Author Archive

Bangsa Indonesia Menyambut Kepemimpinan Baru

Monday, October 20th, 2014
Jokowi-JK |Sumber: www.deviantart.com

Jokowi-JK |Sumber: www.deviantart.com

Hari ini, Ir Joko Widodo (Jokowi) dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK) dilantik masing-masing menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk periode 2014-2019.

Seperti pada peristiwa-peristiwa penting nasional sebelumnya, terutama sejak babak baru demokrasi yang dimulai semenjak peristiwa Reformasi 1998, rakyat Indonesia kembali berharap, bermimpi, berangan-angan, dan berdoa kiranya kehadiran kepemimpinan baru melahirkan juga Indonesia Baru.

Indonesia Baru itu adalah konsep ideal yang di dalamnya tercakup segala macam harapan luhur seluruh rakyat Indonesia dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita menyebut beberapa di antaranya. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, terwujudnya kehidupan bangsa yang harmonis di mana rasa aman menjadi milik semua, suasana saling menghargai dan menghormati semakin merasuk ke dalam kesadaran batin, sikap dan perilaku dari bangsa yang memang datang dan dibentuk oleh keberagaman.

Dalam bidang hukum, terwujudnya suasana psikologis yang nyaman karena setiap insan dan kelompok merasa diayomi secara hukum, hak-hak dan kewajibannya dilindungi dan dijamin, karena di depan hukum dalam Indonesia Baru itu semua orang sederajat.

Di bidang sosial ekonomi, semakin meningkatnya persentase masyarakat yang hidup secara layak dan manusiawi yang dicapai melalui program-program pro-rakyat. Juga terjaminnya kebutuhan-kebutuhan fisik mendasar di bidang kesehatan, energi, air, pangan dan papan.

Di level internasional, cita-cita ideal ‘Indonesia Baru’ itu didekati apabila Indonesia semakin dihargai di mata dunia, didengar dan ditanggapi secara serius suaranya dalam forum-forum dunia, makin berperan dalam percaturan politik dunia, termasuk dalam rangka mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih berkeadilan, aman dan damai.

Sebenarnya tiada hal yang baru dalam cita-cita dan idealisme Indonesia Baru itu. Idealisme dan cita-cita Indonesia Baru itu telah dirumuskan jauh sebelumnya oleh para pendiri bangsa ini.

Kalau kini kita melabelnya kembali sebagai cita-cita dan idealisme Indonesia Baru, maka tujuannya tiada lain adalah untuk mencoba menyegarkan kembali ingatan kita akan idealisme awal itu, tepat di saat bangsa Indonesia menyambut kehadiran kepemimpinan barunya.

***
Ada hal yang melegakan, menyegarkan dan membesarkan hati pada pelantikan Presiden dan Wakil Presiden hari ini, yang menandai tradisi baru dalam peralihan kepemimpinan nasional.

Sepanjang ingatan kita, baru kali inilah sebuah upacara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden dihadiri secara lengkap oleh para mantan presiden yang masih hidup, dan juga istri mantan presiden almarhum Aburrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur.

Beberapa hari sebelumnya, presiden terpilih Joko Widodo bertemu dengan Prabowo Subianto, pesaingnya dalam Pilpres 2014, dalam suasana penuh keakraban.

Kedua peristiwa ini menandai awal dari kematangan berdemokrasi bangsa Indonesia.

***

Harus diakui, Pilpres 2014 merupakan pilpres ‘terhangat’ dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Teknologi komunikasi modern telah menghadirkan berbagai bentuk sarana untuk menyebarluaskan informasi dalam intensitas tinggi dengan kecepatan luar biasa yang tak pernah kita alami atau saksikan sebelumnya.

Sebagaimana biasa, fenomena ini menghadirkan kepada kita informasi, baik yang utuh maupun yang terdistorsi. Seringkali, ketidakmampuan kita memilah secara kritis informasi yang benar, baik, dan perlu, merangsang meningkatnya kadar irasionalitas kita.

Dan ketika irasionalitas telah membajak kesadaran kita, maka kita biasanya malah menyulutnya dengan irasionalitas baru: ikut mendistorsi informasi itu dan berperan menyebarkannya.

Irasionalitas itu kita pertontonkan dalam berbagai bentuk: menyebarkan informasi tendensius dan provokatif yang datang dari sumber yang diragukan kredibilitasnya, memanfaatkan kepiawaian kita untuk menciptakan ‘karikatur’ fisik para calon pemimpin kita di luar batas kewajaran, beradu argumen secara irasional, dan … memutuskan relasi ‘pertemanan’ terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengan kita.

Maka, tidak mengherankan bahwa selama masa kampanye Pilpres 2014, lebih dari masa-masa kampanye Pilpres sebelumnya, bangsa ini seakan terbelah dua – mengikuti kubu Pilpres mana yang diidolakan.

Singkat kata, masa kampanye Pilpres hingga beberapa waktu menjelang dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden baru hari ini adalah: masa demam, masa menggigil, masa di mana ‘suhu badan’ bangsa Indonesia meninggi. Dan seperti biasa, jiwa yang terkurung dalam badan yang sedang mengalami demam bisa mengingau.

Sempat muncul semacam kekuatiran: bisakah ‘suhu badan’ bangsa ini turun kembali? Sebuah kekuatiran yang beralasan, karena demam kali ini ‘tidak biasa’.

Hari ini, ‘suhu badan’ bangsa ini telah normal kembali, berkenaan dengan hadirnya kepemimpinan baru di Indonesia. Kepemimpinan yang mudah-mudahan mulai merealisasikan cita-cita dan idealisme Indonesia Baru.

Hari ini, imunitas bangsa ini dari rongrongan berbagai demam irasionalitas telah meningkat. Itu telah diperlihatkan oleh suasana damai dalam gedung rakyat dan di luarnya, dan di seluruh tanah air.

Bangsa Indonesia pernah memiliki Bung Karno dengan ucapannya yang terkenal: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”. Ucapan ini kiranya perlu digandengankan dengan kriteria tambahan berikut: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang darinya lahir para pemimpin yang berjiwa besar“. Kriteria terakhir ini kita saksikan secara nyata pada hari ini.

Selamat menyambut kehadiran kepemimpinan baru Indonesia. (eh/*).

Penanggulangan Kabut Asap Membutuhkan Manajemen Ekstra

Friday, October 17th, 2014
komering.org

Ilustrasi – komering.org

Jakarta, Nias Online – Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menekankan agar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan tiga kementerian yang turut berperan dalam penanggulangan kabut asap untuk menerapkan manajemen ekstra, yang ukuran performansinya ialah kecepatan dan ketepatan sesuai dengan tuntutan keadaan, mengutamakan penyelamatan jiwa manusia, serta koordinasi dan keterpaduan berbagai sektor yang saling mendukung.

“Sekarang bencana asap, sebelumnya bencana gunung api Sinabung. Penanganan bencana harus extra management. Normal saja harus dimenej pas, apalagi kalau bencana. Kenapa kami membuat acara ini karena persoalan ini menyangkut hidup orang banyak di daerah,” ujar Parlindungan Purba, Senator asal Sumatera Utara, yang juga Ketua Komite I DPD dalam rapat kerja (raker) dengan BNPB di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/10) dalam rilis  dari Bidang Pemberitaan dan Media Visual DPD RI yang diterima NO.

Sebagai lembaga Pemerintah nonkementerian yang membantu Presiden, maka BNPB yang mengoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan penanganan bencana yang terpadu, baik sebelum, saat, maupun setelah terjadi bencana. Pengkoordinasian perencanaan dan pelaksanaan yang terpadu itu meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan kedaruratan, dan pemulihan.

Kemampuan menanggulangi saat dan setelah bencana bertujuan untuk menangani kondisi kritis. Kondisi kritis saat dan setelah bencana itu dinyatakan sebagai fase tanggap darurat dengan mengutamakan penyelamatan jiwa manusia dan harta bendanya. Fase tanggap darurat membutuhkan penanganan ekstra, terutama mobilisasi dan suplai sumberdaya yang besar dan banyak. Tentunya dibutuhkan manajemen ekstra untuk mengatur atau mengelola sumberdaya dan mengarahkan atau mengendalikan kegiatan menggunakan sumberdaya itu.

Komite II DPD meminta keterangan/penjelasan BNPB tentang penanggulangan bencana yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan seperti kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah. Dalam acara itu, sejumlah senator mengeluhkan kelambanan pemerintah pusat menangani kabut asap. “Pertemuan ini untuk mencari penyelesaian masalah tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan. Tujuannya untuk kami tindak lanjuti,” ujar Parlindungan.

Para senator tersebut berasal dari daerah terdampak kabut asap, seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Bengkulu, dan Jambi. “Kabut asap sudah sangat parah. Jarak pandang di Banjarmasin hanya berjarak 20 meter. Gubernur sudah menyebutkan ada kekecewaan atas lambannya penanggulangan,” ujar Habib Abdurrahman Bahasyim (senator asal Kalimantan Selatan).

Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi menejaskan, BNPB akan mengoptimalkan penanggulangan kabut asap melalui penanganan operasi darat dan udara. “Ketika sudah terjadi eskalasi besar, BNPB akan segera turun tangan dalam penanganan bencana,” jelasnya yang didampingi Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB.

BNPB memperkirakan kabut asap berakhir bulan Oktober-November. Untuk mempercepat penanggulangannya, BNPB berupaya untuk menambah unit yang melakukan operasi udara dengan modifikasi cuaca melalui pengerahan helikopter water bombing dan membuat hujan buatan. Penambahan unit itu di antaranya menambah jumlah pesawat yang pekan ini diberangkatkan menuju titik panas di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

Guna menanggulangi kabut asap, Dody menambahkan, BNPB berkordinasi dengan pemerintah pusat, khususnya tiga kementerian yang turut berperan dalam penanganan kabut asap, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Dalam raker, Komite II DPD menekankan rencana untuk membentuk panitia khusus (pansus) bencana kabut asap. Pansus akan meminta kembali keterangan/penjelasan BNPB dan tiga kementerian serta instansi penegak hukum tentang kebijakan penanggulangan bencana yang prioritasnya pengurangan resiko bencana seperti pencegahan, mengurangi dampak (mitigasi), dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Karena kesamaan visi dan misi para pihak, khususnya menyangkut pertukaran data dan informasi, DPD dan BNPB akan menandatangani memorandum of understanding (MoU). Kesepakatan bersama itu menjadi landasan untuk mewujudkan kerjasama antara DPD dan BNPB untuk memberdayakan daerah dalam menanggulangai bencana dalam kerangka desentralisasi (otonomi daerah). (brk/*)

Koreksi dari DPP GPKN

Thursday, October 16th, 2014

Yth teman-teman redaksi Niasonline.net,

Mohon maaf atas kekeliruan pengetikan kami atas email yang kami kirim sebelumnya. Kami mengucapkan terima kasih banyak atas dimuatnya surat keberatan kami atas pemberitaan Niasonline.net berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter“.

