Archive for the ‘Internasional’ Category

Inggris Membatalkan Rencana Penerapan Paspor Vaksin COVID-19

Monday, September 13th, 2021

Inggris membatalkan rencana penerapan paspor vaksin COVID-19 hanya seminggu setelah rencana itu diumpankan ke publik. Setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak termasuk dari intern partai, pemerintah Konservatif Inggris membatalkan rencana yang sangat kontroversial ini serta mengisyaratkan lockdown juga tidak lagi menjadi bagian dari pendekatan baru mengatasi pandemik.

Rencana pembatalan visa paspor ini serta berbagai kebijakan baru dalam menghadapi pandemik akan disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Borris Johnson pada hari Selasa besok (14/09/21 waktu setempat). Mendahului pernyataan resmi itu, Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid menekankan ada banyak opsi yang akan menjadi bagian dari tindakan menghadapi pandemik di masa depan, termasuk pengujian, pengobatan, pengawasan (surveillance) dan pengujian

Penerapan paspor vaksin mendapat banyak kecaman karena dianggap berpotensi memecah kohesi sosial masyarakat, juga karena paspor vaksin dianggap sebagai isyarat pewajiban vaksinasi, termasuk kepada pihak yang enggan divaksin karena berbagai alasan termasuk alasan medis, alasan etis dan alasan kebebasan memilih individual pada umumnya. (brk/*)

Akankah Warga Dunia Terus Disuntikkan Dosis Tambahan (Booster) ?

Thursday, September 9th, 2021

Bulan Juni 2021 lalu, Alon Rappaport, Direktur Medis Pfizer di Israel mengatakan vaksin produknya cukup efektif dalam menghadapi varian Delta yang saat itu mulai menyebar.

“Data yang kami miliki saat ini, yang berakumulasi dari riset kami di lab dan dari tempat – tempat di mana varian Delta menggantikan varian Inggris sebagai varian umum, mengindikasikan bahwa vaksin kami sangat efektif, sekitar 90%, dalam mencegah COVID-19,” kata Rappaport pada waktu itu.

Sebulan kemudian, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa efektivitas vaksin buatan Pfizer/BiNTech itu ternyata hanya tinggal 39% dalam mencegah COVI-19 yang menyebar lewat varian Delta dari SAR-Cov-2.

Makin menurunnya efektifitas vaksin mencegah COVID-19 mendorong pengakuan pejabat tinggi medis Israel bahwa warga Israel harus meneria kenyataan bahwa dosis tambahan (yang lebih dikenal dengan nama booster) akan diperlukan.

“Mengingat bahwa virus berada di sini dan masih akan terus di sini, kita pun perlu mempersiapkan diri untuk injeksi ke empat”, kata Salman Zarka, Direktur Pusat Medis di Safed, Israel, yang juga adalah Komisioner Coronavirus Israel.

Menurut salah satu situs data vaksinasi dunia, Israel merupakan salah negara yang berada paling depan dalam laju vaksinasi. Pada tanggal 27 Desember, Israel merupakan negara pertama yang memberikan dosis vaksinasi pertama ke 16% penduduknya. Pada akhir Januari 2021, Israel masih menempati tempat teratas dengan 21% penduduknya telah mendapat vaksinasi penuh dan 14.2% mendapat vaksin dosis pertama. Pada akhir Februari 2021 persentase ini bergeser masing – masing menjadi 39% dan 15%. Israel masih berada di tempat teratas hingga tanggal 4 Juni 2021, dengan persentase masing-masing 58.5% dan 3.6%. Sejak itu, laju vaksinasi di Israel menurun, sehingga pada tanggal 7 September 2021, Israel pada posisi 15, dengan persentasi warga yang divaksinasi penuh 62.7%.

Israel mulai memberikan dosis tambahan (booster – dosis ketiga) pada tanggal 30 June 2021. Dilaporkan, dosis tambahan ini memberikan perlindungan 5 sampai 6 kali setelah 10 hari dalam untuk mencegah sakit serius. (brk/*)

 

Australia Menjadi Sorotan Dunia Karena Berbagai Tindakan Berlebihan Menghadapi Pandemik

Saturday, September 4th, 2021

Australia menjadi sorotan dunia karena dianggap mengebiri hak – hak demokratik masyarakat melalui tindakan berlebihan bahkan irasional dalam menghadapi pandemik COVID-19. Saat ini, Australia merupakan negara yang melakukan restriksi paling ketat terhadap warganya. Hingga saat ini, Australia melarang warganya meninggalkan negara itu dengan sejumlah pengecualian yang sangat terbatas. Perbatasan antara sejumlah negara bagian dan teritori juga ditutup. Negara bagian Victoria sudah baru saja memberlakukan lockdown ke 7 selama 19 bulan terakhir.

Dalam sebuah tulisannya di Atlantik, wartawan Amerika Conor Friedersdorf mempertanyakan apakah Australia masih boleh disebut sebagai sebuah negara demokrasi liberal melalui berbagai kekangan terhadap kebebasan warga yang diterapkan lewat keadaan darurat.

