Archive for the ‘Sosok’ Category

Hekinus Manaö: “Ini Bagian dari ‘Spiritual Journey’”

Wednesday, October 27th, 2010

“Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu. Dengan apakah kubalas Tuhan, s’lain puji dan sembah Kau.’ Hekinus Manaö mengutip dan menyanyikan refrain lagu rohani itu, menyela kata-kata pamitannya pada acara syukuran dan perpisahan dengan keluarga besar, masyarakat Bawömataluo dan Nias di kediamannya di Gading Serpong, Banten, Minggu (24/10).

Hekinus mengakui, semua perjalanan dan pencapaiannya sampai saat ini, semata-mata karena pekerjaan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan memperlakukannya seperti biji mata-Nya. Di jaga dan dipelihara. “It is very wonderful. Berkat Tuhan itu luar biasa. Dia amat baik. Terus terang, Tuhan memperlakukan saya seperti biji matanya. Sangat luar biasa,” pungkas dia usai menyanyikan lagu yang mengutip ayat-ayat Alkitab (Kitab Ulangan 32:10; Mazmur 17:8 dan Zakaria 2:8) itu.

Bagi pria yang biasa dipanggil Ama Jesse tersebut, perjalanan hidup dan karirnya sampai saat ini, adalah sebuah perjalanan rohani (spiritual journey). Nuansa itu sangat terasa ketika dia merujuk pada berbagai aktifitasnya yang sering dilatarbelakangi dengan suasana yang amat memrihatinkan. Mulai dari ketika masa kecil sampai menginjakkan kaki di Jakarta pada Oktober 1973.

Nuansa spiritual itu juga dirasakan dengan kehadiran penolong sejatinya dari Tuhan, yakni sang istri, Inti Zebua ketika menempuh pendidikan selama delapan tahun di Amerika Serikat. Dengan segala keterbatasan, tanpa pembantu dan penolong, sambil kuliah harus merawat ketiga anak mereka yang semuanya kini sekolah dan kuliah di Los Angeles. “Dialah tulang rusuk sejati saya dari Tuhan,” tegas dia.

Seperti sudah banyak diberitakan di media massa, per 1 November 2010, pria kelahiran Desa Bawömataluo 54 tahun lalu itu akan menduduki jabatan prestisius sebagai Direktur Eksekutif Bank Dunia (World Bank) di Washington DC. Selama dua tahun, akan bekerja di sana bersama mantan atasannya di Kementerian Keuangan, Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang telah sekitar lima bulan menjadi Managing Director.

Dengan mereka berdua, Indonesia menempatkan dua putra-putri terbaiknya di antara total 28 top leader bank yang dipimpin Robert B Zoellick itu. Empat top leader terdiri atas Presiden Direktur dan tiga managing director, dimana salah satunya dijabat oleh SMI. Sedangkan 24 lainnya adalah direktur eksekutif yang sekaligus mewakili 185 negara. Hekinus adalah salah satu dari 24 direksi itu.

Khusus untuk posisinya sendiri, pria yang pernah berkarir di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) itu akan mewakili 11 negara. Yakni, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Nepal, Brunei dan Fiji dan Tonga di kepulauan Pasifik. Karena itu, selain tugas sebagai direksi, juga akan sering melakukan perjalanan ke negara-negara itu untuk mengetahui perkembangan pembangunannya. “Di sana saya satu kantor dengan SMI. Dia di lantai 12, saya di lantai 13. Harapan saya, kami bisa bekerja sama dengan baik sesuai harapan,” kata dia.

Full of Compassion
Kesulitan demi kesulitan tidak mendistorsi semangat dan komitmennya. Berbagai tugas diemban dan dijalankannya dengan kesungguhan. Apa pun jabatan itu, bila itu amanat dari Tuhan, maka dia yakin, semuanya akan berjalan mengalir saja. Tanpa bermaksud mengekspos diri, dia mengaku, semua koleganya di Kemenkeu tahu, dirinya tidak pernah mengejar jabatan mau pun uang. Sebaliknya, fakta menunjukkan, jabatanlah yang mengejarnya. Dan tentu saja, uang.
Bagi dia, bekerja adalah bagian dari perjalanan rohaninya. Nilai-nilai itu bekerja dan diterapkan dalam pekerjaannya. Bekerja itu harus dengan penuh cinta (full of compassion). Ketika menduduki jabatan baru pun, selalu memastikan bahwa tidak cukup hanya melanjutkan (program) yang lama, tapi juga berusaha melakukan sesuatu yang baru, yang berguna. “Saya kerja full of compassion. Penuh cinta. Mungkin akan terkesan berlebihan kalau saya mengatakan, perjalanan hidup saya, sejak SMP sampai saat ini adalah perjalanan spiritual (spiritual journey),” kata dia.

Perlahan tapi pasti, Hekinus memanen hasil kesetiaan dan kerja kerasnya. Hingga akhir bulan Oktober 2010, dia masih menjabat sebagai Inspektur Jenderal Kemenkeu. Sebuah lompatan luar biasa dari jabatan sebelumnya sebagai Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Kementerian Keuangan.

