Posts Tagged ‘Ekonomi’

Kadin Jabar Dukung Rosan Roeslani

Friday, May 29th, 2015

Bandung, NIASONLINE – Setelah mendapatkan dukungan para pimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dari 13 Provinsi di Indonesia Timur, pengusaha muda nasional Rosan Perkasa Roeslani kembali mendapatkan dukungan dari Kadin Jawa Barat untuk maju sebagai Calon Ketua Umum Kadin Indonesia (2015 – 2020).

Pada Kamis (28/5/2015), Rosan Roeslani dan rombongan hadir di Bandung untuk menghadiri undangan silaturahmi Kadin Jawa Barat. Dalam sambutannya, Ketua Kadin Provinsi Jabar Agung Suryamal menyatakan Kadin mempunyai peran informal untuk menjadi perekat antar pengusaha. Untuk itulah Kadin membutuhkan sosok yang bersahabat, terbuka, memiliki jaringan yang luas dan kematangan.

“Kita perlu tokoh yang bisa menjadi perekat, yang memiliki jaringan luas dan bisa menyatukan kita dengan kematangannya, supaya tidak muncul lagi kadin-kadin tandingan. Itu saya lihat dalam diri Rosan, orang yang sudah cukup lama saya kenal,” ujar Agung Suryamal di Bandung.

Agung juga memberikan kredit bagi Chairman Recapital Advisors. Menurutnya, Kadin perlu memelopori kemandirian ekonomi nasional. Ketergantungan yang besar pada produk, SDM, hingga investasi asing perlu diminimalisir.

“Dari prasyarat ini, saya melihat salah satu calon yang bisa diandalkan untuk memimpin Kadin ke depan adalah Rosan,” ungkap Agung.

Ia yakin Rosan bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk mendorong masyarakat mencintai produk dalam negeri. Langkah ini sebagai titik awal untuk mewujudkan kemandirian nasional.

Erwin Aksa yang hadir dalam silaturahmi ini juga ikut memuji sohibnya sebagai seorang entrepreneur ulung. Menurut Erwin, selain keunggulan network dan kematangan sebagai pengusaha, Rosan merupakan tokoh yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas untuk menjadi seorang pemimpin. “Karena itulah saya lah yang pertama mendorong Bang Rosan untuk maju sebagai Ketua Umum Kadin,” ulas Erwin.

Menanggapi undangan ini, Rosan dalam sambutannya menyatakan rasa terima kasih atas apresiasi yang diberikan. Dia menyatakan bahwa perlu terjadi reorientasi dalam paradigma ekonomi nasional. Ketergantungan yang besar pada produk komoditas telah mengakibatkan ekonomi Indonesia rentan terhadap krisis. “Semua negara maju perlu didukung industri-manufaktur yang kuat sebagai basisnya. Komoditas sangat fluktuatif dan rentan terhadap goncangan ekonomi. Itulah yang menyebabkan kondisi ekonomi saat ini melemah. Kita lama terlena pada harga komoditas yang tinggi sehingga lupa membangun industri,” papar Rosan.

Silaturahmi berlangsung dalam suasana dialog-diskusi. Hadir dalam diskusi ini para ketua Kadin Kabupaten/Kota se-Jawa Barat serta ketua asosiasi-asosiasi pengusaha se-Jawa Barat.

Sebagaimana diketahui, periode kepemimpinan Suryo Bambang Sulisto sebagai Ketua Kadin akan berakhir pada September 2015.

(ak/brk*)

Ini Harga Resmi LPG 12 Kg di Kepulauan Nias

Friday, January 10th, 2014

NIASONLINE, JAKARTA – Menyusul revisi kenaikan harga LPG nonsubsidi ukuran 12 kilogram (kg), Pertamina menetapkan harga jual baru untuk kabupaten/kota di Provinisi Sumatera Utara (Sumut). (more…)

MK Bebaskan Petani Dari Jerat Pidana Pemuliaan Benih

Friday, July 19th, 2013

Petani | linckiara.blogspot.com

Petani | linckiara.blogspot.com

NIASONLINE, JAKARTA – Kabar baik bagi para petani, khususnya perorangan petani kecil. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) kemarin, Kamis (18/7/2013) meloloskan mereka dari jerat pidana akibat mengembangkan bibit plasma sendiri.

