Author Archive

Beasiswa IPCC

Wednesday, December 10th, 2014
Ilustrasi | alertmagazine.org

Ilustrasi | alertmagazine.org

NIASONLINE The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) – badan ilmiah bentukan PBB untuk mengkaji perubahan iklim akan menawarkan beasiswa S3 (PhD) kepada pelamar dari negara berkembang. Menurut informasi situs IPCC, penawaran beasiswa ronde ke-3 ini akan dibuka pada bulan Januari 2015. Para pelamar terpilih akan dihubungi bulan September 2015 dan akan diumumkan pada bulan Oktober 2015.

Untuk bisa meraih beasiswa sebesar EUR15,000 per tahun (selama maksimum dua tahun) ini, pelamar harus berumur tidak lebih dari 30 tahun ketika melamar, sudah mendapat tawaran belajar pada level S3 atau sedang menyelesaikan pendidikan S3 pada universitas pilihannya.

Selanjutnya, usulan penelitian harus terkait dengan salah satu dari topik berikut: (1) Iklim dan air, (2) iklim dan samudara, (3) sains dasar perubahan iklim, (4) pemodelan sosio-ekonomi yang berhubungan dengan perubahan iklim.

Para peminat dapat meilihat informasi lebih rinci di situs IPCC. (brk/*)

Wisata Pantai dan Laut

Wednesday, December 3rd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1MESKIPUN harga bahan bakar minyak (BBM) sudah naik dan mahasiswa-mahasiswa melakukan demo menolak kenaikan harga BBM itu, kenaikan harga BBM tetap berjalan, bahkan pengguna BBM pun tetap banyak. Lihat saja antrian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetap banyak. Bahkan keinginan sebagian orang untuk melakukan rekreasi bersama keluarga, tetap saja berjalan seperti biasa. Mereka banyak bepergian di pantai untuk melihat laut sekaligus rekreasi, agar mendapatkan kesegaran pemikiran kembali setelah melakukan berbagai pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran.

Kita memang membutuhkan keseimbangan dalam hidup ini. Setelah tersita waktu dan pikiran untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari, lalu meluangkan waktu untuk melakukan pemulihan kesegaran pemikiran kembali, dengan melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga sekaligus mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga besarnya.

Jadi, Anda jangan heran bila tiba hari besar atau hari libur, orang berlomba-lomba bepergian untuk rekreasi. Objek dan daya tarik wisata yang dipilih lebih banyak pada produk wisata pantai (wisata laut). Mereka membuang kejenuhan dengan menyenangkan mata melihat laut yang biru dan sangat luas, menyenangkan telinga mendengarkan deru ombak yang menggelegar, menyenangkan perut melalui makanan khas lokal (kuliner), menyenangkan hati dengan berbelanja souvenir dan kebutuhan lainnya, serta menyenangkan pikiran.

Pertanyaan menarik yang perlu diajukan disini adalah mengapa kebanyakan manusia suka bepergian di pantai? Barangkali, karena pantai memiliki luasan pasir yang menarik dengan deru ombak yang menderu-nderu dan saling berlari kejar mengejar menuju pantai. Pemandangan di laut yang menggambarkan tidak ada batasnya, demikian juga tingginya langit tanpa hambatan. Paling-paling ada hambatan tidak bisa melihat langit, bila terdapat banyak awan sebagai tanda mau turun hujan.

Memandangi laut yang demikian luas, serta melakukan berbagai aktivitas di pantai atau di laut, banyak memberikan nuansa kegembiraan. Jadi hati ini terasa tenteram dan bahagia, lebih-lebih berwisata bersama keluarga.

Berbagai hal yang bisa dilakukan bila rekreasi di pantai. Antara lain mandi di laut, berenang di laut, mancing di laut, bermain pasir dengan membuat jembatan, gunung, kue tar atau jenis yang lain. Bisa juga naik kuda menyusuri pantai atau motor-motoran bersama anak atau cucu. Tanpa kemana-mana pun tidak masalah, cukup dengan hanya duduk-duduk di atas tikar di pantai, sambil makan jagung bakar atau minum air kelapa muda.

Di pantai bisa juga merasakan pijitan dari yang ahli pijit, agar peredaran darah bisa lancar kembali, sehingga kembali bugar. Para wisatawan yang lagi menikmati derunya ombak, bisa juga main bola atu voli bersama, sehingga betul-betul terjadi keakraban satu sama lain.

Apabila gelombang laut memiliki ombak yang besar dan tinggi, bisa juga berolahraga selancar. Kegiatan penyelaman juga bisa dilakukan pada wilayah laut yang tidak berbahaya, sambil menikmati pemandangan di bawah laut.

Setelah puas bermain di pantai dan di laut, Anda pun bisa menunggu sampai sore di pinggir pantai sambil menikmati suasana sunset yang begitu indah di mata. Sungguh memberikan situasi perasaan yang nyaman dan damai di hati.

Setelah merasakan dan menikmati rekreasi di pantai, tentu akan melakukan perjalanan mau pulang. Sebelum pulang, biasanya wisatawan akan mampir di suatu tempat untuk berbelanja souvenir sebagai oleh-oleh termasuk belanja lauk ikan yang biasanya terdapat dan dijual di sekitar lokasi pantai. Jadi melakukan rekreasi di pantai, banyak hal yang bisa dilakukan, dan banyak hal yang bisa diperoleh, sehingga kejenuhan menjadi sirna dan hubungan antar keluarga semakin erat dan damai.

Berbagai hal yang didapatkan dan dirasakan setelah berwisata di pantai, akan membuat wisatawan merasakan kesegaran, terutama dalam hal hubungan dengan keluarga yang semakin baik serta pemikiran yang sudah semakin jernih. Hal-hal yang sudah didapatkan wisatawan, seperti merasakan dan menikmati produk wisata pantai, berwisata olahraga, berwisata kuliner, dan bisa juga berwisata kreatif dengan membentuk gunungan atau sejenisnya yang berbahan pasir atau yang heboh lagi yaitu berfoto ria. Sungguh menyenangkan serta sungguh memberikan kesan yang tidak mudah dilupakan.

Berdasarkan pengamatan, jumlah wisatawan yang berkunjung di objek dan daya tarik wisata pantai semakin meningkat jumlahnya. Apalagi pada waktu hari libur, jumlah wisatawan akan semakin meningkat. Melihat kondisi ini, maka banyak pemerintah daerah yang menyulap pantainya menjadi sesuatu yang menawan dan menarik hati. Seperti pantai-pantai yang terdapat di sepanjang laut selatan Yogyakarta, pemerintah daerah Gunungkidul dan pemerintah daerah Bantul menggarap lingkungan pantainya menjadi semakin menarik serta mempermudah akses pencapaiannya.

Sepanjang pantai yang jauhnya sekian kilometer itu, pemerintah daerah membangun dan mengembangkan beberapa lokasi wisata pantai, yang hanya dibatasi hutan atau batu karang. Setiap lokasi wisata pantai, dibuat diferensiasi dengan penonjolan ciri khas dari masing-masing pantai. Ada pantai yang diperuntukkan bagi yang suka pemandangan alam dan laut, ada pantai yang ada pasar ikannya, ada pantai yang bisa untuk motor-motoran dan olahraga kuda, ada pantai yang banyak kulinernya, ada pantai yang banyak menyajikan hasil kerajinan masyarakat, dan beberapa wisata pantai lainnya yang memiliki ciri kekhususan.

Tujuan dilakukannya diferensiasi ini dalam upaya agar wisatawan yang mau rekreasi di pantai, tidak hanya berkunjung pada 1 (satu) pantai saja, tetapi akan melakukan kunjungan pada beberapa pantai yang sudah disiapkan itu. Jadinya semua pantai yang ditawarkan itu, akan dikunjungi semua oleh para wisatawan. Jadi sekali melakukan kegiatan wisata, akan bisa melihat beberapa pantai yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri.

Nah, setiap objek wisata pantai, sudah disiapkan loket karcis bagi pengunjung, sekaligus sebagai dasar hitungan jumlah pengunjung. Karcis yang disiapkan itu, ada yang diperuntukkan kepada para pengunjung, ada karcis untuk motor, dan ada karcis untuk bus dan truk.

Meskipun pemasukan pemerintah dari penjualan karcis terbilang hanya sedikit, barangkali sekian puluh miliar dalam setahun, namun jumlah pemasukan ini sangat bermanfaat. Selain itu, penerimaan lain yang bisa diperoleh pemerintah daerah bisa berupa pajak dari usaha kepariwisataan dan pajak-pajak yang lain (tidak langsung).

Mengenai jumlah penerimaan-penerimaan pemerintah daerah dari kegiatan pariwisata ini, mestinya bisa dalam beberapa jenis, seperti pemasukan dari karcis masuk objek wisata dan pajak-pajak usaha. Penerimaan pemerintah daerah yang bersumber dari penjualan karcis masuk di setiap ojek dan daya tarik wusata, tentu bisa digunakan untuk pemeliharaan objek dan daya tarik wisata. Pengeluaran yang lain bisa juga digunakan untuk pembayaran gaji petugas yang membantu kelancaran perjalanan kunjungan wisatawan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang berkaitan dengan pengelolaan objek dan daya tarik wisata.

Mungkin yang paling menarik di sini adalah besaran pendapatan masyarakat yang langsung diperoleh dari para wisatawan. Masyarakat langsung mendapatkan hasil dari berbagai usaha yang mereka lakukan dalam upaya memenuhi kebutuhan wisatawan. Besaran pendapatan ini yang barangkali sangat memberikan daya ungkit bagi masyarakat untuk berusaha. Artinya terjadi penyebaran jiwa wirausaha pada masyarakat, sekaligus mendorong masyarakat untuk bertindak ramah serta memberikan daya dorong bagi masyarakat untuk turutserta memelihara lingkungannya.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu melakukan inventarisasi lokasi-lokasi produk wisata pantai yang bisa ditawarkan kepada para wisatawan. Agar produk wisata pantai ini semakin memberikan daya tarik, tentu perlu melakukan usaha diferensiasi pada setiap objek wisata pantai. Tujuannya agar wisatawan selalu mendapatkan hal yang baru pada setiap produk wisata pantai yang dikunjungi serta menghindarkan kejenuhan bagi wisatawan. Semakin bervariasi kondisi produk wisata pantai, akan semakin mempesona bagi wisatawan serta dapat memberikan pengalaman baru, bila wisatawan berkunjung dari wisata pantai yang satu dengan wisata pantai yang lain.

Manfaatkanlah kekayaan laut yang terdapat di wilayahnya, dan suguhkan kekayaan laut itu kepada orang yang berkeinginan untuk mendapatkan kesegaran kembali. Laut dan pantainya memang memberikan berbagai hal yang menyenangkan bagi siapa saja yang melakukan kunjungan. Untuk itu sulaplah kondisi lingkungan pantai dan laut itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi setiap orang yang melakukan kegiatan pariwisata di pantai. Kembangkanlah wisata laut di wilayahnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Asiliawa, Osiliyawa, ‘Oisilöyawa’ … Sombong?

Monday, December 1st, 2014

Oleh E. Halawa*

LiNihaDalam halaman Amaedola Nono Niha di Facebook, ada diskusi menarik tentang: (1) kata mana yang sesungguhnya ada atau dikenal dalam Li Niha: asiliyawa, osiliyawa, atau oisilöyawa, dan (2) apa arti sesungguhnya dari kata itu [1].

Dari diksusi itu juga ketahuan bahwa masalah ini muncul ketika ada pembahasan pembaharuan kurikulum Bahasa Daerah Nias baru-baru ini.

Asiliawa, Asiliyawa

Tidak mengejutkan, kata itu (asili(y)awa) dikenal oleh sejumlah pemberi komentar yang lain. Yang terakhir seorang pemberi komentar merujuk kepada Kamus Li Niha – Nias Indonesia [2].

Ketika masih kecil dan tinggal di desa, kata asiliawa atau asiliyawa sering saya dengar. Berikut sebuah contoh dalam kalimat:

Asili(y)awa sibai ndra’ugö le … → Kalimat kekesalan – misalnya kekesalan seorang tua kepada seorang anak yang tiba-tiba mengejutkannya lalu lari. Di sana tidak ada makna sombong. Dalam kalimat ini, asiliyawa lebih cenderung berarti: kurang ajar atau tidak sopan, tidak menghargai orang (yang lebih) tua.

