Archive for October, 2014 | Monthly archive page
Jokowi Umumkan Menteri Kabinet Kerja, Yasonna H. Laoly Jabat Menkumham
Sunday, October 26th, 2014Bandar Udara Binaka Gunungsitoli
Sunday, October 26th, 2014Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*
BINAKA, merupakan nama salah satu Bandar Udara di Indonesia. Dimana itu? Bandar udara nan jauh di sebelah barat Indonesia yaitu Pulau Nias.
Pulau Nias terletak di sebelah barat Sumatera, yang berbatasan dengan Lautan Hindia (lautan yang banyak pencuri ikannya dan mungkin bentuk kriminal yang lain). Bandar Udara Binaka terletak di kecamatan Gunungsitoli, Sumatera Utara yang berlokasi di Jl. Pelabuhan Udara Binaka Km.19,5 Gunungsitoli.
Menurut Walikota Gunungsitoli, panjang landas pacu 1.800 m dan direncanakan akan diperpanjang menjadi 2.300 m. Jadi ada tambahan panjang landas pacu 500 m. Pertanyaannya adalah mengapa tidak ditambah 1.000 m sekalian sehingga panjang landas pacu menjadi 2.800 m?
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan apabila panjang landasan menjadi 2.800 m, antara lain: 1. Bisa didarati pesawat-pesawat berbadan lebar dengan mantap seperti Boeing dan Airbus; 2. Pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Binaka; 3. Kegiatan pariwisata Kepulauan Nias cepat berkembang; 4. Jalur penerbangan dalam negeri bisa cepat berkembang di Kepulauan Nias, baik pesawat-pesawat dari Sumatera, Batam, Jawa, Bali, dan Lombok.
Nah, apabila jalur penerbangan dalam dan luar negeri bisa cepat berkembang di Binaka Gunungsitoli, lalu lintas manusia menjadi semakin banyak yang melewati Pulau Nias. Semakin banyak manusia menginjakkan kaki di bumi Pulau Nias, akan berdampak banyak pada kondisi ekonomi masyarakat yang berkembang cepat dan bertambahnya penerimaan yang mengisi kantong-kantong pemerintah daerah dalam bentuk pajak dan uang retribusi lainnya.
Dengan demikian rencana untuk menambah landas pacu pesawat di Binaka, jangan dibuat tanggung tetapi sekalian mantap sehingga dampaknya menjadi terasa bagi perkembangan pariwisata Kepulauan Nias ke depan. Jadi sekali dayung, bisa melewati beberapa pulau he he.
Penambahan lebar dan panjang landas pacu pesawat di Binaka Gunungsitoli sangat menarik dan sangat penting dilakukan. Apalagi penambahan landas pacu tersebut sudah disetujui Pemerintah Pusat melalui Menteri Perhubungan EE Mangindaan pada tahun 2013. Ini sebuah peluang emas bagi Kepulauan Nias untuk cepat keluar dari sebutan ‘daerah tertinggal’.
Tugas yang diemban dan diamanahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota Nias yaitu untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam memainkan segala upaya menuju Kepulauan Nias yang bermasadepan cerah. Tugas ini memang tidak mudah tetapi kalau disertai jiwa wirausaha pada level kepala daerah dan kepala SKPD, kita percaya bahwa bisa dilakukan.
Mengenai tambahan pembangunan landas pacu pesawat di Binaka, mungkin yang perlu diperhatikan yaitu masalah caring (perhatian) pada kebutuhan para penumpang pesawat. Seperti halnya Bandara Changi di Singapura, masalah caring menjadi perhatian utama dari yang membangun bandara Changi termasuk pemerintahannya. Semua ini dilakukan sebagai upaya memberikan kepuasan bagi para penumpang yang takeoff dan landing di Bandara Changi.
Apa saja bentuk caring yang ditampilkan pada Bandara Changi Singapura?, antara lain food court, tempat bermain anak, fasilitas Wi-Fi, enam taman terbuka, kamar hias bagi wanita, business centre, supermarket, bioskop 24 jam gratis bagi penumpang, gerai ritel, area tidur 24 jam, tempat ibadah, kolam renang, dan yang lain.
Bagaimana gambaran pembangunan dan pengembangan bandara Binaka di Gunungsitoli? Dapatkah perihal caring dapat dibangun di Binaka meskipun hanya sebagian dulu, sedang yang lain menyusul? Yang utama di sini adalah telah dibuat maket pembangunan Bandar udara Binaka terlebih dahulu, sedang pembangunannya bisa dilakukan secara bertahap.
Melalui informasi yang disampaikan Walikota tahun 2013 yang lalu dan Bupati Kabupaten Nias belum lama ini, bahwa akan diperpanjang landas pacu pesawat di Binaka. Terpampang banyak harapan bahwa Kepulauan Nias segera bangkit. Kita membayangkan bahwa ombak di Sorake dan Lagundri, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, akan segera dipenuhi para peselancar dari dalam dan luar negeri.
Bahkan mungkin pemerintah daerah akan mengagendakan iven dengan menyelenggarakan lomba selancar atau lomba perahu layar tingkat internasional di Kepulauan Nias setiap tahun. Wah kalau ini terjadi tentu kita semua sangat bangga menjadi ‘Ono Niha’ (orang Nias).
Menurut Nias Bangkit.Com edisi 11 Mei 2013, beberapa wisatawan yang datang di Kepulauan Nias mengakui bahwa ombak laut di Kepulauan Nias masih yang terbaik di dunia. Ombak di Kepulauan Nias lebih bagus daripada Bali.
Mengapa? Karena ombak laut di Kepulauan Nias, ombaknya besar, tinggi, dan terus-menerus. Pengakuan mereka memang sebuah fakta yang ada di Kepulauan Nias. Apalagi bila ditambah keunikan lain, yang telah dimiliki oleh Kepulauan Nias seperti atraksi lompat batu, tari maena, tari moyo, dan batu megalith yang terletak di Gomo dan di Desa Lasara Kecamatan Botomuzoi, Desa Hiliweto dan Lahemo Kecamatan Gido. Tentu berbagai hal yang unik dan hanya terdapat di Kepulauan Nias, serta didukung hadirnya perpanjangan landas pacu pesawat di Binaka, tentu akan meningkatkan jumlah lalu lintas manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias.
Semakin banyak manusia yang berkunjung di Kepulauan Nias, tentu dampaknya banyak. Dampak positifnya yaitu terjadinya perputaran uang yang tinggi di Kepulauan Nias. Perputaran uang yang banyak di Kepulauan Nias bersumber dari para pengunjung yang datang di Kepulauan Nias. Mulai dari pengeluaran wisatawan untuk penginapan, makan, transportasi lokal, pemandu wisata (tour guide), warung makan/restoran, retribusi masuk objek dan daya tarik wisata, sampai pengeluaran untuk beli oleh-oleh, baik berupa makanan maupun berupa souvenir.
