Archive for April, 2009 | Monthly archive page

PEMILU 2009 — KPU Sumut Siap Pecat KPU Tapteng

Thursday, April 30th, 2009

Medan, Kompas – Ketua Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara Irham Buana Nasution menyatakan siap memecat anggota Komisi Pemilihan Umum Tapanuli Tengah, yang terbukti terlibat dalam kecurangan pemilihan umum di daerah tersebut. Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara telah membentuk tim pencari fakta yang salah satu tugasnya adalah menginvestigasi dugaan penggelembungan dan jual-beli suara di Tapanuli Tengah.

”Kalau nanti di Tapteng (Tapanuli Tengah) ditemukan KPU Tapteng melanggar kode etik, tidak netral dan tidak jujur, sesuai kewenangan undang-undang, KPU Sumut bisa memberhentikan mereka. Kami sekarang bekerja sama dengan Panwaslu Sumut sedang menelusuri dugaan kecurangan pemilu di Tapteng,” ujar Irham di Medan, Rabu (29/4).

Tim pencari fakta (TPF) akan dipimpin anggota KPU Sumut Divisi Hukum, Surya Perdana. Selain menginvestigasi dugaan penggelembungan dan jual-beli suara di Tapteng, TPF, lanjut Irham, juga akan menyelidiki beberapa dugaan kecurangan di Nias Selatan, Deli Serdang, Langkat, dan Batubara. Daerah-daerah tersebut, menurut Irham, mendapat perhatian khusus dalam kerja TPF.

Khusus untuk dugaan kecurangan pemilu di Tapteng, Irham mengatakan, KPU Sumut telah menginstruksikan KPU Tapteng mengumpulkan semua formulir rekapitulasi suara di tiap tingkatan. ”Kalau memang terjadi perbedaan dan ini disengaja oleh penyelenggara, tindakannya jelas. Kami punya kewenangan memberhentikan KPU Tapteng,” katanya.

Selain bekerja untuk menyelidiki berbagai tindakan kecurangan di daerah, TPF KPU Sumut juga akan menginventarisasi permasalahan di seputar daftar pemilih tetap. (BIL)

Sumber: Kompas

Flu Babi Menelan Korban Pertama Di AS

Wednesday, April 29th, 2009

Seorang bayi berumur 23 bulan di Texas merupakan korban pertama flu babi di Amerika Serikat dan pertama di luar Meksiko. Demikian dilaporkan oleh Reuters Rabu (29/4). Para pejabat Amerika juga mengkonfirmasikan telah 65 orang terjangkit flu ganas itu di Amerika.

Sementara itu dilaporkan bahwa Jerman merupakan negara ke delapan yang kemasukan flu babi. Negara-negara yang telah terjangkit di luar Meksiico adalah AS, Kanada, Selandia Baru, Israel, Inggris, Spanyol dan Jerman.

Menteri Kesehatan Meksiko Jose Angel Cordova mencurigai kota La Gloria di negara bagian Veracruz, Meksiko, sebagai tempat awal menyebarnya flu mematikan ini. Di kota ini, seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun bernama Edgar Hernandez diperkirakan sebagai orang pertama yang terjangkit virus ini bulan lalu. Para petugas kesehatan pada awalnya menyangka Edgar menderita flu biasa. Namun setelah ratusan mengalami gangguan penafasan dan dua orang bocah meninggal di sana, diketahui adanya jenis (strain) baru flu babi setelah sampel dari Edgar dikirim ke AS untuk pemeriksaan. Edgar sendiri selamat setelah dirawat di rumah sakit. (Rtr/TA/TO).

Menggairahkan Kembali Wisata Bahari Pulau Nias

Wednesday, April 29th, 2009

Oleh: James Pardede

Jika melihat keberadaan wisata bahari di Nias dan Nias Selatan, pemerintah setempat belum serius dalam mengembangkannya menjadi salah satu daerah tujuan wisata andalan. Sejak gempa dan tsunami melanda Nias dan Nias Selatan, banyak perubahan telah terjadi di dua kabupaten ini. Jalan sudah mulus, jarak tempuh dari Nias ke Nias Selatan sudah semakin singkat. (more…)

Jadwal Rekapitulasi Sumut Semakin Tak Pasti

Wednesday, April 29th, 2009

MEDAN – Jadwal selesainya proses rekapitulasi perhitungan suara hasil Pemilu tingkat provinsi KPUD Sumut semakin tidak pasti. Pasalnya, ternyata Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nias Selatan (Nisel) baru akan memulai rekapitulasi tingkat kabupaten. (more…)

KPU Tapteng dan Nisel Diperiksa

Wednesday, April 29th, 2009

MEDAN — Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara dalam waktu dekat segera memeriksa Komisi Pemilihan Umum Tapanuli Tengah dan Nias Selatan, terkait dugaan kecurangan pemilu yang sistematis dan terorganisasi di kedua daerah tersebut. Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara bahkan telah secara resmi meminta Komisi Pemilihan Umum Tapanuli Tengah untuk mengirim semua formulir rekapitulasi suara di tiap tingkatan terkait dugaan adanya manipulasi dalam penghitungan suara. (more…)