Surat elektronik yang kami kirim sebelumnya yang berjudul “Keberatan dengan berita Nias Bangkit yang berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter” sebenarnya maksud kami adalah Niasonline.net. Mohon untuk mengoreksi judul tersebut menjadi Niasonline.net, begitu juga di dalam artikel yang masih ada kata “Nias Bangkit”. Kami sudah melampirkan koreksi yang benar, silahkan dicek.

Adapun alasan disisipkannya nama “Nias Bangkit” karena memang surat keluhan yang sama kami kirimkan sebelumnya ke Nias Bangkit dengan kata-kata yang hampir sama, namun sampai kini Nias Bangkit belum memuatnya sebagaimana teman-teman redaksi Niasonline.net muat.

Demikian surat koreksi kami ini. Terima kasih atas pengertian, perhatian dan kerjasamanya. Yaahowu!

Salam hangat,

Dellinus Sarumaha, S.H

Ketua DPP bidang Humas

HP: 0812.8105.9305

E-mail: de**************@**kn.org

Catatan Redaksi:

Koreksi DPP GPKN ini kami terima hari ini. Dalam imel yang dikirim dari dp*@**kn.org ini diselipkan juga berita tentang Turnamen Futsal GPKN Cup 2014, namun kami tidak muat di sini.

PKK dan Jajanan Kuno

Wednesday, October 15th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2PADA pertemuan Kemenparekraf dengan seluruh Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias dalam forum workshop Asistensi Penguatan Destinasi Nias, yang dilaksanakan pada tanggal 24-25 April 2014 di Hotel Poenix Yogyakarta, terdengar beberapa informasi mengenai pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Salah satu informasi yang disampaikan Bapak Walikota Gunungsitoli bahwa banyak yang menanyakan tentang kuliner khas Nias. Dan sampai sekarang belum mengetahui apa itu makanan khas asli Nias.

Hal yang diinformasikan di atas memang bukan merupakan hal yang baru. Masih banyak di antara kita yang belum mengetahui mengenai makanan khas Nias. Bahkan Pakar marketing Indonesia Bapak Hermawan Kartajaya juga mengalami kesulitan untuk mengetahui makanan khas Nias. Pada waktu beliau berkesempatan melakukan perjalanan di Kabupaten Nias Selatan, untuk melakukan survey dengan suatu topik tertentu, tidak ada yang tahu tentang makanan khas Nias. Beliau mengatakan bahwa sudah bertanya kepada beberapa orang mengenai makanan khas Nias, tetapi tidak ada yang bisa memberitahu, pada hal beliau ingin sekali mencoba dan merasakan kelezatan makanan khas Nias.

Salah satu pendukung utama dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata di suatu wilayah adalah makanan khas lokal. Seperti halnya di Jogja, makanan khasnya yang sudah sangat terkenal seperti gudeg, bakmi jawa, thiwul, dan bakpia, dari lebih 90 daftar makanan khas Yogyakarta (wisata kuliner Jogja). Jenis makanan khas Jogja itu, sudah cukup terkenal dan banyak diminati para wisatawan yang berkunjung di Jogja. Demikian juga bila kita bepergian di Kota Makassar-Sulawesi Selatan, kita akan menemukan makanan khas Makassar seperti ulu juku, mie kering, sop konro dan konro bakar, pallubasa, pisang ijo dan makanan khas lainnya. Lalu kita pindah dan melihat Kota Banjarmasin-Kalimantan Selatan, makanan khasnya meliputi soto banjar, gangan asam banjar, apam barabai, ketupat kandangan, dan makanan khas lainnya. Contoh-contoh makanan khas daerah di atas, menggambarkan bahwa setiap daerah memiliki makanan khas dan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan, terutama bagi mereka yang suka wisata kuliner.

Nah, kalau kita ingin mengetahui lebih dalam mengenai makanan khas Kepulauan Nias, tentu perlu kita melakukan sesuatu, atau mengusahakan sesuatu kegiatan. Hal-hal yang perlu kita lakukan, tentu sebagai upaya untuk dapat mengetahui apa saja makanan khas Nias itu. Sudah seyogyanyalah kita harus berusaha mengetahuinya, kan malu dunk bila sebagai orang Nias tidak mampu menjelaskan mengenai jenis dan materi dari makanan khas Nias. Melalui makanan khas lokal inilah, seseorang bisa bercerita mengenai rasa dan desain dari suatu jenis makanan khas Nias. Apa hebatnya makanan khas tersebut dan bagaimana rasanya serta makanan itu berasal dari apa dan seterusnya . . dan seterusnya.

Untuk mewujudkan keingintahuan kita pada makanan khas Nias, perlu kita memahami dan melakukan kegiatan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Sebagai pembanding, mari kita lihat yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal, Jawa Tengah. Demi menjaga kelestarian makanan tradisional sebagai salah satu aset budaya, Pemkot Tegal, menyelenggarakan Festival Jajanan Kuno, yang diikuti 28 peserta, terdiri dari 27 perwakilan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) kelurahan dan 1 perwakilan PKK Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. Festival ini merupakan salah satu upaya melestarikan budaya, karena makanan tradisional merupakan salah satu bagian dari budaya. Apabila tidak dilestarikan, keberadaan makanan-makanan tradisional itu dikhawatirkan akan hilang dan tergerus oleh makanan modern dan cepat saji. Wakil Walikota Tegal mengatakan, Pemkot Tegal akan terus mendukung upaya pelestarian makanan tradisional, antara lain dengan pembinaan melalui PKK. Wakil Walikota yakin bahwa makanan tradisional itu tidak kalah dengan makanan modern jika dikemas lebih menarik (WIE, 2014).

Apa yang timbul di pikiran kita setelah mendalami kegiatan Pemkot Tegal dalam upayanya melestarikan makanan tradisional itu? Mestinya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk dapat menginventarisir berbagai makanan tradisional Nias melalui suatu kegiatan festival. Mungkin kita bisa berikan nama festival itu dengan sebutan “Lomba Pembuatan Makanan Khas Nias, Menyongsong Kepulauan Nias sebagai Destinasi Wisata Utama Nasional”. Apa pun nama yang kita berikan pada festival jajanan khas Nias, tidak menjadi masalah. Yang utama adalah kita bisa mengetahui persis apa saja makanan tradisional Nias itu.

Untuk mengurangi kegalauan hati pada makanan khas Nias itu, saya mencoba menanyakan kepada Mbah Gugel. Ternyata Mbah Gugel cepat sekali memberikan informasi mengenai makanan khas Nias itu. Saudara Gea (2013) menulis beberapa makanan khas Nias itu, antara lain: 1. Harinake, makanan adat tradisional Nias di Nias bagian Utara, dan Nias bagian Barat, yang bersumber dari daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil atau bersumber dari daging ikan dan disajikan untuk menghormati tamu; 2. Ni’owuru, daging babi yang diawetkan dengan menggunakan garam; 3. Gowi nifufu, ubi yang ditumbuk sebagai makanan pokok orang Nias pada zaman dulu ; 4. Lehedalö nifange, daun talas yang direndang sebagai lauk dipesisir pulau Nias; 5. Hambae nititi, daging kepiting yang di campur dengan santan kelapa dimasak sampai kering untuk dijadikan lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 6. Bato hambae, daging kepiting yang telah dibentuk berbentuk bulat lempeng lalu diasapi sampai kering, digunakan sebagai lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 7. Nami (telur kepiting), digoreng dengan minyak kelapa dan disajikan sebagai lauk; 8. Silio guro, daging udang yang telah digiling dicampur dengan kelapa yang dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api yang digunakan sebagai lauk; 9. Babae, makanan khas adat di Nias Bagian Selatan yang merupakan campuran dari daging babi, kacang hijau, kelapa dan bawang merah untuk menghormati tamu agung, biasanya digunakan sebagai lauk; 10. Kofo-kofo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau – pulau Batu kabupaten Nias Selatan, merupakan daging ikan yang telah dibuang durinya yang dimasak dengan santan kelapa ataupun digoreng biasanya digunakan untuk lauk; 11. Saku nisolo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau-pulau Batu Kabupaten Nias Selatan, dari bahan tepung sagu yang telah digongseng dan disirami santan yang digunakan sebagai ganti nasi; dan 12. Dodol durian, makanan tambahan pada musim buah durian di Nias yang hampir bisa ditemukan sepanjang tahun di Nias.

Makanan khas Nias lainnya yang belum disebut, masih ada lho seperti: godo-godo (ubi/singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang ditaburi dengan kelapa yang sudah di parut, rakigae (pisang goreng), tamböyö (ketupat), löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu), gae nibogö (pisang bakar), kazimone (terbuat dari sagu), wawayasö (nasi pulut), dan gulo-gulo farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa) (Wikipedia). Apakah hanya ini saja makanan khas Nias? Barangkali masih banyak yang lain, hanya saja kita sudah pada lupa karena perkembangan zaman.

Nah, supaya kita tahu betul makanan khas Nias, perlu diinventarisir melalui penyelenggaraan kegiatan lomba masakan tradisional Nias yang bisa dilaksanakan oleh Ibu-ibu PKK di bawah bimbingan atau arahan dari Ketua Tim Penggerak PKK dari setiap Kabupaten dan Kota. Biarlah Tim Penggerak PKK yang dipercaya untuk menyelenggarakan Lomba Masakan Tradisional Nias, yang hasilnya, kita bisa mengetahui mengenai aneka macam makanan khas Nias serta bisa dimasukkan ke dalam data base makanan tradisional Nias yang bersumber dari masing-masing Kabupaten dan Kota. Tim Penggerak PKK mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan yang berfungsi sebagai fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing-masing jenjang demi terlaksananya program pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Dengan kata lain, Tim Penggerak PKK berperan sebagai motivator, fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak, sedang pembinaan tehnis kepada keluarga dan masyarakat dilaksanakan dalam kerjasama dengan unsur dinas instansi pemerintah terkait.

Jadi, apabila kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik di bawah komando para Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias serta pelaksanaan lomba tadi bisa dilakukan setiap tahun, pasti kita punya file tentang aneka macam makanan tradisional Nias. Dan lama-lama kita juga sudah tahu tentang makanan khas Nias. Dengan demikian, apabila ada orang atau para wisatawan yang menanyakan mengenai makanan khas Nias setelah itu, pasti orang-orang Nias sudah tidak ragu-ragu lagi untuk mengatakan bahwa inilah makanan khas Nias. Bahkan orang-orang Nias mungkin sudah merasa bangga untuk menyebutkan makanan khas Nias, karena mungkin makanan khas Nias itu tidak terdapat di Daerah lain.