Kini lompatan luar biasa terjadi lagi. Dia mendapat kepercayaan negara dan pemerintah dengan menjadi wakil Indonesia, bahkan mewakili 10 negara lainnya menduduki posisi Direktur Eksekutif Bank Dunia. Hekinus mengaku, terkait posisi itu, dirinya tidak pernah mengajukan diri, atau pun mengikuti ujian apa pun tentang hal itu. “Justru pada 6 September 2010, saya mendapat pemberitahuan tiba-tiba untuk mempersiapkan diri untuk jabatan baru itu,” terang dia.
Dari Nias ke Washington DC

Hal yang sangat menyentuh dan memaksa menitikkan air mata terungkap ketika alumni Cleveland State University, Ohio, USA itu menjelaskan sekelumit perjalanan hidupnya, mulai dari masa kecilnya. Sama seperti kebanyakan masyarakat Nias saat itu, hidup begitu sulit. Mengacu pada masa lalu itu, dia pun memilih memodifikasi judul di milist alumni STAN yang dibuat rekan-rekannya angkatan 1976 yang menulis, “Hekinus Manaö: Dari Nias ke Washington DC.” Menurut dia, bila bicara ‘darimana’ secara lebih spesifik lagi, maka judul itu bisa diubah menjadi, “Dari Tidak Pakai Sandal sampai Memimpin Bank Dunia”.

Hal yang sangat berkesan dan membekas adalah kesulitan di masa kecil, termasuk ketika menapaki setahap demi setahap pendidikannya mulai dari Sekolah Dasar. Kala itu, dia menjalani masa kecilnya tanpa sandal. Dia ingat, setelah menginjak kelas lima, baru memiliki sandal. Bahkan, saking kagetnya dan karena tidak terbiasa, sandal itu sering terlupa atau tertinggal entah dimana.

Menginjak tingkat SMP pun juga lumayan menyedihkan. Saat itu, setiap hari minggu, bersama temannya satu sekolah harus kucing-kucingan. Perasaan gengsi dan malu selalu mengganggunya bila akan berpapasan dengan anak-anak gadis yang akan ke asrama sekolah. Sebab, setiap hari minggu sore, bersama saudara sulungnya, Asli Manaö (Ama Fika) akan ke Teluk Dalam dan tinggal di asrama. Saat berangkat dari Desa Bawömataluo, mereka harus membawa kelapa untuk dijual.

Kelapa-kelapa tersebut, harus dijual sore itu juga agar bisa membeli sebanyak empat dumba beras (takaran beras seukuran kaleng roti bulat ukuran sedang atau setara dengan delapan kaleng beras bila ditakar dengan bekas kaleng susu kental). Beras itu merupakan ‘tiket’ untuk masuk asrama dan bisa sekolah. “Terus terang saja, ada rasa malu ketemu cewek-cewek karena saya juga anak muda saat itu,” ungkapnya sambil menitikkan air mata mengenang masa-masa sulit itu.

Demikian juga ketika tamat SMP. Oleh orangtuanya, diarahkan masuk di SMA BNKP Gunungsitoli. Sedangkan abangnya, Ama Fika, diarahkan masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Alasannya, orangtua ingin agar salah satu dari mereka cepat selesai. Waktu itu, dia merasa dikalahkan, karena dengan sekolah di SMA pasti akan lama prosesnya. Sedangkan kalau SPG akan lebih cepat. Termasuk lebih cepat menikah.

Tapi ternyata, kata dia, justru dia yang lebih cepat menikah dari abangnya yang kini berpangkat perwira menengah di Polda Metro Jaya itu. Dan kini, salah satu pimpinan Bank Dunia itu adalah lulusan SMA BNKP. “Jadi bisa dikatakan, ‘Dari SMA BNKP ke Bank Dunia’,” pungkas dia.

‘Ke Jakarta Aku kan Kembali’
Mengemban jabatan presitius dengan tugas berat, tidak menyebabkan anak kedua dari tujuh bersaudara itu kehilangan selera humor, juga makanan khasnya. Itu sebabnya dia mengaku merasa sedih meninggalkan Indonesia. Selama dua tahun ke depan, kata dia, akan berpisah, di antaranya, dengan bulu gowi farasi (sayur daun singkong) dan bulu mbala (sayur daun pepaya).

Banyak hal juga harus kembali dibiasakan. Misalnya, bila selama ini sang istri tidak perlu memasak, maka di Washington DC harus memasak sendiri. Bila selama ini di Jakarta kemana-mana di antar supir pribadi, kenikmatan itu sudah tidak ada. Harus nyetir sendiri, bahkan harus ikut tes untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) di sana.

Berpisah dengan tukang cukurnya, seorang pria asal Leuwiliang, juga adalah salah satu sumber ‘kesedihan’nya. Telah bertahun-tahun menjadi spesialis tukang cukurnya. Hekinus merasa akan kehilangan karena memiliki kebiasaan aneh, setiap kali cocok dengan satu merek atau seseorang, maka tidak akan beralih kemana-mana. Dia pun mengaku telah mengadakan acara perpisahan dengan sang tukang cukur dengan menggelar ‘ritual’ cukur terakhir. Dia pun berharap, bila kembali ke Indonesia dua tahun mendatang, masih bisa bertemu.

Suasana campur aduk itu sangat membekas. Membuatnya tidak bisa melupakan Indonesia. Tak heran, pada bagian akhir kata-kata pamitannya, Hekinus bersama istri menutupnya dengan lantunan lagu “Ke Jakarta Aku ‘kan Kembali.” (Etis Nehe)

Apa Kata Mereka ?

