Author Archive

Beberapa Hal Tentang Windows 10

Tuesday, August 11th, 2015
W10_Igo

Sejak dirilis ke publik oleh Microsoft pada tanggal 29 Jui 2015 lalu, Windows 10 telah diunduh dan diinstal oleh jutaan pengguna PC di seluruh dunia. Windows 10 merupakan produk respons Microsoft terhadap ketidakpuasan terhadap produk pendahulunya, Windows 8.

Memesan dan Menginstal Windows 10

Banyak pengguna Winsows 7 atau Windows 8 yang masih belum menginstal Windows karena berbagai alasan. Tulisan ini coba memberikan beberapa informasi penting bagi yang mempertimbangkan instalasi Windows 10.

Bagi yang sudah memiliki Windows 7 atau Windows 8 Microsoft merilis Windows 10 secara cuma-cuma. Cara mememesan dan menginstal Windows 10 adalah sebagai berikut.

  1. Jika komputer Anda mengguakan salah satu versi Windows in (7 atu 8), maka pada bagian kanan bawah layar komputer Anda akan terlihat ikon WW10_Iconindows 10 seperti pada gambar di sebelah kanan. Kalau ikon ini tidak kelihatan, maka coba run Windows Update. (Windows Update dapat dicari pada Control Panel).
  2. Klik ikon “Get Windows 10” tersebut untuk memesan Windows 10. Aplikasi ini sekali gus mengecek apakah komputer Anda kompatibel dengan sistem operasi baru ini.
  3. Konfirmasikan pesanan Anda dengan mengetikkan alamat email Anda.
  4. Microsoft akan mengunduh Windows 10 ke komputer Anda dan memberitahukan apabila telah siap. (Catatan: Pemesanan Windows 10 dapat dibatalkan setiap saat).
  5. Microsoft juga memberikan tautan yang Anda bisa manfaatkan untuk membuat USB drive atau DVD. Ini penting untuk menginstal Windows 10 di beberapa komputer.
  6. Sesudah proses pemesanan, komputer Anda akan terdaftar dalam antrian upgrade.
  7. Sesudah pemberitahuan dari Microsoft datang, Anda bisa menginstal Windows 10. (Catatan; Dibutuhkan waktu sekitar 2 – 2.5 jam untuk menginstal Windows 10, berdasarkan pengalaman penulis).

Bagi yang menggunakan produk-produk Kaspersky untuk antivirus atau keamanan internet (internet security) disarankan mengunduh produk rilis terbaru sebelum menginstal Windows 10. Pasalnya, produk Kaspersky yang diinstal untuk Windows versi sebelumnya (7 atau 8) tidak bekerja pada sistem operasi Windows 10 – setidaknya berdasarkan pengalaman penulis. Setelah menginstal Windows 10, maka segeralah menginstal produk Kaspersky yang baru diunduh itu agar komputer Anda lebih aman.

Bagi pengguna produk Norton, berdasarkan informasi dari situs Norton, produk Norton masih tetap bisa dipakai setelah Windows 10 diinstal, “asalkan Anda telah menginstal versi terbaru” (“as long as you have installed the latest version“).

***

Privacy Setting di Windows 10

Secara default, Windows 10 diprogram untuk memantau berbagai aktivitas Anda: kata-kata yang Anda ketik atau ucapkan, situs yang anda kunjungi, lokasi Anda, pembelian yang Anda lakukan secara online, dsb..

Kalau Anda tidak mau aktivitas dunia maya Anda terlalu banyak dipantau oleh Windows 10, maka ubahlah default settings di Windows 10 segera setelah Anda menginstalnya.

Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Klik Start Button yang berada di sebelah kiri bawah monitor. W10StartB
  2. Dari menu yang tersedia, klik “Settings” (lihat gambar di sebelah kanan), maka akan muncul beberapa pilihan seperti pada gambar di bawah (Anda bisa perbesar dengan mengklik pada gambar).W10PSettings
  3. Dengan mengklik “Privacy“, maka Anda akan disuguhi berbagai pilihan: Genral, Location, Camera, dst. Anda bisa mengubah masing-masing setting itu yang umumnya dengan default setting “On” menjadi “Off”.
  4. Disarankan untuk mengubah setting itu satu per satu (tidak sekaligus) untuk melihat pengaruh perubahan itu, dan membatalkannya apabila memberikan masalah pada operasi komputer Anda.

Selamat ber-Windows 10-ria.

Catatan: Artikel ini disajikan untuk membantu calon pengguna Windows 10. Penulis tidak bertanggung jawab terhadap berbagai akibat dari pemakaian artikel ini. (eh).

Sebanyak 121.653 Peserta Seleksi SBMPTN 2015 Lulus

Thursday, July 9th, 2015

diktiNIASONLINE – Dari jumlah 693.185 peserta  yang mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2015, sebanyak 121.653 dinyatakan lulus. Dari jumlah itu, sebanyak 49.719 lulus seleksi pada program studi (prodi) Saintek, 45.878 lulus seleksi prodi Soshum, dan 26.056 lulus campuran prodi Saintek dan Soshum.

Pada SBMPTN 2015, peserta yang lulus dengan nilai tertinggi pada kelompok Saintek diterima di Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika – Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan nilai 925,39. Peserta dengan nilai tertinggi pada kelompok Soshum diterima di prodi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan nilai 801,97. Peserta dengan nilai tertinggi pada kelompok Soshum / Bahasa diterima di prodi Bahasa Inggris Universitas Indonesia dengan nilai 790,76.

Demikian informasi yang diperoleh Nias Online dari situs Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Pengumuman SBMPTN sudah dapat diakses Kamis 9 Juli 2015 mulai pukul 17.00 melalui laman resmi SBMPTN di :

http://pengumuman.sbmptn.or.id

Hasil SBMPTN dapat juga diakses pada laman mirror berikut:

1. Universitas Indonesia (UI);

2. Institut Teknologi Bandung (ITB);

3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS);

4. Universitas Diponegoro (Undip);

5. Universitas Airlangga (Unair);

6. Universitas Gadjah Mada (UGM);

7. Universitas Sriwijaya (Unsri);

8. Universitas Hasanuddin (Unhas);

9. Universitas Tanjungpura (Untan);

10. Universitas Andalas (Unand); dan

11. Institut Pertanian Bogor (IPB). (brk/*)

 

 

 

Karena Tagihan Listrik Selama 5 Bulan Tetap Sama, Seorang Warga Gunungsitoli Menyurati PT PLN (Persero)

Tuesday, July 7th, 2015

Logo PLN | www.pln.co.id

Logo PLN | www.pln.co.id

NIASONLINE – Aktivitas Sarumaha, seorang warga Gunungsitoli, menyurati PT PLN (Persero) sehubungan dengan keherannya karena jumlah tagihan listrik di rumahnya dari bulan Maret s/d Juli 2015 tetap sama.

Dalam surat elektronik (imel)-nya kepada PT PLN (Persero) yang salinannya beredar di Facebook, Sarumaha menengarai terjadinya “kekeliruan oleh petugas di lapangan saat pengecekan dan pencatatan”. Tagihan listrik yang diterimanya selaku pelanggan dengan No ID 123160017004 sejak Maret hingga Juli 2015 tetap sama sebesar Rp. 130.874,00.

Sarumaha juga menyampaikan kekauatiran karena jumlah tagihan yang tiba-tiba membengkak.

“Pembayaran tagihan listrik yang tiba-tiba membengkap kerap terjadi seperti pengalaman saya pada tagihan listrik di bulan Januari 2015 dan Februari 2015. Pengalaman ini sangat memberatkan kami sebagai pelanggan,” keluh Sarumaha dalam imelnya yang dikirimkan ke pl****@****co.id pada hari Selasa, 7 Juli 2015 (brk/*)

Pesawat Hercules Milik TNI Jatuh di Medan, Sumatera Utara

Tuesday, June 30th, 2015

Sebuah pesawat militer Hercules C-130 milik TNI jatuh dan menimpa perumahan penduduk di kawasan Simpang Simalingkar, sekitar Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara.

Pesawat naas tersebut jatuh sekitar jam 12 siang waktu setempat.

Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat

Tuesday, June 16th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM

Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Nias Barat

TIDAK terasa, pemerintah Kabupaten Nias Barat sudah memasuki usia yang ke-6, pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Pada tanggal tersebut pemerintah daerah melaksanakan upacara khusus serta mengadakan syukuran atas berbagai pencapaian yang telah dapat diwujudkan sampai sekarang.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam upaya memperingati ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias barat yang ke-6 ini, yaitu upacara khusus dan syukuran (potong tumpeng), seminar sehari, dan lomba budaya rakyat dan masakan khas Nias Barat dari 8 (delapan) kecamatan selama 3 (tiga) hari di pantai Sirombu, yang dikemas sebagai ‘Pesta Budaya Rakyat’.

Pada kegiatan seminar yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2015, ada 2 (dua) topik yang dibahas, yaitu; 1. Percepatan pembangunan melalui budaya gotong royong, dibawakan oleh Drs. Fg. Marthin Zebua (mantan Sekda Kabupaten Nias dan Tokoh Masyarakat Nias Barat); dan 2. Potensi pariwisata dan budaya Nias Barat dalam menyongsong era globalisasi, dibawakan oleh Manahati Zebua, yang lahir di kampung/desa Hilidaura, dan sekarang tinggal di Yogyakarta.

Kedua materi yang disampaikan dalam forum seminar tersebut, mendapatkan pembahasan dari beberapa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat. Beberapa penekanan dalam pembahasan dalam forum itu, yaitu: 1. Perlu kita hidupkan kembali budaya gotongroyong itu, baik di bidang sosial, ekonomi, dan pariwisata; 2. Kebersamaan dalam kegiatan gotongroyong itu, akan menjadi daya ungkit pada pelaksanaan berbagai pembangunan di Nias Barat; 3. Perlu segera melakukan inventarisasi mengenai obajek dan daya tarik wisata di Nias Barat, baik berupa wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata bahari, agro wisata, dan jenis wisata lainnya; 4. Setelah dilakukan inventarisasi, lalu objek dan daya tarik wisata itu ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda); 5. Pembuatan master plan kawasan di masing-masing objek dan daya tarik wisata; 6. Pembentukan badan promosi pariwisata daerah bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya di Kepulauan Nias; dan 7. Penetapan produk unggulan dan produk wisata unggulan di masing-masing kecamatan di Nias Barat.

Lomba Atraksi Budaya dan Masakan Khas Nias Barat

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Nias Barat dalam rangka menyemarakkan ulang tahun yang ke-6 itu, yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR). Kegiatan ini dilaksanakan sejak tanggal 26 Mei sampai tanggal 28 Mei 2015. Sejak dibuka kegiatan PBR sampai pada penutupan, yang dipusatkan di pantai Sirombu nan indah itu, dihadiri ribuan masyarakat Nias Barat. Mengapa banyak warga masyarakat yang turut serta menghadiri PBR? Karena pesta budaya ini diisi dengan berbagai perlombaan, baik lomba di bidang budaya dan olahraga maupun di bidang kuliner khas Nias Barat dari masing-masing kecamatan. Setiap kecamatan menampilkan berbagai atraksi budaya yang dikuasai serta berlomba dalam pembuatan masakan khas Nias Barat.

Beberapa lomba budaya yang ditampilkan oleh masing-masing kecamatan, antara lain Sile Mbanua, Voli Pantai, Fatoke atau Farundro, Tari Moyo, Fanika Era-era Mbowo, Famadögö Omo, Fame Ono Nihalö, Famatörö Döi Ndraono, Folau Oŵasa, Mbolo-mbolo Maena dan yang lainnya. Untuk lomba masak, peserta lomba menampilkan masakan yang materi dan penataannya dibuat menarik dan dinilai oleh para juri untuk mendapatkan nilai. Berbagai masakan yang ditampilkan oleh peserta dari kecamatan, antara lain: Sagu Bakar, Goŵi Nihandro, Goŵi Nidökhi, Harinake, Gae Nibogö, dan beberapa yang lain, yang sekaligus ikut menyemarakkan pelaksanaan pesta budaya rakyat (PBR) itu.

Daya Tarik Masyarakat

Pelaksanaan PBR di Kabupaten Nias Barat ini, ternyata bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat Nias Barat untuk menyaksikan langsung pesta budaya tersebut, serta turut serta ikut memberikan semangat bagi peserta lomba dari kecamatan masing-masing agar dapat menjadi juara lomba. Dengan demikian, bila pemerintah daerah aktif dan melaksanakan iven-iven yang berkaitan dengan lomba budaya, lomba kuliner khas Nias Barat, lomba kebersihan, lomba gotongroyong, lomba berselancar, lomba mancing di laut, lomba lari di pantai, lomba tata lingkungan rumah masing-masing, dan jenis lomba lainnya, dapat dipastikan bahwa masyarakat Nias Barat akan cepat memahami mengenai kegiatan-kegiatan di bidang pariwisata itu sendiri. Istilah kerennya sekarang adalah pariwisata disosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan yang menarik sehingga dapat dipahami dengan cepat dan mudah oleh masyarakat.

Hal yang sempat dibicarakan masyarakat dalam PBR tersebut sesuai informasi yang didapatkan, antara lain mengenai kebutuhan-kebutuhan yang mereka butuh selama mereka berada di pantai Sirombu. Mereka butuh aneka minuman dan aneka makanan terutama khas Nias Barat, mereka butuh payung atau topi agar mereka terlindungi dari panas matahari, mereka butuh kacamata untuk melindungi mata dari debu, mereka butuh tikar agar bisa duduk sambil menyaksikan atraksi budaya, dan sebagainya. Ternyata iven PBR yang diprakarsai pemerintah Kabupaten Nias Barat itu dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Nias Barat, dapat merangsang jiwa wirausaha atau usaha rumah tangga untuk menyediakan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan para supporter dan warga masyarakat lainnya. Satu contoh yang sangat dibutuhkan pada acara PBR itu seperti air kelapa muda, yang dapat memenuhi salah satu kebutuhan para penonton atau penggembira pada PBR yang dilaksanakan di pantai Sirombu nan indah itu.

Kegiatan Pariwisata Menggeliat

Melalui kegiatan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Nias Barat ini, dapat dikatakan ‘Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat’. Artinya, kegiatan pariwisata sudah dimulai dalam upaya untuk merangsang masyarakat Nias Barat peduli dan menghidupkan kembali mengenai budaya leluhur serta aneka kuliner yang pernah ada di Nias Barat. Kepedulian masyarakat ini akan menjadi embrio bagi masyarakat Nias Barat untuk memasuki dunia pariwisata yang dapat menjadi lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat.

Sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat, sesuai dengan komitmen ke-5 pemerintah daerah di Kepulauan Nias, yang sudah diikrarkan pada bulan Juni 2014 yang lalu. Komitmen para Bupati dan Walikota se-Kepulauan Nias itu turut disaksikan oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI) Dr. Sapta Nirwandar serta para Direktur di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, utusan dari Kementerian Perhubungan dan Kementarian Pekerjaan Umum serta para satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dari lingkungan pemerintah daerah se-Kepulauan Nias.

Dalam upaya memenuhi komitmen tersebut, barangkali pemerintah Kabupaten Nias Barat terdorong untuk memulai kegiatan pariwisata itu dengan mengaitkannya pada kegiatan peringatan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat ke-6, yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Mengawali kegiatan pariwisata itu dengan melaksanakan lomba budaya dan lomba kuliner khas Nias Barat termasuk lomba olahraga antar kecamatan di acara PBR itu. Ternyata iven tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat Nias Barat serta dapat memberikan rasa antusiasme bagi masyarakat. Kondisi ini akan dapat memberikan daya ungkit untuk memasyarakatkan pariwisata bagi masyarakat Nias Barat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan Sadar Wisata bagi kalangan masyarakat.

Kalender Kegiatan Pariwisata

Pariwisata sangat berkaitan dengan calendar of event (kalender pariwisata) yang perlu dibakukan pelaksanaan kegiatannya setiap tahun. Salah satu iven yang sudah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR) Kabupaten Nias Barat, yang pelaksanaannya setelah upacara potong tumpeng perayaan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat. Setelah itu perlu dipikirkan lagi mengenai kegiatan pariwisata lainnya, bisa seperti lomba voli pantai, lomba layang-layang, lomba gotongroyong, lomba mancing di laut, lomba selancar, lomba perahu layar, lomba lari di pantai, lomba kebersihan, lomba desa wisata, lomba desa sehat, lomba taman desa, lomba agro wisata, dan lain sebagainya.

Untuk itu, dukungan berbagai pemikiran dari Dinas Pariwisata dan SKPD yang lain serta dari para Tokoh Masyarakat sangat dibutuhkan, dalam upaya meningkatkan peran sektor pariwisata di Nias Barat. Mari melanggengkan kegiatan yang sudah ada (dimulai) seta mengusahakan kegiatan pariwisata lainnya, minimal setiap 2 (dua) bulan ada kalender kegiatan pariwisata di Nias Barat.

* Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

‘Keynote Speech’ Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015

Monday, June 15th, 2015

Presiden_JokowiCatatan Redaksi: Pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015 mengandung pokok-pokok pikiran beliau untuk pengembangan kawasan Indonesia Timur.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati seluruh menteri yang hadir, Ketua KADIN, utamanya KADIN Indonesia Timur, dan Bapak Ibu semuanya anggota KADIN yang saya hormati.

Kalau berbicara perdagangan dan investasi Indonesia bagian timur, kita melihat di lapangan sebetulnya potensi dan kekuatan yang bisa diangkat itu sangat besar sekali. Tetapi pendukung untuk melakukan itu memang perlu segera dikerjakan. Apa itu? Infrastruktur, tidak ada yang lain.

Oleh sebab itu, hari Jumat kemarin, kita sudah mulai pembangunan groundbreaking untuk pelabuhan Makassar, pelabuhan dan zona industri yang mencakup keluasan 2.000 hektar, bukan meter persegi, hektar, 2.000 hektar. Kemudian nanti bulan Juli, insya Allah juga akan kita mulai bangun lagi pelabuhan besar di Sorong, bukan pelabuhan yang lama, tetapi akan bergeser kurang lebih 30 km dari yang lama, dengan keluasan kurang lebih 7.000 hektar, yang di dalamnya akan ada pelabuhan untuk power plant dan tentu saja untuk kawasan industri. Hanya dengan cara-cara pembangunan seperti inilah, saya meyakini Indonesia bagian timur akan bisa berkembang lebih cepat dan lebih baik.

Saya berikan contoh, misalnya di kabupaten Merauke. Tapi dari Merauke ke tempat lokasi kurang lebih 2 jam lewat darat, namanya desa Wapeko. Disitu ada hamparan tanah datar yg sangat luas, sudah dihitung ada 4,6 juta hektar, tetapi setelah diidentifikasi yang siap untuk dikerjakan baru 1,2 juta hektar yang bisa dipakai untuk menanam padi, jagung, maupun untuk tebu. Kalau 4,6 juta hektar itu bisa dikerjakan semuanya, dan sudah ada 5.000 hektar yang dicoba, hasilnya 1 hektar bisa mencapai 8 ton. Artinya apa? Kalau menghasilkan padi 8 ton, kalau Bapak-bapak dan Ibu-ibu kalikan 8 ton kali 4,6 juta, hampir 37 juta ton sekali panen. Dua kali panen berarti 74 juta ton. Kalau tiga kali panen berarti 110 juta ton hanya dari satu kabupaten, padahal produksi nasional kita sekarang ini 60-70 juta ton.

Artinya apa? Kalau serius kita kerjakan ini, bukan hanya selesai, tapi kita akan berlimpah, yang namanya pangan itu akan berlimpah ruah. Hanya dari satu kabupaten. Padahal di sekitar Merauke, ada 4 kabupaten lagi dengan kondisi yang sama, tanahnya datar, subur, kanan kiri ada sungai yang sangat besar, yang juga bisa dikerjakan kegiatan yang sama.

Pertanyaan saya, kenapa bertahun-tahun ini tidak dikerjakan? Yang pertama, karena memang infrastruktur pelabuhannya diragukan siap untuk menampung produksi ini. Kedua, infrastruktur jalan dari pelabuhan menuju ke lokasi yang tadi saya sampaikan memang membutuhkan pembangunan dan beberapa tempat membutuhkan perbaikan. Dan juga yang tidak kalah besarnya investasi adalah untuk pembangunan irigasi menuju lokasi itu.

Kenapa tidak dikerjakan? Ya karena mungkin menterinya ngga pergi kesana. Saya hanya dengar, “Ada 4,6 juta, Pak.” “Masa?” “Betul, Pak.” Oke, ambil foto. Ambil foto, foto, foto, ternyata benar. Baru saya putuskan saya melihat sendiri kesana. Dan setelah melihat, karena sudah dikerjakan, hasilnya juga sudah dikerjakan 5.000. Hasilnya juga sudah ketemu. Jenis varietas yang cocok disitu juga sudah ketemu. 8 ton per hektar. Saya putuskan di lapangan, ya sudah dimulai. Bagian pemerintah nanti ada bagian pelabuhan, bagian jalan, dan bagian irigasi. Investasi silakan masuk, tapi jangan semuanya. 70 persen dipegang oleh BUMN, 30 persen silakan swasta. 30 persennya juga sudah banyak. Jutaan hektar begitu mau konsorsium berapa perusahaan juga belum tentu bisa kerjakan langsung. Padahal peluang pasar yang saya lihat, saya baru saja pergi ke Papua Nugini, beras yang ada disana harganya 3 kali lipat kita, kurang lebih Rp 30-an ribu. Saya itu kalau pergi kemana-mana, kuping saya saya buka lebar-lebar, Rp 30.000. Kalau di Merauke ada produksi seperti itu, meloncat kesana ga ada 1 jam sudah sampai, tapi beras yang ada di Papua Nugini berasal dari Thailand, masuk ke Australia, Australia kirim ke Papua Nugini.

Inilah saya kira kesempatan investasi, kesempatan perdagangan yang bisa saya berikan contohnya satu. Belum di tempat yang lain. Coba lihat di Maluku, lihat di Ternate, Tidore juga sama. Ikan itu bukan melimpah, sangat-sangat melimpah. Saya belum lihat sendiri, kalau malam hari yang namanya kapal itu kayak pasar malam di malam hari di sekitar itu. Lampunya gemerlapan banyak sekali, ngambil ikan. Tapi sayangnya bukan kapal kita, kapalnya kapal asing. Dan perlu saya informasikan, di seluruh tanah air ada 7.000 kapal yang lalu lalang dibiarkan ngambil ikan kita. Hitungannya adalah Rp 300 triliun setiap tahun kita kehilangan. Dan itu, menurut saya, hampir 70 persen, 80 persen ada di Indonesia bagian timur. Inilah juga investasi yang diperlukan di Indonesia bagian timur agar ikan-ikan itu tidak diambili oleh mereka dan kita menjadi penonton. Ini peluang yang sangat besar sekali.

Apa yang harus dilakukan? Beli kapal sebanyak-banyaknya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, terutama yang berasal dari Indonesia bagian timur. Kalau sudah beli bagaimana? Kerja sama dengan nelayan. Terus? Ikannya itu diambil. Terus? Buat pabrik cold storage. Terus? Buat pabrik pengalengan ikan. Kalau tidak bisa dilakukan sendiri, lakukan bersama-sama, konsorsium. Polanya plasma inti, biar nelayan juga mendapatkan sesuatu, intinya juga dapat keuntungan. Selalu yang saya terangkan seperti itu.

Di Merauke juga sama, yang akan kita bangun adalah inti plasma. Intinya dapat 70 persen, plasmanya, yang punya laham, dapat 30 persen. Semua penduduk mau semuanya. Dikerjakan dengan mekanisasi total, mekanisasi modern. Peluang-peluang seperti itu, setiap saya ke daerah, saya melihat betul-betul Indonesia bagian timur adalah masa depan kita. Tapi jangan keliru kebijakan. Saya titip, baik gubernur, bupati, jangan keliru kebijakan.

Kita pernah kehilangan, saya bolak balik menyampaikan, kehilangan momentum waktu booming minyak, kita kehilangan momentum, fondasi, fundamental ekonomi ngga betul kita bangun, hilang pada tahun 70-an, 80-an. Ada booming lagi, booming kayu juga sama. Tahun 80-an, 80, 85, 90, booming kayu saat itu, juga kita tidak bisa bangun fundamental ekonomi kita secara kokoh, padahal sangat melimpah ruah saat itu. Terakhir kita hampir saja juga kehilangan momentum minerba. Ini juga sangat besar sekali, tapi larinya selalu bahan mentah.

Inilah saya kira ke depan perlu semua, yang namanya produk-produk, semua bahan mentah, semua yang berkaitan dengan kekayaan kita, harus ada industrialisasi, harus ada hilirisasi. Dengan cara apapun itu harus ditempuh. Itu tugasnya swasta. Pemerintah tugasnya apa? Membangun infrastruktur tadi. Pelabuhannya dibangun, jalannya dibangun, transportasi dibangun.

