Archive for August, 2010 | Monthly archive page

Kelanjutan Rekonstruksi, Nias dapat Proyek Senilai US 115 Juta

Monday, August 9th, 2010

Nias – Pemerintah Indonesia meluncurkan 3 proyek strategis senilai US 115 juta di Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. Proyek ini sebagai bagian dari program lanjutan rekonstruksi pasca tsunami Nias hingga 2012.

“Tiga proyek trategis yakni Nias Islands Trasition Project (NITP), Nias Levilihoond Economic Development Program (LEDP) Nias Island Rulal Access Capacity Building Project (RACBP) merupakan dana dukungan dari Multi Donor Fund (MDF) untuk Aceh dan Nias.

“MDF mendukung program pemerintahan Indonesia merehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias akibat tsunami yang disebabkan gempa bumi 8,2 SR pada 24 Desember 2004 dan gempa susulan 8,2 SR pada 28 maret 2005 lalu,” jelas manajer M D F, Shanima Khau, Kamis (5/8 ) di ruang oval lantai III kantor Bupati Nias.

Deputi Menteri Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah (BAPENAS) Dr Max H Pohae mengatakan, pemerintahan Indonesia juga memberikan kontribusi hampir US 2 miliar untuk kegiatan pemulihan dan rekonstruksi di Kepulauan Nias pada akhir tahun 2008. Administrasi kepemerintahan Kepulaun Nias dikategorikan kembali dari dua daerah otonom menjadi 5 daerah otonom di Provinsi Sumut yaitu Nias, Nias barat, Nias utara, Nias selatan, dan Kota Gunungsitoli.

Daerah tersebut merupakan salah satu pendekatan strategis dari rencana, Aksi Kelajuntan Rekonstruksi di Pulau Nias untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah di Nias, sehingga mereka mampu dan bertanggung jawab dalam mengelola transisi rekonsraksi dari pemerintahan pusat.

Dijelaskannya, ke tiga proyek yang diluncurkan itu melambangkan kontribusi strategis MDF terhadap rencana pelaksanaan rekonstruksi pasca tsunami. Dukungan ini juga berjalan untuk memercepat pembangunan di daerah miskin dan tertinggal melalui revitalisasi pertanian, penciptaan, lapangan kerja, dan mendukung desentralisasi.

Mewakili Depertemen Dalam Negeri, Somi Sumarsono menyampaikan, peningkatan kapasitas lokal untuk menghadapi tantangan-tantangan pembangunan adalah kondisi kritis dalam pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan di pulau Nias. Aset yang dihasilkan selama pemulihan dan rekonstuksi pada tsunami selama 4 tahun terakhir harus dipertahankan karena NITP bertujuan meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah agar dapat berhasil menyelesaikan proses pemulihan dan mendukung pengembangan rencana pengurangan risiko bencana pro aktif (DRR) dengan mengadopsi praktik terbaik dan meningkatkan tata kelola kepemerintahan.

Perwakilan ILO, Petervan Kooji mengatakan, proyek akses pedesaan dan peningkatan kapasitas di Kepulauan Nias (Nias-RACBP) yang dilaksanakan bersama oleh ILO dan Kementrian Pengawasan Daerah Tertinggal, berupaya mendukung pemerintah daerah untuk meningkatkan jaringan transportasi pedesaan, melalui program pelatihan kontraktor lokal dan masyarakat dalam rehabilitasi jalan yang tahan segala cuaca dan jalur sepadan motor sepanjang 100 km, 25 jembatan dan 47 situs warisan budaya di 20 kecamatan.

Malah ILO telah mendukung rehabilitasi infrastruktur transportasi pedesaan dan perbaikan selama lima tahun terakhir di Nias. Jalan yang berkualitas baik untuk pengembangan ekonomi lokal. Soalnya, fokus ILO adalah pada penggunaan sumber daya lokal sebanyak mungkin

Kepala Operasi Delegasi Uni Eropa, Erik Habers berharap, untuk dapat terus mendukung pemerintahan daerah dan masyarakat di Kepulauan Nias sehingga ketiga proyek tersebut dapat berhasil diterapkan dalam jangka waktu yang terbatas Juni 2012 dan membawa manfaat kepada masyarakat di kepulauan Nias.

