Oguna’õ Ginõtõ – Bagian 5 (Tamat)

Thursday, May 7, 2009
By nias

Oleh: Mathias J. Daeli

Ketika memulai membaca tulisan ini, anda sekali gus siap melakukan pertemuan dengan saya. Meskipun pertemuan dalam alam pikir. Saya menyampaikan: pengetahuan yang saya miliki, pendapat-pendapat orang lain – terutama para ahli yang menunjang melancarkan penjelasan makna judul. Dan anda – setuju atau tidak setuju yang saya sampaikan, melakukan olah pikir. Meskipun tidak setuju tetap menjadi informasi bagi anda. Kalau setuju maka lebih lanjut daya pikir anda melakukan eksploratif (penjelazahan) analitis dengan segala pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Lebih positf apabila penjelazahan mengarah pada kreativitas (mencipta) sintetis, dan hal ini hanya mungkin lewat pengakuan akan perlunya fungsi segala bentuk antitesis tanpa harus berprinsip “konflik selaku syarat mutlak keniscayaan praktis”.

Dari gambaran kegiatan di atas nampak efek positif dari membaca buku, antara lain :

  1. bertemu dengan orang (si penulis) lain meskipun dalam alam pikir
  2. memperluas wawasan cakwarala
  3. menambah kebahagian apabila senang pada isi tulisan
  4. menghilangkan kesusahan – setidaknya ketika sedang membaca
  5. menambah pengetahuan dengan biaya murah
  6. menarik hikmah – kebijaksana dari isi tulisan
  7. melatih berkhayal ekploratif – kreatif untuk masa depan
  8. mengetahui peristwa-peristiwa masa lalu
  9. merupakan latihan baik untuk memperkuat otak
  10. kebutuhan kejiwaan manusia sadar

Dapat ditambahkan lagi yang lain dan semuanya dikendalikan oleh otak .

Otak manusia adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem syaraf. Dalam otak terdapat lebih dari 100 miliar syaraf yang terhubung dengan 10.000 sistem syaraf lainya di seluruh tubuh. Otak mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya. Sungguh tugas yang sangat rumit dan banyak. Karena itu otak harus dijaga supaya tidak lemah. Sama dengan organ tubuh lainnya, otak yang sering digunakan merupakan latihan untuk menjadi kuat. Jadi kebiasaan sikap dan perbuatan seseorang menentukan arah pengendalian otak. Ke arah yang baik atau ke arah yang buruk. Membaca merupakan latihan olah otak yang baik.

Membaca dan buku seumpama dua sisi mata uang. Buku tanpa dibaca maka bukan buku. Sebelum mengenal tulisan manusia mewariskan informasi dari generasi ke generasi berikutnya dengan lisan. Setelah mengenal tulisan maka pewarisan informasi dilakukan dengan menggoreskan di di batu-batu atau ditulis pada daun (misalnya: papirus, lontar) dan setelah manusia mampu membuat kertas ditulis pada lembaran-lembaran kertas yang dikumpulkan menjadi buku.

Dengan buku – pengumpulan dan penyebaran informasi peristiwa sejarah, pendapat-pendapat para ahli, dan informasi lainnya lebih cepat. Yang berarti bahan untuk dieksplorasi guna kreatifitas selanjutnya menjadi bertambah banyak dan luas. Karena itu, dengan adanya buku peradaban manusia menjadi maju pesat, sehingga para intektual dunia memberi komentar yang fanatik terhadap buku disertai aktifitas membaca.

Tolle, lege, tolle, lege (ambil dan bacalah, ambil dan bacalah) demikian bisikan yang didengar dan dilaksanakan oleh St. Agustinus sehingga dia memperoleh keyakinan yang kuat. Barbara Tuchman berkata: “Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandeg”, sebab menurut dia buku adalah pengusung peradaban. Senada dengan itu Voltaire berkomentar bawa “Semua bangsa yang berbudaya, dibimbing oleh pustaka (buku).” Bahkan dengan nada ekstrim Jean Paul Sartre berteriak lantang. “Telah kutemukan agamaku; tak ada yang lebih penting dari buku! Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadah!”

