Archive for January, 2011 | Monthly archive page

Ratusan Warga Nias Se-Jabodetabek Rayakan Natal Bersama

Sunday, January 23rd, 2011

JAKARTA, Nias Online – Bertempat di auditorium BPPT Jakarta, ratusan warga Nias se-Jabodetabek merayakan Natal 25 Desember 2010 dan Tahun Baru 1 Januari 2011. Perayaan dengan tema “Membangun Dalam Damai” tersebut difasilitasi oleh Forum Komunikasi Niha Keriso Ono Niha (FKNO) pada Sabtu (22/1/2011) malam tersebut berlangsung meriah. (more…)

Sengketa Pilkada Nisel di MK – Saksi Ahli: Kembalikan Hak Politik Mantan Narapidana

Friday, January 21st, 2011

JAKARTA, Nias Online – Panel Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyidangkan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Nias Selatan Tahun 2011 meminta keterangan Saksi Ahli yang diajukan pasangan Hadirat Manaö-Denisman Bu’ulölö (Hadirman), Prof. Maidin Gultom. Dekan Fakultas Hukum Unika St. Thomas, Medan, Sumut tersebut, mengatakan, Undang-Undang Pemilu, UU Sisdiknas dan Putusan MK dalam Pengujian UU (PUU) telah menegaskan bahwa menjadi narapidana tidak berarti kehilangan hak-hak politik. (more…)

Subsidi Industri Energi Surya Jerman Dikurangi

Friday, January 21st, 2011

Industri energi surya di Jerman telah menyetujui usulan pemerintah Jerman untuk mengurangi subsidi industri energi surya hingga 15 persen tahun ini.

Di Jerman, permintaan pasar akan panel-panel tenaga surya telah meningkat pesat, suatu bukti keberhasilan industri tenaga surya di Jerman. Demikian dikatakan oleh Menteri Lingkungan Jerman Norbert Röttgen sebagaimana diberitakan oleh harian Jerman berbahasa Inggris The Local.

Röttgen dan presiden dari asosiasi industri tenaga surya BSW, Günther Cramer, mengumumkan secara bersama kesepakatan itu di Berlin. Pengurangan subsidi itu mulai berlaku bulan Juli tahun ini, 6 bulan lebih awal dari rencana semula.

Besarnya pengurangan subsidi berkisar 3 – 15 persen, tergantung dari berapa banyak panel surya terhubung ke grid mulai bulan Maret hingga Mei. Pengurangan sebesar 15 persen hanya berlaku jika penjualan panel surya mencapai 7.5 gigawatt.

Di Jerman hingga saat ini pemasok daya diwajibkan membeli listrik dari ‘kebun-kebun’ surya dan pemasok energi surya lain pada harga rata-rata 29 sen per kWh di atas harga pasar. Selisih harga ini diteruskan ke konsumen sehingga setiap orang membayar sedikit untuk mensubsidi energi surya yang masih relatif mahal.

Röttgen memuji industri energi surya yang menerima pemotongan subsidi ini yang merupakan isyarat kepercayaan akan semakin matangnya industri energi surya di Jerman.

Pemerintah Jerman mengkuatirkan subsidi surya telah memanaskan pasar secara berlebihan dan menekan harga sel-sel surya secara artifisial.

Panel fotovoltaik adalah perangkat pembangkitan listrik yang terdiri dari sel-sel surya. Keterangan gambar: panel surya di atap sebuah rumah (Sumber: Harian The Local – local.de – foto: wikipedia)

Sengketa Pilkada Nisel di MK – KPUD Nisel dan Pasangan Ideal Tolak Semua Tuduhan Pemohon

Thursday, January 20th, 2011

JAKARTA, Nias Online – Mahkamah Konstitusi (MK) kembali menggelar persidangan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan (Nisel) Tahun 2011. Pada sesi persidangan hari ini (Kamis, 20/1) mengagendakan jawaban Pihak Termohon (KPUD Nisel) dan Pihak Terkait (pasangan Ideal). Pada persidangan tersebut, baik Pihak Termohon, maupun Pihak Terkait, membantah semua dalil empat pemohon yang disampaikan pada persidangan pertama sehari sebelumnya (Rabu, 19/1). (more…)