Di Australia Selatan, sebuah aplikasi pengenalan wajah sudah dibuat dan dipakai untuk mengontrol orang-orang yang diisolasi di rumah. Menteri Utama negara bagian Australia Selatan Steven Marshal bahkan berharap aplikasi ini nanti akan dipakai juga untuk mengontrol kedatangan penumpang dari luar negeri.

“Masyarakat Australia Selatan seharusnya bangga karena kita merupakan pilot nasional untuk aplikasi karantina di rumah (isoman, Red.)”, kata Steven Marshall.

Menanggapi pernyataan Steven Marshall, Charles C.W. Cooke dari National Review menulis sebuah opini dengan judul bernada sarkasme: “Premier of South Australia: Boy, I Hope You’re Proud We’re Spying on You” (Saya berharap anda bangga karena kami memata-matai anda).

Harian Wall Street Journal dalam kolom opini / ulasan tanggal 27 Juli 2021, James Morrow memuat tulisan dengan judul cukup menohok: “Covid Mania Returns Australia to Its Roots as a Nation of Prisoners“. (Covid mania mengembalikan Australia ke akarnya sebagai negara para narapidana).

Harian The Times dalam halaman pertama versi cetaknya mengecam Australia yang menerapkan lockdown yang berlebihan sebagai “Covid prison” (penjara coivd) seperti terlihat dalam gambar. Sementara dalam tulisan berjudul Can Australia break free from an endless cycle of lockdowns?, Bernard Lagan membuka tulisannya dengan kalimat informatif berikut: “Di luar China, tak ada aturan seketat yang diterapkan di Australia.”

Dari dalam negeri, Rowan Dean dari Sky News Australia mengatakan lockdown yang berkepanjangan telah menjadikan Australia bahan tertawaan dunia sementara warga dunia lain menikmati kebebasan.

Selama masa pandemik ini, banyak kisah – kisah memilukan yang dialami warga karena tindakan pengekangan berlebihan ini. Misalnya saja, kemarin, keluarga salah seorang tentara yang gugur dalam latihan sempat tidak dizinkan untuk hadir pada pemakamannya. Setelah melalui himbauan dan tekanan dari berbagai pihak, Menteri Utama negara bagian Queesland, Annastacia Palaszczuk, akhirnya mengizinkan keluarga yang bersangkutan dari New South Wales dizinkan melintasi perbatasan.

Dari data hingga Agustus 2021, kematian yang diasosiaskian dengan COVID-19 di Australia berjumlah 1031 orang dengan rincian: 333 orang berusia di atas 90 tahun, 422 orang (80 – 89 tahun), 187 orang (70 – 79 tahun), 53 orang (60 – 69), 21 orang (50 – 59), 6 orang (40 – 49), 6 orang (30 – 39), 2 orang (20 – 29), dan 1 orang (10 -19). (brk/*)

Jepang Menghentikan Peredaran 1.6 Juta Dosis Vaksin Moderna

Tuesday, August 31st, 2021

* Zat asing ditemukan dalam sejumlah vial

Kementerian Kesehatan Jepang telah menghentikan peredaran vaksin Moderna setelah ditemukan zat asing di sejumlah vial (botol) vaksin. Di Prefektur Saitama seorang apoteker – Ishii Koki- menemukan zat hitam dalam pemeriksaan sebelum penggunaan pada pertengahan Agustus lalu. Menurut Ishi Koki, zat itu jauh lebih kecil dari biji wijen dan mengapung dalam vial ketika dikocok. Sesudah itu zat asing serupa ditemukan pada 39 vial yang belum dibuka pada delapan tempat kerja dan tempat vaksinasi skala besar di lima Prefektur: Aichi, Ibaraki, Gifu, Saitama and Tokyo.

Sementara itu Kementerian Kesehatan Jepang sedang menyelidiki penyebab kematian 2 orang yang divaksin menggunakan kelompok vial yang terkontaminasi itu. Menteri Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang – Norihisa Tamura – mengatakan penyebab kematian kedua korban akan diselidiki.

Berdasarkan data yang tersedia hingga tanggal 30 Agustus 2021, di Jepang sebanyak 57.4 juta orang telah divaksin penuh (45.4%) dan 71.4 juta orang (56.6%) telah menerima vaksin dosis pertama. Menurut Japan Times, vaksin dalam vial-vial yang terkontaminasi itu dibuat di Laboratorios Farmaceuticos Rovi, Spanyol.

Vaksin Moderna untuk COVID-19 adalah vaksin RNA dari nucleoside-modified mRNA (modRNA) yang mengkodekan sebuah protein paku (spike protein) dari SARS-CoV-2, yang dibungkus dalam lipid nanoparticles. Vaksin Moderna dipasarkan dengan nama dagang Spikevax. Suhu penyimpanan vaksin Moderna adalah 2–8 °C untuk penyimpanan selama 30 hari atau −20 °C untuk masa penyimpanan 4 bulan (brk/*)

Tokoh – Tokoh Gereja di Australia Menolak Paspor Vaksin

Monday, August 30th, 2021

Sejumlah tokoh dan warga gereja dari berbagai denominasi di Australia menolak rencana penerapan paspor vaksinasi.

Surat terbuka itu, yang diberi nama Deklarasi Hezekiel (The Ezekiel Declaration), diprakarsai oleh Timothy Grant dari Gereja Baptis Mount Isa, Matthew Littlefield dari Gereja Baptis New Beith dan Warren McKenzie dari Gereja Baptis Biota.