Berbagai Negara Berjaga-jaga Menghadapi Flu Babi

Monday, April 27th, 2009

Adelaide (Nias Online): Setelah flu jenis baru yang dikenal sebagai flu babi (swine flue) mulai menelan korban di Mexico dan gejala-gejalannya dilaporkan menimpa sejumlah orang di berbagai negara, otorita kesehatan di berbagai negara mulai mempersiapkan diri menghadapi keadaan terburuk.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pertemuan darurat Minggu kemarin (26/4) mendesak seluruh negara untuk mengamati kasus-kasus flu yang berjangkit secara meluas dan mengambil tindakan secepatnya. WHO akan memutuskan besok (28/4) apakah menyatakan kasus ini sebagai kasus pandemik.

Di Mexico korban flu babi diperkirakan telah mencapai 103 orang dan sekitar 1614 orang terjangkit. Pemerintah Mexico telah memerintahkan penutupan sekolah-sekolah dan gedung-gedung tempat berkumpul orang banyak seperti perpustakaan dan universitas-universitas. 

Virus baru ini – kombinasi bahan genetik dari babi, burung dan manusia – juga telah berjangkit pada 8 orang di Texas dan California, walau sampai sekarang belum ada korban meninggal yang dilaporkan dari Amerika. Secara keseluruhan sudah ada 20 kasus di AS. Pemerintah AS telah menyatakan keadaan daruat kesehatan dengan menyiagakan badan-badan federal, negara-negara bagian dan pemerintahan lokal untuk menghadapi meluasnya daerah jangkitan. AS juga akan memerikasa kesehatan pengunjung yang datang dari daerah yang terjangkit.

Seorang kru pesawat British Airways dilaporkan mengalami simpton flu yang mirip dengan flu babi dalam penerbangan pulang dari Mexico; tetapi hasil tes dinyatakan negatif. Sejauh ini belum ada kebijakan khusus yang dikeluarkan pemerintah Inggris.

Di Hongkong, setiap orang yang datang dari Mexico yang menunjukkan gejala virus babi akan dimasukkan ke rumah sakit. Scanners yang bisa mendeteksi demam disebarkan di bandara-bandara di titik-titik masuk ke Hong Kong.

Di Indonesia belum ditemukan kasus; namun kesiagaan ditingkatkan, termasuk mengukur suhu badan para pengunjung yang memasuki Indonesia.

Langkah-langkah serupa diterapkan di Singapura, Spanyol dan Perancis.

Di New Zealand, 20 orang pelajar dan 3 orang guru yang baru pulang dari kunjungan tiga minggu di Mexico masih dikarantina untuk pengecekan apakah mereka terjangkit flu mematikan itu. Sepuluh dari pelajar itu positif terjangkit virus flu A – kategori umum jenis yang mencakup flu babi H1N1. Para petugas sedang mencari keberadaan para penumpang penerbanagn Air New Zealand NZ1, penerbangan yang membawa pulang para pelajar itu. Pemerintah juga meminta semua warga negara yang mengunjungi Mexico atau Amerika Utara dalam dua minggu terakhir untuk menghubungi petugas kesehatan apabila mereka menunjukkan gejala mirip flu babi.

Walau belum ada ditemukan kasus, Rusia melarang semua impor daging dari Mexico dan negara-negara Amerika Utara.

Di Jepang belum ditemukan kasus; hari ini (27/4) Kabinet bersidang untuk merumuskan langkah-langlah pencegahan masuknya virus itu ke Jepang. Peralatan termografis mengukur suhu badan para penumpang yang tiba di Bandara Internasional Narita dari Mexico.

Sementara itu Cina telah melarang impor daging babi dari Mexico dan sebagian daerah di Amerika Serikat. (CNN/ABS/AFP/RTR,MSN)

Gambar: 1. Masyarakat memakai masker penutup hidung memasuki Rumah Sakit Umum di Mexico City, Jumat – 24/4, (2). Citra virus babi A H1N1 dari penyebaran luas tahun 1976 (TNZ).

Menyerap Kata-Kata Asing Ke Dalam Li Niha

Friday, April 24th, 2009

 

Untuk mengembangkan dan mempertahankan keberadaan Li Niha sebagai alat komunikasi, masyarakat Nias selaku petuturnya haruslah siap menerima ‘infiltrasi’ kata-kata asing ke dalam Li Niha. Tanpa itu, tanpa masuknya kata-kata asing tadi, Li Niha akan sangat kering sebagai alat komunikasi, sangat terbatas geraknya untuk menjadi alat komunikasi yang efektif.

Kemajuan di berbagai bidang kehidupan telah melahirkan berbagai macam ide, konsep, tekonologi, dan sebagainya yang melahirkan kosa kata baru yang menjadi milik manusia dalam kesehariannya. Kita sudah semakin terbiasa dengan berbagai istilah yang terkait dengannya: mailing list, email, teleskop, dsb. Pasar membanjiri kita dengan berbagai barang buatan teknologi: telefon genggam, ipod, keyboard, dsb.