‘Capaian Karir Tertinggi Putra Nias’ sejauh ini …

Mewakili masyarakat Nias pada acara perpisahan itu, Brigjen Christian Zebua mengatakan, posisi Hekinus di Bank Dunia itu, merupakan pencapaian karir tertinggi yang pernah diraih oleh putra Nias sejauh ini. Karena itu, penugasan oleh negara ke Bank Dunia itu merupakan kebanggaan luar biasa bagi masyarakat Nias, selain bagi bangsa dan negara.

Perjuangan Hekinus, sejak kecil sampai saat ini, kata dia, layak menjadi teladan bagi generasi muda masyarakat Nias. Bahwa segala sesuatu bisa dicapai asal memiliki tekad. Apa pun yang dikerjakan, dalam profesi apapun, harus digeluti secara profesional. Berada di profesi mana pun, keberadaan itu harus bisa dirasakan oleh sekitar.

“Bapak Ama Jesse mengatakan, dia tidak mengajukan diri. Tapi dia diminta dan ditempatkan karena profesional di bidangnya. Di mana dia ada, di situ dia berbuat sesuatu yang luar biasa. Ini contoh bagi kita. Bahkan, anak-anak Nias lainnya, harus bisa lebih tinggi dari capaian ini. Kita jangan berpuas dengan yang ada saat ini,” kata dia.

Pernyataan senada disampaikan Waspada Wau, yang mewakili keluarga besar dan masyarakat Bawömataluo. Berbicara dalam bahasa daerah dengan dialek Teluk Dalam, dia mengatakan, pencapaian sebagai pimpinan di Bank Dunia ini bukanlah karena cita-cita tapi sebagai konsekuensi dari segala sesuatu yang diperjuangkan selama ini sehingga dia mendapat penghargaan.

Dia mengaku sebagai salah satu saksi hidup bagaimana Hekinus jungkir balik dalam perjuangannya. Dia ingat, suatu kali, ketika masih sekolah di Nias. Hekinus akan ujian besok sore pada pukul 17.00. maka mulai pukul 17.00 hari ini, memulai belajarnya. “Saat itu dia minta kami untuk mo’ana’aisi ya’ia (merondainya). Siapa tahu dia pingsan karena kecapaian. Jadi kami bergantian menjaga dia,” ungkap sepupu kandung Hekinus itu.

Pesan utama dari semua cerita sukses itu, kata dia, bahwa kini, dalam keluarga, dan komunitas masyarakat Nias, sudah ada sosok teladan. Tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Karena itu, keluarga sangat berbahagia dan tidak merasa kehilangan bila harus pergi jauh untuk beberapa saat ini. Bahkan diharapkan, sekembali dari sana, bisa lebih meningkat lagi dan lebih lagi dalam hal menjadi saluran berkat Tuhan, bagi keluarga, bangsa dan negara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nias Online, ternyata, Hekinus juga bukan tipe pejabat aji mumpung dalam memanfaatkan fasilitas jabatannya. Dia tidak memanfaatkan fasilitas pengawalan yang melekat pada jabatannya. Baik untuk dirinya, mau pun untuk keluarganya.

Bagi ponakannya, Yediel Lase, Hekinus meninggalkan kesan mendalam sebagai pekerja keras. Yediel yang juga alumni STAN tersebut mengungkapkan, setiap hari, pamannya berangkat ke kantor pukul 5.30 Wib dan selalu tiba di kantor sebelum para bawahannya tiba. Sebaliknya, juga pulang paling akhir, bahkan seringkali larut malam. “Bahkan, terkadang kita yang menunggu di rumah sudah tidur duluan sebelum paman pulang,” ungkap dia.

Meski sangat sibuk, ternyata Hekinus selalu menyisihkan waktu untuk berolahraga. Tidak salah bila penampilannya terlihat berstamina dan segar. Setiap pukul 05.00 melakukan lari pagi dan setiap minggu pagi bermain tenis meja.

Pria yang kini bertugas di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jayapura tersebut mengatakan, meski menduduki posisi strategis di Kemenkeu, pamannya bukan tipe orang yang memanfaatkan posisinya untuk kepentingannya, keluarganya dan saudara-saudaranya. “Misalnya, berusaha untuk memasukkan saudaranya, ponakan atau kenalan ke instansi tersebut tanpa melalui prosedur yg normal dan fair,” jelas dia. (Etis Nehe)

***
Nama: Dr. Hekinus Manaö, Ak., CFGM
Tempat, Tgl Lahir: Bawömataluo, 14 Juli 1956
Status: Menikah
Istri: Inti Zebua
Anak-anak: Jesse Manaö, Elisabeth Manaö, Jeremy Manaö

Pendidikan:
1984: Diploma IV Bidang Akuntansi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jakarta
1981-1986: Fakultas Ekonomi Ekstensi, Universitas Indonesia
Fall 1990: Master of Accountancy, Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio USA
1995: Pendidikan Doktoral bidang studi Business Administration (Major: Accounting; Minor: Finance & Information
Systems, Cleveland State University, Ohio USA

