Archive for May, 2009 | Monthly archive page

Oguna’õ Ginõtõ – Bagian 5 (Tamat)

Thursday, May 7th, 2009

Oleh: Mathias J. Daeli

Ketika memulai membaca tulisan ini, anda sekali gus siap melakukan pertemuan dengan saya. Meskipun pertemuan dalam alam pikir. Saya menyampaikan: pengetahuan yang saya miliki, pendapat-pendapat orang lain – terutama para ahli yang menunjang melancarkan penjelasan makna judul. Dan anda – setuju atau tidak setuju yang saya sampaikan, melakukan olah pikir. Meskipun tidak setuju tetap menjadi informasi bagi anda. Kalau setuju maka lebih lanjut daya pikir anda melakukan eksploratif (penjelazahan) analitis dengan segala pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Lebih positf apabila penjelazahan mengarah pada kreativitas (mencipta) sintetis, dan hal ini hanya mungkin lewat pengakuan akan perlunya fungsi segala bentuk antitesis tanpa harus berprinsip “konflik selaku syarat mutlak keniscayaan praktis”.

Dari gambaran kegiatan di atas nampak efek positif dari membaca buku, antara lain :

  1. bertemu dengan orang (si penulis) lain meskipun dalam alam pikir
  2. memperluas wawasan cakwarala
  3. menambah kebahagian apabila senang pada isi tulisan
  4. menghilangkan kesusahan – setidaknya ketika sedang membaca
  5. menambah pengetahuan dengan biaya murah
  6. menarik hikmah – kebijaksana dari isi tulisan
  7. melatih berkhayal ekploratif – kreatif untuk masa depan
  8. mengetahui peristwa-peristiwa masa lalu
  9. merupakan latihan baik untuk memperkuat otak
  10. kebutuhan kejiwaan manusia sadar

Dapat ditambahkan lagi yang lain dan semuanya dikendalikan oleh otak .

Otak manusia adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem syaraf. Dalam otak terdapat lebih dari 100 miliar syaraf yang terhubung dengan 10.000 sistem syaraf lainya di seluruh tubuh. Otak mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya. Sungguh tugas yang sangat rumit dan banyak. Karena itu otak harus dijaga supaya tidak lemah. Sama dengan organ tubuh lainnya, otak yang sering digunakan merupakan latihan untuk menjadi kuat. Jadi kebiasaan sikap dan perbuatan seseorang menentukan arah pengendalian otak. Ke arah yang baik atau ke arah yang buruk. Membaca merupakan latihan olah otak yang baik.

Membaca dan buku seumpama dua sisi mata uang. Buku tanpa dibaca maka bukan buku. Sebelum mengenal tulisan manusia mewariskan informasi dari generasi ke generasi berikutnya dengan lisan. Setelah mengenal tulisan maka pewarisan informasi dilakukan dengan menggoreskan di di batu-batu atau ditulis pada daun (misalnya: papirus, lontar) dan setelah manusia mampu membuat kertas ditulis pada lembaran-lembaran kertas yang dikumpulkan menjadi buku.

Dengan buku – pengumpulan dan penyebaran informasi peristiwa sejarah, pendapat-pendapat para ahli, dan informasi lainnya lebih cepat. Yang berarti bahan untuk dieksplorasi guna kreatifitas selanjutnya menjadi bertambah banyak dan luas. Karena itu, dengan adanya buku peradaban manusia menjadi maju pesat, sehingga para intektual dunia memberi komentar yang fanatik terhadap buku disertai aktifitas membaca.

Tolle, lege, tolle, lege (ambil dan bacalah, ambil dan bacalah) demikian bisikan yang didengar dan dilaksanakan oleh St. Agustinus sehingga dia memperoleh keyakinan yang kuat. Barbara Tuchman berkata: “Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandeg”, sebab menurut dia buku adalah pengusung peradaban. Senada dengan itu Voltaire berkomentar bawa “Semua bangsa yang berbudaya, dibimbing oleh pustaka (buku).” Bahkan dengan nada ekstrim Jean Paul Sartre berteriak lantang. “Telah kutemukan agamaku; tak ada yang lebih penting dari buku! Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadah!”

Komentar fanatik seperti itu timbul karena memang membaca buku – apa dan bagaimana pun sifat isinya memiliki fungsi positif seperti tersebut di atas. Hakekat manusia adalah bebas. Dan justru karena kebebasan ini manusia tidak pernah puas dengan ”ada” nya kini. Manusia mencari dan selalu mencari sesuatu yang merangsang daya pikirnya menjelazah untuk merubah masa kini. Membaca buku yang berisi informasi misalnya : peristiwa sejarah kehidupan, mengenai pengetahuan dari para ahli, dan informasi lainnya merupakan jawaban yang memadai kebutuhan pencarian itu. Dengan perkataan lain otak yang sehat selalu menjelazah (eksplorasi) bebas dan membaca buku merupakan bahan dan wahana yang baik dan memadai untuk itu sekaligus menjadi latihan otak supaya sehat. Para intelektual wajar berterima kasih kepada buku yang menolong daya pikir mereka bereksploratif memperluas cakrawala guna berkreatif. Dan menurut saya sesungguhnya bukan hanya kaum intelektual melainkan setiap orang harus sadar membaca buku sebagai kebutuhan kejiwaan.

Mari kita bayangkan. Seandainya kita mempunyai bahan tertulis di perputakaan mengenai asal usul Ono Niha, nama-nama leluhur, dari benua mana datangnya, cara bagaimana para leluhur itu sampai ke Tanõ Niha (Nias), bagaiman penyebarannya – tentu kita lebih lancar (malah tidak perlu) mendiskusikannya di dunia maya ini. Seandainya kita memiliki bahan tertulis, tentu kita tidak mendapatkan kesulitan melakukan penafsiran (hermeneutika) dari legenda : “Tuada Sirao Uwu Zihỡnỡ, Tuada Sirao Uwu Zato si so ba dete Holiana’a, sabu sibai todỡ bỡrỡ me da 9 (siwa) nononia oi omasi ira tobali Ono Fangali Mbỡrỡ sisi, oi omasi ira tobali Ono Fangali Mbu’ukawono (terjemahan bebas: Leluhur Raja Sirao Uwu Zihỡnỡ, Leluhur Sirao Raja Uwu Zato yang sedang bersusah hati karena 9 putranya semua mau menjadi pewaris takhta kerajaan).

Kita dapat merasakan, apabila membaca “buku baik” maka informasi yang kita dapatkan dari buku itu merupakan hiburan yang mengasyikkan, mengajarkan kita sesuatu, dan menggerakkan kita untuk melakukan/mempraktikkan sesuatu. Daoed Joesoef (mantan Menteri Pendikan dan Kebudayaan) mengatakan bahwa “… betapa kegiatan membaca dan menulis serta kehadiran buku merupakan bagian konstitutif proses berpikir (garis miring dari saya) makhluk manusia. Dan melalui afirmasi serta harmonisasi dari keterkaitan bagian-bagian tersebut, manusia ternyata dapat mengukuhkan kehidupan bernegara (berdemokrasi), berbangsa (beradab), dan bermasyarakat (berpikir konvergen)”.

Salah satu buku yang telah saya baca, baik yang asli bahasa Inggeris maupun terjemahan bahasa Indoensia adalah buku Da Vinci Code yang dikarang oleh Dan Brown. Begitu luar biasa dan mengagumkan bagi saya. Bukan karena mengenai isinya senang atau tidak senang, melainkan mengenai hasil eksplorasi dan analisisnya terhadap informasi yang diperoleh. Begitu visioner dan melahirkan begitu banyak kontroversi. Meskipun fiksi tetapi telah menginsiparsikan suatu ideologis dengan cara yang lebih populer. Itu semua hasil ketekunan Dan Brown membaca banyak buku dokumen terkait dan mengolahnya dengan daya pikir eksploratif analisis sehingga menghasilkan karya seperti itu.

Demikian pentingnya peranan buku dalam kemajuan peradaban manusia, dan, oleh Stephen R. Covey mengatakan bahwa “habit” atau kebiasaan membaca merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),dan keinginan (desire). Tidak mengherankan kalau orang yang sadar peranan buku mengumpakan buku sebagai “jendela dunia”.