Dampak lain yaitu semakin banyak investor yang masuk di Kepulauan Nias untuk berinvestasi pada berbagai peluang usaha yang muncul berkaitan dengan lalu lintas manusia yang semakin maningkat di Kepulauan Nias. Investor tidak perlu dicari atau diundang, tetapi mereka datang sendiri.
Investor yang telah berjiwa wirausaha selalu mencari dan mencari berbagai peluang yang akan terjadi di masa yang akan datang di Kepulauan Nias. Apa masih ada dampak lain? Tentunya masih banyak seperti memunculkan jiwa wirausaha pada orang-orang Nias di wilayah Kepulauan Nias berkenaan dengan banyaknya pertemuan antara yang berkunjung dengan yang dikunjungi.
Melihat perkembangan yang mungkin terjadi ke depan, maka Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota tentu mulai menyiapkan diri menyongsong perubahan-perubahan yang akan terjadi di Kepulauan Nias. Penyiapan diri yang dimaksud berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang akan segera dikeluarkan berkenaan dengan kondisi ini. Kondisinya adalah Kepulauan Nias merupakan ‘Balinya Sumatera’, sebagai tujuan wisata utama di Kawasan Barat Indonesia. Atau sesuai informasi yang dipercaya, bahwa Kepulauan Nias sekarang sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN).
Kepulauan Nias sebagai KSPN, tentu banyak hal yang akan disiapkan antara lain, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang akan bekerja pada sektor pariwisata, penyiapan satu pintu bagi pengurusan izin bagi investor, penyiapan rencana tata ruang wilayah (RTRW) baik di sekitar ibu kota Kabupaten dan Kota, ibu kota kecamatan dan di sekitar objek dan daya tarik wisata. Penyiapan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat juga perlu disiapkan dalam upaya menyongsong lalu lintas manusia yang akan semakin banyak di Kepulauan Nias, termasuk juga penyiapan lokasi terminal utama dan terminal-terminal penunjang (satelit) untuk mengantisipasi mobilisasi manusia dari daerah tertentu ke daerah lain di Kepulauan Nias.
Berkaitan dengan kesiapan-kesiapan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota untuk menghadapi perubahan-perubahan ini, kita berharap bahwa Beliau-beliau itu sudah memasang kuda-kuda untuk itu. Artinya, sekali serang musuh langsung jatuh. Sekali bertindak, manfaat yang akan diterima warga masyarakat menjadi nyata, hidup semakin baik.
Bagaimana sebaiknya pembangunan landas pacu pesawat di Binaka dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota, tentu diperlukan pemikiran-pemikiran yang positif dari Bapak/Ibu/Saudara sekalian. Anda berpendapat berarti Anda mendulang emas yang akan Anda kirim (berikan) di Kepulauan Nias tercinta.
*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.
Giagia: Keinginan, Kemauan, atau Hobi ?
Wednesday, October 22nd, 2014E. Halawa
Pada halaman ‘Percakapan Sehari-hati Bahasa Nias’ di Ensikopedia Nias [1], terdapat tautan ke sebuah blog [2]. Di blog [2] itu, kita menemukan beberapa kalimat bahasa Nias berikut:
1. Ya’o toröi ba Gunungsitoli
2. Ya’o omasi manunö.
Kalimat pertama, walau bukan struktur yang lazim dalam Li Niha (setidaknya dalam varietas Utara), diartikan secara benar: Saya tinggal di Gunungsitoli – I live in Gunungsitoli.
Kalimat ke 2 diartikan: Hobi saya bernyanyi – I like singing.
Agaknya bukan itu artinya. Ya’o omasi manunö, yang juga mengikuti struktur kalimat yang tak lazim (seperti kalimat 1), yang kalau dalam diubah ke struktur yang lazim – Omasido Manunö – sebenarnya berarti:
Saya ingin bernyanyi (I want to sing) …
Dalam kalimat ini, bernyanyi belum tentu merupakan hobi saya. Saya mungkin ingin bernyanyi karena diajak teman dalam sebuah pesta.
***
Lantas apa bahasa Nias dari: ‘Hobi saya bernyanyi?’
Sebenarnya, dengan sedikit modifikasi, pengertian hobi bisa kita hasilkan sebagai berikut:
Omasi-masido ŵanunö [3,4] – Saya senang bernyanyi – I like singing, artinya kurang lebih.
Akan tetapi sebenarnya ada satu kata yang langsung bisa diartikan ‘hobi’, yaitu giagia.
Giagiara ŵanunö (Hobi mereka bernyanyi).
Giagiara ŵagaisa (Hobi mereka memancing).
***
Dalam Kamus Nias-Indonesia susunan Laiya dkk [5] ada entri: gia, giagia yang diartikan: keinginan, kemauan. Laiya dkk [5] memberi contoh pemakaian giagia dalam kalimat sebagai berikut:
– wö we’amöi ba fasa andrö [6, 7],
yang diartikan:
Kepergian ke pasar itu memang kemauannya. (Garis miring dari penulis artikel ini).
Terlihat, bahwa pengertian giagia dalam kamus Laiya dkk [5] adalah keinginan atau kemauan, bukan hobi yang berarti: kegiatan yang dilakukan untuk tujuan pencapaian kesenangan. Contohnya: hobi filateli, hobi musik, hobi memancing, dsb.
Penulis, sebagai seorang petutur Li Niha varietas Utara, berbeda pendapat dengan Laiya dkk [5] dalam hal ini. Setahu saya, dalam Li Niha varietas Utara, giagia itu adalah aktivitas yang disukai, ingin dilakukan berulang-ulang. Intinya, giagia adalah hobi.
Ada beberapa contoh lain dalam Li Niha varietas Utara.
Böi sofu khönia hadia omasi ia möi fagai; giagiania khöu da’ö – Jangan tanya padanya apakah ia ingin pergi memancing; itu hobinya.
Böi bali’ ö giagiau ŵasöndrata, tenga asökhiwa – Jangan jadikan perkelahian sebagai hobi; bukan hal yang baik.
***
Apakah giagia bisa disingkat menjadi gia? Sepengetahuan saya, giagia adalah kata ulang semu; sama seperti biri-biri, kupu-kupu, gado-gado dalam bahasa Indonesia atau hunahuna (sisik) atau haruharu (pundak, bahu) dalam Li Niha.
Rujukan – Catatan:
- Ensiklopedia Nias – ononiha.org.
- Percakapan Sehari-hari Bahasa Nias (1) – http://anggiverlita.wordpress.com/2013/03/20/percakapan-sehari-hari-bahasa-nias-1/
- Penggunaan karakter ŵ dan w dalam tulisan ini mengikuti kaidah baru yang dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “W-w†dan “Ŵ-ŵ†Dalam Li Niha.
- Cara menulis karakter ö dibahas dalam tulisan berikut: Karakter “ö†Dalam Li Niha.
- SZ Laiya, S Zagoto, H Laiya, S Zagoto, A Zagoto, 1985: Kamus Nias – Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
- Tanda – di depan kalimat ini adalah substitusi entri yang mau dijelaskan itu; dalam hal ini: gia atau giagia.
- Laiya dkk [5] masih menggunakan cara lama penggunaan karakter ŵ dan w – bandingkan dengan [3].
