Archive for the ‘Budaya’ Category

Melacak Asal Usul Lagu Maena “Ma’owai Sa Ami …” (” Da Ma’owai Ami”)

Monday, September 6th, 2021
Kenangan saya akan Masa Kelaparan di Nias pada tulisan sebelumnya, juga mengingatkan saya akan kisah terkait lainnya: tentang Lagu Maena Ma’owai Sa Ami …  (Da Ma,’owai Ami) – selanjutnya disingkat MSA/DMA.

Lagu maena ini sangat populer dalam kalangan masyarakat Nias hingga sekarang, baik dalam pesta perkawinan maupun dalam acara – acara pesta lain.

Judul Ma’owai Sa Ami … hampir pasti merupakan judul pertama yang saya kenal, sementara judul Da Ma,’owai Ami muncul belakangan.

Di Youtube ada sejumlah video dari lagu maena MSA/DMA ini. Salah satunya adalah versi yang bait-baitnya (bagian ‘Fanunö’ – nya) menurut video itu diciptakan oleh Ir. Frans Bate’e pada tahun 1974. Versi lain dapat diakses lewat tautan ini.

Ma’owai Sa Ami (Fanehe)

Ma’owai sa ami
(Da ma’owai ami)
ba döi maena
ba döi laria
fefu dome salua ba olayama
(fefu domema si no alua)
Catatan: yang di dalam kurung adalah penggalan lirik versi lain

Kehadiran lagu-lagu maena seperti ini di dunia maya tentu saja membantu melestarikan karya seni budaya kita dan memviralkannya ke dunia luar. Namun harus diakui, kualitas aransemen dari berbagai maena dalam video-video musik online itu belum mencerminkan atau memproyeksikan kualitas aslinya. Sorotan khusus akan hal ini akan diusahakan dibuat pada sebuah tulisan lain.

Kepopuleran MSA/DMA hingga sekarang, menurut saya adalah karena dua alasan berikut. Pertama, lagunya – seperti umumnya lagu maena lain – sederhana tetapi indah, enak didengar, apalagi dengan hadirnya melodi yang menyemangati pada jalur suara bass. Dalam versi MSA/DMA yang ada di Youtube, jalur bass ini hilang, pada hal inilah salah satu daya pukau MSA/DMA. Kedua, lirik Fanehe-nya sangat umum: penyambutan tamu, tak terikat pada tema khusus. Itulah sebabnya misalnya bagian baitnya yang dibuat Frans Bate’e di depan adalah tentang perkawinan.

Khusus buat para pembaca yang bukan orang Nias, lirik di atas adalah bagian Fanehe (kurang lebih refrein / korus) dari MDA/DMA. Bagian Fanehe inilah yang diulang-ulang para penari maena setiap kali sesudah Sanutunö (penutur, pengisah) menyelesaikan bagian Fanunö(bait-bait sebuah lagu maena). Juga, umumnya lirik bagian fanehe ini dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, seperti yang dilakukan Frans Bate’e di depan.

Sebagaimana lagu-lagu maena yang lain, MSA/DMA ini pun menjadi milik publik, tanpa kita pernah mengetahui dengan pasti siapa pengarangnya. Sebagai masyarakat yang lebih mengandalkan komunikasi lisan, masyarakat Nias – terutama di zaman dulu – tidak begitu peduli dengan apa yang kita kenal sekarang sebagai hak cipta / hak kekayaan intelektual.

Yang terakhir ini menjadi penting ketika hasil-hasil karya di berbagai bidang menjadi sumber penghidupan – terutama karena dikelola secara profesional dan memberikan nilai tambah bagi konsumen berupa: kenikmatan tertentu.

Ada 3 alasan mengapa saya memiliki kenangan khusus dengan lagu maena ini.

Pertama, setelah coba mengingat-ingat kembali kisah masa kecil, saya merasa yakin – saya tahu kapan pertama kali mendengar lagu maena ini. Yakni, pada waktu persiapan dan hari peresmian gedung Sekolah Dasar SD Orahua Muzöi, mungkin pada bulan-bulan terakhir tahun 1965 (sesudah peristiwa G30S/PKI) atau awal tahun 1966. Situs Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mencantumkan nama SD ini sebagai SD Negeri 071011 Orahua Muzoi. Dalam situs ini, tanggal SK pendiriannya ditulis: 1910-01-01 yang barangkali berarti “tidak jelas” (tidak diketahui). Kata Orahua (kesatuan) dalam nama SD itu tiada lain menunjukkan bahwa inisiatif pendirian sekolah itu muncul dari kesepakatan para tokoh masyarakat dari sejumlah desa sekitar. Sebelum pesta peresmian gedung sekolah itu, beberapa tahun ke belakang – barangkali sejak umur 3.5 – 4 tahun – (ketika sudah berstatus iraono lö olifu atau anak yang sudah bisa mengingat kejadian-kejadian penting dalam hidup) saya sudah mengenal sejumlah lagu maena yang dibawakan pada pesta-pesta perkawinan yang saya hadiri bersama orang tua. Namun, seingat saya, MSA / DMA pertama kali saya dengar pada pesta peresmian gedung SD Orahua Muzöi itu.

Kedua, bersamaan dengan lagu maena ini, saya juga mengenal satu lagu lain yang menurut ingatan saya bersamaan munculnya dengan MSA/DMA. Lagu itu dibuat khusus untuk pesta peresmian gedung SD Orahua Muzöi tersebut. Saya tak tahu persis apa judulnya, namun dalam tulisan ini saya beri saja judul “S’lamat Datang”, yang merupakan dua kata pertama dari syair bait 1 lagu itu, yang juga tak lengkap saya ingat, sebagai berikut:

Lagu S’lamat Datang

S’lamat datang
S’lamat datang
Sekalian ibu, bapa
Yang telah seia sekata
Mendirikan sekolah
… (saya lupa)
Untuk kemajuan kita
SD Orahua

(Catatan: saya masih ingat melodi lagu ini).

Ketiga, saya mengingat siapa sosok yang memperkenalkan kedua lagu tersebut pada even yang sama. Dalam mempersiapkan even yang termasuk besar untuk tingkat öri ini, tokoh-tokoh dan masyarakat Botomuzöi dilibatkan. Khusus untuk persiapan penyambutan tamu, diadakan latihan maena MSA/DMA dan lagu S’lamat Datang tersebut. Lagu S’lamat Datang dilatih di sekolah selama beberapa hari karena akan dibawakan oleh anak-anak SD (mungkin kelas 2/3 ke atas). Sebagai catatan, walau saat itu SD tersebut baru berdiri, SD tersebut menerima juga anak-anak pindahan dari SD lain, termasuk dari SD Banua Sibohou, di mana saya pernah menjadi ‘tome’ (tamu) sebelum resmi masuk kelas 1. Jadi pada tahun pertama SD Orahua Muzöi sudah memiliki kelas 2 hingga kelas 4 atau 5 kalau tidak salah.

Sementara itu, MSA/DMA dibawakan oleh orang-orang tua dan para pemuda/i öri Botomuzöi saat itu. Latihan – seingat saya – tidak lama, mungkin sehari sebelum hari peresmian itu, yang (kalau tak salah) bertepatan dengan harimbale, Kamis.

Melihat liriknya, beralasan lagu ini diciptakan khusus untuk even besar itu (dalam skala öri pada saat itu tentunya). Sama seperti lagu “S’lamat Datang” yang liriknya jelas dibuat untuk even itu. Dalam peresmian itu hadir pejabat dinas terkait dari kecamatan / kabupaten, dan barangkali juga Asisten Wedana (sekarang: Camat). Saya ingat seorang tentara dengan pakaian khas militer ikut dalam maena.

Siapa pelatih MSA/DMA untuk even yang disebut di depan ?

Pelatih dari lagu maena MSA/DMA adalah Bapak Ligimböwö Lase alias Ama Dörö, yang tiada lain adalah Kepala SD Orahua Muzöi pertama. Beliau sendiri bukan dari öri Botomuzöi, tetapi dari öri dan desa lain, kemungkinan dari Lahagu, yang masuk wilayah Nias Barat. Bapak L. Lase sangat energetik dan cukup bersahabat dengan warga yang mengenal beliau. Saya tidak memiliki kedekatan khusus dengan beliau. Anak-anak beliau adalah teman bermain, sementara anaknya pertama (yang pada saat itu sedang belajar di SMA BNKP, Gunungsitoli) adalah salah seorang teman saya bermain catur dan bermain tebak-tebakan lokasi di peta dunia, kalau dia lagi libur dan pulang kampung.

Pertanyaan: apakah Bapak L. Lase (A. Dörö) – yang mencipta kedua lagu itu?

Saya cenderung mengatakan “ya”, tetapi bisa saja saya keliru.

Kisah ini saya tulis dengan tujuan baik: berusaha melacak asal usul salah satu karya budaya / seni Nias yang masih kita nikmati hingga saat ini.

Dalam tulisan ini, saya hanya mengandalkan daya ingat yang masih saya miliki, yang karena perjalanan waktu sudah sangat jauh dari sempurna. Itulah alasan mengapa di sana-sini muncul frasa: ‘seingat saya‘, ‘kalau tak salah‘, ‘barangkali‘, dan ‘tak ingat lagi‘. Itu artinya, revisi internal dari saya sendiri masih mungkin, dan koreksi dari pihak pembaca saya sambut dengan hati terbuka dan gembira.

