Archive for the ‘Lingkungan’ Category
Curah Hujan Tinggi, Waspadai Longsor dan Banjir Hingga Akhir Tahun
Saturday, October 19th, 2013Bantah ‘Matikan’ Pantai Sorake, Pemda Nisel Janjikan Pengembangan
Thursday, August 22nd, 2013Berpengalaman 7 Kali, Pantai Sorake Siap Gelar Kompetisi Internasional
Thursday, August 22nd, 2013
Aksi Mark Flint di Pantai Bawa, Kepulauan Hinako, Nias Utara. Mark mengaku menemukan ombak di pulau itu pada 1981. | Koleksi Mark Flint
Turis yang datang pun sangat sedikit. Ada kesan kalau saat ini destinasi wisata bahari yang sampai saat ini masih melambungkan nama Pulau Nias di level internasional itu kini tampak sekarat.
Tidak ada kompetisi lagi di sana selama beberapa tahun ini. Suasana pantainya pun tidak lagi menarik. Tergerus kerusakan akibat penambangan pasir ilegal secara massif selama beberapa tahun terakhir.
“Sayang sekali Simeulue sudah jadi (akan gelar kompetisi surfing internasional, red). Pantai Sorake/Lagundri tidak bisa melakukan apa-apa,†ujar Mark Flint, seorang pemerhati surfing di Pantai Sorake/Lagundri kepada Nias Online, Rabu (21/8/2013).
Warga Australia yang telah menghabiskan banyak waktunya selama puluhan tahun menjajal berbagai ombak di KepulauanPulau Nias itu mengatakan, Pantai Sorake/Lagundri telah berpengalaman menggelar kompetisi surfing internasional. Sampai pelaksanaan terakhir beberapa tahun lalu, di pantai itu, kata dia, telah digelar 7 kali kompetisi internasional.
“Jadi kalau mau gelar kontes internasional di Pantai Sorake/Lagundri, semua sudah siap melaksanakannya. Punya pengalaman. Cuma, sepertinya dukungan dari pemerintah minus,†jelas dia.
Belajar ke Simeulue
Menurut dia, kalau pemerintah daerah Nias Selatan (Nisel) ingin menggelarnya lagi dan mulai melakukan persiapan, dalam dua tahun mendatang, kompetisi internasional sudah bisa digelar lagi di Pantai Sorake/Lagundri.
Dia juga memberikan masukan penting untuk Pemda Nisel, khususnya Dinas Pariwisatanya. Di antaranya, dengan mengirimkan perwakilan ke kontes surfing di Simeulue untuk belajar langsung pelaksanaannya.
“Kalau mereka tidak tahu bagaimana melakukannya, mereka bisa memanfaatkan acara di Simeulue itu. Pergi ke sana dan tonton pertandingannya sambil belajar cara dan proses pelaksanaannya,†jelas dia.
Di acara itu, kata dia, perwakilan dari Pemda Nisel bisa berkenalan dengan bos promotr “Asian Surfing Circuit†Titi Jabrik yang kecewa dengan pembatalan Nias International Surfing Championship” 2011.
Pria yang telah menjajal hampir semua spot selancar di Kepulauan Nias, mulai dari Pulau-Pulau Batu hingga Toyo Lawa di Nias Utara tersebut mengatakan, akibat pembatalan kompetisi itu dan tidak adanya program yang jelas dalam kelanjutan pengembangan pertandingan selancar, para sponsor dan promotor di Asian Surfing Circuit telah memasukkan Nisel dalam kategori “not reseptive at the present time.”
“Dinas terkait di Pemda Nisel disarankan belajar mengenai “activity planning and development” untuk memajukan sumber daya alam dan pariwisata dengan berkonsultasi dengan orang-orang yang berkompeten. Termasuk menjalin hubungan kembali dengan pimpinan organisasi Asian Surfing Circuit supaya Nisel bisa masuk daftar dan membuat persiapan untuk memenuhi persyaratan mengikuti kejuaraan ASC terkait. Mudah-mudahan saja tidak hilang momentum,†harap dia. (EN)
Pemda Nisel Terkesan Mematikan Kawasan Wisata Pantai Sorake/Lagundri?
