Archive for June, 2010 | Monthly archive page

Menteri Agama RI Resmikan Pembukaan Persidangan Majelis Sinode BNKP Ke-55

Tuesday, June 29th, 2010

* Berlangsung di TD Pardede Hall, dihadiri Sekira 10 Ribu Masyarakat Nias

Medan – Menteri Agama RI Drs Surya Dharma Ali diwakili Dirjen Binmas Kristen DR Yason Lase MA meresmikan pembukaan Persidangan Majelis Sinode Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNK) ke 55 ditandai dengan pemukulan gong yang sebelumnya pembukaannya dilakukan Ephorus BNKP Pdt Kalebi Hia MTh di TD Pardede Hall Medan, Minggu (27/6).

Acara pembukaan persidangan yang untuk pertama kalinya dilakukan di luar Nias setelah 54 kali persidangan dilakukan di dataran Nias itu dihadiri sekira 10 ribu masyarakat Nias di Medan, Nias dan daerah lainnya serta para pejabat pusat, Sumut maupun dari Nias, tokoh masyarakat dan undangan lainnya.

Pejabat yang hadir itu diantaranya Gubsu Syamsul Arifin SE, Ketua DPRDSU H Saleh Bangun, Ketua Umum PGI Pusat Pdt Dr AA Yewangoe, mewakili persekutuan gereja di Asia (UEM Asia) Sonya Parera mantan Ephorus HKBP Pdt DR SAE Nababan, Ketua Umum PGI Sumut diwakili JA Fernandus (ketua I) bersama Sekum Pdt Dr Langsung Sitorus, Bupati/Walikota dari 4 Kabupaten di Nias dan Walikota Gunung Sitoli, anggota DPD Parlindungan Purba SH, tokoh masyarakat Nias Firman Jaya Daely, Ka Kanwil Kementrian Agama Sumut diwakili Binmas Kristen Drs Hasudungan Simatupang MPd, anggota DPRDSU asal Pemilihan Nias dan Nias Selatan, anggota DPRD dari Nias.

Pembukaan persidangan yang mengangkat thema “Tuhan bekerja mendatangkan shalom bagi semua orang untuk membangun persekutuan yang kokoh demi pertumbuhan gereja-Nya” serta sub thema “Dengan semangat persaudaraan sejati di dalam Kristus, BNKP terpanggil mengokohkan persekutuan yang indah dan tersusun rapi dalam menunaikan tugas panggilan kepada semua orang dan segala makhluk” tersebut berlangsung meriah diisi dengan berbagai seni budaya Nias seperti tarian Moyo. Pejabat yang datang disuguhi atraksi lompat batu (hombo batu) dibawakan putra-putra Nias dari Furai pimpinan mantan anggota DPRDSU Aliozisõkhi Fau SPd.

Selain itu para peserta dan undangan yang hadir juga disuguhi pagelaran operet yang menceritakan bagaimana kondisi masyarakat Nias dahulu hingga masuk perkabaran Injil yang disampaikan Deninger seorang berkebangsaan Jerman 27 September 1865 serta penampilan paduan suara consolatio. Susunan dan tampil acara apik dan menarik yang dikemas panitia tersebut berulang kali mendapat sambutan dan tepuk tangan berulang dari para hadirin.

Menteri Agama RI Surya Dharma Ali dalam sambutannya yang dibacakan Yason Lase mengharapkan, pelaksaan persidangan sinode jangan dijadikan untuk rehat dari tugas-tugas yang ada, tetapi untuk mengevaluasi tugas-tugas yang sudah dilakukan dan menetapkan program kerja ke depan sebagai bentuk sumbangsih gereja BNKP kepada bangsa dan negara. BNKP katanya telah memberikan kontribusi dalam kehidupan keagamaan dan menyelesaikan permasalahan yang muncul di tengah-tenagh masyarakat.

Diakhir sambutannya Menteri Agama menyampaikan beberapa pesan diantaranya agar mengimplementasikan visi dan misi organiasi gereja di tengah-tengah masyarakat, gereja harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan agara terpelihara dengan baik diantara sesama umat beragama, gereja harus memberikan pembinaan moral, etika, akhlak kepada generasi muda sebagai penerus bangsa sehingga terhindar dari degradasi moral.

Sementara Gubsu Syamsul Arifin dalam sambutannya mengatakan, Nias yang saat ini telah dimekarkan menjadi 4 kabupaten dan 1 kota seperti seorang gadis yang baru tumbuh dan ingin didekati banyak orang. Untuk itu Gubsu mengingatkan seluruh kepala daerah di Nias agar mengelola Nias secara baik dan professional serta dekat kepada Tuhan.

Dalam pelaksanaan persidangan Majelis Sinode, Gubsu mengajak seluruh tokoh-tokoh agama Nias harus saling bahu membahu bersama-sama dengan pemerintahnya. Menurut Gubsu, kondisi tetap aman karena peran serta para tokoh-tokoh agama. “Kita boleh berbeda-beda, suku, agama, ras, tetapi tetap dalam satu bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Gubsu.

Seperti selalu disampaikan dalam sambutannya pada sejumlah acara kegiatan keagamaan Kristen lainnya, pada acara itu Gubsu juga berpesan kepada seluruh masyarakat Nias agar jangan menjadi seperti Judas yang menghianati pemimpinnya, tetapi jadilah seperti Daniel, meskipun dimasukkan ke dalam kandang singa tetapi singa tersebut berhasil ditaklukkannya.

“Kalau ada orang yang berbuat jahat kepada kita, ataupun tak senang dengan perbuatan baik yang kita lakukan, ada satu yang harus kita ingat perkataan Tuhan Yesus “ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuatan”, kata Gubsu.

Ketua Umum PGI Pusat dalam sambutannya mengatakan, tugas gereja sangat kompleks di tengah-tengah masyarakat, dan harus turut serta memperjuangkan berbagai hal diantaranya memperjuangkan masyarakat sipil society sehingga adanya keseimbangan antara negara dan masyarakat, memperjuangkan demokrasi, memperjuangkan tegaknya hukum dan keadilan.

Sementara perwakilan dari UEM Asia Sonya Parera dalam sambutannya mengatakan, pelaksanaan persidangan sinode patut dicatat dalam sejarah karena pertama kali dilaksanakan di luar Nias. BNKP yang sekarang ini telah mengalami perubahan dibandingkan pada tahun 1995 lalu. Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, tangan Tuhan senantiasa dan selalu menopangnya.

Sebelumnya Ketua Umum Panitia Drs Penyabar Nakhe dalam sambutannya mengatakan, pengangkatan thema persidangan sinode itu mengundang makna akan eratnya hubungan secara vertikal antara kasih Allah sang pencipta semesta alam kepada dunia dan isinya, terutama kepada umatnya manusia untuk melaksanakan kehidupan yang berkenan kepadaNya.

Suasana kebersamaan acara pembukaan itu, katanya memiliki makna buat gereja dan warga BNKP agar semakin dikenal di Sumatera Utara bahwa di Indonesia meskipun kepulauan Nias sudah dikenal dalam pemerintahan di Indonesia dan internasional karena digoncang gempa dhasyat 28 Maret 2005 lalu yang sering disebut “sengsara membawa nikmat”.

Menurutnya, pelaksanaan persidangan majelis sinode BNKP ke-55 tahun 2010 efektif dilakukan pada 28 Juni hingga 2 Juli 2010 di Hotel Danau Toba Medan yang dihadiri sekira 500 peserta dengan tujuan yang akan dicapai “Dewasa dalam iman, tertata dalam organisasi dan mandiri dalam misinya.