Niha sasili(y)awa – biasanya adalah orang yang suka bikin kesal atau menimbulkan kemarahan orang lain, entah dengan kata-kata yang kasar (memaki), perbuatan, atau gerak-geriknya.

Terkadang, kata asili(y)awa juga dipakai sebagai kata kelakar dalam suatu kalangan yang akrab karena persaudaraan atau persahabatan.

Asili(y)awa sibai ndra’ugö le … → Kalimat yang di atas tadi bernada kekesalan atau kemarahan, dalam konteks keakraban justru bermakna canda atau kelakar. Contohnya, dua atau tiga orang yang sedang membicarakan orang lain. Misalnya, sebagai bahan kelakar, salah seorang dari mereka berkhayal untuk kurang ajar kepada orang yang sedang mereka bicarakan itu. Lalu salah seorang dari mereka nyeletuk: Asili(y)awa sibai ndra’ugö le …

“Na falukhaga sa ba usöbi mbu mbewenia”, kata si A. (Kalau kami ketemu akan kucabuti kumisnya).

“E… asiliyawa ae ndra’ugö khönia le ..”, kata si B (Kurangajar (tak sopan) sekali kamu terhadapnya.)

Dengan atau tanpa “y” ?

Asiliawa (tanpa y) atau Asili(y)awa ? Dualisme seperti ini lazim dalam Li Niha. Contoh lain: and(r)ö, und(r)e, bahkan dalam marga seperti La’i(y)a. Secara alamiah, penulis lebih cenderung mengucapkan asiliawa, sebab mengucapkannya lebih mudah daripada mengucapkan asiliyawa yang menuntut gerakan ekstra dari lidah.

Asilöyawa

Dalam Kamus Nias – Indonesia susunan Laiya dkk [3], ada entri: asilöyawa. Dalam kamus itu, asilöyawa diartikan: sombong, pongah, angkuh.

Penulis tak pernah mendengar kata ini dalam percakapan sehari-hari. Bisa jadi kata ini dikenal di Nias Selatan.

Osili(y)awa

Ini adalah varian dari asili(y)awa.

Oisilöyawa

Kata ini muncul dalam diskusi [1] tersebut, tetapi seingat penulis, tak pernah mendengar kata ini dalam percakapan sehari-hari dalam bahasa Nias. Atas alasa itulah, dalam judul tulisan ini, penulis menempatkannya dalam tanda kutip.

Ono Niha pengunjung Nias Online yang kebetulan pernah mendengar kata ini diharapkan memberikan informasi dalam bentuk komentar, sekali gus contoh pemakaian dalam kalimat.

Usaha mencari kata dasar (akar kata)

Ada kesan, kata asili(y)awa atau variannya osili(y)awa ditafsirkan berasal dari beberapa kata dasar … dan karena itu dianggap kata yang tepat adalah Oisilöyawa.

Akan tetapi seperti dijelaskan di depan, dan diteruskan di bawah, “hipotesis” itu hanya akan bertahan apabila kata yang sedang didiskusikan itu mempunyai arti: sombong atau tinggi hati.

Sombong?

Ada alasan mengapa kata yang sebenarnya cukup luas dikenal, yakni kata asili(y)awa atau variannya osili(y)awa dianggap bukan kata dasar. Alasannya adalah karena kata yang didiskusikan itu diartikan: sombong atau tinggi hati. Maka (di)muncul(kan)lah kata oisilöyawa, sebab “Oisilöyawa artinya menganggap tidak ada yang di atasnya” [4].

Baik Kamus Lase [2] mau pun Kamus Laiya [3] mengartikan asiliawa (atau dalam Kamus Laiya Asilöyawa) sebagai sombong atau angkuh. Beberapa pemberi komentar juga mengarah kepada pendapat yang sama.

Benarkah asili(y)awa berarti sombong? Penulis memiliki pendapat yang berseberangan dengan kedua Kamus itu.

Sepengetahuan penulis, sombong dalam Li Niha adalah mangosebua atau fayawa.

Terjemahan kata “sombong” dalam Alkitab Li Niha

Dalam Alkitab Bahasa Nias Bahasa Sehari-hari [5], Matius 23:12 yang dalam Bahasa Indonesia berbunyi:

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”

diterjemahkan sebagai:

“Niha sangebua’ö ya’ia da’ö ni’ide’ide’ö, ba sangidengide’ö ya’ia da’ö ni’ebua’ö.”

Dalam kutipan di atas, meninggikan diri tiada lain adalah menyombongkan diri – mangosebua.

Bandingkan juga terjemahan terbaru Matius 23:12 di depan dengan terjemahan Sundermann [6]:

“Dozi sa, ha niha zamali’ö salawa ja’ia, da’ö ni’ide’ide’ö; ba ha niha zangidengide’ö ja’ia da’ö nibe’e salawa”.

Dalam terjemahan Sundermann [6], meninggikan (menyombongkan) diri diterjemahkan secara kaku menjadi: mamali’ö salawa (baca juga tulisan berjudul: Kekurangcermatan Terjemahan Dalam Soera Gamaboe’oela Li Sibohou – H. Sundermann [7].

Walau agak “kaku”, mamali’ö salawa jauh berbeda dari “asili(y)awa”; mamali’ö salawa lebih dekat artinya dengan mangosebua.

Sejumlah ayat lain dalam Alkitab Li Niha (baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru) sama sekali tidak menerjemahkan kata “sombong”, “kesombongan” dengan aili(y)awa atau fa’asili(y)awa.

Dapat diinformasikan, usaha pencarian kata-kata asili(y)awa, osili(y)awa, asilöyawa, oisilöyawa dalam Alkitab [5] versi digital sama sekali tidak membuahkan hasil.

Catatan:

  1. Bahan diskusi yang dimulai oleh Bapak Ama Fame Zebua berjudul: Hezo zatulönia wehede da’a: 1. Asilayawa, 2. Osiliyawa, 3. Oisilöyawa ???
  2. A Lase, 2011: Kamus Li Niha – Nias Indonesia, ISBN: 9789797095413, Penerbit Gramedia.
  3. SZ Laiya, S Zagoto, H Laiya, S Zagoto, A Zagoto, 1985: Kamus Nias – Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
  4. Kutipan sebuah kalimat dari sebuah komentar dalam [1].
  5. IBS, 2006: Alkitab Bahasa Nias – Bahasa Sehari-hari, Perjanjian Baru – Indonesian Bible Society, 2006.
  6. Soera Gamaboe’oela Li Sibohou Edisi 1911 terjemahan H. Sundermann – dicetak ulang oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1984.
  7. E. Halawa, 2007: Kekurangcermatan Terjemahan Dalam Soera Gamaboe’oela Li Sibohou – H. Sundermann – Nias Online.

Membuka Mata Pemuda/i Kepulauan Nias

Friday, November 28th, 2014

Catatan Redaksi: Redaksi menayangkan tulisan berikut, buah karya seorang pemuda Nias yang tinggal di Yogyakarta. Kiranya para pemuda/i Ono Niha – khususnya yang tinggal di Nias – tergerak untuk lebih kreatif dalam mempersiapkan masa depan mereka.

Oleh: Febriwan Harefa

Opini“Ngak ada diharapkan di sini ŵö Wan selain PNS … ” kalimat ini saya masih ingat ketika sedang ngobrol dengan seorang teman, ketika saya pulang ke Gunungtoli 3 bulan yang lalu. Hal yang sama juga diutarakan oleh beberapa pemuda/i Kepulauan Nias, “Yah palingan tunggu lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), kalau ngak menang jadi penganguran lagi”.

Dari pendapat-pendapat di atas saya sedikit bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda/i Kepulauan Nias, terutama di Gunungsitoli sangat mengharapkan profesi sebagai PNS. Sebenarnya harapan mereka ini sangat wajar, dengan pertimbangkan lapangan pekerjaan yang ada di Kepulauan Nias yang sangat sedikit. Selain itu keutungan menjadi seorang PNS sangat banyak, yang pertama mendapatan gaji setiap bulannya yang berkisar 2-3 juta, gaji yang didapat tergantung pada tingkat golongan PNS. Kedua, profesi seorang PNS juga terkena dampaknya kepada keluarga, jika seorang PNS tersebut telah memperoleh keluarga yaitu dengan mendapat asurasi kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Keutungan ketiga dari menjadi seorang PNS adalah ketika seorang yang berprofesi PNS ia akan mendapatkan uang pesangon dari negara dan dana pensiun tiap bulannya. Selain ketiga keutungan di atas, masih banyak beberapa keutungan menjadi seorang PNS.

Pendapat yang sama tentang profesi PNS bukan hanya di Kepulauan Nias tetapi juga di daerah – daerah lain seperti di Pulau Jawa. Akan tetapi ada perbedaan antara pemuda/i yang ada di Kepulauan Nias dengan pemuda/i yang ada di Pulau Jawa ketika mereka gagal menjadi PNS. Karena banyaknya kesempatan untuk masuk perusahaan-perusahaan, baik itu swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pulau Jawa, maka para pemuda di Pulau Jawa tidak terlalu “pusing” apabila gagal menjadi PNS.

Sebenarnya hal yang sama bisa dilakukan pemuda/i di Kepulauan Nias, ketika tidak lulus PNS masih bisa mencari alternatif. Seperti pekerjaan yang beberapa tahun belakangan ini lagi banyak digeluti pemuda/i Indonesia yang ada di Pulau Jawa, yaitu pekerjaan freelance melalui dunia maya.

Pekerjaan freelance (pekerja lepas) melalui dunia maya sangat banyak digemari oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Selain tidak mengenal batas waktu, pekerjaan ini bisa dilakukan di mana-mana baik itu dirumah, bahkan di kamar mandipun. Pekerjaan yang tidak mengenal tempat khusus ini bermacam-macam seperti menulis artikel di blog tentang mengenal membuat kerajinan tangan, parawisata dll. Lebih bagusnya para blogger (sebutan bagi orang suka menulis di blog) membeli domain, dan bandwidth agar bisa mendapatkan pendapatan dari blog yang telah dibuat. Untuk mendapatkan uang lebih selain dari memasang domain dan bandwidth pada blog. Blogger dapat mendapatkan uang dengan cara mendaftarkan blonya ke google access, dan setiap artikel akan dihargai sekitar $ 0,5.Selain itu, sekarang ini banyak usaha penulisan yang berbasis online menawarkan jasa penulisan dan setiap artikel dihargai sekitar 5-10 ribu.

Pekerjaan semacam ini bisa dilakukan oleh pemuda/i Kepulauan Nias dengan mempertimbangkan, sekarang ini banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, aktif di dunia maya dan mulai tidak asing dengan yang namanya teknologi. Selain itu juga dengan menulis artikel di blog misalnya tentang kebudayaan atau parawisata tentang Kepulauan Nias. Maka secara tidak langsung para blogger lain bisa mengetahui kekayaan kebudayaan dan parawisata yang ada di Kepulauan Nias.

Selain itu pekerjaan freelace penerjemah bisa juga dilakukan oleh pemuda/i di Kepulauan Nias, terkhususnya mahasiswa Intitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli atau Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu pendidikan (STKIP) Nias Selatan, yang mengambil jurusan bahasa Inggris, yaitu dengan cara menawarkan diri menjadi penerjemah freelance ke beberapa penerbit atau perusahaan penerjemahan. Salah satu caranya dengan membuat sebuah contoh penerjemahan dengan topik tertentu. Setelah selesai dapat mengirim contoh penerjemahan tersebut ke alamat website yang menawarkan penerjemahan seperti ke milis bahasa Bahtera (Bahasa dan Terjemahan), Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), dan beberapa website penerbitan seperti Gramedia, Mizan, Bentang Pustaka.

Selain itu masih banyak lowongan pekerjaan freelance yang lainnya yang khususnya melalui dunia maya. Sekarang ini yang dibutukan adalah bagaimana pemuda/i Kepulauan Nias mulai membuka mata, terhadap lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya, dan juga dibarengi dengan usaha kreatif untuk membuat sesuatu yang baru yang dapat bermafaat dan tentunya dapat menghasilkan yang namanya materi.

