Author Archive

Siapa Itu Ono Niha?

Wednesday, March 20th, 2013

* Oleh Esther GN Telaumbanua

Dalam percakapan di lingkup organisasi Masyarakat Nias pada sebuah jejaring sosial beberapa waktu lalu, pertanyaan “Siapa yang di sebut orang Nias (Ono Niha) itu” muncul. Pertanyaan itu sesungguhnya sarat makna sesuai konteks pembicaraan. Andai kepada saya ditanyakan, saya akan menjawab begini.

Orang Nias (Ono Niha) dapat dijelaskan dalam dua konteks, etnisitas dan kependudukan. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan etnis sebagai kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan sosial lain berdasarkan kesadaran akan identitas perbedaan kebudayaan, khususnya bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis. Koentjaraningrat (1989) menjelaskan etnis atau suku bangsa merupakan kelopok sosial atau kesatuan hidup manusia yang mempunyai sistem interaksi, sistem norma yang mengatur interaksi tersebut, adanya kontinuitas dan rasa identitas yang mempersatukan semua anggotanya serta memiliki sistem kepemimpinan sendiri. Fredrik Barth (1969) mendefinisikan etnisitas sebagai himpunan manusia karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut yang terikat pada sistem nilai budaya. Jadi, berdasarkan definisi di atas orang Nias adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa, agama, sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi. Dalam konteks kependudukan bisa didefinisikan sebagai seseorang atau kelompok masyarakat yang tinggal di suatu wilayah atau daerah tertentu atau orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut berdasarkan surat resmi tinggal dan tercatat dalam administrasi kependudukan.

Konteks budaya
Masyarakat Nias mengenal banyak mitos dalam berbagai versi yang dikisahkan dalam hoho (syair). Dalam mitos asal usul manusia Nias dikisahkan tentang sosok Raja Sirao yang bijaksana. Ia memiliki 9 anak. Untuk menggantikan posisinya, ia mengadakan pertandingan dimana yang memenangkan pertarungan mencabut tombak yang ditancapkannya akan mewarisi tahta. Yang paling bungsu menang dan menggantikannya menjadi raja. Lalu kedelapan putranya diturunkan dari langit ke Tanö Niha (tanah manusia). Dalam proses diturunkan (nidada) itu empat gagal, dan empat putra berhasil dan menjadi penguasa air, tanah, angin dan hutan. Dari sini berkembanglah kemudian leluhur Nias dengan kelompok besar marga (mado) Nias dan hidup di negeri/banuanya masing-masing. Singkat kisah mitosnya begitu.

Pusat kehidupan orang Nias mula-mula itu disebutkan di wilayah tengah Pulau Nias atau tepatnya wilayah Gomo yang kemudian beranak-cucu dan menyebar ke berbagai pelosok Nias bahkan ke luar pulau. Orang Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal) sehingga turunannya menggunakan marga ayahnya di belakang namanya. Dikenal kemudian ratusan marga Nias diantaranya Amazihönö, Bate’e, Bawamenewi, Baene, Bago, Baeha, Bali, Bawaulu, Bazikho, Bidaya, Bohalima, Bulu’aro, Bunawölö, Bu’ulölö, Buaya, Daeli, Dakhi, Dawölö, Daya, Dohare, Dohude, Duha, Fau, Famaugu, Fanaetu, Finowa’a, Gaho, Ganumba, Garamba, Gari, Gaurifa, Ge’e, Gea, Giawa, Gowasa,Göri,Gulö, Halawa, Harita, Hia, Hondro, Harefa, Haria, Hulu, Humendru, Hura, La’ia, Lafau, Lahagu, Lahu, Laoli, Laowö, Lase, Larosa, Lature, Luahambowo, Lawölö, Lö’i, Lömbu, Maduwu, Manaö, Manaraja, Maru’ao, Marundruri, Maruhawa, Marulafau, Mendröfa, Möhö, Nakhe, Nazara, Ndraha, Nduru, Nehe, Saota, Sarahönö, Sarumaha, Sihura,Taföna’ö,Telaumbanua,Wakho, Waoma, Waõ, Warasi, Waruwu, Wate, Wa’u, Waya, Zai, Zalukhu, Zagötö, Zendratö, Zamasi, Zamili, Zandroto, Zebua, Zega, Ziawa, Zidömi, Ziliwu, Ziraluo, Zörömi. Ini kemudian menjadi identitas utama etnis Nias pada saat ini. Bila anda menggunakan salah satu marga orang Nias dimanapun anda berada, maka dalam kategori ini anda adalah Ono Niha.

Selanjutnya, dikisahkan bahwa saat anak-anak Sirao diturunkan dari langit disertakan dengannya ‘bowo’ (adat-istiadat) sebagai pegangan hidupnya, panduan perilakunya di tanah kehidupannya. Ono Niha adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih kuat. Hukum adat Nias secara umum disebut “fondrakö” yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Dalam fondrakö dikenal perilaku kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, persaudaraan, musyawarah, namun juga sikap menghargai leluhur, orang tua, pemimpin dan patuh pada keputusan adat. Leluhur Nias melakoni musyawarah adat (orahua mbanua) dengan arif dan bijaksana dengan mengikutsertakan semua unsur elemen masyarakat. Sebelum memulai percakapan adat atau pertemuan tentang sesuatu mereka memakan sirih yang disuguhkan dalam bolanafo. Tradisi ini sebagai simbol silaturahmi, saling penerimaan dan menghormati. Leluhur Nias patuh pada yang ditetapkan musyawarah adat. Ono Niha adalah orang yang memegang teguh kesepakatan dan menjaga komitmen. Ono Niha juga sarat dengan pesan dari orang tua berupa etika dan pola berperilaku (böwö ni’orisi). Berdasarkan definisi diatas, maka siapapun dia yang melakoni budaya dan adat sitiadat serta berprinsip hidup Nias disebut Ono Niha.

Dari penelitian antropologis dan arkeologis, dilihat dari ciri umumnya, bahasa serta dialek yang digunakan, maka secara genealogis orang Nias disebut termasuk dalam rumpun Austronesia. Leluhur Nias diperkirakan bermigrasi dari daratan Asia, atau lebih spesifik wilayah sekitar Mongolia sampai Vietnam. Rumpun Austronesia memiliki ciri kebudayaan megalitik, kebiasaan memuja roh leluhur dan pola bercocok tanam. Mereka hidup di wilayah tropis yang umumnya subur dan dekat dengan sumber makanan yang berlimpah. Masyarakat yang tinggal di wilayah ini cenderung bersikap ramah dibanding yang hidup di wilayah gersang yang ditempa keras dan kejam karena sumber makanan dan air sangat terbatas. Ciri-ciri keramahan leluhur Nias ini ditunjukkan dalam perilakunya. Diantaranya mengucapkan salam Ya’ahowu (berkat bagimu), bersalaman, menyuguhkan sirih, dan memberi makan bagi tamu yang datang. Dari cerita orang tua, saya mendengar bahwa rumah-rumah orang Nias terbuka bagi orang yang singgah bermalam saat bepergian jauh. Mereka diberi tompangan menginap bahkan diberi makanan semampu tuan rumah sebelum orang melanjutkan perjalanan. Unsur-unsur asli budaya Nias adalah keyakinan kepada Sang Pencipta. Leluhur Nias selalu mengupayakan keseimbangan antara mikro kosmos dengan makro kosmos selaras hidup harmonis. Leluhur Nias mewariskan kebijaksanaan dalam menata kehidupan yang bersahabat dengan lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem di antaranya dalam menata pemukian, membangun rumah, dan bercocok tanam di tengan tantangan alam yang menerpa. Ini adalah sebagian dari identitas budaya yang bisa dijelaskan disini.

Perspektif kependudukan
Dalam fase-fase kehidupannya, orang Nias juga mengalami banyak perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan interaksi dengan dunia di luar Nias. Kedatangan agama membawa banyak pembaharuan terutama dalam kemajuan pendidikan dan kesejahteraan. Setelah fase kehidupan religi kuno, maka Nias kini menjadi wilayah dengan masyarakat yang memiliki religiositas tinggi dengan pemeluk Kristen sebagai mayoritas. Perobahan tata pemerintahan yang dimulai pemerintah Belanda sampai era Pemerintah Indonesia pun terjadi tanpa catatan pergolakan yang cukup berarti. Dulu dikenal banua dan öri, kini ada desa, kelurahan dan kecamatan. Dulu hanya ada pemimpin suku, salawa atau balugu, sekarang ada lurah dan camat. Memperhatikan proses perkembangan dan fase kehidupannya yang dengan relatif kecil resistansi menunjukkan pada dasarnya Nias memiliki sikap keterbukaan yang cukup positif. Artinya, terbuka menerima pengaruh dari luar tapi tidak sampai kehilangan ciri-ciri otentik karakter dirinya sebagai orang Nias. Nias adalah bagian tidak terpisahkan dari Indonesia yang majemuk dengan etnisitas yang yang beragam. Tuntutan kehidupan Nias mempengaruhi kehidupan ono Niha dimana kerap terjadi migrasi keluar Nias dan menetap di berbagai daerah, atau masuknya etnis lain ke wilayah Nias dan hidup menetap disana. Dari interaksi sosial, terjadi perkawinan campur dengan etnis lain sehingga banyak ono Niha yang tidak berbahasa Nias dan banyak juga tidak lagi melakoni adat-istiadatnya.

Laporan BPS 2011 menyebutkan penduduk Kepulauan Nias adalah 756.338 jiwa. Jumlah ini adalah total penduduk di 5 kabupaten/kota di kepulauan itu. Penduduk ini terdiri dari etnis Nias dan warga non-Nias yang menetap di wilayah ini dan tercatat sebagai penduduk ber-KTP di kepulauan Nias. Di Kepulauan Nias terdapat etnis Batak, Minang, Aceh, Jawa, Dayak, Maluku, Tionghoa (Cina), dan lain-lain. Di antara marga-marga etnis Nias, dikenal juga bermarga Bugis, Chaniago, Polem, Tanjung dan lain-lain. Walau mereka tidak disebut dalam daftar marga-marga Nias, leluhur mereka diperkirakan telah mendiami Nias sejak abad ke-17, dan memiliki belasan generasi. Mereka hidup menyatu dan berbahasa Nias serta melaksanakan tata krama berdasarkan budaya Nias. Umumnya marga-marga ini beragama Muslim, bukan Kristen sebagai agama mayoritas. Dengan situasi kekinian Ono Niha yang heterogen muncul pertanyaan baru, selain pertanyaan “siapa Ono Niha”. Apakah orang Nias yang beragama non-Kristen atau tidak berbahasa daerah Nias bukan Ono Niha? Atau, apakah marga Polem dan Chaniago yang bertatakrama budaya Nias, tidak dikategorikan Ono Niha? Apakah mereka yang menyandang mado Nias karena keturunan masih bangga dengan itu?

Dulu dan kini
Pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi di negeri ini membawa pengaruh di banyak sendi kehidupan, yang positif dan negatif, dan berdampak luas pada kehidupan masyarakat termasuk Nias. Merespons itulah menguat nasionalisme, ke-Indonesiaan, dan tidak bisa ditahan lahir rasa kedaerahanan. Keterbatasan pusat dalam banyak hal menyisakan masalah krusial di banyak daerah. Rasa tanggungjawab putra daerah untuk memajukan daerahnya masing-masing. Terjadi di seantero nusantara, tak terkecuali kepulauan Nias. Mulailah timbul organisasi kedaerahan, ikatan adat, keluarga ini dan itu. Ada kebanggaan dan klaim, Aku ono Niha! Apakah kamu ono Niha ? Dan, siapakah ono Niha?. Atau dengan bahasa kini, “siapa putra daerah Nias”?