Bayangkanlah fungsi jendela. Dengan jendela kita bisa menghirup udara segar dan meluaskan pandangan. Buku merangsang otak pembaca menjelazah dunia wawasan penulisnya dan malah juga pendapat ahli yang lain yang dikutipnya. Bukan masalah: apakah isi buku itu kita setuju tau tidak setuju namun tetap merupakan informasi yang meluaskan cakrawala kita. Hanya dengan membaca buku kita dapat segera mendapatkan pengalaman pembuat sejarah manusia. Penemuan oleh peneliti yang memerlukan waktu mungkin bertahun-tahun bahkan nyawanya dipertaruhkan dapat dimanfaatkan oleh pembaca dalam beberapa jam.

Seiring dengan pesatnya kemajuan, jenis informasi bertambah banyak dan luas. Penyebebarannya tidak hanya melalui buku seperti biasa. Melalui intenet berseliweran informasi yang ditawarkan kepada siapa saja dan tentu bagi yang mampu menggunakan internet. Sekarang telah mulai ebook berisi kode-kode digital penyimpanan buku dan sangat efisien. Tetapi prinsip utama adalah sama: “harus dibaca” dan tidak hanya dikoleksi sebagai dekorasi.

Tentunya kita harus bisa memilah-milih buku mana yang harus kita baca. Kebebasan yang kita miliki memerlukan pengendalian agar dengan bijak menentukan manfaat buku yang kita baca demi peningkatan mutu hidup. Akan tetapi tentu kita mengutamakan membaca buku yang bermutu yang telah dibuktikan oleh banyak ilmuwan kebenarannya dan hendaknya kita merencanakan/menyediakan waktu untuk membaca dan jangan hanya kalau ada waktu luang.

Kalau masyarakat kita bertekad maju merangkul ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu wahana penting di luar jalur-jalur pendidikan formal dan informal, adalah menciptakan budaya membaca. Melalui budaya membaca terbina cara berpikir eksploratif dan kreatif dalam masyarakat. Jika daya pikir dan semangat eksploratif dan kreatif tidak ada atau berantakan, maka apa pun tidak akan berbobot dan situasi sosial budaya menjadi sangat rawan. Ketiadaan daya pikir eksploratif dan kreatif maka sulit diharapkan argumentasi dan sistem logika dari seseorang. Memiliki daya pikir eksploratif dan kreatif apabila memiliki informsi cukup terkait dengan ilmu pengetahuan.

Di negara maju membaca sudah membudaya. Dalam perjalanan di bus, kereta api, atau pesawat terbang, jangan heran mereka sambil digoncang bus membaca. Di taman-taman kota mereka membaca. Sambil minum kopi di cafe mereka membaca. Dengan membaca memperluas wawasan dan terhindar dari mentalita “talaho barõ ndrõgõ” (katak dalam tempurung). Kalau membaca menjadi kebiasaan , maka waktu untuk berkhayal dan berpikir negatif bisa hilang, sebab guru (yang paling murah adalah buku) ada di tangan kita.

Semoga bermanfaat. Ya’ahowu !.

Euless, 1 Mei 2009

Mathias J. Daeli

KPUD Sumut harus tanggung jawab kekacauan di Nias Selatan

Thursday, May 7th, 2009

MEDAN – KPU Pusat hingga saat ini belum melakukan penghitungan suara ulang di Nias Selatan (Nisel). Padahal kekacauan jumlah suara disana cukup meresahkan warga serta caleg yang lainnya. KPUD Sumut selaku penyelenggara pemilu harus di Sumut harus bertanggungjawab atas hal ini.

Salah seorang caleg dari Partai Demokrasi Perjuangan (PDP) di Nisel, Artha Ulil Amri Batubara kepada Waspada Online tadi malam menyebutkan, selisih Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan rekapitulasi perhitungan suara di Sumut 2 sebanyak 249.000. Dan suara yang disampaikan KPUD Sumut saat hingga saat ini belum dapat dipertanggung jawabkan.

“Jika memang KPUD Sumut tidak dapat mencari kelebihan suara tersebut berarti hantu pun bisa memilih,” lanjut Artha yang juga sebagai Ketua Bidang Politik dan Pemilu partai PDP Sumut.

Saat ini menurutnya, suasana di Nias Selatan cukup mencekam. Pihaknya telah mengingatkan, jika KPU tidak juga melakukan perhitungan ulang, mereka tidak bertanggung jawab jika terjadi pertumpahan darah di kabupaten baru hasil pemekaran tersebut.

Anggota KPUD Sumut, Sirajuddin Gayo mengatakan, pihak KPUD Sumut telah merekomendasikan kepada KPU Pusat agar mengambil alih perhitungan ulang untuk Kabupaten Nias Selatan.

“Kemungkinan pihak KPU Pusat tidak akan melakukan perhitungan ulang karena melihat keterbatasan waktu, “katanya.

Menurut Sirajuddin, bagi caleg partai politik yang merasa dirugikan dapat menyampaikannya ke Mahkamah Konstitusi setelah pengumuman resmi KPU pada tanggal 9 Mei nanti. (Waspada Online – waspada.co.id – 6 Mei 2009)

Oguna’õ Ginõtõ – Bagian 4

Wednesday, May 6th, 2009

Oleh Mathias J. Daeli

Sadar atau tidak sadar, bahwa kita berhadapan melalui tulisan ini adalah produk pergumulan dengan dengan hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Mustahil kita berkomunikasi melalui tulisan ini tanpa informasi yang memadai dan teknologi komunikasi (komputer, internet) canggih. Informasi yang bersumber dari pengalaman, buku, dunia maya, dan media komunikasi lainnya.

Diolah secara ekploratif dengan komputer sampai terwujud seperti ini.
Dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang teknologi informasi dan teknologi transportasi yang dicapai manusia pada unjung pertengahan kedua abad ke XX, memungkinkan arus informasi menjadi serba cepat: apa dan oleh siapa dari seluruh muka bumi (bahkan sebagian jagat raya) – menembus ke seluruh lapisan masyarakat dengan bebas tanpa membedakan siapa dia si penerima. Tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.

Bukan masalah, apakah masyarakat tersebut suka atau tidak suka mau atau tidak mau, arus informasi tidak dapat di bendung. Bukan masalah, apakah informasi itu berdampak positif atau pun negatif bagi masyarakat tersebut. Dunia menjadi seumpama jaring laba-laba saling terhubung. Kehidupan menjadi serba berbasis elektronik dikenal dengan “e-life”. Keadaan ini yang dikenal dengan sebutan globalisasi atau mendunia dan telah menjadi bahasa gaul.

Akan tetapi tulisan ini tidak membahas luas kemajuan IPTEK sebab tulisan ini bukan bertujuan untuk itu dan memang saya tidak memiliki kemampuan cukup. Saya hanya berupaya mengajak mengingatkan kita semua betapa penting dan strategis peranan informasi untuk peningkatan mutu hidup dan kehidupan di abad XXI ini dan masa-masa yang akan datang.

Dengan sifat informasi seperti itu, maka yang menjadi pertanyaan utama dan dijawab sendiri oleh masyarakat itu bukan: mau atau tidak mau informasi ? atau : siap atau tidak siap menerima informasi ? melainkan: apakah sadar atau tidak sadar menjalani hidup ? Sebab tidak ada yang pasti di dunia selain “perubahan”.

Tuntutan dan kebutuhan perkembangan kehidupan di dunia menuju ke arah semakin baik mengharuskan tersedianya prasarana, sarana, dan kemampuan untuk mencari, memperoleh, dan mengolah informasi. Sekaligus dituntut kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan jenis – jenis informasi yang ada. Jadi informasi seberapa pun jumlah (kuantitatif) dan mutu (kualitatif) merupakan kemestian bagi perubahan dan upaya mengembangkan kualitas hidup dan kehidupan. Karena itu mau tidak mau suka tidak suka, masyarakat dan anggotanya yang bertekad maju dituntut kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan jenis – jenis informasi yang ada.

Masyarakat di negara berkembang harus menyadari masalah kebutaan baru – dampak gobalisasi informasi yaitu kebutaan informasi. Kesadaran mengenai hal itu menuntut perhatian lebih karena masyarakat negara berkembang belum tentu telah lolos dari buta huruf dan sekarang dilanda informasi dengan dampak yang tidak terduga. Kalau pada buta huruf hanya dibutuhkan peningkatan kemampuan mengenal bentuk huruf sedangkan pada buta informasi memerlukan lompatan perubahan mental dan lompatan perubahan daya pikir. Lompatan dari mental agraris tradisional ke mental e-life dan lompatan dari cara pikir serba tergantung alam, lisan, dan (mungkin) takhyul ke cara berpikir eksploratif kreatif.

