Author Archive

Pariwisata Nias – Sisi Penting Yang Ter(Di)abaikan

Wednesday, March 18th, 2015

Oleh E. Halawa*

NO-FokusHingar bingar yang menyangkut Pembangunan Pariwisata Nias akhir-akhir ini terkesan makin menghangat kalau tidak bisa dikatakan hampir mencapai titik didih yang – kalau suhunya tidak diturunkan sedikit – akan menguap dan akan tinggal menjadi bagian dari masa lalu, seperti kisah tragis i’ambanua, uro, orö, falagaŵo di Sungai Muzöi – Sungai Yang Hampa dan Merana.

Kita tentu saja patut bergembira karena berbagai pihak menunjukkan kepedulian terhadap Pariwisata Nias, yang – konon – merupakan salah satu pilar utama pembangunan dan kemajuan Nias ke depan.

Akan tetapi makna dari penggalan kalimat terakhir di atas itulah: pariwisata sebagai — pilar pembangunan dan kemajuan Nias — perlu kita fahami secara sungguh-sungguh dan sekali gus membandingkannya dengan berbagai kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan untuk merealisasikannya.

***
Tulisan ini dimaksudkan sebagai semacam sumbangsih dan sekaligus brain storming untuk memancing kontribusi lebih lanjut demi pemahaman yang lebih utuh tentang ‘pariwisata’ dalam kaitannya dengan pembangunan Nias.

***

Sisi Penting yang ter(di)abaikan ?

Mari membayangkan pariwisata Nias akan dikembangkan secara besar-besaran. Dan itu bukan mustahil … kita bahkan sudah sampai pada pemikiran menjadikan Republik Sychelles sebagai ‘templat’ pembangunan pariwisata Nias.

Berbagai seminar tentang pariwisata Nias dan lobi-lobi sana sini telah dilakukan dalam rangka pematangan persiapan pembangunan pariwisata Nias itu.

Maka, tulisan ini mengandaikan berbagai usaha yang telah dan tengah dilakukan selama ini akan membawa kita kepada realisasi rencana pembangunan pariwisata Nias itu.

***

Dari berbagai inisiatif yang kita lihat selama ini, tidak diragukan lagi ke 5 pemda di Nias berpikiran ‘maju’ dan mendukung pengembangan pariwisata Nias. Karena mereka (baca: pemda) tak punya modal dan belum memiliki semacam Badan Usaha Daerah bidang Pariwisata, maka mereka tentu hanya mampu memfasilitasi dalam bentuk memberikan kemudahan-kemudahan …

Maka investor pun masuk …

Dan … bisa jadi, skenario berikut ini yang akan terjadi: pembebasan lahan besar-besaran untuk keperluan pendirian berbagai fasilitas seperti hotel, restoran, jalan-jalan, taman-taman hiburan … dan tentu saja perluasan bandara.

Setelah sekian lama, terealisasilah semua itu …

Kalau akhirnya semua itu  terealisasi, siapa yang tak berbangga ? Nias akhirnya  menjadi daerah pariwisata tersohor, menjadi perhatian dunia. Membanjirlah wisatawan ke sana … singkat kata: luar biasa.

Beberapa tahun kemudian, seorang putra atau putri Nias yang sudah lama di perantauan rindu dan pulang ke sana, menjadi wisatawan.

Sesampainya di sana, kesannya pertama adalah: serba kekaguman.

Namun, beberapa waktu kemudian dia mulai bertanya-tanya pada diri sendiri:

… di mana orang-orang kampung dan rumah-rumah desa yang dulu ?

… di mana petak-petak sawah atau kebun havea yang dulu?

… di mana para pemuda dan pemudi yang dulu memenuhi bangku-bangku Gereja pada hari Minggu?

… ke mana mereka semua?

Penduduk lokal, bagian dari kulitnya ternyata telah melarikan diri – tak mampu bertahan dengan ‘kemajuan’ yang ada di hadapan mereka.

Yang dia temukan kios-kios milik orang dari daerah lain, restoran-restoran dan hotel-hotel entah milik siapa.

Ada juga sebagian warga desa yang dia kenal yang masih bertahan: menjadi penjaga toko, pelayan restoran, tukang semir sepatu, dan anggota kelompok kesenian desa yang setiap saat siap menghibur tamu-tamu wisata dan para pejabat dengan pertunjukan budaya sambil memakai pakaian tradisonal Nias. Mereka molau maena, fatele, fahombo batu, manari moyo dst. Mereka melakukan semua ini dengan kebanggaan dan dibayar sangat rendah entah dari sisa-sisa dana mana.

Yang tak mampu bertahan dengan dahsyatnya pembangunan pariwisata justru makin menjauh dan terisolasi, atau ikut bergabung dengan saudara-saudaranya di Sumatera, bekerja manga gazi di berbagai pabrik demi mempertahankan hidup.

Kalau seperti ini yang akhirnya terwujud lewat pembangunan pariwisata Nias yang sedang diwacanakan ini … sebaiknya tidak disebut pembangunan pariwisata Nias … sebaiknya dicari nama atau slogan lain yang lebih pas.

Masih banyak waktu untuk berefleksi untuk mendefinisikan pembangunan pariwisata Nias, sebelum mengambil keputusan yang dampaknya akan dirasakan oleh generasi-generasi mendatang.

*Tulisan ini merupakan olahan dari komentar penulis terhadap sebuah tulisan dalam Komunitas Sadar Wisata Nias (KOSWIN), 24 Agustus 2013.

Mengabdi Menjadi Kepala Daerah Kabupaten/Kota

Monday, March 16th, 2015

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

OpiniKEPULAUAN Nias yang telah menjadi 4 (empat) Kabupaten dan 1 (satu) Kota, serentak melaksanakan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada bulan Desember 2015 mendatang. Perhelatan pemilukada tersebut telah memberikan angin segar dan motivasi bagi sebagian putra-putri Nias untuk mengikuti pemilukada tersebut menjadi bakal calon (Balon) Kepala Daerah di Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, dan Kabupaten Nias Barat. Para Balon yang akan menyediakan diri itu, ada yang bertempat tinggal di Kepulauan Nias dan ada juga yang bertempat tinggal di luar Kepulauan Nias.

Kalau kita melihat dan membaca di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, sudah mulai bermunculan nama putra-putri Nias yang menjagokan dirinya untuk menjadi Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias. Dan ini kita sangat memberikan apresiasi, ternyata putra-putri Nias sekarang banyak yang sudah memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin di Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias.

Melalui semangat yang sudah mulai menyala pada masing-masing Balon Kepala Daerah tersebut, dapat diartikan bahwa sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki kompetensi di bidang manajemen pemerintahan. Sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki keahlian di bidangnya masing-masing, sehingga melalui pengalaman itu telah memberikan inspirasi bagi Balon untuk berbuat yang lebih baik di dalam mensejahterakan masyarakat yang berdomisili di Kepualaun Nias.

Permasalahnya sekarang, yaitu apakah masing-masing Balon tersebut sudah sangat bersungguh-sungguh untuk mensejahterakan masyarakat Kepulauan Nias bila nanti terpilih menjadi Kepala Daerah definitif? Tentu hal ini perlu dipertanyakan mulai dari sekarang.

Mari melihat beberapa fakta yang telah terjadi di beberapa daerah di wilayah Negara kesatuan republik Indonesia, yaitu pertama, ada diantara Balon yang sangat bersemangat untuk menjadi Kepala Daerah, karena ingin berkuasa. Untuk mencapai tujuan itu si Balon akan menempuh berbagai cara atau menghalalkan segala cara termasuk membagi-bagikan uang, yang istilahnya dikenal sebagai money politic (politik uang), agar dipilih rakyat di wilayah itu menjadi pemenang pemilukada.

Kadang masyarakat lupa bahwa bila menerima uang dari Balon sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) umpamanya, paling lama uang tersebut bertahan di kantong mungkin hanya 5 (lima) hari, sedang bila Balon itu terpilih dan memerintah selama 5 (lima) tahun ke depan, berarti masih ada hari lain yaitu 1.825 hari – 5 hari = 1.820 hari yang bisa penuh penderitaan dan atau penuh kesejahteraan. Jadi bila calon Kepala Daerah itu terpilih, maka kita berharap Kepala Daerah itu akan bekerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan kita selama 1.820 hari. Semoga Anda bisa menangkap arti dan maksud dari hitung-hitungan hari di atas.