Dan dari contoh-contoh lowongan pekerjaan diatas pemuda/i Kepulauan Nias, dapat melakukannya dengan mempertibangkan banyaknya pemuda/i Kepulauan Nias, yang aktif memberikan komentarnya di beberapa grup yang ada di Facebook misalnya saja grup FB Suara Nias, Nias Bangkit. Maka di sana dapat dilihat bahwa pemuda/i Kepulauan banyak aktif di dunia maya. Ke dua adalah dengan jaringan telkomsel yang lumayan bagus di Kepulauan Nias, sehingga pemuda/i Kepuluan Nias dapat memanfaatkan hal tersebut untuk membuat blog yang gratis terlebih dahulu seperti wordpress, blogspot dll.

Sangat dibutuhkan keseriusan pemerintah di Kepulauan Nias untuk bisa memberikan layanan wifi gratis kepada pemuda/i Kepuluan Nias untuk bisa mengakses informasi dan lowongan pekerjaan yang ada di dunia maya. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah Bekasi, Jawa Barat dengan memberikan layan wifi gratis di bebepa lokasi kepada masyarakatnya secara cuma-cuma. Sementara itu bagaimana dengan pemerintah Kepulauan, apakah berani melakukan terobosan seperti yang di lakukan oleh pemerintah Bekasi, yang salah satu tujuannya membantu pemuda/i mendapatkan lowongan pekerjaan ?

*Seorang penulis freelance yang sementara waktu berdomisil di Yogyakarta.

Paus Fransiskus: Reformasi Ekonomi dan Keadilan Sosial Harus Seimbang

Wednesday, November 26th, 2014
Paus Fransiskus | vatican.va

Paus Fransiskus | vatican.va

NIASONLINE – Paus Fransiskus mengatakan Uni Eropa harus mencari keseimbangan antara reformasi ekonomi dan keadialan sosial.

Paus menekankan pentingnya memperhatikan kaum pekerja dalam setiap rancangan kebijakan.

“ … harus ada cara-cara baru untuk mempertemukan fleksibilitas pasar dengan kebutuhan akan kestabilan dan jaminan di pihak para pekerja; hal ini penting bagi pembangunan kehidupan mereka”, kata Paus di depan para anggota parlemen Eropa dalam arahannya di Parlemen Eropa, Strasbourg, Perancis, Selasa (25/11) seperti disiarkan oleh situs Vatikan.

Paus juga mengkritik institusi-institusi Eropa yang menurut beliau “tua”, “terisolasi”, letih dan lemah, yang menumbuh-kembangkan rasa saling tak percaya dalam masyarakat melalui kebijakan-kebijakan yang sungguh-sungguh membahayakan.

Sejak menjadi Paus, Fransiskus dikenal sangat vokal mengkritik kebijakan pengetatan yang diterapkan di Eropa dan mengecam ketamakan korporat dan budaya konsumerisme.

Paus juga mengecam perlakuan Eropa terhadap para pengungsi dan migran.

“Kita tidak boleh menjadikan Mediterania sebagai kuburan luas. Perahu-perahu yang tiba setiap hari di pantai-pantai Eropa berisikan manusia-manusia yang membutuhkan penerimaan dan uluran tangan,” kata Paus. (brk*/vatican.va).

Pariwisata: Basis Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Monday, November 24th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

OpiniPADA dasarnya pemerintah itu hadir dalam rangka untuk meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi bagi rakyatnya. Untuk itu pemerintah bekerja keras untuk mewujudkan ke-2 hal itu di wilayahnya, agar gap antara yang kaya dan yang miskin tidak semakin melebar. Untuk penilaian pencapaiannya, pemerintah selalu mengamati dan menganalisis data tentang perkembangan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi itu bagi rakyatnya.

Gubernur provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan informasi bahwa data pertumbuhan ekonomi DIY di tahun 2012 meningkat menjadi 5,23%. Pertumbuhan ekonomi ini banyak dipicu adanya peningkatan pendapatan di bidang sektor pariwisata, hotel dan restoran. Hal ini disampaikan Gubernur DIY pada acara serahterima jabatan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di DIY pada tanggal 26 April 2013.

Berita pertumbuhan ekonomi DIY ini merupakan sebuah informasi yang sangat menarik bagi kita yang sedang mendorong sektor pariwisata untuk menjadi lokomotif pembangunan kesejahteraan masyarakat di beberapa daerah. Ternyata dampak keberhasilan pada sektor pariwisata seperti di DIY, akan memberikan sumbangsih pada sektor-sektor yang lain menjadi sangat terdongkrak. Dengan demikian, keberhasilan dalam pembangunan pariwisata dapat mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi sehingga mereka bisa cepat meningkatkan taraf hidupnya.

Fakta yang disampaikan Gubernur DIY ini memang seratus persen benar. Apa buktinya? Sebagaimana diketahui bahwa ekonomi suatu Negara bertumbuh dari empat sumber yaitu: 1. Pengeluaran masyarakat untuk konsumsi (spending); 2. Peningkatan investasi; 3. Kegiatan ekspor dikurangi impor; dan 4. Pengeluaran pemerintah (Government expenditure).

Kegiatan wisata memberikan kontribusi personal spending terbanyak. Mengapa? Karena saat berwisata, orang pasti berbelanja. Jika berbelanja, turn over perekonomian akan bertumbuh. Masyarakat yang dikunjungi akan memperoleh pendapatan dari transaksi penjualan barang dan jasa kepada wisatawan, sedang pemerintah akan mendapatkan retribusi dan pajak dari usaha yang bergerak di bidang usaha pariwisata.

Kunjungan wisata itu adalah kunjungan menyenangkan. Senang karena berkunjung di daerah lain yang mungkin baru pertama kali dikunjungi. Senang karena melihat berbagai seni dan budaya khas lokal, serta senang karena mendapatkan souvenir dan menikmati kuliner lokal.

Kegiatan wisata serba menyenangkan. Bisa menyenangkan mata (melihat laut dan gunung), menyenangkan telinga (mendengar musik), menyenangkan perut (kuliner), menyenangkan hati (belanja) dan menyenangkan pikiran. Jadi pariwisata adalah segala kunjungan yang menyenangkan. Objek kunjungan terdapat di sebagian besar wilayah di Indonesia, yang semuanya bagaikan surga dunia yang serba menyenangkan hati (Irawady, 2012).

Untuk lebih memahaminya, Amalia (2013) menyampaikan beberapa informasi bahwa pada tahun 2012, kontribusi langsung sektor pariwisata terhadap Gross Domestic Product (GDP) mencapai 4 persen, sedangkan kontribusi tidak langsung sektor pariwisata memberikan sumbangan sebesar 8 persen, sehingga jika ditotal mencapai angka 12 persen. Kontribusi ini menjadi sangat bermakna seperti yang dialami Provinsi DIY.

Dengan demikian, pengembangan potensi pariwisata yang dimiliki setiap daerah di Indonesia sangat diperlukan dan sangat dibutuhkan. Pengembangan potensi ini menjadi sangat bermakna dalam upaya meningkatkan daya tarik bagi wisatawan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa masih banyak potensi pariwisata daerah di wilayah Indonesia yang belum diolah, termasuk Kepulauan Nias. Potensi yang dimiliki masih dibiarkan terbengkalai.

Untuk itu sebaiknya potensi yang telah dimiliki itu perlu sesegera mungkin diolah dan dikelola serta dikenalkan kepada dunia sehingga destinasi wisata di Indonesia tidak hanya kawasan Bali yang dikenal dunia tetapi juga kawasan-kawasan lainnya, seperti Raja Ampat di Papua Barat, Kepulauan Nias di kawasan barat Indonesia he he.

Pada kenyataannya banyak daerah di wilayah Indonesia yang memiliki banyak potensi di bidang pariwisata, seperti wilayah di kawasan timur dan barat Indonesia. Karena itu janganlah biarkan potensi yang ada ini menjadi sebuah mutiara dalam lumpur, jikalau tidak dicari ya tidak ketemu. Bangun dan desain kawasan wisata yang sudah ada itu, sehingga menjadi sangat menarik bagi wisatawan dan promosikan daya tarik wisata tersebut sehingga dunia mengenalnya.

Berdasarkan United Nations World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2012, kawasan Asia Pasifik adalah kawasan yang memiliki pertumbuhan yang paling tinggi dari sisi pariwisata. Di kawasan ini terjadi peningkatan sebesar 7 persen pengunjung atau setara dengan kenaikan 15 juta pengunjung internasional dibandingkan tahun 2011.

Karena itu, Indonesia seharusnya lebih melirik industri pariwisata sebagai salah satu industri yang harus ditopang dan dibantu dengan berbagai regulasi. Dan berupaya lebih mengenalkan berbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang sangat unik dan menarik.

Kenaikan jumlah penduduk berpendapatan menengah ke atas di Indonesia juga dapat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan industri pariwisata. Jumlah penduduk yang termasuk kelas menengah ke atas di Indonesia sudah di atas 100 (seratus) juta orang, bahkan sudah mendekati angka 150 (seratus lima puluh) juta orang. Dengan adanya kenaikan jumlah penduduk dengan pendapatan menengah ke atas, dapat berdampak besar pada kenaikan akan kebutuhan tersier seperti pariwisata, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah wisatawan nusantara.

Untuk lebih meyakinkan bahwa pariwisata sangat mendukung pertumbuhan ekonomi suatu Negara atau daerah, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu menyatakan, sektor pariwisata kini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. Wah jadi semakin menarik pariwisata ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan hal ini pada saat Beliau memimpin konferensi tentang Pembangunan Berkelanjutan yang membahas tentang Pariwisata di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 6 Oktober 2013 yang lalu. Selanjutnya Menteri menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi negara saat ini tidak lepas dari kontribusi sektor pariwisata. Berdasarkan pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini, apakah Anda masih ragu atau kurang percaya pada pembangunan dan pengembangan pariwisata?

Mari Elka Pangestu mengatakan selanjutnya bahwa dengan pencapaian 9 persen Gross Domestic Product (GDP) dunia, 30 persen ekspor jasa, dan satu dari 11 lapangan kerja diserap industri pariwisata, menunjukkan bahwa sektor pariwisata telah menjadi: 1. Mesin pertumbuhan ekonomi; 2. Pencipta lapangan kerja; dan 3. Pengentasan kemiskinan. Pembangunan di sektor pariwisata terus bertumbuh di Kawasan Asia Pasifik, sebab memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan,” katanya.

Untuk meningkatkan daya tarik pada suatu kawasan pariwisata, perlu meningkatkan ‘nilai’ objek-objek wisata kepada orang lain. Dan ini tentu suatu keharusan agar wisman dan wisnus tertarik untuk datang menikmati keindahan dan keluhuran objek wisata yang dimiliki.

Peningkatan nilai objek wisata seperti objek wisata pantai atau objek wisata alam dan objek wisata lainnya, tentu dimulai dari upaya penataan lokasi. Sebelah mana lokasi pendirian warung makan, lokasi menikmati sunset, lokasi toilet, lokasi warung kerajinan, lokasi duduk-duduk santai bagi keluarga, lokasi arena mainan anak-anak, lokasi atraksi wisata seperti senitari dan sebagainya, lokasi mancing, lokasi voli pantai, lokasi mandi di laut yang tidak berbahaya, lokasi penginapan, lokasi naik kuda, lokasi bermain motor-motoran bagi anak-anak, lokasi atraksi lari kuda, lokasi mendaki gunung, lokasi hutan wisata, lokasi waterfall, dan lokasi-lokasi yang lain. Penataan lokasi-lokasi di atas, semuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan saat mereka berkunjung di objek wisata, baik di objek wisata pantai, wisata bahari maupun di objek wisata alam serta seni budaya.

Nah, untuk menangani penataan dan peruntukkan lokasi, tentu kita butuh map (peta) objek wisata pantai, wisata alam dan objek wisata lainnya. Dan penataan lokasi ini bisa saja dikerjakan oleh Dinas Pariwisata. Secara sederhana, paling-paling kan berkaitan dengan panjang lebarnya objek wisata (luas) serta penentuan lokasi-lokasi yang akan dibangun di lahan objek wisata tersebut. Tujuannya agar para pengunjung di objek wisata tersebut dapat merasakan kesegaran, keamanan, kenyamanan, dan kebersihan.

Selamat menunaikan amanah sebagai orang-orang yang penuh kreativitas dalam menata dan mengembangkan objek wisata di masing-masing Pemerintahan daerah di Indonesia dan di Kepulauan Nias. Mari meningkatkan peran pariwisata di wilayah kita demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan, serta untuk mengentaskan kemiskinan. Jadikanlah daerah kita menjadi daerah yang tidak termasuk daerah tertinggal lagi, tetapi menjadi suatu daerah yang pertumbuhan ekonominya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Ama Gorö

Friday, November 21st, 2014

E. Halawa*

Ama GoroHatö’ögö si mate ma …‘.