Sebelum acara pembukaan secara nasional, terlebih dahulu dilaksanakan kebaktian raya. Pdt DR SAE Nababan dalam khotbahnya mengatakan, iman percaya kita harus senantiasa bertumbuh dan menjadi dewasa seperti yang diharapkan Tuhan Yesus Kristus. Iman yang bertumbuh itu katanya dapat menghasilkan buah. “Tanda-tanda iman yang bertumbuh memiliki panca indera yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik”, katanya.

Menurutnya, kedewasaan dan pertumbuhan iman tersebut sangat diperlukan dalam organisasi gereja dan merupakan dasar dari kemandirian. Dengan kata lain, kemandirian adalah kunci bahwa gereja itu sudah bertumbuh dalam iman dan tertata dalam organisasi.
Sementara Ephorus BNKP Pdt Kalebi Hia MTh dalam sambutan dan penggembalaan BPHMS BNKP mengatakan, pelaksanaan persidangan majelis sinode ke 55 tahun 2010 ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah BNKP. Sebab sejak zaman zending dan setelah BNKP berdiri, baru pertama kali dilaksanakan di luar pulau Nias yakni di kota Medan. Tujuannya bukan untuk unjuk kehebatan, dan bukan sekedar menghambur-hamburkan apalagi untuk sekedar jalan-jalan.

Persidangan kali ini katanya untuk menyadarkan kita di antaranya bahwa meskipun BNKP bercirikan gereja suku, tetapi tidak terkurung hanya dalam kepulauan Nias, melainkan telah menyebar di berbagai pelosok tanah air. Konteks perjuangan BNKP dan pelayanan BNKP tidak hanya kepulauan Nias, melainkan konteks ke-Indonesiaan, bahkan konteks dunia yang telah dan terus menglobal dalam segala dimensi kehidupan manusia. (SIB, 28 Juni 2010)

Australia Bebaskan Biaya untuk Keluarga Penerima Beasiswa

Sunday, June 27th, 2010

JAKARTA- Pemerintah Australia membebaskan biaya sekolah bagi keluarga penerima beasiswa. Kebijakan Departemen Pendidikan Australia ini sebagai bentuk kerjasama dengan Kemendiknas yang diberlakukan sejak tahun 2010 ini. Sehingga, tak hanya penerima beasiswa yang dibebaskan pungutan sekolah, tetapi anggota keluarga yang lain juga diberikan kemudahan yang sama.

“Mulai tahun 2010 ini, Departemen Pendidikan Australia telah membebaskan biaya sekolah bagi keluarga penerima beasiswa. Kami sangat senang adanya kebijakan yang diberikan Australia,” jelas Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Djoko Santoso kepada wartawan di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Kamis (24/6).

Djoko menjelaskan, kebijakan pembebasan biaya ini diterapkan di lima negara bagian Australia. Antara lain, Victoria, Queensland, West Australia dan New South Wales. “Harapan kami Australia Capital Teritory juga turut menerapkan hal ini,” imbuhnya.

Djoko menyebutkan, Pemerintah Australia setiap tahun telah memberikan lebih dari 400 beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Sedangkan Pemerintah Indonesia sepanjang tahun 2010 telah memberikan beasiswa Darmasiswa kepada 750 mahasiswa dari seluruh dunia.

Beasiswa yang diberikan Pemerintah Australia, lanjut dia, dibagi ke dalam tiga kelompok. Yakni, Australia Leader Award, Endeavour Award dan Australian Development Scholarship. Selain itu, Pemerintah Indonesia dengan dengan dukungan Education Foundation sedang berupaya mengembangkan pendidikan kejuruan melalui sister school. Program ini untuk mengembangkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI) dengan sebuah sekolah menengah di Australia.(www.jpnn.com – 24 Juni 2010)

Pembangunan SPBU di Jalan Diponegoro Dipersoalkan

Sunday, June 27th, 2010

Gunungsitoli – Kepala Operasi Depot Gunungsitoli mengaku tidak tahu menahu soal pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) oleh PT. Nias Barat Cemerlang di Jalan Diponegoro Km. 3,2 Desa Sifalaete Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli.

Hal itu ditegaskan Kepala Operasi Depot Gunungsitoli, Oscar L. Simorangkir saat dikonfirmasi Analisa melalui telepon selulernya Selasa, (22/6), tentang pembangunan SPBU tersebut.

“Saya sama sekali tidak menahu tentang pembanguan SPBU tersebut, sebab kami tidak pernah menerima laporan atau surat baik dari pihak pemohon atau pengusaha, Pemerintah Kota bahkan kami pernah menanyakan ke Pertamina regional I Medan tentang adanya pembanguan SPBU di Wilayah Kota Gunungsitoli jawabanya tidak jelas,” Tegas Simorangkir.

Walikota Gunungsitoli melalui Kepala Dinas Tata Ruang Pembangunan Kota Gunungsitoli, Ir.Ignasius Harefa yang dikonfirmasi Analisa di ruang kerjanya mengatakan, tentang penerbitan izin yang dikeluarkan Pemerintah Kota Gunungsitoli hanyalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sesuai dengan rekomendasi dari pihak kecamatan sebelumnya dan sesuai dengan persyaratan umum yang biasa digunakan yakni untuk IMB rumah, usaha. Saat ditanya tentang gambar konstruski bangunan dan Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) dalam pembanguan itu, Iganasius mengatakan sudah jelas dalam gambarnya adalah pembangunan SPBU. Namun pihaknya belum mengetahui kalau pihak pengusaha sudah mengurus Amdal atau tidak karena itu bukan kewenangan pihaknya.

Ditanya persyaratan dalam menerbitkan IMB kepada pengusaha Ignasius mengatakan pensyaratan yang diberlakukan yakni persyaratan stadar IMB biasa yang lazim digunakan kepada yang lainnya. Dia mengaku ada beberapa pemilik SPBU yang telah beroperasi sebelumnya-yang tidak jauh jaraknya dari lokasi pembanguan SPBU-merasa keberatan dan dirugikan hingga para pemilik SPBU tersebut mengajukan surat keberatan No.001/GST/V/10 ditunjukan kepada General Manager Region I PT. Pertamina (Persero) Medan.

Dalam surat keberatan itu, para pengusaha SPBU merasa dirinya sangat dirugikan, beberapa poin-poin keberatan mereka antara lain, SPBU mereka sudah berstatus “pasti pas” dan perlu membutuhkan dana.

Untuk melakukan renovasi, berdirinya SPBU merupakan dorongan dari pemerintahan kabupaten dan pihak Pertamina sendiri. Dimana pasca gempa tahun 2005 kondisi BBM di Gunungsitoli sangat langka. karena ketika itu SPBU hanya ada satu unit. Selanjutnya untuk mendirikan SPBU mereka telah meminjam dana di Bank sampai saat ini angsurannya belum selesai. Untuk itu mereka memohon agar pembanguan SPBU yang baru itu dapat dibatalkan.

Dari informasi yang didapatkan persetujuan relokasi SPBU dimaksud diharuskan melengkapi 18 persyaratan (izin), dalam kurun waktu selambat-lambatnya 6 (enam) bulan terhitung mulai tanggal terbitnya surat persetujuan relokasi. Pembangunan SPBU oleh PT. Nias Barat Cemerlang, Jalan Diponegoro Km. 3,2 Desa Sifalaete Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, diduga tidak memiliki izin sesuai dengan surat persetujuan relokasi, Medan 16 Oktober 2009, No.611/F11100/2009-S3 dari jalan persimpangan Lahomi, Sirombu, Nias Barat bukan di Jalan Diponegoro Kota Gunungsitoli-Nias.

Selain itu diduga pembanguan SPBU tersebut izin UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) dan UKL (Usaha Keselamatan Lingkungan) yang dikeluarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup wilayah Sumatera Utara melalui Komisi Penilaian Amdal, Karena instansi ini yang memiliki sertifikasi sebagai penyusun dan penilai Amdal, sesuai dengan UU.RI No.32 Tahun 2009, yang merupakan dasar dari penerbitan izin-izin yang lain tidak ada serta tidak pernah melakukan konsultasi kepada pihak Pertamina, dan tanpa mempertimbangkan lokasi pertapakan SPBU yang akan dibangun, kata sejumlah pengusaha SPBU yang ditemui.