* Tulisan ini dipersiapkan 24 April 2020. Setelah perbaikan dan beberapa tambahan kecil, dimuat di Nias Online.

Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan

Monday, January 19th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniAdat Perkawinan di Pulau Nias masih identik dengan Böwö (mahar). Böwö (mahar) membudaya di pulau ini sejak zaman dulu hingga pada era ini sehingga menjadi satu elemen atau obyek yang berkembang dan tak mudah punah dalam kehidupan masyarakat. Apabila dipandang dari sisi nilai memang dapat dikatakan bahwa Böwö (mahar) Adat Perkawinan memiliki nilai konkret atau wujud yang tinggi. Böwö (mahar) Adat Perkawinan di Pulau Nias mencakup banyak unsur. Salah satu di antaranya adalah Fanötö Idanö.

Fanötö Idanö berasal dar Bahasa Nias. Fanötö adalah penyeberangan dan Idanö adalah air. Jadi penerjemahan kata demi kata “Fanötö Idanö” berarti Penyeberangan Air. Fanötö Idanö merupakan istilah yang sudah dipahami oleh masyarakat Nias. Istilah Fanötö Idanö ini hanya terintegrasi dalam adat pernikahan.

Fanötö Idanö merupakan salah satu dari unsur Böwö (mahar) yang membudaya dalam Adat Perkawinan di Pulau Nias khususnya di Kabupaten Nias Selatan. Fanötö Idanö merupakan kewajiban pihak mempelai pria yang wajib diberikan atau dibayarkan kepada pihak si’ulu (bangsawan) si mempelai wanita sebagai wujud nyata kesadaran penghargaan. Pembayaran atau penyerahan Fanötö Idanö ini dilaksanakan pada hari pelaksanaan perkawinan dengan ketentuan sebesar dua jo’e baẅi (ukuran babi di Pulau Nias dengan menggunakan alat ukur Afore) atau setara dengan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah.

Fanötö Idanö sering didefinisikan sebagai tanda penghargaan kepada pihak si’ulu (Bangsawan) yang hadir pada upacara perkawinan. Apabila Fanötö Idanö ini tidak diberikan, oleh mempelai pria, maka pihak si’ulu (bangsawan) akan meninggalkan upacara perkawinan tersebut karena kedua pihak mempelai dianggap tidak menghargai dan mematuhi adat yang berlaku. Fanötö Idanö ini juga wajib disebutkan dalam urutan penyebutan Böwö (mahar). Lumrahnya, penyebutan Fanötö Idanö ini diucapkan setelah penyebutan Böwö (mahar) bagi keluarga dan kerabat pihak mempelai perempuan.

Uniknya, Fanötö Idanö hanya dibebankan kepada pihak mempelai pria yang berasal dari desa yang bukan satu asal atau bukan sara ulu idanö (satu hulu air) dengan desa pihak mempelai wanita. Misalnya, perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Hilisataro dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawomataluo (bukan satu hulu air) dan perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Bawömataluo dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawönahönö atau sebaliknya (satu hulu air). Pada hakikatnya, pengenalan dan pengetahuan tentang yang satu hulu air dan bukan satu hulu air ini sudah dikuasai oleh si’ulu (bangsawan), si’ila (cendrekiawan) dan masyarakat.

Fanötö Idanö perlu digaris bawahi sebagai wujud kesadaran pihak mempelai pria untuk menghargai bangsawan si mempelai wanita tanpa harus ada unsur pemaksaan dan penmatalan perkawinan apabila tidak diberikan oleh pihak mempelai laki-laki karena Fanötö Idanö bukan semata-mata menjadi penentu kelangsungan perkawina yang artinya siulu tidak memiliki otoritas untuk membatalkan perkawinan atau menjadi penghalang kelangsungan pernikahan. Dalam hal ini, keluargalah yang memiliki hak mutlak untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Lalu yang menjadi pertanyaanya, Apakah sanksi bagi pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö kepada pihak si’ulu (bangsawan)?. Jawabannya “tidak ada sanksi”. Namun, sebagai dampak akibat ketidaksadaran ini, si’ulu (bangsawan) akan meniggalkan upacara perkawinan seperti yang dikemukakan pada paragraf di atas. Selain itu, akibat ketidaksadaran ini juga dapat merendahkan interaksi dan kepedulian bangswan dalam kehidupan sosial dan dalam menghadiri upacara-upacara adat keluarga pihak mempelai wanita di masa yang akan datang baik perkawian, kematian dan upacara-upacara lainnya.

Beberapa praktek yang terjadi selama ini terkait Fanötö Idanö bukan merupakan perlakuan yang terpuji dan tidak benar. Misalnya, pencekalan terhadap Tome Sanai Niha (tamu yang menjemput mempelai wanita) yang dilakukan oleh pihak si’ulu (bangsawan) karena tidak diberikkanya Fanötö Idanö oleh pihak mempelai pria atau perlakuan si’ulu (bangsawan) yang menagih Fanötö Idanö di tengah jalan (bukan di tempat atau di halaman upacara perkawinan). Perlakuan seperti ini sudah mengandung unsur pemaksaan karena sebagaimana diungkap pada paragraf di atas bahwa kelangsungan perkawinan tidak menjadi hak otoritas pihak si’ulu (bangsawan). Seyogiyanya, penagihan ini dilakukan di tempat yang tepat dan benar sesuai tradisi-tradisi yang berlaku karena dengan demikian nilai adatnya tetap terjaga dan terintegrasi baik.

Kesimpulannya bahwa Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan benar adanya sebagai satu unsur böwö (mahar) yang sudah menjadi tradisi dengan nilai-nilai yang tak kalah dari unsur böwö (mahar) lainnya, namun diperlukan pemahaman, kesadaran, dan koordinasi yang lebih baik apabila terdapat pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö. Dalam kutip tidak perlu diberlakukan pemaksaan, cukup dengan sanksi sosial. Karena cara-cara pemaksaaan dan semacamnya bukanlah merupakan tradisi yang harus dilakukan atas ketidaksadaran mempelai pria dalam memberikan Fanötö Idanö namun lebih diintegrasikan dengan menempuh langkah-langkah yang lebih persuasif dan problem solving.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Patung-Patung Nias Kuno – Di Manakah Kalian Kini ?

Wednesday, September 24th, 2014

adu6Barangkali ini bukan berita baru bagi kebanyakan masyarakat Nias, namun tetap saja menjadi berita yang menarik: patung-patung kuno peninggalan budaya Nias kini tersebar di berbagai belahan dunia. Dikoleksi secara pribadi oleh para kolektor yang haus akan barang-barang antik, atau tersimpan dalam museum di berbagai negara.

Penelusuran acak Nias Online di dunia maya memberikan sedikit gambaran tentang persebaran patung- nilai, ukuran, tahun pembuatan dan lokasi dari patung-patung kuno itu.

Sebagaimana diketahui, di zaman dahulu, sebelum misi agama-agama monteisme Kristen dan Islam datang di Nias, Ono Niha menganut agama suku. Sentral dalam kepercayaan itu adalah penyembahan patung (berhala). Jadi dulu Ono Niha manömba adu (menyembah patung), jadi Ono Niha dulu adalah sanömba adu (penyembah berhala). Mengenai hal ini, baiklah kita menyimak kutipan berikut [1]:

“Suku Ono Niha pada zaman nenek moyang memanjatkan doa kepada Lowalangi dan Dewa-dewi lainnya, melalui arwah nenek moyang yang telah disemayamkan dalam adu/patung nenek moyang; jadi seolah-olah mereka sembah sujud di hadapan / di bawah patung atau adu tersebut.”

Dari penjelasan di atas, Ono Niha zaman dulu percaya bahwa di dalam patung yang mereka buat itu bersemayamlah roh dari orang yang dibuatkan patungnya itu.

***

Kembali kepada pokok tulisan, NO berhasil melacak informasi terbatas tentang patung-patung yang telah tersebar di berbagai penjuru itu. Sidang pembaca dapat meneruskan pelacakan dengan memasukkan kata kunci seperti Nias Statues ke mesin pencari seperti Google.

Patung perempuan pada Gambar 1 ini memiliki ketinggian: 36.5 cm (14.5 inci). Patung ini diperkirakan berharga US$8,618 – US$14,363 dan terjual pada saat lelang seharga US$8670 (sekitar Rp 103 juta).

adu1Gambar 1 – Patung Perempuan, tinggi 36.5 cm (Sumber: Situs Christies)

Patung laki-laki setinggi 43 cm dan garis tengah terbesar 14 cm ini – Gambar 2 – dan memiliki berat 2.1 kg. Sebagaimana terlihat patung ini kelihatan berdiri tapi sambil melipat kaki. Gelang pemburu kepala menghiasi lehernya. Status terakhir patung ini di situs African Art adalah “Sold” alias telah terjual – entah siapa pemiliknya sekarang.

adu2Gambar 2 – Patung Laki-Laki (43 cm x 14 cm, 2.1 kg) – African Art.