Bangsa Indonesia Menyambut Kepemimpinan Baru
Monday, October 20th, 2014Hari ini, Ir Joko Widodo (Jokowi) dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK) dilantik masing-masing menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk periode 2014-2019.
Seperti pada peristiwa-peristiwa penting nasional sebelumnya, terutama sejak babak baru demokrasi yang dimulai semenjak peristiwa Reformasi 1998, rakyat Indonesia kembali berharap, bermimpi, berangan-angan, dan berdoa kiranya kehadiran kepemimpinan baru melahirkan juga Indonesia Baru.
Indonesia Baru itu adalah konsep ideal yang di dalamnya tercakup segala macam harapan luhur seluruh rakyat Indonesia dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kita menyebut beberapa di antaranya. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, terwujudnya kehidupan bangsa yang harmonis di mana rasa aman menjadi milik semua, suasana saling menghargai dan menghormati semakin merasuk ke dalam kesadaran batin, sikap dan perilaku dari bangsa yang memang datang dan dibentuk oleh keberagaman.
Dalam bidang hukum, terwujudnya suasana psikologis yang nyaman karena setiap insan dan kelompok merasa diayomi secara hukum, hak-hak dan kewajibannya dilindungi dan dijamin, karena di depan hukum dalam Indonesia Baru itu semua orang sederajat.
Di bidang sosial ekonomi, semakin meningkatnya persentase masyarakat yang hidup secara layak dan manusiawi yang dicapai melalui program-program pro-rakyat. Juga terjaminnya kebutuhan-kebutuhan fisik mendasar di bidang kesehatan, energi, air, pangan dan papan.
Di level internasional, cita-cita ideal ‘Indonesia Baru’ itu didekati apabila Indonesia semakin dihargai di mata dunia, didengar dan ditanggapi secara serius suaranya dalam forum-forum dunia, makin berperan dalam percaturan politik dunia, termasuk dalam rangka mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih berkeadilan, aman dan damai.
Sebenarnya tiada hal yang baru dalam cita-cita dan idealisme Indonesia Baru itu. Idealisme dan cita-cita Indonesia Baru itu telah dirumuskan jauh sebelumnya oleh para pendiri bangsa ini.
Kalau kini kita melabelnya kembali sebagai cita-cita dan idealisme Indonesia Baru, maka tujuannya tiada lain adalah untuk mencoba menyegarkan kembali ingatan kita akan idealisme awal itu, tepat di saat bangsa Indonesia menyambut kehadiran kepemimpinan barunya.
***
Ada hal yang melegakan, menyegarkan dan membesarkan hati pada pelantikan Presiden dan Wakil Presiden hari ini, yang menandai tradisi baru dalam peralihan kepemimpinan nasional.
Sepanjang ingatan kita, baru kali inilah sebuah upacara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden dihadiri secara lengkap oleh para mantan presiden yang masih hidup, dan juga istri mantan presiden almarhum Aburrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur.
Beberapa hari sebelumnya, presiden terpilih Joko Widodo bertemu dengan Prabowo Subianto, pesaingnya dalam Pilpres 2014, dalam suasana penuh keakraban.
Kedua peristiwa ini menandai awal dari kematangan berdemokrasi bangsa Indonesia.
***
Harus diakui, Pilpres 2014 merupakan pilpres ‘terhangat’ dalam sejarah demokrasi Indonesia.
Teknologi komunikasi modern telah menghadirkan berbagai bentuk sarana untuk menyebarluaskan informasi dalam intensitas tinggi dengan kecepatan luar biasa yang tak pernah kita alami atau saksikan sebelumnya.
Sebagaimana biasa, fenomena ini menghadirkan kepada kita informasi, baik yang utuh maupun yang terdistorsi. Seringkali, ketidakmampuan kita memilah secara kritis informasi yang benar, baik, dan perlu, merangsang meningkatnya kadar irasionalitas kita.
Dan ketika irasionalitas telah membajak kesadaran kita, maka kita biasanya malah menyulutnya dengan irasionalitas baru: ikut mendistorsi informasi itu dan berperan menyebarkannya.
Irasionalitas itu kita pertontonkan dalam berbagai bentuk: menyebarkan informasi tendensius dan provokatif yang datang dari sumber yang diragukan kredibilitasnya, memanfaatkan kepiawaian kita untuk menciptakan ‘karikatur’ fisik para calon pemimpin kita di luar batas kewajaran, beradu argumen secara irasional, dan … memutuskan relasi ‘pertemanan’ terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengan kita.
Maka, tidak mengherankan bahwa selama masa kampanye Pilpres 2014, lebih dari masa-masa kampanye Pilpres sebelumnya, bangsa ini seakan terbelah dua – mengikuti kubu Pilpres mana yang diidolakan.
Singkat kata, masa kampanye Pilpres hingga beberapa waktu menjelang dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden baru hari ini adalah: masa demam, masa menggigil, masa di mana ‘suhu badan’ bangsa Indonesia meninggi. Dan seperti biasa, jiwa yang terkurung dalam badan yang sedang mengalami demam bisa mengingau.
Sempat muncul semacam kekuatiran: bisakah ‘suhu badan’ bangsa ini turun kembali? Sebuah kekuatiran yang beralasan, karena demam kali ini ‘tidak biasa’.
Hari ini, ‘suhu badan’ bangsa ini telah normal kembali, berkenaan dengan hadirnya kepemimpinan baru di Indonesia. Kepemimpinan yang mudah-mudahan mulai merealisasikan cita-cita dan idealisme Indonesia Baru.
Hari ini, imunitas bangsa ini dari rongrongan berbagai demam irasionalitas telah meningkat. Itu telah diperlihatkan oleh suasana damai dalam gedung rakyat dan di luarnya, dan di seluruh tanah air.
Bangsa Indonesia pernah memiliki Bung Karno dengan ucapannya yang terkenal: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannyaâ€. Ucapan ini kiranya perlu digandengankan dengan kriteria tambahan berikut: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang darinya lahir para pemimpin yang berjiwa besar“. Kriteria terakhir ini kita saksikan secara nyata pada hari ini.
Selamat menyambut kehadiran kepemimpinan baru Indonesia. (eh/*).
Joko Widodo – Jusuf Kalla Resmi Jadi Presiden dan Wakil Presiden
Monday, October 20th, 2014Penanggulangan Kabut Asap Membutuhkan Manajemen Ekstra
Friday, October 17th, 2014Jakarta, Nias Online – Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menekankan agar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan tiga kementerian yang turut berperan dalam penanggulangan kabut asap untuk menerapkan manajemen ekstra, yang ukuran performansinya ialah kecepatan dan ketepatan sesuai dengan tuntutan keadaan, mengutamakan penyelamatan jiwa manusia, serta koordinasi dan keterpaduan berbagai sektor yang saling mendukung.