Informasi dapat dilihat dari segi tingkat bentuk dan sifat informasi (level) dan fungsinya. Tingkat yang terendah dari informasi ialah berupa data yang sifatnya kuantitatif. Disusul tingkat berikutnya yang lebih tinggi ialah informasi artinya sejumlah satuan data telah diolah dan disajikan secara berarti dan bermanfaat untuk pengambilan keputusan. Kemudian tingkat yang lebih tinggi dari informasi ialah pengetahuan (knowledge) yang sifatnya lebih kualitatif. Tingkat yang tertinggi ialah kecerdasan (intelligence) yang sifatnya lebih kualitatif – tidak sekedar pengetahuan melainkan hasil olahan otak. Sedangkan dari segi fungsi, informasi paling sedikit menyangkut lima tahap yaitu produksi ( production ), penyimpanan (storage), pengolahan (processing), penerapan (application), dan penyampaian (transmission). Masing – masing dari kelima fungsi dasar ini terdapat pada setiap tingkat informasi di atas.

Penyampaian sekilas gambaran teori “tingkat dan fungsi informasi” di atas, hanya untuk menunjukkan betapa “penting” informasi untuk menentukan arah kebijakan yang baik demi pertumbuhan dan perkembangan pribadi atau suatu organisasi.

Hasil olahan otak manusia itu, ilmu pengetahuan dan teknologi, berdampak luas pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius, relasional, afektif, kultural) di mana nilai manusia dipertaruhkan, maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan secara teknis juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan yang menuntut pilihan dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.

Apakah dengan teknologi informasi yang semakin canggih dan informasi yang dihasilkan melimpah ruah dan mudah diakses menjadikan manusia lebih baik ? Dalam pengertian manusia peribadi menghargai, menghormati, dan mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri (Mat. 22 : 39). Sulit untuk menjawab secara tuntas.

Banyak pengaruh yang ditumbuhkan oleh perubahan dan perkembangan media ini, baik dampak negatif maupun positif telah kita rasakan dalam hidup sehari-hari. Manusia boleh bangga bahwa pengetahuan manusia berkembang sangat cepat sehingga sesuatu yang tadinya dianggap di luar jangkauan manusia menjadi mungkin dengan diketemukan alat-alat mutakhir. Naluri manusia untuk berubah dan berkembang, menuntun manusia untuk tidak puas akan sesuatu penyelidikan dan penelitian. Masalah timbul apabila pelaku penyelidikan dan penelitian itu berpandangan bahwa “ilmu untuk ilmu” sehingga membuat moral, etika, dan estetika dalam kehidupan tekesampingkan dan malah terancam hancur.

Kemajuan-kemajuan memungkinkan banyaknya pilihan (multiple options) dan membuka kesempatan tumbuhnya materialisme, sekularisme dan rasionalisme dengan luar biasa. Tuntutan hidup begitu tinggi. Kemakmuran yang dicapai tidak terkendali, gaya hidup menjadi konsumtif dan hedonistik. Manusia peribadi yang menjadi begitu sibuk untuk mempertahankan hidup menyuburkan sosok individualistik. Kaya dan sukses dari segi materi jadi satu-satunya tujuan hidup. Masyarakat dan bangsa sebagai tatanan kosmis mulai memudar rohnya. Persaingan demikian ketat, sehingga penghargaan manusia terhadap waktu mencapai titik tertinggi dibandingkan masa sebelumnya. Dalam istilah Weber, dunia jadi “mengecewakan” (disenchanted). Yang tersisa hanya wajah kehidupan tidak manusiawi. Senafas dengan yang dikatakan oleh Erich Fromm bahwa bahaya masa depan ialah manusia menjadi robot karena terjadi alienasi diri (kemanusiaan) yang schizoid.

Paus Benediktus XVI mencermati hal ini. Pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-42 (tanggal 4 Mei 2008) beliau menyampaikan pesan: “… betapa penting peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media “. Dan dalam pesannya untuk Hari Perdamaian Sedunia 1 Januari 2008, Paus Benediktus menegaskan bahwa: “media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggung jawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya”.

Pesan Paus Benediktus XVI itu sangat mudah dipahami – merupakan peringatan agar perkembangan teknologi yang melanda hidup manusia harus dikuasai pemanfaatannya. Jangan sampai perkembangan media menjadikan manusia sebagai objek, menyeret dan memaksanya pada model kehidupan yang menyimpang.

Dari sebab itu, masyarakat kita harus bisa membentengi diri dan menyaring media canggih ini. Di satu pihak kita tidak bisa menghentikan itu, tetapi di lain pihak kita harus bekerja keras mendorong kemajuan dalam bidang transformasi pengetahuan informatika. Kita harus akrab dengan budaya informatika seperti faximile, internet dengan imail-nya, HP dengan sms-nya, chatting, facebook yang tumbuh dan berkembang di masyarakat luas. Sebab sisi keuntungannya adalah membantu kita memperoleh informasi, tapi sisi kerugiannya membuat moral, etika, estetika dalam kehidupan terancam hancur.

Demikian pesat perkembangan teknologi, di bidang komunikasi muncul handphone yang lebih gesit (mobile) dan dilengkapi sarana penyampaian pesan singkat secara tertulis (sms = short message service). Bila internet, televisi, telepon rumahan memerlukan individu untuk menetap pada koordinat tertentu (misalnya, orang hanya bisa menerima telepon bila dia berada di rumah atau di kantor) dengan handphone tidak demikian. Handphone memiliki kelebihan : harga relatif murah, mudah dibawa, dan tidak memerlukan tiang-tiang serta kabel-kebel seperti tilpon rumah.

Sifatnya yang gesit mudah dibawa-bawa merupakan sarana komunikasi yang menarik dan baik bagi siapa saja meskipun di tengah rimba atau daerah bergunung-gunung atau di tengah samudera. Bukan hal aneh apabila penjual baso, penjual sayur , pemulung berkomunikasi dengan orang lain melalui handphone sambil keliling dari lorong ke lorong . Para petani dan nelayan pun demikian. Tentu para politisi, para gerilawan, para eskekutif perusahaan tidak kalah dalam memanfaatkan handphone ini.

Di samping dampak positif , ekses dampak kemajuan teknologi informatika dan komunikasi dalam kehidupan bukan hal yang sulit ditemukan. Begitu bebas dan permisifnya masyarakat kita, hingga banyak pelajar termasuk anak-anak di bawah umur dapat mengakses situs porno di sebuah warnet.

Akhir-akhir ini melalui media cetak maupun radio dan TV disajikan kepada kita berbagai berita yang tidak tersaring berakibat sangat buruk pada generasi muda kita seperti mengenai hubungan seks, perkelahian antara siswi, penipuan, dan sebagainya yang jauh dari baik untuk perkembangan mereka. Kecanggihan internet dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan, carding (pembobolen karti credit), dan perjudian. Si ”gesit” atau HP telah menjadi sarana baik bagi para pelaku kejahatan dan penipuan. Juga sering para peserta ujian memanfaatkan HP ini secara salah. Kejahatan melalui HP terus berkembang. Penggunaan HP dengan smsnya yang mengganggu tatanan dan ketertiban kehidupan tidak hanya dongeng dalam kehidupan sehari-hari- misalnya : pemerasan. Kenyataan : Dalam konvensi cyber-crime, nama Indonesia sudah cukup tercemar di mata dunia internasional” (Ponsel, 14-27 April 2008).

Berhadapan dengan kemajuan teknologi komunikasi informasi ini, kita laksana berada dalam ruangan penuh barang yang baik dan yang buruk. Ditawarkan dengan bebas dan (relatif) gratis kepada kita. Kita tidak dapat mengatakan : “jangan tawarkan kepada saya atau keluarga saya”. Tentu kalau kita tidak memiliki pengetahuan dan informasi mengenai yang ditawarkan itu maka dapat memilih yang merusak diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Pengetahuan dan kepemilikan informasi itulah yang merupakan saringan vital dan penting selain saringan utama : persiapan mental sendiri.
Dari mana dan bagaimana memperoleh pengetahuan dan informasi itu ? Itulah yang akan disampaikan sebagai “saran praktis” pada akhir tulisan ini, yaitu melalui “ membaca “. (bersambung)

Oguna’õ Ginõtõ – Bagian 3

Tuesday, May 5th, 2009

Oleh Mathias J. Daeli

Di atas saya singgung bahwa saya bukan ahli dan juga bukan pengguna waktu yang baik. Namun salah satu pendorong menulis artikel ini ialah yang berseliweran di otak saya kerugian bangsa kita akibat waktu tidak termanfaatkan dengan baik.

