi satu’ (Gubernur, red) hilang,” kata Gatot.

Ini saja sudah membuat saya merasa kehilangan, apalagi kepada Gubsu, jelas saya merasa sangat kehilangan seorang sahabat sekaligus guru.” kata Gatot.

Terkait kebijakan Pemprovsu untuk memberikan advokasi hukum kepada Syamsul kendati saat ini DPP Partai Golkar sudah melakukannya, Gatot menjelaskan, secara normatif hal tersebut akan dilakukan Biro Hukum Setdaprovsu. Disinggung apakah sejauh ini sudah ada pendelegasian tugas-tugas dari Gubsu kepada dirinya untuk memimpin roda organisasi pemerintahan, Gatot mengaku sudah ada. (www.waspada.co.id – 28-10-2010)

Hekinus Manaö: “Ini Bagian dari ‘Spiritual Journey’”

Wednesday, October 27th, 2010

“Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu. Dengan apakah kubalas Tuhan, s’lain puji dan sembah Kau.’ Hekinus Manaö mengutip dan menyanyikan refrain lagu rohani itu, menyela kata-kata pamitannya pada acara syukuran dan perpisahan dengan keluarga besar, masyarakat Bawömataluo dan Nias di kediamannya di Gading Serpong, Banten, Minggu (24/10).

Hekinus mengakui, semua perjalanan dan pencapaiannya sampai saat ini, semata-mata karena pekerjaan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan memperlakukannya seperti biji mata-Nya. Di jaga dan dipelihara. “It is very wonderful. Berkat Tuhan itu luar biasa. Dia amat baik. Terus terang, Tuhan memperlakukan saya seperti biji matanya. Sangat luar biasa,” pungkas dia usai menyanyikan lagu yang mengutip ayat-ayat Alkitab (Kitab Ulangan 32:10; Mazmur 17:8 dan Zakaria 2:8) itu.

Bagi pria yang biasa dipanggil Ama Jesse tersebut, perjalanan hidup dan karirnya sampai saat ini, adalah sebuah perjalanan rohani (spiritual journey). Nuansa itu sangat terasa ketika dia merujuk pada berbagai aktifitasnya yang sering dilatarbelakangi dengan suasana yang amat memrihatinkan. Mulai dari ketika masa kecil sampai menginjakkan kaki di Jakarta pada Oktober 1973.

Nuansa spiritual itu juga dirasakan dengan kehadiran penolong sejatinya dari Tuhan, yakni sang istri, Inti Zebua ketika menempuh pendidikan selama delapan tahun di Amerika Serikat. Dengan segala keterbatasan, tanpa pembantu dan penolong, sambil kuliah harus merawat ketiga anak mereka yang semuanya kini sekolah dan kuliah di Los Angeles. “Dialah tulang rusuk sejati saya dari Tuhan,” tegas dia.

Seperti sudah banyak diberitakan di media massa, per 1 November 2010, pria kelahiran Desa Bawömataluo 54 tahun lalu itu akan menduduki jabatan prestisius sebagai Direktur Eksekutif Bank Dunia (World Bank) di Washington DC. Selama dua tahun, akan bekerja di sana bersama mantan atasannya di Kementerian Keuangan, Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang telah sekitar lima bulan menjadi Managing Director.

Dengan mereka berdua, Indonesia menempatkan dua putra-putri terbaiknya di antara total 28 top leader bank yang dipimpin Robert B Zoellick itu. Empat top leader terdiri atas Presiden Direktur dan tiga managing director, dimana salah satunya dijabat oleh SMI. Sedangkan 24 lainnya adalah direktur eksekutif yang sekaligus mewakili 185 negara. Hekinus adalah salah satu dari 24 direksi itu.

Khusus untuk posisinya sendiri, pria yang pernah berkarir di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) itu akan mewakili 11 negara. Yakni, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Nepal, Brunei dan Fiji dan Tonga di kepulauan Pasifik. Karena itu, selain tugas sebagai direksi, juga akan sering melakukan perjalanan ke negara-negara itu untuk mengetahui perkembangan pembangunannya. “Di sana saya satu kantor dengan SMI. Dia di lantai 12, saya di lantai 13. Harapan saya, kami bisa bekerja sama dengan baik sesuai harapan,” kata dia.

