Posts Tagged ‘Perubahan Iklim’

Pemanasan Global Bikin Orang Gampang Marah

Monday, August 5th, 2013

Kampanye stop pemanasan global | riffajp4inspiration.wordpress.com

Kampanye stop pemanasan global | riffajp4inspiration.wordpress.com

NIASONLINE, JAKARTA – Dampak pemanasan global ternyata tidak hanya pada perubahan iklim, dan masalah lainnya terkait produksi pangan.

Riset para ilmuwan Amerika Serikat juga menunjukkan, pemanasan global berdampak lebih dari itu. Yakni, menyebabkan orang ‘mudah marah’. (more…)

Australia Akan Menerapkan Pajak Karbon

Monday, February 28th, 2011

Adelaide – (Nias Online) – Pemerintah Australia berencana menarik pajak karbon dari pihak-pihak bisnis yang memiliki andil besar dalam pencemaran lingkungan. Dalam konferensi pers pada hari Rabu 24 Februari Perdana Menteri Julia Gillard mengatakan mulai tanggal 1 Juli 2012 pajak karbon akan diterapkan.

Rencana penerapan pajak karbon ini merupakan hasil kesepakatan antara pemerintah Partai Buruh, Partai Hijau dan dua orang anggota parlemen independen. Dalam rencana ini, pada tahap pertama, harga karbon akan dipatok secara tetap dalam kurun waktu 3 – 5 tahun. Setelah itu, tergantung dari kondisi internasional, barulah sistem pembatasan dan perdagangan (cap-and-trade) diberlakukan.

Rencana penerapan pajak karbon ini mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai kalangan. Kalangan yang peduli terhadap perubahan iklim menganggap kebijakan ini sebagai sebuah langkah awal yang positif, sementara pihak skeptis terhadap penyebab pemanasan global menganggap ini hanya akan membebani ekonomi dengan naiknya harga-harga barang dan jasa yang menggunakan energi konvensional dalam produksinya. Dewan mineral dan Asosiasi Kamar Dagang Australia memperingatkan pemerintah Australia bahwa penerapan pajak karbon akan memiliki implikasi luas terhadap ekonomi Australia.

Partai Liberal, yang merupakan partai oposisi Australia menolak rencana ini dan telah bertekad untuk menghalangi rencana ini menjadi undang-undang. Pihak oposisi mengatakan bahwa penerapan pajak karbon hanya akan menambah beban masyarakat kecil yang akan membayar biaya listrik dan jasa atau barang lain yang semakin mahal. Opoisis bahkan telah meramalkan bahwa setiap rumah tangga akan terpaksa mengeluarkan biaya tambahan listrik sebesar $300 per tahun.

Sementara itu, dalam percakapan dengan program Insiders di televisi ABC minggu 27 Februari, Menteri Urusan Perubahan Iklim dan Efisiensi Energi Greg Combet mengatakan bahwa hingga saat ini Pemerintah belum mematok harga karbon; oleh karenanya tidak relevan berspekulasi tentang efeknya terhadap perekonomian, khususnya terhadap keluarga tak mampu.

Dalam rencana ini, Pemerintah Australia akan menarik pajak karbon dari pihak-pihak pencemar seperti perusahaan pembangkitan listrik konvensional. Untuk mengurangi dampaknya terhadap keluarga tak mampu, sebagian dari pajak itu akan dimanfaatkan untuk mensubsidi biaya energi yang akan menjadi mahal. Dengan kebijakan ini, dampaknya terhadap keluarga tak mampu akan minimal.

Untuk menggolkan rencana ini, Pemerintah Partai Buruh masih harus berunding dengan para anggota parlemen dari Partai Hijau dan anggota independen untuk membicarakan rincian kebijakan. Pihak Partai Hijau bahkan berencana untuk memasukkan bahan bakar kendaraan bermotor (bensin) ke dalam kebijakan yang akan menjadi sangat tidak populer. Sementara anggota parlemen Independen Tony Windsor mengatakan ia tidak akan mendukung rencana yang akan menambah beban biaya trasportasi masyarakat di daerah-daerah yang jauh dari kota.