Realitas kekinian ini memerlukan sikap, bila tidak ingin terjadi pergesekan kemudian. Peran simpul masyarakat sangat penting dan berperan efektif mencerahkan dan mengarahkan seperti pemerintah, pimpinan umat, ikatan masyarakat, media masa, dan lain-lain. Pada dasarnya masyarakat Nias tradisionil adalah masyarakat yang terpimpin, mereka patuh pada pimpinan dan orang-orang yang lebih tua. Dalam konteks banua di masa lalu dengan para salawa/balugu dan konsep musyawarah berbasis fondrakö, hal ini ditunjukkan. Namun masyarakat Nias generasi kini sudah memiliki pola pikir yang lebih demokratis, lebih berkesadaran politik, HAM, dan hukumnya. Oleh karena itu, para pemimpin dan organisasi kemasyarakatan Nias yang tidak menyesuaikan pola pikir dan pola tindaknya, tidak akan mendapat tempat di hati masyarakat bahkan tidak efektif kehadirannya dalam konteks membangun peradaban masyarakat Nias hari ini dan masa depan.

Karena itu tidak suka, tanpa bisa dihindari pemimpin Nias (kini dan masa depan) adalah yang yang mampu merangkul dan mengelola semua warga kepulauan Nias dan seluruh elemen masyarakat Nias sebagai potensi besar, satu kekuatan, dalam menjawab tantangan zaman dan harapan di masa depan. Pemimpin yang baik adalah yang bisa mengarahkan cara pandang yang benar dan semestinya, terhadap situasi kekinian Nias. Setiap fase kehidupan etnis Nias adalah produk konstruksi sosial. Pola pikir yang konstruktif dalam mengevaluasi situasi akan positif membentuk opini yang relevan menyambungkan antara sejarah dan masa depan. Ada pendapat untuk mengukur ke-ono Niha secara objektif dengan kriteria identitas budaya (garis keturunan, dll), semestinya lebih rasional dan subjektif misalnya kadar “sense of belonging”nya, “caring”, dan lain-lain. Untuk konteks tertentu, identitas etnis bisa saja dikembangkan. Misal, dalam konteks politik, kerohanian atau pendidikan. Benar mendefinisikan secara budaya, tetapi semestinya pula menyesuaikan kekinian yang ada. Apapun konteksnya, yang penting memang harus jernih dan tidak merusak sejarah. Sebab, secara pribadi saya tidak masalah bila marga Tambunan (contohnya) yang melakoni budaya Nias disebut Ono Niha, tetapi menjadi masalah buat saya bila ada mado Telaumbanua tidak berbahasa Nias disebut bukan Ono Niha. Identitas etnis Nias secara budaya dan nilai-nilai akan nyata dan teruji dalam proses sosialisasi, interaksi dan aktualisasi dengan lingkungan sosialnya dan sesuai zamannya. Mari melihatnya dengan lebih peduli. (egnt)

Bahan Bacaan:
• Fredrik Bart, 1969: Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Cultural Difference.
• Johannes Hammerle, 2001: Asal Usul Masyarakat Nias-Suatu Interpretasi
• Koentjaraningrat. 1989: Sejarah Teori Antropologi
• Victor Zebua, 2007: Ho Jendela Nias Kuno-Sebuah Kajian Kritis Mitologis
• Bamböwö Laiya,2006: Sumane Ba Böwö Ni’orisi

Kristen Neel Yang Malang

Saturday, November 10th, 2012

Kristen Neel, seorang remaja putri Amerika berusia 18 tahun pendukung calon presiden dari Partai Republik Mitt Romney, sungguh-sungguh malang. Calon idolanya dikalahkan oleh Barack Obama dari Partai Demokrat, dan menjadi bahan olok-lokan di dunia maya setelah dia menulis di akun Twitter-nya bahwa Australia memiliki Presiden yang beragama Kristen.

Sejumlah pendukung Mitt Romney berniat pindah ke Australia untuk menghindari kepemimpinan Barack Obama, yang menurut sebagian dari mereka, seorang Muslim.

Sebagai warga negara adidaya ernyata tidak menjamin kecakapan dan kecermatan Kristen Neel – yang berasal dari negara bagian Georgia – termasuk dalam hal mencari informasi yang akurat.

Kristen Neel menyangka Australia memiliki seorang presiden, padahal kepemerinatahan Australia dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Sementara Gubernur Jenderal mewakili Ratu Inggris, Elizabeth, yang merupakan kepala negara simbolis Australia.

Kristen Neel juga menyangka pemimpin pemerintahan Australia sekarang seorang Kristen. Padalah Perdana Menteri Julia Gillard dari Partai Buruh adalah seorang Ateis, dan hidup bersama pasangannya – Tim Mathieson – di luar nikah.

Krsiten Neel tidak tahu bahwa Perdana Menteri Australia sekarang perempuan seperti terlihat dari tulisannya yang menggegerkan itu:

I’m moving to Australia because their president is a Christian and actually supports what he says,” tulis Krsiten, yang mendapat sejumlah respon antara lain:

Perdana Menteri kami adalah seorang perempuan, seorang ateis yang tinggal bersama pasangannya tanpa ikatan pernikahan. Saya pikir Anda tidak senang tinggal di sini,” tulis Ian Cuthbertson editor TV pada harian The Australian. Suatu tanggapan yang simpatik tentunya.

Lain lagi dengan tanggapan seseorang dengan identitas @Patrickavenell yang sungguh menusuk hati:

Selamat karena menjadi orang paling tolol di dunia.” (*/brk)

Buku “NIAS BANGKIT: Langkah-Langkah Awal” mendapat Penghargaan Nugra Jasadarma Pustakaloka 2012

Monday, October 15th, 2012

Jakarta (Nias Online) – Sesuai dengan amanat UU No.4 Tahun 1990, Perpustakaan Nasional melalui Direktorat Deposit Bahan Pustaka menyelenggarakan pemilihan Bahan Pustaka/Buku Terbaik. Proses seleksi/pemilihan ini telah dilangsungkan sejak tanggal 9 Mei sampai 3 September 2012. Berkaitan dengan ini Perpustakaan Nasional RI menganugerahkan Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 kepada Buku “Nias Bangkit: Langkah-Langkah Awal” sebagai Juara 1 Kategori Bahan Pustaka/Buku Terbaik. Buku ini ditulis oleh Esther GN Telaumbanua, SE, dan diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan (PSH). Penghargaan kepada Penulis dan Penerbit diserahkan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Dra.Sri Sularsih, MSc pada hari Senin tanggal 8 Oktober 2012 di Gedung Theater Perpustakaan Nasional RI Jakarta.

Selanjutnya pada tanggal 11 Oktober 2012 dilangsungkan penganugerahan penghargaan kepada seluruh pemenang enam kategori dalam acara “Gemilang Perpustakaan Nasional” di gedung SMESCO Tower Jakarta.

Penerima Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 selengkapnya adalah:

Kategori Buku (Bahan Pustaka):

Juara 1: Esther GN Telaumbanua (Nias Bangkit : Langkah-langkah Awal)
Juara 2: Hendra Surya (Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar)
Juara 3: H Tukiran Taniredja, dkk (Model-model Pembelajaran Inovatif).

Kategori Perpustakaan Desa:

Terbaik Cluster A : Perpustakaan Desa Ngagel Rejo, Surabaya (Jawa Timur); Terbaik Cluster B : Perpustakaan Tut Wuri Desa Pitahan (Kaltim); Terbaik Cluster C : Perpustakaan Mapideceng Desa Senga Selatan, Kab. Luwung (Sulsel).

Kategori Tokoh Masyarakat:

Trini Haryanti (Jawa Timur); Shri IB DarmikaMarhaenWedastera PS (Bali); Saufni Chalid (Sumatera Barat); M Amin Suprijatna (DKI Jakarta); Muhammad Nur (NTB); Andreas P Cornelius (Maluku); Naim Ali (Jawa Timur); Triwiyana; HA Kholiq Arif, MSi (Bupati Wonosobo, Jawa Tengah); Prof Dr Ir HM Nurdin Abdullah, M.Agr (Bupati Bantaeng, Sulsel); Syafaruddin Usman (Penulis, Pontianak, Kalbar); dan Nadi Mulyadi (Wartawan, Jogja TV).

Pemenang Lomba Bercerita Tingkat SD/MI:
Juara 1: Muthia Nur Tsabitha (Jambi)
Juara 2 : Rahardi (Sulsel)
Juara 3 : Naqdzayatun Nur Ivana Isa (Gorontalo).

Pustakawan Berprestasi Nasional:
Suharyanto (DKI Jakarta); Nazaruddin (Nanggroe Aceh Darussalam); Irkhamiyati (DI Yogyakarta).

Penerima Anugrah Lifetime Achievement adalah Dr Soekarman Kertosedono, MLS .

Salah satu penerima penghargaan adalah Dr Soekarman Kertosedono, MLS. Beliau adalah pencetus berdirinya Perpustakaan Nasiona dan merupakan Pustakawan Utama Pertama yang dimiliki Indonesia. Sementara penulis buku pemenang kategori bahan pustaka yaitu Esther GN Telaumbanua adalah Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit yang melaksanakan berbagai program pemberdayaan bagi masyarakat Nias pasca bencana. Esther juga aktif menulis berbagai tulisan tentang kehidupan masyarakat Nias.

Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih dalam sambutannya di acara tersebut menyampaikan ucapan terima kasih dan kebanggaannya kepada semua pihak, baik secara perseorangan maupun organisasi atas usaha dan dukungan dalam mengangkat citra, harkat dan pengembangan perpustakaan nasional dalam membantu tugas Pemerintah mencerdaskan dan meningkatkan kualitas masyarakat. Kerjasama dan koordinasi yang baik diharapkan dapat ditingkatkan untuk keberhasilan dan prestasi gemilang perpustakaan nasional di masa mendatang.

Dalam rangka publikasi Gerakan Nasional Indonesia Membaca sebagai tindak lanjut dari Pencanangan Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca yang dicanangkan Wapres Boediono, 27 Oktober 2011 lalu Perpusnas telah melaksanakan Roadshow ke berbagai daerah seperti Palembang, Semarang, Kupang, dan Surabaya disemarakkan dengan berbagai acara talkshow yang melibatkan berbagai pihak dengan tema “Jadikan Perpustakaan Sahabat Pintar Keluarga Indonesia”.

Pengembangan budaya membaca sangat erat kaitannya dengan perpustakaan. Selain memberikan apresiasi dan penghargaan kepada mereka yang berprestasi, Perpustakaan Nasional berharap lewat kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan budaya gemar membaca untuk mengejar ketertinggalan informasi, meningkatkan kualitas pendidikan dan apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan.

Acara Penganugerahan Nugra Jasadarma Pustaloka dikemas dalam acara Gemilang Perpustakaan Nasional 2012 yang disemarakkan dengan musik dan persembahan lagu-lagu dari artis pendukung acara.
(/bo)

Amerika Serikat Bantu Tingkatkan Mutu Pendidikan Nias Selatan

Monday, October 8th, 2012

Jakarta – Wakil Bupati Nias Selatan, Hukuasa Nduru dan Kadis Pendidikan Dra. Magdalena Bago, S.Pd, MM, MBA menghadiri peluncuran Program Pendidikan USAID PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, Administrator and Student) di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta (Rabu,3/10).