Full of Compassion
Kesulitan demi kesulitan tidak mendistorsi semangat dan komitmennya. Berbagai tugas diemban dan dijalankannya dengan kesungguhan. Apa pun jabatan itu, bila itu amanat dari Tuhan, maka dia yakin, semuanya akan berjalan mengalir saja. Tanpa bermaksud mengekspos diri, dia mengaku, semua koleganya di Kemenkeu tahu, dirinya tidak pernah mengejar jabatan mau pun uang. Sebaliknya, fakta menunjukkan, jabatanlah yang mengejarnya. Dan tentu saja, uang.
Bagi dia, bekerja adalah bagian dari perjalanan rohaninya. Nilai-nilai itu bekerja dan diterapkan dalam pekerjaannya. Bekerja itu harus dengan penuh cinta (full of compassion). Ketika menduduki jabatan baru pun, selalu memastikan bahwa tidak cukup hanya melanjutkan (program) yang lama, tapi juga berusaha melakukan sesuatu yang baru, yang berguna. “Saya kerja full of compassion. Penuh cinta. Mungkin akan terkesan berlebihan kalau saya mengatakan, perjalanan hidup saya, sejak SMP sampai saat ini adalah perjalanan spiritual (spiritual journey),” kata dia.

Perlahan tapi pasti, Hekinus memanen hasil kesetiaan dan kerja kerasnya. Hingga akhir bulan Oktober 2010, dia masih menjabat sebagai Inspektur Jenderal Kemenkeu. Sebuah lompatan luar biasa dari jabatan sebelumnya sebagai Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Kementerian Keuangan.

Kini lompatan luar biasa terjadi lagi. Dia mendapat kepercayaan negara dan pemerintah dengan menjadi wakil Indonesia, bahkan mewakili 10 negara lainnya menduduki posisi Direktur Eksekutif Bank Dunia. Hekinus mengaku, terkait posisi itu, dirinya tidak pernah mengajukan diri, atau pun mengikuti ujian apa pun tentang hal itu. “Justru pada 6 September 2010, saya mendapat pemberitahuan tiba-tiba untuk mempersiapkan diri untuk jabatan baru itu,” terang dia.
Dari Nias ke Washington DC

Hal yang sangat menyentuh dan memaksa menitikkan air mata terungkap ketika alumni Cleveland State University, Ohio, USA itu menjelaskan sekelumit perjalanan hidupnya, mulai dari masa kecilnya. Sama seperti kebanyakan masyarakat Nias saat itu, hidup begitu sulit. Mengacu pada masa lalu itu, dia pun memilih memodifikasi judul di milist alumni STAN yang dibuat rekan-rekannya angkatan 1976 yang menulis, “Hekinus Manaö: Dari Nias ke Washington DC.” Menurut dia, bila bicara ‘darimana’ secara lebih spesifik lagi, maka judul itu bisa diubah menjadi, “Dari Tidak Pakai Sandal sampai Memimpin Bank Dunia”.

Hal yang sangat berkesan dan membekas adalah kesulitan di masa kecil, termasuk ketika menapaki setahap demi setahap pendidikannya mulai dari Sekolah Dasar. Kala itu, dia menjalani masa kecilnya tanpa sandal. Dia ingat, setelah menginjak kelas lima, baru memiliki sandal. Bahkan, saking kagetnya dan karena tidak terbiasa, sandal itu sering terlupa atau tertinggal entah dimana.

Menginjak tingkat SMP pun juga lumayan menyedihkan. Saat itu, setiap hari minggu, bersama temannya satu sekolah harus kucing-kucingan. Perasaan gengsi dan malu selalu mengganggunya bila akan berpapasan dengan anak-anak gadis yang akan ke asrama sekolah. Sebab, setiap hari minggu sore, bersama saudara sulungnya, Asli Manaö (Ama Fika) akan ke Teluk Dalam dan tinggal di asrama. Saat berangkat dari Desa Bawömataluo, mereka harus membawa kelapa untuk dijual.

Kelapa-kelapa tersebut, harus dijual sore itu juga agar bisa membeli sebanyak empat dumba beras (takaran beras seukuran kaleng roti bulat ukuran sedang atau setara dengan delapan kaleng beras bila ditakar dengan bekas kaleng susu kental). Beras itu merupakan ‘tiket’ untuk masuk asrama dan bisa sekolah. “Terus terang saja, ada rasa malu ketemu cewek-cewek karena saya juga anak muda saat itu,” ungkapnya sambil menitikkan air mata mengenang masa-masa sulit itu.

