Archive for the ‘Berita Budaya’ Category
Tim Ahli UGM – Jepang Tinjau Kesiapan Penilaian Desa Bawömataluo
Sunday, August 31st, 2014Tim UGM & Jepang Serahkan Hasil Riset Desa Bawömataluo Besok
Tuesday, September 17th, 2013
NIASONLINE, JAKARTA – Hasil riset tentang Bawömataluo yang digelar oleh Tim Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Jepang sudah memasuki tahap final. Rencananya, hasil riset tersebut akan diserahkan langsung kepada Pemda Nias Selatan dan masyarakat Bawömataluo. (more…)
Dr. Yoyok: Bawömataluo, Salah Satu Monumen Hidup Kebudayaan Nias Tersisa
Saturday, August 31st, 2013Bukan tanpa alasan Desa Bawömataluo jadi referensi dalam acara bergensi yang diikuti oleh sekitar 3.000 akademisi dan arsitek seluruh Jepang tersebut.
Sejak Agustus 2011 lalu, belasan pakar Jepang, bersama pakar dari Universitas Gajah Mada (UGM) telah melakukan serangkaian riset di Desa Bawömataluo. Riset mereka, salah satunya, sebagai bahan untuk memperjuangkan desa itu menjadi warisan dunia di Unesco, PBB.
Dr. Yoyok Wahyu Subroto, Ketua Tim Peneliti Desa Bawömataluo pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM sekaligus menjadi ketua Tim Jepang-UGM tersebut.
Dr. Yoyok juga yang memaparkan materi terkait Desa Bawömataluo pada acara yang digelar di University of Hokkaido, Sapporo, Jepang tersebut. Lalu, apa pertimbangan menjadikan Desa Bawömataluo sebagai fokus bahasan di seminar itu?
“Bawömataluo termasuk salah satu the living culture monument (monumen hidup kebudayaan) ‘tua’ di dunia yang masih tersisa dan dimiliki oleh Indonesia khususnya Nias Selatan. Selain itu, juga memiliki identitas budaya yang jelas, yang ditandai oleh budaya megalith yang masih ‘hidup’, dan rumah-rumah yang masih secara konsisten dihuni,†ujar Yoyok melalui pesan singkat kepada Nias Online, Jum’at (30/8/2013).
Namun, kata dia, meski memiliki keunikan yang termasuk langka, kini desa itu juga dalam ‘ancaman.’
“Di sisi lain, kondisinya cukup mengkhawatirkan, baik karena ancaman alam (bencana alam, umur bangunan) maupun oleh ancaman sosial ekonomi (kurangnya perhatian pemerintah, kurangnya dana perbaikan, keinginan masyarakat untuk mengganti menjadi rumah ‘modern’) sehingga keasliannya terancam,†jelas dia.
Dia menambahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan, laju perubahan fisik bangunan atau laju ‘hilangnya’ bangunan rumah tradisional di Bawömataluo adalah 2 bangunan per tahun.
“Ini harus dihentikan atau pada saatnya nanti Bawömataluo hanya tinggal kenangan,†tegas dia.
Terkait Desa Bawömataluo, jelas dia, terdapat lima materi paparan. Yakni, materi I terkait kondisi struktur dan konstruksi bangunan tradisional. Materi II terkait manajemen ‘branded’ pariwisata Bawömataluo.
Kemudian, materi III terkait kebudayaan Nias Selatan khususnya Bawömataluo. Materi IV terkait kondisi lansekap alam Bawömataluo. Dan materi V terkait bangunan Omo Sebua. (EN)
Forum Arsitektur Jepang Bahas Masa Depan Desa Bawömataluo
Friday, August 30th, 2013Desa yang telah masuk daftar calon warisan dunia tersebut kini jadi perhatian terkait upaya pelestariannya. (more…)
Paroki Tögizita Gelar Seminar Budaya dan Perkawinan Adat Nias
Thursday, July 4th, 2013Atraksi Budaya Desa Orahili Fau Ramaikan Bawömataluo Expo 2013
Monday, June 10th, 2013Hal itu terlihat dari rangkaian kegiatan pada Bawömataluo Expo 2013, Minggu (9/6/2013). Di acara itu, warga Desa Orahili Fau menampilkan atraksi Tari Perang dan rangkaian acara lainnya.
Desa Orahili Fau masih bertetangga dengan Desa Bawömataluo. Bahkan, desa itu, karena berada di area yang lebih rendah, terlihat jelas dari puncak tangga menuju Desa Bawömataluo.
Adapun pengunjung pada hari keempat acara itu, jauh lebih ramai dari dua hari sebelumnya yang sangat sepi dibandingkan kehadiran pada acara pembukaan. Ramainya pengunjung kemarin kemungkinan karena bertepatan dengan hari libur atau hari Minggu dimana biasanya pengunjung desa selalu lebih ramai.
Bawömataluo Expo 2013 dibuka pada 6 Juni 2013 dan akan berlangsung hingga 16 Juni 2013. Berbagai atraksi budaya telah dipersiapkan. Juga berbagai stand untuk penjualan berbagai produk telah tersedia di sana. Mulai dari stand produk kerajinan warga desa, aneka jenis makanan, dan juga berbagai produk elektronik. (PSZ/EN)
Bawömataluo Expo 2013 Resmi Dibuka
Thursday, June 6th, 2013Acara yang dijadwalkan berlangsung hingga 16 Juni 2013 tersebut dibuka pada pukul 14.30 wib.
Namun, tidak seperti yang diharapkan, seperti pada dua tahun lalu, Bupati Nias Selatan (Nisel) Idealisman Dachi kembali tidak datang untuk meresmikan acara itu. Informasinya, dia sedang sedang berada di luar Nisel.