Saya meyakini, apabila tol laut nanti selesai, perkiraan kita 3-4 tahun pelabuhan-pelabuhan besar kita jadi, Kuala Tanjung di Sumatera Utara, masuk kesini ke Tanjung Priok, ke timur ke Tanjung Perak, masuk lagi ke Makassar, masuk lagi ke Sorong, itu memang harus standarnya sama. Kapal besar semuanya bisa merapat. Semuanya harus seperti itu. Percuma yang di Priok, yang di Kuala Tanjung kapal bisa merapat, tapi di timur tidak bisa merapat. Kapalnya ya maju mundurnya disini terus, disana ga akan dapat. Tapi kalau semuanya bisa dilalui kapal-kapal itu, dari barat ke tengah ke timur, semuanya bisa terus, pada akhirnya apa? Biaya logistik akan jatuh lebih murah. Biaya transportasi juga akan jatuh lebih murah, ya transportasi barang. Dan akhirnya apa? Produk-produk kita akan kompetitif. Karena coba bandingkan biaya transportasi kita, biaya logistik kita dengan negara-negara dekat 2,5 sampai 3 kali lipat. Mana bisa produk-produk kita bersaing kalau biaya transportasi, biaya logistik masih sebesar itu? Inilah yang kita kejar. Karena dengan itu nanti daya saing produk-produk kita akan bisa compete dengan produk-produk negara yang lain.

Saya yakin kita mampu melakukannya. Kita optimis bisa melakukannya. Tetapi memang dunia usaha harus bergerak lebih cepat mendahului pemerintah. Kita di belakangnya memberikan dukungan. Contoh yang saya dengar mengenai Merauke tadi, dari swasta, “Pak, kita akan ini tapi kita butuh dukungan ini.” Saya cek, iya betul, oke. Saya bangun ini, saya bangun ini, kamu mulai. Memang harus seperti itu. APBN kita tidak cukup untuk semuanya kita kerjain, ngga mungkin. Selalu saya sampaikan, silakan swasta masuk. Investasi, silakan swasta masuk.

Peluang ada, silakan swasta masuk. Tapi kalau saya tunggu, tidak ada yang masuk, sudah saya sampaikan berkali-kali, saya tunggu, swasta tidak ada yang masuk, ya BUMN akan saya suruh masuk. Saya ngga mau nunggu-nunggu juga. Tapi sudah saya sampaikan, ini sudah saya buka. Inilah saya kira kesempatan-kesempatan dan peluang-peluang, opportunity, yang ada di Indonesia bagian timur. Saya belum berbicara masalah minerba. Saya belum berbicara masalah sumber daya alam yang lain yang juga sangat melimpah ruah. Memang harus satu persatu. Kalau semuanya kita buka, yang masuk bukan Bapak, Ibu, dan saudara semuanya, tapi ada yang lebih dahulu dan mengambil keuntungan dan kita hanya jadi penonton. Untuk apa? Ini kesempatan, ini peluang, baik sisi investasinya, baik sisi perdagangannya. Tetapi kalau tidak dimanfaatkan, akan ada nanti yang mengambil peluang itu.

Saya kira itu yang bisa saya sampailan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih ata perhatiannya dan saya memgucapkan selamat ber-Rakernas.

Terima kasih.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Sumber: Situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (Foto: Wikipedia.)

Beijing Mulai Memberlakukan Aturan Keras Larangan Merokok Hari Ini

Monday, June 1st, 2015

Poster larangan merokok di beiing | http://www.hindustantimes.com

Poster larangan merokok di beiing | http://www.hindustantimes.com

Beijing – Mulai hari ini, 1 Juni 2015, Beijing akan menerapkan aturan keras di mana merokok dilarang di ruang-ruang internal tempat berkumpul publik, ruang kerja dan tempat-tempat umum seperti sekolah, rumah-rumah sakit dan tempat-tempat turis.

Larangan juga dikenakan untuk iklan yang berkaitan dengan tembakau di berbagai media seperti radio, film, televisi, penyedia layanan telepon genggam dan perusahaan-perusahaan inetrnet.

Poster-poster anti rokok seperti terlihat dalam gambar telah dipasang di berbagai lokasi di kota Beijing terutama di restoran, bar, stasiun-statiun bus dan kereta api, dan tempat-tempat umum lain seperti bandar udara. Menindaklanjuti aturan baru yang keras ini, 3 ruang merokok di tiga terminal di bandara Beijing akan ditutup dan sebagai gantinya akan dibuka tempat-tempat merokok baru di luar.

Di lebih dari 600 stopan bis juga akan disediakan tempat-tempat merokok bagi para perokok.

Cina adalah konsumer dan produser tembakau terbesar di dunia. Akhir tahun 2014, jumlah perokok di Cina mencapai 300 juta orang.

Toko-toko yang jaraknya sekitar 100 m dari gedung-gedung TK, SD, SMP dan SMA juga dilarang menjual rokok.

Aturan keras ini diperkirakan akan mendapat perlawanan gigih dari para perokok. Di Beijing sendiri, ada lebih dari empat juta orang perokok berat, yang menghabiskan hingga 15 batang rokok rokok per hari.

Untuk mengantisipasi itu, pemerintah kota Beijing menerapkan denda sebesar 200 Yuan (sekitar Rp 425,000) atau dua puluh kali lipat dari denda sebelumnya sebesar 10 Yuan bagi pelanggar.

Publik juga diminta untuk melaporkan setiap pelanggaran terhadap aturan baru ini. (HT/brk*).

Joseph Sepp Blatter Terpilih Kembali Memimpin FIFA

Saturday, May 30th, 2015

SBlatter

Joseph S Blatter – FIFA.com

Zurich, NIASONLINE – Joseph Sepp Blatter terpilih kembali menjadi Presiden Federasi Sepakbola Internasional, FIFA, di Zurich, Swiss, Jumat (29/05/2015). Terpilihnya kembali Blatter berlangsung di tengah skandal suap yang menggoncang badan sepakbola dunia tersebut.

Kemenangan Blatter terwujud setelah pesaing satu-satunya – Pangeran Ali bin Al Hussein dari Yordania – mengundurkan diri pada pemilihan babak kedua. Dalam pemilihan babak pertama, Blatter mendapat 133 suara sedangkan Ali mendapat 73 suara.

“Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Yang Mulia Pangeran Ali bin Al Hussein. Beliau mendapat jumlah suara yang banyak. Kemudian saya mengucapkan terima kasih kepada Anda semua atas kepercayaan dan keyakinan. Saya bertanggung jawab mengembalikan FIFA kepada posisi yang seharusnya. Dan ini janji saya kepada Anda: pada akhir jabatan saya, saya akan menempatkan FIFA pada posisi yang kuat,” kata Blatter dalam pidatonya setelah kemenangannya.

Pemilihan Presiden FIFA baru berlangsung di tengah skandal suap yang ditengarai melibatkan para pejabat tinggi FIFA. Swiss telah menahan tujuh pejabat teras FIFA di Zurich atas tuduhan kejahatan kriminal dan suap yang dituduhkan Amerika Serikat. Ke tujuh pejabat ini akan didakwa dalam kaitan dengan alokasi tempat penyelenggaraan Piala Dunia tahun 2018 dan 2022.

Blatter terpilih untuk pertama kali menjadi Presiden FIFA pada tahun 1998. (FIFA.com,brk*)

Kadin Jabar Dukung Rosan Roeslani

Friday, May 29th, 2015

Bandung, NIASONLINE – Setelah mendapatkan dukungan para pimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dari 13 Provinsi di Indonesia Timur, pengusaha muda nasional Rosan Perkasa Roeslani kembali mendapatkan dukungan dari Kadin Jawa Barat untuk maju sebagai Calon Ketua Umum Kadin Indonesia (2015 – 2020).

Pada Kamis (28/5/2015), Rosan Roeslani dan rombongan hadir di Bandung untuk menghadiri undangan silaturahmi Kadin Jawa Barat. Dalam sambutannya, Ketua Kadin Provinsi Jabar Agung Suryamal menyatakan Kadin mempunyai peran informal untuk menjadi perekat antar pengusaha. Untuk itulah Kadin membutuhkan sosok yang bersahabat, terbuka, memiliki jaringan yang luas dan kematangan.

“Kita perlu tokoh yang bisa menjadi perekat, yang memiliki jaringan luas dan bisa menyatukan kita dengan kematangannya, supaya tidak muncul lagi kadin-kadin tandingan. Itu saya lihat dalam diri Rosan, orang yang sudah cukup lama saya kenal,” ujar Agung Suryamal di Bandung.