Demikian juga ketika tamat SMP. Oleh orangtuanya, diarahkan masuk di SMA BNKP Gunungsitoli. Sedangkan abangnya, Ama Fika, diarahkan masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Alasannya, orangtua ingin agar salah satu dari mereka cepat selesai. Waktu itu, dia merasa dikalahkan, karena dengan sekolah di SMA pasti akan lama prosesnya. Sedangkan kalau SPG akan lebih cepat. Termasuk lebih cepat menikah.

Tapi ternyata, kata dia, justru dia yang lebih cepat menikah dari abangnya yang kini berpangkat perwira menengah di Polda Metro Jaya itu. Dan kini, salah satu pimpinan Bank Dunia itu adalah lulusan SMA BNKP. “Jadi bisa dikatakan, ‘Dari SMA BNKP ke Bank Dunia’,” pungkas dia.

‘Ke Jakarta Aku kan Kembali’
Mengemban jabatan presitius dengan tugas berat, tidak menyebabkan anak kedua dari tujuh bersaudara itu kehilangan selera humor, juga makanan khasnya. Itu sebabnya dia mengaku merasa sedih meninggalkan Indonesia. Selama dua tahun ke depan, kata dia, akan berpisah, di antaranya, dengan bulu gowi farasi (sayur daun singkong) dan bulu mbala (sayur daun pepaya).

Banyak hal juga harus kembali dibiasakan. Misalnya, bila selama ini sang istri tidak perlu memasak, maka di Washington DC harus memasak sendiri. Bila selama ini di Jakarta kemana-mana di antar supir pribadi, kenikmatan itu sudah tidak ada. Harus nyetir sendiri, bahkan harus ikut tes untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) di sana.

Berpisah dengan tukang cukurnya, seorang pria asal Leuwiliang, juga adalah salah satu sumber ‘kesedihan’nya. Telah bertahun-tahun menjadi spesialis tukang cukurnya. Hekinus merasa akan kehilangan karena memiliki kebiasaan aneh, setiap kali cocok dengan satu merek atau seseorang, maka tidak akan beralih kemana-mana. Dia pun mengaku telah mengadakan acara perpisahan dengan sang tukang cukur dengan menggelar ‘ritual’ cukur terakhir. Dia pun berharap, bila kembali ke Indonesia dua tahun mendatang, masih bisa bertemu.

Suasana campur aduk itu sangat membekas. Membuatnya tidak bisa melupakan Indonesia. Tak heran, pada bagian akhir kata-kata pamitannya, Hekinus bersama istri menutupnya dengan lantunan lagu “Ke Jakarta Aku ‘kan Kembali.” (Etis Nehe)

Apa Kata Mereka ?

‘Capaian Karir Tertinggi Putra Nias’ sejauh ini …

Mewakili masyarakat Nias pada acara perpisahan itu, Brigjen Christian Zebua mengatakan, posisi Hekinus di Bank Dunia itu, merupakan pencapaian karir tertinggi yang pernah diraih oleh putra Nias sejauh ini. Karena itu, penugasan oleh negara ke Bank Dunia itu merupakan kebanggaan luar biasa bagi masyarakat Nias, selain bagi bangsa dan negara.

Perjuangan Hekinus, sejak kecil sampai saat ini, kata dia, layak menjadi teladan bagi generasi muda masyarakat Nias. Bahwa segala sesuatu bisa dicapai asal memiliki tekad. Apa pun yang dikerjakan, dalam profesi apapun, harus digeluti secara profesional. Berada di profesi mana pun, keberadaan itu harus bisa dirasakan oleh sekitar.

“Bapak Ama Jesse mengatakan, dia tidak mengajukan diri. Tapi dia diminta dan ditempatkan karena profesional di bidangnya. Di mana dia ada, di situ dia berbuat sesuatu yang luar biasa. Ini contoh bagi kita. Bahkan, anak-anak Nias lainnya, harus bisa lebih tinggi dari capaian ini. Kita jangan berpuas dengan yang ada saat ini,” kata dia.

Pernyataan senada disampaikan Waspada Wau, yang mewakili keluarga besar dan masyarakat Bawömataluo. Berbicara dalam bahasa daerah dengan dialek Teluk Dalam, dia mengatakan, pencapaian sebagai pimpinan di Bank Dunia ini bukanlah karena cita-cita tapi sebagai konsekuensi dari segala sesuatu yang diperjuangkan selama ini sehingga dia mendapat penghargaan.