“Sekarang bencana asap, sebelumnya bencana gunung api Sinabung. Penanganan bencana harus extra management. Normal saja harus dimenej pas, apalagi kalau bencana. Kenapa kami membuat acara ini karena persoalan ini menyangkut hidup orang banyak di daerah,†ujar Parlindungan Purba, Senator asal Sumatera Utara, yang juga Ketua Komite I DPD dalam rapat kerja (raker) dengan BNPB di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/10) dalam rilis dari Bidang Pemberitaan dan Media Visual DPD RI yang diterima NO.
Sebagai lembaga Pemerintah nonkementerian yang membantu Presiden, maka BNPB yang mengoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan penanganan bencana yang terpadu, baik sebelum, saat, maupun setelah terjadi bencana. Pengkoordinasian perencanaan dan pelaksanaan yang terpadu itu meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan kedaruratan, dan pemulihan.
Kemampuan menanggulangi saat dan setelah bencana bertujuan untuk menangani kondisi kritis. Kondisi kritis saat dan setelah bencana itu dinyatakan sebagai fase tanggap darurat dengan mengutamakan penyelamatan jiwa manusia dan harta bendanya. Fase tanggap darurat membutuhkan penanganan ekstra, terutama mobilisasi dan suplai sumberdaya yang besar dan banyak. Tentunya dibutuhkan manajemen ekstra untuk mengatur atau mengelola sumberdaya dan mengarahkan atau mengendalikan kegiatan menggunakan sumberdaya itu.
Komite II DPD meminta keterangan/penjelasan BNPB tentang penanggulangan bencana yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan seperti kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah. Dalam acara itu, sejumlah senator mengeluhkan kelambanan pemerintah pusat menangani kabut asap. “Pertemuan ini untuk mencari penyelesaian masalah tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan. Tujuannya untuk kami tindak lanjuti,” ujar Parlindungan.
Para senator tersebut berasal dari daerah terdampak kabut asap, seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Bengkulu, dan Jambi. “Kabut asap sudah sangat parah. Jarak pandang di Banjarmasin hanya berjarak 20 meter. Gubernur sudah menyebutkan ada kekecewaan atas lambannya penanggulangan,†ujar Habib Abdurrahman Bahasyim (senator asal Kalimantan Selatan).
Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi menejaskan, BNPB akan mengoptimalkan penanggulangan kabut asap melalui penanganan operasi darat dan udara. “Ketika sudah terjadi eskalasi besar, BNPB akan segera turun tangan dalam penanganan bencana,†jelasnya yang didampingi Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB.
BNPB memperkirakan kabut asap berakhir bulan Oktober-November. Untuk mempercepat penanggulangannya, BNPB berupaya untuk menambah unit yang melakukan operasi udara dengan modifikasi cuaca melalui pengerahan helikopter water bombing dan membuat hujan buatan. Penambahan unit itu di antaranya menambah jumlah pesawat yang pekan ini diberangkatkan menuju titik panas di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Guna menanggulangi kabut asap, Dody menambahkan, BNPB berkordinasi dengan pemerintah pusat, khususnya tiga kementerian yang turut berperan dalam penanganan kabut asap, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Dalam raker, Komite II DPD menekankan rencana untuk membentuk panitia khusus (pansus) bencana kabut asap. Pansus akan meminta kembali keterangan/penjelasan BNPB dan tiga kementerian serta instansi penegak hukum tentang kebijakan penanggulangan bencana yang prioritasnya pengurangan resiko bencana seperti pencegahan, mengurangi dampak (mitigasi), dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Karena kesamaan visi dan misi para pihak, khususnya menyangkut pertukaran data dan informasi, DPD dan BNPB akan menandatangani memorandum of understanding (MoU). Kesepakatan bersama itu menjadi landasan untuk mewujudkan kerjasama antara DPD dan BNPB untuk memberdayakan daerah dalam menanggulangai bencana dalam kerangka desentralisasi (otonomi daerah). (brk/*)
Koreksi dari DPP GPKN
Thursday, October 16th, 2014Yth teman-teman redaksi Niasonline.net,
Mohon maaf atas kekeliruan pengetikan kami atas email yang kami kirim sebelumnya. Kami mengucapkan terima kasih banyak atas dimuatnya surat keberatan kami atas pemberitaan Niasonline.net berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter“.
Surat elektronik yang kami kirim sebelumnya yang berjudul “Keberatan dengan berita Nias Bangkit yang berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter†sebenarnya maksud kami adalah Niasonline.net. Mohon untuk mengoreksi judul tersebut menjadi Niasonline.net, begitu juga di dalam artikel yang masih ada kata “Nias Bangkitâ€. Kami sudah melampirkan koreksi yang benar, silahkan dicek.
Adapun alasan disisipkannya nama “Nias Bangkit†karena memang surat keluhan yang sama kami kirimkan sebelumnya ke Nias Bangkit dengan kata-kata yang hampir sama, namun sampai kini Nias Bangkit belum memuatnya sebagaimana teman-teman redaksi Niasonline.net muat.
Demikian surat koreksi kami ini. Terima kasih atas pengertian, perhatian dan kerjasamanya. Yaahowu!
Salam hangat,
Dellinus Sarumaha, S.H
Ketua DPP bidang Humas
HP: 0812.8105.9305
E-mail: de**************@**kn.org
Catatan Redaksi:
Koreksi DPP GPKN ini kami terima hari ini. Dalam imel yang dikirim dari dp*@**kn.org ini diselipkan juga berita tentang Turnamen Futsal GPKN Cup 2014, namun kami tidak muat di sini.
PKK dan Jajanan Kuno
Wednesday, October 15th, 2014Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*
PADA pertemuan Kemenparekraf dengan seluruh Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias dalam forum workshop Asistensi Penguatan Destinasi Nias, yang dilaksanakan pada tanggal 24-25 April 2014 di Hotel Poenix Yogyakarta, terdengar beberapa informasi mengenai pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Salah satu informasi yang disampaikan Bapak Walikota Gunungsitoli bahwa banyak yang menanyakan tentang kuliner khas Nias. Dan sampai sekarang belum mengetahui apa itu makanan khas asli Nias.
Hal yang diinformasikan di atas memang bukan merupakan hal yang baru. Masih banyak di antara kita yang belum mengetahui mengenai makanan khas Nias. Bahkan Pakar marketing Indonesia Bapak Hermawan Kartajaya juga mengalami kesulitan untuk mengetahui makanan khas Nias. Pada waktu beliau berkesempatan melakukan perjalanan di Kabupaten Nias Selatan, untuk melakukan survey dengan suatu topik tertentu, tidak ada yang tahu tentang makanan khas Nias. Beliau mengatakan bahwa sudah bertanya kepada beberapa orang mengenai makanan khas Nias, tetapi tidak ada yang bisa memberitahu, pada hal beliau ingin sekali mencoba dan merasakan kelezatan makanan khas Nias.
