Archive for June, 2010 | Monthly archive page

Polres Nias Reka Ulang Pembunuhan

Thursday, June 3rd, 2010

Polres Nias menggelar reka ulang kasus pembunuhan Fonaami Laoli (36) di Desa Dima, Kecamatan Hiliduho, Nias, Rabu (3/5) lalu.

Reka ulang yang dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Nias, AKP Enyali Hulu dan dihadiri petugas Kejari Gunungsitoli R Nazara dan kuasa hukum tersangka Yaminudin Yaoli, Kades Dima dan istri tersangka Rosalia Yaoli dan keluarha korban, digelar di samping Mapolres, Senin (31/5) kemarin.

Terungkap pada rekonstruksi itu, tersangka Ameela Laoli (33) warga Desa Dima, Nias dan masih saudara kandung korban, terlibat percakapan di luar rumah. Setelah berada di dalam rumah, tersangka langsung membacok perut dan leher korban. Setelah korban dipastikan tewas, tersangka langsung menyerahkan diri ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Nias, AKP Enyali Hulu saat dikonfirmasi Global mengatakan, untuk menjaga keselamatan tersangka dan mempermudah penyelidikan, pihaknya melakukan rekrontruksi di Mapolres Nias. (Harian Global, 3 Juni 2010)

Penumpang Lion Tujuan Nias Protes

Thursday, June 3rd, 2010

MEDAN, KOMPAS.com – Rombongan Konser Peduli Nias yang berangkat dari Bandara Polonia Medan ke Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Pulau Nias, menggunakan Lion Air protes, Kamis (3/6/2010) sore. Pasalnya pesawat dengan nomor penerbangan JT 1262 yang seharusnya berangkat pukul 16.40 WIB tertunda. Alasan Yuli Aspita, Districk Manager Lion Air Bandara Polonia, karena cuaca buruk.

Namun alasan ini tidak serta merta diterima begitu saja oleh seluruh penumpang Lion Air, karena pihak Lion Air baru mengumumkan pada pukul 17.30 WIB.

Penumpang pun makin bertambah berang, karena pihak Lion Air menelantarakan mereka. Sesuai aturan, kalau terjadi penundaan penerbangan dan penumpang diterbangkan keesokan harinya, maka pihak maskapai harus menanggung penginapan penumpang di kota tersebut.

Hingga saat ini para penumpang masih tetap menuntut pihak Lion Air agar menyediakan fasilitas penginapan untuk malam ini. Namun, lagi-lagi pihak Lion tetap kukuh pada pendiriannya.

Salah seorang penumpang, Hermansyah dari Nias, Gunung Sitoli mengatakan dia tetap menuntut agar pihak Lion menanggung biaya penginapan malam ini. Apalagi di Medan, Hermansyah tidak memiliki famili. Penumpang lainnya pun memiliki tuntutan senada.

Penumpang merasa pihak Lion Air mendiksriminasikan mereka, karena wisman yang juga batal terbang ke Gunung Sitoli justru mendapatkan perlakuan istimewa dan diajak berkomunikasi dengan baik. Sementara terhadap penumpang pribumi justru malah bersitegang.

Lion Air menerbangi rute Medan-Gunung Sitoli dua kali sehari, pertama pukul 09.00 dan kedua pukul 16.40. Yuli Aspita menjanjikan akan menerbangkan para penumpang besok (Jumat, 4/6/2010) pukul 05.30. (Kompas, 3 Juni 2010)