Li Niha, karena posisinya yang sangat marginal dalam percaturan dunia bahasa, hampir tidak memiliki andil apa pun untuk melahirkan istilah yang terkait dengan kemajuan tadi. Masyarakat Nias tentu saja tidak perlu berkecil hati, karena nasib yang sama dialami oleh suku-suku bangsa dan bangsa-bangsa lain, yang tergolong besar sekalipun.

Pemasukan unsur-unsur luar ke dalam bahasa Nias tidaklah mungkin kita hindari, dan bahkan perlu. Sebab dengan demikian Li Niha akan diperkaya. Moto, gambara, foto, koputö (kofutö), nögara, söpeda, bufati, cama (camat), zuta (juta) … adalah beberapa contoh kata-kata asing yang masuk ke dalam perbendaharaan kata Li Niha).

Namun, kita harus punya aturan atau kaidah untuk membentengi Li Niha dari unsur-unsur yang bisa menghilangkan jati diri Li Niha. Orang Italia menulis “Frankfurt” sebagai “Francoforto” .. mereka menyesuaikan dengan “lidah” Italia mereka. Kita pun seharusnya begitu, kata-kata asing yang diserap itu kita sesuaikan dengan “lidah” kita, dengan kaidah bahasa kita, dan bukan “lidah” kita yang meniru “lidah” orang asing dalam berbicara dalam Bahasa Nias.

Salah satu yang menjadi kegelisahan penulis adalah: apabila unsur-unsur luar itu yang akhirnya mendikte kaidah-kaidah Bahasa Nias, dan bukan kita – petutur asli. Jangan sampai kita menjadi terkejut mendengar “Möido ba fasa” tetapi menganggap sangat normal struktur kalimat: “Ya’ita manörö-nörö“. Kalau kita membiarkan hal ini terjadi, maka unsur-unsur luar tadi telah menjadi “tuan” atas kita. (Silahkan baca artikel: “Yahobu ! Manere-nere Si’alabe“).

Salah satu ciri khas Li Niha adalah ketiadaan bunyi konsonan pada akhir setiap suku kata. Hal ini seharusnya dipertahankan: foto, moto, kalasi, galasi. Kata-kata asing yang langsung mengikuti ciri ini dengan mudah kita serap tanpa masalah serius. Kamera, televisi, radio, karaoke, Amerika, Venezuela, Saudi Arabia, telekomunikasi, radiasi, adalah beberapa contoh kata yang dimaksud.

Karakter ‘õ’ adalah karakter yang sangat dikenal dalam Li Niha, dan berfungsi untuk membedakan bunyi e pepet dari bunyi e. Maka, daripada menulis saohagele, kita tulis: saohagõlõ, dari pada menulis manere-nere, kita tulis manõrõ-nõrõ, dan seterusnya. Dan kalau kita ingin mengadopsi kata-kata asing yang mengandung bunyi e pepet, maka kita mengganti e pepet itu dengan ‘õ’: sõpeda, nõgara.

Pertanyaannya, kapan kaidah-kaidah Li Niha ini harus dipertahankan, dan kapan kita perlu lebih fleksibel menerapkannya ?

Barangkali kita tak perlu kaku memaksakan penerapan ciri khas itu misalnya untuk nama-nama kota atau negara dan nama diri. Maka seharusnya kita menerima: Santiago, Washington, Brisbane, Pakistan, Abert, Krause, dst. tanpa memaksakan penerapan kaidah Li Niha secara kaku. Kita misalnya tak bisa melarang Ono Niha mengambil nama asing seperti Adolf Hitler, Ahmad Kristanto, atau Barack Obama.

Selanjutnya, dalam usaha menyerap kata-kata itu untuk memperkaya Li Niha, kita juga harus memikirkan konsekuensi dari penerapan secara kaku kaidah-kaidah Li Niha tadi. Misalnya, dengan memaksakan menyerap Pakistan menjadi, katakanlah – Pakisitana – kita justru menambah kesulitan orang luar untuk mencoba memahami Li Niha. Ada tentunya pengecualian dalam hal ini, yaitu kata-kata asing yang sudah terlanjur dilinihakan sejak lama sesuai dengan kaidah Li Niha yang kaku itu, biarlah ia tetap tinggal seperti itu. Masuk dalam kasus ini adalah kata-kata seperti Hagõri (Inggris), Holanda (Holland), Aferika. Nama-nama bulan juga sudah lama dilinihakan menurut kaidah Li Niha itu: Yanuari, Feberuari, Mareti, Aperili, Mei, Zuni, Zuli, Auguso, Setembe, Otobe, Novembe, Desembe. Biarlah kata-kata itu tetap seperti itu. Sekali lagi, yang kita permasalahkan adalah penyerapan kata-kata baru untuk memperkaya Li Niha, yang sampai saat ini belum diserap.