Kita berharap, dalam waktu yang tidak terlalu lama, pelaksanaan lomba pembuatan makanan tradisional Nias dapat dilaksanakan di setiap Kabupaten dan Kota se Kepulauan Nias. Dan dalam waktu yang tidak teralu lama juga, kita sudah memiliki daftar makanan khas Nias yang mungkin jumlahnya bisa-bisa hampir mendekati jumlah makanan khas di Jogja. Dengan demikian, Bapak-bapak Bupati dan Walikota di Kepulauan Nias, diharapkan sudah memiliki kebanggaan bila bercerita atau menyebut satu per satu mengenai makanan khas di Nias.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Keberatan dengan berita Nias Bangkit yang berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter”

Tuesday, October 14th, 2014

Yang terhormat redaksi Niasonline.net,

Kami keberatan dengan berita Niasonline.net yang berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter”. Kami keberatan karena berita tersebut memuat kegiatan GPKN yang diadakan oleh mantan pengurus DPP GPKN yang sebelumnya sudah kami “pecat” lewat pengambil-alihan posisi ketua umum GPKN. Kami beranggapan bahwa kegiatan yang berlangsung di Hotel Mega tersebut hanyalah kepentingan sekelompok orang yang mengatasnamakan DPP GPKN.

Perlu diketahui, bahwa berdasarkan hasil rapat bersama DPP Gerakan Pemuda Kepulauan Nias pada anggal 6 April 2014, berjumlah 9 orang dengan mengambil kesimpulan yang termuat dalam surat keputusan nomor 020/GPKN-KPS/IV/2014 (terlampir).

Berita ini sudah kami publikasikan di website resmi GPKN yakni di http://gpkn.org/blog/2014/04/22/pemberitahuan-kepengurusan-sementara-gpkn dan telah meng-share berita tersebut di media-media sosial Ono Niha.

Selanjutnya pada tanggal 15 Juni 2014 lewat Surat Keputusan bersama Deklarator, BPH dan DPP GPKN dengan nomor 022 /VI/GPKN-KP/2014 memutuskan menunjuk saudara Kristiurman Jaya Mendröfa untuk mengisi posisi sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Kepulauan Nias (GPKN) untuk masa bakti sampai tahun 2017.

Publikasi resmi Ketua Umum GPKN yang baru atas nama Kristiurman Jaya Mendröfa memang belum kami lakukan karena kami ingin “mendeklarasikan” Ketua Umum baru kami kepada publik pada tanggl 12 Oktober 2014 mendatang bersamaan dengan penyelenggaraan “Turnamen Futsal GPKN Cup 2014” diantara pemuda Ono Niha se-Jabodetabek yang akan berlangsung di lapangan futsal Palmerah, Slipi – Jakarta Barat.

Dengan pertimbangan di atas, maka kami sebagai pengurus DPP GPKN yang sah tidak mengakui kegiatan yang diselenggarakan di hotel Mega tersebut. Kami merasa dirugikan dengan kegiatan diskusi tersebut, kami juga merasa dirugikan dengan pemberitaan yang dimuat oleh Nias-bangkit.com.

Kami berharap, Niasonline.net dapat mendengar dan memuat keluhan kami ini agar masyarakat luas bisa mengetahui kronologis yang sebenarnya terjadi atas kepengurusan DPP GPKN yang seolah-olah kini menjadi dua kubu yakni kubu Tobias Duha cs dan kubu Kristiurman Jaya Mendrofa cs. Padahal sebenarnya, “kubu-kubuan” itu tidak ada, karena salah satu pihak telah kami dipecat dan tidak punya wewenang untuk menyelenggarakan acara atas nama GPKN.

Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Yaahowu!

Jakarta, 22 September 2014

Hormat kami,

 

(Dellinus Sarumaha, S.H)

 

Diketahui oleh:

 

Viktor Gulo                                                                                      Kristiurman J. Mendrofa

Sekjen                                                                                                 Ketua Umum

 

Catatan Redaksi:

Redaksi menerima imel bertanggal 22 September 2014 ini pada hari Sabtu 11 Oktober 2014 – sekitar 3 minggu setelah berita berjudul Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter di muat di Nias Online.

Kami menunggu beberapa hari sebelum memuat imel ini untuk memberikan kesempatan kepada pengirim untuk mengoreksi kekeliruan mereka. Sebagaimana terlihat dari judulnya, surat elektronik ini sebenarnya ditujukan kepada “Nias Bangkit” … bukan Nias Online.

Hubungan Antara Rumah Sakit dan Kebutuhan Pasien

Sunday, October 5th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZ2MENGAPA rumah sakit memiliki hubungan dengan pasien? Ada yang menjawab bahwa terjadinya hubungan itu karena ada yang membutuhkan. Yang butuh pelayanan rumah sakit adalah pasien yang sedang menderita penyakit, pasien ingin sembuh dari penyakitnya, makanya pasien mencari pelayanan rumah sakit atau pelayanan primer di ranah kesehatan yaitu Puskesmas. Tanpa ada yang sakit, maka tidak mungkin terjadi hubungan antara rumah sakit dan pasien.

Jawaban yang lain mengatakan bahwa yang butuh pasien adalah rumah sakit, apalagi sekarang sudah banyak berdiri rumah sakit. Semakin banyak institusi rumah sakit, semakin sulit mendapatkan pasien untuk dilayani, karena itu rumah sakit sekarang mengkedepankan persaingan dalam pelayanan.

Mau buktinya? Sekarang rumah sakit berlomba-lomba untuk mengikrarkan mengenai pelayanan yang diunggulkan di rumah sakitnya. Rumah sakit berlomba-lomba memiliki alat-alat medis yang canggih. Rumah sakit berlomba-lomba untuk lulus dari standar pelayanan secara internasional. Tujuan dari semua kegiatan ini, dalam rangka mengupayakan agar rumah sakitnya mendapatkan daya beda dan daya tarik serta mendapatkan kepercayaan dari calon-calon pasien. Dengan demikian, yang membutuhkan pasien adalah rumah sakit. Kalau tidak ada pasien, maka pelayanan rumah sakit tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu terjadilah hubungan antara rumah sakit dengan pasien.

Jawaban yang lain lagi mengatakan bahwa bila kita belajar sejarah dari beberapa rumah sakit yang telah berdiri sejak zaman Belanda, kita dapat memahaminya bahwa pada mulanya berdiri pelayanan rumah sakit, karena ada keinginan dari seseorang atau beberapa orang untuk memberikan pelayanan bagi warga masyarakat yang sedang menderita penyakit. Orang-orang ini ikhlas menjadikan dirinya sebagai pelayan untuk mengabdi kepada sesama yang membutuhkan kesembuhan dari penyakit.

Dari 3 (tiga) jawaban di atas, kira-kira di mana posisi pelayanan rumah sakit Anda? Apabila kita melihat perkembangan pelayanan rumah sakit sekarang dan dihubungkan dengan hubungannya pada kebutuhan pasien, nada-nadanya hubungan itu kok belum terjawab. Memang berat memposisikan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien.

Ada peribahasa lama Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Apakah peribahasa ini bisa diterapkan dalam hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien? Mungkin tidak sampai seperti itu, karena pasien yang tidak mampu pun tetap dilayani rumah sakit. Walau ada yang sering mengatakan dalam sebuah kiasan bahwa orang miskin dilarang sakit, tetapi tidak semua rumah sakit menolak pasien. Kalau pun ada penolakan pasien untuk rawat inap, mungkin karena sudah tidak ada bed yang kosong di ruang rawat inap. Betulkah itu?, Andalah yang bisa menjawab, Anda yang tahu situasi di rumah sakit Anda.

Ada juga informasi bahwa bila pasien mau berobat di rumah sakit, pasti ditanya siapa keluarganya dan siapa yang bertanggungjawab atas pasien ini. Bila pasien mau menginap, biasanya ditanyakan: “mau menginap di kelas berapa dan bayar berapa sekarang?” Biasanya jumlah pembayaran disesuaikan dengan ketentuan dari rumah sakit itu, minimal pembayaran untuk beberapa hari penginapan. Nah kalau masih ada pelayanan rumah sakit yang seperti ini, terus bisakah dikatakan bahwa hubungan rumah sakit dengan pasien merupakan hubungan transaksional? Terus tidak ada uang, abang melayang?

Untuk itu, kita perlu memahami dulu bahwa rumah sakit ada jenis dan klasifikasinya. Menurut UU RI No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, jenis pelayanan rumah sakit terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Bila dilihat dari pengelolaan rumah sakit, maka kita mengenal ada rumah sakit publik dan ada rumah sakit privat. Mengenai klasifikasi rumah sakit, ada yang memiliki kelas D, C, B dan kelas A. Penentuan kelas rumah sakit ini, didasarkan pada fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit. Nah, dari sekian rumah sakit yang pengelolaannya berbeda serta kelas rumah sakit yang berbeda juga, tentu pelayanan rumah sakit yang diberikan kepada pasien berbeda juga, sehingga bisa dikatakan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien berbeda pula pelaksanannya.

Kalau kita dalami mengenai hak dan kewajiban, baik hak dan kewajiban rumah sakit maupun hak dan kewajiban pasien seperti yang tertulis pada pasal 29 – pasal 32 UU RI No. 44 tahun 2009, mestinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien bisa dilakukan dalam koridor seperti yang tertulis dalam pasal dan ayat yang terdapat dalam UU tersebut. Masalahnya sekarang, apakah rumah sakit dan pasien sudah memahami hak dan kewajiban masing-masing pada saat terjadinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien?

Apabila kita amati sedikit mengenai kebutuhan pasien di rumah sakit, maka kebutuhan pasien antara lain kebutuhan akan informasi, pelayanan yang bermutu dan manusiawi, pelayanan konsultasi, dan lain-lain. Mengenai kebutuhan rumah sakit bisa juga diamati sebagai berikut: kebutuhan untuk dana operasional, kebutuhan melakukan kerjasama, kebutuhan untuk melakukan promosi pelayanan, kebutuhan mendapatkan insentif pajak, dan kebutuhan lainnya.

Apabila kita pertemukan kebutuhan pasien dan kebutuhan rumah sakit, barangkali dapat bertemu dalam hal pembiayaan pelayanan yang diberikan kepada pasien dan kegiatan promosi pelayanan rumah sakit. Dalam hal pembiayaan pelayanan umpamanya, maka perlu diperhatikan oleh rumah sakit mengenai penentuan ketepatan diagnosis, tindakan yang diberikan, dan obat yang tepat diperlukan oleh pasien.

Bila pemberian diagnosis, tindakan, dan obat yang diberikan oleh tenaga medik termasuk dalam kategori berlebihan atau justru sedikit, akan sangat berpengaruh pada besar tidaknya biaya pelayanan yang akan dibayar oleh pasien. Kalau pelayanan yang diberikan berlebihan, maka pasien akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, sedang bila pelayanan yang diberikan termasuk lebih rendah dari yang seharusnya, justru biaya yang akan dibayar pasien juga tetap besar, karena tingkat kesembuhan penyakit yang diderita pasien menjadi lama.

Demikian juga kegiatan promosi yang akan dilakukan oleh rumah sakit, tentu dimaksudkan agar pelayanan yang telah disediakan rumah sakit dapat diketahui oleh pasar (masyarakat). Nah, kegiatan promosi ini bisa juga berbiaya besar apabila pemilihan pada media promosi tidak tepat. Dan bila berbiaya besar, pada akhirnya akan menjadi beban pasien juga. Oleh karena itu, supaya hubungan rumah sakit dengan pasien menjadi semakin serasi dan semakin baik di masa yang akan datang, perlu manajemen rumah sakit berusaha keras untuk mengendalikan hal-hal yang disebutkan di atas.

Pengendalian biaya pelayanan rumah sakit – yang dilakukan oleh manajemen rumah sakit – sangat menentukan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien dalam jangka panjang. Bila pengendalian biaya tidak dilakukan dengan sangat hati-hati oleh manajemen rumah sakit, bisa-bisa akan terjadi penurunan pada kunjungan pasien di rumah sakit.

Meskipun sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang akan menyelesaikan pembayaran biaya pelayanan rumah sakit sesuai kebutuhan pasien, tetap saja usaha pengendalian terhadap biaya pelayanan rumah sakit menjadi sangat penting. Tujuannya supaya pelayanan rumah sakit tidak menjadi terkenal mahal. Dan kalau sampai terjadi informasi bahwa pelayanan sebuah rumah sakit mahal, risikonya sangat besar, dan bisa-bisa akan kehilangan banyak pasien.

Karena itu, manajemen rumah sakit dianjurkan supaya tetap berusaha keras agar rumah sakitnya dapat dikenal masyarakat sebagai rumah sakit yang cepat dalam memberikan pelayanan, komunikatif, dan tepat diagnosis atas penyakit yang diderita oleh setiap pasien yang berobat.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Forum Anak Gunungsitoli Menggarap Sebuah Film Fiksi

Friday, October 3rd, 2014

FAG-NOGunungsitoli – Nias Online. Sebagai salah satu bentuk kegiatan untuk mengasah kemampuan dan kreativitas, beberapa anak yang tergabung dalam Forum Anak Gunungsitoli tengah menggarap sebuah film fiksi yang menggambarkan harapan dan impian mereka untuk Indonesia. Film ini nanti akan diikutsertakan dalam ajang Festival Film Anak (FFA) 2014 yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA).

Demikian penjelasan sutradara Sony Roy Kurniawan Hulu di lokasi syuting ruang Samaeri Kantor Walikota Gunungsitoli, Selasa (30/9) dalam rilis berita Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) yang diterima Redaksi NO.

Dengan dukungan peralatan seadanya, anak-anak tetap berpartisipasi untuk menyuarakan hak dan mimpi anak Indonesia, khususnya anak-anak di Kepulauan Nias. Forum Anak Gunungsitoli berharap film ini dapat menjadi pemenang di ajang penganugrahan FFA 2014 pada tanggal 25 Oktober 2014 mendatang.

Menurut Misran Lubis, Direktur Eksekutif PKPA, FFA tahun ini merupakan pagelaran yang ketujuh. Selain kegiatan FFA, PKPA juga menyelenggarakan Festival Teater Anak (FTA) yang kedua. PKPA bersama dengan Sineas Film Documentary (SFD), Smile Program, Teater O USU dan Opique Pictures dengan dukungan Kinder Not Hilfe (KNH), Markisa Noerlen, Ikatan Alumni SMA Methodist 1 Medan tahun 1990 dan Mataniari Production, terus berupaya memberikan ruang dan apresiasi terhadap pandangan dan ide anak melalui film dan teater anak.

“Tema FFA dan FTA 2014 adalah Indonesia Baru, Indonesia Layak Anak, di mana anak-anak melalui film dan teater akan memberikan harapan, pandangan dan ide-ide terhadap pemerintahan Indonesia yang baru agar lebih berperspektif anak”, ucap Misran saat memberikan motivasi terhadap komunitas film dan teater anak.

Misran Lubis sangat mengapresiasi antusiasme Forum Anak Gunungsitoli dan Forum Anak Nias (FORANI) yang akan mengambil bagian dalam Festival Film Anak 2014. Ia menghimbau agar pemerintah memfasilitasi dan memberi dukungan kepada anak-anak Kepulauan Nias agar bisa meningkatkan kreativitas.

Masyarakat desa Olora – lokasi penggarapan film – sangat antusias menyaksikan proses penggarapan film tersebut. (BN/brk*)

Perguruan Tinggi Indonesia Tak Masuk Dalam Kelompok 400 Terbaik Dunia (Versi THE)

Thursday, October 2nd, 2014
timeshighereducation.co.uk

timeshighereducation.co.uk

Peringkat universitas di seluruh dunia 2014-2015 versi The Times Higher Education telah diumumkan. Kelompok 10 besar masih tetap didominasi universitas-universitas di Amerika Serikat yang menempatkan 7 universitas dan Inggris dengan 3 universitas. Ke 10 universitas – institut terbaik itu adalah: 1. California Institute of Technology (Caltech) (AS), 2. Harvard University (AS), 3. University of Oxford (Inggris), 4. Stanford University (AS), 5. University of Cambridge (Inggris), 6. Massachusetts Institute of Technology (MIT) (AS), 7. Princeton University (AS), 8. University of California, Berkeley (AS), 9 Imperial College London (Inggris), dan 9. Yale University (AS). Dalam daftar peringkat yang dikeluarkan The Times Higher Education di situsnya, Imperial College London (Inggris) dan Yale University (AS) sama berada pada peringkat 9 dengan nilai 87.5.

Peribgkat 10 besar untuk tahun 2014-2015 ini tidak jauh beda dengan hasil pemeringkatan tahun 2013-2014, dengan pergeseran kecil pada posisi 3 perguruan tinggi, yakni: Massachusetts Institute of Technology (MIT) (AS) sebelumnya pada peringkat 5, Princeton University (AS) sebelumnya pada peringkat 6 dan University of Cambridge yang naik dua tingkat dari peringkat 7 sebelumnya. Pada kelompok 10 besar 2014-2015 ini yang terlempar ke luar adalah University of Chicago (AS) yang pada tahun ini menempati peringkat 11, digantikan oleh Yale University (AS) pada posisi 9.

Kelompok 100 besar ditempati antara lain: ETH Zurich, Swiss (13), University of Pennsylvania, AS (16), University College London (UCL), Inggris (22), University of British Columbia, Canada (32), London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris (34) dan McGill University, Canada (39).

Dua universitas dari negara tetangga Singapura masuk dalam kelompok 100 besar yaitu: National University of Singapore (25) dan Nanyang Technological University (61). Jepang juga memiliki 2 wakil pada kelompok 100 besar yaitu: University of Tokyo (23), Kyoto University (59).

Australia mencatat kemajuan yang berarti pada hasil pemeringkatan 2014-2015, di mana beberapa universitasnya yang masuk kelompok 100 besar mengalami kenaikan peringkat. University of Melbourne naik setingkat dan menduduki posisi 34, Australian National University naik 3 tingkat menduduki peringkat 45, Sydney University dari posisi 72 menjadi 60, Monash University dari 91 ke 83. Pengecualian adalah University of Queensland yang justru turun peringkat dari 63 ke peringkat 65.

Asia, yang diwakili beberapa Negara Asia Timur (kecuali Singapura yang mewakili Asia Tenggara) menempatkan 6 universitas dalam kelompok 50 terbaik dunia: University of Tokyo (23), National University of Singapore (25), University of Hong Kong, Hong Kong (43), Peking University, Cina (48), Tsinghua University, Cina (49), Seoul National University, Korea (50).

Indonesia Tidak Punya Wakil Dalam 400 Besar Dunia

Dalam kelompok 400 besar dunia, menurut pengamatan NO, sudah sejak 5 tahun terakhir Indonesia tidak lagi memiliki wakil di sana.

Dalam kelompok 100 besar tingkat Asia pun, yang pada tahun 2014-2015 dipimpin oleh The University of Tokyo Japan, National University of Singapore (NUS) Singapore dan University of Hong Kong, Indonesia tidak memiliki wakil. Nasib yang sama dialami oleh Malaysia.

(Sumber: Situs The World University Rankings) – brk*

Ka Di’a dan Guru Tane’a

Wednesday, October 1st, 2014

Cerpen oleh E. Halawa

Catatan Penulis: Ini adalah terjemahan Indonesia dari cerita pendek berjudul Ka Di’a ba Guru Tane’a, yang dimuat di NO pada tanggal 19 September 2013. Terjemahan ini disertai catatan kaki untuk menjelaskan konteks cerita bagi pembaca. Apabila waktu mengizinkan, cerpen ini akan dikembangkan, artinya akan diteruskan dengan cerpen-cerpen baru yang terkait yang bermaksud untuk menggambarkan situasi kehidupan masyarakat Nias di masa lalu, hal yang mungkin sulit ditemukan pada buku-buku tentang Nias hasil-hasil karya berbagai pengarang (peneliti). Kritik dan pelurusan informasi selalu diterima dengan hati senang dan terbuka. Selamat menikmati. (eh)

_________________________________________________

Tadi, jam satu siang, Ka Di’a [1] pulang dari sekolah dasar (SD) yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Ka Di’a duduk di kelas enam. Sebenarnya umurnya sudah agak tinggi untuk ukuran anak kelas 6 SD zaman sekarang. Ia sudah berumur 17 tahun, sudah layak dinikahkan. Namun karena minatnya untuk belajar dan juga karena sekolah itu kekurangan murid, maka dua tahun lalu, pada usia 15 tahun, dia diterima di sekolah itu, di kelas 4.

Sebelum itu, ia pernah bersekolah di SD lain. Namun karena jauh, sekitar empat kilometer dari rumahnya, ia hanya sampai di kelas 3 lalu berhenti. Sejak ia mulai belajar di SD yang jauh itu, kedua orang tuanya selalu was-was setiap hari. Kalau hujan turun, maka tak jarang Ka Di’a dan teman-temannya baru sampai di rumah menjelang malam.

Ketika masih di kelas 1, masih banyak temannya yang sekelas dengannya, banyak murid yang mendaftarkan diri di sekolah itu. Belakangan, tinggal tiga orang mereka yang setiap hari bersama-sama pergi dan pulang. Singkat cerita, begitu selesai tahun ketiga, Ka Di’a berhenti bersekolah.

***
Pada awal pemerintahan Orde Baru, tidak lama setelah Sukarno jatuh, berdirilah sebuah SD di kampung si Di’a. Anak-anak yang tadinya berhenti sekolah kembali berminat untuk melanjutkan pendidikan di SD baru itu. Pada masa itu, usia bukan hambatan untuk bisa bersekolah. Oleh sebab itu, banyak anak yang sudah sangat dewasa dari segi usia ikut mendaftarkan diri. Dan terkadang lucu kita melihat keadaan waktu itu – ada yang datang ke sekolah memakai celana panjang, ada yang makan sirih, dan ada juga yang bawa pisau di pinggang, suatu kebiasaan orang desa ketika pergi ke kebun.

***
“Ya’ahowu Bapa”, ka Dia menyapa guru Tane’a – guru kelasnya – ketika ia sampai di pekarangan sekolah tadi pagi.

“Ya’ahowu Rin”, [2] itu sapaan balasan dari Tane’a, guru baru di sekolah itu, yang juga baru tamat dari sekolah guru di Gunungsitoli.

Guru Tane’a termasuk pemuda tampan, agak langsing, dan pintar berbahasa Indonesia [3]. Ada tambahan: Tane’a selalu harum minyak wangi. Dan guru Tane’a pun tukang smes dalam permainan voli [4]. Setiap kali ia ikut main, orang-orang yang sedang belanja atau berjualan di harimbale [5] meninggalkan kesibukan mereka dan mendekat ke lapangan voli untuk melihat smes dan permainan cantik Guru Tane’a.

***

Pada setiap jam pelajaran, guru Tane’a tak diam di depan kelas, ia ke belakang dan ke depan silih berganti untuk menjelaskan dengan baik materi yang diajarkannya. Dia disenangi oleh para murid karena dia pintar mengajar. Dia juga jarang sekali marah kepada anak didiknya. Tidak seperti guru Takhöli yang sering menampar anak-anak hanya karena terlambat tiba di sekolah akibat hujan lebat. Sampai suatu saat dia dipukuli di harimbale. Sejak itu, guru Takhöli tak pernah lagi menginjakkan kaki di SD dan di kampung itu.

***
“Negara apa di dunia ini yang ibu kotanya Lima?˜ [6]

Mula-mula kelas hening, lalu mulai ada yang agak terperanjat dengan pertanyaan yang dilemparkan guru Tane’a. Guru Tane’a tersenyum. Melihat guru mereka tersenyum, murid-murid pun mulai pada berbisik.

˜Bapa ini ada-ada aja, mana ada negara yang memiliki lima ibu kota”.

Guru Tane’a mendengar bisikan mereka.

“Engkaulah yang memiliki kandung kemih besar, Dohu. Lebih besar dari kandung kemih babi.” [7]

Suasana menjadi riuh, anak-anak pada ketawa mendengarkan jawaban Guru Tane’a atas bisikan Ka Dohu.

Ka Di’a kelihatan tersenym-senyum. Ia tahu jawabannya, tetapi dia malu menyampaikannya. Terhadap guru-guru lain, Ka Di’a tidak segan-segan menjawab kalau memang mengetahui jawaban pertanyaan mereka.

Untuk menyemangati murid-muridnya dan demi sebuah misi khusus, Guru Tane’a mengambil pulpen tinta dari dalam kantong bajunya; tidak terlalu baru tetapi masih bagus. Di masa itu, hanya para guru dan para pegawai pemerintah yang mampu membeli pulpen semacam itu, karena cukup mahal.

“Yang bisa menjawab pertanyaan tadi, dia akan mendapat ini”, guru Tane’a mengangkat tangan kirinya, tangan yang sedang memegang pulpen yang cantik itu.

Keriuhan kelas tiba-tiba berhenti. Murid-murid pada mengambil nafas panjang.

Guru Tane’a melihat ke sana kemari walau pandangannya lebih sering tertuju ke arah Ka Di’a. Dia tahu Ka Di’a ingin menjawab. Ka Di’a sendiri kelihatan sedang memulas-mulas tangannya, duduknya pun tak tenang, ia ingin mengangkat tangan untuk menjawab. Tak jadi.

Belum sempat Ka Di’a mengerahkan keberaniannya, Ka Di’u (Matius) sudah angkat bicara.

“Bapak”, ucap Ka Di’u sambil mengangkat tangannya.

Jantung Ka Di’a berdetak keras, demikian juga guru Tane’a. Ada penyesalan dalam diri Ka Di’a karena terlambat menjawab. Demikian juga guru Tane’a.

Sebentar lagi, pulpen ini akan berpindah ke kantong Ka Di’u. Tidak biasa Ka Di’u seagresif ini. Betapa beruntungnya Ka Di’u, betapa malangnya Ka Di’a.

***
Sebelum ini, sudah beberapa kali guru Tane’a bermaksud memberikan pulpen ini kepada Ka Di’a. Akan tetapi ia tidak menemukan alasan yang tepat [8].

Ini jalan yang pas, yang tidak mengundang kecurigaan murid-murid lain: ia jadikan pulpen itu sebagai hadiah kepada murid yang menjawab pertanyaannya dengan tepat.

“Oh Matius (Ka Di’u) … kau kok beruntung sekali hari ini; di masa lalu kau tak pernah seperti ini”, itu kata guru Tane’a dalam hatinya. Tentu saja tak terucapkan.

“Setahu saya setiap negara hanya memiliki satu ibu kota Pak”, itulah jawaban yang keluar dari mulut Ka Di’u. Ka Di’u mengarahkan segala keberaniannya menjawab, dengan terlebih dahulu menghafal kata-kata yang akan diucapkannya supaya jangan salah nanti.

Bukan main senangnya guru Tane’a. Apa yang dikatakan Matius memang benar, tetapi bukan merupakan jawaban yang tepat atas pertanyaanya. Artinya, masih ada kesempatan Ka Di’a untuk menjawab.

“Yaaaa … Rina … apa jawabanmu?

“Peru, Pak”

“Benar !”

Suasana kembali menjadi begitu hening, kalau saja ada jarum jatuh ke lantai pada saat itu maka setiap murid yang berada dalam kelas itu bisa mendengar bunyi jatuhnya. Muka Ka Di’u jadi pucat, jantung Ka Dohu berdebar dengan frekuensi yang sangat tinggi, dan beberapa yang lain mandi keringat.

***
“Atlas dunia sudah ditempel di dinding, namun kalian tak pernah mendekat untuk mengamati; melirik pun tidak!”

Makin menjad-jadilah nasehat basi-basi guru Tane’a kepada murid-murid kesayangannya dan yang menyayanginya juga.

“Terima kasih Pak”, kata Ka Di’a setelah menerima pulpen dari gurunya, sekali gus kekasihnya. Dia tak berani memandang wajah gurunya itu.

***
Rina sampai di rumah dengan sangat bersuka cita. Ia mendapat pulpen dari gurunya, kekasihnya.

Pada malam itu, sesudah makan dan setelah ia selesai mencuci peralatan dapur, di bawah terang lampu petromaks Rina membuka bukunya, ia mulai belajar. Sebentar lagi ujian penghabisan, sesudah itu ia akan tamat dari sekolah itu.

“Bagus sekali pulpenmu anakku. Dari mana kamu ambil?”, itu pertanyaan bernada agak menyelidik dari ibu si Rina. Tak mungkin ayah si Rina membelikan pulpen itu untuknya.

Suara ibu si Rina terdengar oleh suaminya (Ama Rina, Ama Ga Di’a) yang sedang menambal jala ikan yang robek. Dia memandang ke arah Rina. Kilauan pulpen itu – karena pantulan cahaya lampu petromaks – memancing matanya untuk mengamati lebih seksama. Matanya yang melotot dari atas gagang kacamata bacanya – seakan melekat ke arah benda berkilauan itu.

“Apakah pulpen ini kau temukan di jalan, anakku? Jangan-jangan pulpen gurumu yang jatuh”, kembali Ina Rina melemparkan perkataan bernada menyelidik, walau ia mengucapkannya secara halus supaya Rina tidak sampai tersinggung.

“Bukan pulpen jatuh Ma!”, hanya itu penjelasan singkat dari Rina; ia meneruskan lagi menulis.

“Siapa yang memberikan pulpen itu padamu anakku”, suara ibu si Rina makin lembut. Ketika Rina hendak menjelaskan asal-usul pulpen itu, tiba-tiba guru Tane’a muncul.

“Ya’ahowu Bapa, Ya’ahowu Ibu”, guru Tane’a menyapa kedua orang tua Rina dengan sangat hormat.

“Ah, engkau guru … mari duduk”, Ama Rina meninggalkan kesibukannya menambal jala ikan yang bocor.

“He Di’a … bikinkan kopi untuk abangmu, eh bapa gurumu, keseleo lidah Ama Rina menyuruh anaknya. Guru Tane’a pura-pura tidak mendengar keseleo itu, jantungnya berdetak keras, seperti halnya Rina. Muka ibu Rina memancarkan cahaya kebahagiaan.

Malam itu, Ama Rina mengajak guru Tane’a melempar jala ikan di sungai Muzöi.

Tidak lama sesudah itu, setelah Rina menyelesaikan studinya di SD [9], terdengar suara aramba dan faritia, göndra [10] pun dipukul bertalu-talu, orang banyak famaena, ikut bergembira merayakan bersatunya dua insan yang saling mengasihi.

Catatan Kaki:

[1]. Ka di depan nama tokoh utama cerita (Di’a, Rina, Tarina) kurang lebih searti dengan kata sandang si dalam bahasa Indonesia. Jadi Ka Di’a boleh diterjemahkan Si Di’a. Di’a sendiri adalah singkatan dari nama lengkap. Bisa jadi nama aslinya adalah Tarina, Satiba, Manisa, dst. Dalam praktiknya, umumnya orang-orang di kampung merangkaikan kata sandang Ka dengan nama singkatan itu. Misalnya: Kadegu, Kazaetu. Penulis mengusulkan pemisahan itu, seperti dalam cerpen ini.

[2]. Nama asli Ka Di’a sebenarnya adalah Tarina; teman-teman dan orang lain, termasuk guru Tane’a, memanggilnya Rina.

[3]. Di masa itu, di kampung-kampung jarang orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Para guru pun jarang yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

[4]. Permainan voli adalah permainan paling popular di Nias di masa itu. Di tingkat Sumatera Utara, Nias beberapa kali menjadi mencapai final bahkan juara. Baca misalnya: Fransiskus T. Lase: Mantan Bintang Bola Voli Sumatera Utara.

[5]. Harimbale adalah pasar mingguan, setiap Öri atau beberapa kampung mempunyai harimbale sendiri, misalnya harimbale di: Botombawö (Selasa), Lahagu (Rabu), Botomuzöi (Kamis), Lalai (Sabtu), dst.

[6]. Pernah muncul sebagai sebuah soal dalam ujian mata pelajaran “Pengetahuan Umum” dalam Udjian Masuk Sekolah Landjutan Tingkat Pertama yang diselenggarakan sekitar bulan Oktober tahun 1971.