Salah satu pendukung utama dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata di suatu wilayah adalah makanan khas lokal. Seperti halnya di Jogja, makanan khasnya yang sudah sangat terkenal seperti gudeg, bakmi jawa, thiwul, dan bakpia, dari lebih 90 daftar makanan khas Yogyakarta (wisata kuliner Jogja). Jenis makanan khas Jogja itu, sudah cukup terkenal dan banyak diminati para wisatawan yang berkunjung di Jogja. Demikian juga bila kita bepergian di Kota Makassar-Sulawesi Selatan, kita akan menemukan makanan khas Makassar seperti ulu juku, mie kering, sop konro dan konro bakar, pallubasa, pisang ijo dan makanan khas lainnya. Lalu kita pindah dan melihat Kota Banjarmasin-Kalimantan Selatan, makanan khasnya meliputi soto banjar, gangan asam banjar, apam barabai, ketupat kandangan, dan makanan khas lainnya. Contoh-contoh makanan khas daerah di atas, menggambarkan bahwa setiap daerah memiliki makanan khas dan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan, terutama bagi mereka yang suka wisata kuliner.
Nah, kalau kita ingin mengetahui lebih dalam mengenai makanan khas Kepulauan Nias, tentu perlu kita melakukan sesuatu, atau mengusahakan sesuatu kegiatan. Hal-hal yang perlu kita lakukan, tentu sebagai upaya untuk dapat mengetahui apa saja makanan khas Nias itu. Sudah seyogyanyalah kita harus berusaha mengetahuinya, kan malu dunk bila sebagai orang Nias tidak mampu menjelaskan mengenai jenis dan materi dari makanan khas Nias. Melalui makanan khas lokal inilah, seseorang bisa bercerita mengenai rasa dan desain dari suatu jenis makanan khas Nias. Apa hebatnya makanan khas tersebut dan bagaimana rasanya serta makanan itu berasal dari apa dan seterusnya . . dan seterusnya.
Untuk mewujudkan keingintahuan kita pada makanan khas Nias, perlu kita memahami dan melakukan kegiatan ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Sebagai pembanding, mari kita lihat yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal, Jawa Tengah. Demi menjaga kelestarian makanan tradisional sebagai salah satu aset budaya, Pemkot Tegal, menyelenggarakan Festival Jajanan Kuno, yang diikuti 28 peserta, terdiri dari 27 perwakilan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) kelurahan dan 1 perwakilan PKK Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. Festival ini merupakan salah satu upaya melestarikan budaya, karena makanan tradisional merupakan salah satu bagian dari budaya. Apabila tidak dilestarikan, keberadaan makanan-makanan tradisional itu dikhawatirkan akan hilang dan tergerus oleh makanan modern dan cepat saji. Wakil Walikota Tegal mengatakan, Pemkot Tegal akan terus mendukung upaya pelestarian makanan tradisional, antara lain dengan pembinaan melalui PKK. Wakil Walikota yakin bahwa makanan tradisional itu tidak kalah dengan makanan modern jika dikemas lebih menarik (WIE, 2014).
Apa yang timbul di pikiran kita setelah mendalami kegiatan Pemkot Tegal dalam upayanya melestarikan makanan tradisional itu? Mestinya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk dapat menginventarisir berbagai makanan tradisional Nias melalui suatu kegiatan festival. Mungkin kita bisa berikan nama festival itu dengan sebutan “Lomba Pembuatan Makanan Khas Nias, Menyongsong Kepulauan Nias sebagai Destinasi Wisata Utama Nasionalâ€. Apa pun nama yang kita berikan pada festival jajanan khas Nias, tidak menjadi masalah. Yang utama adalah kita bisa mengetahui persis apa saja makanan tradisional Nias itu.
Untuk mengurangi kegalauan hati pada makanan khas Nias itu, saya mencoba menanyakan kepada Mbah Gugel. Ternyata Mbah Gugel cepat sekali memberikan informasi mengenai makanan khas Nias itu. Saudara Gea (2013) menulis beberapa makanan khas Nias itu, antara lain: 1. Harinake, makanan adat tradisional Nias di Nias bagian Utara, dan Nias bagian Barat, yang bersumber dari daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil atau bersumber dari daging ikan dan disajikan untuk menghormati tamu; 2. Ni’owuru, daging babi yang diawetkan dengan menggunakan garam; 3. Gowi nifufu, ubi yang ditumbuk sebagai makanan pokok orang Nias pada zaman dulu ; 4. Lehedalö nifange, daun talas yang direndang sebagai lauk dipesisir pulau Nias; 5. Hambae nititi, daging kepiting yang di campur dengan santan kelapa dimasak sampai kering untuk dijadikan lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 6. Bato hambae, daging kepiting yang telah dibentuk berbentuk bulat lempeng lalu diasapi sampai kering, digunakan sebagai lauk, terdapat di kepulauan Hinako Kecamatan Sirombu; 7. Nami (telur kepiting), digoreng dengan minyak kelapa dan disajikan sebagai lauk; 8. Silio guro, daging udang yang telah digiling dicampur dengan kelapa yang dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api yang digunakan sebagai lauk; 9. Babae, makanan khas adat di Nias Bagian Selatan yang merupakan campuran dari daging babi, kacang hijau, kelapa dan bawang merah untuk menghormati tamu agung, biasanya digunakan sebagai lauk; 10. Kofo-kofo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau – pulau Batu kabupaten Nias Selatan, merupakan daging ikan yang telah dibuang durinya yang dimasak dengan santan kelapa ataupun digoreng biasanya digunakan untuk lauk; 11. Saku nisolo, makanan tradisional di Kecamatan Pulau-pulau Batu Kabupaten Nias Selatan, dari bahan tepung sagu yang telah digongseng dan disirami santan yang digunakan sebagai ganti nasi; dan 12. Dodol durian, makanan tambahan pada musim buah durian di Nias yang hampir bisa ditemukan sepanjang tahun di Nias.
Makanan khas Nias lainnya yang belum disebut, masih ada lho seperti: godo-godo (ubi/singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang ditaburi dengan kelapa yang sudah di parut, rakigae (pisang goreng), tamböyö (ketupat), löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu), gae nibogö (pisang bakar), kazimone (terbuat dari sagu), wawayasö (nasi pulut), dan gulo-gulo farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa) (Wikipedia). Apakah hanya ini saja makanan khas Nias? Barangkali masih banyak yang lain, hanya saja kita sudah pada lupa karena perkembangan zaman.
Nah, supaya kita tahu betul makanan khas Nias, perlu diinventarisir melalui penyelenggaraan kegiatan lomba masakan tradisional Nias yang bisa dilaksanakan oleh Ibu-ibu PKK di bawah bimbingan atau arahan dari Ketua Tim Penggerak PKK dari setiap Kabupaten dan Kota. Biarlah Tim Penggerak PKK yang dipercaya untuk menyelenggarakan Lomba Masakan Tradisional Nias, yang hasilnya, kita bisa mengetahui mengenai aneka macam makanan khas Nias serta bisa dimasukkan ke dalam data base makanan tradisional Nias yang bersumber dari masing-masing Kabupaten dan Kota. Tim Penggerak PKK mitra kerja pemerintah dan organisasi kemasyarakatan yang berfungsi sebagai fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing-masing jenjang demi terlaksananya program pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Dengan kata lain, Tim Penggerak PKK berperan sebagai motivator, fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak, sedang pembinaan tehnis kepada keluarga dan masyarakat dilaksanakan dalam kerjasama dengan unsur dinas instansi pemerintah terkait.
