Archive for the ‘Lingkungan’ Category

Curah Hujan Tinggi, Waspadai Longsor dan Banjir Hingga Akhir Tahun

Saturday, October 19th, 2013

Ilustrasi | Viva.co.id

Ilustrasi | Viva.co.id

NIASONLINE, MEDAN – Berhubung wilayah Sumatera Utara (Sumut) sedang memasuki puncak curah hujan kedua sejak Oktober 2013, masyarakat diminta mewaspadai peningkatan debit air hingga akhir tahun ini. (more…)

Bantah ‘Matikan’ Pantai Sorake, Pemda Nisel Janjikan Pengembangan

Thursday, August 22nd, 2013

Faböwösa Laia | Koleksi Pribadi

Faböwösa Laia | Koleksi Pribadi

NIASONLINE, JAKARTA – Pemerintah Daerah Nias Selatan (Pemda) membantah kesan bahwa pihaknya membiarkan mati objek wisata di Pantai Sorake/Lagundri seperti penilaian beberapa masyarakat. (more…)

Berpengalaman 7 Kali, Pantai Sorake Siap Gelar Kompetisi Internasional

Thursday, August 22nd, 2013

Aksi Mark Flint di Pantai Bawa, Kepulauan Hinako, Nias Utara. Mark mengaku menemukan ombak di pulau itu pada 1981. | Koleksi Mark Flint

Aksi Mark Flint di Pantai Bawa, Kepulauan Hinako, Nias Utara. Mark mengaku menemukan ombak di pulau itu pada 1981. | Koleksi Mark Flint

NIASONLINE, JAKARTA – Nuansa muram dan suram terus membayangi wajah Pantai Sorake/Lagundri. Tidak ada sentuhan pembangunan maupun promosi.

Turis yang datang pun sangat sedikit. Ada kesan kalau saat ini destinasi wisata bahari yang sampai saat ini masih melambungkan nama Pulau Nias di level internasional itu kini tampak sekarat.

Tidak ada kompetisi lagi di sana selama beberapa tahun ini. Suasana pantainya pun tidak lagi menarik. Tergerus kerusakan akibat penambangan pasir ilegal secara massif selama beberapa tahun terakhir.

“Sayang sekali Simeulue sudah jadi (akan gelar kompetisi surfing internasional, red). Pantai Sorake/Lagundri tidak bisa melakukan apa-apa,” ujar Mark Flint, seorang pemerhati surfing di Pantai Sorake/Lagundri kepada Nias Online, Rabu (21/8/2013).

Warga Australia yang telah menghabiskan banyak waktunya selama puluhan tahun menjajal berbagai ombak di KepulauanPulau Nias itu mengatakan, Pantai Sorake/Lagundri telah berpengalaman menggelar kompetisi surfing internasional. Sampai pelaksanaan terakhir beberapa tahun lalu, di pantai itu, kata dia, telah digelar 7 kali kompetisi internasional.

“Jadi kalau mau gelar kontes internasional di Pantai Sorake/Lagundri, semua sudah siap melaksanakannya. Punya pengalaman. Cuma, sepertinya dukungan dari pemerintah minus,” jelas dia.

Belajar ke Simeulue

Menurut dia, kalau pemerintah daerah Nias Selatan (Nisel) ingin menggelarnya lagi dan mulai melakukan persiapan, dalam dua tahun mendatang, kompetisi internasional sudah bisa digelar lagi di Pantai Sorake/Lagundri.

Dia juga memberikan masukan penting untuk Pemda Nisel, khususnya Dinas Pariwisatanya. Di antaranya, dengan mengirimkan perwakilan ke kontes surfing di Simeulue untuk belajar langsung pelaksanaannya.

“Kalau mereka tidak tahu bagaimana melakukannya, mereka bisa memanfaatkan acara di Simeulue itu. Pergi ke sana dan tonton pertandingannya sambil belajar cara dan proses pelaksanaannya,” jelas dia.

Di acara itu, kata dia, perwakilan dari Pemda Nisel bisa berkenalan dengan bos promotr “Asian Surfing Circuit” Titi Jabrik yang kecewa dengan pembatalan Nias International Surfing Championship” 2011.

Pria yang telah menjajal hampir semua spot selancar di Kepulauan Nias, mulai dari Pulau-Pulau Batu hingga Toyo Lawa di Nias Utara tersebut mengatakan, akibat pembatalan kompetisi itu dan tidak adanya program yang jelas dalam kelanjutan pengembangan pertandingan selancar, para sponsor dan promotor di Asian Surfing Circuit telah memasukkan Nisel dalam kategori “not reseptive at the present time.”