Lö fakhamö i’asiŵai ŵönunia si fao falelesa ba ŵa’amabu Ama Gorö no ofeta dezu balo ba mbaŵania. Moroi ba gaberania. Nifahele ga Hino.

He wa’ae no irai faguru ba sile Nama Gorö me föna, ba börö ŵa’aliolio ga Hino, aŵö göi ŵa’olofo me ha goŵi nibogö ŵangabölönia mege sihulöŵongi, ba lö fakhamö itimba dezu andrö.

Ba tenga ha sambua … ifandrai ka Hino, irege tesuru Nama Gorö. Alabu ia tou.

***

Föna-föna da’a, ero-ero tohare Nama Gorö ba harimable Muzöi, ba lafalikhö-likhö ira niha. Hana ? Börö me samaŵuka tödö niha Nama Gorö. Ha sa’e aefa ibadu giö mba’e ba ibörögö faŵea Nama Gorö.

Sindruhunia, na lö khönia famadu iö mba’e ma tuo nifarö, ba sökhi ŵehedenia, fahuŵu khönia niha. Onekhe ia fahikaya, hikaya si tobali fama’i-ma’igi niha. Oya khönia mbungo ŵehede ba ŵanunö-nunönia hikaya andrö, irege mate-mate niha ŵa’igi.

I’oroi i me mate khönia Nina Gorö ba ŵökhö – me dua fakhe no – ba ihaŵui fa’ogömigömi Nama Gorö. No oya mbua gera-era itema moroi khö dalifusö aŵö ndra sohalöwö ba agama, ba hulö lehe dalö Nama Gorö, lö falemba-lemba idanö. Me föna, ha fawaraö ibadu giö mba’e, lö i’alui misa ba lafo, ha na so zame önia, si mane na so gamatunöwa ba mbanua.

Me no mate Nina Gorö, itugu ebua noro dödö Nama Gorö: daöfa ndraono, no gide’ide nasa. Sia’a: Orö, onomatua, tama eside me dua fakhe no. Ba akhi Gorö ba ono alaŵe manö, no momöi manö ba zekola: Limomani (kalasi 5), Sarimani (kalasi 4), ba Sarifa (kalasi 3); fatete manö. Farege ono mege Nina Gorö.

Dua görö khöra laza, dua lauru tanömö wa’ebolo. So sagörö kabu hafea, mato 7 kilo gitö ma’ökhö na molökhö. So göi kabu zinanö mato sambua lauru ŵa’ebolo. Me so mege Nina Gorö ba so 5 rozi zigelo bakha ba mba’o. No ha’uga kali lasöndra harazaki moroi ba ŵo’ono zigelo andrö khöra.

Mege me so Nina Gorö, no sa’ae ibörögö mangirö firö ira, harazakira moroi ba ŵanguri baŵi ba moroi ba zi töra-töra mböli gitö khöra. Si töra gefe karate moroi ba harazakira ba labali’ö firö. Niha sabölö zi darua andrö, ba no göi ogoŵölö’ölö fefu khöra ndraono.

***

Sindruhunia, omasi mena’ö lafatenge Gorö, sia’a ndraono khöra, ba zekola ba Gunusitoli, ba ŵanohugö ba SMP. Ba hiza ifuli mangandrauli furi dödöra.

Börö atö Gafasi, ono Nama Zaradua, sangaŵuli manö furi, sombato sekola, ha döfi me no lafatenge ia ira satuania ba SMP ba Gunusitoli. Ba zi döfinia ba Gunusitoli, tenga mai ahori ndra amania. Tenga börö ŵa’amaha hua zekola ma zui okosi asirama. Börö ŵö’i me ambö menemene ndra amania mege khö Gafasi; inönö nasa, tema laduhugö ŵame’e kefe khönia me aŵena sibai iröi ira. Helaŵisa ba … Ono omasiö sibai khöra Gafasi andre, ono siakhi; lö irai fabali ara ira götö da’a. Ha samuza, ya’ia da’ö me möi manörö Gafasi khö ndra sibayania si yöu ba Lahewa. Ha samigu na’i, ba tenga mai ŵa’aŵakhö-ŵakhö dödö Nina Zaradua, irege i’ofökhöi.

Andrö me lafasao ia ba Gunungsitoli, ba ŵanohugö sekola, laduhugö ŵege’ege ira Ina Zaradua. He wa’ae ibini’ö pörasa’ania Ama Zaradua, ba me fabali sa’atö, me laröi sa’ae nahania ba ihalö zaefutanga moroi ba gandrekandrenia, i’osi mbaŵania sabasö tawa hörö, si fao ma’ifu ingo.

Me lara’u danga Gafasi, ba oi zara la sigö’ö nga’örö gefe karate ba nono mbarunia ira sibayania, amania sakhi, ba ira la’onia sangai ga’ania ono alaŵe si datölu. Mangozökhö da’ö fefu, aŵö mbaka-bakania moroi khö ndra amania, ba tola itaha balazonia ba hua zekolania bakha ba zi döfi.

“He nogu, oŵölö’ölö ndra’ugö ba zekola he. Na marase sibai ndra’ugö, ma itataria fataha-taha ŵama’ohe’öma böli mbalazou ba hua zekolau ba angawuli sabata ba mbanua,” da’ö sibai ŵehede afuriata moroi khö Nina Zaradua fatua lö möi ira yawa ba moto solohe ya’ira ba Ŵaekhu, ba mbalö asipala. I’oroi Ŵaekhu dania, latörö tanö misitou ba mbanua.

Ha samigu siyawa ba Gunusitoli, tokea uli Gafasi, ono Nama Zaradua, niha sikayo ba mbanuara. Lö mondrino Gafasi simane iraono bö’ö si’oroi mbanua. Agasese möi manga sitou Gafasi ba fondrokata ba Gafubaru (Kampung Baru). Inönö nasa, moroko ia iada’a, roko Tölu Tölu. Mulo-mulo, ha sara ma’ökhö, aefa da’ö, me no sandru sa’ae, ba sabuku ma’ökhö. Inönö nasa, lö mondri Gafasi na tenga sabu gamai (Camay) ma zui luk (Lux), sabu samuhua sibai.

Duhu göi sagöi, ero-ero mangaŵuli ia ba khöra, ba ŵa’amuhua Gafasi. Na ifalega ia ba harimbale, ba oya nono matua – aŵönia be eside no – zamini’ö ya’ira, so ŵa’aiwöra lafahatö ira khö Gafasi. Tatu ŵa aiwö ira, börö so zaböu gitö, ba so göi zaraŵi-raŵi saraewa. Fabö’ö Gafasi, amuhua sabu gamai, moroko Tölu Tölu, fena simaha bakha ba nono mbaru, ba samake saraewa sanau si lö mate lahe darika.

Ha irugi 3 ŵawa ba labagi rapor ndra Kafasi. Lö asökhiwa rapor Gafasi, no royo-royo, ha sambua isöndra dawa saitö, isöndra nilai 8 (walu) göi sagöi ba pelajaran Bahasa Daerah. Tatu manö ŵa’isöndra walu Kafasi ba Bahasa Daerah: amania (Ama Zaradua) satua mbanua. Asese irongorongo na fahuhuo namania ba gaoloma zato, si mane na so ŵangowalu. Kala ndraono bö’ö la. Ba hiza ba ŵamahaö (pelajaran) bö’ö isöndra dawa soyo fefu. Ha Bahasa Indonesia zebua maifu, lima a matonga (5.5), börö me asese fabahasa ia ba ndraono fasa. Tanö bö’ö sa’e: tenga 3 (tölu) ya’i ba 4 (öfa).

***

“He nogu, tebai ndra’aga daruaga inau ŵanohugö sekolamö andre. Faigi atö ninamö, lö tebato-bato geha, sido sa’ae ba ŵohalöhalöwö. Bologö dödöu khöma,” da’ö sibai ŵehede Nama Gorö khö Gorö samuza ma’ökhö aefa sibai manga bongi ira.

Mege barö zilaluo, me fatua rami niha harimbale, no fakhamö i’ila Ama Gorö khönia nono, moroko Tölu-Tölu nibe’e Gafasi. I’o-si-lö-mangila Ama Gorö. Lö ara furi ö, mangaŵuli ba nomo Gorö, no ihaogö-haogö, ata’u ia ifahatö ia khö namania. Andrö, me aefa ŵehede namania bongi da’ö, hulö nihari Gorö, lö i’ila ibukhö’ö ia moroi ba gangetula da’ö sa’e. Itema gangetula ndra satuania: lö itohugö sekola Orö si yawa ba Gunusitoli.

***

‘Hadia öbadu Dalu ?‘, imanö ŵanofu Ka Dia khö Nama Gorö.

Kofi nogu … böi be gulo e … tesao zui dania ŵogikhigu‘, da’ö ŵanema Nama Gorö khö Ga Di’a.

***

Niwaöwaö zatua föna ŵö ama Gorö ‘So ŵofo yawa mba’e’. Lö ŵö si’ogötö’ö fa’abölö döla. Ahele yöu ŵö luo sa’ae khöda andre.’

Lö manö idema-dema Ama Gorö mene-mene Nama Rina. Inganga-nganga manö gönia afo aŵö ŵa itataria igoso-goso nifönia faoma lölö nafo da’ö. No itöngö manö mbagolö oto’oto lafo Nama Rina faoma lafo si tambai.

***

Amuhua göi sibakha gi’a yawa ba kuali nigore-gore Nina Rina, ahulua Nama Gorö ba Ama Rina mege aefa zi laluo. Falagaŵo Muzöi, nigore ba wanikha sami sawena mufarö.

Mamondro-mondrongo lagu Sepasang Rusa ga Rina (Ka Dia) moroi ba radio Panasonic Satu Band ni-siar-kö RRI Pekanbaru. Lö hadöi nasa headset me luo da’ö, tobali larongo manö fefu niha lagu da’ö, tenga ha ka Rina zamondrongo.

Akan tetapi datanglah tiba-tiba
Seorang pemburu yang mengintai
Ia lalu menembak rusa itu
Matilah si rusa betina …

Å´a’omasi Ga Rina melodi lagu ni’anunöisi Tetty Kadi andrö. Lö i omasi ia syair zinunö andrö. Ata’u ia ibaya tödönia ŵa’auri mböhö si’alaŵe si mate nifana molo’ö lagu andrö. Alai na simanö dania fahuŵusa dödöra gurunia Guru Tane’a.

Ha aŵai lagu Sepasang Rusa ba ahori göi itutusi ba itandraölö mbulu goŵirio ka Rina. Ibe’e khö ninania. Irino Ina Rina mbulu goŵirio andrö ba ndru’a mbanio, ibe’e faramasa bö’ö simane undre, sarilahia. Me asoso, ŵa’amuhua.

***
He Di’a … kaoni ndra amau nogu. Manga ita,‘ imanö Ina Rina khö nononia omasiö andrö.

Fatua labörögö mena’ö ŵangandrö ba ŵemanga no ŵai itörö föna lafo Guru Tane’a … i’oroi nomo, möi ia mowöli rokonia.

Ya’ahowu Pa …

Ya’ahowu guru … aine talau manga.’

Saohagölö Bapa. Awena sibai aefa wö göi ndra’o‘.

Fakhamö fatöngö ira Ga Rina guru Tane’a, ba hiza i’osilömilagö Guru Tane’a. Aefa i’andrö faramisi khö ndra Ama Rina ba idölö ia ba lafo ŵoŵöli rokonia. Mu’iti dödö ga Rina, ba hulö zitohafa ia me i’oni ia inania ŵangai karawa ŵombanö moroi ba naha naŵu.

***
Bologö dödöu ga’a. Tenga u’ailasi’ö meneŵi. Halöwö duo ŵö da’ö.” Ohahau ŵehede Nama Gorö. No taya zöfu duo, no mangaŵuli göi ŵa’abölö mboto me no manga ö si sökhi.

Ufabu’u khöu ga’a ba föna Loawalangi göi, lö sa’ae irai ö’ila Nama Gorö so’amuata si manö da’ö”

***

“He Di’a, ae öli khöma safasa everadi”.