Ada sejumlah kata yang relatif mudah menyerapnya ke dalam Li Niha, karena bunyinya yang relatif tidak kompleks: listiri (listrik), gasi (gas), palasiti (plastik), kõlasi atau kalasi (kelas).

Akan tetapi ada sejumlah kata yang karena struktur dan bunyinya yang relatif kompleks, kita menghadapi dilema melinihakannya. Hard disk, internet, stetoskop, spektakular, spekulan, printer.

Namun sebelum terlanjur menyerap kata-kata itu secara langsung, kita bisa bertanya: apakah kita perlu menyerap begitu saja sembarang kata asing untuk memperkaya Li Niha. Sebaiknya, sebelum kata-kata itu dilinihakan, dicari dulu kata-kata asli Li Niha yang bisa merepresentasikan makna dari kata-kata itu.

Hõma adalah kata asli Li Niha yang sudah jarang didengar oleh generasi muda sekarang. Hõma tiada lain adalah toilet, tempat buang air besar/kecil (kakus).

Barahao adalah kata lain yang sudah jarang dipakai, yang artinya orang banyak atau publik. Soguna ba mbarahao: untuk kepentingan publik.

Talake adalah penghubung, sangat pas untuk menghadirkan sepenuhnya makna “liason officer”.

Jadi, sekali lagi, sebelum melinihakan kata-kata asing, ada baiknya digali kembali berbagai istilah atau kata Li Niha yang sudah lama terpendam, tenggelam dan tak pernah dipakai lagi dalam percakapan kita.

Bagaimana dengan istilah-istilah baku di berbagai cabang sains dan teknologi? Perlukah kita menerapkan kaidah Li Niha dalam menyerapnya? Agaknya, kata-kata itu kita biarkan seperti adanya tanpa berusaha memaksakan kaidah Li Niha. Yang berikut adalah contoh-contoh kasus di mana kita menerapkan penyerapan langsung.

Nama-nama bahasa komputer: (FORTRAN, Pascal, C/C++, Visual Basic.
Nama-nama web browser: Google, Yahoo, Safari, Internet Explorer.
Nama-nama unsur kimia dan simbolnya: C (kabron), Co (cobalt), Xe (xenon),
Nama satuan fisis: kWh, cm, km, kW, MJ, kg.

Tetapi kalau mencari mencoba menyerap kata compiler, internet, explorer (bukan terkait dengan salah satu nama browser internet – Internet Explorer dari Microsoft) maka perlu diterapkan kaidah Li Niha.

Bagaimana dengan pemasukan unsur-unsur baru ke dalam Li Niha melalui huruf-huruf yang selama ini tidak dikenal pemakaiannya: Q, V, X, ? Barangkali sudah saatnya mempertimbangkannya, demi perkembangan Li Niha itu sendiri. Keempat huruf itu banyak muncul dalam istilah-istilah teknologi atau keilmiahan dan nama-nama diri atau kota.

Huruf V sebenarnya secara otomatis telah masuk ke dalam Li Niha melalui nama diri: Valentinus, Evi, Veronika, Vincensius. Dan, daripada menulis telefisi, barangkali kita langsung menyerap kata televisi tanpa mengubah v menjadi f.

Huruf Q jelas tak pernah dipakai dalam kata asli Li Niha, dan juga sangat jarang muncul dalam kata-kata asing, dengan pengecualian bahasa Arab. Hal yang sama berlaku untuk huruf X.

Dalam 30an tahun terakhir telah banyak kata asing yang diserap oleh Li Niha. Beberapa contoh adalah: nila (nilam), sokõla (cokelat), kofutõ atau koputõ (komputer), kibo (keyboard), televisi, bupati atau bufati, cama (dulu asitewedana), sake (cengkeh), zuta, juta (juta), aralozi (jam tangan).

Idealnya, proses penyerapan itu melalui aturan yang dibakukan, sehingga proses penyerapan itu berlangsung cepat dan meluas dan tidak sembarang. Dan pembakuan aturan semacam itu seharusnya melalui sebuah Dewan Bahasa Nias. Tetapi hal itu (pembentukan Dewan Bahasa Nias) tidak mudah direalisasikan, meskipun tidak salah kalau kita menggantungkan harapan pada Lembaga Budaya Nias (LBN).

Paparan singkat ini boleh dianggap sebagai pemancing diskusi bagi para pemerhati dan peminat masalah-masalah kebahasaan Li Niha. (eh)

Jusuf Kalla Maju Sebagai Calon Presiden Partai Golkar

Thursday, April 23rd, 2009

Jusuf Kalla akan maju sebagai calon presiden dari Partai Golkar. Demikian hasil ketetapan rapat pimpinan Partai Golkar yang diselenggarakan Kamis (23/4). Dengan demikian Jusuf Kalla akan menjadi salah satu pesaing utama Presiden SBY dalam Pilpres yang akan diselenggarakan pada tanggal 8 Juli mendatang.

Hasil jajak pendapat Nias Online yang ditutup pada jam 8.00 WIB malam ini menunjukkan mayoritas (77%) pengunjung Nias Online yang memasukkan suara menganggap pasangan SBY – JK tidak perlu dipertahankan.