Misalnya. Data BKN (Badan Kepegawaian Negara) per 15 Januari 2008 jumlah pegawai negeri sipil (pns) 4.083.362 orang. Berhitung sederhana saja PNS memiliki jam kerja 40 jam dalam 1 minggu. Satu tahun kerja 50 minggu. Berarti setiap PNS memiliki 2.000 jam kerja/ tahun.

Kita sederhanakan juga gaji seorang PNS kita rata-ratakan Rp. 15 juta setahun (gaji PNS sebenarnya berkisar antara Rp. 1 juta lebih yang terendah dan ada PNS yang bergaji (take home pay) sampai 150 juta per bulan), maka gaji PNS per jam adalah Rp.15 juta : 2.000 jam = Rp 7.500/jam. Kita sederhanakan lagi setiap PNS tidak memanfaatkan waktu untuk melaksanakan tugas kewajibannya sesuai sumpah yang diucapkan ketika diangkat sebagai PNS – rata-rata 1 jam sehari. Kerugian yang dialami bangsa ini dalam rupiah sebesar: 1 (hari kerja) x 4.083.362/pns x Rp. 7.500/1jam kerja = Rp. 30.625.215.000/hari. Kalau PNS kerja 5 hari dalam seminggu, kerugian bangsa ini kalau dinilai rupiah menjadi: 5 (hari kerja) x Rp. 30.625.215.000/kerugian per jam hari = Rp. 153. 126. 075. 000/kerugian per minggu. Setahun menjadi: 50/minggu kerja x Rp. 153.126.075.000/kerugian per minggu = Rp. 7.656.303.750.000/tahun. Perhitungan ini paling diminimalkan karena ada pegawai yang datang ke kantor hanya baca koran dan ngobrol dikantor atau mengurus kepentingan peribadi atau kelompoknya. Kerugian sesungguhnya jauh lebih besar lagi karena terhambatnya pelayanan yang seharusnya diberikan kepada masyarakat dan ini menimbulkan efek kerugian berantai. Lebih parah lagi apabila si PNS jang bersangkutan datang kekantor hanya untuk merencanakan melakukan korupsi uang negara atau barang inventaris kantor.

Korupsi waktu terjadi juga di lingkungan lembaga negara. TV mempertontonkan anggota DPR yang bolos menghadiri sidang atau tertidur di ruang sidang. Bukan berita aneh quorum rapat Komisi atau Panitia Ad Hoc DPR tidak terpenuhi. Pimpinan rapat mengumumkan rapat ditunda, yang berarti tugas kewajiban Komisi atau Panitia Ad hoc DPR itu membuat UU tertentu, tertunda. Dan tidak jarang UU yang dimaksud tidak terwujud sampai masa jabatan keanggotaan DPR berakhir. Berapa kerugian rupiah, kerugian sosiologis-psikologis, dan kerugian konstitusional akibat tidak termanfaatkan waktu dengan baik (disebut “korupsi waktu” terserah pembaca) oleh anggota DPR itu ?

Di lembaga-lembaga negara lainya juga terjadi ketidak memanfaatkan waktu dengan baik. Ada berita di surat kabar bahwa ada angota lembaga negara yang mengutamakan pergi main golf ke luar negeri dari pada menyelesaikan tugas yang bertumpuk di kantornya. Di sektor swasta juga terjadi hal serupa, hanya tidak terpublikasi dan pasti tidak separah di lingkungan pmerintahan. Sekali lagi mari kita bertanya: Berapa kerugian bangsa dan masyarakat kita akibat tidak menggunakan waktu dengan baik di lingkungan pemerintahan, perusahaan negara, dan perusahaan swasta ?

Selanjutnya. Di masyarakat kita yang masih bertahan pada budaya agraris tradisional, apalagi apabila budaya takhyul dan pikiran irrasional lainnya masih merajalela, ketidak memanfaatkan waktu dengan baik – tinggi. Masih kita menjumpai dalam masyarakat apabila melakukan kegiatan dengan cara-cara yang sulit dicerna akal sehat biasa. Misalnya: dalam masyarakat tradisional tertentu memiliki kepercayaan bahwa kalau tokek berbunyi sekitar rumah pertanda buruk bagi yang melakukan perjalanan. Karena itu kalau ada anggota keluarga yang seharusnya melakukan perjalanan harus ditunda dan menunggu hari baik yang akan datang. Berapa lama ditunda tidak ada kepastian, sebab bisa-bisa si tokek masih nongkrong dekat rumah menunggui anaknya. Berapa kerugian waktu karena tindakan – penundaan itu ?

Di Niasisland.com pernah saya menulis mengenai Ono Niha dan Waktu. Dalam tulisan itu saya mencoba mengingatkan kerugian waktu akibat “huhuo hada” (musyawarah adat). Dalam huhuo hada, setiap peserta dapat secara bebas waktu menyampaikan pendapatnya dengan gaya bahasa masing-masing yang khas, disertai amaedola (peribahasa) yang sesuai. Peserta huhuo hada memperlihatkan kemahiran masing-masing bertutur kata. Memang, warga yang memiliki kemahiran bertutur kata memiliki nilai lebih di mata warga kelompoknya yang dikenal dengan sebutan: niha hada atau ono hada atau si’ila mbanua yang mempunyai pengertian sama yaitu orang yang memahami dan mahir berbicara mengenai adat-istiadat (hada).

Kebebasan waktu berbicara dalam huhuo hada seperti itu mengakibatkan waktu hampir tak bernilai. Meskipun sebelumnya sudah diketahui atau sedikitnya sudah dapat diduga keputusan yang akan diambil, huhuo hada (musyawarah adat) tetap diselenggarakan. Misalnya mengenai: bõwõ wangowalu (mas kawin) yang sudah ditetapkan besarnya dalam Fondrakõ (Musyawarah Besar Adat) dalam satu Õri (Pemerintahan Adat). Seharusnya keputusan dapat ditetapkan cepat, tetapi huhuo hada tetap dilaksanakan secara panjang lebar. Seakan-akan tidak ada urusan lain – urusan pribadi atau pun urusan keluarga yang butuh waktu pengerjaan. Falsafah hidup yang terkandung dalam huhuo hada bahwa melalui kebebasan bertutur kata dalam musyawarah adat, terjadi fa’ilasa gera’era (komunikasi batin) antara para peserta (lihat: “Bangun Rasa Percaya Diri dan Jangan Sia-Siakan Waktumu!” di Niasisland.com oleh oleh Mathias J. Daeli).

Fa’ilasa gera’era (komunikasi batin) melalui saling silang komunikasi tutur kata – baik, untuk memelihara keharmonisan kelompok. Demikian juga fakese-fabude penting untuk rekreasi – menghilangkan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi hendaknya waktu yang digunakan untuk “fa’ilasa gera-era” dan “fakese-fabude” itu harus tidak menyebabkan kegiatan lain yang penting untuk meningkatkan mutu kehidupan terabaikan. Tentu kalau ada kesadaran menghargai waktu, huhuo hada tetap dilakukan tetapi dengan pemanfaatan waktu. “Tia-tia hada” (prinsip pola adat istiadat) yang sudah pasti jangan dibicarakan lagi secara huhuo hada. Ketentuan yang sudah pasti dalam Fondakõ dan masih diterima oleh masyarakat supaya dilakasanakan tanpa memerlukan pembicaraan panjang lebar lagi. Saya percaya bahwa seiring dengan kemajuan dan keterbukaan informasi, telah terjadi perubahan pemanfaatan waktu yang lebih rasional dalam huhuo hada (musyawarah adat) di Nias.

Juga. Di lingkungan kita (netters) kadang-kadang tidak menyadari, waktu yang kita gunakan berselancar di dunia maya belum termanfaatkan secara optimal. Sesungguhnya sisi menarik berselancar di dunia maya seirama dengan kelebihan manusia yang hakiki – saling berkomunikasi. Dunia maya sarana yang baik untuk pengayaan pengetahuan baik peribadi maupun bersama. Lihat: repetisi, sekuel, mengopi, dan otomasi kini semua cenderung bebas biaya, gratis, sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya. Kesempatan yang baik untuk bersumbang-sadap-saran demi pengayaan pengetahuan baik peribadi maupun bersama.