Agung juga memberikan kredit bagi Chairman Recapital Advisors. Menurutnya, Kadin perlu memelopori kemandirian ekonomi nasional. Ketergantungan yang besar pada produk, SDM, hingga investasi asing perlu diminimalisir.

“Dari prasyarat ini, saya melihat salah satu calon yang bisa diandalkan untuk memimpin Kadin ke depan adalah Rosan,” ungkap Agung.

Ia yakin Rosan bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk mendorong masyarakat mencintai produk dalam negeri. Langkah ini sebagai titik awal untuk mewujudkan kemandirian nasional.

Erwin Aksa yang hadir dalam silaturahmi ini juga ikut memuji sohibnya sebagai seorang entrepreneur ulung. Menurut Erwin, selain keunggulan network dan kematangan sebagai pengusaha, Rosan merupakan tokoh yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas untuk menjadi seorang pemimpin. “Karena itulah saya lah yang pertama mendorong Bang Rosan untuk maju sebagai Ketua Umum Kadin,” ulas Erwin.

Menanggapi undangan ini, Rosan dalam sambutannya menyatakan rasa terima kasih atas apresiasi yang diberikan. Dia menyatakan bahwa perlu terjadi reorientasi dalam paradigma ekonomi nasional. Ketergantungan yang besar pada produk komoditas telah mengakibatkan ekonomi Indonesia rentan terhadap krisis. “Semua negara maju perlu didukung industri-manufaktur yang kuat sebagai basisnya. Komoditas sangat fluktuatif dan rentan terhadap goncangan ekonomi. Itulah yang menyebabkan kondisi ekonomi saat ini melemah. Kita lama terlena pada harga komoditas yang tinggi sehingga lupa membangun industri,” papar Rosan.

Silaturahmi berlangsung dalam suasana dialog-diskusi. Hadir dalam diskusi ini para ketua Kadin Kabupaten/Kota se-Jawa Barat serta ketua asosiasi-asosiasi pengusaha se-Jawa Barat.

Sebagaimana diketahui, periode kepemimpinan Suryo Bambang Sulisto sebagai Ketua Kadin akan berakhir pada September 2015.

(ak/brk*)

Ekowisata Sebuah Terobosan

Thursday, May 7th, 2015

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

Opini1PADA waktu sekarang, sudah banyak daerah di Indonesia yang sangat antusias mengembangkan pariwisata dengan ekowisatanya. Mengapa banyak tertarik pada pengembangan ekowisata? Karena ekowisata lebih banyak menampilkan rupa keaslian yang terdapat di daerahnya, seperti wisata alam dan wisata budaya. Menurut Abdullah Azwar Anas (panggilan akrabnya Anas) – Bupati Banyuwangi, dalam wawancara dengan wartawan, pariwisata di Banyuwangi lebih fokus pada ekowisata, yaitu wisata yang berbasis pada alam.

Sementara itu, menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (RI), ekowisata dari segi konsep yaitu merupakan konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Tetapi bila dilihat dari segi pasar, maka ekowisata itu merupakan produk wisata (misalnya: paket wisata). Akhir-akhir ini, paket wisata dengan konsep ”eko” atau ”hijau” menjadi trend di pasar wisata. Konsep ”kembali ke alam” cenderung dipilih oleh sebagian besar konsumen yang mulai peduli akan langkah pelestarian dan keinginan untuk berpartipasi pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya. Akomodasi, atraksi wisata maupun produk wisata lainnya yang menawarkan konsep kembali ke alam semakin diminati oleh pasar (Unesco, 2009).

Penampilan ekowisata sebagai objek dan daya tarik wisata (produk wisata), tidak memerlukan biaya besar. Paling-paling hanya memerlukan biaya untuk memolesnya sedikit, supaya para pengunjung di objek wisata itu merasa nyaman dan fresh bila melakukan perjalanan untuk melihat objek wisata tersebut.

Lain halnya bila menghadirkan objek dan daya tarik wisata buatan, seperti “taman pintar” di Jogja atau taman mini Indonesia indah (TMII) di Jakarta Timur. Biaya pembuatannya sangat mahal karena berbagai atraksi pengetahuan dan budaya ditampilkan di arena tersebut. Sehingga pembuatan taman pintar dan TMII itu mungkin menggunakan anggaran multi-years yang besar hehe.

Untuk mengurangi biaya besar dalam pengembangan pariwisata itu, maka daerah banyak yang tertarik untuk mengembangkan ekowisata. Selain melestarikan budaya dan alam, juga ingin menampilkan keaslian dari objek dan daya tarik wisata itu. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk menghidupkan ekowisata di daerah tersebut relatif lebih murah dibanding dengan wisata buatan.

Dan justru ekowisata inilah yang banyak digemari wisatawan manca Negara (wisman) dan sebagian dari wisatawan nusantara (wisnus). Mereka lebih suka dan bangga melihat budaya dan alam yang apa adanya. Contoh, bila kita memiliki objek dan daya tarik wisata alam, cukup menyiapkan jalan setapak yang nyaman, Artinya para wisatawan yang berkunjung di situ merasa nyaman dan dapat terhindar dari gigitan ular atau binatang buas lainnya.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak terdapat objek dan daya tarik wisata alam dan budaya. Untuk wisata alam sudah tersedia banyak di setiap daerah seperti pantai-pantai dengan olahraganya (surfing, menyelam, perahu layar, memancing ikan, melihat-lihat terumbu karang), danau-danau, sumber air panas, air terjun, olahraga naik gunung, dayung perahu di sungai, hamparan perkebunan coklat, hamparan perkebunan kopi, hamparan perkebunan teh, hamparan perkebunan karet, hamparan perkebunan buah-buahan, hamparan persawahan, dan seterusnya. Demikian juga untuk wisata budaya, banyak budaya yang adiluhung di setiap daerah, seperti lompat batu di Nias Selatan, rumah adat di Sulawesi, makam raja-raja di Yogyakarta, tarian-tarian yang beraneka ragam seperti tarian maena di Kepulauan Nias, tarian kecak di Bali, tari saman di Aceh, tari klasik gaya Yogyakarta, dan berbagai tarian yang lain yang terdapat di daerah-daerah.

Pelestarian budaya yang dimiliki oleh daerah, bisa terus dilakukan dengan menghadirkan pusat-pusat pelatihan budaya nenek moyang kita itu di beberapa tempat, bahkan bisa didirikan di luar daerah itu, seperti pendirian sanggar-sanggar budaya di setiap Kota dan Kabupaten atau di daerah lain. Sanggar-sanggar budaya ini menjadi sangat penting peranannya di dalam melestarikan budaya mesolitikum yang dimiliki oleh masyarakat kita di di setiap daerah.

Meskipun banyak terdapat wisata alam dan wisata budaya di daerah, namun objek dan daya tarik wisata budaya itu mungkin hanya sebagian yang tercatat pada “dunia wisata Indonesia”. Contoh budaya yang terdapat di Kepulauan Nias, hanya tercatat 1 (satu) yaitu atraksi budaya lompat batu. Objek wisata alam dan budaya yang lain mungkin belum masuk atau belum tercatat. Nah, inilah yang perlu diperhatikan dan disiapkan oleh pemerintah daerah, khususnya satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sektor pariwisata. Kalau bisa ya objek wisata alam dan budaya yang terdapat di setiap daerah bisa diupayakan sebanyak-banyaknya dimuat di “dunia wisata Indonesia”.

Kalau kondisinya demikian, maka mau tidak mau, kita harus menyiapkan “website wisata daerah”. Zaman sekarang sudah zamannya teknologi dan zamannya internet. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi RI tahun 2014, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang. Sehingga Indonesia termasuk Negara pengguna internet terbanyak nomor 8 di dunia. Sudah sebanyak itu saja, Indonesia baru termasuk nomor 8 di dunia. Jadi Anda bisa bayangkan bahwa begitu banyak jumlah pengguna internet di dunia, sehingga memberikan banyak pengaruh internet di kehidupan kita pada saat ini.

Untuk memahami lebih dalam fungsi dari internet itu, saya akan memberikan contoh. Pada waktu mendapat pekerjaan royek in-house training manajemen rumah sakit di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah, saya mengajak beberapa teman untuk ikut melatih sumber daya manusia (SDM) rumah sakit itu sesuai kompetensinya. Nah, salah satu dari teman yang saya ajak itu, menyiapkan diri dengan berusaha mengetahui terlebih dahulu mengenai profil rumah sakit. Teman ini mencoba mencari informasi melalui Mbah Google, ternyata informasi tentang rumah sakit yang dimaksud tidak ditemukan.