“Dinas terkait di Pemda Nisel disarankan belajar mengenai “activity planning and development” untuk memajukan sumber daya alam dan pariwisata dengan berkonsultasi dengan orang-orang yang berkompeten. Termasuk menjalin hubungan kembali dengan pimpinan organisasi Asian Surfing Circuit supaya Nisel bisa masuk daftar dan membuat persiapan untuk memenuhi persyaratan mengikuti kejuaraan ASC terkait. Mudah-mudahan saja tidak hilang momentum,” harap dia. (EN)

Pemda Nisel Terkesan Mematikan Kawasan Wisata Pantai Sorake/Lagundri?

Thursday, August 22nd, 2013

Ombak di Pantai Sorake | Mark Flint

Ombak di Pantai Sorake | Mark Flint

NIASONLINE, JAKARTA – Filemon Laia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya ketika mendengar Kabupaten Simeulue akan menggelar kompetisi selancar (surfing) internasional. (more…)

Satu Lagi Tetangga Pulau Nias Gelar Lomba Selancar Internasional

Wednesday, August 21st, 2013

Ombak bertingkat di Pantai Sorake | Mark Flint

Ombak bertingkat di Pantai Sorake | Mark Flint

NIASONLINE, JAKARTA – Kehebatan ombak di Pantai Lagundri dan Sorake, Nias Selatan (Nisel), sudah mendunia. Bahkan, jauh sebelum adanya berbagai teknologi informasi yang memudahkan promosi saat ini. (more…)

Residu Kimia Asap Rokok Bisa Rusak DNA Manusia

Tuesday, June 25th, 2013

Ilustrasi | memobee.com

Ilustrasi | memobee.com

NIASONLINE, JAKARTA – Sudah terlalu banyak alasan kuat yang perlu dipertimbangkan agar berhenti mengonsumsi rokok. Terutama karena alasan kesehatan dan juga ekonomi bagi kalangan tak mampu. Namun, tidak serta merta membuat minat merokok langsung bisa hilang.

Dari sisi kesehatan, selama ini bahaya merokok selalu dipahami hanya akan menyasar dua kelompok. Yakni, perokok aktif (first smoker) yang menghisap rokok secara langsung dan perokok pasif (second smoker) yang terpaksa ikut menghirup asap rokok yang dikeluarkan perokok aktif.

Ternyata dampak buruk rokok itu tidak selesai ketika rokok dan asapnya itu dihirup secara langsung. Tapi, setelah itu pun, masih berdampak merusak.

Asap rokok tersebut meninggalkan residu yang disebut sebagai “thirdhand smoke”. Yaitu, bau yang tertinggal di pakaian atau rambut seseorang yang baru saja merokok. Bisa juga dalam bentuk bau yang tertinggal di ruangan yang pernah dipakai untuk merokok.

Unsur kimia yang merupakan turunan dari nikotin yang keluar bersama asap rokok tertinggal di dalam ruangan dan terserap oleh beberapa bahan perabotan ruangan seperti karpet dan tirai. Residu itu kemudian terpapar pada orang-orang yang masuk ke dalam ruangan.

Hasil riset terbaru menyebutkan, dampak terpapar residu bahan kimia dari asap rokok tersebut tidak main-main, bisa merusak DNA.

“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan thirdhand smoke adalah mutagenik dan menyebabkan kerusakan DNA. Ini dianggap sebagai salah satu langkah awal menuju kanker,” ungkap peneliti Lara Gundel dari Lawrence Berkeley National Laboratory, California.

DNA atau deoxyribonucleic acid adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik. Artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme.

Gundel menjelaskan, riset menunjukkan residu bahan kimia dari asap rokok tetap tinggal di dalam ruangan yang digunakan untuk merokok untuk waktu yang sangat lama.

Bo Hang, peneliti lainnya yang sama-sama berasal dari California Consortium on the Health Effects of Thirdhand Smoke, seperti dilansir Medical Daily, dikutip Selasa (25/6/2013) mengatakan, pihaknya menggunakan dua teknik untuk mengukur dan menganalisi kerusakan DNA akibat terpapar residu asap rokok. Teknik itu adalah dengan Comet assay dan the long amplicon-qPCR assay.

“Hasilnya, paparan sisa rokok dapat merusak rantai DNA dan oksidasi DNA,” ujar Hang.

Hal itu bisa menyebabkan keracunan gen (genotoxicity), sebuah kondisi yang dikaitkan dengan berbagai jenis penyakit, di antaranya kanker. Makin lama terpapar, maka risiko bahayanya juga semakin bertambah.

Dalam risetnya, para peneliti menempatkan strip kertas di ruang merokok dan beberapa sampel dibiarkan tetap dalam ruangan hingga 20 menit yang residunya dikategorikan ‘paparan akut’. Juga ada strip yang dibiarkan hingga 200 hari di ruang merokok yang berventilasi yang kategori residunya dikelompokkan “paparan kronis”.