Aefa manga ira, lafuli zui möi ira Ama Gadi’a si tou ba Muzöi. La’ohe ŵandrugasi dombua, la wa’ö göi khö nama Gane, sonekhe mama’ala falagaŵo. Tefaudu göi lökhö sara, ohahau sibai nidanö Muzöi. Hulö zi lö ba’a-ba’a hörö ŵamaigi riwa-riwa gi’a Muzöi, ŵamaigi uro samahatö ya’ira ba haga ŵandru gasi.

Lö aboto lele afo, no alau ŵalagaŵo ba dufania Nama Gane. Börö ŵa’esolo, hulö ha högö zimöi bakha ba mbaŵa dufa. Ifangeŵengeŵe manö ia falagaŵo da’ö, i’o’ö manö ama Gane, aŵö göi ŵa i’usahakö ŵamahatö ba ngöfi. Lö sa’e i’ila moloi falagaŵo da’ö me no ifahatö ia Ama Gorö.

Ba ŵa’ami ŵamaigi-maigi da’ö, lö taraso khö Nama Rina me ifelai gahe danga mbarunia hola-hola galitö moroi ba högö wandru gasi nigogohenia.

Mu’ira Nama Gorö ŵamaigi da’ö: “He Ga’a …!”

“Ae ….”, ha da’ö ŵehede si kalua moroi ba mbaŵa Nama Rina.

***

Mato döfi lö möimöi ba harimbale nama Gorö. Irörö ia ŵohalöwö ba laza, ba kabu, ba ŵamahaö iraono khönia ba ŵohalöwö ba danö. Itugu egebuabua khönia ndraono, ba itugu monönö harazakira. Lö göi irai olifu ia ŵe’amöi ba Göreza; he teu toho, ba ifaso ndraononia ŵe’amöi. Irege samuza ma’ökhö latuyu ia tobali satua Nia Keriso.

***

Möi ndra Ama Rina ba harimbale Lahagu, ba lö tola lö’ö latörö lala ba mbanua Nama Gorö. I’ila ira Ama Gorö, ba isaisi ira. Lö tebato ira, ha fara’u tanga manö ira ba neŵali föna nomo Nama Gorö.

Mohalöwö gera’era Nama Gorö. Omasi sibai ia i’oroma’ö ŵa’omasinia khö ndra Ama Rina, si töra moroi ba dalifusönia andrö.

Lö sa’e taha-taha khö Nama Gorö; iwa’ö ŵondrino fakhe khö ndraononia ono alaŵe. Iwaö khö Gorö ŵangai ono mbawi sesolo moroi ba mba’o furi nomo khöra. Möi ia ŵaneu banio saŵuyu soguna dania ba ŵamazökhi diŵo ndra Ama Rina andrö. Iteu mato lima hugehuge rambuta sasoso ba ngai nomo, tandrösa ŵanahania ira Ama Rina dania.

Iwaö khö Zarifa – ono siakhi khönia – ŵamaigi-maigi niha sangaŵuli ba harimbale.

“He nogu, na ö’ila ndra Amau Sa’a dania moroi ba zaröu ba ombakha’ö khögu he …”, da’ö goroisa Nama Rina khö Zarifa.

***

Arakha sambua za me no aefa asoso gö, lö nasa si tohare ndra Ama Rina. Manimba dödö Nama Gorö; sata’u ia, alai na no latörö ira Ama Rina ba lö ni’ila Zarifa.

“He nogu, sindruhu sagöi ŵa lö ni’ilau ira Amau Sa’a mege” ?

“Duhu ŵö ma … lö manö simöido furi mege”

“Iza ira ma  … !,” muao Zarifa khö namania.

Ŵa omuso dödö Nama Gorö. Aefa sibai ilau mondri. No ifake nukha sibohou, tandra ŵamosumangenia ira Ama Rina.

No ihönagö ia föna ba neŵali Ama Gorö.

“Ya’ahoŵu ga’a … mi’aine yomo …”

No i’ila Ama Rina ŵa so ba dödö Nama Gorö ŵanaisi ya’ira.

“Lö tetahaga Ama Gorö, faigi atö no alu mbanua, ifa’u’uga teu da’a dania. Harimbale göi khöda si tou mahemolu.”

“Lö ŵö ga’a …lö alua ŵö deu da’a, mi’aine wa’i”.

Ŵa omuso dödö Nama Gorö me latörö nomo khönia ira Ama Rina.

I’ohe föna dombua ŵiga safönu rambuta Limomani, ononia numero dua, ganete Gorö.

Ihalö sabuku roti Ka Di’a moroi ba mbuku-bukura ba ibe’e khö Zarifa, sanaro-naro fe’asora no mege.

***

“He ga’a … aŵena sibai ŵö moŵua rambuta da’a, lö ta’ila na ami ba na lö’ö”. Da’ö wehede si’ofona moroi khö Nama Gorö me no sa’ae larugi nomo ba me no ahori mudadao ira fefu.

Gagagasa ŵemanga rambuta, ikode ndraononia Ama Gorö. Tohare ba idanö fombanö. Aefa da’ö, ba figa gö aŵö karawa safönu fakhe sasoso. Aefa da’ö ba galasi ba sambua sere safönu idanö tesi. Afuriata, ba niru sebua, ni’ohe Gorö, safönu onombaŵi sumange ndra Ama Rina moroi khö Nama Gorö; aŵö dambala sebua naha nidanö ndrino ni’ohe Zarifa.

Sumange nibe’e ba niru andrö yawa ba ya’ia da’ö: simbi, dangi-dangi, uli nosu, nagole waha, ba alakhaö.

“He ga’agu Ama Rina, ga’agu Ina Rina … mibolo-bologö dödömi ŵö’i.”

“Hana ŵa ömane Ama Gorö … hadia khöu da’a”.

“He ga’a angandrö ŵö’i khöda fatua lö tabadu nidanö”.

Ifangandrö ira Ama Rina, fangandrö saohagölö ba zumange (gö) andrö, ba fangandrö hoŵu-hoŵu göi khö Nama Rina ba ba ndraononia.

Si mane si to’ölö ba Nono Niha, ihalö zumange no mege Ama Rina, ba ifuli sumange Nama Gorö: sara guli zimbi, sara guli dangi-dangi, sara guli nosu, ba sara guli ŵaha. Ba me no itema Ama Gorö ba i’amuli’ö ya’i zumange andrö.

Manga ira fefu fao faoŵuaŵua dödö.

***

Me no aŵai ŵemanga, ikode khönia ndraono Ama Gorö ba ŵamukusi ni’odöra Ga Di’a dania. Aefa da’ö möi baero ndraono andrö, fao Ga Di’a khöra. Ladölö ira ba mbörö rambuta. Ifuli inönö ŵaneteu rambuta Gorö, nifa’oheöra dania khö Ga Di’a.

Yomo ba nomo, hatö datölu zi so: Ama Gorö, Ama Rina ba Ina Rina.

Sindruhunia lö amakhaitara Nama Gorö Nama Rina; ba hiza i faha’ahatö dödöra töra moroi ba ŵa’ahatö dödö zi fatalifusö. Na so gabula dödö Nama Gorö ba ba da’ö i’oföna’ö ifatunö ba khö Nama Rina. Ba na so göi halöwö khö Nama Rina ba Ama Gorö (ba Ina Gorö no me auri nasa) zaliolio molului.

Andrö me no aefa manga ira maökhö da’ö, ba i’andrö gera’era Nama Rina ba Ina Rina Ama Gorö sanadrösa ba gera’erania ŵamuli mangoŵalu zui.

‘Marasedo sa’e ga’a, tebaido sa’e na haya’o ŵamaro-marou tödö ndraono andre ba ŵohalöwö’, da’ö ŵehede nihaogö nifadaya moroi khö Nama Gorö. Sindruhunia no alawö-lawö ia ŵamatöla’ö ni’eraerania andrö khöra.

‘Samidi-midi afou ba sangomösi na tesao ŵogikhiu ba Ama Gorö,’ da’ö ŵama’ema Nama Rina, no iboho.

“He ga’a … oya manö khöu …”

Ihatö’ö mbaŵania Ama Gorö ba dalinga Nama Rina. Ingöngögö sambua döi nono alaŵe.

‘Hana farahasia ami khögu bale, haniha khöu da’ö ba Ama Gorö?”, isofu Ina Rina.

“Fetua da’a … tebai larongo ira alawe’, imanö Ama Rina khö Nina Rina.

“Lö ya’o bakha Ama Gorö”, no ihekeni ŵangumaö da’ö Ama Rina.

I’ila geluaha da’ö Ama Gorö. Omuso dödönia, so zanuhini khönia.

“Saohagölömi ŵa’amarasemi ga’a … mibologi manö dödömi khögu”, imanö Ama Gorö fao fa’oŵuaŵua dödö.

Fara’u tanga ira, mangaŵuli ndra Ama Rina misitou ba Muzöi. I’ohe ni’odörara Ka Di’a. Larugi fasa Muzöi, lö alua sa deu no mege.

India Targetkan Kapasitas Pembangkit Energi Surya 100 GW Pada Tahun 2022

Thursday, November 20th, 2014
Membersihkan Panel Surya | ipceagle.com

Membersihkan Panel Surya | ipceagle.com

NIAS ONLINE -  India di bawah pemerintahan Aliansi Demokratik Nasional (NDA) merevisi target pembangkitan listrik tenaga surya dari 20 ribu MW menjadi 100 ribu MW (100 GW) pada tahun 2022. Target ambisius ini diperirakan akan membutuhkan investasi sebesar $ 100 miliar.

Saat ini India telah memiliki kapasitas pembangkitan listrik energi surya sebesar 2.9 GW. Peningkatan kapasitas itu akan membutuhkan lahan, biaya investasi dan tenaga kerja.

Untuk merealsasikan sasaran itu, India akan melatih 50 ribu ‘bala tentara surya’, tenaga teknis yang akan memainkan peran penting di sektor ini.

Ke 50 ribu bala tentara surya ini akan diberi pelatihan selama 3 – 6 bulan untuk menguasai hal-hal yang berhubungan dengan teknik tenaga surya yang akan membuka kesempatan kerja bagi mereka kelak dari sektor ini,” kata seorang pejabat pemerintah India sebagaimana diberitakan oleh Live Mint.

Kapasitas pembangkitan listrik India saat ini sekitar 250 GW, sekitar 12.5 persen (31.6 GW) berasal dari energi terbarukan (surya, bayu, hidro, dll). (brk/*)

 

Menuju “Festival Sail Nias”

Wednesday, November 19th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2Sail Raja Ampat

BERITA “Festival Sail Raja Ampat” di Papua Barat sangat mendunia. Festival Sail Raja Ampat ini, dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pada tanggal 23 Agustus 2014, 6 (enam) hari setelah peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-69, yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2014.

Beritanya sangat masif di berbagai media di penjuru wilayah Indonesia dan di dunia. Media-media di Indonesia memuatnya sebagai headline, karena festival tersebut dibuka langsung oleh Presiden RI. Peserta Festival Sail Raja Ampat tidak hanya diikuti peserta dari dalam negeri tetapi diikuti juga oleh peserta dari luar negeri, sehingga gemanya pun tersampaikan di berbagai Negara di luar negeri. Inilah kegiatan Sail Raja Ampat yang berpromosi langsung di dunia.

Menurut data kunjungan wisatawan di Raja Ampat, sesuai data yang disampaikan oleh Ketua Panitia Pengarah Sail Raja Ampat, Agung Laksono (Menko Kesra), di tahun 2007 Raja Ampat hanya dikunjungi 1.000 orang, sedang di tahun 2014 ini sudah dikunjungi wisatawan sebanyak 15.000 orang. Dari jumlah wisatawan itu, 73% wisatawan berasal dari mancanegara.

Wow . . kegiatan promosi yang sudah sangat berhasil. Iven besar dilaksanakan hanya sekali dalam satu tahun, tetapi sangat berdampak pada perbaikan kondisi ekonomi rakyat di Papua Barat.

Dalam pengarahan Bapak Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa kegiatan Festival Sail Raja Ampat ini dimaksudkan untuk mengembangkan daerah-daerah maritim yang tertinggal. Caranya yaitu mengoptimalkan pembangunan sektor pariwisata lingkungan.