[7]. Percapakan antara guru Tane’a dan para muridnya (dalam hal ini diwakili Ka Dohu) berlangsung dalam suasana jenaka. Dalam cerpen versi asli (Li Niha), Ka Dohu menggunakan istilah faya yang berarti: bohong, tak benar, iseng. Akan tetapi faya juga berarti ˜kandung kemih. Guru Tane’a membalas bisikan Ka Dohu dengan mengatakan bahwa kandung kemih Ka Dohu lebih besar dari kandung kemih babi (faya mbawµi). Faya mbawµi di masa itu sering dimanfaatkan anak-anak untuk menjadi bola, dengan jalan mencucinya dulu, mengeringkannya, memompanya dengan mengembuskan nafas lewat buluh berdiameter kecil. Ada juga yang nekat mengisikan angin dengan mengembus langsung. Setelah mengeras, bola faya mbawµi tadi dililit berulang-ulang dengan benang getah kering dari bekas sadapan pohon karet. Sebenarnya kelakar soal faya mbawi ini baru muncul akhir-akhir ini, sepengetahuan penulis. Penulis sengaja memasukkan ini hanya untuk mengisahkan kreativitas anak-anak zaman itu untuk menciptakan bola kaki dari organ tubuh babi, yang merupakan binatang piaraan paling dikenal di Nias.

[8]. Dalam hal ini, guru Tane’a harus hati-hati sekali. Di masa itu, seseorang pemuda tidak boleh begitu saja memberikan sesuatu kepada seorang gadis (atau sebaliknya) yang bisa menimbulkan masalah ditinjau dari segi adat.

[9]. Suatu prestasi khusus bagi Rina bisa menyelesaikan studinya di SD, sebab pada masa itu, jarang sekali anak gadis desa mencapai pendidikan “setinggi” itu.

[10]. Aramba (gong), faritia (canang) dan göndra (gendang) adalat alat musik pukul yang biasa dibunyikan untuk memeriahkan pesta perkawinan di Nias.

Kapan Pemerintah Hadir?

Friday, September 26th, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZebuaPADA waktu Calon Presiden Jokowi berkampanye di wilayah lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, Beliau mengatakan bahwa pemerintah tidak hadir pada permasalahan yang dialami warga Sidoarjo. Bukti ketidakhadiran pemerintah, tampak permasalahan yang dialami masyarakat Sidoarjo tidak kunjung selesai, bahkan sangat berlarut-larut, sepertinya masyarakat dibiarkan mengalami sengsara yang berkepanjangan berkenaan dengan lumpur lapindo ini. Contoh lain, seperti yang terjadi pada waktu sekarang, banyak terjadi kekeringan bahkan lahan pertanian di beberapa daerah menjadi kering, karena langit sudah lama tidak menurunkan hujan. Dengan kondisi ini, kita bisa prediksi bahwa hasil dari pertanian menurun. Jadi kapan pemerintah hadir pada kejadian ini?

Ada pemerintah pusat yang dipimpin oleh seorang Presiden. Ada pemerintah daerah di provinsi yang dipimpin oleh seorang Gubernur. Ada pemerintah daerah di kabupaten dan kota yang dipimpin oleh seorang Bupati dan/atau seorang Walikota. Mestinya masalah yang dialami masyarakat ini bisa terselesaikan dengan baik, tapi ternyata banyak yang tidak terselesaikan. Lalu untuk apa ada pemerintah pusat dan daerah? Apa pentingnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah bagi masyarakat Indonesia?

Menurut Wikipedia, pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu. Artinya pemerintah adalah lembaga yang memiliki kekuasaan untuk memerintah. Karena itu Zelth (2013) mengemukakan bahwa pemerintah memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (Pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi Pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pelayanan, dikandung maksud bahwa pemerintah mempunyai tugas utama yaitu melayani kebutuhan masyarakat yang dipimpin. Bagaimana cara melayani masyarakat dengan baik? Bisa memberikan pelayanan yang baik kepada pasarnya (masyarakat), apabila Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota berkehendak memosisikan dirinya sebagai KEPALA PELAYAN. Hal ini pernah disampaikan dan dilaksanakan oleh Herry Zudianto – Walikota Jogja yang bertakhta dari tahun 2001 sampai tahun 2012, dengan mengatakan bahwa dia kini adalah Kepala Pelayan masyarakat Jogja. Selama Beliau memegang jabatan sebagai Walikota Jogja yang bertindak sebagai Kepala Pelayan, hasilnya ekselen. Banyak menghadirkan berbagai penghargaan atas prestasi yang ditorehkan kepada masyarakat Jogja. Ada lebih 80 penghargaan nasional dan internasional yang diraih Walikota Jogja ini atas keberhasilannya pada pekerjaan yang telah dilakukan.

Kalau para Pemimpin kita dapat bertindak sebagai Kepala Pelayan, dapat dipastikan bahwa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat serba cepat dan berkualitas. Dengan kondisi ini berarti pemerintah sudah hadir untuk memberikan pelayanan yang cepat dan manusiawi kepada masyarakat.

Pada waktu sumber daya manusia (SDM) pemerintah memberikan pelayanan kepada masyarakat, selalu disertai S3 yaitu Senyum, Salam, dan Sapa. Kalau hal ini bisa dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah, mestinya pengurusan kartu tanda penduduk (KTP) dan/atau kartu keluarga dan/atau mengurus pernikahan dan/atau izin usaha dan/atau sertifikat tanah dan/atau studi lanjut dan/atau yang lainnya, bisa diselesaikan dengan cepat. Kalau SDM pemerintah memberikan pelayanan lama atau berminggu-minggu kepada masyarakat, pasti rona mukanya pucat-pasi atau agak memerah karena menahan rasa malu. Begitukan keadaannya? Bila terjadi seperti ini berarti pemerintah sudah hadir. Buktinya ada rasa malu yang menghinggapi SDM pemerintah.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pengaturan, tinggal melaksanakannya dengan penuh tanggungjawab. Sudah banyak pengaturan yang terbit dari pusat seperti undang-undang, peraturan dan keputusan dari Presiden, peraturan dan keputusan dari Gubernur, peraturan dan keputusan Bupati dan/atau Walikota, serta peraturan-peraturan daerah yang dbuat sesuai dengan kondisi kebutuhan daerah yang bersangkutan. Pemerintah melaksanakan pengaturan dalam upaya mewujudkan tujuan yang akan dicapai yaitu terwujudnya keamanan masyarakat yang kondusif. Jadi pemerintah hadir agar masyarakat mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalani hidupnya.

Bisa saja segala pengaturan ini ada yang tumbang-tindih, namun yang mengatur adalah Pemimpinnya. Jangan biarkan timbul masalah pada perbatasan wilayah, penanganan hukum yang tajam kepada masyarakat dan tumpul kepada para pejabat, penanganan pembagian raskin untuk masyarakat yang sangat membutuhkan, pemberian beasiswa kepada yang studi lanjut, penanganan wilayah yang peruntukkannya bisa sebagai desa wisata, desa kerajinan, desa kuliner, desa siaga, desa digital, dan desa-desa dengan sebutan lain. Dengan demikian, setiap desa memiliki keunggulan sendiri-sendiri, dalam upaya peningkatan taraf hidup menuju kemakmuran.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pembangunan, maka pemerintah selalu berusaha untuk selalu hadir pada saat masyarakat butuh pembangunan. Pembangunan yang banyak dibutuhkan sekarang seperti pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan irigasi yang berkaitan dengan pembangunan daerah pertanian dan penyediaan hal-hal yang berkaitan dengan bibit, pupuk, alat untuk panen, dan pembasmi hama padi.

Pembangunan lainnya seperti pembangunan perkebunan seperti kelapa, kakao, kopi, karet, cengkih, lada, bawang dan brambang, wortel, kentang, jahe, kedelai, terong, tebu, dan yang lain. Pelaksanaan pembangunan di sini, tidak sekedar hanya memilih bibit tanaman yang sangat dibutuhkan sekarang, tetapi dilihat juga tentang kondisi tanah yang sesuai dengan bibit yang akan di tanam. Pengalaman membuktikan bahwa tanaman yang berhasil di daerah lain, bisa cocok atau tidak berhasil bila di tanam di daerah tertentu.

Nah pada fungsi pemerintah ini, diharapkan adanya kehadiran pemerintah dalam upaya mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpin. Umpamanya jalan sudah banyak lobang, maka pemerintah hadir di sana. Harga karet menurun sehingga warga masyarakat kedapatan mengeluh, maka pemerintah hadir di sana. Jadi, fungsi pembangunan di sini, pemerintah banyak melakukan atau mendorong terjadinya pembangunan di suatu wilayah.

Berkaitan dengan fungsi pemerintah pada pemberdayaan masyarakat, dapat dipahami bahwa keberhasilan pemerintah dalam memerintah masyarakatnya, bila pemerintah mampu memberdayakan masyarakat di wilayahnya sesuai dengan pengaturan dan pembangunan yang akan dan sedang dilaksanakan. Umpamanya, masyarakat tertindas, pendapatan rendah (miskin), kurang pendidikan, kurang gizi, kurang sehat, dan sebagainya. Nah, dengan kondisi di atas, pemerintah harus mampu membawa masyarakat keluar dari zona yang serba menydihkan ini, dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Menurut Zelth (2013), pemeberdayaan masyarakat dikandungmaksud supaya pemerintah berusaha mendorong masyarakat di wilayahnya untuk bisa mengeluarkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat, sehingga pemerintah tidak terbebani. Pemberdayaan yang dilakukan di sini dalam upaya untuk meningkatkan kualitas SDM atau masyarakat. Semakin masyarakat diperdayakan maka ketergantungan terhadap pemerintah akan semakin berkurang. Jadi, hadirnya pemerintah dalam rangka bermitra serta memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Kita ambil contoh konkrit seperti yang dilakukan oleh Bupati Kabupaten Kudus di provinsi Jawa Tengah. Setelah mendalami bahwa potensi yang dimiliki daerahnya terdiri dari usaha mikro kecil menengah (UMKM), maka pemerintah dihadirkan oleh Bupati, dengan memberikan modal uang berupa pinjaman, bunga rendah, dan bisa diangsur dalam periode waktu tertentu. Hadirnya pemerintah di sini, dalam rangka membantu mengembangkan usaha-usaha masyarakat yang termasuk dalam kategori UMKM itu, agar usaha itu bisa berkembang sekaligus bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Patung-Patung Nias Kuno – Di Manakah Kalian Kini ?

Wednesday, September 24th, 2014

adu6Barangkali ini bukan berita baru bagi kebanyakan masyarakat Nias, namun tetap saja menjadi berita yang menarik: patung-patung kuno peninggalan budaya Nias kini tersebar di berbagai belahan dunia. Dikoleksi secara pribadi oleh para kolektor yang haus akan barang-barang antik, atau tersimpan dalam museum di berbagai negara.

Penelusuran acak Nias Online di dunia maya memberikan sedikit gambaran tentang persebaran patung- nilai, ukuran, tahun pembuatan dan lokasi dari patung-patung kuno itu.

Sebagaimana diketahui, di zaman dahulu, sebelum misi agama-agama monteisme Kristen dan Islam datang di Nias, Ono Niha menganut agama suku. Sentral dalam kepercayaan itu adalah penyembahan patung (berhala). Jadi dulu Ono Niha manömba adu (menyembah patung), jadi Ono Niha dulu adalah sanömba adu (penyembah berhala). Mengenai hal ini, baiklah kita menyimak kutipan berikut [1]:

“Suku Ono Niha pada zaman nenek moyang memanjatkan doa kepada Lowalangi dan Dewa-dewi lainnya, melalui arwah nenek moyang yang telah disemayamkan dalam adu/patung nenek moyang; jadi seolah-olah mereka sembah sujud di hadapan / di bawah patung atau adu tersebut.”