Thursday, August 22nd, 2013Satu Lagi Tetangga Pulau Nias Gelar Lomba Selancar Internasional
Wednesday, August 21st, 2013Residu Kimia Asap Rokok Bisa Rusak DNA Manusia
Tuesday, June 25th, 2013Dari sisi kesehatan, selama ini bahaya merokok selalu dipahami hanya akan menyasar dua kelompok. Yakni, perokok aktif (first smoker) yang menghisap rokok secara langsung dan perokok pasif (second smoker) yang terpaksa ikut menghirup asap rokok yang dikeluarkan perokok aktif.
Ternyata dampak buruk rokok itu tidak selesai ketika rokok dan asapnya itu dihirup secara langsung. Tapi, setelah itu pun, masih berdampak merusak.
Asap rokok tersebut meninggalkan residu yang disebut sebagai “thirdhand smoke”. Yaitu, bau yang tertinggal di pakaian atau rambut seseorang yang baru saja merokok. Bisa juga dalam bentuk bau yang tertinggal di ruangan yang pernah dipakai untuk merokok.
Unsur kimia yang merupakan turunan dari nikotin yang keluar bersama asap rokok tertinggal di dalam ruangan dan terserap oleh beberapa bahan perabotan ruangan seperti karpet dan tirai. Residu itu kemudian terpapar pada orang-orang yang masuk ke dalam ruangan.
Hasil riset terbaru menyebutkan, dampak terpapar residu bahan kimia dari asap rokok tersebut tidak main-main, bisa merusak DNA.
“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan thirdhand smoke adalah mutagenik dan menyebabkan kerusakan DNA. Ini dianggap sebagai salah satu langkah awal menuju kanker,†ungkap peneliti Lara Gundel dari Lawrence Berkeley National Laboratory, California.
DNA atau deoxyribonucleic acid adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik. Artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme.
Gundel menjelaskan, riset menunjukkan residu bahan kimia dari asap rokok tetap tinggal di dalam ruangan yang digunakan untuk merokok untuk waktu yang sangat lama.
Bo Hang, peneliti lainnya yang sama-sama berasal dari California Consortium on the Health Effects of Thirdhand Smoke, seperti dilansir Medical Daily, dikutip Selasa (25/6/2013) mengatakan, pihaknya menggunakan dua teknik untuk mengukur dan menganalisi kerusakan DNA akibat terpapar residu asap rokok. Teknik itu adalah dengan Comet assay dan the long amplicon-qPCR assay.
“Hasilnya, paparan sisa rokok dapat merusak rantai DNA dan oksidasi DNA,†ujar Hang.
Hal itu bisa menyebabkan keracunan gen (genotoxicity), sebuah kondisi yang dikaitkan dengan berbagai jenis penyakit, di antaranya kanker. Makin lama terpapar, maka risiko bahayanya juga semakin bertambah.
Dalam risetnya, para peneliti menempatkan strip kertas di ruang merokok dan beberapa sampel dibiarkan tetap dalam ruangan hingga 20 menit yang residunya dikategorikan ‘paparan akut’. Juga ada strip yang dibiarkan hingga 200 hari di ruang merokok yang berventilasi yang kategori residunya dikelompokkan “paparan kronisâ€.
Hasilnya, setelah peneliti mengekstraksi bahan kimia dari strip kertas itu, ditemukan bahwa sampel kronis memiliki konsentrasi residu yang lebih tinggi dari residu asap dengan sampel akut. Sampel kronis juga menyebabkan tingkat kerusakan DNA lebih tinggi.
Karakteristik penting lainnya adalah residunya bisa berinteraksi dengan senyawa di udara seperti ozon dan menghasilkan jenis racun baru. Karena itu, sulit memastikan kapan waktu yang aman untuk memasuki tempat bekas merokok. Sebab, emisi asap rokok tampaknya terus bertahan di tempat itu untuk waktu yang lama.
Para peneliti juga menemukan, ternyata membersihkan rumah atau mobil yang sebelumnya digunakan untuk merokok, tidak menyelesaikan masalah.
Hasil lebih lengkap studi itu telah dipublikasikan dalam Jurnal Mutagenesis.