Jadi, apabila kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik di bawah komando para Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias serta pelaksanaan lomba tadi bisa dilakukan setiap tahun, pasti kita punya file tentang aneka macam makanan tradisional Nias. Dan lama-lama kita juga sudah tahu tentang makanan khas Nias. Dengan demikian, apabila ada orang atau para wisatawan yang menanyakan mengenai makanan khas Nias setelah itu, pasti orang-orang Nias sudah tidak ragu-ragu lagi untuk mengatakan bahwa inilah makanan khas Nias. Bahkan orang-orang Nias mungkin sudah merasa bangga untuk menyebutkan makanan khas Nias, karena mungkin makanan khas Nias itu tidak terdapat di Daerah lain.
Kita berharap, dalam waktu yang tidak terlalu lama, pelaksanaan lomba pembuatan makanan tradisional Nias dapat dilaksanakan di setiap Kabupaten dan Kota se Kepulauan Nias. Dan dalam waktu yang tidak teralu lama juga, kita sudah memiliki daftar makanan khas Nias yang mungkin jumlahnya bisa-bisa hampir mendekati jumlah makanan khas di Jogja. Dengan demikian, Bapak-bapak Bupati dan Walikota di Kepulauan Nias, diharapkan sudah memiliki kebanggaan bila bercerita atau menyebut satu per satu mengenai makanan khas di Nias.
*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.
Keberatan dengan berita Nias Bangkit yang berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakterâ€
Tuesday, October 14th, 2014Yang terhormat redaksi Niasonline.net,
Kami keberatan dengan berita Niasonline.net yang berjudul “Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakterâ€. Kami keberatan karena berita tersebut memuat kegiatan GPKN yang diadakan oleh mantan pengurus DPP GPKN yang sebelumnya sudah kami “pecat†lewat pengambil-alihan posisi ketua umum GPKN. Kami beranggapan bahwa kegiatan yang berlangsung di Hotel Mega tersebut hanyalah kepentingan sekelompok orang yang mengatasnamakan DPP GPKN.
Perlu diketahui, bahwa berdasarkan hasil rapat bersama DPP Gerakan Pemuda Kepulauan Nias pada anggal 6 April 2014, berjumlah 9 orang dengan mengambil kesimpulan yang termuat dalam surat keputusan nomor 020/GPKN-KPS/IV/2014 (terlampir).
Berita ini sudah kami publikasikan di website resmi GPKN yakni di http://gpkn.org/blog/2014/04/22/pemberitahuan-kepengurusan-sementara-gpkn dan telah meng-share berita tersebut di media-media sosial Ono Niha.
Selanjutnya pada tanggal 15 Juni 2014 lewat Surat Keputusan bersama Deklarator, BPH dan DPP GPKN dengan nomor 022 /VI/GPKN-KP/2014 memutuskan menunjuk saudara Kristiurman Jaya Mendröfa untuk mengisi posisi sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Kepulauan Nias (GPKN) untuk masa bakti sampai tahun 2017.
Publikasi resmi Ketua Umum GPKN yang baru atas nama Kristiurman Jaya Mendröfa memang belum kami lakukan karena kami ingin “mendeklarasikan†Ketua Umum baru kami kepada publik pada tanggl 12 Oktober 2014 mendatang bersamaan dengan penyelenggaraan “Turnamen Futsal GPKN Cup 2014†diantara pemuda Ono Niha se-Jabodetabek yang akan berlangsung di lapangan futsal Palmerah, Slipi – Jakarta Barat.
Dengan pertimbangan di atas, maka kami sebagai pengurus DPP GPKN yang sah tidak mengakui kegiatan yang diselenggarakan di hotel Mega tersebut. Kami merasa dirugikan dengan kegiatan diskusi tersebut, kami juga merasa dirugikan dengan pemberitaan yang dimuat oleh Nias-bangkit.com.
Kami berharap, Niasonline.net dapat mendengar dan memuat keluhan kami ini agar masyarakat luas bisa mengetahui kronologis yang sebenarnya terjadi atas kepengurusan DPP GPKN yang seolah-olah kini menjadi dua kubu yakni kubu Tobias Duha cs dan kubu Kristiurman Jaya Mendrofa cs. Padahal sebenarnya, “kubu-kubuan†itu tidak ada, karena salah satu pihak telah kami dipecat dan tidak punya wewenang untuk menyelenggarakan acara atas nama GPKN.
Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Yaahowu!
Jakarta, 22 September 2014
Hormat kami,
(Dellinus Sarumaha, S.H)
Diketahui oleh:
Viktor Gulo                                                                                     Kristiurman J. Mendrofa
Sekjen                                                                                                Ketua Umum
Catatan Redaksi:
Redaksi menerima imel bertanggal 22 September 2014 ini pada hari Sabtu 11 Oktober 2014 – sekitar 3 minggu setelah berita berjudul Nias Butuh Pemimpin yang Berkarakter di muat di Nias Online.
Kami menunggu beberapa hari sebelum memuat imel ini untuk memberikan kesempatan kepada pengirim untuk mengoreksi kekeliruan mereka. Sebagaimana terlihat dari judulnya, surat elektronik ini sebenarnya ditujukan kepada “Nias Bangkit” … bukan Nias Online.
12 Oktober, LEAD Center-Nias Gelar Seminar “5 Level Kepemimpinanâ€
Friday, October 10th, 2014Nias Tidak Butuh Pemimpin Jenis NADO dan NATO
Monday, October 6th, 2014Hubungan Antara Rumah Sakit dan Kebutuhan Pasien
Sunday, October 5th, 2014Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*
MENGAPA rumah sakit memiliki hubungan dengan pasien? Ada yang menjawab bahwa terjadinya hubungan itu karena ada yang membutuhkan. Yang butuh pelayanan rumah sakit adalah pasien yang sedang menderita penyakit, pasien ingin sembuh dari penyakitnya, makanya pasien mencari pelayanan rumah sakit atau pelayanan primer di ranah kesehatan yaitu Puskesmas. Tanpa ada yang sakit, maka tidak mungkin terjadi hubungan antara rumah sakit dan pasien.
Jawaban yang lain mengatakan bahwa yang butuh pasien adalah rumah sakit, apalagi sekarang sudah banyak berdiri rumah sakit. Semakin banyak institusi rumah sakit, semakin sulit mendapatkan pasien untuk dilayani, karena itu rumah sakit sekarang mengkedepankan persaingan dalam pelayanan.
Mau buktinya? Sekarang rumah sakit berlomba-lomba untuk mengikrarkan mengenai pelayanan yang diunggulkan di rumah sakitnya. Rumah sakit berlomba-lomba memiliki alat-alat medis yang canggih. Rumah sakit berlomba-lomba untuk lulus dari standar pelayanan secara internasional. Tujuan dari semua kegiatan ini, dalam rangka mengupayakan agar rumah sakitnya mendapatkan daya beda dan daya tarik serta mendapatkan kepercayaan dari calon-calon pasien. Dengan demikian, yang membutuhkan pasien adalah rumah sakit. Kalau tidak ada pasien, maka pelayanan rumah sakit tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu terjadilah hubungan antara rumah sakit dengan pasien.