Pelcehan Seksual Terjadi di Ruang Kelas

Wednesday, April 22nd, 2009

Gunung Sitoli, 17 April 2009

Ruang-ruang kehidupan anak ternyata masih jauh dari rasa aman, kekerasan demi kekerasan terus saja terjadi. Pelaku umumnya orang-orang terdekat dengan korban, seperti orang tua anak, tetangga bahkan guru sekolah. Satu lagi kasus menimpa seorang anak perempuan berusia 8 tahun masih duduk dibangku kelas 2 SD berinisial AR menjadi korban pelecehan seksual sang guru disekolahnya.

Pengakuan AR kepada tim advokasi PKPA Nias, peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa 7 April 2009 pukul 15.30 Wib diruang kelas saat anak-anak sedang bermain, tempatnya salah satu sekolah dasar swasta di desa FOA-Gunung Sitoli. Korban didampingi orang tuanya dan tim advokasi PKPA telah membuat pengaduan ke Polres Nias pada tanggal 18 April 2009.

Kondisi anak saat ini sedang labil karena masih teringat ancaman dari guru, setelah melakukan aksi jahatnya. Tim PKPA berusaha untuk memulihkan psikologis korban dan juga pendampingan secara hukum. Polres Nias diharapkan dapat merespon dengan cepat dan proses hukum dapat memberikan rasa keadilan bagi korban.

PKPA Nias saat ini sedang menggagas koalisi masyarakat sipil di Nias untuk advokasi dan perlindungan anak…..yang mau ikutan dan komitmen dengan issu anak dapat join dalam pertemuan2 dikantor PKPA Nias. (Misran Lubis)

Koalisi Politik Tanpa Ideologi

Tuesday, April 21st, 2009

Oleh: Ikrar Nusa Bhakti – Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI.

Mendekati 10 Mei 2009, batas akhir partai politik atau gabungan partai politik memasukkan nama calon presiden dan calon wakil presiden yang akan bertarung pada Pilpres 8 Juli mendatang, hirukpikuk membangun koalisi semakin santer terdengar.

Kelompok Partai Demokrat, yang katanya akan membangun koalisi Jembatan Emas,semakin intens mengkaji individu-individu yang pas untuk menjadi pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tim yang dibentuk Partai Demokrat ini dinamai Tim Sembilan, sesuai dengan angka keramat yang dipercaya SBY,sesuatu yang berbau superstitious alias takhayul.

Berbeda dengan partai-partai lain, Partai Demokrat benar-benar merasa berada di atas angin. Ini juga tampak dari nuansa dialog SBY dengan para wartawan Istana di kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor, Minggu (19/4). Partai Demokrat dan SBY ibarat kekuatan politik yang merasa “sudah menang sebelum bertanding”. Simak misalnya kriteria cawapres yang diajukan SBY. Penulis sampai-sampai tidak dapat membedakan, apakah SBY bicara sebagai presiden atau capres? Simak misalnya lima kriteria cawapres yang diajukan SBY.

Pertama, tokoh itu harus memiliki integritas, berakhlak, memiliki moral, termasuk moral politik, bukan orang yang pragmatis dan oportunis. Kedua, memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin, tetapi harus memahami kapasitasnya sebagai “pembantu presiden” sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945. Ketiga, memiliki loyalitas yang penuh kepada presiden dan bebas dari konflik kepentingan. Keempat, memiliki akseptabilitas dalam arti diterima dan lekat di hati rakyat.Kelima,dapat meningkatkan kekokohan dan efektivitas koalisi yang dibangun.

SBY juga menolak adanya “dua matahari”atau “matahari kembar” di dalam kabinetnya karena presiden adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam pemerintahan. Ia juga menafikan adanya pembagian kerja antara presiden dan wapres karena yang dikerjakan wapres adalah atas dasar perintahnya. Kalimat-kalimat bersayap SBY itu memang dapat saja mengandung banyak arti.

Di satu sisi, ada yang berpendapat itu adalah sesuatu yang normatif semata. Namun jika kita menyelami makna kalimat itu lebih dalam lagi, jelas SBY tidak menginginkan orang plin-plan, yang berubah-ubah pendirian, memiliki ambisi pribadi,tidak loyal kepada presiden dan tentunya ingin tenar sendiri. Lebih dalam lagi, maaf,ini juga dapat diartikan sebagai penolakan SBY untuk berduet dengan Jusuf Kalla kembali, yang sampai 20 Oktober mendatang masih menduduki posisi wapres.

Kebalikan dari Partai Demokrat, Partai Golkar justru mencitrakan diri sebagai partai yang pernah besar,tetapi sudah menyatakan “kalah sebelum bertanding” menjelang pilpres ini.Anehnya pula, berbagai strategi masih pula dimainkan oleh segelintir tokoh Golkar untuk tetap menyandingkan Kalla dengan SBY. Semakin aneh lagi, Golkar masih pula memberi prasyarat politik bagi pembentukan koalisi dengan “partai yang kemungkinan memenangi pilpres” mendatang.