Kedua, mungkin juga ada Balon yang memiliki keinginan untuk mensejahterakan dirinya sendiri beserta kroni-kroninya setelah memenangkan pemilukada dan berkuasa penuh untuk mengelola keuangan yang bersumber dari APBD dan APBN dengan baik. Artinya tidak bisa tertangkap tangan KPK atau aliran keuangannya tidak bisa ditelusuri oleh PPATK.

Ketiga, bisa juga ada Balon Kepala Daerah itu yang sangat peduli pada Tim Suksesnya dengan cara membagi-bagi jabatan kepala dinas setelah memenangkan pemilukada. Contoh ada Tim Sukses yang berlatarbelakang pendidikan keagamaan, ditunjuk menjadi Kepala Dinas Pertanian, atau jabatan lainnya.

Keempat, bisa saja terdapat Balon Kepala Daerah yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya menjadi Kepala Daerah. Berdasarkan pengalaman hidup selama bekerja selama ini sudah memiliki kompetensi berupa knowledge (pendidikan), skill (kemampuan), dan personal attributes (atribut personal-sikap, perilaku, komunikasi, kerjasama), sehingga pada waktu sekarang sudah sangat tepat untuk melayani masyarakat di wilayah Kabupaten/Kota, agar hidup dari masyarakat menjadi sejahtera.

Berdasarkan beberapa catatan di atas, kira-kira apa yang menjadi keinginan dari para Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias? Bisa saja ada keinginan untuk berkuasa, atau ingin mensejahterakan diri dan kroni-kroninya, atau hanya peduli pada Tim Suksesnya, atau ingin mengabdi untuk melayani masyarakat. Untuk mengetahui apa yang diinginkan, tentu masing-masing Balon perlu bertanya pada diri sendiri. Tetapi harapan kita semua bahwa Balon Kepala Daerah yang ingin berkompetisi pada pemilukada di Kepulauan Nias, memiliki keinginan besar serta menyala-nyala untuk mengabdikan dirinya pada kemaslahatan masyarakat dan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Nias.

Pertanyaan selanjutnya yaitu, bagaimana Anda sebagai Balon dapat mewujudkan pengabdiannya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera? Tentu masing-masing Balon perlu melakukan survei kecil-kecilan untuk memastikan mengenai kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada manajemen pemerintahan yang sekarang. Hal lain yang dilakukan lagi yaitumendalami dengan seksama mengenai apa saja kepentingan dan kebutuhan masyarakat di Kepulauan Nias pada waktu sekarang dan yang akan datang. Para Balon perlu melakukan inventarisasi pada kekuatan dan kelemahan manajemen pemerintahan sekarang, sekaligus merinci peluang dan ancaman Anda ke depan. Lalu menginventarisir juga mengenai kepentingan dan kebutuhan masyarakat Kepulauan Nias.

Kepulaun Nias sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) di wilayah bagian barat Indonesia, serta para Kepala Daerah di Kepulauan Nias sudah menyepakati dalam suatu forum pada pertengahan tahun 2014 yang lalu bahwa lokomotif pembangunan Kepulauan Nias adalah sektor pariwisata. Berhasilnya sektor pariwisata ini tentu sangat didukung oleh sektor-sektor lain seperti pertanian, perhubungan, pekerjaan umum, kelautan dan perikanan dan lain-lain. Karena itu para Balon Kepala Daerah sebaiknya turut menginventarisir juga mengenai hal-hal yang sangat berkaitan dengan peningkatan prasarana dan sarana kepariwisataan di Kepulauan Nias.

Untuk diketahui bersama bahwa pemerintah itu pada dasarnya memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zebua, 2014).

Nah, apa saja yang akan dilakukan dan bagaimana cara melaksanakannya, tentu diperlukan penjabaran lebih dalam dan penjabarannya pun hendaknya dilakukan secara komprehensif. Walau semuanya itu selalu didasarkan pada visi, misi, dan tujuan para Balon, atau minimal pengaplikasiannya terdapat pada berbagai program kerja yang akan diusung bila Balon terpilih sebagai Kepala Daerah definitif. Program kerja-program kerja yang disiapkan serta diperiodekan pada bentuk program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, diharapkan dapat menjadi patokan atau merupakan miles-stone pencapaian realisasi dari visi para Balon nantinya. Dan ini akan selalu dievaluasi setiap tahun, sehingga pada akhir periode kepemimpinan Kepala Daerah sudah dapat dinilai seberapa besar tercapainya visi Kepala Daerah.

Untuk itu, sangat diperlukan kesiapan para Balon untuk menyiapkan diri dengan serius, agar mampu melaksanakan strategi Anda bila terpilih menjadi Kepala Daerah. Strategi yang Anda lakukan sekarang adalah menyiapkan route jalan selebar-lebarnya agar jalan itu bisa Anda lewati dengan mulus dan nyaman, serta pilihlah alat yang digunakan untuk mempercepat waktu perjalanan Anda pada saat Anda melewati jalan tersebut. Dan alat yang dimaksud di sini adalah program kerja Anda selama duduk dalam jabatan sebagai Kepala Daerah.

Selamat mengabdikan diri untuk menjadi Kepala Pelayan masyarakat dan selamat melaksanakan pembangunan di Kepulauan Nias demi perwujudan kesejahteraan masyarakat yang dilayani, sesuai dengan keinginan pada waktu menjadi Balon Kepala Daerah.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Budaya Baca di Sekolah-Sekolah Kepulauan Nias Perlu Ditumbuh-kembangkan

Saturday, March 14th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniSekolah sebagai lokasi utama yang menjalankan kegiatan pendidikan perlu memikirkan dan melakukakan usaha besar untuk membentuk sumber daya manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Sekolah bukan sekedar objek semata tetapi merupakan tempat untuk mendidik dan mengajar anak-anak bangsa menjadi manusia yang mampu memajukan bangsa. Kehadiran sekolah sebagai wahana pembentukan manusia bukan merupakan fiksi belaka melainkan suatu realita yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat.

Seiring dengan perkembangan zaman, sekolah sebagai dunia pendidikan semakin dihadapkan pada berbagai tantangan termasuk pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Untuk menghadapi tantangan tersebut tentunya sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias perlu memikirkan strategi dan usaha yang baik sehingga pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa dapat dicapai secara maksimal. Strategi dan usaha yang dimaksud tentunya tidak hanya terbatas pada strategi pembelajaran internal yaitu pembelajaran di dalam kelas.

Salah satu strategi yang terakui sebagai usaha yang dapat menciptakan manusia-manusia yang berwawasan luas adalah kebiasaan membaca atau budaya baca. Membaca dapat mengantar manusia untuk mencapai derajat pengetahuan yang tinggi. Jadi sangatlah tepat apabila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama untuk membangun intelektualitas. Kalau kita melihat para pendiri bangsa Indonesia, mereka adalah orang-orang yang gemar membaca. Bung Karno, Bung hatta, Sutan Sjahrir mereka begitu dekat dengan buku. Kedekatan dengan buku membuat mereka berwawasan luas dan berpikiran besar (Republika.Co.Id, Oleh: Faisal Fadilla).

Pada beberapa tahun terakhir ini membaca dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit dijumpai apalagi di Kepulauan Nias khususnya di sekolah-sekolah. Mulai dari pelajar sampai orang yang sudah bekerja termasuk guru hampir sedikit yang melakukan kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dengan membaca, kita dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan. Hasil survei UNESCO menunjukkan bahwa Indonesia masih jadi negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN! Tahun 2012, UNESCO mencatat indeks minat baca kita cuma 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Dari indeks tersebut tentu kita dapat membandingkan indeks minat baca di Kepulauan Nias.

Berdasarkan hasil pengamatan, rendahnya minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias disebabkan oleh beberapa aspek, yakni kurangnya motivasi atau dorongan pihak sekolah untuk mengajak anak didik dalam kegiatan membaca, rendahnya pengelolaan perpustakaan, ketidaktersediaan buku dan ruang perpustakaan, tidak adanya program budaya baca sekolah yang terorganisir dan terjadwal. Rendahnya budaya dan minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dapat kita buktikan dari kegiatan siswa di luar sekolah atau ketika sudah tiba di rumah. Dari hasil pengamatan, hampir jarang sekali siswa yang membaca ketika sedang berada di luar sekolah. Tentunya, ini disebabkan tidak ditumbuh kembangkannya budaya baca dari sekolah. Di samping itu, minat baca yang rendah ini dapat kita amati dari kegiatan-kegiatan ekstra. Kebanyakan siswa hanya diarahkan pada satu kegiatan yang sifatnya monoton. Contohnya: olahraga atau olah vokal. Hampir tidak ada sekolah yang menyelenggarakan program membaca pada kegiatan ekstra siswa.