Pantauan Analisa, kondisi geografis di sepanjang Jalan Diponegoro antara km 0 sampai dengan km 6 pendirian SPBU yang baru sangat berdekatan dengan SPBU-SPBU yang sudah lama berdiri. dengan jarak kurang lebih 1 sampai 2 km. PT. Nias Barat Cemerlang Idealisme Dakhi yang dikonfirmasi Analisa melalui telepon selulernya membantah keras hal itu. Menurutnya pembanguan SPBU yang Ia lakukan sudah sesuai dengan ketentuan yang ada, “Kita tentu tidak mungkin membangun tanpa izin dan tentunya kita tidak bangun yang bukan pada tempatnya dan surat untuk pembangunan tersebut telah lengkap serta izin yang kita dapatkan jelas di lokasi jalan Diponegoro Gunungsitoli,” Tegas Idealisme Dakhi. (www.analisadaily.com – 24 Juni 2010)

Sejumlah Anggota DPRD Nias Kembalikan Uang Korupsi

Sunday, June 27th, 2010

Gunungsitoli – Terkait dugaan tindak pidana korupsi dana APBD Nias tahun 2006 senilai Rp 354.790.000, sejumlah anggota DPRD Nias yang diduga terlibat mengembalikan uang ke kas daerah.

Hal itu dikatakan Kepala Kejaksaan Negeri Gunungsitoli melalui Kasi Tindak Pidana Khusus Noferius Lomboe SH kepada wartawan di Gunungsitoli, Senin (21/5).

Menurutnya, hampir seluruh uang telah dikembalikan ke kas daerah dan bukti pengembalian itu telah diterima pihaknya dalam waktu yang tidak bersamaan.

“Uang itu telah dikembalikan. Memang masih ada juga anggota DPRD Nias yang belum mengembalikan uang itu,” katanya.

Menyikapi, pengembalian uang tersebut sejumlah LSM secara terpisah di Gunungsitoli menyesali terjadinya kasus tersebut karena dinilai sangat memalukan.

“Itu sangat memalukan, uang negara dipulangkan kembali ke kas daerah setelah dilaporkan oleh masyarakat. Ini lucu kedengarannya. Coba kita bayangkan, uang yang telah dinikmati selama kurang lebih empat tahun kembali dimuntahkan,” Kata Direktur Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Jaringan Rakyat Memantau Indonesia (Jarakpantau), Atoni Waruwu, Senin (21/6).

Lebih lanjut dikatakannya, yang paling disayangkan dalam kasus tersebut adanya anggota DPRD Nias yang selama ini dinilai pro rakyat dan bisa dikatakan tidak tahu apa-apa terkait uang itu, harus menjadi korban dari sistem birokrasi keuangan pemerintah Kabupaten Nias yang amburadul selama ini. Atoni yang juga Ketua Presidium Aliansi Gerakan Nias Barat ini meminta Kejaksaan Negeri Gunungsitoli segera memeroses kasus tersebut.

“Perbuatan melawan hukumnya harus di proses secara hukum,” ujarnya.

Sekretaris Lembaga Pemantau Pengelolaan Keuangan dan Harta Negara Kabupaten Nias, Yanuari Zebua, Kepada wartawan, Selasa (21/6) mengatakan, kasus DPRD Nias diduga sengaja dipetieskan. Pihaknya menduga adanya upaya tertentu mengulur-ulur proses kasus tersebut.

Di tempat terpisah, Ketua Lembaga Pemantau Korupsi dan Penyelamat Harta Negara (LSM- Perlahan) Nias, Ferdinand Ndraha mengatakan sikap sejumlah anggota DPRD Nias yang mengembalikan uang tersebut patut diapresiasi. Namun di sisi lain pengembalian tersebut tidak akan mengurangi proses hukum yang ada sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 UU No 31/1999 Jo UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidanna Korupsi bahwa pengembalian kerugian negara atau perekonomian negara tidak menghapus dipidananya pelaku tindak pidana korupsi.

Menurutnya jika ada pasal yang mengatur tentang itu, maka enak sekali pejabat-pejabat di Negeri ini, ketahuan curi uang rakyat lalu buru-buru dikembalikan. (Analisa, 24 Juni 2010)

Dihajar kapal barang, nelayan Gunungsitoli tewas

Friday, June 18th, 2010

PILADES – Delapan nelayan menjadi korban tabrakan kapal di perairan Pilades, perbatasan Sibolga – Kepulauan Nias, Sumatera Utara, hari ini. Seorang nelayan dikabarkan tewas mengenaskan dan tujuh orang lainnya dinyatakan selamat.

Insiden ini terjadi, Kamis (17/6), saat awak kapal yang sudah tiga hari melaut ini sedang beristirahat. Tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba kapal boat yang mereka tumpangi dihajar oleh kapal barang LCT Jayat.

Para nelayan yang panik spontan melompat ke dalam laut. Namun malang, salah seorang dari mereka, yaitu Samah Ati Lase, warga kota Gunungsitoli tidak berhasil menyelamatkan diri dan akhirnya ditemukan tewas mengenaskan.

Jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Gunungsitoli. Sementara tujuh korban lainnya saat ini diamankan di pos KP3 Gunungsitoli. (www.waspada.co.id – 17 Juni 2010)

Pimpinan Defenitif DPRD Kota Gunungsitoli Dilantik

Thursday, June 17th, 2010

Gunungsitoli – Tiga orang Pimpinan Defenitif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gunungsitoli masing-masing Ketua Sowa’a Laoli (Partai Demokrat) Wakil Ketua Armansah Harefa (Partai Pelopor) dan Hadirat St Gea (PDIP) Dilantik dalam sebuah sidang paripurna yang berlangsung aman dan kondusif. Rabu, (16/6).

Pelantikan ketiga pimpinan DPRD Kota Gunungsitoli yang dilaksanakan di Gedung DPRD Kota Gunungsitoli itu, pengambilan sumpah dan janji langsung Dipimpin Ketua Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Togar Simamora SH, MH.

Turut hadir, Walikota Gunungsitoli, Drs Martinus Lase, M.SP. Dandim 0213 Nias, Letkol H Sinaga, Sekda Kota Gunungsitoli, Drs Kemurnian Zebua, BE, Wakapolres Nias, Kompol S Zebua, Mewakili Kajari Gunungsitoli, Fras Rudy Zebua, SH, Wakil Bupati Nias Temazaro Harefa dan sejumlah Kadis lingkup Pemerintah Kota Gunungsitoli.

Ketua DPRD Defenitif Sowa’a Laoli dalam sambutanya mengatakan, pengangkatn mereka sebagai pimpinan DPRD Kota Gunungsitoli Berdasarkan surat keputusan Gubernur yang mengacu pada perundang-undangan yang berlaku, dimana atas terbentuknya DPRD kota Gunungsitoli maka perlu adanya Ketua DPRD yang defenitif.

Lebih lanjut Sowa’a Laoli mengatakan acara dalam mengambil sumpah dan janji ketua dan wakil ketua DPRD kota Gunungsitoli yang defenitif merupakan salah satu tugas fungsional sebagai mana yang diatur dalam peraturan pemerintah no 14 tahun 2010 tentang pedoman pengukuhan dan pengucapan sumpah dan janji ketua DPRD dan Wakil ketua DPRD kota Gunungsitoli.