PM Scott Morrison dan Menteri – Menteri Utama  negara – negara bagian mendukung ide di mana bisnis diizinkan menolak pelanggan yang tidak bisa menunjukkan sertifikat vaksinnya.

Para penandatangan Deklarasi Ezekiel mengingatkan Scott Morrison bahwa pemberlakuan paspor vaksin akan menjurus kepada berbagai konsekuensi buruk.

Mereka mengutip seorang teolog Kristen, Abraham Kuyper, yang  pada tahun 1880 menulis, dalam kaitan dengan sertifikasi vaksin cacar, bahwa tirani tersembunyi dari sertifikasi semacam itu “adalah senyata ancaman terhadap sumberdaya spiritual bangsa akibat epidemik cacar itu sendiri“. Abraham Kuyper adalah Perdana Menteri Belanda periode 1901 – 1905.

Mereka sependapat dengan telaah Kuyper dengan sejumlah alasan.

Pertama, penerapan paspor vaksin akan menciptakan dua lapis masyarakat, hal yang tak etis. Mereka mengingatkan bahwa anggota masyarakat yang saat ini menolak vaksinasi boleh jadi memiliki alasan kuat. Salah satunya adalah karena vaksin ini masih dalam tahap uji klinis, seperti dinyatakan sendiri oleh Menteri Kesehatan Greg Hunt yang mereka kutip: “Dunia sedang disibukkan dengan pengujian klinis terbesar, pengujian vaksinasi global terbesar, dan kita akan memiliki data yang sangat banyak.”

Kedua, masyarakat telah dibebani terlalu berat sejak awal pandemik melalui pengekangan moblitas masyarakat. Pewajiban vaksinasi secara tak langsung lewat paspor vaksin akan semakin menambah beban masyarakat.

Ketiga, suara hati (conscience) seharusnya tidak boleh dipaksa. Suara hati adalah ungkapan terdalam yang menghidupi individu yang memungkinkan seseorang menyembah Tuhan sekaligus mematuhi otoritas pemerintah yang sah. Pemaksaan terhadap suara hati mengakibatkan seseorang tak pernah mengalami kedamaian, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan pemerintah. Kembali mereka mengutip Kuypers: “Oleh sebab itu suara hati merupakan perisai kemanusiaan seseorang, akar dari kebabasan sipil, sumber kebahagiaan bangsa.”

Keempat, kasus-kasus terobosan (breakthrough cases) menjadi bukti bahwa pewajiban vaksinasi seabagai syarat hidup normal tidak masuk akal karena tidak sepenuhnya melindungi warga dan juga tidak secara total menghentikan infeksi. Diskriminasi terhadap warga yang tidak atau enggan divaksin seakan memvonis bahwa yang bersangkutan secara otomatis menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Kelima, dalam hal kegiatan kegerejaan, Gereja tidak mungkin menolak jemaat yang ingin mengikuti kebaktian hanya karena ia tidak divaksin. Penolakan semacam itu mengkhianati Sang Penyelamat yang menuntut Gereja memberi dukungan bagi jemaat.

Penandatangan terdiri dari para pemimpin gereja dari berbagai denominasi.

Bunyi Deklarasi Hezekiel selengkapnya dapat diakses di sini. (brk/*)