Nah, bagi para perokok, mengingat dampaknya yang berkepanjangan dan bisa menyasar banyak orang, pilihan terbaik adalah berhenti merokok. Namun, bila sangat terpaksa, maka ketika merokok semaksimal mungkin hindarkan orang lain dari dampak merusak rokok Anda dengan melakukannya di luar ruangan atau di ruangan khusus yang disediakan.
Bagi yang tidak merokok, sesuai hasil riset di atas, sangat penting untuk menghindari ruangan-ruangan bekas tempat merokok. (EN/dbs)
Disetujui, Rancangan Sejumlah Keputusan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB di Cancún
Wednesday, December 8th, 2010CANCÚN, Nias Online – Pada Konferensi Perubahan Iklim PBB yang sedang berlangsung di Cancún, dua badan yang bernaung di bawah the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang menasehati dan mengimplementasikan keputusan Piha-Pihak atas tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perubahan iklim telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik pada hari Sabtu (4/12). Tugas kedua badan ini meliputi pembuatan rancangan keputusan-keputusan yang akan dibawa untuk diadopsi pada siding pleno Konferensi pada tanggal 10 Desember 2010.
Kedua badan itu adalah Badan Subsider untuk Nasehat Ilmiah dan Teknologi – the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) dan Badan Subsider untuk Implementasi – the Subsidiary Body for Implementation (SBI).
Rancangan keputusan yang dihasilkan termasuk yang menyangkut lanjutan dan penguatan dukungan bagi usaha negara-negara berkembang untuk adaptasi, mitigasi, termasuk projek-projek pangalihan teknologi.
Kemajuan-kemajuan ini merupakan bagian penting dari landasan utama tindakan yang kuat atas perubahan iklim. Ini juga menunjukkan bahwa negara-negara peserta datang ke Cancún dengan niat baik dan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa proses multilateral dapat memberikan hasil sejauh semangat kompromi, kerjasama dan transparansi dipertahankan. Demikian dikatakan Patricia Espinosa, Presiden Konferensi Cancún dan Sekretaris Kementrian Luar Negeri Mexico.
Kemajuan-kemauan ini harus dilihat sebagai tanda positif bagi Konferensi secara keseluruhan, katanya menambahkan. Ia juga mengajak semua pihak untuk menjaga semangat ini dan menuntaskan berbagai masalah yang masih tersisa demi keberhasilan Konferensi ini untuk mencapai persetujuan berimbang yang akan menggiring dunia ke dalam era kerjasama baru dan tindakan-tindakan ambisius untuk mengatasi perubahan iklim.
Keputusan-keputusan yang dicapai termasuk suatu butir yang hampir disetujui bahwa penangkapan dan penyimpanan karbon bisa menjadi suatu aktivitas projek di bawah Mekanisme Pembangunan Bersih Protokol Kyoto, sejauh memenuhi persyaratan peniliaian resiko dan keamanan yang ketat. Hal ini penting karena ia memberikan para menteri yang hadir – yang akan memberikan bimbingan politis pada perundingan-perundingan minggu ini – hanya dua opsi yang jelas terhadap isu ini.
Keputusan ini penting karena ia memberikan Pihak-Pihak kunci untuk menuntaskan masalah-masalah yang masih tersisa di bawah dua jalur perundingan pada Tindakan Kerjasama Jangka Panjang (Long-Term Cooperative Action) dan pada Protokol Kyoto, kata Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Christiana Figueres.
Capaian yang lain adalah keputusan untuk memperluas mandat Kelompok Ahli Negara-Negara Terbelakang – Least Developed Countries (LDC) Expert Group – dan memperpanjang mandatnya untuk 5 tahun masa tugas, kurun waktu terpanjang yang diberikan kepada Kelompok itu sejak pembentukannya pada tahun 2001. Kelompok Ahli ini memberikan bimbingan teknis dan nasehat kepada Negara-Negara Terbelakang dalam hal persiapan dan implementasi program-program aksi adaptasi nasional (national adaptation programmes of action – NAPAs). Sejak dukungannya dimulai, 45 negara terbelakang telah menyelesaikan dan menyerahkan program aksi adaptasi nasional mereka, 38 negara telah memulai implemetasi adaptasi, dan process ini telah mendorong kemampuan dan kesedaran di negara-negara itu dari level politik ke level masyarakat.