Dia mengaku sebagai salah satu saksi hidup bagaimana Hekinus jungkir balik dalam perjuangannya. Dia ingat, suatu kali, ketika masih sekolah di Nias. Hekinus akan ujian besok sore pada pukul 17.00. maka mulai pukul 17.00 hari ini, memulai belajarnya. “Saat itu dia minta kami untuk mo’ana’aisi ya’ia (merondainya). Siapa tahu dia pingsan karena kecapaian. Jadi kami bergantian menjaga dia,” ungkap sepupu kandung Hekinus itu.

Pesan utama dari semua cerita sukses itu, kata dia, bahwa kini, dalam keluarga, dan komunitas masyarakat Nias, sudah ada sosok teladan. Tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Karena itu, keluarga sangat berbahagia dan tidak merasa kehilangan bila harus pergi jauh untuk beberapa saat ini. Bahkan diharapkan, sekembali dari sana, bisa lebih meningkat lagi dan lebih lagi dalam hal menjadi saluran berkat Tuhan, bagi keluarga, bangsa dan negara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nias Online, ternyata, Hekinus juga bukan tipe pejabat aji mumpung dalam memanfaatkan fasilitas jabatannya. Dia tidak memanfaatkan fasilitas pengawalan yang melekat pada jabatannya. Baik untuk dirinya, mau pun untuk keluarganya.

Bagi ponakannya, Yediel Lase, Hekinus meninggalkan kesan mendalam sebagai pekerja keras. Yediel yang juga alumni STAN tersebut mengungkapkan, setiap hari, pamannya berangkat ke kantor pukul 5.30 Wib dan selalu tiba di kantor sebelum para bawahannya tiba. Sebaliknya, juga pulang paling akhir, bahkan seringkali larut malam. “Bahkan, terkadang kita yang menunggu di rumah sudah tidur duluan sebelum paman pulang,” ungkap dia.

Meski sangat sibuk, ternyata Hekinus selalu menyisihkan waktu untuk berolahraga. Tidak salah bila penampilannya terlihat berstamina dan segar. Setiap pukul 05.00 melakukan lari pagi dan setiap minggu pagi bermain tenis meja.

Pria yang kini bertugas di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jayapura tersebut mengatakan, meski menduduki posisi strategis di Kemenkeu, pamannya bukan tipe orang yang memanfaatkan posisinya untuk kepentingannya, keluarganya dan saudara-saudaranya. “Misalnya, berusaha untuk memasukkan saudaranya, ponakan atau kenalan ke instansi tersebut tanpa melalui prosedur yg normal dan fair,” jelas dia. (Etis Nehe)

***
Nama: Dr. Hekinus Manaö, Ak., CFGM
Tempat, Tgl Lahir: Bawömataluo, 14 Juli 1956
Status: Menikah
Istri: Inti Zebua
Anak-anak: Jesse Manaö, Elisabeth Manaö, Jeremy Manaö

Pendidikan:
1984: Diploma IV Bidang Akuntansi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jakarta
1981-1986: Fakultas Ekonomi Ekstensi, Universitas Indonesia
Fall 1990: Master of Accountancy, Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio USA
1995: Pendidikan Doktoral bidang studi Business Administration (Major: Accounting; Minor: Finance & Information
Systems, Cleveland State University, Ohio USA

Jabatan
Terhitung mulai 1 Nov 2010: Direktur Eksekutif Bank Dunia
12 Agst 2008-31 Okt 2010: Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan
2006-2008: Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Ditjen Perbendaharaan, Kemenkeu
2004-2006: Direktur Informasi dan Akuntansi, Ditjen Perbendaharaan, Kemenkeu
2003-2004: Kepala Pusat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Badan Akuntansi Keuangan Negara, Kemenkeu
2008–sekarang: Inspektur Jenderal, Departemen Keuangan
2005-sekarang: Komisaris PT Kereta Api (Persero)
2003–sekarang: Anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan, Ikatan Akuntan Indonesia
2002–sekarang: Anggota Komite Standar Akuntansi Pemerintahan
2005–sekarang: Anggota Tim Kerja & Ketua Tim Pengadaan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara
2004–sekarang: Ketua Tim Pelaksana State Audit Reform Project
2005–sekarang: Wakil Ketua Tim Pelaksana Local Government Finance & Governance Reform Project
2005–sekarang: Anggota Tim Kerja Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah
2005–sekarang: Liaison Officer pada Dewan Pengarah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias
2006–sekarang: Anggota Tim Penilai Aplikasi BLU
2007-sekarang: Anggota Dewan Pengawas Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta
Maret 1998–sekarang: Staf Pengajar dan Dosen Pembimbing Program Doktor Pascasarjana Studi Manajemen, Universitas Indonesia
Maret 1998–sekarang: Staf Pengajar Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Univ. Indonesia
2006–sekarang: The European Institute of Advanced Studies in Management

Keterangan Gambar: 1. Dr. Hekinus Manaö, 2. Hekinus Manaö dengan istri, Inti Zebua.