Patung ketiga (Gambar 3) adalah patung Salawa (Siraha Salawa), dan diperkirakan dipahat pada abad 19, memiliki ketinggian 71.5 cm. Patung bernomor inventaris 1551 juga berstatus “SOLD” alias telah terjual.

adu3Gambar 3 – Siraha Salawa, 71.5 cm – Michael Backman Ltd

Patung berikut (Gambar 4) adalah patung leluhur (Adu Zatua) dibuat pada abad 19 memiliki tinggi 55.7 cm. Patung ini dulunya dikoleksi oleh André Breton, Helena Rubinstein dan Don Alain Schoffel, kini dikoleksi oleh Museum Quai Branly, Perancis, dengan nomor koleksi 70.1999.3.1.

adu4Gambar 4 – Adu Zatua – Museum Quai Branly, Perancis

Koleksi dari Museum yang sama adalah patung pemimpin (Salawa) dari batu (Gowe Salawa) pada Gambar 5, dengan nomor koleksi: 70.1999.5.1.

adu5Gambar 5 – Gowe Salawa – Museum Quai Branly, Perancis

 

Patung pada Gambar 6, terkecil dari hasil lacakan NO, justru diklaim sebagai masterpiece (karya besar) karena dianggap merupakan salah satu patung tertua dari Nias yang dapat didentifikasi. Menurut situs Virtual Collection of Asian Masterpieces, patung leluhur (adu zatua) berukuran kecil dan sederhana ini awalnya dikoleksi oleh Baron Von Rosenberg yang mengunjungi Nias pada tahun 1850an.

Baron Von Rosenberg (1817-1888)  datang ke Hindia Belanda sebagai seorang tentara dan mulai bertugas di Sumatra dan di pulau-pulau sebelah baratnya. Belakangan ia menjadi pegawai negeri dengan tugas khusus melakukan penelitian ilmiah.

Patung ini bergaris tengah 6 cm (tinggi tidak diinformasikan), berfungsi melindungi rumah dari roh-roh jahat.  Patung ini dibeli dari janda Baron Von Rosenberg pada tahun 1889 dan kini dikoleksi di National Museum of Ethnology, Rijksmuseum Volkenkunde, Negeri Belanda.

adu6Gambar 6 – Patung Leluhur (“Masterpiece”) – Virtual Collection of Asian Masterpieces

Selain berpindah lewat perseorangan dalam rentang waktu yang panjang hingga saat ini, perpindahan besar-besaran patung-patung Nias ke museum-mesum di Eropah terjadi pada “Periode Penghancuran” [2].

Berpindahnya patung-patung Nias kuno itu keluar, baik dalam Periode Penghancuran maupun sesudahnya sebenarnya boleh juga dianggap sebagai rahmat terselubung. Seandainya saja patung-patung itu masih berada di Nias, barangkali nasib mereka sama dengan nasib rumah-rumah adat Nias yang hancur tanpa bias diganti lagi.

***

Pada tahun 1970an masih ramai penjualan patung di Nias, terdorong oleh desakan ekonomi masyarakat Nias. Konon, pada waktu itu muncul juga patung-patung “lama” tapi baru. Maksudnya patung-patung itu sebenarnya dipahat tidak lama sebelum atau sesudah ada pesanan, tapi bahannya dari kayu-kayu tua dari reruntuhan rumah-rumah adat dulu. Jadi, menurut seorang informan waktu itu, kalau pun dicek, bahannya memang bahan kayu tua. Entah benar atau tidak, perlu penyelidikan lebih jauh.

(eh*)

Rujukan:

  1. S. Zebua, 1996: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha – Seri Agama dan Gotong Royong Dalam Berburu; Tuhegeo.
  2. NO, 2007: Eduard Fries dan Karya Para Misionaris Awal di Nias: Wawancara dengan Dr. Mai Lin Tjoa-Bonatz.

Salah Kaprah Penamaan Bangunan Bersejarah di Pulau Nias

Monday, October 7th, 2013

Oleh Marselino Fau*

Apa Arti Sebuah Nama

Marselino Fau | Foto Pribadi

Marselino Fau | Foto Pribadi

Dalam bukunya An Essay On Man, Ernst Cassirer mengatakan bahwa manusia adalah animal symbolicum. Demikian Ernst Cassirer mendefinisikan siapa itu manusia. Manusia memiliki ciri yang betul-betul khas manusiawi, yakni pemikiran simbolis dan tingkah laku simbolis yang menjadi dasar bagi seluruh kemajuan kebudayaan. (more…)

Sanggar Seni Budaya Hilisawatöniha dan Pernak-pernik Peninggalan Leluhur di Nias

Sunday, October 6th, 2013

Oleh : Frederik C.H.Fau

Tari_PerangNias

Tari Perang (Fatele) | www.jaring-ide.com

Salam budaya kedaerahan Hulo Nias dari penulis: Ya’ahowu!! Peranan Sanggar Seni Budaya (SSB) sangat berarti dalam pengembangan dan pelestarian budaya Nusantara. Salah satu desa budaya yang memiliki (SSB) adalah Desa Botohilitanö melalui Sanggar Budaya Hilisawatöniha. Sanggar yang tetap eksis hingga kini itu berada dalam Wilayah Kecamatan Fanayama (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Luahagundre Maniamölö).

Sanggar Seni Budaya Hilisawatöniha, desa Botohilitanö, kecamatan Fanayama, Nias Selatan, berdiri pada tanggal 15 Januari 1991 dan diprakarsai oleh beberapa tokoh adat dan tokoh masyarakat desa Botohilitanö. Salah seorang pemrakarsa adalah bangsawan/Si’ulu desa Botohilitanö yang bernama Amurisi Fau dengan gelar adat Solagö Ewali. Adapun tujuannya yaitu untuk menggali kembali potensi nilai–nilai keaslian budaya masyarakat adat desa Botohilitanö serta untuk mewariskan nilai–nilai budaya tersebut pada generasi penerus. (more…)

Rumah Tradisional Nias dan Sumatera Melalang Buana ke Jerman

Saturday, September 21st, 2013
Miniatur Rumah Nias esdenart.blogspot.com.au

Miniatur Rumah Nias esdenart.blogspot.com.au

Kearifan lokal tidak hanya dalam bentuk obat-obatan, kesenian, atau kebudayaan. Hal ini dapat juga berupa arsitektur. Sebagaimana kearifan lokal lainnya, rumah tradisional Nias  juga terbukti kualitasnya jika dilihat dari usia, konstruksi yang tahan gempa, dan bahan bakunya yang ramah lingkungan.

Bersama dengan rumah-rumah tradisional dari berbagai negara, seperti Afrika Selatan, Mesir, Cina, Malaysia, dan Kamerun, rumah adat Nias dan Sumatera juga turut dipamerkan di Museum Desain Vitra (The Vitra Design Museum) di Jerman. Rumah-rumah adat ini disumbangkan oleh École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL). Rumah-rumah tsb ditampilkan dalam bentuk miniatur dengan menyertakan informasi, yakni tipe arsitektur, material, metode konstruksi dan bentuk rumah. Informasi-informasi ini ditampilkan dalam bentuk foto, film, dan juga sketsa rancangan. Uniknya, miniatur-miniatur itu dibuat dari bahan sesuai dengan bahan rumah adat aslinya, seperti kayu, lumpur, atau batu. Bahan rumah tradisional ini melambangkan lingkungan, iklim, dan material lokal yang tersedia. (more…)

Tentang Asal Usul Suku Bangsa Nias – Sebuah Wawancara dengan Prof. dr. Herawati Sudoyo, PhD

Tuesday, September 3rd, 2013

Prof. Herawati SudoyoPengantar Redaksi: Beberapa waktu lalu, Museum Pusaka Nias dan Yayasan Gema Budaya Nias menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema Asal Usul Suku Bangsa Nias – ditinjau dari DNA dan Benda-Benda Purbakala Nias di Teluk Dalam (11-12 April 2013) dan di Gunungsitoli (13 April 2013). Salah seorang pembicara dalam Seminar tersebut adalah Mannis van Oven, mahasiswa doktoral pada Departemen Biologi Molekular Forensik, Erasmus MC University Medical Center Rotterdam, The Netherlands.

Hasil penelitian   van Oven dkk ini berawal dari penelitian yang dimulai lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika itu, S. Laia (Pendiri dan Pemimpin Redaksi Nias Portal –  kini situs tersebut sudah tidak ada namun dulu beralamat di www.niasportal.org) mewawancarai Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Universitas Münster, yang datang ke Nias dalam rangka penelitian tersebut (baca artikel: Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen).

Setelah menyajikan materi Seminar di Teluk Dalam dan Gunungsitoli, Mannis van Oven melanjutkan sajiannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, pada tanggal 15 April 2013.