Komentar fanatik seperti itu timbul karena memang membaca buku – apa dan bagaimana pun sifat isinya memiliki fungsi positif seperti tersebut di atas. Hakekat manusia adalah bebas. Dan justru karena kebebasan ini manusia tidak pernah puas dengan ”ada” nya kini. Manusia mencari dan selalu mencari sesuatu yang merangsang daya pikirnya menjelazah untuk merubah masa kini. Membaca buku yang berisi informasi misalnya : peristiwa sejarah kehidupan, mengenai pengetahuan dari para ahli, dan informasi lainnya merupakan jawaban yang memadai kebutuhan pencarian itu. Dengan perkataan lain otak yang sehat selalu menjelazah (eksplorasi) bebas dan membaca buku merupakan bahan dan wahana yang baik dan memadai untuk itu sekaligus menjadi latihan otak supaya sehat. Para intelektual wajar berterima kasih kepada buku yang menolong daya pikir mereka bereksploratif memperluas cakrawala guna berkreatif. Dan menurut saya sesungguhnya bukan hanya kaum intelektual melainkan setiap orang harus sadar membaca buku sebagai kebutuhan kejiwaan.

Mari kita bayangkan. Seandainya kita mempunyai bahan tertulis di perputakaan mengenai asal usul Ono Niha, nama-nama leluhur, dari benua mana datangnya, cara bagaimana para leluhur itu sampai ke Tanõ Niha (Nias), bagaiman penyebarannya – tentu kita lebih lancar (malah tidak perlu) mendiskusikannya di dunia maya ini. Seandainya kita memiliki bahan tertulis, tentu kita tidak mendapatkan kesulitan melakukan penafsiran (hermeneutika) dari legenda : “Tuada Sirao Uwu Zihỡnỡ, Tuada Sirao Uwu Zato si so ba dete Holiana’a, sabu sibai todỡ bỡrỡ me da 9 (siwa) nononia oi omasi ira tobali Ono Fangali Mbỡrỡ sisi, oi omasi ira tobali Ono Fangali Mbu’ukawono (terjemahan bebas: Leluhur Raja Sirao Uwu Zihỡnỡ, Leluhur Sirao Raja Uwu Zato yang sedang bersusah hati karena 9 putranya semua mau menjadi pewaris takhta kerajaan).

Kita dapat merasakan, apabila membaca “buku baik” maka informasi yang kita dapatkan dari buku itu merupakan hiburan yang mengasyikkan, mengajarkan kita sesuatu, dan menggerakkan kita untuk melakukan/mempraktikkan sesuatu. Daoed Joesoef (mantan Menteri Pendikan dan Kebudayaan) mengatakan bahwa “… betapa kegiatan membaca dan menulis serta kehadiran buku merupakan bagian konstitutif proses berpikir (garis miring dari saya) makhluk manusia. Dan melalui afirmasi serta harmonisasi dari keterkaitan bagian-bagian tersebut, manusia ternyata dapat mengukuhkan kehidupan bernegara (berdemokrasi), berbangsa (beradab), dan bermasyarakat (berpikir konvergen)”.

Salah satu buku yang telah saya baca, baik yang asli bahasa Inggeris maupun terjemahan bahasa Indoensia adalah buku Da Vinci Code yang dikarang oleh Dan Brown. Begitu luar biasa dan mengagumkan bagi saya. Bukan karena mengenai isinya senang atau tidak senang, melainkan mengenai hasil eksplorasi dan analisisnya terhadap informasi yang diperoleh. Begitu visioner dan melahirkan begitu banyak kontroversi. Meskipun fiksi tetapi telah menginsiparsikan suatu ideologis dengan cara yang lebih populer. Itu semua hasil ketekunan Dan Brown membaca banyak buku dokumen terkait dan mengolahnya dengan daya pikir eksploratif analisis sehingga menghasilkan karya seperti itu.

Demikian pentingnya peranan buku dalam kemajuan peradaban manusia, dan, oleh Stephen R. Covey mengatakan bahwa “habit” atau kebiasaan membaca merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),dan keinginan (desire). Tidak mengherankan kalau orang yang sadar peranan buku mengumpakan buku sebagai “jendela dunia”.

Bayangkanlah fungsi jendela. Dengan jendela kita bisa menghirup udara segar dan meluaskan pandangan. Buku merangsang otak pembaca menjelazah dunia wawasan penulisnya dan malah juga pendapat ahli yang lain yang dikutipnya. Bukan masalah: apakah isi buku itu kita setuju tau tidak setuju namun tetap merupakan informasi yang meluaskan cakrawala kita. Hanya dengan membaca buku kita dapat segera mendapatkan pengalaman pembuat sejarah manusia. Penemuan oleh peneliti yang memerlukan waktu mungkin bertahun-tahun bahkan nyawanya dipertaruhkan dapat dimanfaatkan oleh pembaca dalam beberapa jam.