Pajak karbon merupakan isu politik yang sensitif karena ia langsung mempengaruhi sikap para pemilih. Karena takut akan penolakan para calon pemilihnya, Partai Buruh di bawah kepemimpinan mantan perdana mentri Kevin Rudd mengeluarkan pajak karbon dari agenda partai. Sebelum terpilih menjadi perdana menteri pada pemilu 2010, Julia Gillard berjanji tidak akan menerapkan pajak karbon. Akan tetapi hasil pemilu 2010 mempengaruhi kebijakan pemerintahan Partai Buruh yang terpaksa bergantung kepada dukungan Partai Hijau dan 3 orang Independen untuk terus berkuasa. (brk/*)

Disetujui, Rancangan Sejumlah Keputusan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB di Cancún

Wednesday, December 8th, 2010

CANCÚN, Nias Online – Pada Konferensi Perubahan Iklim PBB yang sedang berlangsung di Cancún, dua badan yang bernaung di bawah the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang menasehati dan mengimplementasikan keputusan Piha-Pihak atas tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perubahan iklim telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik pada hari Sabtu (4/12). Tugas kedua badan ini meliputi pembuatan rancangan keputusan-keputusan yang akan dibawa untuk diadopsi pada siding pleno Konferensi pada tanggal 10 Desember 2010.

Kedua badan itu adalah Badan Subsider untuk Nasehat Ilmiah dan Teknologi – the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) dan Badan Subsider untuk Implementasi – the Subsidiary Body for Implementation (SBI).

Rancangan keputusan yang dihasilkan termasuk yang menyangkut lanjutan dan penguatan dukungan bagi usaha negara-negara berkembang untuk adaptasi, mitigasi, termasuk projek-projek pangalihan teknologi.

Kemajuan-kemajuan ini merupakan bagian penting dari landasan utama tindakan yang kuat atas perubahan iklim. Ini juga menunjukkan bahwa negara-negara peserta datang ke Cancún dengan niat baik dan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa proses multilateral dapat memberikan hasil sejauh semangat kompromi, kerjasama dan transparansi dipertahankan. Demikian dikatakan Patricia Espinosa, Presiden Konferensi Cancún dan Sekretaris Kementrian Luar Negeri Mexico.

Kemajuan-kemauan ini harus dilihat sebagai tanda positif bagi Konferensi secara keseluruhan, katanya menambahkan. Ia juga mengajak semua pihak untuk menjaga semangat ini dan menuntaskan berbagai masalah yang masih tersisa demi keberhasilan Konferensi ini untuk mencapai persetujuan berimbang yang akan menggiring dunia ke dalam era kerjasama baru dan tindakan-tindakan ambisius untuk mengatasi perubahan iklim.

Keputusan-keputusan yang dicapai termasuk suatu butir yang hampir disetujui bahwa penangkapan dan penyimpanan karbon bisa menjadi suatu aktivitas projek di bawah Mekanisme Pembangunan Bersih Protokol Kyoto, sejauh memenuhi persyaratan peniliaian resiko dan keamanan yang ketat. Hal ini penting karena ia memberikan para menteri yang hadir – yang akan memberikan bimbingan politis pada perundingan-perundingan minggu ini – hanya dua opsi yang jelas terhadap isu ini.

Keputusan ini penting karena ia memberikan Pihak-Pihak kunci untuk menuntaskan masalah-masalah yang masih tersisa di bawah dua jalur perundingan pada Tindakan Kerjasama Jangka Panjang (Long-Term Cooperative Action) dan pada Protokol Kyoto, kata Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Christiana Figueres.

Capaian yang lain adalah keputusan untuk memperluas mandat Kelompok Ahli Negara-Negara Terbelakang – Least Developed Countries (LDC) Expert Group – dan memperpanjang mandatnya untuk 5 tahun masa tugas, kurun waktu terpanjang yang diberikan kepada Kelompok itu sejak pembentukannya pada tahun 2001. Kelompok Ahli ini memberikan bimbingan teknis dan nasehat kepada Negara-Negara Terbelakang dalam hal persiapan dan implementasi program-program aksi adaptasi nasional (national adaptation programmes of action – NAPAs). Sejak dukungannya dimulai, 45 negara terbelakang telah menyelesaikan dan menyerahkan program aksi adaptasi nasional mereka, 38 negara telah memulai implemetasi adaptasi, dan process ini telah mendorong kemampuan dan kesedaran di negara-negara itu dari level politik ke level masyarakat.