Ini sama dengan yang dilakukan PKS terhadap SBY. Padahal, sebagai pelaku politik,sepatutnya mereka tahu,SBY bukanlah tokoh yang suka didesak-desak,mirip dengan gaya berpolitik Soeharto pada era Orde Baru. Pilihan Golkar kini tinggal tiga,menunggu tawaran SBY mengenai siapa yang akan dilamar sebagai cawapres SBY, bisa Siswono Yudhohusodo,bisa pula Akbar Tandjung; tetap kukuh mencalonkan Kalla sebagai capres; atau tidak mau berkoalisi bersama Partai Demokrat dan memilih koalisi lain atau seperti PKS yang katanya akan menjadi independen, tidak mau masuk kubu pemerintah atau kubu oposisi.

Di seberang sana, PDIP juga masih intens membangun koalisi walau masih dalam posisi underdog. Satu hal yang menarik, SBY terlalu yakin bahwa Megawati Soekarnoputri “sudah pasti” akan menjadi pesaingnya, mengulangi Pilpres 2004. Padahal, masih ada kemungkinan Mega tidak akan maju sebagai capres, melainkan hanya sebagai the king maker. Kini mulai beredar isu bahwa Mega akan digantikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai capres yang diusung PDIP.

Namun semua itu belum pasti. Yang pasti ialah, jika Mega ingin mundur dari pencalonannya sebagai presiden, itu harus sesuai dengan konstitusi partai,yaitu sebagai hasil dari Kongres Nasional PDIP. Menyelenggarakan kongres untuk masa yang sempit tentu bukan hal mudah. Namun, masih ada celah politik lain, pengunduran diri Megawati dilakukan pada saat yang mirip Rapimnas Khusus PDIP di mana Mega sebagai ketua umum yang memiliki hak prerogatif untuk membuat keputusan penting partai,kemudian menyatakan diri mundur dari pencalonan dan mendukung Sultan.

Hal yang paling “menggelikan” ialah upaya Prabowo Subianto yang “wira wiri” (ke sana-kemari) mencari dukungan dari partaipartai (meminjam istilah Mas J Kristiadi) partai “nasakom” alias “nasibnya nol koma”, yaitu partaipartai yang tidak lolos parliamentary threshold. Prabowo yang baru masuk secara intens dalam kancah politik sebagai patron Partai Gerindra mungkin baru menyadari,membangun koalisi ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Papua,di era 1990-an lalu.

Memimpin Kopassus atau pasukan Kostrad memang lebih mudah ketimbang memimpin partai atau koalisi partai karena militer dapat dikomando, sedangkan para politikus sipil dapat berpolitik zig-zag yang sulit diterka.Penulis mengatakan menggelikan karena kalaupun Prabowo terpilih menjadi presiden, bagaimana ia bisa menjaga keseimbangan kekuatan eksekutiflegislatif jika partai-partai yang mendukungnya sebagian besar tidak memiliki kursi di parlemen.

Upaya Prabowo itu pun mulai disalip oleh Partai Demokrat yang juga mendekati partai-partai kecil tersebut. Bahkan timbul isu bahwa SBY akan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undangundang (perppu) yang menunda penerapan parliamentary threshold, suatu yang hampir pasti tidak akan dilakukan SBY sebagai seorang yang safety player. Melihat berbagai manuver partai- partai politik yang ibarat bermain sirkus,mungkin memusingkan para konstituen.

Termasuk juga manuver di internal Partai Golkar, PPP,dan PAN yang terjadi konflik internal mengenai siapa yang akan didukung dan kubu koalisi mana yang akan mereka masuki? Bagi mereka yang masih berada di bangku perguruan tinggi, khususnya di Departemen Ilmu Politik,ini merupakan ladang studi yang baik untuk diamati.Namun para mahasiswa ini pasti akan terheran-heran dan bingung. Mengapa teori-teori politik yang mereka pelajari tidak dapat digunakan dalam menganalisis koalisi partai di Indonesia yang tanpa ideologi?

Di negara kampiun demokrasi seperti Amerika Serikat (AS) saja yang menganut paham liberalisme, ada dua pendekatan yang berbeda, yakni antara konservatisme yang dianut Partai Republik dan liberalisme altruistik yang dianut Partai Demokrat. Mahasiswa juga akan bingung mencerna kalimat SBY yang mengatakan, “Koalisi tidak dibangun atas dasar persamaan ideologi, melainkan atas dasar kesamaan mengenai kesejahteraan rakyat, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan lain sebagainya.”

”Apakah cara pandang kaum sosialis, liberalis, konservatif, agamais, dan nasionalis akan sama mengenai hal-hal yang disebutkan SBY itu? Jawabannya tentunya bukan pada “rumput yang bergoyang” seperti lagunya Ebiet G Ade. (Koran Sindo – 21 April 2009)

President calls for continuation of BRR`s unfinished work

Tuesday, April 21st, 2009

Jakarta (ANTARA News) – President Susilo Bambang Yudhoyono has asked that unfinished jobs left behind by the Nias-Aceh Rehabilitation and Reconstruction Agency (BRR) should be continued.