Negara-negara yang hadir juga sepakat memperkuat pendidikan, pelatihan dan kesadaran publik terhadap perubahan iklim melalui peningkatan pendanaan berbagai aktivitas dan memperkuat pelibatan masyarakat sipil dalam pengambilan keputusan nasional dan proses perubahan iklim PBB.
Tindakan yang lebih cepat dan efektif terhadap perubahan iklim menuntut pemerintah berbagai negara mendengar dan menerima ide-ide baru dan partisipasi aktif seluruh sisi masyarakat sipil, terutama generasi muda yang masa depannya menjadi taruhan. Ini menuntut komitmen perundingan-perundingan yang tetap terbuka, transparan dan aktif, kata Christiana Figueres.
Konferensi Perubahan Iklim PBB di Cancún, Meksiko, berlangsung dari tanggal 29 November hingga 10 Desember 2010. Konferensi ini juga disekenal sebagai Sesi ke 16 Konferensi Pihak-Pihak (16th session of the Conference of the Parties – COP 16) pada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
(Sumber: http://unfccc.int)
Hari Malaria Sedunia; 80 Persen Kabupaten / Kota Endemis Malaria
Monday, April 26th, 2010
Halmahera Selatan – Menteri Kesehatan Endang R. Sedyaningsih memperhatikan peragaan patung nyamuk saat meresmikan Malaria Center di Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Sabtu (24/4).
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan Indonesia masih termasuk negara berisiko tinggi malaria dengan 80 persen kabupaten/kota endemis penyakit malaria.
“Tahun 2009, jumlah kasus malaria klinis yang dilaporkan 1.143.024 kasus dan jumlah kasus malaria positif hasil pemeriksaan laboratorium 199.577 kasus. Jumlah ini mungkin lebih kecil dari keadaan sebenarnya karena tidak semua kasus dilaporkan,” katanya pada peringatan Hari Malaria Sedunia di aula kantor Kabupaten Halmahera Selatan, Sabtu.
Utamanya, ia menjelaskan, penyakit malaria menyerang penduduk yang tinggal di desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan buruk, akses transportasi dan komunikasi sulit serta fasilitas kesehatan terbatas.
Ia menjelaskan penyakit malaria menimbulkan kerugian ekonomi. “Menurut perhitungan pakar ekonomi kerugian yang timbul mencapai Rp3 triliun,” katanya. Kerugian itu, menurut Perwakilan UNICEF di Indonesia Angela Kearney, timbul akibat kematian, biaya pengobatan, dan waktu produktif yang hilang akibat penyakit malaria.
“Sebab malaria menyebabkan kematian, termasuk ibu hamil dan balita. Juga membuat orang tidak bisa bekerja dan anak-anak kehilangan waktu belajar. Kerugian yang harus ditanggung karena ini sangat besar,” kata Angela.
Pemerintah, menurut dia, harus mengatasi masalah ini dengan program terpadu yang bisa menjamin terlaksananya deteksi dini, diagnosis tepat dan pengobatan penyakit malaria serta kegiatan-kegiatan untuk menciptakan lingkungan yang sehat guna mencegah penularan malaria.
“Deteksi dan pengobatan dini serta kegiatan pencegahan sangat penting dalam hal ini,” kata Perwakilan WHO di Indonesia Khanchit Limpakaranjanarat menambahkan.
Menteri Kesehatan mengatakan pemerintah berusaha memberantas penyakit yang disebabkan parasit Plasmodium sp itu antara lain dengan menyediakan obat antimalaria (Artemisinin Combination Therapy/ACT), alat diagnosis cepat malaria dan kelambu berinsektisida.
Pemerintah, kata dia, juga dibangun di desa endemis malaria yang terpencil untuk menggerakkan upaya kesehatan berbasis masyarakat dengan binaan dinas kesehatan melalui puskesmas dan poskesdes.