Krisis Membuka Topeng Jiwa Kita

Saturday, August 28th, 2021
Beberapa waktu lalu kita disuguhi berita tentang usulan agar dibuatkan rumah sakit khusus untuk para pejabat negara. Alasannya? Mereka harus dilindungi secara khusus agar mereka bisa melaksanakan tugas mereka mengantarkan masyarakat keluar dari pandemik.
Ini terjadi di banyak negara sekarang, termasuk di negara – negara yang biasa kita kenal sangat ketat menjaga kepatuhan terhadap hukum. Entah mengapa di zaman pandemik ini, para pemimpin di negara – negara ini sama saja tingkah mereka dengan rekan – rekan mereka di tempat lain.
Mungkin perbedaannya adalah, di kita: para pejabatnya secara terang – terangan minta fasilitas khusus karena mereka merasa perlu diberi keistimewaan dalam hal perlindungan diri supaya mereka bisa mengeluarkan warga dari pandemik ini.
Di negara – negara lain, hampir sama keadaannya. Tidak terang – terangan lewat pernyataan langsung, tetapi lewat sikap munafik, melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Misalnya, mereka memaksakan warga menggunakan masker, tetapi ketika mereka berkumpul di antara mereka sendiri mereka hidup secara normal, seakan – akan tak ada krisis atau pandemik.
Ini misalnya terjadi baru – baru ini ketika para pemimpin G7 bertemu di Carbis Bay, Cornwall, Inggris dari tanggal 11-13 June 2021 (https://www.g7uk.org/). Di depan umum / pers, mereka bersalaman lewat persentuhan siku tangan dan menggunakan masker. Ketika mereka berkumpul di taman, barangkali dalam suatu perjamuan, wajah mereka kelihatan bersih dari masker, tak ada jarak antara mereka, telapak tangan si A melekat di punggung di B, saling bertatapan dari jarak dekat tanda keakraban. Tingkah mereka yang tak sesuai dengan protokol yang mereka gariskan sendiri dapat dilihat pada berbabagi foto dalam berita ini atau di video ini.
•••
Sangat wajar kita menunjukkan kejengkelan ketika melihat sebagian dari warga seakan – akan tak peduli atau mengabaikan prokes yang diberlakukan pemerintah. Misalnya saja ketika sebagian warga yang tak pakai masker. Akan tetapi kita kadang lupa, tidak semua orang mampu berada pada posisi sebaik atau seberuntung kita. Mungkin kita lupa, sebagian dari ibu – ibu atau bapak – bapak yang jualan di pasar tak punya kemewahan melaksanakan prokes standar itu seperti kita yang jengkel itu. Mereka harus dekat dengan calon pembeli, atau kalau cuaca cukup panas, sangat tidak higienis menggunakan masker kain tipis yang mudah menyerap keringat itu, yang justru menjadikannya sarang bakteri atau virus yang akan melekat di permukaannya. Dan situasi menjadi semakin parah kalau ibu atau bapak tadi menggaruk badannya atau mukanya, lalu secara refleks menyentuh permukaan masker. Bukan hanya itu, virusnya kan tidak hanya ‘terbang’ mendatar ke arah muka pemakai. Ketika si pemakai menarik nafas menghirup udara, mau tak mau udara juga masuk lewat celah di tepi penutup muka itu, terlebih ketika masker itu cukup lama dipakai, menyerap uap air, atau dipenuhi lapisan debu yang menumpuk. Hal yang sama (udara bocor lewat celah di tepi masker) terjadi ketika si pemakai menghembuskan nafas mengeluarkan udara.
Ibu / bapak dalam contoh di atas mewakili jutaan warga yang tiap hari bergelut dengan realitas kehidupan. Di lapangan, di kios – kios kecil dengan kerumunan orang. Di tempat – tempat pemotongan hewan. Di pom-pom bensin. Di sawah – sawah yang entah mana sumber virus koronanya sehingga masker itu ‘harus dipakai di mana saja’ – kalau memang benar dianjurkan demikian.
Dalam keadaan dengan pilihan terbatas itu, sebenarnya mereka tetap menggunakan nalar dan akal sehat mereka.
Di tengah krisis seperti ini, masker atau topeng jiwa kita sebagai manusia benar – benar sungguh – sungguh terbuka dan terungkap, pas pada saat kita mulai membiasakan diri memasang penutup muka badaniah kita.
* Tulisan ini disiapkan 8 Juli 2021, dimuat di Nias Online setelah mengalami perbaikan kecil.

Pfizer/BioNTech Masih Akan Melakukan Sejumlah Kajian Untuk Mengevaluasi Resiko Dari Penggunaan Vaksin Buatannya

Friday, August 27th, 2021

Berdasarkan surat yang dikirm Badan Urusan Makanan dan Obat Amerika Serikat (Food and Drug Adminstration – FDA) kepada BioNTech Manufacturing GmbH / Pfizer Inc. bertanggal 23 Agustus 2021, Pfizer/BioNTech masih akan melakukan sejumlah kajian terhadap resiko dari penggunaan vaksin buatannya. Kajian – kajian itu merupakan persyaratan dari persetujuan penuh FDA atas penggunaan vaksin buatan Pfizer seperti diberitakan kemarin.

Kajian itu antara lain Studi C4591009 tentang evaluasi terjadinya miokarditis dan perikarditis setelah pemberian vaksin COMIRNATY (nama vaksin buatan Pfizer). Menurut surat tersebut, yang dapat diakses di sini, kajian diharapkan selesai pada tanggal 30 Juni 2025 dan laporan akhir dikirim (ke FDA) tanggal 30 Oktober 2025.  Miokarditis adalah “peradangan yang terjadi pada miokardium atau otot jantung”; sementara perikarditis adalah “iritasi dan peradangan pada lapisan tipis berbentuk kantong yang melapisi jantung”.

Studi pediatrik yang ditunda (Studi C4591001) untuk mengevaluasi kemanan dan efektivitas COMIARTY pada anak-anak berusia 12 hingga 15 tahun  diharapkan selesai tanggal 31 Mei 2023 dan laporan akhir dikrim 31 Oktober 2023.

Studi untuk mengkaji dapmpak pemberian vaksi selama masa kehamilan (Studi C4591022) diharapkan selesai tanggal 30 Juni 2025 dan laporan akhinya diserahkan 31 Desember 2025.

Yang disebutkan di atas hanya sebagian kecil dari sejumlah kajian yang harus dilaksanakan sebagai syarat dari persetujuan itu. Hasil dari kajian – kajian itu akan dilaporkan kepada FDA. Kajian dilakukan di Amerika Serikat dan di Eropah. Informasi selengkapnya dapat diakses di situs FDA. (brk/*)

 

FDA Menyetujui Penuh Penggunaan Vaksin COVID-19 Buatan Pfizer Untuk Usia 16 ke Atas

Thursday, August 26th, 2021

* Tanpa menunggu berakhirnya masa pemantauan uji klinis

Badan Urusan Makan dan Obat Amerika Serikat (Food and Drug Administration – FDA) menyetujui penuh penggunaan COVID-19 buatan Pfizer untuk usia 16 ptahun ke atas. Persetujuan penuh FDA untuk penggunaan Produk yang dikenal dengan nama vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 diumumkan tanggal 23 Agustus lewat sebuah rilis yang dapat diakses di sini.