Demikian juga dengan Wakil Bupati Hukuasa Ndruru. Peresmian justru dilakukan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Asa’aro La’ia didampingi beberapa kepala dinas dan juga unsur muspida lainnya.
Acara pembukaan tersebut diramaikan oleh pengunjung dari berbagai wilayah dari luas Nias Selatan termasuk turis mancanegara. Acara diawali dengan acara penyambutan, tari perang, atraksi Lompat Batu dan Maena.
Kemudian dilanjutkan dengan peninjauan stand-stand yang telah tersedia. Di antaranya, stand barang elektronik, produk kerajinan dan juga makanan. Selanjutnya, malam ini diisi dengan acara kesenian di beberapa panggung yang tersedia.
Bawömataluo Expo ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa pada Mei 2011 dengan nama Pagelaran Budaya Bawömataluo 2011.
Acara tersebut berlangsung selama tiga hari dan mampu mendatangkan sekitar 30 ribuan pengunjung dengan total sirkulasi uang lebih dari Rp 500 juta.
Namun, berbeda dengan acara pada dua tahun lalu, kali ini disertai dengan pro dan kontra antar warga desa. Sebagian warga keberatan dengan pelaksanaan acara itu karena dianggap sebagai kegiatan sepihak karena tidak melalui persetujuan musyawarah desa atau Orahua.Namun, berdasarkan pantauan Nias Online, hingga berakhir, acara pembukaan pada hari ini berjalan lancar tanpa hambatan. (PSZ/EN)
Bupati Nisel Instruksikan Penanganan Darurat “Omo Sebua†Bawömataluo
Friday, November 4th, 2011Survei Komprehensif Untuk Dukung Bawömataluo Masuk Daftar Warisan Dunia
Saturday, August 6th, 2011Pemda Nisel Diminta Benahi Infrastruktur Pendukung Pariwisata di Bawömataluo
Thursday, May 19th, 2011Warga Nisel di Perantauan Mendukung “Bawömataluo 2011â€
Wednesday, April 27th, 2011JAKARTA, Nias Online – Atraksi pagelaran budaya Bawömataluo 2011 yang akan digelar pada Jum’at-Minggu (13-15 Mei 2011), juga mendapat dukungan warga Nias Selatan di perantauan, termasuk yang berasal dari Desa Bawömataluo. Inisiatif menggelar acara itu dinilai sebagai terobosan yang bagus dan pas. Acara itu juga layak diteruskan bahkan ditiru oleh desa-desa lain yang memiliki potensi budaya. (more…)
Hari Film Nasional 2010 Bangkitkan Perfilman Sumut
Wednesday, March 31st, 2010
MEDAN – Memperingati Hari Film Nasional 2010, Forum Komunikasi Insan Film (FKIF) menayangkan 2 film dokumenter di Gedung Kensington Institute Medan, Selasa (30/3).
Pemutaran 2 film karya Onny Kresnawan yakni “Pantang Dijaring Halus” dan “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” diharapkan mampu membangkitkan perfilman Sumut yang tidak mengalami perkembangan sejak 4 dekade lalu. “Pantang Dijaring Halus” adalah sebuah film dokumenter berdurasi 20 menit yang menceritakan upacara jamu laut di jaring halus. Film ini mendapat predikat terbaik I di Festival Jawa Timur 2007.
Film kedua yang diputar yakni “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan”. Film ini tampak lebih menarik perhatian penonton. Film dengan durasi kurang dari 35 menit ini mengangkat tentang upaya dan perjuangan perempuan Nias menuju kesetaraan gender. “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” terpilih menjadi film Campaign favorit versi radio Deutsche Welle Germany, film ini juga menjadi icon medium campaign di Konferensi International Child Sex Touristm (CST) di Sanur Bali tahun 2009.
Barani Nasution, tokoh teater nasional yang menjadi pembicara pada diskusi yang digelar usai pemutaran film mengatakan, perfilman Sumut tidak mengalami perkembangan yang signifikan sejak 1970 meski sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan seperti produksi film, ceramah, diskusi, studi film, hingga pembangunan studio film di Sunggal tahun 1976.
Barani mengatakan, hal ini disebabkan produksi film di Sumut hanya mengambil materi, lokasi, dan pemeran-pemeran pembantu dan figuran, tanpa meninggalkan/menghasilkan potensi film yang kreatif dan produktif. Akhir-akhir ini tampak adanya keinginan menumbuhkan kegiatan dan produksi film di Medan. Hal ini terlihat dengan adanya pembuatan film-film dokumenter dalam rangka mengikuti berbagai event festival di Sumut maupun Indonesia.
Namun, Barani menilai ada baiknya insan film dan sineas Sumut memperbaharui tekad dan cara-cara pengembangan dunia film masa depan dengan menyadari kekurangan dan kegagalan di masa lampau. Di samping perlu juga unsur-unsur dan potensi film yang ada dihimpun dan diberdayakan untuk mendorong terciptanya proses pertumbuhan perfilman yang produktif, kreatif, dan dinamis.
(DNA)
Lho, Bisa Berbahasa Daerah kok Dianggap Buta Aksara?
Saturday, October 24th, 2009MEDAN, KOMPAS.com – Masyarakat yang masih menggunakan bahasa daerah masih dianggap pemerintah masuk dalam kategori buta aksara. Pengertian tersebut dikritik, karena mengabaikan kekayaan bahasa daerah yang selama ini turut memperkuat bahasa Indonesia. (more…)