Jawaban yang lain lagi mengatakan bahwa bila kita belajar sejarah dari beberapa rumah sakit yang telah berdiri sejak zaman Belanda, kita dapat memahaminya bahwa pada mulanya berdiri pelayanan rumah sakit, karena ada keinginan dari seseorang atau beberapa orang untuk memberikan pelayanan bagi warga masyarakat yang sedang menderita penyakit. Orang-orang ini ikhlas menjadikan dirinya sebagai pelayan untuk mengabdi kepada sesama yang membutuhkan kesembuhan dari penyakit.
Dari 3 (tiga) jawaban di atas, kira-kira di mana posisi pelayanan rumah sakit Anda? Apabila kita melihat perkembangan pelayanan rumah sakit sekarang dan dihubungkan dengan hubungannya pada kebutuhan pasien, nada-nadanya hubungan itu kok belum terjawab. Memang berat memposisikan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien.
Ada peribahasa lama Ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Apakah peribahasa ini bisa diterapkan dalam hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien? Mungkin tidak sampai seperti itu, karena pasien yang tidak mampu pun tetap dilayani rumah sakit. Walau ada yang sering mengatakan dalam sebuah kiasan bahwa orang miskin dilarang sakit, tetapi tidak semua rumah sakit menolak pasien. Kalau pun ada penolakan pasien untuk rawat inap, mungkin karena sudah tidak ada bed yang kosong di ruang rawat inap. Betulkah itu?, Andalah yang bisa menjawab, Anda yang tahu situasi di rumah sakit Anda.
Ada juga informasi bahwa bila pasien mau berobat di rumah sakit, pasti ditanya siapa keluarganya dan siapa yang bertanggungjawab atas pasien ini. Bila pasien mau menginap, biasanya ditanyakan: “mau menginap di kelas berapa dan bayar berapa sekarang?” Biasanya jumlah pembayaran disesuaikan dengan ketentuan dari rumah sakit itu, minimal pembayaran untuk beberapa hari penginapan. Nah kalau masih ada pelayanan rumah sakit yang seperti ini, terus bisakah dikatakan bahwa hubungan rumah sakit dengan pasien merupakan hubungan transaksional? Terus tidak ada uang, abang melayang?
Untuk itu, kita perlu memahami dulu bahwa rumah sakit ada jenis dan klasifikasinya. Menurut UU RI No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, jenis pelayanan rumah sakit terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Bila dilihat dari pengelolaan rumah sakit, maka kita mengenal ada rumah sakit publik dan ada rumah sakit privat. Mengenai klasifikasi rumah sakit, ada yang memiliki kelas D, C, B dan kelas A. Penentuan kelas rumah sakit ini, didasarkan pada fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit. Nah, dari sekian rumah sakit yang pengelolaannya berbeda serta kelas rumah sakit yang berbeda juga, tentu pelayanan rumah sakit yang diberikan kepada pasien berbeda juga, sehingga bisa dikatakan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien berbeda pula pelaksanannya.
Kalau kita dalami mengenai hak dan kewajiban, baik hak dan kewajiban rumah sakit maupun hak dan kewajiban pasien seperti yang tertulis pada pasal 29 – pasal 32 UU RI No. 44 tahun 2009, mestinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien bisa dilakukan dalam koridor seperti yang tertulis dalam pasal dan ayat yang terdapat dalam UU tersebut. Masalahnya sekarang, apakah rumah sakit dan pasien sudah memahami hak dan kewajiban masing-masing pada saat terjadinya hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien?
Apabila kita amati sedikit mengenai kebutuhan pasien di rumah sakit, maka kebutuhan pasien antara lain kebutuhan akan informasi, pelayanan yang bermutu dan manusiawi, pelayanan konsultasi, dan lain-lain. Mengenai kebutuhan rumah sakit bisa juga diamati sebagai berikut: kebutuhan untuk dana operasional, kebutuhan melakukan kerjasama, kebutuhan untuk melakukan promosi pelayanan, kebutuhan mendapatkan insentif pajak, dan kebutuhan lainnya.
Apabila kita pertemukan kebutuhan pasien dan kebutuhan rumah sakit, barangkali dapat bertemu dalam hal pembiayaan pelayanan yang diberikan kepada pasien dan kegiatan promosi pelayanan rumah sakit. Dalam hal pembiayaan pelayanan umpamanya, maka perlu diperhatikan oleh rumah sakit mengenai penentuan ketepatan diagnosis, tindakan yang diberikan, dan obat yang tepat diperlukan oleh pasien.
Bila pemberian diagnosis, tindakan, dan obat yang diberikan oleh tenaga medik termasuk dalam kategori berlebihan atau justru sedikit, akan sangat berpengaruh pada besar tidaknya biaya pelayanan yang akan dibayar oleh pasien. Kalau pelayanan yang diberikan berlebihan, maka pasien akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, sedang bila pelayanan yang diberikan termasuk lebih rendah dari yang seharusnya, justru biaya yang akan dibayar pasien juga tetap besar, karena tingkat kesembuhan penyakit yang diderita pasien menjadi lama.
Demikian juga kegiatan promosi yang akan dilakukan oleh rumah sakit, tentu dimaksudkan agar pelayanan yang telah disediakan rumah sakit dapat diketahui oleh pasar (masyarakat). Nah, kegiatan promosi ini bisa juga berbiaya besar apabila pemilihan pada media promosi tidak tepat. Dan bila berbiaya besar, pada akhirnya akan menjadi beban pasien juga. Oleh karena itu, supaya hubungan rumah sakit dengan pasien menjadi semakin serasi dan semakin baik di masa yang akan datang, perlu manajemen rumah sakit berusaha keras untuk mengendalikan hal-hal yang disebutkan di atas.
Pengendalian biaya pelayanan rumah sakit – yang dilakukan oleh manajemen rumah sakit – sangat menentukan hubungan antara rumah sakit dan kebutuhan pasien dalam jangka panjang. Bila pengendalian biaya tidak dilakukan dengan sangat hati-hati oleh manajemen rumah sakit, bisa-bisa akan terjadi penurunan pada kunjungan pasien di rumah sakit.
Meskipun sudah ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang akan menyelesaikan pembayaran biaya pelayanan rumah sakit sesuai kebutuhan pasien, tetap saja usaha pengendalian terhadap biaya pelayanan rumah sakit menjadi sangat penting. Tujuannya supaya pelayanan rumah sakit tidak menjadi terkenal mahal. Dan kalau sampai terjadi informasi bahwa pelayanan sebuah rumah sakit mahal, risikonya sangat besar, dan bisa-bisa akan kehilangan banyak pasien.