Dari penjelasan di atas, Ono Niha zaman dulu percaya bahwa di dalam patung yang mereka buat itu bersemayamlah roh dari orang yang dibuatkan patungnya itu.

***

Kembali kepada pokok tulisan, NO berhasil melacak informasi terbatas tentang patung-patung yang telah tersebar di berbagai penjuru itu. Sidang pembaca dapat meneruskan pelacakan dengan memasukkan kata kunci seperti Nias Statues ke mesin pencari seperti Google.

Patung perempuan pada Gambar 1 ini memiliki ketinggian: 36.5 cm (14.5 inci). Patung ini diperkirakan berharga US$8,618 – US$14,363 dan terjual pada saat lelang seharga US$8670 (sekitar Rp 103 juta).

adu1Gambar 1 – Patung Perempuan, tinggi 36.5 cm (Sumber: Situs Christies)

Patung laki-laki setinggi 43 cm dan garis tengah terbesar 14 cm ini – Gambar 2 – dan memiliki berat 2.1 kg. Sebagaimana terlihat patung ini kelihatan berdiri tapi sambil melipat kaki. Gelang pemburu kepala menghiasi lehernya. Status terakhir patung ini di situs African Art adalah “Sold” alias telah terjual – entah siapa pemiliknya sekarang.

adu2Gambar 2 – Patung Laki-Laki (43 cm x 14 cm, 2.1 kg) – African Art.

Patung ketiga (Gambar 3) adalah patung Salawa (Siraha Salawa), dan diperkirakan dipahat pada abad 19, memiliki ketinggian 71.5 cm. Patung bernomor inventaris 1551 juga berstatus “SOLD” alias telah terjual.

adu3Gambar 3 – Siraha Salawa, 71.5 cm – Michael Backman Ltd

Patung berikut (Gambar 4) adalah patung leluhur (Adu Zatua) dibuat pada abad 19 memiliki tinggi 55.7 cm. Patung ini dulunya dikoleksi oleh André Breton, Helena Rubinstein dan Don Alain Schoffel, kini dikoleksi oleh Museum Quai Branly, Perancis, dengan nomor koleksi 70.1999.3.1.

adu4Gambar 4 – Adu Zatua – Museum Quai Branly, Perancis

Koleksi dari Museum yang sama adalah patung pemimpin (Salawa) dari batu (Gowe Salawa) pada Gambar 5, dengan nomor koleksi: 70.1999.5.1.

adu5Gambar 5 – Gowe Salawa – Museum Quai Branly, Perancis

 

Patung pada Gambar 6, terkecil dari hasil lacakan NO, justru diklaim sebagai masterpiece (karya besar) karena dianggap merupakan salah satu patung tertua dari Nias yang dapat didentifikasi. Menurut situs Virtual Collection of Asian Masterpieces, patung leluhur (adu zatua) berukuran kecil dan sederhana ini awalnya dikoleksi oleh Baron Von Rosenberg yang mengunjungi Nias pada tahun 1850an.

Baron Von Rosenberg (1817-1888)  datang ke Hindia Belanda sebagai seorang tentara dan mulai bertugas di Sumatra dan di pulau-pulau sebelah baratnya. Belakangan ia menjadi pegawai negeri dengan tugas khusus melakukan penelitian ilmiah.

Patung ini bergaris tengah 6 cm (tinggi tidak diinformasikan), berfungsi melindungi rumah dari roh-roh jahat.  Patung ini dibeli dari janda Baron Von Rosenberg pada tahun 1889 dan kini dikoleksi di National Museum of Ethnology, Rijksmuseum Volkenkunde, Negeri Belanda.

adu6Gambar 6 – Patung Leluhur (“Masterpiece”) – Virtual Collection of Asian Masterpieces

Selain berpindah lewat perseorangan dalam rentang waktu yang panjang hingga saat ini, perpindahan besar-besaran patung-patung Nias ke museum-mesum di Eropah terjadi pada “Periode Penghancuran” [2].

Berpindahnya patung-patung Nias kuno itu keluar, baik dalam Periode Penghancuran maupun sesudahnya sebenarnya boleh juga dianggap sebagai rahmat terselubung. Seandainya saja patung-patung itu masih berada di Nias, barangkali nasib mereka sama dengan nasib rumah-rumah adat Nias yang hancur tanpa bias diganti lagi.

***

Pada tahun 1970an masih ramai penjualan patung di Nias, terdorong oleh desakan ekonomi masyarakat Nias. Konon, pada waktu itu muncul juga patung-patung “lama” tapi baru. Maksudnya patung-patung itu sebenarnya dipahat tidak lama sebelum atau sesudah ada pesanan, tapi bahannya dari kayu-kayu tua dari reruntuhan rumah-rumah adat dulu. Jadi, menurut seorang informan waktu itu, kalau pun dicek, bahannya memang bahan kayu tua. Entah benar atau tidak, perlu penyelidikan lebih jauh.

(eh*)

Rujukan:

  1. S. Zebua, 1996: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha – Seri Agama dan Gotong Royong Dalam Berburu; Tuhegeo.
  2. NO, 2007: Eduard Fries dan Karya Para Misionaris Awal di Nias: Wawancara dengan Dr. Mai Lin Tjoa-Bonatz.

Pariwisata Berbasis Desa

Monday, September 22nd, 2014

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MZebuaSEORANG teman yang kebetulan masih berstatus sebagai anggota DPRD di salah satu Pemerintah Kota di Indonesia, dengan penuh semangat menceritakan bahwa setelah menjadi anggota DPRD, banyak usul-usul yang berhasil diterima dan dilaksanakan pada wilayah konstituennya. Jalan-jalan dan jembatan banyak yang dibangun, MCK (mandi, cuci, dan kakus) sudah 50% dibangun di setiap rumah, dan sekarang sedang mendorong warga masyarakat untuk beternak ayam untuk memenuhi kebutuhan akan telur. Selama ini kebutuhan telur ayam banyak didatangkan dari luar daerah, sehingga harga telur ayam per kilogram jadi tinggi.

Saya merespon cerita teman ini dengan berkata, “Anda sangat hebat teman. Sangat peduli pada konstituen Anda. Masyarakat di sana pasti sangat senang, bangga, dan sangat mengagumi Anda. Dan barangkali Anda ini termasuk salah seorang yang berhasil untuk memenuhi kebutuhan kostituennya.”

Lalu saya bertanya: “Bagaimana dengan kemajuan pariwisata di daerah Anda?” Jawab teman: “Wah kalau itu belum sempat terpikirkan”. Selanjutnya dia mengutarakan bahwa di daerahnya banyak wilayah yang berpotensi sebagai objek dan daya tarik wisata, tetapi memang belum tergarap. Menurut teman, pariwisata bisa juga dipertimbangkan sebagai salah satu sektor yang bisa dikedepankan untuk menjadi sektor utama dan pemancing pembangunan pada sektor-sektor yang lain.

Karena kegiatan pariwisata di daerah pemilihan teman belum tergarap dengan baik, lalu teman itu berkata: “Apa ya yang perlu saya lakukan agar pariwisata di daerah saya bisa berkembang dengan cepat dan mendatangkan banyak manfaat kepada warga masyarakat di daerah saya?”

Nah, karena teman ini bertanya serius, maka saya berusaha memberikan trik-trik yang dapat digunakan untuk pembangunan dan pengembangan pariwisata di daerahnya.

Saya katakan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan inventarisasi objek dan daya tarik wisata di daerahnya.

Hal kedua yang dilakukan yaitu mengklasifikasikan objek dan daya tarik wisata itu ke dalam klasifikasi tertentu, umpamanya objek dan daya tarik wisata ‘siap ditawarkan’ (prasarana dan sarana memenuhi), objek dan daya tarik wisata ‘agak siap ditawarkan’ (masih memerlukan penambahan prasarana dan sarana), dan terakhir klasifikasi objek dan daya tarik wisata yang ‘berpotensi ditawarkan’ (baru didesain pengembangannya).

Hal ketiga yang dilakukan lagi adalah penetapan sebuah wilayah sebagai desa wisata, sebagai wahana sosialisasi pariwisata. Objek dan daya tarik wisata ini sudah termasuk dalam klasifikasi ‘siap ditawarkan’, dan setelah itu masuk pada wilayah objek dan daya tarik wisata ‘agak siap ditawarkan’.

Hal keempat yang dilakukan adalah melakukan kegiatan pemasaran objek dan daya tarik wisata untuk mendorong kunjungan para wisatawan.

Hal kelima yang dilakukan yaitu pembangunan dan pengembangan objek dan daya tarik wisata yang dimiliki, hendaknya dilaksanakan dengan mengikutsertakan atau bersama-sama dengan para tokoh masyarakat dan pemimpin desa di wilayah itu. Hal yang terakhir ini yang disebut, pembangunan dan pengembangan kegiatan pariwisata berbasis desa atau pariwisata berbasis desa.

Apabila pembangunan dan pengembangan objek dan daya tarik wisata dilakukan dengan pariwisata berbasis desa, maka desa yang sudah menjadi desa wisata itu akan cepat menyiapkan diri untuk menerima kunjungan para wisatawan. Munculnya kesiapan desa ini, dipacu oleh telah dipahaminya manfaat dari kegiatan pariwisata itu serta terbukanya usaha pariwisata dari setiap warga desa untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan.

Dampak dari peluang usaha ini adalah terpenuhinya beberapa kebutuhan keluarga di desa tersebut, seperti tercukupinya kebutuhan keluarga sehari-hari, kebutuhan akan pekerjaan, kebutuhan untuk meningkatkan pendidikan bagi anak-anaknya, dan seterusnya. Dengan demikian, setiap warga di desa itu ikut ambil bagian untuk turut serta menjaga dan memelihara, bahkan ikut aktif mengusulkan perbaikan dan penataan objek dan daya tarik wisata yang terdapat di wilayahnya itu di dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrenbangdes).

Kalau hal ini bisa terjadi di desa, justru bisa meringankan tugas dan pekerjaan dari pemerintah, tinggal melakukan pengawasan. Dengan demikian, pemerintah sudah berhasil untuk membangun pariwisata berbasis desa. Lebih-lebih lagi kalau ada ‘Kementerian Pemberdayaan Desa’ di dalam kabinet Jokowi, sungguh sangat mendukung.

*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.

Dr Marwan Rosyadi – Peneliti Muda Indonesia Yang Sedang Berkiprah di Jepang

Sunday, September 21st, 2014

MRosyadiNIASONLINE – Tokyo. Kisah-kisah sukses mahasiswa/i dan para peneliti Indonesia di luar negeri seperti tiada habisnya, justru di tengah kegalauan dunia penelitian di tanah air. Sebut saja Ricky Elson yang beberapa waktu lalu digaet oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Kisah membanggakan bercampur mengharukan yang dialami Ricky boleh dikatakan merupakan kisah tipikal peneliti kita, yang pada awalnya memiliki idealisme tinggi tapi kemudian ‘terpelanting’ oleh situasi yang di luar kendali mereka sebagai peneliti.