In his address during a function on the disbandment of BRR here on Friday, the president said that the good management should also be continued in resuming the reconstruction and rehabilitation of Aceh and Nias after the tsunami disaster hit the regions in December 2004.

“I don`t want the quality of the reconstruction and rehabilitation to change, including the principles of good governance,” Yudhoyono said.

With the issuance of Presidential Decree No. 3/ 2009, the term of office of the BRR on Aceh and Nias is completed after it carried out reconstruction and rehabilitation for about four years in the two regions.

After the BRR was dissolved, its tasks would be continued by a body called the Agency for the Resumption of the Aceh and Nias Reconstruction.

The governor of Nanggroe Aceh Daurssalam will lead the agency to do the work in Aceh while the governor of North Sumatra would lead the rehabilitation project in Nias island, which is part of North Sumatra.

President Yudhoyono asked Aceh Governor Irwandi Yusuf and North Sumatra Governor Syamsul Arifin to continue the work and do unfinished jobs left by the BRR.

“I hope that with the same spirit the governors would continue and manage the work which would be carried out by the new agency,” he said.

BRR Head Kuntoro Mangkusubroto said BRR had allocated Rp3.3 trillion for the rehabilitation projects in 2009 which would be carried out by the rehabilitation resumption agency.

“Actually, the agency will carry out the leftover projects with its own budget. So, the Rp3.3 trillion is a reconstruction fund from BRR which would be continued by the new agency under the central and regional governments,” Mangkusubroto said.

He said that during its four-year term, BRR had completed 93 percent of the commitment provided by donors worth US$72 billion.

“I think BRR has made a world record as in other places the commitment could be finished at an average of 40 percent,” he added. (www.antara.co.id – 17 April 2009)

Fisikawan Stephen Hawking Sakit Keras

Tuesday, April 21st, 2009

Fisikawan Inggris terkenal Profesor Stephen Hawking dikabarkan dilarikan ke rumah sakit karena “sakit keras”. Seorang jurubicara Universitas Cambridge mengatakan Profesor Hawking sudah sakit sejak bulan lalu dan kondisinya memburuk sekembalinya dari perjalanan ke Amerika beberapa ahri yang lalu. Ia menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Addenbrooke, Cambridge, Senin (21/4).

Stephen Hawking – gurubesar matamatik Lukasian di Universitas Cambridge – baru-baru ini dirawat karena menderita pneumonia.
Profesor Hawking yang spesialisasinya fisika teoritik dan gravitas kwantum bersikeras tidak akan membiarkan kondisi fisiknya mengganggu aktivitas ilmiahnya.

“Saya berusaha hidup senormal mungkin dan tidak memikirkan kondisiku atau menyesali hal-hal yang menghalangi saya berkarya, hal-hal yang ternyata tidak terlalu banyak,” ia pernah berkata.

Profesor Hawking terkenal dengan karyanya tentang “lobang hitam” (black holes) dan bukunya A Brief History of Time. (ABC/BBC/AFP/*).

KPPS Lõlõ’ana’a Diadukan ke Panwaslu Terkait Penggelembungan Suara Caleg Kabupaten Nias

Monday, April 20th, 2009

Gunungsitoli – Para saksi Partai Politik peserta Pemilu mengadu ke Panwas Kabupaten Nias membuat laporan keberatan terkait adanya tindakan KPPS Desa Lõlõ’ana’a Gidõ Kecamatan Gidõ Kabupaten Nias melakukan tindak pidana Pemilu dengan menggelembungkan suara salah seorang Caleg Partai untuk DPRD Kabupaten Nias.

Surat keberatan tersebut ditandatangani oleh Osarao Ndraha saksi dari Partai PAN, Matius Zendratõ saksi dari Partai PKPB, Firman Agus Telaumbanua saksi dari PPRN, jurkam Purba Aceh saksi dari PKS, April Yoman saksi dari PDS dan Arotodo Waruwu menandatangani di atas meterai 6.000. ditembuskan kepada KPUD Kab.Nias, Panwaslu Kecamatan, PPK Kecamatan Gidõ, Kapolres Nias tertanggal 17 April 2009.

Dalam laporan tersebut menyatakan bahwa pada rekapitulasi yang dilaksanakan oleh PPK Kecamatan Gido pada Tgl 16 April 2009 yang seharusnya perolehan suara dari salah satu Partai No Urut I di Format C dan CI perolehan suara hanya 31 suara ternyata setelah dilakukan rekapitulasi di PPK jumlah perolehan suara sebanyak 131 suara.
Setelah terjadi penggelembungan suara diprotes oleh saksi Partai Politik dari PKDI an. Arotodo Waruwu SPd telah meminta kepada PPK untuk membuka C2 (plano ) namun tidak dihiraukan oleh PPK.