Maka dengan adanya pimpinan DPRD Kota Gunungsitoli maka pembentukan alat-alat kelengkapan DPRD lainya dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Begitu juga hubungan antara legislatif dan eksekutif bisa berjalan dengan baik dalam pengembangan pembangunan Kota Gunungsitoli, pengembangan potensi daerah dan pemanfaatan anggaran pembangunan demi kesejahteran dan kebutuhan masyarakat. (www.analisadaily.com – 17 Juni 2010)

Merpati Tertunda Hampir 5 Jam di Bandara Polonia

Thursday, June 17th, 2010

Medan – Pesawat Merpati Nusantara Airlines tertunda hampir lima jam di Bandara Polonia Medan, Rabu (16/6) membuat penumpangnya yang akan berangkat tujuan Gunung Sitoli Nias kecewa sekaligus was-was dengan kondisi pesawat merpati karena hal seperti itu sering terulang.

Informasi dihimpun wartawan dari beberapa petugas, pesawat Merpati itu sesuai jadual yang ada di tiket penumpang seharusnya terbang pukul 07.00 WIB. Penumpang pun sudah sejak sebelum jam 6 pagi sudah berada di Bandara dan menunggu di ruang tunggu keberangkatan setelah mengurus check-in.

Penumpang pun sempat ribut dan protes karena mereka kecewa dengan penundaan keberangkatan. Padahal sebagian penumpang akan segera berada di Nias untuk urusan yang sangat penting.

Salah seorang penumpang yang dikenal sebagai tokoh pemuda dan mahasiswa asal Nias Sonitehe Telaumbanua kepada wartawan menyampaikan kekecewaannya atas pelayanan manajemen Merpati karena kondisi pesawatnya seringkali mengalami gangguan teknis.

“Kami sempat protes atas penundaan ini. Di tiket pesawat seharusnya berangkat ke Nias jam 7 pagi, kemudian diumumkan kepada kami melalui pengeras suara pesawat ditunda karena gangguan teknis. Kami baru diterbangkan pukul 11.45 WIB,” katanya.

Menurut Sonitehe, selain kecewa karena tertunda-tunda terus para penumpang yang berjumlah 16 orang juga takut terbang.

“Soalnya pihak merpati selalu mengatakan gangguan teknis kita tidak tahu kerusakan apa itu, wajar kan kita was-was. Kondisi seperti ini seringkali terjadi pada pesawat Merpati, penerbangan lain tidak seperti ini parahnya. Kita mintalah pimpinan Merpati di Medan untuk membenahi pesawat mereka karena ini menyangkut nyawa dan kepentingan masyarakat Nias sering terkendala kalau tertunda-tunda,” tegas Soni. (www.analisadaily.com – 17 June 2010)

Johannes Maria, Pastor yang Berjuang Menghidupi Museum Nias

Tuesday, June 15th, 2010

*Tak Rela Benda-Benda Pusaka Dijual ke Luar Pulau

Oleh: SUGENG SULAKSONO

PASTOR Johannes Maria Hammerle OFMCap diakui masyarakat Nias jauh lebih Nias dibanding warga Nias. Agamawan asal Jerman itu bahkan termasuk budayawan paling berpengaruh di pulau tersebut. Kini, banyak kalangan di Nias yang mulai resah seiring kerapnya pastor 69 tahun itu sakit.

Pada 12 Mei 2010, para staf Museum Pusaka Nias panik. Termasuk 24 mahasiswa IKIP Gunungsitoli yang sedang magang. Pastor Johannes tiba-tiba jatuh sakit dan membutuhkan perawatan secepatnya.

Rumah Sakit Gunungsitoli di Kepulauan Nias tidak memungkinkan menampung pastor sepuh itu. Selain tenaga medisnya kurang, fasilitas di rumah sakit tersebut relatif terbatas.

Karena itu, atas bantuan sebuah organisasi internasional yang masih bermarkas di Kepulauan Nias pascagempa dan tsunami 2004, Johannes akhirnya diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Penang, Malaysia.

“Saya dirawat 12 hari di sana,” kata pastor kelahiran Housach Schwartwald (Blackforest), Jerman, 1941, tersebut saat ditemui di Museum Nias, Gunungsitoli, akhir pekan lalu.

Johannes tidak menjelaskan detail penyakit yang diderita. Dia hanya mengaku baru saja menjalani operasi prostat. Dari kejadian itu, seluruh pengelola Museum Nias seluas 2 hektare yang dilengkapi taman bermain dan koleksi beberapa binatang khas Nias tersebut mulai khawatir.

“Bukan saya yang khawatir. Mereka, staf museum, yang khawatir. Bagaimana ini kelanjutan museum kalau si Johannes sudah tidak ada,” ungkap Johannes yang lumayan fasih berbahasa Indonesia.

Sebagai gambaran, dia bercerita bahwa mantan Wakil Presiden Adam Malik dulu pernah mendirikan museum keramik yang besar dan megah. “Di mana (museum keramik) itu sekarang setelah Adam Malik meninggal” Jadi, mereka (staf Museum Nias) juga khawatir seperti itu,” tuturnya.

Dari kekhawatiran para karyawan museum itulah, Johannes berpikir bahwa museum satu-satunya yang mendokumentasikan dan menampung benda-benda bersejarah kepulauan berpenduduk sekitar 900 ribu jiwa tersebut harus tetap ada. “Karena itu, kami pun berharap ada ide agar museum dengan anggaran minus itu bisa terus berlangsung,” katanya.

Tidak ada dana tetap untuk pengelolaan Museum Nias yang halaman belakangnya langsung bersentuhan dengan laut Indonesia tersebut. Kecuali, bantuan dari kakak ipar Johannes di Jerman yang setia mengirimkan dana pensiunnya sebesar 60 euro (sekitar Rp 670 ribu, Red) setiap bulan. “Padahal, dia hidup sangat sederhana. Tapi, dia tetap kirim uang untuk bantu museum ini,” ucapnya.

Pemerintah daerah yang terdiri atas lima kabupaten di Kepulauan Nias tidak menganggarkan secara rutin untuk museum itu. Sejak didirikan pada 1990, tercatat hanya tiga kali dana segar mengucur dari pemerintah daerah. Itu pun setelah pengelola museum mengirimkan proposal ke pemda. Jumlahnya Rp 25 juta, Rp 200 juta, dan Rp 75 juta.

Uang yang didapat dari pengunjung museum juga tidak bisa diharapkan. Pada akhir pekan, museum bisa mendapatkan pemasukan Rp 1,5 juta dari penjualan tiket seharga Rp 2.500 per orang. “Itu sudah paling hebat ya,” ujar Johannes lantas tersenyum.

Dia merasa, salah satu daya tarik museum terletak pada taman bermain yang dilengkapi koleksi binatang seperti buaya, burung laut, kera, dan musang. Taman bermain itu mengundang orang untuk berkunjung ke museum tersebut. “Mereka mungkin bilang, untuk apa lihat benda mati?” tuturnya.

Begitulah, kata Johannes, sangat sulit menciptakan kesadaran dan kepedulian masyarakat setempat untuk mencintai serta mempelajari budaya sendiri. “Dulu di sini ada forum masyarakat peduli museum supaya masyarakat Nias punya rasa memiliki. Ini museum punya warga, bukan museum milik pastor atau museum Katolik. Kami tidak pernah bilang ini punya Katolik.”

Banyak warga yang enggan menitipkan benda bersejarahnya di Nias karena berpikir bahwa museum itu milik Johannes atau milik umat Katolik. “Begitu pula yang saya rasakan ketika saya minta bantuan polisi lima tahun lalu. Polisi tidak bersedia menitipkan batu megalit yang disitanya ke museum ini. Katanya harus ada izin dari jaksa agung di Jakarta,” keluh Johannes.

Membangun museum bukanlah sesuatu yang direncanakan Johannes. Terlebih, sebelum menginjakkan kaki di Tana Niha “sebutan masyarakat Nias yang berarti kampung halaman kita?, dia tidak pernah mengetahui Kepulauan Nias itu seperti apa.