Arahan ini sesuai dengan laporan Ketua Pengarah Agung Laksono melalui perumusan tema Festival Sail Raja Ampat 2014, yaitu: Membangun Bahari menuju Raja Ampat ke Pentas Dunia. Artinya, kegiatan ini tidak hanya menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari, tetapi sekaligus mempromosikan produk wisata Raja Ampat di seantero dunia. Kegiatan ini akan memberikan dampak sebagai pendorong berbagai pembangunan fisik dan sumberdaya di Papua Barat

Sail Nias tahun 2015.

Lalu bagaimana dengan Kepulauan Nias? Bisakah menyelenggarakan kegiatan Sail Nias? Bagi sebagian orang yang memiliki karakteristik optimistik, pasti langsung menjawab: BISA!

Kalau daerah lain bisa, mestinya Nias juga bisa menyelenggarakan Sail Nias. Nias dikelilingi oleh laut, dan wilayahnya sudah terbentuk menjadi 4 (empat) Kabupaten dan 1 (satu) Kota, jadi sudah ada 5 (lima ) pemerintah daerah.

Apabila ke-5 pemerintah daerah ini bersatu-padu dengan sukacita untuk menyelenggarakan Sail Nias, dipastikan bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Apa sih yang berat? Pada dasarnya tidak ada yang terlalu berat, lebih-lebih kalau akan mendapatkan dukungan dari pemerintah provinsi Sumatera Utara dan Kementerian Pariwisata. Apalagi kalau mendapat dukungan dari Kementerian yang lain seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian-kementerian lainnya.

Bagaimana pelaksanaan Sail Nias? Dari beberapa pemikiran yang diidekan dan diusulkan oleh beberapa orang yang peduli pada pembangunan dan pengembangan pariwisata di Nias (baca: Kepulauan Nias), bisa digambarkan sebagai berikut:

  1. Peserta Sail Nias berkumpul di kota Gunungsitoli, sambil melihat pameran potensi daerah Kepulauan Nias;
  2. Setiap peserta Sail Nias, akan diminta untuk berhenti dan istirahat di setiap objek dan daya tarik wisata unggulan yang disiapkan oleh masing-masing Kabupaten dan Kota;
  3. Pemerintah daerah akan memantapkan objek dan daya tarik wisata itu dengan membangun atau merenovasi objek tersebut supaya daya tarik wisata itu bisa dinikmati oleh peserta Sail Nias;
  4. Pemerintah daerah membangun jalan dan sarana lainnya menuju objek dan daya tarik wisata;
  5. Pemerintah daerah memantapkan transportasi menuju objek wisata;
  6. Pemerintah daerah menyiapkan tempat MCK, area parkir kendaraan, tempat berjualan makanan khas masyarakat setempat, tempat penjualan hasil kerajinan masyarakat, dan tempat pertunjukkan budaya lokal;
  7. Pemerintah daerah menyuguhkan kepada peserta Sail Nias mengenai berbagai hasil kerajinan, makanan khas Kabupaten/Kota, dan atraksi budaya masyarakat setempat; dan
  8. Menyiapkan kebutuhan wisatawan lainnya seperti pengadaan air bersih, listrik, telekomunikasi, dan lain-lain.

Mengenai tempat istirahat bagi peserta Sail Nias di setiap titik objek dan daya tarik wisata di setiap Kabupaten dan Kota, tentu termasuk yang dipikirkan dan disiapkan. Barangkali peserta Sail Nias bisa istirahat di lokasi tersebut selama 1-2 hari, sambil melihat lokasi objek dan daya tarik wisata itu, termasuk pertunjukkan budaya, pameran hasil-hasil kerajinan, dan penyediaan makanan khas Nias yang disiapkan oleh masyarakat setempat.

Dan demikian seterusnya perjalanan peserta Sail Nias, hingga peserta Sail Nias kembali di kota Gunungsitoli. Selama perjalanan pelayaran dari peserta Sail Nias, peserta dapat menikmati objek dan daya tarik wisata beserta keunikan yang ditampilkan dari masing-masing Kabupaten dan Kota se Kepulauan Nias. Jadi Sail Nias ini akan memberikan banyak manfaat, baik kepada peserta Sail Nias maupun di masing-masing Kabupaten dan Kota, terutama kepada warga masyarakat sekitar objek dan daya tarik wisata.

Apabila kegiatan Sail Nias kita bisa lakukan di tahun 2015, akan banyak memberikan pengaruh pada keberadaan pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Nias tentu semakin dikenal di nusantara dan di dunia.

Manfaat Sail Nias

Penyelenggaraan kegiatan Sail Nias ini dapat juga menjadi media yang bisa langsung mempromosikan pariwista Kepulauan Nias. Kegiatan Sail Nias sangat mengena dan mendukung cita-cita kita untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai Bali-nya Sumatera atau sebagai destinasi pariwisata utama di kawasan barat Indonesia.

Selain dapat menjadi sarana promosi pariwisata Kepulauan Nias, kegiatan Sail Nias akan memberikan dampak pada sosialisasi pariwisata kepada masyarakat. Pemahamannya adalah bahwa kegiatan pariwisata akan memberikan daya manfaat dan daya ungkit pada perbaikan ekonomi masyarakat, serta memberikan banyak peluang dalam hal terbukanya lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat. Peluang-peluang ini, bisa dijadikan dasar sosialisasi pariwisata kepada masyarakat, dan masyarakat bisa menangkap peluang ini sebagai sebuah peluang usaha, sehingga masyarakat akan memberikan dukungan pada program kerja pemerintah di masa yang akan datang.

Sekali warga masyarakat mendapatkan manfaat dari kegiatan pemerintah di dalam meningkatkan peran pariwisata untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, akan memberikan semangat bagi warga masyarakat untuk mendukung program-program pemerintah ke depan, dalam upaya perbaikan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik. Semangat inilah yang perlu dipelihara oleh pemerintah, agar di masa yang akan datang masyarakat merasakan apa yang diprogramkan pemerintah, dapat meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat.

Dengan perasaan adanya manfaat dari kegiatan pariwisata ini bagi perbaikan ekonomi masyarakat, dapat diyakini bahwa akan mampu memperbaiki sikap dan perilaku masyarakat nantinya pada waktu menerima kedatangan para wisatawan. Dimana ada gula di situ ada semut, dimana ada manfaat di situ ada dukungan masyarakat.

Nah, dukungan masyarakat ini akan mempercepat proses program pemerintah untuk memperbaiki taraf hidup warga masyarakat. Dan apabila sistem ini bisa terbentuk, siapa pun yang duduk dalam jabatan pemerintah, akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Dengan demikian, rasa kepercayaan itu akan menjadi cambuk bagi pemerintah untuk terus bekerja demi perbaikan taraf hidup masyarakat. Semangat pemerintah yang sedang menyala-nyala ini, akan terus hidup di dalam mengaplikasikan berbagai program kerja yang sudah direncanakan sebelumnya.

Jadi kedua belah pihak sama-sama terpacu di dalam koridor bersemangat. Masyarakat semakin semangat karena program kerja pemerintah memberikan daya manfaat bagi warganya, sedang pemerintah semakin bersemangat karena yang diprogramkan pemerintah mendapat apresiasi dari masyarakat. Dengan kondisi ini, dapat dipastikan bahwa kinerja pemerintah akan semakin meningkat, dan masyarakat juga akan semakin baik taraf hidupnya di dalam menjalani hidup ini.

Sail Nias hendaknya dapat dijadikan sebagai basis pengembangan pariwisata, sekaligus sebagai model untuk mewujudkan percepatan pembangunan di Kepulauan Nias. Untuk itu pelaksanaannya diusahakan setiap tahun, agar dapat memberikan dukungan yang lebih besar pada pembangunan Kepulauan Nias ke depan.

Pembangunan yang bisa dilaksanakan sebagai output dari kegiatan Sail Nias ini, bisa berupa pembangunan fisik dan non fisik. Khusus pembangunan yang non fisik, masyarakat diajak untuk mewujudkan lingkungan yang baik, berperilaku bersih, dan siap menjaga keindahan pantai. Artinya, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pariwisata memberikan dampak positif pada pemeliharaan lingkungan, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan.

Selamat mempersiapkan pelaksanaan Sail Nias, dan sukses dalam pelaksanaannya. Semangat kerja yang menyala-nyala dan fokus, akan menjadi modal pemerintah daerah untuk memajukan kepariwisataan di Kepulauan Nias.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Harga BBM Naik Sebesar Rp 2000 Per Liter

Tuesday, November 18th, 2014
Ilustrasi | beritakendal.com

Ilustrasi | beritakendal.com

NIAS ONLINE – Terhitung mulai pukul 00.00 tanggal 18 November 2014, harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan sebesar Rp 2000 per liter.

Dengan kenaikan sebesar Rp 2000 ini, harga bensin jenis premium menjadi Rp 8500 per liter (sebelumnya Rp 6500 per liter), sedangkan harga solar menjadi Rp 7.500 per liter (sebelumnya Rp 5500).

Kenaikan harga BBM tersebut diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Kerja di Istana Kepresidenan, Senin (17/11) malam yang disiarkan oleh sejumlah stasium TV.

“Dari waktu ke waktu kita sebagai bangsa dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Meski demikian kita harus memilih dan mengambil keputusan,” kata Presiden Widodo di awal pidato pengumuman kenaikan harga BBM itu.

“Pemerintah memutuskan untuk mengalihkan subsidi BBM dari sektor konsumtif ke sektor-sektor produktif,” kata presiden Joko Widodo menjelaskan alasan di balik keputusan menaikkan harga BBM. (brk/*).

Beasiswa ESED

Monday, November 17th, 2014
Ilustrasi | alertmagazine.org

Ilustrasi | alertmagazine.org

Setiap tahun, Global Sustainable Electricity Partnership memberikan beasiswa untuk mahasiswa tingkat master untuk studi di bidang pengembangan energi berkelanjutan di pusat-pusat riset di seluruh dunia (Education for Sustainable Energy Development <ESED> Scholarship). Dana beasiswa untuk tingkat master US$ 23,000.- per tahun (selama dua tahun).

Berikut adalah informasi dari situs tersebut.

The Global Sustainable Electricity Partnership considers an outstanding student to be one who:

  • graduates with excellent grades in the top 20% of her/his class
  • is determined to advance her/his knowledge and understanding
  • has a history of community involvement
  • is committed to sustainable energy
  • is committed to return and contribute to her/his home country

Who is eligible?

To be eligible to apply for this scholarship, students must

  • plan to undertake studies at the Masters level in areas directly related to sustainable energy development
  • be citizens of the developing countries and territories identified for OECD official development aid in the DAC List of ODA Recipients

What are the levels of financial assistance and the duration of the scholarships?

Scholarships of US$ 23,000 per year for up to two years are offered for Masters level students.  Up to ten Masters scholarships will be awarded annually.


How can I apply?

Information and required forms can be obtained online by clicking on this link to the Application Forms page.


How can I submit my application package?                                             

Applications should be submitted :

As the volume of incoming applications is extremely heavy around the deadline, we strongly urge you to submit your file as early as possible. Please note that:

  • Applications sent by e-mail or mail will no longer be accepted.

Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada situs web Global Sustainable Electricity Partnership. (brk/*)

 

 

Tentang Kesepakatan AS dan Cina Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Sunday, November 16th, 2014
Logo Pertemuan Puncak G20 2014 - www.g20.org

Logo Pertemuan Puncak G20 2014 – www.g20.org

NIAS ONLINE – Beberapa hari menjelang dimulainya Pertemuan Puncak Kelompok 20 di Brisbane, Australia, 14-16 November 2014, Amerika Serikat dan Cina pada pertemuan di Beijing mengumumkan kesepakatan kedua negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Presiden Obama menargetkan, emisi GRK AS pada tahun 2025 akan berkurang sebesar 26 – 28  dari emisi GRK yang diemisi pada 2005. Target ini setara dengan dua kali target reduksi untuk periode 2005 – 2020.

Sementara itu, Presiden Xi Jinping mengatakan Cina akan menargetkan tahun 2030 sebagai tahun puncak emisi; setelah mana Cina akan secara gradual mengurangi emisi GRK-nya.

***

Kesepakatan ini memiliki efek yang cukup berarti pada kesepakatan pengurangan EGRK dunia. Cina dan AS adalah dua negara pengemisi GRK terbesar di dunia; pada tahun 2010 Cina mengemisi 9 632 juta ton setara karbon sementara AS mengemisi 6 548 juta ton setara karbon. Namun, bila dilihat dari emisi per kapita, maka setiap penduduk Amerika mengemisi 17.6 ton setara karbon pertahun, jauh di atas emisi per kapita Cina sebesar 6.2 ton setara karbon per tahun.