Akan tetapi kenyataan, sementara (c.q. di lingkungan Ono Niha) yang nampak kadang-kadang komunikasi tidak sekuel antara satu dengan yang lain. Misalnya: Ada peserta diskusi mempertahankan kebenaran yang dimiliki dengan alasan bersumber dari yang layak dipercaya dan tak dapat dibantah. Pada hal kalau kita sadari bahwa hanya satu kebenaran mutlak, maka kita dapat memahami pertanyaan Pilatus: Apa itu kebenaran ? Yaitu: kebenaran manusia masih memerlukan penjelasan makna. Kini, manusia (misalnya: di Indonesia) lebih suka dinilai pintar daripada dinilai benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan benar milik semua orang, karena pintar lebih berdimensi pikiran dan kecerdasan, sedangkan benar bertitik berat pada dimensi nurani. Bisakah manusia mencapai kebenaran mutlak ? (bahan pembanding renungan : “Dilema Usaha Manusia Rasional Apa itu Kebenaran” oleh Mathias J. Daeli , Nias Online). Di sisi lain ada penanggap yang: bukan mengajukan argumen bantahan atau memberi bahan pengayaan materi diskusi melainkan mengajukan pertanyaan lain yang memang terkait dengan tema diskusi tetapi tidak mungkin dijawab. Yang terjadi jelas bukan saling memperkaya pengetahuan menuju ilmu melainkan “kartu mati” dan kemungkinan saling menjengkelkan.

Mengapa terjadi seperti itu ? Sebabnya adalah netter kekurangan (tidak memiliki) bahan atau informasi yang memungkinan daya pikir bereksploratif analisis dalam kerangka mengarah kreatifitas. Malahan tidak jarang terjadi kelucuan, para netter saling jengkel-jengkelan satu dengan yang lain, pada hal (kemungkinan) tidak saling kenal karena pakai alamat dan nama samaran. Itu berarti, waktu yang digunakan berselancar di dunia maya tidak berdaya guna dan berhasil guna. Tidak terjadi pengayaan pengetahuan dan malahan pembicaraan bergeser dari materi tema diskusi sehingga upaya penarikan benang merah untuk “solusi” tidak bertambah jelas. Apakah dalam hal ini ada kebenaran pernyataan Hyman Rickover yang mengatakan, “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people“. Saya sendiri tidak menyetujui pernyataan itu. Sebab sesungguhnya banyak ide-ide besar (great minds) bertumbuh dari rakyat, baru kemudian didiskusikan oleh kelompok terpelajar dan terdidik.

Dalam hubungan memanfatkan waktu ini, saya mengajak pembaca yang budiman merenungi yang dikatakan Scott Peck dalam bukunya tersebut di atas. Dikatakan bahwa: du kelemahan perennial manusia yaitu: ketakutan dan kemalasan. Rasa takut dan kemalasan membuat manusia selalu mencari jalan pintas dan jalan mudah.

Jika ketakutan dan kemalasan dibiarkan dan malah dipraktekkan, akan menguat dan berakar dalam diri kita. Akibat selanjutnya kita akan selalu menghindar sekuat tenaga dari tanggung-jawab yang legal maupun yang natural. Tidak akan pernah mandiri dan independen, lebih suka menerima dari memberi, selalu tergantung pada orang lain, dan bersikap parasit. Padahal untuk hidup bermartabat pada tingkat sosial, selain kemandirian, orang juga dimintai untuk berkontribusi secara nyata. Kontribusi merupakan hasil dari karakter produktif, tetapi justru karakter inilah yang tidak dimiliki oleh para penakut dan pemalas. Untuk menutupi kekurangan ini, mereka kemudian mengambil jalan manipulasi. Jalan manipulasi kini menjadi jalan selamat bagi mereka.

Dan karena jalan pintas ini umumnya memberikan hasil awal yang baik, mereka mulai ketagihan, sehingga otot malas dan takut mereka semakin menguat. Demikianlah lingkaran ini lama kelamaan semakin membelenggu dengan kuatnya. Tidak heran kalau Scott Peck menamai ketakutan dan kemalasan ini sebagai sepasang karakter maut. Lawan dari karakter maut ialah keberanian dan kerajinan. Keberanian itu tindakan menghadapi kenyataan apa adanya, dan menerima risiko kehidupan dengan jiwa besar. Sedangkan kerajinan yang dimaksud disini bukanlah kesibukan, melainkan keaktifan — didorong oleh keberanian juga.

Senafas dengan pemikiran Scott ini, Erich Fromm dalam bukunya To Have or To Be membuktikan bahwa satu-satunya modus pertumbuhan psiko-spiritual yang sehat ialah modus menjadi, sedangkan modus memiliki akan membawa orang pada pembusukan diri. Modus menjadi, yakni metoda memperoleh kesenangan/kebahagiaan/sukacita/kenikmatan melalui proses bertumbuh “menjadi”atau “to be” (misalnya menjadi: mahasiswa, sarjana, ayah, ibu, ahli). Lawannya, modus “memiliki”, yaitu metoda mencari kesenangan/kebahagiaan/sukacita/kenikmatan melalui kepemilikan benda-benda atau “to have”.

Jadi, dari pendapat kedua ahli itu disimpulkan bahwa kalau seseorang mau bertumbuh dengan sehat pada tingkat psiko-spiritual maupun etis-sosial harus mengalahkan ketakutannya dan mendisiplinkan kemalasannya. Hanya, rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas karena merasa telah aman. Ibarat bertabiat model sõkha (babi hutan atau celeng) yang ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama. Alasan babi hutan selalu lewat jalan yang sama karena demikian naluri kebinatangannya. Akan tetapi mengapa para koruptor mengulangi perbuatan serakahnya, meskipun telah menjadi jutawan atau malah milyarwan, jawabannya konsisten dengan kelemahan perennial Scott Peck, yaitu karena malas dan takut susah. Orang yang menyia-nyiakan waktu.

Sekarang, siapakah yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan, mendewasakan, dan mencerahkan diri kita dan masyarakat ? Tentu kita sendiri. Saya dan anda. Kita sendiri yang harus mempertanggungjawabkan kebebasan yang dikaruniai Tuhan Sang Pencipta kepada kita (dipetik dari buku Jansen H. Sinamo “Mengubah Pasir Menjadi Mutiara” (Gradien, 2005).

Waktu adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia. Adalah bijak bila waktu dengan sadar kita memanfaatkan dengan optimal untuk memperoleh informasi yang membuat hidup semakin penuh gairah dan bahagia! Karenanya penguasaan pemanfaatan teknologi komunikasi informasi merupakan kemestian kebutuhan bagi perkembangan peningkatan mutu hidup dan kehidupan. Tidak ada salahnya mengulangi apa yang telah tertulis di atas bahwa: Jika kesadaran tentang nilai waktu, yakni akan sisa waktu (karena semua pasti menghadapNya) yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan peran kita saat ini, di manapun kita berada, maka saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai. (bersambung)

Anggota DPRD Nias Diadili, Didakwa Main Judi

Tuesday, May 5th, 2009

Gunungsitoli – Lima anggota DPRD Nias yakni A H alias Ama Jepon (41) warga Km 8 Madula , alias Ama Wanda (39) warga Jl Sisingamaraja 7 Gunungsitoli, B G alias Ama Lenta (40) warga Jl Kelapa Gunungsitoli, OH alias Ama Wira (52) dan IW alias Ama Boi didakwa bermain judi di kantor DPRD Nias. (more…)

Panwaslu Minta KPUD Nias Lakukan Perhitungan Ulang

Tuesday, May 5th, 2009

Gunungsitoli – Ketua Panwaslu Kabupaten Nias Drs Asalman Telaumbanua menyurati KPUD Nias sesuai surat No.623/Panwaslu-Nias/IV/2009 tgl 23 April 2009 perihal penerusan laporan. (more…)

Oguna’õ Ginõtõ – Bagian 1 & 2

Monday, May 4th, 2009

Catatan: Redaksi mendapat kiriman sebuah artikel cukup panjang dari Bapak Mathias J. Daeli (A. Ugi) dengan judul Oguna’õ Ginõtõ (Gunakanlah Waktu). Tulisan tersebut kami bagi atas beberapa penggalan, yang mulai kami tayangkan hari ini hingga beberapa hari ke depn. Selamat mengikuti.

