Archive for April 21st, 2009 | Daily archive page

Koalisi Politik Tanpa Ideologi

Tuesday, April 21st, 2009

Oleh: Ikrar Nusa Bhakti – Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI.

Mendekati 10 Mei 2009, batas akhir partai politik atau gabungan partai politik memasukkan nama calon presiden dan calon wakil presiden yang akan bertarung pada Pilpres 8 Juli mendatang, hirukpikuk membangun koalisi semakin santer terdengar.

Kelompok Partai Demokrat, yang katanya akan membangun koalisi Jembatan Emas,semakin intens mengkaji individu-individu yang pas untuk menjadi pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tim yang dibentuk Partai Demokrat ini dinamai Tim Sembilan, sesuai dengan angka keramat yang dipercaya SBY,sesuatu yang berbau superstitious alias takhayul.

Berbeda dengan partai-partai lain, Partai Demokrat benar-benar merasa berada di atas angin. Ini juga tampak dari nuansa dialog SBY dengan para wartawan Istana di kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor, Minggu (19/4). Partai Demokrat dan SBY ibarat kekuatan politik yang merasa “sudah menang sebelum bertanding”. Simak misalnya kriteria cawapres yang diajukan SBY. Penulis sampai-sampai tidak dapat membedakan, apakah SBY bicara sebagai presiden atau capres? Simak misalnya lima kriteria cawapres yang diajukan SBY.

Pertama, tokoh itu harus memiliki integritas, berakhlak, memiliki moral, termasuk moral politik, bukan orang yang pragmatis dan oportunis. Kedua, memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin, tetapi harus memahami kapasitasnya sebagai “pembantu presiden” sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945. Ketiga, memiliki loyalitas yang penuh kepada presiden dan bebas dari konflik kepentingan. Keempat, memiliki akseptabilitas dalam arti diterima dan lekat di hati rakyat.Kelima,dapat meningkatkan kekokohan dan efektivitas koalisi yang dibangun.

SBY juga menolak adanya “dua matahari”atau “matahari kembar” di dalam kabinetnya karena presiden adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam pemerintahan. Ia juga menafikan adanya pembagian kerja antara presiden dan wapres karena yang dikerjakan wapres adalah atas dasar perintahnya. Kalimat-kalimat bersayap SBY itu memang dapat saja mengandung banyak arti.

Di satu sisi, ada yang berpendapat itu adalah sesuatu yang normatif semata. Namun jika kita menyelami makna kalimat itu lebih dalam lagi, jelas SBY tidak menginginkan orang plin-plan, yang berubah-ubah pendirian, memiliki ambisi pribadi,tidak loyal kepada presiden dan tentunya ingin tenar sendiri. Lebih dalam lagi, maaf,ini juga dapat diartikan sebagai penolakan SBY untuk berduet dengan Jusuf Kalla kembali, yang sampai 20 Oktober mendatang masih menduduki posisi wapres.

Kebalikan dari Partai Demokrat, Partai Golkar justru mencitrakan diri sebagai partai yang pernah besar,tetapi sudah menyatakan “kalah sebelum bertanding” menjelang pilpres ini.Anehnya pula, berbagai strategi masih pula dimainkan oleh segelintir tokoh Golkar untuk tetap menyandingkan Kalla dengan SBY. Semakin aneh lagi, Golkar masih pula memberi prasyarat politik bagi pembentukan koalisi dengan “partai yang kemungkinan memenangi pilpres” mendatang.

Ini sama dengan yang dilakukan PKS terhadap SBY. Padahal, sebagai pelaku politik,sepatutnya mereka tahu,SBY bukanlah tokoh yang suka didesak-desak,mirip dengan gaya berpolitik Soeharto pada era Orde Baru. Pilihan Golkar kini tinggal tiga,menunggu tawaran SBY mengenai siapa yang akan dilamar sebagai cawapres SBY, bisa Siswono Yudhohusodo,bisa pula Akbar Tandjung; tetap kukuh mencalonkan Kalla sebagai capres; atau tidak mau berkoalisi bersama Partai Demokrat dan memilih koalisi lain atau seperti PKS yang katanya akan menjadi independen, tidak mau masuk kubu pemerintah atau kubu oposisi.

Di seberang sana, PDIP juga masih intens membangun koalisi walau masih dalam posisi underdog. Satu hal yang menarik, SBY terlalu yakin bahwa Megawati Soekarnoputri “sudah pasti” akan menjadi pesaingnya, mengulangi Pilpres 2004. Padahal, masih ada kemungkinan Mega tidak akan maju sebagai capres, melainkan hanya sebagai the king maker. Kini mulai beredar isu bahwa Mega akan digantikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai capres yang diusung PDIP.

Namun semua itu belum pasti. Yang pasti ialah, jika Mega ingin mundur dari pencalonannya sebagai presiden, itu harus sesuai dengan konstitusi partai,yaitu sebagai hasil dari Kongres Nasional PDIP. Menyelenggarakan kongres untuk masa yang sempit tentu bukan hal mudah. Namun, masih ada celah politik lain, pengunduran diri Megawati dilakukan pada saat yang mirip Rapimnas Khusus PDIP di mana Mega sebagai ketua umum yang memiliki hak prerogatif untuk membuat keputusan penting partai,kemudian menyatakan diri mundur dari pencalonan dan mendukung Sultan.

Hal yang paling “menggelikan” ialah upaya Prabowo Subianto yang “wira wiri” (ke sana-kemari) mencari dukungan dari partaipartai (meminjam istilah Mas J Kristiadi) partai “nasakom” alias “nasibnya nol koma”, yaitu partaipartai yang tidak lolos parliamentary threshold. Prabowo yang baru masuk secara intens dalam kancah politik sebagai patron Partai Gerindra mungkin baru menyadari,membangun koalisi ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Papua,di era 1990-an lalu.