“Persetujuan FDA terhadap penggunaan vaksin ini merupakan tonggak capaian penting di tengah usaha kita memerangi pandemik. Sementara vaksin ini dan vaksin lain telah memenuhi standar – standar ilmiah FDA untuk otorisasi penggunaan darurat, sebagai vaksin COVID-19 pertama yang mendapat persetujuan penuh FDA, publik dapat sangat meyakini bahwa vaksin ini memenuhi standar – standar tinggi untuk keamanan, kefektifan dan kualitas produksi yang dituntut oleh FDA untuk suatu produk yang diseujui,” kata Acting FDA Commissioner Janet Woodcock, M.D.

“Sementara jutaan orang telah menerima vaksin COVID-19 dengan aman (melalui Otorisasi Penggunaan Darurat – Emergency Use Authorization (EUA), Red.), kami memahami bahwa untuk sebagian orang, persetujuan FDA terhadap penggunaan vaksin ini menanamkan kepercayaan diri tambahan untuk mau divaksinasi. Tonggak capaian ini akan membawa kita satu langkah lebih dekat untuk mengubah arah pandemik di Ameria Serikat,”, lanjutnya.

Vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 telah disediakan untuk individu berusia 16 tahun ke atas sejak 11 Desember 2020 lewat skim EUA. Autorisasi EUA ini diperluas untuk individu berusia 12 – 15 tahun sejak 10 Mei 2021.

***

Persetujuan penuh FDA ini agaknya melangkahi periode pemantauan hasil pengujian vaksin yang menurut informasi dari situs Pfizer berlangsung 2 (dua) tahun. Dalam sebuah halaman yang ketika tulisan ini dibuat kelihatannya tidak lagi tersedia / tak bisa diakses di situs Pfizer, pernyataan berikut ditulis:

To date, no one knows how long vaccine conferred protection will last in adolescents or adults. Researchers plan to monitor adolescent clinical trial participants for two years after vaccination to assess long-term safety and protection.” (Terjemahan bebas: Hingga saat ini, tak seorang pun tahu berapa lama protkesi yang diberikan vaksin bertahan dalam tubuh kelompok berusia muda maupun dewasa. Para peneliti berencana memantau peserta uji klinis berusia muda selama dua tahun setelah vaksinasi untuk menilai keamanan jangka panjang dan proteksi yang diberitakan vaksi kepada partisipan).

Periode pemantauan dua tahun yang disebut di depan juga dimuat dalam sebuah tulisan yang dapat diakses di sini. Menurut tulisan yang sama, uji klinis dimulai pada bulan Mei 2020, (hampir) bersamaan dengan diumumkannya Operation Warm Speed.

Berdasarkan informasi ini, dapat disimpulkan, sekurang-kurangnya, periode pemantauan hasil pengujian itu semestinya berlangsung hingga bulan Mei 2022. (brk/*)

 

 

 

CDC Akan Menghentikan Penggunaan Uji PCR Sesudah 31 Desember 2021

Tuesday, August 24th, 2021

Pusat Pengedalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention – CDC) akan menghentikan penggunaan uji Real-Time PCR (RT-PCR) untuk mendeteksi virus SAR-CoV-2. Uji RT-PCR diperkenalkan pada bulan Februari 2020.

Berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan tertanggal 21 juli 2021, CDC merekomendasikan kepada laboratorium – laboratorium klinik dan tempat – tempat pengujian untuk memulai beralih pada uji COVID-19 yang disetujui badan makanan dan obat-obatan (Food and Drug Administration – FDA). Secara khusus, CDC menganjurkan metode multipleks yang “mampu memfasilitasi deteksi dan pembedaan / diferensiasi virus – virus SARS-CoV-2 dan influenza”.

CDC juga memberikan informasi untuk beberapa metode diagnostik COVID-19 yang diizinkan, termasuk uji diagnostik, uji serologi / antibodi dan respons kekebalan adaptif, serta pengujian untuk manajemen pasien COVID-19, yang dapat diakses di sini.

Pengujian PCR (polymerase chain reaction) sejak awal telah mengandung kontroversi. Jumlah kasus yang tinggi yang diperoleh lewat tes PCR telah menjadi semacam indikator bahwa suatu daerah telah menjadi zone yang rentan terhadap serangan SAR-CoV-2. Padahal hasil tes positif tidak selalu menujukkan bahwa seseorang menderita COVID-19 atau berpotensi menularkan SAR-CoV-2 kepada yang lain. Interpretasi hasil positif dari sebuah uji PCR disajikan dalam tulisan ini. (brk/*)

Peneliti: Bawang Putih Berpotensi Untuk Mencegah Penularan COVID-19

Monday, September 14th, 2020

Dua orang peneliti melihat potensi mengkonsumsi bawang putih sebagai salah satu tindakan bermanfaat untuk pencegahan penularan COVID-19.

