Posts Tagged ‘Lingkungan’

Tentang Kesepakatan AS dan Cina Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Sunday, November 16th, 2014
Logo Pertemuan Puncak G20 2014 - www.g20.org

Logo Pertemuan Puncak G20 2014 – www.g20.org

NIAS ONLINE – Beberapa hari menjelang dimulainya Pertemuan Puncak Kelompok 20 di Brisbane, Australia, 14-16 November 2014, Amerika Serikat dan Cina pada pertemuan di Beijing mengumumkan kesepakatan kedua negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Presiden Obama menargetkan, emisi GRK AS pada tahun 2025 akan berkurang sebesar 26 – 28  dari emisi GRK yang diemisi pada 2005. Target ini setara dengan dua kali target reduksi untuk periode 2005 – 2020.

Sementara itu, Presiden Xi Jinping mengatakan Cina akan menargetkan tahun 2030 sebagai tahun puncak emisi; setelah mana Cina akan secara gradual mengurangi emisi GRK-nya.

***

Kesepakatan ini memiliki efek yang cukup berarti pada kesepakatan pengurangan EGRK dunia. Cina dan AS adalah dua negara pengemisi GRK terbesar di dunia; pada tahun 2010 Cina mengemisi 9 632 juta ton setara karbon sementara AS mengemisi 6 548 juta ton setara karbon. Namun, bila dilihat dari emisi per kapita, maka setiap penduduk Amerika mengemisi 17.6 ton setara karbon pertahun, jauh di atas emisi per kapita Cina sebesar 6.2 ton setara karbon per tahun.

***

Pengurangan emisi GRK menjadi isu yang sensitif di seluruh dunia karena ia menyangkut hitung-hitungan ekonomi yang rumit. Di satu pihak, emisi GRK yang tak terkendali akan mengakibatkan konsekuensi ekonomi dan lingkungan hidup sebagai mana disampaikan dalam laporan Stern. Di pihak lain, banyak negara yang belum menemukan alternatif yang tepat untuk mengatasinya. (brk/*)

Penanggulangan Kabut Asap Membutuhkan Manajemen Ekstra

Friday, October 17th, 2014
komering.org

Ilustrasi – komering.org

Jakarta, Nias Online – Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menekankan agar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan tiga kementerian yang turut berperan dalam penanggulangan kabut asap untuk menerapkan manajemen ekstra, yang ukuran performansinya ialah kecepatan dan ketepatan sesuai dengan tuntutan keadaan, mengutamakan penyelamatan jiwa manusia, serta koordinasi dan keterpaduan berbagai sektor yang saling mendukung.

“Sekarang bencana asap, sebelumnya bencana gunung api Sinabung. Penanganan bencana harus extra management. Normal saja harus dimenej pas, apalagi kalau bencana. Kenapa kami membuat acara ini karena persoalan ini menyangkut hidup orang banyak di daerah,” ujar Parlindungan Purba, Senator asal Sumatera Utara, yang juga Ketua Komite I DPD dalam rapat kerja (raker) dengan BNPB di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/10) dalam rilis  dari Bidang Pemberitaan dan Media Visual DPD RI yang diterima NO.

Sebagai lembaga Pemerintah nonkementerian yang membantu Presiden, maka BNPB yang mengoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan penanganan bencana yang terpadu, baik sebelum, saat, maupun setelah terjadi bencana. Pengkoordinasian perencanaan dan pelaksanaan yang terpadu itu meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan kedaruratan, dan pemulihan.

Kemampuan menanggulangi saat dan setelah bencana bertujuan untuk menangani kondisi kritis. Kondisi kritis saat dan setelah bencana itu dinyatakan sebagai fase tanggap darurat dengan mengutamakan penyelamatan jiwa manusia dan harta bendanya. Fase tanggap darurat membutuhkan penanganan ekstra, terutama mobilisasi dan suplai sumberdaya yang besar dan banyak. Tentunya dibutuhkan manajemen ekstra untuk mengatur atau mengelola sumberdaya dan mengarahkan atau mengendalikan kegiatan menggunakan sumberdaya itu.

Komite II DPD meminta keterangan/penjelasan BNPB tentang penanggulangan bencana yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan seperti kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah. Dalam acara itu, sejumlah senator mengeluhkan kelambanan pemerintah pusat menangani kabut asap. “Pertemuan ini untuk mencari penyelesaian masalah tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan. Tujuannya untuk kami tindak lanjuti,” ujar Parlindungan.

Para senator tersebut berasal dari daerah terdampak kabut asap, seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Bengkulu, dan Jambi. “Kabut asap sudah sangat parah. Jarak pandang di Banjarmasin hanya berjarak 20 meter. Gubernur sudah menyebutkan ada kekecewaan atas lambannya penanggulangan,” ujar Habib Abdurrahman Bahasyim (senator asal Kalimantan Selatan).

Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi menejaskan, BNPB akan mengoptimalkan penanggulangan kabut asap melalui penanganan operasi darat dan udara. “Ketika sudah terjadi eskalasi besar, BNPB akan segera turun tangan dalam penanganan bencana,” jelasnya yang didampingi Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB.