***

Pengurangan emisi GRK menjadi isu yang sensitif di seluruh dunia karena ia menyangkut hitung-hitungan ekonomi yang rumit. Di satu pihak, emisi GRK yang tak terkendali akan mengakibatkan konsekuensi ekonomi dan lingkungan hidup sebagai mana disampaikan dalam laporan Stern. Di pihak lain, banyak negara yang belum menemukan alternatif yang tepat untuk mengatasinya. (brk/*)

Dampak Sidang Raya PGI di Kepulauan Nias

Sunday, November 2nd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2BANGGA dan mantap Kepulauan Niasku. Pada tahun 2014 ini, Kepulauan Nias mendapat kehormatan besar untuk menjadi tuan rumah sebagai penyelenggara Sidang Raya PGI. Sungguh membanggakan.

Informasi ini didapatkan dari Bapak Walikota Gunungsitoli sebagai Ketua Pantia. Beliau mengatakan bahwa pada tahun 2014 ini ada momen besar di Kepulauan Nias, yakni pelaksanaan Sidang Raya XVI dan Musyawarah Pekerja Lengkap (MPL) Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Sidang Raya ini dihadiri tamu-tamu yang berasal dari dalam negeri dan mancanegara.

Walaupun skala PGI merupakan skala nasional tetapi karena gaungnya PGI di Indonesia sangat besar, maka kemungkinan besar dan diharapkan bahwa Presiden RI akan hadir pada pembukaan Sidang Raya ini. Demikian juga jajaran Kabinet Kerja Presiden RI dan utusan-utusan dari luar negeri pasti banyak yang datang. Kehadiran Presiden RI, jajaran Kabinet, dan utusan dari beberapa Negara dalam Sidang Raya PGI ini, akan memberikan dampak yang sangat besar pada masa depan Kepulauan Nias. Dampak utamanya adalah menjadi daya ungkit pada perkembangan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan di Kepulauan Nias.

Beberapa dampak lain dari pelaksanaan Sidang Raya di Kepulauan Nias ini, yaitu: Dampak pertama yaitu mereka akan melihat sejauhmana persekutuan gereja-gereja yang ada di Kepulauan Nias, menjadi satu sebagai insan yang diselamatkan. Dampak kedua, persepsi mereka pada karakter manusia Nias di Kepulauan Nias. Dampak ketiga, mereka akan melihat mengenai kemampuan putra-putri Nias untuk melaksanakan penyambutan terhadap tamu-tamu agung yang berasal dari dalam dan luar negeri. Dampak keempat, mereka akan melihat mengenai kerjasama antara panitia lokal dan panitia nasional dalam menyukseskan Sidang Raya. Dampak kelima, mereka akan melihat sikap dan perilaku orang Kristen di Kepulauan Nias. Dampak keenam, mereka akan melihat keadaan sosial dan budaya masyarakat Nias. Dampak ketujuh, mereka akan melihat objek dan daya tarik wisata yang unik di Kepulauan Nias. Dampak kedelapan, mereka akan melihat dan merasakan makanan khas daerah Kepulauan Nias. Dampak kesembilan, mereka akan melihat hasil kerajinan khas warga masyarakat di Kepulauan Nias. Dampak kesepuluh, mereka akan melihat pembangunan-pembangunan yang telah dilaksanakan di Kepulauan Nias. Dampak kesebelas, mereka akan merasakan mengenai keamanan dan kenyamanan selama berada di Kepulauan Nias.

Dampak-dampak yang dirasakan para tamu ini akan terucap setelah meninggalkan bumi Kepulauan Nias. Biasanya kesan itu terucap pada waktu mereka sudah menyelesaikan tugasnya di Kepulauan Nias, seraya bercakap-cakap dengan temannya di perjalanan menuju daerah mereka masing-masing. Hasil percakapan mereka itu bisa berujud pada hal-hal yang bersifat positif atau sebaliknya pada hal-hal yang bersifat negatif.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara supaya kesan tamu-tamu agung tersebut menjadi ucapan yang positif? Nah, untuk mewujudkan ini, sebaiknya kita memakai kacamata ‘manfaat’.

Peserta Sidang Raya berkenan datang di Kepulauan Nias, berarti mereka akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Nias. Baik bersifat manfaat material maupun bersifat manfaat non material. Dari segi material, mereka akan berbelanja penginapan, transportasi, makan, dan oleh-oleh khas Kepulauan Nias. Dari segi non material, mereka akan memberikan pelajaran yang sangat berhaga bagi kita, dalam hal keimanan, ketekunan, kerjasama, koordinasi, pengorganisasian, saling menghargai, percaya mempercayai, kepemimpinan, pengambilan keputusan dan lain-lain.

Kalau kita semua berpandangan bahwa para tamu yang menghadiri Sidang Raya PGI akan memberikan banyak ‘manfaat’, menjadikan kita ringan kaki dan tangan dalam melakukan pekerjaan, bertindak ramah, dan selalu penuh sukacita. Mudah bekerja, mudah melangkah dan mudah tersenyum.

Apabila panitia bekerja dengan sukacita dan panitia serta masyarakat Kepulauan Nias dapat melakukan kerjasama yang mantap, dalam rangka menghadirkan ‘kesan’ yang baik kepada tamu-tamu yang hadir pada Sidang Raya tersebut, dipastikan akan menghadirkan kesan yang positif. Dari mata turun ke hati dan dari hati turun ke tindakan yang menghasilkan kesan dan tindakan yang positif.

Bagaimana kalau sebaliknya bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan sebuah beban? Kalau yang dikedepankan adalah beban, maka yang terjadi adalah mudah berkeluh kesah, kesel, malas-malasan, saling menyalahkan, mudah bersungut-sungut dan mungkin tabiat-tabiat buruk yang lain akan muncul he he. Tidak terlihat sukacita di rona muka bahkan yang bisa dilihat adalah bekerja asal-asalan. Kalau hal ini yang disandang para panitia, akan mudah ditebak bagaimana hasil akhir dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Hasilnya akan menjadi kacau balau dan tidak berkesan sehingga kata akhir dari peserta Sidang Raya adalah kurang bagus pelaksanaannya.

Oleh karena itu, kesiapan kita dalam berbagai tugas menjelang dilaksanakannya sidang raya PGI pada tahun 2014 ini betul-betul diupayakan tertata dengan baik. Semua insan yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Sidang Raya PGI ini hendaknya memiliki semboyan dalam hati bahwa akan berbuat yang terbaik menjelang, saat sidang, dan berakhirnya Sidang Raya tersebut di bumi Kepulauan Nias. Tujuannya adalah agar semua tamu yang datang dari luar Nias ke Kepulauan Nias memiliki pendapat dan kesan bahwa MEMANG ORANG-ORANG NIAS ITU PINTAR-PINTAR DAN RAMAH. Objek dan daya tarik wisatanya pun menakjubkan dan masih asli belum tertular virus-virus dari luar.

Untuk itu kepada Panitia penyelenggaraan Sidang Raya PGI yang berasal dari Kepulauan Nias, supaya menyiapkan juga salah satu acara khusus bagi tamu-tamu peserta Sidang Raya yaitu TOUR PADA OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA UNGGULAN KEPULAUAN NIAS. Tour ini menjadi sangat penting dan banyak manfaatnya pada Kepulauan Nias di masa yang akan datang sebagai salah satu kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).

Manfaat yang akan kita dapatkan pada waktu sekarang, yaitu tamu-tamu yang ikutserta dalam rombongan tour itu, akan dapat menjadi agen-agen kita di waktu yang akan datang. Apabila mereka bisa sebagai agen, tentu akan bercerita tentang keunikan pariwisata di Kepulauan Nias kepada orang lain. Supaya harapan ini bisa terwujud, mereka diberi kelengkapan lain dengan menyiapkan brosur-brosur tentang objek dan daya tarik wisata yang dimiliki Kepulauan Nias.

Distribusikanlah brosur-brosur itu di meja-meja persidangan, karena nantinya brosur itu akan menjadi sumber informasi bagi mereka setelah meninggalkan Kepulauan Nias. Kegiatan ini merupakan sebuah taktik yang disiapkan oleh panitia. Pelaksanaan taktik ini dikandungmaksud sebagai upaya untuk melakukan kegiatan, yaitu PROMOSIKAN PARIWISATA KEPULAUAN NIAS KEPADA TAMU/PESERTA SIDANG RAYA PGI.

Apakah kegiatan Sidang Raya ini akan memberikan sebuah peluang untuk itu? Sebuah peluang bisa terdapat dimana-mana, tetapi orang-orang yang datang di Kepulauan Nias berkenaan dengan Sidang Raya PGI, merupakan sebuah peluang untuk langsung mempromosikan pariwisata Kepulauan Nias.

Promosi pariwisata Kepulauan Nias pada saat Sidang Raya ini merupakan satu peluang emas. Batangan emasnya ini menjadi sangat bernilai karena yang menghadiri Sidang Raya ini terdiri dari tamu-tamu agung yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Artinya kita tidak perlu melakukan kunjungan di beberapa Negara di luar negeri untuk mempromosikan pariwisata Kepulauan Nias. Kalau kegiatan kunjungan ke luar negeri dilakukan akan berbiaya besar, dan membutuhkan waktu berhari-hari.

Nah, sekarang mereka yang datang di Kepulauan Nias, kita tinggal menyiapkan berbagai macam informasi mengenai objek dan daya tarik wisata di Kepulauan Nias. Inilah yang disebut berpromosi dengan berbiaya rendah. Tangkap hati para tamu dan gunakan peluang pasar yang sudah berada di depan mata.

Berkenaan dengan beberapa poin di atas, tentu kita mengetuk pintu hati para Bupati/Walikota di Kepulauan Nias untuk bersama-sama menangkap pasar yang mungil ini. Beramai-ramailah menghadirkan objek dan daya tarik wisatanya yang menjadi unggulan, dan cantumkanlah informasi itu dalam brosur dengan bahasa yang menarik, sesuai kondisi dari masing-masing objek dan daya tarik wisata, serta bagikan brosur itu kepada setiap tamu yang hadir pada Sidang Raya PGI.

Kalau bisa, filemkan objek dan daya tarik wisata Kepulauan Nias. Lalu filem tersebut diputar pada sesi-sesi break, sehingga merasuk benak para peserta. Kalau sudah demikian, maka kita tinggal menunggu kedatangan mereka di Kepulauan Nias kembali, dalam wujud atau nama sebagai wisatawan yang berkunjung dan yang mengunjungi objek dan daya tarik wisata unggulan Kepulauan Nias.

Kepada teman-teman sekalian, silahkan dukung dan berikan ide cemerlang berkenaan dengan penyelenggaraan Sidang Raya PGI di Kepulauan Nias pada tahun ini. Semua yang akan dilakukan tentu bersumber dari dan untuk kita semua.

Selamat melaksanakan Sidang Raya, Tuhan Yesus memberkati, Amin.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Bandar Udara Binaka Gunungsitoli

Sunday, October 26th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2BINAKA, merupakan nama salah satu Bandar Udara di Indonesia. Dimana itu? Bandar udara nan jauh di sebelah barat Indonesia yaitu Pulau Nias.

Pulau Nias terletak di sebelah barat Sumatera, yang berbatasan dengan Lautan Hindia (lautan yang banyak pencuri ikannya dan mungkin bentuk kriminal yang lain). Bandar Udara Binaka terletak di kecamatan Gunungsitoli, Sumatera Utara yang berlokasi di Jl. Pelabuhan Udara Binaka Km.19,5 Gunungsitoli.

Menurut Walikota Gunungsitoli, panjang landas pacu 1.800 m dan direncanakan akan diperpanjang menjadi 2.300 m. Jadi ada tambahan panjang landas pacu 500 m. Pertanyaannya adalah mengapa tidak ditambah 1.000 m sekalian sehingga panjang landas pacu menjadi 2.800 m?

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan apabila panjang landasan menjadi 2.800 m, antara lain: 1. Bisa didarati pesawat-pesawat berbadan lebar dengan mantap seperti Boeing dan Airbus; 2. Pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Binaka; 3. Kegiatan pariwisata Kepulauan Nias cepat berkembang; 4. Jalur penerbangan dalam negeri bisa cepat berkembang di Kepulauan Nias, baik pesawat-pesawat dari Sumatera, Batam, Jawa, Bali, dan Lombok.