Oleh Mathias J. Daeli

Bagian I
Judul di atas adalah bahasa Nias (li Niha). Penggalan kalimat nasehat orang tua yang sering saya dengar ketika saya masih kecil di kampung. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia: “gunakanlah waktu”. Makna yang terkandung di dalamnya adalah nasehat agar menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya – yang memiliki makna yang sama dalam bahasa Inggeris make the best of time.

Pada waktu kecil sehabis bermain dengan teman-teman, kami duduk berkumpul istirahat. Pada saat itu kadang-kadang ada orang tua yang sudah sepuh di kampung mendekati sambil mengomentari permainan kami dan memberi nasehat : “Oguna’õ ginõtõ. Bõi mirõrõ ami fawude” (Gunakanlah waktu. Jangan terlena dengan bermain saja). Juga nasehat seperti ini digunakan untuk mengingatkan anak-anak muda yang lebih senang fabude atau fakese (ngobrol) tanpa batas waktu dan pokok pembicaraan yang jelas sehingga seakan-akan tidak ada tugas lain yang perlu dikerjakan.

Makna tema dan pengalaman hidup sehari-hari menjadi dorongan bagi saya untuk berupaya menggugah kesadaran kita, betapa penting dan vital waktu bagi hidup dan kehidupan. Bagaimana memanfaatkan waktu sebaik-baiknya ? Apakah dengan mengikuti nasehat: ”Tidak lari gunung dikejar”. Atau nasehat yang berbunyi : “Waktu tidak menunggu”. Dua hal yang memiliki makna berbeda mengenai waktu. Atau nasehat lain yang mengatakan : “Jika kesadaran tentang nilai waktu yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan peran kita saat ini, dimanapun kita berada, maka saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai”.

Manusia memang belajar dari waktu, namun ironisnya sering alpa – suka mengulang-ulang kesalahan. Di sisi ideal manusia berusaha mencapai peradaban setinggi-tingginya, menciptakan tanda kemanusiaan seagung mungkin. Di sebaliknya manusia juga merasa bangga kalau berhasil menciptakan alat penghancur kehidupan canggih seperti nuklir, manusia mencaplok milik orang lain, korupsi, menindas, egois. Pada hal pengalama sejarah membuktikan : peperangan, penindasan, dan sebagainya yang melanggar kemanuasiaan sungguh merendahkan nila kemanusiaan. Apakah tidak belajar dari pengalaman itu ? Kalau demikian apa yang diajarkan oleh waktu ?

Terus terang saya tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan memberikan makna yang tepat mengenai waktu. Secara jujur pula mengakui bahwa diri saya bukan pengelola dan pemanfaat waktu yang baik.

Demikian maka artikel ini tidak membahas waktu secara luas. Pada bagian I saya mengajak anda – pembaca yang budiman merenungi makna nasehat orang tua tersebut pada judul. Kemudian pada bagian II menyampaikan beberapa pandangan mengenai waktu sehingga jelas peranan penting dan vital waktu bagi hidup dan kehidupan. Pada bagian III mengajak pembaca yang budiman bersama-sama melihat dahsyatnya nilai kerugian akibat tidak termanfatkan waktu dengan baik. Mengapa terjadi demikian ? Apa yang menjadi akarnya ? Sedangkan bagian IV merupakan hasil eksplorasi dampak kemajuan IPTEK dengan era globalisasi informasi pada mutu hidup dan kehidupan. Bagian V atau bagian akhir artikel ini berisi saran “membaca” sebagai wahana merebut informasi dengan memanfaatkan waktu dengan baik dan benar.

Sekali lagi penulis tegaskan bahwa usaha ini hanya didorong oleh keinginan berbuat sesuatu dan tidak karena keinginan metransfer keahlian yang memang tidak dimiliki.

Bagian II
Waktu atau inõtõ (bahasa Nias atau li Niha). Apa yang disebut waktu itu ? Bagaimana wujudnya ? Bagaimana sifatnya ? Apa waktu adalah seperti yang ditunjukkan angka-angka jarum jam yaitu: detik, menit, jam ? Berlanjut menjadi hari, minggu, bulan, tahun, abad, dan seterusnya ? Atau waktu itu seperti yang ditulis dalam artikel Nias Online ini, yaitu yang ditunjukkan oleh alam ? Seperti: miwo manu si fõfõna, miwo manu safuria, mohede riwi, moli gara-ara danõ, otufo namo, dan sebagainya (lihat: “Ungkapan Waktu Dalam Tradisi Masyarakat Nias” oleh E. Halawa). Di mana dalam pengertian ini waktu tidak mengenal komporomi dengan “apa” dan atau dengan “siapa”. Waktu tidak pernah menunggu apa dan siapa. Termasuk alam semesta yang bertambah menua. Kita sering mendengar ungkapan “dimakan waktu”. Dalam pengertian ini waktu itu kaku. Mungkin karena itu oleh Iwan Fals mencoba menggambarkan waktu sebagai “sombong”. Ini terlihat dalam bait lagunya yang mengatakan “tergilas oleh waktu yang sombong”.

Kenyataan. Adanya waktu memungkinkan manusia memikirkan segala hal relevan: merencanakan, memprediksi, menangguhkan, mendahulukan; pada saat bersamaan tah kemungkinan berhasil dan kesediaan menerima kegagalan. Karena berencana, manusia belajar menentukan prioritas; apa yang penting, mendesak, harus didahulukan, atau ditunda. Ada yang berpendapat bahwa kita hanya bisa memaknai waktu sekarang (saat kini), bukan masa lalu sebab telah ada dalam kenangan, bukan pula masa depan karena masih dalam angan-angan. Tegas Seneca: “hiduplah sekarang, sebab segala yang akan terjadi adalah milik wilayah tak menentu”. Yang sedang terjadi selalu ada dalam masa kini, tak peduli berapa lama. Itu sebabnya kita selalu bilang masa lalu tak perlu jadi ancaman, sementara masa depan jangan sampai dikhawatirkan. Satu hal pasti, kita yakin, selama ada waktu, segalanya masih mungkin terjadi; hanya saja kita sendiri yang bisa merasakan apa kesempatan tersebut masih terbuka lebar atau sudah sempit dan nyaris tertutup.

“Kamus Besar Bahasa Indonesia” memberikan 4 arti kata “waktu”. (1) seluruh rangkaian saat, yang telah berlalu, sekarang, dan yang akan datang; (2) saat tertentu untuk menyelesaikan sesuatu; (3) kesempatan, tempo, atau peluang; (4) ketika, atau saat terjadinya. Ini pun tidak menjawab tuntas mengenai: apa waktu. Saat, tempo, dan ketika adalah juga waktu dan digunakan untuk mengartikan waktu.

Atau, apakah “waktu” sungguh memiliki entitas dan tidak terkait dengan angka-angka ? Yang berati, waktu yang dimiliki seseorang tidak otomatis menentukan kualitas dan kuantitas tertentu pada objek terkait. Misalnya: pada mobil yang bermerek sama, mobil tua tidak selalu kalah bagus dibandingkan mobil baru. Contoh lain: orang yang berumur lebih tua tidak otomatis memiliki kelebihan dan tidak otomatis lebih bijaksana dari orang yang berumur lebih muda secara usia kalender. Ini disebabkan kadar empati seseorang terhadap waktu tidak sama. Seberapa lama ia bergumul dengan waktu secara baik sehingga berdaya guna dan berhasil guna (makna Tema: Oguna’õ Ginõtõ) .

Ilmuwan—baik fisikawan, filosof, astronom—masih terus berdebat tentang apa sebenarnya waktu. Bagi manusia, waktu suatu misteri. Menurut saya akan tetap misteri. Seorang novelis Inggris, J.B. Priestly mengatakan, “When we pursue the meaning of time, we are like a knight on a quest, condemned to wander through innumerable forests, bewildered and baffled, because the magic beast he is looking for is the horse he is riding.” Manusia selalu tergoda menangkap makna yang tepat dari waktu. Diberikanlah berbagai ungkapan sederhana tentang makna waktu, yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari kita. Seperti : “menghemat waktu”, ”jangan memboroskan waktu”, “jangan membuang-buang waktu”, “jangan menyia-nyiakan waktu”, “hargailah waktu”, “waktu itu adalah uang”, “oguna’õ ginõtõ” (tema di atas), dan sebagainya.