Tulisan Terkait:
Hekinus Manaõ, Karakter “õ/ö”, dan Kompas

Kasus rabies naik 4 kali lipat di Sumut

Tuesday, October 26th, 2010

* Kota Gunung Sitoli sebanyak 17 kasus

MEDAN – Kasus gigitan hewan penular rabies di Sumut meningkat secara signifikan. Data Program Pencegahan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Dinkes Sumut, kasus rabies yang belum genap satu tahun di 2010, meningkat 4 kali lipat dari tahun 2009.

Berdasarkan data, kasus rabies 2008 di Kabupaten Dairi ditemukan sebanyak 2 kasus dan Simalungun 1 kasus. Sedangkan tahun 2009, Kabupaten Simalungun ditemukan 1 kasus, Taput 1 kasus, Humbahas 3 kasus, Dairi 1 kasus dan Batu Bara 1 kasus.

Sementara itu pada tahun 2010 kasus rabies dilaporkan oleh 9 kabuten/kota yaitu: Asahan 2 kasus, Taput 1 kasus, Samosir 3 kasus, Tapteng 1 kasus, Nias 5 kasus, Nisel 1 kasus, Dairi 1 kasus, Nias Barat 1 kasus dan Kota Gunung Sitoli sebanyak 17 kasus.

Sebelumnya berdasarkan data Depkes RI (2006) Nias merupakan wilayah bebas rabies bersama beberapa daerah lain di Indonesia seperti pulau Bali, NTB, Maluku dan Jawa Timur.

“Namun pada awal 2010 dilaporkan adanya kasus rabies yang hingga pertengahan tahun 2010 telah merenggut nyawa sedikitnya 31 orang di wilayah pulau Nias,” kata Teguh Supriyadi, Koordinator P2B2 Dinkes Sumut, Senin (25/10).

Menurutnya, jumlah kasus gigitan hewan penular rabies ini merupakan kasus terbanyak dalam periode waktu yang sama sepanjang sejarah rabies di wilayah Provinsi Sumatera Utara.

Hal ini menurutnya dikarenakan meningkatnya frekuensi kasus, ditambah meningkatnya jumlah hewan penular rabies, namun akibat kurangnya follow up terhadap kasus yang dirawat, tidak diperoleh data akhir dari kondisi penderita yang dirawat di rumah sakit.

“Tapi, merujuk dari berbagi literatur bahwa kasus rabies umumnya berujung pada kematian, dalam hal ini setiap kasus rabies diasumsikan meninggal dunia,” tegas Teguh.

Dia mengatakan, Medan melaporkan 200 lebih kasus gigitan salah satu hewan penular rabies yakni anjing. Untuk mengurangi atau mematikan virusnya terang Teguh, usaha paling efektif ialah mencuci luka tersebut dengan sabun selama 10 menit atau lebih, kemudian diberi antiseptik.

“Namun, jika hewan yang menggigit mati atau hewan itu lari dan tidak bisa ditemukan lagi, pengobatannya harus diberikan VAR (vaksin anti rabies),” terangnya. (www.waspada.co.id – 26-10-2010)

Puluhan CPNS Datangi Kantor Bupati Nias Barat Pertanyakan NIP dan SK Pengangkatan

Monday, October 25th, 2010

*Ketua Komisi A DPRD Nias Barat: Menurut BKN Pusat 165 CPNS Yang diumumkan Bupati Nias Barat Ilegal.

Gunungsitoli – Sedikitnya 30 puluh-an CPNS formasi tahun 2009 yang dinyatakan lulus seleksi oleh Bupati Nias Barat mendatangi Kantor Bupati di Kecamatan Lahomi, Kamis (21/10) mempertanyakan NIP dan SK pengangkatan.

Mereka diterima Sekda Kab Nias Barat Zemi Gulo SH, di ruang kerjanya dan dialog berlangsung aman. Tetapi mereka merasa kecewa kepada Sekda karena tidak dapat memberi penjelasan siapa yang 165 orang dinyatakan ilegal oleh BKN pusat.

