Archive for January 17th, 2011 | Daily archive page

Nias nan Cantik

Monday, January 17th, 2011

KOMPAS.com -— Pulau Nias dengan luas 5.318 kilometer persegi menyimpan kearifan lokal dalam konstruksi dan arsitektur rumah. Rumah Nias yang dibangun dengan bahan kayu dan konstruksi fondasi seperti panggung terbukti tahan gempa. Ini tentu berangkat dari pengalaman leluhur suku Nias yang hidup di tanah rawan gempa. Rumah-rumah itu tetap kokoh dan berfungsi hingga kini meski berumur ratusan tahun. (more…)

155 Kepala Daerah Jadi Tersangka Korupsi

Monday, January 17th, 2011

VIVAnews – Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengungkap banyaknya kepala daerah yang menjadi tersangka kasus korupsi. Ia terang-terangan mengaitkan korupsi para pejabat daerah ini dengan proses pilkada yang makan banyak biaya. Jadi, dalam rangka balik modal. (more…)

Lompatan Gemilang Si Fahombo Batu

Monday, January 17th, 2011

“Mau ke Nias? Wow.. lompat batu!”. Begitu terkenalnya lompat batu sehingga menjadi ingatan yang muncul dibenak bila menyebut Nias. Lompat batu yang unik itu, memang hanya ada di Nias. Nias memiliki kekayaan peninggalan budaya (tangible dan intangible) seperti rumah adat, berbagai artefak dan tradisi yang unik. Diantaranya yang paling terkenal adalah tradisi Lompat Batu atau Fahombo Batu.

Jejak tradisi
Fahombo Batu merupakan ritual budaya sebagai simbol kedewasaan pemuda Nias. Fahombo batu dilangsungkan sebagai inisiasi menguji ketangkasan fisik dan kesiapan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Batu yang harus dilompati berupa susunan batu megalit yang tersusun mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atasnya datar. Tingginya kurang lebih 2 (dua) meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Di depannya ada undukan batu kecil setinggi 30an cm, dimana tempat kaki dipijakkan sebelum melakukan lompatan. Dengan bentuk susunan batu tersebut maka fahombo batu tidak sekedar melompat batu. Melakukan fahombo batu memerlukan teknik khusus karena memiliki tingkat kesulitan tertentu. Di masa lampau bagian atas batu bahkan ditutupi dengan duri dan bambu runcing tajam. Para pelompat tidak hanya harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus mampu mendarat dengan posisi yang tepat. Untuk itu pelompat batu perlu menginjak batu undukan kecil sebagai teknik mendorong daya lompatan dan kemudian mendarat dengan tepat. Salah menginjakkan kaki pada batu undukan kecil, daya dorong kurang dan kekuatan melompat akan terbatas. Kesalahan teknis dalam hal ini akan dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Karena itu para pemuda melakukan latihan berulang-ulang. Bagi masyarakat Nias seorang pemuda dari satu keluarga yang sudah dapat melakukan fahombo batu dengan sempurna untuk pertama kalinya, merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa. Untuk kegembiraan itu, keluarga lalu mengadakan syukuran. Bagi kalangan bangsawan bahkan mengadakan acara dengan menjamu para pemuda desanya.

Seorang pemuda yang mampu melakukan fahombo batu dengan sempurna dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya, memasuki pernikahan dan untuk menjadi prajurit desa jika ada perang antar desa atau konflik dengan warga desa lain. Ketangkasan melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan , baik untuk menyerang, bertahan, maupun untuk menyelamatkan diri. Dahulu kerap terjadi peperangan antar desa di Nias karena itu karena itu desa-desa di Nias selalu dikelilingi pagar dan berbagai bentuk rintangan sebagai pertahanan. Pagar dari batu, bambu atau batang pohon, dibangun mengelilingi desa setinggi kira-kira 1,5 – 2 meter. Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung antara lain masalah perbatasan tanah, perempuan, ketersinggungan harga diri, dan masalah lainnya. Konon pula tradisi fahombo-batu ini dikaitan dengan kisah berburu kepala manusia (mangani binu) dalam legenda Awuwukha. Hal ini pula menjadi salah satu faktor terjadinya peperangan antar desa. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran supaya tidak terperangkap di daerah musuh. Ketangkasan dibutuhkan untuk melompati benteng pertahanan yang sulit dilewati. Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain atau menyelamatkan diri akan menjadi pahlawan di desanya.

