Archive for May 20th, 2009 | Daily archive page

Dua Tersangka Penganiayaan Ditahan Polres Nias

Wednesday, May 20th, 2009

Gunungsitoli – Kasat Reskrim Polres Nias AKP RA Purba membenarkan penahanan terhadap tersangka penganiaya anggota LSM ICW Cabang Nias tanggal 7 bulan April 2009 yang dilakukan oleh anggota Linmas dan anggota PPK Desa Dahana Dusun II Kec Bawolato Kab Nias.

Laporan Polisi Nomor. LP : 110/IV/2009/NS. tanggal 8 April 2009 bahwa telah terjadi peristiwa pekara penganiayaan secara bersama – sama kepada korban Aroziduhu Zebua (33) Alias Ama Arlin Zebua bahwa telah dianiaya oleh AL. (29) dan YL. (30) di rumah Lokhonia Lafau (43) Alias Ama Gawima warga Dusun II Desa Dahana Kec Bawolato Kab Nias.

Akibat kejadian tersebut korban mengalami luka serius di bagian kepala dan pendarahan, dan atas peristiwa tersebut pihak korban melapor di Polres Nias pada tanggal 8 Maret 2009, namun proses kasus tersebut tidak dilakukan mengingat situasi pelaksanaan pemilu legislatif. Tapi setelah itu dilakukan pemeriksaan saksi di Polres Nias yang ditangani oleh unit Tipikor dengan anggota pembantu penyidik Briptu Iskandar.

Setelah pemeriksaan dilakukan Briptu. Iskandar maka kedua tersangka ditahan di sel Mapolres Nias sesuai surat perintah penahanan No. SPH/41/V/2009/Reskrim tanggal 15 Mei 2009 melanggar pasal 170 ayat 1 dan 2. LE 2 E subs pasal 351 ayat 1 dan 2 YO pasal 35 ayat 1 le dari KUHP pidana.

Sementara pihak korban Aroziduhu Zebua kepada SIB mengatakan, pada tanggal 7 April 2009 datang kerumah PPK Lokhonia Lafau untuk menyampaikan surat bahwa dia akan menjadi pemantau pelaksana Pemilu Legislatif di Desa Dahana Kecamatan Bawolato Kab Nias dan sesuai mekanisme Pemilu legislatif bahwa tiga hari sebelum pemilu harus melapor ke PPK baik saksi dari Partai Politik maupun dari LSM.

“Tetapi yang terjadi pada diri saya justru saya diancam oleh beberapa orang yang ada dirumah tersebut dan sampai saya dipukuli dan untung ada orang yang menolong saya pada kejadian tersebut. Sehingga saya bisa selamat kalau tidak mungkin nyawa saya akan hilang,” katanya.

Anggota DPRD Nias dari Dapem II Ronal Zai mengucapkan terima kasih kepada kapolres Niasa dan jajarannya yang telah berhasil menangkap kedua pelaku dan sampai menjebloskan kedalam tahanan Polres Nias. Selanjutnya dia meminta Kapolres Nias AKBP Wawan Munawar SIk MSi dan Reskrim Polres Nias supaya dilakukan pengusutan terhadap otak dari pada pelaku tersebut.

Selama ini setiap pemilu di Desa Dahana selalu terjadi perbuatan pelanggaran pemilu bahkan terjadi perbuatan premanisme untuk menakut – nakuti para saksi Parpol dan perbuatan ini perlu dilakukan pembasmian agar tidak terjadi di kemudian hari atau setiap pemilu kedepan sehingga di Desa tersebut pemilu dapat dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku harap Ronal Zai sebagai anggota DPRD Nias. (Sumber: SIB, 20/5/2009)

Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal

Wednesday, May 20th, 2009

Oleh Faisal Basri

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintahan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak Boed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan, dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah … Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.

Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno-Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.

Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa. (Sumber: Faisal Basri Blog)