Johannes tiba di Nias pada 1971 sebagai misionaris. Dia diutus gerejanya di Jerman untuk menggali ilmu di tanah seberang. “Sebenarnya, kalau boleh memilih, saya pilih Sumatera. Tapi, ini sudah panggilan buat saya,” ujarnya.

Pada 1971, Nias masih sangat tertinggal. Bahkan, sampai saat ini pun belum mengalami kemajuan yang signifikan. Karena itu, kata Johannes, dalam menjalankan tugasnya dari satu desa ke desa lain, dia membutuhkan perjalanan yang sangat lama dengan berjalan kaki.

Perjalanan awal Johannes adalah di daerah Teluk Dalam, ujung paling selatan pulau tersebut. Sembilan tahun lamanya dia mengabdikan diri di kawasan yang juga dekat dengan budaya lompat batu tersebut. “Setiap malam saya menginap di rumah penduduk dan banyak bertanya. Seperti anak kecil, saya ingin tahu tentang ini dan itu,” kenangnya.

Dari banyak pertanyaan tersebut, dia mendapat banyak jawaban, sehingga terkumpul pelajaran sejarah tentang masyarakat Nias, termasuk benda-benda peninggalannya. Satu per satu warga Nias yang memiliki benda peninggalan memperlihatkannya kepada Johannes.

“Kebetulan, waktu saya studi teologi, dosen saya dulu adalah Paus Benediktus sekarang. Dia memberikan kuliah tentang Konsili Vatikan di Roma tentang keterbukaan terhadap suku dan budaya di dunia dan itu masuk ke kepala saya,” tuturnya.

Dari berbagai benda yang ditunjukkan masyarakat, Johannes mulai mengumpulkan artefak-artefak itu. Tidak jarang dia harus membelinya.

Faktanya, kata Johannes, memang banyak benda bersejarah dan bernilai tinggi dari Nias yang dibawa ke luar pulau, terutama ke Medan.

Dia sering menemukan benda berharga milik warga dan dirinya diminta untuk membayar. Beberapa minggu saja terlambat, benda itu pasti sudah terjual di seberang pulau. “Misalnya, di Brussels (Belgia), ditawarkan batu megalit dari Nias seharga 450 ribu euro. Karena itu, orang di sini lalu tergiur untuk menjual megalitnya,” terang Johannes.

Melihat fenomena seperti itu, dia semakin khawatir bahwa semakin lama Nias kehabisan benda bersejarah yang sebenarnya sangat penting untuk dipelajari generasi penerus. Fenomena itu juga membuktikan bahwa banyak warga Nias yang tidak peduli pada kebudayaan sendiri.

Sempat suatu hari saat belum ada transportasi umum di Nias, Johannes mendapat kayu ukiran sepanjang 10 meter dengan lebar satu meter dan tebal hampir 50 cm. Ukiran itu menggambarkan interaksi masyarakat Nias pada masa lalu.

Untuk membawa kayu tersebut dari pedalaman di Teluk Dalam menuju Gunungsitoli, dibutuhkan waktu sebulan dan diangkat 10 orang. “Kayu dihanyutkan lewat sungai, sempat menyangkut sebelum sampai ke laut. Lalu, dinaikkan perahu,” jelasnya.

Setelah beberapa benda terkumpul, Johannes meminta bantuan beberapa pihak, termasuk persekutuan gereja. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan museum di Gunungsitoli.

“Sempat diusulkan untuk didirikan di Teluk Dalam karena di sana banyak turis. Tapi, museum ini bukan untuk turis, namun untuk generasi muda Nias. Karena itu, lalu diputuskan di Gunungsitoli karena masyarakatnya lebih banyak dan ada sekolah tinggi,” paparnya.

Pembangunan museum ditangani arsitek asal Swiss, Prof Alain M. Viaro, tapi menggunakan tenaga kerja sepenuhnya masyarakat Nias. “Kebanggaan juga buat masyarakat Nias karena waktu terjadi gempa, museum itu hanya sedikit retak di tengah. Kecuali artefak berjatuhan dari tempatnya,” ungkap Johannes.

Di lokasi museum juga didirikan empat rumah adat dengan tipe yang berbeda. Tujuannya, masyarakat tidak merasa kolot jika merehab rumah adat. Saat ini mulai terlihat bahwa masyarakat sedikit demi sedikit meninggalkan rumah adat yang khas terbuat dari kayu tanpa paku tersebut. “Jadi, museum itu sangat berarti bagi masyarakat Nias dulu, sekarang, dan yang akan datang,” tegasnya.

Sementara itu, mantan Wakil Bupati Nias Agus Mendrofa mengaku malu melihat kenyataan bahwa orang Jerman justru lebih peduli terhadap budaya Nias. “Ini sungguh ironis. Kami saja yang sekarang berusia 50 tahun sudah banyak yang tidak peduli. Bagaimana nanti anak cucu kita?” ujarnya.

Dia menyatakan, muatan lokal dalam pendidikan bagi pelajar di Nias perlu ditambah agar kecintaan terhadap budaya daerah juga meningkat. “Pakar kebudayaan Rumbi Mulia mengatakan, Nias itu satu-satunya budaya megalitik tertua di dunia,” tuturnya.

Bukti bahwa masyarakat lokal mulai tidak mencintai peninggalannya, kata Agus, terlihat di Kecamatan Gomo, sebuah desa yang diyakini sebagai asal mula masyarakat Nias. Banyak batu yang bernilai sejarah yang telantar.

“Sangat ironis. Justru orang Jerman, bukan kami atau orang kami yang di seberang. Justru orang Jerman yang tertarik dan terpanggil jiwanya untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah,” tutur pemilik Miga Beach Hotel di Gunungsitoli itu.

Sama seperti kekhawatiran para karyawan museum, Agus tidak bisa membayangkan seandainya Johannes meninggal. Belum terbayang kelanjutan museum itu. “Kami harus terbeban. Tidak mungkin yang bangun rumah kami adalah orang lain, pasti kami. Begitu juga budaya kami, harus kami yang merawat,” tegasnya.(www.jpnn.com – 12 Juni 2010)

Guru Besar FE UI Prof Dr Suahasil Nazara: Pemekaran Dianggap Cara Cepat Menarik Uang dari Pusat ke Daerah