Dalam sebuah karya ilmiah berjudul The effects of allium sativum on immunity within the scope of COVID-19, Profesor Mustafa Metin Donma dari Fakultas Kesehatan – Universitas Tekirdag Namik Kemal dan Profesor Orkide Donma dari Departemen Biokemistri Medis – Universitas Istanbul, Turki, menjelaskan potensi bawang putih (dengan nama Latin Allium sativum) dalam meningkatkan imunitas tubuh dan menekan produksi dan sekresi sitokin serta hormon leptin.

Karya ilmiah ke dua peneliti ini diterbitkan di jurnal Medical Hypotheses dari penerbit Elsevier dan dapat di akses di sini. Tulisan ini juga dimuat dalam situs web National Institutes of Healh (NIH) dan dapat diakses di sini. NIH adalah organ dari Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia (Department of Health and Human Services) Amerika Serikat.

Mengutip beberapa karya ilimiah sebelumnya, kedua peneliti menjelaskan tanda-tanda awal orang yang tertular COVID-19 berupa: demam, batuk kering, distres pernafasan, rasa sakit di otot (mialgia), kelelahan dan kehilangan selera makan. Pasien COVID-19 juga mengalami gangguan fungsi penciuman dan daya mengecap rasa makanan (gustatori). Pada pasien kritis salah satu dari tiga kriteria ini dapat diamati: kegagalan respiratori, kejutan septik (septic shock) dan kegagalan multi-organ.

Efek menguntungkan bawang putih pada kesehatan sudah dikenal selama berabad-abad. Bawang putih mengandung senyawa-senyawa kimia yang mempengaruhi imunitas tubuh. Disfungsi imunitas tubuh berperan dalam perkembangan sejumlah penyakit dan berdsarkan penelitian sebelumnya, bawang putih berkontribusi dalam pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit seperti obesitas, sindrom metabolik, gangguan kardiovaskuler, maag, bahkan kanker.

Berdasarkan literatur yang mereka tinjau, kedua peneliti mengajukan hipotesis dan menyimpulkan bahwa semua dampak negatif yang datang dari COVID-19 dapat dilawan oleh senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam bawang putih. Oleh sebab itu, mereka mengusulkan agar bawang putih dimanfaatkan untuk mencegah penularan COVID-19 yang berasal dari virus SARS‐CoV‐2 ini.

Peminat, khususnya peneliti dan petugas medis, bisa mendalami lebih lanjut informasi lengkap penjelasan ilmiah kedua peneliti ini dengan membaca secara utuh karya ilmiah mereka yang dapat diakses secara bebas pada tautan yang diberikan di atas. (brk/*)

62 Negara Mendukung Usulan Penyelidikan Pandemik COVID-19

Monday, May 18th, 2020

Dalam sidang ke 73 Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly, WHA) yang diselenggarakan secara virtual Senin (18 /05/2020), dihasilkan sebuah draft resolusi mendukung diadakannya penyelidikan independen tentang penyebaran wabah yang diakibatkan oleh wabah virus korona yang dikenal dengan COVID-19.

Draft resolusi ini diusulkan oleh 62 negara di antaranya: Australia, Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Rusia, seluruh negara yang tergabung dalam Uni Eropah, dan Inggris.

Dalam draft resolusi yang dikeluarkan berjudul “COVID-19 response“, negara-negara pendukung penyelidikan itu meminta Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memprakarsai evaluasi imparsial, independen dan komprehensif untuk meninjau pengalaman yang diperoleh dan pelajaran-pelajaran yang ditimba dari respons kesehatan yang dikordinasi WHO terhadap COVID-19. Ini mencakup: (1) keefektifan mekanisme-mekanisme WHO, (2) fungsionalisasi Regulasi-regulasi Kesehatan Internasional (International Health Regulations, IHR) dan status implementasi rekomendasi-rekomendasi yang relevan dari Komite-Komite IHR sebelumnya, (3) kontribusi WHO terhadap usaha-usaha luas PBB, dan (4) tindakan-tindakan WHO dan linimasa-linimasa yang berkaitan dengan pandemik COVID-19.

Inisiatif yang diusulkan ini diharapkan membuat rekomendasi – rekomendasi untuk meningkatkan pencegahan, kesiap-siagaan dan kapasitas respons terhadap pandemik global, termasuk penguatan Program Kedaruratan Kesehatan WHO (Health Emergency Programme).

Selanjutnya draft resolusi itu menyatakan agar dalam inisiatif itu, Direktur Jenderal berkonsultasi dengan negara-negara anggota WHO dan menggunakan mekanisme yang berlaku.

Inisiatif ini merupakan hasil usulan Australia dan Uni Eropa untuk menyelidiki awal mula proses penularan wabah COVID-19 di China.

Pemungutan suara untuk mengesahkan draft resolusi itu diharapkan dilaksanakan pada hari Selasa pagi, 19 Mei 2020. (brk/*)

Australia Mulai Melonggarkan Pembatasan Kegiatan Publik

Wednesday, May 6th, 2020

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan akan melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat setelah landainya kurva pandemik Covid-19 di Australia.

Keputusan ini menyusul Rapat Kabinet Nasional yang diselenggarakan kemarin (Selasa, 5/5/2020), yang juga dihadiri secara virtual oleh PM Selanda Baru, Jacinda Ardern.

