Posts Tagged ‘Pulau Nias’

Lagi, Kemenhub Alokasikan Rp 4,55 Miliar Kembangkan Bandara Binaka

Monday, June 3rd, 2013

Pesawat BAE-100 Manunggal Air Service di Bandara Binaka, 4 Januari 2013 (Foto: Dewi Nehe)

Pesawat BAE-100 Manunggal Air Service di Bandara Binaka, 4 Januari 2013 (Foto: Dewi Nehe)

NIASONLINE, JAKARTA – Bandara Binaka, Gunungsitoli kembali akan mendapatkan gelontoran dana sebesar Rp4,55 miliar dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Dana itu merupakan bagian dari total Rp 10 miliar yang dialokasikan kementerian itu dalam program pembangunan shelter bencana pada tahun ini. (more…)

Pulau Nias Butuh Rp 1,5 Triliun Bangun Pembangkit Listrik

Monday, April 8th, 2013

Infrastruktur Listrik (Foto: Merdeka.com)

Infrastruktur Listrik (Foto: Merdeka.com)

NIASONLINE, JAKARTA – Hingga 10 tahun mendatang, Pulau Nias membutuhkan listrik hingga 150 megawatt (MW) dari saat ini hanya 20 MW. (more…)

Gempa Dirasakan Merata di Pulau Nias, Belum ada Laporan Korban

Wednesday, April 11th, 2012

Peta Pulau Nias (Foto: http://multiply.com)

JAKARTA, NIASONLINE – Gempa dahsyat berkekuatan 8,5 SR yang terjadi pada pukul 15.38 Wib di Simeulue, NAD, dirasakan sangat kuat di seluruh wilayah Pulau Nias. Namun, sampai saat ini belum ada informasi mengenai korban meninggal, luka-luka maupun kerusakan bangunan. (more…)

Pemda di Pulau Nias Harus Gandeng Investor Atasi Krisis Listrik

Friday, March 30th, 2012

Prof. Atmonobudi Soebagio, Ph. D (Foto: http://atmonobudi.wordpress.com)

JAKARTA, NIASONLINE – Saat ini Pulau Nias masih terus didera krisis energi, khususnya listrik. Kinerja PLN yang melayani lima wilayah di Pulau itu juga terlihat seperti ngos-ngosan. Ditandai dengan masih mengandalkan PLTD berbiaya mahal karena menggunakan solar, juga dengan masih rutin terjadinya pemadaman listrik. (more…)

Mendesak, Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan di Kabupaten Nias

Thursday, March 29th, 2012

Noniawati Telaumbanua Saat Paparan (Foto: NTbanua)

JAKARTA, NIASONLINE – Perkembangan paska bencana tsunami 2004 dan gempa pada 2005 menunjukkan terjadinya lonjakan pemanfaatan energi listrik secara signifikan di Kabupaten Nias. Di sisi lain, ketersediaan sumber listrik tetap saja hanya mengandalkan suplai dari PT PLN, yang juga memiliki keterbatasan.

Pembangunan akan terus berlanjut dan tentu saja akan membutuhkan suplai listrik yang semakin meningkat. Setidaknya dalam 15 tahun mendatang, pembangunan sarana dan prasarana bagi masyarakat dan juga pemerintahan akan terus dilakukan mengingat masih banyak fasilitas dimaksud belum tersedia saat ini.

“Pembangunan ini juga dipastikan membutuhkan pasokan energi listrik dalam jumlah yang tidak sedikit. Di saat yang sama, upaya memenuhi kebutuhan listrik dalam skala rumah tangga yang paling minimumpun terus dilakukan baik oleh PLN maupun perorangan. Dalam hal ini, kebutuhan akan ketersediaan sumber-sumber energi terbarukan dan tak terbarukan guna memenuhi kebutuhan pembangunan yang sangat tinggi dan mendesak pula,” ujar Noniawati Telaumbanua, ST. M.Sc., dalam Seminar Nasional & Workshop Indonesia Menuju Kemandirian Energi Listrik Secara Berkelanjutan & Ramah Lingkungan di Graha William Soerjadjaja, Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta, Rabu (28/3/2012).

Seminar itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pembicara ahli, baik dari kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), PLN, dan pelaku bisnis energi baru terbarukan.