Monday, June 14th, 2010

Pemekaran daerah baik propinsi maupun Kabupaten/Kota dianggap sebagai jalan cepat untuk menarik ataupun mendapatkan uang dari pusat ke daerah. Anggapan itu cukup beralasan karena formula Dana Alokasi Umum (DAU) mendukung hal tersebut.
Demikian dikatakan guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof Dr Suahasil Nazara pada seminar “Peranan Kepemimpinan dalam Membangun Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam di Kepulauan Nias” diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Penerapan Otonomi Daerah Nias (LPP-Otda Nias) Sumut dengan moderator Fotarisman Zalukhu di Hotel Danau Toba Medan, Sabtu (22/5)
Namun demikian, menurut Nazara yang tampil sebagai pembicara bersama Drs Basarin Yunus Tanjung MSi dari Biro Otda Pempropsu dan Dosen FH Unika St Thomas Medan, RM Sitompul SH MHum, saat diperjuangkannya pemekaran itu, ada proposal yang diajukan dan hal itu merupakan janji-janji untuk membangun daerah yang dimekarkan itu guna kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
“Proposal pemekaran itu merupakan janji. Apakah janji itu sudah dilaksanakan. Masyarakat akan menagih janji itu. Janji itu terefleksi dalam propram pembangunan derah ke depan baik jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.
Menurutnya, pembangunan daerah itu harus memberdayakan seluruh elemen yang dilakukan oleh sektor publik. Elemen-elemen itu adalah infrastruktur, tata kelola, iklim usaha dan manajemen resiko.
Menjawab pertanyaan tentang keunggulan yang ada di Pulau Nias, Suahasil Nazara mengatakan ada 3 komoditi yakni kelapa, garam dan ikan. Dengan wilayah kepulauan, Nias memiliki potensi menghasilkan garam karena pantainya panjang. Selain itu pasaran garam juga sangat tersedia karena setiap tahunnya Indonesia harus mengimpor garam berkualitas sebagian besar untuk keperluan pabrik.
“Pemasaran garam ada. Setiap tahun, Indonesia mengimpor garam berkualitas 1,5 juta ton dari kebutuhan 2,1 juta ton,” kata Nazara. Namun permasalahan terhadap ketiga komoditi unggulan tersebut katanya, pemasarannya bukan di Nias.
Sementara Basarin Yusuf Tanjung dalam pemaparannya mengatakan, pemberian otonomi yang luas kepada daerah sebagaimana ditentukan dalam UU NO 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah, diarahkan untuk mepercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan publik, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.
Selain itu, juga diharapkan meningkatkan daya saing daerah yang kesemuanya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk mencapai tujuan itu, akan dilaksanakan melalui program dan kegiatan pemerintah daerah yang dirumuskan secara bersama oleh DPRD dalam pemabahasan RAPBD.
Sedangkan RM Sitompul dalam makalah berjudul “Prospek pembentukan Propinsi Tano Niha” mengungkapkan, persyaratan phisik kewilayahan Nias sudah memenuhi untuk pembentukan propinsi Tano Niha karena wilayah Nias saat ini sudah ada 4 daerah Kabupaten dan 1 Kotamadya, namun syarat teknisnya masih perlu kajian lebih lanjut.
Sebelum seminar, acara diawali dengan deklarasi dan pelantikan pengurus LPP-Otda Nias Sumut periode 2010-2015. Pelantikan pengurus itu dilakukan tokoh masyarakat mantan Bupati Nias Hanati Nazara ditandai dengan penyerahan pataka dan penandatangan berita acara.
Kepengurusan LPP-Otda Nias Sumut itu di antaranya terdiri dari dewan pembina Alozisokhi Fau SPd, ketua umum Naha’aro Lahagu, sekjen Hestilin Nazara, bendahara umum Filianus Waruwu, ketua bidang Hukum dan HAM Fetero Nazara SH, ketua bidang pemekaran dan otda Fangaro Nazara SH.
Acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat Nias di antaranya wakil Bupati Nias Selatan Daniel Duha SH, Henky Yusuf Wau, kalangan akademisi diantaranya dekan FH Universitas Sisingamangaraja XII Medan Ferro Sinambela SH MHum, calon walikota Medan Sofyan Tan, kalangan mahasiswa, LSM dan undangan lainnya.(SIB. 14 juni 2010)

Pangdam Bantah Pulau di Nias Dikuasai Asing

Sunday, June 13th, 2010

Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI M. Noer Muis membantah Pulau Asu dan Pulau Sinarano yang berada di kepulauan Nias telah menjadi milik warga Negara asing (WNA).

“Dalam peraturan, tidak ada pulau yang boleh dimiliki asing,” kata Mayjen TNI M. Noer Muis usai rapat muspida di kantor gubernur Sumut di Medan, Senin.

Sebelumnya, beredar informasi jika Pulau Asu di Kabupaten Nias Barat dan Pulau Sinarano di Kabupaten Nias Selatan telah dikuasai WNA.

Pangdam mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan kepada Pemkab Nias Barat dan Pemkab Nias Selatan mengenai kepemilikan Pulau Asu dan Pulau Sinarano.

Dari keterangan dua pemkab itu dipastikan Pulau Asu dan Pulau Sinarano bukan atas nama WNA yang belum diketahui kewarganegaraannya tersebut.

Pangdam menjelaskan, infromasi yang didapat, WNA itu berdiam di kepulauan Nias setelah menikah dengan salah seorang masyarakat lokal.

Kemudian, WNA yang belum diketahu namanya itu menanamkan modalnya untuk membangun berbagai prasarana, khususnya di bidang pariwisata di dua pulau tersebut.

Pihaknya menilai tindakan WNA itu tidak perlu dipermasalahkan jika tidak bertentangan dengan undang-undang termasuk peraturan daerah (Perda) yang berlaku di Pemkab Nias Barat dan Pemkab Nias Selatan.

Bahkan sebaliknya, kata Pangdam, tindakan WNA itu dapat memberikan efek positif bagi warga sekitarnya karena memiliki peluang usaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

Namun, untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi di belakangan hari, Pemkab Nias Barat dan Pemkab Nias Selatan perlu membuat perda tentang pembuatan prasaran pariwisata di dua pulau tersebut.

Ia mencontohkan kemungkinan diberlakukannya daerah khusus di dua pulau itu yang akan menyebabkan larangan bagi warga sekitar untuk memasukinya.(tribun.13-06_2010)

“Itu perlu diwaspadai agar tidak menimbulkan masalah,” kata Pangdam.

Pengumuman Ujian Masuk USU Lewat Internet

Tuesday, June 8th, 2010

Medan – Hasil ujian tulis Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri 2010 di Universitas Sumatera Utara diumumkan Selasa (8/6) mulai pukul 18.00 WIB melalui internet di website spmb.or.id atau di website usu.ac.id.

“Pengumuman tidak manual lagi, tapi sudah melalui internet atau bisa langsung melihatnya di sekretariat penerimaan mahasiswa baru USU,” kata penanggung jawab informasi UMB USU, Bisru Hafi di Medan, Selasa.

Bagi peserta yang lulus, kata dia, diwajibkan mengikuti tahapan pelaporan dan pendaftaran mahasiswa baru USU pada 16-17 Juni 2010 pukul 08.00 WIB di gelanggang mahasiswa USU.

“Pelaporan untuk bidang non eksakta dilaksanakan 16 Juni dan untuk eksakta 17 Juni 2010,” katanya.

Pada saat pelaporan, lanjut dia, kelengkapan yang harus dibawa adalah kartu tanda peserta ujian UMB-SPMB asli, Ijazah/SKHUN asli yang dilengkapi pasfoto dan surat ganti nama bagi yang pernah ganti nama.

Setelah pelaporan, peserta diwajibkan melakukan pendaftaran ulang pada 22-23 Juni 2010. Namun sebelumnya ada dua tahapan yang harus diikuti peserta yang telah lulus, yaitu melakukan pemeriksaan kesehatan di poliklinik USU dan pembayaran SPP serta dana kelengkapan akademik (DKA) di seluruh cabang Bank BNI pada 17-21 Juni 2010.

“Pada saat mendaftar ulang, calon mahasiwa harus telah mengisi dan melengkapi formulir isian berkas paket pendaftaran yang telah diterima pada saat pelaporan. Bagi yang tidak melapor ulang maka haknya sebagai mahasiswa USU dianggap gugur,” katanya.

Tahun akademik 2010/2011 ini, jumlah peserta pendaftar UMB di USU sebanyak 35.675 orang dengan rincian 14.845 kelompok IPA, 10.023 kelompok IPS dan 9.783 kelompok IPS. Jumlah ini meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya yang hanya 28 ribu orang.

Pelaksanaan UMB-PTN tahun 2010 ini berlaku secara serentak dan bersamaan untuk 12 perguruan tinggi peserta di seluruh Indonesia.

Ke-12 PTN tersebut yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Universitas Malikussaleh (Unimal), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Andalas (Unand), Universitas Negeri Padang (UNP).