Mereka pertanyakan kenapa NIP mereka tidak diberikan oleh BKN pusat dan siapa yang dinyatakan ilegal oleh BKN pusat itu.

Sekda Kab Nias Barat Zemi Gulõ SH mengatakan, pihaknya selaku panitia penyelenggara Seleksi CPNSD Formasi Tahun 2009 telah mengusulkan sebanyak 410 orang sesuai hasil seleksi perengkinan yang dikirim oleh Poliktenik Jakarta dan usul tersebut hingga Kamis 22 Oktober 2010 belum pernah dibatalkan atau berubah.

Persoalan kenapa belum keluar NIP ia tidak berwewenang memberi penjelasan, silakan langsung bertanya kepada Bupati Nias Barat karena dia yang berwewenang memberi penjelasan serta jawaban yang lebih akurat, kata Sekda Nias Barat. Permintaan foto copy usul dari Pemerintah Kab Nias Barat akan diberikan melalui sekretaris panitia yaitu Kepala BKD Nias Barat Talizokhõ Halawa SH, katanya.

Setelah Sekda menerima peserta pemenang CPNS Kab Nias, SIB meminta tanggapannya terkait pernyataan Ketua Komisi A DPRD Kab Nias Barat bahwa menurut BKN pusat ada 165 orang dari 410 orang diumumkan oleh Pemkab Nias Barat ilegal karena ada yang tidak memenuhi perengkingan, Sekda mengatakan, yang bertanggung jawab adalah Bupati Nias Barat, silakan saja DPRD menyatakan pendapat seperti itu.

Namun hingga detik ini belum ada pembatalan pengumuman 410 orang dinyatakan lulus sesuai hasil perengkingan dan itu tetap kita perjuangkan sampai dikeluarkan NIP oleh BKN pusat karena itu merupakan hak peserta CPNS yang telah mengikuti seleksi, tegasnya.
Selanjutnya peserta CPNS mendatangi BKD untuk bertemu dengan Kepala BKD sebagai sekretaris Panitia namun tidak ada kepala BKD tetapi hanya Ka Sekretaris BKD.

Selanjutnya mereka mendatangi Kantor DPRD Kab Nias Barat, namun para delegasi tidak menemukan anggota DPRD Nias Barat karena alasan berada di luar daerah.

Ketua Komisi A DPRD Nias barat Yasiduhu Gulõ yang dihubungi SIB melalui telepon seluler, Kamis (21/10) mengatakan, telah mendatangi Kantor BKN pusat. Dari hasil pertemuan tersebut BKN pusat menyatakan bahwa ada 165 orang CPNS yang telah dinyatakan lulus oleh Pemkab Nias Barat dinyatakan ilegal atau tidak valid karena tidak sesuai nomor perengkingan yang disampaikan oleh Politekinik Jakarta sebagai penguji seleksi CPNSD.

Selanjutnya, Senin, 25 Oktober 2010 akan menggelar rapat paripurna untuk membahas masalah CPNSD siapa yang sebenarnya yang berhak menerima NIP dari BKN sesuai hasil seleksi yang dinyatakan oleh Politeknik Jakarta, dan kita tidak mau dirobah pemenang yang sebenarnya dan kita tetap mendukung hasil yang murni, katanya. (www.hariansib.com, 23-10-2010)

Korupsi APBD Langkat – Syamsul Arifin Akhirnya Ditahan

Friday, October 22nd, 2010

JAKARTA, KOMPAS.com – Setelah memeriksa kurang lebih 8 jam, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penahanan terhadap Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin, Jumat (22/10/2010). Politisi Partai Golkar itu terlihat keluar dari Kantor KPK sekitar pukul 20.00 WIB, digelandang oleh beberapa aparat keamanan dalam KPK menuju mobil tahanan yang akan mengantarnya ke ‘rumah’ barunya, Rumah Tahanan Salemba, Jakarta. (more…)

PTUN Medan Tunda Proses Pemilukada Nisel Sehubungan Gugatan

Friday, October 22nd, 2010

Medan (SIB) – Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Kamis, (21/10), menetapkan menunda proses pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) Nias Selatan melalui sidang yang dipimpin hakim ketua majelis Puji Rahayu SH MH dengan anggota Hartati SH MH dan Nasrifal SH dengan panitera pengganti Netty MS SH. (more…)