Hasilnya, setelah peneliti mengekstraksi bahan kimia dari strip kertas itu, ditemukan bahwa sampel kronis memiliki konsentrasi residu yang lebih tinggi dari residu asap dengan sampel akut. Sampel kronis juga menyebabkan tingkat kerusakan DNA lebih tinggi.

Karakteristik penting lainnya adalah residunya bisa berinteraksi dengan senyawa di udara seperti ozon dan menghasilkan jenis racun baru. Karena itu, sulit memastikan kapan waktu yang aman untuk memasuki tempat bekas merokok. Sebab, emisi asap rokok tampaknya terus bertahan di tempat itu untuk waktu yang lama.

Para peneliti juga menemukan, ternyata membersihkan rumah atau mobil yang sebelumnya digunakan untuk merokok, tidak menyelesaikan masalah.

Hasil lebih lengkap studi itu telah dipublikasikan dalam Jurnal Mutagenesis.

Nah, bagi para perokok, mengingat dampaknya yang berkepanjangan dan bisa menyasar banyak orang, pilihan terbaik adalah berhenti merokok. Namun, bila sangat terpaksa, maka ketika merokok semaksimal mungkin hindarkan orang lain dari dampak merusak rokok Anda dengan melakukannya di luar ruangan atau di ruangan khusus yang disediakan.

Bagi yang tidak merokok, sesuai hasil riset di atas, sangat penting untuk menghindari ruangan-ruangan bekas tempat merokok. (EN/dbs)

Kabupaten Nias Punya Banyak Potensi Sumber Daya Energi Terbarukan

Wednesday, April 4th, 2012

Noniawati Telaumbanua, ST. M.Sc saat menyampaikan paparannya (Foto: NTBanua)

JAKARTA, NIASONLINE – Kabupaten Nias memiliki sejumlah potensi sumber daya energi terbarukan yang bisa digunakan untuk mengatasi kebutuhan listrik di wilayah itu. Terutama di beberapa bagian yang sampai saat ini belum tersentuh layanan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). (more…)

Mendesak, Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan di Kabupaten Nias

Thursday, March 29th, 2012

Noniawati Telaumbanua Saat Paparan (Foto: NTbanua)

JAKARTA, NIASONLINE – Perkembangan paska bencana tsunami 2004 dan gempa pada 2005 menunjukkan terjadinya lonjakan pemanfaatan energi listrik secara signifikan di Kabupaten Nias. Di sisi lain, ketersediaan sumber listrik tetap saja hanya mengandalkan suplai dari PT PLN, yang juga memiliki keterbatasan.

Pembangunan akan terus berlanjut dan tentu saja akan membutuhkan suplai listrik yang semakin meningkat. Setidaknya dalam 15 tahun mendatang, pembangunan sarana dan prasarana bagi masyarakat dan juga pemerintahan akan terus dilakukan mengingat masih banyak fasilitas dimaksud belum tersedia saat ini.

“Pembangunan ini juga dipastikan membutuhkan pasokan energi listrik dalam jumlah yang tidak sedikit. Di saat yang sama, upaya memenuhi kebutuhan listrik dalam skala rumah tangga yang paling minimumpun terus dilakukan baik oleh PLN maupun perorangan. Dalam hal ini, kebutuhan akan ketersediaan sumber-sumber energi terbarukan dan tak terbarukan guna memenuhi kebutuhan pembangunan yang sangat tinggi dan mendesak pula,” ujar Noniawati Telaumbanua, ST. M.Sc., dalam Seminar Nasional & Workshop Indonesia Menuju Kemandirian Energi Listrik Secara Berkelanjutan & Ramah Lingkungan di Graha William Soerjadjaja, Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang, Jakarta, Rabu (28/3/2012).

Seminar itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pembicara ahli, baik dari kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), PLN, dan pelaku bisnis energi baru terbarukan.

Kabupaten Nias yang diwakili oleh Noniawati dari Bappeda Kabupaten Nias, merupakan satu-satunya perwakilan dari daerah dalam seminar tersebut. Noniawati menyampaikan presentasi dengan topik “Tranformasi Potensi Air dan Cahaya, Titik Terang Menuju kemandirian Energi Listrik: Studi Kasus Kabupaten Nias.”

Noniawati menjelaskan, bahkan sampai saat ini pun, masih ada tiga kecamatan di Kabupaten Nias yang paling kritis kondisi kelistrikannya. Yaitu, Kecamatan Ma’u, Kecamatan Ulugawo dan Kecamatan Somölö-mölö.

Dia memaparkan, dari kondisi yang ada saat ini, pasokan listrik yang ada sangat tidak memadai. PLN yang ada saat di berada di Kota Gunungsitoli masih berstatus cabang dan melayani seluruh Kepulauan Nias. Didukung oleh ranting Gunungsitoli yang melayani Kabupaten Nias, Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Utara serta ranting Teluk Dalam yang melayani Nias Barat dan Nias Selatan.