Kabupaten Nias yang diwakili oleh Noniawati dari Bappeda Kabupaten Nias, merupakan satu-satunya perwakilan dari daerah dalam seminar tersebut. Noniawati menyampaikan presentasi dengan topik “Tranformasi Potensi Air dan Cahaya, Titik Terang Menuju kemandirian Energi Listrik: Studi Kasus Kabupaten Nias.”

Noniawati menjelaskan, bahkan sampai saat ini pun, masih ada tiga kecamatan di Kabupaten Nias yang paling kritis kondisi kelistrikannya. Yaitu, Kecamatan Ma’u, Kecamatan Ulugawo dan Kecamatan Somölö-mölö.

Dia memaparkan, dari kondisi yang ada saat ini, pasokan listrik yang ada sangat tidak memadai. PLN yang ada saat di berada di Kota Gunungsitoli masih berstatus cabang dan melayani seluruh Kepulauan Nias. Didukung oleh ranting Gunungsitoli yang melayani Kabupaten Nias, Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Utara serta ranting Teluk Dalam yang melayani Nias Barat dan Nias Selatan.

Kenyataannya, PLN tidak mampu memberikan layanan yang diharapkan. PLN sendiri masih mengandalkan PLTD sewaan untuk mendukung kinerjanya. Akibatnya, pemadaman listrik menjadi tak terhindarkan.

Dia mengatakan, tidak hanya pemadaman pada jam-jam tertentu, bahkan pernah, selama seminggu listrik tidak menyala sama sekali. Di sisi lain, masih ada wilayah-wilayah yang belum terjangkau layanan listrik sama sekali.

“Untuk menjangkau wilayah seperti ini dibutuhkan infrastruktur yang mendukung. Di lihat dari sisi konsumsi dan ekonomi, daerah-daerah terisolir harus didorong lai ntuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan memiliki nilai ekonomi,” jelas dia (EN)

Pacific Royale Airways Bidik Penerbangan ke Nias

Monday, March 19th, 2012

Ilustrasi (Foto: hendrikuszebua.byethost10.com)

JAKARTA, NIASONLINE – Satu lagi maskapai penerbangan yang menjadikan Pulau Nias sebagai salah satu destinasi layanannya. Kali ini adalah maskapai baru Pacific Royale Airways yang direncanakan beroperasi perdana pada bulan depan ini. Pulau Nias berada pada tahap kedua rencana pengembangan rute penerbangan maskapai itu. (more…)

Tanggulangi Kemiskinan di Pulau Nias, Manfaatkan Basis Data Terpadu di TNP2K

Friday, December 16th, 2011

Sekretaris Eksekutif TNP2K Dr. Bambang Widianto dan Prof. Suahasil Nazara Ph.D pada Pertemuan Pusat dan Daerah Penguatan Kelembagaan TKPKD, Senin-Selasa (14-15/11/2011) (Foto: TNP2K)

JAKARTA, NIASONLINE – Para kepala daerah di lima daerah otonomi di Pulau Nias didorong untuk memanfaatkan basis data terpadu program perlindungan sosial yang disiapkan pemerintah pusat di Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). (more…)

TEARS International Adakan Operasi Katarak Mata Gratis di Pulau Nias

Saturday, October 16th, 2010

Nias – TEARS (Tsunami Earthquake American Relief) International mengadakan operasi mata gratis di Pulau Nias. Operasi dilaksanakan di RSU Lukas Pemkab Nisel dan di RSU Gunung Sitoli Pemkab Nias. Di RSU Gunung Sitoli dilaksanakan dari tgl 11s/d 13/10. Sebelum dioperasi mata pasien terlebih dahulu diperiksa apa benar katarak atau sudah boleh dioperasi. Pemeriksaan mata dilaksanakan September lalu dengan petugas medis Safrin Dalimunte.

Pelaksanaannya bekerja sama dengan BKIM (Balai Kesehatan Indra Masyarakat) Dinas Kesehatan Propinsi Sumut dan Pemkab Nias. Operasi dilakukan 2 (dua) dokter ahli yaitu: dr Pinto Y Pulungan dan dr Yusni Saragih serta petugas medis Safrin Dalimunte.

Menurut Countri Manager TEARS Marganda Marbun SH yang ditemui wartawan di RSU Gunung Sitoli, Rabu (13/10) pihaknya sudah mengoperasi katarak 1.748 mata sejak tahun 2005 di Pulau Nias dan belum ada yang complain. Menurutnya jika perawatan setelah dioperasi seperti penggantian perban mata dan pembersihan dilakukan dengan baik selalu berhasil dan jangan lupa berdoa pada Tuhan ujarnya. Kepada pasien sebelum operasi dianjurkan berdoa. Setelah selesai operasi pasien menginap semalam baru besoknya diizinkan pulang dan dilanjutkan perawatan di rumah.