Seiring dengan pesatnya kemajuan, jenis informasi bertambah banyak dan luas. Penyebebarannya tidak hanya melalui buku seperti biasa. Melalui intenet berseliweran informasi yang ditawarkan kepada siapa saja dan tentu bagi yang mampu menggunakan internet. Sekarang telah mulai ebook berisi kode-kode digital penyimpanan buku dan sangat efisien. Tetapi prinsip utama adalah sama: “harus dibaca” dan tidak hanya dikoleksi sebagai dekorasi.

Tentunya kita harus bisa memilah-milih buku mana yang harus kita baca. Kebebasan yang kita miliki memerlukan pengendalian agar dengan bijak menentukan manfaat buku yang kita baca demi peningkatan mutu hidup. Akan tetapi tentu kita mengutamakan membaca buku yang bermutu yang telah dibuktikan oleh banyak ilmuwan kebenarannya dan hendaknya kita merencanakan/menyediakan waktu untuk membaca dan jangan hanya kalau ada waktu luang.

Kalau masyarakat kita bertekad maju merangkul ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu wahana penting di luar jalur-jalur pendidikan formal dan informal, adalah menciptakan budaya membaca. Melalui budaya membaca terbina cara berpikir eksploratif dan kreatif dalam masyarakat. Jika daya pikir dan semangat eksploratif dan kreatif tidak ada atau berantakan, maka apa pun tidak akan berbobot dan situasi sosial budaya menjadi sangat rawan. Ketiadaan daya pikir eksploratif dan kreatif maka sulit diharapkan argumentasi dan sistem logika dari seseorang. Memiliki daya pikir eksploratif dan kreatif apabila memiliki informsi cukup terkait dengan ilmu pengetahuan.

Di negara maju membaca sudah membudaya. Dalam perjalanan di bus, kereta api, atau pesawat terbang, jangan heran mereka sambil digoncang bus membaca. Di taman-taman kota mereka membaca. Sambil minum kopi di cafe mereka membaca. Dengan membaca memperluas wawasan dan terhindar dari mentalita “talaho barõ ndrõgõ” (katak dalam tempurung). Kalau membaca menjadi kebiasaan , maka waktu untuk berkhayal dan berpikir negatif bisa hilang, sebab guru (yang paling murah adalah buku) ada di tangan kita.

Semoga bermanfaat. Ya’ahowu !.

Euless, 1 Mei 2009

Mathias J. Daeli

6 Responses to “Oguna’õ Ginõtõ – Bagian 5 (Tamat)”

  1. 1
    Rizki H Says:

    Pak, kalau Stephen R. Covey mengatakan bahwa “habit” atau kebiasaan membaca merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),dan keinginan (desire), mungkin perlu ditambah satu lagi ya… pleasure. Artikel Bapak sungguh ‘menggugah’, terimakasih.

  2. 2
    M. J. Daeli Says:

    Rizki, terima kasih tanggapannya.

    Tambahan “pleasure” pada pendapat Stephen R. Covey tentang kebiasaan membaca saya sependapat dan baik sekali. Dan memang demikian seharusnya. Pada awal bagian ini (bagian 5) telah saya singgung mengenai hal itu.

    Ya’aahowu

  3. 3
    Sin Liong Says:

    Membaca The Da Vinci Code: A Novel (2003) karya Dan Brown memang asyik. Biar tambah asyik… saya menganjurkan 2 buku lainnya. Pertama, 101 Questions and Answers The Da Vinci Code and The Catholic Tradition (2006) karya Nancy de Flon & John Vidmar (terjemahan bahasa Indonesia oleh Kanisius, 2007). Dan kedua, 1434 The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance (2008) karya Gavin Menzies. Sudah pula diterjemahkan oleh Pustaka Alvabet, April 2009. Dengan 3 buku tsb harapannya kita bisa memahami eksistensi Matrimonia dan Leonardo da Vinci lebih berimbang. Semoga bermanfaat bagi para pecinta “jendela dunia”, Pak.

  4. 4
    M. J. Daeli Says:

    Saudara Sin Liong,

    Bagus sekali anjurannya.

    Mengenai buku Da Vinci Code yang dikarang oleh Dan Brown, seperti saya tulis di atas, yang mengagumkan bagi saya bukan karena mengenai isinya melainkan hasil upaya eksplorasi dan analisisnya terhadap informasi yang diperoleh. Maka saya tulis “Meskipun fiksi tetapi telah menginsiparsikan suatu ideologis “. Tujuan saya untuk menegaskan keberhasilan olah pikir apabila memiliki informasi melalui membaca.