Selain penyebab-penyebab tersebut di atas, rendahnya minat baca siswa di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan keluarga yang tertanam pada diri siswa. Misalnya, kebiasaan anggota keluarga yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk menonton televisi atau kebiasaan anggota keluarga terutama orangtua yang membiarkan anak-anak mereka untuk tidak belajar termasuk membaca.

Menyadari manfaat besar dari membaca dan fakta terkait minat baca masyarakat yang masih rendah terutama masyarakat kepulauan Nias serta mengingat peran sekolah sebagai tempat pembentukan manusia, sekolah-sekolah dari berbagai tingkatan pendidikan di Kepulauan Nias diharapkan berpacu untuk menumbuhkan dan mengembangkan program budaya baca. Karena melalui program budaya baca di sekolah, siswa akan terbiasa membaca dengan memanfaatkan buku atau bahan bacaan yang ada dan akan berdampak pada kegiatannya di luar sekolah. Dengan demikian, sekolah akan melahirkan siswa-siswa yang berpikiran besar atau manusia-manusia yang berwasan luas di tengah-tengah lingkungan kita. Di samping peran sekolah, tentunya pengembangan budaya baca tentunya juga perlu dikembangkan dalam keluarga dan masyarakat.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Pariwisata Kepulauan Nias dan MEA 2015

Monday, February 2nd, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

MEA sudah sering kita dengar dan mungkin juga sudah banyak yang membaca di berbagai tulisan di harian atau majalah. Bahkan sudah ada berita iklan di televisi, yaitu seorang gadis yang cemburu kepada pacarnya gara-gara pacarnya sering menyebut nama MEA, dikira MEA itu nama gadis lain, sehingga si gadis cemburu. Tapi untung ada bapak si gadis yang menjelaskan bahwa MEA itu bukan nama gadis. MEA itu kependekan dari masyarakat ekonomi Asean. Setelah si gadis memahami bahwa MEA itu bukan nama gadis lain, akhirnya si gadis tersenyum dan kembali ceria lagi.

Sehubungan dengan MEA ini, Profesor Rhenald Kasali, Ph.D. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, memberikan penjelasan yang lebih dalam tentang MEA ini, pada tulisan Beliau yang dimuat di harian Jawa Pos belum lama ini. Beliau mengatakan bahwa pada intinya MEA itu menyangkut 4 (empat) hal, yaitu: 1. Free flow of barang; 2. Free flow of orang; 3. Free flow of services; dan 4. Free flow of money. Artinya Association of Southeast Asian Nations (Asean) yang terdiri dari 10 negara itu, yaitu: Indonesia, Philipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar, sudah menjadi satu wilayah sebagai pasar bebas. Produk yang berkualitas dari setiap Negara, bebas diperjualbelikan di Negara lain, orang bebas bepergian, bebas menanam modal di bidang jasa dan industri, dan bebas memasarkan produk pelayanan jasa.

Banyak orang yang berkata bahwa MEA ini merupakan ancaman bagi Indonesia. Bisa bertindak sebagai ancaman, apabila Indonesia tidak menyiapkan diri untuk mengisi dan menyambut MEA tersebut. Tetapi apabila MEA ini didalami secara seksama, mestinya hadirnya MEA ini merupakan peluang emas bagi Indonesia. Pasar yang tersedia semakin luas yaitu meliputi 10 (sepuluh) Negara, kerjasama antar komunitas atau Negara semakin terbuka, alih teknologi semakin tercipta, serta bagi investor akan mendapatkan peluang untuk menanamkan modalnya di berbagai wilayah di Asean, yang dapat memberikan profit besar pada usahanya, sehingga usahanya tersebut bisa lebih menggurita lagi.

Nah, untuk menghadapi lalulintas barang, orang, jasa, dan modal di pasar bebas ini, tentu sesegera mungkin kita melakukan persiapan-persiapan. Persiapan ini sudah dimulai dari pemerintah pusat seperti fokus pembangunan pada infrastruktur, perhubungan, pertanian, dan maritim. Lalu pemerintah daerah juga tentu melakukan persiapan dengan melaksanakan pembangunan di daerahnya searah dengan fokus pembangunan dari pemerintah pusat.

Sekarang ini sudah mulai banyak pemerintah daerah di wilayah Indonesia yang membentuk tim kerja dalam menyiapkan dan menghadapi MEA ini. Mengapa demikian? Karena dengan MEA ini akan tercipta berbagai peluang dan juga menciptakan persaingan yang sangat ketat pada produk barang dan jasa. Kita ambil contoh, sebuah produk barang. Produk ini akan bisa menembus pasar bebas Asean, bila produk itu memiliki daya saing dalam hal daya manfaat, daya beda, dan daya tarik. Artinya produk yang kita hasilkan dapat didayagunakan oleh pasar (konsumen) apabila produk kita bisa bersaing dengan produk lain yang sejenis dari Negara Asean lainnya. Dengan demikian, kita berbicara tentang produk yang berkualitas serta tahan lama dan dengan harga yang bisa bersaing.

Demikian juga dalam hal produk jasa, seperti jasa perhotelan, jasa transportasi, jasa keuangan, jasa pelayanan sumber daya manusia (SDM), jasa kuliner/restoran, dan jasa pelayanan lainnya. Pelayanan yang kita hadirkan harus lebih baik atau minimal sama dengan pelayanan yang kita jumpai di daerah dan Negara lainnya di wilayah Asean. Dengan demikian, kita harus bekerja ekstra untuk segera memperbaiki mutu pelayanan kita di bidang pariwisata, akses menuju objek wisata, pelayanan angkutan, pelayanan kuliner, aneka pertunjukkan budaya, serta kualitas barang souvenir yang kita hasilkan. Barangkali tim kerja yang telah dibentuk oleh beberapa pemerintah daerah tadi, dapat segera bekerja keras dan memberikan berbagai informasi yang harus segera kita benahi, agar tidak terlalu ketinggalan dengan daerah lain atau Negara lain di Asean.

Berkenaan dengan penuturan di atas, seharusnya kita menaruh hormat dan berterima kasih atas kehadiran MEA ini, karena dengan kehadirannya dapat memberikan cambuk atau pecut kepada kita untuk harus segera berbenah dan bertindak cepat. Adanya cambuk dari MEA ini, dapat memberikan daya dorong pacuan kepada kita untuk segera bekerja keras mewujudkan berbagai hal menurut yang terbaik dan yang memiliki daya saing di tingkat regional Asean. Memang manusia itu sering memerlukan tantangan atau cambuk untuk memacu semangat dalam melakukan berbagai hal. Seperti halnya kuda yang menarik dokar/andong, kusir perlu memberikan perintah dengan cara mencambuk kuda itu agar kuda mau berjalan, berlari atau berhenti.

Presiden Jokowi sangat menaruh perhatian pada bidang pariwisata. Kalau kita flash-back, saat Jokowi sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, kegiatan pariwisata sangat dikedepankan. Banyak iven pariwisata yang dihadirkan, bahkan iven kegiatan pariwisata sudah dijadwalkan selama satu tahun. Karena itu sudah sangat tepat yang disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, bahwa pariwisata harus berkembang dan dikembangkan. Untuk itu target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia tahun 2015 sebanyak 10 juta orang, sedang target jumlah wisatawan nusantara (wisnus) di tahun yang sama sebanyak 254 juta. Wow, jumlah wisatawan yang sudah mulai bergerak lebih banyak.

Jumlah target wisman dan wisnus secara nasional seperti yang disebutkan di atas, tentu perlu mendapatkan perhatian kita dengan sungguh-sungguh. Perlu mendapat perhatian yang utama, karena pemerintah daerah se-Kepulauan Nias telah berkomitmen untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai salah satu daerah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia serta telah disepakati bersama oleh 5 (lima) pemerintah daerah bahwa sektor pariwisata merupakan lokomotif pembangunan. Sehingga dengan semangat ini, pemerintah daerah telah merumuskan rencana aksi (renaksi) untuk mewujudkan Kepulauan Nias menjadi wilayah destinasi pariwisata di Indonesia. Karena itu, tentu perlu dirumuskan mengenai berapa target kita dalam hal jumlah wisman dan wisnus yang diharapkan bisa berkunjung di Kepulauan Nias pada tahun 2015 ini?

Kehadiran MEA dan komitmen bersama untuk menjadikan Kepulauan Nias sebagai wilayah destinasi pariwisata di bagian barat Indonesia, ternyata sudah berada dalam irama yang sama dan waktu yang sama. Irama yang sama untuk bertindak cepat dalam membangun kepariwisataan di Kepulauan Nias serta dicambuk oleh MEA untuk segera bertindak dan berbenah, demi percepatan pembangunan pariwisata. Momentumnya sudah sangat tepat dan sangat mendukung, sehingga kita bisa menyanyikan salah satu lagu wajib, karangan Ibu Sud, yaitu berkibarlah benderaku lambang suci gagah perwira, di seluruh pantai Indonesia kau tetap pujaan bangsa . . . . . dan seterusnya. Berkibarlah pariwisata, di Kepulauan Nias, di seluruh Kepulauan Nias terdapat objek wisata . . . . . dan selanjutnya.

Semangat yang menggelora ini muncul karena waktunya hampir bersamaan, Pariwisata dan MEA. Sepertinya sudah ada yang mengatur. Percayalah itu. Karena itu marilah kita kibarkan semangat yang sedang menggelora di dada para pengambil keputusan, untuk mewujudkan cita-cita bersama itu. Jadikanlah Kepulauan Nias menjadi andalan Pulau Sumatera di bidang pariwisata atau Kepulauan Nias dirubah menjadi Balinya Pulau Sumatera.

Palu sudah berada di tangan para pemimpin di daerah Kepulauan Nias. Ayunkanlah dan pukulkan palu itu di atas meja, sebagai tanda pengobaran semangat dan pembakar semangat masyarakat untuk bersama-sama melakukan banyak hal di bidang pariwisata, serta menyalakan mercu suar yang dapat memancarkan isyarat untuk membantu memberikan tanda tempat berlabuhnya kapal pariwisata Kepulauan Nias.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

PBNU: Jangan Terpengaruh Faham dan Idelologi ISIS

Tuesday, January 27th, 2015
Lambang NU | jombang.nu.or.id

Lambang NU | jombang.nu.or.id

JAKARTA-NIASONLINE – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan beredarnya foto-foto yang memperlihatkan konvoi mirip pendukung gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Makassar melalui twitter dan beredarnya video youtube ancaman yang bikin gempar akhir Desember lalu.

“Itu bukan ancaman, hanya sensasi belaka. Jadi masyarakat tidak terlalu takut dan hal itu jangan dibesar-besarkan,” terang Ketua PBNU KH. Maksum Machfoedz, di Jakarta, Selasa (27/1).

Menurut dia, agama Islam tidak mentoleransi kekerasan seperti yang dilakukan oleh kelompok  ISIS. Sebab, ISIS telah bertindak sadistis terhadap orang yang tidak sejalan dengan ajarannya.

“Agama Islam tidak mentoleransi kekerasan,” beber Maksum.

Kendati warga negara Indonesia yang bergabung ISIS terhitung relatif kecil jumlahnya, namun kata Maksum, bukan berarti kasus itu tidak penting untuk dicermati. Semua masyarakat Indonesia harus tetap waspada dan tidak terpengaruh dengan paham ISIS.

“Jangan sampai masyarakat terpengaruh dan kemasukan oleh paham dan ideologi ISIS yang disebarkan oleh kelompok atau jaringan tertentu,” ujarnya. (brk/*)

Fahira Idris: Pemberantasan Korupsi di Daerah Bisa Terganggu

Thursday, January 22nd, 2015
DPR DI | dumaiheadlines.com

DPR DI | dumaiheadlines.com

Jakarta, NIASONLINE — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)  Fahira Idris mengatakan, prestasi Polri dalam memberantas korupsi di daerah patut diapresiasi. Pada 2013 saja, Polri berhasil merampungkan 1.343 kasus korupsi di seluruh Indonesia dan menyelamatkan sekitar Rp911 miliar uang negara.

“Kejahatan korupsi di daerah, di mana KPK belum bisa menjangkaunya, menjadikan Polri sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi di daerah. Ini bisa terganggu jika institusi Polri masih dipimpin seorang Plt yang tidak  bisa memutuskan kebijakan strategis,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD ini di Komplek Parlemen, Senayan Jakarta (20/01).

Dengan sumber daya manusia yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia serta ditunjang dengan anggaran yang besar, menjadikan peran Polri dalam agenda pemberantasan korupsi di daerah sangat signifikan.

“Saya yakin Polri bisa jadi garda terdepan pemberantasan korupsi di daerah yang begitu masif. Syaratnya, institusi ini harus dipimpin oleh orang yang bersih, tidak punya cela baik dari sisi hukum maupun moral. Bagaimana anggota Polri di daerah mau berantas korupsi kalau Kapolrinya sendiri bermasalah dengan hukum. Pemberantasan korupsi perlu cara yang tidak biasa dan ini hanya bisa berjalan baik jika institusi Polri sudah punya pimpinan definitif,” ujar senator asal Jakarta ini.

Fahira Idris meminta Presiden Jokowi jangan berlama-lama membiarkan institusi Polri dipimpin oleh seorang Plt. Menurutnya, harus ada solusi yang konkret mengingat proses hukum Komjen Budi Gunawan di KPK dipastikan memakan waktu.

“Apakah harus menunggu status hukum (Komjen Budi Gunawan) jelas, baru presiden mengambil keputusan? Proses hukum di KPK itu bisa berbulan bahkan setahun. Presiden, harus ambil tindakan mengakhiri kondisi ini agar institusi Polri bisa kembali bekerja dengan penuh rasa percaya diri, dan tidak ada beban,” jelas Fahira dalam siaran pers yang diterima Redaksi NO. (brk/*)

Ketika Bill Gates Meminum Air Olahan Teknologi Dari Limbah Manusia

Wednesday, January 21st, 2015
Bill Gates ! en.wikipedia.org
Bill Gates ! en.wikipedia.org

NIASONLINE – Siapa yang tak pernah mendengar nama Bill Gates. Setiap kali kita bersentuhan dengan komputer yang bersistem operasi Windows dan berbagai produk terkait lainnya, kita tentu ingat nama itu.

Meskipun Bill Gates telah cukup lama pensiun sebagai CEO Microsoft, ia masih aktif dalam kapasitas lain: membantu masyarakat miskin di dunia ketiga lewat Yayasan Bill Gates (Bill Gates Foundation).

Melalui yayasan ini, ia bersama istrinya – Melinda – menyalurkan sebagian dari kekayaannya untuk meringankan penderitaan masyarakat miskin di berbagai belahan dunia, khususnya di Afrika.

Kali ini mari kita menyimak sebuah aktivitas sosial Bill Gates dalam bentuk usaha perbaikan sanitasi di dunia ketiga.

Baru-baru ini, Gates dalam blognya memperlihatkan sebuah video di mana ia menerangkan teknologi pengolahan limbah manusia menjadi energi listrik, abu yang bisa dijadikan pupuk dan … ini: air bersih, sebersih air kemasan dalam botol plastik yang biasa kita minum sehari-hari.

Bagaimana hal itu dimungkinkan? Jawabannya tentu saja adalah teknologi. Bill Gates menantang para insinyur untuk menciptakan sebuah sistem pengolahan limbah manusia yang bisa menjadi kunci perbaikan sanitasi di dunia ketiga. Syaratnya: murah (terjangkau secara ekonomis) dan handal secara teknik.

Terciptalah sebuah sistem pengolahan limbah manusia yang disebut Omniprocessor hasil rancangan Janicki Bioenergy, sebuah perusahaan teknik di Seatle, Amerika Serikat.

***
Mengapa Gates begitu getol mencari alat yang cocok untuk tujuan ini? Dari berbagai kunjungannya ke negara-negara berkembang, ia menemukan bahwa sanitasi adalah salah satu masalah serius di dunia ketiga. Limbah manusia yang dibuang secara terbuka adalah salah satu sumber kematian sekitar 700,000 anak-anak setiap tahun. Menurut Gates, ada sekitar 2 miliar orang di dunia ketiga yang mengguakan kakus seadanya – tanpa sistem pembersihan dan pembuangan yang baik, bahkan ada yang membuangnya secara sembarangan. Limbah ini tidak jarang mengotori sumber-sumber air minum yang membawa berbagai penyakit, bahkan kematian.

***

Meurut Gates, Omniprocessor adalah alat paling aman untuk menampung dan mengolah kotoran manusia. Mesin ini memproses limbah pada suhu mencapai 1000°C, jadi semua bakteri yang menghasilkan bau dan penyakit mati. Mesin ini juga telah memenuhi standar emisi yang dikeluarkan pemerintah AS.

Bill memilih Dakar, Senegal, sebagai tempat projek percontohan dari sistem pengolah limbah ini, yang direncakan akan dimulai akhir tahun ini.

Pada kunjungannya ke lokasi pengoperasian Omniprocessor di Seatle, Gates melihat langsung limbah manusia memasuki mesin pemroses, dan tidak lama kemudian, ia mengarahkan gelas ke keran pengeluaran air bersih dari mesin … dan meminumnya. (brk/*)

Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan

Monday, January 19th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniAdat Perkawinan di Pulau Nias masih identik dengan Böwö (mahar). Böwö (mahar) membudaya di pulau ini sejak zaman dulu hingga pada era ini sehingga menjadi satu elemen atau obyek yang berkembang dan tak mudah punah dalam kehidupan masyarakat. Apabila dipandang dari sisi nilai memang dapat dikatakan bahwa Böwö (mahar) Adat Perkawinan memiliki nilai konkret atau wujud yang tinggi. Böwö (mahar) Adat Perkawinan di Pulau Nias mencakup banyak unsur. Salah satu di antaranya adalah Fanötö Idanö.

Fanötö Idanö berasal dar Bahasa Nias. Fanötö adalah penyeberangan dan Idanö adalah air. Jadi penerjemahan kata demi kata “Fanötö Idanö” berarti Penyeberangan Air. Fanötö Idanö merupakan istilah yang sudah dipahami oleh masyarakat Nias. Istilah Fanötö Idanö ini hanya terintegrasi dalam adat pernikahan.

Fanötö Idanö merupakan salah satu dari unsur Böwö (mahar) yang membudaya dalam Adat Perkawinan di Pulau Nias khususnya di Kabupaten Nias Selatan. Fanötö Idanö merupakan kewajiban pihak mempelai pria yang wajib diberikan atau dibayarkan kepada pihak si’ulu (bangsawan) si mempelai wanita sebagai wujud nyata kesadaran penghargaan. Pembayaran atau penyerahan Fanötö Idanö ini dilaksanakan pada hari pelaksanaan perkawinan dengan ketentuan sebesar dua jo’e baẅi (ukuran babi di Pulau Nias dengan menggunakan alat ukur Afore) atau setara dengan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah.

Fanötö Idanö sering didefinisikan sebagai tanda penghargaan kepada pihak si’ulu (Bangsawan) yang hadir pada upacara perkawinan. Apabila Fanötö Idanö ini tidak diberikan, oleh mempelai pria, maka pihak si’ulu (bangsawan) akan meninggalkan upacara perkawinan tersebut karena kedua pihak mempelai dianggap tidak menghargai dan mematuhi adat yang berlaku. Fanötö Idanö ini juga wajib disebutkan dalam urutan penyebutan Böwö (mahar). Lumrahnya, penyebutan Fanötö Idanö ini diucapkan setelah penyebutan Böwö (mahar) bagi keluarga dan kerabat pihak mempelai perempuan.

Uniknya, Fanötö Idanö hanya dibebankan kepada pihak mempelai pria yang berasal dari desa yang bukan satu asal atau bukan sara ulu idanö (satu hulu air) dengan desa pihak mempelai wanita. Misalnya, perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Hilisataro dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawomataluo (bukan satu hulu air) dan perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Bawömataluo dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawönahönö atau sebaliknya (satu hulu air). Pada hakikatnya, pengenalan dan pengetahuan tentang yang satu hulu air dan bukan satu hulu air ini sudah dikuasai oleh si’ulu (bangsawan), si’ila (cendrekiawan) dan masyarakat.

Fanötö Idanö perlu digaris bawahi sebagai wujud kesadaran pihak mempelai pria untuk menghargai bangsawan si mempelai wanita tanpa harus ada unsur pemaksaan dan penmatalan perkawinan apabila tidak diberikan oleh pihak mempelai laki-laki karena Fanötö Idanö bukan semata-mata menjadi penentu kelangsungan perkawina yang artinya siulu tidak memiliki otoritas untuk membatalkan perkawinan atau menjadi penghalang kelangsungan pernikahan. Dalam hal ini, keluargalah yang memiliki hak mutlak untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Lalu yang menjadi pertanyaanya, Apakah sanksi bagi pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö kepada pihak si’ulu (bangsawan)?. Jawabannya “tidak ada sanksi”. Namun, sebagai dampak akibat ketidaksadaran ini, si’ulu (bangsawan) akan meniggalkan upacara perkawinan seperti yang dikemukakan pada paragraf di atas. Selain itu, akibat ketidaksadaran ini juga dapat merendahkan interaksi dan kepedulian bangswan dalam kehidupan sosial dan dalam menghadiri upacara-upacara adat keluarga pihak mempelai wanita di masa yang akan datang baik perkawian, kematian dan upacara-upacara lainnya.

Beberapa praktek yang terjadi selama ini terkait Fanötö Idanö bukan merupakan perlakuan yang terpuji dan tidak benar. Misalnya, pencekalan terhadap Tome Sanai Niha (tamu yang menjemput mempelai wanita) yang dilakukan oleh pihak si’ulu (bangsawan) karena tidak diberikkanya Fanötö Idanö oleh pihak mempelai pria atau perlakuan si’ulu (bangsawan) yang menagih Fanötö Idanö di tengah jalan (bukan di tempat atau di halaman upacara perkawinan). Perlakuan seperti ini sudah mengandung unsur pemaksaan karena sebagaimana diungkap pada paragraf di atas bahwa kelangsungan perkawinan tidak menjadi hak otoritas pihak si’ulu (bangsawan). Seyogiyanya, penagihan ini dilakukan di tempat yang tepat dan benar sesuai tradisi-tradisi yang berlaku karena dengan demikian nilai adatnya tetap terjaga dan terintegrasi baik.

Kesimpulannya bahwa Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan benar adanya sebagai satu unsur böwö (mahar) yang sudah menjadi tradisi dengan nilai-nilai yang tak kalah dari unsur böwö (mahar) lainnya, namun diperlukan pemahaman, kesadaran, dan koordinasi yang lebih baik apabila terdapat pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö. Dalam kutip tidak perlu diberlakukan pemaksaan, cukup dengan sanksi sosial. Karena cara-cara pemaksaaan dan semacamnya bukanlah merupakan tradisi yang harus dilakukan atas ketidaksadaran mempelai pria dalam memberikan Fanötö Idanö namun lebih diintegrasikan dengan menempuh langkah-langkah yang lebih persuasif dan problem solving.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Ciptakanlah Terang Bagi Masa Depan Generasi Berikutnya

Friday, January 16th, 2015

Opini1Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

HARUS diakui bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membawa setiap insan untuk bisa menyiapkan masa depannya sendiri. Masa depan itu akan terlihat nantinya pada waktu insan tersebut sudah bekerja dan atau sudah berkarya.

Setiap orang dewasa pasti ingin bekerja atau berkarya, apapun pekerjaan itu akan dilakukannya. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhannya. Untuk kebutuhan sehari-hari, minimal dapat makan dan dapat minum. Masalah asupan gizinya cukup atau kurang, itu masalah kemudian, yang penting dapat pekerjaan dan melalui pekerjaannya itu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, bahkan pada waktunya akan dapat mendukung aktualisasi dirinya.

Pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah, bagaimana keadaan generasi muda Nias sekarang? Bagaimana masa depan generasi muda yang sudah bisa menyelesaikan studinya di tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi?. Tentu hal ini merupakan pertanyaan besar bagi mereka yang diberi tanggung jawab memimpin pemerintahan daerah beserta SKPD-nya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa generasi muda Nias sekarang, terutama yang sudah siap memasuki dunia kerja, sudah terbayang di pelupuk mata dan dimimpinya bahwa bisanya adalah dapat bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kalau tidak jadi PNS, dunia ini seperti mau kiamat. Sepertinya hidup ini tidak memiliki arti bagi orangtua dan sanak famili lainnya.

Ada seorang mahasiswa Nias yang pada saat ini sedang menyiapkan penyusunan skripsi. Dia mendiskusikan tentang masa depannya setelah selesai studi strata satu. Kami banyak dan lama melakukan diskusi melalui short message service (SMS). Dalam diskusi tersebut, si mahasiswa sempat menunjukkan sikap adanya kegelisahan setelah dapat menyelesaikan studi strata satu (S1) nantinya. Bahkan  si mahasiswa berkata, setelah lulus nanti mau kerja apa, cari kerja juga susah, lowongan PNS masih lama dan jumlah yang dibutuhkan sangat terbatas.

Bagaimana Anda bisa menjawab bila kegelisahan ini disampaikan kepada Anda? Apa solusi yang Anda bisa lakukan pada permasalahan ini? Sebelum mencari atau memberikan satu atau beberapa solusi, terlebih dahulu tarik nafas dalam-dalam dan keluarkanlan nafas itu dengan pelan-pelan seraya berkata, apa ya solusinya?