Kehadiran Wakil Bupati dikarenakan Kabupaten Nias Selatan terpilih menjadi salah satu mitra penerima manfaat Program USAID PRIORITAS. Di Sumatera Utara, Program USAID PRIORITAS diimplementasikan di 10 kabupaten/kota (Kota Medan, Kota Sibolga, Kota Binjai, Kota Tebing Tinggi, Kota Tanjungbalai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Labuhan Batu dan Kabupaten Nias Selatan).

Hukuasa Nduru menyambut gembira atas terpilihnya Nias Selatan menjadi mitra program pendidikan berstandar internasional yang didanai Amerika Serikat. Menurut Hukuasa Nduru Program USAID PRIORITAS sejalan dan mendukung komitmen Pemerintah Kabupaten Nias Selatan yang menempatkan sektor pendidikan sebagai program utama.”Kami akan serius menjalankan program ini. Bahkan kami ingin program ini segera disebarluaskan melalui dana APBD ke seluruh kecamatan di Nias Selatan, agar mutu pendidikan merata,” terang Hukuasa Nduru ketika berdiskusi dengan Stuart Weston, Direktur Program USAID PRIORITAS.

Duta Besar Amerika Serikat (AS), Scot Marciel dalam pidato resmi menyampaikan bahwa program USAID PRIORITAS adalah implementasi kemitraan komprehensif antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah AS. Kemitraan komprehensif merupakan komitmen yang ditandatangani oleh Presiden Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 untuk meningkatkan kerjasama dan mempererat hubungan kedua negara.

Duta Besar Amerika Serikat lebih lanjut menyatakan Program USAID PRIORITAS dikembangkan oleh United State Agency for International Development (USAID) bersama Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru, meningkatkan kapasitas manajemen pendidikan dan memperkuat peran LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) dalam mencapai pendidikan yang bermutu. Melalui program ini generasi muda Indonesia dipersiapkan lebih baik untuk bersaing di dunia internasional.”Kami memberikan pendidikan kelas dunia kepada sekolah-sekolah di Indonesia,” terang Scot Marciel.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia (RI), Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA saat meluncurkan Program USAID PRIORITAS, meminta agar provinsi, kabupaten dan kota mitra program berkomitmen dan mengambil manfaat dari implementasi program.

Mendikbud menyatakan sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia berluang menjadi negara paling berpengaruh di muka bumi. Kehadiran Indonesia menjadi anggota negara-negara G-20 dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, membuat Indonesia diprediksi akan menjadi negara nomor 7 paling berpengaruh. Pada tahun 2030 Indonesia diperkirakan akan menggeser peran Jerman dan Inggris sebagai negara dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia.”Akan ada 13 juta lapangan kerja yang membutuhkan tenaga yang handal. Untuk itu kita harus mempersiapkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas harus dimulai dari pendidikan dasar,” tegas Muhammad Nuh saat meresmikan program USAID PRIORITAS.

Program USAID PRIORITAS akan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas mengajar dan belajar di 1400 sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan madrasah di 110 kabupaten/kota. Progam bernilai USD 83,7 Juta ini akan memberikan manfaat pendidikan bagi lebih dari 300.000 siswa di 7 provinsi yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.***

Duta Besar Amerika Serikat (AS), Scot Marciel dalam pidato resmi menyampaikan bahwa program USAID PRIORITAS adalah implementasi kemitraan komprehensif antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah AS. Kemitraan komprehensif merupakan komitmen yang ditandatangani oleh Presiden Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 untuk meningkatkan kerjasama dan mempererat hubungan kedua negara.

Duta Besar Amerika Serikat lebih lanjut menyatakan Program USAID PRIORITAS dikembangkan oleh United State Agency for International Development (USAID) bersama Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru, meningkatkan kapasitas manajemen pendidikan dan memperkuat peran LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) dalam mencapai pendidikan yang bermutu. Melalui program ini generasi muda Indonesia dipersiapkan lebih baik untuk bersaing di dunia internasional.”Kami memberikan pendidikan kelas dunia kepada sekolah-sekolah di Indonesia,” terang Scot Marciel.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia (RI), Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA saat meluncurkan Program USAID PRIORITAS, meminta agar provinsi, kabupaten dan kota mitra program berkomitmen dan mengambil manfaat dari implementasi program.

Mendikbud menyatakan sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia berluang menjadi negara paling berpengaruh di muka bumi. Kehadiran Indonesia menjadi anggota negara-negara G-20 dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, membuat Indonesia diprediksi akan menjadi negara nomor 7 paling berpengaruh. Pada tahun 2030 Indonesia diperkirakan akan menggeser peran Jerman dan Inggris sebagai negara dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia.”Akan ada 13 juta lapangan kerja yang membutuhkan tenaga yang handal. Untuk itu kita harus mempersiapkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas harus dimulai dari pendidikan dasar,” tegas Muhammad Nuh saat meresmikan program USAID PRIORITAS.

Program USAID PRIORITAS  akan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas mengajar dan belajar di 1400 sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan madrasah di 110 kabupaten/kota. Progam bernilai USD 83,7 Juta ini akan memberikan manfaat pendidikan bagi lebih dari 300.000 siswa di 7 provinsi yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.***

Duta Besar Amerika Serikat (AS) Scot Marciel bertemu dengan Wakil Bupati Nias Selatan Hukuasa Nduru dalam peluncuruan Program Pendidikan USAID PRIORITAS di Kantor Kemendikbud, Jakarta (Rabu, 3/10). Kabupaten Nias Selatan terpilih menjadi mitra program USAID PRIORITAS yang didanai AS.

Direktur Program USAID PRIORITAS (Chief of Party) Stuart Weston berfoto bersama Kadis Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan Drs. Mohd. Iksan Lubis, Wakil Bupati Labuhan Batu Suhari Pane, Bupati Labuhan Batu dr H Tigor Panusunan Siregar SpPD, Istri Wakil Bupati Nias Selatan, Wakil Bupati Nias Selatan Hukuasa Nduru, Walikota Sibolga Drs. H.M Syarfi Hutauruk, Kadis Pendidikan Nias Selatan Dra. Magdalena Bago, S.Pd MM, MBA, Kadis Pendidikan Sibolga Drs. Alpian Hutauruk, Kadis Pendidikan Binjai Drs. Anang Dwi Wibowo dan Provincial Coordinator (PC) Sumatera Utara Agus Marwan. Sejumlah bupati, walikota, kadis pendidikan dan rektor dari Sumatera Utara hadir dalam peluncuran Program USAID PRIORITAS di Kantor Kemendikbud Jakarta (Rabu,3/10)

 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Prof.Dr. Muhammad Nuh, DEA bertemu bertemu Wakil Bupati Nias Selatan, Hukuasa Nduru saat peluncuran Program USAID PRIORITAS di Kantor Kemendikbud Jakarta (Rabu, 3/10). Program USAID PRIORITAS diresmikan oleh Mendikbud untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar di 7 provinsi yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

 

Wakil Bupati Nias Selatan, Hukuasa Nduru dan Istri didampingi Kadis Pendidikan Dra. Magdalena Bago, Spd, MM, MBA bertemu dengan Direktur Program USAID PRIORITAS, Stuart Weston di Jakarta (Rabu, 3/10). Program USAID PRIORITAS merupakan program pendidikan berstandar internasional yang secara resmi diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Muhammad Nuh, DEA.

Mahasiswa Nias UGM Bersatu Untuk Maju

Tuesday, October 2nd, 2012

Yogyakarta, Kerinduan mahasiswa-mahasiswi Nias yang saat ini sedang duduk dibangku kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk membentuk satu wadah yang mempersatukan seluruh mahasiswa Nias di UGM akhirnya terwujud pada tanggal 24 September 2012. Pada hari Senin itu, bertempat di Auditorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melalui musyawarah bersama mahasiswa-mahasiswa Nias di UGM maka terbentuk sebuah organisasi mahasiswa yang diberi nama Kesatuan Mahasiswa Nias Universitas Gadjah Mada (KMN-UGM).

Kegiatan Musyawarah Bersama yang berlangsung sangat lancar dan efektif tersebut pada awalnya diprakarsai oleh 9 (Sembilan) orang mahasiswa/i Nias baik yang sedang kuliah pada program Vokasi, Sarjana (S-1) maupun Pascasarjana (S-2 & S-3) sehingga disebut dengan Tim 9 (Sembilan). Tim ini selama kurang lebih dua minggu mempersiapkan, memikirkan  sekaligus menggalang dana dari para kalangan mahasiswa Nias di UGM sendiri maupun partisipasi dari masyarakat Nias lainnya yang ada di Yogyakarta untuk menyukseskan pelaksanaan musyawarah bersama tersebut.

Tujuan dari pembentukan organisasi ini sendiri adalah untuk mengusahakan terwujudnya kesatuan mahasiswa Nias yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebudayaan, berwawasan luas, bertanggungjawab, kritis, serta berkepedulian sosial. Diharapkan dengan terbentuknya kesatuan mahasiswa Nias ini, maka tidak akan muncul perasaan pada masing-masing diri mahasiswa bahwa saya berasal dari Nias, Nias Utara, Nias Selatan, Nias Barat maupun dari Gunungsitoli, namun tetap satu sebagai “ONO NIHA”. Wilayah administratif bisa berbeda, tetapi jiwa dan semangat untuk membangun tetap untuk kepulauan Nias tercinta. Demikianlah yang terungkap dari para mahasiswa/i yang mengikuti acara ini.

Pada kesempatan Musyawarah Bersama ini, juga telah diadakan pemilihan Ketua dan Sekretaris Kesatuan Mahasiswa Nias Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yakni dengan terpilihnya Saudara WELLY JULY ARIYANTO ZALUKHU, mahasiswa vokasi kearsipan sebagai Ketua dan Saudari HELMINA ZEGA, mahasiswa vokasi Informasi Komunikasi & Sistem Informasi sebagai Sekretaris untuk periode 2012 – 2013.  Turut hadir pada musyawarah bersama ini adalah Bapak Rius Hia dan Bapak Titus Dachi yang merupakan sekretaris dan bendahara Ikatan Keluarga Nias (IKN) Yogyakarta.

Ini adalah satu langkah awal untuk berpikiran maju dari anak-anak Nias di UGM untuk membentuk karakter-karakter pemimpin di masa depan yang berinovatif, edukatif dan berintegritas tinggi. Sehingga mampu memimpin Nias ke depan menjadi lebih baik lagi. SEMOGA.  (Anta/Mammori)

Gereja Nias dan Penanggulangan Bencana

Saturday, September 15th, 2012

Esther GN Telaumbanua *)

Untuk pertama kalinya Sidang Raya  Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (SR-PGI) akan dilaksanakan pada tahun 2014 di Kepulauan Nias.  Sudah  tentu  SR-PGI ke 16  ini disambut dengan sukacita oleh masyarakat terutama gereja-gereja di Nias. SR-PGI ini  diharapkan  berdampak dinamis dan positif  bukan saja dalam menghasilkan keputusan-keputusan penting bagi organisasi PGI, namun terutama bagi Nias, gereja dan masyarakatnya.  Pemilihan Nias sebagai tuan rumah  tentu memiliki alasan tertentu terutama  karena  kaitan historis dengan peristiwa tsunami dan gempa dengan skala kehancuran besar yang melanda kepulauan ini tahun 2004-2005. Memahami tema yang  diusulkan menaungi SR-16 di Nias sebagaimana diusulkan adalah “Dari Samudara Raya Bumi, Tuhan Mengangkat Kita Kembali” (Mzm 71:20b) maka menjadi tuan rumah SR merupakan sebuah penguatan rohani  dan pencerahan bagi proses pemulihan dan kebangkitan wilayah kepulauan dengan penduduk mayoritas Kristiani.

Pertemuan Gereja-gereja

Berkaitan SR-PGI ini,  ingatan saya tertuju kembali pada rekomendasi dari beberapa aktivitas berkaitan gereja yang  dilaksanakan  pasca peristiwa tsunami dan gempa bumi. Tim Kerja Bersama Nias Bangkit, sebuah tim ad-hoc yang dibentuk PGI memfasilitasi beberapa pertemuan gereja-gereja lintas denominasi  di seluruh Kepulauan Nias di kota Medan dan Gunung Sitoli  dihadiri  wakil   berbagai pihak seperti pemerintah dan LSM dalam rangka berbagi informasi, memetakan situasi dan fakta  lapangan  saat dan pasca bencana serta merekomendasikan kebutuhan dan harapan dari  masyarakat Nias korban bencana.  Selain pemerintah maka gereja-gereja di Nias merupakan lembaga masyarakat yang dapat memberikan informasi dan gambaran situasi paling akurat  saat itu. Pertemuan ini menghasilkan pemikiran konstruktif  bagi intitusi pemerintahan dan intitusi lainnya bagi perencanaan pemulihan Nias. Selama setahun (2005-2006)  tim ini menyuarakan, mendorong kesadaran,  dan membangun kerjasama  baik antar lembaga gereja, pemerintah dan berbagai pihak lainnya untuk mengupayakan langkah-langkah penanggulangan  yang efektif. Salah satu produk dari kegiatan ini adalah terbentuknya tim kerja bersama gereja-gereja di Nias, yang telah berkontribusi sebagai  wadah koordinasi dan kerjasama dalam upaya mendorong proses pemulihan dan  perhatian  terhadap rehabilitasi rumah-rumah ibadah.  Tercatat lebih  1700 rumah ibadah/gereja (besar dan kecil) hancur akibat gempa tahun 2005, namun  tidak masuk dalam perencanaan program rehabilitas-rekonstruksi. Tim TNB-PGI bekerjasama dengan berbagai  jaringan gereja, pemerintah dan lembaga donor menyalurkan bantuan bagi masyarakat dan gereja Nias korban bencana.

Selanjutnya, pada bulan September  tahun 2007  dilaksanakan  fokus group diskusi  (FGD)  di Jakarta oleh Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB), sebuah yayasan berbasis pemberdayaan bagi masyarakat Nias. FGD ini secara khusus membahas peran dan posisi gereja dalam penanggulangan bencana di Indonesia melalui pengalaman khusus  peristiwa bencana alam di Nias. Bagian pertama dari forum ini membahas dan mengkaji posisi dan peran gereja dalam mengelola diakonia-transformatif bencana alam dengan nara sumber para teolog (STT dan PGI) dan Departemen Agama. Pada bagian kedua forum membahas konstribusi strategis lembaga-lembaga pengelola bantuan terhadap penguatan kapasitas pengelolaan bencana alam berbasis komunitas dengan narasumber  BRR dan NGO/LSM yang bergerak di Nias.  FGD  bertema “Gereja dan Penanggulangan Bencana Alam Berkelanjutan”, menghasilkan rumusan visi dan pemikiran kritis-strategis bagi penanganan bencana alam di Indonesia dan secara khusus Nias yang masih relevan untuk direview kembali saat ini.

Secara umum bencana dapat diklasifikasikan  sebagai  bencana dengan penyebab murni gejala alam  dan bencana sebagai akibat gejala alam yang distimulan dan diperhebat oleh perilaku manusia. Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana  dapat didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban  jiwa  manusia,  kerusakan  lingkungan,   kerugian  harta  benda,  dan  dampak   psikologis.  Berdasarkan  sumber  dan  penyebabnya,  bencana  dibagi  menjadi : (1)  Bencana  alam adalah segala jenis bencana yang sumber, perilaku, dan faktor penyebab atau pengaruhnya berasal dari alam, seperti : banjir, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung api, kekeringan, angin ribut dan tsunami; (2) Bencana non alam adalah   bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian  peristiwa  non alam  yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit; (3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.  Penanggulangan bencana merupakan serangkaian upaya yang konfrehensif  meliputi  pra bencana (pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan), saat terjadi bencana dan pasca bencana (rehabilitasi-rekonstruksi)

Keberadaan kepulauan Nias pada wilayah lingkar luar punggung pegunungan dasar laut dan lingkar dalam punggung pegunungan dasar laut dari dua lempeng besar dunia, menunjukkan bahwa Nias adalah wilayah bencana alam parmanen  (zona 6) yang rentan dengan gempa dasyat strategis. Selain bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi, bentuk bencana lain yang melanda Nias adalah banjir, tanah longsor, angin, dan lain-lain.

Dalam peristiwa bencana, tugas dan panggilan diakonia gereja dalam konteks tersebut adalah menolong dan mengurangi penderitaan korban. Diakonia sesungguhnya bukan saja menyatakan pengasihan kepada korban, tetapi lebih luas lagi mencegah agar jangan bertambah korban-korban baru. Dalam hal ini bagaimana  mempersiapkan umat dan masyarakat agar responsif, serta secara sistematis mengembangkan instrumen-instrumen pelayanan yang dapat mengurangi dampak dari bencana yang terjadi. Artinya, diakonia yang dilakukan bukan saja bersifat karikatif namun diakonia-transformatif dimana korban ditolong dan diberdayakan untuk mampu keluar dari masalah.

Diakonia transformasi

Dilihat dari buruknya dampak bencana terhadap kehidupan tata ruang fisik, sosial, budaya dan psikososial selama ini, dicatat dalam FGD beberapa masalah utama yang dihadapi masyarakat. Pertama, masyarakat umum belum memiliki pengetahuan dan pemahaman memadai terhadap bencana,  gejala alam menjelang bencana alam (gempa bumi dan tsunami); pemahaman akan mitigasi (pola hidup, tata dan pengelolaan  lingkungan dan pemukiman;  serta belum dimilikinya sistem peringatan dini bencana. Kedua, lembaga pemerintah, gereja dan institusi  lainnya belum memiliki kemampuan yang memadai dalam merespon bencana terutama yang datang tiba-tiba serta kesiapan melakukan penanggulangan pasca bencana. Ketiga, pemberian bantuan kemanusiaan terhadap korban bencana belum efektif dan optimal sebagaimana mestinya. Pola “dengan misi tersendiri atau kepentingan tertentu”, yang terjadi dalam proses pemberian bantuan dapat merusak tatanan sosial kekeluargaan dan keutuhan hidup masyarakat saat itu dan di masa mendatang. Keempat, masih lemahnya peran diakonia gereja terutama dalam menghimpun potensi dan dana bantuan. Hal mana sangat terkait dengan kondisi kemampuan sdm dan sosial ekonomi umat.

Terhadap kondisi tersebut ada tiga langkah strategis yang dapat dilakukan bersama, yaitu : (1) Perlunya mengembangkan sistem peringatan dan respons dini bencana. Hal ini  berkaitan dengan : a) kemampuan memahami gejala-gejala alam seperti kondisi tumbuhan serta perilaku hewan darat dan biota laut. b) mendorong dan membudayakan perilaku berwawasan bencana, dalam mengelola lingkungan,  menata ruang kehidupan dan penggunaan konstruksi bangunan yang tahan gempa. c)  membangun sistem komunikasi bencana termasuk  jaringan kerjasama lintas gereja, agama, sosial dan teritorial dalam peningkatan kapasitas sdm, berbagi informasi dan proses penanggulangan pasca bencana; (2) Memperkuat gereja,  jemaat serta komunitas lokal sebagai basis pemberian bantuan atau pelayanan diakonia-transformatif. Pembinaan sistematis dalam rangka meningkatkan kesadaran kritis gereja atau lembaga pemberi bantuan dan gereja/umat di tingkat lokal agar tidak mengidentikkan atau mengaitkan pekerjaan pelayanan bantuan kemanusiaan dengan praktek-praktek sempit seperti  pindah agama atau gereja, serta menghindari upaya-upaya melembagakan gereja/jemaat baru dari gereja yang memberikan bantuan di wilayah perbantuan, dan (3) Penataan lingkungan sosial dan tata ruang dari bahaya man made disaster (bencana alam karena perbuatan manusia). Membantu pemerintah dengan cara melakukan penelitian, pendidikan kritis dan format respons sosial berkaitan dengan pembangunan atau pengelolaan tata ruang dan lingkungan yang berwawasan bencana.

Dalam diskusi ini,  perspektif Gereja-gereja di Indonesia menekankan  tentang kepedulian dan identifikasi diri Yesus dengan mereka yang lemah sebagaimana dikemukakan Matius 25:34-36 serta mengingatkan gereja akan tiga tantangan mendasar dalam implementasi makna diakonia-tranformatifnya.

Pertama, adanya profil pembutaan diri terhadap realitas keseharian masyarakat, termasuk bencana alam dan sosial: acuh tak acuh, tidak peka, masa bodoh, merasa bukan urusan kita, tidak ada manfaat ekonomis, dan rasa takut yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kondisi pembutaan  diri ini berakibat pada adanya kesenjangan antara perilaku sosial gereja/jemaat/umat kristen dengan landasan tata kehidupan diakonia-transformatif itu sendiri.

Kedua, sikap ambivalen atau dikotomis antara keberagamaan dengan kehidupan sehari-hari. Sikap ambivalen ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kehidupan gereja yang berdasar pada diakonia-transformatif  dari Yesus Kristus dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Respons atas kehidupan nyata masyarakat tidak dilihat sebagai manifestasi dari iman kepada Yesus Kristus. Distorsi ini menjadi tantangan konsolidasi diakonia-transformatif gereja menjawab persoalan pengelolaan dampak bencana alam bagi manusia, masyarakat dan tata lingkungan ke masa depan.

Ketiga, keberagamaan yang parsial. Hidup keagamaan terbungkus dalam ruang ritus, eksklusif, formal dan institusional. Kekristenan sebagai simbol, kata, status. Gereja belum memberikan pengaruh dominan dan signifikan terhadap situasi sosial konkrit yang dihadapi masyarakat sebagai sebuah gerak, potensi, sumberdaya fungsional diakonal-transformatif. Akibatnya, gereja menjadi terasing dari situasi sosialnya sehari-hari. Tidak produktif dalam proses transformasi sosial, baik di komunitas gereja sebagai basis atau pangkalan maupun masyarakat.  Gereja yang terpenjara dan terasing seperti dari kehidupan  sehari-hari itu, semakin diperburuk dengan ketakutan-ketakutan atau warisan traumatik tertentu yang semakin membelenggu fungsi diakonia-transformatifnya. Adanya lembaga seperti YTNB contohnya, menunjukkan bahwa gereja, dalam hal ini PGI belum cukup akomodatif terhadap dinamika aspirasi diakonia-transformatif bencana alam yang dihadapi masyarakat. Pada konteks Nias sendiri, hal itu semakin diperburuk melalui polarisasi dan kesenjangan di antara denominasi gereja yang ada di Nias.  Secara teologis, pembebasan diri dari ketakutan didasarkan pada paskah Yesus Kristus sebagai dasar diakonia-transformatif gereja, tetapi juga dengan mempertimbangkan adanya Dokumen Keesaan Gereja – DKG dan UU Penanggulangan Bencana (UU No.24/2007).

Dari perspektif akademis, dipaparkan contoh atau model diakonia-transformatif pada level personal – tetapi memiliki dimensi struktural dan kultural yang kuat di tengah  masyarakat Nias. Berdasarkan pengalaman personal tersebut, beberapa catatan mendasar dan kontekstual bagi diakonia-transformatif di Nias perlu menjadi perhatian. Pertama, diakonia-transformatif adalah sebuah keharusan. Hal ini sangat beralasan karena posisi Nias dengan warga 90% lebih  beragama kristen di mana gereja atau jemaat lokal ada di seluruh Nias. Kedua, diakonia-transformatif adalah pelayanan kemanusiaan.  Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa warga jemaat mempunyai harapan besar bagi gereja. Bukan hanya berkaitan dengan soal-soal ajaran (teologi) tetapi juga pelayanan kemanusiaan dan sosial. Gereja memiliki fasilitas dan aset yang memadai:  sumber daya pelayan, komunitas lokal, struktur dan kategori pelayanan, fasilitas fisik seperti gedung dan ruang pertemuan, dan sebagainya. Ketiga, gereja atau jemaat lokal adalah pusat  pelayanan, pembinaan dan evaluasi. Desain pelayanan, pembinaan dan evaluasi diakonia-transformatif berbasis pada jemaat atau komunitas lokal yang bersifat responsible (bertanggung jawab), transparan (terbuka) dan sustainable (berkelanjutan). Dalam konteks itu, lembaga donatur  hanya merupakan  fasilitator. Bahaya yang senantiasa mesti diwaspadai adalah terjadinya manipulasi informasi dan realisasi bantuan sehingga umat dan masyarakat korban tidak memperoleh informasi tentang hal-hal yang baik. Keempat, agenda lembaga donatur. Disadari atau tidak, banyak lembaga donatur memiliki kepentingan kampanye sosial dan kebanggaan sebagai donatur. Kelima, kinerja diakonia-transformatif gereja versus LSM. Gereja bersifat holistik, berkelanjutan, dan lessons learned berbasis komunitas korban. LSM umumnya  parsial, temporal serta pemberian bantuan material tanpa spiritual.  Keenam, teologi bencana.  Gereja perlu melakukan indentifikasi, pemetaan, dan perumusan teologi bencana sesuai dengan konteks teritorial, budaya, sosial, ekonomi dan politik.

Banyak lembaga NGO/LSM  yang memberikan bantuan kemanusiaan di Nias memiliki kaitan dengan gereja dan keorganisasian sebagai lembaga asing (luar negeri).  Mereka tiba sebagai bantuan kemanusiaan segera  (first-aid) pasca bencana terjadi. Kepedulian utama umumnya NGO/LSM  ini adalah penguatan lembaga dan komunitas lokal pada tahap  tanggap darurat atau bantuan emergensi yang bersifat material. Lembaga ini memberikan bantuan langsung kepada masyarakat seperti  program dukungan psikososial, kesehatan  dan kegiatan pendidikan di bawah tenda pengungsi. Umumnya NGO/LSM difokuskan untuk pembangunan masyarakat  atau kemanusiaan dan bukan keagamaan.

Badan Rehabilitasi Rekonstruksi (BRR) adalah lembaga pemerintah yang khusus dibentuk dalam proses rehabilitasi-rekonstruksi Nias pasca bencana. BRR pada hakekatnya memperoleh mandat dari negara dan dunia internasional. Dalam pemaparannya BRR  menyatakan bahwa sangat diperlukan kajian dan reformulasi perencanaan penanggulangan bencana. Pendekatan penanggulangan bencana yang dilakukan selama ini masih bersifat pemadam kebakaran. UU Penanganan Bencana yang ada masih bersifat top-down, birokratis dan legalistik. Kegiatan masih berbasis proyek, di mana birokrasi bersifat panjang dan tidak sensitif terhadap aspirasi korban. Situasi yang dihadapi adalah situasi bencana, sementara model penanganan berkarakter penanganan normal. Pola lama mesti dikritisi sebab faktanya kegiatan rehabilitasi bersifat kontraktor-oriented dengan kualitas hasil yang buruk dan rentan  terjadinya  eksploitasi masyarakat penerima bantuan.   Pola rehabilitasi seperti ini dikuatirkan menjadi semacam  bisnis bencana, dan merupakan  bencana sosial serius yang menempatkan korban pada posisi multi-victim. Berbagai persoalan  hanya dapat diatasi kalau pembangunan dilaksanakan dengan pelibatan atau partisipasi masyarakat Nias. Kekhasannya adalah: kelembagaan masyarakat menjadi kuat, konstruksi bangunan dihasilkan  lebih kuat, ekonomi korban dan komunitas lokal dapat meningkat, bantuan dana yang tersedia langsung diperoleh masyarakat. Dari sisi perspektif BRR, panggilan gereja di Nias adalah  memfasilitasi proses rekonstruksi ke proses pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi forum

Ketika bencana datang sesungguhnya berbagai pihak  terdorong  memberikan bantuan, namun pada kenyataannya baik pemerintah,  gereja, dan LSM tidak siap sebagai lembaga bantuan bagi penanggulangan  bencana. Hal mana nampak pada cara menyikapi dan pola bantuan.  Seperti yang terjadi di Nias, konteks disasternya baru tetapi model penanganan perbantuan bencana masih menggunakan pola normal. Sehingga penanganan menjadi tidak efektif dan penyaluran bentuan tidak optimal, bahkan rentan melahirkan masalah baru.

Sesungguhya masyarakat korban memiliki pengharapan melalui diakonia-transformatif gereja. Kelemahannya, diakonia gereja masih bersifat karikatif semata, bahkan   mengidentikkan diri sebagai korban. Akibatnya, bantuan kemanusiaan melahirkan perseteruan dan perpecahan, bukan kesejahteraan dan keadilan.  Sering terjadi uang justru menggeser logika dan idealisme diakonia. Kapitalisasi diakonia seperti ini justru melemahkan gereja.  Gereja  yang mengidentikkan diri sebagai korban dan gagal keluar sebagai gereja yang mandiri, sulit menjadi pelayan diakonia-transformatif.  Padahal, gereja yang mandiri diharapkan menjadi inspirasi dalam penanggulangan bencana. Ironisnya,  situasi bencana diperburuk dengan pelayanan dari gereja-gereja sendiri. Karena itu, diperlukan upaya memfasilitasi pertemuan gereja-gereja di Nias dalam rangka membicarakan secara obyektif, sistematis dan tuntas pengelolaan diakonia-transformatif dalam konteks bencana alam di Nias. Bagaimana gereja-gereja dapat merekonstruksi pola pelayanan diakonia-transformatif bencana alamnya sebagai acuan untuk menanggulangi bencana alam di sekitarnya. Karena itu maka gereja-gereja dan komunitas lokal perlu difasilitasi untuk mereposisi diri sehingga menjadi tidak hanya dalam rangka survive, tetapi juga inisiator dan proaktif dalam mengelola bencana alam dan segala dampaknya.

Dinamisasi point-point diatas membutuhkan kajian terhadap baik subtansi maupun strategi pengembangan diakonia-transfrormatif bencana alam yang khas di Nias selama ini.  Dari hasil kajian itulah, dikonstruksikan tidak hanya model diakonia transformatif bencana alam yang khas, tetapi juga model sistem peringatan dan respons bencana, pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat lokal yang relevan untuk kebutuhan itu.

FGD ini menghasilkan beberapa catatan penting sebagai berikut:

  • Gereja perlu didorong untuk berinteraksi dengan isu-isu sosial. Gereja perlu melakukan penelitian berkaitan dengan teologi bencana, posisi diakonia-transformatif dalam konteks distorsi hubungan gereja dan negara. Dalam praktek diakonia-transformatif bencana alam mesti melihat wajah Yesus dalam diri korban bencana dan kehidupan nyata masyarakat.  Citra gereja dalam perspektif diakonia-transformatif adalah gereja yang esa dan bukan gereja yang terpecah-belah dan terpolarisasi.
  • Model intervensi gereja selama ini masih berbasis iman (agama) atau gereja (identitas gereja). Gereja  juga mesti mengkritisi dan sadar mengapa dimensi proselitisasi menjadi bahasa kritis yang muncul dalam UU Bencana Alam dan  dilihat sebagai konsekuensi dari kelemahan diakonia-transformatif gereja pada aras praktek.
  • Secara teologis, metodologis dan praktis (perspektif diakonia-transformatif) pada tahapan tanggap darurat (emergency) maupun  pemulihan/pemberdayaan sosial  (social empowerment) pihak pemberi bantuan (gereja dan lembaga sosial lainnya) mesti menghindari: (a) terciptanya mental ketergantungan korban pada donor dan bantuan yang  dapat mengikis nilai-nilai lokal secara spiritual, kultural dan sosial seperti kerjasama, saling menolong dan sebagainya yang berbasis kekeluargaan dan persaudaraan  yang selama ini menjadi ciri masyarakat Nias.  Keseriusan dalam mempersiapkan tahapan pemulihan  bukan saja akan menghindari ketergantungan, tetapi juga diskontinuitas yang menjadi akar konflik dan masalah sosial lainnya;  (b) mengaitkan pemberian bantuan sebagai entry point atau pintu masuk pelembagaan gereja atau jemaat baru, sehingga terciptanya polarisasi dan kesenjangan di antara gereja dan  munculnya  bencana baru   yang justru diinisiasi oleh gereja sendiri. Hal ini sangat bertentangan dengan spirit dasar diakonia-transformatif untuk memperkuat kemandirian dan harga diri gereja atau jemaat atau komunitas lokal.  Pasca bencana tercatat penambahan jumlah institusi gereja cukup cepat. Perlu kesadaran dan tanggungjawab  untuk meminimalisasi dampat  negatif terhadap  tatanan gereja dan masyarakatan yang sering membonceng  pada  proses bantuan kemanusiaan dan kehadiran pihak luar.
  • Peran advokasi gereja sangat penting untuk mendorong berbagai pihak untuk memperhatikan pentingnya kebijakan bantuan serta keseimbangan penetapan   waktu tanggap darurat dan tindakan pemberdayaan sosial secara proporsional. Advokasi bukan saja dalam bentuk bantuan yang mengurangi dampak psikologis dan trauma bagi korban, tetapi pula advokasi dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan yang rentan terhadap korupsi dan kebijakannya.
  • Memperkuat gereja dan jemaat lokal dalam mitigasi bencana dengan mengembangkan sistem peringatan dan respons dini bencana berbasis komunitas lokal sebagai instrumen diakonia-transformatif gereja-gereja di Indonesia. Sistem  ini diformulasikan dari komunitas lokal, dan pada gilirannya direkonstruksi dan diintegrasikan untuk menemukan model nasional untuk penguatan gereja-gereja dan masyarakat pada umumnya.  Nias dijadikan contoh dan entry point untuk itu. Pengalaman mengelola dampak bencana alam tidak hanya diabstraksikan ke dalam bentuk instrumen sistem peringatan dan respons dini bencana, tetapi juga dengan membangun sistem pendidikan (kurikulum) dan komunikasi bencana ditujukan bagi terciptanya perilaku dan budaya masyarakat lokal yang sistemstif dan responsif  terhadap peringatan dini dan bencana itu sendiri. Perilaku gereja, jemaat lokal serta masyarakat lokal merupakan tools atau intrumen sistem peringatan dan respons dini bencana yang terwujud antara lain pada  pola tata ruang pemukiman, pola rancang dan kualitas bangunan rumah, serta perilaku manusia terhadap lingkungan.
  • Pendekatan yang relevan dan tuntas terhadap korban bencana menuntut dipetakannya “siklus korban mati” dan “siklus korban hidup.”  Peta siklus korban mati dan korban hidup akan sangat mendasar sebagai landasan mengembangkan model penanganan korban bencana. Pemetaan situasi dan data korban, sebaiknya ditempatkan dalam kerangka pengembangan data dasar dan pemetaan berbasis komunitas lokal. Termasuk sensivitas terhadap berbagai isu seperti pelanggaran hak korban, diskriminasi pengelolaan bantuan, dsb.
  • Bantuan kemanusiaan bencana mestinya fokus pada penguatan kapasitas  berbasis komunitas secara berkelanjutan meliputi  aspek sistem dan sumberdaya. Masyarakat diberdayakan untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Pengembangan bidang sosial dan budaya diarahkan dalam rangka memperkuat kapasitas kemandirian dan mengikis mental ketergantungan. Dalam proses pemberdayaan ini masyarakat adalah fokus dimana NGO/LSM berperan menjadi fasilitator pemberdayaan, memberi bantuan material dan advokasi. Perlu juga dikritisi pendekatan dan program community development agar tidak semata berorientasi aksi  dan lemah di bidang refleksi kritis.    
  • Strategi penanggulangan  bencana diperlukan dengan paradigma baru  dengan ciri pengembangan kapasitas   dan  keberlanjutan berbasis dan berawal dari komunitas lokal dengan proteksi UU/kebijakan. Kesiapan pemerintah dalam sistem diperlukan untuk penanggualangan yang efektif dan optimal.
  • Nias pasca bencana menjadi terbuka dalam percaturan kultural. Perlu kajian sosiologi, psikologi dan kultural secara komprehensif untuk proses penanganan bencana Nias dan konsep pemulihan pasca bencana. Kebijakan pembangunan kehidupan Nias  menyeluruh meliputi juga infrastruktur ekonomi untuk mengeluarkan posisi Nias dari ketertinggalan dalam sosial dan ekonomi.
  • Gereja-gereja di Nias memiliki sdm dan berbagai fasilitas, serta jaringan institusional yang dapat dioptimalkan dalam proses penanganan bencana. Penguatan kapasistas gereja merupakan upaya strategis dalam penanganan bencana secara berkelanjutan. Potensi yang dimiliki ini belum disadari dan diberdayakan untuk meningkatkan peran strategis gereja dalam proses penanggulangan bencana. Pemberdayaan gereja-gereja   Nias merupakan langkah efektif dalam membangun sistem penanggulangan bencana di kepulauan Nias.
  • BRR diharapkan dapat membantu penyusunan Rencana Pembangunan Kepulauan  Nias  secara menyeluruh dengan melibatkan instansi terkait antara lain seperti  Bappenas, DPR RI dan Dep. Keuangan, serta mendengar masukan aspiratif  intitusi masyarakat seperti gereja dan lembaga masyarakat lainnya seperti YTNB.
  • Diskusi yang baik ini mesti disampaikan kepada para pimpinan gereja di Nias untuk membangun paradigma baru gereja  dan rencana strategi pelayanan yang semestinya bergeser dari  dari institusional oriented ke educational building.

 

Gereja Nias

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk membantu gereja untuk melihat lebih jelas kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, sekaligus kebutuhannya dalam menghadapi bencana,  yang datangnya selalu tiba-tiba. Demikian untuk  kiranya   mampu melayani  lebih sensitif, efektif dan optimal  bencana bersama-sama dengan pemerintah dan institusi lainnya dengan menarik pelajaran terutama dari pengalaman Nias. Hal ini kembali diangkat untuk menjadi pergumulan bersama ditengah perkembangan kehidupan Nias di segala dimensi dengan perubahan pesat yang mengikutinya. Bencana alam yang terjadi, seperti di Nias dan wilayah lainnya,  sesungguhnya telah menguak betapa banyak persoalan yang meliputi  berbagai dimensi kehidupan Nias, gereja dan pemerintah yang harus disikapi dan dibenahi.  Pasca bencana berlalu, persoalan bencana, dampak dan keberlanjutannya semestinya bagian yang tidak dilupakan begitu saja, namun tetap terintegrasi dalam setiap perencanaan pembangunan yang berkaitan dengan masyarakat dan kehidupannya.  Mengapa, karena bencana dalam berbagai bentuk dan dampaknya adalah bagian dari persoalan gereja dan umat. Bencana tidak diprediksi kapan datangnya, sehingga adalah bijak mengantisipasi dengan pencegahan dini dan kesiapsiagaan setiap waktu.

Selain itu, melalui SR ini PGI dapat lebih mengenal gereja-gereja lokal yang menjadi anggotanya dan situasi riil masyarakatnya. Melalui refleksi mendalam dari konteks  bencana Nias,  SR-PGI di Nias mendorong perumusan  konsep diakonia-tranformasi, teologi bencana,  strategi  penguatan gereja dan peningkatan kemampuannya mengelola sumber daya yang dimiliki.  Menarik hikmah dari penanganan bencana Nias,  didorong pula  kesatuan gereja-gereja dalam merespon bencana yang terjadi serta  merajut kemitraan gereja dengan lembaga-lembaga kemanusiaan untuk menyatukan potensi penanggulangan. Saat ini terdapat  puluhan gereja dari berbagai denominasi,  diantaranya ada sekitar 7 sinode gereja berbasis masyarakat Nias di Kepulauan Nias, yaitu Angowuloa Masehi Indonesia Nias/AMIN, Banua Niha Keriso Protestan/BNKP, Orahua Niha Keriso Protestan/ONKP, Angowuloa Faawosa khö Yesu/AFY, BNKP-Indonesia (BNKP-I), Banua Keriso Protestan Nias (BKPN),  BNKP Raya dan Angowuloa Fa’awosa Geheha (AFG.)  Seluruh sdm gereja-gereja di Nias berjumlah  kurang lebih 90% dari total penduduk kepulauan  Nias dan tersebar di dalam 5 kabupaten/kota yang ada.

Belajar dari  pengalaman bencana yang lalu, kiranya gereja-gereja di Nias merefleksikan   bagaimana   memandang dan menyikapi alam  semesta atau lingkungan hidupnya serta melaksanakan panggilannya  untuk menjaga dan memelihara alam  agar terjamin kelestariannya dan sekaligus menjadi sumber nafkah yang tak akan habis bagi semua makhluk dan generasi selanjutnya.  Saat bencana melanda  maka kehadiran gereja  adalah merefleksikan  kebaikan Allah   bagi korban bencana  dalam pelayanan diakonia-transformasi. Gereja Nias memiliki berbagai potensi sdm, asset, fasilitas, jaringan  dan faktor pendukung lainnya yang dapat difungsikan secara optimal  dalam menghadapi berbagai bentuk bencana. Gereja Nias  memiliki posisi strategis dalam struktur masyarakat Nias dapat menjadi  penggerak dan fasilitator aksi  kemanusiaan  serta  mampu mempengaruhi  masyarakat untuk mitigasi dan mereduksi dampak negatif dari pola bantuan bencana yang ada. Gereja   berkaitan dengan pergumulan  masyarakat dengan nilai-nilai, perilaku dan perbedaan pandangan. Gereja berperan menemukan solusi dari masalah yang terjadi, serta berperan strategis dalam pembentukan nilai positif dalam masyarakat melalui pelayanan advokasi dan pesan profetis kerohaniannya. Pasca pemekaran kepulauan ini terkotak menjadi 5 wilayah pemerintahan yang sangat rentan dengan perpecahan dan pergesekan di berbagai dimensi, gereja-gereja  Nias berperan  merajut dan menumbuh-kembangkan semangat kebersamaan dan persatuan masyarakat Nias yang memudar dan menjadi wadah pemersatu   rasa dan tanggungjawab menanggung beban bersama demi pemulihan kehidupan dan pembangunan wilayah kepulauan Nias.

Dengan demikian, SR-PGI ke 16 di Nias akan akan dilangsungkan tahun 2014  menoreh sejarah gerejawi secara khusus dan membawa berkat bagi Nias, tuan rumah perhelatan raya ini.  (egnt)

*) Penulis adalah Sekretaris Tim Kerja Bersama Nias Bangkit- PGI (2005-2006) dan Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB)

IKMIN (Ikatan Keluarga Masyarakat Islam Nias) Sumatera Utara berHalal bi Halal di Medan

Saturday, September 15th, 2012

Pada hari Sabtu, tanggal 8 September 2012 / 21 Syawal 1433 H, bertempat di Hotel Madani Medan, Pengurus IKMIN Sumatera Utara melakukan kegiatan acara Halal bi Halal dengan masyarakat Islam Nias yang berada di berbagai kota di Sumatera Utara. Hadir pada acara itu tokoh-tokoh Muslim Nias dan Cendekiawan Muslim Nias seperti mantan Bupati Nias Bapak Drs.H.Zakaria Yahya Lafau,M.M., Ir.H.Ridwan Harefa, Dr.Hamdani Khalifah,M.A., Drs.Abdurrohim Gea,M.A., Amir Hasan,S.Sos., Nadriyan Harefa,S.E, Arifulhaq,S.Pd.,M.Hum.

Pada kesempatan itu juga dilakukan pergantian pengurus IKMIN SUMUT untuk masa jabatan 2012-2015, antara lain terpilih:

Ketua Umum    : AMIR HASAN, S.Sos
Wakil                    : NADRIYAN HAREFA, S.E
                               M. DAMSYIK ZANDROTO
                               RADESNIR ZEGA
Sekretaris Umum  : ARIFULHAQ, S.Pd.,M.Hum.
Bendahara Umum : Dra. ROSLINA ZEGA
Dalam sambutannya, Pak Zakaria Yahya Lafau mengharapkan agar IKMIN Sumatera Utara bisa bangkit lagi memberikan yang terbaik buat masyarakat Nias baik yang ada di perantauan maupun yang berada di Nias. Untuk komposisi kepengurusan lainya akan dilakukan oleh pengurus yang terpilih dalam waktu dekat ini. (AR)

Acara Sarasehan Bersama Masyarakat Nias Se Surakarta

Thursday, August 9th, 2012

Diberitahukan kepada seluruh Masyarakat Nias yang berdomisili di Kota Solo, Surakarta dan sekitarnya (Kota Surakarta, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Wonogiri, Klaten dan Sukoharjo) bahwa dalam rangka menyambut HUT RI ke 67, 17 Agustus 2012, serta untuk mempererat tali persaudaraan dan keakraban Masyarakat Nias di wilayah Surakarta, ONIS (ORAHUA NONO NIHA SURAKARTA) akan menyelenggarakan:

Acara Sarasehan Bersama Masyarakat Nias Se Surakarta

Hal ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Pengurus ONIS dengan beberapa tokoh-tokoh masyarakat Nias yang ada di Surakarta, pada hari Minggu, 08 Juli 2012 di Rumah Ketua ONIS Surakarta Bp. Ir. Yasiziduhu Ziliwu (Ama Vero Ziliwu), dan kemudian Pengurus ONIS merancang dan sekaligus membentuk panitia kecil pada hari Minggu, 22 Juli 2012 di tempat Bp. Yusuf Halawa (Ama Tius Halawa) Solo Baru.