Di kaca belakang angkot (angkutan kota) di Tanah Abang Jakarta pernah saya baca : “anda butuh waktu kami butuh uang” yang berarti “waktu adalah uang”. Ada yang secara parodi mengatakan bahwa “ketidaktepatan waktu atau terlambat” merupakan simbol sukses – jatah pemimpin. Dalam era globalisasi dikatakan bahwa “waktu adalah informasi”, dan lain sebagainya. “Mencuri waktu” ada Parpol yang melakukan waktu menghadapi Pemilu April 2009 dengan berkampanye sebelum waktunya.

Ada juga lelucon tentang orang Indonesia yang suka pesan jam tangan mahal dari Swiss. Sekali waktu bagian uji mutu menemukan jam tangan yang sangat bagus, tapi presisi jarum penunjuk waktunya kurang tepat. Maka si pembuatnya pun langsung dipanggil untuk diminta pertanggunganjawab. Si pembuat senyum-senyum sinis dan mengatakan bahwa yang memesan jam itu adalah orang Indonesia. Mereka tidak memerlukan waktu tepat. Senang jam karet. (Disadur dari koran: Pikiran Rakyat – Bandung).

Kalau demikian: Apakah waktu terkait dengan kepribadian seseorang, suku atau bangsa tertentu ? Fisikawan Isaac Newton sampai Stephen Hawking (waktu artikel ini sedang ditulis sedangan sakit) juga telah mengupas masalah waktu. Tetapi waktu bagi mereka diukur dengan ayunan pendulum, atom-atom yang bervibrasi, dan bukan pengalaman waktu secara psikologis yang tidak terpatok dengan ukuran detik jam atau kalender. Muncullah Einstein melihat “waktu” sebagai tujuan-tujuan eksprimental dan dapat diukur dengan jam. Einstein (1905) memperkenalkan konsep relativitas waktu yang menjadi bagian dari teori menumentalnya Theory of Relativity. Bersamaan dengan itu pula, ia membuat perembesan teori relativitas-nya yang kemudian menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa waktu adalah berjalan serta relative. Manusia dapat melunakkan derap laju waktu – yang kata orang awam tak kenal kompromi itu. Secara teori ilmiah para ilmuwan telah membuktikan bahwa jika seseorang mampu bergerak secepat cahaya, 300.000 km per detik, maka waktunya akan menjadi diam tak berjalan.

Einstein membuat metafora untuk menjelaskan kerumitan teori relativitasnya mengenai waktu dengan sangat sederhana. Dikatakan bahwa “When you sit with a pretty girl for an hour it seems like a minute, but when you are on a hot stove, a minute seems like an hour. That’s relativity.” Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas tungku panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas. Disini terlihat kejeniusan Einstein melihat dan menjelaskan secara sederhana perbedaan antara waktu fisik dengan waktu psikologis. Waktu bahagia terasa begitu cepat berlalu. Sebaliknya ketika kita sedih waktu terasa begitu lama bergulir seolah-olah tak mau berakhir, sampai suatu saat ada sesuatu atau seseorang, mengingatkan diri kita bahwa : semua itu akan berlalu. (Catatan :saya pernah menggunakan perbedaan antara waktu fisik dengan waktu psiklogis ini untuk menjelaskan penderitaan para korban gempa di Nias (Maret 2005) akibat keserakahan oknum BRR. Lihat: BRR Tungku Panas Dan Gadis Cantik Einstein, Nias Online oleh Mathias J. Daeli ).

Dengan teori relativitas Einstein meramalkan bahwa apabila ada partikel yang mempunyai kecepatan melebihi cahaya, dan sekarang para ilmuwan sedang berburu partikel itu, terbukalah kesempatan bagi manusia ber- “ada” di masa depan dan di masa silam. Yang berarti, jika ia mampu bergerak lebih cepat dari pada cahaya maka waktunya akan menjadi melunak dan mundur, dan ia telah berhasil mendahului waktu. Berarti pula, manusia memiliki akses ber-“ada” pada masa kini, di masa depan, maupun di masa lampau (time traveler). Seandainya partikel yang dimaksud berhasil ditemukan, kita tidak tahu lagi menjelaskan waktu mundur kemasa lampau dan waktu maju kemasa depan. Hanya Tuhan yang maha mengetahui. Santo Agustinus (354-430) pernah berkata: “Aku selalu tahu apa itu waktu, tetapi pada saat akan mau menerangkannya, aku tidak mampu.” “Waktu” memang misteri bagi manusia (Pkh 9:12). Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa ada diantara anda yang mampu menjelaskan “apa” waktu itu. Bagaimana seandainya anda dapat kembali ber- “ada” di masa silam ? Jawab sendiri. Bisa-bisa mencegah kelahiran sendiri.

Namun, pengaruh dari relativitas waktu yang muncul dari Theory of Relativity Einstein ini, para ilmuwan (scientist) mengubah kata-kata kebingungan dan pasif mengenai makna waktu menjadi aktif-rasional, yakni dengan kata Compete With The Time. Berlomba dengan waktu. Yang didasarkan pada penemuan zona-zona waktu yang relative serta beberapa formula yang dapat melunakkan waktu. Sehingga relativitas dan melunaknya sang waktu adalah sebuah realitas.

Berdasar penelitian dan memang kenyataan bahwa masing-masing suku atau bangsa memiliki pemaknaan sendiri mengenai waktu. Robert Levine, profesor psikologi dari California State of University di Fresno mengajukan tesis menyangkut apa yang disebut sebagai waktu sosial yaitu denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa memang manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama (Levine dan Wolff , Artikel di Majalah Psychology Today, Maret 1985).

Pandangan Levine tersebut tentu tidak memerlukan sanggahan. Akan tetapi tidak berarti bahwa makna waktu bagi masyarakat itu bersifat statis. Juga tidak berarti membenarkan atau menyalahkan makna peribahasa: ”Biar lambat asal selamat”. Atau membenarkan atau tidak membenarkan makna pertanyaan Madonna Why time flies, so soon ? Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? dalam lagunya Hung Up dari albumnya Confessions on a Dance Floor (2005).

Berubah atau tidak berubah waktu sosial tergantung pada jawaban masyarakat itu sendiri pada pertanyaan: “Sadar” atau tidak sadar pada hidup dan kehidupan ? Kalau sadar pun tidak hanya sadar praktis melainkan sadar reflektif. Kesadaran praktis, meminjam istilah Anthony Giddens, seperti orang yang bangun tidur tidak perlu harus berpikir lagi ketika turun dari tempat tidur. Sedangkan kesadaran refleksif berimplikasi pada perubahan. Bahwa tidak ada yang pasti didunia ini selain perubahan. Memang perubahan membawa ketidakpastian dan ketidakpastian menakutkan. Namun, apabila ingin hidup bermartabat pada tingkat sosial rasa takut dan kemalasan harus dilawan (Scott Peck, dalam bukunya The Road Less Traveled, 1978). Kata Erich Fromm, “Man’s main task is to give birth to himself, to become what he potentially is”.

Uraian di atas hanya dalam upaya memberi gambaran hubungan penting dan vital antara waktu dengan hidup. Konsep waktu memberi kesadaran dan tanda pada kehidupan seperti : lahir, peringatan, reuni, janji, sejarah, mati, dan sebagainya. Tetapi waktu tidak sama dan serupa dengan hidup. Hidup berakhir tetapi waktu tidak. Hanya Tuhan yang tidak memiliki waktu lampau, waktu kini, dan waktu yang akan datang. Waktu kita adalah harunia Tuhan dan tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri dan menggunakan untuk melakukan perbuatan baik. (bersambung).

Hasil Rekapitulasi Suara di Sumut Kacau

Monday, May 4th, 2009

MEDAN, KOMPAS.com – Hasil rekapitulasi suara tingkat provinsi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara selama sepekan (24 April-1 Mei) ternyata masih kacau. (more…)

Hadirat Manaõ Menang di PN Gunugsitoli

Saturday, May 2nd, 2009

* KPU Nisel Diperintahkan Membayar Kerugian Rp 1,7 M

Gunungsitoli – Majelis Hakim PN (Pengadilan Negeri) Gunungsitoli yang diketuai Togar SH MH dibantu hakim anggota Morailam Purba SH dan Ikrar Niekha Efau SH serta panitra Anwar Gea SH mengabulkan gugatan Hadirat Manao terhadap KPU (Komisi Pemilihan Umum) Nisel (Nias Selatan). Hadirat Manao menggugat KPU Nisel karena mencoret namanya dari DCT (Daftar Calon Tetap) pada rapat pleno tanggal 30 Oktober 2008. PN Gunungsitoli mengabulkan gugatan kerugian materi Rp. 1,7 M dan inmateri Rp. 1.115,50.