Sekarang ini, jejak tradisi lama itu telah menjadi sebuah atraksi pariwisata yang unik, tiada duanya di dunia. Dalam sebuah pertunjukan, beberapa pemuda Nias berpakaian adat secara bergantian melakukan fahombo batu dalam atraksi ini. Bagi pelompat yang sudah mahir, fahombo batu dilengkapi dengan berbagai gaya lompatan yang menarik saat sedang mengudara. Ada yang dengan aksi menarik dan menghunus pedang, dan ada juga yang menjepit pedangnya dengan gigi, dan lain-lain. Sehingga fahombo batu kemudian bukan lagi berupa tradisi tetapi kemudian juga mejadi sebuah atraksi yang menarik dan kadang mencekam. Bila seorang pelompat melakukan atraksi lompatan dengan gemilang maka para penonton akan mengeluarkan decak kekaguman dan memberikan tepuk tangan pujian baginya. Atraksi yang berlatar belakang tradisi ini menjadi satu acara yang sangat diminati wisatawan yang datang ke Nias. Bahkan atraksi ketangkasan ini telah memperkenalkan Nias dan dijadikan sebagai ikon pariwisata dan gambarnya tercantum pada mata uang rupiah.

Lompatan gemilang
Fahombo batu dapat diselenggarakan sebagai upacara adat, pertunjukan seni atau atraksi dalam rangka penyambutan tamu. Walaupun atraksi ini kini telah dapat dilihat di banyak tempat melalui berbagai acara, namun ritual fahombo-batu yang sesungguhnya hanya dapat ditemui di desa asalnya yaitu di Bawömataluo (Bukit Matahari). Bawömataluo merupakan salah satu desa adat yang terbesar di kepulauan Nias dan berada di wilayah Nias Selatan. Memasuki desa yang unik ini, harus diawali dengan menapaki gerbang utama dengan 88 anak tangga menjulang ke atas dengan posisi kemiringan sekitar 45°. Inilah sebab mengapa desa itu disebut sebagai bukit matahari. Posisi desa diatas bukit sehingga dari ketinggian desa ini dapat dilihat wilayah di bawahnya bahkan laut yang berjarak jauh darinya. Di depan rumah raja di Bawömataluo ini terdapat peninggalan batu bersusun (hombo-batu) yang dikenal penggunaannya dalam tradisi fahombo batu. Disanalah, fahombo batu ini dilakukan dengan sempurna dan dapat dinikmati seutuhnya baik sebagai atraksi seni maupun tradisi budaya lengkap dengan penjelasan detail secara filosofis-historis. Pertengahan tahun lalu saat berkunjung ke desa ini, saya terkesima melihat sebuah aktifitas menarik siang itu. Sekelompok anak-anak kecil berlatih melompat batu. Menyejukkan hati saat menyaksikan bahwa tradisi ini masih diteruskan oleh ’prajurit-prajurit’ kecil. Mereka menggunakan kayu panjang atau tali sebagai batas tinggi lompatan, dan undukan pijakan dari dari bahan kayu. Sungguh sangat menarik memperhatikan arahan dalam latihan teknik ketepatan menginjakan kaki pada undukan kecil itu. Tanpa injakan yang tepat, tidak dihasilkan daya dorong untuk melompat. Untuk sebuah lompatan gemilang, tidak tergantung pada fisik si prajurit semata, tetapi lebih kepada hitungan kecepatan lari, ketepatan menginjak, daya dorong dan gerakan melompat, dan kemampuan mendaratkan kaki kembali dengan tepat dan indah. Sebuah harmonisasi sistem gerak yang meliputi kejelian, kepekaan, kekuatan dan konsistensi. Karena salah teknik, membuat salah seorang prajurit kecil terjatuh dan menangis, namun rasa sakit di kaki tidak mematikan semangat, ia bangkit dan kembali berlatih. Luar biasa, begitu rupanya sikap keprajuritan seorang ono Niha. Melalui fahombo batu ini, kita belajar sebuah kearifan dalam menciptakan lompatan gemilang.