Menurut Scott Morrison, pelonggaran ini tidak seragam di seluruh negara bagian / teritorial karena laju pengurangan penularan yang berbeda. Oleh sebab itu, Menteri Utama (Premier) masing-masing negara bagian / teritorial diminta menjelaskan rincian pelonggaran sesuai dengan kondisi setempat.

Australia memberlakukan pembatasan gerak masyarakat dan penutupan kegiatan-kegiatan yang berpotensi mengundang kerumunan secara bertahap selama dua bulan terakhir.

Pelonggaran pengekangan ini akan diumumkan hari Jumat ini.

Bahan-bahan telah disiapkan bagi bisnis sebagai penuntun bagi para pekerja untuk bekerja secara aman di tengah pandemik.

Profesor Brendan Murphy, Chief Medical Officer Pemerintah Australia menyarankan bisnis mempertimbangkan pentahapan waktu karyawan memasuki dan keluar dari ruang kerja sehingga jarak yang aman bisa dijaga. Hal yang sama disarankan untuk masuk dan keluar eskalator.

Scott Morrison dan Brendan Murphy mengatakan peluang untuk munculnya kembali penularan setelah pelonggaran ini pasti ada. Namun periode lockdown telah memberikan waktu bagi pemerintah untuk memperkuat sistem kesehatan.

Keikutsertaan PM Selandia Baru Jacinda Ardern dalam rapat Kabinet Nasional Australia itu adalah dalam rangka menjajaki pembukaan “koridor perjalanan” antara Australia dan Selandia Baru pasca pelonggaran restriksi pergerakan masyarakat kedua negara.

Pada saat berita ini ditayangkan, kasus Covid-19 di Australia berjumlah 6875 dengan jumlah kematian 97 orang.
(brk/*)

Berita Terkini Pandemik Covid-19

Saturday, May 2nd, 2020

Nias Online – Sebuah dokumen setebal 15 halaman mengungkap China secara sengaja menyembunyikan atau memusnahkan bukti-bukti merebaknya wabah korona. Dokumen itu disusun oleh sejumlah negara Barat yang kena imbas penularan COVID-19. Dokumen itu mengatakan China menutupi kasus COVID-19 dengan “membungkam” atau “menghilangkan” para dokter yang angkat bicara tentang COVID-19, menghancurkan bukti-bukti virus itu di laboratorium dan menolak memberikan sampel hidup kepada peneliti internasional yang sedang bekerja untuk mengembangkan vaksin. Isi dokumen itu diberitakan oleh harian The Saturday Telegraph, hari ini, Sabtu – 2-5-2020.

Sementara itu, usul Perdana Menteri Australia Scott Morrison untuk pembentukan sebuah tim internasional yang independen untuk menyelidiki merebaknya kasus COVID-19 mendapat reaksi keras dari Beijing. Usul ini bermaksud menyelidiki alasan merebaknya pandemik serta bagaimana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meresponsnya. Usul Australia ini memancing ancaman ekonomi dari China. Duta besar China di Australia, Cheng Jingye, memperingatkan bahwa konsumen China berpotensi memboikot produk-produk buatan Australia dan para mahasiswa China bisa menghindari universitas-universitas Australia apabila penyelidikan itu berlanjut. Scott Morrison tetap bergeming pada pendiriannya sambil menekankan bahwa tujuan penyelidikan itu adalah untuk mencegah merebaknya pandemik yang serupa di masa depan.

Hari ini (Sabtu, 2 Mei 2020) jumlah kasus di Indonesia bertambah sebanyak 292 sehingga total kasus menjadi 10,843. Jumlah kematian baru ada sebanyak 31 orang sehingga jumlah kematian keseluruhan 831. Jumlah orang berstatus ODP (orang dalam pemantauan) ada sebanyak 233,120 sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 22,123 orang. Dari jumlah kasus, Provinsi DKI masih menduduki tempat teratas sebanyak 4,397 disusul berturut-turut Jawa Barat (1043) dan Jawa Timur (1037).

Di Sumatera Utara, jumlah kasus ada sebanyak 117 dengan jumlah yang meninggal 13 orang dan yang sembuh sebanyak 41 orang.

Penyakit penyerta (komordibitas) yang memperburuk kesehatan para pasien yang meninggal termasuk: hipertensi, diabetes, jantung dan penyakit paru-paru. Demikian informasi dari Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Wabah Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers hari ini (brk/*)

Informasi Terkini Pandemik Covid-19

Tuesday, April 21st, 2020

Nias Online – Singapura akhirnya memperpanjang lockdown sebagian hingga 1 Juni 2020. Keputusan ini diambil setelah jumlah kasus yang melonjak tajam akhir-akhir ini, terutama yang menimpa para pekerja migran. Lonjakan jumlah kasus di kalangan para pekerja ini dikarenakan kondisi hunian yang padat. Menurut pemberiatan South China Morning Post, para pekerja migran ini tidur di ranjang bertingkat dalam jumlah 12-20 orang setiap ruang yang disejukkan oleh kipas angin yang dipasang di langit-langit atau dinding. Ratusan orang di setiap lantai mandi dan buang air di fasilitas komunal / bersama.