Berikut adalah hasil wawancara Nias Online dengan Prof. dr. Herawati Sudoyo, Ph.D, Deputi Direktur Lembaga Molekul Biologi Eijkman Indonesia yang merupakan pendapat beliau  tentang hasil penelitian tersebut. Bahan wawancara tertulis ini disusun oleh Etis Nehe, S. Laia dan E. Halawa, dan disunting oleh Lovely C. Zega – Redaksi

 

A – Berhubungan dengan Riset Mannis van Oven dkk

Nias Oniline (NO): Sehari setelah Mannis van Oven mempresentasikan hasil penelitian kelompoknya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013), Kompas online memuat berita berjudul: “Asal-usul Orang Nias Ditemukan”.   Apakah judul berita di Kompas ini mencerminkan hasil riset yang dipresentasikan oleh van Oven tersebut, yang sebelumnya juga dimuat dalam sebuah karya tulis ilmiah dengan judul: “Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias“.

Prof. Herawati Sudoyo (HS): Sebenarnya apa yang ditemukan oleh  van Oven dkk dan dilaporkan dalam jurnal ilmiah tersebut menyimpulkan adanya temuan yang tak terduga yang memperlihatkan adanya tingkat keragaman yang sangat rendah pada populasi Nias, baik yang diteliti menggunakan kromosom Y (memperlihatkan penurunan garis paternal) dan juga pada DNA mitokondria (menggambarkan penurunan garis maternal), bila dibandingkan dengan populasi Asia maupun Oceania.  Hal ini tentu saja sangat mengejutkan, mengingat bahwa pulau Nias sebenarnya dari sudut jarak tidaklah terlalu jauh secara geografis dari Asia Tenggara.

Judul Kompas on line “Asal Usul Orang Nias Ditemukan” masih bisa diterima, mengingat bahwa penelitian tersebut melibatkan cukup banyak sampel, yang diharapkan dapat menggambarkan populasi Nias modern dari Nias utara maupun selatan. Hasilnya juga dapat mengungkapkan adanya hubungan dengan nenek moyang berbahasa Austronesia yang berasal dari Formosa 4000-5000 tahun yang lalu.

NO: Orang awam agak susah mengerti bagaimana menelusuri asal usul suatu bangsa melalui DNA. Bisakah Ibu menjelaskan secara ringkas cara menetapkan “jalur darah” seseorang atau satu suku berdasarkan analisis DNA?

HS: Saya berharap dapat mencari jawaban yang tepat untuk dapat memberikan penjelasan tentang DNA dan asal usul seseorang.  DNA adalah informasi genetik yang terdapat di dalam sel tubuh kita yang sifatnya diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.  DNA dapat digunakan untuk menentukan spesies makhluk hidup mulai dari manusia sampai mikroorganisme, identifikasi individu. Perlu juga untuk mempelajari migrasi dan struktur populasi.  Struktur populasi atau lebih tepatnya hubungan genetik antara individu dan/atau subpopulasi, tergantung pada aliran genetik atau seleksi yang terjadi.

Ada tiga macam bentuk atau marka DNA yang umum digunakan untuk mempelajari struktur populasi dan sejarah migrasi nenek moyang maupun identifikasi individu yaitu menggunakan kromosom Y dan DNA mitokondria, yang diturunkan hanya dari salah satu orang tua, ayah atau ibu,  yang berevolusi melalui akumulasi mutasi.  Mutasi adalah perubahan basa yang terjadi pada untai DNA.  Perbedaan mekanisme penurunan tersebut akan memberikan pengaruh terhadap informasi yang  diperoleh dari data genetik.  Kromosom Y dapat digunakan untuk menelusuri garis paternal, sedangkan DNA mitokondria untuk garis maternal, dan keduanya dapat digunakan untuk membangun pohon evolusi serta melihat perbedaan perilaku migrasi antara laki-laki dan perempuan, seperti yang telah dilakukan oleh  van Oven dkk.

NO: Dalam seminar hasil riset van Oven dkk itu, Ibu menyiratkan perlunya menganalisis juga DNA dari Kalimantan dan Sulawesi, sebelum memastikan migrasi bangsa Austronesia ke Nias. Apakah yang membuat Ibu masih ragu akan hasil analisis DNA yang dilakukan van Oven  dkk?

HS: Sebenarnya tidak ada yang diragukan dari hasil penelitiannya, karena semua didasarkan atas fakta dan analisis data secara bioinformatika melalui uji statistik kompleks yang biasa kami gunakan untuk studi populasi genetik.

Seperti yang mungkin diketahui, sejarah awal kepulauan Asia Tenggara dimulai dengan  adanya dua penyebaran populasi; yang pertama adalah kolonisasi awal paleolitik  paparan Sahul kurang lebih 45000 tahun yang lalu dan diikuti ekspansi neolitik populasi berbahasa Austronesia kurang lebih 4500 tahun yang lalu.  Penyebaran bahasa Austronesia itu dipercaya berasal dari pulau Formosa dan turun ke selatan melalui Filipina, ujung Sulawesi, atau Borneo kemudian diteruskan ke Jawa dan Sumatra.  Ada aliran lain bahasa Austronesia ke arah timur menuju Polinesia.  Kami sendiri telah melakukan kajian di Sulawesi, tetapi barulah Sulawesi tengah (Kaili), dan selatan (Makassar, Bugis, Mandar, Toraja dan Kajang). Diharapkan dengan tersedianya seluruh data dari Sulawesi utara (yang akan kami lakukan tahun ini) dan Borneo, akan dapat memberikan gambaran yang lebih luas dari perjalanan nenek moyang kita.

NO: Sampel-sampel tersebut dikumpulkan sekitar 10 tahun lalu (baca artikel: Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen) dan publik mulai mengakses hasil riset ini pada 8 November 2010 (terlihat dari label Advanced Access publication November 8, 2010 di bagian bawah halaman pertama artikel ilmiah itu). Adakah kira-kira alasan teknis yang menyebabkan hasil-hasil riset itu baru dipublikasi beberapa tahun setelah sampel dikumpulkan?

HS: Saya tidak dapat menjawab pertanyaan spesifik ini karena tidak terlibat dalam studi dan sampling yang dilakukan tahun 2002 (lihat dalam Materials and Methods, Samples).  Agaknya penelitian ini baru dapat dilakukan pada waktu saudara van Oven melakukan studi doktoralnya di laboratorium Manfred Kayser di Erasmus MC, Rotterdam.  Kayser  adalah ahli genetika populasi terpandang dan telah meneliti populasi Oceania dan Papua Nugini.  Kayser juga merupakan kolaborator kami dalam studi Papua Barat.

NO: Artikel “Unexpected island effects …” mengungkapkan bahwa dalam genetika orang Nias saat ini tidak ada lagi jejak dari masyarakat Nias kuno yang sisa peninggalannya ditemukan di Gua Tögi Ndrawa. Selanjutnya, kutipan dari sebuah artikel di Museum Pusaka Nias berjudul Jalan Setapak Menuju Gua Tögi Ndrawa menyebutkan: “… Gua Tögi Ndrawa secara kontinu dihuni sejak 12.000 tahun sampai 700 tahun yang lalu. Para penghuni itu berbudaya epi-paleolitik (Hoabinh) dan tergolong ke akhir zaman paleolitik atau awal zaman mesolitik.”. Di pihak lain, van Oven  dkk memperkirakan migrasi penduduk dari Taiwan melalui  Filipina terjadi 4.000 – 5.000 tahun lalu. Dapat disimpulkan, kedua penghuni purba Nias itu pernah hidup pada selang waktu yang sama. Akan tetapi penghuni pertama (yang jejaknya terlacak di Tögi Ndrawa) punah begitu saja. Adakah penjelasan yang logis untuk merujukkan kedua ‘temuan’ yang berbeda ini ?

Dalam artikel tersebut, pendekatan molekul menggunakan marka kromosom Y dan DNA mitokondria, yang hanya dapat memperlihatkan pola genetik yang diturunkan dari sisi ayah dan ibu secara terpisah.  Kita dapat mengetahui kemungkinan adanya campuran pola genetik penghuni pertama dan manusia modern Nias sekarang dengan meneliti DNA autosom, seperti yang telah kami lakukan dalam studi nenek moyang Asia dalam program Pan Asian SNP Intiative.

NO: Kembali ke pertanyaan sebelumnya, temuan arkeologis manusia purba Nias di gua Tögi Ndrawa  ditopang oleh Carbon Dating sementara temuan van Oven dkk didukung analisis genetik/DNA. Bagaimana menempatkan kedua pendekatan ini dalam menelusuri asal-usul suatu suku atau masyarakat dan pemetaan migrasi bangsa-bangsa?

HS: Genetika populasi melibatkan banyak pakar dalam bidangnya yang mendukung temuan DNA sehingga dapat diartikan.  Data DNA saja tanpa ada latar belakang humaniora seperti sejarah, budaya, aspek sosial dan lainnya tidak akan dapat memberikan arti yang bermakna.  Saya menyitir kata-kata tersebut untuk memberikan tekanan bahwa setiap bidang dapat memberikan kontribusi pada studi seperti Nias ini.  Standard emas dari temuan arkeologi adalah carbon dating ataupun pendekatan lain yang digunakan untuk memberikan estimasi usia temuan tersebut.  Data DNA akan memberikan sumbangan dengan memoles dan memberikan data yang lebih rinci, dengan analisa matematik dan statistik terkini.