Jabatan
Terhitung mulai 1 Nov 2010: Direktur Eksekutif Bank Dunia
12 Agst 2008-31 Okt 2010: Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan
2006-2008: Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Ditjen Perbendaharaan, Kemenkeu
2004-2006: Direktur Informasi dan Akuntansi, Ditjen Perbendaharaan, Kemenkeu
2003-2004: Kepala Pusat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Badan Akuntansi Keuangan Negara, Kemenkeu
2008–sekarang: Inspektur Jenderal, Departemen Keuangan
2005-sekarang: Komisaris PT Kereta Api (Persero)
2003–sekarang: Anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan, Ikatan Akuntan Indonesia
2002–sekarang: Anggota Komite Standar Akuntansi Pemerintahan
2005–sekarang: Anggota Tim Kerja & Ketua Tim Pengadaan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara
2004–sekarang: Ketua Tim Pelaksana State Audit Reform Project
2005–sekarang: Wakil Ketua Tim Pelaksana Local Government Finance & Governance Reform Project
2005–sekarang: Anggota Tim Kerja Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah
2005–sekarang: Liaison Officer pada Dewan Pengarah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias
2006–sekarang: Anggota Tim Penilai Aplikasi BLU
2007-sekarang: Anggota Dewan Pengawas Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta
Maret 1998–sekarang: Staf Pengajar dan Dosen Pembimbing Program Doktor Pascasarjana Studi Manajemen, Universitas Indonesia
Maret 1998–sekarang: Staf Pengajar Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Univ. Indonesia
2006–sekarang: The European Institute of Advanced Studies in Management

Keterangan Gambar: 1. Dr. Hekinus Manaö, 2. Hekinus Manaö dengan istri, Inti Zebua.

Tulisan Terkait:
Hekinus Manaõ, Karakter “õ/ö”, dan Kompas

Johannes Maria, Pastor yang Berjuang Menghidupi Museum Nias

Tuesday, June 15th, 2010

*Tak Rela Benda-Benda Pusaka Dijual ke Luar Pulau

Oleh: SUGENG SULAKSONO

PASTOR Johannes Maria Hammerle OFMCap diakui masyarakat Nias jauh lebih Nias dibanding warga Nias. Agamawan asal Jerman itu bahkan termasuk budayawan paling berpengaruh di pulau tersebut. Kini, banyak kalangan di Nias yang mulai resah seiring kerapnya pastor 69 tahun itu sakit.

Pada 12 Mei 2010, para staf Museum Pusaka Nias panik. Termasuk 24 mahasiswa IKIP Gunungsitoli yang sedang magang. Pastor Johannes tiba-tiba jatuh sakit dan membutuhkan perawatan secepatnya.

Rumah Sakit Gunungsitoli di Kepulauan Nias tidak memungkinkan menampung pastor sepuh itu. Selain tenaga medisnya kurang, fasilitas di rumah sakit tersebut relatif terbatas.

Karena itu, atas bantuan sebuah organisasi internasional yang masih bermarkas di Kepulauan Nias pascagempa dan tsunami 2004, Johannes akhirnya diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Penang, Malaysia.

“Saya dirawat 12 hari di sana,” kata pastor kelahiran Housach Schwartwald (Blackforest), Jerman, 1941, tersebut saat ditemui di Museum Nias, Gunungsitoli, akhir pekan lalu.

Johannes tidak menjelaskan detail penyakit yang diderita. Dia hanya mengaku baru saja menjalani operasi prostat. Dari kejadian itu, seluruh pengelola Museum Nias seluas 2 hektare yang dilengkapi taman bermain dan koleksi beberapa binatang khas Nias tersebut mulai khawatir.

“Bukan saya yang khawatir. Mereka, staf museum, yang khawatir. Bagaimana ini kelanjutan museum kalau si Johannes sudah tidak ada,” ungkap Johannes yang lumayan fasih berbahasa Indonesia.

Sebagai gambaran, dia bercerita bahwa mantan Wakil Presiden Adam Malik dulu pernah mendirikan museum keramik yang besar dan megah. “Di mana (museum keramik) itu sekarang setelah Adam Malik meninggal” Jadi, mereka (staf Museum Nias) juga khawatir seperti itu,” tuturnya.

Dari kekhawatiran para karyawan museum itulah, Johannes berpikir bahwa museum satu-satunya yang mendokumentasikan dan menampung benda-benda bersejarah kepulauan berpenduduk sekitar 900 ribu jiwa tersebut harus tetap ada. “Karena itu, kami pun berharap ada ide agar museum dengan anggaran minus itu bisa terus berlangsung,” katanya.

Tidak ada dana tetap untuk pengelolaan Museum Nias yang halaman belakangnya langsung bersentuhan dengan laut Indonesia tersebut. Kecuali, bantuan dari kakak ipar Johannes di Jerman yang setia mengirimkan dana pensiunnya sebesar 60 euro (sekitar Rp 670 ribu, Red) setiap bulan. “Padahal, dia hidup sangat sederhana. Tapi, dia tetap kirim uang untuk bantu museum ini,” ucapnya.

Pemerintah daerah yang terdiri atas lima kabupaten di Kepulauan Nias tidak menganggarkan secara rutin untuk museum itu. Sejak didirikan pada 1990, tercatat hanya tiga kali dana segar mengucur dari pemerintah daerah. Itu pun setelah pengelola museum mengirimkan proposal ke pemda. Jumlahnya Rp 25 juta, Rp 200 juta, dan Rp 75 juta.

Uang yang didapat dari pengunjung museum juga tidak bisa diharapkan. Pada akhir pekan, museum bisa mendapatkan pemasukan Rp 1,5 juta dari penjualan tiket seharga Rp 2.500 per orang. “Itu sudah paling hebat ya,” ujar Johannes lantas tersenyum.