Kemudian Universitas Jambi (Unja), Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universita Islam Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Makasar, Universitas Palangkaraya, dan Universitas Negeri Semarang. (www.antara.co.id – 7 Juni 2010)

dr. Ria Telaumbanua, MKes, Putri Nias Yang Bertarung Menuju Siantar 1

Monday, June 7th, 2010

Pilkada Kota Siantar akan dilangsungkan pada Hari Rabu, 9 Juni 2010. Dalam waktu yang sudah sangat dekat ini, ada bagian yang perlu menjadi perhatian kita bahwa salah satu pasangan dari 10 paket yang maju dalam Pilkada Kota yang dikenal sangat dinamis, keras dan khas karakter masyarakatnya, adalah seorang putri Nias, ono niha, ikut dalam pertarungan ini. Dia adalah dr. Ria Telaumbanua, MKes, sebagai satu-satunya perempuan calon Walikota Siantar.

Menjelang hari H, sangat diperlukan dukungan dan doa restu bagi dr. Ria Telaumbanua, MKes (Calon Walikota) berpasangan dengan Drs. Suriyatno (Calon Walikota) pada Pilkada Kota Pematang Siantar dengan Visi Paket No. Urut 5 : “RIA-SURYA Berjuang Untuk Semua menuju Siantar Beriman dan Sejahtera Untuk Semua”. Ditengah persaingan yang ketat, dan sangat diwarnai dengan taburan hadiah materi dan janji-jani bagi calon pemilih, pasangan ini melaju sederhana dengan ciri-nya sendiri dilandaskan dengan Motto : “Sapangambei Manoktok Hitei” (Seiring, seirama, bekerjasama untuk membangun”, dan berprinsipkan etos berkarya : “Panggomgom-Parhobas” (Pemimpin adalah Pelayan”). Pasangan ini tidak gentar dengan hiruk-pikuk kegiatan politik praktis dari paket lain, namun dengan pasti dan penuh kasih berusaha menjangkau masyarakat Siantar setahap demi setahap dengan penuh kasih dalam berbagai bentuk pelayanan sosial.

Menarik untuk melihat siapakah dr. Ria, di bawah ini adalah profil siangkatnya.

dr. Ria Novida Telaumbanua, MKes, dilahirkan di Pematang Siantar, 23 November 1961, di Rumah Sakit Umum P.Santar, yang kemudian hari menjadi tempatnya berkarya.

Dari kecil diajarkan orang tua untuk rajin beribadah dan melayani sehingga sampai hari ini tetap aktif dalam kegiatan gerejawi dan sosial. Ia menikah dengan Eddy Wismo Simanjuntak, seorang pengusaha di Medan, dan memiliki 3 putra/putri. Dr. Ria adalah putri pertama dari (Alm) Drs. F.Telaumbanua/Ama Ria asal dari Gamo, Gunung Sitoli-Nias dan Dra. R.L Poerba Pakpak , suku Simalungun dari Siantar. Sebagaimana kakeknya, yang dikenal sebagai Guru Ama Hese Telaumbanua maka pendidikan menjadi prioritas utama bagi keluarga besar dr.Ria. dr. Ria juga menjadi putri angkat dari Drs. S.Is. Sihotang dan Mutiara Permata br. Simamora, mantan Bupati Dairi dan diberi tambahan marga br. Sihotang.

Pendidikan SD sampai SMP ditamatkan di Taman Asuhan Pematang Siantar dengan predikat juara kelas, dan demikian juga saat pendidikan lanjutan di SMA Negeri 1 Medan. Lulus kesarjaan S-1 dari Fakultas Kedokteran USU tahn 1974 sebagai dokter, S-2 Master of Hospital dari Institute Of Managenet Studies Singapore, tahun 2000, dan Magister Epidemologi dari Fak Ilmu Kesehatan Masyarakat Pasca Sarjana USU Meda, tahn 2004 dengan predikat Cum Laude

dr.Ria pernah menjadi Kepala Puskesmas Pancur Batu tahun 1995-2001, Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular Kab. Deli Serdang tahun 2001-2005, Dosen Luar Biasa pasaca Sarjana IKM USU 2005-2006, dan Direktur RSUD dr. Djasamen Saragih. Pematang Siantar tahun 2006 – 2008. dr. Ria juga menjadi Surveiyor Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia, DepKes RI, tahun 2006-sekarang. Dan dr. Ria juga menjadi Wakil Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Propinsi Sumatera Utara (2008 – sekarang)

dr. Ria menulis buku “Reforming Ghost Hospital To A Loving One, tahun 2008 sebagai pengalaman berkarya di RSU Djasaman Saragih P.Siantar serta strategi reformasi yang dilakukannya di RSU tersebut hingga dapat membawa RS ini mendapatkan prestasi sebagai RS Model Akreditasi di Indonesia pada tahun 2008, dan mendapatkan PERSI Award sebagai Juara III Inovasi Manajemen Tingkat Nasional tahun 2008. Penghargaan yang pernah diterima adalah sebagai Dokter teladan Tkt Deli Serdang tahun 1996, Dokter Teladan Tkt Prop. Sumatera Utara tahun 1996, Citra Wanita Pembangunan Indonesia, Jakarta Tahun 2007, Salah satu dokter dari 260 Dokter Berprestasi di Indonesia oleh IDI tagun 2008, dan 100 Dokter terbaik di Indonesia versi Majalah Campus Asia Tahun 2009.

Kalah dan menang, hanya dua gendang dari sebuah pertarungan. Menang sudah siap, kalaupun tak masalah karena hal itu menjadi bagian kehendak Tuhan. Yang lebih penting adalah bagaimana bisa berpartisipasi dalam proses melakukan perubahan yang nyata bagi kota Siantar. Demikian penjelasan, Esther GN Telaumbanua SE (Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit), yang adalah adik kandung dari dr. Ria. “Proses itu yang penting”, tambahnya Esther. “Di bagian ini, dr.Ria, kakak saya sangat gigih dalam berjuang untuk merealisasi visi-misinya. Ini adalah panggilan bagi dr.Ria, ono Niha, yang berkarya bagi kota Siantar, kota kelahiran kami, dan dimana dulu papa dan mama kami pernah hidup dan juga telah berkarya.”.

Kegigihan dan daya juangnya, merupakan kebanggaan dan menjadi inspirasi bagi perempuan Nias untuk maju dan mengaktualisasikan dirinya. Kiranya, apapun hasilnya, dr. Ria telah menoreh sejarah itu. Ya’ahowu. (egnt)

Foto 1 – Ria Telaumbanua, Foto 2: Esther bersama Ria Telaumbanua.

Ribuan Penonton Hadiri Konser Amal Iwan Fals di Gunung Sitoli

Monday, June 7th, 2010

Medan – Konser amal yang digelar Iwan Fals di Kota Gunung Sitoli, Pulau Nias, Sumatera Utara (Sumut) mendapat apresiasi hebar. Magnet Iwan Fals membuat ribuan penduduk bahkan dari kawasan pedalaman memadati Lapangan Pelita, yang menjadi lokasi pelaksanaan konser, Minggu (6/6/2010) malam.

Dalam acara yang digagas Komunitas Sosial Delasiga tersebut, Iwan membawakan lebih dari sepuluh lagunya yang hampir semua bernuansa sosial seperti Bento, Umar Bakri dan Belum Ada Judul. Di sela lagu populernya, yang berjudul Wakil Rakyat, Iwan berpesan bahwa batu-batu dan rumah tua peninggalan nenek moyang Nias sejak dua ratus tahun lalu sudah banyak berkurang.

“Sejak terakhir tahun 1995 saya datang ke Nias, kondisi tak kian membaik. Saya minta tolong agar kawan-kawan Nias dapat menjaga agar tak kian hilang begitu saja,” pinta Iwan Fals yang disambut teriakan setuju dari penonton.

Konser amal Iwan Fals mendapat sambutan yang demikian antusias dari penonton kendati diselingi hujan. Massa terhanyut dengan lagu-lagunya yang memang sudah demikian populer dan bertemakan realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Apalagi konser itu dikombinasikan dengan atraksi budaya lokal seperti tari perang (maluaya), tari elang (moyo), tari kolosal Maena, musik batu (feta batu), dan permainan musik nduri danga.