Sedangkan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara RE Nainggolan menegaskan, Pemprovsu sangat bahagia melihat proyek-proyek ini lepas landas dan menghargai koordinasi yang baik di seluruh lapisan pemerintah, PBB dan organisasi internasional lainnya.

Dalam rangka kelajuntan proyek, maka kemampuan pemerintahan lokal harus ditingkatkan. Harus ada keterlibatan dan keaktifan dari masyarakat lokal serta menyediakan dukungan bagi operasional dan pemeliharaan aset-aset yang telah diciptakan. (www.analisadaily.com – 9 Agustus 2010)

93 Tahun Berpisah, Keturunan Balugu Lalaizihono Berkumpul Kembali di Gunungsitoli

Thursday, August 5th, 2010

Gunungsitoli – Suasana haru dan bahagia serta suka cita tercermin bagi seluruh keturunan Kafaoso (Ama Wadoma) gelar Balugu Lalaizihono yang berpisah sejak 1917 atau 93 tahun lalu, pada pertemuan Rabu (4/7) di kediaman Ama Joni Telaumbanua di Desa Sisambalahe dan di kediaman Ama Alfa Telaumbanua di Desa Hiligo’ogamo, Kecamatan Gunungsitoli, Rabu (11/7).

Berpisah karena sebagian pindah ke desa lain mendirikan desa sendiri dan juga ada ke luar daerah Pulau Nias mencari nafkah atau kehidupan yang lebih baik.

Menurut Ama Eronu Telaumbanua selaku Ketua panitia di sela-sela pertemuan, Keturunan Balugu Lalaizihono selama itu tidak pernah saling mengunjungi atau memberitahukan sekalipun ada di antara mereka yang mengalami suka dan duka. “Namun melalui pertemuan ini kerinduan untuk berkumpul kembali seluruh keturunan Balugu Lalaizihono terjawab sudah yang dihadiri semua keturunan baik dari anak laki-laki dan perempuan sampai ke anak cicit,” ujar Ama Eronu.

Dalam pertemuan yang akrab dan penuh kebahagiaan yang dihadiri sekira 800 orang itu (dari luar Pulau Nias hanya dua keluarga), semua yang hadir sangat terharu karena baru kenal satu sama lain siapa saudaranya yang paling dekat.

Pertemuan yang diawali kebaktian pada 4 Juli 2010 dipimpin Evangelis Ama Luter Telaumbanua dari Desa Hiligo’ogamo dan 11 Juli 2010 dipimpin Pdt Ama Sion Telaumbanua STh. Dalam khotbahnya, kedua hamba Tuhan itu menegaskan, apa yang terjadi ini merupakan sejarah dan berkat serta muzizat dari Tuhan Yesus Kristus khususnya bagi semua keturunan Balugu Lalaizihono. Keduanya mengajak semua keturunan Balugu Lalaizihono semakin mempererat rasa kekeluargaan dan meningkatkan solidaritas antar sesama. Selesai acara kebaktian dilanjutkan menjelaskan silsilah keturunan atau dalam bahasa Nias Tambo oleh Ama Joni Telaumbanua, keturunana tertua yang ada saat ini kemudian makan bersama.

Ama Eronu Telaumbanua selaku pemrakarsa pertemuan sekaligus Ketua Panitia dalam sambutannya menyatakan, melatarbelakangi pertemuan itu karena merasa malu selama ini banyak orang setiap ketemu mengatakan bahwa keluarga/saudara tapi tidak kenal dan paling menyedihkan ada yang melakukan pernikahan tanpa ditanya asal usulnya padahal masih saudaranya atau ada juga yang bertngkar baru mengetahui mereka masih saudara/keluarga.