Dia merasa, salah satu daya tarik museum terletak pada taman bermain yang dilengkapi koleksi binatang seperti buaya, burung laut, kera, dan musang. Taman bermain itu mengundang orang untuk berkunjung ke museum tersebut. “Mereka mungkin bilang, untuk apa lihat benda mati?” tuturnya.

Begitulah, kata Johannes, sangat sulit menciptakan kesadaran dan kepedulian masyarakat setempat untuk mencintai serta mempelajari budaya sendiri. “Dulu di sini ada forum masyarakat peduli museum supaya masyarakat Nias punya rasa memiliki. Ini museum punya warga, bukan museum milik pastor atau museum Katolik. Kami tidak pernah bilang ini punya Katolik.”

Banyak warga yang enggan menitipkan benda bersejarahnya di Nias karena berpikir bahwa museum itu milik Johannes atau milik umat Katolik. “Begitu pula yang saya rasakan ketika saya minta bantuan polisi lima tahun lalu. Polisi tidak bersedia menitipkan batu megalit yang disitanya ke museum ini. Katanya harus ada izin dari jaksa agung di Jakarta,” keluh Johannes.

Membangun museum bukanlah sesuatu yang direncanakan Johannes. Terlebih, sebelum menginjakkan kaki di Tana Niha “sebutan masyarakat Nias yang berarti kampung halaman kita?, dia tidak pernah mengetahui Kepulauan Nias itu seperti apa.

Johannes tiba di Nias pada 1971 sebagai misionaris. Dia diutus gerejanya di Jerman untuk menggali ilmu di tanah seberang. “Sebenarnya, kalau boleh memilih, saya pilih Sumatera. Tapi, ini sudah panggilan buat saya,” ujarnya.

Pada 1971, Nias masih sangat tertinggal. Bahkan, sampai saat ini pun belum mengalami kemajuan yang signifikan. Karena itu, kata Johannes, dalam menjalankan tugasnya dari satu desa ke desa lain, dia membutuhkan perjalanan yang sangat lama dengan berjalan kaki.

Perjalanan awal Johannes adalah di daerah Teluk Dalam, ujung paling selatan pulau tersebut. Sembilan tahun lamanya dia mengabdikan diri di kawasan yang juga dekat dengan budaya lompat batu tersebut. “Setiap malam saya menginap di rumah penduduk dan banyak bertanya. Seperti anak kecil, saya ingin tahu tentang ini dan itu,” kenangnya.

Dari banyak pertanyaan tersebut, dia mendapat banyak jawaban, sehingga terkumpul pelajaran sejarah tentang masyarakat Nias, termasuk benda-benda peninggalannya. Satu per satu warga Nias yang memiliki benda peninggalan memperlihatkannya kepada Johannes.

“Kebetulan, waktu saya studi teologi, dosen saya dulu adalah Paus Benediktus sekarang. Dia memberikan kuliah tentang Konsili Vatikan di Roma tentang keterbukaan terhadap suku dan budaya di dunia dan itu masuk ke kepala saya,” tuturnya.

Dari berbagai benda yang ditunjukkan masyarakat, Johannes mulai mengumpulkan artefak-artefak itu. Tidak jarang dia harus membelinya.

Faktanya, kata Johannes, memang banyak benda bersejarah dan bernilai tinggi dari Nias yang dibawa ke luar pulau, terutama ke Medan.

Dia sering menemukan benda berharga milik warga dan dirinya diminta untuk membayar. Beberapa minggu saja terlambat, benda itu pasti sudah terjual di seberang pulau. “Misalnya, di Brussels (Belgia), ditawarkan batu megalit dari Nias seharga 450 ribu euro. Karena itu, orang di sini lalu tergiur untuk menjual megalitnya,” terang Johannes.

Melihat fenomena seperti itu, dia semakin khawatir bahwa semakin lama Nias kehabisan benda bersejarah yang sebenarnya sangat penting untuk dipelajari generasi penerus. Fenomena itu juga membuktikan bahwa banyak warga Nias yang tidak peduli pada kebudayaan sendiri.

Sempat suatu hari saat belum ada transportasi umum di Nias, Johannes mendapat kayu ukiran sepanjang 10 meter dengan lebar satu meter dan tebal hampir 50 cm. Ukiran itu menggambarkan interaksi masyarakat Nias pada masa lalu.

Untuk membawa kayu tersebut dari pedalaman di Teluk Dalam menuju Gunungsitoli, dibutuhkan waktu sebulan dan diangkat 10 orang. “Kayu dihanyutkan lewat sungai, sempat menyangkut sebelum sampai ke laut. Lalu, dinaikkan perahu,” jelasnya.

Setelah beberapa benda terkumpul, Johannes meminta bantuan beberapa pihak, termasuk persekutuan gereja. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan museum di Gunungsitoli.

“Sempat diusulkan untuk didirikan di Teluk Dalam karena di sana banyak turis. Tapi, museum ini bukan untuk turis, namun untuk generasi muda Nias. Karena itu, lalu diputuskan di Gunungsitoli karena masyarakatnya lebih banyak dan ada sekolah tinggi,” paparnya.

Pembangunan museum ditangani arsitek asal Swiss, Prof Alain M. Viaro, tapi menggunakan tenaga kerja sepenuhnya masyarakat Nias. “Kebanggaan juga buat masyarakat Nias karena waktu terjadi gempa, museum itu hanya sedikit retak di tengah. Kecuali artefak berjatuhan dari tempatnya,” ungkap Johannes.

Di lokasi museum juga didirikan empat rumah adat dengan tipe yang berbeda. Tujuannya, masyarakat tidak merasa kolot jika merehab rumah adat. Saat ini mulai terlihat bahwa masyarakat sedikit demi sedikit meninggalkan rumah adat yang khas terbuat dari kayu tanpa paku tersebut. “Jadi, museum itu sangat berarti bagi masyarakat Nias dulu, sekarang, dan yang akan datang,” tegasnya.

Sementara itu, mantan Wakil Bupati Nias Agus Mendrofa mengaku malu melihat kenyataan bahwa orang Jerman justru lebih peduli terhadap budaya Nias. “Ini sungguh ironis. Kami saja yang sekarang berusia 50 tahun sudah banyak yang tidak peduli. Bagaimana nanti anak cucu kita?” ujarnya.

Dia menyatakan, muatan lokal dalam pendidikan bagi pelajar di Nias perlu ditambah agar kecintaan terhadap budaya daerah juga meningkat. “Pakar kebudayaan Rumbi Mulia mengatakan, Nias itu satu-satunya budaya megalitik tertua di dunia,” tuturnya.

Bukti bahwa masyarakat lokal mulai tidak mencintai peninggalannya, kata Agus, terlihat di Kecamatan Gomo, sebuah desa yang diyakini sebagai asal mula masyarakat Nias. Banyak batu yang bernilai sejarah yang telantar.

“Sangat ironis. Justru orang Jerman, bukan kami atau orang kami yang di seberang. Justru orang Jerman yang tertarik dan terpanggil jiwanya untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah,” tutur pemilik Miga Beach Hotel di Gunungsitoli itu.

Sama seperti kekhawatiran para karyawan museum, Agus tidak bisa membayangkan seandainya Johannes meninggal. Belum terbayang kelanjutan museum itu. “Kami harus terbeban. Tidak mungkin yang bangun rumah kami adalah orang lain, pasti kami. Begitu juga budaya kami, harus kami yang merawat,” tegasnya.(www.jpnn.com – 12 Juni 2010)

dr. Ria Telaumbanua, MKes, Putri Nias Yang Bertarung Menuju Siantar 1

Monday, June 7th, 2010

Pilkada Kota Siantar akan dilangsungkan pada Hari Rabu, 9 Juni 2010. Dalam waktu yang sudah sangat dekat ini, ada bagian yang perlu menjadi perhatian kita bahwa salah satu pasangan dari 10 paket yang maju dalam Pilkada Kota yang dikenal sangat dinamis, keras dan khas karakter masyarakatnya, adalah seorang putri Nias, ono niha, ikut dalam pertarungan ini. Dia adalah dr. Ria Telaumbanua, MKes, sebagai satu-satunya perempuan calon Walikota Siantar.

Menjelang hari H, sangat diperlukan dukungan dan doa restu bagi dr. Ria Telaumbanua, MKes (Calon Walikota) berpasangan dengan Drs. Suriyatno (Calon Walikota) pada Pilkada Kota Pematang Siantar dengan Visi Paket No. Urut 5 : “RIA-SURYA Berjuang Untuk Semua menuju Siantar Beriman dan Sejahtera Untuk Semua”. Ditengah persaingan yang ketat, dan sangat diwarnai dengan taburan hadiah materi dan janji-jani bagi calon pemilih, pasangan ini melaju sederhana dengan ciri-nya sendiri dilandaskan dengan Motto : “Sapangambei Manoktok Hitei” (Seiring, seirama, bekerjasama untuk membangun”, dan berprinsipkan etos berkarya : “Panggomgom-Parhobas” (Pemimpin adalah Pelayan”). Pasangan ini tidak gentar dengan hiruk-pikuk kegiatan politik praktis dari paket lain, namun dengan pasti dan penuh kasih berusaha menjangkau masyarakat Siantar setahap demi setahap dengan penuh kasih dalam berbagai bentuk pelayanan sosial.

Menarik untuk melihat siapakah dr. Ria, di bawah ini adalah profil siangkatnya.

dr. Ria Novida Telaumbanua, MKes, dilahirkan di Pematang Siantar, 23 November 1961, di Rumah Sakit Umum P.Santar, yang kemudian hari menjadi tempatnya berkarya.

Dari kecil diajarkan orang tua untuk rajin beribadah dan melayani sehingga sampai hari ini tetap aktif dalam kegiatan gerejawi dan sosial. Ia menikah dengan Eddy Wismo Simanjuntak, seorang pengusaha di Medan, dan memiliki 3 putra/putri. Dr. Ria adalah putri pertama dari (Alm) Drs. F.Telaumbanua/Ama Ria asal dari Gamo, Gunung Sitoli-Nias dan Dra. R.L Poerba Pakpak , suku Simalungun dari Siantar. Sebagaimana kakeknya, yang dikenal sebagai Guru Ama Hese Telaumbanua maka pendidikan menjadi prioritas utama bagi keluarga besar dr.Ria. dr. Ria juga menjadi putri angkat dari Drs. S.Is. Sihotang dan Mutiara Permata br. Simamora, mantan Bupati Dairi dan diberi tambahan marga br. Sihotang.

Pendidikan SD sampai SMP ditamatkan di Taman Asuhan Pematang Siantar dengan predikat juara kelas, dan demikian juga saat pendidikan lanjutan di SMA Negeri 1 Medan. Lulus kesarjaan S-1 dari Fakultas Kedokteran USU tahn 1974 sebagai dokter, S-2 Master of Hospital dari Institute Of Managenet Studies Singapore, tahun 2000, dan Magister Epidemologi dari Fak Ilmu Kesehatan Masyarakat Pasca Sarjana USU Meda, tahn 2004 dengan predikat Cum Laude

dr.Ria pernah menjadi Kepala Puskesmas Pancur Batu tahun 1995-2001, Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular Kab. Deli Serdang tahun 2001-2005, Dosen Luar Biasa pasaca Sarjana IKM USU 2005-2006, dan Direktur RSUD dr. Djasamen Saragih. Pematang Siantar tahun 2006 – 2008. dr. Ria juga menjadi Surveiyor Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia, DepKes RI, tahun 2006-sekarang. Dan dr. Ria juga menjadi Wakil Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Propinsi Sumatera Utara (2008 – sekarang)

dr. Ria menulis buku “Reforming Ghost Hospital To A Loving One, tahun 2008 sebagai pengalaman berkarya di RSU Djasaman Saragih P.Siantar serta strategi reformasi yang dilakukannya di RSU tersebut hingga dapat membawa RS ini mendapatkan prestasi sebagai RS Model Akreditasi di Indonesia pada tahun 2008, dan mendapatkan PERSI Award sebagai Juara III Inovasi Manajemen Tingkat Nasional tahun 2008. Penghargaan yang pernah diterima adalah sebagai Dokter teladan Tkt Deli Serdang tahun 1996, Dokter Teladan Tkt Prop. Sumatera Utara tahun 1996, Citra Wanita Pembangunan Indonesia, Jakarta Tahun 2007, Salah satu dokter dari 260 Dokter Berprestasi di Indonesia oleh IDI tagun 2008, dan 100 Dokter terbaik di Indonesia versi Majalah Campus Asia Tahun 2009.

Kalah dan menang, hanya dua gendang dari sebuah pertarungan. Menang sudah siap, kalaupun tak masalah karena hal itu menjadi bagian kehendak Tuhan. Yang lebih penting adalah bagaimana bisa berpartisipasi dalam proses melakukan perubahan yang nyata bagi kota Siantar. Demikian penjelasan, Esther GN Telaumbanua SE (Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit), yang adalah adik kandung dari dr. Ria. “Proses itu yang penting”, tambahnya Esther. “Di bagian ini, dr.Ria, kakak saya sangat gigih dalam berjuang untuk merealisasi visi-misinya. Ini adalah panggilan bagi dr.Ria, ono Niha, yang berkarya bagi kota Siantar, kota kelahiran kami, dan dimana dulu papa dan mama kami pernah hidup dan juga telah berkarya.”.

Kegigihan dan daya juangnya, merupakan kebanggaan dan menjadi inspirasi bagi perempuan Nias untuk maju dan mengaktualisasikan dirinya. Kiranya, apapun hasilnya, dr. Ria telah menoreh sejarah itu. Ya’ahowu. (egnt)

Foto 1 – Ria Telaumbanua, Foto 2: Esther bersama Ria Telaumbanua.

Bangga Putri Nias Kuliah di Kedokteran

Thursday, December 18th, 2008

Putri Nias sekarang lebih hebat, kesempatan terbuka, saya bangga! Demikian diungkapkan Dr. Linny Niaty Daely, M.Kes. melihat banyaknya putri Nias kuliah di fakultas kedokteran. Dalam catatan Nias Online, dari 18 orang bibit unggul penerima beasiswa BRR di FK-UGM, ada 11 putri (mahasiswi). Selain itu, sejumlah putri Nias lulus seleksi penerimaan mahasiswa jalur umum, saat ini mereka menekuni studi kedokteran dengan biaya mandiri di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “Hal ini membuktikan putri Nias bisa sekolah, tidak cepat-cepat kawin”, kata Dr. Linny Niaty Daely, M.Kes. yang bertugas di Puskesmas Medan Deli, Kota Medan. (more…)

Keteguhan Hati Dokter Kanserina

Saturday, January 5th, 2008

KOMPAS – 31 Desember 2007

Tidak banyak orang mengambil pilihan sulit. Merelakan kepentingan sendiri, hidup jauh dari keluarga. Meski pilihan hidup “lebih baik” itu bisa diambil, dokter Kanserina Esthera Dachi memilih lain. (more…)

Guru Ahmad Tarzim Telaumbanua: Terbaik Dua Nasional Lomba Penulisan Pusat Perbukuan Nasional

Friday, November 30th, 2007

* Dalam kumpulan puisi “Kau Kupanggil Anak Manis”

Sosoknya sederhana, seperti guru desa lainnya. Lahir dan besar di Nias, tepatnya Desa Sifahando Kecamatan Tuhemberua, 39 tahun yang lalu. Tempat yang jauh di sudut utara pulau Nias tersebut, tidak membuat sang guru kehilangan motifasi untuk berkarya. Tepatnya di pengingatan Hari Guru Nasional 22 November 2007, Guru alumni SPG Gunungsitoli tahun 1988 ini dipanggil ke Jakarta oleh Pusat Perbukuan Nasional Depdiknas untuk diuji dan dievaluasi hasil karyanya dan kemudian diterbitkan. (more…)

Hikayat Musik Batu Bawömataluo

Tuesday, July 31st, 2007

SEJAK bertemu kembali medio Oktober 2004 dengan etnomusikolog Rizaldi Siagian, Hikayat Manaö tak bisa tidur nyenyak. Pasalnya, seniman Nias ini mendapat amanat dari Siagian menciptakan musik batu untuk konser multimedia Megalitikum dan Kuantum, Kompas Musik Indonesia yang dijadwalkan akhir Juni 2005 di Jakarta merayakan hari lahir ke-40 Harian Kompas. (more…)

Fransiskus T. Lase: Mantan Bintang Bola Voli Sumatera Utara

Tuesday, July 17th, 2007

Penampilanya sederhana dan rendah hati, tinggi badannya tidak merefleksikan sosok pemain bola voli yang ideal dan tangguh. Namun sosok yang terkesan serba sederhana ini pernah melukis prestasi luar biasa bagi Nias pada zamannya: menjadi pemain terbaik bola voli tingkat Sumatera Utara dan menjadi orang Nias pertama yang terjun dalam Pekan Olah Raga Nasional, memperkuat kontingen bola voli Sumut pada PON VII di Surabaya, tahun 1969. (more…)

Pelari Mari Yusuf Gulö Rebut Tiket PON XVII/2008

Wednesday, April 11th, 2007

*PASI Sumut Gelar Seleksi Popnas dan Porwil pada 14-15 April

Medan, (Analisa)

PASI Sumut kembali menuai prestasi, menyusul keberhasilan pelari Mari Yusuf Gulo memastikan tiket tampil di PON XVII/2008 di Kaltim. (more…)

Mari Mengenal Pemberita Injil di Tanö Niha

Monday, January 22nd, 2007

Berikut ini adalah cuplikan tulisan dari buku “Misionar dan Utusan Misi Jerman ke Nias (1865-2001)” mengenai E.L. Denninger. Artikel ini dikutip persis dari buku yang telah diterbitkan namun tanpa memuat foto dokumentasi karena keterbatasan ruangan ini.

Denninger pernah menerbitkan buku pelajaran sekolah khusus untuk Ono Niha pada tahun 1870, dimana buku ini layaknya sebagai buku pedoman mengenal abjad, belajar membaca dalam bahasa Nias. Judulnya: Nowi Huno Lihede, Hulo Niha, Eerste Schoolboekje, Batavia 1870. Semoga bermanfaat buat semua pembaca dan secara khusus bagi umat Kristen dari kepulauan Nias. (Noniawati Telaumbanua)
(more…)

Yosa Menduniakan Nias

Wednesday, December 20th, 2006

Djoko Poernomo

Seandainya tak ada situs internet niasisland.com, keberadaan Pulau Nias di Samudra Hindia yang berjarak 85 mil laut dari Pulau Sumatera itu kemungkinan tak bakal mendunia seperti sekarang ini. (more…)

Noni Telaumbanua, Putri Nias, Penulis Buku Tentang Nias

Thursday, March 23rd, 2006

Di tengah kelangkaan minat masyarakat Nias untuk mendalami dan menekuni secara serius hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan sejarah Nias, kehadiran Noni Telaumbanua di bidang ini sedikit melegakan. Noni, alias Ina Sara, yang kini sedang studi di Jeman, telah menulis cukup banyak buku tentang Nias, menyangkut berbagai topik. Untuk mengetahui lebih jauh siapa putri Nias ini dan pendapatnya tentang berbagai hal, E. Halawa* dari Nias Portal melakukan wawancara jarak jauh lewat email dengan Noni. Hasil wawancara tersebut ditayangkan berikut ini. (more…)

Ama Ziduhu Waruwu: Tokoh Adat Nias yang Rendah Hati dan Antusias

Tuesday, March 7th, 2006

Setiap kali diajak berbicara tentang Hada Nono Niha (Adat Nias), Bapak Ama Ziduhu Waruwu selalu menunjukkan antusiasme yang tinggi. Beliau (yang biasa dipanggil Amada Talu oleh generasi yang lebih muda) selalu saja siap melayani permintaan untuk mendiskusikan Hada Nono Niha. Demikian juga ketika awal Januari 2006 yang lalu, penulis meminta beliau untuk menjadi narasumber adat Nias, khususnya adat Negeri Botomuzöi (Hada Nöri Mbotomuzöi). (more…)

M. Bu’ulölö: Menghimbau Perhatian Dunia Luar Bagi Nias

Saturday, February 4th, 2006

Ketika bencana tsunami melanda Nias dan menelan begitu banyak korban dan meninggalkan penderitaan bagi ribuan orang Nias, masyarakat Nias dari berbagai penjuru tanah air aktif berbuat sesuatu – berdoa, menyumbang dalam bentuk uang, mendirikan “posko-posko” bantuan, dan sebagainya. Tidak sedikit juga yang menyebarkan berita “duka” ini kepada dunia luar dalam berbagai bentuk usaha. (more…)

Eben Hia: Sosok Putra Nias Berprestasi

Wednesday, December 14th, 2005

Ono Niha memang telah memiliki wak tu yang tepat untuk memperlihatkan eksistensinya. Kenyataan berbicara bahwa kita tidak perlu berkecil hati, malah sebaliknya berbangga hati dan bertekad mendobrak apa yang dianggap orang selama ini sebagai “suatu ketertinggalan” atau “suatu keterlambatan”. (more…)