Pasangan Bacabup dan Cabub Kab. Nias Selatan Mohonkan Pemilukada Ulang

Thursday, January 20th, 2011

Jakarta, MKOnline – Dua pasangan bakal calon dan dua pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pemilukada) Kab. Nias Selatan (Nisel) memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) agar memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPU) Kab. Nisel untuk melakukan Pemilukada ulang. Demikian sidang MK dalam perkara sengketa Pemilukada Kab. Nisel, Rabu (19/01/2011). (more…)

Legitimasi Kekuasaan Pada Budaya Nias: Paduan Penelitian Arkeologi dan Antropologi

Thursday, January 20th, 2011

Oleh : Ketut Wiradnyana

Nias, merupakan salah satu pulau yang kaya dengan tinggalan Megalitik, dan tinggalan dimaksud masih tetap berdiri tegar di perkampungan-perkampungan tradisional hingga kini. Hampir seluruh aspek kebudayaan Nias yang kita lihat sekarang ini terasa unsur budaya Megalitiknya. Di Nias Selatan, beberapa prosesi upacara yang berkaitan dengan pendirian banggunan Megalitik (upacara owasa/faulu), dan masih dilaksanakan hingga kini, hanya saja dengan berbagai penyesuaian. Adapun penuesuaian pada upacara owasa/faulu (upacara besar untuk meningkatkan status sosial) di antaranya secara komunal, sehingga babi yang diperlukan dalam upacara tersebut dapat menjadi beban bersama.

Berbagai hal yang dapat dipetik dari pelaksanaan upacara owasa/faulu dimaksud di antaranya memiliki status yang tinggi di masyarakat, karena status yang didapatkan dari upacara itu memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan dengan status yang didapatkan dengan cara yang lain, seperti pendidikan, misalnya, sehingga tidak jarang peran bangsawan lebih besar dibandingkan dengan peran kepala desa yang bukan dari kelompok bangsawan. Menjadi bangsawan merupakan upaya pencapaian yang lebih tinggi dalam kosmologis lama, selain upaya mendekatkan diri dengan leluhur, baik dalam konteks religi maupun dalam konteks kekerabatan. Hal tersebut diperlukan mengingat senioritas memiliki kekuasaan yang lebih dibandingkan dengan yuniornya, sehingga orang yang tinggi tingkatannya dalam kosmologis lama (tingkatan owasa/faulu berkaitan dengan tingkatan kosmologis) atau dekat dalam struktur kekerabatan dengan leluhur, memiliki kekuasaan yang lebih dibandingkan dengan yang lainnya.

Ketika migrasi terakhir datang ke Boronadu, Gomo, pada tahun 1400-an Masehi, di bagian selatan Pulau Nias (sesuai dengan folklor lisan asal-usul masyarakat Nias), telah ada sekelompok orang yang tinggal di bagian utara Nias, yaitu di Gua Togi Ndrawa, dan juga di Gua Togi Bogi. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil serangkaian penelitian arkeologis yang disertai dengan serangkaian analisis radiokarbon (C14). Mengingat budaya yang dibawa kelompok migrasi terakhir ini. di antaranya, sangat menjunjung konsep senioritas, maka disusunlah folklor asal-usul masyarakat Nias, dengan menyampaikam bahwa leluhur merekalah yang pertama kali turun dari langit, sebelum leluhur kelompok lainnya ada di pulau Nias. Dengan demikian, legitimasi atas wilayah dan juga berbagai aspek sosial lainnya menjadi sah. Konsep tersebut dimungkinkan untuk diterima, mengingat budaya yang dibawa kelompok migran terakhir lebih maju, baik dari aspek teknologi, religi, dan cara hidup, yang kemudian dilegalisasi dari aspek budaya materi, kosmologis, religi, konsep struktur sosial, dan upacara, serta selalu menjadi bagian prosesi keseluruhan aspek dimaksud.