BNPB memperkirakan kabut asap berakhir bulan Oktober-November. Untuk mempercepat penanggulangannya, BNPB berupaya untuk menambah unit yang melakukan operasi udara dengan modifikasi cuaca melalui pengerahan helikopter water bombing dan membuat hujan buatan. Penambahan unit itu di antaranya menambah jumlah pesawat yang pekan ini diberangkatkan menuju titik panas di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

Guna menanggulangi kabut asap, Dody menambahkan, BNPB berkordinasi dengan pemerintah pusat, khususnya tiga kementerian yang turut berperan dalam penanganan kabut asap, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Dalam raker, Komite II DPD menekankan rencana untuk membentuk panitia khusus (pansus) bencana kabut asap. Pansus akan meminta kembali keterangan/penjelasan BNPB dan tiga kementerian serta instansi penegak hukum tentang kebijakan penanggulangan bencana yang prioritasnya pengurangan resiko bencana seperti pencegahan, mengurangi dampak (mitigasi), dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Karena kesamaan visi dan misi para pihak, khususnya menyangkut pertukaran data dan informasi, DPD dan BNPB akan menandatangani memorandum of understanding (MoU). Kesepakatan bersama itu menjadi landasan untuk mewujudkan kerjasama antara DPD dan BNPB untuk memberdayakan daerah dalam menanggulangai bencana dalam kerangka desentralisasi (otonomi daerah). (brk/*)

Pulau Nias Dilanda Kabut Asap Tebal

Monday, February 24th, 2014

Kabut asap di Kota Gunungsitoli. Foto diambil dari Laverna | BKL

Kabut asap di Kota Gunungsitoli. Foto diambil dari Laverna | BKL

NIASONLINE, GUNUNGSITOLI – Diduga imbas dari pembakaran hutan di daratan Sumatera, hari ini Pulau Nias diliputi kabut tebal. Hari ini, khususnya di Kota Gunungsitoli, kabut asap itu sangat tebal. (more…)

Curah Hujan Tinggi, Waspadai Longsor dan Banjir Hingga Akhir Tahun

Saturday, October 19th, 2013

Ilustrasi | Viva.co.id

Ilustrasi | Viva.co.id

NIASONLINE, MEDAN – Berhubung wilayah Sumatera Utara (Sumut) sedang memasuki puncak curah hujan kedua sejak Oktober 2013, masyarakat diminta mewaspadai peningkatan debit air hingga akhir tahun ini. (more…)

Google Mengembangkan Sofwer Pemantau Konsumsi Energi di Rumah-Rumah

Friday, February 13th, 2009

Google sedang mengembangkan sofwer (program komputer) yang mampu memantau pemakaian energi di rumah-rumah. Dengan sofwer yang diberi nama PowerMeter ini – yang akan memproses data yang datang dari berbagai alat pengukur – berbagai informasi mengenai pemakaian energi akan dapat ditampilkan secara rinci di layar setiap saat. (more…)

Al Gore Mendesak Pengerahan Upaya Beralih ke Energi Bebas Karbon

Tuesday, July 22nd, 2008

Mantan Wapres AS Al Gore mendesak pengerahan upaya “manusia di bulan” untuk mengalihkan pembangkitan energi AS ke sumber-sumber energi bebas karbon (angin, matahari dan lain-lain) dalam kurun waktu 10 tahun. (more…)

Target Iklim Kelompok Delapan Slogan Kosong

Wednesday, July 9th, 2008

Toyako, Jepang – Pertemuan bersama antara negara-negara maju dan sedang berkembang para hari Rabu sepakat bahwa perubahan iklim merupakan “salah satu dari tantangan-tantangan global yang besar di zaman ini” dan berjanji untuk mendukung usaha PBB untuk menyelesaikan kesepakatan baru iklim pada tahun 2009. Negara-negara maju mengatakan mereka mendukung tujuan jangka panjang dan menengah untuk mengurangi gas-gas rumah kaca, tetapi tidak memberikan target apapun. (more…)

Pertemuan Iklim PBB Membahas Rencana Draf Kesepakatan Baru

Friday, April 4th, 2008

Paja ilmuwan dan pejabat lingkungan dari lebih 160 negara sedang membicarakan rencana pembuatan draf pengganti Protokol Kyoto pada hari terakhir pertemuan iklim PBB di Bangkok minggu ini. (more…)

Bank Dunia: Negara-negara Miskin Korban Utama Perubahan Iklim

Thursday, February 28th, 2008

* Tindakan nyata harus diambil segera

Washington – Negara-negara paling miskin akan menjadi korban utama dari perubahan iklim dan harus mulai segera beradaptasi untuk menghindari berbagai konsekuensi terburuk. Demikian peringatan Bank Dunia dalam laporan tahunannya tentang lingkungan yang dikeluarkan hari Rabu. Namun Bank Dunia juga mengatakan mengatasi masalah pemanasan global bisa menyediakan kesempatan bagi kemajuan ekonomi jangka panjang di negara-negara berkembang dengan meningkatkan efisiensi, perlindungan pantai dan peningkatan produksi pertanian. (more…)

Perdagangan Karbon Bisa Membantu Indonesia Melindungi Hutan

Friday, February 8th, 2008

Feb. 7 (Bloomberg) — Perdagangan karbon kemungkinan akan diterapkan pertama kalinya untuk menolong desa-desa di Indonesia untuk melestarikan hutan sebagai bagian dari usaha global untuk menghentikan deforestasi yang mempercepat perubahan iklim. (more…)