Lalu teman ini menelpon saya dengan mengatakan, Pak Zebua, berapa sih jumlah bed rumah sakit ini? Atau besarnya rumah sakit ini hanya setingkat Puskesmas? Terus terang, pada saat menerima pertanyaan itu, saya sedikit heran dan lalu bertanya, kenapa Pak? Begini lho Pak, saya sudah mencoba mencari profil rumah sakit ini di internet, tapi tidak ketemu, Mbah Google tidak bisa menjawab. Setelah saya mendapatkan penjelasan singkat seperti itu, akhirnya saya menjawab begini, jumlah bed rumah sakit ini sekitar 400 bed dan siap menerima materi dari Bapak. Setelah menjawab itu, malah teman ini justru langsung terbahak-bahak sambil berujar, zaman gini kok ada rumah sakit yang gagap teknologi, apa kata dunia!.

Membuat website suatu daerah serta aktif di media sosial untuk memasarkan ekowisata daerah, sesuatu yang sangat mendukung bersinarnya masa depan pariwisata daerah di masa mendatang. Gambar-gambar yang ditayangkan oleh biro dan agen perjalanan umpamanya dengan berpromosi sebagai mitra perjalanan Anda di daerah itu, malah sangat menarik dan bagus-bagus.

Alangkah indahnya apabila gambar-gambar dari objek dan daya tarik ekowisata di daerah itu, dapat disatukan dalam 1 (satu) album dengan cover “Pariwisata Daerah yang Eksotik”, yang dapat diperjualbelikan untuk umum. Selain itu website daerah juga bisa dibuat dengan memuat berbagai gambar objek dan daya tarik wisata serta isinya selalu di update terus sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang ada pada objek dan daya tarik wisata alam dan budaya di daerah itu.

Ekowisata pada saat ini sudah menjadi aktivitas ekonomi yang penting, yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mendapatkan pengalaman mengenai alam dan budaya untuk dipelajari dan memahami betapa pentingnya budaya lokal tersebut. Alam dan budaya lokal dari setiap daerah akan menjadi sebuah pengalaman bagi wisatawan untuk memberikan apresiasi dalam hal perbedaan dan makna, sehingga si wisatawan akan memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan tentang alam dan budaya yang terdapat di setiap wilayah/daerah.

Menurut Tazbir Abdullah, SH., M.Hum, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI), bahwa pariwisata Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang melimpah sebagai potensi penggerak ekonomi untuk kesejahteraan bangsa. Disamping itu, pariwisata sekaligus juga berperan besar sebagai instrumen pelestarian alam dan budaya (Zebua, 2014). Dengan demikian melalui pengembangan ekowisata, akan dapat berperan besar sebagai trigger untuk menggerakkan sektor lain, seperti ekonomi, infrastruktur, pertanian, ekonomi kreatif (transportasi, akomodasi, rumah makan/kuliner, souvenir), serta dapat pula menggerakkan perilaku masyarakat untuk menjadi lebih bersih dan ramah.

Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM. Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Budi Daya Jamur Tiram di Kabupaten Nias Selatan

Sunday, March 29th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

Jamur tiram yang juga dikenal dengan nama Pleurotus ostreatus dalam bahasa latin merupakan jenis bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Menurut (Food Agriculture Organization/FAO, 1992), dalam setiap seratus gram jamur tiram mengandung: protein 13.8 gram, serat 3,5 gram, lemak 1,41 gram, abu 3,6 gram, karbohidrat 61,7 gram, kalori 0,41 gram, kalsium 32,9 gram, zat besi 4,1 gram, fosfor 0,1 gram, vitamin B1 0,12 gram, vitamin B2 0, 64 gram, vitamin C 5 gram dan niacin 7,8gram. Dari kandungan gizi yang ada dalam jamur tiram dapat dikatakan bahwa jamur tiram sangat aman untuk dikonsumsi oleh manusia dan bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu diantaranya adalah memperlancar pencernaan karena kandungan serat yang ada di dalamnya dan kandungan gizi sebagai protein nabati yang tidak mengandung kolestrol.

Menurut Bobek et. al (1998) dalam Widyastuti dan Istini (2004), jamur tiram sangat bagus untuk penderita jantung kardiovaskular dan untuk mengendalikan kolesterol. Chan dan Buswell (1996) dalam Widyastuti dan Istini (2004), menyebutkan jamur pangan tidak hanya lezat, juga bermanfaat berkat nutrisi yang tinggi dan mempunyai manfaat obat seperti antikanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh antidiabetes dan hipolipidemik. Menurut ahli jamur di Washington State University Departement of Agriculture, Jamur tiram juga bisa dimanfaatkan sebagai antibakteri, antiinflamasi, antiviral, tekanan darah, dan memberbaiki sistem imun.

Berdasarkan kandungan gizi dan khasiat yang ada pada jamur tiram, maka tanaman ini sangat layak untuk diproduksi yang tentunya melalui sektor Budi Daya. Dari , dikemukakan bahwa produksi jamur tiram banyak dilakukan di daerah Jawa Barat, yang tercatat kurang lebih sekitar 10 ton produksi jamur tiram setiap hari. Pertanyaannya, apakah budi daya jamur tiram sudah ada di Kabupaten Nias Selatan? atau apakah masyarakat Nias Selatan dapat mendapatkan gizi yang berasal dari Jamur tiram?. Jawabannya “Ya”.

Budi daya jamur tiram di Kabupaten Nias Selatan telah dirintis oleh Seorang Pemuda Nias Selatan, Memoris Fau. Budi daya jamur tiram ini dirintis sejak tahun 2014. Untuk membudidayakan jamur tiram dibutuhkan bahan baku yang berasal dari serbuk kayu, dedak padi, dedak jagung, kapur sirih dan bibit jamur tiram. Semetara untuk pengolahannya membutuhkan fermentasi bahan, sterilisasi baglog, pendinginan, penanaman bibit jamur tiram pada media baglog. Disamping itu, hal yang tidak kalah pentingnya untuk memberhasilkan pertumbuhan jamur adalah kebersihan kumbuh jamur dan suhu serta kelembaban lokasi budi daya jamur.

Dari budi daya jamur tiram yang telah dibudidayakannnya ini 10.000 baglog sudah mulai dipanen dengan hasil sekitar 500-800 Kg per bulan dan sekitar 15.000 baglog sedang dalam proses pertumbuhan. Lokasi budi daya jamur tiram ini terletak di daerah Kecamatan Fanayama tepatnya di Simpang Bawomataluo-Lagundri.

Meskipun Budi daya jamur tiram ini merupakan usaha yang tidak membutuhkan modal besar, namun ketekunan, ketelitian serta sterilisasi yang tinggi sangat dituntut dalam memberhasilkan pertumbuhannya. Budi daya jamur tiram yang dirintis oleh Memoris Fau yang sedang belajar ilmu hukum di STIH Nias Selatan ini merupakan yang pertama dan merupakan budi daya jamur tiram yang terbesar di Kepulauan Nias. Dari hasil usahanya ini, akhirnya masyarakat Nias Selatan dapat memperoleh gizi yang dikandung oleh jamur tiram.

Budi daya jamur tiram ini tentunya memberi kontribusi untuk perkembangan bidang pertanian sekaligus ekonomi di daerah Nias Selatan, yang mana dengan kehadiran usaha ini paling tidak member Nias Selatan peluang pekerjaan bagi sebagian orang yang dipekerjakan dalam usaha ini meskipun masih dalam skala kecil.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Merindukan Pemimpin Bersih

Saturday, March 28th, 2015

*Mengenang Sepuluh Tahun Bencana Gempa di Nias

Oleh Hekinus Manaö

NO-FokusPada tanggal 28 Maret 2005 saya bersama tim Bappenas dan Kementerian Keuangan dari Indonesia sedang melakukan pembicaraan dengan Bank Dunia di Lantai 8 MC-Building, Kantor Pusat Bank Dunia di H Street, Washington D.C., hanya satu blok dari White House. Menjelang istirahat siang, Vice President of East Asia Pacific dari World Bank tiba-tiba muncul sambil membawa sehelai print-out komputer tentang berita gempa dahsyat yang baru saja beberapa menit lalu melanda pantai Barat dari Pulau Sumatera. Tepatnya gempa bumi itu terjadi pada 28 Maret 2005 jam 23:09 wib, atau jam 12:09 siang waktu Washington D.C. Pusat gempa berada di sekitar Kepulauan Nias, yakni di 2° 04′ 35″ U 97° 00′ 58″ T, 200 km sebelah Barat Sumatera dan 30 km di bawah permukaan Samudera Hindia. Catatan seismik memberikan angka 8,7 Skala Richter, dan getarannya terasa hingga Bangkok. Dengan kekuatan sebesar itu, gempa Nias ini merupakan gempa bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964, dan karenanya disusul dengan peringatan kemungkinan datangnya tsunami, walaupun akhirnya tidak terjadi.

Mendapatkan berita itu tentu saja membuat kami terperanjat, karena rapat kami dengan pihak Bank Dunia siang itu adalah terkait dengan teknik pengelolaan bantuan yang mengalir dari berbagai pihak untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang telah lebih dulu dilanda oleh gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Agenda rapat berkisar tentang kemungkinan pembentukan badan khusus yang menangani bencana Aceh oleh Pemerintah Indonesia melalui suatu Peraturan Pemerintah Pengganti Udang-Undang, pembentukan multi-donor trust fund oleh Bank Dunia untuk menampung dana asisten dari mancanegara, dan pola manajemen keuangan yang fleksibel untuk percepatan penyaluran bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.

Walaupun Kepulauan Nias ikut terkena bencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, dampaknya relatif minor dibandingkan dengan yang dialami oleh Aceh. Karena itu, dengan berita bencana gempa Nias, peserta rapat mulai mengantisipasi perlunya perluasan cakupan manajemen bencana yang meliputi Kepulauan Nias, selain Aceh. Terlebih lagi karena salah satu dari peserta rapat siang itu adalah berasal dari Kepulauan Nias, yaitu saya sendiri.

Betul saja, gempa bumi 8,7 SR tersebut telah meluluhlantakan hampir seluruh kepulauan Nias, termasuk kota Gunung Sitoli dan Teluk Dalam yang merupakan ibukota Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Bencana dahsyat ini telah menelan korban meninggal sekitar 1000 orang dan menelantarkan lebih 70,000 orang karena kehilangan tempat tinggal. Terjadi pula pengungsian besar-besaran sekitar 20 sampai 30 ribu orang ke daratan Sumatera. Infrastruktur jalan dan jembatan serta sejumlah fasilitas umum yang memang sudah lebih dulu dalam kondisi tidak terawat dan sebagian telah hancur, menjadi makin hancur, dan sulit digunakan sehingga mobilisasi bantuan tanggap darurat pun menjadi terhambat.

Dengan kondisi ekonomi yang terbelakang sejak sebelum bencana, kebutuhan pemulihan pembangunan di Nias setelah bencana menjadi makin besar. Perkiraan awal, diperlukan dana sekitar sepuluh triliun Rupiah untuk merehabilitasi infrastruktur dasar, termasuk untuk jalan dan jembatan, air bersih, sarana pendidikan, perkantoran pemerintah, perumahan, dan pelabuhan.

Ketika Perppu Nomor 2 Tahun 2005 diterbitkan pada bulan April 2005, upaya penanggulangan bencana serta pembangunan Nias sempat dimasukkan walaupun data tentang skalanya baru menyusul kemudian. Pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias berdasarkan Perppu tersebut merupakan focal point dari pemulihan wilayah terkait selama 4 (empat) tahun. BRR di bawah kepemimpinan Kuntoro Mangkusubroto membentuk kantor di Gunung Sitoli dan kemudian juga di Teluk Dalam.

Namun kisruh pertama yang dialami ketika BRR memulai tugasnya di Nias adalah ketidakakurasian informasi tentang bencana dan cakupan pemuliah yang dimuat dalam blue print atau Rencana Induk rehabilitasi dan rekonstruksi yang dimuat dalam Peraturan Presiden No. 30 Tahun 2005. Namun hal tersebut perlahan diatasi dengan penyesuaian yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintahan Tahunan serta penerbitan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2008 yang mengesahkan penyesuaian-penyesuaian tersebut.

Kisruh lain terjadi dalam kekacauan koordinasi pelaksanaan kegiatan oleh BRR bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Pemerintah Daerah memandang sebagian dari kegiatan yang dilakukan oleh BRR tidak sinkron dengan tujuan pembangunan daerah. Sementara pihak BRR menyesalkan lambannya pihak Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi peraturan, seperti absennya ketentuan tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah, yang memaksa BRR bekerja dalam koridor ketentuan yang terbatas, sehingga kegiatan dan manfaat hasil pembangunan menjadi tidak optimal. Konflik dalam koordinasi ini tetap berlangsung hingga berakhirnya masa tugas BRR di Nias. Dampaknya, antara lain, fungsionalisasi serta transfer asset dari BRR kepada daerah yang belum tuntas hingga saat ini.

Pembangunan kembali Kepulauan Nias yang berpenduduk hampir 800 ribu dan tersebar sebagian pada wilayah pedalaman dan pulau-pulau kecil yang terisolasi merupakan tantangan besar. Namun selama empat tahu bertugas, BRR telah secara maksimal menjalankan fungsinya. Berdasarkan catatan, statistik kegiatan BRR selama bertugas di Nias dalam tempo empat tahun sampai April 2009, dapat diringkas sebagai berikut.

Komitmen untuk membangun rumah baru sebanyak 22,600 unit hanya berhasil direalisasikan sekitar 15,000 unit. Itupun sebagian tidak pernah dihuni antara lain karena kondisi yang tidak layak atau karena peruntukan yang tidak jelas. Ditarget pula untuk merehabilitasi sekitar 35,000 unit rumah, antara lain dengan menyediakan subsidi tunai. Namun pemberian subsidi rekonstruksi 23,000 unit rumah penduduk gagal direalisasikan karena silang pendapat tentang ketentuan besaran subsidi yang berlaku. Total anggaran yang terserap oleh sektor perumahan dan permukiman mencapai Rp 1,74 triliun, atau sekitar 30,7 persen dari total dana rehabilitasi dan rekonstruksi Nias yang direalisasikan oleh BRR selama empat tahun.

Porsi terbesar dari anggaran yang direalisasikan oleh BRR untuk Nias adalah untuk pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, telekomunikasi, air dan sanitasi. Anggaran yang terserap oleh bidang infrastruktur ini hingga 2009 adalah Rp 2,17 triliun atau 38,3 persen dari seluruh dana serapan BRR di Nias. Dari target rekonstruksi 470 km jalan provinsi, dapat direalisasikan sampai 410 km. Sementara, terhadap target rekonstruksi 800 km jalan kabupaten hanya bisa diwujudkan sekitar 310 km. Berhasil pula diselesaikan pembangunan 42 jembatan dari 84 jembatan yang semula ditargetkan. Kelima pelabuhan laut yang direhabilitasi atau dibangun kembali telah sesuai dengan rencana. Namun dari 2 airstrip yang hendak dibangun, hanya satu yang berhasil selesai hingga dapat dioperasikan. Sementara pembangunan satu airstrip di wilayah Teluk Dalam terbengkalai di tengah jalan. Telah juga diselesaikan normalisasi sejumlah sungai dan pembangunan jaringan irigasi, walaupun hanya mencapai sekitar 60 persen dari target awal.

Perlu juga dicatat keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, kesehatan, dan perkantoran di Nias selama BRR bekerja. Hampir seluruh 760 unit sekolah yang direncanakan berhasil dibangun kembali. Dua buah rumah sakit berhasil dibangun kembali, selain sekitar 50 puskesmas yang diperbaiki atau dibangun baru.

Kegiatan lain yang ditangani selama BRR bertugas adalah pemberian dukungan pada kegiatan ekonomi. Ada sejumlah paket berupa bantuan langsung permodalan, penyediaan fasilitas, dan pemberian latihan. Namun sektor ini hanya sekitar sepuluh persen dari aktivitas BRR ditinjau dari segi anggaran yang direalisasikan.

Terdapat estimasi kebutuhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias pada awalnya hingga Rp 11 triliun. Namun dana yang tersedia tidak mencapai jumlah demikian. Nyatanya menurut data laporan keuangan BRR, total dana yang terealisasikan adalah Rp 5,67 triliun, didapatkan langsung dari APBN sebanyak Rp 3,47 triliun dan disumbang oleh sekitar 80 pendonor sebesar Rp 2,2 triliun.