Sumber: Yayasan Obor – http://www.obor.or.id/bukus/view/739/baru

Informasi Kegiatan GEMA Nias

Wednesday, January 19th, 2011

Gerakan Muda Nias (GEMA Nias) adalah organisasi yang telah berbadan hukum dan pernah melaksanakan kegiatan seminar pemuda di Medan yang beritanya telah diterbitkan dalam harian Sinar Indonesia Baru (SIB), SUMUT POS, dan harian lainnya. Bahkan berita tentang kegiatan organisasi kami dapat di akses melalui search google (GEMA NIAS).

Tanggal 28 Januari- 7 Februari GEMA Nias akan melaksanakan kegiatan :

  1. Try Out (TO) Ujian Nasional tingkat SMA/MA di Kota Gunungsitoli secara gratis, tanpa memungut biaya apapun dari siswa/i.
  2. Try Out (TO) Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Bedah Fakultas kepada siswa/siswi kelas XII SMA/MA yang berkeinginan melanjutkan study di Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Kontribusi : Pilihan Jurusan IPA/IPS = Rp 20.000/orang, Pilihan IPC = Rp 25.000/0rang.
  3. Lomba Olimpiade Mata Pelajaran Se- Pulau Nias (Tingkat SD,SMP,SMA)
  4. Lomba Pidato Bahasa Inggris tingkat SMA/MA
  5. Lomba Menggambar dan mewarnai tingkat Taman Kanak-kanak (TK), dan Sekolah dasar (SD) dengan biaya pendaftaran Rp 20.000/orang.

Pendaftaran : 15 januari 2011- 02 Februari 2011
Tempat : Butik Jl. Yosudarso No. 55

A.n. Gema Nias

Tertanda,
Suartri Weli Krismeinar Harefa
Sekretaris

Novel Baru: Manusia Langit

Wednesday, January 19th, 2011

Judul Buku: MANUSIA LANGIT: SEBUAH NOVEL ETNOGRAFIS
Halaman: 210 + xi
Pengarang: J. A. Sonjaya
Penerbit: KOMPAS
Waktu terbit: September, 2010

Mahendra, seorang arkeolog muda, berusaha melepaskan diri dari kungkungan peradaban kampus. Ia menempuh jalan lain di Banuaha, sebuah kampung di pedalaman Nias yang dipercaya penduduknya sebagai tempat turunnya manusia dari langit. Perjuangannya untuk menjadi orang Banuaha sangat sulit. Ia harus melintasi batas-batas kebudayaan yang berbeda, terutama menyangkut identitas, prinsip hidup-mati, pesta, juga soal… perempuan.

Bagaimana sebuah harga diri diperbincangkan oleh dua orang yang berbeda latar belakang budaya? Bagaimana sebuah cinta diperjuangkan oleh dua lelaki yang mempunyai tolok ukur yang berbeda tentang hakikat perkawinan dan cinta? Bagaimana nasib Saita, gadis yang dicintai Mahendra tapi sudah terlanjur ‘dibeli’ pemuda dari kampung tetangga? Bagaimana Mahendra sampai pada kesadaran diri sebagai manusia langit?

Temukan jawabannya pada novel J. A. Sonjaya berjudul MANUSIA LANGIT—sebuah novel yang membawa kita menyelami kultur Nias yang eksotik sekaligus hanyut dalam kehidupan dunia kampus yang penuh romantika. Sebuah cinta yang mengharukan dengan latar beragam budaya yang berbeda.

Balutan fiksi atas realitas etnografis yang ditulis secara dalam tapi mengalir telah membentuk sebuah drama kehidupan yang dapat dinikmati berbagai kalangan. Inilah salah satu cara manusia langit (akademisi) membumikan hasil penelitiannya.