NO: Apakah lembaga riset dan para ahli Indonesia dilibatkan dalam riset van Oven  dkk ini, terutama dari Lembaga Eijkmann? Bila tidak, apakah praktek seperti ini (tidak melibatkan lembaga riset dan ahli lokal) suatu kelaziman ?

HS: Lembaga Eijkman tidak terlibat sama sekali dalam studi ini, walaupun kami mendengar ada peneliti Jerman yang melakukan studi genetika di Nias.  Kalau saya tidak salah, saya dulu juga pernah berkomunikasi dengan Museum Pusaka Nias menanyakan tentang kegiatan tersebut, tetapi tidak kami tindak lanjuti.

NO: Temuan Mannis dkk ini, masih ‘menggantung’, artinya belum secara tuntas memastikan asal-usul masyarakat Nias. Menurut Ibu, apa kira-kira langkah-langkah selanjutnya dilakukan dan sebaiknya ditindaklanjuti oleh siapa (institusi mana?)

HS: Saya sangat tergelitik dengan istilah “menggantung”.  Dalam studi genetika populasi, setiap kesimpulan pastilah akan memberikan suatu pertanyaan tambahan, apalagi sebagai disiplin ilmu biologi molekul merupakan suatu ilmu yang sangat berkembang dengan cepat, tidak hanya dalam teknologi tetapi juga kemampuan untuk melakukan studi dalam waktu yang cepat dengan sampel jumlah besar.

Sebenarnya ada satu marka lagi yang akan dapat memberikan makna tambahan yaitu marka autosom, yang kita ketahui diturunkan dari sisi ayah maupun ibu.  Marka ini telah kami gunakan pada penelitian untuk mengetahui nenek moyang Asia, dan sangat jelas memperlihatkan adanya campuran genetik dari aliran migrasi pertama dan kedua pada populasi Indonesia tengah dan timur, sebelah timur garis Wallacea.

NO: Riset lain menyebutkan bahwa ada juga kesamaan DNA antara penduduk Madagaskar, khususnya dari sisi wanita, dengan penduduk Nias. Bagaimana mengkaitkannya dengan hasil riset dari van Oven dkk ?

HS: Apakah memang ada pernyataan bahwa moyang Madagaskar berasal dari Nias, sepertinya tidak secara gamblang dinyatakan demikian.  Berdasarkan perbendaharaan bahasa, bahasa Malagassy adalah kelompok bahasa Austronesia, yang hampir 90% menyerupai bahasa Dayak Maanyan dari Barito, ditambah dengan berbagai bahasa pinjaman seperti Sansekerta, Jawa kuno, Bugis dan lain-lain.  Dengan membandingkan data DNA mitokondria populasi kepulauan Nusantara dan Madagaskar dan dengan perhitungan statistic yang cukup rumit, dibuktikan bahwa sejumlah kecil perempuan Indonesia adalah nenek moyang orang Madagaskar.  Penelitian van Oven  ini tidak mengkaitkan dengan seluruh Nusantara tetapi hanya melihat beberapa populasi yang datanya diperoleh dari data yang telah dipublikasikan sebelumnya, kecuali Karo.

B – Tentang penelitian DNA di Indonesia:

NO: Sejauh mana perkembangan riset DNA di Indonesia dewasa ini?

HS: Seperti yang telah saya sampaikan, riset DNA tidak hanya mengenai manusia saja, tetapi semua organisme.  Di Lembaga Eijkman, riset DNA digunakan untuk menjawab berbagai macam mekanisme terjadinya penyakit, seperti malaria, hepatitis, dengue, pneumonia, dan juga berbagai penyakit infeksi yang baru timbul seperti avian flu, Japanese encephalitis dan lain-lainnya.  DNA juga digunakan untuk melakukan epidemiologi molekul berbagai penyakit sel darah merah, seperti thalassemia, yang sangat dikaitkan dengan malaria endemik.  Kami juga memiliki laboratorium DNA forensik yang memilki kegiatan untuk identifikasi individu untuk penanganan kasus kriminal,  orang hilang, perdagangan manusia,  bahkan juga untuk satwa liar yang dilindungi.

Di lembaga penelitian lain, pendekatan molekul dengan menggunakan marka DNA sudah tidak asing lagi, walaupun mungkin hanya dilakukan secara rutin di lembaga pendidikan terkemuka, sedangkan di tempat lain hanya terbatas.

NO: Sejauh mana animo mahasiswa di perguruan tinggi terkemuka untuk memilih jurusan ilmu genetik?

HS: Sebenarnya tidak ada jurusan genetik di perguruan tinggi, tetapi ini lebih merupakan suatu pendekatan, yang kemudian diterapkan berdasarkan topik atau fokus penelitian masing-masing.  Genetika jaman sekarang pun sudah meluas, dari dulunya genetika klasik, menjadi  genetika molekul.  Kini hampir semua bidang menggunakan pendekatan biologi molekul untuk menjawab pertanyaan riset, baik dari bidang kedokteran/medik, tanaman, maupun hewan.

Siapa yang harus melakukan? Ini pertanyaan yang sangat bagus.  Pendekatan untuk melihat perbedaan ini masih mahal sekarang ini dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.  Paling tidak, seyogyanya ada institusi penelitan Indonesia yang juga terlibat, mungkin tidak dalam metodenya tetapi dalam analisis dan kesimpulan.  Sayangnya, karena sampel ini tidak ada di Indonesia, tentu saja sulit dilakukan demikian.

Peneliti asing yang melakukan kegiatan lapangan di Indonesia wajib meminta ijin ke pemerintah. Saat ini perijinan tersebut diurus oleh Kementerian Riset dan Teknologi, sebelumnya diurus melalui LIPI.  Ijin tersebut diberikan dengan persyaratan memiliki mitra “setara” dan juga ada komponen transfer teknologi dan pembangunan kemampuan lokal.

Ijin tersebut tidak diperlukan apabila peneliti tersebut hanya berkunjung dan merupakan tamu dari suatu intitusi di Indonesia, apakah dari pihak swasta, pemerintah maupun universitas.

NO: Di Amerika (baca: Women at forefront of booming forensic science field) dan katanya di Inggris juga, minat kaum perempuan untuk menggeluti bidang ilmu forensik semakin tinggi. Mengapa demikian? Bagaimana pengalaman Ibu di Indonesia?

HS: Forensik itu seksi! Hal ini saya kira disebabkan oleh banyaknya film seri di televisi yang menayangkan penanganan kasus kriminal menggunakan teknik dan peralatan canggih yang memang secara nyata digunakan di laboratorium forensik.  Tidak hanya itu, dengan berbagai peraturan keselamatan hayati, maka ruang autopsi tidak lagi menakutkan seperti pada jaman kegelapan, laboratoriumnya modern dengan sinar lampu yang terang.  Karena perubahan tersebut, banyak generasi muda yang sekarang tertarik untuk mendalami  forensik, termasuk dokter atau peneliti perempuan.

NO: Ilmu genetik sering masuk berita beberapa tahun terakhir dan nampaknya ilmu ini merupakan kunci untuk teknologi masa depan. Menurut Ibu, apa peranan ilmu baru ini dalam peta perkembangan ilmu di Indonesia?

HS: Saya merasa bukan genetik tetapi biologi molekul yang akan menjadi kunci teknologi di masa depan.  Ilmu ini merupakan dasar pengembangan bioteknologi kedokteran untuk pembuatan vaksin baru, diagnostik yang tepat, dan pengembangan obat.  Di bidang pertanian sebagai contohnya, ilmu ini digunakan untuk meningkatkan  ketahanan pangan, pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap serangan hama, atau yang memiliki sifat yang dapat menguntungkan.

Saya kira kita harus menyadari bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang menguasai teknologi dan mampu bersaing. Dan seperti yang telah saya sampaikan, penguasaa ilmu dasar patut dimiliki.

NO: Profesor Herawati, terima kasih atas waktu yang diberikan untuk wawancara ini.

HS: Terima kasih. (brk/*)

Dr. Yoyok: Bawömataluo, Salah Satu Monumen Hidup Kebudayaan Nias Tersisa

Saturday, August 31st, 2013

Desa Bawömataluo | www.kompas.com

Desa Bawömataluo | www.kompas.com

NIASONLINE, JEPANG – Nihon Kenchikku Gakkai atau Forum Seminar Arsitektur se-Jepang menjadikan masa depan Desa Bawömataluo sebagai bagian dari materi yang didiskusikan dalam rangkaian kegiatannya sepanjang Jum’at (30/8) sampai Minggu (1/9/2013).

Bukan tanpa alasan Desa Bawömataluo jadi referensi dalam acara bergensi yang diikuti oleh sekitar 3.000 akademisi dan arsitek seluruh Jepang tersebut.

Sejak Agustus 2011 lalu, belasan pakar Jepang, bersama pakar dari Universitas Gajah Mada (UGM) telah melakukan serangkaian riset di Desa Bawömataluo. Riset mereka, salah satunya, sebagai bahan untuk memperjuangkan desa itu menjadi warisan dunia di Unesco, PBB.

Dr. Yoyok Wahyu Subroto, Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM sekaligus menjadi ketua Tim Jepang-UGM tersebut.