Kenyataannya, PLN tidak mampu memberikan layanan yang diharapkan. PLN sendiri masih mengandalkan PLTD sewaan untuk mendukung kinerjanya. Akibatnya, pemadaman listrik menjadi tak terhindarkan.

Dia mengatakan, tidak hanya pemadaman pada jam-jam tertentu, bahkan pernah, selama seminggu listrik tidak menyala sama sekali. Di sisi lain, masih ada wilayah-wilayah yang belum terjangkau layanan listrik sama sekali.

“Untuk menjangkau wilayah seperti ini dibutuhkan infrastruktur yang mendukung. Di lihat dari sisi konsumsi dan ekonomi, daerah-daerah terisolir harus didorong lai ntuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan memiliki nilai ekonomi,” jelas dia (EN)

Australia Akan Menerapkan Pajak Karbon

Monday, February 28th, 2011

Adelaide – (Nias Online) – Pemerintah Australia berencana menarik pajak karbon dari pihak-pihak bisnis yang memiliki andil besar dalam pencemaran lingkungan. Dalam konferensi pers pada hari Rabu 24 Februari Perdana Menteri Julia Gillard mengatakan mulai tanggal 1 Juli 2012 pajak karbon akan diterapkan.

Rencana penerapan pajak karbon ini merupakan hasil kesepakatan antara pemerintah Partai Buruh, Partai Hijau dan dua orang anggota parlemen independen. Dalam rencana ini, pada tahap pertama, harga karbon akan dipatok secara tetap dalam kurun waktu 3 – 5 tahun. Setelah itu, tergantung dari kondisi internasional, barulah sistem pembatasan dan perdagangan (cap-and-trade) diberlakukan.

Rencana penerapan pajak karbon ini mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai kalangan. Kalangan yang peduli terhadap perubahan iklim menganggap kebijakan ini sebagai sebuah langkah awal yang positif, sementara pihak skeptis terhadap penyebab pemanasan global menganggap ini hanya akan membebani ekonomi dengan naiknya harga-harga barang dan jasa yang menggunakan energi konvensional dalam produksinya. Dewan mineral dan Asosiasi Kamar Dagang Australia memperingatkan pemerintah Australia bahwa penerapan pajak karbon akan memiliki implikasi luas terhadap ekonomi Australia.

Partai Liberal, yang merupakan partai oposisi Australia menolak rencana ini dan telah bertekad untuk menghalangi rencana ini menjadi undang-undang. Pihak oposisi mengatakan bahwa penerapan pajak karbon hanya akan menambah beban masyarakat kecil yang akan membayar biaya listrik dan jasa atau barang lain yang semakin mahal. Opoisis bahkan telah meramalkan bahwa setiap rumah tangga akan terpaksa mengeluarkan biaya tambahan listrik sebesar $300 per tahun.

Sementara itu, dalam percakapan dengan program Insiders di televisi ABC minggu 27 Februari, Menteri Urusan Perubahan Iklim dan Efisiensi Energi Greg Combet mengatakan bahwa hingga saat ini Pemerintah belum mematok harga karbon; oleh karenanya tidak relevan berspekulasi tentang efeknya terhadap perekonomian, khususnya terhadap keluarga tak mampu.

Dalam rencana ini, Pemerintah Australia akan menarik pajak karbon dari pihak-pihak pencemar seperti perusahaan pembangkitan listrik konvensional. Untuk mengurangi dampaknya terhadap keluarga tak mampu, sebagian dari pajak itu akan dimanfaatkan untuk mensubsidi biaya energi yang akan menjadi mahal. Dengan kebijakan ini, dampaknya terhadap keluarga tak mampu akan minimal.

Untuk menggolkan rencana ini, Pemerintah Partai Buruh masih harus berunding dengan para anggota parlemen dari Partai Hijau dan anggota independen untuk membicarakan rincian kebijakan. Pihak Partai Hijau bahkan berencana untuk memasukkan bahan bakar kendaraan bermotor (bensin) ke dalam kebijakan yang akan menjadi sangat tidak populer. Sementara anggota parlemen Independen Tony Windsor mengatakan ia tidak akan mendukung rencana yang akan menambah beban biaya trasportasi masyarakat di daerah-daerah yang jauh dari kota.