    Dalam buku aslinya, Dan Brown benar-benar mengakui bahwa buku itu “fiksi”.Tetapi dalam terjemahan bahasa Indonesia tidak ada keterangan “fiksi” itu sehingga ada pembaca yang tidak sadar yang “bukan hanya” merasa senang melainkan merasa terpuaskan dengan daya khayalnya Dan Brown itu. Tentu bagi mereka yang memiliki kebebasan berkeyakinan tidak demikian halnya.

    Semoga “budaya membaca” benar-bera terwujud dalam masyarakat kita.

    M. J. Daeli

  5. 5
    agnes s Says:

    Meski Dan Brown pinter ngelola informasi, tp dia ngabaiin cerita ‘telur paskah’ yg anak kecil pun tau. Dia gak baca cerita era Tiberius itu ‘kali walhasil dia gak bisa ngebedain ‘gadis Magdala’ dgn ‘gadis Betania’. Sayang ya Pa’ olah pikir Dan Brown ngelantur dehh… 🙂

    Yaahowu.

  6. 6
    M. J. Daeli Says:

    Saudari Agnes,

    Terima kasih atas ketelitiannya.

    Mengenai buku “Da Vinci Code” oleh Dan Brown , seperti saya tegaskan , perhatian yang saya kaitkan dalam tulisan “Oguna’õ Ginõtõ ” ini adalah upayanya (Dan Brown) mengolah bahan-bahan informasi yang diperoleh melalui “membaca”.
    Mengenai isinya sendiri, bagi saya (bukan ahli Kitab Suci), nampak merupakan khayalan yang dibuat-buat oleh Dan Brown untuk popularitas dan ia berhasil. Beberapa hal dalam buku itu, misalnya :

    MARIA MAGDALENA
    Dan Brown berkhayal Maria Magdalena sebagai isteri Tuhan Yesus. Fakta : ketika Tuhan Yesus sedang di atas kayu salib, perhatianNya tertuju pada Maria ibuNya. Padahal Maria Magdalena, ketika itu, juga ada bersama-sama Maria ibu Tuhan Yesus dan Maria istri Klopas (Yoh 19:25-27). Adalah tidak mungkin Maria Magdalena tidak disapa oleh Tuhan Yesus pada saat seperti itu apabila ada hubungan khusus selain sebagai pengikutNya.

    GAMBAR PERJAMUAN TERAKHIR
    Oleh Dan Brown mengatakan bahwa gambar orang yang berada di sebelah kanan Tuhan Yesus adalah gambar Maria Magdalena. Fakta : kalau demikian waktu “Perjamuan Terakhir” hanya 11 murid Yesus. Dikemanakan rasul Yohanes ? Padahal dalam Alkitab sangat jelas mengatakan Rasul Yohanes hadir pada Perjamuan Terakhir tersebut (Yohanes 13:23, baca juga Yoh 19:26, Yoh 20:2, Yoh 21:7, Yoh 21:20. Kelihatannya Dan Brown mengabaikan (karena tujuan tertentu ?) dokumen Sketsa pendahuluan untuk lukisan “Perjamuan Terakhir” yang dibuat Leonardo Da Vinci yang dapat ditemukan di Venice, di mana Da Vinci tidak hanya membuat sketsa untuk masing-masing rasul tersebut tetapi dia juga memberikan label pada masing-masing gambar tersebut, dan gambar orang yang berada di sebelah kanan Tuhan Yesus di beri label “Yohanes Sang Penginjil” (“John the Evangelist”). Memang pada masa Renaissance Italia, seniman-seniman seperti Michelangelo dan Botticelli seringkali memberikan karakter feminin bagi seorang pria muda.

    CAWAN SUCI
    Oleh Dan Brown dikatakan sebagai lambang seorang manusia ( Maria Magdalena) yang meneruskan garis keturunan Yesus Kristus dengan mengandung anak-Nya. Ini adalah legenda baru karya khayal Dan Brown. Istilah Cawan Suci sendiri baru muncul tahun tahun 1170 dalam Perceval, tulisan roman mengenai Raja Arthur dan kerajaannya, Camelot.

    BIARAWAN SION
    Yang dikatakan oleh Dan Brown sebagai perkumpulan rahasia yang selama berabad-abad menyembunyikan hubungan Yesus dengan Maria Magdalena juga merupakan cerita baru yang dikhayalkan Dan Brown.