Aparat keamanan yang berjaga-jaga turut andil menjaga acara berlangsung dengan apik hingga konser selesai Minggu malam dan ditutup dengan lagu tradisional masyarakat Nias Tanõ Niha.

Konser amal yang digelar Iwan Fals ini merupakan bagian dari Gelar Seni Budaya Nias Bangkit. Ketua Panita Pagelaran ini, Agus Maendrofa memberikan apresiasi penuh pada warga yang hadir dan yang memberikan pertunjukan.

“Semoga masyarakat dapat mengambil hikmah positif dari berbagai program perbaikan kehidupan masyarakat Nias,” tukas Agus yang juga mantan Wakil Bupati Kabupaten Nias. (detiknews.com – 7 Juni 2010)

Akreditasi IKIP Gunungsitoli Dipertanyakan Mahasiswa

Monday, June 7th, 2010

Metrotvnews.com, Gunungsitoli: Ratusan senat mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli, Nias, Sumatra Utara, menyegel kantor yayasan perguruan tinggi kampus mereka. Para mahasiswa kecewa lantaran unjuk rasa mereka tak digubris yayasan perguruan tinggi, Sabtu (5/6).

Semula, mahasiswa menuntut kejelasan izin operasional dan status akreditasi program studi. Padahal kampus itu telah berusia 45 tahun. Mahasiswa mengaku khawatir ketidakjelasan itu membuat kampus mereka ditutup Kementerian Pendidikan Nasional. Mereka mengancam akan terus memboikot kampus jika tuntutan itu tak dipenuhi.

Sayangnya, tuntutan mahasiswa tak digubris oleh yayasan. Saat mahasiswa mendatangi yayasan, kantor tersebut tutup. Tak satupun anggota yayasan yang bisa mereka temui. Mahasiswa mengamuk. Mereka kemudian menyegel kampus dengan kayu dan seng. Bentrokan antara mahasiswa dan keamanan kampus nyaris terjadi. (www.metrotvnews.com – 5 Juni 2010)

Pemekaran Nias Jadi Provinsi Masih Terganjal Grand Desain

Thursday, June 3rd, 2010

MEDAN (Berita):  Wacana pemekaran di tiap-tiap provinsi kemungkinan akan terkendala dan terganjal di pemerintah pusat. Hal itu sesuai pertemuan Mendagri dengan para gubernur se Indonesia baru-baru ini yang membahas tentang pemekaran bahwa pemekaran daerah harus menunggu rampungnya penyusunan grand design alias desain utama aturan pemekaran daerah.

Gambaran itu dipaparkan Kabiro Otonomi Daerah (Otda) Provinsi Sumatera Utara Drs Bukit Tambunan MAP, pada pertemuan membahas soal wacana pemekaran Kabupaten Nias di aula gedung DPRD Sumut, Senin (31/05). Pertemuan itu dipimpin Ketua Komisi A Muhammad Nuh, dihadiri Bupati Nias Binahati Baeha serta dihadiri anggota Komisi A lainnya dan para tokoh pemekaran Nias.

Menurut Bukit Tambunan meski pada dasarnya semua pihak mendukung pemekaran Nias menjadi provinsi, termasuk kalangan fraksi-fraksi di DPRD Sumut juga menyetujuinya, namun kata Tambunan proses pemekaran tetap masih panjang. “Tidak hanya Nias mungkin daerah-daerah lainnya yang juga mewacanakan pemekaran di seluruh Indonesia kemungkinan akan terganjal,” katanya.

Apalagi dalam grand desain itu juga ada satu poin yang menyatakan bahwa hanya ada satu pemekaran untuk satu provinsi, misalnya Sumatera Utara sebagai provinsi induk, hanya mendapat jatah satu provinsi yang akan dimekarkan di daerah ini.  Bahkan, kata dia tidak tertutup kemungkinan untuk kawasan yang sudah dimekarkan di tingkat kabupaten kota akan kembali digabungkan dengan induk jika tidak sesuai dengan tujuan awal yakni mensejahterakan rakyat.

“Karena kesejahteraan rakyat bagi daerah yang dimekarkan memang sudah menjadi tuntutan Depdagri dan menjadi visi awal dari pemekaran,” ujar Tambunan.

“Jadi saat ini boleh-boleh saja kita semua setuju termasuk di kalangan wakil rakyat karena adanya kepentingan-kepentingan politis, namun jika nantinya terganjal di pusat jangan justru kami sebagai Biro Otda yang diancam dengan demo-demo masyarakat,” tegas Tambunan. Meski demikian , lanjut dia pihaknya mengaku tetap memberikan laporan yang baik-baik ke pemerintah pusat terkait kondisi Kabupaten Nias saat ini.

Di sisi lain, Tambunan juga masih melihat banyaknya kekurangan dari persyarakatan administratif yang diberikan pihak panitia pemekaran Nias, untuk kelengkapan persyaratan kajian akademis. “Bahkan saya hanya melihat satu tandatangan berupa keputusan hanya dari Bupati Nias Pak Binahati, bagaimana dengan bupati dan walikota lainnya, saya tak melihat tandatangan dari Bupati Nias Selatan, Nias Barat dan walikota Gunung Sitoli,” papar Tambunan. Dalam hal ini, Tambunan mengaku hanya memberikan gambaran dan bukan dalam kapasitas setuju atau tidak setuju. “Setuju atau tidak setuju tergantung dewan, jika katanya harus dikaji memang tugas kami untuk mengkaji, sedangkan keputusan ada di pemerintah pusat,” cetusnya.

Dalam pertemuan itu kalangan anggota Komisi A menyatakan menyetujui Nias untuk dimekarkan menjadi provinsi melihat cakupan wilayahnya yang terlalu luas, namun letaknya sangat jauh dari ibukota provinsi induk Sumatera Utara.

“Saya menyetujuinya berdas arkan pengalaman saya ketika terjadi bencana di Nias, ketika itu kami datang membawa bantuan namun sempat terganjal di Sibolga, bahkan menyeberangi laut hingga menempuh perjalanan yang cukup panjang. Itu semua karena bantuan harus melalui Medan terlebih dahulu,” papar Marahalim politisi Partai Demokrat. Dia mengatakan jika Nias yang memang merupakan daerah rawan bencana dimekarkan menjadi provinsi, tentu bala bantuan akan cepat bisa disalurkan.

Hal yang sama juga disampaikan Hasbullah Hadi (F Demokrat), Syamsul Hilal (F PDI Perjuangan) dan Marasal (F PDS), serta Parlautan. (F PAN) yang memberikan ucapan persetujuan..

Sebelumnya Binahati Baeha memaparkan, wacana pemekaran Nias berdasarkan ketertinggalan dan tingginya tingkat kemiskinan di daerah itu. Padahal, Nias memiliki begitu banyak potensi, baik di bidang perkebunan yakni  karet, kakao dan kelapa, maupun dari sektor kelautan seperti ikan dan ombaknya yang luar biasa. Daerah ini merupakan potensi luar biasa di sektor pariwisata dengan panorama pantai yang indah serta terumbu karang.

“Jadi kami harap jangan ada lagi yang menghalang-halangi waacana ini,” ujar Binahati. Karena lanjut dia pada prinsipnya enam kabupaten/kota di Nias telah mendukung, yakni Nias Selatan, Nias Tengah yang merupakan pecahan dari Nias Selatan, Nias Barat,  Nias Utara, Gunung Sitoli dan Nias induk. “Soal tandatangan seperti yang dikatakan Kabiro Otda itu bisa menyusul,” ujarnya. (www.beritasore.com – 1 Juni 2010)