Archive for June 7th, 2010 | Daily archive page

dr. Ria Telaumbanua, MKes, Putri Nias Yang Bertarung Menuju Siantar 1

Monday, June 7th, 2010

Pilkada Kota Siantar akan dilangsungkan pada Hari Rabu, 9 Juni 2010. Dalam waktu yang sudah sangat dekat ini, ada bagian yang perlu menjadi perhatian kita bahwa salah satu pasangan dari 10 paket yang maju dalam Pilkada Kota yang dikenal sangat dinamis, keras dan khas karakter masyarakatnya, adalah seorang putri Nias, ono niha, ikut dalam pertarungan ini. Dia adalah dr. Ria Telaumbanua, MKes, sebagai satu-satunya perempuan calon Walikota Siantar.

Menjelang hari H, sangat diperlukan dukungan dan doa restu bagi dr. Ria Telaumbanua, MKes (Calon Walikota) berpasangan dengan Drs. Suriyatno (Calon Walikota) pada Pilkada Kota Pematang Siantar dengan Visi Paket No. Urut 5 : “RIA-SURYA Berjuang Untuk Semua menuju Siantar Beriman dan Sejahtera Untuk Semua”. Ditengah persaingan yang ketat, dan sangat diwarnai dengan taburan hadiah materi dan janji-jani bagi calon pemilih, pasangan ini melaju sederhana dengan ciri-nya sendiri dilandaskan dengan Motto : “Sapangambei Manoktok Hitei” (Seiring, seirama, bekerjasama untuk membangun”, dan berprinsipkan etos berkarya : “Panggomgom-Parhobas” (Pemimpin adalah Pelayan”). Pasangan ini tidak gentar dengan hiruk-pikuk kegiatan politik praktis dari paket lain, namun dengan pasti dan penuh kasih berusaha menjangkau masyarakat Siantar setahap demi setahap dengan penuh kasih dalam berbagai bentuk pelayanan sosial.

Menarik untuk melihat siapakah dr. Ria, di bawah ini adalah profil siangkatnya.

dr. Ria Novida Telaumbanua, MKes, dilahirkan di Pematang Siantar, 23 November 1961, di Rumah Sakit Umum P.Santar, yang kemudian hari menjadi tempatnya berkarya.

Dari kecil diajarkan orang tua untuk rajin beribadah dan melayani sehingga sampai hari ini tetap aktif dalam kegiatan gerejawi dan sosial. Ia menikah dengan Eddy Wismo Simanjuntak, seorang pengusaha di Medan, dan memiliki 3 putra/putri. Dr. Ria adalah putri pertama dari (Alm) Drs. F.Telaumbanua/Ama Ria asal dari Gamo, Gunung Sitoli-Nias dan Dra. R.L Poerba Pakpak , suku Simalungun dari Siantar. Sebagaimana kakeknya, yang dikenal sebagai Guru Ama Hese Telaumbanua maka pendidikan menjadi prioritas utama bagi keluarga besar dr.Ria. dr. Ria juga menjadi putri angkat dari Drs. S.Is. Sihotang dan Mutiara Permata br. Simamora, mantan Bupati Dairi dan diberi tambahan marga br. Sihotang.

Pendidikan SD sampai SMP ditamatkan di Taman Asuhan Pematang Siantar dengan predikat juara kelas, dan demikian juga saat pendidikan lanjutan di SMA Negeri 1 Medan. Lulus kesarjaan S-1 dari Fakultas Kedokteran USU tahn 1974 sebagai dokter, S-2 Master of Hospital dari Institute Of Managenet Studies Singapore, tahun 2000, dan Magister Epidemologi dari Fak Ilmu Kesehatan Masyarakat Pasca Sarjana USU Meda, tahn 2004 dengan predikat Cum Laude

dr.Ria pernah menjadi Kepala Puskesmas Pancur Batu tahun 1995-2001, Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular Kab. Deli Serdang tahun 2001-2005, Dosen Luar Biasa pasaca Sarjana IKM USU 2005-2006, dan Direktur RSUD dr. Djasamen Saragih. Pematang Siantar tahun 2006 – 2008. dr. Ria juga menjadi Surveiyor Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia, DepKes RI, tahun 2006-sekarang. Dan dr. Ria juga menjadi Wakil Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Propinsi Sumatera Utara (2008 – sekarang)

dr. Ria menulis buku “Reforming Ghost Hospital To A Loving One, tahun 2008 sebagai pengalaman berkarya di RSU Djasaman Saragih P.Siantar serta strategi reformasi yang dilakukannya di RSU tersebut hingga dapat membawa RS ini mendapatkan prestasi sebagai RS Model Akreditasi di Indonesia pada tahun 2008, dan mendapatkan PERSI Award sebagai Juara III Inovasi Manajemen Tingkat Nasional tahun 2008. Penghargaan yang pernah diterima adalah sebagai Dokter teladan Tkt Deli Serdang tahun 1996, Dokter Teladan Tkt Prop. Sumatera Utara tahun 1996, Citra Wanita Pembangunan Indonesia, Jakarta Tahun 2007, Salah satu dokter dari 260 Dokter Berprestasi di Indonesia oleh IDI tagun 2008, dan 100 Dokter terbaik di Indonesia versi Majalah Campus Asia Tahun 2009.