Beberapa pemerintah daerah, seperti Provinsi Maluku Utara, punya inisiatif sendiri dalam memberantas penyakit yang menular melalui gigitan nyamuk Anopheles betina itu. Di Maluku Utara, pemerintah membangun Malaria Center untuk mendukung upaya pemberantasan malaria melalui kegiatan advokasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan laboratorium dan penguatan sistem logistik.
Mereka juga berusaha memberdayakan masyarakat untuk memberantas malaria dengan menerapkan model Partisipatory Learning and Action (PLA) dengan binaan UNICEF di mana para kader dilatih untuk menggerakkan masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan malaria. Salah satu kabupaten yang sudah menerapkan pendekatan itu adalah Kabupaten Halmahera Selatan.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, menurut Bupati Halmahera Selatan Muhammad Kasuba, bahkan menyediakan alokasi dana khusus untuk mendukung upaya pemberantasan malaria. “Kami punya Alokasi Dana Desa atau ADD, 40 persen dari ADD harus digunakan untuk mendukung kegiatan yang ditujukan untuk mendukung pemberantasan malaria,” demikian Muhammad Kasuba.
(analisa)
Dari Rp 16 Milyar, Hanya Rp 600 Juta Pembiayaan Investasi UMKM Sumut
Sunday, April 4th, 2010
Medan- Sejumlah rencana kerja bidang usaha kecil menengah dan koperasi (UMKM) Sumut yang terungkap dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) bidang ekonomi rakyat pada Selasa di aula Balai Duta Tiara Convention, dinilai belum mencerminkan misi dan keberpihakan pada rakyat kalangan UKM, karena rencana biaya kerja yang bersifat ‘acara-acara’ atas nama berbagai kegiatan dan pelatihan atau peningkatan dan pengembangan, ternyata jauh lebih besar dibanding alokasi biaya untuk hal-hal yang bersifat ril pembiayaan.
Data prioritas kegiatan bidang Ekonomi Kerakyatan pada Dinas Koperasi & UKM Propinsi Sumut untuk tahun anggaran 2011, menunjukkan enam program kerja yang meliputi 41 sub-kegiatan dengan total biaya Rp16,386 miliar. Tapi dari jumlah itu, hanya Rp600 juta yang dinilai akan ril atau nyata teralokasi sebagai sumber pembiayaan sebagai skim kredit investasi bagi usaha koperasi dan UMKM di daerah ini.
“Prioritas program kerja atau rencana proyek sektor UMKM yang diajukan untuk agenda ekonomi kerakyatan Sumut ini tampaknya belum ‘pas’ karena ajuan biaya yang berpotensi atau rawan korupsi tampak lebih besar dari ajuan biaya ril untuk rakyat ekolem. Ini perlu diperbaharui sebelum difinalisasi sebagai anggaran di APBD,†ujar Sopar Siburian SH dan Mangaliat Simarmata SH, kepada pers di Medan, Selasa.
Sopar Siburian adalah anggota DPRDSU dari Komisi E yang ikut rapat salah satu bidang (sosial dan pendidikan) di Musrenbang tersebut, dan Mangaliat adalah salah satu peninjau dari kalangan LSM/NGO yang memang banyak hadir di acara tersebut. Secara terpisah mereka menanggapi kondisi dan nasib para pelaku bisnis UKM di daerah ini yang terbilang belum juga menunjukkan perkembangan atas peranan pemerintah maupun dunia usaha terkait di daerah ini.
Dalam rapat bidang Ekonomi Rakyat yang dipandu pejabat Dinas Koperasi & UKM Sumut plus moderator Dr Drs Layari Sinukaban (anggota DPRD Sumut yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia–HIPPI Sumut), sejumlah peserta rapat dari beberapa daerah, khususnya dari Nias (Nias Barat dan Nias Utara) menyatakan komplin dan protes atas materi rapat yang dinilai belum mengakomodir kebutuhan prioritas ekonomi rakyat di daerahnya.