Dr. Yoyok juga yang memaparkan materi terkait Desa Bawömataluo pada acara yang digelar di University of Hokkaido, Sapporo, Jepang tersebut. Lalu, apa pertimbangan menjadikan Desa Bawömataluo sebagai fokus bahasan di seminar itu?

“Bawömataluo termasuk salah satu the living culture monument (monumen hidup kebudayaan) ‘tua’ di dunia yang masih tersisa dan dimiliki oleh Indonesia khususnya Nias Selatan. Selain itu, juga memiliki identitas budaya yang jelas, yang ditandai oleh budaya megalith yang masih ‘hidup’, dan rumah-rumah yang masih secara konsisten dihuni,” ujar Yoyok melalui pesan singkat kepada Nias Online, Jum’at (30/8/2013).

Namun, kata dia, meski memiliki keunikan yang termasuk langka, kini desa itu juga dalam ‘ancaman.’

“Di sisi lain, kondisinya cukup mengkhawatirkan, baik karena ancaman alam (bencana alam, umur bangunan) maupun oleh ancaman sosial ekonomi (kurangnya perhatian pemerintah, kurangnya dana perbaikan, keinginan masyarakat untuk mengganti menjadi rumah ‘modern’) sehingga keasliannya terancam,” jelas dia.

Dia menambahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan, laju perubahan fisik bangunan atau laju ‘hilangnya’ bangunan rumah tradisional di Bawömataluo adalah 2 bangunan per tahun.

“Ini harus dihentikan atau pada saatnya nanti Bawömataluo hanya tinggal kenangan,” tegas dia.

Terkait Desa Bawömataluo, jelas dia, terdapat lima materi paparan. Yakni, materi I terkait kondisi struktur dan konstruksi bangunan tradisional. Materi II terkait manajemen ‘branded’ pariwisata Bawömataluo.

Kemudian, materi III terkait kebudayaan Nias Selatan khususnya Bawömataluo. Materi IV terkait kondisi lansekap alam Bawömataluo. Dan materi V terkait bangunan Omo Sebua. (EN)

Forum Arsitektur Jepang Bahas Masa Depan Desa Bawömataluo

Friday, August 30th, 2013

Dr. Yoyok Wahyu Subroto | Koleksi Pribadi

Dr. Yoyok Wahyu Subroto | Koleksi Pribadi

NIASONLINE, JEPANG – Kekayaan dan keunikan arsitektur di Desa Bawömataluo terus menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk di dunia internasional.

Desa yang telah masuk daftar calon warisan dunia tersebut kini jadi perhatian terkait upaya pelestariannya. (more…)

Paroki Tögizita Gelar Seminar Budaya dan Perkawinan Adat Nias

Thursday, July 4th, 2013

Peserta Seminar | Pst Postinus Gulö OSC

Peserta Seminar | Pst Postinus Gulö OSC

NIASONLINE, TÖGIZITA – Paroki Santa Maria Ratu Surga Tögizita, Nias Selatan (Nisel) dengan tema “Menggali Tata Nilai Baru Atas Budaya dan Perkawinan Adat Nias”. (more…)

“Tanö Niha Bumi Megalit” Masuk Nominasi “Gatra Kencana 2013”

Tuesday, July 2nd, 2013

Ukiran Pada Batu di Depan Rumah Adat Bawömataluo | http://collectie.tropenmuseum.nl

Ukiran Pada Batu di Depan Rumah Adat Bawomataluo | http://collectie.tropenmuseum.nl

NIASONLINE, JAKARTA – Acara tahunan pemberian Piala Gatra Kencana yang digelar stasiun televisi Pemerintah, Televisi Republik Indonesia (TVRI), kembali digelar.

Acara tersebut didedikasikan sebagai penghargaan bagi stasiun TVRI di daerah yang memberikan kontribusi dalam bentuk siaran terbaik.

Sejumlah tayangan tematik dalam kelompok kategori yang telah ditentukan menjalani seleksi untuk kemudian ditentukan pemenangnya. Para pemenang akan mendapatkan piala yang biasanya diumumkan dan diserahkan pada peringatan puncak ulang tahun stasiun TV tersebut.

Untuk tahun ini, TVRI telah mengumumkan nominasi untuk lima kategori. Kelima kategori dengan masing-masing 10 nominator tersebut adalah kategori Negeriku Indonesia, Pelangi Nusantara, Pelangi Anak Nusantara, Kuliner, dan Ceritera Anak.

Stasiun TVRI Sumatera Utara (Sumut) berhasil menempatkan sembilan tayangannya di lima kategori tersebut.

Berdasarkan pengumuman nominasi oleh TVRI, dua dari sembilan tayangannya dari Stasiun TVRI Sumut tersebut berkisah mengenai Pulau Nias.

Yakni, Tanö Niha Bumi Megalit yang masuk dalam nominasi nomor dua untuk kategori Negeriku Indonesia. Satu lagi, berjudul Sangorifi Niha yang masuk nominasi nomor lima pada kategori Pelangi Nusantara.

Belum ada informasi kapan pemenang dari lima kategori tersebut akan diumumkan. Tapi yang jelas, para pemenang akan diumumkan, setidaknya di situs www.tvri.co.id, sebagaimana diinformasikan pada berkas pengumuman nominasi tersebut. (EN)

Bawömataluo Expo 2013 Resmi Dibuka

Thursday, June 6th, 2013

Atraksi Lompat Batu di Desa Bawomataluo (Foto: Etis Nehe)

Atraksi Lompat Batu di Desa Bawomataluo (Foto: Etis Nehe)

NIASONLINE, BAWÖMATALUO – Meski disertai dengan pro dan kontra terkait persiapannya, acara Bawömataluo Expo 2013 akhirnya tetap dilangsungkan dan dibuka resmi pada hari ini.

Acara yang dijadwalkan berlangsung hingga 16 Juni 2013 tersebut dibuka pada pukul 14.30 wib.

Namun, tidak seperti yang diharapkan, seperti pada dua tahun lalu, Bupati Nias Selatan (Nisel) Idealisman Dachi kembali tidak datang untuk meresmikan acara itu. Informasinya, dia sedang sedang berada di luar Nisel.

Demikian juga dengan Wakil Bupati Hukuasa Ndruru. Peresmian justru dilakukan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Asa’aro La’ia didampingi beberapa kepala dinas dan juga unsur muspida lainnya.

Acara pembukaan tersebut diramaikan oleh pengunjung dari berbagai wilayah dari luas Nias Selatan termasuk turis mancanegara. Acara diawali dengan acara penyambutan, tari perang, atraksi Lompat Batu dan Maena.

Kemudian dilanjutkan dengan peninjauan stand-stand yang telah tersedia. Di antaranya, stand barang elektronik, produk kerajinan dan juga makanan. Selanjutnya, malam ini diisi dengan acara kesenian di beberapa panggung yang tersedia.

Bawömataluo Expo ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa pada Mei 2011 dengan nama Pagelaran Budaya Bawömataluo 2011.

Acara tersebut berlangsung selama tiga hari dan mampu mendatangkan sekitar 30 ribuan pengunjung dengan total sirkulasi uang lebih dari Rp 500 juta.

Tari Maena Pada Pembukaan Bawomataluo Expo 2013 | PSZ

Tari Maena Pada Pembukaan Bawomataluo Expo 2013 | PSZ

Namun, berbeda dengan acara pada dua tahun lalu, kali ini disertai dengan pro dan kontra antar warga desa. Sebagian warga keberatan dengan pelaksanaan acara itu karena dianggap sebagai kegiatan sepihak karena tidak melalui persetujuan musyawarah desa atau Orahua.

Namun, berdasarkan pantauan Nias Online, hingga berakhir, acara pembukaan pada hari ini berjalan lancar tanpa hambatan. (PSZ/EN)

Siapa Itu Ono Niha?

Wednesday, March 20th, 2013

* Oleh Esther GN Telaumbanua

Dalam percakapan di lingkup organisasi Masyarakat Nias pada sebuah jejaring sosial beberapa waktu lalu, pertanyaan “Siapa yang di sebut orang Nias (Ono Niha) itu” muncul. Pertanyaan itu sesungguhnya sarat makna sesuai konteks pembicaraan. Andai kepada saya ditanyakan, saya akan menjawab begini.

Orang Nias (Ono Niha) dapat dijelaskan dalam dua konteks, etnisitas dan kependudukan. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan etnis sebagai kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan sosial lain berdasarkan kesadaran akan identitas perbedaan kebudayaan, khususnya bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis. Koentjaraningrat (1989) menjelaskan etnis atau suku bangsa merupakan kelopok sosial atau kesatuan hidup manusia yang mempunyai sistem interaksi, sistem norma yang mengatur interaksi tersebut, adanya kontinuitas dan rasa identitas yang mempersatukan semua anggotanya serta memiliki sistem kepemimpinan sendiri. Fredrik Barth (1969) mendefinisikan etnisitas sebagai himpunan manusia karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut yang terikat pada sistem nilai budaya. Jadi, berdasarkan definisi di atas orang Nias adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa, agama, sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi. Dalam konteks kependudukan bisa didefinisikan sebagai seseorang atau kelompok masyarakat yang tinggal di suatu wilayah atau daerah tertentu atau orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut berdasarkan surat resmi tinggal dan tercatat dalam administrasi kependudukan.