Selanjutnya pada Rabu 25 Juli 2012 Panitia Kecil mengadakan rapat di Tempat Bp. Pdt. Fatizanolo Waruwu (Ama Pieter) selaku Ketua Panitia, untuk mengagendakan dan mempersiapkan acara dimaksud, dengan hasilnya adalah, antara lain:

  1. Pendahuluan Dalam rangka menyambut Hut RI Ke 67, 17 Agustus 2012, Masyarakat Nias Di Surakarta dan sekitarnya mencoba menyemarakkannya dengan Mengadakan Sarasehan Bersama.
  2. Latar BelakanganAdapun yang menjadi latar belakang pemikiran direncanakan Pelaksanaan Sarasehan Bersama Masyarakat Nias di Surakarta sekitarnya adalah :
    • A. ONIS Belum Pernah mengadakan sarasehan atau pertemuan bersama masyarakat Nias Surakarta, untuk Mengetahui perkembangan yang terjadi di pulau Nias selama ini.
    • B. Selama ini ONIS baru bergerak membangun kebersamaan dalam bentuk pertemuan rutin yang didasari pada kegiatan kerohanian Kristiani saja. Sehingga dirasa perlu membuat suatu acara bersama yang tanpa memandang latarbelakang, agama, asal, pendidikan, dan status sosial.
  3. Maksud dan Tujuan
    • Untuk memupuk rasa persaudaraan dan rasa solidaritas, serta Mempererat tali silahturahmi antar warga Nias yang berdomisili di Eks Karesidenan Surakarta (Kota Surakarta, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo dan Klaten), tanpa melihat latar belakang perbedaan (asal, agama, pendidikan, pekerjaan, status sosial, dsb).
    • Menghimpun, Merumuskan Dan Memperjuangkan Aspirasi Masyarakat Nias Di Surakarta Demi Kemajuan ONIS Serta Partisipasi Pemikiran Untuk Nias, Secara Proaktif Dan Proporsional.
    • Menyemarakkan Acara HUT RI Ke 67 17 Agustus 2012, bahwa warga Nias di Surakarta, menunjukkan rasa Nasionalismenya, dalam bentuk Sarasehan bersama
    • Sarasehan Ini Adalah Sarana Untuk Meningkatkan Kebersamaan Warga Onis Surakarta.
  4. Tema : TANO NIHA BANUA SOMASI DO
    Sub-Tema: Solidaritas masyarakat Nias Surakarta Terhadap Pembentukan Propinsi Kepulauan Nias.
  5. Pembicara: Bp. Ir. Firman Nefos Daeli, M.Kes. (Ama Feby) – salah seorang Anggota BPP PKN Pusat yang sekaligus Warga ONIS Surakarta, dan juga sebagai Penasehat serta salah satu penggagas terbentuknya ONIS Surakarta era tahun 1990 an
  6. Pelaksanaan
    Hari / Tanggal : Jum’at, 17 Agustus 2012
    Waktu : Jam 10.00 Wib (Acara Start jam 11.00 Tepat)
    Tempat : RS Panti Waluyo AULA Lantai V
    Jl. A. Yani No. 1 Kerten – Surakarta
  7. Susunan Panitia
    I.     PENASEHAT : Penasehat ONIS
    II.   PENYELENGGARA : ONIS – Surakarta
    III. PANITIA PELAKSANA:
    1. Ketua : Bp. Pdt. Fatizanolo Waruwu (A. Pieter)
    2. Sekretaris : Bp. Sozanolo Harefa (A. Lili)
    3. Bendahara : Bp. Damafati Gea (A. Yudi)
    4. Sie Dana / Humas /Korwil:
    Bp. Yusuf Halawa (A. Tius)
    Bp. Apeli Bu’ulolo (A. Zeva)

    • Korwil Utara : Bp. Andreas Ato (A. Ipo)
    • Korwil Timur : Bp. Pdt. N. Harefa (A. Joyfen)
    • Korwil Selatan : Bp. Yusuf Halawa (A. Tius)
    • Korwil Barat : Bp. Taholi Laia (A. Dea)

    5. Sie Acara:
    Bp. Taholi Laia (A. Dea):
    Bp. Apeli Bu’ulolo (A. Zeva)
    6. Sie Dokumentasi:
    Bp. Elimen Mendrofa
    Bp. Christian Zai (A. Vano)
    7. Sie Dekorasi /Perlengkapan:
    Bp. Andreas Ato (A. Ipo)
    8. Sie Konsumsi:
    Ibu Ny. Taholi Laia (I. Dea)

  8. Susunan Acara
    Pembukaan Oleh MC:

    • Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
    • Doa Pembukaan
    • Penjelasan Maksud dan tujuan acara

    Sesi Sarasehan
    Tanya Jawab

    • Berkaitan Materi
    • Berkaitan ONIS

    Penutup

  9. Penutup
    Diharapkan dukungan dari seluruh masyarakat Nias se Surakarta, untuk mensukseskan acara sarasehan ini, dengan:

    • Kehadirannya secara langsung dalam acara sarasehan tersebut
    • Menginformasikan, memotifasi dan Mengajak setiap orang Nias yang kita kenal untuk dapat ikut dan mendukung hadir pada acara sarasehan dimaksud
    • Dukungan sumbangan sukarela untuk kebutuhan biaya yang dibutuhkan

Kami pihak panitia sangat percaya bahwa dengan dukungan dari seluruh masyarakat Nias di Surakarta dan sekitarnya acara sarasehan ini akan terselenggara dengan baik dan sukses dan menjadi berkat bagi kita semua.

Surakarta, 27 Juli 2012

Salam dan hormat kami, an. Panitia

Ketua – Pdt. Fatizanolo Waruwu
Sekretaris – Sozanolo Harefa

Flame Diperintahkan Binasakan Diri

Tuesday, June 12th, 2012

Nias Online – Para pakar keamanan komputer Amerika mengatakan virus komputer Flame yang menggerogoti komputer fasilitas energi di Timur Tengah selama bertahun-tahun telah diperintahkan untuk membinasakan diri. Hal ini dimaksudkan agar asal-asulnya tidak dapat dilacak lagi.

Dalam sebuah artikel yang muncul minggu lalu di blog antivirus Symantec dikatakan bahwa server komando dan pengendali virus tersebut mengirim perintah terbaru kepada komputer-komputer yang terinfeksi. ‘Perintah ini dimaksudkan untuk membinasakan virus-virus itu dari komputer yang terinfeksi’ kata artikel dalam blog tersebut.

Muncul dugaan virus ini diciptakan oleh agen-agen keamanan Amerika dan Israel untuk mencuri informasi tentang fasilitas tenaga nuklir Iran.

Menurut Kapersky Lab, yang mengidentifikasi virus Flame bulan lalu, Flame “kira-kira 20 kali lebih besar dari Stuxnet,” virus yang ditemukan pada bulan Juni 2010 dan ditujukan untuk melumpuhkan program nuklir Iran.

Selain Iran, negara-negara lain yang komputernya terjangkit virus Flame termasuk Lebanon, Tepi Barat di Palestina dan Hongaria. Infeksi juga dilaporkan telah terjadi di Austria, Hong Kong, Rusia dan United Arab Emirates.

Komputer-komputer yang terjangkiti termasuk komputer di rumah-rumah. Para pakar keamanan komputer sedang mengecek apakah infeksi yang dilaporkan di beberapa komputer lokal merupakan akibat dari pemakaian komputer-komputer laptop itu ketika sedang dalam perjalanan di tempat lain.

Umumnya komputer yang terinfeksi dengan virus ‘malware‘ diprogram untuk berkeliaran di internet untuk mendapat perintah-perintah terbaru dari server yang dikendalikan para hacker.

Dalam kasus Flame para pengendali memerintahkannya untuk membinasakan diri sehingga tidak meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi para pelacak asal-usulnya. Perintah bunuh diri ini dikirim setelah keberadaan Flame diekspos dan pelacakan terhadapnya dimulai.

Komputer-komputer yang terinfeksi yang mendapat perintah tersebut menghapus sejumlah berkas dan memenuhi disket dengan karakter acak untuk menghalangi usaha pemulihan kode-kode asli. Demikian pendapat para pakar keamanan komputer.

Flame diprogram untuk mencuri data dari jaringan-jaringan komputer dan mengirimnya ke para pengendalinya. Flame bisa merekam aktivitas pemasukan data lewat pengetikan (keystroke), merekam gambar yang muncul di layar komputer dan mendengar percakapan lewat mikrofon komputer.

Flame juga bisa memanfaatkan kemampuan Bluetooh komputer untuk mengakses telefon cerdas dan tablet. Akses ini bisa dimanfaatkan untuk mencuri daftar kontak atau informasi lain. (brk/*)

Kesehatan dan Pendidikan Masalah Serius di Nias

Thursday, November 17th, 2011

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Sebagai daerah kepulauan yang masuk dalam sub bagian Sumatera Utara, Nias, boleh jadi masih tertinggal dalam beberapa hal.

Pendidikan dan kesehatan yang kurang baik, menjadi ekspos utama di beberapa kawasan ini. Seperti penuturan Area Manager Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI) cabang Nias, Bernart, Rabu (16/11).

Ditemui saat berada di Hotel Soliga Jalan Diponegoro, Gunung Sitoli, Nias, ia mengaku dari dua masalah tadi yang menjadi masalah kritis sebenarnya di segmen kesehatan. Ekonomi masyarakat yang belum layak, ditambah akses menuju lokasi warga yang cukup sulit, membuat distribusi pakan yang pantas tidak bisa terpenuhi.

“Kalau mencari orang kaya di Nias ini cukup mudah. Tetapi jika mencari orang miskin cukup sulit. Mereka umumnya berada di hutan-hutan atau perkampungan yang lokasinya sangat sulit ditempuh baik melalui jalan kaki maupun menggunakan mobil off road,” ungkapnya.

OBI yang bergerak dalam bidang kesehatan dan pendidikan di Nias, melihat meski mereka memberikan sosialisasi dan pemahaman dalam hal kesehatan termasuk memberikan bantuan, tidak terprogres dengan baik.

Ia mencontohkan, setiap rentang waktu dua atau tiga bulan, pihaknya yang merawat abnak-anak bergizi buruk sebanyak 20-30 orang, nyatanya setelah sehat akan kembali seperti semula. Hal itu diakibatkan, asupan atau suplai kebutuhan gizi bagi anak yang usai sembuh tidak terpenuhi secara berkala.

“Sia-sia tidak, tetapi harusnya ada keberlajutan yang ditanggapi pemerintah lokal dari apa yang kami lakukan. Memang benar, masalah kesehatan yang terjadi di Nias ini sudah lintas sub dinas. Artinya, jika kesehatannya kita bantu, bagaimana dengan ekonomi dan pendidikannya yang masih ambigu,” ujarnya. (Irf/tribun-medan.com)

Sumbber: Tribun Medan, 17 November 2011

Longsor, Ruas Jalan Tengah Nias Terancam Putus

Thursday, November 17th, 2011

MEDAN, KOMPAS.com – Ruas jalan di jalur tengah yang menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota di Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara terancam putus, akibat mengalami longsor di beberapa lokasi.