Dapatkan novel ini di Gramedia, di toko-toko buku kesayangan Anda, di Perpustakaan Antropologi FIB UGM, di Perpustakaan Arkeologi FIB UGM, di PSAP UGM, dan melalui belbuk.online.

Korupsi Bantuan Tsunami – Wakil Bupati Nias Dilaporkan ke KPK

Tuesday, January 18th, 2011

Jakarta – Kasus dugaan korupsi bantuan penanggulangan bencana tsunami di Kabupaten Nias, Sumatera Utara tahun anggaran 2006 diduga ikut melibatkan Wakil Bupati Nias, Temazaro Harefa. KPK pun diminta untuk segera memeriksa Temazaro. (more…)

Nias nan Cantik

Monday, January 17th, 2011

KOMPAS.com -— Pulau Nias dengan luas 5.318 kilometer persegi menyimpan kearifan lokal dalam konstruksi dan arsitektur rumah. Rumah Nias yang dibangun dengan bahan kayu dan konstruksi fondasi seperti panggung terbukti tahan gempa. Ini tentu berangkat dari pengalaman leluhur suku Nias yang hidup di tanah rawan gempa. Rumah-rumah itu tetap kokoh dan berfungsi hingga kini meski berumur ratusan tahun. (more…)

155 Kepala Daerah Jadi Tersangka Korupsi

Monday, January 17th, 2011

VIVAnews – Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengungkap banyaknya kepala daerah yang menjadi tersangka kasus korupsi. Ia terang-terangan mengaitkan korupsi para pejabat daerah ini dengan proses pilkada yang makan banyak biaya. Jadi, dalam rangka balik modal. (more…)

Lompatan Gemilang Si Fahombo Batu

Monday, January 17th, 2011

“Mau ke Nias? Wow.. lompat batu!”. Begitu terkenalnya lompat batu sehingga menjadi ingatan yang muncul dibenak bila menyebut Nias. Lompat batu yang unik itu, memang hanya ada di Nias. Nias memiliki kekayaan peninggalan budaya (tangible dan intangible) seperti rumah adat, berbagai artefak dan tradisi yang unik. Diantaranya yang paling terkenal adalah tradisi Lompat Batu atau Fahombo Batu.

Jejak tradisi
Fahombo Batu merupakan ritual budaya sebagai simbol kedewasaan pemuda Nias. Fahombo batu dilangsungkan sebagai inisiasi menguji ketangkasan fisik dan kesiapan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Batu yang harus dilompati berupa susunan batu megalit yang tersusun mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atasnya datar. Tingginya kurang lebih 2 (dua) meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Di depannya ada undukan batu kecil setinggi 30an cm, dimana tempat kaki dipijakkan sebelum melakukan lompatan. Dengan bentuk susunan batu tersebut maka fahombo batu tidak sekedar melompat batu. Melakukan fahombo batu memerlukan teknik khusus karena memiliki tingkat kesulitan tertentu. Di masa lampau bagian atas batu bahkan ditutupi dengan duri dan bambu runcing tajam. Para pelompat tidak hanya harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus mampu mendarat dengan posisi yang tepat. Untuk itu pelompat batu perlu menginjak batu undukan kecil sebagai teknik mendorong daya lompatan dan kemudian mendarat dengan tepat. Salah menginjakkan kaki pada batu undukan kecil, daya dorong kurang dan kekuatan melompat akan terbatas. Kesalahan teknis dalam hal ini akan dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Karena itu para pemuda melakukan latihan berulang-ulang. Bagi masyarakat Nias seorang pemuda dari satu keluarga yang sudah dapat melakukan fahombo batu dengan sempurna untuk pertama kalinya, merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa. Untuk kegembiraan itu, keluarga lalu mengadakan syukuran. Bagi kalangan bangsawan bahkan mengadakan acara dengan menjamu para pemuda desanya.