Negara-negara yang hadir juga sepakat memperkuat pendidikan, pelatihan dan kesadaran publik terhadap perubahan iklim melalui peningkatan pendanaan berbagai aktivitas dan memperkuat pelibatan masyarakat sipil dalam pengambilan keputusan nasional dan proses perubahan iklim PBB.

Tindakan yang lebih cepat dan efektif terhadap perubahan iklim menuntut pemerintah berbagai negara mendengar dan menerima ide-ide baru dan partisipasi aktif seluruh sisi masyarakat sipil, terutama generasi muda yang masa depannya menjadi taruhan. Ini menuntut komitmen perundingan-perundingan yang tetap terbuka, transparan dan aktif, kata Christiana Figueres.

Konferensi Perubahan Iklim PBB di Cancún, Meksiko, berlangsung dari tanggal 29 November hingga 10 Desember 2010. Konferensi ini juga disekenal sebagai Sesi ke 16 Konferensi Pihak-Pihak (16th session of the Conference of the Parties – COP 16) pada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

(Sumber: http://unfccc.int)

Al Gore Mendesak Pengerahan Upaya Beralih ke Energi Bebas Karbon

Tuesday, July 22nd, 2008

Mantan Wapres AS Al Gore mendesak pengerahan upaya “manusia di bulan” untuk mengalihkan pembangkitan energi AS ke sumber-sumber energi bebas karbon (angin, matahari dan lain-lain) dalam kurun waktu 10 tahun. (more…)

Target Iklim Kelompok Delapan Slogan Kosong

Wednesday, July 9th, 2008

Toyako, Jepang – Pertemuan bersama antara negara-negara maju dan sedang berkembang para hari Rabu sepakat bahwa perubahan iklim merupakan “salah satu dari tantangan-tantangan global yang besar di zaman ini” dan berjanji untuk mendukung usaha PBB untuk menyelesaikan kesepakatan baru iklim pada tahun 2009. Negara-negara maju mengatakan mereka mendukung tujuan jangka panjang dan menengah untuk mengurangi gas-gas rumah kaca, tetapi tidak memberikan target apapun. (more…)

Pertemuan Iklim PBB Membahas Rencana Draf Kesepakatan Baru

Friday, April 4th, 2008

Paja ilmuwan dan pejabat lingkungan dari lebih 160 negara sedang membicarakan rencana pembuatan draf pengganti Protokol Kyoto pada hari terakhir pertemuan iklim PBB di Bangkok minggu ini. (more…)

Bank Dunia: Negara-negara Miskin Korban Utama Perubahan Iklim

Thursday, February 28th, 2008

* Tindakan nyata harus diambil segera

Washington – Negara-negara paling miskin akan menjadi korban utama dari perubahan iklim dan harus mulai segera beradaptasi untuk menghindari berbagai konsekuensi terburuk. Demikian peringatan Bank Dunia dalam laporan tahunannya tentang lingkungan yang dikeluarkan hari Rabu. Namun Bank Dunia juga mengatakan mengatasi masalah pemanasan global bisa menyediakan kesempatan bagi kemajuan ekonomi jangka panjang di negara-negara berkembang dengan meningkatkan efisiensi, perlindungan pantai dan peningkatan produksi pertanian. (more…)

Perdagangan Karbon Bisa Membantu Indonesia Melindungi Hutan

Friday, February 8th, 2008

Feb. 7 (Bloomberg) — Perdagangan karbon kemungkinan akan diterapkan pertama kalinya untuk menolong desa-desa di Indonesia untuk melestarikan hutan sebagai bagian dari usaha global untuk menghentikan deforestasi yang mempercepat perubahan iklim. (more…)