Pajak karbon merupakan isu politik yang sensitif karena ia langsung mempengaruhi sikap para pemilih. Karena takut akan penolakan para calon pemilihnya, Partai Buruh di bawah kepemimpinan mantan perdana mentri Kevin Rudd mengeluarkan pajak karbon dari agenda partai. Sebelum terpilih menjadi perdana menteri pada pemilu 2010, Julia Gillard berjanji tidak akan menerapkan pajak karbon. Akan tetapi hasil pemilu 2010 mempengaruhi kebijakan pemerintahan Partai Buruh yang terpaksa bergantung kepada dukungan Partai Hijau dan 3 orang Independen untuk terus berkuasa. (brk/*)

Subsidi Industri Energi Surya Jerman Dikurangi

Friday, January 21st, 2011

Industri energi surya di Jerman telah menyetujui usulan pemerintah Jerman untuk mengurangi subsidi industri energi surya hingga 15 persen tahun ini.

Di Jerman, permintaan pasar akan panel-panel tenaga surya telah meningkat pesat, suatu bukti keberhasilan industri tenaga surya di Jerman. Demikian dikatakan oleh Menteri Lingkungan Jerman Norbert Röttgen sebagaimana diberitakan oleh harian Jerman berbahasa Inggris The Local.

Röttgen dan presiden dari asosiasi industri tenaga surya BSW, Günther Cramer, mengumumkan secara bersama kesepakatan itu di Berlin. Pengurangan subsidi itu mulai berlaku bulan Juli tahun ini, 6 bulan lebih awal dari rencana semula.

Besarnya pengurangan subsidi berkisar 3 – 15 persen, tergantung dari berapa banyak panel surya terhubung ke grid mulai bulan Maret hingga Mei. Pengurangan sebesar 15 persen hanya berlaku jika penjualan panel surya mencapai 7.5 gigawatt.

Di Jerman hingga saat ini pemasok daya diwajibkan membeli listrik dari ‘kebun-kebun’ surya dan pemasok energi surya lain pada harga rata-rata 29 sen per kWh di atas harga pasar. Selisih harga ini diteruskan ke konsumen sehingga setiap orang membayar sedikit untuk mensubsidi energi surya yang masih relatif mahal.

Röttgen memuji industri energi surya yang menerima pemotongan subsidi ini yang merupakan isyarat kepercayaan akan semakin matangnya industri energi surya di Jerman.

Pemerintah Jerman mengkuatirkan subsidi surya telah memanaskan pasar secara berlebihan dan menekan harga sel-sel surya secara artifisial.

Panel fotovoltaik adalah perangkat pembangkitan listrik yang terdiri dari sel-sel surya. Keterangan gambar: panel surya di atap sebuah rumah (Sumber: Harian The Local – local.de – foto: wikipedia)

Disetujui, Rancangan Sejumlah Keputusan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB di Cancún

Wednesday, December 8th, 2010

CANCÚN, Nias Online – Pada Konferensi Perubahan Iklim PBB yang sedang berlangsung di Cancún, dua badan yang bernaung di bawah the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang menasehati dan mengimplementasikan keputusan Piha-Pihak atas tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perubahan iklim telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik pada hari Sabtu (4/12). Tugas kedua badan ini meliputi pembuatan rancangan keputusan-keputusan yang akan dibawa untuk diadopsi pada siding pleno Konferensi pada tanggal 10 Desember 2010.

Kedua badan itu adalah Badan Subsider untuk Nasehat Ilmiah dan Teknologi – the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) dan Badan Subsider untuk Implementasi – the Subsidiary Body for Implementation (SBI).

Rancangan keputusan yang dihasilkan termasuk yang menyangkut lanjutan dan penguatan dukungan bagi usaha negara-negara berkembang untuk adaptasi, mitigasi, termasuk projek-projek pangalihan teknologi.

Kemajuan-kemajuan ini merupakan bagian penting dari landasan utama tindakan yang kuat atas perubahan iklim. Ini juga menunjukkan bahwa negara-negara peserta datang ke Cancún dengan niat baik dan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa proses multilateral dapat memberikan hasil sejauh semangat kompromi, kerjasama dan transparansi dipertahankan. Demikian dikatakan Patricia Espinosa, Presiden Konferensi Cancún dan Sekretaris Kementrian Luar Negeri Mexico.

Kemajuan-kemauan ini harus dilihat sebagai tanda positif bagi Konferensi secara keseluruhan, katanya menambahkan. Ia juga mengajak semua pihak untuk menjaga semangat ini dan menuntaskan berbagai masalah yang masih tersisa demi keberhasilan Konferensi ini untuk mencapai persetujuan berimbang yang akan menggiring dunia ke dalam era kerjasama baru dan tindakan-tindakan ambisius untuk mengatasi perubahan iklim.

Keputusan-keputusan yang dicapai termasuk suatu butir yang hampir disetujui bahwa penangkapan dan penyimpanan karbon bisa menjadi suatu aktivitas projek di bawah Mekanisme Pembangunan Bersih Protokol Kyoto, sejauh memenuhi persyaratan peniliaian resiko dan keamanan yang ketat. Hal ini penting karena ia memberikan para menteri yang hadir – yang akan memberikan bimbingan politis pada perundingan-perundingan minggu ini – hanya dua opsi yang jelas terhadap isu ini.

Keputusan ini penting karena ia memberikan Pihak-Pihak kunci untuk menuntaskan masalah-masalah yang masih tersisa di bawah dua jalur perundingan pada Tindakan Kerjasama Jangka Panjang (Long-Term Cooperative Action) dan pada Protokol Kyoto, kata Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Christiana Figueres.

Capaian yang lain adalah keputusan untuk memperluas mandat Kelompok Ahli Negara-Negara Terbelakang – Least Developed Countries (LDC) Expert Group – dan memperpanjang mandatnya untuk 5 tahun masa tugas, kurun waktu terpanjang yang diberikan kepada Kelompok itu sejak pembentukannya pada tahun 2001. Kelompok Ahli ini memberikan bimbingan teknis dan nasehat kepada Negara-Negara Terbelakang dalam hal persiapan dan implementasi program-program aksi adaptasi nasional (national adaptation programmes of action – NAPAs). Sejak dukungannya dimulai, 45 negara terbelakang telah menyelesaikan dan menyerahkan program aksi adaptasi nasional mereka, 38 negara telah memulai implemetasi adaptasi, dan process ini telah mendorong kemampuan dan kesedaran di negara-negara itu dari level politik ke level masyarakat.

Negara-negara yang hadir juga sepakat memperkuat pendidikan, pelatihan dan kesadaran publik terhadap perubahan iklim melalui peningkatan pendanaan berbagai aktivitas dan memperkuat pelibatan masyarakat sipil dalam pengambilan keputusan nasional dan proses perubahan iklim PBB.

Tindakan yang lebih cepat dan efektif terhadap perubahan iklim menuntut pemerintah berbagai negara mendengar dan menerima ide-ide baru dan partisipasi aktif seluruh sisi masyarakat sipil, terutama generasi muda yang masa depannya menjadi taruhan. Ini menuntut komitmen perundingan-perundingan yang tetap terbuka, transparan dan aktif, kata Christiana Figueres.

Konferensi Perubahan Iklim PBB di Cancún, Meksiko, berlangsung dari tanggal 29 November hingga 10 Desember 2010. Konferensi ini juga disekenal sebagai Sesi ke 16 Konferensi Pihak-Pihak (16th session of the Conference of the Parties – COP 16) pada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

(Sumber: http://unfccc.int)

Hari Malaria Sedunia; 80 Persen Kabupaten / Kota Endemis Malaria

Monday, April 26th, 2010

Halmahera Selatan – Menteri Kesehatan Endang R. Sedyaningsih memperhatikan  peragaan patung nyamuk saat meresmikan Malaria Center di Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Sabtu (24/4).

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan Indonesia masih termasuk negara berisiko tinggi malaria dengan 80 persen kabupaten/kota endemis penyakit malaria.

“Tahun 2009, jumlah kasus malaria klinis yang dilaporkan 1.143.024 kasus dan jumlah kasus malaria positif hasil pemeriksaan laboratorium 199.577 kasus. Jumlah ini mungkin lebih kecil dari keadaan sebenarnya karena tidak semua kasus dilaporkan,” katanya pada peringatan Hari Malaria Sedunia di aula kantor Kabupaten Halmahera Selatan, Sabtu.

Utamanya, ia menjelaskan, penyakit malaria menyerang penduduk yang tinggal di desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan buruk, akses transportasi dan komunikasi sulit serta fasilitas kesehatan terbatas.

Ia menjelaskan penyakit malaria menimbulkan kerugian ekonomi. “Menurut perhitungan pakar ekonomi kerugian yang timbul mencapai Rp3 triliun,” katanya. Kerugian itu, menurut Perwakilan UNICEF di Indonesia Angela Kearney, timbul akibat kematian, biaya pengobatan, dan waktu produktif yang hilang akibat penyakit malaria.

“Sebab malaria menyebabkan kematian, termasuk ibu hamil dan balita. Juga membuat orang tidak bisa bekerja dan anak-anak kehilangan waktu belajar. Kerugian yang harus ditanggung karena ini sangat besar,” kata Angela.

Pemerintah, menurut dia, harus mengatasi masalah ini dengan program terpadu yang bisa menjamin terlaksananya deteksi dini, diagnosis tepat dan pengobatan penyakit malaria serta kegiatan-kegiatan untuk menciptakan lingkungan yang sehat guna mencegah penularan malaria.

“Deteksi dan pengobatan dini serta kegiatan pencegahan sangat penting dalam hal ini,” kata Perwakilan WHO di Indonesia Khanchit Limpakaranjanarat menambahkan.
Menteri Kesehatan mengatakan pemerintah berusaha memberantas penyakit yang disebabkan parasit Plasmodium sp itu antara lain dengan menyediakan obat antimalaria (Artemisinin Combination Therapy/ACT), alat diagnosis cepat malaria dan kelambu berinsektisida.