Karena posisi wisatawan biasanya berdiri di depan tumpukan batu untuk dapat melihat lompatan si fahombo batu, maka perihal undukan ini sering kurang mendapat perhatian. Padahal, undukan ini fungsinya penting dan memiliki pesan filosofis tersendiri. Undukan ini adalah perlambang fondasi (pijakan dasar) bagi keberhasilan sebuah lompatan gemilang. Ini membawa ingatan saya kepada logo dari Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB) yang bergambar fahombo batu Nias. Penjelasan filosofis logo tersebut adalah harapan sebuah keberhasilan melakukan lompatan gemilang ke masa depan. Masa depan Nias adalah sumberdaya yang berkemampuan dalam mengelola sumberdaya alam dan menciptakan serta menggunakan sumberdaya buatan bagi kehidupannya. Untuk mencapai hal itu maka pemberdayaan masyarakat adalah strategi yaitu pemberdayaan masyarakat Nias yang yang berfokus pada manusia Nias dimana dalam proses pembaruan kehidupan Nias masyarakat terlibat sebagai subjek yang aktif (people driven), dan yang mampu mewadahi aspirasi dan tujuan hidup masyarakat sehingga mampu merencanakan dan menentukan masa depannya sendiri.

Relevansinya adalah mengingatkan kita kembali kepada fondasi dasar pembangunan Nias. Keberhasilan dan kinerja dari sebuah daerah ditunjukkan seberapa jauh memberdayakan masyarakatnya dan mensejahterakan wilayahnya. Diperlukan sistem yang efektif mengatur bagaimana tujuan luhur kehidupan masyarakat ini dapat dicapai. Perjuangan tanpa sistem akan sia-sia. Sistem yang dirancang dengan azas partisipatif dan musyawarah dan disepakati bersama akan mengarahkan langkah, mengatur dan bagaimana setiap fungsi dan hubungan didalamnya terkoordinasi secara harmonis dan tidak berjalan sendiri-sendiri atau sesuka hati. Menjadi bagian di dalamnya adalah program strategis berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan ditetapkan sebagai visi dan arah tujuan daerah yang direncanakan dan dikomitmenkan sebagai payung dari program pembangunan tiap kurun waktu pilkada atau satu periode pemerintahan. Sistem yang baik akan menghasilkan kinerja yang baik, dengan penyelenggaraan tanggungjawab dan hak yang seimbang. Sistem yang buruk tidak akan kondusif menghasilkan sumberdaya masa depan Nias yang berkualitas.

Dalam konteks yang lebih luas, dalam membangun kehidupan bersama di era pemekaran, maka kinerja berkualitas dari kabupaten dan kota otonom adalah fondasi dasar sistem bersama, andai niatan pembentukan sebuah suprastuktur propinsi nanti akan dilembagakan. Dalam membangun rumah besar bersama, dibutuhkan sebuah sistem yang dikomitmenkan bersama. Dalam hal ini bukan hanya sekedar koordinasi, namun juga keselarasan, keseimbangan, keserasian, dinamis dan berkelanjutan dalam interaksi antar daerah yang ada di kepulauan ini. Perlu kesabaran, kesadaran dan kebersamaan sampai setiap daerah otonom ini menjadi kuat untuk dapat dijadikan pilar kokoh sebuah sistem bersama. Rumus alamnya, kekuatan dari sebuah sistem adalah pada matarantai terlemah. Walau kelima daerah otonom ini berada disatu wilayah geografis yang sama dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, faktanya kelima daerah otonom pertumbuhannya masih timpang. Maka komitmen dibangun antar wilayah untuk saling mendukung kinerja daerah masing-masing, agar bermanfaat satu sama lain dan tidak saling merugikan. Langkah strategis adalah melalui upaya pengurangan secara konsisten kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan peningkatan secara signifikan kebersamaan horizontal antar daerah.

Kesiapan dan kekuatan untuk melompat gemilang tergantung pada injakan yang tepat. Jadi, dalam hal ini yang dibutuhkan bukan sekedar aktivitas eforia politik yang rapuh atau hanya tergantung pada sosok tokoh. Kalau ini yang terjadi, maka gerakan hanya naik turun, maju mundur, timbul tenggelam, tidak akan pernah maju-maju. Akhirnya, layu sendiri sebelum berkembang. Belajar dari berbagai keterpurukan yang di alami wilayah ini berpuluh tahun, maka sangat bijak bila kita mengingat pepatah ini. Orang bodoh membangun rumah diatas pasir, ketika gelombang datang maka rubuhlah ia. Orang bijak membangun rumah diatas batu, maka kuatlah ia dan tak mudah rubuh dihantam gelombang. Saatnya Nias bangkit, saatnya melakukan lompatan gemilang dan raihlah kehidupan yang lebih baik ! /egnt

*) Esther GN Telaumbanua, Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit.