Archive for April, 2010 | Monthly archive page
Pangdam I/BB: Awasi Pulau-Pulau di Nias
Sunday, April 4th, 2010Sibolga — Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan (BB) Mayor Jenderal (Mayjen) TNI M Noer Muis menginstruksikan personelnya menyelidiki kebenaran kabar bahwa Pulau Asu di Nias Barat dan Pulau Sinaranu di Nias Selatan dikelola Warga Negara Asing(WNA).
Menurutnya, penguasaan dan pengelolaan pulau terluar Indonesia wajib diwaspadai dari segi ketahanan dan pertahanan negara. Makanya,aparat TNI di Nias harus mengawasi aktivitas orangorang asing yang ada di pulaupulau terluar, terutama di kedua pulau tersebut. “Saya menginstruksikan personel TNI untuk menyelidiki kebenaran dari laporan warga karena wajib diwaspadai,†tegas Noer Muis kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Sibolga, kemarin. Seperti diketahui, informasi yang diterima SI dari warga menyebutkan, orang yang mengusai Pulau Asu adalah dua WN Brasil, Hendrike dan Alex. Mereka bersama Steve,WN Amerika Serikat dan Canna,WN Australia.
Sedangkan Pulau Sibaranu di Nias Selatan dikuasai WN Australia lainnya yang identitasnya belum diketahui Pangdam mengatakan, jika aktivitas WNA dinilai telah membahayakan dan mengancam keutuhan NKRI, maka TNI akan berkoordinasi dengan intelijen dan selanjutnya dengan kementerian luar negeri untuk memproses orang-orang asing tersebut. Namun sejauh ini, dia belum mendapatkan laporan tentang adanya orangorang asing yang melakukan aktivitas menjurus pada membahayakan keutuhan negara ataupun terorisme. Meski demikian,dia tetap memerintahkan anggota TNI untuk terus memantau yang memperketat pengamanan pulau-pulau terluar. Pria berdarah Aceh ini menegaskan, secara aturan, orang asing itu tidak diperbolehkan untuk menguasai pulau-pulau di Indonesia.
Kalupun sudah ada kerja sama, harus didasarkan pada aturan dan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Kerja sama pengelolaan tidak boleh lari dari ketentuan yang ada serta diketahui oleh aparat keamanan. Sebab, sangat rentan dengan penyalah gunaan kewenangan dalam pengelolaannya. Pemerintah daerah, dalam melakukan kerja sama, tidak dapat hanya melihatnya dari satu sisi. Meskipun akan memberikan nilai tambah bagi pendapatan daerah. Tapi, pemerintah daerah juga harus memperhatikan segi lain seperti ketahanan dan keamanan wilayah. “Kalau kerja sama jangan hanya melihat keuntungan daerah saja pendapatan saja.
Harus dipikirkan juga pertahanan dan keamanan negara,†katanya. Sebagian pulau-pulau terluar yang ada di wilayah Kodam I/BB itu berbatasan langsung dengan negara-negara lain, seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Karena itu wajib diwaspadai jika pihak asing mengelolanya. Kunjungan Pangdam I BB bersama rombongan ke Perairan Pantai Barat Sumut, salah satunya adalah melihat kondisi pulau-pulau terluar dan melihat keindahan bahari perairan pantai barat Sumut. Menurut dia, pulau-pulau terluar harus dijaga sekecil apapun pulau itu harus dijaga tidak boleh lepas dari pangkuan NKRI. Dia tidak ingin kasus lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan terulang kembali.
Seorang nelayan asal Sibolga, Amin, mengaku sejak dua pulau di Nias dikelola orang asing, nelayan tidak boleh mendekat ke pulau-pulau tersebut, sehingga tidak bisa leluasa untuk mencari ikan atau untuk sekedar singgah. Apalagi sejak banyaknya villa dibangun di pulau tersebut, aktivitas orang asing seakan tidak boleh diketahui warga lokal. “Kami tidak bisa leluasa lagi ke sana. Apalagi sejak banyak villa dibangun di pulau tersebut,†ujarnya.
(seputarindonesia, surftrip)
Vacancy as Area Coordinator in Lahewa from ACTED France
Saturday, April 3rd, 2010Department: Human Resource
Position: Area Coordinator
Contract duration: 12 months (renewable)
Location: Lahewa, Nias
Starting Date; 01.04.10
Closing Date: 30.04.2010
I. Background on ACTED
ACTED (Agency for Technical Cooperation and Development) is an independent international, private, non-partisan and non-profit organization that operates according to principles of strict neutrality, political and religious impartiality, and non discrimination.
ACTED was created in 1993 to support populations affected by the conflict in Afghanistan. Based in Paris, France, ACTED now operates in 25 countries worldwide, with over 160 international and 2500 national staff. ACTED has a 45 million € budget for over 150 projects spanning 8 sectors of intervention; including emergency relief, food security, health promotion, economic development, education & training, microfinance, local governance & institutional support, and cultural promotion.
For more information, please visit our website at www.acted.org.
II. Country Profile
Capital Office : Jakarta
National Staff : 90 (April 2010)
International Staff : 4 (April 2010)
Areas : 1 (Nias Island)
On-going programmes: 2
Budget : Almost 3M € (2009)
ACTED established its presence in Indonesia in 2004 in emergency response to the tsunami. Since then, ACTED Indonesia has expanded its operations and launched multi-sector interventions addressing relief, rehabilitation and development in Aceh, Nias (from 2005) and Padang (2009). Today, ACTED has a coordination office in Jakarta, predominantly supporting ongoing operations in Nias, which have to date included shelter construction, water infrastructure rehabilitation, hygiene promotion, road, bridge and school construction, agricultural and fishery livelihoods recovery and an ongoing Disaster Risk Reduction programme. In April ACTED will begin a major new programme consolidating the recovery of rural livilihoods in northern Nias.
ACTED Indonesia will continue maintaining and enhancing it’s in country emergency response capacity and promoting longer-term community-driven early recovery and development projects.
III. Position Profile
Under the authority of the Country Director, the Area Coordinator is responsible to ensure the implementation of ACTED’s mandate and manage the international and national staff involved in projects located in a specific area of intervention in-country.
Responsibilities:
1. Ensure ACTED Representation in the area of activity
– Representation vis-Ã -vis provincial authorities:
Participate in official meetings to ensure maximum visibility vis-Ã -vis provincial authorities.
– Representation vis-Ã -vis Donors:
Establish and update contact details of potential Donors active in the area of activity;
Participate in Donor meetings at provincial level and communicate relevant information to the Country Director;
Circulate the Annual Report.
– Representation amongst other international organisations:
Participate in inter-NGO Coordination meetings and those of UN Agencies (OCHA, UNDP, UNICEF, FAO, etc.), and any other relevant inter-governmental institution at provincial level;
Ensure maximum visibility of the Agency amongst the NGO community at provincial level;
Lead the production of reports and ensure the timeliness and accuracy of information provided, as well ensuring confidentiality of sensitive information.
2. Contribute to the development of a global intervention strategy and to support its implementation at provincial level
– Analyse the context and develop strategic plans, in consultation with the Country Director:
Gather and analyse information regarding opportunities and risk;
Define an operational strategy for finances and HR.
– Implement the financial strategy:
Oversee drafting of projects and budget development;
Lead fund-raising and negotiations with Donors in the area of intervention;
Lead the application and adherence to contract terms and requirements;
Supervise overall financial commitments and financial risk.
– Implement the operational strategy:
Supervise Project Managers of the area of intervention in project implementation;
Help the various teams in negotiations with provincial/local authorities and partners;
Ensure global coordination and complementarity amongst projects within the area of intervention;
Assess activities and ensure efficient use of resources.
– Oversee reporting procedures:
Develop a reporting schedule with regard to Donor deadlines;
Plan and supervise the development of narrative and financial reports;
Ensure adherence to FLAT procedures.
More generally, communicate systematically to the Country Director the development of the area strategy and its implementation.
3. Oversee Staff and Security
– Guide and direct the staff of the area of intervention:
Organise and lead coordination meetings;
Prepare and follow work plans;
Ensure a positive working environment and good team dynamics (solve out potential conflicts);
Promote team working conditions in the limit of private life;
Adapt the organigramme and ToRs of personnel according to the area development;
Undertake regular appraisals of directly supervised colleagues and pass appraisal forms to the Country Administrator with recommendations (new position, changes to contract or salary etc.);
– Contribute to the recruitment of expatriate staff:
Follow recruitment procedures: plan recruitment needs in advance; draft ToRs for open vacancies; if necessary undertake phone interviews with candidates;
When requested by HQ, undertake interviews of expatriate candidates living in the area of intervention.
– Oversee staff security:
In cooperation with the Area Security Officer, monitor the local security situation and inform both Country Security Officer and Country Director of developments through regular written reports;
Update the security guidelines in the area of intervention;
Ensure that security procedures are respected by the whole staff.
IV. Qualifications:
– Master Level education in a relevant field such as International Relations or Development
– Project management experience (management, planning, staff development and training skills) in development programmes
– 2-5 years previous work experience in a relevant position
– Proven capabilities in leadership and management required
– Excellent skills in written and spoken English (French for francophone posts/Spanish for Central American posts)
Strong negotiation and interpersonal skills, and flexibility in cultural and organizational terms
Ability to work well and punctually under pressure
V. Conditions:
– Salary defined by the ACTED salary grid; educational level, expertise, hardship, security, and performance are considered for pay bonus
– Additional monthly living allowance
– Free food and lodging provided at the organisation’s guesthouse/or housing allowance (depending on contract length and country of assignment)
– Transportation costs covered, including additional return ticket + luggage allowance
Provision of medical, life, and repatriation insurance + retirement package
VI. Submission of applications:
Please send, in English, your cover letter, CV, and three references to jo**@***ed.org
Ref : AC/INDO/SA
ACTED
Att: Human Resources Department
33, rue Godot de Mauroy
75009 Paris
FRANCE
Fax. + 33 (0) 1 42 65 33 46
For more information, visit us at http://www.acted.org 
IKUT KB, PRIA DIBAYAR RP. 100.000,-
Saturday, April 3rd, 2010Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara menyediakan Rp. 350 juta untuk biaya vasektomi atau Medis Operasi Pria ( MOP). Biaya tersebut sebagai uang pengganti tidak bekerja selama 2 hari kepada akseptor yang mengikuti program vasektomi dari BKKBN, dan juga untuk penggarap atau petugas lapangan.
Salah satu program BKKBN dalam menekan angka kelahiran bayi adalah dengan vasektomi, yaitu pemutusan sambungan/aliran (pasdeperen) sperma yang mengandung benih agar tidak terjadi kehamilan . Pengoperasian itu dengan cara diikat bagian kiri dan kanan , kemudian diputus.
Setiap akseptor yang mengikuti program ini akan mendapatkan Rp. 100.000,- sebagai pengganti biaya tidak bekerja selama 2 (dua) hari agar tidak terjadi infeksi atau luka bekas pada bekas operasi.
Selain akseptor, petugas lapangan atau penggarap juga akan mendapatkan uang pengganti sebesar Rp. 75.000,- . Jumlah akseptor vasektomi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2008 ada 491 akseptor dari 400 target yang diberikan pusat yang diberikan Pusat. Tahun 2009 meningkat tajam menjadi 1.356 akseptor dari 870 akseptor target yang ditetapkan pusat atau naik 155,86%.
Dan di tahun 2010 ini, hingga Februari ada 173 akseptor dari 2000 target yang diberikan hingga akhir tahun nanti. Untuk menekan angka kelahiran bayi, KB untuk pria sangat membantu. Meskipun secara medis vasektomi adalah kontrasepsi permanen, sehingga tidak bisa membuahi lagi, namun banyak manfaat didapat pria dengan vasektomi ini, Antara lain meningkatklan vitalitas seksual, perkasa / tahan lama, dan libido tinggi, sebab sperma yang mengandung benih kembali lagi kedalam darah yang menimbulkan libido.
Selain itu , KB pria dengan vasektomi ini tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Jika menggunakan kondom persentasenya hanya 50-50, maka vasektomi tingkat keberhasilannya mencapai 100%.