Pasca pembubaran BRR pada akhir tahun 2009, kegiatan pembangunan dilanjutkan oleh Pemerintah berdasarkan kerangka Rencana Aksi Kesinambungan dan Rekonstruksi di Kepulauan Nias, antara lain dengan tetap memanfaatkan sisa dana BRR dan dana hibah yang disediakan para pendonor. Terdapat tiga kelompok kegiatan yang menjadi tindak lanjut tersebut, yakni melalui Rural Access and Capacity Building Project (RACBP), Nias Livelihood and Economic Development Program (Nias LEDP), dan Nias Island Transition Project (NITP). RACBP dengan anggaran US$ 10 juta ditujukan untuk melanjutkan pembangunan jalan akses ke desa-desa dan rekonstruksi warisan budaya. Sementara LEDP yang didukung dengan Multi Donor Fund (MDF) sebesar US$8,2 juta dimaksudkan untuk meneruskan pengembangan kegiatan usaha dan ekonomi lokal. Kemudian NITP yang juga disokong pendanaannya oleh MDF hingga sebanyak US$3,9 juta difokuskan pada pengembangan kapasitas Pemerintah Daerah untuk mengambil alih tugas-tugas pembangunan dan meneruskan perawatan fasilitas yang telah dibangun.

Seluruh kegiatan yang disokong oleh dana hibah MDF tersebut telah diakhiri pada tutup tahun 2012, sesuai dengan statute yang disepakati sejak awal dengan para pendonor. Seberapa besar kegiatan yang berhasil dilakukan dan berapa dana MDF yang berhasil diserap di bawah koordinasi manajemen kantor Bank Dunia di Jakarta tidak diketahui dengan jelas. Upaya untuk memperoleh laporan akhir melalui media elektronik tidak mudah diperoleh.

Namun harus diakui bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias yang berlangsung mulai sejak bagian akhir 2005 hingga akhir 2012 telah meningkatkan kemampuan Nias sebagai bagian komunitas bangsa. Dewasa ini, Kepulauan Nias tidak lagi hanya terdiri dari dua kabupaten, tetapi telah menjadi empat kabupaten dan satu kota sejak sekitar lima tahun lalu. Bahkan kalau saja RUU Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang diagendakan persetujuannya oleh DPR RI 2009 – 2014 pada bagian akhir tugasnya bulan September 2014 tidak dibatalkan, Kepulauan Nias niscaya telah menjadi povinsi ke-34.

Tetapi, sesungguhnya pergumulan Nias bukan terletak pada peningkatan statusnya menjadi provinsi. Melainkan tantangan yang paling mendasar adalah bagaimana memperoleh kepemimpinan teladan yang sepenuhnya mendedikasikan dirinya bagi kepentingan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri berlangsungnya apatisme dan sinisme masyarakat di seluruh wilayah Nias bahwa Pemerintah Daerah hanya berorientasi untuk memuaskan kepentingan aparatnya, terutama kepentingan pemimpinnya.

Dengan ketentuan pelaksanaan pilkada serentak yang kini berlaku, keempat bupati dan satu walikota di Nias akan dipilih kembali di bulan Desember 2015. Putaran kepemimpinan baru ini merupakan kesempatan yang mencemaskan, karena di satu pihak kekuatan para incumbent tidak bisa dipungkiri. Sementara kerinduan masyarakat untuk memperoleh pemimpin baru yang bersih dan penuh pengabdian sudah sangat memuncak.

*Penulis adalah Mantan pegawai Kementerian Keuangan dan Direktur Eksekutif Bank Dunia  

PKPA dan DPRD Dorong Pemerintah Nias Serius Tangani ABH

Thursday, March 26th, 2015

Gunungsitoli, Nias Online – Penanganan masalah sosial yang dihadapi oleh anak-anak di Nias dari tahun ke tahun selalu luput dari perhatian pemerintah daerah. Hal itu mengemuka dalam diskusi terbatas sebelum pelaksanaan Musrembang Nias. Dalam diskusi itu Chairidani Purnamawati, SH, koordinator advokasi PKPA Nias dan Faigi’asa Bawamenewi, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Nias, menyampaikan bahwa kendala penanganan tersebut terjadi karena belum adanya pagu dana secara khusus.

Chairidani mengatakan saat ini belum ada pekerja sosial yang menangani anak berhadapan hukum (ABH), termasuk dalam hal proses diversi, pengobatan, rehabilitasi dan Drop in Center (DiC).

“Sebaiknya nanti saat dilakukan musrembang, PKPA bisa sampaikan hal tersebut. Dan jangan lupa untuk langsung berdiskusi dengan kepala Bappeda”, ujar Faigi’asa Bawamenewi menanggapi pernyataan Chairidani.

Pada tempat terpisah, kepala Bappeda, Agustinus Zega sangat mendukung langkah yang diambil PKPA dalam upaya memperkuat penanganan ABH. Agustinus menyarankan agar PKPA segera membuat surat resmi kepada Bappeda sehingga masukan tersebut dapat segera dirapatkan dengan SKPD terkait.

Keumala Dewi selaku manajer PKPA Nias sangat mengapresiasi langkah awal dan respon pemerintah terhadap usulan PKPA tersebut. Keumala mengatakan bahwa PKPA akan terus menindaklanjuti dan siap bekerjasama dengan pemerintah untuk penanganan kasus- kasus kekerasan dan sosial yang dihadapi oleh anak.

“PKPA selalu berkomitmen menjaga dan menjadi sahabat anak, selain itu PKPA akan terus mengadvokasi pemerintah agar lebih berperan dalam penanganan kasus ABH. Kewajiban pemerintah sebenarnya sudah tertuang dalam mandat Undang-undang Perlindungan Anak, namun sayang selama ini sering luput dari perhatin mereka”, tambah Keumala.

Keumala mencontohkan ketika seorang anak dari kabupaten Nias yang menjadi korban penganiayaan oleh kakeknya, dimana dinas sosial justru menghubungi PKPA untuk menangani kasus tersebut. Ditambah lagi saat anak butuh perawatan di rumah sakit, pemerintah dan dinas terkait tidak mampu untuk mengeluarkan biaya perawatannya. Pemerintah Nias harus lebih serius untuk penanganan permasalahan anak, terlebih dengan secara khusus mengadakan pagu anggaran.

Beasiswa Australia Awards 2015/2016

Monday, March 23rd, 2015

Ilustrasi | alertmagazine.org

Ilustrasi | alertmagazine.org

Pemerintah Australia kembali membuka kesempatan kepada putra-putri Indonesia melamar beasiswa Australia Awards untuk putaran 2015/2016.

Australia Awards dibagi dalam dua kategori: (1) Kategori Sektor Publik dan (2) Katergori Terbuka.

Pelamar dalam Kategori Publik berasal dari instutusi pemerintah, universitas negeri dan BUMN, dan aplikasinya harus mendapat persetujuan dari Badan Kerjasama Luar Negeri dari institusi yang bersangkutan. Informasi selengkapknya dapat dibaca pada halaman Category and Eligibility.

Bidang-bidang studi prioritas adalah (1) Sustainable Growth and Economic Management, (2) Democracy Justice and Good Governance, (3) Investing in People, (4) Safety and Peace. Informasi selengkapknya dapat dibaca pada halaman Priority Fields of Study.

Pendaftaran dibuka hingga tanggal 30 April 2015. (brk/*)

Beasiswa ILF Untuk Pendidikan Tingkat Sarjana (S1)

Monday, March 23rd, 2015

Ilustrasi | alertmagazine.org

Ilustrasi | alertmagazine.org

Indonesian Leadership Foundation (ILF), sebuah yayasan yang bekedudukan di Maryland, Amerika Serikat, menawarkan beasiswa kepada calon mahasiswa Indonesia beragama Kristen/Katolik yang ingin melanjutkan kuliah di universitas terakreditasi di Indonesia.

Persyaratan pelamar beasiswa ILF:

  1. Warga negara Indonesia (WNI)
  2. Beragama Kristen / Katolik
  3. Ingin melanjutkan studi tingkat sarjana di perguruan tinggi terakreditasi di Indonesia
  4. Memperlihatkan kualitas kepemimpinan atau potensi kepemimpinan di masa depan
  5. Memiliki rekor akademik yang baik
  6. Membutuhkan dukungan finansial untuk melanjutkan studi
  7. Mengisi formulir lamaran dan dokumen-dokumen pendukung

Informasi selengkapnya (termasuk formulir pendaftaran) dapat dilihat pada halaman beasiswa ILF.

(brk/*)