Seorang pemuda yang mampu melakukan fahombo batu dengan sempurna dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya, memasuki pernikahan dan untuk menjadi prajurit desa jika ada perang antar desa atau konflik dengan warga desa lain. Ketangkasan melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan , baik untuk menyerang, bertahan, maupun untuk menyelamatkan diri. Dahulu kerap terjadi peperangan antar desa di Nias karena itu karena itu desa-desa di Nias selalu dikelilingi pagar dan berbagai bentuk rintangan sebagai pertahanan. Pagar dari batu, bambu atau batang pohon, dibangun mengelilingi desa setinggi kira-kira 1,5 – 2 meter. Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung antara lain masalah perbatasan tanah, perempuan, ketersinggungan harga diri, dan masalah lainnya. Konon pula tradisi fahombo-batu ini dikaitan dengan kisah berburu kepala manusia (mangani binu) dalam legenda Awuwukha. Hal ini pula menjadi salah satu faktor terjadinya peperangan antar desa. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran supaya tidak terperangkap di daerah musuh. Ketangkasan dibutuhkan untuk melompati benteng pertahanan yang sulit dilewati. Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain atau menyelamatkan diri akan menjadi pahlawan di desanya.

Sekarang ini, jejak tradisi lama itu telah menjadi sebuah atraksi pariwisata yang unik, tiada duanya di dunia. Dalam sebuah pertunjukan, beberapa pemuda Nias berpakaian adat secara bergantian melakukan fahombo batu dalam atraksi ini. Bagi pelompat yang sudah mahir, fahombo batu dilengkapi dengan berbagai gaya lompatan yang menarik saat sedang mengudara. Ada yang dengan aksi menarik dan menghunus pedang, dan ada juga yang menjepit pedangnya dengan gigi, dan lain-lain. Sehingga fahombo batu kemudian bukan lagi berupa tradisi tetapi kemudian juga mejadi sebuah atraksi yang menarik dan kadang mencekam. Bila seorang pelompat melakukan atraksi lompatan dengan gemilang maka para penonton akan mengeluarkan decak kekaguman dan memberikan tepuk tangan pujian baginya. Atraksi yang berlatar belakang tradisi ini menjadi satu acara yang sangat diminati wisatawan yang datang ke Nias. Bahkan atraksi ketangkasan ini telah memperkenalkan Nias dan dijadikan sebagai ikon pariwisata dan gambarnya tercantum pada mata uang rupiah.

Lompatan gemilang
Fahombo batu dapat diselenggarakan sebagai upacara adat, pertunjukan seni atau atraksi dalam rangka penyambutan tamu. Walaupun atraksi ini kini telah dapat dilihat di banyak tempat melalui berbagai acara, namun ritual fahombo-batu yang sesungguhnya hanya dapat ditemui di desa asalnya yaitu di Bawömataluo (Bukit Matahari). Bawömataluo merupakan salah satu desa adat yang terbesar di kepulauan Nias dan berada di wilayah Nias Selatan. Memasuki desa yang unik ini, harus diawali dengan menapaki gerbang utama dengan 88 anak tangga menjulang ke atas dengan posisi kemiringan sekitar 45°. Inilah sebab mengapa desa itu disebut sebagai bukit matahari. Posisi desa diatas bukit sehingga dari ketinggian desa ini dapat dilihat wilayah di bawahnya bahkan laut yang berjarak jauh darinya. Di depan rumah raja di Bawömataluo ini terdapat peninggalan batu bersusun (hombo-batu) yang dikenal penggunaannya dalam tradisi fahombo batu. Disanalah, fahombo batu ini dilakukan dengan sempurna dan dapat dinikmati seutuhnya baik sebagai atraksi seni maupun tradisi budaya lengkap dengan penjelasan detail secara filosofis-historis. Pertengahan tahun lalu saat berkunjung ke desa ini, saya terkesima melihat sebuah aktifitas menarik siang itu. Sekelompok anak-anak kecil berlatih melompat batu. Menyejukkan hati saat menyaksikan bahwa tradisi ini masih diteruskan oleh ’prajurit-prajurit’ kecil. Mereka menggunakan kayu panjang atau tali sebagai batas tinggi lompatan, dan undukan pijakan dari dari bahan kayu. Sungguh sangat menarik memperhatikan arahan dalam latihan teknik ketepatan menginjakan kaki pada undukan kecil itu. Tanpa injakan yang tepat, tidak dihasilkan daya dorong untuk melompat. Untuk sebuah lompatan gemilang, tidak tergantung pada fisik si prajurit semata, tetapi lebih kepada hitungan kecepatan lari, ketepatan menginjak, daya dorong dan gerakan melompat, dan kemampuan mendaratkan kaki kembali dengan tepat dan indah. Sebuah harmonisasi sistem gerak yang meliputi kejelian, kepekaan, kekuatan dan konsistensi. Karena salah teknik, membuat salah seorang prajurit kecil terjatuh dan menangis, namun rasa sakit di kaki tidak mematikan semangat, ia bangkit dan kembali berlatih. Luar biasa, begitu rupanya sikap keprajuritan seorang ono Niha. Melalui fahombo batu ini, kita belajar sebuah kearifan dalam menciptakan lompatan gemilang.

Karena posisi wisatawan biasanya berdiri di depan tumpukan batu untuk dapat melihat lompatan si fahombo batu, maka perihal undukan ini sering kurang mendapat perhatian. Padahal, undukan ini fungsinya penting dan memiliki pesan filosofis tersendiri. Undukan ini adalah perlambang fondasi (pijakan dasar) bagi keberhasilan sebuah lompatan gemilang. Ini membawa ingatan saya kepada logo dari Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB) yang bergambar fahombo batu Nias. Penjelasan filosofis logo tersebut adalah harapan sebuah keberhasilan melakukan lompatan gemilang ke masa depan. Masa depan Nias adalah sumberdaya yang berkemampuan dalam mengelola sumberdaya alam dan menciptakan serta menggunakan sumberdaya buatan bagi kehidupannya. Untuk mencapai hal itu maka pemberdayaan masyarakat adalah strategi yaitu pemberdayaan masyarakat Nias yang yang berfokus pada manusia Nias dimana dalam proses pembaruan kehidupan Nias masyarakat terlibat sebagai subjek yang aktif (people driven), dan yang mampu mewadahi aspirasi dan tujuan hidup masyarakat sehingga mampu merencanakan dan menentukan masa depannya sendiri.

Relevansinya adalah mengingatkan kita kembali kepada fondasi dasar pembangunan Nias. Keberhasilan dan kinerja dari sebuah daerah ditunjukkan seberapa jauh memberdayakan masyarakatnya dan mensejahterakan wilayahnya. Diperlukan sistem yang efektif mengatur bagaimana tujuan luhur kehidupan masyarakat ini dapat dicapai. Perjuangan tanpa sistem akan sia-sia. Sistem yang dirancang dengan azas partisipatif dan musyawarah dan disepakati bersama akan mengarahkan langkah, mengatur dan bagaimana setiap fungsi dan hubungan didalamnya terkoordinasi secara harmonis dan tidak berjalan sendiri-sendiri atau sesuka hati. Menjadi bagian di dalamnya adalah program strategis berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan ditetapkan sebagai visi dan arah tujuan daerah yang direncanakan dan dikomitmenkan sebagai payung dari program pembangunan tiap kurun waktu pilkada atau satu periode pemerintahan. Sistem yang baik akan menghasilkan kinerja yang baik, dengan penyelenggaraan tanggungjawab dan hak yang seimbang. Sistem yang buruk tidak akan kondusif menghasilkan sumberdaya masa depan Nias yang berkualitas.

Dalam konteks yang lebih luas, dalam membangun kehidupan bersama di era pemekaran, maka kinerja berkualitas dari kabupaten dan kota otonom adalah fondasi dasar sistem bersama, andai niatan pembentukan sebuah suprastuktur propinsi nanti akan dilembagakan. Dalam membangun rumah besar bersama, dibutuhkan sebuah sistem yang dikomitmenkan bersama. Dalam hal ini bukan hanya sekedar koordinasi, namun juga keselarasan, keseimbangan, keserasian, dinamis dan berkelanjutan dalam interaksi antar daerah yang ada di kepulauan ini. Perlu kesabaran, kesadaran dan kebersamaan sampai setiap daerah otonom ini menjadi kuat untuk dapat dijadikan pilar kokoh sebuah sistem bersama. Rumus alamnya, kekuatan dari sebuah sistem adalah pada matarantai terlemah. Walau kelima daerah otonom ini berada disatu wilayah geografis yang sama dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, faktanya kelima daerah otonom pertumbuhannya masih timpang. Maka komitmen dibangun antar wilayah untuk saling mendukung kinerja daerah masing-masing, agar bermanfaat satu sama lain dan tidak saling merugikan. Langkah strategis adalah melalui upaya pengurangan secara konsisten kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan peningkatan secara signifikan kebersamaan horizontal antar daerah.

Kesiapan dan kekuatan untuk melompat gemilang tergantung pada injakan yang tepat. Jadi, dalam hal ini yang dibutuhkan bukan sekedar aktivitas eforia politik yang rapuh atau hanya tergantung pada sosok tokoh. Kalau ini yang terjadi, maka gerakan hanya naik turun, maju mundur, timbul tenggelam, tidak akan pernah maju-maju. Akhirnya, layu sendiri sebelum berkembang. Belajar dari berbagai keterpurukan yang di alami wilayah ini berpuluh tahun, maka sangat bijak bila kita mengingat pepatah ini. Orang bodoh membangun rumah diatas pasir, ketika gelombang datang maka rubuhlah ia. Orang bijak membangun rumah diatas batu, maka kuatlah ia dan tak mudah rubuh dihantam gelombang. Saatnya Nias bangkit, saatnya melakukan lompatan gemilang dan raihlah kehidupan yang lebih baik ! /egnt

*) Esther GN Telaumbanua, Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit.

Naskah Alkitab Terjemahan Martin Luther Ditemukan

Saturday, January 15th, 2011

Guru kelas enam di Bonduel, Debra Court menemukan sebuah Alkitab berbahasa Jerman yang telah berumur 340 tahun dalam kondisi baik di sekolah Gereja Lutheran, tempat dia mengajar. Alkitab setebal 1.500 halaman tersebut ternyata adalah salinan terjemahan milik Martin Luther yang dicetak di Jerman pada tahun 1670. Demikian dikatakan peneliti setempat kepada WLUK-TV. (more…)

Harga Pangan Meroket, Negara-negara Bergolak

Saturday, January 15th, 2011

Oleh: Renne R.A Kawilarang, Hadi Suprapto, Denny Armandhanu

VIVAnews – Dalam beberapa pekan terakhir, kemarahan massal melanda Tunisia dan Aljazair. Dalam waktu yang bersamaan, rakyat di kedua negara yang saling bertetangga di Afrika Utara itu mengamuk. Mereka menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah masing-masing yang mereka nilai tidak becus mengatasi krisis ekonomi, yang membuat harga-harga kebutuhan pokok melonjak dan makin banyak warga yang menganggur. (more…)

Pasangan Jiwa Juga Gugat Pilkada Nisel ke MK

Friday, January 14th, 2011

JAKARTA, Nias Online – Hasil pleno rekapitulasi dan penetapan pasangan calon bupati dan wakil bupati Nias Selatan (Nisel) oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) tidak hanya digugat oleh pasangan nomor urut 1 Temazisökhi Halawa-Foluaha Bidaya (Temafol). Pasangan nomor urut 4 Fauduasa Hulu-Alfred Laia (Jiwa) juga telah memasukkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada Selasa, 11 Januari 2010. (more…)