Hal itu sebagai jawaban atas gugatan uji materi (judicial review) atas UU 12/1992 tentang sistem budidaya tanaman. Dalam perkara nomor 99/PUU-X/2012 tersebut, MK mengabulkan sebagian gugatan para pemohon.

“Dalil para Pemohon terbukti dan beralasan menurut hukum untuk sebagian,” ujar Ketua MK M. Akil Mochtar dalam sidang pengucapan putusan, di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta, Kamis (18/7/2013).

Adapun para pemohon dalam perkara ini adalah sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli dengan nasib petani.

Mereka adalah Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (FIELD), Aliansi Petani Indonesia (API), Yayasan Bina Desa Sadajiwa (Bina Desa), Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Perkumpulan Sawit Watch, Serikat Petani Indonesia (SPI), dan Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA). Dua pemohon lainnya adalah petani. Yakni, Kunoto dan Karsinah.

Dalam putusannya, MK mengatakan, frasa “perorangan” dalam Pasal 9 ayat (3) Sistem Budidaya Tanaman tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “dikecualikan untuk perorangan petani kecil”.

Pasal itu sebelumnya berbunyi, “Kegiatan pencarian dan pengumpulan plasma nutfah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum berdasarkan izin.”

Kini, MK membuat perubahan dengan menambahkan norma baru ‘kecuali untuk perorangan petani kecil’sehingga bunyi ayat itu kini menjadi, “Kegiatan pencarian dan pengumpulan plasma nutfah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum berdasarkan izin kecuali untuk perorangan petani kecil’.

Dengan putusan itu, maka petani bisa bebas mengembangkan benih secara mandiri tanpa harus berbadan hukum dan kewajiban mendapatkan izin dari pemerintah. Sebelumnya, merujuk pada regulasi itu, sejumlah petani di berbagai daerah harus berurusan dengan hukum dan divonis di pengadilan. Regulasi itu dinilai berpihak dan menguntungkan pengusaha dan perusahaan benih.

Dalam penjelasan putusan, Hakim Konstitusi Muhammad Alim mengatakan, kegiatan pencarian dan pengumpulan plasma nutfah yang dilakukan oleh badan hukum memang harus berdasarkan izin. Alasannya, tindakan yang dilakukan badan hukum bisa berdampak serius bagi petani. Terutama bila ternyata hasilnya tidak baik atau kurang dari yang seharusnya atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali.

Sebaliknya, karena hidupnya bergantung pada pertanian, tidak mungkin bahkan mustahil bagi petani melakukan sesuatu yang merugikan diri mereka sendiri.

“Lebih dari itu, sebagai petani kecil warga negara Indonesia, Pemerintah malah berkewajiban, antara lain, untuk memajukan kesejahteraan umum, harus membimbing dengan melakukan pendampingan kepada mereka, bukan malahan mempersulit mereka dengan keharusan mendapat izin,” tegas dia.

Dia juga mengatakan, seharusnya petani kecil berkontribusi melalui pencarian dan pengumpulan plasma nutfah semenjak lama sehingga mereka layak disebut sebagai pelestari. Sebab, dengan proses itu para petani sebenarnya telah memilih varietas tertentu yang menguntungkan.

Karena itu, jelas dia, pemerintah justru harusnya wajib melindungi petani, termasuk bila melakukan upaya mendapatkan varietas atau benih yang baik. Pemerintah harus memberikan pendampingan untuk membimbing mereka sejak dini supaya kegiatan mereka memeroleh hasil yang baik. Pada proses akhirnya, pemerintah tinggal memberikan sertifikasi saja.

“Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, menurut Mahkamah ketentuan Pasal 9 ayat (3) Undang-Undang a quo bertentangan dengan konstitusi sepanjang tidak dimaknai bahwa izin dimaksud tidak berlaku bagi perorangan petani kecil yang melakukan kegiatan berupa pencarian dan pengumpulan plasma nutfah untuk dirinya maupun komunitasnya sendiri,” jelas Alim.

MK juga menilai, peredaran varietas hasil pemuliaan oleh perorangan petani kecil tidak harus diatur oleh pemerintah sebagaimana varietas yang diimpor. Sebab, para petani kecil itu hidup dari pertanian dan tidak mungkin atau mustahil mensabotase pertanian. Bila melakukan hal itu, makia sama saja dengan sabotase terhadpa kehidupan sendiri.

Alim menambahkan, perorangan petani kecil pada umumnya justru mewarisi atau memiliki kearifan lokal di sektor pertanian yang dapat ditumbuhkembangkan untuk ikut memajukan sektor pertanian. (EN/*)

Pemkab Nias Tender Pengadaan Bibit Karet Senilai Rp 2,36 Miliar

Friday, July 12th, 2013

Bibit Karet | galuhlestarimandiri.blogspot.com

Bibit Karet | galuhlestarimandiri.blogspot.com

NIASONLINE, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Nias menggelar tender pengadaan bibit karet okulasi dengan total nilai sekitar Rp 2,36 miliar.

Berdasarkan informasi tender yang dipublikasikan melalui LPSE Gunungsitoli, terdapat dua item tender bibit karet yang tawarkan. (more…)

Bagian 2 dari 3 tulisan
Mafia Berkeley, Sekali Lagi

Sunday, March 11th, 2012

Oleh Ari Perdana*

Prof. Widjojo Nitisastro (Foto: Istimewa)

Selain Harrod dan Domar, literatur lain yang cukup berpengaruh di periode itu adalah karya Walt Rostow, Stages of Growth: a Non-Communist Manifesto, yang terbit di tahun 1960, menjelang Widjojo menyelesaikan studi. Rostow menulis, ada lima tahapan modernisasi, dari masyarakat tradisional, persiapan tinggal landas, periode tinggal landas, tahap menuju kematangan, dan era konsumsi massal. Akumulasi investasi adalah kunci bagi sebuah negara untuk bisa pindah dari satu tahap ke tahap lainnya. (more…)

Warga Keluhkan Penurunan Drastis Harga Karet

Wednesday, November 30th, 2011

Petani Sedang Menderes Karet/Antara

JAKARTA, NIASONLINE – Sejumlah warga di Kabupaten Nias Selatan mengeluhkan penurunan drastis harga karet di wilayah itu. Penurunan harga itu dinilai makin mempersulit keadaan ekonomi mereka, apalagi menjelang akhir tahun dimana harga barang justru melambung. (more…)

Nias Menggeliat

Saturday, June 25th, 2011

Atraksi Famadaya Harimao pada Bawömataluo 2011 (Foto: Etis Nehe/www.niasonline.net)

Oleh: Heru Hendratmoko

KBR68H (24/6/2011) – Pernah menjadi destinasi wisata alternatif, selain Bali, Pulau Nias sempat terpuruk selama lebih dari sepuluh tahun. Hamparan pantai yang indah, beragam seni tradisi yang memukau tak mampu membuat pesona Nias bertahan lama. (more…)

Faktor-Faktor Penyebab Keterbelakangan dan Kemiskinan Masyarakat Nias

Friday, February 6th, 2009

Catatan Redaksi: Tulisan ini pertama kali muncul di majalah Media Warisan Edisi no. 11, Desember 2000, setahun sebelum Nias dilanda banjir, kurang setahun menjelang pemilihan Bupati Periode 2001-2006, dan hampir lima tahun sebelum terjadi gempa Maret 2005. Menyambut pemekaran Nias menjadi 4 kabupaten dan 1 kota, tulisan lama ini (yang telah berumur delapan tahun lebih) masih cukup relevan untuk disimak dan karenanya ditayangkan kembali di Nias Online. (more…)