Konteks budaya
Masyarakat Nias mengenal banyak mitos dalam berbagai versi yang dikisahkan dalam hoho (syair). Dalam mitos asal usul manusia Nias dikisahkan tentang sosok Raja Sirao yang bijaksana. Ia memiliki 9 anak. Untuk menggantikan posisinya, ia mengadakan pertandingan dimana yang memenangkan pertarungan mencabut tombak yang ditancapkannya akan mewarisi tahta. Yang paling bungsu menang dan menggantikannya menjadi raja. Lalu kedelapan putranya diturunkan dari langit ke Tanö Niha (tanah manusia). Dalam proses diturunkan (nidada) itu empat gagal, dan empat putra berhasil dan menjadi penguasa air, tanah, angin dan hutan. Dari sini berkembanglah kemudian leluhur Nias dengan kelompok besar marga (mado) Nias dan hidup di negeri/banuanya masing-masing. Singkat kisah mitosnya begitu.

Pusat kehidupan orang Nias mula-mula itu disebutkan di wilayah tengah Pulau Nias atau tepatnya wilayah Gomo yang kemudian beranak-cucu dan menyebar ke berbagai pelosok Nias bahkan ke luar pulau. Orang Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal) sehingga turunannya menggunakan marga ayahnya di belakang namanya. Dikenal kemudian ratusan marga Nias diantaranya Amazihönö, Bate’e, Bawamenewi, Baene, Bago, Baeha, Bali, Bawaulu, Bazikho, Bidaya, Bohalima, Bulu’aro, Bunawölö, Bu’ulölö, Buaya, Daeli, Dakhi, Dawölö, Daya, Dohare, Dohude, Duha, Fau, Famaugu, Fanaetu, Finowa’a, Gaho, Ganumba, Garamba, Gari, Gaurifa, Ge’e, Gea, Giawa, Gowasa,Göri,Gulö, Halawa, Harita, Hia, Hondro, Harefa, Haria, Hulu, Humendru, Hura, La’ia, Lafau, Lahagu, Lahu, Laoli, Laowö, Lase, Larosa, Lature, Luahambowo, Lawölö, Lö’i, Lömbu, Maduwu, Manaö, Manaraja, Maru’ao, Marundruri, Maruhawa, Marulafau, Mendröfa, Möhö, Nakhe, Nazara, Ndraha, Nduru, Nehe, Saota, Sarahönö, Sarumaha, Sihura,Taföna’ö,Telaumbanua,Wakho, Waoma, Waõ, Warasi, Waruwu, Wate, Wa’u, Waya, Zai, Zalukhu, Zagötö, Zendratö, Zamasi, Zamili, Zandroto, Zebua, Zega, Ziawa, Zidömi, Ziliwu, Ziraluo, Zörömi. Ini kemudian menjadi identitas utama etnis Nias pada saat ini. Bila anda menggunakan salah satu marga orang Nias dimanapun anda berada, maka dalam kategori ini anda adalah Ono Niha.

Selanjutnya, dikisahkan bahwa saat anak-anak Sirao diturunkan dari langit disertakan dengannya ‘bowo’ (adat-istiadat) sebagai pegangan hidupnya, panduan perilakunya di tanah kehidupannya. Ono Niha adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih kuat. Hukum adat Nias secara umum disebut “fondrakö” yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Dalam fondrakö dikenal perilaku kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, persaudaraan, musyawarah, namun juga sikap menghargai leluhur, orang tua, pemimpin dan patuh pada keputusan adat. Leluhur Nias melakoni musyawarah adat (orahua mbanua) dengan arif dan bijaksana dengan mengikutsertakan semua unsur elemen masyarakat. Sebelum memulai percakapan adat atau pertemuan tentang sesuatu mereka memakan sirih yang disuguhkan dalam bolanafo. Tradisi ini sebagai simbol silaturahmi, saling penerimaan dan menghormati. Leluhur Nias patuh pada yang ditetapkan musyawarah adat. Ono Niha adalah orang yang memegang teguh kesepakatan dan menjaga komitmen. Ono Niha juga sarat dengan pesan dari orang tua berupa etika dan pola berperilaku (böwö ni’orisi). Berdasarkan definisi diatas, maka siapapun dia yang melakoni budaya dan adat sitiadat serta berprinsip hidup Nias disebut Ono Niha.

Dari penelitian antropologis dan arkeologis, dilihat dari ciri umumnya, bahasa serta dialek yang digunakan, maka secara genealogis orang Nias disebut termasuk dalam rumpun Austronesia. Leluhur Nias diperkirakan bermigrasi dari daratan Asia, atau lebih spesifik wilayah sekitar Mongolia sampai Vietnam. Rumpun Austronesia memiliki ciri kebudayaan megalitik, kebiasaan memuja roh leluhur dan pola bercocok tanam. Mereka hidup di wilayah tropis yang umumnya subur dan dekat dengan sumber makanan yang berlimpah. Masyarakat yang tinggal di wilayah ini cenderung bersikap ramah dibanding yang hidup di wilayah gersang yang ditempa keras dan kejam karena sumber makanan dan air sangat terbatas. Ciri-ciri keramahan leluhur Nias ini ditunjukkan dalam perilakunya. Diantaranya mengucapkan salam Ya’ahowu (berkat bagimu), bersalaman, menyuguhkan sirih, dan memberi makan bagi tamu yang datang. Dari cerita orang tua, saya mendengar bahwa rumah-rumah orang Nias terbuka bagi orang yang singgah bermalam saat bepergian jauh. Mereka diberi tompangan menginap bahkan diberi makanan semampu tuan rumah sebelum orang melanjutkan perjalanan. Unsur-unsur asli budaya Nias adalah keyakinan kepada Sang Pencipta. Leluhur Nias selalu mengupayakan keseimbangan antara mikro kosmos dengan makro kosmos selaras hidup harmonis. Leluhur Nias mewariskan kebijaksanaan dalam menata kehidupan yang bersahabat dengan lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem di antaranya dalam menata pemukian, membangun rumah, dan bercocok tanam di tengan tantangan alam yang menerpa. Ini adalah sebagian dari identitas budaya yang bisa dijelaskan disini.

Perspektif kependudukan
Dalam fase-fase kehidupannya, orang Nias juga mengalami banyak perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan interaksi dengan dunia di luar Nias. Kedatangan agama membawa banyak pembaharuan terutama dalam kemajuan pendidikan dan kesejahteraan. Setelah fase kehidupan religi kuno, maka Nias kini menjadi wilayah dengan masyarakat yang memiliki religiositas tinggi dengan pemeluk Kristen sebagai mayoritas. Perobahan tata pemerintahan yang dimulai pemerintah Belanda sampai era Pemerintah Indonesia pun terjadi tanpa catatan pergolakan yang cukup berarti. Dulu dikenal banua dan öri, kini ada desa, kelurahan dan kecamatan. Dulu hanya ada pemimpin suku, salawa atau balugu, sekarang ada lurah dan camat. Memperhatikan proses perkembangan dan fase kehidupannya yang dengan relatif kecil resistansi menunjukkan pada dasarnya Nias memiliki sikap keterbukaan yang cukup positif. Artinya, terbuka menerima pengaruh dari luar tapi tidak sampai kehilangan ciri-ciri otentik karakter dirinya sebagai orang Nias. Nias adalah bagian tidak terpisahkan dari Indonesia yang majemuk dengan etnisitas yang yang beragam. Tuntutan kehidupan Nias mempengaruhi kehidupan ono Niha dimana kerap terjadi migrasi keluar Nias dan menetap di berbagai daerah, atau masuknya etnis lain ke wilayah Nias dan hidup menetap disana. Dari interaksi sosial, terjadi perkawinan campur dengan etnis lain sehingga banyak ono Niha yang tidak berbahasa Nias dan banyak juga tidak lagi melakoni adat-istiadatnya.

Laporan BPS 2011 menyebutkan penduduk Kepulauan Nias adalah 756.338 jiwa. Jumlah ini adalah total penduduk di 5 kabupaten/kota di kepulauan itu. Penduduk ini terdiri dari etnis Nias dan warga non-Nias yang menetap di wilayah ini dan tercatat sebagai penduduk ber-KTP di kepulauan Nias. Di Kepulauan Nias terdapat etnis Batak, Minang, Aceh, Jawa, Dayak, Maluku, Tionghoa (Cina), dan lain-lain. Di antara marga-marga etnis Nias, dikenal juga bermarga Bugis, Chaniago, Polem, Tanjung dan lain-lain. Walau mereka tidak disebut dalam daftar marga-marga Nias, leluhur mereka diperkirakan telah mendiami Nias sejak abad ke-17, dan memiliki belasan generasi. Mereka hidup menyatu dan berbahasa Nias serta melaksanakan tata krama berdasarkan budaya Nias. Umumnya marga-marga ini beragama Muslim, bukan Kristen sebagai agama mayoritas. Dengan situasi kekinian Ono Niha yang heterogen muncul pertanyaan baru, selain pertanyaan “siapa Ono Niha”. Apakah orang Nias yang beragama non-Kristen atau tidak berbahasa daerah Nias bukan Ono Niha? Atau, apakah marga Polem dan Chaniago yang bertatakrama budaya Nias, tidak dikategorikan Ono Niha? Apakah mereka yang menyandang mado Nias karena keturunan masih bangga dengan itu?