Pun demikian bukan berarti pria yang sudah mengikuti vasektomi tidak bisa lagi memiliki anak. “Bisa disambung kembali atau rekenalisasi (penyambungan kembali. Namun BKKBN tidak ada program itu. Kalau Operasi itu di Rumah Sakit dam biayanya sangat mahal bisa mencapai Rp. 10 jutaanâ€
(Posmetro Medan)
Dugaan Korupsi di Pemkab Nisel Dilaporkan
Thursday, April 1st, 2010Medan (Waspada) — Forum Masyarakat Nias Peduli (Formanispe) menyampaikan laporan dugaan korupsi di jajaran Pemkab Nias Selatan (Nisel) sebesar Rp127,3 miliar ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Medan, Senin. (more…)
KEADILAN — Kekerasan Aparat di Sumut Masih Ada
Thursday, April 1st, 2010Medan, Kompas – Dalam waktu tiga bulan ini masih ditemukan kekerasan yang dilakukan oleh aparat, padahal aparat diharapkan menjadi pelindung dan pengayom masyarakat. (more…)
Korban Rabies di Nias Meningkat
Thursday, April 1st, 2010Medan – Korban rabies di Pulau Nias terus bertambah. Hingga Jumat (19/3) Dinas Kesehatan Gunungsitoli melaporkan delapan orang sudah meninggal akibat gigitan anjing. Adapun jumlah warga yang melaporkan digigit anjing dan kucing di RSUD Gunungsitoli dan puskesmas di Gunungsitoli sebanyak 324 orang.
Selama satu pekan terjadi kenaikan korban meninggal berjumlah satu orang dan jumlah gigitan dari 115 gigitan menjadi 324 gigitan. Sebanyak tujuh orang di antaranya digigit kucing.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli, yang dihubungi dari Medan, Temaziduhu Lombu mengatakan, dari 324 orang yang digigit anjing/kucing baru 116 orang yang mendapatkan vaksin. Sebanyak 55 orang mendapat vaksin dari Depkes, 25 orang mendapat vaksin dari donatur di Jakarta, dan 36 orang membeli sendiri di apotek.
â€Sampai saat ini kondisi APBD daerah pemekaran belum memungkinkan untuk bisa membeli vaksin sendiri. Maka kami masih menunggu bantuan ke Depkes dan Dinas Kesehatan Sumut,†tutur Lombu. â€Kami berharap jangan sampai bantuan terlambat. Vaksin datang, tetapi korban sudah berjatuhan,†kata Lombu.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Julianus Dawolo mengatakan, pihaknya sudah mengajukan dana vaksin ke APBD Kabupaten Nias untuk RSUD Gunungsitoli sebanyak Rp 600 juta dan Rp 300 juta untuk puskesmas di Kabupaten Nias.
Menurut Dawolo, di Kabupaten Nias sudah 201 orang yang digigit anjing. Sebanyak 150 orang di RSUD Gunungsitoli yang berasal dari berbagai daerah, sementara yang melapor ke puskesmas sebanyak 51 orang. â€Saat ini stok vaksin kosong, bantuan pemerintah sebanyak 100 vaksin sudah habis,†tutur Dawolo.
Namun, sampai saat ini koordinasi antarkabupaten/kota di Pulau Nias untuk menangani rabies secara bersama belum terjadi. Dawolo mengatakan, dalam pertemuan di Hotel Antares bersama Dinas Kesehatan Sumut dan Departemen Kesehatan, pekan lalu, pihaknya sudah mengusulkan agar pemerintah provinsi memfasilitasi pertemuan koordinasi itu. Namun, sampai sekarang belum terjadi.
Data laporan situasi Rabies di Provinsi Sumut menyebutkan kasus gigitan terbanyak juga di kabupaten Sibolga sebanyak 207, 5 Lyssa. Kabupaten Asahan dengan 364 kasus gigitan, 3 Lyssa, kabupaten Simalungun ada 169 kasus gigitan, tidak ada yang meninggal dan kabupaten Tapanuli Utara sebanyak 130 kasus gigitan dan tidak ada yang meninggal.
(Kompas, MedanPunya)