Kalah dan menang, hanya dua gendang dari sebuah pertarungan. Menang sudah siap, kalaupun tak masalah karena hal itu menjadi bagian kehendak Tuhan. Yang lebih penting adalah bagaimana bisa berpartisipasi dalam proses melakukan perubahan yang nyata bagi kota Siantar. Demikian penjelasan, Esther GN Telaumbanua SE (Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit), yang adalah adik kandung dari dr. Ria. “Proses itu yang penting”, tambahnya Esther. “Di bagian ini, dr.Ria, kakak saya sangat gigih dalam berjuang untuk merealisasi visi-misinya. Ini adalah panggilan bagi dr.Ria, ono Niha, yang berkarya bagi kota Siantar, kota kelahiran kami, dan dimana dulu papa dan mama kami pernah hidup dan juga telah berkarya.”.

Kegigihan dan daya juangnya, merupakan kebanggaan dan menjadi inspirasi bagi perempuan Nias untuk maju dan mengaktualisasikan dirinya. Kiranya, apapun hasilnya, dr. Ria telah menoreh sejarah itu. Ya’ahowu. (egnt)

Foto 1 – Ria Telaumbanua, Foto 2: Esther bersama Ria Telaumbanua.

Ribuan Penonton Hadiri Konser Amal Iwan Fals di Gunung Sitoli

Monday, June 7th, 2010

Medan – Konser amal yang digelar Iwan Fals di Kota Gunung Sitoli, Pulau Nias, Sumatera Utara (Sumut) mendapat apresiasi hebar. Magnet Iwan Fals membuat ribuan penduduk bahkan dari kawasan pedalaman memadati Lapangan Pelita, yang menjadi lokasi pelaksanaan konser, Minggu (6/6/2010) malam.

Dalam acara yang digagas Komunitas Sosial Delasiga tersebut, Iwan membawakan lebih dari sepuluh lagunya yang hampir semua bernuansa sosial seperti Bento, Umar Bakri dan Belum Ada Judul. Di sela lagu populernya, yang berjudul Wakil Rakyat, Iwan berpesan bahwa batu-batu dan rumah tua peninggalan nenek moyang Nias sejak dua ratus tahun lalu sudah banyak berkurang.

“Sejak terakhir tahun 1995 saya datang ke Nias, kondisi tak kian membaik. Saya minta tolong agar kawan-kawan Nias dapat menjaga agar tak kian hilang begitu saja,” pinta Iwan Fals yang disambut teriakan setuju dari penonton.

Konser amal Iwan Fals mendapat sambutan yang demikian antusias dari penonton kendati diselingi hujan. Massa terhanyut dengan lagu-lagunya yang memang sudah demikian populer dan bertemakan realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Apalagi konser itu dikombinasikan dengan atraksi budaya lokal seperti tari perang (maluaya), tari elang (moyo), tari kolosal Maena, musik batu (feta batu), dan permainan musik nduri danga.

Aparat keamanan yang berjaga-jaga turut andil menjaga acara berlangsung dengan apik hingga konser selesai Minggu malam dan ditutup dengan lagu tradisional masyarakat Nias Tanõ Niha.

Konser amal yang digelar Iwan Fals ini merupakan bagian dari Gelar Seni Budaya Nias Bangkit. Ketua Panita Pagelaran ini, Agus Maendrofa memberikan apresiasi penuh pada warga yang hadir dan yang memberikan pertunjukan.

“Semoga masyarakat dapat mengambil hikmah positif dari berbagai program perbaikan kehidupan masyarakat Nias,” tukas Agus yang juga mantan Wakil Bupati Kabupaten Nias. (detiknews.com – 7 Juni 2010)

Akreditasi IKIP Gunungsitoli Dipertanyakan Mahasiswa

Monday, June 7th, 2010

Metrotvnews.com, Gunungsitoli: Ratusan senat mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli, Nias, Sumatra Utara, menyegel kantor yayasan perguruan tinggi kampus mereka. Para mahasiswa kecewa lantaran unjuk rasa mereka tak digubris yayasan perguruan tinggi, Sabtu (5/6).

Semula, mahasiswa menuntut kejelasan izin operasional dan status akreditasi program studi. Padahal kampus itu telah berusia 45 tahun. Mahasiswa mengaku khawatir ketidakjelasan itu membuat kampus mereka ditutup Kementerian Pendidikan Nasional. Mereka mengancam akan terus memboikot kampus jika tuntutan itu tak dipenuhi.

Sayangnya, tuntutan mahasiswa tak digubris oleh yayasan. Saat mahasiswa mendatangi yayasan, kantor tersebut tutup. Tak satupun anggota yayasan yang bisa mereka temui. Mahasiswa mengamuk. Mereka kemudian menyegel kampus dengan kayu dan seng. Bentrokan antara mahasiswa dan keamanan kampus nyaris terjadi. (www.metrotvnews.com – 5 Juni 2010)