Dulu dan kini
Pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi di negeri ini membawa pengaruh di banyak sendi kehidupan, yang positif dan negatif, dan berdampak luas pada kehidupan masyarakat termasuk Nias. Merespons itulah menguat nasionalisme, ke-Indonesiaan, dan tidak bisa ditahan lahir rasa kedaerahanan. Keterbatasan pusat dalam banyak hal menyisakan masalah krusial di banyak daerah. Rasa tanggungjawab putra daerah untuk memajukan daerahnya masing-masing. Terjadi di seantero nusantara, tak terkecuali kepulauan Nias. Mulailah timbul organisasi kedaerahan, ikatan adat, keluarga ini dan itu. Ada kebanggaan dan klaim, Aku ono Niha! Apakah kamu ono Niha ? Dan, siapakah ono Niha?. Atau dengan bahasa kini, “siapa putra daerah Nias”?

Realitas kekinian ini memerlukan sikap, bila tidak ingin terjadi pergesekan kemudian. Peran simpul masyarakat sangat penting dan berperan efektif mencerahkan dan mengarahkan seperti pemerintah, pimpinan umat, ikatan masyarakat, media masa, dan lain-lain. Pada dasarnya masyarakat Nias tradisionil adalah masyarakat yang terpimpin, mereka patuh pada pimpinan dan orang-orang yang lebih tua. Dalam konteks banua di masa lalu dengan para salawa/balugu dan konsep musyawarah berbasis fondrakö, hal ini ditunjukkan. Namun masyarakat Nias generasi kini sudah memiliki pola pikir yang lebih demokratis, lebih berkesadaran politik, HAM, dan hukumnya. Oleh karena itu, para pemimpin dan organisasi kemasyarakatan Nias yang tidak menyesuaikan pola pikir dan pola tindaknya, tidak akan mendapat tempat di hati masyarakat bahkan tidak efektif kehadirannya dalam konteks membangun peradaban masyarakat Nias hari ini dan masa depan.

Karena itu tidak suka, tanpa bisa dihindari pemimpin Nias (kini dan masa depan) adalah yang yang mampu merangkul dan mengelola semua warga kepulauan Nias dan seluruh elemen masyarakat Nias sebagai potensi besar, satu kekuatan, dalam menjawab tantangan zaman dan harapan di masa depan. Pemimpin yang baik adalah yang bisa mengarahkan cara pandang yang benar dan semestinya, terhadap situasi kekinian Nias. Setiap fase kehidupan etnis Nias adalah produk konstruksi sosial. Pola pikir yang konstruktif dalam mengevaluasi situasi akan positif membentuk opini yang relevan menyambungkan antara sejarah dan masa depan. Ada pendapat untuk mengukur ke-ono Niha secara objektif dengan kriteria identitas budaya (garis keturunan, dll), semestinya lebih rasional dan subjektif misalnya kadar “sense of belonging”nya, “caring”, dan lain-lain. Untuk konteks tertentu, identitas etnis bisa saja dikembangkan. Misal, dalam konteks politik, kerohanian atau pendidikan. Benar mendefinisikan secara budaya, tetapi semestinya pula menyesuaikan kekinian yang ada. Apapun konteksnya, yang penting memang harus jernih dan tidak merusak sejarah. Sebab, secara pribadi saya tidak masalah bila marga Tambunan (contohnya) yang melakoni budaya Nias disebut Ono Niha, tetapi menjadi masalah buat saya bila ada mado Telaumbanua tidak berbahasa Nias disebut bukan Ono Niha. Identitas etnis Nias secara budaya dan nilai-nilai akan nyata dan teruji dalam proses sosialisasi, interaksi dan aktualisasi dengan lingkungan sosialnya dan sesuai zamannya. Mari melihatnya dengan lebih peduli. (egnt)

Bahan Bacaan:
• Fredrik Bart, 1969: Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Cultural Difference.
• Johannes Hammerle, 2001: Asal Usul Masyarakat Nias-Suatu Interpretasi
• Koentjaraningrat. 1989: Sejarah Teori Antropologi
• Victor Zebua, 2007: Ho Jendela Nias Kuno-Sebuah Kajian Kritis Mitologis
• Bamböwö Laiya,2006: Sumane Ba Böwö Ni’orisi

HIMNI Sumut Akan Gelar Musda pada 13-14 Juli 2012

Wednesday, April 18th, 2012

Logo HIMNI (Foto: niaspost.com)

NIASONLINE, JAKARTA – Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (Himni) wilayah Sumatera Utara (Sumut) akan menggelar musyawarah daerah (Musda) pada 13-14 Juli 2012. (more…)

Waöwaö Wamölö Akhe ba Nidunödunö Si Fakhai ba Da’ö

Wednesday, September 21st, 2011

E. Halawa

Mofanö samösa niha, i’alui nakhe si no mowua. Na no isöndra, ba ifareso ba gotalua nakhe andrö, nakhe so’ösi. Famaresonia simane. Si oföna ua ifazökhi dondrö, lalania we’amöi yawa. I’anöisi nakhe andrö. Mato samigu wa’ara, ifaheu nakhe, itaba-taba manö nasa mbalö zigaru nakhe andrö faoma rosö satarö, nifotöi famölö. Na abölöbölö atö wa’akalua niro, eluahania no isöndra nakhe so’ösi. Na lö’ö, ba ifaigi nakhe bö’ö. Na no isöndra nakhe so’ösi, ba ibe’e yawa mbu’u ma sölu, yaia da’ö naha niro nifazökhi moroi ba lewuö.

Ibugö mbu’u andrö. Inötö we’amöinia ba wamaheu akhe andrö ba mato bözi öfa, ma lafotöi möi zamölö ahulö. Ba ma zui mato bözi lima, lafotöi möi zamölö alawa.

Idanö si totane bakha ba mbu’u andrö lafotöi niro, si to’ölö labadu ira alawe. Asese göi lafolaru duo andrö irege abe’e ia, tola mabu niha ibe’e. Niro nifolaru andrö lafotöi tuo mbanua. Si to’ölö labe laru duo ya’ia da’ö: uli lase ba ma zui uli höru.

Bakha ba duo andrö, fatua lö labadu, ba itataria labe’e gawökhu mbawi, lawa’ö famoloi malaria. Da’a nifotöi bir Nono Niha.

***

Asese te’ala niha ba duo mbanua andrö. Föna, me lö nasa nirugi danö Niha Turia Somuso Dödö, ba fa’ogömigömi zoya ba dödö niha khöda: fa’afökhö dödö ba nawö, fakelemusa, fasöndrata, fatiusa dödö, fame’e langu famunu. Ba oya nasa danöbö’ö.

Ba duo mbanua andrö, tola lafaruka langu, fatua lö muhalö nasa moroi ba hogu nakhe, ba ma zui me no irugi yomo me no labe’e ba mboto-boto ba ma ba mbu’u lewuö (sölu) naha duo andrö.

Lala fama’ala si föföna ba ya’ia da’ö fame’e langu famunu bakha ba duo andrö fatua so ia yawa ba hogu nakhe, ba alua da’ö föna wa’atohare zamölö andrö wangai niro moroi ba hogu nakhe khönia. Fönania tohare zafökhö tödö khönia, i’anöisi nakhe andrö, ifa’iti mbu’u lewuö nitawi zamölö andrö ba wamareso hadia no so niro bakha ba mbu’u lewuö andrö. Na no so atö ba ibadu ma’ifu fatua lö ibe’e langu famakiko andrö bakha. Ba ma zui i’ame’e’ö bakha langu andrö ba ifuli ia tou ba wa’aliolio ena’ö lö fakhamö i’ila ia samölö andrö.

Andrö, meföna, samölö sonekhe ba sangelama, ibe’e dandra-tandra ba hogu nakhe andrö. Tandra andrö si tobali famareso hadia so zanöi ba hogu nakhe andrö föna wondruginia. Na so atö, lö sa’e i’ohe yomo niro ma tuo andrö, iduwagö manö, itibo’ö göi zölu andrö.

Lala wama’ala si dua yaia da’ö fame’e famakiko andrö bakha ba duo me no irugi yomo sa’ae. Na tohare zafökhö tödö andrö ba i’osowöli tuo andrö ia, ibaya-baya mboto-mboto. Ba wombambayania andrö, dörö sa no igulegö langu famakiko zamadu tuo andrö dania.

Me föna oya sibai wama’ala, börö da’ö mangelama sibai niha. Lö fa’ahono dödö, fangiwangiwa dödö manö ba fa’ata’u zi so.

Harazaki, bua-bua sira’ira’iö andrö no alö sibai sa’ae ba ginötö si so ya’ita andre, he wa’ae lö sahori sibai nasa.

Catatan: Penggunaan karakter w dan ö dalam artikel ini menurut usulan penggunaan baru yang dapat dibaca dalam tulisan: Karakter “W-w” dan “Ŵ-ŵ” Dalam Li Niha.