Pemerintah, kata dia, juga dibangun di desa endemis malaria yang terpencil untuk menggerakkan upaya kesehatan berbasis masyarakat dengan binaan dinas kesehatan melalui puskesmas dan poskesdes.

Beberapa pemerintah daerah, seperti Provinsi Maluku Utara, punya inisiatif sendiri dalam memberantas penyakit yang menular melalui gigitan nyamuk Anopheles betina itu. Di Maluku Utara, pemerintah membangun Malaria Center untuk mendukung upaya pemberantasan malaria melalui kegiatan advokasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan laboratorium dan penguatan sistem logistik.

Mereka juga berusaha memberdayakan masyarakat untuk memberantas malaria dengan menerapkan model Partisipatory Learning and Action (PLA) dengan binaan UNICEF di mana para kader dilatih untuk menggerakkan masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan malaria. Salah satu kabupaten yang sudah menerapkan pendekatan itu adalah Kabupaten Halmahera Selatan.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, menurut Bupati Halmahera Selatan Muhammad Kasuba, bahkan menyediakan alokasi dana khusus untuk mendukung upaya pemberantasan malaria. “Kami punya Alokasi Dana Desa atau ADD, 40 persen dari ADD harus digunakan untuk mendukung kegiatan yang ditujukan untuk mendukung pemberantasan malaria,” demikian Muhammad Kasuba.

(analisa)

Dari Rp 16 Milyar, Hanya Rp 600 Juta Pembiayaan Investasi UMKM Sumut

Sunday, April 4th, 2010

Medan- Sejumlah rencana kerja bidang usaha kecil menengah dan koperasi (UMKM) Sumut yang terungkap dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) bidang ekonomi rakyat pada Selasa di aula Balai Duta Tiara Convention, dinilai belum mencerminkan misi dan keberpihakan pada rakyat kalangan UKM, karena rencana biaya kerja yang bersifat ‘acara-acara’ atas nama berbagai kegiatan dan pelatihan atau peningkatan dan pengembangan, ternyata jauh lebih besar dibanding alokasi biaya untuk hal-hal yang bersifat ril pembiayaan.

Data prioritas kegiatan bidang Ekonomi Kerakyatan pada Dinas Koperasi & UKM Propinsi Sumut untuk tahun anggaran 2011, menunjukkan enam program kerja yang meliputi 41 sub-kegiatan dengan total biaya Rp16,386 miliar. Tapi dari jumlah itu, hanya Rp600 juta yang dinilai akan ril atau nyata teralokasi sebagai sumber pembiayaan sebagai skim kredit investasi bagi usaha koperasi dan UMKM di daerah ini.

“Prioritas program kerja atau rencana proyek sektor UMKM yang diajukan untuk agenda ekonomi kerakyatan Sumut ini tampaknya belum ‘pas’ karena ajuan biaya yang berpotensi atau rawan korupsi tampak lebih besar dari ajuan biaya ril untuk rakyat ekolem. Ini perlu diperbaharui sebelum difinalisasi sebagai anggaran di APBD,” ujar Sopar Siburian SH dan Mangaliat Simarmata SH, kepada pers di Medan, Selasa.

Sopar Siburian adalah anggota DPRDSU dari Komisi E yang ikut rapat salah satu bidang (sosial dan pendidikan) di Musrenbang tersebut, dan Mangaliat adalah salah satu peninjau dari kalangan LSM/NGO yang memang banyak hadir di acara tersebut. Secara terpisah mereka menanggapi kondisi dan nasib para pelaku bisnis UKM di daerah ini yang terbilang belum juga menunjukkan perkembangan atas peranan pemerintah maupun dunia usaha terkait di daerah ini.

Dalam rapat bidang Ekonomi Rakyat yang dipandu pejabat Dinas Koperasi & UKM Sumut plus moderator Dr Drs Layari Sinukaban (anggota DPRD Sumut yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia–HIPPI Sumut), sejumlah peserta rapat dari beberapa daerah, khususnya dari Nias (Nias Barat dan Nias Utara) menyatakan komplin dan protes atas materi rapat yang dinilai belum mengakomodir kebutuhan prioritas ekonomi rakyat di daerahnya.

“Kami kecewa, jauh-jauh kami datang dari Nias dengan ongkos yang tak sedikit untuk 49 orang, tahu-tahu kami hanya dapat Rp95 juta dari APBD Propinsi untuk biaya pengadaan peralatan pengolahan produk batu-batuan. Padahal, angka-angka untuk berbagai kegiatan lain yang sifatnya non teknis, kan bisa ditambahkan untuk hal-hal yang lebih penting bagi rakyat,” ujar pejabat dari salah satu instansi Pemkab Nias Selatan kepada para pemimpin rapat, disaksikan kepala Bappeda Nias Selatan Herman Hezatulo Laiya SH MHum.