Putusan itu dibacakan pada sidang Kamis (30/4). Hadirat Manao dalam gugatannya memberi kuasa kepada Takwa Nehe SH dan Rekan yang berkantor di Medan dan Teluk Dalam Nisel. Hadirat Manao menggugat KPU Nisel karena namanya dicoret dari DCT hasil rapat pleno KPU Nisel tertanggal 30 Oktober 2008. Rapat pleno tersebut dengan ketua Honogõdõdõ Ge’e, STh serta anggota Arisman Sarumaha, Hasaziduhu Moho, S.Th, Tandronafau Laia, Solo’ofona Manao. Tetapi DCT tersebut direvisi oleh KPU pada tanggal 8 November 2008 dengan menghilangkan Hadirat Manao. Karena UU No.10 tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD Propinsi Kabupaten dan kota tidak ada diatur revisi DCT, sehingga ia menggugat ke Pengadilan Negeri Gunungsitoli. Sedangkan KPU Nisel memberi kuasa kepada F. Halawa SH dari Karya Bakti Nusantara Medan.
F Halawa, SH yang diminta wartawan SIB tanggapannya atas putusan tersebut mengatakan pikir-pikir. (SIB, 2/5/2009)

Penghitungan Suara di Kpud Nisel Gagal Mencapai Kesepakatan

Friday, May 1st, 2009

*Saksi Parpol Minta Penghitungan Ulang di Seluruh PPK

Nias Selatan – Rapat Pleno KPUD Kabupaten Nias Selatan Rabu (29/4) yang dihadiri Sekda mewakili Bupati Nisel Hengky Yusuf Wau SH MH, Ketua DPRD Nisel Hadirat Manao SH, Kapolres Nisel AKBP Sanudin Zebua, SH, Ketua Panwaslu Nisel Ismail Dakhi, anggota DPR-RI Drs Arisman Zagõtõ akhirnya gagal disebabkan para pimpinan Parpol maupun saksi yang hadir tidak menyetujui rencana KPUD yang hanya ingin membacakan hasil rekapitulasi dari PPK yang sudah jelas-jelas penuh dengan rekayasa dan kecurangan.

Ketua DPRD Nisel Hadirat Manaõ, SH dalam sambutannya menegaskan dan meminta KPUD bersama Panwaslu untuk melakukan penghitungan “ulang” di setiap PPK dengan mengacu pada Model C2 Plano dari KPPS sehingga hasil Pemilu tanggal 09 April 2009 benar-benar murni tanpa rekayasa dan kecurangan.

Sama halnya yang dijelaskan oleh Anggota DPR-RI Drs Arisman Zagoto dalam sambutannya, bahwa selama proses pelaksanaan Pemilu tanggal 09 April 2009 telah terjadi pelanggaran Undang-undang Pemilu yang dilakukan oleh penyelenggara Pemilu baik KPPS maupun PPK, dimana kepada para saksi Parpol tidak diberi lembaran keberatan yang telah tersedia dalam Berita Acara Sertifikat Penghitungan Suara di TPS, paparnya.

Selanjutnya Arisman Zagõtõ mengatakan bahwa PPK adalah bagian dari KPU dan bukan hanya sebatas Komisi Perekap hasil kerja, tetapi diharapkan agar setiap adanya indikasi kecurangan yang terjadi hendaknya KPU bersama PPK menelitibaru semuanya hasil Pemilu itu ditetapkan, tegas Politisi PDS tersebut.

Sebagai anggota DPR-RI yang sedang melakukan tugas pengawasan, menanyakan kepada Kapolres Nisel AKBP Sanudin Zebua, SH bagaimana kasus PPK yang tertangkap basah membawa Berita Acara Penghitungan Suara di TPS ke rumah salah seorang Caleg ?…. dan kepada Ketua Panwaslu juga menanyakan dari lebih 40 kasus tindak pidana Pemilu yang dilaporkannya berapa yang telah ditindak lanjuti ? Ternyata hal ini baik Kapolres maupun Ketua Panwaslu Nisel tidak memberi tanggapan atau jawaban.

Para pimpinan Parpol dan saksi meminta KPUD untuk tidak membacakan hasil rekapitulasi PPK karena sudah jelas penuh rekayasa dan kecurangan, misalnya PPK Gomo yang telah melakukan penggelembungan suara Parpol dan Caleg tertentu baik untuk tingkat Kabupaten, Provinsi maupun Pusat sehingga salah seorang anggota PPKnya dijemput paksa oleh Polres Nisel dan personil PPK lainnya masih terus dicari keberadaannya.

Begitu pula PPK Lolowau dan Lolomatua, sebelumnya 18 April 2009 dijemput oleh KPUD bersama aparat kepolisian yang dipimpin Waka Polres Nisel Kompol Drs O Zebua dan dibawa di Kantor KPUD Nisel sehingga disanalah dikerjakan Berita Acara PPK walaupun belum dilaksanakan rapat pleno PPK, tetapi pada Sabtu malam (25 April 2009) PPK Lolomatua baru melakukan pembacaan hasil rekapitulasi perolehan suara Parpol sehingga 3 orang anggota PPK tidak bersedia menandatangani Berita Acara karena diduga bahwa rapat pleno PPK tersebut hanya suatu “formalitas” saja.

Begitu pula di PPK Lõlõwa’u, pembacaan hasil rekapitulasi hanya suatu sandiwara dan malah oknum Ketua PPKnya sempat hendak melarikan diri tetapi dikejar oleh pihak kepolisian dan diamankan saat berada di Bandar Binaka Gunungsitoli dan dibawa pulang ke Nias Selatan.

Para pimpinan Parpol dan saksi mendukung penegasan Ketua DPRD Nisel supaya pihak KPUD dan Panwaslu Nisel melakukan penghitungan ulang di semua PPK Kabupaten Nias Selatan dengan mempedomani Model C2 Plano dari TPS, agar suara yang diperoleh Parpol atau Caleg benar-benar “murni” sesuai hasil Pemilu tanggal 09 April 2009, ungkap Ketua DPC PDIP Nisel Budieli Laia.

Sekretaris PDK Nisel Herman Zendratõ SPd dan Ketua Distrik PPIB Kec. Amandraya Asazatulo Giawa menjelaskan kepada SIB bahwa hasil rekapitulasi yang disampaikan PPK jelas tidak sesuai hasil hari “H” Pemilu 09 April 2009, karena Berita Acara KPPS ada yang direkayasa, dan malahan perolehan suara Parpol pada Rapat Pleno PPK saja dapat berubah dalam Berita Acara saat dikirim ke KPUD. Misalnya di PPK Amandaya pada saat Pleno suara untuk DPRD Provinsi yang unggul adalah Partai PIB 3205 suara, Hanura 1641 suara, Kedaulatan 20 suara, PDP 813 suara, RepublikaN 1851 suara, Pelopor 468 suara, Golkar 1503 suara, PNBK 117 suara, PKDI 1958 suara, PIS 3 suara, sedangkan dalam Berita Acara yang dikirim PPK ke KPUD ternyata terjadi perobahan suara yaitu Partai PIB 3007, Hanura 3162, Kedaulatan 427, PDP 1595, RepublikaN 3581, Pelopor 1148, Golkar 2054, PNBK 315, PKDI 268 dan PIS 2306 suara.

Hal ini bisa terjadi karena setelah selesainya pembacaan hasil rekapitulasi rapat pleno PPK ternyata pihak PPK tidak langsung membagikan Berita Acara tersebut kepada para Saksi Parpol walaupun para Saksi telah menandatanganinya, sehingga dengan leluasa pihak PPK mengubah-ubah hasil perolehan suara setiap Parpol tersebut, ada yang ditambah, dikurangi maupun dihilangkan, tegas Zendratõ dan Giawa.

Untuk menjamin dan menjaga kemurnian hasil Pemilu tanggal 09 April 2009, masyarakat Nias Selatan mengharapkan bantuan dan dukungan KPUD Provinsi Sumut dan KPU Pusat bersama Panwaslu/Bawaslu untuk melakukan Penghitungan Suara “Ulang” di semua PPK di Nias Selatan dengan mendasari Model C2 Plano dari TPS/KPPS, karena pemaksaan pengesahan hasil Rekapitulasi PPK di setiap Kecamatan di Nias Selatan adalah menghancurkan demokrasi dan mengkhianati pilihan rakyat. (SIB, 1 Mei 2009)