    Nama Biarawan Sion dipakai sebanyak 3 kali pada zaman yang berbeda :
    – nama sebuah ordo biarawan yang dibentuk pada tahun 1100 di Yerusalem, yang kemudian menjadi bagian dari ordo Jesuit pada tahun 1617,
    – Biarawan Sion yang kedua dan ketiga masing-masing dipimpin oleh Pierre Plantard (1920-2000). Ia seorang anti-Semit berkebangsaan Prancis dan dipenjara pada tahun 1953 karena penipuan. Pada tahun 1954, Plantard membentuk sebuah kelompok yang diberi nama Biarawan Sion untuk membantu mereka yang membutuhkan fasilitas rumah murah. Kelompok ini bubar pada tahun 1957. Kemudian pada tahun 1960-an dan 1970-an, ia membuat serangkaian dokumen palsu untuk “membuktikan” keberadaan garis keturunan yang berawal dari Yesus dan Maria Magdalena kemudian berlanjut kepada raja-raja Prancis dan menurun pada dirinya (mengaku pewaris takhta kerajaan yang sah). Dia dan rekan-rekannya menyebut diri mereka Biarawan Sion dan menempatkan dokumen ini pada perpustakaan di seluruh Prancis termasuk Perpustakaan Nasional.
    Pada tahun 1993, Plantard mengaku di bawah sumpah kepada seorang hakim Prancis bahwa dia telah merekayasa semua dokumen yang berhubungan dengan Biarawan Sion. Hakim pun mengeluarkan peringatan sangat keras dan membebaskannya karena dianggap sebagai orang eksentrik yang tidak berbahaya.

    PARA KESATRIA TEMPLAR
    Yang menurut Dan Brown merupakan penjaga rahasia hubungan Yesus dengan Maria Magdalena. Pada hal Ksatria Templar dibentuk pada tahun 1118 sebagai ordo militer keagamaan, namun mereka tidak menjadi kaya raya, seperti yang ditulis di dalam novel Dan Brown , dengan menemukan rahasia Cawan Suci.

    OPUS DEI
    Menurut Dan Brown merupakan pihak yang berusaha mencegah beredarnya dokumen yang dimiliki Biarawan Sion. Pada hal Opus Dei adalah organisasi Katolik Roma yang terdiri atas orang awam yang menekankan pada kesalehan dan perbuatan baik. Pendirinya adalah Josemaria Escriva yang dilahirkan di Babastros, Spanyol, pada tahun 1902 dan menciptakan Karya untuk memberdayakan orang-orang awam, ketimbang terpusat pada kerohanian para biarawan.

    Seperti yang saya katakan di atas : saya buka ahli Kitab Suci. Namun menarik juga hasil olah pikir Dan Brown yang mengatakan bahwa injil Gnostik ( injil yang menggambarkan pandangan dunia yang berbeda dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru) oleh Kaisar Konstatin memerintahkan dibakar/dihancurkan sehingga memberi kesan Perjanjian Baru mulai dari Kaisar Konstatin itu. Pada hal tidak ada bukti bahwa Kaisar Konstantin memerintahkan pembakaran injil Gnostik manapun. Yang dibakar adalah catatan para pendukung Arius yang dianggap sesat oleh Konsili Nicea. Jadi ini tidak ada hubungan dengan asal usul Perjanjian Baru. Pengakuan informal atas Kitab Perjanjian Baru telah berlangsung jauh sebelum Kaisar Konstantin. Dan penetapan resmi Perjanjian Baru seperti yang kita kenal sekarang terjadi 72 tahun setelah Konsili Nicea (325 M), pada peristiwa Sinode Karthago (397M).

    Juga mengenai anggapan Dan Brown bahwa Yesus baru diakui sebagai Tuhan pada abad ke-4 yaitu pada jaman pemerintahan Kaisar Konstantin, adalah suatu KEBOHONGAN BESAR bagi yang belajar sejarah dan terutama bagi yang meyakini Alkitab sebagai Firman Tuhan.

    .Sekali lagi ditegaskan bahwa, saya menyebut buku “Da Vinci Code oleh Dan Brown” dalam artikel “OGUNA’Õ GINÕTÕ” adalah terkait dengan : betapa membaca sebagai sarana memperoleh informasi untuk membina cara berpikir eksploratif dan kreatif .

    Semoga bermanfaat.

    M. J. Daeli

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

May 2009
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031