Sehubungan dengan tindakan KPPS dan melapor ke Panwaslu Kecamatan dan Panwas Kecamatan Marthin Buaya menyurati PPK ternyata PPK Kecamatan Gido mengakui bahwa 131 bukan 31, dengan adanya surat PPK maka Panwas Kecamatan menyampaikan laporan ke Panwas Kab.Nias, katanya pada SIB Sabtu 18 April 2009.

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Ketua Panwas Nias Drs AS Telaumbanua melalui telepon seluler pihaknya mengakui telah menerima laporan dari Panwas Kecamatan Gidõ dan atas laporan tersebut Panwas Nias sedang mengadakan pertemuan untuk rapat pleno atas tindak pidana pelanggaran pemilu tentang penggelembungan suara salah seorang Caleg DPRD Kabupaten Nias dan kalau sudah lengkap dalam waktu dekat akan kita limpahkan ke Polres Nias untuk ditindaklanjuti, katanya.

Ketua LSM RCW Cabang Kabupaten Nias Hotnarius Telaumbanua meminta Panwas kiranya segera merespon kasus tersebut dan dilimpahkan ke Polres Nias dan ini merupakan pelanggaran tindak pidana pemilu. Tidak perlu didiamkan kasus tersebut untuk menjadi pelajaran kepada KPPS yang terlibat, katanya pada SIB Sabtu (18/04) di Gunungsitoli dan berharap kepada kepolisian supaya menindak KPPS serta meminta KPUD mencoret nama Caleg yang digelembungkan suara tersebut sesuai mekanisme yang berlaku harapnya. (SIB, 20 April 2009)

Tidak Mungkin Ada Pemilu Ulang

Monday, April 20th, 2009

JAKARTA — Pengamat politik Arbi Sanit mengatakan, tidak mungkin mengadakan pemilihan umum (pemilu) ulang walaupun Pemilu 2009 diduga banyak pelanggaran, karena akan mengeluarkan biaya besar. “Sistem pemilu yang kita gunakan saat ini memiliki banyak kelemahan, namun tidak mungkin diadakan pemilu ulang,” katanya menjadi pembicara dalam diskusi talkshow bertema “Sistem Pemilu dan Demokrasi di Indonesia” di Pusat Tabulasi Pemilu 2009, Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat. (more…)

Panwaslu Walk Out Pada Pembukaan Rekapitulasi Surat Suara di KPUD Nias

Friday, April 17th, 2009

Gunungsitoli – Panwaslu Kabupaten Nias mengambil kesimpulan tidak mengikuti pembukaan dan perhitungan rekapitulasi surat suara untuk Pemilu Legislatif yang dilaksanakan di Hotel Wisma Soliga, Kamis (16/4).

Ketika dikonfirmasi wartawan kepada Ketua Panwaslu Nias Drs AS Telaumbanua didampingi anggotanya mengatakan, pada rapat tersebut telah diusulkan kepada Ketua KPUD Nias agar ditunda pembukaan perhitungan rekapitulasi perhitungan surat suara Pemilu untuk DPD DPR,DPRD,dan DPRD Kabupaten/Kota karena adanya salinan rekapitulasi belum diserahkan oleh PPK kepada pengawas lapangan, sehingga Panwas mengalami kesulitan dalam mencocokkan hasil yang akan dibacakan oleh KPUD bila ada perbedaan.

Selanjutnya akan melapor ke Polres Nias agar KPPS dan PPK yang tidak menyerahkan salinan rekapitulsi surat suara DPD, DPR, DPRD dan DPRD Kabupaten/Kota supaya diproses sesuai UU tindak pidana Pemilu, tegasnya.

Ketua Panwaslu Nias menjelaskan bahwa mereka kadang-kadang kecewa, karena laporan yang mereka sampaikan di Polres Nias selalu dikembalikan dengan alasan kurang bukti. Seharusnya pihak kepolisian berupaya juga memproses tindak pidana dan bisa mencari tambahan bukti sehingga bisa diteruskan ke pengadilan.

Panwaslu Kabupaten telah melaporkan empat kasus tindak pidana Pemilu ke Polres Nias untuk ditindaklanjuti, yaitu satu Kasus tindak pidana Pemilu tidak menyerahkan salinan rekapitulasi surat suara DPD,DPR,DPRD,dan DPRD Kabupaten/Kota dan 3 (tiga) kasus membagi-bagi uang kepada masyarakat untuk memenangkan salah seorang Caleg untuk DPRD Kabupaten Nias.

KPUD Nias tidak menerima usul Panwaslu Kabupaten Nias untuk menunda pembukaan rekapitulasi perhitungan surat suara untuk DPD, DPR, DPRD dan DPRD Kab/Kota tanggal 16 April 2009.

Walaupun Panwaslu Walk out dari ruang tersebut, namun perhitungan rekapitulasi surat suara tetap diteruskan.

Sementara Kapolres Nias AKBP Wawan Munawar SIk MSi pada arahannya mengatakan Pemilu legislatif pada tahun 2009 ini banyak bermasalah.(SIB, 17 April 2009)