Untuk itu, diharapkan kepada seluruh keturunan Balugu Lalaizihono, mulai saat ini supaya membina rasa kekeluargaan dimana pun berada. “Mari kita bersama-sama memelihara, membina dan menjaga nama baik keluarga besar Balugu Lalaizihono,” imbaunya sembari menyebut hal mendesak segera diselesaikan mengenai Tambo keturunana Balugu Lalaizihono dan nama Desa Sisambalahe yang sudah dirubah menjadi Desa Sisarahili Sisamabalahe sejak tahun 70-an.

Kepada Pemko Gunungsitoli diminta mengembalikan nama desa itu yang sebenarnya Desa Sisambalahe.Juga disepekati nama perkumpulan itu yaitu “Orahua Wahasara Dodo Nga’oto Balugu Lalaizihono Sisambalahe”.

Susunana pengurus antara lain Pensehat Ama Joni Telaumbanua, Ama Eronu Telaumbanua, Ama Adaria Telaumbanua, Ama Opiner Telaumbanua, Ama Sion Telaumbanua. Ketua umum Ama Alfa Telaumbanua, Ketua Ama Demi Telaumbanua, Ama Loys Telaumbanua, Ama Flora Telaumbanua, Ama Toni Telaumbanua, sekretaris Ama Waudu Adam Telaumbanua, wakil sekretaris Ama Reza Telaumbanua, Ama Kris Telaumbanua, bendahara Ina Kevin Halawa, wakil bendahara Ina Nadya Sinaga.(SIB, 5 Agustus 2010)

Sejumlah Koalisi Sumut Desak Pemkab Nias Utara Segera Keluarkan SK Kepada 50 CPNSD Formasi Tahun 2009

Thursday, August 5th, 2010

Medan – Sejumlah koalisi LSM Sumut, mendesak Pemkab Nias Utara untuk segera mengeluarkan SK dan NIP 50 CPNSD yang telah ditetapkan lulus formasi tahun 2009 berdasarkan keputusan Bupati Nias Utara Nomor:800/22/K/2009. Hal tersebut seperti yang dialami Eka Sriwina Ziliwu dan Hardiaman Zebua, yang telah ditetapkan lulus namun belum menerima SK dan NIP, sementara rekan mereka 273 CPNSD formasi tahun 2009 telah mendapatkan SK dan NIP.

Demikian dikatakan, Ketua Umum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Ekonomi Lemah (LPMEL), Saroli Giawa SE, Ketua Presidium Forum Demokrasi Pemantau Pembangunan Kepulauan Nias (Fordeppen) Christian Telaumbanua dan Ketua Umum Forum Mahasiswa Pemuda Kepulauan Nias (Formappnis) Fakha Telaumbanua SPd, SH di Medan, Rabu (4/8).

Ketua Umum LPMEL Saroli Giawa SE, mendesak Pemkab Nias Utara dan BKN Regional VI untuk sesegera mungkin mengeluarkan SK dan memproses calon CPNSD Nias Utara formasi tahun 2009, agar para calon CPNSD yang telah ditetapkan lulus dapat menikmati arti dari pemekaran/otonomi daerah.

Menurut Saroli yang juga wakil ketua DPD PNI Sumut kordinator wilayah kepuluan Nias yang ditemui di kantor DPRD Sumut, tujuan pemekaran daerah pada intinya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dari berbagai sudut termasuk bagi 50 CPNSD yang telah dinyatakan lulus, untuk menikmati kebutuhan hidupnya.

Pemekaran bukan untuk merugikan masyarakat tetapi meningkatkan hidupnya. Untuk itu ia mengharapkan kepada Kapolda Sumut untuk mengusut tuntas proses CPNSD di Kabupaten Nias Utara.

Hal senada juga dikatakan Ketua Presidium Fordeppen, Christian Telaumbanua, agar para mantan Pjs Bupati Nias Utara dan BKD Nias Utara, yang selama ini menangani CPNSD formasi tahun 2009 jangan menyakiti atau mengobok-obok CPNSD yang sudah lulus.

Ketum Formappnis Sumut Fakha Telaumbanua didampingi Sekum Eliezeri Waruwu di Mapolda Sumut, terkait dengan kasus CPNSD di Kepulauan Nias seperti Nias Utara, Nias Barat, Nias dan Kota Gunung Sitoli, mendesak pihak Polda Sumut untuk mengusut tuntas kasus-kasus tersebut. Dalam hal ini pihaknya yakin Kapolda Sumut, Irjen Pol Oegroseno SH mampu mengusut kasus tersebut.

Sebagai putra Nias Utara, meminta agar BKN Regional VI dalam mengeluarkan NIP CPNSD Nias Utara lebih transfaran dan jangan terkesan tebang pilih, dan kepada Pemkab Nias Utara memproses pengeluaran NIP kepada 50 orang yang telah dinyatakan lulus.
Sementara anggota DPRD Sumut dari komisi A, Suasana Daeli SH yang dihubungi melalui telepon selulernya, meminta BKN Regional VI Sumut untuk memproses dan mengeluarkan NIP 50 orang CPNSD di Kabupaten Nias Utara untuk Formasi tahun 2009 secara transparan, agar jangan terjadi keresahan di tengah-tengah masyarakat Nias Utara. (SIB, 5 Agustus 2010)

DPRD G.Sitoli Sidak ke Puskesmas Olora

Monday, August 2nd, 2010

DPRD bersama Dinas Kesehatan kota Gunungsitoli, Jumat (30/7), melakukan kunjungan mendadak ke Puskesmas Olora Kecamatan Gunungsitoli Utara, untuk menindak lanjuti laporan dari masyarakat dan melhat langsung pelayanan kesehatan.

Anggotas DPRD yang sidak ke Puskesmas Olora yakni Ridwan Saleh Zega, Filifo Waruwu, Jon Kristian Ziliwu, Temani Halawa, Arosõkhi Harefa , Fince SS Gea, Yanto dan Yasman Zebua.

Menurut Ridwan Sleh Zega bahwa adanya laporan masyarakat secara tertulis kepada DPRD kota Gunungsitoli tentang seringnya bolos beberapa staf dan bidan di puskesmas Olora pada jam kerja, dan juga bidan tidak berada di tempa tugas.

Selain itu menurut informasi yang di terima DPRD bahwa di puskesmas Olora sering terjadi kekosongan obat, sehingga masyarakat sering tidak terlayani dengan baik dan juga penempatan beberapa staf menumpuk di puskesmas sementara banyak puskesmas pembantu yang kosong.

Sementara Kepala Puskesmas Olora Enmawarlin Zega SKM menjelaskan kepada anggota dewan bahwa kondisi pelayanan di Puskesmas Olora selama ini telah maksimal, namun juga menyadari pasti ada kelemahan kelemahan, baik penempatan beberapa bidan desa maupun kehadiran sfaf di kantor.

Di akuinya adanya kekosongan obat di bulan Januari sampai April 2010, dan itu karena tidak ada pasokan obat dari tingkat dua sehingga pihaknya tidak bisa melayani masyarakat yang mau berobat. “Tapi saat itu kami hanya melayani masyarakat dengan sistim rujukan ke rumah sakit umum Gunungsitoli,” katanya.

Kadis Kesehatan Kota Gunungsitoli di wakili sekertaris Mendreis Dachi membenarkan bahwa obat di kota Gunungsitoli dari bulan Januari sampai April 2010 sempat kosong dan itu di sebabkan karena anggaran obat masuk di APBD Pemkab Nias. Dinas Kesehatan kota telah mengirim surat ke Pemprovsu dan saat ini sudah dapat teratasi. (www.harian-global.com – 2 Agustus 2010)