Untuk tahun 2011 TEARS menjadwalkan pemeriksaan mata gratis pada Oktober. Ditanya sumber dana Marbun mengatakan dari kolekte gereja orang Kristen Amerika yang peduli kepada orang yang kurang mampu. TEARS sebelumnya juga melakukan operasi hernia, usus buntu dan operasi sesar di Aceh dan Tapanuli. TEARS mengutamakan misinya di daerah tsunami dan gempa.

Melia Lawolo 1 tahun buta
Melia Lawolo (51) warga Desa Sihareo III Halambawa, Kabupaten Nias yang ditemui SIB sehari usai dioperasi mengatakan, ia sudah buta setahun. Ia tidak cukup uang untuk berobat, beruntung ada TEARS yang mau menanggung pengobatan. Ia berharap pihak TEARS dan smua yang pihak yang membuat operasi gratis ini terlaksana selalu diberkati Tuhan. Ditanya apakah operasi yang dilakukan sakit, dijawab hanya perih sedikit.

Safrin Dalimunte yang ditanya SIB mengatakan perkiraan biaya operasi untuk 1 (satu) mata Rp2 juta dan obat Rp1,2 juta. Obat yang diberikan selama 1 – 1,5 bulan. Setetelah seminggu dioperasi mata tidak lagi diplester tetapi obat harus digunakan sampai habis. (SIB, 16-10-2010)

Yakin 2 Pulau di Nias tak Dijual ke Asing

Sunday, April 4th, 2010
JAKARTA — Pemerintah pusat, dalam hal ini Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), meyakini status dua pulau yakni Pulau Asu di Nias Barat dan Pulau Sibaranu di Nias Selatan, tidak dikuasi pihak asing. Plt Direktur Jenderal Pemerintahan Umum (Dirjen PUM) Kemendagri, Sutrisno, menduga, kedua pulau itu hanya dikerjasamakan pemda setempat dengan investor asing. Di era otonomi daerah seperti sekarang ini, hal itu sah-sah saja.

“Saya yakin kedua pulau itu hanya dikerjasamakan saja, bukan dijual. Biasanya, pemda setempat menggandeng investor asing untuk mengelola pulau-pulau itu. Itu boleh kok,” ujar Sutrisno kepada koran ini di Jakarta, Sabtu (2/4).

Dijelaskan mantan Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu, pulau-pulau yang ada di wilayah RI dilarang keras untuk dijual ke pihak asing. Dan selama ini, lanjutnya, memang belum pernah ada pulau yang dijual ke pihak asing. Yang terjadi, seperti di NTT dan Kepulauan Mentawai yang sempat ramai beberapa waktu lalu, status pulau hanya dikerjasamakan saja oleh pemda setempat.

Sutrisno menjelaskan, di era otonomi daerah seperti sekarang ini, memang daerah memacu untuk mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD). Caranya antara lain dengan mengelola pulau-pulau yang ada di wilayahnya. “Potensi banyak, tapi kurang dana dan SDM, ya bolah-boleh saja menggandeng investor asing. Pemda punya kewenangan kok,” ucap pejabat eselon I yang berwenang mengurusi pulau-pulau itu.

Dikatakan, biasanya mekanisme kerjasama pengelolaan pulau oleh pemda, sudah diberitahukan kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Yang mengajukan izin ke BKPM adalah BKPM Daerah setempat. “Jadi nggak mungkin dijual. Mana ada yang berani karena sudah jelas-jelas dilarang,” ujar alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Seperti diberitakan, Pulau Asu di Nias Barat dan Pulau Sibaranu di Nias Selatan dikuasai asing sejak 2008. Untuk Pulau Asu dikuasai oleh empat warga negara asing (WNA) secara patungan. Keempat WNA itu adalah Hendrike warga negara Brasil dan Alex warga AS, serta Steve dan Canna, keduanya warga negara Australia. Sementara, untuk Pulau Sibaranu dikuasai warga negara Australia yang belum diketahui namanya. Menurut informasi warga, di kedua pulau itu dibangun resort, villa, dan cottage. Menurut warga pula, kedua pulau itu diberi orang asing dari penguasa adat setempat. (sam/jpnn)