Memimpin Kopassus atau pasukan Kostrad memang lebih mudah ketimbang memimpin partai atau koalisi partai karena militer dapat dikomando, sedangkan para politikus sipil dapat berpolitik zig-zag yang sulit diterka.Penulis mengatakan menggelikan karena kalaupun Prabowo terpilih menjadi presiden, bagaimana ia bisa menjaga keseimbangan kekuatan eksekutiflegislatif jika partai-partai yang mendukungnya sebagian besar tidak memiliki kursi di parlemen.

Upaya Prabowo itu pun mulai disalip oleh Partai Demokrat yang juga mendekati partai-partai kecil tersebut. Bahkan timbul isu bahwa SBY akan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undangundang (perppu) yang menunda penerapan parliamentary threshold, suatu yang hampir pasti tidak akan dilakukan SBY sebagai seorang yang safety player. Melihat berbagai manuver partai- partai politik yang ibarat bermain sirkus,mungkin memusingkan para konstituen.

Termasuk juga manuver di internal Partai Golkar, PPP,dan PAN yang terjadi konflik internal mengenai siapa yang akan didukung dan kubu koalisi mana yang akan mereka masuki? Bagi mereka yang masih berada di bangku perguruan tinggi, khususnya di Departemen Ilmu Politik,ini merupakan ladang studi yang baik untuk diamati.Namun para mahasiswa ini pasti akan terheran-heran dan bingung. Mengapa teori-teori politik yang mereka pelajari tidak dapat digunakan dalam menganalisis koalisi partai di Indonesia yang tanpa ideologi?

Di negara kampiun demokrasi seperti Amerika Serikat (AS) saja yang menganut paham liberalisme, ada dua pendekatan yang berbeda, yakni antara konservatisme yang dianut Partai Republik dan liberalisme altruistik yang dianut Partai Demokrat. Mahasiswa juga akan bingung mencerna kalimat SBY yang mengatakan, “Koalisi tidak dibangun atas dasar persamaan ideologi, melainkan atas dasar kesamaan mengenai kesejahteraan rakyat, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan lain sebagainya.”

”Apakah cara pandang kaum sosialis, liberalis, konservatif, agamais, dan nasionalis akan sama mengenai hal-hal yang disebutkan SBY itu? Jawabannya tentunya bukan pada “rumput yang bergoyang” seperti lagunya Ebiet G Ade. (Koran Sindo – 21 April 2009)

President calls for continuation of BRR`s unfinished work

Tuesday, April 21st, 2009

Jakarta (ANTARA News) – President Susilo Bambang Yudhoyono has asked that unfinished jobs left behind by the Nias-Aceh Rehabilitation and Reconstruction Agency (BRR) should be continued.

In his address during a function on the disbandment of BRR here on Friday, the president said that the good management should also be continued in resuming the reconstruction and rehabilitation of Aceh and Nias after the tsunami disaster hit the regions in December 2004.

“I don`t want the quality of the reconstruction and rehabilitation to change, including the principles of good governance,” Yudhoyono said.

With the issuance of Presidential Decree No. 3/ 2009, the term of office of the BRR on Aceh and Nias is completed after it carried out reconstruction and rehabilitation for about four years in the two regions.

After the BRR was dissolved, its tasks would be continued by a body called the Agency for the Resumption of the Aceh and Nias Reconstruction.

The governor of Nanggroe Aceh Daurssalam will lead the agency to do the work in Aceh while the governor of North Sumatra would lead the rehabilitation project in Nias island, which is part of North Sumatra.

President Yudhoyono asked Aceh Governor Irwandi Yusuf and North Sumatra Governor Syamsul Arifin to continue the work and do unfinished jobs left by the BRR.

“I hope that with the same spirit the governors would continue and manage the work which would be carried out by the new agency,” he said.

BRR Head Kuntoro Mangkusubroto said BRR had allocated Rp3.3 trillion for the rehabilitation projects in 2009 which would be carried out by the rehabilitation resumption agency.

“Actually, the agency will carry out the leftover projects with its own budget. So, the Rp3.3 trillion is a reconstruction fund from BRR which would be continued by the new agency under the central and regional governments,” Mangkusubroto said.

He said that during its four-year term, BRR had completed 93 percent of the commitment provided by donors worth US$72 billion.

“I think BRR has made a world record as in other places the commitment could be finished at an average of 40 percent,” he added. (www.antara.co.id – 17 April 2009)

Fisikawan Stephen Hawking Sakit Keras

Tuesday, April 21st, 2009

Fisikawan Inggris terkenal Profesor Stephen Hawking dikabarkan dilarikan ke rumah sakit karena “sakit keras”. Seorang jurubicara Universitas Cambridge mengatakan Profesor Hawking sudah sakit sejak bulan lalu dan kondisinya memburuk sekembalinya dari perjalanan ke Amerika beberapa ahri yang lalu. Ia menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Addenbrooke, Cambridge, Senin (21/4).

Stephen Hawking – gurubesar matamatik Lukasian di Universitas Cambridge – baru-baru ini dirawat karena menderita pneumonia.
Profesor Hawking yang spesialisasinya fisika teoritik dan gravitas kwantum bersikeras tidak akan membiarkan kondisi fisiknya mengganggu aktivitas ilmiahnya.

“Saya berusaha hidup senormal mungkin dan tidak memikirkan kondisiku atau menyesali hal-hal yang menghalangi saya berkarya, hal-hal yang ternyata tidak terlalu banyak,” ia pernah berkata.

Profesor Hawking terkenal dengan karyanya tentang “lobang hitam” (black holes) dan bukunya A Brief History of Time. (ABC/BBC/AFP/*).