Hal itu diungkapkan anggota DPRD Sumut, Sudirman Halawa ketika membacakan hasil reses ke Kepulauan Nias dalam rapat paripurna di Medan, Selasa (15/11/2011).

Ia mengatakan, ruas jalan yang berada di kawasan Miga Lolowau itu sangat stratgeis karena menghubungkan sejumlah daerah seperti Kota Gunung Sitoli dengan Kabupaten Nias Barat adn Nias Selatan.

Ketika melakukan reses, timnya yang berjumlah lima anggota DPRD Sumut menemukan ruas jalan tersebut banyak mengalami longsor.

Memang, kata Sudirman, pemkab setempat telah melakukan penanganan agar longsor tersebut tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Hanya saja, penanganan yang dilakukan tersebut dinilai kurang memadai jika dibandingkan dengan jumlah ruas jalan yang mengalami longsor.

Karena itu, pihaknya meminta Dinas Bina Marga Sumut untuk turun tangan agar penanganan dan perbaikan yang dilakukan menjadi lebih baik.

“Harus ada penanganan khusus dari Dinas Bina Marga. Kalau tidak, putusnya jalan itu hanya menunggu waktu,” katanya.

Ia mengatakan, jika ruas jalan itu terputus maka diperkirakan arus transportasi warga akan sangat terganggu karena merupakan satu-satunya jalan dari Kota Gunung Sitoli dengan Kabupaten Nias Selatan dan Nias Barat.

Selain itu, kerusakan jalan tersebut juga diperkirakan akan mengganggu dua kegiatan besar keagamaan yang akan diselenggarakan di Nias Barat dan akan menghadirkan masyarakat dalam jumlah besar.

Dua kegiatan itu adalah Sinode atau rapat akbar Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) ke-56 pada tahun 2012 untuk memilih Ephorus atau pimpinan gereja dan Sidang Raya Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) pada 2014.

Kedua kegiatan tersebut akan dihadiri ribuan masyarakat, baik dari dalam mau pun luar negeri. “Sekali lagi kami meminta agar segera dilakukan penanganan khusus,” kata politisi Partai Golkar itu.

Sumber: Kompas, Selasa 15 November 2011

Mantan Bupati Nias Selatan Terancam Lima Tahun Penjara

Wednesday, November 9th, 2011

JAKARTA–MICOM: Mantan Bupati Nias Selatan Fahuwusa Laia, Selasa (8/11) menjalani sidang perdana tindak pidana penyuapan Rp99,9 juta terhadap anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat Saut Hamonangan Sirait terkait pemilihan Bupati Kabupaten Nias Selatan periode 2011-2016.

“Memberikan atau menjanjikan sesuatu yaitu memberikan uang sejumlah Rp99,9 juta kepada pegawai atau penyelenggara negara atau Saut Hamonangan Sirait sebagai anggota KPU pada masa jabatan 2007-2012,” kata jaksa I Kadek Wiradana saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (8/11).

Jaksa mendakwa Fuhuwusa melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a dan atau pasal 13 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasaan Tindak Pidana Korupsi. Ia terancam pidana penjara maksimal 5 tahun serta denda paling banyak Rp250 juta.

Jaksa menguraikan perbuatan tersebut dilakukannya pada 13 Oktober 2010 dengan datang langsung ke kantor KPU Pusat Jakarta. Dalam pertemuan di ruang kerja Saut, Fuhuwusa meminta agar anggota KPU itu membantu mengesahkan pencalonannya dalam pemilihan Bupati Nias.

Fuhuwusa juga meminta Saut mengangkat kembali empat anggota KPU Kabupaten Nias Selatan yang telah dipecat karena sempat meloloskannya. Bahkan ia meminta agar dibentuk Dewan Kehormatan untuk memeriksa pemecatan tersebut.

Lantaran permintaan tersebut ditolak, politikus Partai Demokrat itu meninggalkan sebuah tas kecil berisi uang di meja kerja Saut.

Menanggapi dakwaan tersebut Fuhuwusa dan kuasa hukumnya M. Assegaf menyatakan akan mengajukan nota keberatan (eksepsi) pada persidangan selanjutnya. “Pada prinsipnya kami mendengar dan memahami surat dakwaan itu kurang sesuai dengan yang terjadi. Kami akan mengajukan eksepsi,” ujarnya.

Majelis hakim yang dipimpin oleh Hakim Pangeran Napitupulu memutukan untuk menunda sidang hingga Senin (14/11) dengan agenda mendengarkan nota keberatan terdakwa. (*/OL-04)

Sumber: MediaIndonesia.com – 8 November 2011

Dua Tersangka Korupsi Penyaluran Subsidi Minyak Goreng Ditahan

Monday, October 24th, 2011

Gunungsitoli, (Analisa). Setelah melakukan penyidikan dan gelar perkara akhirnya Polres Nias menahan dua tersangka dalam dugaan kasus tindak pidana korupsi penyaluran subsidi minyak goreng di Kabupaten Nias tahun 2008, Rabu, (19/10) malam.
Dua tersangka SHLY selaku Direktris PT. EP dan DMN SE sebagai Kadis Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi Kabupaten Nias TA 2008 selaku Ketua Tim Verifikasi Penyaluran Subsidi Minyak Goreng di Kabupaten Nias 2008.

Kapolres Nias AKBP Mardiaz Khusin Dwihanto S.Ik. M.Hum, Kamis, (20/10) melalui telphon selulernya membenarkan telah ditetapkan dan ditahannya kedua tersangka tersebut di Mapolres Nias guna penyidikan lebih lanjut.

Kapolres Nias menjelaskan, awal penyelidikan kasus tersebut didasarkan pada laporan hasil Audit Investigatif BPKP Perwakilan Provinsi Sumatera Utara atas Kegiatan Penyaluran Subsidi Minyak Goreng di Kabupaten Nias Tahun Anggaran 2008 dengan Nomor : LHAI-2092/PW02/5/2010 tanggal 04 Mei 2010.

Selanjutnya, pihaknya meningkatkan ke tahap penyidikan, dalam hasil pelaksanaan gelar perkara kasus tersebut dapat dipastikan telah terjadi kerugian negara dalam Penyaluran Subsidi Minyak Goreng di Kabupaten Nias TA. 2008. Terjadi kerugian negara sebesar Rp.473.555.000 dari dana yang dianggarkan oleh Pemerintah sebesar Rp.690.565.055 untuk penyaluran Minyak Goreng Bersubsidi di wilayah Kabupaten Nias pada tahun 2008.

Kapolres Nias menambahkan, pihaknya tetap atensi mengenai kasus korupsi yang menyengsarakan rakyat. Saat ini Polres Nias sedang melakukan penyelidikan terhadap 14 kasus korupsi.

Dari 14 kasus di antaranya, dugaan korupsi pekerjaan pematangan lahan Kantor Bupati Nias 2007.  Dugaan korupsi dalam pemalsuan tandatangan Bendahara Umum Daerah (BUD) Kabupaten Nias Barat. Dugaan korupsi penggunaan Dana BOS SMPN 1 Gidö dan Terbuka 1 Gidö TW. I dan TW. II 2011. Dugaan korupsi pada Pembangunan Garasi dan Pos Jaga pada rumah Mantan Pj. Bupati Nias Utara 2010. (kap)

Sumber: www.analisadaily.com – Senin 24 Oktober 2011

Kabupaten Nias kekurangan alat hemodialisa

Monday, October 24th, 2011

MEDAN – Dinas Kesehatan Sumatera Utara berharap pemerintah di daerah itu dapat menganggarkan pembelian peralatan cuci darah (Hemodialisa) untuk Kabupaten Nias, karena tidak memiliki alat tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Chandra Syafei di Medan, mengatakan pihaknya mendorong agar Pemprov Sumut melalui Bantuan Daerah Tertinggal (BDB) untuk menganggarkan peralatan cuci darah (Hemodialisa) di Kepulauan Nias.

Sebab masyarakat terutama penderita ginjal di Kepulauan Nias yang terdiri dari empat kabupaten dan satu kota itu, harus keluar dari kepulauan tersebut ketika melakukan cuci darah.

“Dinas Kesehatan Sumut tidak bisa menganggarkan pembelian alat cuci darah itu melalui APBD,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, pihaknya bersama DPRD Sumut sudah mendorong ketersediaan alat cuci darah tersebut melalui BDB.

“Bisa juga melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) atau melalui APBN. Kita sangat setuju dengan langkah ini untuk menyediakan peralatan cuci darah di Kepulauan Nias, agar masyarakat tidak perlu repot-repot harus keluar dari wilayah tersebut,” katanya, hari ini.

Ketika ditanya berapa idealnya kebutuhan alat cuci darah di kepuluan tersebut, ia tidak dapat memastikannya. Sebab harus diketahui dulu seberapa banyak pasien setiap harinya membutuhkan layanan kesehatan untuk cuci darah.

“Harga satu unit peralatan cuci darah itu, saya tidak tahu pasti. Tetapi soal berapa banyak alat yang diperlukan, semuanya dilihat dari jumlah pasien yang membutuhkan,” katanya.

Sebelumnya, Anggota DPRD Sumatera Utara Analisman Zalukhu mengatakan, masyarakat di lima daerah di Kepulauan Nias sangat membutuhkan peralatan cuci darah.

“Kebutuhan alat itu diketahui dari kunjungan kerja baru-baru ini,” katanya.

Menurut dia, pihaknya mengetahui jika banyak warga di Kepulauan Nias yang selalu melakukan cuci darah. Namun sayangnya, warga tidak dapat melakukan pengobatan di Kepulauan Nias karena ketiadaan peralatan cuci darah.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di empat kabupaten dan satu kota yang ada di Kepulauan Nias mengenai upaya penyediaan peralatan cuci darah.

“Sayangnya, mereka belum mampu,” katanya.

Sumber: www.waspada.co.id – Sabtu 22 Oktober 2011

Pendiri Apple Steve Jobs Meninggal Dunia

Thursday, October 6th, 2011

Nias Online – Steve Jobs pendiri Apple Inc. – perusahaan multinational yang bergerak di bidang eletronik, PC, perangkat lunak dan telephone genggam, meninggal dunia hari Selasa (5/10/2011) dalam usia 56 tahun.

“Apple telah kehilangan seorang yang visioner dan genius kreatif, dan dunia kehilangan insan yang luar biasa. Kami yang beruntung mendapat kesempatan mengenal dan bekerja dengan Steve Jobs kehilangan sahabat karib dan mentor pemberi inspirasi. Steve Jobs meninggalkan perusahaan satu-satunya yang ia dia dirikan, dan semangatnya akan menjadi semangat Apple untuk selamanya,” demikian pengumuman di situs perusahaan Apple Inc.

Anda yang gemar mendengar musik tentulah sangat akrab dengan pemutar musik digital iPod; anda juga tentu sangat kenal dengan telephon genggam iPhone, telepon genggam yang hadir dengan berbagai fitur multimedia dan internet, dan tablet iPad. Ini semua datang dari Apple yang di bawah Steve Jobs pernah mengalami pasang surut.

Sungguh, dunia kehilangan seorang yang sangat kreatif dan yang menorehkan kenangan kepada jutaan manusia yang pernah dan masih menikmati berbagai hasil kreativitasnya. Selamat jalan, Steve. (brk)