Menurut Mohan Dutta, Professor dari Massey University di New Zealand yang mewawancara sejumlah pekerja migran, para pekerja migran ini kurang mendapat perhatian sampai-sampai alat-alat pembersih seperti sabun baru disuplai kepada mereka awal minggu ini, seperti diberitakan The Guardian. Selain itu kualitas makanan yang diberikan kepada para migran ini buruk dan kurang gizi.

Dalam dua hari terakhir, jumlah kasus Covid-19 di Singapura melonjak tajam, dengan jumlah penularan sebanyak 1,426 pada hari Senin dan 1111 pada hari Selasa, sehingga jumlah total penularan di Singapura sebanyak 9125 kasus.

Sementara itu, Presiden Amerka Serikat Donald Trump mengatakan ia akan mendandatangai perintah eksekutif untuk menghentikan sementara imigrasi ke Amerika. Amerika Serikat merupakan negara dengan jumlah tertular sebanyak 792,958 dan kematian sebanyak 42,531 orang.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo melarang mudik Lebaran untuk meminimumkan penularan wabah Covid-19. Hingga hari ini, jumlah terinfeksi di Indonesia sudha mencapai 7,136 orang sementara angka kematian sebanyak 616 orang.

Dari Australia dilaporkan, sekitar dua per tiga dari jumlah yang tertular telah pulih kembali, dengan kasus aktif sebanyak 2,500. Menteri Kesehatan Greg Hunt mengatakan selama 9 hari terakhir secara berturut-turut tercatat laju pertumbuhan kasus Covid-19 berada di bawah 1%. Meskipun sudah terlihat kecenderungan pelandaian kurva kasus Covid-19 di Australia, Perdana Menteri Scott Morrison belum bersedia melonggarkan pembatasan-pembatasan yang diberlakukan selama ini. Hingga berita ini disusun, jumlah kasus Covod-19 mencapai 6,645 dengan kematian sebanyak 71 orang. (brk/*)

Da Tasuwö Dungö Corona

Thursday, April 16th, 2020

Hadia duria solohe fa’ogömi
Si lö omasido urongo
Turia samanizinizi tödö
Turia sangombuyu boto

Ya’ia da’ö: turia dungö Corona
Tungö si möi mame’e famakao
Lö i’ombakha’ö me tohare ia
Idoro manö, lö hagohago

No sa’ae ato nibözinia
No sa’ae ato zi tekiko

Oi mogikhi mboto wa’ata’u
Oi mangelama, lö möi milo
Töra moroi ba nemali sanau gari
Tora ia moroi ba mbekhu soyo
Ibunu zi lö horö-horö
Itögi göi mbagi niha safaito

Itörö gödo wamareta
Ilau ia ba nomo ndra razo
Lö i’andrö izi me itörö
Bawandruhö na’i lö itoko

Tara’u danga niha, no tobaya!
Tababaya mbawada, no togule!
Tahofo noho ba ngai zi bahö, no talo!

Alai ndra’o ndra’ugö Corona!
Corona tungö fa’erao!

***

Hadia hatö da’ö lualua mbakhu dödö?
Si tobali metumetu mbewe?

***
Löö le !
So wofo yawa mba’e
So dalu-dalu zowöhöwöhö
Ba so göi lala wamandröndröu Corona

Yai’a dani zi no tarongorongo
Si no la’ombakha’ö ira samatörö
Lala wangelama ba fangamoni’ö
Ena’ö tungö andre lö dumanö
Ena’ö Corona andrö lö itugu aböa

Ya’e lala wametugö högö
Ya’e lala wanögi bagi
Dungö Corona sasiliyawa
Dungö si lö butu lö karua

Asese’ö wemondri ba manasa tanga
Tenga i simane mondri mitimiti
Tenga simane mondri mazauwu
Tenga göi ha togule zabu ba danga
Ma ha asala no abasö mbörö mbu
Arakö ndra’ugö maifu ba nidanö
Ö’fanoto uli geu wanoto ndra’i ba mboto
Sasai nukha, böi ragö ba mbotou

Taha dödöu wondra’u tanga niha
Fa ‘Ya’ahowu’ manö moroi ba zaröu
Lau laka sile ba zi fasaule ba lala
Na idoro lakania ba gambölö
Ba hole’ögö ba gabera
Ba na larafe ndra’ugö ba gotalua
Ba lau laka lari
Lau’a, taha manö

Na so dalu-dalu bulu ndru’u
Ma lahia, undre, bawa safusi
Samandröndröu fa’okafukafu
Ba sangabölö boto ba wolawa fökhö bö’ö
Ba sökhi na mufaliaro da’ö

Ba ginötö simane da’a
Abölö sökhi ni’omaomao
Ni’osimiki
Ni’o-si-lö-döla-döla
Böi taforoma’ö wa’ebolo haru-haru
Ba fa’ebolo dötö’a
Lö ata’u Corona ba da’ö

Moloi i Corona
Na ta’o’ö fefu wotu si fakhai ba da’ö

Heta göi khöu wanizinizi dödö
Aröu’ö wa’ogömigömi dödö
Böi döröhöwa
Böi hulö niha si lö Lowalangi ita
Si lö lemba-lemba dödö
Si lö baluse
Corona ha tungö
So Lowalangida sondrorogö


(E. Halawa, 11-04-2020)