“Kami kecewa, jauh-jauh kami datang dari Nias dengan ongkos yang tak sedikit untuk 49 orang, tahu-tahu kami hanya dapat Rp95 juta dari APBD Propinsi untuk biaya pengadaan peralatan pengolahan produk batu-batuan. Padahal, angka-angka untuk berbagai kegiatan lain yang sifatnya non teknis, kan bisa ditambahkan untuk hal-hal yang lebih penting bagi rakyat,†ujar pejabat dari salah satu instansi Pemkab Nias Selatan kepada para pemimpin rapat, disaksikan kepala Bappeda Nias Selatan Herman Hezatulo Laiya SH MHum.
Para peserta rapat baru tampak lega dan tenang sembari bertepuk tangan ketika mendengar paparan Layari Sinukaban yang menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi (sebagai anggota DPRD maupun sebagai pengusaha) antara pihak UKM di daerah ini dengan pejabat instansi terkait untuk memperoleh solusi dan saran tindak yang cepat dan aspiratif. Semula dijadwalkan, rapat bidang Ekonomi Rakyat itu dipandu oleh pakar ekonomi USU Drs John Tafbu Ritonga sebagai moderator. Tapi hingga sesi-kedua, pemandu rapat tetap didampingi Layari Sinukaban.
Disela-sela rehat acara rapat, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan dan Kelautan Kabupaten Nias Utara, Yusman Zega API MSi, bersama Kepala Bappeda Nias Utara Toloni Waruwu dan Sekretaris Bappeda Rozaman Gea, sangat menyesalkan sistem penyaluran pupuk organik maupun pupuk bersubsidi yang selalu kurang volumenya ke daerah itu. Dari sekira 5 juta ton yang dibutuhkan setiap musim tanam, hanya 2 juta hingga 3 juta ton yang tersalur.
“Sampai sekarang, pupuk urea dan pupuk NPK dsb yang merupakan kebutuhan primer para petani padi, belum pernah terpenuhi. Pihak pemerintah propinsi hendaknya memperhatikan hal ini secara serius, paling tidak bisa difinalisasi pada Musrenbang ini,†katanya berharap sembari menggambarkan secara ringkas kondisi dan prospek pertanian Nias Utara sebagai Kabupaten baru setelah mekar dari Nias.
Sembari itu, Sekretaris Umum Forum Komunikasi Masyarakat Kabupaten Nias Utara (FKM Kanira) Drs Temazaro Zega yang hadir meninjau acara itu, juga menyesalkan sinyalemen ‘kurang tanggap’ sejumlah pihak mulai dari tingkat pemerintah pusat maupun propinsi terhadap kondisi Kepulauan Nias selama ini.
“Dari data rancangan program kerja di sektor ekonomi daerah (koperasi & UKM) ini saja sudah menunjukkan sinyal kesenjangan itu. Jangankan dari segi alokasi, segi porsi yang mencantumkan Nias saja pun tampak sangat minus di antara semua tabel daerah-daerah itu,†katanya kepada SIB ketika mengamati data prioritas rencana kerja (Renja) itu.
Data itu menunjukkan, dari 13,386 miliar alokasi yang direncanakan, antara lain tertabulasi untuk hal-hal yang bersifat ‘acara ke acara’, misalnya pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif (biasanya hanya berupa seminar dsb) dengan biaya Rp2,27 miliar dengan enam bentuk kegiatan dan hanya disini terdapat paker riel berupa perluasan pembiayaan investasi. UKM & Koperasi yang senilai hanya Rp600 juta itu, pengembangan sistem pendukung UMKM dengan enam bentuk kegiatan senilai Rp2,45 miliar, peningkatan kualitas kelembagaan (biasanya bentuk pelatihan atau semi workshop) dengan 10 paket kegiatan Rp4,16 miliar, penciptaan iklim usaha UMKM dengan 8 paket kegiatan (tak jelas apa bentuk kerjanya, Rp1,59), pemberdayaan usaha skala mikro dengan 9 paket kerja senilai Rp5,9 miliar.
(hariansib, kontan)
Negara-Negara Berkembang Bersikap Tegas Tentang Protokol Kyoto
Thursday, December 17th, 2009COPENHAGEN — Negara-Negara Berkembang memperingatkan akan bahaya meniadakan Protokol Kyoto dan memprotes usaha Denmark untuk menggantikannya dengan teks bersifat kompromi tanpa berkonosultasi dengan mereka. (more…)