Memberikan solusi pada permasalahan sekarang, tidaklah mudah. Perlu melakukan berbagai persiapan yang biasa kita sebut “strategi”. Apa bentuk strategi yang akan diwujudkan dalam jangka panjang?. Nah, apabila strategi itu akan dihubungkan lagi dengan hadirnya suatu nama yang sering kita sebut pada akhir-akhir ini yaitu masyarakat ekonomi asean (MEA) yang akan berlangsung di akhir tahun 2015 mendatang, tentu diperlukan pemikiran yang jitu dan penjabaran yang lebih detail dan lengkap.

Salah satu strategi dan mumpuni yang perlu dilakukan untuk dapat menjawab kegelisahan generasi muda Nias dalam hal peluang untuk mendapatkan pekerjaan yaitu melaksanakan “edu-preneurship”. Menurut Setiono (2012), edu-preneurship itu merupakan program pelatihan bagaimana mengenalkan konsep-konsep entrepreneurship yang dilengkapi dengan berbagai contoh aplikasi melalui proses pendidikan.

Memahami konsep-konsep entrepreneursip (kewirausahaan) berarti harus mengerti lebih mendalam mengenai apa itu entrepreneurship. Menurut Frinces (2004), entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan bentuk usaha untuk menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen    pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang yang ada,  dan lewat keterampilan komunikasi  dan   manajemen untuk   memobilisasi manusia, keuangan, dan   sumberdaya  yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.

Dengan demikian, kewirausahaan adalah berkonotasi mengimplementasikan, berarti mengerjakan (sesuatu), yaitu  sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang wirausaha. Apabila disederhanakan artinya, wirausaha adalah seseorang yang merespon terhadap peluang dan mempunyai rasa kebebasan (sense of freedom) baik dalam dirinya maupun dalam organisasi untuk bertindak terhadap peluang yang ada.

Hal-hal yang dapat dikerjakan dan diberikan oleh para wirausaha, antara lain: 1. Produk-produk dan jasa-jasa baru; 2. Pekerjaan baru; 3. Lingkungan kerja yang kreatif; 4. Cara-cara baru melakukan kegiatan bisnis (usaha); dan 5. Bentuk baru penciptaan bisnis (new business innovation). Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, maka kewirausahaan ini sangat bisa dikembangkan pada bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan usaha pariwisata, seperti bidang kerajinan, bidang kuliner, bidang jasa perhotelan dan homestay, bidang usaha biro dan agen perjalanan, bidang usaha hiburan, bidang usaha objek wisata, bidang usaha guide (pramuwisata), bidang usaha on-line, dan berbagai bidang usaha yang lain.

Untuk merealisasikan edu-preneurship ini di lapangan, memerlukan komitmen dari pemerintah daerah untuk mendorong dimulainya pelaksanaan edu-preneurship ini. Pelaksanaannya dimana? Mulailah dengan pengenalan entrepreurship yang sederhana di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (pendidikan 9 tahun). Lalu terus dikembangkan pelaksanaannya di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA).

Apabila sudah dimulai sebuah pengenalan entrepreneurship di tingkat pendidikan 9 tahun, dan dikembangkan lagi pelaksanaan entrepreneurship di tingkat sekolah menengah, berarti kita sudah mulai menciptakan “terang” kepada generasi muda Nias di masa yang akan datang. Dengan demikian, para siswa sudah dapat menilai bakat dan kemampuannya yang bakal disiapkannya ke depan, demi meraih masa depan yang lebih cerah melalui pekerjaan yang dikerjakan pada waktu memasuki dunia kerja.

Harapan kita bahwa setelah siswa menyiapkan diri lebih dini untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan talenta yang dimiliki, kita dapat meyakini bahwa mereka nantinya akan berhasil dalam mengarungi hidup ini. Keberhasilan ini akan didapatkan, karena bakat yang telah dimiliki sudah diasah lebih dini melalui kegiatan edu-preneurship.

Untuk itu siapkanlah kurikulum kreatif mengenai entrepreneurship dikalangan siswa SD dan SMP, dan terus diteruskan di kalangan siswa sekolah menengah. Rencanakanlah materi yang kreatif bagi siswa-siswa yang sesuai dengan usia pendidikan mereka.

Mewujudkan keinginan ini, tentu kita sesuaikan dengan harapan dan keinginan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan bahwa anak didik semakin pintar, manakala guru-gurunya sudah terlatih dan menguasai mata pelajaran itu. Artinya, profesi guru dimantapkan terlebih dahulu pada mata pelajaran entrepreneurship itu, setelah itu baru dikembangkan pemberiannya kepada siswa-siswa sebagai generasi muda Nias dan penerus cita-cita kita semua untuk lebih berhasil dalam mensejahterakan dirinya dan keluarganya di masa yang akan datang.

Galakkanlah pendidikan kewirausahaan kepada generasi muda Nias. Dan mulailah pendidikan itu lebih dini, sehingga generasi muda Nias ini sudah tidak mengalami kegalauan hati dalam mencari peluang pekerjaan, apabila mereka sudah dapat menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas/kejuruan ataupun sudah bisa lulus studi dari strata satu (S1).

Menurut Frinces (2010), berprofesi sebagai wirausaha adalah sebuah pilihan untuk hidup dan pilihan profesi yang terhormat yang harus direncanakan secara baik dan matang. Wirausaha adalah sebuah jalan kehidupan yang dipilih karena telah diyakini dengan kenyataan dan fakta yang ada bahwa wirausaha mempunyai peran yang besar di dalam meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan Negara.

Di samping itu wirausaha juga merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan untuk dapat menjadikan masyarakat dan Negara yang makmur. Oleh karenanya, wirausaha adalah sebuah profesi yang dalam proses penciptaannya, pertumbuhan dan perkembangannya harus dibentuk dengan cara yang sistematik. Karena yang akan dibentuk adalah karakteristik dan jenis sosok manusia yang harus berhasil di dalam tugasnya untuk menciptakan dan mengembangkan organisasi dan bisnisnya.

Bentuklah karakteristik wirausaha bagi generasi muda Nias melalui edu-preneurship. Dan tumbuhkanlah generasi muda Nias dalam dunia wirausaha, sehingga mereka akan menjadi pionir-pionir dalam berwirausaha di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Perlukah Evaluasi Program Kerja Seorang Pemimpin?

Monday, January 5th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes.

PROGRAM kerja yang telah dirumuskan biasanya sebagai penjabaran dari Visi dan Misi seorang pemimpin. Untuk mewujudkan visi dan misi dari seorang pemimpin, akan dirumuskan ke dalam program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Penempatan program kerja dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, tentu disesuaikan dengan upaya pencapaian sesuatu menurut kebutuhan. Baik kebutuhan yang mendesak dari masyarakat maupun percepatan kemajuan seperti yang diprogramkan oleh pemimpin.

Pelaksanaan evaluasi dari suatu program kerja sebaiknya dilakukan setiap tahun, terutama mengevaluasi program kerja 1 (satu) tahunan. Dan setelah itu dievaluasi juga mengenai rencana pelaksanaan program kerja dalam jangka menengah dan panjang, apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan program kerja itu selanjutnya. Untuk itu perlu ditandai dengan milestone-milestone (tonggak batu yang menunjukkan jarak dalam mil) agar lebih memudahkan bagi kita untuk menilai seberapa jauh perjalanan yang sudah kita jalani dalam upaya mewujudkan visi dan misi seorang pemimpin.

Banyak hal yang dievaluasi dari program kerja yang sudah diketukkan palu pada akhir tahun 2013 atau di awal tahun 2014 yang lalu. Hal pertama yang perlu dilakukan evaluasi berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM), baik sebagai pegawai pemberi pelayanan kepada masyarakat, maupun kemajuan yang telah dimiliki oleh khalayak selama tahun 2014.

Mengapa SDM yang pertama kali dievaluasi? Karena SDM ini merupakan motor penggerak dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan di lapangan, untuk mewujudkan berbagai hasil sesuai target dalam berbagai bidang yang menjadi profesi dari SDM itu sendiri. Umpamanya, kalau kita sungguh-sungguh memprioritaskan pembangunan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kepulauan Nias, seperti yang sudah disepakati dalam forum lokakarya yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014, maka tentu kita evaluasi mengenai jumlah dan kualitas SDM yang telah memahami ruang lingkup pembangunan dan pengembangan pariwisata yang seharusnya.

Selanjutnya pada SDM ini, kita bisa lihat pada jumlah SDM yang diprioritaskan untuk studi-lanjut mengenai kepariwisataan. Seberapa banyak SDM yang melaksanakan magang diberbagai usaha pariwisata di berbagai tempat. Seberapa banyak SDM yang telah dilatih pada bidang kepariwisataan, dan seberapa banyak SDM yang dipersiapkan untuk mendalami mengenai usaha perhotelan, usaha biro dan agen perjalanan, usaha kerajinan, usaha perbatikan, usaha kuliner, usaha rekreasi, dan usaha-usaha lainnya.

Setelah melakukan evaluasi pada SDM, maka evaluasi yang dilakukan selanjutnya adalah mengenai pelaksanaan program kerja dari masing-masing SKPD, Badan, Kantor, Bagian, dan para Camat. Penekanan evaluasi pada bidang ini yaitu seberapa besar kelancaran pelaksanaan dari setiap program kerja yang berada dalam ruang lingkup tugas pokok dan fungsinya. Apa saja hambatan dalam proses pelaksanaan program kerja itu? Seberapa banyak dapat diwujudkan berbagai program usulan yang berasal dari musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes). Seberapa besar persentase pencapaian target dari setiap program kerja itu, dan seberapa besar peranannya dalam mewujudkan pencapaian visi dan misi dari seorang pemimpin.

Barangkali masih banyak item-item yang memerlukan evaluasi yang menggunakan indeks atau standar-standar yang sudah ada. Seperti standar penilaian derajat kesehatan masyarakat (kesehatan ibu dan anak), derajat pendidikan bagi anak-anak usia sekolah, standar penggunaan anggaran, standar pembangunan infrastruktur, dan standar-standar yang lain.

Meskipun masih banyak item-item yang perlu dievaluasi, namun yang menjadi fondasi pelaksanaan program kerja berikutnya adalah mengenai evaluasi berbagai permasalahan yang terjadi selama tahun 2014. Permasalahan yang diutamakan adalah permasalahan yang terjadi dari setiap proses pelaksanaan program kerja selama tahun 2014. Permasalahan ini tentu perlu dicatat selengkap-lengkapnya untuk dipahami oleh semua SDM dari masing-masing organisasi yang ada, dengan harapan permasalahan itu akan dapat berkurang sebesar-besarnya pada tahun 2015. Alangkah lebih baik lagi apabila di tahun 2015, permasalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Apakah masih ada lagi yang paling penting untuk dievaluasi lagi? Masih dan malah yang utama. Justru ini yang paling penting untuk dievaluasi. Mengapa? Karena pemimpin daerah umpamanya, bekerja dalam upaya untuk menjalankan 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zeith, 2013).

Berbicara tentang pelayanan yang disuguhkan oleh SDM kepada masyarakat, tentu sangat perlu dievaluasi. Bagaimanapun masyarakat sangat berharap akan selalu mendapatkan pelayanan yang baik dan berkualitas dari SDM, ditambah dengan sangat informatif dan disampaikan dengan sangat komunikatif. Untuk itu sangat perlu dievaluasi.

Evaluasinya berkaitan dengan seberapa baiknya pelayanan yang dihadirkan SDM untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Tujuannya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi di tahun 2015 mendatang. Pelayanan yang diberikan SDM tidak hanya dalam hal kecepatan pelayanan, tetapi menyangkut juga sikap dan perilaku SDM saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sekarang ada istilah S3 (senyum, salam, dan sapa) dalam memberikan pelayanan, apakah sudah menggambarkan pelayanan yang S3?

Demikian juga dalam hal pengaturan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat, sangat perlu dievaluasi. Tujuannya untuk menghadirkan dan meningkatkan peran pemimpin daerah dalam upaya mensejahterakan masyarakat menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang. Sekaligus juga untuk menilai seberapa jauh mile-stone yang telah dicapai atau yang dijalani, sesuai visi dan misi dari seorang pemimpin.

Visi dan misi seorang pemimpin merupakan sebuah mimpi yang perlu direalisasikan selama duduk dalam jabatan sebagai seorang pemimpin. Untuk itu sangat perlu melakukan evaluasi pada berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tahun 2014. Gambarannya adalah apa keberhasilannya dan apa kegagalannya. Informasi kondisi ini perlu diutarakan kepada khalayak, sehingga masyarakat peham juga mengenai hasil yang telah dicapai dan hal-hal lain yang perlu dilaksanakan pada tahun-tahun yang akan datang.

Pelaksanaan kegiatan evaluasi ini tidak hanya sekedar mencatat berbagai kekurangan dari berbagai program kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, tetapi kekurangan yang masih ada itu akan diperbaiki dengan sungguh-sungguh di tahun 2015. Kesungguhan ini akan tampak pada hasil evaluasi berbagai program kerja di akhir tahun 2015, apakah permasalahan atau kekurangan yang tercatat di tahun 2014 masih terjadi dengan frekuensi yang sama di tahun 2015? Mari sama-sama melakukan penilaian hasil yang dapat dicapai di tahun 2015 mendatang.

Selamat melakukan evaluasi semua program kerja yang sudah dilaksanakan pada tahun 2014, dan selamat mewujudkan harapan masyarakat pada tahun 2015 mendatang. Bila ada kesungguhan hati dapat dipastikan bahwa selama duduk dan memegang jabatan itu, pasti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pasti terdapat rona muka dari insan masyarakat yang menunjukkan kegembiraan.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

 

AirAsia QZ8501, Ralat: 6 Jenazah Yang Ditemukan (Diangkat)

Tuesday, December 30th, 2014

NASONLINE – Informasi sebelumnya yang menyebutkan 40 jenazah korban dari jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 pada hari Minggu 28 Desember 2014, telah diralat. Sebelumnya, sejumlah media dalam dan luar negeri mengutip Kadispen TNI AL Laksma Manahan Simorangkir sebagai mengatakan bahwa 40 jenazah telah ditemukan (diangkat). Manahan mengatakan informasi yang tidak akurat itu sebagai akibat miskomunikasi staf.

Berita terakhir dari jurubicara Basarnas – menyebutkan 6 jenazah korban, bukan 40.

Dengan ini informasi dalam berita Nias Online sebelumnya dikoreksi. (brk/*)

Pesawat AirAsia QZ8501 Jatuh: Sekitar 40 Jenazah Telah Diangkat Dari Laut

Tuesday, December 30th, 2014

Helikopter TNI AL Yang Ikut Dalam Pencarian | AP

Helikopter TNI AL Yang Ikut Dalam Pencarian | AP

Tim SAR Indonesia telah mengangkat sejumlah jenazah dan serpihan-serpihan dari pesawat AirAsia QZ8501 yang diperkirakan jatuh di Selat Karimata. Kadispen TNI AL Laksma Manahan Simorangkir mengungkakan KRI Bung Tomo telah mengangkat 40 jenazah dan jumlah ini akan bertambah, sebagaimana mana diberitakan 9news.com.au.

Sebelumnya, beberapa objek temuan tim pencari lewat udara hari ini (Selasa, 30 Desember 2014) dipastikan merupakan puing-puing dari peawat AirAsia QZ8501 yang hilang pada hari Minggu, 28 Desember 2014. Kepastian itu disampaikan oleh Direktur Jendral Penerbangan Sipil Djoko Murjatmodjo.

“Untuk saat ini dapat dipastikan bahwa (puing-puing) itu adalah pesawat AirAsia dan menteri transportasi akan segera berangkat ke Pangkalan Bun,” kata Djoko Murjatmodjo.

“Berdasarkan pengamatan oleh personel pencarian dan penyelamatan, benda-benda penting ditemukan seperti pintu penumpang dan pintu kargo. Benda-benda itu ada di lautan, 160 kilometer barat daya Pangkalan Bun,” katanya, merujuk pada kota di Kalimantan Tengah,” kata Djoko lebih lanjut.

***

Pemutakhiran berita:

Dari halaman AirAsia Indonesia di Facebook (https://www.facebook.com/AirAsiaIndonesia), Redaksi mengambil informasi berikut:

“AirAsia Indonesia akan mengundang seluruh anggota keluarga penumpang QZ 8501 ke Surabaya, dimana kami akan memberikan tim konseling khusus kepada setiap keluarga guna mendukung dan memastikan segala kebutuhan mereka terpenuhi. Kami juga telah mengundang berbagai konselor psikologi dan spiritual termasuk para pemuka agama guna memberikan dukungan moril kepada seluruh keluarga penumpang.”

“AirAsia akan terus memberikan informasi terkini terkait proses pencarian dan evakuasi. Bagi seluruh keluarga penumpang QZ 8501 dapat menghubungi emergency call center kami di nomor:

021-29270811 atau

031-8690855 atau

031-2986790 (Surabaya).

“Doa dan harapan kami terus menyertai keluarga dan kerabat penumpang QZ 8501.”

Koreksi Jumlah Jenazah Yang Ditemukan:

Jumlah jenazah yang ditemukan sebanyak 40 orang seperti dituliskan di depan telah dikoreksi oleh pihak Basarnas. Silahkan baca berita terkini: AirAsia QZ8501, Ralat: 6 Jenazah Yang Ditemukan (Diangkat) - (brk/*)

Menkumham Minta Warga Nias Hargai Budaya Lokal

Monday, December 29th, 2014

Nias-PBaruWarga Kristiani asal Nias di Riau berfoto bersama DR. Yasona H. Laoli,
di Ballroom Hotel Aryaduta – Pekanbaru, Minggu malam (21/12/14)

Pekanbaru, NIAS ONLINE – Menteri Hukum & Hak Azasi Manusia (Menkumham), DR. Yasona Hamonangan Laoli mengatakan, warga Nias diharapkan tetap menghargai kultur budaya di manapun berdomisili. Selain itu persatuan dan kesatuan juga harus tetap dijaga.

Hal itu disampaikan Laoli dalam acara perayaan Natal warga Nias di ballroom Hotel Aryaduta, Minggu malam (21/12). Menteri berdarah Nias-Batak ini mengatakan, meski putra-putri Nias saat ini ada yang sudah menduduki posisi penting di pemerintahan, pihaknya sedikit prihatin atas kekurangkompakan warga Nias di 5 Kota/Kabupaten di Nias.

Ia mencontohkan, pada Pemilu Legislatif bulan April 2014 lalu, dari sekian putra-putri Nias yang mencalonkan diri untuk duduk sebagai anggota DPR RI, tak satupun yang berhasil.

Meski hal ini cukup memprihatinkan, satu hal yang membanggakan adalah putra Nias yang maju dari daerah pe,ilihan (Dapil) Provinsi Banten yakni Marinus Gea, berhasil meraih kursi DPR RI dari partai PDIP.

Untuk itu, Yasona berharap agar hal serupa bisa “menular” ke putra-putri Nias lainnya.

“Kita berharap agar dengan terpilihnya Marinus Gea, dapat dijadikan motivasi oleh teman-teman yang ingin berjuang demi kepentingan bersama”, ujar Yasona.

Selain itu, Yasona juga menegaskan agar warga Nias selalu menghargai kultur budaya lokal di manapun berdomisili.

Sebelumnya, tokoh Nias Riau Drs Sozifao Hia MSi mengatakan, saat ini ada 200 ribu warga Nias yang berdomisili di Provinsi Riau. Mereka tersebar di 12 Kota/ Kabupaten. Satu hal yang menjadi persoalan adalah KTP, terlebih bagi warga Nias yang eksodus pasca gempa tahun 2005 lalu.

Untuk itu, Sozifao berharap agar para pemimpin di negeri ini dapat mencarikan solusi. Sebab, bagi mereka yang belum mengantongi identitas KTP ini, selalu terbentur dengan persyaratan administrasi.

Menyikapi hal itu, Bupati Nias Utara yang mewakili lima Walikota/Bupati di Nias, Edward Zega, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi melalui Forum Komunikasi Kepala Daerah dalam waktu dekat.

Sementara itu, dalam rangkaian perayaan Natal yang tergabung dalam DPP Ikatan Keluarga Nias Riau – DPD Himpunan Masyarakat Indonesia (IKNR-HIMNI) Riau, Panitia Pelaksana menggelar perlombaan maena (tari) rohani.

Tampil sebagai juara I, BNKP Pekanbaru, juara II BNKP Pangkalan Kerinci Pelalawan, dan juara III STM Bago. Adapun juri pada perlombaan tersebut, yakni Fag Zega, Viktor Lahagu dan Pdt. Gea.

Selain Menkumham juga hadir Kepala Kantor Wilayah Depkumham Riau, Frans, anggota DPR RI Efendi Sianipar, anggota DPRD Riau Kordias Pasaribu dan Soniwati Wau. Sedangkan dari tokoh masyarakat Nias hadir Brigjen Pol (Purn) Luther Harefa, Penasehat IKNR S Waruwu, Ketua IKNR Elmansyah Telaumbanua dan Kompol P Zalukhu.

Demikian disampaikan Arifin Waruwu, wartawan media cetak harian Detil terbitan Pekanbaru, kepada Redaksi Nias Online. (fin/brk/*)

Pernyataan Terkini mengenai Penerbangan QZ8501

Monday, December 29th, 2014

Lintasan Penerbangan AirAsia | bbc.com

Lintasan Penerbangan AirAsia | bbc.com

NIASONLINE – Manajemen AirAsia Indonesia bersama Gubernur Provinsi Jawa Timur, Soekarwo, tim Badan SAR Nasional (BASARNAS) Republik Indonesia, otoritas bandara, dan PT. Angkasa Pura I kemarin malam (28 Desember 2014) telah bertemu dengan anggota keluarga penumpang QZ 8501 untuk menyampaikan informasi terkini terkait perkembangan dan menyampaikan komitmen maskapai untuk memberikan segala bentuk dukungan.

Presiden Direktur AirAsia Indonesia, Sunu Widyatmoko mengatakan sungguh terpukul atas kejadian ini. AirAsia Indonesia tengah berkoordinasi dengan seluruh otoritas terkait guna menentukan penyebab dari kejadian ini. Ditambahkan Sunu Widyatmoko, saat ini prioritas utama AirAsia adalah memberikan informasi terkini kepada keluarga atau kerabat penumpang dan karyawan AirAsia yang berada di pesawat tersebut.

“Kami akan memberikan dukungan sepenuhnya sejalan dengan proses investigasi yang saat ini tengah berlangsung. Selain itu, kami telah membentuk tim pendukung untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan para keluarga maupun kerabat termasuk akomodasi dan transportasi. Pusat informasi terpadu juga telah kami siapkan di Surabaya untuk para keluarga penumpang.”

Sementara itu, bagi para keluarga penumpang yang berada di Singapura, AirAsia telah telah menyiapkan sebuah ruangan khusus yang belokasi di Terminal 2 lantai 3 Bandara Internasional Changi Singapura, di mana maskapai akan memberikan informasi terbaru secara berkala.

Selain itu, AirAsia telah membuka Emergency Call Centre bagi keluarga atau kerabat penumpang yang berada dalam penerbangan tersebut di nomor: +6221 2927 0811.

Adapun saat ini AirAsia Indonesia tengah berkoordinasi dengan BASARNAS dalam upaya pencarian pesawat tersebut.

Pesawat yang hilang kontak adalah pesawat berjenis Airbus A320-200 dengan nomor registrasi PK-AXC. Dalam penerbangan tersebut terdapat 155 penumpang dimana sebanyak 137 penumpang adalah orang dewasa, 17 anak-anak dan 1 bayi. Di samping itu, juga terdapat 2 pilot, 4 awak kabin dan 1 teknisi.

Kapten yang memimpin penerbangan pesawat tersebut, Irianto, telah memiliki total jam terbang sebanyak 20.537 jam, dimana sebanyak 6.100 jam terbangnya dijalani bersama AirAsia Indonesia dengan pesawat Airbus A320. Sedangkan first officer atau co-pilot – Remi Plesel – telah memiliki sebanyak 2.275 jam terbang. (brk/*-AirAsia Indonesia-Ant-BBC).

Pesawat AirAsia Indonesia QZ8501 Hilang

Sunday, December 28th, 2014

Pesawat AirAsia yang Hilang |http://en.wikipedia.org

Pesawat AirAsia yang Hilang | en.wikipedia.org

NIASONLINE – Sebuah pesawat AirAsia Indonesia dengan nomor penerbangan QZ8501 dalam penerbangan dari Surabaya ke Singapura kehilangan kontak dengan traffic control sekitar jam 7.24 pagi waktu Singapura, hari ini, 28 Desember 2014.

Saat ini pihak Air Asia sedang berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait – termasuk dengan tim SAR (search and rescue) yang sudah mulai beroperasi – untuk mengetahui kondisi terkini mengenai status penupang dan kru pesawat.

Pesawat yang hilang ini dari jenis A320-200 dengan nomor registrasi PK-AXC.

Pihak keluarga dan kerabat para penumpang peswat yang hilang tersebut dapat menghubungi Emergency Call Centre AirAsia: +6221 2927 0811.

Demikian rilis berita pihak AirAsia Indonesia yang diterima Redaksi NO. (brk/*)