Nah, apabila jalur penerbangan dalam dan luar negeri bisa cepat berkembang di Binaka Gunungsitoli, lalu lintas manusia menjadi semakin banyak yang melewati Pulau Nias. Semakin banyak manusia menginjakkan kaki di bumi Pulau Nias, akan berdampak banyak pada kondisi ekonomi masyarakat yang berkembang cepat dan bertambahnya penerimaan yang mengisi kantong-kantong pemerintah daerah dalam bentuk pajak dan uang retribusi lainnya.

Dengan demikian rencana untuk menambah landas pacu pesawat di Binaka, jangan dibuat tanggung tetapi sekalian mantap sehingga dampaknya menjadi terasa bagi perkembangan pariwisata Kepulauan Nias ke depan. Jadi sekali dayung, bisa melewati beberapa pulau he he.

Penambahan lebar dan panjang landas pacu pesawat di Binaka Gunungsitoli sangat menarik dan sangat penting dilakukan. Apalagi penambahan landas pacu tersebut sudah disetujui Pemerintah Pusat melalui Menteri Perhubungan EE Mangindaan pada tahun 2013. Ini sebuah peluang emas bagi Kepulauan Nias untuk cepat keluar dari sebutan ‘daerah tertinggal’.

Tugas yang diemban dan diamanahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota Nias yaitu untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam memainkan segala upaya menuju Kepulauan Nias yang bermasadepan cerah. Tugas ini memang tidak mudah tetapi kalau disertai jiwa wirausaha pada level kepala daerah dan kepala SKPD, kita percaya bahwa bisa dilakukan.

Mengenai tambahan pembangunan landas pacu pesawat di Binaka, mungkin yang perlu diperhatikan yaitu masalah caring (perhatian) pada kebutuhan para penumpang pesawat. Seperti halnya Bandara Changi di Singapura, masalah caring menjadi perhatian utama dari yang membangun bandara Changi termasuk pemerintahannya. Semua ini dilakukan sebagai upaya memberikan kepuasan bagi para penumpang yang takeoff dan landing di Bandara Changi.

Apa saja bentuk caring yang ditampilkan pada Bandara Changi Singapura?, antara lain food court, tempat bermain anak, fasilitas Wi-Fi, enam taman terbuka, kamar hias bagi wanita, business centre, supermarket, bioskop 24 jam gratis bagi penumpang, gerai ritel, area tidur 24 jam, tempat ibadah, kolam renang, dan yang lain.

Bagaimana gambaran pembangunan dan pengembangan bandara Binaka di Gunungsitoli? Dapatkah perihal caring dapat dibangun di Binaka meskipun hanya sebagian dulu, sedang yang lain menyusul? Yang utama di sini adalah telah dibuat maket pembangunan Bandar udara Binaka terlebih dahulu, sedang pembangunannya bisa dilakukan secara bertahap.

Melalui informasi yang disampaikan Walikota tahun 2013 yang lalu dan Bupati Kabupaten Nias belum lama ini, bahwa akan diperpanjang landas pacu pesawat di Binaka. Terpampang banyak harapan bahwa Kepulauan Nias segera bangkit. Kita membayangkan bahwa ombak di Sorake dan Lagundri, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, akan segera dipenuhi para peselancar dari dalam dan luar negeri.

Bahkan mungkin pemerintah daerah akan mengagendakan iven dengan menyelenggarakan lomba selancar atau lomba perahu layar tingkat internasional di Kepulauan Nias setiap tahun. Wah kalau ini terjadi tentu kita semua sangat bangga menjadi ‘Ono Niha’ (orang Nias).

Menurut Nias Bangkit.Com edisi 11 Mei 2013, beberapa wisatawan yang datang di Kepulauan Nias mengakui bahwa ombak laut di Kepulauan Nias masih yang terbaik di dunia. Ombak di Kepulauan Nias lebih bagus daripada Bali.

Mengapa? Karena ombak laut di Kepulauan Nias, ombaknya besar, tinggi, dan terus-menerus. Pengakuan mereka memang sebuah fakta yang ada di Kepulauan Nias. Apalagi bila ditambah keunikan lain, yang telah dimiliki oleh Kepulauan Nias seperti atraksi lompat batu, tari maena, tari moyo, dan batu megalith yang terletak di Gomo dan di Desa Lasara Kecamatan Botomuzoi, Desa Hiliweto dan Lahemo Kecamatan Gido. Tentu berbagai hal yang unik dan hanya terdapat di Kepulauan Nias, serta didukung hadirnya perpanjangan landas pacu pesawat di Binaka, tentu akan meningkatkan jumlah lalu lintas manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias.

Semakin banyak manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias, tentu dampaknya banyak. Dampak positifnya yaitu terjadinya perputaran uang yang tinggi di Kepulauan Nias. Perputaran uang yang banyak di Kepulauan Nias bersumber dari para pengunjung yang datang di Kepulauan Nias. Mulai dari pengeluaran wisatawan untuk penginapan, makan, transportasi lokal, pemandu wisata (tour guide), warung makan/restoran, retribusi masuk objek dan daya tarik wisata, sampai pengeluaran untuk beli oleh-oleh, baik berupa makanan maupun berupa souvenir.

Dampak lain yaitu semakin banyak investor yang masuk di Kepulauan Nias untuk berinvestasi pada berbagai peluang usaha yang muncul berkaitan dengan lalu lintas manusia yang semakin maningkat di Kepulauan Nias. Investor tidak perlu dicari atau diundang, tetapi mereka datang sendiri.

Investor yang telah berjiwa wirausaha selalu mencari dan mencari berbagai peluang yang akan terjadi di masa yang akan datang di Kepulauan Nias. Apa masih ada dampak lain? Tentunya masih banyak seperti memunculkan jiwa wirausaha pada orang-orang Nias di wilayah Kepulauan Nias berkenaan dengan banyaknya pertemuan antara yang berkunjung dengan yang dikunjungi.

Melihat perkembangan yang mungkin terjadi ke depan, maka Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota tentu mulai menyiapkan diri menyongsong perubahan-perubahan yang akan terjadi di Kepulauan Nias. Penyiapan diri yang dimaksud berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang akan segera dikeluarkan berkenaan dengan kondisi ini. Kondisinya adalah Kepulauan Nias merupakan ‘Balinya Sumatera’, sebagai tujuan wisata utama di Kawasan Barat Indonesia. Atau sesuai informasi yang dipercaya, bahwa Kepulauan Nias sekarang sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).

Kepulauan Nias sebagai KSPN, tentu banyak hal yang akan disiapkan antara lain, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang akan bekerja pada sektor pariwisata, penyiapan satu pintu bagi pengurusan izin bagi investor, penyiapan rencana tata ruang wilayah (RTRW) baik di sekitar ibu kota Kabupaten dan Kota, ibu kota kecamatan dan di sekitar objek dan daya tarik wisata. Penyiapan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat juga perlu disiapkan dalam upaya menyongsong lalu lintas manusia yang akan semakin banyak di Kepulauan Nias, termasuk juga penyiapan lokasi terminal utama dan terminal-terminal penunjang (satelit) untuk mengantisipasi mobilisasi manusia dari daerah tertentu ke daerah lain di Kepulauan Nias.

Berkaitan dengan kesiapan-kesiapan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota untuk menghadapi perubahan-perubahan ini, kita berharap bahwa Beliau-beliau itu sudah memasang kuda-kuda untuk itu. Artinya, sekali serang musuh langsung jatuh. Sekali bertindak, manfaat yang akan diterima warga masyarakat menjadi nyata, hidup semakin baik.

Bagaimana sebaiknya pembangunan landas pacu pesawat di Binaka dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota, tentu diperlukan pemikiran-pemikiran yang positif dari Bapak/Ibu/Saudara sekalian. Anda berpendapat berarti Anda mendulang emas yang akan Anda kirim (berikan) di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Giagia: Keinginan, Kemauan, atau Hobi ?

Wednesday, October 22nd, 2014

E. Halawa

Pada halaman ‘Percakapan Sehari-hati Bahasa Nias’ di Ensikopedia Nias [1], terdapat tautan ke sebuah blog [2]. Di blog [2] itu, kita menemukan beberapa kalimat bahasa Nias berikut:
1. Ya’o toröi ba Gunungsitoli
2. Ya’o omasi manunö.

Kalimat pertama, walau bukan struktur yang lazim dalam Li Niha (setidaknya dalam varietas Utara), diartikan secara benar: Saya tinggal di Gunungsitoli – I live  in Gunungsitoli.

Kalimat ke 2 diartikan: Hobi saya bernyanyi – I like singing.

Agaknya bukan itu artinya. Ya’o omasi manunö, yang juga mengikuti struktur kalimat yang tak lazim (seperti kalimat 1), yang kalau dalam diubah ke struktur yang lazim – Omasido Manunö – sebenarnya berarti:

Saya ingin bernyanyi (I want to sing) …

Dalam kalimat ini, bernyanyi belum tentu merupakan hobi saya. Saya mungkin ingin bernyanyi karena diajak teman dalam sebuah pesta.

***
Lantas apa bahasa Nias dari: ‘Hobi saya bernyanyi?’

Sebenarnya, dengan sedikit modifikasi, pengertian hobi bisa kita hasilkan sebagai berikut:

Omasi-masido ŵanunö [3,4] – Saya senang bernyanyi – I like singing, artinya kurang lebih.

Akan tetapi sebenarnya ada satu kata yang langsung bisa diartikan ‘hobi’, yaitu giagia.

Giagiara ŵanunö (Hobi mereka bernyanyi).
Giagiara ŵagaisa (Hobi mereka memancing).

***

Dalam Kamus Nias-Indonesia susunan Laiya dkk [5] ada entri: gia, giagia yang diartikan: keinginan, kemauan. Laiya dkk [5] memberi contoh pemakaian giagia dalam kalimat sebagai berikut:

– wö we’amöi ba fasa andrö [6, 7],

yang diartikan:

Kepergian ke pasar itu memang kemauannya. (Garis miring dari penulis artikel ini).

Terlihat, bahwa pengertian giagia dalam kamus Laiya dkk [5] adalah keinginan atau kemauan, bukan hobi yang berarti: kegiatan yang dilakukan untuk tujuan pencapaian kesenangan. Contohnya: hobi filateli, hobi musik, hobi memancing, dsb.

Penulis, sebagai seorang petutur Li Niha varietas Utara, berbeda pendapat dengan Laiya dkk [5] dalam hal ini. Setahu saya, dalam Li Niha varietas Utara, giagia itu adalah aktivitas yang disukai, ingin dilakukan berulang-ulang. Intinya, giagia adalah hobi.

Ada beberapa contoh lain dalam Li Niha varietas Utara.

Böi sofu khönia hadia omasi ia möi fagai; giagiania khöu da’ö – Jangan tanya padanya apakah ia ingin pergi memancing; itu hobinya.

Böi bali’ ö giagiau ŵasöndrata, tenga asökhiwa – Jangan jadikan perkelahian sebagai hobi; bukan hal yang baik.

***

Apakah giagia bisa disingkat menjadi gia? Sepengetahuan saya, giagia adalah kata ulang semu; sama seperti biri-biri, kupu-kupu, gado-gado dalam bahasa Indonesia atau hunahuna (sisik) atau haruharu (pundak, bahu) dalam Li Niha.

Rujukan – Catatan:

  1. Ensiklopedia Nias – ononiha.org.
  2. Percakapan Sehari-hari Bahasa Nias (1) – http://anggiverlita.wordpress.com/2013/03/20/percakapan-sehari-hari-bahasa-nias-1/
  3. Penggunaan karakter ŵ dan w dalam tulisan ini mengikuti kaidah baru yang dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “W-w” dan “Ŵ-ŵ” Dalam Li Niha.
  4. Cara menulis karakter ö dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “ö” Dalam Li Niha.
  5. SZ Laiya, S Zagoto, H Laiya, S Zagoto, A Zagoto, 1985: Kamus Nias – Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
  6. Tanda – di depan kalimat ini adalah substitusi entri yang mau dijelaskan itu; dalam hal ini: gia atau giagia.
  7. Laiya dkk [5] masih menggunakan cara lama penggunaan karakter ŵ dan w – bandingkan dengan [3].