Liputan Lebaran (7) – Habis

Thursday, November 30th, 2006

KENAPA HARUS MENCINTAI NIAS KITA?
Oleh: Ilham Mendröfa
Penulis menuliskan tema ini sebagai epilog dari tulisan ini. Penulis memahami bahwa Nias ini dalah pulau yang indah, masyarakatnya unik dan mempunyai potensi untuk bangkit berkembang. (more…)

BRR Nias: Harapan Masyarakat Nias Untuk Bangkit Maju

Sunday, November 26th, 2006

*Dari Liputan Lebaran Nias 2006 (5)

Ilham Mendröfa

Sejak kecil penulis bertanya-tanya mengapa pendopo bupati Nias dibuat terbuka? Benarkah asumsi guru sejarah SMP penulis bahwa masyarakat Nias berfikiran terbuka, sangat ramah dengan tamu, dan terbuka dengan perubahan-perubahan ? Tentu saja perubahan yang dimaksud adalah perubahn positif, perubahan yang berakhlak dan mensejahterakan. (more…)

Liputan Lebaran Nias 2006 (5)

Sunday, November 26th, 2006

BRR NIAS: HARAPAN MASYARAKAT NIAS UNTUK BANGKIT MAJU
Oleh: Ilham Mendröfa

Sejak kecil penulis bertanya-tanya mengapa pendopo bupati Nias dibuat terbuka? Benarkah asumsi guru sejarah SMP penulis bahwa masyarakat Nias berfikiran terbuka, sangat ramah dengan tamu, dan terbuka dengan perubahan-perubahan ? Tentu saja perubahan yang dimaksud adalah perubahn positif, perubahan yang berakhlak dan mensejahterakan. (more…)

Liputan Lebaran Nias 2006 (4)

Friday, November 24th, 2006

GUNUNGSITOLI YANG KEMBALI MENGGELIAT (2)
Oleh: Ilham Mendröfa

Kenangan yang hilang itu bukan hanya Lagundi (lih. tulisan terdahulu). (more…)

Liputan Lebaran Nias 2006 (3)

Wednesday, November 22nd, 2006

GUNUNG SITOLI YANG KEMBALI MENGGELIAT (1)
Oleh: Ilham Mendröfa

Penulis sempat berkeliling pasar, mulai dari pasar Beringin, pasar Nou, pasar Gomo, terminal dan jejeran toko di Jl. Sirao – Jl. Diponegoro. Penulis memang tidak melakukan survei mendalam tentang berapa nilai transaksi dari setiap pasar atau pusat perbelanjaan tersebut. Akan tetapi padatnya pengunjung beberapa pasar tersebut bisa memberikan gambaran sekilas kepada penulis, bahwa populasi masyarakat yang bisa mengkses pasar semakin tumbuh.

(more…)

Liputan Lebaran Nias 2006 (2)

Monday, November 20th, 2006

GEMA TAKBIR IDUL FITRI DI NIAS
Oleh: Ilham Mendröfa

Di Nias, seperti halnya di derah lain Indonesia, juga ada perbedaan jatuh tanggal Idul Fitrinya. Tetapi perbedaan itu mampu dimaknai sebagai rahmat sehingga tidak ada hal yang merusak tatanan dan nilai-nilai suci Lebaran di Nias tahun ini. (more…)

Liputan Lebaran Nias 2006 (1)

Saturday, November 18th, 2006

PENGANTAR
Oleh: Ilham Mendröfa

Penulis memutuskan untuk lebaran Idul Fitri di Nias tahun 2006. Jauh-jauh hari kami sekeluarga mempersiapkan kelengkapan perjalanan pulang. Satu bulan sebelum keberangkatan, persis menjelang puasa Ramadhan, penulis menghubungi travel langganan. Penulis dikonfirmasi: tiket Jakarta-Medan dan Jakarta-Padang untuk H-3 habis. Yang tersisa adalah tiket dengan harga satuan Rp. 1.200.000/orang.

(more…)