Di sela-sela berlangsungnya Grand Renewable Energy 2014 International Conference and Exhibition di Tokyo dari 27 Juli – 2 Agustus 2014, Nias Online sempat ngobrol-ngobrol santai dengan salah seorang peneliti muda Indonesia yang sedang aktif meneliti di Jepang.

Dia adalah Dr Marwan Rosyadi, yang sejak tahun 2013 bekerja sebagai peneliti di Laboratory of Electric Machinery, Dept. of Electrical and Electronic Engineering, Kitami Institute of Technology, Hokkaido, Jepang. Bidang khusus yang menjadi minat Marwan adalah Analisis Dinamik dan Pengendalian Jejala Daya Skala Besar yang digandeng dengan sumber-sumber energi terbarukan (Dynamic Analysis and Control for Large Scale Power Grid Incorporating Renewable Energy Sources).

Ketertarikannya Marwan dengan dunia listrik dimulai sejak umur 6 tahun.

“Saat itu listrik baru masuk di kampung kelahiran saya di Taliwang, Sumbawa Barat. Ketika pertama kali melihat bolam listrik menyala saat saklar di-on-kan, decak heran dan kagum bercampur baur saat itu. Ada keinginan besar dalam diri saya untuk ingin tahu lebih dalam. Kerap kali saya membuat listrik di rumah saya konslet dan membuat skringnya bolak balik putus. Saya beberapa kali kena strum karena eksperimen konyol saya, Alhamdulillah saya tidak apa-apa karena rumah saya adalah rumah panggung dari kayu”, tuturnya kepada Nias Online.

Pada tahun 2013 Marwan mendapat gelar Doctor of Engineering (Dr. Eng) dari Kitami Institute of Technology, dalam bidang Cold Region Environmental and Energy Engineering. dengan topik riset “Stability augmentation of grid connected wind farm by using Permanent Magnet Synchronous Generator“.

Marwan, yang mendapat gelar Sarjana Teknik (ST) dari Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya pada tahun 2004 ini, memiliki kisah ketika bekerja di sebuah perusahaan asing sebagai Electrical Engineer yang menjadikannya tertarik dengan energi terbarukan.

“Saya sangat terkejut ketika pertama melihat lokasi tambang. Pepohonan yang katanya rindang dan besar menurut cerita guru SD saya sudah tidak terlihat lagi di tempat yang saya tuju, hanya ada bukit-bukit dan gunung-gunung yang sudah gundul, kadang-kadang berasap menandakan bahwa bukit/gunung itu kaya akan batu-bara.

Dalam hati saya berkata “gunung-gunungnya sudah gundul lalu batubara dibakar, jadi berapa ton CO2 yang akan mencemari bumi sementara pohon-pohon yang akan menyerapnya sudah berkurang”.”

Ironisnya lagi, tambah Marwan, masyarakat yang hidup di sekitar tambang kebanyakan hidup miskin dan tanpa listrik. Dia tidak habis berpikir bahwa kekayaan negeri ini hanya dinikmati oleh segelintir orang. Batinnya bergejolak, sebab apa yang sedang dia kerjakan tidak sesuai dengan idealismeya. Akhirnya Marwan memutuskan berhenti setelah bekerja 6 hanya (enam) bulan di perusahaan itu.

Sejak saat itu Marwan pun mulai berhasrat mempelajari dan mengembangkan energi terbarukan, karena dia sadar suatu saat nanti sumber-sumber energi fosil akan habis.

Pada Tahun 2006 Marwan mendapat gelar Magister Teknik (MT) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jurusan Teknik Elektro dengan bidang studi: sistem tenaga. Topik riset yang diambilnya adalah Optimal Reactive Power Compensation on Jawa-Bali Grid System Using Artificial Immune System via Clonal Selection Algorithm (CSA).

Marwan berharap pemerintah Indonesia mulai lebih serius mengambil langkah kebijakan energi yang mendorong pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan.

“Hampir seluruh negara maju saat ini mulai mengembangkan technologi yang berorientasi pada RE. Uni Eropa, misalnya, bersepakat bahwa di tahun 2050 nanti 100% pasukan energi listrik mereka berasal dari sumber-sumber energy terbarukan. Jepang yang semula hanya memanfaatkan sebagian kecil saja energi terbarukan, kini sedang membangun renewable energy plants berupa wind farm (tenaga angin: red.) dan sistem fotovoltaik dalam sekala besar,” ujarnya.

(Catatan: Dari pengamatan NO selama berlangsungnya konferensi, bencana nuklir Fukushima tahun 2011 masih menyisakan trauma bagi rakyat Jepang, dan ini mau tak mau memaksa pemerintah Jepang untuk mengembangkan sumber-sumber energi alternatif terutama energi terbarukan, sebagai pengganti energi nuklir. )

Di Hokkaido, tempat Marwan melakukan riset saat ini, akan dibangun wind farm dengan kapasitas 400 MW. Di lepas pantai Fukushima juga akan dibangun floating wind farm dengan kapasitas yang cukup besar sebagai pengganti pembangkit nuklir yang hancur saat tsunami 2011. Projek ini akan berlanjut sampai dengan tahun 2050.

Marwan kuatir, Indonesia akan ketinggalan dalam percaturan tingkat global di bidang energi kalau kelak lahir kebijakan internasional yang mengikat semua negara untuk membatasi pembangkitan energi dengan menggunakan bahan bakan fossil. Juga, menurut Marwan, teknologi energi nuklir sampai saat ini belum mampu menjamin tidak terulangnya berbagai bencana dari penggunaan energi nuklir.

“Saya berharap Indonesia bisa memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan yang ada, dan tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh negara-negara maju terutama digunakannya tenaga nuklir, mumpung kita masih dalam tahap negara berkembang,” kata Marwan.

Setelah menyelesaikan program riset pasca doktoralnya, Marwan berencana kembali ke tanah air dan menyumbangkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya di bidang energi terbarukan untuk ikut membangun Indonesia (brk/*).

Nias Butuh Pemimpin Yang Berkarakter

Sunday, September 21st, 2014

Jakarta  – Dewan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Kepulauan Nias (DPP GPKN) mengadakan diskusi panel di Jakarta, bertempat di Hotel MegaPro (20-09-2014) dengan Thema Peluang dan Tantangan Pemuda Dalam Pembangunan Provinsi Kepulauan Nias, menghadirkan narasumber KombesPol (Purn) Drs. Asli Manao dan Drs. Saroziduhu Zebua, MM serta moderator Apolonius Lase

Pemateri KombesPol (Purn) Drs. Asli Manao menyampaikan pengalaman saat pulang ke nias belum lama ini, bahwa kepulauan nias butuh pemimpin yang punya karakter dan berhati melayani dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi.  Perananan semua tokoh, rohaniawan harus turut serta dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat supaya sadar bahwa kita sudah tertinggal jauh dengan daerah lain.

Salah satu contohnya rata-rata kebutuhan pokok masyarakat nias mulai dari sayur mayur selalu di datangkan dari luar nias, padahal nias punya potensi untuk hal ini akan tetapi kurangnya pemberdayaan masyarakat oleh pemimpin nias di kepulauan nias saat ini, lanjut Asli Manao dalam pemaparannya.

Asli Manao menambahkan, Peranan pemuda dibutuhkan untuk bisa ambil bagian, terlebih dalam menyongsong pemilukada yang rencana akan di gelar tahun 2015 untuk bersama-sama memberikan pencerahan kepada masyarakat nias supaya memilih pemimpin yang punya kakter, punya hati untuk membangun, mau memberdayakan ekonomi kreatif masyarakat sehingga kebutuhan tadi tidak lagi di datangkan dari luar pulau nias.

Sedangkan pemateri Drs. Saroziduhu Zebua, MM yang juga sebagai Ketua Badan Persiapan Pemekaran Provinsi Kepulauan Nias (BPP-PKN) Jakarta menyampaikan proses perjuangan provinsi kepulauan nias yang dimulai dengan deklarasi 02 Pebruari 2009 dan di lanjutkan dengan pembentukan BPP-PKN Jakarta pada tanggal 18 Pebruari 2012.

Saroziduhu Zebua mengatakan bahwa pencapaian pembentukan provinsi Kepulauan Nias yang sebentar lagi akan di sahkan oleh DPR RI pada sidang paripurna 25 September 2014 semuanya itu karna kasih karunia Tuhan. Proses perjuangan selama ini selalu menuai pro dan kontra, ada yang pesimis bahwa Kepulauan Nias mustahil menjadi sebuah provinsi dilihat dari SDM dan SDA yang ada, walaupun sebenarnya kalau kita melihat nias sangat kaya akan potensi SDA jika dikelola dengan baik mulai dari hasil bumi, pariwisata dan budaya.

Sementara Tobias Duha, Ketua Umum DPP – GPKN mengatakan tujuan diskusi panel kali ini untuk memberikan pencerahan serta mengajak pemuda nias untuk bersama-sama memberikan buah pemikiran dalam menyongsong provinsi Kepulauan Nias yang sebentar lagi akan disahkan oleh DPR RI. Pemuda sebagai agen perubahan tentunya punya peranan penting dalam mengawal provinsi kepulauan nias, GPKN sebagai ormas kepemudaan siap mengawal serta memberikan pencerahan kepada masyarakat khususnya pemuda untuk tidak lagi salah dalam memilih pemimpin.

Ketua Panitia, Wardaniman Larosa memberikan apresiasi kepada para pemuda yang hadir pada diskusi panel GPKN, kehadiran pemuda yang berasal dari berbagai kampus merupakan bukti bahwa pemuda nias sangat rindu untuk punya wadah dalam menyampaikan ide dan gagasan untuk ikut bagian dalam mengisi pembangunan di Kepulauan Nias.

Dimikian rilis berita yang diterima Redaksi NO dari DPP GPKN (brk/*)

Dengar Pendapat Komite II DPD – Ditjen Bina Marga Bahas Sistem Jaringan Jalan

Monday, September 23rd, 2013

NIASONLINE, Jakarta – Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum. RDP membahas pelaksanaan program kerja tahun anggaran 2013 dan rencana program kerja tahun anggaran 2014.

Ketua Komite II DPD Bambang Susilo menjelaskan acara dengar pendapat ini dimaksudkan untuk mengetahui pelaksanaan program kerja 2013 dan rencana program kerja 2014 dalam rangka mewujudkan sistem jaringan jalan di seluruh wilayah nasional yang memiliki mobilitas, aksesibilitas, dan keselamatan memadai, untuk melayani pusat-pusat kegiatan nasional serta wilayah dan kawasan strategis nasional. “Sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan nasional,” ujarnya di Gedung DPD Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/9). (more…)