Archive for April 6th, 2010 | Daily archive page

Krisis Dalam Gereja Katolik, Krisis Hirarkhi dan Umat Katolik

Tuesday, April 6th, 2010

Masa pra-paskah dan paskah tahun ini diselimuti oleh awan kabut berupa berita-berita skandal penutupan kasus-kasus pelecehan seksual dalam Gereja Katolik yang dilakukan oleh para imam Katolik dan yang melibatkan para uskup sebagai pelindung yang melakukan penutupan (cover up). Skandal yang menjadi sorotan pers di seluruh dunia itu terjadi di wilayah keuskupan-keuskupan Katolik di Irlandia, Amerika Serikat, Jerman dan Australia. (more…)

Negara dalam Tikaman Uang

Tuesday, April 6th, 2010

oleh Yudi Latif

Kebajikan tidaklah datang dari uang, tetapi dari kebajikanlah uang dan hal baik lainnya datang kepada manusia, baik kepada individu maupun negara.” Pernyataan Socrates itu perlu kita renungkan dalam menghadapi centang-perenang kehidupan bernegara dan berbangsa saat ini. (more…)

Korban Rabies di Nias Menjadi 9 Orang

Tuesday, April 6th, 2010

Medan, Kompas – Penyakit rabies di Pulau Nias hingga Senin (5/4) menjadi sembilan orang. Namun, pihak berwenang menyatakan bahwa penyakit sudah mulai terkendali, terutama setelah adanya bantuan serum antirabies dari lembaga swadaya masyarakat yang sudah tersalur dan sudah digunakan untuk memvaksin korban gigitan. (more…)

Gunungsitoli mulai benahi sumber PAD

Tuesday, April 6th, 2010

MEDAN – Pemerintah kota Gunungsitoli, Sumatra Utara, mulai berbenah setelah hampir setahun diresmikan dengan langkah awal mengerakan sektor pertanian, perikanan, pariwisata dan tambang batubara untuk menarik PAD.

Pemkot Gunungsitoli merupakan daerah otonomi baru yang telah dibentuk berdasarkan undang-undang No 47 tahun 2008 yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada 26 Mei 2009 lalu.

Walikota Gunungsitoli, Martinus Lase, mengatakan walaupun belum genap setahun, pihaknya sudah mempunyai master plan pembangunan kota. Tujuannya untuk mengejar ketertinggalan dengan kota-kota lain di Sumatra Utara.

“Pemkot Gunungsitoli akan menggerakan sesuatu yang apa yang dimiliki seperti pertanian yang memiliki sekitar 1200 hertar lahan pertanian dan batubara, perikanan/kelautan yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Apabila dikelola dengan baik akan dapat mensejahterakan masyarakat setempat,”paparnya saat mengunjungi stan Pemkot Gunungsitoli di acara Pekan Raya Sumatra Utara (PRSU) di Medan.

Martinus mengungkapkan, untuk pariwisata pasca Tsunami pada 2009 lalu masih dalam pembenahan-pembenahan di sana-sini yang rehabilitasinya dilakukan pihak asing dan Pemkot sendiri.

Pasca Tsunami kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) cenderung meningkat namun pada tahun 2008 wisman cenderung menurun karena NGO-NGO secara bertahap meninggalkan Nias.

“Tapi Nias memiliki pantai Nusa Lima, Pantai Cerita yang cukup mempesona dan ada satu perkampungan rumah adat di di Tumeri yang memiliki keunikan yang selalu dirawat dengan baik sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang dapat menarik wisman dari berbagai mancanegara,” ungkapnya.

oleh : Darwinsyah Purba (Bisnis)

Pangdam Bukit Barisan Bantah Pulau di Nias Dikuasai Asing

Tuesday, April 6th, 2010

Medan – Pangdam I Bukit Barisan, Mayjen TNI M. Noer Muis, membantah Pulau Asu dan Pulau Sinarano yang berada di kepulauan Nias telah menjadi milik warga Negara asing (WNA). “Dalam peraturan, tidak ada pulau yang boleh dimiliki asing,” kata Mayjen TNI M. Noer Muis usai rapat muspida di kantor gubernur Sumut di Medan, Senin (5/4).

Sebelumnya, beredar informasi jika Pulau Asu di Kabupaten Nias Barat dan Pulau Sinarano di Kabupaten Nias Selatan telah dikuasai WNA.

Pangdam menuturkan, pihaknya telah melakukan pengecekan kepada Pemkab Nias Barat dan Pemkab Nias Selatan mengenai kepemilikan Pulau Asu dan Pulau Sinarano. Dari keterangan dua pemkab itu dipastikan Pulau Asu dan Pulau Sinarano bukan atas nama WNA yang belum diketahui kewarganegaraannya tersebut.

Pangdam menjelaskan, infromasi yang didapat, WNA itu berdiam di kepulauan Nias setelah menikah dengan salah seorang masyarakat lokal. Kemudian, WNA yang belum diketahui namanya itu menanamkan modalnya untuk membangun berbagai prasarana, khususnya di bidang pariwisata di dua pulau tersebut.

Pihaknya menilai tindakan WNA itu tidak perlu dipermasalahkan jika tidak bertentangan dengan undang-undang termasuk peraturan daerah (Perda) yang berlaku di Pemkab Nias Barat dan Pemkab Nias Selatan. Bahkan sebaliknya, kata Pangdam, tindakan WNA itu dapat memberikan efek positif bagi warga sekitarnya karena memiliki peluang usaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

Namun, untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi di belakangan hari, Pemkab Nias Barat dan Pemkab Nias Selatan perlu membuat perda tentang pembuatan prasaran pariwisata di dua pulau tersebut. Dia mencontohkan kemungkinan diberlakukannya daerah khusus di dua pulau itu yang akan menyebabkan larangan bagi warga sekitar untuk memasukinya. “Itu perlu diwaspadai agar tidak menimbulkan masalah,” kata Pangdam.

(tvOne)