Para peserta rapat baru tampak lega dan tenang sembari bertepuk tangan ketika mendengar paparan Layari Sinukaban yang menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi (sebagai anggota DPRD maupun sebagai pengusaha) antara pihak UKM di daerah ini dengan pejabat instansi terkait untuk memperoleh solusi dan saran tindak yang cepat dan aspiratif. Semula dijadwalkan, rapat bidang Ekonomi Rakyat itu dipandu oleh pakar ekonomi USU Drs John Tafbu Ritonga sebagai moderator. Tapi hingga sesi-kedua, pemandu rapat tetap didampingi Layari Sinukaban.

Disela-sela rehat acara rapat, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan dan Kelautan Kabupaten Nias Utara, Yusman Zega API MSi, bersama Kepala Bappeda Nias Utara Toloni Waruwu dan Sekretaris Bappeda Rozaman Gea, sangat menyesalkan sistem penyaluran pupuk organik maupun pupuk bersubsidi yang selalu kurang volumenya ke daerah itu. Dari sekira 5 juta ton yang dibutuhkan setiap musim tanam, hanya 2 juta hingga 3 juta ton yang tersalur.

“Sampai sekarang, pupuk urea dan pupuk NPK dsb yang merupakan kebutuhan primer para petani padi, belum pernah terpenuhi. Pihak pemerintah propinsi hendaknya memperhatikan hal ini secara serius, paling tidak bisa difinalisasi pada Musrenbang ini,” katanya berharap sembari menggambarkan secara ringkas kondisi dan prospek pertanian Nias Utara sebagai Kabupaten baru setelah mekar dari Nias.

Sembari itu, Sekretaris Umum Forum Komunikasi Masyarakat Kabupaten Nias Utara (FKM Kanira) Drs Temazaro Zega yang hadir meninjau acara itu, juga menyesalkan sinyalemen ‘kurang tanggap’ sejumlah pihak mulai dari tingkat pemerintah pusat maupun propinsi terhadap kondisi Kepulauan Nias selama ini.

“Dari data rancangan program kerja di sektor ekonomi daerah (koperasi & UKM) ini saja sudah menunjukkan sinyal kesenjangan itu. Jangankan dari segi alokasi, segi porsi yang mencantumkan Nias saja pun tampak sangat minus di antara semua tabel daerah-daerah itu,” katanya kepada SIB ketika mengamati data prioritas rencana kerja (Renja) itu.

Data itu menunjukkan, dari 13,386 miliar alokasi yang direncanakan, antara lain tertabulasi untuk hal-hal yang bersifat ‘acara ke acara’, misalnya pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif (biasanya hanya berupa seminar dsb) dengan biaya Rp2,27 miliar dengan enam bentuk kegiatan dan hanya disini terdapat paker riel berupa perluasan pembiayaan investasi. UKM & Koperasi yang senilai hanya Rp600 juta itu, pengembangan sistem pendukung UMKM dengan enam bentuk kegiatan senilai Rp2,45 miliar, peningkatan kualitas kelembagaan (biasanya bentuk pelatihan atau semi workshop) dengan 10 paket kegiatan Rp4,16 miliar, penciptaan iklim usaha UMKM dengan 8 paket kegiatan (tak jelas apa bentuk kerjanya, Rp1,59), pemberdayaan usaha skala mikro dengan 9 paket kerja senilai Rp5,9 miliar.

(hariansib, kontan)

Negara-Negara Berkembang Bersikap Tegas Tentang Protokol Kyoto

Thursday, December 17th, 2009

COPENHAGEN — Negara-Negara Berkembang memperingatkan akan bahaya meniadakan Protokol Kyoto dan memprotes usaha Denmark untuk menggantikannya dengan teks bersifat kompromi tanpa berkonosultasi dengan mereka. (more…)

Denmark: 17% Energinya dari Sumber Terbarukan

Tuesday, December 15th, 2009

Pada tahun 2007 hampir 17% energi yang dikonsumsi di Denmark berasal dari sumber-sumber energi terbarukan. Salah satu umber yang paling diandalkan adalah energi angin. Sebesar 30% energi listrik Denmark berasal dari sumber terbarukan, 20% di antaranya dari angin. Denmark telah menginstalasi sekitar 5300 turbin angin, 250 di antaranya memasok lebih dari 20% tenaga angin di Denmark. Di masa mendatang turbin-trubin angin kapasitas besar akan dipasang lepas pantai, yang menghasilkan energi dari kejauhan. (more…)