Karena itu, manajemen rumah sakit dianjurkan supaya tetap berusaha keras agar rumah sakitnya dapat dikenal masyarakat sebagai rumah sakit yang cepat dalam memberikan pelayanan, komunikatif, dan tepat diagnosis atas penyakit yang diderita oleh setiap pasien yang berobat.
*Penulis buku: Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014), tinggal di Yogyakarta.
Forum Anak Gunungsitoli Menggarap Sebuah Film Fiksi
Friday, October 3rd, 2014
Gunungsitoli – Nias Online. Sebagai salah satu bentuk kegiatan untuk mengasah kemampuan dan kreativitas, beberapa anak yang tergabung dalam Forum Anak Gunungsitoli tengah menggarap sebuah film fiksi yang menggambarkan harapan dan impian mereka untuk Indonesia. Film ini nanti akan diikutsertakan dalam ajang Festival Film Anak (FFA) 2014 yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA).
Demikian penjelasan sutradara Sony Roy Kurniawan Hulu di lokasi syuting ruang Samaeri Kantor Walikota Gunungsitoli, Selasa (30/9) dalam rilis berita Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) yang diterima Redaksi NO.
Dengan dukungan peralatan seadanya, anak-anak tetap berpartisipasi untuk menyuarakan hak dan mimpi anak Indonesia, khususnya anak-anak di Kepulauan Nias. Forum Anak Gunungsitoli berharap film ini dapat menjadi pemenang di ajang penganugrahan FFA 2014 pada tanggal 25 Oktober 2014 mendatang.
Menurut Misran Lubis, Direktur Eksekutif PKPA, FFA tahun ini merupakan pagelaran yang ketujuh. Selain kegiatan FFA, PKPA juga menyelenggarakan Festival Teater Anak (FTA) yang kedua. PKPA bersama dengan Sineas Film Documentary (SFD), Smile Program, Teater O USU dan Opique Pictures dengan dukungan Kinder Not Hilfe (KNH), Markisa Noerlen, Ikatan Alumni SMA Methodist 1 Medan tahun 1990 dan Mataniari Production, terus berupaya memberikan ruang dan apresiasi terhadap pandangan dan ide anak melalui film dan teater anak.
“Tema FFA dan FTA 2014 adalah Indonesia Baru, Indonesia Layak Anak, di mana anak-anak melalui film dan teater akan memberikan harapan, pandangan dan ide-ide terhadap pemerintahan Indonesia yang baru agar lebih berperspektif anakâ€, ucap Misran saat memberikan motivasi terhadap komunitas film dan teater anak.
Misran Lubis sangat mengapresiasi antusiasme Forum Anak Gunungsitoli dan Forum Anak Nias (FORANI) yang akan mengambil bagian dalam Festival Film Anak 2014. Ia menghimbau agar pemerintah memfasilitasi dan memberi dukungan kepada anak-anak Kepulauan Nias agar bisa meningkatkan kreativitas.
Masyarakat desa Olora – lokasi penggarapan film – sangat antusias menyaksikan proses penggarapan film tersebut. (BN/brk*)
Perguruan Tinggi Indonesia Tak Masuk Dalam Kelompok 400 Terbaik Dunia (Versi THE)
Thursday, October 2nd, 2014Peringkat universitas di seluruh dunia 2014-2015 versi The Times Higher Education telah diumumkan. Kelompok 10 besar masih tetap didominasi universitas-universitas di Amerika Serikat yang menempatkan 7 universitas dan Inggris dengan 3 universitas. Ke 10 universitas – institut terbaik itu adalah: 1. California Institute of Technology (Caltech) (AS), 2. Harvard University (AS), 3. University of Oxford (Inggris), 4. Stanford University (AS), 5. University of Cambridge (Inggris), 6. Massachusetts Institute of Technology (MIT) (AS), 7. Princeton University (AS), 8. University of California, Berkeley (AS), 9 Imperial College London (Inggris), dan 9. Yale University (AS). Dalam daftar peringkat yang dikeluarkan The Times Higher Education di situsnya, Imperial College London (Inggris) dan Yale University (AS) sama berada pada peringkat 9 dengan nilai 87.5.
Peribgkat 10 besar untuk tahun 2014-2015 ini tidak jauh beda dengan hasil pemeringkatan tahun 2013-2014, dengan pergeseran kecil pada posisi 3 perguruan tinggi, yakni: Massachusetts Institute of Technology (MIT) (AS) sebelumnya pada peringkat 5, Princeton University (AS) sebelumnya pada peringkat 6 dan University of Cambridge yang naik dua tingkat dari peringkat 7 sebelumnya. Pada kelompok 10 besar 2014-2015 ini yang terlempar ke luar adalah University of Chicago (AS) yang pada tahun ini menempati peringkat 11, digantikan oleh Yale University (AS) pada posisi 9.
Kelompok 100 besar ditempati antara lain: ETH Zurich, Swiss (13), University of Pennsylvania, AS (16), University College London (UCL), Inggris (22), University of British Columbia, Canada (32), London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris (34) dan McGill University, Canada (39).
Dua universitas dari negara tetangga Singapura masuk dalam kelompok 100 besar yaitu: National University of Singapore (25) dan Nanyang Technological University (61). Jepang juga memiliki 2 wakil pada kelompok 100 besar yaitu: University of Tokyo (23), Kyoto University (59).
Australia mencatat kemajuan yang berarti pada hasil pemeringkatan 2014-2015, di mana beberapa universitasnya yang masuk kelompok 100 besar mengalami kenaikan peringkat. University of Melbourne naik setingkat dan menduduki posisi 34, Australian National University naik 3 tingkat menduduki peringkat 45, Sydney University dari posisi 72 menjadi 60, Monash University dari 91 ke 83. Pengecualian adalah University of Queensland yang justru turun peringkat dari 63 ke peringkat 65.
Asia, yang diwakili beberapa Negara Asia Timur (kecuali Singapura yang mewakili Asia Tenggara) menempatkan 6 universitas dalam kelompok 50 terbaik dunia: University of Tokyo (23), National University of Singapore (25), University of Hong Kong, Hong Kong (43), Peking University, Cina (48), Tsinghua University, Cina (49), Seoul National University, Korea (50).
Indonesia Tidak Punya Wakil Dalam 400 Besar Dunia
Dalam kelompok 400 besar dunia, menurut pengamatan NO, sudah sejak 5 tahun terakhir Indonesia tidak lagi memiliki wakil di sana.
Dalam kelompok 100 besar tingkat Asia pun, yang pada tahun 2014-2015 dipimpin oleh The University of Tokyo Japan, National University of Singapore (NUS) Singapore dan University of Hong Kong, Indonesia tidak memiliki wakil. Nasib yang sama dialami oleh Malaysia.
(Sumber: Situs The World University Rankings) – brk*
Kamus Nias Online Bantu Penulisan Novel ‘Nias: Penyelamat Berkalung Matahari’
Thursday, October 2nd, 2014
NIASONLINE, JAKARTA – Kamus mini bahasa Nias di situs www.niasonline.net ternyata sangat bermanfaat. Tidak hanya bagi orang Nias, tapi juga bagi orang luar Nias. (more…)






